EROSI PERMUKAAN LABIAL GIGI ANTERIOR
PERMANEN RAHANG ATAS DAN BAWAH
PADA PERENANG DI BEBERAPA
KOLAM RENANG MEDAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh: FEMY RILINDA NIM: 090600056
Pembimbing:
REHULINA GINTING, drg., M.Si
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Biologi Oral Tahun 2013
Femy Rilinda
Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas dan Bawah pada Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan
viii + 69 halaman
Erosi gigi adalah hilangnya jaringan keras gigi secara irreversibel disebabkan proses kimiawi zat asam tanpa melibatkan bakteri dan dapat menyebabkan hilangnya permukaan gigi dimulai dari permukaan enamel yang secara progresif menyebabkan kehilangan jaringan dentin dan mencapai jaringan pulpa, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya inflamasi pulpa, nekrosis dan patologi periapikal. Faktor penyebab erosi gigi dapat berasal dari ekstrinsik yang salah satunya adalah air kolam renang yang mengandung klorin. Faktor air kolam renang yang menyebabkan erosi gigi adalah pH air kolam renang dan klorin pada air kolam renang. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data prevalensi erosi gigi permukaan labial gigi anterior rahang atas dan rahang bawah pada perenang umur 17-60 tahun di beberapa kolam renang Medan. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional terhadap 61 perenang yang diperoleh dari dua kolam renang. Penelitian ini menggunakan kuesioner dan melakukan pemeriksaan pada dua belas gigi anterior permukaan labial dengan Indeks erosi gigi klasifikasi Cate (1961). Hasil penelitian menemukan semua perenang (100%) terkena erosi gigi permukaan labial gigi anterior permanen dengan derajat Et, G1 dan G2. Pada penelitian ini tidak dijumpai faktor risiko terjadinya erosi gigi pada perenang tersebut selain dari faktor paparan air kolam renang. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan seluruh perenang terkena erosi gigi pada permukaan labial gigi anterior permanen rahang atas dan rahang bawah disebabkan faktor paparan air kolam renang.
EROSI PERMUKAAN LABIAL GIGI ANTERIOR
PERMANEN RAHANG ATAS DAN BAWAH
PADA PERENANG DI BEBERAPA
KOLAM RENANG MEDAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh: FEMY RILINDA NIM: 090600056
Pembimbing:
REHULINA GINTING, drg., M.Si
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi
Medan, 11 Juli 2013
Pembimbing: Tanda tangan
Rehulina Ginting, drg., M.Si ……….
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 11 Juli 2013
TIM PENGUJI
KETUA : Rehulina Ginting, drg., M.Si ANGGOTA : 1. Lisna Unita R, drg., M.Kes
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rehulina Ginting, drg., Msi., selaku Ketua Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, juga selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan masukan, bimbingan, arahan, saran, waktu yang sangat berguna dalam meningkatkan semangat dan motivasi penulis untuk penyelesaian skripsi ini. Pada kesempatan ini dengan rendah hati penulis mengucapkan terimaksih kepada:
1. Prof. Nazruddin, drg., Sp. Ort, Ph.D selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi USU.
2. Seluruh staf pengajar Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi USU yang telah memberikan saran, masukan dan semangat dalam penyelesaian skripsi.
3. Staf Departemen Biologi Oral, khususnya Kak Ngaisah dan Kak Dani yang telah membantu dalam hal administrasi penulis sehingga skripsi ini selesai.
4. Wandania Farahanny, drg., selaku Dosen Pembimbing Akademis yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi USU.
5. Seluruh Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi USU atas bimbingan yang telah diberikan selama penulis menjalani kuliah.
7. Bapak, ibu, abang, kakak dan adik perenang yang telah bersedia menyediakan waktu untuk menjadi sampel penelitian.
8. Bu Maya yang telah memberikan waktu dan bimbingan dalam rancangan penelitian dan pengolahan data.
9. Teristimewa kepada kedua orang tua penulis tercinta yaitu Chairil Anwar dan Hasnelly, juga saudara penulis yaitu Rilly Feranda dan Nichy Rilinda yang selalu mendoakan, memberikan dukungan moril dan semangat maupun materil selama ini.
10. Sahabat-sahabat terbaik penulis yaitu Wanco, Ruli, Sarah, Mimi, Karsa, Ridzky, Tarra, Umay, Mira, Icut, Rifaidah, Raja, Ade, Nina dan Emal yang telah bersedia meluangkan waktu dalam membantu penelitian. Serta teman-teman stambuk 2009 terutama yang membuat skripsi di Departemen Biologi Oral yaitu Anita, Shalini, Wanda, Sri, Novel, Dimas, Ika, Aulia, Jihan, Yulisha, Sherly dan Tellia yang telah memberikan semangat tiada henti kepada penulis.
Akhir kata, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu dan masyarakat. Akhirnya tiada lagi yang dapat penulis ucapkan selain ucapan syukur sedalam-dalamnya, semoga Allah SWT memberi ridho-Nya pada kita semua.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... HALAMAN PERSETUJUAN ... HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... KATA PENGANTAR ...
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Korosif Air Kolam Renang ... 7
2.4 Struktur Gigi ... 8
2.4.1 Struktur Jaringan Gigi ... 8
2.4.2 Struktur Bagian Gigi ... 9
2.5.1 Morfologi Normal Permukaan Labial Gigi Anterior
Permanen Rahang Atas ... 10
2.5.2 Morfologi Normal Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Bawah ... 11
2.7.5 Hubungan Erosi Gigi Perenang dengan Atrisi dan Abrasi Gigi ... 22
2.8 Kerangka Teori ... 25
2.9 Kerangka Konsep ... 26
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 27
3.1 Jenis Penelitian ... 27
3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 27
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1 Komposisi enamel dan dentin ... 8 2 Waktu erupsi gigi dan pembentukan akar ... 14 3 Data demografi perenang di beberapa kolam renang di medan ... 35 4 Distribusi frekuensi erosi permukaan labial gigi anterior permanen
rahang atas dan rahang bawah pada perenang di beberapa kolam
renang medan berdasarkan elemen gigi ... 38 5 Distribusi frekuensi erosi permukaan labial gigi anterior permanen
rahang atas dan rahang bawah pada perenang di beberapa kolam
renang medan berdasarkan area permukaan labial ... 39 6 Distribusi frekuensi derajat erosi permukaan labial gigi anterior
permanen rahang atas pada perenang di beberapa kolam renang
medan berdasarkan elemen gigi ... 40 7 Distribusi frekuensi derajat erosi permukaan labial gigi anterior
permanen rahang bawah pada perenang di beberapa kolam renang
medan berdasarkan elemen gigi ... 40 8 Distribusi frekuensi faktor risiko lainnya terjadinya erosi gigi pada
DAFTAR GAMBAR 6 Klasifikasi Cate (1961) derajat erosi gigi ... 19 7 Derajat erosi gigi : (Et) Gambaran etching pada permukaan labial
gigi Insisivus sentralis kanan rahang atas ... 19 8 Derajat erosi gigi : (G1) Derajat 1 erosi pada gigi Kaninus kiri
rahang bawah. (G2) Derajat 2 erosi pada gigi Insisivus lateralis kanan rahang atas. (G3) Derajat 3 erosi pada gigi Insisivus
sentralis kiri rahang atas ... 20 9 Derajat erosi gigi: (G4) Derajat 4 erosi pada gigi premolar dua ... 20 10 Gambar lateral derajat erosi gigi: Derajat 1 (G1) erosi gigi pada
gigi Insisivus pertama kanan atas (gambar A) dan derajat 2 (G2)
erosi gigi pada gigi Insisivus pertama kanan bawah (gambar B)... 21 11 Atrisi pada bagian labial gigi Insisivus kiri rahang bawah ... 22 12 Abrasi pada bagian labial gigi Kaninus dan Premolar rahang
bawah …… ... 23
13 Erosi permukaan labial gigi Insisivus dua kiri rahang atas perenang
