RANTAI PASOK BERAS DI KECAMATAN CIBEBER,
KABUPATEN CIANJUR
ALEXANDRO EPHANNUEL SARAGIH
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Rantai Pasok Beras Di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
RINGKASAN
ALEXANDRO EPHANNUEL SARAGIH. Rantai Pasok Beras Di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Dibimbing oleh NETTI TINAPRILLA dan AMZUL RIFIN.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat konsumsi beras tertinggi di dunia. Hal ini mengimplikasikan dibutuhkannya usaha meningkatkan produksi beras dalam negeri. Namun, usaha peningkatan produksi tentunya harus diikuti oleh usaha pembentukan sistem pemasaran yang baik, melalui integrasi dan koordinasi rantai pasok. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi rantai pasok di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Selain itu, penelitian bertujuan mengevaluasi efisiensi teknis dan integrasi pasar vertikal pada rantai pasok beras tersebut. Identifikasi rantai pasok menggunakan kerangka Food Supply Chain Management. Sedangkan efisiensi teknis setiap saluran rantai pasok diukur melalui metode Data Envelopment Analysis. Berikutnya, pengujian integrasi pasar vertikal dilakukan menggunakan metode Vector Autoregression.
Sasaran pasar rantai pasok beras dari Cibeber, Cianjur, bukan hanya konsumen di kabupaten itu saja, namun juga konsumen di kota lain seperti Jakarta. Meskipun aliran beras dari Cianjur ke Pasar Cipinang hanya sedikit, namun sistem grading di pasar tersebut sering menjadi acuan bagi anggota rantai pasok beras di Cianjur. Berdasarkan integrasi pasar vertikal, pedagang di Pasar Cipinang bahkan dapat mempengaruhi harga beras di tingkat pengumpul besar dan pengecer Cianjur. Sasaran pengembangan dari rantai pasok beras tersebut adalah penggunaan padi varietas lokal Cianjur. Struktur rantai pasok beras di Cianjur terdiri dari petani, tengkulak, penggilingan (desa), pengumpul besar, pabrik beras, pedagang besar di Kabupaten Cianjur, pedagang di Pasar Cipinang (luar kabupaten), dan pengecer. Namun, proses kemitraan hanya terjadi diantara tengkulak dengan pengumpul besar. Semua kesepakatan antar anggota rantai pasok bersifat informal.
Terdapat 10 saluran pemasaran beras dari Cibeber, Cianjur. Tengkulak merupakan lembaga yang paling dominan dipilih petani. Secara umum, proses transaksi antara pihak-pihak yang bermitra relatif cepat. Aliran informasi pada rantai pasok beras di Cianjur berlangsung secara timbal-balik mulai dari petani sampai pada ke konsumen akhir. Beras yang berasal dari rantai pasok di Cianjur memiliki merek yang berbeda-beda. Pabrik beras pada umumnya mencantumkan merek pabrik tersebut. Kepercayaan diantara anggota rantai pasok juga semakin kuat apabila anggota rantai pasok dapat selalu memenuhi kesepakatan yang telah dibuat.
Berdasarkan efisiensi teknis, terdapat 4 saluran rantai pasok yang tidak efisien dari total 10 saluran. Agar menjadi efisien, saluran harus mengurangi rata-rata biaya dan marjin pemasarannya. Selain itu, saluran harus meningkatkan farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya, dan keuntungan saluran tersebut. Saluran 4 (petani-tengkulak-pengumpul besar-pedagang besar-pengecer-konsumen) merupakan saluran yang paling tidak efisien. Saluran menjadi tidak efisien karena banyaknya jumlah lembaga terlibat. Selain itu, saluran menjadi tidak efisen karena harga penjualan ke konsumen akhir di Cianjur yang lebih rendah dibandingkan harga konsumen di Jakarta.
Harga gabah di tingkat petani Cianjur dapat mempengaruhi harga beras di tingkat pengumpul besar dan pengecer, namun tidak berlaku sebaliknya. Hal ini mengimplikasikan bahwa posisi petani tidak lemah pada rantai pasok beras. Petani memiliki pilihan tujuan dalam menjual gabahnya, yakni tengkulak, penggilingan, dan pengumpul besar. Di sisi lain, harga gabah di petani Cianjur tidak menyebabkan perubahan harga beras di Pasar Cipinang. Posisi pedagang tersebut kuat karena memiliki persediaan beras dalam jumlah besar. Selain itu, pedagang tersebut memiliki jaringan pemasok beras dari berbagai daerah.
Pada jangka panjang, hanya harga beras di pengumpul besar Cianjur saja yang memiliki hubungan positif dengan harga gabah di petani Cianjur. Sedangkan harga beras di pengecer Cianjur dan pedagang Cipinang justru memiliki hubungan negatif. Pemerintah perlu terus mengawasi proses penyimpanan beras oleh pedagang besar, terutama di Cipinang. Kenaikan harga beras di pasar bukan karena kenaikan harga gabah di petani, namun dapat disebabkan kemampuan pedagang untuk mempengaruhi pasokan beras di tingkat pasar. Dalam jangka pendek, harga gabah di tingkat petani hanya dipengaruhi oleh harga gabah itu sendiri pada satu bulan sebelumnya. Harga gabah pada satu bulan sebelumnya juga mempengaruhi harga beras di tingkat pengecer.
SUMMARY
ALEXANDRO EPHANNUEL SARAGIH. Supply Chain of Rice In Cibeber Subdistrict, Cianjur. Supervised by NETTI TINAPRILLA and AMZUL RIFIN.
Indonesia is one of the countries with the highest level of rice consumption in the world. It is important to increase rice production in Indonesia. It must be followed by an efficient marketing system, through integration and collaboration in supply chain. The purposes of this research were identifying rice supply chain in Cibeber Subdistric, Cianjur. Beside that, evaluating technical efficiency and vertical integration in rice supply chain. Food Supply Chain Management approach was used to identify rice supply chain in Cibeber Subdistric, Cianjur. While, technical efficiency of each channel in supply chain was measured by Data Envelopment Analysis. Vertical integration was measured by Vector Autoregression.
Market target of rice supply chain in Cibeber, Cianjur, is not only for concumers in that regency, but also for consumers in other area such as Jakarta. In spite of rice flow to Cipinang market is only slightly, but Cipinang’s grading system remains as a reference for the members of supply chain. Based on vertical integration analysis, the rice price of wholesalers at Cipinang can influence the rice price of Cianjurs farmers. Development target is to increase the using of local paddy varieties. The structure of supply chain was composed of farmer, middleman, rice milling on the village level, collector, rice milling unit, wholesalers in Cianjur, wholesalers at Cipinang Market, and retailer. Though, partnership is only between middleman and collector. Contractual agreement that occurs between members of supply chain takes places informally.
There were 10 marketing channels of rice in Cibeber, Cianjur. Most farmers sell their harvest to middleman. Generally, financial flow was well conducted. Information between members of supply chain flow mutually. Rice in the supply chain have different brand. Generally, the brand is made by rice milling unit. Trust among members of supply chain is influenced by the compliance of contract.
Overall, technical efficiency value of all channels had a good mark. It could be influenced by the sharing information process. The information comprises the cultivation process, the yields of farmers, and the market rice price. Rice milling unit has an important role to share the information from the outside of Cianjur, especially from the Cipinang Market. On the other side, the rice milling unit will has a serious trouble if it has not enough supply from the collector. This is an issue for the rice milling unit has spent much fix cost for its business..
Based on technical efficiency, there were four out of ten channels, which must decrease its cost and market margin to improve its efficiency. Beside that,
the four channels must increase its farmer’s share, cost and benefit ratio, and
benefit of the four channels. The fourth channel (farmer-middleman-collector-wholesalers in Cianjur-retailer-consumer) was the most inefficient channel. It was caused by the numbers of instution in that channel. Moreover, rice price in Cianjur is lower than Jakarta.
milling on the village level, and collector. On the other side, there was undirectional causality from Cianjur farmer to Cipinang wholesaler. The wholesaler had a strong power because it has much rice stocks. Beside that, the wholesaler had many supplier from the different areas.
