POLA KERJA SAMA BANK DANAMON SYARIAH DAN
MASYARAKAT MANDIRI DOMPET DHUAFA REPUBLIKA
DALAM PENGELOLAAN QARDHUL HASAN
Di Ajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Islam (SEI)
Oleh :
Abdul Malik NIM : 204046102875
KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM) FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
POLA KERJA SAMA BANK DANAMON SYARIAH DAN MASYARAKAT MANDIRI DOMPET DHUAFA REPUBLIKA DALAM PENGELOLAAN
QARDHUL HASAN
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Islam (SEI)
Oleh :
Abdul Malik NIM: 204046102875
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. H. Ahmad Yani, M.Ag Dr. H. Umar Alhaddad, MA
NIP: 150 289 678 NIP: 150 264 892
KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM) FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Uinversitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 17 November 2008
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan kebesaran-Nya hanya milik Allah SWT,
dengan limpahan nikmat-Nya segala amal shalih menjadi sempurna, segala tindakkan
menjadi mudah. Penulis tidak akan dapat menyelesaikan skripsi ini jika bukan karena
izin Allah SWT. Atas izin dan petunjuk Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan
riset yang sangat sederhana ini dengan baik sebagai syarat untuk mencapai gelar
Sarjana Ekonomi Islam dengan judul POLA KERJA SAMA BANK DANAMON
SYARIAH DAN MASYARAKAT MANDIRI DOMPET DHUAFA REPUBLIKA
DALAM PENGELOLAAN QARDHUL HASAN.
Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan secara terus menerus kepada
baginda Muhammad SAW, berkat perjuangan dan kesabaran beliau kita dapat
merasakan cahaya kebenaran, wawasan pengetahuan hingga menjadi manusia yang
penuh dengan peradaban.
Menyadari bahwa dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis tidak berdiri
sendiri dan begitu banyak pihak-pihak yang telah memberikan kesempatan,
bimbingan, dukungan serta bantuan baik moril mau pun materi kepada penulis. Sudah
menjadi keharusan penulis hanturkan ucapan terima kasih yang paling dalam kepada
pihak-pihak dan institusi yang berjasa yaitu:
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Summa, SH, MA, MM, Dekan Fakultas
2. Ibu Dr. Euis Amalia, M.Ag dan Bapak Ah Azharuddin Latif, M.Ag, Kepala
Jurusan dan Sekretaris Jurusan Muamalah
3. Bapak Drs. Djawahir Hejazziey, SH, MA, Koordinator Teknis Non Reguler
4. Bapak Drs. H. Ahmad Yani, M.Ag sekretaris Program Non Reguler sekaligus
Dosen Pembimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini, penulis ucapkan
terima kasih atas bimbingan, petunjuk dan kesabaran pada penulis untuk
penyelesaian skripsi ini.
5. Bapak Dr. H. Umar Alhaddad, MA, Dosen Pembimbing penulis dalam proses
penyelesaian riset skripsi. Tiada yang dapat penulis ucapkan selain terima kasih
yang sangat dalam atas arahan, bimbingan, kesabaran serta kekeluargaan bapak
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak Drs. Abu Thamrin, SH, M.Hum, dosen pembimbing akademik. Penulis
hanturkan terima kasih yang tak terhingga atas bimbingan, arahan, kesabaran
dan perhatian yang tulus kepada penulis selama menempuh pendidikan di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
7. Ibu Indah Kusumaningrum dan Bapak Indra Pratomo Pihak dari Bank Danamon
Syariah yang telah dengan senang hati memberikan izin, kesempatan kepada
penulis untuk dapat meneliti di Institusi tersebut dan pihak-pihak Bank
Danamon Syariah secara umumnya yang tak dapat penulis sebutkan satu
persatu.
8. Pihak Lembaga Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika terutama
izin, waktu, dan kesempatan untuk memberikan data-data dan pengetahuan serta
wawancara di lembaga tersebut.
9. Ayahanda Marlis Ilyas, Alm, penulis tak dapat membalas jasa dan bimbingan
ayahanda selama ini, hanya dengan doa dan amal yang sholih anak ayahanda
sembahkan semoga Ayahanda diberikan kenikmatan dan ridho-Nya.
10. Ibunda tercinta Marhayani, tiada yang dapat penulis berikan kepada ibunda
tercinta hanya doa dan usaha yang tiada henti agar ibunda dapat bahagia baik
dunia maupun akhirat
11. Kakak-kakak ku yang terbaik Uda Akhyar, Uni Mardiah, Uni Peni Salfita, SE
dan Uni Mimi yang selalu memberikan dukungan, materi dan motivasi penuh
dengan segala kesabaran mereka mendidik membimbing dan mendukung
penulis dalam proses pendidikan.
12. Untuk adik-adik ku yang setia menemani dan memberikan dukungan baik moril
maupun materi Mailiswarti, S.Kom, Abdul Azis, SH, Lidia Novita, dan bungsu
manja Muhammad Arif terima kasih yang tulus kakak mu persembahkan.
13. Keluarga Besar Bapak Drs. Nurul Habibburrahmanuddin, M.Ag dan Istri Dr.
Nurul Hikmah, M.Ag beserta anak Ibad, Zawa, tiada yang dapat diberikan
selain ucapan terima kasih yang dalam atas dukungan, motivasi dan bantuan
materi yang selama ini diberikan.
14. Sahabat, teman-teman penulis yakni Haris Rahman, S.Kom, Ustadz M.Taufik,
S.So.I, Sobat (Rossi46), Didi Pujihadi, Hari Ndut, Fajar, Choha, Nuzda, Maja
dapat penulis sebutkan satu persatu dan semua pihak yang telah memberikan
dukungan dan bantuan yang tulus dan ikhlas baik moril maupun material.
Tiada dapat penulis membalas jasa-jasa pihak-pihak yang telah
membantu kecuali untaian doa dan ketulusan hati semoga Allah SWT
memberikan balasan kebaikan tersebut dengan pahala dan kebajikan yang
berlipat ganda serta keberkahan hidup baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga karya ilmiah yang sederhana ini dapat bermanfaat adanya
khususnya bagi penulis dan dapat memberikan sumbangan karya untuk
perkembangan dunia perbankan syariah dan lembaga-lembaga keuangan syariah
lainnya.
Amin..
Jakarta, November 2008 M Dzulqa’dah 1429 H
Penulis,
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN
...iKATA PENGANTAR
...iiDAFTAR ISI
...vBAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah...1B. Pembatasan dan Perumusan Masalah...5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...5
D. Review Studi Terdahulu ...6
E. Metode Penelitian ...7
F. Sistematika Penulisan...10
BAB II
LANDASAN TEORI QARDHUL HASAN
A. Teori Qardhul Hasan 1. Pengertian Qardhul Hasan...112. Landasan Hukum dan Ketentuan Qardhul Hasan...12
3. Teknis Perbankan ...17
B. Konsep Perbankan Syariah dan Operasionalnya 1. Pengertian Bank Syariah...24
3. Dasar Hukum Bank Syariah...26
4. Sistem Operasional Perbankan Syariah ...27
5. Produk-Produk dan Jasa Bank Syariah...28
BAB III
Profil Bank Danamon Syariah dan Masyarakat Mandiri
Dompet Dhuafa Republika
A. Profil Bank Banamon Syariah 1. Sejarah Berdirinya...352. Visi dan Misi...39
3. Struktur Organisasi...40
4. Produk-produk ...41
B. Profil Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika 1. Sejarah Berdirinya...64
2. Visi dan Misi...66
3. Struktur Organisasi...67
4. Program-Program...68
B. Pola Kerja Sama Bank Danamon Syariah dengan MM Dompet
Dhuafa dalam Pengelolaan Qardhul Hasan...84
C. Analisis Aplikasi Strategi Pengelolaan Qardhul Hasan dan Pola
Kerja Sama Bank Danamon Syariah dan MM Dompet Dhuafa...88
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan...91
B. Saran...93
DAFTAR PUSTAKA
...95BAB l PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang universal, telah diakui dan dijamin oleh Allah
SWT. Ini berarti segala aturan dan hukum yang digariskan Islam telah dijamin
sempurna. Islam mampu menjamin tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan
hidup manusia dalam segala bidang, tidak hanya mencakup ibadah saja, tetapi
juga termasuk kesejahteraan ekonomi.