di Medan dengan derajat Et ... 41 14 Gambar erosi permukaan labial gigi Insisivus satu kanan rahang
15 Gambar erosi permukaan labial gigi Insisivus dua kanan rahang
DAFTAR GRAFIK
Grafik Halaman
1 Distribusi frekuensi erosi permukaan labial gigi anterior permanen rahang atas dan rahang bawah pada perenang di beberapa kolam
renang medan ... 37 2 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang atas pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan jenis kelamin ... 43 3 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang bawah pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan jenis kelamin ... 44 4 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang atas pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan umur ... 45 5 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang bawah pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan umur ... 46 6 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang atas pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan lama menjadi perenang ... 47 7 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang bawah pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan lama menjadi perenang ... 48 8 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang atas pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan frekuensi berenang perminggu .... 49 9 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang bawah pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan frekuensi berenang perminggu .... 50 10 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi
anterior permanen rahang atas pada gigi perenang di beberapa
11 Distribusi frekuensi persentase derajat erosi permukaan labial gigi anterior permanen rahang bawah pada gigi perenang di beberapa
kolam renang medan berdasarkan durasi berenang perminggu ... 52 12 Distribusi frekuensi perenang mengkonsumsi susu setiap hari di
beberapa kolam renang medan ... 54 13 Distribusi frekuensi jenis tindakan perenang sebelum berenang di
beberapa kolam renang medan ... 55 14 Distribusi frekuensi jenis tindakan perenang sesudah berenang di
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Skema Alur Pikir 2. Lembar Pengamatan 3. Kuesioner Penelitian
4. Dokumentasi Foto Erosi Gigi pada Perenang di Medan 5. Ethical Clearence
6. Surat Penelitian
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Erosi gigi adalah hilangnya jaringan keras gigi secara irreversibel disebabkan proses kimiawi zat asam tanpa melibatkan bakteri dan dapat menyebabkan hilangnya permukaan gigi dimulai dari permukaan enamel yang secara progresif menyebabkan kehilangan jaringan dentin dan mencapai jaringan pulpa, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya inflamasi pulpa, nekrosis dan patologi periapikal.1-3 Faktor penyebab erosi gigi dapat berasal dari dalam tubuh (intrinsik) dan luar tubuh (ekstrinsik). Faktor ekstrinsik dapat disebabkan oleh diet makanan, obat-obatan, lingkungan, pekerjaan dan gaya hidup. Salah satu faktor lingkungan (ekstrinsik) adalah air kolam renang.1,2 Bahan kimia yang ditambahkan kedalam air kolam renang salah satunya adalah klorin yang bertujuan untuk mendesinfeksi bakteri dan algae.4 Klorin yang ditambahkan dapat berupa tricholoroisocyanuric acid, calcium hypochlorite, sodium hypochlorite dan chlorine gas.5 Klorin yang ditambahkan ke air kolam renang akan menghasilkan hypochlorous acid (HOCl) dan hydrochloric acid
(HCl). HOCl adalah bahan germisidal pada klorinisasi sedangkan HCl adalah hasil produk yang tidak diinginkan yang dapat membuat air kolam renang menjadi asam. Pengaruhnya terhadap perenang adalah dapat terjadinya erosi gigi. 4-7
terkena erosi adalah permukaan labial gigi anterior dimana atlet renang 4,68 kali lebih rentan terkena erosi gigi dibandingkan perenang biasa.5 Survei epidemologi oleh Centerwall (1986), melaporkan bahwa pada 3% bukan perenang, 12% perenang dan 39% atlet renang dijumpai erosi gigi yang berenang pada air kolam renang dengan pH 2,7 yaitu konsentrasi ion H+ menunjukkan 100.000 kali lebih banyak dari pH air kolam renang yang dianjurkan.4,8,9 Hal ini didukung dengan penelitian Kane S dan Keeton R (1983) yang menyatakan bahwa pH air kolam renang yang dapat menyebabkan terjadinya erosi gigi adalah 2,7 sampai 7.10 Rendahnya pH air kolam renang ada hubungannya dengan penelitian Gabai (1988) yang menganalisa hipotesa bahwa erosi gigi pada perenang dapat disebabkan kurangnya pemonitoran dan tidak kuatnya membufferkan air kolam renang sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pH rendah, air kolam renang yang bergas klorin dan erosi gigi pada perenang. Pada penelitian Radlinska (2012) menyatakan bahwa bukan hanya pH air kolam renang yang asam saja yang dapat menyebabkan erosi gigi tetapi juga dipengaruhi oleh bahan klorin yang ada pada air kolam renang. Menurut peneliti tersebut, meskipun pH air kolam renang netral (7,2-8,0), proses disolusi hidroksi apatit (HAP) pada enamel terjadi akibat dari adanya kandungan ion klorat, kalsium, pospat, magnesium, dan lainnya pada air kolam renang yang menyebabkan air kolam renang dibawah titik jenuh (undersaturation).4 Demikian juga hal ini didukung oleh penelitian Departemen Kesehatan Virgnia (1983) yang melaporkan bahwa adanya hubungan gas klorin yang menyebabkan korosi berupa etching pada semen dinding kolam yang terpapar air kolam renang.6
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin meneliti adanya erosi gigi pada perenang di kota Medan karena penelitian mengenai erosi gigi pada perenang belum banyak dilakukan di Indonesia umumnya dan di Medan khususnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
Berapakah prevalensi erosi gigi permukaan labial gigi anterior permanen rahang atas dan rahang bawah pada perenang umur 17-60 tahun di beberapa kolam renang Medan?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk memperoleh data prevalensi erosi gigi permukaan labial gigi anterior permanen rahang atas dan rahang bawah pada perenang umur 17-60 tahun di beberapa kolam renang Medan.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Sebagai data masukan bagi dinas kesehatan tentang data prevalensi erosi gigi pada perenang di Medan dan untuk merencanakan program kesehatan erosi gigi meliputi pencegahan dan perawatan kesehatan gigi perenang.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1Air Kolam Renang
Air kolam renang adalah air di dalam kolam renang yang digunakan untuk olah raga renang dan kualitasnya memenuhi syarat. Kualitas air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan kimia yaitu kadar aluminium, kesadahan, oksigen, pH, klorin dan tembaga.14 Kimia air kolam renang terdiri dari agen disinfektan (klorin) dan buffer.14,15
2. 2Faktor yang Mempengaruhi pH Air Kolam Renang
2.2.1 Klorin
Klorin adalah agen oksidasi yang kuat dan metode yang paling tua dalam mendesinfeksi secara terus-menerus untuk persediaan air umum.16,17 Klorin dalam bentuk gas ditemukan oleh Karl Wilhelm Scheele (1774) melalui reaksi hydrochoric acid (HCl) dengan pirolusit, suatu mineral yang mengandung MnO2.17 Klorin dalam bentuk serbuk ditemukan oleh Charles Tennant (1799) dengan mereaksikan kapur (Ca(OH)2), klorin dan asam sulfat (H2SO4) sedangkan klorin dalam bentuk unsur oleh Humphrey Davy (1810).14,17
Terdapat empat tipe mayor produk klorin yaitu gas klorin, sodium hypochorite (liquid), calcium hypochlorite (granular) dan trichloroisocyanuric acid atau sodium dichloroisocyanuric acid (stabil).5,12,16 Penggunaan gas klorin atau
trichloroisocyanuric acid akan menghasilkan larutan yang asam.