In the long term, it was only the rice price in collector Cianjur which had positive relation with paddy price in Cianjur farmer. Though, both the rice price in Cianjur retailer and Cipinang wholesaler had negative relation with paddy price in Cianjur farmer. The government need to consistenly oversee the rice storage which were conducted by wholesaler. The increasing of rice price in wholesaler or retail was not caused by the increasing of paddy price in farmers level. It was caused by wholesaler market power to influence the rice supply in the market. In the short term, paddy price was influenced by the paddy price itself-one month earlier. Rice price in Cianjur retailer was also influenced by paddy price-one month earlier.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Agribisnis
RANTAI PASOK BERAS DI KECAMATAN CIBEBER,
KABUPATEN CIANJUR
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
Judul Tesis : Rantai Pasok Beras Di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur Nama : Alexandro Ephannuel Saragih
NIM : H351140406
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian ini adalah Rantai Pasok beras di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Ir Netti Tinaprilla, MM dan Bapak Dr Amzul Rifin, SP, MA sebagai dosen pembimbing dalam penulisan tesis ini. Terima kasih kepada Bapak Dr Ir Harianto, MS dan Ibu Prof. Dr Ir Rita Nurmalina, MS, sebagai dosen penguji dalam ujian tesis ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Irwan, SP, sebagai penyuluh dari Dinas Pertanian Cianjur, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xv
DAFTAR GAMBAR xv
DAFTAR LAMPIRAN xvi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 5
Manfaat Penelitian 5
Ruang Lingkup Penelitian 5
2 TINJAUAN PUSTAKA 6
Manfaat Integrasi Rantai Pasok 6
Efisiensi Rantai Pasok dengan Metode DEA 7
Integrasi Pasar pada Rantai Pasok Beras 8
3 KERANGKA PEMIKIRAN 9
Rantai Pasok 9
Manajemen Rantai Pasok 11
Logistik pada Rantai Pasok 13
Saluran Pemasaran 15
Efisiensi Pemasaran 16
Marjin Pemasaran 17
Farmer’s Share 19
Rasio Keuntungan dan Biaya Pemasaran 20
Data Envelopment Analysis (DEA) 20
Integrasi Pasar 22
Kerangka Pemikiran Operasional 25
4 METODE PENELITIAN 27
Lokasi dan Waktu Penelitian 27
Jenis dan Sumber Data 27
Metode Penentuan Sampel 27
Analisis Rantai Pasok Beras 28
Efisiensi Teknis Saluran Rantai Pasok 29
Integrasi Pasar 30
5 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 35
Gambaran Wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur 35
Karakteristik Responden 35
6 HASIL DAN PEMBAHASAN 38
Sasaran Rantai 38
Struktur Rantai Pasok 39
Manajemen Rantai Pasok 44
Sumber Daya 44
Proses Bisnis 51
Efisiensi Teknis Setiap Saluran Rantai Pasok 62
Integrasi Pasar Vertikal pada Rantai Pasok Beras di Cianjur 65 7 SIMPULAN DAN SARAN 73
Simpulan 73
Saran 74
DAFTAR PUSTAKA 75
LAMPIRAN 81
DAFTAR TABEL
1 Luas Panen, Produktivitas, Produksi Padi (GKG) serta Volume Impor 2 Beras di Indonesia Tahun 2009-2013
2 Pencapaian Target Luas Tanam, Luas panen, Produktivitas, Produksi
Komoditi Padi Kabupaten Cianjur Tahun 2013 3
3 Sebaran Petani Responden Berdasarkan Usia 36
4 Sebaran Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir 36 5 Sebaran Petani Responden Berdasarkan Lama Pengalaman Usahatani 37
Padi
6 Sebaran Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Usahatani Padi 37 7 Sebaran Petani Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan Usahatani Padi 37
8 Total Biaya, εarjin, Farmer’s Share, Keuntungan, dan Rasio
Keuntungan terhadap Biaya Pemasaran pada Sepuluh Saluran Rantai
Pasok Beras di Cibeber, Cianjur 62
9 Nilai Efisiensi CRS, VRSTE, SE, dan Trend Return to Scale Setiap 64 DMU Saluran Rantai Pasok
10 Sebaran Perbandingan untuk Setiap Saluran Rantai Pasok 65 11 Rata-rata Potential Improvements Saluran (1, 4, 6, 9) 65
DAFTAR GAMBAR
1 Pergerakan Rata-rata Harga Beras Pengecer dan Gabah Kering Panen 2 (GKP) Petani di Indonesia pada Januari 2012-Desember 2014
2 Kerangka Analisis Deskriptif Rantai Pasok 11
3 Skema Diagram Rantai Pasok dari Perspektif Pengolah 12
4 Kurva Marjin Pemasaran 18
5 Hubungan CRS, VRS, dan Scale Efficiency 22
6 Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian 26
7 Sistematika Pengolahan Vector Autoregression (VAR) 34 8 Proses Bisnis Rantai Pasok Beras di Cibeber, Cianjur 52 9 Aliran Produk Rantai Pasok Beras di Cibeber, Cianjur 56 10 Aliran Finansial Rantai Pasok Beras di Cibeber, Cianjur 57 11 Aliran Informasi Rantai Pasok Beras di Cibeber, Cianjur 58 12 Sebaran Skor Efisiensi Teknis Rantai Pasok Beras di Kabupaten
Cianjur dengan Metode DEA VRS pada Setiap Saluran Rantai Pasok 63 13 Output Impulse Response Function (IRF) pada Guncangan Harga
Gabah di Petani Cianjur 70
14 Output Impulse Response Function (IRF) pada Guncangan Harga Beras
di Pengumpul Besar Cianjur 71
15 Output Impulse Response Function (IRF) pada Guncangan Harga Beras
di Pengecer Cianjur 72
16 Output Impulse Response Function (IRF) pada Guncangan Harga Beras
DAFTAR LAMPIRAN
1 Jumlah Penggilingan di Kabupaten Cianjur pada Tahun 2010 82 2 Hasil Uji Stasioner Data Harga Gabah di Petani Cianjur 83 3 Hasil Uji Stasioner Data Harga Beras di Pengumpul Besar 84 4 Hasil Uji Stasioner Data Harga Beras di Pengecer Cianjur 85 5 Hasil Uji Stasioner Data Harga Beras di Pedagang Pasar Cipinang 86 6 Output Length Lag Criteria pada Lag Maksimum 2 87 7 Hasil Uji Kausalitas Harga Gabah di Petani (PT), Harga Beras di
Pengumpul Besar (MT), Pengecer Cianjur (RTC), dan Pedagang Pasar
Cipinang (RTJ) 88
8 Hasil Uji Kointegrasi Johansen 89
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ketersediaan beras menjadi penting untuk diperhatikan karena beras telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia secara umum. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat saat ini di dunia. Penduduk Indonesia diproyeksikan sekitar 261 juta orang pada tahun 2020 (BPS 2013). Di sisi lain, tingkat konsumsi beras per kapita penduduk Indonesia, merupakan salah satu tingkat konsumsi tertinggi di dunia, yakni 97.40 kg/kapita/tahun pada tahun 2013 (Susenas BPS dalam PUSDATIN 2014). Padahal, dilihat dari pertumbuhan luas lahan, produktivitas, dan tingkat produksi gabah seperti pada Tabel 1, Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan yang lambat. Hal ini mengimplikasikan dibutuhkannya usaha meningkatkan produksi beras dalam negeri. Namun, usaha peningkatan produksi tentunya harus diikuti oleh sistem pemasaran yang baik, sehingga dapat memotivasi petani sebagai produsen.
Tabel 1 Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi (GKG) serta Volume Impor Beras di Indonesia Tahun 2009-2013
Tahun Luas panen (ha)
Produktivitas (ku/ha)
Produksi (ton) Volume impor beras (ton)
2009 12 883 576 49.00 60 325 925 250 276
2010 12 147 637 50.15 66 469 394 687 583
2011 13 203 643 49.00 65 756 904 2 744 261
2012 13 445 524 51.00 69 056 126 1 927 563
2013 13 835 252 51.52 71 279 709 472 675
Sumber: Kementrian Pertanian (2014)
Menurut Sultana (2012), program peningkatan produksi beras tidak akan dapat berjalan dengan efektif apabila sistem pemasaran tidak efisien. Pemasaran harus mampu berorientasi kepada kepuasan konsumen dan memberikan keuntungan kepada petani, pedagang, pengolah, dan lembaga pemasaran yang terlibat. Rantai pasok merupakan kegiatan yang melibatkan semua pihak, baik yang memproduksi atau menghasilkan jasa, mulai dari produsen sampai ke konsumen akhir. Adanya integrasi dan koordinasi yang baik antara anggota dalam rantai pasok menjadi kunci dalam proses pemasaran. Pada rantai pasok terdapat proses manajemen, yakni kegiatan mengelola permintaan dan penawaran. Konsep ini dianggap penting karena adanya perubahan dan tuntutan terkait orientasi pasar. Dewasa ini, konsumen memiliki peranan besar dalam menggerakkan rantai pasok. Para produsen berupaya memenuhi bagaimana permintaan konsumen, baik dalam bentuk, kemasan, dan proses penyampaiannya (Lokollo 2012).
beras. Efisiensi dari setiap biaya pemasaran terhadap keuntungan yang dihasilkan menjadi sangat penting diperhatikan agar saluran tersebut tetap dapat bersaing dengan saluran rantai pasok beras lainnya.
Integrasi pasar diantara lembaga atau anggota rantai pasok juga penting diperhatikan. Meskipun penggunaan biaya pada saluran atau rantai pasok telah efisien, namun harga komoditi pada lembaga atau anggota rantai pasok, belum tentu terintegrasi dengan baik. Hal tersebut dapat disebabkan penyalahgunaan market power pedagang perantara dalam rantai pasok (Meyer dan Taubadel 2004). Penetapan harga jual beras oleh pedagang tersebut sering berbeda dengan kenaikan atau penurunan harga dari pemasoknya. Respon pedagang terhadap kenaikan harga dari tingkat pemasok lebih cepat daripada respon penurunan harganya. Hal ini bertujuan untuk menjaga tingkat keuntungan yang diperoleh oleh pedagang perantara tersebut. Namun, hal ini dapat mengakibatkan lembaga pemasaran yang terlibat menjadi tidak terintegrasi.
