SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Salah
Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)
Oleh:
AHMAD FIRDAUS
NIM : 1111044100084
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ( A H W A L S Y A K H S I Y Y A H ) FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
1. Skirpsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di Univesitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil asli saya atau merupakan hasil
jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakata, 9 Oktober 2015
(Analisis Putusan No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk). Konsentrasi Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsyiyyah) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1437 H/ 2015.
Perceraian sejatinya dibolehkan dalam Islam. Disaat orang tua harus bercerai dan mereka memiliki anak kecil, maka ibu lebih berhak mengasuhnya daripada ayah, selama tidak ada faktor yang menghalangi sang ibu untuk diutamakan, pada dasarnya anak yang belum mumayyiz itu hak asuhnya jatuh pada ibunya, tapi tidak demikian kenyataannya dengan perkara yang terjadi di Pengadilan Agama Depok, bahwa setelah perceraian terjadi hak asuh anak ditetapkan oleh Majlis Hakim kepada Pemohon (suami). Yang menjadi titik fokus pembahasan skripsi ini adalah pertimbangan hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim dalam menetapkan perkara No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk dengan yang di dasarkan pada Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor: 110 K/AG/2007.
Adapun tujuan dalam penelitian ini yakni untuk mengetahui pertimbangan hukum majelis hakim dalam memutuskan perkara yang menetapkan hak hadhanah keoada bapak bagi anak yang belum mumayyiz dan untuk mengetahui ijtihad majelis hakim dalam menetapkan suatu keputusan dalam menentukan hak hadhanah akibat perceraian dalam putusan perkara Nomor. 184/pdt.G/2011.PA.Dpk. yang ditinjau dari hukum Islam dan peraturan perundang-undangan.
Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif dengan menggunakan metode penelitian lapangan (field research). Dalam pengumpulan data diperoleh dari wawancara, observasi, dan studi kepustakaan.
Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah bahwa ketentuan hak asuh anak yang belum mumayyiz ditetapkan kepada bapak tidak sesuai dalam KHI pasal 105 huruf a yang menetapkan hak asuh anak pasca perceraian itu diberikan kepada ibu. Menurut pandangan jumhur ulama bahwa hadhanah itu menjadi hak bersama antara orang tua dan anak Namun Majlis Hakim memiliki pertimbangan lain yang menetapkan hak asuh anak diberikan kepada bapak, baik berdasarkan dari keterangan para saksi, juga berlandaskan dengan yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor: 110 K/AG/2007 tanggal 7 Desember 2007 menyatakan bahwa masalah utama dalam hadhanah adalah kemaslahatan dan kepentingan anak, bukan semata-mata yang secara normatif paling berhak dan sesuai pula dengan Undang-Undang Nomor: 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Kata Kunci : Perceraian, Hadhanah, Mumayyiz.
Pembimbing : Dr. Azizah, M.A.
i
َﻠَﻋ ُمَﻼَّﺴﻟاَو ُةَﻼَّﺼﻟاَو ،ِﻦْﯾِّﺪﻟاَو ﺎَﯿْﻧُّﺪﻟا ِرْﻮُﻣُأ ﻰَﻠَﻋ ُﻦْﯿِﻌَﺘْﺴَﻧ ِﮫِﺑَو ،َﻦْﯿِﻤَﻟﺎَﻌْﻟا ِّبَر ﷲ ُﺪْﻤَﺤْﻟا
ﺎَﻨِّﯿِﺒَﻧ ،َﻦْﯿِﻠَﺳْﺮُﻤْﻟا ِفَﺮْﺷَأ ﻰ
ﻰَﻠَﻋَو ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ
ِﻦْﯾِّﺪﻟا ِمْﻮَﯾ َﻰﻟِإ ٍنﺎَﺴْﺣِﺈِﺑ ْﻢُﮭَﻌِﺒَﺗ ْﻦَﻣَو َﻦْﯿِﻌِﺑﺎَّﺘﻟاَو ِﮫِﺑﺎَﺤْﺻَأَو ِﮫِﻟآ
Segala puji hanya milik Allah Rabb Alam Semesta, kepada Allah kita memohon
pertolongan atas segala urusan dunia dan agama, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah
atas sebaik-baik Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW, dan atas semua keluarganya, para
sahabatnya, para tabi`in, dan semua yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari
pembalasan.
Dengan izin dan ridho Allah SWT, skripsi dengan judul “Hak Hadhanah Bagi Anak
Yang Belum Mumayyiz (Analisa Putusan No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk)” telah selesai ditulis guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana syariah (S.Sy) strata satu
dalam Konsentrasi Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsiyyah)
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa ada
bantuan dari berbagai pihak. Maka tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih dan
jazakumullah khoiru jaza kepada:
1. Dr. Asep Saepudin Jahar, MA, Ph.D Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta seluruh jajarannya, baik
bapak/ibu dosen yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan, maupun para
ii
kesibukan untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam pembuatan skripsi.
4. Dr. H. Kamarusdiana MH. dosen Penasehat Akademik yang telah banyak memberikan
sokongan dan dukungan kepada penyusun hingga skripsi ini selesai.
5. Pengurus Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum yang telah
menyediakan berbagai macam literatur dalam proses belajar di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syaruf Hiayatullah Jakarta, khususnya pada saat pembuatan skripsi.
6. Kepada Ibunda tercinta Hj. Maysyaroh , kakak-kakak (Ka Tuti, Ka Lela, Ka Nurma,
Bang Ipay, Bang Juhro, Bang Irfan, Bang Abet, Ka Hilwa) yang telah memberikan
motivasi serta memberikan nasehat-nasehat kepada penulis demi kelancaran penulisan
skripsi ini.
7. Sahabat-sahabat dari Keluarga Besar Prodi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsiyyah)
(KBPA). Terimakasih atas kebersamaan selama penulis menuntut ilmu di Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Orang tercinta Atiqoh Fathiyah, sahabat-sahabat Legend Kampus ( Nazir, Syaikhoni,
Faris Jamal, Kong Abrar, Badru Tamam (BT) dan seluruh sahabat-sahabat seperjuangan
angkatan 2011) yang telah memberikan semangat dan warna kepada penulis selama ini.
9. Serta berbagi pihak yang tidak dapat penulis sebutkan seluruhnya, semoga amal baik
iii
Jakarta, 12 Oktober 2015
iv
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Review Studi Terdahulu ... 8
E. Metode Penellitian ... 10
F. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II PERCERAIAN DAN HADHANAH DALAM PERSPEKTIF FIQIH DAN HUKUM POSITIF A. Pengertian perceraian dan Macam-macamnya ... 14
B. Pengertian Hadhanah dan Dasar Hukumnya ... 20
C. Syarat-sayarat Hadhanah dan Akibat Hukum Hadhanah ... 27
D. Pihak-pihak yang Berhak dalam Hadhanah ... 31
BAB III PENETAPAN HAK HADHANAH KEPADA BAPAK DI PENGADILAN AGAMA DEPOK A. Profil Pengadilan Agama Depok ... 38
B. Deskripsi Perkara Putusan No. 184/Pdt.G/2011/PA. Dpk ... 44
BAB IV TINJAUAN TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN AGAMA DEPOK TERHADAP HADHANAH BAGI ANAK YANG BELUM MUMAYYIZ A. Pertimbangan Hakim Dalam Memtus perkara ... 57
B. Analisis Penulis Atas Putusan Majlis Hakim Nomor Perkara 184/Pdt.G/2011/PA. Dpk ... 60
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 68
B. Saran-saran ... 69
1
Akad Perkawinan dalam hukum Islam bukan lah perkara perdata
semata, melainkan ikatan suci (mitsaqon galiza) yang terkait dengan
keyakinan dan keimanan kepada Allah. Dengan demikian ada dimensi
ibadah dalam sebuah perkawinan. Untuk itu perkawinan harus dipelihara
dengan baik sehingga bisa abadi dan apa yang menjadi tujuan perkawinan
dalam Islam yakni terwujudnya keluarga sejahtera (mawaddah wa
rahmah) dapat terwujud.1
Pada sisi lain, keharmonisan hubungan suami dan istri merupakan
salah satu tujuan utama yang sangat dikehendaki islam. Akad nikah
semata-mata dengan harapan akan bertahan selama-lamanya hingga akhir
hayat, agar suami dan istri dapat menjadikan rumah sebagai tempat
bernaung dan menikmati keindahannya, serta dapat mendidik anak-anak
mereka menjadi generasi yang shalih.2 Syara’ membenarkan perkawinan
dan mengizinkan perceraian. Dengan terjadinya perceraian tentu akan
menimbulkan akibat hukum, diantaranya adalah hak asuh anak
(Hadhanah).
