• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Kelompok 7 Skizofrenia Pak Giyanto

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tugas Kelompok 7 Skizofrenia Pak Giyanto"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KELOMPOK 7

Nama: 1. Eva Sulastri (12.0603.0003) 2. Susiyawati (12.0603.0009) 3. Yeni Widyastuti (12.0603.0011) 4.Fitriana Fatma A. (12.0603.0021) 5. Ardian Rahman W.(12.0603.0027) 6 ina Rahmawati. (12.0603.0033)

PERTANYAAN

1. Apa yang dimaksud Skizafrenia? 2. Apa penyebab dari Skizofrenia? 3. Apa klasifikasi Skizofrenia? 4. Apa tanda dan gejala Skizofrenia?

5. Bagaimana penatalaksanaan Skizofrenia? 6. Asuhan keperawatan Skizofrenia?

JAWABAN

1) Pengertian Skizofrenia:

Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (Sadock, 2003).

(2)

2) Penyebab Skizofrenia: - Faktor Genetik

Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 – 15%; bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 – 16%; bila kedua orangtua menderita skizofrenia 40 – 68%; bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur (monozigot) 61 – 86%.

Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow, 2007).

- Faktor Biokimia

Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine tampaknya juga memainkan peranan (Durand, 2007).

- Faktor Psikologis dan Sosial

(3)

contoh, istilah schizophregenic mother kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan tentang ibu yang memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand & Barlow, 2007). Menurut Coleman dan Maramis (1994 dalam Baihaqi et al, 2005),keluarga pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Orangtua terkadang bertindak terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya orangtua bertindak terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya

3. Klasifikasi Skizofrenia Tipe Paranoid

Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya fungsi kognitif dan afektif yang relatif masih terjaga. Waham biasanya adalah waham kejar atau waham kebesaran, atau keduanya, tetapi waham dengan tema lain (misalnya waham kecemburuan, keagamaan, atau somalisas) mungkin juga muncul. Ciri-ciri lainnya meliputi ansietas,kemarahan, menjaga jarak dan suka berargumentasi, dan agresif.

Tipe Disorganized (tidak terorganisasi)

Ciri utama skizofrenia tipe disorganized adalah pembicaraan kacau, tingkah laku kacau dan afek yang datar atau inappropriate. Pembicaraan yang kacau dapat disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak erat kaitannyadengan isi pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku dapat membawa pada gangguan yang serius pada berbagai aktivitas hidup sehari-hari.

Tipe Katatonik

Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah gangguan pada psikomotor yang dapat meliputi ketidakbergerakan motorik (waxy flexibility). Aktivitas motor yang berlebihan, negativism yang ekstrim, sama sekali tidak mau bicara dan berkomunikasi (mutism), gerakan-gerakan yang tidak terkendali, mengulang ucapan orang lain (echolalia)atau mengikuti tingkah laku orang lain (echopraxia).

(4)

Tipe Undifferentiated merupakan tipe skizofrenia yang menampilkan perubahan pola simptom-simptom yang cepat menyangkut semuaindikator skizofrenia. Misalnya, indikasi yang sangat ruwet, kebingungan (confusion), emosi yang tidak dapat dipegang karena berubah-ubah,adanya delusi, referensi yang berubah-ubah atau salah, adanya ketergugahan yang sangat besar, autisme seperti mimpi, depresi, dan sewaktu-waktu juga ada fase yang menunjukkan ketakutan.

Tipe Residual

Tipe ini merupakan kategori yang dianggap telah terlepas dari skizofrenia tetapi masih memperlihatkan gejala-gejala residual atau sisa, seperti keyakinan-keyakinan negatif, atau mungkin masih memiliki ide-ide tidak wajar yang tidak sepenuhnya delusional. Gejala-gejala residual itu dapat meliputi menarik diri secara sosial, pikiran-pikiran ganjil, inaktivitas, dan afek datar

4. Tanda dan gejala

Indikator premorbid(pra-sakit) pre-skizofreniaantara lain

1.ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh.

2.Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar(sirkumstantial).

3.Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi.

4.Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.

Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas : 1.Gejala-gejala Positif

Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.

2.Gejala-gejala Negatif

(5)

beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).