Perekonomian merupakan tulang punggung kehidupan masyarakat, karena
itulah Islam sangat melarang segala sesuatu yang dapat merusak kehidupan
perekonomian bangsa, seperti riba (pembungaan uang) pada pinjaman. al-Qur’an
dan As Sunnah, dua sumber pokok hukum Islam melarang keras adanya bunga
karena kedzolimannya.1
Sejak mulai krisis tahun 1999, angka kemiskinan meningkat menjadi
37,17 juta jiwa (BPS, 2007). Angka ini mendekati angka kemiskinan pada tahun
1978 dan 1980 yang artinya perekonomian Indonesia mengalami kemunduran
lebih dari 23 tahun. Tidak hanya kemiskinan yang menjadi beban bagi masyarakat
1
Indonesia, kenaikan harga barang dan laju inflasi membuat beban hidup rakyat
terasa semakin berat dan menderita.2
Sesungguhnya persoalan kemiskinan hingga hari ini tetap menjadi
problematika mendasar yang dihadapi bangsa Indonesia. Beberapa indikator
kesejahteraan masyarakat memperlihatkan bahwa tingkat kesejahteraan menurun
sangat tajam.
Salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan diri sendiri adalah mengambil
langkah berani mulai berusaha dan hal itu dilakukan secara terus-menerus
(berkesinambungan). Jika mengalami kegagalan, maka hendaknya mencobanya
kembali.
Pada pokoknya, keperluan akan pinjaman timbul karena kebutuhan
seseorang akan dana (modal). Syarat kehidupan yang semakin lama semakin
rumit menjadikan individu-individu dalam masyarakat cenderung saling
membutuhkan dan saling membantu dengan cara tertentu dalam mengatasi
masalah-masalah mereka dan salah satu jenis bantuan adalah pinjaman.
Kaitan antara bank dengan uang dalam suatu unit bisnis adalah penting,
namun di dalam pelaksanaannya harus menghilangkan adanya ketidakadilan,
ketidakjujuran dan “penghisapan” dari satu pihak ke pihak lain (bank dengan
nasabahnya). Kedudukan bank syariah dalam hubungan dengan para nasabah
2Republika Online,
adalah sebagai mitra investor dan pedagang, sedangkan dalam hal bank pada
umumnyan hubungannya adalah sebagai kreditur atau debitur.3
Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh bank syariah.
Pertama, harus dipahami bahwa kondisi perekonomian Indonesia adalah ekonomi
kerakyatan. Oleh karena itu, sudah saatnya perbankan syariah mulai melirik untuk
menjalin kerja sama dengan UKM (Usaha Kecil Menengah) yang berada di
tengah-tengah masyarakat.
Penilaian pembiayaan didasarkan semata-mata hanya pada business wise
sehingga bank hanya terdorong untuk meminjamkan dana hanya kepada
pengusaha skala besar yang memiliki cukup jaminan.4 Kredit yang dilakukan oleh Bank Konvensional melalui pemberian pinjaman uang kepada nasabah peminjam
mewajibkan pihak peminjam (nasabah) untuk melunasi pinjamannya setelah
jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga sebagai balas jasa.
Pada bank syariah, penilaian kelayakan pembiayaan selain didasarkan
pada business wise, juga didasarkan pada pertimbangan syariah wise artinya
bisnis tersebut layak dibiayai dari segi usahanya dan acceptable dari segi
syariahnya.
Sistem transaksi berbasis bunga menghalangi inovasi usaha kecil. Adanya
larangan bunga dan banyaknya dampak negatif bunga yang terjadi pada
3
Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, Yogyakarta, UPP AMP YKPN, 2005, h. 15
4
pengusaha kecil dan menengah serta sulitnya Usaha Mikro Kecil Menengah dan
Koperasi (UMKMK) untuk berkembang selain itu harus adanya jaminan bagi
pelaku usaha untuk mengajukan pembiayaan membuat usaha mikro kecil dan
menengah terkendala untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Bank syariah yang berorientasi bisnis pada sektor riil hendaknya mampu
memberikan solusi bagi pelaku UMKMK yang terkendala finansial dan tidak
memiliki jaminan pembiayaan. Untuk itu, Bank Syariah memiliki salah satu
produk sebagai jawaban bagi pelaku usaha UMKM yaitu produk Qardhul Hasan.
Agar pemberdayaan ekonomi masyarakat terutama usaha kecil dan
menengah dapat disentuh secara tepat sasaram maka Bank Danamon Syariah
bekerja sama pada lembaga nirlaba Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa untuk
penyaluran dana Qardhul Hasan tersebut, dengan harapan binaan masyarakat
mandiri dapat menjadi kantong-kantong bisnis bank syariah.
Dengan melihat keterangan dan uraian diatas, maka penulis merasa
tertarik untuk meneliti dan mengkaji, apakah Bank Danamon Syariah sebagai unit
usaha syariah dari Bank Danamon sudah melakukan strategi penghimpunan,
pengelolaan dan penyaluran qardhul hasan dengan tepat guna dengan Masyarakat
Mandiri Dompet Dhuafa. Untuk mendapatkan jawaban tersebut penulis tertarik
untuk melakukan penelitian langsung pada Bank Danamon Syariah dan
Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika. Adapun judul yang diajukan
“POLA KERJA SAMA BANK DANAMON SYARIAH DAN
MASYARAKAT MANDIRI DOMPET DHUAFA REPUBLIKA DALAM
PENGELOLAAN QARDHUL HASAN”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak meluas maka sesuai judul
skripsi tersebut di atas penulis membatasi masalah pada Pola Kerja Sama Bank
Danamon Syariah dan MM Dompet Dhuafa dalam penghimpunan, pengelolaan
dan penyaluran qardhul hasan. Dari pembatasan masalah tersebut, maka dapat
dirumuskan bahwa pokok-pokok permasalahan yang dibahas adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana Pola Kerja Sama Bank Danamon Syariah dengan Masyarakat
Mandiri Dompet Dhuafa dalam pengelolaan Qardhul Hasan?
2. Strategi Apa Yang Digunakan Bank Danamon Syariah dan MM Dompet
Dhuafa dalam pengelolaan Qardhul Hasan?
3. Bagaimana Analisis Aplikasi Strategi dan Pola Kerja Sama Bank Danamon
Syariah dengan MM Dompet Dhuafa Republika dalam pengelolaan Qardhul
Hasan?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dan manfaat penelitian yang hendak dicapai penulis dengan
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui strategi pengelolaan qardhul hasan pada Bank
Danamon Syariah dengan MM Dompet Dhuafa
b. Untuk mengetahui Pola Kerja Sama Bank Danamon Syariah dengan
MM Dompet Dhuafa dalam Pengelolaan Qardhul Hasan
c. Memberi informasi kepada pelaku usaha mikro kecil menengah dan
koperasi (UMKMK) dalam membantu permodalan.
2. Manfaat Penelitian
a. Menambah wawasan pengetahuan penulis khususnya mengenai
qardhul hasan
b. Dapat membantu masyarakat usaha kecil menengah untuk
meningkatkan pendapatan laba mereka yang bebas dari riba.
c. Sebagai wadah masyarakat untuk menyalurkan dana zakat infak dan
sadaqahnya.
D. Review Studi Terdahulu
Berdasarkan review studi terdahulu yang sudah dilakukan beberapa
sumber kepustakaan dalam penelitian ini di antaranya:
1. Peran dan Aplikasi Qardhul Hasan Sebagai Produk Penyalur Dana Bank
bahasan skripsi ini adalah peran qardhul hasan sebagai penyedia dana
bagi usaha mikro kecil dan menengah dan penyaluran untuk usaha-usaha
mikro.
2. Teori Al-Qardhul Hasan dan Aplikasinya pada Baitul Maal Wat Tamwil
(studi kasus pada BMT Al-Munawwarah, Pamulang-Banten), oleh Siti
Sa’diyah, 2004. Dalam pembahasan penelitian ini, tertuju pada konsep
qardhul hasan diaplikasikan untuk usaha kecil dan menengah melalui
lembaga keuangan yang mendukung kegiatan ekonomi kecil dengan
harapan kebutuhan pembiayaan kalangan bawah akan terpenuhi terutama
masyarakat pedesaaan yang membutuhkan pembiayaan.
Pokok bahasan yang akan diteliti penulis akan difokuskan pada pola kerja
sama Bank Danamon Syariah dan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika
dalam pengelolaan Qardhul Hasan, strategi pengelolaan Qardhul Hasan dan
analisis aplikasi qardhul hasan di lembaga-lembaga tersebut.
