• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengembangan Industri Kitin Dan Kitosan Di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Strategi Pengembangan Industri Kitin Dan Kitosan Di Indonesia"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGEMBANGAN

INDUSTRI KITIN DAN KITOSAN DI INDONESIA

DENA SISMARAINI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI THESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Strategi Pengembangan Industri Kitin dan Kitosan di Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir thesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

DENA SISMARAINI. Strategi Pengembangan Industri Kitin dan Kitosan di Indonesia. Dibimbing oleh NASTITI SISWI INDRASTI dan SUPRIHATIN.

Industri kitin dan kitosan adalah industri yang memproduksi kitin dan kitosan yaitu sumber polimer terbarukan yang berasal dari cangkang Crustaceae. Potensi pengembangan industri kitin dan kitosan didukung oleh kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumber daya perikanan khususnya udang dan memiliki banyak industri pengolahan udang yang dalam proses produksinya akan menghasilkan produk samping berupa cangkang, ekor dan kepala udang. Persebaran industri pengolahan udang di Indonesia mengindikasikan tingginya persebaran produk samping yang merupakan bahan baku utama industri kitin dan kitosan. Hal ini tentu menjadi peluang tumbuhnya industri kitin dan kitosan di banyak daerah di Indonesia, walaupun pada kenyataannya industri belum banyak tumbuh dan industri eksisting hanya tersentralisasi di Pulau Jawa. Melihat kondisi tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik salah satu industri kitin dan kitosan yang merupakan leading industry di Indonesia, mengetahui faktor internal dan eksternal terkait industri kitin dan kitosan dan pada akhirnya memformulasikan strategi untuk mengembangkan industri kitin dan kitosan berdasarkan identifikasi karakteristik, faktor internal dan faktor eksternal yang diketahui.

Terdapat beberapa tahapan metode penelitian yang dilakukan berdasarkan wawancara mendalam kepada beberapa responden. Hasil wawancara berupa data kualitatif dan kuantitatif dianalisis menggunakan 4 teknik yang saling terintegrasi yaitu analisis matriks evaluasi faktor internal (IFE) dan eksternal (EFE), analisis matriks internal dan eksternal (IE), analisis matriks Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats (SWOT) dan penetapan strategi dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil analisis matriks IE menentukan strategi berdasarkan posisi industri yang kemudian dibandingkan dengan hasil penetapan strategi dengan AHP sehingga dapat diformulasikan strategi yang tepat bagi industri kitin dan kitosan.

Hasil penelitian menunjukkan industri kitin dan kitosan merupakan industri yang menghasilkan produk biopolimer seperti kitin dan kitosan yang tergolong pada produk antara (intermediate) dengan segmen pasar yaitu ekspor untuk industri pengguna. Pengembangan industri kitin dan kitosan di Indonesia dipengaruhi beberapa faktor internal yaitu penerapan kontrol kualitas produk yang selalu dipertahankan dan penerapan efisiensi biaya produksi yang belum terlaksana dengan baik, serta faktor eksternal yaitu potensi pasar ekspor yang perlu dimanfaatkan dan persaingan penjualan dengan negara lain yang perlu diantisipasi. Diperlukan tiga alternatif strategi pengembangan bagi industri kitin dan kitosan yaitu, meningkatkan pemasaran produknya dengan pemilihan target pasar internasional, mengembangkan akuisisi atau joint ventures internasional, dan menguatkan bisnis melalui penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan terkait.

(5)

SUMMARY

EMILIA FATMAWATI. The Development Strategy for Chitin and Chitosan Industry in Indonesia. Supervised by NASTITI SISWI INDRASTI and SUPRIHATIN.

Chitin and chitosan industry is an industry that produce chitin and chitosan which are known as renewable source of Crustacean shell based polymer. The development of this industry is supported by Indonesia’s characteristic as an islands country that rich of fisheries resources especially shrimp and also having many shrimp processing industry that generates by products such as shrimp shells, tails and heads. The spreading of shrimp processing industries in almost all islands in Indonesia indicates the spreading of its by products which are utilized as main raw material for chitin and chitosan industry. This condition becomes the opportunity for the growth of chitin and chitosan industry in many areas in Indonesia, in fact, the industry have not growing fast and the existing industries are still centralized in Java Island. Then, research was conducted to find out the problem by analyzing characteristic of chitin and chitosan industry based on the case study in one leading industry for chitin and chitosan industry in Indonesia, to analyse internal and external factors related to chitin and chitosan industry and at the end to formulate the strategy to develop chitin and chitosan industry based on identification of characteristic and also its internal and external factors.

Several research methods was conducted. Qualitative and quantitative data were collected through in-depth interview to respondents, and then analyzed by 4 integrated methods: Internal Factor Evaluation (IFE) and External Factor Evaluation (EFE) analysis, Internal External (IE) analysis, SWOT analysis and strategy selection by AHP method. The results of IE analysis determined the suit strategy based on industry position and then compared to the results of strategy selection by AHP so the best strategy can be formulated.

The results of this research shows that chitin and chitosan industry is industry that is producing bioplymer products such as chitin and chitosan, kind of intermediate products with export for industrial use as its market segment. The development of chitin and chitosan industry is influenced by several internal factors such as quality control implementation and inefficiency production cost, and also external factors such as the potency of export market and competition with other foreign industry. There are three recommendation alternative strategies for chitin and chitosan industry, which are accelerating product marketing with international market as main target, development of acquisition and joint ventures, and the last is business strengthening by collaboration among related stakeholders to guarantee raw material supply and increase promotion.

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Teknologi Industri Pertanian

STRATEGI PENGEMBANGAN

INDUSTRI KITIN DAN KITOSAN DI INDONESIA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2015

(8)
(9)

Judul Tesis : Strategi Pengembangan Industri Kitin dan Kitosan di Indonesia Nama : Dena Sismaraini

NIM : F351137061

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Nastiti S. Indrasti Ketua

Prof. Dr. Ir. Suprihatin Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Teknologi Industri Pertanian

Prof. Dr. Ir. Machfud, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ialah strategi pengembangan industri, dengan judul Strategi Pengembangan Industri Kitin dan Kitosan di Indonesia.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof. Dr. Ir. Nastiti S. Indrasti dan Prof. Dr. Ir. Suprihatin selaku pembimbing. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Eka Linggadjaja, Ibu Linawati Hardjito, Ibu Pipih Suptijah, Bapak Yapisman, serta Bapak Jef Rinaldi, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada suami, Fadel, mama, papa, teteh serta seluruh keluarga, atas segala dukungan, motivasi dan doa yang terus diberikan. Tidak lupa penulis ingin mengucapkan terima kasih Pusdiklat Kementerian Perindustrian atas beasiswa yang diberikan serta kepada semua teman program Double Degree Kementerian Perindustrian atas pengalaman-pengalaman berharga yang tidak dapat penulis lupakan.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i

DAFTAR TABEL ii

DAFTAR GAMBAR ii

DAFTAR LAMPIRAN iii

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 3

Manfaat Penelitian 3

Ruang Lingkup Penelitian 3

2 TINJAUAN PUSTAKA 4

Kitin dan Kitosan 4

Karakteristik 4

Sumber 6

Proses Produksi Kitin dan Kitosan 7

Produk Aplikasi 7

Strategi Pengembangan Agroindustri 8

Penyusunan Perencanaan Strategis 10

3 METODE PENELITIAN 14

Kerangka Pemikiran Penelitian 14

Lokasi dan Waktu Penelitian 15

Teknik Pengumpulan Data 15

Analisis Strategi Pengembangan Industri 16

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 22

Produksi Udang di Indonesia 22

Industri Kitin dan Kitosan di Indonesia 24

Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman 27

Analisis Matriks IFE 33

Analisis Matriks EFE 34

Analisis Matriks IE 35

Analisis Matriks SWOT 36

Analisis Pemilihan Alternatif Strategi 41

Formulasi Strategi Pengembangan Industri Kitin dan Kitosan 46

Implikasi Praktis 48

5 SIMPULAN DAN SARAN 49

Simpulan 49

Saran 49

DAFTAR PUSTAKA 50

(12)

ii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Karakteristik Fisikokimia Kitosan 5

Tabel 2 Alasan Ilmiah Pemanfaatan Kitin dan Kitosan pada Berbagai

Aplikasi 9

Tabel 3 Data Responden 16

Tabel 4 Penilaian Bobot Faktor Strategis dengan Metode Matriks

Perbandingan Berpasangan 17

Tabel 5 Matriks Evaluasi Faktor Strategis Eksternal 18 Tabel 6 Matriks Evaluasi Faktor Strategis Internal 19 Tabel 7 Skala Perbandingan pada AHP (Marimin 2013) 20 Tabel 8 Total dan Volume Ekspor dan Impor Cangkang Udang 23

