• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Hadhanah Bagi Anak Yang Belum Mumayyiz (Analisis Putusan No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hak Hadhanah Bagi Anak Yang Belum Mumayyiz (Analisis Putusan No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk)"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Salah

Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh:

AHMAD FIRDAUS

NIM : 1111044100084

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ( A H W A L S Y A K H S I Y Y A H ) FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

1. Skirpsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku di Univesitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta.

3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil asli saya atau merupakan hasil

jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakata, 9 Oktober 2015

(5)

(Analisis Putusan No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk). Konsentrasi Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsyiyyah) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1437 H/ 2015.

Perceraian sejatinya dibolehkan dalam Islam. Disaat orang tua harus bercerai dan mereka memiliki anak kecil, maka ibu lebih berhak mengasuhnya daripada ayah, selama tidak ada faktor yang menghalangi sang ibu untuk diutamakan, pada dasarnya anak yang belum mumayyiz itu hak asuhnya jatuh pada ibunya, tapi tidak demikian kenyataannya dengan perkara yang terjadi di Pengadilan Agama Depok, bahwa setelah perceraian terjadi hak asuh anak ditetapkan oleh Majlis Hakim kepada Pemohon (suami). Yang menjadi titik fokus pembahasan skripsi ini adalah pertimbangan hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim dalam menetapkan perkara No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk dengan yang di dasarkan pada Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor: 110 K/AG/2007.

Adapun tujuan dalam penelitian ini yakni untuk mengetahui pertimbangan hukum majelis hakim dalam memutuskan perkara yang menetapkan hak hadhanah keoada bapak bagi anak yang belum mumayyiz dan untuk mengetahui ijtihad majelis hakim dalam menetapkan suatu keputusan dalam menentukan hak hadhanah akibat perceraian dalam putusan perkara Nomor. 184/pdt.G/2011.PA.Dpk. yang ditinjau dari hukum Islam dan peraturan perundang-undangan.

Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif dengan menggunakan metode penelitian lapangan (field research). Dalam pengumpulan data diperoleh dari wawancara, observasi, dan studi kepustakaan.

Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah bahwa ketentuan hak asuh anak yang belum mumayyiz ditetapkan kepada bapak tidak sesuai dalam KHI pasal 105 huruf a yang menetapkan hak asuh anak pasca perceraian itu diberikan kepada ibu. Menurut pandangan jumhur ulama bahwa hadhanah itu menjadi hak bersama antara orang tua dan anak Namun Majlis Hakim memiliki pertimbangan lain yang menetapkan hak asuh anak diberikan kepada bapak, baik berdasarkan dari keterangan para saksi, juga berlandaskan dengan yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor: 110 K/AG/2007 tanggal 7 Desember 2007 menyatakan bahwa masalah utama dalam hadhanah adalah kemaslahatan dan kepentingan anak, bukan semata-mata yang secara normatif paling berhak dan sesuai pula dengan Undang-Undang Nomor: 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Kata Kunci : Perceraian, Hadhanah, Mumayyiz.

Pembimbing : Dr. Azizah, M.A.

(6)

i

َﻠَﻋ ُمَﻼَّﺴﻟاَو ُةَﻼَّﺼﻟاَو ،ِﻦْﯾِّﺪﻟاَو ﺎَﯿْﻧُّﺪﻟا ِرْﻮُﻣُأ ﻰَﻠَﻋ ُﻦْﯿِﻌَﺘْﺴَﻧ ِﮫِﺑَو ،َﻦْﯿِﻤَﻟﺎَﻌْﻟا ِّبَر ﷲ ُﺪْﻤَﺤْﻟا

ﺎَﻨِّﯿِﺒَﻧ ،َﻦْﯿِﻠَﺳْﺮُﻤْﻟا ِفَﺮْﺷَأ ﻰ

ﻰَﻠَﻋَو ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ

ِﻦْﯾِّﺪﻟا ِمْﻮَﯾ َﻰﻟِإ ٍنﺎَﺴْﺣِﺈِﺑ ْﻢُﮭَﻌِﺒَﺗ ْﻦَﻣَو َﻦْﯿِﻌِﺑﺎَّﺘﻟاَو ِﮫِﺑﺎَﺤْﺻَأَو ِﮫِﻟآ

Segala puji hanya milik Allah Rabb Alam Semesta, kepada Allah kita memohon

pertolongan atas segala urusan dunia dan agama, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah

atas sebaik-baik Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW, dan atas semua keluarganya, para

sahabatnya, para tabi`in, dan semua yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari

pembalasan.

Dengan izin dan ridho Allah SWT, skripsi dengan judul “Hak Hadhanah Bagi Anak

Yang Belum Mumayyiz (Analisa Putusan No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk)” telah selesai ditulis guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana syariah (S.Sy) strata satu

dalam Konsentrasi Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsiyyah)

Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa ada

bantuan dari berbagai pihak. Maka tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih dan

jazakumullah khoiru jaza kepada:

1. Dr. Asep Saepudin Jahar, MA, Ph.D Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas

Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta seluruh jajarannya, baik

bapak/ibu dosen yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan, maupun para

(7)

ii

kesibukan untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam pembuatan skripsi.

4. Dr. H. Kamarusdiana MH. dosen Penasehat Akademik yang telah banyak memberikan

sokongan dan dukungan kepada penyusun hingga skripsi ini selesai.

5. Pengurus Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum yang telah

menyediakan berbagai macam literatur dalam proses belajar di Universitas Islam Negeri

(UIN) Syaruf Hiayatullah Jakarta, khususnya pada saat pembuatan skripsi.

6. Kepada Ibunda tercinta Hj. Maysyaroh , kakak-kakak (Ka Tuti, Ka Lela, Ka Nurma,

Bang Ipay, Bang Juhro, Bang Irfan, Bang Abet, Ka Hilwa) yang telah memberikan

motivasi serta memberikan nasehat-nasehat kepada penulis demi kelancaran penulisan

skripsi ini.

7. Sahabat-sahabat dari Keluarga Besar Prodi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsiyyah)

(KBPA). Terimakasih atas kebersamaan selama penulis menuntut ilmu di Universitas

Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

8. Orang tercinta Atiqoh Fathiyah, sahabat-sahabat Legend Kampus ( Nazir, Syaikhoni,

Faris Jamal, Kong Abrar, Badru Tamam (BT) dan seluruh sahabat-sahabat seperjuangan

angkatan 2011) yang telah memberikan semangat dan warna kepada penulis selama ini.

9. Serta berbagi pihak yang tidak dapat penulis sebutkan seluruhnya, semoga amal baik

(8)

iii

Jakarta, 12 Oktober 2015

(9)

iv

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Review Studi Terdahulu ... 8

E. Metode Penellitian ... 10

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II PERCERAIAN DAN HADHANAH DALAM PERSPEKTIF FIQIH DAN HUKUM POSITIF A. Pengertian perceraian dan Macam-macamnya ... 14

B. Pengertian Hadhanah dan Dasar Hukumnya ... 20

C. Syarat-sayarat Hadhanah dan Akibat Hukum Hadhanah ... 27

D. Pihak-pihak yang Berhak dalam Hadhanah ... 31

BAB III PENETAPAN HAK HADHANAH KEPADA BAPAK DI PENGADILAN AGAMA DEPOK A. Profil Pengadilan Agama Depok ... 38

B. Deskripsi Perkara Putusan No. 184/Pdt.G/2011/PA. Dpk ... 44

BAB IV TINJAUAN TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN AGAMA DEPOK TERHADAP HADHANAH BAGI ANAK YANG BELUM MUMAYYIZ A. Pertimbangan Hakim Dalam Memtus perkara ... 57

B. Analisis Penulis Atas Putusan Majlis Hakim Nomor Perkara 184/Pdt.G/2011/PA. Dpk ... 60

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 68

B. Saran-saran ... 69

(10)
(11)

1

Akad Perkawinan dalam hukum Islam bukan lah perkara perdata

semata, melainkan ikatan suci (mitsaqon galiza) yang terkait dengan

keyakinan dan keimanan kepada Allah. Dengan demikian ada dimensi

ibadah dalam sebuah perkawinan. Untuk itu perkawinan harus dipelihara

dengan baik sehingga bisa abadi dan apa yang menjadi tujuan perkawinan

dalam Islam yakni terwujudnya keluarga sejahtera (mawaddah wa

rahmah) dapat terwujud.1

Pada sisi lain, keharmonisan hubungan suami dan istri merupakan

salah satu tujuan utama yang sangat dikehendaki islam. Akad nikah

semata-mata dengan harapan akan bertahan selama-lamanya hingga akhir

hayat, agar suami dan istri dapat menjadikan rumah sebagai tempat

bernaung dan menikmati keindahannya, serta dapat mendidik anak-anak

mereka menjadi generasi yang shalih.2 Syara’ membenarkan perkawinan

dan mengizinkan perceraian. Dengan terjadinya perceraian tentu akan

menimbulkan akibat hukum, diantaranya adalah hak asuh anak

(Hadhanah).