Trichloroisocyanuric acid diidentifikasi sebagai faktor risiko menghasilkan asam yang kuat pada kolam renang dibandingkan sodium hypochlorite dan calcium hypochlorite dikarenakan trichloroisocyanuric acid mengandung 90% klorin.12
Trichloroisocyanuric acid banyak digunakan karena ekonomis dan mencegah proliferasi algae di air pada waktu yang bersamaan.12,16
Secara kimiawi, molekul klorin beraksi dengan air dan secara cepat dihidrolisis menjadi hypochlorous acid (HOCL) dan hydrochloric acid (HCL) seperti formula dibawah ini. 7,16,17
Cl2 + H2O HOCl + HCl Cl2 + H2O HOCl + H+ + Cl Chlorine air hypochlorous acid hydrochoric acid
HOCl adalah agen pembunuh kuman dalam klorinasi dan HCl adalah produk yang tidak diinginkan.4,6 Kedua asam terbentuk dari reaksi hidrolisis.16,17 Molekul klorin beraksi dengan air menghasilkan hypochlorous acid (HOCL) dan hydrochloric acid (HCL).7 Hydrogen ion (H+) keluar dalam reaksi tersebut menyebabkan reduksi pH.16,17 pH ini penting dalam terjadinya reaksi hidrolisis. Jika pH dibawah empat, maka HOCL dapat memisah menghasilkan ion hypochlorite (OCl-) seperti formula dibawah ini.16
HOCl H+ + OCl
-Hypochlorous acid hydrogen ion hypochlorite ion
menurun (gambar 1).16 Sebagai contoh 96% dari HOCL menghasilkan pH 6, 75% menghasilkan pH 7 dan hanya 3% menghasilkan pH 9.17
Gambar 1. Hubungan konsentrasi HClO dan OCl- dengan pH18
2.2.2 Buffer Air Kolam Renang
Untuk menjaga kestabilan level pH air kolam renang dapat ditambahkan
buffer berupa sodium bikarbonat (Na2CO3).4,5,18 Na2CO3 adalah suatu garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat. Bila dilarutkan kedalam air akan terhidrolisa menghasilkan larutan yang bersifat basa yang dapat menetralisir kadar asam.19 Jika tidak diberi buffer, pH air kolam renang dapat menurun dengan cepat menjadi tiga.4
2.2.3 Sinar Matahari
Hypochlorite ion (OCl-) mengalami fotolisis secara cepat jika terpapar sinar UV matahari dengan panjang gelombang 290-350 nm.15,18,20
Sekitar 90% klorin kolam renang outdoor hilang karena reaksi ini sehingga pH air dapat menurun hingga 3 karena pecahnya ikatan HOCl.18 Seperti dalam pengamatan yang dilakukan oleh White G dimana pH berubah dari 7,4 menjadi 4 dalam semalam.6
2. 3Faktor yang Mempengaruhi Korosif Air Kolam Renang
Korosi (fisika) adalah penurunan mutu bahan metal akibat reaksi elektrolit dengan lingkungannya.21 Biokorosi (biologi) adalah reaksi kimia, biokimia atau elektrokimia yang dapat menyebabkan degradasi molekukar jaringan hidup, termasuk bagian gigi yang bukan bahan metal.22 Korosi terjadi pada saat adanya reaksi pelarutan bahan menjadi ion pada permukaan bahan yang diawali dengan pelepasan elektron oleh atom-atom menjadi ion-ion positif yang larut dalam lingkungannya melalui reaksi kimia.21 Hydrochloric acid (HCl) adalah asam yang paling korosif.13 Penelitian Wetton S (2006) menunjukkan adanya kehilangan kalsium pada permukaan gigi sebesar 27% setelah perendaman HCl dengan pH 2,3 selama 5 menit.23
Korosi erosi merupakan kerusakan kumulatif yang ditimbulkan oleh reaksi korosi elektrokimia dan efek mekanis dari gerakan relatif antara elektrolit dan permukaan korosi.24 Gerakan yang dimaksud adalah gerakan air kolam renang dengan kecepatan tinggi yang diikuti dengan efek abrasif dengan pengausan mekanis pada ubin kolam dan permukaan gigi.22,24 Laju pertumbuhan dari erosi korosi dipengaruhi oleh pH. Semakin rendah pH, maka semakin tinggi laju korosi yang terjadi.24 Ketika air kolam renang mempunyai pH 2 atau dibawahnya, gas klorin dalam air mengkorosi dan mengkikis ubin kolam.6,8,10
renang. Ketidakjenuhan (undersaturation) kandungan ion tersebut dalam air kolam renang membuat air kolam renang menjadi korosif. Sebaliknya, kejenuhan akan membuat air kolam renang menjadi keruh.4
2. 4 Struktur Gigi
2.4.1 Struktur Jaringan Gigi
Struktur jaringan gigi terdiri dari jaringan keras dan lunak. Jaringan keras adalah jaringan yang mengandung bahan anorganik atau mineral kalsium, terdiri dari enamel, dentin dan sementum.11,24,25 Jaringan lunak adalah jaringan pulpa yang terdapat dalam rongga pulpa sampai foramen apikal. Enamel dan sementum adalah permukaan luar yang melindungi dentin. Dentin adalah bagian utama dari gigi, pada permukaan mahkota dilapisi enamel dan pada permukaan akar dilapisi sementum. Dentin merupakan bagian terbesar dari gigi dan merupakan dinding yang melindungi rongga yang berisi jaringan pulpa.25
Enamel berasal dari jaringan ektoderm yang penuh dengan garam kalsium.25,26 Sedangkan dentin dan sementum berasal dari jaringan mesoderm yaitu mempunyai susunan dan asal yang sama dengan jaringan tulang.25 Komponen gigi terdiri dari bahan anorganik, organik dan air.11,24,25 Bahan anorganik enamel terdiri dari mineral kalsium 36,7%, fosfat 17,4% sedangkan dentin mengandung mineral kalsium 25,1% dan fosfat 13,9%.11,24 Enamel sebagian besar terdiri dari hidroksi apatit (HAP) dan sebagian kecil flour apatit (FAP).11,24,25 Kristal mineral di dentin lebih kecil dari pada enamel sehingga area permukaan dentin (gram) lebih mudah terlepas atau terserang asam (erosi gigi).27
Tabel 1. Komposisi enamel dan dentin27
Komponen Enamel (volume) Dentin (volume)
Hidroksi apatit 85 % 47 %
Air 12 % 20 %
Pada tabel 1 tampak perbedaan komposisi antara enamel dan dentin. Protein pada enamel berguna sebagai pelindung kristal mineral dari asam dan komposisinya lebih banyak dari pada lemak dalam komponen organik.27 Kandungan air pada enamel berpengaruh pada difusi asam yaitu proses perpindahan molekul atau ion yang larut dalam air (kalsium dan pospat) dari dalam enamel ke saliva karena adanya perbedaan konsentrasi selama proses erosi gigi.27,28 Dentin mempunyai protein yang berbeda yang banyak mengandung collagen tipe 1 yang akan melindungi gigi dari erosi gigi dan hanya 10% protein noncollagenous.22,27 Kandungan lemak pada dentin hanya 1% dari beratnya dan dapat dilihat dari tabel, dentin mempunyai kandungan air cukup besar sehingga dentin lebih mudah terserang erosi gigi.27
Enamel tidak mempunyai kemampuan untuk menggantikan permukaan yang rusak. Sehingga enamel yang lepas dari jaringan enamel lainnya tidak dapat dibentuk kembali.25 Berbeda dengan dentin yang dapat membentuk dentin sekunder yaitu dentin yang terbentuk pada dinding sebelah dalam dari rongga pulpa yang dapat tumbuh selama hidup yang dibentuk sesuai dengan banyaknya daerah dentin yang mengalami kerusakan.3,25
2.4.2 Struktur Bagian Gigi
Struktur bagian gigi terdiri dari mahkota dan akar gigi. Mahkota gigi adalah bagian gigi yang dilapisi jaringan enamel dan terletak di luar ginggiva.25 Akar gigi adalah bagian gigi yang dilapisi jaringan sementum dan tertanam di tulang alveolar. Mahkota dan akar gigi dipisahkan oleh garis servikal, yaitu batas antara jaringan sementum dan enamel gigi.25,29
Pada bagian mahkota gigi Insisivus terdapat tepi insisal (insisal edge), yaitu tonjolan kecil dan panjang yang merupakan sebagian dari permukaan Insisivus untuk memotong makanan. Sedangkan pada gigi Kaninus, Premolar dan Molar terdapat
Mahkota gigi dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu sepertiga insisal, sepertiga tengah dan sepertiga servikal (gambar 2). Sepertiga tengah adalah bagian diantara servikal dan insisal gigi.25
Gambar 2. Pembagian mahkota pada gigi anterior25
2. 5Morfologi Normal Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen
Permukaan labial gigi adalah sisi gigi yang menghadap ke bibir. Gigi anterior terdiri dari gigi Insisivus pertama, Insisivus kedua dan Kaninus.29
2.5.1 Morfologi Normal Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen
Rahang Atas
2.5.1.1Insisivus Pertama Rahang Atas
Gigi Insisivus pertama rahang atas adalah gigi pertama rahang atas yang terletak di kiri kanan dari garis tengah (median).25 Bentuk mahkotanya seperti sekop, lebar, datar dengan tepi insisal (incisal edge) lurus pada gigi dewasa.25,29 Tepi insisal ini tidak lurus ketika baru erupsi tetapi terbagi dalam tiga puncak bundar (mamelon) yang lama-kelaman menjadi rata akibat pemakaian pengunyahan.29
Pada permukaan labial terdapat dua lekukan (grooves), yaitu di mesial dan distal.25 Permukaan labial lebih dominan lurus (transerve) dan cembung di batas daerah proksimal dan servikal. Sudut mesial insisal lebih rata dibandingkan sudut distal lebih membulat.25,29
1/3 servikal gigi
1/3 tengah gigi
2.5.1.2Insisivus Kedua Rahang Atas
Gigi Insisivus kedua rahang atas adalah gigi Insisivus kedua dari garis tengah. Dibandingkan dengan gigi Insisivus pertama, dimensi mahkotanya lebih kecil dan bentuknya lebih bulat.25 Terdapat mamelon pada tepi insisal saat erupsi tetapi kurang jelas konturnya. Pada gigi dewasa, tepi insisal tidak begitu lurus baik bagian mesial maupun distal. Permukaan labial lebih cembung dan kurang lurus dibandingkan gigi Insisivus pertama.29
2.5.1.3Kaninus Rahang Atas
Gigi Kaninus rahang atas adalah gigi ketiga dari garis tengah.25 Mahkotanya panjang dan tegak yang terbagi bagian mesial mengarah ke depan dan distal mengarah ke samping belakang.25,29 Tepi insisal lebih bersudut atau runcing daripada gigi Insisivus. Permukaan labial lebih cembung dimulai dari ujung puncak (cusp) ke servikal.29 Terdapat dua buah groove yaitu disebelah mesio-labial dan disto-labial.25
Gambar 3. Gambar permukaan labial gigi Insisivus (gambar A) dan gigi Kaninus (gambar B) pada rahang atas25
2.5.2 Morfologi Normal Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen
Rahang Bawah
2.5.2.1Insisivus Pertama Rahang Bawah
atas.29 Tepi insisalnya lurus dengan sudut mesial lurus dan distal membulat.25 Permukaan labialnya rata sekali dengan sedikit cembung dimulai dari bagian insisal hingga servikal.25,29
2.5.2.2Insisivus Kedua Rahang Bawah
Insisivus kedua rahang bawah adalah gigi kedua dari garis tengah. Bentuk mahkotanya hampir sama dengan gigi Insisivus pertama rahang bawah hanya ukurannya lebih besar. Tepi insisalnya miring ke distal dan tidak tegak lurus.7 Permukaan labialnya lebih luas di bagian insisal dan semakin lancip ke bagian servikal.31
2.5.2.3Kaninus Rahang Bawah
Kaninus rahang bawah adalah gigi ketiga dari garis tengah. Mahkotanya lebih panjang serviko-insisal dan lebih sempit mesio-distal gigi Kaninus rahang atas.25 Permukaan labialnya cenderung condong miring.29 Terdapat dua buah groove yaitu disebelah mesio-labial dan disto-labial.25
2. 6Hubungan Erupsi Gigi dengan Erosi Gigi
Erupsi gigi adalah proses keluarnya gigi dari tulang alveolar sampai ke oral cavity (menembus ginggiva) hingga ke posisi oklusi dengan gigi antagonisnya. Hal ini adalah proses dinamis yang mencakup penyelesaian perkembangan akar, pembentukan periodonsium dan pemeliharaan oklusi fungsional.29,30 Pergerakan gigi ke arah rongga mulut dimulai segera setelah mahkota terbentuk di dalam tulang rahang.25,30 Erupsi gigi sempurna adalah erupsi dengan keluarnya seluruh mahkota gigi.29
Erupsi gigi kedalam rongga mulut dan perkembangan akar terjadi pada rentang umur kronologis yang luas (tabel 2).30 Gigi permanen yang pertama kali erupsi adalah molar pertama yang letaknya distal dari molar dua desidui pada usia enam tahun dan sering disebut six years molar. Erupsi terakhir gigi permanen anterior adalah gigi Kaninus pada umur 11-12 tahun dan gigi posterior adalah gigi Molar tiga pada umur 17-21 tahun. 25
Gigi yang pertama kali erupsi merupakan gigi yang lebih lama terpapar asam sehingga mempunyai erosi gigi yang lebih parah dibandingkan gigi yang terakhir erupsi. Pada gigi anterior, gigi yang yang pertama kali erupsi adalah gigi Insisivus sentralis (6-8 tahun) sehingga lebih rentan erosi gigi daripada gigi Kaninus (9-12 tahun) dimana semakin lama terpapar semakin rentan terkena erosi gigi.4,5
Erupsi gigi permanen menurut urutannya sebagai berikut. 25 a. Molar pertama rahang atas dan rahang bawah
b. Insisivus pertama rahang bawah
c. Insisivus pertama rahang atas dan Insisivus kedua rahangbawah d. Insisivus kedua rahangatas
e. Kaninus rahang bawah f. Premolar pertama rahang atas
g. Premolar pertama rahang bawah dan Premolar kedua rahang atas h. Kaninus rahang atas dan Premolar rahang bawah
Tabel 2. Waktu erupsi gigi dan pembentukan akar.25
2. 7 Hubungan Perenang, Air Kolam Renang dan Erosi Gigi
2.7.1 Perilaku Perenang
yang sudah berlatih rutin selama 7-10 tahun terkena erosi gigi sebesar 11% sedangkan yang sudah berlatih lebih dari 10 tahun terkena erosi gigi sebesar 50%.4
2.7.2 Patogenesa
Adanya paparan asam air kolam renang dalam waktu yang lama kedalam mulut akan menyebabkan perubahan pH saliva sehingga permukaan gigi menjadi asam.11 Pada model siklus pH (gambar 5), pH kritis dari HAP adalah 5,5 sedangkan FAP adalah 4,5.11,24,28 Pada stadium awal terjadi interaksi antara ion asam dan grup fosfat yang terdapat pada saliva.11,24 Bila konsentrasi ion H sangat kuat akan terjadi demineralisasi HAP dengan pelepasan ion kalsium.2,11,24 Gabungan saliva dan asam pada pH lebih kecil dari 4 menyebabkan saliva berada di titik jenuh sehingga terjadi penguraian kristal apatit baik pada HAP maupun FAP menjadi Ca2+, PO43-, F dan OH.2,11,28
Reaksi kimia pelepasan ion kalsium dari enamel gigi dalam suasana asam ditunjukkan dengan persamaan reaksi sebagai berikut.28
Ca10(PO4)6F2 Ca10(PO)6F2 + 2n H+ NCa2+ + Ca10– n H20 –2n(PO4)6 F2 Padat terlarut terlepas padat
Proses erosi gigi dimulai dari adanya pelepasan kalsium enamel gigi.4,23,25 Kecepatan pelepasan kalsium enamel dipengaruhi oleh pH, konsentrasi asam, waktu dan kehadiran ion sejenis kalsium dan fosfat.28 Bila hal ini berlanjut terus akan menyebabkan enamel hilang atau terkikis lapis per lapis.25,31 Pada penglihatan mikroskopik, demineralisasi yang terus menerus akan membentuk pori-pori kecil atau porositas pada permukaan enamel yang sebelumnya tidak ada.7,28,31 Pada jaringan dentin, erosi gigi dimulai dari peritubular ke intertubular dentin yang menyebabkan tubulus dentin terbuka dan melebar menyebabkan gigi hipersensitif.11,31 Secara progesif dapat mencapai jaringan pulpa sehingga menimbulkan inflamasi pulpa, nekrosis dan patologi periapikal.3
Luas dan banyaknya destruksi gigi bergantung pada kekuatan dari pH yang rendah dan frekuensi serangan bahan erosif.11 Semakin rendah pH akan meningkatkan ion H+ sehingga semakin banyak dan cepat kalsium yang lepas dari enamel gigi.26,28 Seperti pada penelitian Chuenarrom (2010), permukaan enamel yang hilang akibat air kolam renang dengan pH 3,85 adalah 1,4 m dan pH 2,91 adalah 7 m.7
Secara umum bukan hanya pH saja penyebab terjadinya erosi gigi, tetapi juga bergantung pada tipe asam, kapasitas buffer, konsentrasi kalsium, pospat dan
karena air kolam renang korosif atau dibawah jenuh (undersaturation) dengan kalsium.33 Seperti pada penelitian Radlinska (2010) yaitu adanya erosi gigi pada perenang kompetitif sebesar 26% perenang pada air kolam renang dengan pH 7,2 karena kandungan kalsium yang undersaturation.5