1
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2012). h. 206.
2
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)
tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.3 Sedangkan menurut
KHI, anak adalah orang yang belum genap 21 tahun dan belum pernah
menikah dan karenanya belum mampu untuk berdiri sendiri.4
Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa
depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak
berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi
serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta
hak sipil dan kebebasan.
Seorang anak pada permulaan hidupnya sampai umur tertentu
memerlukan orang lain dalam kehidupanya, baik dalam pengaturan
fisiknya, maupun dalam pembentukan akhlaknya. Seseorang yang
melakukan tugas hadhanah sangat berperan dalam hal tersebut. Oleh sebab
itu masalah hadhanah mendapat perhatian khusus dalam ajaran Islam. Di
atas pundak kedua orang tuanyalah terletak kewajiban untuk melakukan
tugas tersebut. Bilamana kedua orang tuanya tidak dapat atau tidak layak
untuk tugas itu disebabkan tidak mencukupi syarat-syarat yang diperlukan
menurut pandangan Islam, maka hendak lah dicarikan pengasuh yang
mencukupi syarat-syaratnya. Untuk kepentingan seorang anak, sikap
peduli dari kedua orang tua terhadap masalah hadhanah memang sangat
diperlukan jika tidak, maka bisa mengakibatkan seorang anak tumbuh
3
UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, (Bandung: PT. Citra Umbara, 2003), h. 4.
4
tidak terpelihara dan tidak terarah seperti yang diharapkan. Maka yang
paling diharapkan adalah keterpaduan kerja sama antara ayah dan ibu
dalam melakukan tugas ini. Jalinan kerja sama antara keduanya hanya
akan bisa diwujudkan selama kedua orang tua itu masih tetap dalam
hubungan suami istri. Dalam suasana yang demikian, kendatipun tugas
hadhanah sesuai dengan tabiatnya akan lebih banyak dilakukan oleh pihak
ibu, namun peranan seorang ayah tidak bisa diabaikan, baik dalam
memenuhi segala kebutuhan yang memperlancar tugas hadhanah, maupun
dalam menciptakan suasana damai dalam rumah tangga dimana anak
diasuh dan dibesarkan.5
Harapan diatas tidak akan terwujud, bilamana terjadi perceraian
antara ayah dan ibu si anak. Peristiwa perceraian, apa pun alasanya
merupakan malapetaka bagi si anak. Di saat itu si anak tidak lagi dapat
merasakan nikmat kasih sayang sekaligus dari kedua orang tuanya.
Padahal merasakan kasih sayang kedua orang tua merupakan unsur
penting bagi pertumbuhan mental seorang anak.Pecahnya rumah tangga
kedua orang tua, tidak jarang membawa kepada terlantarnya pengasuhan
anak. Itulah sebabnya menurut ajaran islam perceraian sedapat mungkin
harus dihindarkan. Dalam sebuah hadits diingatkan, bahwa “Sesuatu yang
halal (dibolehkan) yang paling tidak disukai Allah adalah
perceraian”.(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).6
5
Satria Effendi M.Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer (Jakarta: Kencana,2010),hal.166.
6
Para ulama sepakat bahwasanya hukum hadhanah, mendidik dan
merawat anak hukumnya wajib. Tetapi mereka berbeda dalam hal, apakah
hadhanah ini menjadi hak orang tua (terutama ibu) atau hak anak. Menurut
jumhur ulama, hadhanah itu menjadi hak bersama antara orang tua dan
anak. Jika terjadi pertengkaran maka yang didahulukan adalah hak atau
kepentingan si anak.7
Hadhanah yang dimaksud dalam diskursus ini adalah kewajiban
orang tua untuk memelihara dan mendidik anak mereka dengan
sebaik-baiknya. Pemeliharaan ini mencakup masalah ekonomi, pendidikan dan
segala sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok si anak.8
Pemeliharaan Anak juga mengandung arti sebuah tangung jawab
orang tua untuk mengawasi, memberi pelayanan yang semestinya serta
mencukupi kebutuhan hidup dari seorang anak oleh orang tua.
Selanjutnya, tanggung jawab pemeliharaan berupa pengawasan dan
pelayanan serta pencukupan nafkah anak tersebut bersifat terus menerus
sampai anak tersebut mencapai batas umur yang legal sebagai orang
dewasa yang telah mampu berdiri sendiri.9
Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 105 huruf (a), menyebutkan
bahwa dalam terjadinya perceraian, pemeliharaan anak yang belum
mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Kemudian,
dalam pasal 156 huruf (a), akibat putusnya perkawinan karena perceraian
7
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 293.
8
Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 1998), h. 235.
9
ialah anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hak asuh dari
ibunya.10
Dari ketentuan di atas, dapat di lihat bahwa peranan ibu sangatlah
penting terhadap anak yang belum mumayyiz apabila di dalam rumah
tangga terjadi perceraian. Adapun siapa yang lebih berhak mengasuh anak
yang belum mumayyiz, bila kita melihat argumen di atas, maka yang
berhak mengasuh anak yang belum mumayyiz adalah pihak ibu.
Pada point yang telah disebutkan di atas, pada dasarnya anak yang
belum mumayyiz itu hak asuhnya jatuh pada ibunya, tapi tidak demikian
kenyataannya yang terjadi di Pengadilan Agama, banyak pihak yang
mengajukan perkara tentang hadhanah anak setelah terjadinya perceraian,
dimana anak merupakan hasil dari perkawinan yang selama ini mereka
rajut bersama selama perkawinan.
Kemudian bagaimana hakim yang menangani perkara hak
hadhanah anak sehingga terjadi penetapan hak tersebut, jika anak yang di
perebutkan masih dalam keadaan mumayyiz atau masih dibawah umur
tidak jatuh ke tangan ibu, melainkan kepada seorang ayah. Tentunya
Majelis Hakim memiliki beberapa pertimbangan hukum terhadap putusan
yang ditetapkan.
Oleh karena itu menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk
diteliti oleh penulis berupa: putusan Majelis Hakim, dasar
hukum,alasan-alasan serta implikasi lain dalam putusan yang berkekuatan hukum tetap
10
yang disepakati oleh Majelis Hakim. Inilah yang memotivasi dan
mendorong penulis untuk mengkaji dalam skripsi dengan judul “Hak Hadhanah Bagi Anak Yang Belum Mumayyiz” (Analisa Putusan No. 184/Pdt.G/2011/PA.Dpk).
B. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya pembahasan, maka studi ini dibatasi
hanya pada kasus Hadhanah bagi anak yang belum mumayyiz yang
terdapat pada putusan Pengadilan Agama Depok No.
184/Pdt.G/2011/PA.Dpk
2. Perumusan Masalah
Pada dasarnya baik dari nash maupun fikih, pengasuhan anak yang
belum mumayyiz berada pada asuhan ibu, demikian juga diatur dalam
hukum materil atau undang-undang. Pada kenyataannya anak yang
belum mumayyiz telah diputus oleh hakim, bahwa hadhanah bisa jatuh
kepada bapak. Hal ini yang ingin penulis teliti mengenai putusan
hakim terhadap hadhanah anak yang belum mumayyiz yang jatuh
kepada bapak terhadap perkara hadhanah di pengadilan agama Depok
perkara No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk.
