PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DALAM PEN IN GKATAN
KEMENTERIAN NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK IJ\J DONESIA
TAHUN 2008
DAFTAR PUSTAKA
2
3
4 1
5
I
Diperbanyak oleh Kementerian Kesehatan RI 2010
Inisial Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif dr. Hj. Utami Roeli. SpA., MBA., IBCLC
Panduan Manajemen Laktasi Dit Gizi, Depkes RI, 200 I
Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi Departemen Kesehatan & UNICEF, 2006
Pedoman Umum Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP ASI) Lokal tahun 2006 Depkes RI
Strategi Nasional Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu sampai Tahun 2005 Depkes RI
Kata Pengantar ... ... ... ... ... ... .. .... .... ... ... ... .... .
ii i
Sambutan Deputi Bidang Peningkatan Kualitas
Hidup Perempuan ... ... ... .. .. ... ....
V
Pendahuluan 1
Bab I
A . Latar Belakang .. .. .. .. .. .. ... .. . 1
B. Tujuan ... ... .. ... . 3
C. Hasil Yang Diharapkan .. ... ... ... ... .. ... ... .. . 3
Pemberdayaan Perempuan dalam
Bab "
Peningkatan Pemberian ASI 5 A . Kebijakan ... ... . 7B. Strategi ... .. ... ... ... ... .. ... ... ... .. ... .. .. ... .. .. .. .. .. ... . 9
Bab III
Peningkatan Pemberian ASI NセNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN@ 13 A. Pekan ASI Sedunia ... .. ... .. ... .. ... .. ... . ... .... ... . .. .... .. 13B. Pemberian ASI ... ... ... .. ... ... .. ... ... ... 14
1. Inisiasi Menyusu Dini ... .... ... .. .. .. .. .. ... ... ... ... 18
2 . ASI Eksklusif 6 bulan ... ... .. ... ... ... .. .. .. .. .. .. ... 20
3 . Makanan Pendamping ASI (MP ASI) ... .... .. .. .. .... ... .. 22
4 . Pernberian ASI Pada Situasi Darurat ... ... .... .. .. .. ... .. ... 23
5. Pemberian ASI pad a Ibu dengan HIVAIDS ... .. .. .. ... ... 25
Bab IV
Peningkatan Pemberian ASI di Tempat Kerja ... 29A . Tempat Kerja Sayang Bayi .... .. .... .... .... ... .. ... 29
1. Ruang ASI ... ... .... .. .. .. ... ... .... .... 31
2 . Memerah ASI ... .. ... .. .... .. .... .. ... .. .. ... ... 32
B. Cara Memberikan ASI Bagi Ibu Bekerja. .. .. .. . .. .. .. ... 36
1. Memberikan ASI Secara Langsung ... ... ... 36
2. Cara Memberikan ASI Perah yang Sudah Disimpan ... ... 36
3. Keunggulan Penggunaan Cangkir ... ... .. ... . 37
Rtlang
ASJ
di
PolikJinlk Perkantoran/TeIPpat
Keri1. Kebutuhan Ruang ... .
37
2. Kebutuhan Alat ... .. ... .... .. .. .. ... .... ... .. ... .. . .
38
3. Sumber Daya Manusia ... ... .
39
a. Dokter klinik2. Layout Ruang ASI ... .. ... .... .... .
39
b. Tenaga kesehatan terlatihDaftar Pustaka ... ... .. ... ... .... .. 41
a. Ruang ASI yang merupakan bagian dari tempat pelayanan kesehatan di tempat kerja
.
,
Sofa Panjang (Memerah as セ@
b. Ruang ASI khusus/tersendiri
;j ii
:;;: «
t i
1: セ@
o .0
Mel' M.n....' ASI
o 0
"
.
"1
,.
I
pemberdayaanーセョAューオ。ョ@
dalam penlngkatan pemberr.m ASI pemberciay""n percmpuan、セ ャ。ュ@
pcnmgkatan pembe.rlan AS II
CD
.J<!
i2
.!!I. \
G@ iiii@ セ
f.
. ,2o 0
M<fo_.... ASI
.,
Wastafcl
,
セ@
«
セ@.J!.
..
IiL E
セ@
·iii
E
セ@
Sofa Panjang (Momerah ASI)
dan
、ゥオセケ。ォ。ョ@mendapat penggantian udara secara alamlah
dengan cara membuka seluruh pintu dan jendela atau dengan kipas angin,
• Kelembaban berkisar antara
3050%
atau maksimum60%,
• Temperatur udara 18 28°C, iii. Tersedia wastafel dan air mengalir. IV. Sampah padat :
• Tersedia tempat sampah dari bahan yang kuat, cukup ringan , tahan karat, kedap air dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya serta dilengkapi dengan penutup,
• Sampah kering dan sampah basah ditampung dalam tempat sampah yang terpisah,
v. Alat :
• Terbuat dari bahan kualitas baik, nyaman dan aman, • Memenuhi persyaratan ergonomis,
• Peletakan barangbarang perabot dan furniture harus disesuaikan dengan fungsinya sehingga mudah digunakan
• Menyisakan ruang gerak dan sirkulasi yang cukup dan tingkat rata-rata kebisingan
4045
dB .Kelengkapan alat yang diperlukan terdiri dari : a. Meja tulis
b. Kursi pemeriksa dan kursi pasien
c. Sofa panjang yang empuk dan ergonomis (memerah ASI) d. Lemari alat
e. Meja alat f. Lemari berkas g. Food model
h. Peralatan anthropometri : timbangan , microtoise (pengukur tinggi badan), pita LILA (Iingkar lengan atas), caliper
i. Refrigerator (Iemari es)
j. Meja dan peralatan komputer lengkap yang ergonomis k. Termos susu
e
I
pembcrday:L1n perempuan ddlam penlngkaran pemberian AS!KATA PENGANTAR
:92'uji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan ridhoNya, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan c.q Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan telah dapat menyelesaikan Buku Pedoman ASI ini .
Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan melalui Asisten Deputi Urusan Kesehatan Perempuan berinisiatif menyusun Buku Pedoman ini , karen a kami menyadari bahwa informasi tentang pentingnya Air Susu Ibu dirasa masih kurang tersebar luas , khususnya bagi mitra mitra kerja kita, baikdi tingkat pusat maupun di tingkat provinsi.KIE mengenai ASI ini masih sangat kurangbersaing dengan promosi iklan susuformula yang tersebar luas, sampai di beberapa instansi pelayanan kesehatan ibu dan anak. Suatu hal yang bisa dianggap melanggar Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Pengganti ASI yang diadopsi oleh WHA (World Health Assembly) pad a tahun 1981, yang melarang penggunaan fasilitaskesehatan untuk promosi pengganti ASI, seperti susu formula .
Buku Pedoman ASI akan disebarluaskan kepada instansi sektor terkait di tingkat pusat dan daerah , Biro/Bagian Pemberdayaan Perempuan di tingkat provinsi & kabupaten/kota , TP PKK , organisasi perempuan keagamaan, organinisasi, organisasi , LSM Peduli Kesehafan Ibu dan Anak , dan Perusahaan atau pengelola tempat kerja.
Dalam kesempatan ini pula kami menyampaikan terima kasih kepada pihak Departemen Kesehatan RI, khususnya kepada Direktorat Bina Kesehatan Gizi dan Direktorat Kesehatan Kerja dan Direktorat Kesehatan Anak , Depkes RI , atas masukan dan informas , khususnya pada Bab IV buku pedoman ini. Semoga kerjasama dan koordinasi yang baik ini akan terus berkelanjutan, sebagai upaya kita bersama dalam Upaya Peningkatan Pemberian ASI di Indonesia.