Kelasi adalah adanya agen asam tertentu yang tidak suka dengan kalsium dengan menghilangkannya dari enamel sehingga memicu demineralisasi dan mengurangi kejenuhan (supersaturation) saliva.11-13 Sifat adhesi asam adalah menyatu dengan permukaan substrat dan mencegah terpisah dari permukaan tersebut.36 Titrasi asam adalah kemampuan zat asam untuk mengambil ion H+ yang ada di lingkungan rongga mulut untuk berinteraksi dengan permukaan gigi.12,32
Demineralisasi awal pada permukaan gigi dapat dianggap tahap reversibel karena dapat diperbaiki oleh saliva.11,19,32 Saliva mulai bertindak sebelum dan sesudah serangan asam dengan peningkatan laju aliran saliva, menetralkan pH dan membentuk pelikel sebagai barier menjaga kontak langsungnya asam ke permukaan gigi.13,22,33 Remineralisasi adalah suatu proses dimana mineral terutama kalsium kembali ke jaringan keras gigi setelah demineralisasi pada saat lingkungan rongga mulut jenuh (supersaturation) dengan ion kalsium dan pospat.13
Saliva yang serous (cair) lebih efektif mencegah erosi gigi karena banyak mengandung mineral dibandingkan yang mukus (kental).13 Kurangnya laju aliran saliva yang disebabkan pemakaian obat-obatan, gangguan kelenjar saliva, dehidrasi akan mengurangi perlindungan gigi dari asam.13,26 Semakin tinggi aliran saliva akan melindungi permukaan gigi karena kemampuannya dalam membersihkan asam.13,26 Laju aliran saliva yang tinggi akan meningkatkan buffer bikarbonat di komposisi saliva sehingga dapat memfasilitasi kalsium dan pospat kembali ke permukaan gigi dan mengurangi kehilangan mineral gigi.23
2.7.3 Gambaran Klinis Derajat Erosi Gigi
bentuk cekungan dalam (shallow concavities), tipis (smoother), membulat (rounding) dan beralur (grooving) pada enamel gigi.2,34 Bersamaan hilangnya enamel, terbukanya gigitan anterior (anterior open bite) juga dapat terjadi.36 Pada erosi gigi yang berat, enamel biasanya akan hilang sepenuhnya meninggalkan permukaan dentin yang sensitif, inflamasi pulpa, nekrosis dan periapikal patologi.2,13,33
Jika terdapat tambalan, tambalan seperti terangkat, tampak keluar dari gigi karena gigi lebih cepat melarut dari pada tambalan.33,35 Awalnya plak dan kalkulus di permukaan gigi akan melindungi difusi asam, tetapi akan hilang karena asam melarutkan dan mengkikis selapis demi selapis.2,25
Cate (1961) mengestimasi tentang derajat erosi gigi sebagai berikut.34
a. Etching (Et) : Permukaan enamel gigi berkilat seperti kaca (ground glass), tanpa kehilangan kontur gigi.
b. Derajat 1 (G1) : Hilang lapisan enamel seperti tampak terasah (polished), tipis (smoother) dan membulat (rounded).
c. Derajat 2 (G2) : Hilang lapisan enamel dan diikuti dentin.
d. Derajat 3 (G3) : Hilang lapisan enamel, diikuti dentin dan dentin sekunder.
Gambar 6. Klasifikasi Cate (1961) derajat erosi gigi34
Gambaran klinis derajat erosi gigi berdasarkan klasifikasi Cate (1961) sebagai berikut.3,35
Gambar 7. Gambar derajat erosi gigi: Gambar etching (Et) pada permukaan labial gigi Insisivus sentralis kanan rahang atas35
Gambar 8. Gambar derajat erosi gigi: Derajat 1 (G1) erosi gigi pada gigi Kaninus kiri rahang bawah. Derajat 2 (G2) erosi gigi pada gigi Insisivus lateralis kanan rahang atas. Derajat 3 (G3) erosi gigi pada gigi Insisivus sentralis kiri rahang atas 35
Gambar 9. Gambar derajat erosi gigi: (G4) Derajat 4 erosi gigi pada gigi Premolar dua3
G2
G3
G1
Gambar 10. Gambar lateral derajat erosi gigi: Derajat 1 (G1) erosi gigi pada gigi Insisivus pertama kanan atas (gambar A) dan derajat 2 (G2) erosi gigi pada gigi Insisivus pertama kanan bawah (gambar B)34
2.7.4 Gambaran Klinik Erosi Gigi pada Perenang
Erosi gigi pada perenang yang disebabkan korosif dan rendahnya pH air kolam renang menggambarkan erosi gigi pada gigi anterior dan banyak menyerang permukaan labial terutama dari gigi Insisivus rahang atas permukaan mesial.4,5,36,37 Hal ini disebabkan perlindungan saliva rendah, dan sebaliknya pada permukaan lingual gigi rahang bawah mempunyai resiko lebih rendah.13,33 Terpaparnya air kolam renang terus menerus dalam jangka waktu yang panjang merupakan faktor utama terjadinya erosi gigi pada permukaan labial.4,36
Erosi gigi pada permukaan labial lebih banyak ditemukan pada perenang laki-laki karena mereka lebih lama dan agresif berenang sehingga meningkatkan agitasi/pergerakan seperti mendesiskan air di dalam mulut. Aktivitas tersebut akan meningkatkan proses disolusi karena air kolam renang yang ada di permukaan gigi akan mempengaruhi proses remineralisasi enamel. Di samping itu, jumlah air kolam renang yang masuk ke mulut berkaitan dengan jumlah saliva yang akan memodifikasi proses disolusi permukaan gigi.4
A G1 B
2.7.5 Hubungan Erosi Gigi Perenang dengan Atrisi dan Abrasi Gigi
Erosi gigi dapat melibatkan dua jenis keausan enamel, yaitu menghilangkan langsung jaringan keras gigi melalui proses disolusi dan membuat permukaan gigi melunak diikuti keausan mekanis.39 Keausan mekanis adalah proses kehilangan permukaan gigi akibat interaksi antara dua atau lebih permukaan gigi atau sumber lainnya meliputi atrisi dan abrasi gigi.13,37 Atrisi gigi adalah suatu proses rusaknya permukaan gigi yang disebabkan kontaknya antar geligi tetangga atau lawannya secara langsung seperti mastikasi dan parafungsi gigi, bruksism (gambar 11).37,38 Abrasi adalah suatu proses rusaknya permukaan gigi yang biasanya disebabkan proses mekanis abnormal dari suatu objek yang berulang biasanya sikat gigi seperti mengasah, menggosok atau menggores (gambar 12).1,38
Gambar 12. Gambaran abrasi pada bagian labial gigi Kaninus dan Premolar rahang bawah40
Pada stadium awal, erosi gigi hanya terjadi pada permukaan enamel yang disebut dengan pelunakan (softening) dan selanjutnya lapisan enamel larut selapis demi selapis.19,39 Ketika pergerakan mekanis pada enamel dengan pH rendah, akan terjadi retakan karena tekanan (mechanical abrasion) sehingga partikel enamel yang
hypomineralized akan tersebar dan terlepas.12,38 Retakan-retakan tersebut akan terjebak diantara dua permukaan kontak menyebabkan permukaan gigi menjadi terkikis dan aus.10 Sehingga erosi gigi memodulasi atrisi dan abrasi gigi.12,32
HCl dapat memiliki pH yang sangat rendah yaitu satu sehingga sangat destruktif.13 HCl yang memisah di dalam air menjadi H+ dan Cl- secara cepat dan langsung melarutkan dan menghilangkan mineral permukaan gigi menjadi ion kalsium yang tidak berikatan.27
dari pada asam asetat (pH 3) dan asam sitrat (pH 3,2). Pengunyahan atau kontak antar gigi saat demineralisasi enamel akan menghancurkan partikel permukaan gigi sehingga permukaan gigi akan terlihat rata.39 Atrisi pada dentin lebih besar daripada enamel karena kurangnya kandungan mineral pada dentin.28,37
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3. 1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian survei deskriptif dengan pendekatan
cross sectional dimana setiap sampel diperiksa satu kali dan pada satu saat.41
3. 2 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada 8 Maret - 14 April 2013 di beberapa kolam renang di Medan, seperti kolam renang Selayang Medan, di Jalan Dr. Mansyur, dan Unimed, di Jalan William Iskandar, dimana pada kolam renang tersebut memiliki jumlah perenang yang cukup banyak.