Besarnya perubahan marjin pemasaran setiap waktu dapat menggambarkan transmisi dan tingkat integrasi harga pada anggota rantai pasok yang terlibat (Vavra dan Goodwin 2005). Gambar 1 menunjukkan pergerakan harga beras di pengecer dengan harga gabah di petani. Disparitas antara harga beras di pengecer dengan harga gabah kering panen (GKP) di petani cenderung meningkat dari tahun 2011-2014. Besarnya dipasparitas itu itu dapat dipengaruhi oleh biaya pemasaran, banyaknya lembaga yang terlibat, dan market power pedagang perantara yang terlibat. Disparitas harga yang cenderung meningkat menunjukkan bahwa marjin pemasaran semakin besar. Marjin yang semakin besar tersebut dapat mengindikasikan pula lemahnya integrasi pasar pada lembaga pemasaran beras yang terlibat.
Gambar 1 Pergerakan Rata-rata Harga Beras Pengecer dan Gabah Kering Panen (GKP) Petani di Indonesia pada Januari 2012-Desember 2014
Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu lumbung padi di Indonesia. Pada tahun 2013 produksi padi di Jawa Barat mencapai 12 083 162 ton dari 71 279 709 ton total produksi nasional (BPS 2013). Kabupaten Cianjur sendiri menjadi penyumbang yang cukup besar dibandingkan 25 kota dan kabupaten lainnya untuk jumlah produksi padi di Provinsi Jawa Barat tersebut, yakni mencapai 925 996 ton pada tahun 2013 (Dinas Pertanian Cianjur 2013). Tabel 2 menunjukkan kinerja yang cukup baik dari Kabupaten Cianjur sebagai salah satu daerah unggulan produsen padi di Provinsi Jawa Barat. Keunggulan tersebut seharusnya mendapatkan penanganan aliran produk yang baik dan efisien sehingga harga beli oleh konsumen tidak memberatkan mereka. Selain itu, petani tetap mendapatkan keuntungan yang mampu mendorongnya meningkatkan skala usahanya.
Tabel 2 Pencapaian Target Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, Produksi Komoditi Padi Kabupaten Cianjur Tahun 2013
Uraian Padi Sawah Padi Ladang Jumlah
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Persentase
1.Luas Tanam (Ha)
133 177 138 852 20 756 18 787 154 533 157 639 102.01
2.Luas panen
(Ha)
126 832 139 910 20 612 18 636 147 444 158 546 107.53
3.Produktivitas (Ton/Ha)
6.557 6.176 3.76 3.19 6.158 5.840 94.84
4.Produksi GKG (Ton)
831 637 864 117 76 88 61 849 908 025 925 996 101.98
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur (2013)
Perumusan Masalah
Penerapan konsep manajamen rantai pasok di bidang pertanian dapat meningkatkan efisiensi pemasaran. Namun, penerapan konsep manajemen rantai pasok di negara berkembang sering menghadapi kendala karena skala usaha petani yang kecil. Berikutnya, informasi pasar yang diterima oleh petani juga tidak begitu baik (Lakollo 2012). Misalnya, petani yang tidak mengetahui perkembangan harga gabah dan harga beras di pasar. Lemahnya akses informasi tersebut dapat disebabkan lokasi petani yang memang biasanya di lokasi terpencil dan rendahnya pendidikan petani itu sendiri (Ariwibowo 2013).
Kecamatan Cibeber merupakan salah satu daerah unggulan tanaman pangan komoditas padi dengan menggunakan sistem irigasi pedesaan di Kabupaten Cianjur menurut Surat Keputusan Bupati Nomor 520/KEP.240-DISTAN/2012 tentang perwilayahan tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini ditunjukkan dari jumlah gabah kering panen (GKP) pada tahun 2013 mencapai 52 582 ton (Dinas Pertanian Cianjur 2013). Kondisi ini menggambarkan bahwa daerah ini menjadi salah satu daerah penting pada pemasaran beras di Cianjur. Produksi gabah, sebagai hasil panen petani di daerah ini, tentunya membutuhkan penanganan aliran produk yang efisien. Saluran-saluran pemasaran beras yang berasal dari daerah ini perlu dievaluasi dan dibandingkan untuk melihat potensi peningkatan efisiensi saluran pemasaran beras dari daerah ini.
Secara umum, petani padi di Kecamatan Cibeber memiliki ukuran dan skala usaha yang kecil. Selain itu, jumlah petani juga jauh lebih banyak dibandingkan lembaga pemasaran sebagai tujuan penjualannya. Petani cenderung ingin praktis menjual hasil panennya dalam bentuk gabah kering panen (GKP). Petani masih sangat bergantung kepada pemilik modal yang dapat mengolah hasil panennya tersebut. Selain itu, kualitas atau rendemen gabah dari petani juga masih belum bisa konsisten akibat perubahan musim dan gangguan hama. Idealnya, nilai konversi GKP ke gabah kering giling (GKG) sebesar 86.02 persen dan GKG ke beras sekitar 62.74 persen (Dinas Pertanian Cianjur 2013). Namun, hal ini masih sering tidak konsisten dicapai akibat rendahnya kualitas gabah petani.
Berdasarkan uraian sebelumnya maka masalah yang akan dibahas dan dijawab dalam penelitian ini adalah: Bagaimana kondisi dan tingkat integrasi vertikal rantai pasok beras di Kabupaten Cianjur?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan, tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi rantai pasok beras di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur dengan menggunakan kerangka Food Supply Chain Network (FSCN)
2. Mengevaluasi efisiensi teknis setiap saluran dalam rantai pasok
3. Mengevaluasi integrasi pasar vertikal pada rantai pasok beras di Cianjur
Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat dalam memberikan informasi terkait kondisi rantai pasok beras di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Informasi terkait kendala dan hal-hal yang dibutuhkan untuk pengembangan rantai pasok beras di daerah ini, dapat menjadi dasar bagi kebijakan pemerintah. Hasil penelitian, yakni hasil analisis integrasi vertikal, juga dapat menjadi dasar kebijakan pemasaran beras oleh pemerintah. Berdasarkan hasil analisis integrasi tersebut, pemerintah memperoleh informasi terkait lembaga atau anggota rantai pasok yang menjadi pasar acuan. Bagi pembaca secara umum, hal ini dapat menjadi sumber informasi dan pembanding saat melakukan penelitian yang relevan.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menguraikan rantai pasok beras di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur dengan menggunakan pendekatan Food Supply Chain Network (FSCN). Kerangka ini meliputi enam unsur utama, yakni sasaran, manajemen, struktur, sumber daya, proses bisnis, dan kinerja rantai pasok. Tingkat integrasi harga gabah atau beras pada setiap lembaga yang terlibat dalam rantai pasok beras di Cianjur juga diuji dalam penelitian ini. Konsep integrasi tersebut berbeda dengan dengan konsep integrasi pada manajemen rantai pasok. Derajat integrasi proses manajemen rantai pasok tidak diukur dalam penelitian ini, namun secara kualitatif dijelaskan pada pendekatan FSCN.
2 TINJAUAN PUSTAKA
Manfaat Integrasi Rantai Pasok
Menurut Sharma (2013), strategi rantai pasok sangat perlu diterapkan oleh pabrik pengolah padi untuk meningkatkan daya saing mereka. Hal ini mengimpikasikan perlunya fokus pada koordinasi, kolaborasi dengan para petani dan pelanggan untuk memperoleh informasi aliran padi yang akan diproses oleh pabrik. Informasi permintaan juga dibutuhkan untuk efisiensi proses persediaan atau penyimpanan. Terdapat beberapa masalah yang dihadapi oleh rantai pasok beras di India, seperti jumlah persediaan dan penawaran oleh pabrik beras yang sering sangat tidak sesuai dengan permintaan pasar sehingga menimbulkan tingginya biaya penyimpanan dan kerugian akibat gagalnya penjualan. Kemampuan meramalkan dan menyediakan persedian beras melalui pembelian dari sumber-sumber penghasil padi yang petensial, sistem distribusi, strategi penjualan, serta sistem logistik mempengaruhi efektivitas rantai pasok beras India juga untuk bersaing di pasar global. Hal yang hampir sama disampaikan oleh Thongrattna (2012), bahwa manajemen rantai pasok juga merupakan kunci kesuksesan dalam persaingan beras Thailand di pasar global. Bahkan kualitas beras yang dihasilkan oleh Thailand juga dipengaruhi oleh kinerja rantai pasok dan ketidakpastian pasar itu sendiri. Selain itu, kinerja rantai pasok beras di Thailand tidak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, namun dipengaruhi oleh perilaku para pesaingnya, ketidakpastian permintaan dan proses. Strategi pembelian sebagai bagian dari manajemen rantai pasok menjadi penting diperhatikan untuk mengatasi ketidakpastian permintaan seperti yang disampaikan Sharma (2013). Beberapa hal yang termasuk ke dalam strategi ini seperti aktivitas menentukan jumlah dan kualitas yang akan dibeli, seleksi saat pembelian, kesepakatan pembayaran, dan menjaga hubungan baik dengan pelanggan.