E. Metode Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini di Bank Danamon Syariah Pusat Gedung
Graha Surya Internusa Lantai 3 Jl.HR. Rasuna Said Kav. X-0 Kuningan,
Jakarta 12950. Telp. 021-255 17000, Fax 021 252 4443. Website:
www.danamon.co.id, dan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Republika Jl.
Bogor. 16310. Telp. 0251 - 618103 Fax. 0251 - 602070 E-Mail:
2. Sumber Data
a. Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber data
dari hasil penelitian lapangan. Untuk dapat memperoleh data primer
ini, penulis secara langsung mengadakan wawancara dengan pimpinan
atau staff Bank Danamon Syariah yang mempunyai hubungan
langsung dengan permasalahan yang diangkat. Responden Bank
Danamon Syariah adalah Kepala Komunikasi dan Marketing Ibu
Indah Kusumaningrum dan Bapak Indra Pratomo serta Bapak Rano
Karno sebagai Koordinator Program Rural di Masyarakat Mandiri
Dompet Dhuafa Republika
b. Sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi dokumentasi yang
ada hubungannya dengan materi skripsi ini. Dalam penelitian ini
penulis melakukan studi kepustakaan (Library Research), yaitu
dengan mempelajari buku kepustakan, laporan-laporan perkembangan
masyarakat mandiri, literatur, buletin, majalah serta materi kuliah yang
berkaitan erat dengan pembahasan masalah ini.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara, berupa tanya jawab dengan pihak atau staff Bank
b. Dokumenter, berupa data-data yang diperoleh melalui studi
dokumenter.
4. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah Pendekatan Kualitatif
Deskriptif-Analitis5, yaitu untuk memberikan pemecahan masalah dengan mengumpulkan data lapangan, menyusun atau mengklasifikasikan,
menganalisis data, dan menjelaskan gambaran mengenai Pola Kerja Sama
Bank Danamon Syariah dengan MM Dompet Dhuafa dalam pengelolaan
Qardhul Hasan. Tujuan penelitian deskriptif ini bertujuan untuk
mengambarkan dan menganalisa secara mendalam mengenai Pola Kerja
Sama Bank Danamon Syariah dengan MM Dompet Dhuafa dalam
pengelolaan qardhul hasan.6 5. Teknik Penulisan
Teknik penulisan skripsi ini berpedoman kepada buku: “Pedoman
Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2007.” Dengan pengecualian ayat-ayat
Qur’an dan terjemahan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.
al-Qur’an tidak memakai catatan kaki, akan tetapi cukup dibuatkan di akhir
kutipan (dalam kurung) nama atau nomor surat dan ayat serta dibuatkan
terjemahannya.
5
Winarmo Suracmad, Dasar dan Tehnik Research, Bandung, CV. Tarsito, 1972, ed v, h. 131
6
F. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan ini oleh penulis akan dibagi menjadi lima
bab pembahasan, yaitu:
BabI Pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Review Studi
Terdahulu, Metode Penelitian, serta Sistematika Penulisan.
Bab II Landasan Teori Tentang Qardhul Hasan yang meliputi Pengertian, Landasan Hukum, Rukun dan Syarat, Keunggulan dan Keistimewaan.
Bab III Profil Bank Danamon Syariah dan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa yang meliputi: Sejarah Pendirian, Visi dan Misi, Struktur Organisasi, Produk-Produk dan Layanan.
Bab IV Pola Kerja Sama Bank Danamon Syariah Dengan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Dalam Penghimpunan Pengelolaan Dan Penyaluran Qardhul Hasanyang meliputi: Strategi Pengelolaan Qardhul
Hasan di Bank Danamon Syariah dengan MM Dompet Dhuafa, Pola
Kerja Sama Bank Danamon Syariah Dengan MM Dompet Dhuafa,
Analisis Aplikasi Strategi dan Pola Kerja Sama Danamon Syariah dan
Masyarakat Mandiri
BAB II
LANDASAN TEORI QARDHUL HASAN
A. Teori Qardhul Hasan
1. Pengertian Qardhul Hasan
Secara etimologi qardh adalah memotong atau potongan, yang berasal
dari kata bahasa arab yakni
–
ی
–
. Qardh secara terminologi adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau dimintakembali dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.7 Dalam literatur fiqh klasik, qardh dikategorikan dalam aqd tathawwui atau akad saling
bantu-membantu dan bukan transaksi komersial.
Qardh adalah apa yang diberikan dari harta yang terukur yang dapat
ditagih/ dituntut, akad yang dikhususkan yang dikembalikan pada membayar
harta terukur kepada orang lain agar dikembalikan sepertinya8
Menurut fatwa DSN MUI No.19/DSN-MUI/IX/2000, Qardh adalah
suatu akad pinjaman yang diberikan kepada nasabah (muqtaridh) yang
7
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, Jakarta, Tazkia Institute, h. 185.
8
Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah : Konsep,
memerlukan dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan dana yang
diterimanya (jumlah pokok yang diterima) kepada lembaga keuangan syariah
(LKS) pada waktu yang telah disepakati oleh LKS dan nasabah.9
2. Landasan Hukum dan Ketentuan Qardhul Hasan
Transaksi qardh diperbolehkan berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an,
Sunnah dan Ijma yaitu:
a. Al-Quran
!
"#$% & '
(
!
)
*+
, -.+)
%/
0
“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (Q.S Al Hadid: 11)
b. Al Hadits
ﻡ
!
"
#$
# %
&
ﺱ(
)
ﻡ
ﻡ
ﻡ
ی
ﻡ
ﻡ
*
+,
-!
./-01
ﻡ
2
12Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa: Nabi SAW berkata: “ tidaklah seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai) shadaqah” (HR. Ibn Majah)
3ﻥ
ﻡ
5
)
6
)
ﺱ7
)
&
# %
&
ﺱ(
7
ی
8
9
: ﺱ
;
;
<
9"=
1>ﻡ
6
9 ./
?
@ﻡ
0
A
(
@
9 ﻥ
?
A
B
8
6
ی
Cی ﺝ
ﻡ
9Tim Direktori Syariah Republika, Direktori Syariah, Maret 2007
10
)
CEB
ﻡ
/
F9 .
)
6
!G
CH
(
."
IA
1
(
+
1 ی
+,
ﻡ
9ﺝ
11Dari Anas bin Malik berkata: bersabda Rasulullah SAW: “Aku melihat pada waktu malam di’isra’kan, pada pintu surga tertulis: Shadaqah dibalas 10 kali lipat dan qardh 18 kali. Aku bertanya: Wahai Jibril mengapa qardh lebih utama dari shadaqah? Ia menjawab: karena peminta-minta sesuatu dan ia punya, sedangkan yang meminjam tidak akan meminjam kecuali karena keperluan.”(HR. Ibn Majah)
c. Ijma
Para ulama telah menyepakati bahwa al-qardh boleh dilakukan.
Kesepakatan ulama ini didasari tabiat manusia yang tidak bisa hidup tanpa
pertolongan dan bantuan saudaranya.12 Tidak ada seorang pun yang memiliki segala barang yang ia butuhkan. Oleh karena itu, pinjam-meminjam sudah
menjadi satu bagian dari kehidupan di dunia ini dan dalam agama yang sangat
memperhatikan segenap kebutuhan ummatnya.
Landasan hukum positif mengenai qardh sebagai salah satu produk
pembiayaan pada perbankan syariah secara implisit juga terdapat dalam
Undang-Undang nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas undang-undang
nomor 7 tahun 1992 perbankan, yaitu terkait dengan pengaturan mengenai
prinsip syariah.13
11
Ibid., h. 812, no. 2431
12
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktek, Jakarta, Gema Insani. 2001, Cet. Pertama, h.132.
13
Sedangkan secara teknis telah diatur dalam Pasal 36 huruf b poin
keempat Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 624/ PBI/ 2004 tentang Bank
Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, yang
intinya menyatakan bahwa Bank wajib menerapkan prinsip syariah dan prinsip
kehati-hatian dalam kegiatan usahanya yang meliputi penyaluran dana melalui
prinsip pinjam-meminjam berdasarkan akad qardh.