Untuk menemukan dan memecahkan masalah yang ada, penulis
a. Apa dasar pertimbangan hukum yang digunakan Majelis Hakim
PA Depok dalam menetapkan Ayah sebagai Pemegang hak
hadhanah bagi anak yang belum mumayyiz?
b. Bagaimana ijtihad majelis hakim dalam memutuskan perkara hak
hadhanah kepada bapak dalam putusan perkara nomor.
184/pdt.G/2011/PA.Dpk ditinjau dari hukum Islam dan per-
Undang-undangan di Indonesia?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pertimbangan hukum majelis hakim dalam
memutuskan perkara yang menetapkan hak hadhanah kepada
bapak bagi anak yang belum mumayyiz.
b. Untuk mengetahui ijtihad majelis hakim dalam menetapkan
suatu keputusan dalam menentukan hak hadhanah akibat
perceraian dalam putusan perkara Nomor.
184/pdt.G/2011/PA.Dpk. yang ditinjau dari hukum Islam dan
peraturan perundang-undangan.
2. Manfaat Penelitian a. Secara praktis
Memberikan penjelasan tentang cara hakim memutuskan
suatu perkara dan metode-metode yang digunakan hakim
dalam menetapkan suatu keputusan.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu karya
tulis ilmiah yang dapat menambah khazanah keilmuan
khususnya di bidang Ilmu hukum Keluarga dan umumnya pada
ilmu pengetahuan.
D. Review Studi Terdahulu
Adapun penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan masalah
dalam penelitian ini antara lain:
1. Skripsi oleh Aditya Nur Pratama, tahun 2009 Program Studi Ahwal
Al-Syakhshiyah, konsentrasi peradilan agama, UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Judul “Pencabutan Hak Asuh dari Ibu (Studi
Analisis Putusan Pengadilan Agama Depok No.
430/pdt.G/2006/PA.Dpk). berisi tentang landasan teori seputar hak
asuh (hadhanah) anak meliputi pengertian hadhanah, dasar hukum
hadhanah, syarat-syarat hadhanah dan hadhin, masa hadhanah serta
analisa terhadap putusan pengadilan Agama tentang pencabutan hak
asuh anak dari ibu yang kemudian diberikan kepada ayah. Secara
umum, skripsi tersebut membahas tentang pencabutan hak asuh
(hadhanah) anak dari ibu kepada ayah sedangkan penulis
memfokuskan pada analisa putusan majelis hakim terhadap hadhanah
kepada bapak bagi anak yang belum mumayyiz dengan perkara No.
184/pdt.G/2011/PA.Dpk.
2. Skripsi oleh Sabarudin, tahun 2008, program studi Ahwal
“Hadhanah Perspektif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i dan
prakteknya Di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (Studi putusan
Pengadilan Agama Jakarta Selatan No. 1185/pdt.G/2006/PAJS tentang
Hadhanah)”. Pembahasan mengenai hak asuh anak bagi orang tua yang
murtad di pengadilan agama Jakarta selatan No.
1185/pdt.G/2006/PAJS serta ditinjau menurut mazhab Imam Hanafi
dan Imam Syafi’i. Secara umum, skripsi tersebut berisi tentang hak
asuh (hadhanah) anak bagi orang tua yang murtad dengan
menganalisis putusan Pengadilan Agama Jakarta selatan dan juga
membandingkan antara dua perspektif yaitu Mazhab Imam Hanafi dan
Mazhab Syafi’i mengenai Hadhanah, sedangkan penelitian penulis
tidak membandingkan keduanya akan tetapi penulis memfokuskan
pada analisa putusan majelis hakim terhadap hadhanah kepada bapak
bagi anak yang belum mumayyiz dengan perkara No.
184/pdt.G/2011/PA.Dpk.
3. Skripsi oleh Firman Sulaeman, tahun 2005 Fakultas Syariah dan
Hukum , UIN Jakarta. Judul “Hak Pemeliharaan Anak Yang Belum
Mumayyiz (Studi kritis terhadap pasal 105 point A Kompilasi Hukum
Islam)’’.
Secara umum skripsi ini membahas tentang Syarat-syarat Hadhanah
dan fokus terhadap efektifitas pasal 105 point a Kompilasi Hukum
Islam sebagai pedoman hukum bagi para hakim dalam menyelesaikan
persamaan dengan skripsi penulis yakni sama-sama membahas tentang
syarat-syarat hadhanah. Perbedaan nya skripsi yang akan dikaji oleh
penulis yakni memfokuskan pada analisa putusan majelis hakim
terhadap hadhanah kepada bapak bagi anak yang belum mumayyiz
dengan perkara No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk.
Dari beberapa judul skripsi di atas, sudah jelas berbeda
pembahasannya dengan skripsi yang akan penulis bahas. Adapun
penelitian ini memfokuskan pada analisa putusan majelis hakim
terhadap hadhanah kepada bapak bagi anak yang belum mumayyiz
dengan perkara No.184/pdt.G/2011/PA.Dpk.
E. Metodologi Penelitian
Metode penelitian adalah cara yang akan ditempuh oleh penulis untuk
menjawab permasalahan penelitian atau rumusan masalah.11 Adapun
metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan hasil
yang maksimal dan optimal dengan menggunakan tahapan-tahapan
sebagai berikut:
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang
memusatkan perhatian pada prinsip umum yang mendasari perwujudan
satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia. Sedangkan
pendekatan yang digunakan adalah adalah pendekatan normatif.
11
2. Sumber Data
Sumber data penelitian hukum dapat dibedakan menjadi
sumber-sumber penelitian berupa data primer dan data sekunder.12 Adapun
sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
a. Bahan Hukum Primer
Data primer dalam penelitian ini adalah: pertama, putusan
Peradilan Agama dengan perkara Nomor 184/pdt.G/2011/PA.Dpk
tentang hadhanah, kedua, peraturan perundang-undangan Nomor 1
Tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam yang
akan digunakan oleh penulis sebagai tinjauan terhadap analisis
putusan tersebut dan buku-buku yang akan membahas langsung
mengenai hadhanah.
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder ialah merupakan data yang
diperoleh dari bahan kepustakaan.13 Data ini terdiri dari buku-buku
yang berkaitan dengan skripsi ini, baik yang ditulis langsung oleh
penulis maupun berupa analisis dari penulis lain.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam upaya megumpulkan data, metode yang dipergunakan
sebagai berikut:
12
Peter Muhammad Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008) h. 141.
13
a. Interview/ wawancara
Metode wawancara adalah metode pengumpulan data
dengan jalan bertanya jawab sepihak yang dikerjakan secara
sistematis dengan berlandaskan kepada tujuan penyelidian.14
Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data yang
diperlukan penulis yang berupa data yang tidak tertulis.Adapun
yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah Drs. Agus
Abdullah, M.H. (Hakim Pengadilan Agama Depok 2007-2012,
Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan 2012-sekarang).
b. Metode Dokumentasi
Metode Dokumentasi adalah mencari hal-hal variable
berupa catatan, surat kabar, majalah, notulen, dan sebagainya.
4. Pedoman Penulisan Skripsi
Teknik penulisan skripsi ini berpedoman pada “Buku Pedoman
penulisan Skripsi tahun 2012” yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah
dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penyusunan skripsi
ini adalah BAB perbab, dimana antara BAB yang satu dengan BAB yang
lainnya memiliki keterkaitan. Sistematika penulisan yang dimaksudkan
adalah sebagai berikut:
14
BAB I Merupakan bab pendahuluan dalam membuka penulisan skripsi ini, dengan uraian bahasan meliputi: Latar Belakang Masalah,
Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat
Penelitian, Review Studi Terdahulu, Metodologi Penelitian, dan
Sistematika Penulisan.
BAB II Berkenaan dengan Pengertian perceraian dan macam-macam nya, Pengertian Hadhanah dan Dasar hukumnya, Syarat-syarat
Hadhanah dan akibat hukum Hadhanah, dan Pihak-pihak yang berhak
dalam Hadhanah.