Teknologi pasca panen dan infrastruktur menjadi penentu kesuksesan rantai pasok selain kemampuan koordinasi dan pembagian informasi (Parwez 2014; Jayaretna 2011). Hal-hal tersebut bertujuan menjaga kualitas atau kondisi komoditi yang dikirimkan serta efisiensi biaya transportasi (Parwez 2014). Masalah pembusukan, serangan penyakit saat penyimpanan dan pengiriman menjadi penyebab kerugian yang harus diatasi melalui perbaikan hal-hal tersebut, terutama karena komoditi pada umumnya berasal dari pedesaaan dengan kondisi infrastruktur yang buruk.
Efisiensi Rantai Pasok dengan Metode DEA
Aplikasi DEA sebagai internal dan eksternal benchmarking menunjukkan bahwa DEA menjadi alat ukur efisiensi teknis. DEA dapat diaplikasikan untuk mengukur efisiensi manajemen rantai pasok atau distribusi saluran pemasaran. Setiawan (2009) mengukur kinerja rantai pasok sayuran lettuce head dengan menggunakan DEA. Melalui model tersebut, ditunjukkan efisiensi relatif masing-masing petani dan potential improvement untuk mencapai efisiensi 100%. Di tingkat perusahaan juga dapat dilihat bahwa kinerja rantai pasok produk lettuce head dan fresh cut memiliki efisiensi 100%. Kinerja ini lebih baik daripada benchmark. Dalam pengunaan model DEA ini, peneliti menggunakan AHP untuk pembobotan. Permadhi dan Sunaryo (2014) mengaplikasikan penggunaan DEA untuk menganalisis efisiensi saluran distribusi gorden oleh UKM Kamties melalui beberapa tokonya yang menjadi DMU. Dalam pengolahan data, peneliti juga melakukan analisis korelasi faktor untuk mengetahui derajat keterdekatan faktor-faktor yang diteliti dan hubungan antara input-output. Hal yang sama juga dilakukan oleh Prasetyo (2008). Berdasarkan hasil penelitian Permadhi dan Sunaryo (2014) menggunakan metode DEA CCR, ditemukan bahwa terdapat satu saluran distribusi yang belum efisien dari 4 total saluran atau toko yang dianalisis. Hal ini dapat diatasi dengan mengurangi biaya transportasi dan telepon oleh saluran tersebut. Penetapan harga pokok yang terlalu tinggi menjadikan tidak seimbangnya antara harga input dengan output. Pendekatan yang hampir sama juga dilakukan oleh Chu (2013), yakni mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi saluran distribusi produk pertanian dengan model DEA. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat informasi dan infrastruktur logistik yang paling berpengaruh dalam efisiensi saluran distribusi. Hal ini mengimplikasikan pula dibutuhkannya kebijakan yang dapat mendorong infrastruktur logistik di pedesaan. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian, pemerintah perlu meningkatkan kemampuan, kualitas, maupun pemodalan bagi tenaga kerja yang berada di desa.
Chen dan Lin (2014) membandingkan efisiensi antara pedagang besar tradisional dan pusat distribusi logistik di China. Pedagang besar tradisional lebih rendah efisiensinya terutama disebabkan oleh pemborosan tenaga kerja, biaya operasi yang tinggi, dan gross margin yang rendah. Sharker dan Ghosh (2010) juga membandingkan tingkat efisiensi organisasi pemasaran pedagang dalam koperasi dengan pedagang diluar koperasi. Hal ini memperhatikan penyebaran harga, biaya pemasaran, dan keuntungan diantara pedagang-pedagang susu tersebut. Hasilnya, pedagang dalam koperasi justru memiliki efisiensi lebih rendah karena biaya tetap per unit susu lebih mahal.
efisiensi saluran distribusinya menggunakan total harga jual produknya sebagai input dalam model DEA. Sedangkan output yang digunakan adalah biaya transport, kurir, dan telepon. Chu (2013) memilih beberapa input yakni jumlah produk pertanian, tingkat informasi dan infrastuktur logistik, tingkat profesionalitas pekerja yang mengatur distribusi, tingkat logistik transportasi, saham atau modal dalam saluran distribusi. Outputnya berupa efisiensi saluran distribusi produk pertanian. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut dapat pula dilihat bahwa jumlah produk yang diproduksi tidak selalu menjadi pilihan tepat dalam mengukur efisiensi sebuah organisasi.
Integrasi Pasar pada Rantai Pasok Beras
Boansi (2014) menemukan bahwa kinerja atau efisiensi rantai pasok beras di Nigeria lebih rendah dibandingkan dengan rantai pasok jagung. Hal ini ditunjukkan dengan membandingkan transmisi harga beras di konsumen dan petani, dimana transmisi harga jagung lebih baik. Namun, menurut Ohen (2011) melalui uji kointegrasi Johansen, harga beras pada setiap level anggota rantai pasok (petani-pengolah-distributor-pengecer) di Nigeria akan terintegrasi dalam jangka panjang meskipun harga berfluktuasi di setiap level dalam jangka pendek. Hal tersebut mengimplikasikan pula dibutuhkannya kebijakan yang dapat meningkatkan infrastruktur. Selain itu, dibutuhkan pula kebijakan harga oleh pemerintah untuk mengurangi eksploitasi oleh perantara terutama dalam jangka pendek. Menurut Firdaussy (2012), market power yang dimiliki oleh pedagang perantara dapat mempengaruhi asimetri transmisi harga beras. Asimetri transmisi harga juga dapat disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang lebih banyak mengintervensi harga gabah di petani dibandingkan harga beras di pasar.
Menurut Aryani (2012), dalam jangka pendek, harga gabah petani dipengaruhi oleh harga beras pengecer tetapi harga gabah petani tidak mempengaruhi harga beras pengecer di Indonesia. Hal berbeda di pasar beras Nigeria, dimana arah transmisi harga adalah dari petani ke distributor dan pengecer. Namun, terdapat asimetri, yakni perbedaaan besarnya dampak kenaikan dan penurunan harga di petani terhadap distributor dan pengecer (Jezghani et al. 2011). Kondisi tersebut mengimplikasikan pentingnya memperhatikan kebijakan yang dapat menurunkan biaya produksi petani, dalam melindungi konsumen. Besarnya penurunan harga oleh petani sebagai dampak penurunan biaya produksinya, tidak sama dengan penurunan harga oleh pengecer.
Lembaga atau pasar beras yang menjadi pemimpin pasar pada pasar yang terintegrasi, penting diperhatikan. Menurut Emonkaro dan Ayantoyinbo (2014), pasar beras di pedesaan atau petani, merupakan bagian penting bagi pemerintah, sebagai pusat kebijakan pemasaran. Kebijakan dapat berupa kebijakan harga atau kebijakan yang mengatur distribusi. Hal ini disebabkan pasar tersebut menjadi pemimpin pasar bagi pasar beras di daerah kota Nigeria. Hal ini berbeda pula apabila kedua pasar tersebut terintegrasi secara lemah dan tidak memiliki pemimpin pasar. Hal ini mengakibatkan lembaga pemasaran dapat menjadi lebih mudah mempengaruhi harga yang berlaku di pasar (Ojo et al. 2015).
mengindikasikan bahwa harga beras di kedua lembaga tersebut memiliki integrasi yang tinggi. Makbul, Ratnaningtyas, Dwiyantoro (2014) juga menemukan integrasi vertikal harga beras di antara petani dengan lembaga penggilingan dan pengecer telah terkointegrasi dengan baik. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Hal ini juga yang disampaikan oleh Sari (2010), bahwa volatilitas harga beras di berbagai provinsi di Indonesia semakin rendah dengan adanya kebijakan HPP. Hal ini berbeda dengan penemuan Rahim dan Milia (2013) pada tingkat integrasi harga beras petani dengan konsumen di Sulawesi Tenggara. Integrasi vertikal di daerah tersebut lemah, sehingga usaha-usaha peningkatan arus informasi dan penggunaan asuransi oleh petani dalam melakukan usahanya dianggap sangat penting. Hal lainnya yang dapat meningkatkan integrasi pasar beras adalah kedekatan lokasi pasar, biaya dan proses penyimpanan gabah yang baik atau dalam kondisi kering, biaya pengolahan, dan biaya transportasi (Mafimisebi et al. 2014; Mkpado et al. 2013).