Jakarta, November 2008 Tim Penyusun
I _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _.;...._ _ _ _ _ _ _ _ _M] N MMNZ bセ ・ 「 ・ イ 。 セーセセセセセ 。 セセ「 。 Zイケ AN[ ゥ@ セュ ・ ョ ッ ZAAAAZセセ ャ。 ォ ZNNAN ュゥョオュ@ ASI ini, khususnya pada awal diberikan ASI
perah simpan. Coba memberikan dengan cangkir atau sendok.
• Cangkir mudah dibersihkan dengan sabun dan air bersih, jika tidak mungkin merebusnya
• Cangkir tidak akan dibawabawa kemanamana dalam waktu cukup lama, sehingga kurang memberi waktu bagi bakteri untuk berkembang biak • Bayi tidak dapat minum sendiri dari cangkir, sehingga pasti akan ada orang
yang memegang bayi, memperhatikan bayi, menatap bayi (kontak mata), dan berinteraksi dengan bayi. Hal yang dibutuhkan bagi perkembangan kecerdasan intelegensia (melalui kontak mata) dan kecerdasan emosional bayi.
• Minum dari cangkir tidak menggantikan kegiatan menghisap pada kegiatan menyusu, sehingga bayi tetap akan bersemangat untuk menyusu . Ketika ibu kembali dari bekerja bayi akan sangat ingin menyusu karena kebutuhan untuk menghisap belum terpenuhi. Hal ini akan merangsang produksi ASI, sehingga ibu tetap dapat menghasilkan ASI dalam jumlah yang banyak • Penggunaan cangkir untuk memberikan ASI perah kepada bayi akan melatih
bayi mengendalikan seberapa banyak ASI yang diteguknya.
C. Ruang ASI di Poliklinik/Perkantoran{Tempat Kerja
a.
Luas ruangan minimal 3 x 4 m2b. Kondisi khusus ruangan :
i.
ii.
Cahaya di ruangan sesuai standar (tersedia penerangan yang cukup bagi petugas, sehingga mereka dapat bekerja efisien dan nyaman sepanjang waktu kerja), dengan intensitas cahaya di ruang kerja antara 200500 lux.
Pengkondisian udara :
• Sirkulasi udara sesuai standar,
• Pengaturan suhu udara dalam ruang kerja dapat menggunakan AC atau kipas angin, AC secara periodic harus dimatikan
i. Jika memungkinkan bawalah bayi ke tempat bekerja
ii. Jika tem pat kerja dekat dengan ru mah, ketika jam istirahat : • ibu pulang untuk menyusui, at au
• seseorang mengantarkan bayi untuk menyusu
iii. Jika tempat kerja jauh dari rumah
• Beri ASI saja sesering mungkin selama cuti melahirkan • Tidak memberi ASI dengan botol, tetapi gunakan cangkir
• Susui bayi pada malam hari, pagi hari, dan kapan saja saat ibu berada di rumah
• Biarkan bayi melepas sendiri hisapan bayi, setelah satu payudara yang dihisap bayi terasa kosong
• Segera berlatih memerah ASI setelah melahirkan
• Perah ASI sebelum berangkat kerja, dan minta kepada pengasuh agar memberikan ASI tersebut pada waktu tertentu ketika ibu bekerja. • Susui bayi setelah memerah ASI agar ASI yang sulit diperah di dapat
bayi
• Ajari pengasuh memberi ASI dengan cangkir secara benar dan cermat • Ditempat kerja, perahlah ASI 23 kali (selang 23 jam)
2. CARA MEMBERIKAN
ASI
PERAH YANG SUDAHDISIMPAN
Idealnya mencairkan ASI beku di dalam lemari pendingin. Jika diperlukan segera, coba cairkan ASI beku dengan air dingin kemudian air hangat yang mengalir
• Hindari penggunaan ASI yang disimpan dari lemari pendingin dari kerusakan akibat pemanasan yang berlebihan
• ASI tidak boleh dipanaskan dengan microwave
• Gunakan segera ASI perah beku yang sudah dicairkan dan buang bila tidak dihabiskan
• Jika ASI berbau jangan digunakan
• Ketika disimpan, lemak susu mungkin terpisah. Kocok pelanpelan sebelum digunakan
CD
I
pembe.rd3ya.ln perempuan dalam penlngkat3fl pemberton ASISAMBU TAN
DEPUTI BIDANG
PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN
KEMENTERIAN NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Visi Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan yang berupaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gel1'der, kesejahteraan dan perlindungan anak dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, antara lain diwujudkan melalui peningkatan kualitas hidup perempuan serta meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak . Meningkatkan kualitas hidup perempuan, khususnya bidang kesehatan, antara lain akan berdampak pada peningkatan kualitas SDM manusia di masa mendatang.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas merupakan unsur penting dalam keberhasilan Pembangunan Nasional. Anak sebagai SDM penerus bangsa dan harapan masa depan keluarga,masyarakat dan negara perlu diberikan pembinaan dan terarah sedini mungkin , bahkan sejak dalam kandungan. Pembinaan ini diawali dengan lebih memperhatikan ibu hamil, agar mendapat gizi yang cukup serta selamat dalam menjalankan proses kehamilan dan persalinannya. Setelah bayi lahir
pe rlu 、 ゥ「セ イ ゥ Nォ。ョ@ pemberlan I11akanan
Y'lIlg
dapat menja min pertumbuhan iasJllilni dan rohaninya secara optimal.Mencapai tumbuh kembang anak yang optimal antara lain dengan memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi, sejak lahir, pada menit menit awal kehidupan , sampai us ia 6 bulan ASI diberikan eksklusif tanpa makanan lainnya, kemudian setelah 6 bulan , ASI tetap diberikan dengan didampingi makanan tambahan (Makanan Pendamping ASI) yang bergizi dan disesuaikan dengan usianya. Setiap orang, baik perempuan sendiri , maupun laki laki, keluarga, masyarakat umum, tenaga kesehatan, dan lingkungan kerja harus mengetahui akan hal ini, sehingga akan tercipta dukungan bagi keberhasilan ibu untuk menyusui .
Ketidaktahuan perempuan akan banyak hal yang menyangkut kesehatan reproduksi akan berpengaruh pada timbulnya masalah masalah selama kehamilan dan setelah persalinan . Oleh karena itu penting bagi perempuan untuk mendapatkan akses seluas luasnya terhadap berbagai informasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya , sebagai bagian dari pemenuhan hak hak reproduksi perempuan. Perempuan mempunyai peran dan kedudukan yang strategis di dalam keluarga dan masyarakat sebagai pelopor, penggerak, penjaga dan benteng untuk melindungi anak anaknya, juga sekaligus sebagai inisiator untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum akan halhal yang berkaitan dengan pentingnya pemberian ASI bagi kualitas SDM di masa mendatang.
Perubahan besar yang telah terjadi dalam persepsi perempuan sejak tahun I960an , mengenai hakhak dan peranan mereka dalam masyarakat, menyebabkan perempuan lebih giat dalam setiap fase kehidupan masyarakat, serta lebih menyadari kebutuhan dan tujuan mereka sendiri dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Konsep gender mengandung pengertian bagi kemajuan perempuan dan mengkonstruksikan peran dan kedudukan perempuan setara dengan kaum pria di dalam keluarga maupun masyarakat. Seorang perempuan memiliki tiga peranan yaitu domestik , sosial kemasyarakatan dan produksi (Moser. 1993 ). Perkembangan ini erat hubungannya dengan perubaha n penting dalam perawatan kesehatan perempuan termasuk kemampuan memilih , bilamana atau apakah perlu punya anak , dan ikut berperan serta dalam keputusan mengenai kesehatan atau penyakit mereka.