1

Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2012). h. 206.

2

(12)

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)

tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.3 Sedangkan menurut

KHI, anak adalah orang yang belum genap 21 tahun dan belum pernah

menikah dan karenanya belum mampu untuk berdiri sendiri.4

Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa

depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak

berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi

serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta

hak sipil dan kebebasan.

Seorang anak pada permulaan hidupnya sampai umur tertentu

memerlukan orang lain dalam kehidupanya, baik dalam pengaturan

fisiknya, maupun dalam pembentukan akhlaknya. Seseorang yang

melakukan tugas hadhanah sangat berperan dalam hal tersebut. Oleh sebab

itu masalah hadhanah mendapat perhatian khusus dalam ajaran Islam. Di

atas pundak kedua orang tuanyalah terletak kewajiban untuk melakukan

tugas tersebut. Bilamana kedua orang tuanya tidak dapat atau tidak layak

untuk tugas itu disebabkan tidak mencukupi syarat-syarat yang diperlukan

menurut pandangan Islam, maka hendak lah dicarikan pengasuh yang

mencukupi syarat-syaratnya. Untuk kepentingan seorang anak, sikap

peduli dari kedua orang tua terhadap masalah hadhanah memang sangat

diperlukan jika tidak, maka bisa mengakibatkan seorang anak tumbuh

3

UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, (Bandung: PT. Citra Umbara, 2003), h. 4.

4

(13)

tidak terpelihara dan tidak terarah seperti yang diharapkan. Maka yang

paling diharapkan adalah keterpaduan kerja sama antara ayah dan ibu

dalam melakukan tugas ini. Jalinan kerja sama antara keduanya hanya

akan bisa diwujudkan selama kedua orang tua itu masih tetap dalam

hubungan suami istri. Dalam suasana yang demikian, kendatipun tugas

hadhanah sesuai dengan tabiatnya akan lebih banyak dilakukan oleh pihak

ibu, namun peranan seorang ayah tidak bisa diabaikan, baik dalam

memenuhi segala kebutuhan yang memperlancar tugas hadhanah, maupun

dalam menciptakan suasana damai dalam rumah tangga dimana anak

diasuh dan dibesarkan.5

Harapan diatas tidak akan terwujud, bilamana terjadi perceraian

antara ayah dan ibu si anak. Peristiwa perceraian, apa pun alasanya

merupakan malapetaka bagi si anak. Di saat itu si anak tidak lagi dapat

merasakan nikmat kasih sayang sekaligus dari kedua orang tuanya.

Padahal merasakan kasih sayang kedua orang tua merupakan unsur

penting bagi pertumbuhan mental seorang anak.Pecahnya rumah tangga

kedua orang tua, tidak jarang membawa kepada terlantarnya pengasuhan

anak. Itulah sebabnya menurut ajaran islam perceraian sedapat mungkin

harus dihindarkan. Dalam sebuah hadits diingatkan, bahwa “Sesuatu yang

halal (dibolehkan) yang paling tidak disukai Allah adalah

perceraian”.(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).6

5

Satria Effendi M.Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer (Jakarta: Kencana,2010),hal.166.

6

(14)

Para ulama sepakat bahwasanya hukum hadhanah, mendidik dan

merawat anak hukumnya wajib. Tetapi mereka berbeda dalam hal, apakah

hadhanah ini menjadi hak orang tua (terutama ibu) atau hak anak. Menurut

jumhur ulama, hadhanah itu menjadi hak bersama antara orang tua dan

anak. Jika terjadi pertengkaran maka yang didahulukan adalah hak atau

kepentingan si anak.7

Hadhanah yang dimaksud dalam diskursus ini adalah kewajiban

orang tua untuk memelihara dan mendidik anak mereka dengan

sebaik-baiknya. Pemeliharaan ini mencakup masalah ekonomi, pendidikan dan

segala sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok si anak.8

Pemeliharaan Anak juga mengandung arti sebuah tangung jawab

orang tua untuk mengawasi, memberi pelayanan yang semestinya serta

mencukupi kebutuhan hidup dari seorang anak oleh orang tua.

Selanjutnya, tanggung jawab pemeliharaan berupa pengawasan dan

pelayanan serta pencukupan nafkah anak tersebut bersifat terus menerus

sampai anak tersebut mencapai batas umur yang legal sebagai orang

dewasa yang telah mampu berdiri sendiri.9

Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 105 huruf (a), menyebutkan

bahwa dalam terjadinya perceraian, pemeliharaan anak yang belum

mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Kemudian,

dalam pasal 156 huruf (a), akibat putusnya perkawinan karena perceraian

7

Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 293.

8

Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 1998), h. 235.

9

(15)

ialah anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hak asuh dari

ibunya.10

Dari ketentuan di atas, dapat di lihat bahwa peranan ibu sangatlah

penting terhadap anak yang belum mumayyiz apabila di dalam rumah

tangga terjadi perceraian. Adapun siapa yang lebih berhak mengasuh anak

yang belum mumayyiz, bila kita melihat argumen di atas, maka yang

berhak mengasuh anak yang belum mumayyiz adalah pihak ibu.

Pada point yang telah disebutkan di atas, pada dasarnya anak yang

belum mumayyiz itu hak asuhnya jatuh pada ibunya, tapi tidak demikian

kenyataannya yang terjadi di Pengadilan Agama, banyak pihak yang

mengajukan perkara tentang hadhanah anak setelah terjadinya perceraian,

dimana anak merupakan hasil dari perkawinan yang selama ini mereka

rajut bersama selama perkawinan.

Kemudian bagaimana hakim yang menangani perkara hak

hadhanah anak sehingga terjadi penetapan hak tersebut, jika anak yang di

perebutkan masih dalam keadaan mumayyiz atau masih dibawah umur

tidak jatuh ke tangan ibu, melainkan kepada seorang ayah. Tentunya

Majelis Hakim memiliki beberapa pertimbangan hukum terhadap putusan

yang ditetapkan.

Oleh karena itu menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk

diteliti oleh penulis berupa: putusan Majelis Hakim, dasar

hukum,alasan-alasan serta implikasi lain dalam putusan yang berkekuatan hukum tetap

10

(16)

yang disepakati oleh Majelis Hakim. Inilah yang memotivasi dan

mendorong penulis untuk mengkaji dalam skripsi dengan judul “Hak Hadhanah Bagi Anak Yang Belum Mumayyiz” (Analisa Putusan No. 184/Pdt.G/2011/PA.Dpk).

B. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Untuk menghindari meluasnya pembahasan, maka studi ini dibatasi

hanya pada kasus Hadhanah bagi anak yang belum mumayyiz yang

terdapat pada putusan Pengadilan Agama Depok No.

184/Pdt.G/2011/PA.Dpk

2. Perumusan Masalah

Pada dasarnya baik dari nash maupun fikih, pengasuhan anak yang

belum mumayyiz berada pada asuhan ibu, demikian juga diatur dalam

hukum materil atau undang-undang. Pada kenyataannya anak yang

belum mumayyiz telah diputus oleh hakim, bahwa hadhanah bisa jatuh

kepada bapak. Hal ini yang ingin penulis teliti mengenai putusan

hakim terhadap hadhanah anak yang belum mumayyiz yang jatuh

kepada bapak terhadap perkara hadhanah di pengadilan agama Depok

perkara No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk.