BAB III Bab ini menjelaskan deskripsi hadhanah kepada bapak di pengadilan agama Depok yang meliputi: Profil Pengadilan Agama Depok,
Duduk Perkara Putusan, Salinan Putusan.
BAB IV Bab ini membahas akanTinjauan Terhadap Putusan Pengadilan Agama Depok Terhadap Hadhanah Bagi Anak Belum
Mumayyiz yang meliputi: Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan
Perkara, Ijtihad Majelis Hakim Dalam Memutuskn Perkara, dan Analisis
penulis dalam perkara Nomor 184/pdt.G/2011/PA.Dpk tentang hadhanah.
BAB V merupakan penutup, yang terdiri dari kesimpulan terhadap jawaban permasalahan dalam penyusunan skripsi ini.Sekaligus
memberikan saran yang mungkin dapat membantu mewujudkan keadilan
BAB II
PERCERAIAN DAN HADHANAH DALAM PERSPEKTIF FIQIH DAN HUKUM POSITIF
A. Pengertian Perceraian
Kata “cerai” menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti: pisah,
putus hubungan sebagai suami istri. Kemudian, kata “perceraian”
mengandung arti: perpisahan, perihal bercerai (antara suami dan istri),
perpecahan. Adapun kata “bercerai” berarti: tidak bercampur
(berhubungan, bersatu) lagi, berhenti berlaki-bini (suami-istri).15
Jadi secara yuridis istilah perceraian berarti putusnya perkawinan,
yang mengakibatkan putusnya hubungan sebagai suami dan istri atau
berhenti berlaki-bini (suami-istri) sebagaimana diartikan dalam kamus
besar Bahasa Indonesia di atas.
Secara singkat, perceraian didefinisikan sebagai melepas tali
perkawinan dengan kata talak atau kata yang sepadan artinya dengan
talak.16
Perceraian sejatinya dibolehkan dalam Islam. Namun disisi lain,
perkawinan diorientasikan sebagai komitmen selamanya dan kekal.
Meskipun demikian, terkadang muncul keadaan-keadaan yang
menyebabkan cita-cita suci perkawinan gagal terwujud. Namun demikian
15
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia Edisi Kedua, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), h. 185.
16
Yayan Sopyan, Islam Negara, Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum
perceraian dapat diminta oleh salah satu pihak atau kedua belah pihak
untuk mengakomodasi realitas-realitas tentang perkawinan yang gagal.17
Meskipun begitu, perceraian merupakan sesuatu hal yang sangat dibenci
dalam Islam meskipun kebolehannya sangat jelas dan hanya boleh
dilakukan ketika tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh oleh kedua
belah pihak.18
Ada beberapa bentuk perceraian yang diakui dalam Islam: (a)
perceraian karena kematian suami atau istri; (b) talak, yang berasal dari
pihak suami; (c) al-ila’; (d) khuluk, dan; (e) mubara’ah, yang berasal dari
pihak istri; (f) li’an; (g) fasakh.19
Suatu Perkawinan dapat putus dan berakhir karena berbagai hal,
antara lain karena terjadinya talak yang dijatuhkan oleh suami terhadap
istrinya, atau karena perceraian yang terjadi antara keduanya, baik cerai
talak maupun cerai gugat atau karena sebab-sebab lain. Talak sendiri
merupakan metode perceraian yang paling sederhana, dan secara hukum
hanya bisa dilaksanakan oleh suami karena alasan tertentu atau tanpa
alasan sama sekali, pada prinsipnya seorang suami bisa menceraikan
istrinya melalui pernyataan sederhana: “Saya menceraikan kamu!”
sebaliknya, istri juga bisa mengakhiri perkawinan melalui khuluk dengan
kerelaan suami, atau dengan fasakh melalui putusan pengadilan.20
17
Haifah A. Jawad, Otentisitas Hak-hak Perempuan, hlm. 232.
18
Seperti dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh ibnu umar.Lihat dalam sulayman ibn
Asy’ats Abu Dawud al-Sijistani, Sunan Abu Dawud, (Beirut: Dar al Fikr, tt), juz I, h. 661.
19
Asaf A.A. fyzee, Outline of Muhammad Law, (London:Oxford University Press, 1995), cet. II, h. 139.
20
Menurut ketentuan Undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974
tentang perkawinan pasal 38, bahwa perkawinan dapat putus karena
kematian, perceraian, dan atas keputusan pengadilan. Putusannya
perkawinan karena kematian sering disebut oleh masyarakat dengan
sebutan cerai mati. Sedangkan putusannya perkawinan karena perceraian
ada dua sebutan yaitu cerai gugat dan cerai talak.21
1. Cerai Talak
Cerai talak biasanya hanya berlaku bagi mereka yang
melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, Islam menetapkan
hak talak itu berada di tangan suami, yakni memiliki hak mentalak tiga
kali talak. Namun demikian hak itu tidak dapat digunakan suami
begitu saja dengan sewenang-wenang. Suami yang hendak melakukan
talak terhadap istrinya harus didepan pengadilan agama yang
berwenang. Berikut penjelasan talak lebih rinci:
Talak berasal dari bahasa Arab yaitu kata “Thalak” artinya
lepasnya suatu ikatan perkawinan dan berakhirnya hubungan
perkawinan.22 menurut istilah syarak talak adalah:
“Melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami
istri”.23
Jadi talak ialah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga setelah
hilangnya ikatan perkawinan itu istri tidak lagi halal bagi suaminya. Ini
21
Abd.Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta, Kencana, 2006), h.192.
22
H.S.A. Al-Hamdani, Risalah Nikah (Hukum Perkawinan Islam). Jakarta, Pustaka Amani, 2002. hlm. 202.
23
terjadi dalam talak ba’in, sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan
perkawinan adalah berkurangnya hak talak bagi suami yang
mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami
dari tiga menjadi dua, dari dua menjadi satu, dan dari satu menjadi
hilang hak dalam talak raj’i.24
Adapun hukum talak kepada isteri ada kalanya wajib, ada kalanya
sunnah, ada kalanya haram, makruh dan halal. Hal itu tergantung
kepada keadaan suami isteri itu sendiri.25
a. Macam-macam Talak
Secara garis besar ditinjau dari boleh atau tidaknya rujuk
kembali, talak dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1) Talak raj’i
Talak raj’i yaitu talak dimana suami masih mempunyai hak
untuk merujuk kembali istrinya, setelah talak itu dijatuhkan
dengan lafal-lafal tertentu, dan istri benar-benar sudah digauli.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Talak (65) : 1
H. Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta, Kencana, 2006) h. 191.
25
Artinya:
“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, Dan barang siapa melanggar hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru”.
Dengan demikian, jelaslah bahwa suami boleh untuk
merujuk istrinya kembali yang telah ditalak sekali atau dua kali
selama istrinya itu masih dalam masa iddah. Oleh karenanya,
manakala istri telah diceraikan dua kali, kemudian dirujuk atau
dinikahi setelah sampai masa iddahnya, sebaiknya ia tidak
diceraikan lagi.