Menyikapi kondisi diatas , untuk itu kualitas hidup . pengetahuan. wawasan dan cakrawala perempuan perlu terus menerus ditingkatkan dan dikembangkan sehingga dapat menjaring dan menyebarluaskan berbagai informasi tentang kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan secara umum dan kesehatan reproduksi secara khusus . Perempuan juga harus berusaha memberdayakan dirinya send iri agar dapat melindungi keluarganya dan memberdayakan perempuan lain disekitarnya ,
c. Cara Meny.@pkan Wadah Untuk ASI Perah
Gunakan cangkir, gelas, botol atau kend i bermulut lebar (hindari wadah dari plastik yang tidak aman bagi kesehatan)
Cuci cangkir tersebut dengan sabun dan air (bisa dilakukan sehari sebelumnya)
Tuangkan air mendidih ke dalam cangkir tersebut, dan biarkan beberapa men it. Air mendidih akan membunuh sebagian besar bakteri
Bila telah siap memerah ASI, buang air yang ada di dalam cangkir tersebut.
d. Cara Aman Menyimpan ASI perah di Rumah
Suhu Kamar (tidak dalam lemari pendingin) 6 jam
Lemari pendingin suhu 5 - 10 oC 3 hari
Lemari pendingin suhu 0 4 oC 8 hari
Jika suhu meningkat di atas 4 oC sete la h
3
hari , gunakan dalam waktu 6 jam atau dibuangLemari pembeku (freezer) suhu ::; 18 oC 6 bulan
ASI Perah Beku Sebelumnya
Dikeluarkan dari freezer, sudah tidak beku
dan disimpan di lemari pendingin 12 jam
Dikeluarkan dari freezer. sudah tidak beku
dan dikeluarkan dari lemari pendingin Gunakan segera
Sum ber , www breastfeedingnetwork.org.uk
Ket G<lmb:Jr . ASI dltampung pada wadah. kemLldian AS! diberikan kep:lda bayi dellgan menggunilkan gelJs (bukan borol)
»
Berapa banyak ASI yang dapat diperah ?Perahlah sebanyak mungkin ASI , sedikit apapun ASI yang berhasil diperah, akan sangat bermanfaat bagi bayi
Pada umumnya ibu dapat memerah AS! hingga 400500 (
+
2 eangkir) atau bahkan lebihI eangkir ASI (+ 200 ml) dapat dipergunakan untuk 3 kali pemberian (masingmasing: 60 70 ml)
ii. Hemerah ASI dengan
pompa
Memerah ASI dengan pompa akan membantu pada saat payudara penuh , bengkak dan nyeri. Sebaliknya tidak ter!alu mudah bila payudara dalam keadaan lembek.
Pompa yang sebaiknya digunakan adalah pompa yang bersih dan higienis. Selama ini yang banyak digunakan adalah pompa karet , walau sesungguhnya pompa ini kurang coeok untuk memerah ASI, karena sukar dibersihkan sehingga ASI yang terkumpul sering terkontaminasi bakteri patogen . Oleh karena itu jika memungkinkan menghindari penggunaan pompa ini.
e
I
pemberd'Y""n perempuan da lam penlngkata n pemberlan AS IBuku PedOmaTI ASI ini .sebagai
.salah ..
to media Komunikasi lnformasJ dan Edukasi(KIE) bagi para stake holder baik di tingkat pusat maupun provinsi dan kabupatenl kota, diharapkan dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak, serta dapat meningkatkan pemberian ASI di Indonesia.
Jakarta, N ovember 2008 Oeputi Bidang Peningkat an
KualitaSHidup Perempuan
---
i. Memerah ASI dengan tangan セセ MMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMセ@ Langkah-Iangkah:
Sterilkan wadah dengan air mendidih
• Cuci tangan dengan benar sebelum menyentuh payudara dan wadah ASI
Ibu tenang dan santai, duduk atau berdiri dengan nyaman dan pikirkan sang bayi atau dengarkan rekaman suara atau pandangi foto bayi
Lakukan pijitan ringan di sekeliling payudara, pegang wadah dekat payudara
Dengan ibu jari ditepi luar areola sisi atas dan telunjuk ditepi luar areola sisi lainnya, tekan lembut kearah dada (arah jarum jam) (Gambar I)
Tekan peras areola dengan ibu jari dan telunjuk, lalu longgarkan tekanan (Gambar 2)
Ulangi gerakan "tekan peras longgarkan" di sekeliling areola dari semua sisi (Gambar 3 & 4)
Tampung ASI pada wadah yang telah disiapkan .
Peralatan yang dibutuhkan :
B
B
PENDAHUlUAN
Meja tulis
Ku rsi untuk Ibu memerah ASI
Alat penyimpan ASI yang sudah diperah (botol) Kulkas/Lemari pendingin
Peralatan memerah terdiri dari gelas atau cangkir serra tutupnya
A.
Latar
Belakang
Pompa ASI (manual)Konseling kit menyusui terdiri dari : model payudara, boneka,
Menyusui merupakan suatu pengambilan keputusan yang sangat cangkir kecil
Tape dan CD player bijaksana dari kedua orang tua. Banyak keuntungan yang didapat
Lemari tempat menyimpan alat dari pemberian ASI, baik keuntungan untuk bayi , ibu, keluarga dan
lingkungan bahkan untuk perekonomian nasional. ASI merupakan • Tempat sampah (kering dan basah dipisah)
makanan terbaik dan paling cocok untuk bayi yang dapat menjamin
Ketenagaan : pertumbuhan bayi menjadi manusia yang berkualitas, karena ASI
mengandung zat gizi yang sesuai dan optimal bagi tumbuh kembang Penanggung jawab ruang ASI adalah tenaga kesehatan atau bukan tenaga
kesehatan yang telah mengikuti pelatihan konseling menyusui. bayi man usia.
Indonesiamemiliki komitmen untuk melaksanakan " Deklarasi Innocenti" tahun 1990 yang menyatakan bahwa setiap negara diharuskan memberikan perlindungan dan dorongan kepada ibu agar berhasil memberikan ASI secara
2. MEMERAH ASI
ekslusif kepada bayinya. Dukungan Indonesia untuk Deklarasi Innocenti 1990 (Italia) tersebut antara lain dengan pencanangan Gerakan Nasional PPASI (Peningkatan Penggunaan ASI) oleh Presiden pada tahun 1990 a. Kapan Memerah ASI
dan terbentuknya Rumah Sakit Sayang Bayi pada beberapa Rumah Sakit M emerah ASI mudah dilakukan jika payudara dalam keadaan terasa
pemerintah dan swasta. Sampai saat ini, Indonesia telah memiliki Keputusan penuh tetapi tidak keras, lebih sulit jika payudara sedang bengkak dan
nyeri (ibu hendaknya mulai memerah ASI pada harihari pertama setelah Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 237/ 1997 tentang Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu dan No . 450/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu melahirkan dan tidak menunggu sampai payudara penuh).
secara Eksklusif pada bayi di Indonesia, yang mengatur mengenai masalah pemberian ASI di Indonesia.