Tabel 9 Nilai Ekspor Produk (HS 3913909000) 24

Tabel 10 Konsumsi Kitosan Dunia Berdasarkan Aplikasi (t), 2010, 2015 30 Tabel 11 Faktor Strategis Internal Industri Kitin dan Kitosan 34 Tabel 12 Faktor Strategis Internal Industri Kitin dan Kitosan 35 Tabel 13 Matriks SWOT Alternatif Strategi Pengembangan Industri

Kitin dan Kitosan 40

Tabel 14 Nilai Eigen Kriteria untuk Pemillihan Strategi 44 Tabel 15 Nilai Eigen Aktor untuk Pemilihan Strategi

Tabel 16 Nilai Eigen Tujuan untuk Pemilihan Strategi 45 Tabel 17 Hasil Penilaian Hirarki Level 4 (Alternatif Strategi) 46

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Cangkang Udang 6

Gambar 2 Cangkang Kepiting 6

Gambar 3 Contoh Matriks Internal Eksternal (IE) (Rangkuti 2014) 11

Gambar 4 Contoh Matriks SWOT (Rangkuti 2014) 12

Gambar 5 Alur Proses Pelaksanaan Penelitian 14

Gambar 6 Pengembangan Produk Berbasis Udang 23

Gambar 7 Pohon Industri Udang 24

Gambar 8 Produk Anti Jamur dari Kitin dan Kitosan 25 Gambar 9 Produk Bahan Tambahan Makanan dari Kitin dan Kitosan 26 Gambar 10 Berbagai Produk Kecantikan dari Kitin dan Kitosan 26

Gambar 11 Hasil Analisa Matriks IE 36

Gambar 12 Hierarki Pemilihan Strategi 41

Gambar 13 Tampilan Hirarki AHP Strategi Pengembangan Industri Kitin

dan Kitosan (Expert Choice 2000) 43

Gambar 14 Hierarki Proses Penentuan Strategi Pengembangan Industri

(13)

iii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Contoh Perhitungan Faktor Strategis Internal 52 Lampiran 2 Contoh Perhitungan AHP Expert Choice 2000 56

(14)

1

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Agroindustri adalah suatu usaha di bidang pertanian yang berorientasi pada komersial dan tidak dapat berdiri sendiri dan memiliki beberapa subsistem, yaitu pengadaan agroinput termasuk sarana produksi, yaitu pengadaan bahan baku, teknologi proses, pemanfaatan dan pengolahan limbah, pemasaran, transportasi, fasilitas kelembagaan ekonomi dan non ekonomi (Soekartawi 2000 dalam Erlina 2011). Sektor agroindustri merupakan bagian dari sektor manufaktur yang memproses bahan baku dan produk antara yang dihasilkan dari pertanian, perikanan dan kehutanan, sehingga lingkup dari agroindustri mencakup manufaktur makanan, minuman, rokok, tekstil dan pakaian, produk kayu dan furnitur, kertas, produk kertas dan percetakan dan juga karet dan produk karet (Henson and Cranfield 2009).

Industri kitin dan kitosan adalah industri yang memproduksi kitin dan kitosan yaitu sumber polimer terbarukan yang berasal dari cangkang crustaceae dan memiliki potensi yang besar untuk digunakan pada sektor industri biomedis, kimia dan makanan (Tharanathan et al., 2003 di dalam Vargas dan Martinez 2010). Potensi pengembangan industri kitin dan kitosan didukung oleh kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumber daya perikanan khususnya udang. Indonesia juga memiliki sekitar 170 unit industri pengolahan udang dengan kapasitas produksi mencapai 500000 ton per tahun (Indrasti 2012). Tingginya tingkat produksi udang dan ekspor udang dalam bentuk olahan dapat mempengaruhi tingginya produk samping berupa cangkang ataupun kepala udang. Chasanah (1994) menemukan bahwa 40% bagian dari udang yang dapat dikonsumsi dan sisanya adalah cangkang dan kepala. Sehingga dapat diestimasikan dari total unit pengolahan udang, sekitar 300000 ton limbah udang yang akan dihasilkan. Jumlah cangkang udang yang sangat besar inilah yang menjadi peluang pengembangan industri kitin dan kitosan jika dilihat dari aspek ketersediaan bahan baku.

Cangkang dan kepala udang tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi jika dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kitin dan kitosan namun selama ini limbah udang di Indonesia hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak, bahan baku terasi, petis dan kerupuk udang. Data BPS menyebutkan bahwa dalam 3 tahun terakhir yaitu pada tahun 2012 hingga 2014, rata-rata kitosan yang diekspor sebesar 341 ton dengan nilai ekspor yang cenderung meningkat dan mencapai US$ 14 /ton kitosan pada tahun 2014.

(15)

2

pada tahun 2015. Jepang mewakili negara dengan pasar paling besar bagi kitin dan kitosan, dengan aplikasi di biomedis seperti material penyembuh luka dan sebagai bahan benang operasi sebagai pengguna terbesar (GIA 2012).

Pengembangan industri kitin dan kitosan di Indonesia juga didukung oleh Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden No 28 tahun 2008 mengenai Kebijakan Industri Nasional, yang menyatakan bahwa pemanfaatan limbah produk perikanan untuk aplikasi yang memberikan nilai tambah seper ti kitin dan kitosan harus ditingkatkan. Hal tersebut juga tercantum dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 41 Tahun 2010 mengenai Peta Strategi dan Indikator Kinerja Utama Kementerian Perindustrian dan Unit Eselon 1 Kementerian Perindustrian, bahwa salah satu target pengembangan klaster industri berbasis agro adalah meningkatkan penggunaan limbah produk laut untuk dijadikan bahan makanan dan famasi/suplemen seperti kitin dan kitosan. Dukungan pemerintah lain juga dapat dilihat berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Non Konsumsi No 17 Tahun 2013 tentang Pedoman Umum Registrasi Unit Penanganan, Pengolahan Hasil Perikanan Non Konsumsi bahwa kitin dan kitosan adalah salah satu produk non konsumsi yang menjadi salah satu fokus yang akan dikembangkan.

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor strategis internal dan eksternal yang menjadi pendukung dan penghambat pengembangan industri kitin dan kitosan di Indonesia serta memformulasikan strategi pengembangan industri kitin dan kitosan untuk mengatasi masalah tersebut.

Perumusan Masalah

Industri kitin dan kitosan di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Hal ini didukung oleh potensi bahan baku dari cangkang udang dan permintaan kitin dan kitosan yang turut meningkat. Keberlangsungan industri kitin dan kitosan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah kondisi internal industri kitin dan kitosan dalam menjalankan bisnisnya, yaitu kekuatan dan kelemahan. Faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan industri kitin dan kitosan dan tidak dapat dikendalikan oleh pelaku industri, yaitu peluang dan ancaman. Berdasarkan ilustrasi di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Bagaimana karakeristik industri kitin dan kitosan di Indonesia?

2. Faktor internal apa saja yang mempengaruhi pengembangan industri kitin dan kitosan?

3. Faktor eksternal apa saja yang mempengaruhi pengembangan industri kitin dan kitosan?

(16)

3

Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui kondisi dan karakteristik industri kitin dan kitosan

2. Mengidentifikasi faktor internal dan faktor eksternal industri kitin dan kitosan 3. Memformulasikan strategi terbaik dalam hal pengembangan industri kitin dan

kitosan

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai acuan bagi praktisi di sektor industri kitin dan kitosan maupun yang terkait untuk menerapkan strategi pengembangan yang diformulasikan berdasarkan kondisi internal dan eksternal yang terjadi pada industri kitin dan kitosan. Bagi pemerintah, penelitian ini dapat menjadi acuan untuk membuat kebijakan yang dapat mendukung pengembangan industri kitin dan kitosan. Sedangkan bagi akademisi, penelitian ini dapat menjadi dasar penelitian tentang kitin dan kitosan selanjutnya khususnya yang terkait dengan pengembangan industri yang lebih teknis, mendetail dan aplikatif.