2). Talak ba’in
Talak ba’in adalah talak ketiga, talak sebelum berhubungan
badan dan talak karena imbalan harta. Talak ba’in terbagi menjadi
dua; ba’in kecil (bainunah sughra), yaitu selain talak tiga, dan
ba’in besar (bainunah kubra) dan bain besar, yaitu talak tiga.26
Hukum talak ba’in kecil memutuskan ikatan perkawinan
sesaat talak tersebut berlaku. Dengan terputusnya ikatan
perkawinan, maka status istri yang telah dicerai menjadi wanita
asing. Bekas suami tidak diperbolehkan berhubungan mesra
26
dengannya dan keduanya tidak saling mewarisi, jika suami
meninggal di tengah masa ‘iddah ataupun setelahnya. Suami boleh
kembali hidup bersama istri yang telah ditalaknya dengan talak
ba’in kecil itu dengan akad baru dan memberi mahar baru, tanpa
dia harus menikah dulu dengan lelaki lain. Jika itu terjadi, maka
sang istri kembali padanya dengan sisa talak yang dimilikinya. Jika
sebelumnya ditalak satu, maka setelah pernikahan kedua tersebut
tersisa dua talak lagi. Tapi jika sebelumnya ditalak dua, maka
hanya tersisa satu talak lagi.27
Hukum talak ba’in besar juga memutuskan ikatan
perkawinan, sama seperti talak ba’in kecil, termasuk juga
konsekuensi hukum-hukumnya. Hanya saja, setelah talak ba’in
besar dijatuhkan, suami tidak dapat mengembalikan ikatan
hubungan suami-istri dengan bekas istrinya kecuali apabila sang
istri menikah lebih dulu dengan lelaki lain dengan pernikahan yang
sah dan melakukan hubungan badan, bukan dengan niat
menghalalkan (nikah tahlil).28
2. Cerai Gugat
Gugatan perceraian hanya dilakukan para istri, karena dalam
hukum Islam, istri tidak mempunyai hak mentalak suami. Dalam
hukum perkawinan agama islam sendiri diberi hak untuk menuntut
27
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah (Terjemahan) jilid II, (Jakarta: Al-I’tishom, 2008.) h. 455.
28
perceraian dari sang suami dengan cara khulu’. Adapun alasan
terjadinya perceraian terdapat dalam pasal 116 Kompilasi Hukum
Islam.29
B. Pengertian Hadhanah dan Dasar Hukum Hadhanah
Dalam pegertianya“Hadhanah” berasal dari bahasa arab yang
mempunyai arti antara lain: Hal memelihara, mendidik, mengatur,
mengurus segala kepentingan/urusan anak-anak yang belum mumayyiz
(belum dapat membedakan baik dan buruknya sesuatu atau tindakan bagi
dirinya). Hadhanah, menurut bahasa, berarti meletakkan sesuatu didekat
tulang rusuk atau di pangkuan, karena ibu waktu menyusukan anaknya
meletakkan anak itu di pangkuannya, seakan-akan ibu disaat melindungi
dan memelihara anaknya sehingga “hadhanah” dijadikan istilah yang
maksudnya: “pendidikan dan pemeliharaan anak sejak lahir sampai
sanggup berdiri sendiri mengurus dirinya yang dilakukan oleh kerabat
anak itu.30
Adapun Dasar hukum hadhanah (pemeliharaan anak) adalah
firman Allah SWT. QS al-Tahrim (66): 6:
Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 2005), h. 247
30
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Al-Tahrim(66) ayat 6):31
Pada ayat ini, orang tua diperintahkan Allah SWT, untuk memelihara
keluarganya dari api neraka, dengan berusaha agar seluruh anggota
keluarganya itu melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi
larangan-larangan Allah, termasuk anggota keluarga dalam ayat ini adalah anak.32
Dalam hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan
Abu Dawud:
Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum menikah” Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, hadist Shahih menurut hakim.33
Mengasuh anak-anak yang masih kecil hukumnya wajib, sebab
mengabaikan nya berarti menghadapkan anak-anak yang masih kecil
kepada bahaya kebinasaan. Hadhanah merupakan hak bagi anak-anak
31
Al-Quran dan Terjemahanya, Jakarta, kementrian Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Alquran, 2009.
32
Tihami, Fikih Munakahat, Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 217.
33
yang masih kecil, karena ia membutuhkan pengawasan, penjagaan,
pelaksanaan urusannya, dan orang yang mendidiknya. Dalam kaitan ini,
terutama ibunya lah yang berkewajiban melakukan hadhanah.34
Adapun pendidikan yang lebih penting adalah pendidikan anak dalam
pangkuan ibu dan bapaknya, karena dengan adanya pengawasan dan
perlakuan akan dapat menumbuhkan jasmani dan akalnya, membersihkan
jiwanya, serta mempersiapkan diri anak dalam menghadapi kehidupannya
di masa yang akan datang.35
a. Hadhanah dalam perspektif fikih
Para ulama fikih mendefinisikan: Hadhanah sebagai tindakan
pemeliharaan anak-anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun
perempuan atau yang sudah besar tetapi belum mumayyiz,
menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya, menjaganya dari
sesuatu yang menyakiti dan merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan
akalnya, agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul
tanggung jawab.36
Hadhanah berbeda maksudnya dengan pendidikan (tarbiyah).
Dalam hadhanah, terkandung pengertian pemeliharaan jasmani dan
rohani disamping terkandung pula pengertian pendidikan. Sedangkan
pendidikan, yang diasuh mungkin saja terdiri dari keluarga si anak dan
mungkin pula bukan dari keluarga si anak dan ia merupakan pekerjaan
34
Tihami, Fikih Munakahat, Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 217.
35
Slamet Abidin dan H. Aminudin, fiqh Munakahat 2, hlm. 172.
36
profesional, sedangkan hadhanah dilaksanakan dan dilakukan oleh
keluarga si anak, kecuali jika anak tersebut tidak mempunyai keluarga
serta ia bukan profesional: dilakukan oleh setiap ibu, serta anggota
kerabat yang lain. Hadhanah merupakan hak dari hadhin, sedangkan
pendidikan belum tentu merupakan hak dari pendidik.37
Peunoh Daly, mengemukakan definisi Hadhanah adalah pekerjaan
yang berhubungan dengan memelihara, merawat dan mendidik anak
yang masih kecil, bodoh atau lemah fisik.38
Dalam hukum perdata Islam di Indonesia, dikatakan bahwa
hadhanah adalah memelihara seorang anak yang belum mampu hidup
mandiri yang meliputi pendidikan dan segala sesuatu yang diperlukan
baik dalam bentuk melaksanakan maupun dalam bentuk menghindari
sesuatu yang dapat merusaknya.39
Menurut Wahbah al Zuhaili, hadhanah merupakan hak bersama
antara kedua orang tua serta anak-anak, sehingga apabila nantinya
timbul permasalahan dalam hadhanah, maka yang diutamakan adalah
hak anak.40
Dalam meniti kehidupanya di dunia, seorang anak memiliki hak
mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Orang tua tidak boleh begitu
saja mengabaikan lantaran hak-hak anak tersebut termasuk kedalam
salah satu kewajiban orang tua terhadap anak yang telah digariskan
37
H. Abd Rahman Ghazaly. , Fiqh Munakahat, (Jakarta, Kencana, 2006),h. 175
38
Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam, h.399.
39
Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam, (Jakarta: Sinar Grafindo, 2006), h.67.
40
dalam Islam, yakni Hadhanah, memelihara anak sebagai amanah Allah
yang harus dilaksanakan dengan baik.
Kewajiban orang tua merupakan hak anak. Menurut Neng
Djubaedah anak mempunyai hak-hak sebagai berikut:41
1. Hak anak sebelum dan sesudah dilahirkan.
2. Hak anak dalam kesucian keturunanya.
3. Hak anak dalam pemberian nama yang baik.
4. Hak anak dalam menerima susuan.
5. Hak anak dalam mendapatkan asuhan, perawatan dan
pemeliharaan.
6. Hak anak dalam kepemilikan harta benda atau warisan demi
kelangsungan hidupnya.
7. Hak asuh dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
b. Hadhanah dalam Perspektif Hukum positif 1) Perspektif UU No 1 Tahun 1974
Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan
sampai saat ini belum mengatur secara khusus tentang penguasaan
anak bahkan di dalam PP Nomor 9 Tahun 1975 secara luas dan
rinci. Sehingga pada waktu itu sebelum tahun 1989, para hakim
masih menggunakan kitab-kitab fikih.