Untuk menemukan dan memecahkan masalah yang ada, penulis

(17)

a. Apa dasar pertimbangan hukum yang digunakan Majelis Hakim

PA Depok dalam menetapkan Ayah sebagai Pemegang hak

hadhanah bagi anak yang belum mumayyiz?

b. Bagaimana ijtihad majelis hakim dalam memutuskan perkara hak

hadhanah kepada bapak dalam putusan perkara nomor.

184/pdt.G/2011/PA.Dpk ditinjau dari hukum Islam dan per-

Undang-undangan di Indonesia?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui pertimbangan hukum majelis hakim dalam

memutuskan perkara yang menetapkan hak hadhanah kepada

bapak bagi anak yang belum mumayyiz.

b. Untuk mengetahui ijtihad majelis hakim dalam menetapkan

suatu keputusan dalam menentukan hak hadhanah akibat

perceraian dalam putusan perkara Nomor.

184/pdt.G/2011/PA.Dpk. yang ditinjau dari hukum Islam dan

peraturan perundang-undangan.

2. Manfaat Penelitian a. Secara praktis

Memberikan penjelasan tentang cara hakim memutuskan

suatu perkara dan metode-metode yang digunakan hakim

dalam menetapkan suatu keputusan.

(18)

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu karya

tulis ilmiah yang dapat menambah khazanah keilmuan

khususnya di bidang Ilmu hukum Keluarga dan umumnya pada

ilmu pengetahuan.

D. Review Studi Terdahulu

Adapun penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan masalah

dalam penelitian ini antara lain:

1. Skripsi oleh Aditya Nur Pratama, tahun 2009 Program Studi Ahwal

Al-Syakhshiyah, konsentrasi peradilan agama, UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta. Judul “Pencabutan Hak Asuh dari Ibu (Studi

Analisis Putusan Pengadilan Agama Depok No.

430/pdt.G/2006/PA.Dpk). berisi tentang landasan teori seputar hak

asuh (hadhanah) anak meliputi pengertian hadhanah, dasar hukum

hadhanah, syarat-syarat hadhanah dan hadhin, masa hadhanah serta

analisa terhadap putusan pengadilan Agama tentang pencabutan hak

asuh anak dari ibu yang kemudian diberikan kepada ayah. Secara

umum, skripsi tersebut membahas tentang pencabutan hak asuh

(hadhanah) anak dari ibu kepada ayah sedangkan penulis

memfokuskan pada analisa putusan majelis hakim terhadap hadhanah

kepada bapak bagi anak yang belum mumayyiz dengan perkara No.

184/pdt.G/2011/PA.Dpk.

2. Skripsi oleh Sabarudin, tahun 2008, program studi Ahwal

(19)

“Hadhanah Perspektif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i dan

prakteknya Di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (Studi putusan

Pengadilan Agama Jakarta Selatan No. 1185/pdt.G/2006/PAJS tentang

Hadhanah)”. Pembahasan mengenai hak asuh anak bagi orang tua yang

murtad di pengadilan agama Jakarta selatan No.

1185/pdt.G/2006/PAJS serta ditinjau menurut mazhab Imam Hanafi

dan Imam Syafi’i. Secara umum, skripsi tersebut berisi tentang hak

asuh (hadhanah) anak bagi orang tua yang murtad dengan

menganalisis putusan Pengadilan Agama Jakarta selatan dan juga

membandingkan antara dua perspektif yaitu Mazhab Imam Hanafi dan

Mazhab Syafi’i mengenai Hadhanah, sedangkan penelitian penulis

tidak membandingkan keduanya akan tetapi penulis memfokuskan

pada analisa putusan majelis hakim terhadap hadhanah kepada bapak

bagi anak yang belum mumayyiz dengan perkara No.

184/pdt.G/2011/PA.Dpk.

3. Skripsi oleh Firman Sulaeman, tahun 2005 Fakultas Syariah dan

Hukum , UIN Jakarta. Judul “Hak Pemeliharaan Anak Yang Belum

Mumayyiz (Studi kritis terhadap pasal 105 point A Kompilasi Hukum

Islam)’’.

Secara umum skripsi ini membahas tentang Syarat-syarat Hadhanah

dan fokus terhadap efektifitas pasal 105 point a Kompilasi Hukum

Islam sebagai pedoman hukum bagi para hakim dalam menyelesaikan

(20)

persamaan dengan skripsi penulis yakni sama-sama membahas tentang

syarat-syarat hadhanah. Perbedaan nya skripsi yang akan dikaji oleh

penulis yakni memfokuskan pada analisa putusan majelis hakim

terhadap hadhanah kepada bapak bagi anak yang belum mumayyiz

dengan perkara No. 184/pdt.G/2011/PA.Dpk.

Dari beberapa judul skripsi di atas, sudah jelas berbeda

pembahasannya dengan skripsi yang akan penulis bahas. Adapun

penelitian ini memfokuskan pada analisa putusan majelis hakim

terhadap hadhanah kepada bapak bagi anak yang belum mumayyiz

dengan perkara No.184/pdt.G/2011/PA.Dpk.

E. Metodologi Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang akan ditempuh oleh penulis untuk

menjawab permasalahan penelitian atau rumusan masalah.11 Adapun

metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan hasil

yang maksimal dan optimal dengan menggunakan tahapan-tahapan

sebagai berikut:

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang

memusatkan perhatian pada prinsip umum yang mendasari perwujudan

satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia. Sedangkan

pendekatan yang digunakan adalah adalah pendekatan normatif.

11

(21)

2. Sumber Data

Sumber data penelitian hukum dapat dibedakan menjadi

sumber-sumber penelitian berupa data primer dan data sekunder.12 Adapun

sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

a. Bahan Hukum Primer

Data primer dalam penelitian ini adalah: pertama, putusan

Peradilan Agama dengan perkara Nomor 184/pdt.G/2011/PA.Dpk

tentang hadhanah, kedua, peraturan perundang-undangan Nomor 1

Tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam yang

akan digunakan oleh penulis sebagai tinjauan terhadap analisis

putusan tersebut dan buku-buku yang akan membahas langsung

mengenai hadhanah.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder ialah merupakan data yang

diperoleh dari bahan kepustakaan.13 Data ini terdiri dari buku-buku

yang berkaitan dengan skripsi ini, baik yang ditulis langsung oleh

penulis maupun berupa analisis dari penulis lain.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam upaya megumpulkan data, metode yang dipergunakan

sebagai berikut:

12

Peter Muhammad Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008) h. 141.

13

(22)

a. Interview/ wawancara

Metode wawancara adalah metode pengumpulan data

dengan jalan bertanya jawab sepihak yang dikerjakan secara

sistematis dengan berlandaskan kepada tujuan penyelidian.14

Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data yang

diperlukan penulis yang berupa data yang tidak tertulis.Adapun

yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah Drs. Agus

Abdullah, M.H. (Hakim Pengadilan Agama Depok 2007-2012,

Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan 2012-sekarang).

b. Metode Dokumentasi

Metode Dokumentasi adalah mencari hal-hal variable

berupa catatan, surat kabar, majalah, notulen, dan sebagainya.

4. Pedoman Penulisan Skripsi

Teknik penulisan skripsi ini berpedoman pada “Buku Pedoman

penulisan Skripsi tahun 2012” yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah

dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang digunakan dalam penyusunan skripsi

ini adalah BAB perbab, dimana antara BAB yang satu dengan BAB yang

lainnya memiliki keterkaitan. Sistematika penulisan yang dimaksudkan

adalah sebagai berikut:

14

(23)

BAB I Merupakan bab pendahuluan dalam membuka penulisan skripsi ini, dengan uraian bahasan meliputi: Latar Belakang Masalah,

Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat

Penelitian, Review Studi Terdahulu, Metodologi Penelitian, dan

Sistematika Penulisan.