Ruang Lingkup Penelitian

(17)

4

2

TINJAUAN PUSTAKA

Kitin dan Kitosan

Kitin adalah biopolimer alami yang dapat diperoleh di laut dan daratan. Kitin (C8H13NO5) merupakan polisakarida yang paling melimpah kedua setelah selulosa, berbentuk padatan amorf atau kristal berwarna putih, dapat terurai secara hayati (biodegradable). Perbedaan utama antara selulosa dan kitin adalah sumber kedua material tersebut diambil. Selulosa didapatkan dari tumbuh-tumbuhan sedangkan kitin diambil dari invertebrata laut dan jamur (Rout 2001). Kitin bersifat tidak larut dalam air, asam organik encer, asam organik, alkali pekat dan pelarut organik tapi larut dalam asam pekat seperti asam sulfat, asam nitrit, dan asam fosfat (Junianto 2008). Keberadaan kitin di alam umumnya terikat dengan protein, mineral dan berbagai macam pigmen. Kitin dapat ditemukan dari jenis kelompok Crustaceae yang memiliki kerangka eksternal keras, seperti udang, lobster dan kepiting, sayap lalat, serta dinding sel pada beberapa kelompok jamur. Kitin yang saat ini banyak diproduksi berasal dari kelompok crustacea dengan alasan ketersediaannya di pasaran. Data menunjukkan bahwa kulit udang mengandung 25-40% protein, 40-50% CaCO3 dan 15-20% kitin (Altschul 1976 dalam Purwatiningsih 2009).

Kitin dapat ditransformasi menjadi kitosan yaitu produk biopolimer yang memiliki aplikasi lebih luas di dunia industri karena sifatnya yang alami, dapat terdegradasi secara biologis, biocompatible dan tidak beracun. Kitosan adalah jenis polisakarida yang diperoleh dari deasetilasi kitin yang memilliki rumus molekul C6H11NO4. Kitosan produk turunan kitin yang diperoleh melalui deasetilasi secara kimiawi menggunakan basa atau deasetilasi secara enzimatik menggunakan enzim lipase dan fosfolipase (Vargaz dan Martinez 2010). Dengan demikian, kitin dan kitosan merupakan jenis polimer yang sama namun dengan derajat deasetilasi (DD) yang berbeda. Istilah kitosan digunakan apabila derajat deasetilasi yang terukur lebih besar dari 40%. Telah diteliti sebelumnya bahwa biodegradasi menurun tajam saar derajat deasetilasi lebih dari 70% (Abbas 2010). DD dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan suhu atau kekuatan dari larutan alkali.

Pendorong utama penelitian mengenai kitosan diberikan melalui Konferensi Internasional Kitin dan Kitosan yang pertama kali dilaksanakan di Boston pada Mei 1977 (Robert 2008). Setelah itu, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui manfaat kitosan, dan seluruh penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa kitosan memiliki banyak aplikasi dalam berbagai penggunaan. Kitosan memiliki potensi yang besar pada penggunaan biomedis, kimia dan industri makanan (Tharanathan, 2003 dalam Vargas and Martinez 2010). Di Amerika Serikat, kitosan digunakan pada sektor pertanian dan industri kosmetik (Anon, 1995 dalam Teftal 2000).

Karakteristik

(18)

5

kitosan diantaranya adalah derajat deasetilasi, berat molekul, viskositas, bulk density, kelarutan, kandungan nitrogen, kapasitas pengikat air, kapasitas pengikat lemak dan kestabilan (Tabel 1). Terdapat dua faktor penting yang menentukan karakteristik fisikokimia yaitu derajat deasetilasi dan berat molekul, yang dipengaruhi oleh konsentrasi basa, waktu dan temperatur proses. Derajat deasetilasi dan berat molekul memberikan pengaruh besar pada kitosan dalam hal kelarutan dalam larutan asam, viskositas dan aktivitas biologis (Vargas dan Martinez 2010). Pada umumnya, DD lebih besar dari 40% akan larut dalam larutan asam. Saat DD lebih kecil dari 40%, ikatan kitosan akan menjadi tidak larut dalam air. Berat molekul (BM) kitosan memiliki dampak yang signifikan terkait dengan keefektifannya pada beberapa aplikasi. Hal ini terlihat dari keefektifan kitosan untuk mempercepat penyembuhan luka bakar, koagulan, penurunan tingkat kolesterol dalam darah, mengontrol viskositas yang semuanya diketahui memiliki kergantungan pada berat molekul. Sebagai contoh, kitosan dengan BM 9,3 kDa dapat menghambat pertumbuhan bakteria Eschericia coli, namun kitosan dengan BM 2,2 kD justru dapat meningkatkan pertumbuhannya (Abbas 2010). Sehingga penting sekali untuk mengontrol berat molekul kitosan agar dapat sesuai dengan berbagai aplikasi dan produk hasil yang diharapkan. Tabel 1 Karakteristik Fisikokimia Kitosan

No Karakteristik Keterangan 1 Tampilan (bubuk atau

]flakes)

Putih atau Kuning (Bansal et al, 2011)

2 Derajat Deasetilasi (DDA)

Berkisar antara 70-95% (Kurita, 2001; Cheba, 2011)

3 Berat Molekul 100-1,200,000 Daltons (Li et al, 1992, Rout, 2001) 4 Viskositas Kurang dari 5cps (Bansal et al, 2011)

5 Densitas Antara 1,35 to 1,4 g/cm3 (Bansal et al, 2011) 6 Kelarutan Tidak larut dalam air, alkali dan pelarut organik,

namun larut dalam larutan asam orgnaik dengan pH kurang dari 6 (Rout, 2001).

7 Kandungan Nitrogen Bervariasi untuk beberapa jenis Crustaceans, 7,2% pada kepiting (Shepherd et al, 1997; Rout, 2001) and 7% pada udang (Cho et al, 1998; Rout, 2001) 8 Kapasitas pengikat air Bervariasi antara 581 to 1150% (Rout, 2001) 9 Kestabilan Stabil pada larutan basa terkonsentrasi pada

temperatur tinggi (Cheba, 2011)

(19)

6

in vivo. Sifat biocompatible yang dimiliki kitosan disebabkan karena kitosan tidak memiliki zat antigen. Biocompatibility memiliki pengertian kemampuan material untuk menunjukkan fungsi yang diharapkan khususnya pada terapi medis, tanpa memunculkan efek lokal atau sistemik yang tidak diharapkan pada penerima terapi medis, namun menghasilkan respon yang baik dari sel atau jaringan dan mengoptimalkan kinerja secara klinis atas terapi tersebut (Williams 2008). Kitosan sangat ditoleransi dengan baik oleh jaringan hidup, termasuk kulit, membran okular dan epitel hidung dan sudah teruji bermanfaat bagi aplikasi biomedis (Kumar et al., 2004 dalam Dyahningtyas 2010).

Dilaporkan juga bahwa kitosan memiliki karakteristik bioaktivitas seperti bakteriostatis, hemostatis, imunologis, analgesik, cicatrizant, antiulcer, antikolik, anti inflamatori, hypourouricemic, hypocholesteroloemic, free radical scavenging activity, antikoagulan, anti-gastritis, anti-thrombogenic, antiviral, antibakteri, antijamur, anti-tumor, and spermicidal (Okamoto et al., 2002; No et al., 2002; Nagahama; 2008 dalam Cheba 2011)

Sumber

Kandungan kitin banyak terdapat di hewan tak bertulang belakang, serangga, diatom laut, alga, jamur dan Crustaceae seperti kepiting, udang dan lobster (Synowiecki and Al-khateeb, 2003 dalam Bolat et al. 2010). Di alam, kitin terdapat pada beberapa spesies jamur seperti zygomycetes dan mucorales seperti Absidia coerulae (Muzarelly et al., 1995 dalam Cheba 2011). Semua sumber (kecuali Crustaceae) tidak tersedia secara komesial di pasar, sehingga cangkang Crustacea adalah sumber yang digunakan sebagai bahan baku produksi pada industri kitin dan kitosan. Bentuk cangkang udang dan kepiting yang biasa digunakan sebagai bahan baku kitin dan kitosan dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.

Gambar 1 Cangkang Udang Gambar 2 Cangkang Kepiting

(20)

7

Proses Produksi Kitin dan Kitosan

Produksi kitin dan kitosan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara kimiawi yaitu proses yang dilakukan menggunakan beberapa bahan kimia dan proses enzimatis yaitu proses yang dilakukan menggunakan katalis dari beberapa jenis enzim. Pada penelitian ini, pembahasan proses produksi difokuskan pada proses kimiawi. Terdapat 4 tahapan penting yang perlu dilakukan untuk memproduksi kitosan secara kimiawi, yaitu deproteinisasi, demineralisasi, penghilangan warna dan deasetilasi. Dua tahapan pertama (deproteinisasi dan demineralisasi) tidak harus dilakukan secara berurutan, namun dapat dilakukan berkebalikan (Rout 2001).