Barulah setelah diberlakukanya Undang-undang Nomor 7
tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Inpres Nomor Tahun
41
1991 tentang penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam, masalah
hadhanah menjadi hukum positif di Indonesia dan Peradilan
Agama diberi wewenang untuk menyelesaikannya.42
Kendati demikian, secara global sebenarnya UUP telah
memberi aturan pemeliharaan anak tersebut yang dirangkai dengan
akibat putusnya sebuah perkawinan. Di dalam pasal 41 point 1 dan
2 dinyatakan:
Apabila perkawinan putus karena perceraian, maka akibat
itu adalah:
(1) Baik ibu atau Bapak, tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak bilamana terjadi perselisihan mengenai penguasaan anak, pengadilan memberikan keputusan.
(2) Bapak bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bila bapak tidak memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.43
Menyangkut kewajiban orang tua terhadap anak dimuat
dalam Bab X mulai pasal 45-49
Pasal 45
(1) Kedua orang tua wajib memelihara dan menddidik anak-anak mereka sebaik-baiknya
(2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.
42
Abdul Mannan, “Problematika Hadhanah dan Hubunganya dengan Praktik Hukum
Acara DiPeradilan Agama, dalam, mimbar hukum” No. 49 THN.IX 2000, h. 69.
43
R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata= Burgerlijk
Wetboek: dengan tambahan Undang-undang Pokok Agrarian dan Undang-undang Perkawinan,
Pasal 46 atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya.
(2) Orang tua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan.
Pasal 48
Orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggandakan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya.
Pasal 49
(1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saidara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal :
a. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya; b. Ia berkelakuan buruk sekali.
(2) Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih berkewajiban untuk memberi pemeliharaan kepada anak tersebut.44 Dalam penjelasan UU No 1 tahun 1974 yang dimaksud “Kekuasaan” dalam pasal ini tidak termasuk kekuasaan sebagai wali nikah.
Pasal-pasal diatas, jelas menyatakan kepentingan anak tetap diatas segala-galanya. Artinya semangat UUP sebenarnya sangat berpihak kepada kepentingan dan masa depan anak. Hanya saja UUP hanya menyentuh aspek tanggung jawab pemeliharaan yang masih bersifat material saja dan kurang memberi penekanan pada aspek pengasuhan nonmaterialnya. Semangat pengasuhan material dan nonmaterial inilah yang akan dipertegas oleh KHI seperti dibawah ini.
44
R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata= Burgerlijk
Wetboek: dengan tambahan Undang-undang Pokok Agrarian dan Undang-undang Perkawinan,
2.Kompilasi Hukum Islam (KHI)
KHI di dalam pasal-pasalnya menggunakan istilah Pemeliharaan anak yang dimuat dalam Bab XIV pasal 98-106. Beberapa pasal yang penting akan dikutipkan disini:
Pasal 98 :
(1) Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan.
(2) Orang tuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan.
(3) Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban trsebut apabila kedua orang tuanya tidak mampu.
Pasal 105 :
a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.
b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak
tertentu, memerlukan orang lain untuk membantunya dalam kehidupanya,
seperti makan, pakaian, membersihkan diri, bahkan sampai kepada
pengaturan bangun dan tidur. Oleh karena itu, orang yang menjaganya
perlu mempunyai rasa kasih sayang, kesabaran dan mempunyai keinginan
agar anak itu baik (saleh) di kemudian hari. Disamping itu, ia harus
mempunyai waktu yang cukup pula untuk melakukan tugas itu, dan orang
45
yang memiliki syarat-syarat tersebut adalah wanita. Persoalanya, disaat
orang tua harus cerai dan mereka punya anak kecil, maka ibu lebih berhak
mengasuhnya daripada ayah, selama tidak ada faktor yang menghalangi
sang ibu untuk diutamakan, atau anak layak untuk diberi pilihan.46
Peristiwa perceraian apapun alasanya merupakan malapetaka bagi
si anak. Disaat itu si anak tidak lagi dapat merasakan nikmat kasih sayang
sekaligus dari kedua orang tuanya.Padahal merasakan kasih sayang kedua
orang tua merupakan unsur penting bagi partumbuhan mental seorang
anak.Pecahnya rumah tangga kedua orang tua, tidak jarang membawa
kepada terlantarnya pengasuhan anak.Itulah sebabnya menurut ajaran
Islam perceraian sedapat mungkin harus dihindarkan.
Untuk menghindarkan hal itu pula mengapa agama Islam
menganjurkan agar lebih hati-hati dalam memilih jodoh, dengan
memeperhitungkan faktor-faktor pendukung untuk lestarinya hubungan
suami-istri, dan sebaliknya. Memang diakui tidak tertutup kemungkinan
adanya perceraian kendatipun dari semula calon suami-istri sudah penuh
hati-hati menjatuhkan pilihan. Namun, adanya faktor ketidak hati-hatian
akan memperlebar kemungkinan tersebut.47
Pemeliharaan atau pengasuhan anak itu berlaku antara dua unsur
yang menjadi rukun dalam hukumnya, yaitu orang tua disebut sebagai
hadhin dan anak yang diasuh disebut madhun atau hadhinah.Baik masih
46
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah (Terjemahan) jilid II, (Jakarta: Al-I’tishom, 2008.) h. 455.
47
dalam ikatan perkawinan atau setelah perceraian, kedua orang tua
berkewajiban untuk memelihara anaknya dengan baik. Adapun
syarat-syarat dari hadhin adalah sebagai berikut:48
1. Sudah dewasa. Orang yang belum dewasa tidak akan mampu
melakukan tugas yang berat itu, oleh karenanya belum dikenai
kewajiban dan tindakan yang dilakukanya itu belum dinyatakan
memenuhi persayaratan artinya ia belum berhak mendapatkan tugas
mengasuh anak.
2. Berfikiran sehat. Orang yang kurang akalnya seperti idiot tidak mampu
berbuat untuk dirinya sendiri dengan keadaanya itu tentu tidak akan
mampu berbuat untuk orang lain dan jelas ia tidak berhak untuk
mendapatkan hak mengasuh anak
3. Beragama Islam. Ini adalah pendapat yang dianut oleh jumhur ulama,
karena tugas pengasuhan itu termasuk tugas pendidikan yang akan
mengarahkan agama anak yang diasuh. Kalau diasuh oleh orang yang
bukan isalam dikhawatirkan anak yang diasuh akan jauh dari
agamanya dan akan merasa kesulitan melepaskan diri dari pengaruh
agama orang yang mengasuhnya dan inilah bahaya terbesar yang akan
dialami si anak.
4. Adil dalam arti menjalankan agama secara baik, dengan meninggalkan
dosa besar dan menjauhi dosa kecil. Kebalikan dari adil dalam hal ini
disebut fasiq yaitu tidak konsisten dalam beragama. Orang yang
48
Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia antara Fiqh Munakahat dan
komitmen agamanya rendah tidak dapat diharapkan untuk mengasuh
dan memelihara anak yang masih kecil.
5. Mampu Mendidik, sehingga orang yang buta, sakit, terbelenggu dan
hal-hal lain yang dapat membahayakan si anak atau berpotensi
membuat anak dilalaikan dan disia-siakan, maka tidak berhak
mengasuh anak.49
6. Ibu kandung belum menikah dengan laki-laki lain. Yang menjadi
pertanyaan, apakah pengasuh selain ibu kandung juga disyaratkan
tidak menikah dengan orang yang bukan mahram sianak? Para ulama
mengajukan syarat seperti itu berdasarkan hadits di atas karena si
suami juga akan memperlakukan anak ni dengan keras dan rasa tidak
suka. Lebih dari itu, wanita pengasuh yang telah menikah akan
disibukan oleh tuntutan memenuhi hak suaminya. Lain halnya jika
wanita pengasuh ini adalah kerabat dan mahram anak yang diasuh.50
7. Orang yang mengasuh haruslah seseorang yang merdeka. Syarat ini
diajukan oleh mayoritas ulama. Menurut mereka, orang yang dalam
kepemilikan orang lain tidak memiliki hak atas dirinya sendiri,
sehingga ia tidak dapat menjadi wali bagai orang lain. Padahal, hak
asuh anak ini sama dengan hak perwalian.51
49
Abu Malik Kamal bin As-sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah; penerjemah, Khairul Amru Harahap, faisal soleh. Cet. 1,( Jakarta: pustaka Azzam, 2007.), h. 674.
