PEMBAGIAN ZAMAN MENURUT ILMU GEOLOGI DAN MANUSIA TERTUA (PURBA DAN PRA-AKSARA) YANG PERNAH DITEMUKAN DI PULAU
JAWA ARTIKEL
diajukan untuk memenuhi tugas ujian tengah semester mata kuliah studi masyarakat Indonesia yang diampu
Dr. Didin Saripudin, S.Pd, M.Si Drs. Syarif Moeis
oleh
M. Rizqiawan. Nugraha NIM 1400658
DEPARTEMEN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Menurut ilmu falaq, ilmu yang mempelajari bintang-bintang, maka dunia mula-mula berupa bola gas yang panas luar biasa dan berputar pada porosnya sendiri. Karena perputaran yang terjadi secara terus-menerus maka gas tadi semakin padat dan terjadilah kulit bumi. Kulit bumi ini makin lama makin tebal dan panas dari suhu tadi menjadi turun. Bagian dalamnya dari bumi sampai sekarang pun belum padat, masih seperti lumpur yang sangat panas (magma yang keluar jika gunung api meletus). Proes itulah yang menyebabkan terjadinya pembentukan dunia yang kita rasakan kini.
Menurut ilmu geologi, yaitu ilmu yang mempelajari kulit bumi, sejarah bumi, struktur bumi, maka waktu terjadinya dunia sampai kini dapat dibagi atas zaman-zaman sebagai berikut:
1. Archaeikum/Arkaekum/Azoikum (2500 juta tahun)
Zaman arkaekum merupakan zaman tertua. Zaman ini belangsung sekitar 2500 juta tahun. Arti dari Arkaekum sendiri ialah “A” yang berarti tidak, “Chaeik/kaek/zoik” yang berarti kehidupan dan “Kum” yang berarti zaman, maka dari itu zaman ini disebut dengan zaman tertua yang belum memiliki tanda-tanda kehidupan. Pada saat itu keadaan bumi masih panas sekali sehingga tak ada kehidupan sedikit pun. Baru pada akhir zaman ini usai mulailah nampak tanda-tanda kehidupan sedikit demi sedikit. 2. Paleozoikum (340 juta tahun)
3. Mesozoikum (140 juta tahun)
Zaman ini disebut dengan zaman sekunder atau zaman kedua, berlangsung kira-kira 140 juta tahun. Pada zaman ini kehidupan berkembang pesat. Menurut ilmu geologi di zaman ini hidup hewan-hewan reptil dengan bentuk yang sangat besar. Hewan amphibi, ikan, reptil bertambah begitupun dengan daratan dan perairan semakin luas. Fosil-fosil dari reptil raksasa itu ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia. Dinosaurus misalnya sampai 12 meter panjangnya, sedangkan Atlantosaurus yang ditemukan di Amerika lebih dari 30 meter dan binatang lain dapat ditemukan di Museum Houston (Asmito, 1988: 2). Pemulaan jenis burung sudah mulai nampak, begitu pula binatang menyusui (mamalia) namun masih sedikit sekali. Zaman sekunder biasa disebut dengan zaman reptil, karena banyak ditemukan fosil atau sisa-sisa kerangka reptil raksasa di zaman ini.
4. Neozoikum/Kenozoikum (60 juta tahun)
Zaman ini disebut dengan zaman kehidupan baru, berlangsung kira-kira 60 juta tahun yang lalu sampai kini. Zaman ini dibagi atas dua bagian, yaitu zaman tersier (ketiga) dan kuartier (keempat).
a. Tertier
Kehidupan pada masa tersier ini berupa binatang-binatang menyusui berkembang dengan sepenuhnya, sedangkan hewan-hewan reptil raksasa musnah. Makhluk primata pada zaman ini sudah nampak. Kera sudah banyak dan jenis kera-manusia sudah ada pula dalam akhir zaman tersier ini
b. Quartier
Zaman ini merupakan zaman yang terpenting bagi manusia, karena pendapat umum menyetujui bahwa zaman ini mulai ada manusia purba. Bukti fosil sudah banyak ditemukan, zaman ini dimulai sejak 600.000 tahun yang lalu. Zaman ini kemudian dibagi lagi menjadi: zaman diluvium (pleistocen) dan aluvium (holocen).
ada kalanya naik dan ada kalanya turun. Jika panas itu turun sampai banyak, maka es itu mencapai luas yang sebesar-besarnya. Akibatnya ialah bahwa air laut menjadi turun (glasial). Sebaliknya, jika ukuran panas itu naik, maka es itu akan mencair. Daerah yang diliputi es menjadi kurang dan permukaan air laut naik (interglasial). Zaman-zaman glasial dan interglasial terus silih berganti selama masa Diluvium. Hal ini menimbulkan berbagai perubahan iklim dan persebaran flora dan fauna diseluruh dunia yang kemudian mempengaruhi keadaan tanah serta hidup yang ada di atasnya. Keadaan iklim, cuaca pada zaman prasejarah tentunya berbeda dengan keadaan iklim dan cuaca pada zaman sekarang. Keadaan iklim Indonesia sekarang berubah tiap 6 bulan, yaitu musim kemarau (Juni-September), dipengaruhi oleh udara besar-besaran dari kontinental Australia dan musim penghujan Desember-Maret, dipengaruhi oleh udara laut. Masa transisi antara dua musim kemarau dan penghujan terjadi pada bulan April-Mei dan Oktober-November.