1. Deproteinisasi

Cangkang Crustacea mengandung kitin yang terikat dengan mineral CaCO3 dan protein (Austin, 1988 dalam Purwatiningsih et al. 2009). Dalam satu cangkang udang terdapat sekitar 30-40% protein (Johnson and Peniston, 1982 dalam Purwatiningsih et al. 2009). Deproteinisasi dapat dilakukan dengan cara mengencerkan cangkang udang pada larutan NaOH pada temperatur yang ditingkatkan, sehingga protein yang ada dalam cangkang udang dapat melarut (Rout 2001). Deproteinisasi juga dapat dilakukan dengan melakukan pengenceran pada larutan potasium hidroksida (KOH) (Shahidi and Synowiecki, 1991 di dalam Rout 2001).

2. Demineralisasi

Demineralisasi adalah proses penghilangan kandungan mineral dalam cangkang. Cangkang Crustacea umumnya mengandung 30-50% mineral dalam basis kering dengan kalsium karbonat (CaCO3) sebagai komponen utamanya. Demineralisasi dapat dilakukan dengan cara melakukan ekstraksi dengan larutan asam klorida (HCl) pada temperatur ruang dengan pengadukan sehingga CaCO3 dapat melarut menjadi kalsium klorida (CaCl) (Rout 2001).

3. Penghilangan warna

Untuk kepentingan komersial, kitin yang diterima di pasaran adalah kitin yang berwarna putih. Proses yang melibatkan cairan asam dan basa pada proses sebelumnya akan menimbulkan warna pada produk kitin, sehingga proses penghilangan warna diperlukan. Pelarut yang umumnya digunakan adalah aseton (Rout 2001).

4. Deasetilasi

Kitosan didapatkan melalui proses pengilangan gugus asetil-N. Deasetilasi dapat dilakukan melalui perlakuan dengan konsentrasi NaOH atau KOH 40-50% pada temperatur 100oC atau lebih tinggi selama 30 menit (Muzarelli, 1977 dalam Rout 2001). Proses deasetilasi perlu dilakukan untuk mempersiapkan kitosan yang tidak dapat terdegradasi dan larut pada larutan asam dalam waktu singkat (Rout 2001).

Produk Aplikasi

(21)

8

diaplikasikan pada berbagai industri. Pada pengolahan air dan air limbah, kitosan memiliki fungsi sebagai flokulan untuk menjernihkan air (air minum dan kolam renang), menghilangkan ion logam dan mengurangi bau. Pada tahun 1981, penggunaan kitosan sebagai penjernih air telah disetujui oleh United States Environmental Protection Agency (USEPA) hingga level maksimum 10 mg/L (Hahn et al. 2004). Pada aplikasi di makanan, kitosan memiliki beberapa aplikasi diantaranya sebagai serat makanan, pengikat lemak yang dapat menurunkan kolesterol, pengawet alami, pengental dan stabilisator untuk saus dan sebagai edible coating pada buah, daging atau ikan. Kitosan berbasis udang mendapatkan notifikasi Generally Recognize as Safe (GRAS) dari Food and Drug Administration (FDA). Pada aplikasi di dunia medis, kitosan memiliki fungsi untuk mempertahankan kelembaban kulit, mengobati jerawat, meningkatkan kelembutan rambut, mengurangi listrik statis pada rambut, mengencangkan kulit dan sebagai perawatan mulut (pasta gigi dan permen karet). Sementara itu, pada aplikasi di biomedis, kitosan dapat diaplikasikan sebagai bahan benang operasi, kulit artifisial, material enkapsulasi (penghilang luka, antibakteri, antivirus dan antijamur). Pada aplikasi di bidang pertanian, kitosan berfungsi sebagai stimulan pertumbuhan tanaman, mekanisme pertahanan pada tanaman, coating pada benih, dan nutrien bagi tanah.

Menurut Morrisey (2003) terdapat tingkatan nilai tambah yang berbeda-beda pada beberapa aplikasi produk kitin dan kitosan untuk industri. Secara berurutan aplikasi kitin dan kitosan pada biomedik dan farmasi memiliki nilai tambah tertinggi dengan volume pemakaian sedikit, lalu diikuti oleh aplikasi pada teknologi kimia, kosmetika, teknologi pangan, penjernih air, pertanian, dan tekstil. Sedangkan aplikasi yang memiliki nilai tambah terendah dengan volume pemakaian besar adalah pada teknologi kertas (Junianto 2008). Manfaat kitin dan kitosan yang dapat diaplikasikan secara luas ini telah dibuktikan secara ilmiah oleh beberapa peneliti. Tabel 2 menunjukkan alasan ilmiah yang mendasari penggunaan kitin dan kitosan pada berbagai aplikasi.

Strategi Pengembangan Agroindustri

(22)

9

Tabel 2 Alasan Ilmiah Pemanfaatan Kitin dan Kitosan pada Berbagai Aplikasi

No Aplikasi Alasan Ilmiah

1 Pertanian: bahan mempercepat pertumbuhan tanaman

Kandungan gula amino, ß-D-glukosamin yang berfungsi untuk :

- menstimulasi sintesis agen pelindung,

- meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap air, (derajat deasetilasi) dapat berinteraksi dengan dinding sel mikroba/jamur, merubah permeabilitasnya yang diikuti keluarnya sitoplasma sehingga berakhir pada kematian sel.

(Vargaz & Martinez 2010); (Jung & Kim 1999); (Cuero RG 1999)

3 Antioksidan Hidroksil aktif dan grup amino akan bereaksi dengan senyawa radikal bebas dan membentuk makroradikal yang stabil. Semakin tinggi derajat deasetilasi menunjukkan keefektifan kitosan dalam aktivitas antioksidan, menangkap radikal hidroksil dan kemampuan berikatan dengan ion besi.

(Yen et al. 2008); (Xing et al. 2007) 4 Flocculating dan

Clarifying Agent

Karakteristik kimia menunjukkan afinitas yang tinggi terhadap ion logam berat seperti kromium, timbal, merkuri, tembaga dan kadmium karena kitosan memiliki kapasitas penyerapan lebih tinggi daripada karbon aktif atau pelarut organik yang secara tradisional digunakan untuk mereduksi kontaminan air limbah.

(Synowiecki et al. 2003); (Shaidi et al. 1999)

5 Dietary fibre Kriteria yang menyerupai serat untuk diet, yaitu tidak dapat dicerna, polimer alami, dan memiliki kemampuan mengikat air yang tinggi. Kondisi perut yang asam dapat memicu kitosan untuk larut dan bereaksi dengan asam lemak dan mengikat lipid karena adanya interaksi hidrofobik (trigliserid, lemak dan asam empedu, kolesterol dan sterol lainnya) untuk kemudian diekskresikan dari tubuh.

(Muzzarelli RAA. 1999) 6 Edible Film dan

Coating

Kitosan memiliki kemampuan untuk membentuk suatu selaput (film) sebagai lapisan semipermeabel yang dapat dimakan sehingga dapat memperpanjang umur hidup buah-buahan olahan atau segar, produk daging dan

seafood.

(Vargaz & Martinez 2010)

(23)

10

1. Mengembangkan klaster industri, yaitu industri pengolahan yang terintegrasi dengan sentra-sentra produksi bahan baku serta sarana penunjangnya.

2. Mengembangkan industri pengolahan skala rumah tangga dan kecil yang didukung oleh industri pengolahan skala menengah dan besar.

3. Mengembangkan industri pengolahan yang mempunyai daya saing tinggi untuk meningkatkan ekspor dan memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pengembangan agroindustri memerlukan suatu perencanaan strategi yang baik sehingga dapat terus berkembang dan mencapai keunggulan bersaing. Tujuan utama perencanaan strategis adalah agar perusahaan dapat melihat secara objektif mengenai kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga dapat diantisipasi perubahan lingkungan yang ada. Sehingga dapat ditekankan bahwa perencanaan strategis sangat penting untuk perusahaan dalam mencapai keunggulan bersaing dan memiliki produk yang sesuai dengan keinginan konsumen, dengan dukungan optimal dari sumber daya yang ada (Rangkuti, 2014). Terdapat sembilan elemen kunci ekoefisiensi yang dapat diadaptasi untuk bagi perencanaan strategi agroindustri dalam meningkatkan daya saingnya yaitu (1) aspek kepemimpinan, (2) kemampuan meninjau ke depan, (3) budaya perusahaan atau bisnis yang mendukung, (4) teknik manajemen, (5) daur hidup manajemen, (6) riset dan pengembangan, (7) proses produksi dan operasi, (8) aspek pemasaran, serta (9) layanan purna jual dan pemanfaatan kembali limbah (Sa’id 2010).