BAB II Berkenaan dengan Pengertian perceraian dan macam-macam nya, Pengertian Hadhanah dan Dasar hukumnya, Syarat-syarat

Hadhanah dan akibat hukum Hadhanah, dan Pihak-pihak yang berhak

dalam Hadhanah.

BAB III Bab ini menjelaskan deskripsi hadhanah kepada bapak di pengadilan agama Depok yang meliputi: Profil Pengadilan Agama Depok,

Duduk Perkara Putusan, Salinan Putusan.

BAB IV Bab ini membahas akanTinjauan Terhadap Putusan Pengadilan Agama Depok Terhadap Hadhanah Bagi Anak Belum

Mumayyiz yang meliputi: Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan

Perkara, Ijtihad Majelis Hakim Dalam Memutuskn Perkara, dan Analisis

penulis dalam perkara Nomor 184/pdt.G/2011/PA.Dpk tentang hadhanah.

BAB V merupakan penutup, yang terdiri dari kesimpulan terhadap jawaban permasalahan dalam penyusunan skripsi ini.Sekaligus

memberikan saran yang mungkin dapat membantu mewujudkan keadilan

(24)

BAB II

PERCERAIAN DAN HADHANAH DALAM PERSPEKTIF FIQIH DAN HUKUM POSITIF

A. Pengertian Perceraian

Kata “cerai” menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti: pisah,

putus hubungan sebagai suami istri. Kemudian, kata “perceraian”

mengandung arti: perpisahan, perihal bercerai (antara suami dan istri),

perpecahan. Adapun kata “bercerai” berarti: tidak bercampur

(berhubungan, bersatu) lagi, berhenti berlaki-bini (suami-istri).15

Jadi secara yuridis istilah perceraian berarti putusnya perkawinan,

yang mengakibatkan putusnya hubungan sebagai suami dan istri atau

berhenti berlaki-bini (suami-istri) sebagaimana diartikan dalam kamus

besar Bahasa Indonesia di atas.

Secara singkat, perceraian didefinisikan sebagai melepas tali

perkawinan dengan kata talak atau kata yang sepadan artinya dengan

talak.16

Perceraian sejatinya dibolehkan dalam Islam. Namun disisi lain,

perkawinan diorientasikan sebagai komitmen selamanya dan kekal.

Meskipun demikian, terkadang muncul keadaan-keadaan yang

menyebabkan cita-cita suci perkawinan gagal terwujud. Namun demikian

15

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar

Bahasa Indonesia Edisi Kedua, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), h. 185.

16

Yayan Sopyan, Islam Negara, Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum

(25)

perceraian dapat diminta oleh salah satu pihak atau kedua belah pihak

untuk mengakomodasi realitas-realitas tentang perkawinan yang gagal.17

Meskipun begitu, perceraian merupakan sesuatu hal yang sangat dibenci

dalam Islam meskipun kebolehannya sangat jelas dan hanya boleh

dilakukan ketika tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh oleh kedua

belah pihak.18

Ada beberapa bentuk perceraian yang diakui dalam Islam: (a)

perceraian karena kematian suami atau istri; (b) talak, yang berasal dari

pihak suami; (c) al-ila’; (d) khuluk, dan; (e) mubara’ah, yang berasal dari

pihak istri; (f) li’an; (g) fasakh.19

Suatu Perkawinan dapat putus dan berakhir karena berbagai hal,

antara lain karena terjadinya talak yang dijatuhkan oleh suami terhadap

istrinya, atau karena perceraian yang terjadi antara keduanya, baik cerai

talak maupun cerai gugat atau karena sebab-sebab lain. Talak sendiri

merupakan metode perceraian yang paling sederhana, dan secara hukum

hanya bisa dilaksanakan oleh suami karena alasan tertentu atau tanpa

alasan sama sekali, pada prinsipnya seorang suami bisa menceraikan

istrinya melalui pernyataan sederhana: “Saya menceraikan kamu!”

sebaliknya, istri juga bisa mengakhiri perkawinan melalui khuluk dengan

kerelaan suami, atau dengan fasakh melalui putusan pengadilan.20

17

Haifah A. Jawad, Otentisitas Hak-hak Perempuan, hlm. 232.

18

Seperti dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh ibnu umar.Lihat dalam sulayman ibn

Asy’ats Abu Dawud al-Sijistani, Sunan Abu Dawud, (Beirut: Dar al Fikr, tt), juz I, h. 661.

19

Asaf A.A. fyzee, Outline of Muhammad Law, (London:Oxford University Press, 1995), cet. II, h. 139.

20

(26)

Menurut ketentuan Undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974

tentang perkawinan pasal 38, bahwa perkawinan dapat putus karena

kematian, perceraian, dan atas keputusan pengadilan. Putusannya

perkawinan karena kematian sering disebut oleh masyarakat dengan

sebutan cerai mati. Sedangkan putusannya perkawinan karena perceraian

ada dua sebutan yaitu cerai gugat dan cerai talak.21

1. Cerai Talak

Cerai talak biasanya hanya berlaku bagi mereka yang

melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, Islam menetapkan

hak talak itu berada di tangan suami, yakni memiliki hak mentalak tiga

kali talak. Namun demikian hak itu tidak dapat digunakan suami

begitu saja dengan sewenang-wenang. Suami yang hendak melakukan

talak terhadap istrinya harus didepan pengadilan agama yang

berwenang. Berikut penjelasan talak lebih rinci:

Talak berasal dari bahasa Arab yaitu kata “Thalak” artinya

lepasnya suatu ikatan perkawinan dan berakhirnya hubungan

perkawinan.22 menurut istilah syarak talak adalah:

“Melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami

istri”.23

Jadi talak ialah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga setelah

hilangnya ikatan perkawinan itu istri tidak lagi halal bagi suaminya. Ini

21

Abd.Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta, Kencana, 2006), h.192.

22

H.S.A. Al-Hamdani, Risalah Nikah (Hukum Perkawinan Islam). Jakarta, Pustaka Amani, 2002. hlm. 202.

23

(27)

terjadi dalam talak ba’in, sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan

perkawinan adalah berkurangnya hak talak bagi suami yang

mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami

dari tiga menjadi dua, dari dua menjadi satu, dan dari satu menjadi

hilang hak dalam talak raj’i.24

Adapun hukum talak kepada isteri ada kalanya wajib, ada kalanya

sunnah, ada kalanya haram, makruh dan halal. Hal itu tergantung

kepada keadaan suami isteri itu sendiri.25

a. Macam-macam Talak

Secara garis besar ditinjau dari boleh atau tidaknya rujuk

kembali, talak dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1) Talak raj’i

Talak raj’i yaitu talak dimana suami masih mempunyai hak

untuk merujuk kembali istrinya, setelah talak itu dijatuhkan

dengan lafal-lafal tertentu, dan istri benar-benar sudah digauli.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Talak (65) : 1



H. Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta, Kencana, 2006) h. 191.

25

(28)

Artinya:

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, Dan barang siapa melanggar hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru”.

Dengan demikian, jelaslah bahwa suami boleh untuk

merujuk istrinya kembali yang telah ditalak sekali atau dua kali

selama istrinya itu masih dalam masa iddah. Oleh karenanya,

manakala istri telah diceraikan dua kali, kemudian dirujuk atau

dinikahi setelah sampai masa iddahnya, sebaiknya ia tidak

diceraikan lagi.