Zaman Aluvium yang dimulai kira-kira 20.000 tahun yang lalu hingga dewasa sekarang ini masih tetap berlangsung. Dari zaman ini diyakini terdapatlah nenek moyang dari manusia sekarang. Bahkan manusianya sudah sebangsa, sejenis dengan kita, yaitu manusa “Homo Sapiens” atau manusia yang cerdas. Indonesia sendiri telah memberikan sumbangan yang sangat banyak kepada dunia ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah asal-usul manusia, karena banyak ditemukan bekas-bekas manusia tertua. Di Indonesia sampai kini ditemukannya baru di pulau Jawa. Maka Indonesia menduduki tempat yang penting, ditinjau dari pandangan internasional karena fosil-fosil manusia yang ditemukan di Pulau Jawa berasal dari segala zaman pleistocen sehingga nampak jelaslah gambaran perkembangan manusia pada masa lampau.
Manusia Tertua (Purba dan PraAksara) yang pernah ditemukan di Pulau Jawa
manusia diciptakan setelah dunia lengkap dengan segala isi serta segala jenis makhluknya yang lain.
Di Indonesia temuan pertama manusia praaksara ditemukan di dekat desa Trinil (Jawa Timur) pada tahun 1898, diperoleh dari penyelidikan Eugene Dubois yang memnemukan tengkorak atas, rahang bawah dan sebuah tulang paha. Tinggi dari fosil ini kira-kira 165-185 cm, volume otak 900 cc dan termasuk kedalam lapisan pleistocen tengah, ia memberi nama manusia itu dengan sebutan Pithecanthropus Erectus (manusia kera yang berjalan tegak). Fosil Pithecanthropus Erectus ini banyak ditemukan di Mojokerto, Kedungtrubus, Sangiran, Sabungmacan dan Ngandong. Hidupnya mungkin di lembah-lembah atau di kaki pegunungan dekat perairan darat di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mungkin merupakan padang rumput yang diselingi dengan pepohonan. Geraham masih besar, rahang kuat, tonjolan kening tebal, serta melintang pada dahi dari pelipis ke pelipis dan tonjolan belakang masih sangat terlihat. Dagu belum ada dan hidungnya lebar. Hasil kebudayaan yang diciptakan oleh Pithecanthropus ini dimungkinkan ialah berkebudayaan pacitan (kapak genggam) jika dilihat dari persamaan manusia di Peking (Tiongkok) yang bernama Sinanthropus Pekinensis. Sebelum pecah Perang Dunia II, telah ditemukan lebih dari 20 fosil. Penemuan itu antara lain:
a. Pada tahun 1936 sampai 1941, G.H.R. von Koningswald menemukan fosil tengkorak kanak di dekat Mojokerto. Fosil ini diperkirakan masih muda sekali dan sulit dibedakan apakah itu termasuk Pithec ataukah Homo, namun makhluk itu digolongkan oleh von Koenigswald kedalam Homo dan dinamakan Homo Mojokertensis. Berbadan tegap, mukanya mempunyai tonjolan kening yang tebal dan tulang pipi yang kuat. Mukanya menonjol ke depan. Mereka hidup dan bertempat tinggal dari tempat yang satu ke tempat yang lain atau berpindah-pindah (nomaden) dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara berburu dan meramu
diperkirakan masih masif dengan tulang pipi tebal, tonjolan kening yang mencolok dan tonjolan belakang kepala yang tajam serta tempat pelekatan yang besar bagi otot-otot tengkuk yang kuat. Dilihat dari giginya, makanannya diperkirakan terutama tumbuh-tumbuhan. (Pusponegoro dan Notosusanto, 2008:77). Meganthropus memiliki tinggi rata-rata sekitar 170 cm, isi volume otak 650 cc dan ditemukan di lapisan terbawah (Pleistocen Bawah) formasi kabuh. Oleh karena itu von Koenigswald menganggap makhluk tersebut lebih tua daripada Pithecanthropus-pithecanthropus lainnya mengingat akan besar tubuhnya, maka makhluk itu diberi nama Meganthropus Paleojavanicus. c. Tahun 1931-1934 di dekat desa Ngandong di lembah Bengawan Solo ditemukan fosil tengkorak. Sebagian dari jumlah itu telah hancur, tetapi ada beberapa yang cukup memberi bahan guna penyelidikan seksama. Hanya pada semua tengkorak itu tak ada lagi tulang rahang dan giginya. Von Koenigswald dan Weidenreich menunjukkan bahwa makhluk-makhluk itu lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus Erectus dan mungkin sudah dapat dikatakan manusia. Maka nama yang diberikan pada fosil yang ditemukan ini yaitu Homo Soloensis. Jika diurutkan dari lapisan terbawah sampai ke atas berarti Meganthropus (Pleistocen Bawah), Pithecanthropus (Pleistocen Tengah) dan Homo (Pelistocen Atas dan Holocen).
Jenis manusia Homo lainnya yaitu Homo Sapiens Wajak I yang ditemukan dekat Campur darat Tulungagung Jawa Timur oleh Van Rietschoten tahun 1889, yang terdiri atas tengkorak, fragment rahang bawah dan beberapa ruas leher. Homo Sapiens Wajak II ditemukan oleh Dubois pada tahun 1890 ditempat yang sama, terdiri atas fragment-fragment tulang tengkorak, rahang atas dan rahang bawah serta tulang paha dan tulang kering.
DAFTAR PUSTAKA
Asmito. (1988). Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Soekmono, R. (1973). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I. Jakarta: PT. Kanisius