3 KERANGKA PEMIKIRAN
Rantai Pasok
Menurut Van der Vorst (2005), untuk membahas potensi atau pengembangan rantai pasok, dibutuhkan kerangka untuk mendeskripsikan rantai pasok tersebut. Kerangka tersebut ditunjukkan oleh Gambar 2. Kerangka terdiri dari peserta atau anggota rantai pasok, produk, sumber daya, dan manajemen. Kriteria-kriteria yang dibutuhkan tersebut ditemukan dan dapat dijelaskan oleh rantai pasok beras di Kabupaten Cianjur sehingga pendekatan atau kerangka FSCN ini sesuai digunakan dalam penelitian ini. Terdapat beberapa elemen yang akan dideskripsikan dalam kerangka FSCN oleh Van der Vorst (2005) yang mengadopsi pemikiran Lambert dan Cooper (2000). Elemen-elemen tersebut adalah:
Struktur Jaringan: mendeskripsikan peranan anggota atau aktor yang terlibat pada jaringan atau rantai pasok. Melalui hasil deskripsi tersebut, kemudian dianalisis anggota mana yang memiliki peranan yang dapat mendukung kesuksesan rantai pasok. Hal ini tentu melibatkan tujuan dari rantai pasok itu sendiri. Dalam proses tersebut terdapat penekanan terhadap kemampuan manajemen dan pengolahan sumber daya.
Proses Bisnis rantai pasok yang terstruktur: didekati melalui analisis aktivitas atau proses bisnis yang didesain untuk menghasilkan output yang spesifik, termasuk di dalamnya fisik produk, jasa, dan informasi untuk menghadapi pasar. Seperti disampaikan sebelumnya, selain proses logistik, seperti operasional dan distribusi, terdapat pula proses bisnis dalam rantai pasok. Proses bisnis melibatkan pengembangan produk baru, keuangan, pemasaran, dan manajemen hubungan dengan pelanggan.
Jaringan dan Manajemen Rantai Pasok: menganalisis koordinasi dan struktur manajemen dalam rantai pasok. Melalui pendekatan ini dijabarkan pihak yang memfasilitasi proses pengambilan keputusan dalam rantai pasok dalam menggunakan sumber daya untuk memenuhi tujuan rantai pasok. Artinya, melalui pendekatan ini, pihak yang berperan sebagai pengatur dalam rantai pasok dapat diketahui. Hal-hal yang yang digunakan dalam pendekatan ini termasuk analisis pemilihan mitra, kesepakatan kontrak dan sistem transaksi, dukungan pemerintah, dan kolaborasi rantai pasok.
Gambar 2 Kerangka Analisis Deskriptif Rantai Pasok Sumber: Van der Vorst (2006)
Manajemen Rantai Pasok
Menurut Van der Vorst (2006), manajemen rantai pasok adalah integrasi dari rencana, koordinasi dan kontrol terhadap seluruh proses bisnis dan aktivitas dalam rantai pasok. Menurut Lazzarini et al. dalam Van der Vorst (2006), melalui Gambar 3, bahwa setiap perusahaan diposisikan dalam lapisan jaringan dan memiliki sedikitnya satu rantai pasok, namun biasanya memiliki banyak variasi pemasok dan pelanggan pada waktu yang sama dan dari waktu ke waktu. Pihak lain dalam jaringan akan mempengaruhi kinerja dari rantai pasok seperti yang disampaikan Hakansson dan Snehota dalam Van der Vorst (2006), bahwa hal yang terjadi pada dua perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada kedua pihak yang terlibat tersebut, namun juga apa yang terjadi pada sejumlah hal lain yang saling berhubungan. Oleh karena itu, analisis rantai pasok sebaiknya dievaluasi dengan konteks jaringan rantai pasok yang kompleks, yakni menggunakan konsep Food Supply Chain Network (FSCN). Dalam FSCN, perusahaan-perusahaan yang berbeda secara strategik berkolaborasi dalam satu atau lebih area dengan tetap menjaga identitas mereka. Seperti yang disampaikan sebelumnya, lebih dari satu rantai pasok dan proses bisnis dapat diidentifikasi dalam sebuah FSCN. Organisasi-organisasi dapat memiliki peran berbeda dalam rantai pasok yang berbeda dan berkolaborasi dengan pihak berbeda pula. Pihak yang bekerjasama dengannya dapat saja menjadi pesaingnya pada rantai pasok yang berbeda.
Artinya, anggota rantai pasok bisa terlibat dalam rantai pasok yang berbeda dalam FSCN yang berbeda pula, partisipasinya pada proses bisnis bervariasi dan berubah dari waktu ke waktu, dan secara dinamis mengubah bentuk kerjasama vertikal dan horizontal.
Gambar 3 Skema Diagram Rantai Pasok dari Perspektif Pengolah Sumber: Lazzarini et al. dalam Van der Vorst (2006)
Hal terpenting dalam dalam manajemen rantai pasok adalah saling berbagi informasi. Aliran material, kas, dan informasi merupakan keseluruhan elemen dalam rantai pasok yang perlu diintegrasikan (Chen et al. dalam Anatan dan Ellitan 2008). Integrasi dan kolaborasi merupakan aspek kunci dari manajemen rantai pasok. Integrasi dapat dibagi, baik secara internal maupun eksternal. Bagian internal termasuk di dalamnya adalah kelompok pemasaran, manajemen pasokan, keuangan, produksi, logistik, teknologi informasi dalam perusahaan. Sedangkan pihak eksternal seperti, perusahaan manufaktur, pemasok, bagian transportasi, distributor, pengecer, dan pelanggan. Menurut McKeller (2014), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kolaborasi tersebut, diantaranya adalah: Tujuan: setiap fungsi yang dijalankan oleh perusahaan anggota rantai pasok
yang saling terkait harus memiliki tujuan yang sama. Aktivitas penjadwalan, pendanaan, penetapan harga, biaya manajemen, merupakan beberapa hal yang secara bersama-sama perlu diperhatikan dan dikembangkan secara bersama-sama sehingga setiap anggota dalam rantai pasok memiliki kesepakatan dan mengetahui peranannya
Jarak pandang: kemampuan untuk memprediksi dan mengkomunikasikan pola permintaan pada rantai pasok mempengaruhi kepuasan konsumen, kapasitas manufaktur, dan manajemen persediaan. Hal ini tentu menjadi sangat penting diperhatikan, dimana informasi dapat dibagikan dan dikoordinasikan. Teknologi menjadi salah satu hal yang dapat membantu kelancaran proses tersebut
berhubungan dengan manajemen penentuan bahan baku atau pasokan dan pengendalian biaya
Sumber informasi: hal ini dibutuhkan secara internal dan eksternal, seperti sumber keuangan, infrastruktur, dan tenaga kerja. Anggota-angota dalam rantai pasok harus terus berusaha memperhatikan potensi-potensi terkait hal tersebut dalam rantai pasok
Komunikasi: intensitas dan kejelasan komunikasi merupakan kunci kesuksesan secara internal dan eksternal dalam manajemen rantai pasok. Dukungan infratsruktur dan teknologi terhadap komunikasi harus terus ditingkatkan. Melalui komunikasi yang baik terbuka peluang untuk saling percaya diantara anggota rantai pasok
Pembagian informasi: merupakan aset bagi setiap pihak dalam rantai pasok. Secara internal, fungsi dan kinerja dapat ditingkatkan melalui dialog dan kerjasama. Secara ekternal, hal ini lebih sulit karena adanya kemungkinan hubungan menjadi pesaing sehingga membatasi keterbukaan informasi struktur modal dan biaya produksi.
Kepercayaan: hal ini menjadi sangat berharga saat terjadi risiko atau masalah ketidakpastian. Kolaborasi rantai pasok menjadi lebih mudah saat setiap pihak dapat memahami budaya, nilai keadilan, dan kejujuran dari pihak lain yang bekerjasama dengannya.
Keadilan: hal ini selalu menjadi bahan penilaian bagi setiap orang. Penilaian negatif terkait nilai keadilan seseorang membuat hubungan menjadi tidak baik. Kolaborasi rantai pasok membutuhkan komitmen. Namun, usaha sering berjalan tidak sesuai prediksi. Dalam hal ini, dibutuhkan pengembalian yang adil atas komitmen yang memang sudah dijalankan.
Logistik pada Rantai Pasok
Logistik rantai pasok, disebut juga distribusi fisik, melibatkan perencanaan, implementasi, dan kendali aliran fisik barang, jasa, dan informasi yang berhubungan, dari titik asal ke titik konsumsi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Artinya, logistik rantai pasok merupakan aktivitas mengirimkan produk yang tepat ke pelanggan pada waktu dan lokasi yang tepat pula (Kotler dan Amstrong 2008). Tujuan logistik rantai pasok adalah menyediakan tingkat layanan kepada pelanggan dengan biaya termurah. Aktivitas distribusi merupakan bagian penting dalam perencanaan rantai pasok dan membutuhkan kerjasama dari pihak-pihak dalam rantai pasok. Aktivitas logistik sangat mempengaruhi keberhasilan manajemen rantai pasok (McKeller 2014). Efektivitas dan efisiensi fungsi logistik ditunjukkan oleh keuntungan atau kerugian dari anggota rantai pasok.