Kemudian mengenai qardh ini juga diatur dalam fatwa Dewan Syariah
Nasional (DSN) No. 25/ DSN-MUI/ III/ 2002 yang menyatakan bahwa salah
satu sarana peningkatan perekonomian yang dapat dilakukan oleh Lemabaga
Keuangan Syariah (LKS) adalah penyaluran dana melalui prinsip qardh, yakni
suatu akad pinjaman kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib
mengembalikan dana yang diterimanya kepada LKS pada waktu yang telah
disepakati oleh LKS dan nasabah. Berdasarkan fatwa DSN No. 25/ DSN-MUI/
III/ 2002, maka yang menjadi pertimbangan Dewan Syariah Nasional
menetapkan Qardh sebagai sebuah sistem perekonomian yang sah menurut
syariah adalah:14
1. Lembaga Keuangan Syariah di samping sebagai lembaga komersial, harus
dapat berperan sebagai lembaga sosial yang dapat meningkatkan
perekonomian secara maksimal.
14
Mukhtar Alshodiq CS (Penyunting), Briefcase Books Edukasi Profesional Syariah
2. Sebagai salah satu sarana peningkatan perekonomian yang dapat
dilakukan oleh LKS adalah penyaluran dana melalui prinsip Qardh, yakni
suatu akad pinjaman kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah
wajib mengembalikan dana yang diterimanya kepada LKS pada waktu
yang telah disepakati oleh LKS dan nasabah.
3. Akad tersebut sesuai dengan syariah Islam, DSN memandang perlu
menetapkan fatwa tentang akad Qardh untuk dijadikan pedoman oleh
LKS.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Qardh adalah:15 1. Ketentuan Qardh:
a. Qardh adalah pinjaman yang diberikan kepada nasabah (muqtarîd)
yang memerlukan.
b. Nasabah Qardh wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima
pada waktu yang telah disepakati bersama.
c. Biaya administrasi dibebankan kepada nasabah.
d. LKS dapat meminta jaminan kepada nasabah bila mana dipandang
perlu.
e. Nasabah Qardh dapat memberikan tambahan (sumbangan) dengan
sukarela kepada LKS selama tidak diperjanjikan dalam akad.
15
f. Jika nasabah tidak dapat mengembalikan sebagian atau seluruh
kewajibannya pada saat yang telah disepakati dan LKS telah
memastikan ketidakmampuannya, LKS (Bank) dapat:
1) Memperpanjang jangka waktu pengembalian, atau
2) Menghapus (write off) sebagian atau seluruh kewajibannya.
2. Sanksi
a) Dalam hal nasabah tidak menunjukkan keinginan mengembalikan
sebagian atau seluruh kewajibannya dan bukan karena
ketidak-mampuannya, LKS (Bank) dapat menjatuhkan sanksi kepada nasabah.
b) Sanksi yang dijatuhkan kepada nasabah sebagaimana dimaksud butir 1
dapat berupa dan tidak terbatas pada penjualan barang pinjaman.
c) Jika barang jaminan tidak mencukupi, nasabah tetap harus memenuhi
kewajibannya secara peuh.
3. Sumber dana
Dana qardh dapat bersumber dari:
a) Bagian modal LKS
b) Keuntungan LKS yang disisihkan
c) Lembaga lain atau individu yang mempercayakan penyaluran infaqnya
4. Perselisihan
Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui
Badan Arbitrase Syariah setelah
3. Teknis Perbankan
Qardh adalah pinjaman uang. Aplikasi qardh dalam perbankan biasanya
dalam empat hal:16
1) Sebagai pinjaman talangan haji, dimana nasabah calon haji diberikan
pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran biaya
perjalanan haji. Nasabah akan melunasinya sebelum keberangkatan ke
haji.
2) Sebagai pinjaman tunai (cash advanced) dari produk kartu kredit
syariah, di mana nasabah diberi keleluasaan untuk menarik uang tunai
milik bank melalui ATM, nasabah akan mengembalikan sesuai waktu
yang ditentukan.
3) Sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil dimana menurut
perhitungan bank akan memberatkan si pengusaha bila diberi
pembiayaan dengan skema jaul-beli, ijârah atau bagi hasil.17
16
Heri Sudarsono, Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi Yogyakarta, Ekonisia, 2004, Cet ke-2, h. 74
17Buku Saku Perbankan Syariah
4) sebagai pinjaman kepada pengurus bank, dimana bank menyediakan
fasilitas ini untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pengurus bank.
Pengurus bank akan mengembalikannya secara cicilan melalui
pemotongan gajinya.
Dalam bukunya, Muhammad Syafi’i Antonio mengklasifikasikan
qardh dalam aplikasi perbankan sebagai berikut:18
a) Sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang telah terbukti
loyalitas dan bonafiditasnya yang membutuhkan dana talangan segera
untuk masa yang relatif pendek. Nasabah tersebut akan
mengembalikan secepatnya sejumlah uang yang dipinjamnya itu.
b) Sebagai fasilitas nasabah yang memerlukan dana cepat, sedangkan ia
tidak bisa menarik dananya karena, misalnya tersimpan dalam bentuk
deposito.
c) Sebagai produk untuk menyumbangkan usaha yang sangat kecil atau
membantu sektor sosial.
Qardh sebagai salah satu produk pembiayaan dari Bank Syariah
merupakan salah satu produk yang dibuat untuk tujuan sosial, bukan untuk
mencari keuntungan semata. Untuk itu dengan melalui mekanisme qardh
seorang nasabah hanya diwajibkan mengembalikan pokok pinjamannya saja.
Bahkan untuk qardhul hasan pada dasarnya seorang berhutang tidak
18
berkewajiban untuk mengembalikan hutangnya, karena memang ditujukan
untuk orang yang benar-benar tidak mampu.19
Qardh sebagai pinjaman tanpa bunga yang diberikan kepada nasabah
merupakan produk pelengkap untuk nasabah bonafid yang loyal dan
membutuhkan dana segera. Qardh juga merupakan fasilitas untuk nasabah
deposan dengan jaminan deposito. Qardh merupakan produk utama jika
ditujukan untuk pengembangan usaha kecil.
Karena qardh bukan transaksi komersial, maka dana yang digunakan
untuk penyaluran dana ini harus berasal dari dana sosial juga seperti zakat,
infaq, dan sadaqah (ZIS) atau dana yang berasal dari modal Bank.20
Qardh adalah produk perbankan untuk nasabah yang memerlukan
dana untuk keperluan mendesak dengan kriteria tertentu dan bukan untuk
tujuan konsumtif. Pengembalian pinjaman ditentukan dalam jangka waktu
tertentu dan dapat dikembalikan sekaligus atau diangsur.
Implementasi qardh secara teknis diatur dalam PBI No. 7/ 46/ PBI/
2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana Bagi Bank yang
melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah. Intinya dalam
19
Abdul Ghofur, Perbankan Syariah, h. 143
20
penyaluran dana dalam bentuk qardh ini harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:21
a. Bank dapat memberikan pinjaman Qardh untuk kepentingan nasabah
berdasarkan kesepakatan
b. Nasabah wajib mengembalikan jumlah pokok pinjaman Qardh yang
diterima pada waktu yang telah disepakati.
c. Bank dapat membebankan kepada nasabah biaya administrasi sehubungan
dengan pemberian pinjaman qardh
d. Nasabah dapat memberikan tambahan/ sumbangan dengan sukarela
kepada Bank selama tidak diperjanjikan dalam akad
e. Dalam hal nasabah tidak dapat mengembalikan sebagian atau seluruh
kewajibannya pada waktu yang telah disepakati karena nasabah tidak
mampu, maka Bank dapat memperpanjang jangka waktu pengembalian
atau menghapus buku sebagian atau seluruh pinjaman nasabah atas beban
kerugian bank.
f. Dalam hal nasabah digolongkan mampu dan tidak mengembalikan
sebagian atau seluruh kewajibannya pada waktu yang telah disepakati,
maka bank dapat menjatuhkan sanksi kewajibannya pembayaran atas
keterlambatan pembayaran atau menjual agunan nasabah untuk menutup
kewajibannya pinjaman nasabah
21
g. Sumber dana pinjaman Qardh untuk kegiatan usaha yang bersifat sosial
dapat berasal dari modal, keuntungan yang disisihkan dan dari dana infaq.
h. Sumber dana pinjaman Qardh untuk kegiatan usaha yang bersifat talangan
dana komersial jangka pendek (short term financing) diperbolehkan dari
dana pihak ketiga yang bersifat investasi sepanjang tidak merugikan
kepentingan nasabah pemilik dana.