2). Talak ba’in

Talak ba’in adalah talak ketiga, talak sebelum berhubungan

badan dan talak karena imbalan harta. Talak ba’in terbagi menjadi

dua; ba’in kecil (bainunah sughra), yaitu selain talak tiga, dan

ba’in besar (bainunah kubra) dan bain besar, yaitu talak tiga.26

Hukum talak ba’in kecil memutuskan ikatan perkawinan

sesaat talak tersebut berlaku. Dengan terputusnya ikatan

perkawinan, maka status istri yang telah dicerai menjadi wanita

asing. Bekas suami tidak diperbolehkan berhubungan mesra

26

(29)

dengannya dan keduanya tidak saling mewarisi, jika suami

meninggal di tengah masa ‘iddah ataupun setelahnya. Suami boleh

kembali hidup bersama istri yang telah ditalaknya dengan talak

ba’in kecil itu dengan akad baru dan memberi mahar baru, tanpa

dia harus menikah dulu dengan lelaki lain. Jika itu terjadi, maka

sang istri kembali padanya dengan sisa talak yang dimilikinya. Jika

sebelumnya ditalak satu, maka setelah pernikahan kedua tersebut

tersisa dua talak lagi. Tapi jika sebelumnya ditalak dua, maka

hanya tersisa satu talak lagi.27

Hukum talak ba’in besar juga memutuskan ikatan

perkawinan, sama seperti talak ba’in kecil, termasuk juga

konsekuensi hukum-hukumnya. Hanya saja, setelah talak ba’in

besar dijatuhkan, suami tidak dapat mengembalikan ikatan

hubungan suami-istri dengan bekas istrinya kecuali apabila sang

istri menikah lebih dulu dengan lelaki lain dengan pernikahan yang

sah dan melakukan hubungan badan, bukan dengan niat

menghalalkan (nikah tahlil).28

2. Cerai Gugat

Gugatan perceraian hanya dilakukan para istri, karena dalam

hukum Islam, istri tidak mempunyai hak mentalak suami. Dalam

hukum perkawinan agama islam sendiri diberi hak untuk menuntut

27

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah (Terjemahan) jilid II, (Jakarta: Al-I’tishom, 2008.) h. 455.

28

(30)

perceraian dari sang suami dengan cara khulu’. Adapun alasan

terjadinya perceraian terdapat dalam pasal 116 Kompilasi Hukum

Islam.29

B. Pengertian Hadhanah dan Dasar Hukum Hadhanah

Dalam pegertianya“Hadhanah” berasal dari bahasa arab yang

mempunyai arti antara lain: Hal memelihara, mendidik, mengatur,

mengurus segala kepentingan/urusan anak-anak yang belum mumayyiz

(belum dapat membedakan baik dan buruknya sesuatu atau tindakan bagi

dirinya). Hadhanah, menurut bahasa, berarti meletakkan sesuatu didekat

tulang rusuk atau di pangkuan, karena ibu waktu menyusukan anaknya

meletakkan anak itu di pangkuannya, seakan-akan ibu disaat melindungi

dan memelihara anaknya sehingga “hadhanah” dijadikan istilah yang

maksudnya: “pendidikan dan pemeliharaan anak sejak lahir sampai

sanggup berdiri sendiri mengurus dirinya yang dilakukan oleh kerabat

anak itu.30

Adapun Dasar hukum hadhanah (pemeliharaan anak) adalah

firman Allah SWT. QS al-Tahrim (66): 6:



Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 2005), h. 247

30

(31)

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari

api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya

malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah

terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu

mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Al-Tahrim(66) ayat 6):31

Pada ayat ini, orang tua diperintahkan Allah SWT, untuk memelihara

keluarganya dari api neraka, dengan berusaha agar seluruh anggota

keluarganya itu melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi

larangan-larangan Allah, termasuk anggota keluarga dalam ayat ini adalah anak.32

Dalam hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan

Abu Dawud:

Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum menikah” Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, hadist Shahih menurut hakim.33

Mengasuh anak-anak yang masih kecil hukumnya wajib, sebab

mengabaikan nya berarti menghadapkan anak-anak yang masih kecil

kepada bahaya kebinasaan. Hadhanah merupakan hak bagi anak-anak

31

Al-Quran dan Terjemahanya, Jakarta, kementrian Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Alquran, 2009.

32

Tihami, Fikih Munakahat, Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 217.

33

(32)

yang masih kecil, karena ia membutuhkan pengawasan, penjagaan,

pelaksanaan urusannya, dan orang yang mendidiknya. Dalam kaitan ini,

terutama ibunya lah yang berkewajiban melakukan hadhanah.34

Adapun pendidikan yang lebih penting adalah pendidikan anak dalam

pangkuan ibu dan bapaknya, karena dengan adanya pengawasan dan

perlakuan akan dapat menumbuhkan jasmani dan akalnya, membersihkan

jiwanya, serta mempersiapkan diri anak dalam menghadapi kehidupannya

di masa yang akan datang.35

a. Hadhanah dalam perspektif fikih

Para ulama fikih mendefinisikan: Hadhanah sebagai tindakan

pemeliharaan anak-anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun

perempuan atau yang sudah besar tetapi belum mumayyiz,

menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya, menjaganya dari

sesuatu yang menyakiti dan merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan

akalnya, agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul

tanggung jawab.36

Hadhanah berbeda maksudnya dengan pendidikan (tarbiyah).

Dalam hadhanah, terkandung pengertian pemeliharaan jasmani dan

rohani disamping terkandung pula pengertian pendidikan. Sedangkan

pendidikan, yang diasuh mungkin saja terdiri dari keluarga si anak dan

mungkin pula bukan dari keluarga si anak dan ia merupakan pekerjaan

34

Tihami, Fikih Munakahat, Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 217.

35

Slamet Abidin dan H. Aminudin, fiqh Munakahat 2, hlm. 172.

36

(33)

profesional, sedangkan hadhanah dilaksanakan dan dilakukan oleh

keluarga si anak, kecuali jika anak tersebut tidak mempunyai keluarga

serta ia bukan profesional: dilakukan oleh setiap ibu, serta anggota

kerabat yang lain. Hadhanah merupakan hak dari hadhin, sedangkan

pendidikan belum tentu merupakan hak dari pendidik.37

Peunoh Daly, mengemukakan definisi Hadhanah adalah pekerjaan

yang berhubungan dengan memelihara, merawat dan mendidik anak

yang masih kecil, bodoh atau lemah fisik.38

Dalam hukum perdata Islam di Indonesia, dikatakan bahwa

hadhanah adalah memelihara seorang anak yang belum mampu hidup

mandiri yang meliputi pendidikan dan segala sesuatu yang diperlukan

baik dalam bentuk melaksanakan maupun dalam bentuk menghindari

sesuatu yang dapat merusaknya.39

Menurut Wahbah al Zuhaili, hadhanah merupakan hak bersama

antara kedua orang tua serta anak-anak, sehingga apabila nantinya

timbul permasalahan dalam hadhanah, maka yang diutamakan adalah

hak anak.40

Dalam meniti kehidupanya di dunia, seorang anak memiliki hak

mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Orang tua tidak boleh begitu

saja mengabaikan lantaran hak-hak anak tersebut termasuk kedalam

salah satu kewajiban orang tua terhadap anak yang telah digariskan

37

H. Abd Rahman Ghazaly. , Fiqh Munakahat, (Jakarta, Kencana, 2006),h. 175

38

Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam, h.399.

39

Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam, (Jakarta: Sinar Grafindo, 2006), h.67.

40

(34)

dalam Islam, yakni Hadhanah, memelihara anak sebagai amanah Allah

yang harus dilaksanakan dengan baik.

Kewajiban orang tua merupakan hak anak. Menurut Neng

Djubaedah anak mempunyai hak-hak sebagai berikut:41

1. Hak anak sebelum dan sesudah dilahirkan.

2. Hak anak dalam kesucian keturunanya.

3. Hak anak dalam pemberian nama yang baik.

4. Hak anak dalam menerima susuan.

5. Hak anak dalam mendapatkan asuhan, perawatan dan

pemeliharaan.

6. Hak anak dalam kepemilikan harta benda atau warisan demi

kelangsungan hidupnya.

7. Hak asuh dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

b. Hadhanah dalam Perspektif Hukum positif 1) Perspektif UU No 1 Tahun 1974

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan

sampai saat ini belum mengatur secara khusus tentang penguasaan

anak bahkan di dalam PP Nomor 9 Tahun 1975 secara luas dan

rinci. Sehingga pada waktu itu sebelum tahun 1989, para hakim

masih menggunakan kitab-kitab fikih.