proses perpindahan dan pengiriman oleh pihak internal, baik ke pusat distribusi maupun ke pelanggan lain. Bahan baku atau material diterima, kemudian disimpan, sebelum dikirim selanjutnya. Pihak pengelola gudang memiliki tanggung jawab mengetahui dan merekam jumlah persediaan sebagai bahan dalam proses pengambilan keputusan seperti jumlah pesanan berikutnya. Informasi terkait persediaan ini penting diperoleh dan dilaporkan. Aktitas selanjutnya adalah kontrol persediaan, yakni proses mengontrol jumlah dan jenis persediaan. Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi jumlah persediaan harus dapat dipahami dan diatasi untuk menjaga kestabilan jumlah persediaan. Jumlah persediaan yang terlalu sedikit dapat menurunkan kepuasan konsumen atau pelanggan. Sedangkan apabila terlalu banyak, dapat menimbulkan biaya, kerugian, dan tekanan dalam proses penjualan. Aktivitas lainnya adalah pengemasan karena logistik membutuhkan pengemasan bahan baku atau produk saat pengiriman barang. Hal ini juga menjadi penting agar aliran bahan baku atau produk dapat efektif di sepanjang rantai pasokan. Aktivitas utama lainnya adalah pemenuhan pesanan. Pesanan yang diterima kemudian diproses, disiapkan, dan berikutnya disditribusikan. Pemenuhan pesanan merupakan hal yang penting dalam menjaga kepuasan dan hubungan baik dengan pelanggan. Bahan baku atau produk harus didistribusikan dengan waktu, bentuk, dan lokasi yang tepat. Semua proses tersebut tentu harus mempertimbangkan biaya yang efisien pula. Aktivitas berikutnya adalah pengembalian dalam logistik. Untuk menjaga kepuasan pelanggan atau konsumen, organisasi atau perusahaan menerima produk yang dikembalikan oleh konsumen atau pelanggan. Apabila terlalu besar jumlah yang dikembalikan tentu dapat mengurangi keuntungan atau menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Terdapat beberapa alternatif yang dapat dilakukan terhadap produk-produk yang dikembalikan, seperti menjadikannya bagian dari persediaan perusahaan, yang akan dijual pada waktu mendatang. Proses lain seperti memperbaiki, merakit kembali produk, atau bahkan mendaur ulang produk dengan memanfaatkan bagian produk yang dikembalikan. Setelah proses tersebut, perusahaan dapat menjual kembali produk tersebut.
Saluran Pemasaran
Saluran pemasaran adalah rangkaian lembaga perantara yang terlibat dalam proses penyampaian produk produk atau jasa untuk dikonsumsi (Stern et al. 1996). Rangkaian tersebut dapat menjadi sejumlah alternatif dalam mengalirkan produk dari produsen sampai ke konsumen. Berdasarkan pendekatan ekonomi, panjangnya saluran pemasaran dipengaruhi oleh jumlah dan konsentrasi pembeli di pasar, volume produk yang dialirkan, dan biaya pemasaran seperti biaya operasional dan penyimpanan (Kohls dan Uhl 2002). Berdasarkan pendekatan manajemen, saluran pemasaran merupakan penghubung antara manajemen operasional, logistik, dan pasokan untuk membuat produk tersedia pada waktu, jumlah, dan lokasi yang tepat (Pride dan Ferrell 2014). Kepuasan konsumen merupakan hal penting dalam keputusan saluran pemasaran. Kebutuhan dan perilaku konsumen penting diperhatikan pihak-pihak dalam saluran pemasaran.
Saluran pemasaran merupakan hal yang sangat penting bagi rantai pasok. Saluran pemasaran merupakan tempat prosesnya menciptakan nilai tambah untuk kepuasan konsumen. Nilai tersebut dikembangkan, diitegrasikan, dan dikoordinasi melalui aktivitas anggota yang terlibat dalam rantai pasok. Saluran pemasaran merupakan bagian terakhir pada domain manajemen rantai pasok. Saluran pemasaran berperan sebagai pengendali input yang dibutuhkan dalam penciptaan nilai tambah bagi konsumen. Terdapat domain lainnya pada pendekatan manajemen rantai pasok, yakni logistik, pembelian, dan operasi. Domain tersebut berperan sebagai input yang terkoordinasi dan terintegrasi dengan fungsi penciptaan nilai tambah oleh saluran pemasaran (Kozlenkova et al. 2015)
Menurut Kotler dan Amstrong (2008), dalam menyediakan produk dan jasa ke konsumen, anggota saluran pemasaran menciptakan nilai tambah waktu, tempat, atau kepemilikan. Anggota saluran pemasaran melakukan banyak fungsi. Pertama fungsi informasi, yakni mengumpulkan dan mendistribusikan riset pemasaran dan informasi intelijen tentang pelaku dan kekuatan dalam lingkungan pemasaran yang diperlukan untuk perencanaan dan membantu terjadinya pertukaran. Kedua, fungsi promosi, yakni mengembangkan dan mengomunikasikan penawaran secara persuasif. Ketiga, fungsi kontak, yakni berkomunikasi dengan pembeli prospektif. Keempat, fungsi penyesuaian, yakni membentuk dan menyesuaikan penawaran sesuai dengan kebutuhan pembeli, dimana mempengaruhi kegiatan manufaktur, pemilahan, perakitan, dan pengemasan. Kelima, fungsi negosiasi, yakni mencapai kesepakatan harga dan syarat lainnya untuk pemindahan kepemilikan. Keenam, fungsi distribusi fisik, yakni mengirimkan dan menyimpan barang. Ketujuh, fungsi pendanaan, yakni mendapatkan dan menggunakan dana untuk biaya kerja saluran. Kedelapan, fungsi pengambilan risiko dengan mengansumsikan risiko pelaksanaan kerja saluran.
fasilitas merupakan fungsi yang memperlancar fungsi pertukaran dan fisik. Fungsi ini terdiri dari fungsi standarisasi, keuangan, penanggungan risiko, intelijen pemasaran, komunikasi, dan promosi.
Menurut Pride dan Ferrell (2014), keputusan mengenai pemilihan saluran pemasaran merupakan hal yang lebih kompleks dibandingkan keputusan lain, seperti penetapan harga oleh perusahaan atau strategi promosi. Hal ini karena terdapatnya komitmen yang pada umumnya dalam jangka panjang diantara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat. Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan saluran pemasaran, yakni:
Karakteristik pelanggan: Karakter dari target konsumen yang ingin dicapai mempengaruhi panjangnya saluran pemasaran. Misalnya, jumlah pembelian dan tempat tinggal konsumen tersebut
Atribut produk: Jenis dan sifat produk mempengaruhi panjang saluran dan cara pendistribusian. Misalnya, produk dengan sifat mudah rusak atau busuk tentu membutuhkan penanganan khusus dan saluran pemasaran yang pendek. Contoh lain adalah produk mahal dengan citra sebagai barang ekslusif menggunakan saluran pemasaran dengan jumlah distributor sedikit Jenis organisasi: Ukuran organisasi mempengaruhi kemampuan atau posisi
tawar organisasi tersebut. Semakin besar ukuran organisasi, posisi tawarnya dapat menjadi lebih baik ketika ingin memperoleh kesepakatan dengan pihak lain. Selain itu, dengan ukuran yang semakin besar, kemampuan organisasi untuk melakukan bauran pemasaran atau aktivitas pendistribusian dapat semakin baik atau efisien
Persaingan: Semakin tingginya tingkat persaingan pada bisnis yang dihadapi oleh organisasi maka akan menyebabkan dibutuhkannya kemampuan meningkatkan efisiensi biaya, termasuk biaya produksi dan pemasaran. Hal ini terutama dibutuhkan menghadapi pasar dengan struktur mendekati persaingan sempurna atau monopolistik
Lingkungan: Pengaruh lingkungan, seperti lingkungan ekonomi, akan mempengaruhi pemilihan saluran pemasaran. Misalnya, saat kondisi ekonomi kurang baik, akan dipilih saluran dengan biaya terendah meskipun disisi lain dapat menurunkan kepuasan konsumen. Lingkungan lain misalnya berasal dari aturan pemerintah. Hal ini dapat mempengaruhi biaya dan kelancaran saluran pemasaran ke luar negeri
Karakter perantara: Perantara yang dianggap tidak dapat membantu mempromosikan produk yang ditawarkan organisasi kepada konsumen maka akan mempengaruhi keputusan organisasi memilih saluran pemasaran lain. Hal ini semakin dapat mempengaruhi keputusan organisasi, apabila jasa perantara dianggap kurang bermanfaat bagi kelancaran pemasaran organisasi.
Efisiensi Pemasaran
efisiensi. Pengukuran efisensi pemasaran dapat menggunakan pendekatan efisiensi operasional/teknis dan efisiensi harga (Khols dan Uhls 2002). Efisiensi operasional digunakan untuk mendekati efisensi produksi sedangkan efisiensi harga digunakan untuk mendekati efisiensi distribusi dan kombinasi produk optimum. Efisiensi operasional diukur dengan membandingkan output pemasaran terhadap input pemasaran. Output berupa kepuasan konsumen bukan hanya terhadap fisik produk, namun termasuk atribut lain dan nilai tambah produk. Input didekati melalui biaya pemasaran yang dikeluarkan. Efisiensi harga berhubungan dengan keefektifan pemasaran sehingga harga dapat digunakan untuk menilai hasil kerja proses pemasaran dalam menyampaikan ouput pertanian dari daerah produsen ke konsumen. Efisiensi harga menekankan kemampuan sistem pemasaran sesuai dengan keinginan konsumen (Dahl dan Hammond 1977). Melalui efisiensi ini, diukur pula seberapa kuat harga pasar menggambarkan sistem produksi dan biaya pemasaran. Usaha peningkatan efisiensi penetapan harga ini juga harus memungkinkan adanya perbaikan dalam tata cara pelaksanaan pembelian, penjualan, dan harga dalam proses pemasaran sehingga terdapat keuntungan yang layak bagi lembaga pemasaran untuk mengantarkan output pertanian dari daerah produksi ke daerah konsumsi. Efisiensi harga pada umumnya diukur melalui korelasi harga komoditas yang sama pada tingkat pasar yang berbeda.