3. 3 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah semua perenang umur 17-60 tahun pada beberapa kolam renang di Medan. Perenang yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi akan menjadi sampel penelitian yang sesuai dengan hitungan besar sampel penelitian. Cara pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan dengan sampel tersebut telah berpengalaman dalam hal berenang seperti lama menjadi perenang, frekuensi dan durasi berenang.41
Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus data proporsi pada satu populasi. Jumlah sampel yang dibutuhkan berdasarkan hasil perhitungan dengan melihat proporsi yang digunakan pada kasus ini sebesar 50% dengan tingkat kemaknaan ( 0,05.42
Keterangan42:
n = besar sampel minimum
= nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada tertentu (96% → Z score = 1,96)
P = proporsi dari penelitian yang telah ada ( bila tidak ada dianggap 50% atau 0,5 ) d = kesalahan yang dapat ditolerir (12,5%)
Hasil perhitungan:
Jadi jumlah sampel minimal adalah 61 orang sampel perenang.
3. 4 Kriteria Inklusi dan Eklusi
3.4.1 Kriteria Inklusi
Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini, yaitu:
1. Perenang di kolam renang Medan yang hanya didata satu kali.
2. Perenang yang mempunyai 12 gigi permanen anterior rahang atas dan rahang bawah (Insisivus pertama, Insisivus kedua dan Kaninus) yang sudah erupsi sempurna.
3. Frekuensi berenang minimal 2 kali seminggu. 4. Durasi berenang minimal 4 jam per minggu. 5. Lama menjadi perenang minimal 5 tahun. 6. Umur perenang 17-60 tahun.
3.4.2 Kriteria Ekslusi
Adapun kriteria eklusi pada penelitian ini, yaitu: 1. Mempunyai crowded berat pada gigi anterior. 2. Adanya fraktur dan karies gigi.
3. Pernah dan sedang memakai piranti ortodontik. 4. Pernah dan sedang perawatan bleaching gigi. 5. Atrisi gigi yang lebih dari 1/3 insisal mahkota gigi.
6. Mempunyai riwayat GERD, bulimia, kebiasaan muntah dan alcoholic. 7. Mempunyai pekerjaaan yang berhubungan dengan asam seperti alkohol,
wine dan asam sulfat.
8. Mempunyai kebiasaan mengkonsumsi obat asam seperti vitamin C. 9. Mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman asam. 10. Mempunyai kebiasaan bruksism.
3. 5 Variabel Penelitian
3.5.1 Variabel Bebas
Yang termasuk variabel bebas pada penelitian ini adalah gigi anterior (Insisivus pertama, Insisivus kedua, Kaninus) permanen rahang atas dan rahang bawah pada perenang umur 17-60 tahun di Medan.
3.5.2 Variabel Tergantung
3. 6 Defenisi Operasional
1. Perenang adalah orang yang dapat berenang dengan frekuensi minimal 2 kali seminggu, durasi minimal 4 jam perminggu dan lamanya menjadi perenang minimal 5 tahun.
2. Kolam renang adalah kolam indoor atau outdoor yang digunakan untuk olah raga renang yang airnya mengandung klorin dan agen buffer.
3. Erosi gigi adalah hilangnya jaringan keras gigi akibat proses kimia dengan klasifikasi Cate (1961).
4. Jaringan gigi adalah jaringan keras (enamel, dentin) dan jaringan lunak (pulpa).
Jaringan keras:
a. Enamel adalah lapisan terluar yang melapisi mahkota gigi.
b. Dentin adalah komponen terbesar jaringan keras gigi bewarna kuning berupa dinding yang melindungi rongga pulpa. Dentin sekunder adalah dentin yang terbentuk pada dinding sebelah dalam dari rongga pulpa yang dibentuk sesuai dengan banyaknya daerah dentin yang mengalami kerusakan.
Jaringan lunak:
a. Pulpa adalah jaringan lunak yang terletak di tengah gigi dikelilingi dentin. 5. Gigi anterior adalah gigi yang berada di depan yaitu gigi Insisivus sentralis, Insisivus lateralis dan Kaninus.
6. Permukaan enamel gigi adalah sisi enamel gigi paling luar. Permukaan labial gigi adalah sisi gigi yang menghadap ke bibir.
7. Kebiasaan adalah sesuatu yang biasanya dikerjakan berulang yang merupakan bagian dari kehidupannya, seperti kebiasaan mengkonsumsi obat, makanan dan minuman asam.
b. Bulimia adalah suatu gangguan pola makan dengan memuntahkan makanannya kembali.
c. Bruksism adalah gerakan pengunyahan secara parafungsi yang dapat merusak struktur gigi ditandai adanya atrisi pada gigi anterior dan posterior terutama pada permukaan oklusal.
3. 7 Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan oleh peneliti adalah sarung tangan, masker, alat tulis, kertas untuk kuesioner, komputer dan printer. Alat yang digunakan untuk penelitian adalah cheek retractor, push-push, kaca mulut, sonde, pinset, dan kamera untuk dokumentasi penelitian. Bahan penelitian yang digunakan adalah air mineral (gelas) dan cotton roll.
3. 8 Metode Pengumpulan Data
3. 9 Alur Penelitian
Perenang
Gigi perenang dibersihkan dengan berkumur air mineral 100cc
Pemeriksaan 6 gigi permanen anterior (dimulai dari gigi Kaninus, Insisivus kedua, Insisivus pertama kanan rahang atas ke rahang bawah) permukaan
labial menggunakan kaca mulut dan sonde
Hasil dicatat di lembar pengamatan
Pengolahan data
Derajat erosi dan area erosi permukaan labial gigi Erosi
3 2 1 1 2 3 3 2 1 1 2 3
Pemeriksaan kelengkapan gigi anterior (Kaninus, Insisivus kedua, Insisivus pertama) rahang atas dan rahang bawah, piranti ortodontik, crowded berat,
fraktur gigi, karies gigi dan atrisi >1/3 insisal gigi
Pengambilan data kuesioner
Analisa data kuesioner
Permukaan gigi dikeringkan dengan push-push
Pemasangan cheek retractor dan isolasi saliva dengan cotton roll
Dokumentasi gigi anterior dengan kamera dan foto diprint Pengamatan visual secara
3. 10 Pengolahan dan Analisis Data
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini telah dilakukan pada perenang di dua kolam renang, yaitu kolam renang Selayang dan UNIMED Medan dengan jumlah sampel 61 orang umur 17-52 tahun yang mempunyai 12 gigi anterior (732 gigi). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 Maret sampai 14 April 2013.
4.1Karakteristik Sampel Penelitian
Tabel 3 menunjukkan data demografi perenang di beberapa kolam renang Medan. Dari 61 sampel yang diteliti, diperoleh perenang laki-laki sebesar 51 orang (83,61%) dan perenang perempuan sebesar 10 orang (16,39%). Umur perenang terbanyak adalah pada umur 17-25 tahun sebesar 47 orang (77,05%) sedangkan umur 26-52 tahun sebesar 14 orang (22,96%) yang terdiri dari umur 26-34 tahun sebesar 7 orang (11,48%), umur 35-43 tahun sebesar 3 orang (4,92%) dan umur 44-52 tahun sebesar 4 orang (6,56%).
4.2Distribusi Frekuensi Erosi Gigi
Grafik 1. Distribusi Frekuensi Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas dan Rahang Bawah pada Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan
4.3Distribusi Erosi Gigi Berdasarkan Elemen Gigi
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas dan Rahang Bawah pada Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Elemen Gigi
n (%) N (%) n (%) N (%)
Kaninus kanan 61 100 61 100 61 100 61 100
Insisivus kedua kanan 61 100 61 100 61 100 61 100
Insisivus pertama kanan 61 100 61 100 61 100 61 100
Insisivus pertama kiri 61 100 61 100 61 100 61 100
Insisivus kedua kiri 61 100 61 100 61 100 61 100
Kaninus kiri 61 100 61 100 61 100 61 100
4.4Distribusi Erosi Gigi Berdasarkan Area Permukaan Labial Gigi
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas dan Rahang Bawah pada Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Area Permukaan Labial
n (%) n (%)
1 area permukaan
(1/3 servikal atau 1/3 tengah atau 1/3 insisal saja)
Total permukaan gigi 366 100 366 100
4.5Distribusi Derajat Frekuensi Erosi Gigi Berdasarkan Elemen Gigi
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas pada Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Elemen Gigi
Dari kasus erosi gigi anterior rahang atas perenang ini dijumpai derajat erosi gigi yaitu etching (Et), derajat 1 (G1) dan derajat 2 (G2) tetapi tidak dijumpai derajat 3 (G3) dan derajat 4 (G4). Pada tabel 6 menunjukkan bahwa elemen gigi rahang atas yang mempunyai persentase tertinggi terkena erosi gigi dengan derajat tertinggi (G2) adalah gigi Insisivus pertama kiri (14,75%). Sedangkan gigi yang paling rendah terkena erosi gigi dengan derajat tertinggi (G2) adalah gigi Kaninus kiri (1,64%).