Memerah ASI dapat dilakukan dengan tangan, dengan pompa manual, b. Cara Memerah ASI
Keberhasilan seorang ibu untuk menyusui diperlukan dukungan maupun pompa elektrik. Di tempat kerja dianjurkan memerah ASI
dari semua pihak, baik dari suami (sebagai motivator/pendorong istri dengan tangan dan pompa manual. Memerah ASI dengan tangan adalah
cara paling baik. Cara ini hanya sedikit memerlukan peralatan , sehingga untuk menyusui), keluarga (penciptaan suasana yang mendukung kegiatan menyusui di rumah), masyarakat (penciptaan norma dan lingkungan yang pekerja perempuan dapat dengan mudah memerah ASI di mana saja dan
kapan saja. baik untuk menyusui), lingkungan kerja (penyediaan Ruang ASI, konselor
menyusui, dan pemberian kesempatan menyusui selama waktu kerja), sistem pelayanan kesehatan (advokasi tiap RS menjadi RSSI&B, kurikulum menyusui ASI yang diperah harus disimpan dengan hati hati agar
terhindar dari kontaminasi bakteri dan sekaligus menghentikan dalam setiap pendidikan tenaga kesehatan, penyediaan konselor dan tenaga ahli menyusui), pemerintah dan peraturan perundangundangan (advokasi pertumbuhan bakteri. ASI pad a refrigerator berakibat pad a
pemegang kebijakan untuk menerapkan Kode Internasional Pemasaran PASI berkurangnya kualitas ASI. Kualitas ASI perah akan tetap terjaga
pad a suhu dibawah 4°C. WHO dan Resolusi WHA, pembuatan petisi insentif pajak bagi tempat kerja
sayang ibu dan bayi).
pemberd.yaan pcrcmpu.n d.l,,", penlngk..,LlfI pembenan ASI
I
Konxensi tentang Hak Anak, mengatakan bahwa setiap 。ョセォ ュ・ョ セ ァ@ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ dan tempat kerj<l<mi!njadi Tempat Kerja Sayang Bayi.·UU No. 13 tanunn I
hak untuk hidup dan kepastian untuk dapat bertahan hidup dan tumbuh
2003
tentang Ketenagakerjaan pasal 83 menyebutkan bahwa Pekerja/kembang yang optimal. Merupakan hak anak untuk disusui dan hak ibu untuk buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan
menyusui anaknya. Oleh karena itu pemberian dukungan terhadap ibu yang sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu
menyusui merupakan faktor penting bagi keberhasilan menyusui ekslusif 6 kerja. Yang dimaksud dengan kesempatan sepatutnya adalah "Iamanya waktu
bulan dan menyusui dilanjutkan hingga anak usia 2 tahun. yang diberikan kepada pekerja/buruh perempuan untuk menyusui bayinya
dengan memperhatikan tersedianya tempat yang sesuai dengan kondisi dan
Sementara itu berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh kaum kemampuan perusahaan , yang diatur dalam peraturan perusahaan (PP) atau
perempuan dan seiring dengan kemajuan zaman, dewasa ini banyak perjanjian kerja bersama (PKB)". disebutkan dalam penjelasan atas
UU
No.perempuan terlibat di sektor publik. Perempuan yang tadinya hanya sebagai I 3 tahun 2003 pasal 83.
ibu rumah tangga, kini berubah akibat bertambahnya jumlah kesempatan kerja, meningkatnya pendidikan , dan perubahan sosial ekonomi. Dengan
, . '
..
-demikian, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia
I " ,RUarjg'
セsャ@
'
terus meningkat. Dengan meningkatnya tingkat partisipasi angkatan kerjaperempuan tersebut, dikhawatirkan meningkat pula hambatan pemberian ASI
Ekslusif di Indonesia. Tenaga kerja perempuan yang memiliki bayi mengalami Penyediaan tempat yang sesuai, seperti disebutkan dalam penjelasan atas kesulitan untuk memberikan ASI karena tidak ada sarana dan kesempatan pasal 83 ,
UU
No, 13 tahun 2003, selanjutnya disebut sebagai Ruang ASI. yang diperlukan untuk memberikan ASI kepada bayinya di lingkungan kerja Ruang ASI, menu rut Departemen Kesehatan RI, didefinisikan sebagai ruang atau tidak diberikan kesempatan untuk memerah ASI selama waktu kerja; atau tempat yang disediakan di tempat kerja dimana pekerja perempuan selain faktor dari ibunya sendiri yang tidak atau kurang memiliki pengetahuan dapat memerah dan menyimpan ASI untuk kemudian diberikan kepada yang cukup mengenai manajemen laktasi . bayinya ketika pulang bekerja atau memberikan ASI kepada bayinya selama bekerja. Ruang ASI dapat merupakan ruang tersendiri atau merupakan bagian Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, Peningkatan Pemberian Air dari tempat pelayanan kesehatan yang ada ditempat kerja, Ruang ASI harus Susu Ibu (PP ASI) merupakan kegiatan strategis. PP ASI dapat menurunkan memenuhi persyaratan kesehatan .subsidi Pemerintah Daerah untuk kesehatan karena bayi dan anak lebih sehat
sehingga akan menurunkan angka Kesakitan dan Kematian Bayi, dan sekaligus Persyaratan Ruang ASI adalah sebagai berikut : juga akan meningkatkan kualitas SDM daerah bersangkutan. Pembangunan
Pemberdayaan Perempuan merupakan salah satu upaya yang strategis untuk Lokasi harus be bas dari pajanan (bebas dari kebisingan, polutan, dll) yang mewujudkan SDM yang berkualitas, karena tanpa upaya Pemberdayaan ada ditempat kerja
Perempuan, maka Perempuan akan tetap terdiskriminasi, termarginalisasi, Lingkungan cukup tenang, udara sejuk sehingga dapat memberikan rasa dan terbebani oleh pekerjaan, sehingga perempuan tak mampu memelihara tenang kepada pekerja perempuan dalam menyusui atau memerah
kesehatannya dan meningkatkan pengetahuannya. ASI nya,
Luas ruangan m inimal 3 x 4 m2, tertutup, ada pintu yang mudah Penyebarluasan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) mengenai dibuka/ditutup
pemberian ASI merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pemberian Penerangan dalam ruangan cukup, dan tidak menyilaukan ( intensitas ASI di Indonesia. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan yang 200 - 500 lux)
antara lain misinya adalah meningkatkan kualitas hidup perempuan di bidang Sirkulasi udara cukup . Pengaturan suhu udara dalam ruang ASI kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan & perlindungan anak, secara dapat menggunakan AC atau kipas angin (temperatur udara 18 -berkala melakukan promosi Peningkatan Pemberian ASI melalui Pekan ASI 28°C)
Sedunia yang memiliki tema yang berbeda setiap tahunnya. Kegiatan ini Kelembaban berkisar antara 30-50%, maximum 60%
ditujukan kepada para stake holder yaitu instansi/sektor terkait, organisasi Tersedia wastafel dengan air mengalir untuk cuci tangan dan mencuci perempuan, organisasi perempuan keagamaan, LSM peduli kesehatan ibu peralatan
dan anak, dan lain-lain. Buku Pedoman Peningkatan Pemberian ASI ini
ASI Eksklusif. I!)u
yang
login kembaJi bekerja diharapkan berkunJul'\g ke Klrmk Laktasi untuk menyiapkan cara memberikan ASI bila bayi harus dit inggal. Masalah yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan adalah sulitnya perempuan yang bekerja agar dapat tetap memberikan ASI kepada bayinya. Hal ini disebabkan karena program cuti dari pemerintah belum mendukung, juga kurangnya pengetahuan bagaimana ibu pekerja tetap memberikan ASI kepada bayinya, serta tidak tersedianya ruang ASI yang diperlukan di tempat kerja untuk memerah ASI.Hakekatnya, semua ibu itu bekerja atau yang mempunyai kesibukan di rumah atau diluar rumah, agar berhasil menyusui , ibu hendaknya mencari atau memperoleh informasi yang lengkap antara lain mengenai manfaat ASI dan menyusui serta bagaimana melakukan manajemen laktasi. Secara khusus, ibu bekerja perlu mempersiapkan sejak hamil atau sebelum hamil , mengatur atau mengambil cuti hamil yang cukup , cara memerah ASI, cara menyimpan ASI, serta bila belum tersedia di tempat kerja, bila memungkinkan bisa mengusahakan dukungan dari tempat kerja dalam bentuk penyediaan Ruang ASI.