Pendekatan yang digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran berbeda dengan pendekatan yang digunakan untuk mengukur efisensi atau kinerja rantai pasok. Menurut Beamon (1998), pengukuran kinerja rantai pasok dapat secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, kinerja diukur berdasarkan kepuasan konsumen, fleksibilitas atau derajat respon rantai pasok terhadap fluktuasi permintaan, integrasi arus informasi dan material, manajemen risiko yang efektif, dan kinerja pemasok. Secara kuantitatif, kinerja pemasok diukur berdasarkan biaya dan respon pelanggan. Berdasarkan biaya, kinerja diukur melalui minimisasi biaya, maksimisasi penjualan, maksimisasi pendapatan, minimisasi investasi persediaan, dan maksimisasi ROI (Return on Investment). Berdasarkan respon pelanggan, kinerja rantai pasok diukur melalui maksimisasi pemenuhan pesanan, minimisasi keterlambatan produk, minimisasi waktu merespon konsumen, minimisasi waktu yang dibutuhkan produk selama proses (lead time), dan minimisasi duplikasi fungsi.
Marjin pemasaran
Marjin pemasaran dapat dianalisis melalui pendekatan kurva berikut :
Gambar 4 Kurva Marjin Pemasaran Sumber: Dahl dan Hammond (1977) Keterangan :
Q = jumlah barang Pr = harga tingkat eceran Pf = harga tingkat petani
Sr = kurva penawaran tingkat pasar eceran/turunan Sf = kurva penawaran tingkat petani/primer
Dr = kurva permintaan tingkat pasar eceran/turunan Df = kurva permintaan tingkat petani/sekunder
Menurut Daly dalam Asmarantaka (2012), harga yang dibayarkan kosumen merupakan harga di tingkat pengecer, yaitu merupakan perpotongan antara kurva permintaan primer (primary demand curve) dengan kurva penawaran turunan (derived supply curve). Harga di tingkat petani merupakan potongan antara kurva permintaan turunan (derived demand curve) dengan kurva penawaran primer (primary supply curve). Penawaran primer sendiri pada umumnya berupa bahan mentah hasil panen petani, sedangkan penawaran turunan merupakan produk olahan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen akhir.
Berdasarkan Gambar 4 dapat diukur nilai marjin pemasaran atau value of the marketing margin (VMM) yang dinikmati oleh lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran komoditi pertanian. Nilai marjin pemasaran merupakan hasil kali antara perbedaaan harga di tingkat pengecer dengan harga di tingkat petani dengan jumlah yang ditransaksikan (VMM= (Pr-Pf). Q)
Marjin pemasaran yang semakin besar belum tentu menunjukkan suatu pemasaran semakin tidak efisien. Apabila marjin pemasaran besar dan biaya untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran juga besar, agar komoditi pertanian yang dihasilkan sesuai dengan keinginan konsumen maka keuntungan pemasaran menjadi kecil. Untuk menentukan apakah tingginya marjin pemasaran menyebabkan ketidakefisienan pemasaran maka dalam menganalisis pemasaran harus mempertimbangkan aspek-aspek berikut :
1. Penggunaan teknologi baru dalam proses produksi dapat menekan biaya produksi sehingga marjin pemasaran tampak cukup besar
Df P
Pr Pf
Sr
Sf
Dr
Qr,Qf
2. Adanya kecenderungan konsumen untuk mengkonsumsi produk jadi, walaupun harganya lebih mahal
3. Adanya spesialisasi produksi yang pada akhirnya dapat menaikkan biaya pemasaran terutama biaya transfer
4. Adanya tambahan biaya pengolahan dan penyimpanan untuk meningkatkan kegunaan bentuk
5. Meningkatnya upah buruh dan tenaga kerja, terutama di sub sektor pemasaran eceran.
Artinya, marjin dipengaruhi oleh biaya pemasaran. Secara umum, marjin yang kecil menunjukkan nilai yang semakin efisien secara operasional. Namun, hal ini tidak mutlak karena mempertimbangkan kepuasaan dari produsen, lembaga-lembaga pemasaran, dan konsumen yang terlibat dalam saluran pemasaran. Pada dasarnya, marjin pemasaran harus menggambarkan aktivitas nilai tambah yang dilakukan oleh lembaga pemasaran.
Di sisi lain, menurut Porter (1985), besarnya marjin tergantung pada kemampuan organisasi dalam mengatur atau menghubungkan seluruh aktivitas pada rantai nilai suatu produk. Aliran informasi dan produk diantara setiap aktivitas merupakan hal yang sangat penting untuk kesuksesan rantai nilai. Porter (1985) membedakan aktivitas bisnis rantai menjadi aktivitas utama dan pendukung. Aktivitas utama merupakan aktivitas bisnis yang terkait langsung dengan usaha penciptaan produk atau jasa yang ditawarkan kepada pelanggan. Aktivitas pendukung merupakan aktivitas yang bertujuan berjalannya aktivitas utama dengan baik.
Logistik masuk, operasi, logistik keluar, pemasaran atau penjualan, jasa, merupakan bagian-bagian yang termasuk dalam aktivitas utama. Logistik masuk berhubungan dengan penerimaan, penyimpanan, dan pendistribusian input. Operasi berhubungan dengan pengolahan atau pengubahan input menjadi produk jadi. Logistik keluar berkaitan dengan pengumpulan, penyimpanan, dan pendistribusian produk ke pembeli. Pemasaran dan penjualan berkaitan dengan pembelian produk dan jasa oleh konsumen, termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian tersebut. Jasa berkaitan dengan kegiatan pelayanan yang dapat mempertahankan atau meningkatkan nilai produk. Sedangkan yang termasuk pada aktivitas pendukung adalah pengadaan input atau sumber daya oleh perusahaan, pengembangan teknologi, manajemen sumber daya manusia, dan infrastruktur seperti kualitas manajemen dan sistem informasi dalam perusahaan.
Farmer’s Share
mempertimbangkan fungsi-fungsi dan manfaat yang dihasilkan oleh lembaga pemasaran dalam saluran tersebut (Asmarantaka 2012). Artinya, nilai tambah yang dihasilkan oleh lembaga pemasaran menjadi hal penting dalam dalam menentukan efisiensi pemasaran. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi besarnya farmer’s share seperti jumlah lembaga yang terlibat dalam saluran pemasaran, biaya pengolahan, biaya transportasi, keawetan, dan jumlah produk.
Rasio Keuntungan dan Biaya Pemasaran
Rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran yang dikeluarkan merupakan salah salah satu indikator dalam efisiensi operasional pemasaran. Apabila rasio tersebut besarnya sama dengan satu maka menunjukkan bahwa besarnya keuntungan terhadap biaya pemasaran yang dikeluarkan sama. Apabila rasio tersebut lebih besar daripada satu, maka keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Rasio keuntungan terhadap biaya yang semakin merata pada setiap lembaga dalam saluran pemasaran, menunjukkan bahwa pemasaran akan semakin efisien secara operasional.
Data Envelopment Analysis (DEA)
Data Envelopment Analysis (DEA) petama kali diperkenalkan oleh Charnes dan Cooper (1978). DEA merupakan suatu metode untuk mengevaluasi efisiensi dari suatu unit pengambilan keputusan atau DMU (decision-making unit). DMU pada DEA dianggap sebagai produsen yang akan dianalisis. Proses produksi oleh produsen tersebut melibatkan sejumlah input dan output. Setiap produsen atau DMU memiliki level output dan input yang bervariasi. Asumsi penting pada metode ini adalah setiap produsen atau DMU dapat menghasilkan hal yang sama dengan produsen lainnya, apabila produsen tersebut telah bekerja secara efisien. Pada penelitian ini, DMU yang dipilih adalah saluran pemasaran beras dari Kecamatan Cibeber. Efisiensi dari setiap saluran akan dibandingkan dengan mempertimbangkan hubungan input dan output pada saluran tersebut.
DEA merupakan pendekatan non-parametrik yang dapat mengukur efisiensi teknis, yakni kemampuan suatu unit untuk menghasilkan output maksimum pada input tertentu. Efisiensi teknis dapat pula diartikan sebagai kemampuan suatu unit menghasilkan output tertentu dnegan input minimum. DEA merupakan model yang bisa mencakup banyak output dan input tanpa perlu menentukan bobot untuk tiap variabel sebelumnya dan penjelasan eksplisit mengenai hubungan fungsional antara output dan input.