Penyusunan Perencanaan Strategis

Analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threats (SWOT) merupakan analisis yang paling banyak dipertimbangkan dan merupakan alat yang lazim digunakan untuk perencanaan strategis (Glaister dan Falshaw 1999). Perencanaan strategi seringkali merupakan proses yang rumit yang perlu mengadopsi suatu pendekatan sistem untuk mendiagnosa faktor eksternal dan menyesuaikan dengan kemampuan internal yang ada dalam suatu organisasi (Wehrich 1982 di dalam Koo et al. 2011). Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman yang ada (Rangkuti 2014).

Proses penyusunan perencanaan strategis dengan menggunakan analisis SWOT ini dilakukan melalui tiga tahap analisis yaitu (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis dan (3) tahap pengambilan keputusan.

Tahap Pengumpulan Data

(24)

11

perputaran tenaga kerja), laporan kegiatan operasional, laporan kegiatan pemasaran, dan lain-lain (Erlina 2011).

Model yang dapat dipakai pada tahap pengumpulan data diantaranya adalah model Matriks Faktor Strategi Eksternal (Matriks EFAS), dan Matriks Faktor Strategi Internal (Matriks IFAS). Matriks EFAS adalah matriks yang digunakan untuk menganalisis faktor eksternal yang mencakup peluang dan ancaman. Sedangkan matriks IFAS adalah matrik yang digunakan untuk menganalisis faktor internal yang mencakup kekuatan dan kelemahan.

Tahap Analisis

Tahap analisis merupakan tahapan yang dilakukan setelah semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan industri dikumpulkan, untuk kemudian dimanfaatkan dalam suatu model kuantitatif perumusan strategis. Matriks Internal Eksternal (Matriks IE) merupakan salah satu metode analisis dalam suatu perencanaan strategis. Gabungan kedua kondisi internal dan eksternal yang telah diketahui nilainya selanjutnya dimasukkan ke dalam (Matriks IE) yang ditunjukkan pada Gambar 3 . Hasil yang didapatkan pada matriks IE dapat digunakan untuk menentukan posisi industri, sehingga dapat diketahui arah strategi yang akan diterapkan. Total skor strategis internal menunjukkan kekuatan bisnis suatu industri, sedangkan total skor strategis eksternal menunjukkan daya tarik industri.

Gambar 3 Contoh Matriks Internal Eksternal (IE) (Rangkuti 2014)

Berdasarkan matriks IE sebagaimana dijelaskan pada Tabel 3, dapat diidentifikasikan 9 sel strategi perusahaan, yang pada prinsipnya kesembilan sel tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga strategi utama, yaitu:

a. Growth Strategy yang merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri atau upaya diversifikasi

(25)

12

c. Retrenchment strategy yaitu usaha memperkecil atau mengurangi usaha yang dilakukan.

Berbagai alternatif strategi dapat dirumuskan berdasarkan model analisis matriks SWOT. Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki (Rangkuti 2014). Keunggulan matriks SWOT ini adalah dapat dengan mudah memformulasikan strategi yang diperoleh dari gabungan faktor internal dan eksternal berdasarkan hasil analisis matriks IFAS dan EFAS. Terdapat 4 alternatif strategi yang didapatkan berdasarkan matriks SWOT (Tabel 4), yaitu:

1. Strategi SO, yaitu strategi yang dibuat dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang

2. Strategi ST, yaitu strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman

3. Strategi WO, yaitu strategi yang diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada

4. Strategi WT, yaitu strategi yang didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan serta menghindari ancaman.

Gambar 4 Contoh Matriks SWOT (Rangkuti 2014) Tahap Pengambilan Keputusan

(26)

13

berbagai pertimbangan tersebut untuk menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut (Saaty, 1993 di dalam Erlina 2011).

(27)

14

3

METODE PENELITIAN

Kerangka Pemikiran Penelitian

Industri kitin dan kitosan adalah industri potensial yang baru berkembang di Indonesia dan memiliki beberapa kendala yang perlu disiasati dengan strategi yang tepat sehingga dapat berkembang dan memiliki daya saing. Dalam mengembangkan industri kitin dan kitosan diperlukan analisis mendalam untuk mengetahui kondisi eksisting industri kitin dan kitosan, faktor-faktor eksternal dan internal yang berpengaruh dalam perumusan strategi pengembangan industri kitin dan kitosan.

Gambar 5 Alur Proses Pelaksanaan Penelitian

(28)

15

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan beberapa lokasi berbeda sesuai dengan lokasi kerja expert atau pemangku kepentingan yang terkait. Lokasi pengumpulan data dan informasi terkait dengan industri kitin dan kitosan dilakukan di beberapa tempat, yaitu (1) Industri kitin kitosan PT. X yang berlokasi di Kota Cirebon – Provinsi Jawa Barat (2) Kantor Asosiasi Pengusaha Pengolahan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) yang berlokasi di Jakarta dan (3) CV. Ocean Fresh yang berlokasi di Kabupaten Bogor (4) Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen. P2HP), Kementerian Kelautan dan Perikanan, (5) Direktorat Jenderal Industri Agro (Ditjen IA)Kementerian Perindustrian, (6) Departemen Teknologi Hasil Perikanan (Dept. THP), Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Pemilihan lokasi sebagaimana disebutkan diatas dilakukan secara sengaja (purposive), yang didasarkan pada pertimbangan: (1) PT. X merupakan industri kitin dan kitosan terbesar di Indonesia, yang memiliki teknologi yang terbaik dalam memproduksi kitin kitosan dan turunannya (2) AP5I merupakan representasi industri pengolahan udang yang tersebar di seluruh Indonesia (3) CV. Ocean Fresh merupakan unit usaha yang bergerak di bidang kitin kitosan, produk turunan dan produk aplikasi di bidang kosmetika (4) Dirjen P2HP merupakan instansi pemerintah yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait dengan pengembangan industri kitin dan kitosan (5) Ditjen. IA adalah pembina teknis industri pertanian yang salah satunya adalah industri pengolahan udang (6) Dept. THP merupakan salah satu program studi yang memiliki fokus khusus pada pengembangan kitin dan kitosan.

Waktu penelitian dilakukan selama 3 bulan, yaitu bulan April sampai Juli 2015. Sedangkan tahap pengolahan data hingga penyelesaian akhir laporan penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu bulan Juli – September 2015.

Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer diperoleh dari observasi pada salah satu industri kitin dan kitosan, wawancara mendalam dan pengisian kuesioner kepada para pelaku industri, pakar dari Perguruan Tinggi, dan para pengambil kebijakan di instansi pemerintah yang terkait dengan pengembangan kitin dan kitosan. Data sekunder didapatkan dari buku-buku, publikasi dari instansi pemerintah (Badan Pusat Statistik, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kelautan dan Perikanan), jurnal nasional maupun jurnal internasional, laporan penelitian yang terkait dengan strategi pengembangan agroindustri serta dokumen-dokumen lain yang relevan.

(29)

16

responden selanjutnya berdasarkan informasi dari responden pertama. Lee (1993) menyebutkan bahwa responden yang cenderung mengidentifikasi responden potensial lain yang memiliki kesamaan karakteristik dengan dirinya akan berujung pada sampel yang homogen.

Wawancara mendalam dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum dan kondisi eksisting industri kitin kitosan di Indonesia. Kuesioner digunakan sebagai alat untuk mendapatkan informasi-informasi yang terkait dengan strategi pengembangan agroindustri kitin dan kitosan, yaitu faktor-faktor kunci pengembangan agroindustri kitin dan kitosan, faktor eksternal dan faktor internal yang berpengaruh serta masukan lain yang berguna dalam merumuskan strategi pengembangan agroindustri kitin dan kitosan. Tabel 3 menunjukkan responden yang terlibat pada penelitian ini.

2. Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perkanan Indonesia (AP5I), representasi dari industri pengolahan udang selaku penyuplai bahan baku kitin kitosan

3. Pemilik CV. X, representasi atas pengguna kitin dan kitosan Instansi

Pemerintah

1. Pejabat Es IV Direktorat Pengembangan Produk Non Konsumsi, Ditjen. P2HP- Kementerian Kelautan dan Perikanan

2. Pejabat Es IV Direktorat Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan, Ditjen. Industri Agro, Kementerian Perindustrian

Analisis Strategi Pengembangan Industri

Analisis strategi pengembangan industri kitin kitosan dilakukan melalui identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh. Faktor-faktor tersebut diketahui berdasarkan masukan para pakar atau pihak yang terkait dengan pengembangan industri kitin dan kitosan melalui teknik wawancara mendalam.