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Bawah pada Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Elemen Gigi
n (%) n (%) n (%) n (%) n (%) N (%)
Kaninus kanan 17 27,87 44 72,13 0 0 0 0 0 0 61 100
Insisivus kedua kanan 8 13,11 53 86,89 0 0 0 0 0 0 61 100
Pada tabel 7 menunjukkan bahwa elemen gigi rahang bawah yang mempunyai persentase tertinggi terkena erosi gigi dengan derajat tertinggi (G2) adalah gigi Insisivus pertama kiri (3,28%) dan Insisivus kedua kiri (3,28%). Sedangkan gigi yang paling rendah terkena erosi gigi dengan derajat tertinggi (G2) adalah gigi Kaninus kanan (0%) dan Insisivus dua kanan (0%).
Gambar 13. Erosi permukaan labial gigi Insisivus dua kiri rahang atas gigi perenang di Medan dengan derajat Et43
Gambar 14. Erosi permukaan labial gigi Insisivus satu kanan rahang atas gigi perenang di Medan dengan derajat G143
Gambar 15. Gambaran erosi permukaan labial gigi Insisivus satu kanan rahang atas gigi perenang di Medan dengan derajat G243
G1
4.6Distribusi Derajat Frekuensi Erosi Gigi Berdasarkan Jenis Kelamin
Grafik 2. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Jenis Kelamin
Grafik 3. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Bawah pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Jenis Kelamin
4.7Distribusi Derajat Frekuensi Erosi Gigi Berdasarkan Umur
Grafik 4. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Umur
Grafik 5. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Bawah pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Umur
4.8 Distribusi Derajat Frekuensi Erosi Gigi Berdasarkan Lama Menjadi
Perenang
Grafik 6. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Lama Menjadi Perenang
Grafik 7. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Bawah pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Lama Menjadi Perenang
4.9 Distribusi Derajat Frekuensi Erosi Gigi Berdasarkan Frekuensi
Berenang Perminggu
Grafik 8. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Frekuensi Berenang Perminggu
Grafik 9. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Bawah pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Frekuensi Berenang Perminggu
4.10 Distribusi Derajat Frekuensi Erosi Gigi Berdasarkan Durasi
Berenang Perminggu
Grafik 10. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Atas pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Durasi Berenang Perminggu
Grafik 11. Distribusi Frekuensi Persentase Derajat Erosi Permukaan Labial Gigi Anterior Permanen Rahang Bawah pada Gigi Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan Berdasarkan Durasi Berenang Perminggu
4.11 Distribusi Frekuensi Faktor Risiko Erosi Gigi
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Faktor Risiko Lainnya Terjadinya Erosi Gigi pada Perenang di Beberapa Kolam Renang Medan
n % n % N %
Kebiasaan muntah 61 100 0 0 61 100
Kebiasaan GERD 61 100 0 0 61 100
Kebiasaan bruksism 61 100 0 0 61 100
Alcoholic 61 100 0 0 61 100
Kebiasaan konsumsi vit C 61 100 0 0 61 100
Kebiasaan konsumsi obat asam 61 100 0 0 61 100 Kebiasaan konsumsi minuman asam 61 100 0 0 61 100 Kebiasaan konsumsi makanan asam 61 100 0 0 61 100
Variabel Tidak Ada Ada Total (orang)
Faktor Risiko
4.12 Distribusi Frekuensi Perenang Mengkonsumsi Susu Setiap Hari
Grafik 12. Distribusi Frekuensi Perenang Mengkonsumsi Susu Setiap Hari di Beberapa Kolam Renang Medan
4.13 Distribusi Frekuensi Jenis Tindakan Perenang Sebelum Berenang
Grafik 13. Distribusi Frekuensi Jenis Tindakan Perenang Sebelum Berenang di Beberapa Kolam Renang Medan
4.14 Distribusi Frekuensi Jenis Tindakan Perenang Sesudah Berenang
Grafik 14. Distribusi Frekuensi Jenis Tindakan Perenang Sesudah Berenang di Beberapa Kolam Renang Medan
BAB 5
PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi erosi gigi pada perenang umur 17-60 tahun di Medan dengan jenis penelitian survei deskriptif pendekatan
cross sectional dan sampel diambil secara purposive sampling.
Penelitian ini dilakukan terhadap 61 perenang yang mempunyai gigi anterior permanen lengkap di rahang atas dan rahang bawah (732 gigi). Lokasi penelitian adalah kolam renang UNIMED dan Selayang Medan, terhadap perenang aktif dan atlit renang dengan kriteria yaitu lama menjadi perenang minimal lima tahun, frekuensi berenang minimal 2 kali perminggu, durasi berenang minimal 4 jam perminggu serta tidak mempunyai crowed gigi berat, tidak ada karies gigi, tidak ada fraktur gigi, tidak ada atrisi pada 1/3 insisal mahkota gigi, tidak pernah dan tidak memakai piranti ortodontik serta perawatan bleaching.
Penelitian ini dilakukan pada perenang yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan data demografi (tabel 3) sebagai berikut. Jenis kelamin perenang yang diteliti adalah perenang laki-laki (16,39%) dan perempuan (16,39%). Umur perenang yang diteliti adalah umur 17-52 tahun dengan kelompok tertinggi adalah 17-25 tahun (77,05%). Lama menjadi perenang yang diteliti adalah 5-28 tahun dengan kelompok tertinggi adalah 5-12 tahun (85,25%). Frekuensi berenang perminggu yang diteliti adalah 2-7 kali perminggu dengan kelompok tertinggi adalah 2-3 kali perminggu (57,38%). Durasi berenang perminggu yang diteliti adalah 4-36 jam perminggu dengan kelompok tertinggi adalah 4-14 jam perminggu (88,52%).
menunjukkan prevalensi yang tinggi. Penyebab erosi gigi adalah adanya paparan asam yang berkontak dengan permukaan gigi.1 Faktor asam dapat berasal dari faktor instrinsik dan ekstrinsik.2 Faktor intrinsik berasal dari asam lambung ketika muntah dan GERD sedangkan faktor ekstrinsik berasal dari obat asam, vitamin C, pekerjaan, lingkungan, makanan dan minuman asam.2 Dari data faktor risiko terjadinya erosi gigi (tabel 8) menunjukkan tidak ada satupun perenang yang diteliti mempunyai kebiasaan yang dapat sebagai faktor risiko terjadinya erosi gigi kecuali dari kebiasaan berenang. Erosi gigi pada perenang penelitian ini secara umum berhubungan dengan air kolam renang.