Sebagai upaya meningkatkan pemberian ASI bagi ibu ibu yang bekerja di Indonesia, maka Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan bekerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi dan Departemen Kesehatan menyusun suatu Peraturan Bersama untuk mendukung pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja. Peraturan Bersama antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan , Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi dan Departemen Kesehatan NO. 4B/ MenPP/ XII/200B ; PER.27/ MEN/XI1/200B; No. I i n/ Menkes/ PB/ XII/ 200B tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja, telah ditanda tangani pada tanggal 22 Desember 2008.
Tujuan Peraturan Bersama ini adalah :
a. memberi kesempatan kepada pekerja/buruh perempuan untuk memberikan atau memerah ASI selama waktu kerja dan menyimpan ASI perah untuk diberikan kepada anaknya;
b. memenuhi hak pekerja/buruh perempuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anaknya;
c. memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI guna meningkatkan gizi dan kekebalan anak; dan
d. meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Melalui Peraturan Bersama ini diharapkan tenaga kerja perempuan mendapatkan perlindungan dan dukungan untuk menyusui di tempat kerja,
e
I
p"mbcrday:.an perempuan dai<lm penillgi<.!bn pell1berl.ln ASIdlharapkan dapar menjadl media Infor masi dan sosiallsasl yar}g efel<.tif bagI
upaya Peningkatan Pemberian ASI di Indonesia.
B
TUJua
Tujuan Umum Meningkatkan komitmen para stake holder baik di tingkat pusat maupun daerah dalam upaya Peningkatan Pemberian ASI (PP ASI) di Indonesia
Tujuan Khusus I . Tersosialisas ikannya pengetahuan mengenai manfaat menyusui bagi kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak
2. Meningkatnya upaya pemberdayaan perempuan dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kampanye peningkatan pemberian ASI
3. Meningkatnya peran serta keluarga, masyarakat, sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak, lingkungan kerja dan pemerintah dalam mendukung keberhasilan menyusui
4. Meningkatnya kesadaran , pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan dan tempat kerja akan pentingnya Peningkatan Pemberian ASI dalam meningkatkan kualitas SDM :
c.
Hasil Yang
DiharapKan
I. Terbentuknya komitmen bersama antara para stake holder dalam upaya Pemberdayaan Perempuan dalam Peningkatan Pemberian ASI di Indonesia
2. Peningkatan peran perempuan dalam upaya Peningkatan Pemberian ASI di Indonesia
3. Terbentuknya norma sosial dalam keluarga, masyarakat, petugas kesehatan, dan tempat kerja yang mendukung keberhasilan menyusui
BAB
PENINGKATAN PEMBERIAN
ASI DI TEMPAT KERJA
A. Tempat Kerja Sayang
Bayi
Pada saat gem a susu formula begitu gen car dipromosi kan sebagai salah satu sumber zat gizi bayi, maka gema yang sama tentang keunggulan ASI juga harus selalu dikumandangkan kepada masyarakat , agar masyarakat dapat menerima informasi yang seimbang dan selalu memilih yang terbaik untuk bayinya.
Sejalan dengan pernyataan itu , pada tahun 2002 pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang (UU ) nomor 23 tentang Per li ndungan Anak yang beberapa bab diantaranya mendukung pernyataan di atas. Bab tersebut antara lain, bab I Pasal I nomor 12 dan Bab II Pasal 2 dalam UU no 23 tahun 2002 berbunyi hak anak adalah bagian dari hak azasi manusia yang wajib dijamin , dilindungi dan d ipenuhi oleh orangtua, keluarga, masyarakat , pemerintah dan negara . Hak anak tersebut mencakup, I) non diskriminasi , 2) kepentingan terbaik bagi anak, 3) hak kelangsungan hidup, dan 4 ) perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak .
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 237/ Menkes/ IV/ 1997 tentang Pemasaran Pengganti ASI juga mendukung pern yataan diatas yakni disebutkan bahwa pengawasan terhadap Pemasaran Pengganti ASI ditujukan semata-mata untuk melindungi bayi dalam memperoleh hak dasarnya yaitu hak memperoleh makanan terbaik berupa AS!. ASI selain mengandung zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi , ASI juga mengandung zat kekebalan yang sangat efektif untuk mencegah bayi dari berbagai penyakit infeksi . Selain itu dengan pemberian ASI dapat memberikan interaksi psikologis yang kuat dan adekuat antara bayi dan ibu yang merupakan kebutuhan dasar tumbuh kembang bayi . Oleh karen a itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mempromosikan , mendukung dan melindungi ibu agar dapat menyusui bayinya dengan ba ik sebagaimana mestinya .
Ibu yang bekerja bukan merupakan alasan untuk menghentikan pemberian
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DALAM PENINGKATAN
PEMBERIAN ASI
Target Nasional pemberian ASI eksklusif pada tahun 2005 adalah 80% (Stranas PP ASI Sampai tahun 2005). Namun kenyataannya situasi pemberian ASI di Indonesia masih kurang menggembirakan, masih banyak ibu-ibu di Indonesia yang belum memberikan ASI secara benar. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tercatat bahwa cakupan ASI Ekslusif sebesar 38% (SDKI, 2007), menu run dari kondisi tahun 2002 - 2003 yaitu 39,5% dari keseluruhan bayi, sementara jumlah bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7 % (SDKI 2002-2003) menjadi 27,9% (SDKI, 2007).
Perubahan sistem pemerintahan dari sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi berpengaruh pada kebijakan pemerintah . Pemerintah pusat hanya menetapkan kebijakan umum yang harus diterjemahkan dalam strategi dan langkah pelaksanaan oleh pemerintah daerah. Penetapan prioritas dan pengalokasian dana ditetapkan oleh pemerintah daerah otonomi. Masalah yang dihadapi berkaitan dengan Peningkatan Pemberian ASI antara lain "apakah pemerintah daerah (eksekutif dan legislatif ) memahami pentingnya Pemberian ASI bagi pembangunan SDM di daerahnya?" atau "apakah pemerintah daerah (eksekutif dan legislatif) bersedia memprioritaskan kegiatan peningkatan kualitas SDM dan mengalokasikan dana untuk peningkatan kualitas SDM termasuk peningkatan pemberian ASI".