Analisis Matriks IFE-EFE

Data internal dan eksternal yang telah diidentifikasi kemudian akan dirangkum dalam suatu matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE). Identifikasi faktor internal dan eksternal dapat digunakan untuk menciptakan strategi yang efektif bagi pengembangan industri kitin kitosan. Matriks IFE dan EFE dapat diolah dengan menggunakan beberapa langkah sebagai berikut.

A. Evaluasi Faktor Eksternal (EFE)

(30)

17

dan ancaman yang mempengaruhi industri di masa yang akan datang. Rangkuti (2013) menjelaskan beberapa tahapan penentuan strategi eksternal, yaitu:

1. Susunlah dalam kolom 1 berupa faktor-faktor yang menjadi peluang dan kelemahan industri kitin dan kitosan

2. Pada kolom 2, berikan bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1,0 (paling penting) sampai 0,0 (tidak penting), berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategi industri. Semua bobot yang telah dijumlahkan tidak boleh melebihi skor total (1,00). Pemberian bobot berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. Penentuan bobot dilakukan dengan metode perbandingan berpasangan (pairwise comparison) yaitu memberikan bobot numerik dan membandingkan antara satu peubah dengan peubah lainnya (Tabel 4). Skala 1, 2 dan 3 digunakan dalam menentukan bobot setiap peubah. Penjelasan skala yang digunakan adalah sebagai berikut:

1 = jika indikator horisontal kurang penting daripada indikator vertikal 2 = jika indikator horisontal sama penting daripada indikator vertikal 3 = jika indikator horisontal lebih penting daripada indikator vertikal Tabel 4 Penilaian Bobot Faktor Strategis dengan Metode Matriks Perbandingan

Berpasangan

Faktor Strategik Internal/Eksternal A B C ... Bobot A

B C ...

Total

3. Pada kolom 3, hitung rating untuk setiap faktor dengan pemberian skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi industri yang bersangkutan. Variabel yang bersifat positif (variabel peluang) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat besar). Sedangkan untuk variabel yang bersifat negatif yaitu ancaman adalah kebalikannya. Misalnya jika nilai ancamannya besar, ratingnya adalah 1, namun jika ancamannya sedikit maka ratingnya bernilai 4.

4. Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3 untuk memperoleh faktor pembobotan pada kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya mulai dari 4,0 (outstanding) sampai dengan 1,0 (poor)

(31)

18

Tabel 5 Matriks Evaluasi Faktor Strategis Eksternal

Faktor-Faktor Strategis Eksternal Bobot

Berdasarkan matriks EFE, total nilai skor untuk faktor eksternal menunjukkan semakin nilai mendekati 1, maka semakin banyak ancamannya dibandingkan peluangnya. Sedangkan apabila total nilai skor mendekati 4, artinya semakin banyak peluang dibandingkan ancamannya.

B. Evaluasi Faktor Internal (IFE)

Analisis faktor stratetgis internal perlu dilakukan setelah mengetahui faktor strategis eksternal yang dimiliki suatu perusahaan/organisasi Matriks IFE digunakan untuk mengetahui kekuatan terbesar dan terkecil serta kelemahan terbesar dan terkecil yang dimiliki oleh industri kitin dan kitosan. Terdapat beberapa cara untuk menentukan faktor –faktor strategis internal (Rangkuti 2013): 1. Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan perusahaan

pada kolom 1

2. Pada kolom 2, berikan bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1 (paling penting) sampai O (tidak penting), berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategi industri. Semua bobot yang telah dijumlahkan tidak boleh melebihi skor total (1,00). Penentuan bobot dilakukan sama dengan penentuan bobot pada matriks EFE.

3. Pada kolom 3, hitung rating untuk setiap faktor dengan pemberian skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kondisi industri yang bersangkutan. Variabel yang bersifat positif (variabel kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik). Sedangkan untuk variabel yang bersifat negatif, kebalikannya.

4. Kalikan bobot (kolom 2) dengan rating (kolom 3) untuk memperoleh faktor pembobotan. Hasilnya berupa skor pembobotan (kolom 4) untuk masing-masing faktor yang nilainya mulai dari 4,0 (outstanding) sampai dengan 1,0 (poor)

5. Jumlahkan skor pembobotan untuk memperoleh total skor pembobotan. Nilai total menunjukkan bagaimana suatu industri bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya. Tabel 6 menunjukkan bentuk matriks IFE sebagaimana telah dijelaskan pada tahap enetapan faktor strategis internak No. 1 hingga No. 5.

(32)

19

dibandingkan kekuatannya. Kebalikannya, apabila smakin nilai mendekati 4, maka semakin banyak kekuatan dibandingkan kelemahannya.

Tabel 6 Matriks Evaluasi Faktor Strategis Internal

Faktor-Faktor Strategis Internal Bobot

Analisis Matriks Internal Eksternal (Matriks IE) merupakan analisis yang dibuat berdasarkan nilai yang didapat dari gabungan kedua kondisi eksternal dan internal industri kitin dan kitosan. Pada matriks IE (sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3), diketahui nilai pada sumbu X menunjukkan nilai faktor strategi internal, sedangkan pada sumbu Y menunjukkan nilai faktor strategis eksternal. Berdasarkan analisis EFE dan IFE, didapatkan nilai total skor pembobotan untuk setiap faktor eksternal dan internal. Nilai yang didapatkan kemudian diplotkan ke dalam sumbu X dan sumbu Y pada tabel matrik IE sehingga dapat diketahui posisi sel strategi industri yang menggambarkan kondisi industri kitin dan kitosan. Analisis Matriks SWOT

Matriks SWOT adalah matriks yang menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Dengan menggunakan tabel EFE dan IFE, transfer peluang dan ancaman serta kekuatan dan kelemahan ke dalam sel yang sesuai dengan matriks SWOT sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 4. Rangkuti (2013) menjelaskan beberapa tahapan dalam analisis matriks SWOT, yaitu:

4. Dalam sel Weaknesses (W), buatlah 5-10 kelemahan yang dimiliki industri. 5. Buat kemungkinan strategis berdasarkan pertimbangan kombinasi empat set

faktor strategis tersebut. a. Strategi SO

Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang

(33)

20

Strategi ini dibuat dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki dengan cara menghindari ancaman.

c. Strategi WO

Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada, dengan cara mengatasi kelemahan-kelemahan yang dimiliki.

d. Strategi WT

Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan ditujukan untuk meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Model Penetapan Strategi Pilihan

Penetapan strategi pilihan untuk pengembangan industri kitin dan kitosan dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Marimin (2014), menyatakan terdapat 4 (empat) prinsip dasar kerja AHP, yaitu:

1. Penyusunan Hierarki

Penyusunan hirarki dilakukan dengan cara mengidentifikasi pengetahuan atau informasi yang sedang diamati. Penyusunan tersebut dimulai dari permasalahan yang kompleks diuraikan menjadi elemen pokoknya, kemudian elemen pokok tersebut diuraikan ke dalam bagian-bagiannya lagi, dan seterusnya secara hirarki.

2. Penilaian setiap level hirarki

Penilaian setiap level hierarki dinilai melalui perbandingan berpasangan (pairwise comparison). Marimin (2014) yang mengutip Saaty (1983), menjelaskan bahwa penggunaan skala 1-9 adalah yang terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Skala Perbandingan pada AHP (Marimin 2013)

Nilai Definisi

1 Faktor Vertikal Sama penting dengan Faktor horizontal 3 Faktor Vertikal Lebih penting dari Faktor horizontal 5 Faktor Vertikal Jelas Lebih penting dari Faktor horizontal 7 Faktor Vertikal Sangat Jelas Lebih penting dari Faktor horizontal 9 Faktor Vertikal Mutlak lebih penting dari Faktor horizontal 2,3,4,6 Apabila ada keraguan antara dua elemen yang berdekatan Kebalikan

(1/(2-9))

Kebalikan dari keterangan nilai 2-9

3. Penentuan Prioritas

(34)

21

4. Konsistensi Logis

(35)

22

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Produksi Udang di Indonesia

Indonesia memiliki potensi perikanan yang sangat besar, baik dari segi jenis maupun volume produksinya. Produksi perikanan indonesia meningkat sebesar 13,64% pada tahun 2012 atau mencapai 15,5 juta ton dibandingkan pada tahun sebelumnya. Peningkatan produksi perikanan ini diikuti oleh peningkatan jumlah ekspor sebesar 6% pada tahun 2012. Salah satu produksi perikanan yang menjadi komoditas penting adalah udang. Berdasarkan data statistik yang dimiliki oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, udang dikategorikan sebagai produk perikanan dengan peningkatan produksi rata-rata sebesar 1,51% dari tahun 2008 – 2012, dimana produksi udang pada tahun 2012 meningkat 2,65% mencapai 678.549 ton. Udang juga turut memberikan kontribusi ekspor terbesar bagi Indonesia. Jumlah ekspor udang pada tahun 2012 mencapai 162.068 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 1.304 juta. Disamping itu, udang memberikan kontribusi yang signifikan dalam peningkatan ekonomi nasional yaitu 33,85% dari keseluruhan komoditi produksi perikanan.