Analisis DEA berdasarkan evaluasi terhadap efisiensi relatif dari DMU yang sebanding. DMU yang efisien akan membentuk garis frontier. Apabila DMU berada pada garis frontier maka DMU tersebut relatif efisien dibandingkan DMU lain dalam peer groupnya. Melalui DEA, ditunjukkan pula DMU yang dapat menjadi referensi bagi DMU yang tidak efisien (Seiford dan Thrall 1990).
Keunggulan metode DEA adalah:
1. Mampu menangani banyak input dan output
4. Efisiensi DMU dapat dibandingkan dengan DMU lainnya Keterbatasan DEA adalah:
1. Suatu teknik parametrik yang tidak menggunakan suatu tes hipotesa yang berkelanjutan
2. Merupakan extreme point technique, kesalahan pengukuran bisa berakibat fatal
3. Nilai pada DEA terdiri dari input yang sensitif sehingga menghasilkan spesifikasi pada output
4. Mengukur produktivitas relatif dari DMU saja, bukan produktivitas absolut 5. Perumusan linear programming yang terpisah pada setiap DMU
(Rajeshekar dalam Setiawan 2009)
Terdapat dua orientasi yang digunakan dalam metode pengukuran efisiensi dengan DEA, yaitu:
1. Orientasi input
Orientasi ini melihat efisiensi sebagai pengurangan penggunaan input meski memproduksi output dalam jumlah yang tetap. Pendekatan ini sesuai pada industri yang pembuat keputusannya memliki kontrol yang besar terhadap biaya operasional
2. Orientasi output
Orientasi yang melihat efisiensi sebagai peningkatan output secara proporsional dengan menggunakan input yang sama. Pendekatan ini sesuai untuk industri dimana unit pembuat keputusan diberikan kuantitas sumberdaya yang tetap dan diminta untuk memproduksi sebanyak mungkin dari sumber daya tersebut. Model outpu memiliki model yang sama dengan input, hanya berbeda orientasi, namun mengestimasi frontier yang sama. Pendekatan optimasi pada DEA dapat melalui model constant return to scale yang dikembangkan oleh Charnes, Cooper,dan Rhodes (model CCR) pada tahun 1978. Model ini mengansumsikan bahwa rasio antara penambahan input dan output adalah sama. Artinya, apabila input ditambah sebesar x kali, maka ouput meningkat sebesar x kali juga. Pada pendekatan ini, DMU diansumsikan beroperasi pada skala yang optimal. Berikut merupakan persamaan linearnya:
ή S
1=S1 =unit keputusan yang akan dievaluasi m =banyaknya input
Vi =bobot dari input Xij =nilai input
penambahan input sebesar x kali maka output yang dihasilkan bisa lebih besar atau kecil dari x kali (Seiford dan Thrall 1990).
Hubungan antara CRS, VRS, scale efficiency, dan juga optimasi orientasi input serta ouput ditunjukkan pada Gambar 5 berikut.
Gambar 5 Hubungan CRS, VRS, dan Scale Efficiency Sumber: Avkiran (2006)
Garis efisien frontier CRS adalah ON. Sedangkan garis frontier VRS adalah PQR. DMU A adalah contoh unit yang tidak efisien. Setelah membawa unit A ke frontier VRS (K) dengan meminumkan input Z dan mempertahankan output Y konstan maka akan diperoleh PTE unit A adalah Zk/Za. Jika menggunakan asumsi maksimalisasi output maka PTE unit A adalah Ya/Ym. Apabila A diproyeksikan ke L maka orientasi yang digunakan adalah efisiensi CRS. Dengan orientasi minimisasi input maka efisiensi CRS adalah rasio Zl/Za. Sedangkan untuk maksimisasi output, rasio efisiensinya adalah Ya/Yn. Karena slope frontier efisiensi CRS adalah satu, maka Zl/Za=Ya/Yn. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan input atau output tidak akan merubah nilai efisiensi CRS. Di sisi lain, scale efficiency memiliki input Zl/Zk dan output Ym/Yn. Oleh karena itu, dengan mengubah asumsi scale dari CRS ke VRS, maka akan semakin banyak unit yang efisien ditemukan. Hal ini karena frontier VRS menyelimuti titik data lebih dekat daripada frontier CRS.
Integrasi Pasar
antar pasar yang berbeda lokasi, namun pada level lembaga yang sama (Asmarantaka 2012).
Integrasi pasar, sebagai indikator efisiensi pemasaran, memiliki perbedaan dengan konsep integrasi pada manajemen rantai pasok. Pada manajemen rantai pasok, konsep integrasi merupakan aktivitas kolaboratif antara perusahaan pengolah bahan baku dengan anggota rantai pasok lainnya. Kolaborasi tersebut mengatur proses-proses yang terdapat di dalam dan luar organisasi. Mekanisme integrasi dapat berlangsung ke depan maupun ke belakang. Integrasi ke depan terjadi diantara pemasok dengan perusahaan pembeli. Integrasi ke belakang terjadi diantara perusahaan pembeli tersebut dengan pelanggannya (Krishnapriya dan Rupashree 2014). Selain untuk memperlancar aliran produk pada rantai pasok, integrasi juga dapat membantu memperlancar aliran informasi pada rantai pasok. Peningkatan integrasi pada rantai pasok dapat meningkatkan informasi terkait kebutuhan pelanggan. Hal ini dapat membantu mempercepat anggota rantai pasok untuk menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan pelanggannya (Sezen 2008).
Beberapa pendekatan yang sering digunakan dalam mengukur integrasi pasar adalah metode korelasi harga yang bergerak secara bersamaan pada pasar yang diuji, regresi sederhana, kointegrasi dan Vector Autoregression (VAR). Analisis integrasi pasar menggunakan metode-metode ini menggunakan data harga time series sebagai inputnya.
Menurut Natawijaya (2001), metode korelasi dapat digunakan apabila arah perdagangan antar pasar tidak terlalu jelas dan penelitian tidak fokus pada arah transmisi harga. Kelemahannya adalah hanya dapat menjelaskan keterkaitan antarpasar, namun tidak dapat menentukan besarnya pengaruh antar pasar yang diuji. Selain itu, kelemahannya adalah memberikan kesimpulan yang keliru. Hal ini disebabkan pergerakan harga yang terjadi akibat pasar memiliki kesamaan faktor yang mempengaruhi harga. Harga di kedua pasar dapat menunjukkan korelasi yang tinggi, namun tidak terintegrasi.
Berikutnya, adalah metode regresi sederhana. Metode ini menjelaskan bahwa harga di suatu pasar adalah fungsi dari harga di pasar lain. Kelemahan metode ini adalah menunujukkan nilai keeratan hubungan pasar yang terintegrasi. Kelemahannya adalah tidak dapat memisahkan harga sebagai variabel bebas maupun terikat karena metode memiliki sifat inverse.
Berikutnya adalah metode uji kointegrasi. Metode ini dapat membuktikan keterkaitan harga pada jangka pendek dan jangka panjang antar pasar dalam suatu kawasan. Kelemahan metode ini adalah tidak terdapat prosedur sistematis untuk estimasi vektor kointegrasi berganda secara terpisah. Kelemahan lainnya adalah tahapan estimasi dalam metode terjadi dalam dua tahap sehingga pendugaan yang salah pada tahap satu akan berlanjut ke tahap dua.
tersebut terkointegrasi. Pada metode VAR ini juga ditunjukkan hubungan jangka pendek. Kecepatan transmisi harga dari setiap level pasar juga ditunjukkan dalam metode ini (Juanda dan Junaidi 2012).
Menurut Nachrowi dan Usman (2006), VAR menjawab kesulitan yang muncul akibat model struktural yang harus mengacu pada teori. Model VAR tidak banyak bergantung pada teori, namun perlu ditentukan:
1. Variabel yang saling berinteraksi yang perlu dimasukkan ke dalam sistem 2. Banyaknya variabel jeda yang perlu diikutsertakan dalam model yang
diharapkan dapat menangkap keterkaitan antar variabel dalam sistem Kunggulan model VAR adalah:
1. Model VAR merupakan model sederhana yag tidak perlu membedakan mana variabel endogen dan eksogen. Semua variabel pada model VAR dianggap sebagai variabel endogen
2. Cara estimasi model yang mudah karena menggunakan OLS pada setiap persamaan secara terpisah
3. Peramalan menggunakan VAR, pada hal tertentu, lebih baik dibandingkan dengan persamaan simultan yang lebih kompleks
Kelemahan model VAR adalah:
1. Model bersifat ateoritik karena tidak memanfaatkan teori atau informasi terdahulu sehingga sering disebut model yang tidak struktural
2. Tujuan utama model VAR adalah untuk peramalan sehingga model kurang sesuai untuk menganalisis kebijakan
3. Pemilihan banyaknya lag dapat menimbulkan masalah. Misalnya, apabila peneliti memiliki 3 variabel bebas dengan masing-masing lag 8, maka peneliti harus mengistimasi minimal 24 parameter. Hal ini menyebabkan jumlah data yang dimiliki harus banyak
4. Semua variabel VAR harus stasioner terlebih dahulu. Jika tidak, maka harus dilakukan transformasi terlebih dahulu
5. Interpretasi koefisien dari model VAR tidak mudah.