Banyak faktor yang mempengaruhi pola pemberian ASI antara lain: a. Ibu sendiri :
Kekurang siapan fisik maupun psikis,
Kurang informasi dan pengetahuan mengenai manfaat ASI, manajemen laktasi dan hal-hal berkaitan dengan pemberian ASI
b. Keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan dan tempat kerja : Kurang dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitarnya Perubahan budaya
Kurang dukungan dari tenaga kesehatan dan tempat bekerja c. Pemerintah dan organisasi kemasyarakatan :
Lemahnya perangkat hukum dalam upaya pengawasan dan pelaksanaan peraturan yang berkaitan dengan PP ASI
- - - -
セ@ kャゥイゥゥ ョァ ョケ 。 セ@ p embe ri a n ー セ イゥNッイ ゥ エ。ウ@ t,erhadap pem han g.un<lp NウNdセ@yang berkualitas d. Produsen Makanan Bayi :
Gencarnya promosi susu formula
Keberhasilan menyusui juga ditentukan oleh bantuan dan dukungan terus menerus kepada ibu untuk menyusui eksklusif selama 6 bulan . Suami, keluarga, tenaga kesehatan , masyarakat dan lingkungan kerja memegang peranan penting dalam keberhasilan ibu menyusuL Hampir semua ibu dapat menyusui bila dibantu untuk memperoleh rasa percaya diri serta diberi informasi mengenai tehnik menyusui yang benar. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang ibu/perempuan mendapatkan informasi yang benar dan up to date mengenai semua hal tentang menyusuL
Perempuan Indonesia merupakan sumber daya yang potensial, apabila di tingkatkan kualitasnya dan diberi peluang dan kesempatan serta kemampuan dan keterampilan yang sama untuk berperan. Saat ini kita dapat melihat berbagai kiprah perempuan Indonesia dalam berbagai peran dan posisi strategis serta kondisi dan posisi perempuan dalam berbagai keragaman peran . Perempuan yang tadinya hanya sebagai ibu rumah tangga , kini berubah status sosialnya dengan bertambahnya jumlah kesempatan kerja, meningkatnya pendidikan, dan perubahan sosial ekonomL Kesempatan luas dalam bidang pendidikan, menyebabkan banyak perempuan dapat memilih posisi apa saja di sektor publik.
Padaperingatan PekanASI Seduniatahun 1995, WABAmengangkattema "Menyusui
: Memberdayakan Perempuan", mengandung makna bahwa menyusui bisa
memberdayakan perempuan dengan kenyataan sebagai berikut :
• Menyusui menyebabkan berkurangnya ketergantungan ibu baik dari aspek kesehatan dan aspek ekonomi
• Menyusui mengurangi kepentingan komersial untuk memanipulasi iklan pemasaran pengganti ASI
• Menyusui menegaskan kemampuan perempuan yang unik dalam merawat anaknya sebaik mungkin
• Menyusui menghilangkan pandangan bahwa organ payudara hanya sebagai obyek sex
• Menyusui meningkatkan kesehatan ibu dan anak yang optimal.
Memberdayakan perempuan akan menyentuh berbagai macam isue (INFACT Canada) , an tara lain :
• Perempuan dan pekerjaan
• Hak Azasi Manusia dan hak menyusui dimana saja
• Kemiskinan, ekonomi dan ketersediaan pangan . Membeli susu formula akan
I
ー・ョャ「・イ、Nャケセ^ョ@
per-ernpu:!n、セゥエャャャQャBGヲQ
G ョFiオujョ@
pemberl:lo ASiSustainable (berkelan jgtan) berarti susu formula harus diberika.n setiap hari dan malam selama usia bayi dan diberikan dalam bentuk segar, serta suplai dan disribusi susu formula tersebut dijamin keberadaannya
Safe (aman penggunaannya) berarti susu formula harus disimpan secara benar, higienis dengan kadar nutrisi yang cukup, disuapkan dengan tangan dan peralatan yang bersih, serta tidak berdampak peningkatan penggunaan susu formula untuk masyarakat luas pada umumnya.
Jika satu dari prasyaratan tersebut tidal terpenuhi , maka dianjurkan memberikan ASI Eksklusif selama maksimal 3 (tiga) bulan dan kemudian segera harus dihentikan jika susu formula telah memenuhi persyaratan AFASS.
Sayi yang m emTliki Juka dl m ulutnya memiliki resiko unt uk tertular HTV l ebih besar ketika diberikan ASI
Faktor faktor yang meningkatkan resiko penularan HIV dari ibu ke bayi selama masa menyusui :
Ibu baru terinfeksi HIV
Ibu memberikan ASI dalam periode yang lama
Lama pemberian ASI akan meningkatkan resiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Pada 5 bulan pertama diperkirakan resiko penularan 0,7% per bulan . Antara 6 12 bulan, resiko sebesar 0,5% per bulan dan antara 1324 bulan, resiko bertambah sebesar 0,3% per bulan . Dengan demikian, memperpendek masa pemberian ASI dapat mengurangi resiko bayi terinfeksi HIV
Ibu memberikan makanan campuran (mixed feeding) untuk bayi
Bayi yang diberi ASI Eksklusif kemungkinan memiliki resiko terinfeksi HIV lebih rendah dibandingkan bayi yang mengkonsumsi makanan campuran (mixed feeding), yaitu ASI dicampur dengan susu formula dan makanan padat lainnya. Hal ini diperkirakan karena air dan makanan yang terkontaminasi akan merusak usus bayi yang mendapatkan makanan campuran , sehingga HIV dari ASI bisa masuk ketubuh bayi.
Ibu memiliki masalah pada payudara, seperti mastitis, abses, luka di putting payudara
Bayi memiliki luka di mulut
Dalam hal pemberian ASI. lepada anaknya, tetap harus dihargai hak seorang ibu untuk menyusui. Oleh karena itu, Ibu hamil HIV positif periu mendapatkan konseling untuk membantu mereka dalam membuat keputusan, apakah akan memilih memberi susu formula kepada bayinya atau memberi ASI Eksklusif. Konselor adalah orang yang diberikan pelatihan tentang HIVAIDS dan pemberian makanan untuk bayi, sehingga konselor tersebut mampu memberikan kepercayaan diri kepada sang ibu terhadap pilihannya.
Menghadapi resiko penularan HIV melalui ASI, WHO merekomendasikan bahwa bayi dari ibu HIV positif tidak diberikan ASI , jika susu formula memenuhi persyaratan AFASS, yaitu :
Aceptable (mudah diterima) berarti tidak ada hambatan sosial budaya bagi ibu untuk memberikan susu formula untuk bayi
Feasible (mudah dilakukan) berarti ibu dan keluarga punya waktu, pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menyiapkan dan memberikan susu formula kepada bayi
Affordable (terjangkau) berarti ibu dan keluarga mampu membeli susu formula
o
I
p"n1berdayaan J.I!?rempuan dalarn p"P'ngiuCln pembert"" AS Imenghablskan RPMYHIッセ@ income keluarga, belum telmasuk nl lal uhealth COst"
yang harus dibayar dar i asupan/ intake makanan pengganti AS I ini
• Kesehatan reproduksi menyusui mengurangi insiden dari kanker payudara dan kanker rahim
• Menyusui merupakan bentuk Keluarga Berencana (KB) yang sangat efektif • Kebutuhan akan dukungan masyarakat luas
• Hak perempuan untuk mendapatkan informasi yang benar
Perempuan mempunyai peran dan kedudukan yang strategis didalam keluarga dan masyarakat sebagai pelopor, penggerak, pen jaga dan benteng untuk melindungi anakanaknya, juga sekaligus sebagai inisiator didalam meningkatkan kesadaran masyarakat umum akan halhal yang berkaitan dengan pentingnya pemberian ASI bagi kualitas SDM di masa mendatang. Untuk itu maka kualitas hidup, pengetahuan , wawasan dan cakrawala perempuan perlu terus menerus ditingkatkan dan dikembangkan sehingga dapat menjaring dan menyebarluaskan berbagai informasi tentang menyusui serta mendapatkan akses informasi tentang AS!. Perempuan harus berusaha memberdayakan dirinya sendiri agar dapat melindungi keluarganya dan memberdayakan perempuan lain sekitarnya.