Pada umumnya, udang diproses terlebih dahulu sebelum diekspor. Painte (2008) menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pasar, bentuk penyajian udang yang akan diekspor disajikan dalam beberapa bentuk yang lebih spesifik yaitu whole (utuh), headless (tanpa kepala), peeled (dikupas kulitnya), deveined (dibuang ususnya), raw (segar), frozen (beku), dan canned (dikalengkan). Adanya peningkatan permintaan di pasar internasional akan diikuti dengan peningkatan jumlah limbah udang seperti cangkang dan ekornya. Penelitian yang telah dilakukan Chasanah (1994) menyimpulkan bahwa rata-rata sebesar 40% dari satu ekor udang adalah bagian yang dapat dimakan, dimana bagian lainnya seperti kepala udang, cangkang udang dan ekor udang berakhir menjadi limbah yang tidak memiliki nilai ekonomi. Cangkang dan kepala udang tidak akan memberikan nilai ekonomi apabila dibuang begitu saja dan hanya akan menimbulkan permasalahan lingkungan. Limbah cangkang udang bersifat mudah membusuk dan bersifat bulky atau menyita ruangan, sehingga dalam penanganannya diperlukan tempat yang cukup luas dan tertutup agar tidak mencemari lingkungan (Prasetyo 2003).

Ekspor dan impor tidak hanya dilakukan untuk komoditi udang, namun juga untuk komoditi cangkang udang. Berdasarkan data yang didapatkan dari Statistik Kelautan dan Perikanan pada tahun 2012, cangkang udang terdaftar melalui kode HS 0508002000 dengan deskripsi produk cangkang moluska, crustacean. Data jumlah ekspor dan impor cangkang udang dapat ditunjukkan pada Tabel 8.

(36)

23

Tabel 8 Total dan Volume Ekspor dan Impor Cangkang Udang

Data Tahun

Peningkatan rata-rata

(%)

2009 2010 2011 2012 2013 2009-2013

Total Ekspor (Kg)

573334 1125414 1449031 1917913 1090739 90,24

Nilai (US$) 324785 899762 893123 918266 585306 80,21 Total Impor

(Kg)

184375 167865 37249 157494 48946 -73,45

Nilai (US$) 128766 201453 176346 494497 93958 -27.03

Sumber : Statistik Kelautan dan Perikanan 2012 penurunan impor kitin dan kitosan di Indonesia perlu di analisis lebih lanjut dan ditelusuri sebabnya. Penurunan impor dapat dikatakan positif jika ternyata suplai bahan baku untuk industri kitin dan kitosan di Indonesia berlebih dan stabil dengan mengandalkan pasokan dari dalam negeri. Namun dapat menjadi negatif jika faktor penurunan impor ini dikarenakan menurunnya produksi kitin dan kitosan di dalam negeri atau berkurangnya industri kitin dan kitosan di dalam negeri.

Pemilihan limbah cangkang udang sebagai sumber bahan baku utama kitin dan kitosan didasari oleh adanya tambak udang yang menjamin suplai bahan baku kitin kitosan yang berkelanjutan dan dapat diandalkan (Roberts, 2008 di dalam Hayes 2012). Kementerian Kelautan dan Perikanan telah memetakan pengembangan produk berbasis udang yang dibagi berdasarkan bagian kepala udang, badan udang dan kulit udang. Peta pengembangan produk berbasis udang dapat dilihat pada Gambar 6.

Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan

(37)

24

Industri Kitin dan Kitosan di Indonesia

Kitin dan kitosan adalah bagian dari pohon industri udang, dimana kitin dan kitosan adalah produk turunan dari bahan baku cangkang dan kepala udang. Pohon industri udang dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Pohon Industri Udang

Data unit penanganan, pengolahan hasil perikanan nonkonsumsi (UPPN) Kitin -Kitosan yang ada di Indonesia saat ini terdapat lebih kurang 3 (tiga) UPPN dengan kode produk HS No 3913909000 (Polimer alami lainnya dan modifikasi) yang tersentralisasi di Pulau Jawa yaitu di Cirebon (Provinsi Jawa Barat), Serang (Provinsi Banten) dan Pasuruan (Provinsi Jawa Timur). Pemasaran produk kitin maupun kitosan tersebut dilakukan ke beberapa wilayah di Jabodetabek, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pemasaran kitin dan kitosan ke luar negeri diantaranya Australia, Korea, China dan Jepang. Hingga saat ini, harga jual kitin dalam bentuk cair untuk ekspor dalam kemasan berkisar US$ 6-8/kg, sedangkan harga jual kitosan mencapai US$ 30-50/kg dengan kebutuhan bahan baku cangkang udang sebesar 20-40 ton per bulan dengan kisaran harga Rp 6000-6500/kg. Nilai ekspor dari kitin dan kitosan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Nilai Ekspor Produk (HS 3913909000)

2012 2013 2014

Berat Bersih (kg) 348715 329511 344597 Nilai F.O.B (US$) 4044389 4293581 4631544

*Data diolah dari BPS

Pengembangan industri kitin dan kitosan di Indonesia mendapatkan dukungan pemerintah seperti tercantum dalam Peraturan Presiden Republik

(38)

25

Indonesia No 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, yaitu industri kitin dan kitosan adalah bagian dari agroindustri khususnya industri produk perikanan dan kelautan yang terklaster sebagai industri prioritas untuk pengembangan industri di Indonesia tahun 2015. Tujuan jangka panjang terkait dengan pengembangan industri kitin dan kitosan adalah pengembangan industri bioteknologi yang berbasis produk hasil laut, seperti kosmetika dan farmasi. Sementara itu, pada tujuan jangka menengah diharapkan agar industri hasil laut dan perikanan akan fokus untuk meningkatkan pemanfaatan limbah produk hasil laut dan perikanan menjadi produk yang memiliki nilai seperti kitin, kitosan dan gelatin.

Dukungan pemerintah atas pengembangan industri kitin dan kitosan ini juga muncul dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahwa industri kitin dan kitosan terintegrasi dengan industrialisasi udang yang juga menjadi bagian dari Implementasi Blue Economy. Konsep Blue economy adalah alternatif konsep ekonomi yang diaplikasikan pada sektor perikanan dan kelautan berdasarkan lima prinsip utama, yaitu: (1) efisiensi sumber daya alam (2) zero waste (3) melibatkan aspek sosial (4) sistem produksi yang terus berputar dan (5) inovasi dan adaptasi. Oleh karena itu, industri kitin dan kitosan difokuskan pada pemanfaatkan produk samping khususnya dari industri pengolahan udang. Di samping kitin dan kitosan, industri kitin dan kitosan di Indonesia juga menghasilkan beberapa produk turunannya. Beberapa produk turunan dari kitin dan kitosan yaitu:

a. Anti jamur alami bagi tumbuhan

Dengan menggunakan bahan aktif kitosan, produk ini berfungsi sebagai aktivator (meningkatkan aktivitas sel-sel tumbuhan dan proses fotosintesis), regulator (memacu sistem imun dan ketahanan pada tumbuhan), dan stimulator (menstimulasi pertumbuhan tanaman dengan meningkatkan nutrisi alami dari tanah). Penggunaan bahan ini dapat menurunkan penggunaan pestisida maupun bahan kimia lain yang akan mencemari lingkungan. Produk turunan yang memiliki nama dagang Chi-farm, dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Produk Anti Jamur dari Kitin dan Kitosan b. Bahan tambahan pada makanan.