Barulah setelah diberlakukanya Undang-undang Nomor 7

tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Inpres Nomor Tahun

41

(35)

1991 tentang penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam, masalah

hadhanah menjadi hukum positif di Indonesia dan Peradilan

Agama diberi wewenang untuk menyelesaikannya.42

Kendati demikian, secara global sebenarnya UUP telah

memberi aturan pemeliharaan anak tersebut yang dirangkai dengan

akibat putusnya sebuah perkawinan. Di dalam pasal 41 point 1 dan

2 dinyatakan:

Apabila perkawinan putus karena perceraian, maka akibat

itu adalah:

(1) Baik ibu atau Bapak, tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak bilamana terjadi perselisihan mengenai penguasaan anak, pengadilan memberikan keputusan.

(2) Bapak bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bila bapak tidak memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.43

Menyangkut kewajiban orang tua terhadap anak dimuat

dalam Bab X mulai pasal 45-49

Pasal 45

(1) Kedua orang tua wajib memelihara dan menddidik anak-anak mereka sebaik-baiknya

(2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.

42

Abdul Mannan, “Problematika Hadhanah dan Hubunganya dengan Praktik Hukum

Acara DiPeradilan Agama, dalam, mimbar hukum” No. 49 THN.IX 2000, h. 69.

43

R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata= Burgerlijk

Wetboek: dengan tambahan Undang-undang Pokok Agrarian dan Undang-undang Perkawinan,

(36)

Pasal 46 atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya.

(2) Orang tua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan.

Pasal 48

Orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggandakan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya.

Pasal 49

(1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saidara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal :

a. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya; b. Ia berkelakuan buruk sekali.

(2) Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih berkewajiban untuk memberi pemeliharaan kepada anak tersebut.44 Dalam penjelasan UU No 1 tahun 1974 yang dimaksud “Kekuasaan” dalam pasal ini tidak termasuk kekuasaan sebagai wali nikah.

Pasal-pasal diatas, jelas menyatakan kepentingan anak tetap diatas segala-galanya. Artinya semangat UUP sebenarnya sangat berpihak kepada kepentingan dan masa depan anak. Hanya saja UUP hanya menyentuh aspek tanggung jawab pemeliharaan yang masih bersifat material saja dan kurang memberi penekanan pada aspek pengasuhan nonmaterialnya. Semangat pengasuhan material dan nonmaterial inilah yang akan dipertegas oleh KHI seperti dibawah ini.

44

R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata= Burgerlijk

Wetboek: dengan tambahan Undang-undang Pokok Agrarian dan Undang-undang Perkawinan,

(37)

2.Kompilasi Hukum Islam (KHI)

KHI di dalam pasal-pasalnya menggunakan istilah Pemeliharaan anak yang dimuat dalam Bab XIV pasal 98-106. Beberapa pasal yang penting akan dikutipkan disini:

Pasal 98 :

(1) Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan.

(2) Orang tuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan.

(3) Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban trsebut apabila kedua orang tuanya tidak mampu.

Pasal 105 :

a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.

b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak

tertentu, memerlukan orang lain untuk membantunya dalam kehidupanya,

seperti makan, pakaian, membersihkan diri, bahkan sampai kepada

pengaturan bangun dan tidur. Oleh karena itu, orang yang menjaganya

perlu mempunyai rasa kasih sayang, kesabaran dan mempunyai keinginan

agar anak itu baik (saleh) di kemudian hari. Disamping itu, ia harus

mempunyai waktu yang cukup pula untuk melakukan tugas itu, dan orang

45

(38)

yang memiliki syarat-syarat tersebut adalah wanita. Persoalanya, disaat

orang tua harus cerai dan mereka punya anak kecil, maka ibu lebih berhak

mengasuhnya daripada ayah, selama tidak ada faktor yang menghalangi

sang ibu untuk diutamakan, atau anak layak untuk diberi pilihan.46

Peristiwa perceraian apapun alasanya merupakan malapetaka bagi

si anak. Disaat itu si anak tidak lagi dapat merasakan nikmat kasih sayang

sekaligus dari kedua orang tuanya.Padahal merasakan kasih sayang kedua

orang tua merupakan unsur penting bagi partumbuhan mental seorang

anak.Pecahnya rumah tangga kedua orang tua, tidak jarang membawa

kepada terlantarnya pengasuhan anak.Itulah sebabnya menurut ajaran

Islam perceraian sedapat mungkin harus dihindarkan.

Untuk menghindarkan hal itu pula mengapa agama Islam

menganjurkan agar lebih hati-hati dalam memilih jodoh, dengan

memeperhitungkan faktor-faktor pendukung untuk lestarinya hubungan

suami-istri, dan sebaliknya. Memang diakui tidak tertutup kemungkinan

adanya perceraian kendatipun dari semula calon suami-istri sudah penuh

hati-hati menjatuhkan pilihan. Namun, adanya faktor ketidak hati-hatian

akan memperlebar kemungkinan tersebut.47

Pemeliharaan atau pengasuhan anak itu berlaku antara dua unsur

yang menjadi rukun dalam hukumnya, yaitu orang tua disebut sebagai

hadhin dan anak yang diasuh disebut madhun atau hadhinah.Baik masih

46

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah (Terjemahan) jilid II, (Jakarta: Al-I’tishom, 2008.) h. 455.

47

(39)

dalam ikatan perkawinan atau setelah perceraian, kedua orang tua

berkewajiban untuk memelihara anaknya dengan baik. Adapun

syarat-syarat dari hadhin adalah sebagai berikut:48

1. Sudah dewasa. Orang yang belum dewasa tidak akan mampu

melakukan tugas yang berat itu, oleh karenanya belum dikenai

kewajiban dan tindakan yang dilakukanya itu belum dinyatakan

memenuhi persayaratan artinya ia belum berhak mendapatkan tugas

mengasuh anak.

2. Berfikiran sehat. Orang yang kurang akalnya seperti idiot tidak mampu

berbuat untuk dirinya sendiri dengan keadaanya itu tentu tidak akan

mampu berbuat untuk orang lain dan jelas ia tidak berhak untuk

mendapatkan hak mengasuh anak

3. Beragama Islam. Ini adalah pendapat yang dianut oleh jumhur ulama,

karena tugas pengasuhan itu termasuk tugas pendidikan yang akan

mengarahkan agama anak yang diasuh. Kalau diasuh oleh orang yang

bukan isalam dikhawatirkan anak yang diasuh akan jauh dari

agamanya dan akan merasa kesulitan melepaskan diri dari pengaruh

agama orang yang mengasuhnya dan inilah bahaya terbesar yang akan

dialami si anak.

4. Adil dalam arti menjalankan agama secara baik, dengan meninggalkan

dosa besar dan menjauhi dosa kecil. Kebalikan dari adil dalam hal ini

disebut fasiq yaitu tidak konsisten dalam beragama. Orang yang

48

Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia antara Fiqh Munakahat dan

(40)

komitmen agamanya rendah tidak dapat diharapkan untuk mengasuh

dan memelihara anak yang masih kecil.

5. Mampu Mendidik, sehingga orang yang buta, sakit, terbelenggu dan

hal-hal lain yang dapat membahayakan si anak atau berpotensi

membuat anak dilalaikan dan disia-siakan, maka tidak berhak

mengasuh anak.49

6. Ibu kandung belum menikah dengan laki-laki lain. Yang menjadi

pertanyaan, apakah pengasuh selain ibu kandung juga disyaratkan

tidak menikah dengan orang yang bukan mahram sianak? Para ulama

mengajukan syarat seperti itu berdasarkan hadits di atas karena si

suami juga akan memperlakukan anak ni dengan keras dan rasa tidak

suka. Lebih dari itu, wanita pengasuh yang telah menikah akan

disibukan oleh tuntutan memenuhi hak suaminya. Lain halnya jika

wanita pengasuh ini adalah kerabat dan mahram anak yang diasuh.50

7. Orang yang mengasuh haruslah seseorang yang merdeka. Syarat ini

diajukan oleh mayoritas ulama. Menurut mereka, orang yang dalam

kepemilikan orang lain tidak memiliki hak atas dirinya sendiri,

sehingga ia tidak dapat menjadi wali bagai orang lain. Padahal, hak

asuh anak ini sama dengan hak perwalian.51

49

Abu Malik Kamal bin As-sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah; penerjemah, Khairul Amru Harahap, faisal soleh. Cet. 1,( Jakarta: pustaka Azzam, 2007.), h. 674.