50
Abu Malik Kamal bin As-sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah; penerjemah, Khairul Amru Harahap, faisal soleh. Cet. 1,( Jakarta: pustaka Azzam, 2007.), h. 674.
51
Dan apabila syarat-syarat tersebut tidak dapat terpenuhi oleh orang
tua yang mengasuh, maka gugur lah hak asuh nya terhadap anak
tersebut.
Para ulama sepakat bahwa, dalam mengasuh anak disyaratkan
bahwa orang yang mengasuh haruslah berakal sehat, bisa dipercaya,
suci diri, bukan pelaku maksiat, bukan penari, bukan peminum
khamar, serta tidak mengabaikan anak yang diasuhnya.Adapun tujuan
dari keharusan dari adanya sifat-sifat tersebut diatas adalah untuk
memelihara dan menjamin keadaan anak dan pertumbuhan moralnya.52
D. Pihak-pihak yang berhak dalam hadhanah
Ketika hak asuh anak merupakan hak dasar asuh ibu, maka para
ulama ahli fiqh menyimpulkan bahwa keluarga ibu dari seorang anak lebih
berhak daripada keluarga dari pihak ayah. Urutan mereka yang berhak
mengasuh anak adalah sebagai berikut:53
1. Ibu anak tersebut
2. Nenek dari pihak ibu dan terus keatas
3. Nenek dari pihak Ayah
4. Saudara kandung perempuan anak tersebut
5. Saudara Perempuan Ibu
6. Saudara perempuan Ayah
7. Anak perempuan dari saudara perempuan sekandung
8. Anak perempuan dari saudara perempuan seayah
52
M. Jawad Mughniyah, Fikih Lima Mazhab, Cet.17, (Jakarta: lentera, 2006), h.416.
53
9. Saudara perempuan ibu yang sekandung dengannya
10.Saudara perempuan ibu yang seibu dengan nya (bibi)
11.Saudara perempuan yang seayah dengannya (bibi)
12.Anak perempuan dari saudara perempuan seayah
13.Anak perempuan dari saudara laki-laki sekandung
14.Anak perempuan dari saudara laki-laki seibu
15.Anak perempuan dari saudara laki-laki seayah
16.Bibi yang sekandung dengan ayah
17.Bibi yang seibu dengan ayah
18.Bibi yang seayah dengan ayah
19.Bibinya ibu dari pihak ibunya
20.Bibinya ayah dari pihak ibunya
21.Bibinya ibu dari pihak ayahnya
22.Bibinya ayah dari pihak ayah.54
Jika anak tersebut tidak mempunyai kerabat perempuan dari
kalangan mahram diatas, atau ada akan tetapi tidak dapat
mengasuhnya, maka pengasuhan anak itu beralih kepada kerabat
laki-laki yang masih mahramnya atau memiliki hubungan darah
(nasab) denganya sesuai dengan urutan masing-masing.
Pengasuhan anak beralih kepada.55
1. Ayah kandung anak itu
2. Kakek dari pihak ayah dan terus keatas
54
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, jilid II, (Beirut Dar Fikr, 1983), h. 527.
55
3. Saudara laki-laki sekandung
4. Saudara laki-laki seayah
5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
7. Paman yang seayah dengan ayah
8. Pamanya ayah yang sekandung
9. Pamanya ayah yang seayah dengan ayah56
Apabila tidak ada seorang pun kerabat dari mahram
laki-laki tersebut atau ada, tetapi tidak bisa mengasuh anak, maka hak
pengasuhan itu beralih kepada mahram-mahramnya yang laki-laki
selain kerabat dekat, yaitu:
1. Ayah ibu (kakek)
2. Saudara laki-laki seibu
3. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu
4. Paman yang seibu dengan ayah
5. Paman yang sekandung dengan ibu
6. Paman yang seayah dengan ibu.57
Selanjutnya jika anak tersebut tidak memiliki kerabat sama
sekali, maka Hakim yang akan menunjuk seorang wanita yang
sanggup dan patut mengasuh serta mendidiknya.
56
Hasan Ayyub, Syaikh, Fikih Keluarga, cet-4 (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2005) h. 452.
57
Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 156 huruf a, anak
yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dari
ibunya, kecuali ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukanya
diganti oleh:
1. Wanita-wanita dalam garis lurus keatas dari ibu
2. Ayah
3. Wanita-wanita dalam garis lurus keatas
4. Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan
5. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis ke samping
dari ibu
6. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari
ayah.58
Dalam pasal 41 Undang-undang Nomor 1tahun 1974
tentang perkawinan dinyatakan : (1) Baik ibu atau Bapak, tetap
berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya,
semata-mata berdasarkan kepentingan anak bilamana terjadi perselisihan
mengenai penguasaan anak, pengadilan memberikan keputusan.
(2) Bapak bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan
pendidikan yang diperlukan anak itu, bila bapak tidak memenuhi
kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut
memikul biaya tersebut.
58
Jumhur fuqaha berpendapat bahwa hak pemeliharaan
anak itu diberikan kepada ibunya, jika ia diceraikan oleh
suaminya, ketika anak tersebut masih kecil.59
Kalangan mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang
paling berhak mengasuh anak itu adalah ibu kandungnya sendiri,
nenek dari pihak ibu, nenek dari pihak ayah, saudara perempuan
(kakak perempuan), bibi dari pihak ibu, anak perempuan saudara
perempuan, anak perempuan saudara laki-laki, bibi dari pihak
ayah, adn kalangan madzhab kerabat lain sesuai dengan urutan
ahli waris.60
Imam Malik berkata: ibu lebih berhak memelihara anak
perempuan hingga ia menikah dengan orang laki-laki dan
disetubuhinya.Untuk anak laki-laki juga seperti itu, menurut
pendapat Maliki yang masyhur, adalah hingga anak itu dewasa.61
Kalangan mazhab Syafi’i berpendapat bahwa hak asuh
anak dimulai dari ibu kandung, nenek dari pihak ibu, nenek dari
pihak ayah, saudara perempuan, bibi dari pihak ibu, anak
perempuan dari saudara laki-laki dan anak perempuan dari
saudara perempuan, bibi dari pihak ayah, dan kerabat yang masih
menjadi mahram bagi si anak yang mendapatkkan bagian warisan
ashabah sesuai dengan tata urutan pembagian harta warisan.
59
Rusyd, Ibnu. Bidayatul Mujtahid, Analisa Fiqih para Mujtahid, penerjemah, Drs. Imam Ghazali Said & Drs. Achmad Zaidun. (Jakarta: Pustaka Amani,2007),
60
Abu Malik Kamal bin As-sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah; penerjemah, Khairul Amru Harahap, faisal soleh. Cet. 1,( Jakarta: pustaka Azzam, 2007.), h. 668.
61
Pendapat kalangan mazhab Syafi’i ini sama dengan pendapat
kalangan mazhab Hanafi.62
Kalangan Mazhab Hanbali berpendapat bahwa hak asuh
anak dimulai dari ibu kandung, nenek dari pihak ibu, kakek dan
ibu kakek, bibi dari kedua orang tuanya, saudara perempuan
seibu, saudara perempuan seayah, bibi dari kedua orangtua,
bibinya ibu, bibinya ayah, bibinya ibu dari jalur ibu, bibinya ayah
dari jalur ibu, bibinya ayah dari pihak ayah, anak perempuan dari
saudara laki-laki, anak perempuan dari paman ayah dari pihak
ayah, kemudian kalangan madzhab kerabat dari urutan yang
paling dekat.63
Menurut feminis, ketentuan fiqh yang memberikan prioritas
hak hadhanah pada isteri dinilai bias jender dan merugikan
laki-laki. Alasan yang diapakai oleh fuqoha selama ini bahwa isteri
lebih mempunyai jiwa keibuan disbanding suami, ternyata
terbantahkan.Karena dalam realitas sehari-hari sungguh banyak
bukti yang menunjukan bahwa ibu tidak selamanya berjiwa
keibuan dan justru laki-laki lebih semangat dalam mengasuh dan
memelihara anak.Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa
sebaiknya penentuan hak hadhanah tidak diprioritaskan kepada
salah satu pihak suami atau istri saja.Melainkan diserahkan
62
Abu Malik Kamal bin As-sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah; penerjemah, Khairul Amru Harahap, faisal soleh. Cet. 1,( Jakarta: pustaka Azzam, 2007.), h. 669.