A. Kebijakan
I. Memantapkan koordinasi pelaksanaan Peningkatan Pemberian ASI Banyakpihak terkait (pemerintah , swasta, organisasi perempuan, LSM peduli ASI , LSM peduli kesehatan ibu dan anak) telah melakukan berbagai upaya dalam Peningkatan Pemberian ASI, akan tetapi sampai saat ini pemberian ASI , khususnya ASI Ekslusif, masih sangat rendah. Kond isi ini ォ・ュオョァォゥセ。ョ@
disebabkan oleh kurang terkoordinasinya kegiatan tersebut, sehingga kurang mempunyai kekuatan yang dapat memberikan hasil optima\. 2. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam Peningkatan
Pemberian ASI
Upaya Peningkatan Pemberian ASI merupakan bagian dari pembangunan Sumber Daya Manusia yang tangguh daOi berkual itas, dan harus disebarluaskan ke semua pihak baik dipusat maupun daerah .
Upaya Peningkatan Pemberian ASI , sangat erat kaitannya dengan Pemberdayaan Perempuan .
Dengan dilaksanakannya otonomi daerah , pemerintah daerah perlu disadarkan bahwa Peningkatan Pemberian ASI , berhubungan dengan pembangunan kualitas SDM daerah, dan sangat menunjang pembangunan daerah yang berkesinambungan.
3. Peningkatan Pemberian ASI dikalangan tenaga kerja perempuan Kenyataan saat ini bahwa dengan berbagai kemajuan yang telah dieapai oleh kaum perempuan dan seiring dengan kemajuan zaman, dewasa ini banyak perempuan terlibat di sektor publik. Perempuan yang tadinya hanya sebagai ibu rumah tangga, kini berubah peran akibat bertambahnya jumlah kesempatan kerja, meningkatnya pendidikan, dan perubahan sosial ekonomi. Dengan demikian, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia terus meningkat. Dengan meningkatnya tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan tersebut, dikhawatirkan meningkat pula hambatan pemberian ASI Ekslusif di Indonesia.
Tenaga kerja perempuan yang memiliki bayi mengalami kesulitan untuk memberikan ASI karena tidak ada sarana dan kesempatan yang diperlukan untuk memberikan ASI kepada bayinya di lingkungan kerja; selain faktor dari ibunya sendiri yang tidak atau kurang memiliki pengetahuan yang eukup mengenai manajemen laktasi.
Dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja perempuan, pemimpin di institusi baik pemerintah maupun swasta serta pemimpin perusahaan perlu disadarkan mengenai Peningkatan Pemberian ASI di lingkup tempat kerja.
4. Peningkatan peran serta keluarga, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan dalam Peningkatan Pemberian ASI
Dukungan dan peran keluarga sangat besar dalam keberhasilan seorang ibu menyusui.
Peran serta masyarakat sangat menentukan keberhasilan program, untuk itu perlu ditingkatkan peran dan keikutsertaan masyarakat dalam Peningkatan Pemberian ASI
S. Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait dalam penetapan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang responsif gender dan mendukung Peningkatan Pemberian ASI
Banyak peraturan perundang-undangan yang telah diterbitkan untuk mendukung pemberian ASI, akan tetapi peraturan perundang-undangan terse but masih belum dilaksanakan dengan baik. Contoh, Undangundang tentang Ketenagakerjaan, Peraturan Pemasaran Pengganti ASI, dsb
Penetapan peraturan perundangundangan serta kebijakan
pemerintah yang responsif gender sangat perlu dalam mendukung peningkatan pemberian ASI, seperti perubahan kurikulum, peninjauan kembali peraturan perundangundangan tentang ketenagakerjaan, dsb.
Undangundang dan kebijakan publik diperlukan untuk mendukung
o
I
pemberd"yaan pcrempuan daJam penlngk.otan pemberian ASI_ _ _セ _ _ _ _ _ _ ,d",u,,,k,,,u,,,ngan Rematiao dan ,perawatan ekstra Ibtl harus diyakinkao. ...b ...ahw"'a:t_ _ tloLl!' meskipun dalam keadaan stres berat atau rasa takut dapat menyebabkan
terhentinya ASI, akan tetapi hal ini hanya sementara dan ASI akan mengalir lagi kemudian. Pada situasi bencana, dimana sering terjadi kesulitan air bersih, bila bayi terkena diare, pemberian ASI Eksklusif pad a bayi dengan diare biasanya tidak membutuhkan cairan tambahan seperti gula at au teh, kerena ASI mengandung 90% air.
5. PEMBERIAN ASI PADA IBU DENGAN HIV-AIDS
Peningkatan kasus HIV AIDS pad a perempuan menyebabkan pemberian ASI pada ibu dengan HIVAIDS perlu mendapat perhatian khusus. Tingginya kasus HIVAIDS saat ini , sangat berpengaruh bagi perempuan, karena perempuan ternyata lebih rentan tertular HIV Hasil stusi menunjukkan bahwa kemungkinan perempuan dan remaja putri tertular HIV adalah 2,S kali dibandingkan lakiIaki dan remaja putra. Depkes RI melaporkan bahwa sampai bulan Desember 2008, terdapat 16.1 10 kasus AIDS di Indonesia. Dari jumlah terse but, SO ,82 % kasus HIV dan AIDS terdapat pada kalangan usia muda (2029 tahun) dan 24,6 % adalah perempuan dan remaja putri (usia reproduksi) .
Penularan virus HIV dari ibu ke anaknya dapat terjadi melalui 3(tiga) eara, yaitu selama kehamilan (S%IO%), selama persalinan (10%20%) dan melalui ASI (10%1 S%). Resiko terbesar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi ketika persalinan. Resiko akan semakin tinggi ketika kadar HIV (viral load) di darah ibu tinggi pada menjelang ataupun saat persalinan. Resiko penularan HIV juga dari pemberian air susu ibu kepada bayinya, ketika kadar HIV di air susu ibu tinggi. Antara 1020% bayi yang dilahirkan dari ibu HIV
+
melalui pemberian ASI (hingga18 bulan atau lebih).
HIV terdapat di dalam ASI, tetapi konsentrasinya jauh lebih keeil dibandingkan dengan HIV di dalam darah. Faktor yang mempengaruhi tingkat resio penularan HIV melalui pemberian ASI yaitu :
Umur bayi
Resiko penularan melalui ASI akan lebih besar pada bayi yang baru lahir. Antara SO70% dari semua penularan HIV melalui ASI terjadi pada usia enam bulan pertama bayi. Setelah tahun kedua umur bayi, resiko penularan menjadi lebih rendah.
Luka di mulut bayi
Diberikan nanya kepada anal<.
yang
tidak dapat menyusu misalnya セ@ anal<piatu
dH
Bagi bayi piatu dan bayi yang ibunya tidak lagi bisa menyusui. persediaan susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkannya.