50

Abu Malik Kamal bin As-sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah; penerjemah, Khairul Amru Harahap, faisal soleh. Cet. 1,( Jakarta: pustaka Azzam, 2007.), h. 674.

51

(41)

Dan apabila syarat-syarat tersebut tidak dapat terpenuhi oleh orang

tua yang mengasuh, maka gugur lah hak asuh nya terhadap anak

tersebut.

Para ulama sepakat bahwa, dalam mengasuh anak disyaratkan

bahwa orang yang mengasuh haruslah berakal sehat, bisa dipercaya,

suci diri, bukan pelaku maksiat, bukan penari, bukan peminum

khamar, serta tidak mengabaikan anak yang diasuhnya.Adapun tujuan

dari keharusan dari adanya sifat-sifat tersebut diatas adalah untuk

memelihara dan menjamin keadaan anak dan pertumbuhan moralnya.52

D. Pihak-pihak yang berhak dalam hadhanah

Ketika hak asuh anak merupakan hak dasar asuh ibu, maka para

ulama ahli fiqh menyimpulkan bahwa keluarga ibu dari seorang anak lebih

berhak daripada keluarga dari pihak ayah. Urutan mereka yang berhak

mengasuh anak adalah sebagai berikut:53

1. Ibu anak tersebut

2. Nenek dari pihak ibu dan terus keatas

3. Nenek dari pihak Ayah

4. Saudara kandung perempuan anak tersebut

5. Saudara Perempuan Ibu

6. Saudara perempuan Ayah

7. Anak perempuan dari saudara perempuan sekandung

8. Anak perempuan dari saudara perempuan seayah

52

M. Jawad Mughniyah, Fikih Lima Mazhab, Cet.17, (Jakarta: lentera, 2006), h.416.

53

(42)

9. Saudara perempuan ibu yang sekandung dengannya

10.Saudara perempuan ibu yang seibu dengan nya (bibi)

11.Saudara perempuan yang seayah dengannya (bibi)

12.Anak perempuan dari saudara perempuan seayah

13.Anak perempuan dari saudara laki-laki sekandung

14.Anak perempuan dari saudara laki-laki seibu

15.Anak perempuan dari saudara laki-laki seayah

16.Bibi yang sekandung dengan ayah

17.Bibi yang seibu dengan ayah

18.Bibi yang seayah dengan ayah

19.Bibinya ibu dari pihak ibunya

20.Bibinya ayah dari pihak ibunya

21.Bibinya ibu dari pihak ayahnya

22.Bibinya ayah dari pihak ayah.54

Jika anak tersebut tidak mempunyai kerabat perempuan dari

kalangan mahram diatas, atau ada akan tetapi tidak dapat

mengasuhnya, maka pengasuhan anak itu beralih kepada kerabat

laki-laki yang masih mahramnya atau memiliki hubungan darah

(nasab) denganya sesuai dengan urutan masing-masing.

Pengasuhan anak beralih kepada.55

1. Ayah kandung anak itu

2. Kakek dari pihak ayah dan terus keatas

54

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, jilid II, (Beirut Dar Fikr, 1983), h. 527.

55

(43)

3. Saudara laki-laki sekandung

4. Saudara laki-laki seayah

5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung

6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah

7. Paman yang seayah dengan ayah

8. Pamanya ayah yang sekandung

9. Pamanya ayah yang seayah dengan ayah56

Apabila tidak ada seorang pun kerabat dari mahram

laki-laki tersebut atau ada, tetapi tidak bisa mengasuh anak, maka hak

pengasuhan itu beralih kepada mahram-mahramnya yang laki-laki

selain kerabat dekat, yaitu:

1. Ayah ibu (kakek)

2. Saudara laki-laki seibu

3. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu

4. Paman yang seibu dengan ayah

5. Paman yang sekandung dengan ibu

6. Paman yang seayah dengan ibu.57

Selanjutnya jika anak tersebut tidak memiliki kerabat sama

sekali, maka Hakim yang akan menunjuk seorang wanita yang

sanggup dan patut mengasuh serta mendidiknya.

56

Hasan Ayyub, Syaikh, Fikih Keluarga, cet-4 (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2005) h. 452.

57

(44)

Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 156 huruf a, anak

yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dari

ibunya, kecuali ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukanya

diganti oleh:

1. Wanita-wanita dalam garis lurus keatas dari ibu

2. Ayah

3. Wanita-wanita dalam garis lurus keatas

4. Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan

5. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis ke samping

dari ibu

6. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari

ayah.58

Dalam pasal 41 Undang-undang Nomor 1tahun 1974

tentang perkawinan dinyatakan : (1) Baik ibu atau Bapak, tetap

berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya,

semata-mata berdasarkan kepentingan anak bilamana terjadi perselisihan

mengenai penguasaan anak, pengadilan memberikan keputusan.

(2) Bapak bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan

pendidikan yang diperlukan anak itu, bila bapak tidak memenuhi

kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut

memikul biaya tersebut.

58

(45)

Jumhur fuqaha berpendapat bahwa hak pemeliharaan

anak itu diberikan kepada ibunya, jika ia diceraikan oleh

suaminya, ketika anak tersebut masih kecil.59

Kalangan mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang

paling berhak mengasuh anak itu adalah ibu kandungnya sendiri,

nenek dari pihak ibu, nenek dari pihak ayah, saudara perempuan

(kakak perempuan), bibi dari pihak ibu, anak perempuan saudara

perempuan, anak perempuan saudara laki-laki, bibi dari pihak

ayah, adn kalangan madzhab kerabat lain sesuai dengan urutan

ahli waris.60

Imam Malik berkata: ibu lebih berhak memelihara anak

perempuan hingga ia menikah dengan orang laki-laki dan

disetubuhinya.Untuk anak laki-laki juga seperti itu, menurut

pendapat Maliki yang masyhur, adalah hingga anak itu dewasa.61

Kalangan mazhab Syafi’i berpendapat bahwa hak asuh

anak dimulai dari ibu kandung, nenek dari pihak ibu, nenek dari

pihak ayah, saudara perempuan, bibi dari pihak ibu, anak

perempuan dari saudara laki-laki dan anak perempuan dari

saudara perempuan, bibi dari pihak ayah, dan kerabat yang masih

menjadi mahram bagi si anak yang mendapatkkan bagian warisan

ashabah sesuai dengan tata urutan pembagian harta warisan.

59

Rusyd, Ibnu. Bidayatul Mujtahid, Analisa Fiqih para Mujtahid, penerjemah, Drs. Imam Ghazali Said & Drs. Achmad Zaidun. (Jakarta: Pustaka Amani,2007),

60

Abu Malik Kamal bin As-sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah; penerjemah, Khairul Amru Harahap, faisal soleh. Cet. 1,( Jakarta: pustaka Azzam, 2007.), h. 668.

61

(46)

Pendapat kalangan mazhab Syafi’i ini sama dengan pendapat

kalangan mazhab Hanafi.62

Kalangan Mazhab Hanbali berpendapat bahwa hak asuh

anak dimulai dari ibu kandung, nenek dari pihak ibu, kakek dan

ibu kakek, bibi dari kedua orang tuanya, saudara perempuan

seibu, saudara perempuan seayah, bibi dari kedua orangtua,

bibinya ibu, bibinya ayah, bibinya ibu dari jalur ibu, bibinya ayah

dari jalur ibu, bibinya ayah dari pihak ayah, anak perempuan dari

saudara laki-laki, anak perempuan dari paman ayah dari pihak

ayah, kemudian kalangan madzhab kerabat dari urutan yang

paling dekat.63

Menurut feminis, ketentuan fiqh yang memberikan prioritas

hak hadhanah pada isteri dinilai bias jender dan merugikan

laki-laki. Alasan yang diapakai oleh fuqoha selama ini bahwa isteri

lebih mempunyai jiwa keibuan disbanding suami, ternyata

terbantahkan.Karena dalam realitas sehari-hari sungguh banyak

bukti yang menunjukan bahwa ibu tidak selamanya berjiwa

keibuan dan justru laki-laki lebih semangat dalam mengasuh dan

memelihara anak.Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa

sebaiknya penentuan hak hadhanah tidak diprioritaskan kepada

salah satu pihak suami atau istri saja.Melainkan diserahkan

62

Abu Malik Kamal bin As-sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah; penerjemah, Khairul Amru Harahap, faisal soleh. Cet. 1,( Jakarta: pustaka Azzam, 2007.), h. 669.