Di atas telah disebutkan bahwa dalam Qardh pada dasarnya pihak
peminjam hanya berkewajiban mengembalikan pokok pinjamannya saja.
Akan tetapi dalam prakteknya diperbankan pihak bank biasanya
membebani biaya administrasi yang besarnya yang besarnya berdasarkan
kebijaksanaan dari pihak bank. Nasabah pun dapat memberikan tambahan
secara sukarela kepada bank dengan syarat tidak diperjanjikan di awal.
Penyaluran dana berdasarkan akad yang bersifat sosial ini merupakan
salah satu hal yang membedakan antara bank konvensional dengan bank
syariah. Bank syariah tidak semata-mata hanya berkeinginan memperoleh
keuntungan (profit) setinggi-tingginya, melainkan juga menggemban misi
sosial.
B. Sumber Dana Qardh
Sifat al-qardh tidak memberi keuntungan finansial, karena itu, pendanaan
qardh dapat mengambil menurut kategori berikut.22
22
a) al-Qardh yang diperlukan untuk membantu keuangan nasabah secara
cepat dan berjangka pendek. Talangan dana di atas dapat diambilkan dari
modal Bank. Dengan kata lain, dana qardh dapat di ambil melalui bagian
modal LKS / Bank Syariah (paid up capital).
b) al-Qardh yang diperlukan untuk membantu usaha sangat kecil dan
keperluan sosial, dapat bersumber dari dana zakat, infak, dan sedekah/
keuntungan lain yang disisihkan. Di samping sumber dana umat, para
praktisi perbankan syariah, demikian juga ulama, melihat adanya sumber
dana lain yang dapat dialokasikan untuk qardh al-hasan, yaitu
pendapatan–pendapatan yang diragukan, seperti jasa nonstro di bank
koresponden yang konvensional, bunga atas jaminan L/C di bank asing,
dan sebagainya. Salah satu pertimbangan pemanfaatan dana-dana ini
adalah kaidah akhaffu dhararrain (mengambil mudharat yang lebih kecil).
C. Manfaat al-Qardh
Manfaat yang didapat oleh bank dari transaksi qardh adalah bahwa
biaya administrasi utang dibayar oleh nasabah. Manfaat lainnya berupa
manfaat non financial, yaitu kepercayaan dan loyalitas nasabah kepada Bank
tersebut.
Risiko dalam qardh terhitung tinggi karena dianggap pembiayaan
yang tidak ditutup dengan jaminan23
23
Manfaat akad qardh terhitung sangat banyak sekali diantaranya:
1. Memungkinkan nasabah yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk
mendapat talangan jangka pendek.
2. Qardhul Hasan juga merupakan salah satu ciri pembeda Bank Syariah
dengan konvensional yang didalamnya terkandung misi sosial, di samping
misi komersial.
3. Adanya misi sosial kemasyarakatan ini akan meningkatkan citra baik dan
meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap Bank Syariah.
Secara umum qardhul hasan dapat digambarkan dalam skema
berikut:24
Perjanjian Qardh
Tenaga Kerja Modal 100%
100%
Kembali Modal
Skema Qardh
24
Syafi’i Antonio, Bank Syariah Teori, h. 134
NASABAH BANK
PROYEK USAHA
B. Konsep Perbankan Syariah dan Operasionalnya I. Pengertian Bank Syariah
Bank Syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip
Islam, yakni bank dengan tata cara dan operasinya mengikuti ketentuan–
ketentuan syariah Islam.25
Sedangkan warkum sumitro mengatakan bahwa Bank Islam berarti bank
yang tata cara operasinya didasarkan pada tata cara bermu’amalah secara Islami,
yakni mengacu kepada ketentuan-ketentuan al-Qur’an dan al-Hadist.26 Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang tata cara beroperasinya didasarkan pada
tata cara bermuamalah secara Islami, yakni mengacu kepada ketentuan-ketentuan
al-Qur’an dan Hadist.27
Menurut Muhammad dalam bukunya Manajemen Pembiayaan Bank
Syariah, Bank Syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan
pada bunga. Bank Islam atau biasa disebut dengan Bank Tanpa Bunga, adalah
25
Muhammad Firdaus. CS, Konsep dan Implementasi Bank Syariah, Jakarta, PT. Renaisan, h. 18.
26
Ibid., h. 19
27
Euis Amalia, dkk, Konsep dan Mekanisme Bank Syariah, Rujukan Konseptual untuk
lembaga keuangan/ perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan
berlandaskan pada al-Qur’an dan al-Hadist Nabi SAW.28
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
Bank Islam adalah sebuah lembaga keuangan yang berfungsi sebagai penghimpun
dana dan menyalurkannya kepada masyarakat. Di mana sistem, tata cara, dan
mekanisme kegiatan usahanya berlandaskan pada syariat Islam, yaitu al-Qur’an
dan al-Hadist.
2. Tujuan Bank Syariah29
Tujuan didirikannya Bank Syariah adalah:
1. Menyediakan lembaga keuangan perbankan sebagai sarana meningkatkan
kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat banyak.
2. Meningkatkan partisipasi masyarakat luas dalam proses pembangunan,
terutama dalam bidang ekonomi
3. Menyediakan perbankan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Islam,
yang pada awalnya enggan berhubungan dengan bank. Karena mereka
mengganggap bahwa konvensional adalah bank yang berdasarkan bunga
dan itu sama dengan riba yang dilarang.
28
Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, Yogyakarta, UPP AMP YKPN, 2005, h.15
29
4. Berkembangnya lembaga dan sistem perbankan yang sehat berdasarkan
efisiensi dan keadilan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan
partisipasi masyarakat, sehingga menggalakkan usaha-usaha ekonomi
masyarakat.
5. Untuk mendidik masyarakat agar berpikir secara ekonomi, berperilaku
bisnis dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.
3. Dasar Hukum Bank Syariah
Landasan hukum yang dasar pengembangan perbankan syariah nasional
adalah UU No.7 tahun 1992 tentang Perbankan. Pada tahun 1998, Pemerintah dan
DPR melakukan penyempurnaan undang-undang perbankan tersebut menjadi UU
No 10 tahun 1998 tentang Perbankan yang didalamnya diatur mengenai Perbankan
Syariah dengan jelas.30
Secara tegas Undang-Undang Perbankan yang baru tersebut menjelaskan
bahwa dalam Perbankan Indonesia terdapat dua sistem (dual banking system) yaitu
Sistem Perbankan Konvensional dan Sistem Perbankan Syariah. Pelaksanaan
pengaturan dan pengembangan perbankan syariah oleh Bank Indonesia, selain
dalam rangka memenuhi amanat undang-undang perbankan tersebut juga diatur
dalam UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang menegaskan bahwa
Bank Indonesia selaku otoritas perbankan perlu mempersiapkan perangkat
30
Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia, Perbankan Nasional: Kebijakan Pengembangan
peraturan dan fasilitas penunjang yang mendukung operasional bank syariah. Oleh
karena itu program pengembangan perbankan syariah nasional secara legal jelas
dasar hukumnya.31
Untuk menjalankan Undang-Undang tersebut selanjutnya dikeluarkan Surat
Keputusan Direksi Bank Indonesia tentang Bank Umum dan Bank Perkreditan
Rakyat tahun 1999 dilengkapi Bank Umum berdasarkan Prinsip Syariah dan Bank
Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah. Aturan yang berkaitan dengan
Bank Umum berdasarkan Prinsip Syariah diatur dalam Surat Keputusan Direksi
Bank Indonesia No 32/ 34/ KEP/ DIR tanggal 12 Mei 1999.32
4. Sistem Operasional Perbankan Syariah
Perbedaan pokok antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional
adalah larang riba (bunga) bagi perbankan syariah dan membolehkan jual beli (bai),
dalam rangka menghindarkan pembayaran dan penerimaan bunga, maka dalam
melaksanakan kegiatan pembiayaan (financing) perbankan syariah menempuh
mekanisme bagi hasil (profit and loss sharing investment).33
31
Ibid., h. 3
32
Muhammad, Manajemen Pembiayaan, h. 6
33
Zainul Arifin, Memahami Bank Syariah Lingkup, Peluang, Tantangan dan Prospek, Jakarta, Alvabet, 2000, h. 30
Dengan prosedur yang didasarkan hukum Islam tersebut, maka
bentuk-bentuk usaha dan pinjam meminjam uang harus mengikuti ketentuan dalam
al-Qur’an dan al-Hadits yang antara lain dapat disebutkan sebagai berikut:34 1. Prinsip Simpanan
2. Prinsip Bagi Hasil
3. Prinsip Pengembalian Keuntungan
4. Prinsip Sewa
5. Prinsip Pengambilan fee
6. Prinsip Biaya administrasi
5. Produk-Produk dan Jasa Bank Syariah
Salah satu aspek penting yang menentukan keberhasilan sebuah
organisasi bisnis dalam kancah persaingan yang ketat adalah inovasi produk
dan kecepatan pelayanan. Produk menjadi pusat perhatian seluruh organisasi
bisnis, karena sumbangannya jelas untuk kelangsungan hidup dan
kemakmuran organisasi yang bersangkutan.35
Menyadari posisi penting inovasi produk dan layanan pada nasabah
bagi kelanjutan dan kesinambungan bisnis perbankan. Maka Bank Syariah,
sebagai lembaga bisnis tidak bisa mengisolasi diri dalam hal ini. Agar bisa
tetap survive, Bank Syariah harus secara terus menerus melakukan berbagai
34
Muhammad, Manajemen Pembiayaan, h. 9
35
inovasi, termasuk mendesain berbagai produk, baik penghimpunan dana
maupun pembiayaan, semenarik mungkin.