Bahan tambahan ini merupakan bahan yang dapat digunakan untuk mempertahankan kualitas dan rasa pada beberapa jenis makanan seperti daging, mie, bakso, roti, sayur, buah-buahan, serta ikan dan produk ikan lainnya. Bahan ini memiliki keunggulan untuk menggantikan bahan kimia lain pada makanan seperti STPP (Sodium Tripoliposfat), CMC (Carboxymethyl Cellulose) dan Natrium Carbonate. Selain itu, bahan ini

(39)

26

dapat menghambat proses oksidasi untuk mempertahankan warna dan membantu meningkatkan ketahanan pada makanan. Terdapat dua merk dagang untuk produk ini yaitu Chito-fresto dan Chito-F Deli. Salah satu contoh produk tersebut dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Produk Bahan Tambahan Makanan dari Kitin dan Kitosan c. Produk kecantikan

Beberapa produk kecantikan yang telah dibuat dari kitin dan kitosan adalah sabun, pembersih muka, lotion, pelembab bibir, sampo, dan penyegar ruangan. Produk-produk tersebut telah diekspor ke beberapa negara tujuan seperti Uni Emirat Arab, Jerman, dan Malaysia. Di Indonesia, telah dipasarkan melalui perusahaan retail yang telah bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan di kota-kota besar seperti Yogyakarta, Jakarta, Bali, Bandung. Contoh produk kecantikan tersebut dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Berbagai Produk Kecantikan dari Kitin dan Kitosan d. Anti bau alami

Produk yang memiliki nama dagang Chito-Q Green memiliki fungsi sebagai deodoran yang dapat menghilangkan bau, amis dan busuk, ikan, rokok dan lain-lain. Produk ini dapat diaplikasikan pada lemari sepatu, pasar ikan, dan toilet.

e. Antibakteri pada tekstil

Produk ini merupakan anti bakteri yang merupakan gabungan dari kitosan dan senyawa logam kompleks (Zn dan Ag). Produk yang memiliki merk

(40)

27

dagang AntiTex-66-8, dapat diaplikasikan pada pakaian (pakaian bayi, seragam militer, kaos kaki, pakaian dalam, kaos dan lainnya) dan bahan tekstil lainnya (gorden, seprai, selimut, pelapis dinding dan matras).

Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman

Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap responden terpilih, dapat diidentifikasikan faktor-faktor internal yaitu kekuatan (strengths-S) dan kelemahan (weaknesses-W), serta faktor-faktor eksternal seperti peluang (opportunities-O) dan ancaman (threats-T) yang berpengaruh terhadap pengembangan industri kitin dan kitosan. Hasil identifikasi ini kemudian akan ditransfer pada matriks internal eksternal untuk penetapan posisi industri kitin dan kitosan. Selain itu, hasil identifikasi faktor internal dan eksternal juga akan digunakan untuk merumuskan alternatif strategi melalui analisis SWOT dan AHP. Analisis terhadap faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada industri kitin dan kitosan dijelaskan pada sub bab selanjutnya.

Faktor Kekuatan

Dilihat dari segi akademisi, pelaku industri dan instansi pemerintahan, terdapat 6 faktor kekuatan yang dapat digunakan dalam pengembangan industri kitin dan kitosan. Faktor kekuatan tersebut diantaranya adalah:

a. Kemampuan Industri mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang sangat pesat dan hal ini merupakan salah satu kekuatan industri kitin dan kitosan. Banyaknya informasi mengenai penelitian yang telah dilakukan dan disebarkan melalui berbagai jurnal ilmiah terakreditasi menjadi sarana bagi transfer teknologi untuk mendukung proses produksi kitin dan kitosan. Kemajuan IPTEK dapat mendukung efisiensi industri kitin dan kitosan dalam hal penggunaan bahan baku dan material lainnya, meningkatkan kualitas produk dan melakukan pengembangan produk.

b. Penerapan quality control

Industri kitin dan kitosan di Indonesia menghasilkan produk kitin dan kitosan yang berkualitas. Jaminan kualitas ini ditandai dengan diberlakukannya Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk kitin dan kitosan. Ekspor kitin dan kitosan juga menunjukkan bahwa kualitas kitin dan kitosan sudah memenuhi kriteria global dan dapat bersaing dengan produsen dari negara lain.

c. Relasi yang baik dengan pemasok bahan baku

(41)

28

udang dengan kapasitas produksi mencapai 500 ribu ton per tahun (Indrasti 2012). Banyaknya jumlah unit pengolahan udang maka limbah cangkang udang yang ditimbulkan akan semakin tinggi. Namun yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan bahan baku ini sifatnya sporadis di seluruh Indonesia dengan jumlah yang tidak menentu. Di sisi lain, bukti melimpahnya cangkang udang di Indonesia dapat dilihat dari adanya jumlah ekspor cangkang udang yang meningkat dari tahun ke tahun.

d. Penerapan Standar Nasional Indonesia untuk produk kitin dan kitosan

Industri kitin dan kitosan PT X turut dilibatkan dalam penyusunan SNI dan saat ini sudah menerapkan SNI tersebut dalam produksi kitin dan kitosan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7948: 2013: Kitin – syarat mutu dan pengolahan serta SNI 7949:2013: Kitosan – syarat mutu dan pengolahan. SNI tersebut diberlakukan dalam rangka untuk meningkatkan merupakan jaminan mutu kitin dan kitosan.

Faktor Kelemahan

Faktor kelemahan merupakan faktor strategis yang perlu diatasi dalam hal pengembangan industri kitin dan kitosan. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat 8 faktor kelemahan yang terkait dengan pengembangan industri kitin dan kitosan:

a. Keterbatasan modal untuk Industri Kecil Menengah (IKM) Kitin

Proses pembuatan kitin merupakan proses yang cukup sederhana dibandingkan dengan proses pembuatan kitosan. Oleh karena itu, industri kecil menengah yang berada di daerah produsen udang maupun produk olahan udang perlu didorong untuk dapat memanfaatkan limbah cangkang udang menjadi kitin. Namun kendala yang terjadi adalah keterbatasan modal bagi IKM yang menjalankan usaha tersebut. Minimnya kualitas SDM untuk IKM, menjadi salah satu faktor penghambat IKM untuk mengajukan pinjaman modal pada bank atau instansi keuangan lain.

b. Lemahnya kerjasama antar Instansi Pemerintahan, pelaku industri dan Perguruan Tinggi

Pengembangan industri kitin dan kitosan memerlukan interaksi dan kolaborasi dari berbagai stakeholder yaitu Instansi Pemerintahan, pelaku industri dan Perguruan Tinggi. Industri dalam hal ini berfungsi sebagai penggerak (driving force), sementara itu perguruan tinggi berfungsi untuk melakukan transfer teknologi dan ilmu pengetahuan pada industri baru maupun industri eksisting. Pemerintah memiliki peran sebagai pendorong dan penyedia modal bagi industri baru berbasis teknologi baru. Namun pada kenyataannya, kerjasama antar stakeholder masih belum terjalin secara dinamis. Sebagai contoh, instansi pemerintah, industri dan perguruan tinggi memiliki badan penelitian dan pengembangan yang berjalan masing-masing dengan tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda.

c. Ketidakmampuan industri untuk mengefisiensikan biaya produksi

Gambar

Tabel 5 Matriks Evaluasi Faktor Strategis Eksternal
Tabel 6 Matriks Evaluasi Faktor Strategis Internal
Gambar 6  Pengembangan Produk Berbasis Udang (sumber: Kementerian Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan Kelautan dan Perikanan)
Gambar 7 Pohon Industri Udang
+7

Referensi

Dokumen terkait

nilai x diperoleh dari selisih faktor internal (kekuatan-Kelemahan) dan nilai y diperoleh dari selisih faktor eksternal (peluang- ancaman). Matriks posisi strategi

Berdasarkan analisis Interpretive Structural Modelling (ISM-VAXO) maka didapatkan Elemen- elemen kunci pengembangan agroindustri bioetanol di Provinsi Lampung, adalah

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pilihan pengembangan agroindustri kopi dan menentukan strategi pilihan prioritas pengembangan agroindustri kopi

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pilihan pengembangan agroindustri kopi dan menentukan strategi pilihan prioritas pengembangan agroindustri kopi

Dalam penelitian ini kuisioner difungsikan sebagai alat untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan bahan baku yang paling berpotensi, mengetahui faktor-faktor kunci

Informasi mengenai faktor-faktor internal dan eksternal diperoleh melalui wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan informan kunci. Informasi tersebut

Faktor internal yang merupakan ancaman adalah kenaikan harga sarana produksi dan meningkatnya biaya transportasi; 2 Strategi pengembangan yang tepat untuk agroindustri keripik sukun di

Faktor internal yang merupakan ancaman adalah kenaikan harga sarana produksi dan meningkatnya biaya transportasi; 2 Strategi pengembangan yang tepat untuk agroindustri keripik sukun di