63

(47)

kepada kebijakan suami istri melalui musyawarah atau kebijakan

hakim bila musyawarah tidak berhasil- berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan obyektif yang memungkinkan dan

lebih menjamin perkembangan anak tidak mengalami hambatan.

Dengan sendirinya, penentuan hak hadhanah dengan cara

demikian diharapkan tidak melahirkan diskriminasi antara suami

dan istri.64

64

(48)

BAB III

PENETAPAN HAK HADHANAH KEPADA BAPAK DI PENGADILAN AGAMA DEPOK

A. Profil Pengadilan Agama Depok 1. Sejarah Pengadilan Agama Depok

Pengadilan Agama Depok Kelas IB beralamat di Jalan Boulevard Sektor

Aggrek Komplek Perkantoran Kota Kembang Grand Depok City Depok dan

beroperasi pada alamat tersebut setelah diresmikannya gedung Pengadilan

Agama Depok bersamaan dengan diresmikannya gedung Pengadilan Tinggi

Agama Bandung pada tanggal 20 Februari tahun 2007 oleh Prof. Dr. H. Bagir

Manan, SH, M.CL., di Jalan Soekarno Hatta 714 Bandung.

Pengadilan Agama Depok dibentuk berdasarkan Keputusan

Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2002 tanggal 28

Agustus 2002 yang peresmian operasioanalnya dilakukan oleh Wali

Kota Depok di Gedung Balai Kota Depok pada tanggal 25 Juni 2003

dan mulai menjalankan fungsi peradilan sejak tanggal 01 Juli 2003 di

Jalan Bahagia Raya No.11 Depok dengan menyewa rumah penduduk

sebagai gedung operasionalnya.65

Daerah hukum Pengadilan Agama Depok adalah meliputi

Pemerintahan Kota Depok sesuai dengan Pasal 4 ayat (1) UU Nomor

7Tahun 1989 yang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia

65

Di akses yang bersumber dari www.pa-depok.go.id pada tanggal 14 September 2015

(49)

Nomor 62 Tahun 2002 Pasal 2 ayat (5) disebutkan bahwa “Daerah

hukum Pengadilan Agama Depok meliputi wilayah Pemerintahan Kota

Depok Propinsi Jawa Barat”.

Pengadilan Agama Depok yang daerah hukumnya meliputi

Wilayah Pemerintahan Kota Depok yang terdiri dari (sebelum

pemekaran adalah 6 Kecamatan dengan 60 Kelurahan) 11 Kecamatan

dengan 64 Kelurahan dengan mayoritas penduduk beragama Islam,

dengan beban kerja rata-rata tiap bulan 162 perkara. Dalam

melaksanakan tugasnya Pengadilan Agama Depok didukung dengan

kekuatan pegawai sebanyak 38 Orang dan secara formal pelaksanaan

tugas Pengadilan Agama Depok harus dipertanggung jawabkan dalam

bentuk laporan ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung selaku atasan.66

Pengadilan Agama Depok sesuai dengan tugas dan

kewenangannya yaitu bertugas dan berwenang memeriksa, memutus

dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang

beragama islam dibidang perkawinan, warisan dan wasiat, wakaf,

zakat, infak, hibah, shodaqoh dan ekonomi syari’ah dan tugas dan

kewenangan lain yang diberikan oleh atau berdasarkan

Undang-undang.67

Sebagai salah satu lembaga yang melaksanakan amanat

Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan

Kehakiman, dalam melaksanakan tugasnya guna menegakkan hukum

66

Di akses yang bersumber dari www.pa-depok.go.id pada tanggal 14 September 2015

67

(50)

dan keadilan harus memenuhi harapan dari para pencari keadilan yang.

selalu menghendaki peradilan yang sederhana, cepat, tepat, dan biaya

ringan, hal mana Pengadilan Agama Depok sebagai pelaksana Visi dan

Misi Mahkamah Agung RI yang dijabarkan oleh Direktorat Jenderal

Badan Peradilan Agama, yaitu: Visi “Terwujudnya putusan yang adil dan berwibawa, sehingga kehidupan masyarakat menjadi tenang, tertib

dan damai di bawah lindungan Allah SWT”danMisi : “Menerima,

memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara-perkara yang

diajukan oleh umat islam Indonesia di bidang perkawinan, warisan dan

wasiat, wakaf, zakat, infak, hibah, shodaqoh dan ekonomi syari’ah,

secara cepat, sederhana dan biaya ringan”.68

1. Visi dan Misi Pengadilan Agama Depok

Pengadilan Agama Depok sebagai underbow Mahkamah Agung RI

memiliki komitmen dan kewajiban yang sama untuk mengusung

terwujudnya peradilan yang baik dan benar serta dicintai masyarakat.

Atas dasar itu maka Pengadilan Agama depok telah menjabarkan visi

dan misi tersebut dalam visi dan misi Pengadilan Agama Depok,

yaitu :Visi Pengadilan Agama depok adalah "Terwujudnya Pengadilan Agama Depok Yang Agung".

Hal ini mengandung makna bahwa Pengadilan Agama Depok siap

bersama-sama peradilan lainnya meningkatkan kinerja yang lebih baik

68

(51)

demi menjaga kehormatan dan martabat serta wibawa peradilan yang

didedikasikan dalam bentuk misi Pengadilan Agama Depok, yaitu :

1. Meningkatkan pelayanan penerimaan perkara.

2. Membuka akses publik seluas-luasnya.

3. Mewujudkan proses pemeriksaan perkara yang sederhana, cepat

dan dengan biaya ringan;

4. Mewujudkan putusan/penetapan yang memenuhi rasa keadilan,

kepastian hukum dan dapat dilaksanakan (eksekutabel).

5. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.

6. Meningkatkan pelaksanaan pengawasan terhadap kinerja dan

perilaku aparat Pengadilan agar berlaku jujur dan berwibawa serta

agar Peradilan diselenggarakan dengan seksama dan sewajarnya.69

2. Tugas Pokok Dan Fungsi Pengadilan Agama Depok

Pengadilan Agama, yang merupakan Pengadilan Tingkat Pertama

bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan

perkara-perkara ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama

Islam dibidang perkawinan, kewarisan, wasiat dan hibah yang

dilakukan berdasarkan hukum Islam, serta wakaf dan shadaqah,

sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 50 Tahun

2010 tentang Peradilan Agama.

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Pengadilan Agama

mempunyai fungsi sebagai berikut :

69

(52)

1. Memberikan pelayanan teknis yustisial dan administrasi

kepaniteraan bagi perkara tingkat pertama serta penyitaan dan

eksekusi;

2. Memberikan pelayanan dibidang administrasi perkara banding,

kasasi dan peninjauan kembali serta administrasi peradilan lainnya;

3. Memberikan pelayanan administrasi umum kepada semua unsur di

lingkungan Pengadilan Agama (umum, kepegawaian dan keuangan

kecuali biaya perkara);

4. Memberikan Keterangan, pertimbangan dan nasehat tentang

Hukum Islam pada Instansi Pemerintah di daerah hukumnya,

apabila diminta sebagaimana diatur dalam Pasal 52

Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2010 tentang Perubahan Kedua Atas

Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama;

5. Memberikan pelayanan penyelesaian permohonan pertolongan

pembagian harta peninggalan diluar sengketa antara orang-orang

yang beragama Islam yang dilakukan berdasarkan hukum Islam

sebagaimana diatur dalam Pasal 107 ayat (2) Undang-Undang

Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang

Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama;

6. Waarmerking Akta Keahliwarisan di bawah tangan untuk

Referensi

Dokumen terkait