1. Produk Penghimpunan Dana36
Prinsip operasional yang diterapkan dalam penghimpunan dana adalah
prinsip titipan (wadî’ah) dan bagi hasil (mudhârabah)
a. Prinsip wadî’ah yang diterapkan adalah wadî’ah yad dhamâmah yang
diterapkan pada rekening giro. Sedangkan pada wadî’ah amânah, pada
prinsipnya harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh yang dititipi.
Produk ini lebih dikenal dengan sebutan Safe Deposit Box sedangkan
dalam hal wadî’ah yad dhamâmah, pihak yang dititipi (Bank)
bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan sehingga ia boleh
memanfaatkan harta titipan tersebut.
b. Prinsip Mudhârabah, merupakan akad usaha dua pihak dimana salah
satunya memberikan modal (Sâhibul Mâl) sedangkan yang lainnya
memberikan keahlian (Mudhârib), dengan nisbah keuntungan yang
disepakati dan apabila terjadi kerugian, maka pemilik modal
menanggung kerugian tersebut. Karena karakter Mudhârabah seperti
ini, maka ia dapat diterapkan pada dua produk, yaitu Tabungan dan
Deposito
36
2. Produk Penyaluran37
Dalam penyaluran dana secara garis besar produk pembiayaan syariah
terbagi dalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan
penggunaannya yaitu:38
a. Pembiayaan dengan Prinsip Jual Beli (Bai)
Prinsip jual beli diadakan sehubungan adanya perpindahan kepemilikan
barang atau benda (transfer of property). Tingkat keuntungan Bank
ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual.
Transaksi jual beli dapat dibedakan berdasarkan bentuk pembayaran dan
penyerahan barangnya yakni sebagai berikut:
1) Pembiayaan Murâbahah
a) Adalah pembiayaan berdasarkan jual beli dimana bank bertindak
selaku penjual dan nasabah selaku pembeli.
b) Harga beli diketahui bersama dan tingkat keuntungan untuk bank
disepakati di muka.
c) Dalam fiqih klasik, murâbahah dilakukan secara tunai, dalam
praktek perbankan, nasabah dapat membayar secara cicilan.
d) Karena tidak membayar secara tunai, nasabah dapat diminta
untuk memberikan jaminan
37
Ibid., h. 98
38
e) Dalam fiqih klasik, penjual membeli barang langsung dari
penjual pertama. Dalam perbankan syariah, barang dapat dikirim
langsung kepada nasabah, bahkan dapat membeli sendiri selaku
wakil Bank dalam membeli.
f) Bank dapat meminta uang muka dari nasabah untuk pembelian
barang tersebut secara Murâbahah.
g) Apabila nasabah membayar tepat waktu atau melunasi sebelum
jatuh tempo, maka nasabah dapat meminta keringanan (diskon)
tetapi diberikan atau tidaknya tergantung Bank selaku penjual.
2) Pembiayaan Salam39
Salam adalah transaksi jual beli dimana harga barang yang
diperjualbelikan belum ada. Oleh karena itu barang diserahkan
secara tangguh sedangkan pembayaran dilakukan tunai. Sekilas
transaksi ini mirip jual beli ijon, namun dalam transaksi ini kuantitas,
kualitas, harga dan waktu penyerahan barang harus ditentukan secara
pasti
3) Pembiayaan Istishnâ
Produk istishnâ menyerupai produk salam, tapi dalam istishnâ
pembayaran dapat dilakukan oleh Bank dalam beberapa kali (termin)
pembayaran. Skim Istishnâ dalam Bank Syariah umumnya
diaplikasikan dalam pembiayaan manufaktur dan konstruksi.
39
b. Pembiayaan dengan Prinsip Sewa (Ijârah)
1) Pembiayaan yang berdasarkan akad Ijârah menempatkan bank
selaku pemberi sewa (mu’jir) dan nasabah nasabah selaku penyewa
(musta’jir)
2) Pada fiqih klasik (pendapat jumhur), bank harus memiliki barang
sebelum menyewakan kepada nasabah. Pada beberapa kasus, hal ini
dilakukan oleh bank.
3) Pada umumnya bank tidak memiliki barang, tapi menyewa dari
pihak lain dan kemudian menyewakannya lagi kepada nasabah
dengan nilai sewa yang lebih tinggi. Hal ini dibolehkan selama tidak
ada kaitan antara sewa pertama dengan akad kedua.
4) Ijârah dalam bank bersifat operating ijarah, bukan financial lease
atau capital lease. Artinya sebagai pemilik sewa/ asset bank
bertanggung-jawab atas pemeliharaan asset yang disewa.
5) Dalam melakukan ijârah bank dapat memberikan opsi bagi nasabah
untuk memiliki obyek yang disewanya. Hal ini dimungkinkan
apabila bank memiliki obyek tersebut. Produk ini dimunkinkan
apabila bank memiliki obyek tersebut. Produk ini dikenal dengan
nama Ijârah Muntahiyâh bi al-Tamlîk atau Ijârah al-Iqtinâ
6) Ijârah Muntahiyâh bi al-Tamlîk pada dasarnya terdiri dari dua akad.
Yaitu akad sewa dan janji (opsi) pemilikan. Kepemilikan tidak bisa
c. Pembiayaan dengan Prinsip Bagi Hasil Syirkah40
Prinsip bagi hasil digunakan untuk usaha kerja sama yang ditujukan
guna mendapat keuntungan dimana keuntungan akan dibagi berdasarkan
kesepakatan dan kerugian ditanggung berdasarkan porsi modal:
1) Pembiayaan Musyârakah
Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginana para pihak yang
bekerja sama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki
secara bersama-sama.
Bentuk kontribusi dari pihak yang bekerja sama dapat berupa dana,
barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan
(entreprenurship), kepandaian (skill), kepemilikan (property),
peralatan (equipment), atau intangible asset (seperti hak paten atau
goodwill), kepercayaan atau reputasi (credit worthiness) dan
barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang.
2) Pembiayaan Mudhârabah
Perbedaan yang esensial dari Musyârakah dan Mudhârabah terletak
pada besarnya kontribusi atas manajemen dan keuangan atau salah
satu diantara itu. Dalam Mudhârabah, modal hanya berasal dari satu
pihak, sedangkan dalam Musyârakah modal berasal dari dua pihak
atau lebih.
3. Jasa Perbankan
40
Yang dimaksud jasa perbankan adalah pelayanan Bank terhadap
nasabah dengan tidak menggunakan modal tunai. Untuk pelayanan
ini bank menerima imbalan (fee). Jasa-jasa ini berupa:
a. Pengiriman uang (Transfer)
b. Pencairan cek (Inkaso)
c. Penukaran uang asing (Valas)
d. Letter of Credit
e. Letter of Guarantee
4. Interbank41
Produk yang digunakan untuk transaksi antarbank saat ini di
Indonesia :
a. Sertifikat Mudhârabah Antar Bank (SIMA)
Yaitu instrument pasar uang antar Bank yang hanya dapat
dijual satu kali kepada bank lain dengan bagi hasil sesuai
kesepakatan.
b. Sertifikat Wadî’ah Bank Indonesia (SWBI)
Yaitu instrument Bank Indonesia untuk menyerap
kelebihan likuiditas dalam perbankan.
c. Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek (FPJP)
Yaitu fasilitas Bank Indonesia untuk perbankan syariah
untuk menutupi selisih posisi (mismatch).