63
kepada kebijakan suami istri melalui musyawarah atau kebijakan
hakim bila musyawarah tidak berhasil- berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan obyektif yang memungkinkan dan
lebih menjamin perkembangan anak tidak mengalami hambatan.
Dengan sendirinya, penentuan hak hadhanah dengan cara
demikian diharapkan tidak melahirkan diskriminasi antara suami
dan istri.64
64
BAB III
PENETAPAN HAK HADHANAH KEPADA BAPAK DI PENGADILAN AGAMA DEPOK
A. Profil Pengadilan Agama Depok 1. Sejarah Pengadilan Agama Depok
Pengadilan Agama Depok Kelas IB beralamat di Jalan Boulevard Sektor
Aggrek Komplek Perkantoran Kota Kembang Grand Depok City Depok dan
beroperasi pada alamat tersebut setelah diresmikannya gedung Pengadilan
Agama Depok bersamaan dengan diresmikannya gedung Pengadilan Tinggi
Agama Bandung pada tanggal 20 Februari tahun 2007 oleh Prof. Dr. H. Bagir
Manan, SH, M.CL., di Jalan Soekarno Hatta 714 Bandung.
Pengadilan Agama Depok dibentuk berdasarkan Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2002 tanggal 28
Agustus 2002 yang peresmian operasioanalnya dilakukan oleh Wali
Kota Depok di Gedung Balai Kota Depok pada tanggal 25 Juni 2003
dan mulai menjalankan fungsi peradilan sejak tanggal 01 Juli 2003 di
Jalan Bahagia Raya No.11 Depok dengan menyewa rumah penduduk
sebagai gedung operasionalnya.65
Daerah hukum Pengadilan Agama Depok adalah meliputi
Pemerintahan Kota Depok sesuai dengan Pasal 4 ayat (1) UU Nomor
7Tahun 1989 yang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia
65
Di akses yang bersumber dari www.pa-depok.go.id pada tanggal 14 September 2015
Nomor 62 Tahun 2002 Pasal 2 ayat (5) disebutkan bahwa “Daerah
hukum Pengadilan Agama Depok meliputi wilayah Pemerintahan Kota
Depok Propinsi Jawa Barat”.
Pengadilan Agama Depok yang daerah hukumnya meliputi
Wilayah Pemerintahan Kota Depok yang terdiri dari (sebelum
pemekaran adalah 6 Kecamatan dengan 60 Kelurahan) 11 Kecamatan
dengan 64 Kelurahan dengan mayoritas penduduk beragama Islam,
dengan beban kerja rata-rata tiap bulan 162 perkara. Dalam
melaksanakan tugasnya Pengadilan Agama Depok didukung dengan
kekuatan pegawai sebanyak 38 Orang dan secara formal pelaksanaan
tugas Pengadilan Agama Depok harus dipertanggung jawabkan dalam
bentuk laporan ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung selaku atasan.66
Pengadilan Agama Depok sesuai dengan tugas dan
kewenangannya yaitu bertugas dan berwenang memeriksa, memutus
dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang
beragama islam dibidang perkawinan, warisan dan wasiat, wakaf,
zakat, infak, hibah, shodaqoh dan ekonomi syari’ah dan tugas dan
kewenangan lain yang diberikan oleh atau berdasarkan
Undang-undang.67
Sebagai salah satu lembaga yang melaksanakan amanat
Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan
Kehakiman, dalam melaksanakan tugasnya guna menegakkan hukum
66
Di akses yang bersumber dari www.pa-depok.go.id pada tanggal 14 September 2015
67
dan keadilan harus memenuhi harapan dari para pencari keadilan yang.
selalu menghendaki peradilan yang sederhana, cepat, tepat, dan biaya
ringan, hal mana Pengadilan Agama Depok sebagai pelaksana Visi dan
Misi Mahkamah Agung RI yang dijabarkan oleh Direktorat Jenderal
Badan Peradilan Agama, yaitu: Visi “Terwujudnya putusan yang adil dan berwibawa, sehingga kehidupan masyarakat menjadi tenang, tertib
dan damai di bawah lindungan Allah SWT”danMisi : “Menerima,
memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara-perkara yang
diajukan oleh umat islam Indonesia di bidang perkawinan, warisan dan
wasiat, wakaf, zakat, infak, hibah, shodaqoh dan ekonomi syari’ah,
secara cepat, sederhana dan biaya ringan”.68
1. Visi dan Misi Pengadilan Agama Depok
Pengadilan Agama Depok sebagai underbow Mahkamah Agung RI
memiliki komitmen dan kewajiban yang sama untuk mengusung
terwujudnya peradilan yang baik dan benar serta dicintai masyarakat.
Atas dasar itu maka Pengadilan Agama depok telah menjabarkan visi
dan misi tersebut dalam visi dan misi Pengadilan Agama Depok,
yaitu :Visi Pengadilan Agama depok adalah "Terwujudnya Pengadilan Agama Depok Yang Agung".
Hal ini mengandung makna bahwa Pengadilan Agama Depok siap
bersama-sama peradilan lainnya meningkatkan kinerja yang lebih baik
68
demi menjaga kehormatan dan martabat serta wibawa peradilan yang
didedikasikan dalam bentuk misi Pengadilan Agama Depok, yaitu :
1. Meningkatkan pelayanan penerimaan perkara.
2. Membuka akses publik seluas-luasnya.
3. Mewujudkan proses pemeriksaan perkara yang sederhana, cepat
dan dengan biaya ringan;
4. Mewujudkan putusan/penetapan yang memenuhi rasa keadilan,
kepastian hukum dan dapat dilaksanakan (eksekutabel).
5. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.
6. Meningkatkan pelaksanaan pengawasan terhadap kinerja dan
perilaku aparat Pengadilan agar berlaku jujur dan berwibawa serta
agar Peradilan diselenggarakan dengan seksama dan sewajarnya.69
2. Tugas Pokok Dan Fungsi Pengadilan Agama Depok
Pengadilan Agama, yang merupakan Pengadilan Tingkat Pertama
bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan
perkara-perkara ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama
Islam dibidang perkawinan, kewarisan, wasiat dan hibah yang
dilakukan berdasarkan hukum Islam, serta wakaf dan shadaqah,
sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 50 Tahun
2010 tentang Peradilan Agama.
Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Pengadilan Agama
mempunyai fungsi sebagai berikut :
69
1. Memberikan pelayanan teknis yustisial dan administrasi
kepaniteraan bagi perkara tingkat pertama serta penyitaan dan
eksekusi;
2. Memberikan pelayanan dibidang administrasi perkara banding,
kasasi dan peninjauan kembali serta administrasi peradilan lainnya;
3. Memberikan pelayanan administrasi umum kepada semua unsur di
lingkungan Pengadilan Agama (umum, kepegawaian dan keuangan
kecuali biaya perkara);
4. Memberikan Keterangan, pertimbangan dan nasehat tentang
Hukum Islam pada Instansi Pemerintah di daerah hukumnya,
apabila diminta sebagaimana diatur dalam Pasal 52
Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2010 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama;
5. Memberikan pelayanan penyelesaian permohonan pertolongan
pembagian harta peninggalan diluar sengketa antara orang-orang
yang beragama Islam yang dilakukan berdasarkan hukum Islam
sebagaimana diatur dalam Pasal 107 ayat (2) Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama;
6. Waarmerking Akta Keahliwarisan di bawah tangan untuk