Faktor air kolam renang yang dapat menyebabkan erosi gigi adalah pH air kolam renang dan sifat korosif klorin.4 pH air kolam renang dipengaruhi oleh klorin,
buffer air kolam renang dan sinar matahari. Klorin yang ditambahkan ke air kolam renang yang berfungsi sebagai desifektan yang menghasilkan hypochlorous acid
penelitian Radlinska, dkk di Szczecin, Polandia (2010) mengatakan bahwa erosi gigi disebabkan oleh efek klorin karena pada penelitian tersebut ditemukannya erosi gigi meskipun pH air kolam renang sebesar 7,2.4 Sifat korosif klorin dipengaruhi oleh konsentrasi dan jenis klorinyang diberikan ke air kolam renang.4,5 Konsentrasi klorin yang dianjurkan diberi ke air kolam renang adalah 0,3-0,6 mg/dm3 karena kemampuan korosif klorinuntuk terjadinya erosi gigi sangat rendah.4Pada penelitian Rirattanapong P, dkk (2011) di Thailand menunjukkan adanya pengurangan kekerasan permukaan enamel gigi sebesar 9,76% setelah perendaman air ber-klorin dengan konsentrasi 1 mg/dm3 karena terbentuknya porositas di permukaan enamel gigi.44 Jenis klorin yang sering digunakan pada air kolam renang adalah chlorine gas, sodium hypochlorite, calsium hypochlorite dan trichloroisocyanuric acid. Pada penelitian Ungchusak, dkk (1999) di Thailand menunjukkan kolam renang yang menggunakan trichloroisocyanuric acid mempunyai risiko erosi gigi 2,78 kali dibandingkan dengan kolam renang yang menggunakan calsium hypochlorite atau
sodium hypochlorite karena trichloroiso-cyanuric acid mengandung 90% klorin sehingga menghasilkan air kolam renang yang sangat asam.5,15
memicu terjadinya demineralisasi gigi yang jika terus berlanjut menyebabkan permukaan enamel gigi secara klinis tampak kilat (etching).11-13,45 Adanya faktor waktu lama terpapar dan frekuensi serangan asam mempercepat perkembangan derajat erosi gigi yang secara progresif (gambar 6-10) dapat menyebabkan hilangnya enamel gigi (derajat G1), hilangnya dentin gigi (derajat G2) diikuti dentin sekunder (derajat G3) dan mengenai pulpa gigi (derajat G4).28,34 Pada penelitian ini ditemukan derajat erosi gigi yaitu derajat Et, G1 dan G2 sedangkan G3 dan G4 tidak ditemukan baik di rahang atas dan rahang bawah (tabel 6 dan 7) karena adanya peran saliva. Saliva mempunyai peran dalam menghambat demineralisasi/erosi gigi dengan pelikel sebagai barier yang menjaga kontak langsungnya asam ke permukaan gigi dan mempunyai buffer kapasitas saliva untuk menetralkan pH melalui peningkatan laju aliran saliva sehingga menyebabkan remineralisasi enamel gigi.1,23 Erosi gigi dipengaruhi aliran saliva dimana perenang dengan aliran saliva yang rendah serta kental mempunyai risiko erosi gigi lebih tinggi.13 Didukung dengan penelitian Walter, dkk (2013) di Michigan menunjukkan perenang dengan laju aliran saliva yang rendah mudah terkena erosi gigi karena pelarutan enamel tidak dapat dicegah.46 Pada penelitian ini, elemen gigi pada rahang atas mempunyai persentase lebih tinggi terkena erosi gigi derajat G2 dibandingkan elemen gigi pada rahang bawah karena kontak saliva lebih sedikit di gigi rahang atas dibandingkan gigi di rahang bawah sehingga proses demineralisasi gigi di rahang atas lebih aktif dibandingkan gigi di rahang bawah.13
kesempatan lebih tinggi terkena erosi gigi dengan derajat tertinggi karena lebih cepat erupsi (umur 6-7 tahun) sehingga lebih lama terpapar air kolam renang dibandingkan gigi Kaninus (umur 11-12 tahun).25 Hal tersebut diatas terbukti pada penelitian ini yaitu gigi Insisivus pertama mempunyai persentase tertinggi terkena erosi gigi derajat G2 (tabel 6 dan 7) dibandingkan gigi Kaninus. Pada penelitian ini ditemukan persentase erosi gigi bagian kiri maupun kanan rahang atas dan rahang bawah menunjukkan angka prevalensi yang tidak sama (tabel 6 dan 7) yang dapat disebabkan faktor lain yang lebih khusus (individual perenang) seperti perilaku dan cara perenang berenang, komposisi gigi, saliva seperti komposisi, volume, laju aliran saliva serta diet perenang, maka perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut.4,13
Distribusi erosi gigi berdasarkan jenis kelamin (grafik 1) pada penelitian ini menunjukkan seluruh perenang laki-laki maupun perempuan mempunyai kesempatan yang sama menderita erosi gigi yang berarti jenis kelamin tidak mempengaruhi erosi gigi melainkan faktor paparan asam. Sesuai dengan penelitian Radlinska, dkk (2010) di Szczecin, Polandia ditemukan baik perenang laki-laki maupun perempuan menderita erosi gigi, bedanya perenang laki-laki dilaporkan lebih banyak terkena erosi gigi dibandingkan perempuan karena perenang laki-laki di Polandia lebih lama di air kolam renang dan mempunyai style berenang lebih agresif seperti mendesiskan air kolam renang ke mulut sehingga adanya air di dalam mulut mempertinggi proses erosi enamel gigi karena lebih banyak serangan air kolam renang.4 Pada penelitian ini ditemukan perenang laki-laki (grafik 2 dan 3) mempunyai persentase lebih tinggi terkena erosi gigi derajat G2 sementara perenang perempuan tidak ada satupun yang terkena erosi gigi derajat G2 dikarenakan pada penelitian ini laki-laki lebih sering terpapar air kolam renang yaitu mencapai 35 jam perminggu dibandingkan perempuan yang hanya mencapai 14 jam perminggu.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini dijumpai seluruh perenang terkena erosi gigi dengan derajat Et, G1 dan G2 pada seluruh permukaan labial gigi anterior permanen rahang atas dan rahang bawah baik laki-laki maupun perempuan dengan umur 17-52 tahun yang sudah berenang selama 5-28 tahun, frekuensi berenang 2-7 kali perminggu dan durasi berenang 4-36 jam perminggu. Pada penelitian ini tidak dijumpai faktor risiko terjadinya erosi gigi pada perenang tersebut selain dari faktor paparan air kolam renang.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Para perenang disarankan menggunakan mouth guard untuk mencegah erosi gigi saat berenang.
2. Perlu dilakukannya penyuluhan kepada perenang mengenai tindakan pencegahan erosi gigi sebelum dan sesudah berenang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gandara BK, Truelove ED. Diagnosis and management of dental erosion. J Contemporary Dent Prac 1999; 1: 1-15.
2. Wiegand A, Attin T. Occupational dental erosion from exposure to acid. J Oxford Occup Med 2007; 53: 169-76.
3. Ganss C. Defenition of erosion and links to tooth wear. In: Lussi A. Dental Erosion. Switzerland: Freiburgstrasse7, 2006: 9-16.
4. Radlinska JB, Lagocka R, Kaczmarek W, Gorski M, Nowicka A. Preva -lence of dental erosion in adolescent swimmers exposed to gas chlorinated swimming pool water. http://rd.springer.com/article/ 10.1007/s00784-012-0720-6. (9 Agustus 2012).
5. Ungchusak C, Mongkolchai-arunya S, Rattanorungsima K. Risk factors on dental erosion among swimmers. J Fact Sheet- Dental Health 1999; 2. 6. Prindle RA. Erosion of dental enamel among competitive swimmers
Virginia. http://www.cdc.gov/mmwr/preview/ mmwrhtml/ 00000109.htm. (9 Agustus 2012).
7. Chuenarrom C, Daosodsai P, Benjakul P. Erosive potensial of low pH swimming pool water on dental enamel. J Health Res 2010; 24 (2): 91-4. 8. Vallecillo C, Nenna R. Swimming pools and your teeth. http://monalisa
Desa Pujimulyo dan sekitarnya Kecamatan Sunggal Medan. Medan: Program Pascasarjana USU, 1999.
12.Fraunhofer JA, Rogers MM. Dissolution of dental enamel in soft drinks. J Operative Dentistry 2004: 308-11.
13.Higham S. Caries process and prevention strategies: erosion.http://dental care.com.(9 Agustus 2012).
14.Adhyatma. Peraturan menteri kesehatan nomor: 416/MEN.KES/PER/IX/ 1990. http://web.ipb.ac.id/tml_atsp/. (15 Oktober 2012).
15.Flasolar. Water chemistry for swimming pools. http://www.flasolar.com/ pdf/water_chemistry_for_swimming_pools.htm. (9 Agustus 2012).
16.GE Power Water. Water and process technologies. http://www.gewater. com/handbook/cooling_water_systems/ch_27_chlorine.jsp. (18 Juli 2012). 17.Enkon, Norecol, Dames, Moore,inc. Final report chlorine monitoring and dechlorination techniques handbook. http://www.metrovancouver.org/ about/publications/publications/chlorinemonitoringdechlorinationhandboo k.pdf. (12 September 2012).
18.Matter DDL. Swimming pool chemistry. http://[email protected]. (12 September 2012).
19.Nurliza C. Program pencegahan erosi gigi dengan berkumur larutan baking soda 1% untuk menurunkan kadar asam sulfat di dalam rongga mulut pada karyawan pabrik aluminium sulfat. Tesis. Medan: Program Pascasarjana USU, 2002.
20.Dawes C, Boroditsky CL. Rapid and severe tooth eroion from swimming in an improperly chlorinated pool: case report. JCDA 2008; 74: 359-60. 21.Budianto A, Purwantini K, Sujitno BT. Pengamatan struktur mikro pada
korosi antar butir dari material baja tahan karat austenitik setelah mengalami proses pemanasan. JFN 2009; 2: 107-14.