41
BAB III
PROFIL BANK DANAMON SYARIAH DAN MASYARAKAT MANDIRI DOMPET DHUAFA REPUBLIKA
A. Profil Bank Danamon Syariah 1. Sejarah Berdirinya
PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Didirikan pada tahun 1956 dengan
nama PT Bank Kopra Indonesia. Pada tahun 1976 namanya diubah menjadi
Bank Devisa Swasta pertama di Indonesia pada tahun 1988 dan Perseroan
Terbuka pada tahun 1989.42
Pada tahun 1997, sebagai akibat krisis moneter di Asia, Bank
Danamon mengalami kesulitan likuiditas dan ditempatkan dibawah Badan
Pengawasan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai Bank yang
diambil alih. Pada tahun 1999 pemerintah Indonesia melalui BPPN
merekapitulasi Bank Danamon dengan obligasi pemerintah senilai Rp. 32
Triliun saat itu juga, sebuah bank yang diambil alih lainnya dilebur Bank
Danamon sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan oleh BPPN.
Pada tahun 2002, 8 Bank yang di ambil alih lainnya dilebur ke dalam
Bank Danamon namun, sebagai surviving entity, Bank Danamon bangkit
menjadi salah satu pilar perbankan nasional.
42
Pada tahun 2003 Bank Danamon diambil oleh Konsorsium Asia
Financial Indonesia sebagai pemegang saham pengendali. Dengan demikian
manajemen baru serta didukung 180 hari pemetaan model bisnis dan strategi
baru, Bank Danamon terus menjalani perubahan transformasi nasional yang
dirancang untuk dijadikannya sebagai bank nasional terkemuka dan pelaku
regional unggulan.43
Bank Danamon Syariah membentuk unit usaha syariah pada tahun
2002 sebagai jawaban atas perkembangan perbankan syariah yang diyakini
suatu saat akan menjadi bagian penting dari perbankan nasional. Gagasan
perbankan syariah yang sesuai dengan prinsip Islam telah berkembang di
Indonesia sejak tahun 1990-an.44
Mengantisipasi peluang pertumbuhan pesat perbankan syariah di
tahun-tahun mendatang, unit usaha Bank Danamon Syariah terus membangun
infrastruktur untuk mendukung peningkatan permintaan pasar. Sampai akhir
tahun 2003 Bank Danamon telah memiliki 6 kantor cabang syariah yaitu di
Jakarta, Bukit Tinggi, Banda Aceh, Sidoarjo, Matapura, dan Solo yang
diresmikan pada 17 Desember 2003. Cabang yang ke tujuh di kota Makasar
dipersiapkan akhir tahun 2003 dan secara resmi beroperasi pada awal 2004.
43Laporan Tahunan Bank Danamon Pusat Tahun 2003,
h. 2
44
hingga mei 2008, Bank Danamon Syariah memiliki 11 kantor cabang
syariah.45
Sebagai pelengkap dari perluasan jaringan khusus perbankan syariah
Bank Danamon juga telah menjalankan salah satu keputusan dari Bank
Indonesia tentang perbankan syariah yang mengizinkan sistem transaksi
ganda (DTS) yaitu dua sistem transaksi terpisah untuk perbankan syariah dan
konvensional yang berjalan saling melengkapi satu sama lain di cabang Bank
Konvensional. Berdasarkan ini, Bank Danamon membuka DTS di lima kantor
cabang pada tahun 2004. melalui langkah ini berarti Bank Danamon membuka
DTS di 20 cabang lainnya di awal tahun 2004. Melalui langkah ini berarti
Bank Danamon dalam waktu singkat memiliki 25 cabang baru pelayanan
syariah, sebagai tambahan tujuh cabang khusus syariah yang telah beroperasi.
Pada tahun 2003, Bank Danamon Syariah juga mengimplementasikan sistem
Real Time Gross Settlement (RTGS) untuk transaksi transfer dana sehingga
terintegrasi dengan sistem operasional utama Bank Danamon.46
Danamon Syariah juga akan memperluas basis office channeling
dengan memanfaatkan jaringan kantor cabang Danamon konvensional di
beberapa kota. Diantaranya di Jakarta dan Surabaya. Dalam peta perbankan
syariah nasional, Danamon Syariah masih tergolong pemain kecil. Setidaknya
45
“Danamon Syariah Targetkan Miliki 150 Kantor OC ”, Republika, 15 Mei 2008, h. 17
46
dilihat dari sisi aset yang baru mencapai Rp.408.000.000.000 Porsi aset
sekitar 1,8 persen dari total perbankan syariah nasional.47
Saat ini, divisi syariah Bank Danamon baru memiliki 80 kantor cabang
OC (Office Channeling).48 Hingga akhir tahun 2007, penghimpunan dana pihak ketiga Bank Danamon Syariah tercatat meningkat 99,4% menjadi
Rp.672.000.000.000 dari tahun sebelumnya Rp.337.000.000.000. Sementara,
hingga akhir maret 208, penghimpunan dana tersebut tumbuh menjadi
Rp.705.000.000.000.
Hingga akhir tahun 2007, Bank Danamon Syariah telah menyalurkan
pembiayaan sebesar Rp.407.000.000.000 atau meningkat 85 % dibandingkan
tahun sebelumnya Rp.220.000.000.000. Sedangkan, hingga akhir maret 2008,
pembiayaan Danamon Syariah yang telah disalurkan tumbuh menjadi
Rp.473.000.000.000. Peningkatan kedua indikator tersebut mendorong
tumbuhnya asset Bank Danamon Syariah. Hingga akhir tahun 2007, aset Bank
Danamon Syariah tercatat menigkat menjadi Rp.765.000.000.000 atau
meningkat sekitar 57 % dari tahun sebelumnya Rp.488.000.000.000,
sedangkan pada akhir maret 2008, aset Bank Danamon Syariah tumbuh 10 %
dari periode akhir tahun 2007 menjadi Rp.844.000.000.000 Sedangkan laba
47
Danamon Pelopori Kartu Kredit, data diakses pada tanggal 8 Maret 2008 dari situs http:\\www.surya.co.id
48
bersih Bank Danamon Syariah tercatat meningkat 850 % lebih menjadi
Rp.12.800.000.000 dari tahun sebelumnya Rp.1.300.000.00049.
2. Visi dan Misi
Untuk menjalankan operasionalnya, Bank Danamon Syariah telah
menyusun perencanaan bisnis, dimana didalamnya telah menetapkan visi dan
misi perusahaan. Visi dan misi merupakan pertanyaan tujuan jangka panjang
perusahaan termasuk strategis yang akan digunakan untuk berkompetisi. Visi
ini merupakan pertanyaan keinginan perusahaan untuk menjadi apa di masa
yang akan datang dan untuk mewujudkan visi tersebut maka dirancanglah
misi.
Ada pun Visi dari Bank Danamon Syariah adalah :
“Tumbuh Bersama Mengemban Amanah”
Sedangkan Misi dari Bank Danamon Syariah adalah :
1. Fokus dan agresif menyediakan beragam produk dan jasa perbankan
berlandaskan sistem teknologi informasi canggih secara effisien dan
efektif.
2. Menjalankan usaha produktif dengan komitmen dan layanan prima dalam
kerangka kemitraan yang adil dan amanah sesuai prinsip Islam.
49
3. Struktur Organisasi
Perubahan anggaran dasar PT. Bank Danamon Tbk yang telah diubah
dengan akta No. 17 tanggal 26 Juli 2001 memungkinkan Bank Danamon
dapat melakukan berbagai kegiatan perbankan yang didasarkan prinsip
syariah yang sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.
Pendirian Bank Danamon Syariah merupakan perwujudan dari visi
Bank Danamon untuk mejadi “Bank Pilihan Masyarakat” (The Bank of
Choice) dengan Komisaris Utama Danamon yakni NG Kee Choe dan direktur
utamanya Sebastian Paredes, sedangkan untuk Vice President Danamon
Syariah adalah Agus Syabaruddin.