5. Penatalaksanaan Skizofrenia

Penatalaksanan pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi biologis, dan terapi psikososial:

- Terapi Biologis

Pada penatalaksanaan terapi biologis terdapat tiga bagian yaitu terapi dengan menggunakan obat antipsikosis, terapi elektrokonvulsif, dan pembedahan bagian otak. Terapi dengan penggunaan obat antipsikosis dapat meredakan gejala-gejala skizofrenia. Obat yang digunakan adalah chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Kedua obat tersebut termasuk kelompok obat phenothiazines, reserpine (serpasil), dan haloperidol(haldol). Obat ini disebut obat penenang utama. Obat tersebut dapat menimbulkan rasa kantuk dan kelesuan, tetapi tidak mengakibatkan tidur yang lelap, sekalipun dalam dosis yang sangat tinggi (orang tersebut dapat dengan mudah terbangun). Obat ini cukup tepat bagi penderita skizofrenia yang tampaknya tidak dapat menyaring stimulus yang tidakrelevan (Durand, 2007).

- Terapi Elektrokonvulsif juga dikenal sebagai terapi electroshock

(6)

lobotomy, yaitu proses operasi primitif dengan cara membuang “stone of madness” atau disebut dengan batu gila yang dianggap menjadi penyebab perilaku yang terganggu. Menurut Moniz, cara ini cukup berhasil dalam proses penyembuhan yang dilakukannya, khususnya pada penderita yang berperilaku kasar. Akan tetapi, pada tahun 1950-an cara ini ditinggalkan karena menyebabkan penderita kehilangan kemampuan kognitifnya, otak tumpul, tidak bergairah, bahkan meninggal.

- Terapi Psikososial

(7)

7. Asuhan Keperawatan Skizofrenia

1. Analisa Data DS:

a. Pasien mengatakan suka bicara sendiri dan suka melempari rumah tetangganya. b. Keluarga klien ada memiliki keturunan gangguan jiwa dari nenek.

c. Klien mengatakan masih suka mendengar suara-suara setiap kali dirinya sendiri. d. Klien mengatakan kalau dirinya bodoh dan tukang tipu.

e. Klien merasa jengkel dengan suara tersebut. DO:

a. Klien mengalami gangguan jiwa sudah 3 kali. b. Klien malas minum obat.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Risiko kekerasan terhadap orang lain

b. Ketidakefektifan koping b/d krisis situasional

3. Intervensi

a. Risiko kekerasan terhadap orang lain.

O: Kaji kesiapan pasien untuk melakukan terapi kelompok.

N: Lakukan pengawasan secara ketat terhadap pasien amati tanda-tanda awal agitasi

atau peningkatan ansietas.

E: Informasikan kepada pasien bahwa anda akan membantu mengontrol perilakunya.

C: Kolaborasi dengan ahli psikologi tentang kesinambungan penanganan psikososial.

b. Ketidakefektifan koping b/d krisis situasional.

O: Identifikasi dan turunkan stimulus yang tidak perlu dalam lingkungan.

N: Jadwalkan waktu luang tanpa gangguan bersama pasien. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya dan terima apa yang dikatakan pasien.

(8)

C: Rujuk pasien untuk melakukan konseling pada psikolog.

REFERENSI

Hani, Alfrina. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Referensi

Dokumen terkait

Antisipasi untuk mengatasi hal tersebut, adalah dengan mengganti waktu diklat atau bimbingan perawatan yang telah ditetapkan dengan jadwal baru, namun

Hasil analisis jalur sebagaimana diuraian sebelumnya terjawab persoalan jalur hubungan kausal antara karakteristik pekerjaan, motivasi, kepuasan dan kinerja, dimana

Penelitian ini menghasilkan prototype rancangan sistem informasi Koperasi berbasis web pada Koperasi Unit Desa Pandan Jaya Geragai yang dapat diimplementasikan sesuai

Maka solusi yang penulis buat untuk mengatasi masalah tersebut adalah membuat suatu sistem pakar untuk mendeteksi kerusakan processor, yang hanya tinggal

Kemudian yang menjadi faktor penghambat dalam meningkatkan pembangunan desa adalah sumber dana (sarana dan prasarana) serta rendahnya kualitas (SDM) dan tekhnologi yang

Atas isu tersebut penulis meresponnya secara arsitektural dengan menghadirkan “Ruang Antara: Sarana Edukasi Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak”, sehingga mewadahi kebutuhan

Dewasa ini dakwah melalui media cetak sudah banyak dipergunakan oleh organisasi-organisasi Islam terutama melalui buletin jum’at seperti halnya organisasi Hizbuttahrir yang ada