Kegiatan perbankan syariah ini, dalam pelaksanaannya didampingi
oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertindak sebagai penasehat dan
pemberi saran kepada Direksi, Pimpinan Unit Usaha Syariah dan Pimpinan
Kantor Cabang Syariah mengenai hal-hal yang terkait prinsip syariah,
khususnya memastikan bahwa semua produk dan jasa yang dipasarkan sesuai
dengan ketentuan syariah. Dewan ini independent yang dibentuk dan
bertanggung jawab kepada Dewan Syariah Nasional (DSN) yaitu lembaga di
bawah Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta ditempatkan pada Bank yang
melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dengan tugas yang
Dewan Pengawas Syariah Bank Danamon dibentuk pada tanggal 1
februari 2002 dan terdiri dari:50 1) Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin
2) Ir. H. Adiwarman A. Karim, SE, MBA
3) Drs. Hasanuddin. M.Ag
Secara struktural, Dewam Pengawas Syariah berada di luar struktur
organisasi Bank Danamon dan tidak bertanggung jawab kepada Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS).51
4. Produk–Produk
Produk-produk inovatif yang ditawarkan adalah:
Produk Pendanaan:
1. Tabungan Danamon Syariah52
Tabungan Danamon Syariah adalah simpanan berdasarkan prinsip
Mudhârabah (bagi hasil) dan wadî’ah (titipan) yang penarikkannya hanya
dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat
ditarik dengan cek, bilyet, giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan
dengan itu.
Fasilitas:
50
Diakses pada tanggal 15 Mei 2008 dari http://www.danamonsyariah.co.id
51Laporan Tahunan Bank Danamon Tahun 2003,
h.208
52
3 Layanan transaksi dan informasi ATM 24 jam melalui lebih dari 800
ATM Bank Danamon, 10.500 jaringan ATM bersama, 3.600 jaringan
ALTO, 800 ATM DBS Singapura/ POSB, dan lebih dari 800.000 jaringan
Cirrus dan Maestro di seluruh dunia secara on line real time.
3 Layanan informasi 24 jam melalui Danamon Acces Center (DAC)
3 Mendapatkan kartu Debit Danamon Syariah yang dapat melakukan
informasi saldo, ganti PIN, tarik tunai dan transfer antar rekening
Danamon via ATM Bank Danamon
3 Dapat melakukan penarikan tunai via ATM Maksimum Rp.10.000.000/
hari dan pemindahanbukuan maksimum Rp.75.000.000/ hari
3 Kartu Debit Danamon Syariah dapat dipakai berbelanja di merchant
berlogo MasterCard Elektronic.
3 Pilihan fasilitas Pass Book atau Statement.
3 Fitur Autodebet untuk pembayaran tagihan rutin
3 Fitur HP Banking dan SMS Banking
3 Fitur Phone Banking
3 Dapat melakukan setor dan tarik tunai melalui cabang Bank Danamon
Konvensional
Manfaat:
3 Aman dan fleksibel dalam bertransaksi
3 Bagi hasil diperhitungkan untuk jumlah saldo berapa pun (untuk Wadî’ah
3 Mendapatkan Kartu Debit Danamon Syariah secara gratis
3 Biaya administrasi bulanan Rp.9.800,- atau tidak lebih besar dari jumlah
bagi hasil pada bulan berjalan (Khusus Tabungan Mudhârabah)
3 Gratis biaya administrasi bulanan (Khusus Tabungan Wadî’ah)
Persyaratan Umum:
3 Menunjukkan identitas asli yang masih berlaku (KTP/ SIM/ Passport/
Lainnya)
3 Mengisi formulir pembukaan rekening
3 Memberikan setoran awal minimal Rp. 250.000
2. Tabungan Haji Danamon Syariah53
Tabungan Haji Danamon Syariah adalah simpanan berdasarkan prinsip
Mudhârabah Mutlaqah (bagi hasil mutlak) dan Wadî’ah (titipan) yang
disediakan khusus untuk mewujudkan keinginan niat suci nasabah dalam
menunaikan ibadah haji.
Fasilitas:
3 Layanan informasi 24 jam melalui Danamon Acces Center (DAC)
3 Dapat melakukan penyetoran tunai, print passbook melalui cabang Bank
Danamon Konvensional
Manfaat:
3 Aman dan fleksibel dalam bertransaksi
3 Bagi hasil kompetitif (untuk Wadî’ah tidak mendapatkan bagi hasil)
53
3 Biaya administrasi bulanan Rp.9.800,- atau tidak lebih besar dari jumlah
bagi hasil pada bulan berjalan (Khusus Tabungan Haji Mudhârabah)
3 Gratis biaya administrasi bulanan (Khusus Tabungan Haji Wadî’ah)
3 Meneguhkan niat pergi haji, sehingga tidak memberikan kartu Debit
Danamon Syariah untuk bertransaksi
Persyaratan Umum:
3 Menunjukkan identitas asli yang masih berlaku (KTP/ SIM/ Passport/
Lainnya)
3 Mengisi formulir pembukaan rekening
3 Memberikan setoran awal minimal Rp. 300.000
3. Giro Danamon Syariah54
Giro Danamon Syariah adalah simpanan berdasarkan prinsip mudhârabah
(bagi hasil) dan wadî’ah (titipan) yang penarikkannya dapat dilakukan setiap
saat dengan menggunakan cek, bilyet giro sarana perintah bayar lainnya, atau
dengan pemindahbukuan.
Fasilitas:
3 Layanan informasi 24 jam melalui Danamon Acces Center (DAC)
3 Dapat melakukan setor dan tarik tunai melalui cabang Bank Danamon
Konvensional
3 Dapat melakukan transaksi di ATM Bank Danamon
54
3 Untuk nasabah perorangan kartu debit Danamon Syariah dapat dipakai
untuk berbelanja di merchant berlogo MasterCard Elstronic
Manfaat:
3 Gratis biaya administrasi bulanan ( untuk Wadî’ah)
3 Mendapatkan Kartu Debit Danamon Syariah secara gratis (khusus untuk
perorangan)
3 Bagi hasil kompetitif dan diperhitungkan untuk jumlah saldo berapa pun
(untuk Mudhârabah)
Persyaratan Umum:
Perorangan
3 Menunjukkan identitas asli yang masih berlaku (KTP/ SIM/ Passport/
Lainnya)
3 Mengisi formulir pembukaan rekening
3 Memberikan setoran awal minimal Rp. 1000.000
Perusahaan
3 Menunjukkan identitas asli pengurus yang masih berlaku (KTP/ SIM/
Passport/ Lainnya)
3 Mengisi formulir pembukaan rekening
3 Menunjukkan asli dan menyerahkan photo copy SIUP, NPWP, TDP, Akta
Pendirian Perusahaan serta dokumen lain
4. Deposito Danamon Syariah55
Deposito Danamon Syariah adalah simpanan berdasarkan prinsip bagi hasil
yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan
perjanjian nasabah penyimpan dengan Bank.
Produk ini merupakan bentuk investasi sesuai syariah dengan prinsip
Mudhârabah Mutlaqah. Investasi ini diperuntukkan bagi nasabah individu
ataupun perusahaan dengan sistem pilihan waktu berjangka,1,3,6 atau 12
bulan.
Fasilitas:
3 Layanan informasi 24 jam melalui Danamon Acces Center (DAC)
3 Automatic Roll Over (ARO)
3 Bebas menentukan jangka waktu (1, 3, 6, atau 12 bulan)
3 Bagi hasil dapat dikredit ke rekening di Bank Danamon Syariah,
ditambahkan ke pokok deposito, atau ditransfer ke rekening lain.
Manfaat:
3 Aman dan fleksibel
3 Bagi hasil yang kompetitif
3 Dana dioperasikan kepada sektor riil yang menguntungkan dan sesuai
prinsip Syariah
3 Membantu perencanaan program investasi nasabah
55
Persyaratan Umum:
Perorangan
3 Menunjukkan identitas asli yang masih berlaku ( KTP/ SIM/ Passport/
Lainnya)
3 Mengisi formulir penempatan deposito
3 Menempatkan dana minimal Rp. 8000.000
Perusahaan:
3 Menunjukkan identitas asli yang masih berlaku (KTP/ SIM/ Passport/
Lainnya)
3 Mengisi formulir penempatan deposito
3 Menempatkan dana minimal Rp. 10.000.000
5. Investasi Harian Bagi Hasil
Investasi