Diusahakan agar pemberian susu formula dibawah supervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan terlatih .
Ibu atau pengasuh bayi perlu diberi informasi yang memadai dan konseling tentang cara penyajian susu formula yang aman dan praktek pemberian makan bayi yang tepat
Hanya susu formula yang memenuhi stan dar Codex Alimentarius yang bisa diterima
Sedapat mungkin susu formula yang diproduksi oleh pabrik yang melanggar Kode Internasional Pemasaran Susu Formula jangan
I
tidakditerima
Jika ada pengecualian untuk butir diatas. pabrik tersebut sarna sekali tidak diperbolehkan mempromosikan susu formulanya .
Susu Kental Manis dan Susu cair tidak boleh diberikan kepada bayi berumur kurang dari 12 bulan .
Susu formula diberi label dengan petunjuk yang jelas tentang cara penyajian . masa kadaluwarsa minimal I tahun. dalam bahasa yang dimengerti oleh ibu. pengasuh atau keluarga.
Botol dan dot tidak boleh di distribusikan dan tidak dianjurkan untuk digunakan. Pemberian susu formula hendaknya menggunakan cangkir atau gelas .
Untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula. beberapa hal dibawah ini sebisa mungkin dipenuh i :
• Gunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan . diberikan sabun untuk mencuci .
• AJat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya.
• Sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk Gangan gunakan botol susu).
• Bahan bakar dan air bersih yang cukup (bila memungkinkan gunakan air dalam kemasan).
• Kunjungan ulang untuk perawatan tambahan dan konseling.
• Lanjut!<an promosi menyusui untuk menghindari penggunaan susu formula bagi bayi yang ibunya masih bisa menyusui.
) Susu bubuk skim tidak boleh diberikan sebagai komoditas tunggal atau sebagai bagian dari distribusi makanan secara umum. karena dikhawatirkan akan digunakan sebagai pengganti AS!.
Keberhasilan ibu untuk menyusui dalam situasi darurat memang diperlukan
e
I
pemberdaf.ur> pernmpu.,n d,l.=ー」ョャョァkBBセ@
pombo'lill1 AS Iseorang ibu yang menyusui.
Ketika
pemerintilh melaksanakan !('odefnternasional tentang Pemasaran PASI dan Resolusi WHA. maka ibu dilindungi dari pengaruh iklan susu yang dapat menghambat kesuksesan menyusui.
6. Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait dalam pen i ngkatan fungs i dan peran tenaga kesehatan . sarana pelayanan kesehatan dan sistem pelayanan kesehatan dalam promosi Peningkatan Pemberian ASI
Sistem pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kegiatan menyusui. Peran tenaga pelayanan kesehatan serta institusi pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas dan Rumah Sakit sangat penting bagi keberhasilan dan kegagalan dari Peningkatan Pemberian AS!. Sebagai contoh. masih banyak sarana pelayanan kesehatan yang digunakan sebagai sarana promosi oleh produsen susu formula.
Pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam pemberian AS!. Untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. yang antara lain dalam pemberian ASI . Departeman Kesehatan melaksanakan Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi ( RSIB). yang tentunya membutuhkan tenaga kesehatan terampil yang selalu berinteraksi dengan ibu dan bayinya.
B. Strategi
I . Koordinasi dengan instansi/!;ektor terkait dan membentuk jaringan kerjasama dalam upaya Pen ingkatan Pemberian ASI di Indonesia 2. Advokasi dan Sosialisasi kepada pemerintah daerah ( Eksekutif dan
Legislatif).
Dengan dilaksanakannya Otonomi Daerah. Pemerintah Daerah akan menetapkan kebijakan . prioritas program dan alokasi keuangan sendiri melalui APBD. berdasarkan kemampuan masingmasing. Dalam Advokasi dan Sosialisasi kepada pimpinan Pemerintah Daerah ini perlu ditekankan kepada pemerintah daerah bahwa :
Pembangunan SDM yang berkualitas akan menjamin pembangunan daerah yang berkesinambungan .
Pembangunan SDM harus dimulai s·ejak dini. bahkan sejak dalam kandungan.
Pemberian ASI dapat menjamin perkembangan SDM yang berkualitas.
Perlu adanya Peraturan Daerah yang mendukung peningkatan pemberian ASI eksklusif.
Pemberdayaan perempuan berkaitan erat dengan pembangunan kualitas SDM yang berkualitas.
3. Optimalisasi peran serta masyarakat umum, organisasi profesi, organisasi perempuan , TP PKK, organisasi perempuan keagamaan, LSM peduli kesehatan ibu dan anak serta pihak swasta dan dunia usaha dalam penyebarluasan KIE tentang Peningkatan Pemberian ASI
Masyarakat dan organisasi masyarakat mempunyai potensi yang besar dalam penyebar luasan upaya Peningkatan Pemberian ASI, sehingga perlu dibina, dan dikembangkan.
Peningkatan dan optimalisasi peran serta masyarakat dapat dilaksanakan antara lain dengan :
Membentuk kaderkader organisasi, untuk menyebarluaskan informasi mengenai ASI dan membantu masyarakat yang memerlukannya.
Membuat buku pegangan kader, agar kader mendapat informasi yang benar tentang ASI
Memfasilitasi Gerakan Masyarakat Pendukung ASI 4. Promosi ASI melalui media KIE
KIE sangat penting dalam penyebar luasan informasi, karena selain dapat menyampaikan informasi yang tepat kepada sasaran, juga dapat membentuk opini positif masyarakat. Promosi ASI yang gencar dan terse bar luas akan mampu mengimbangi promosi yang gencar dari produsen susu formula
Peningkatan KIE dalam dilaksanakan dengan pendayagunaan media masa, yaitu media elektronik, cetak, media luar ruang (spanduk dan billboard) maupun media tradisional; memanfaatkan potensi budaya • lokal, agar informasi lebih tepat dan tidak bertentangan dengan budaya setempat, serta meningkatan peran kader organisasi untuk menyebar luaskan informasi mengenai ASI, kepada anggotanya dan masyarakat sekitar
5. Advokasi dan sosialisasi kepada pimpinan perusahaan dalam :
Memberi perhatian khusus pada tenaga kerja yang hamil dan menyusui
•
Memberikan kesempatan kepada tenaga kerja perempuan untuke
I
pemberdiJya;ln perempuan daJam p"mngka!an pcmbenan ASIPemberian MPASI lokal memiliki beberapa dampak posit if, an tara lain ; ibu
J
lebih memahami dan lebih terampil dalam membuat MPASI dari bah an pangari lokal sesuai dengan kebiasaan dan sosial budaya setempat, sehingga ibu dapat melanjutkan pemberian MPASllokal secara mandiri; meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat serta memperkuat kelembagaan seperti PKK dan Posyandu ; memiliki potensi meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penjualan hasil pertanian; dan sebagai sarana dalam pendidikan atau penyuluhan gizi2 .Pemberian susu formula sebagai makanan pertama yang diberikan kepada bayi yang menyusui adalah pendapat yang salah. Susu formula atau "susu lanjutan" yang di pasarkan untuk bayi berumur mulai dari 6 bulan, dikatakan sebagai makanan yang tepat dan paling baik untuk bayi . Apa lagi dengan slogan yang ada pad a kaleng seperti "terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan dan diperkaya dengan zat besi dan vitamin" menjadi pendukung untuk membentuk kesan. Sebenarnya tidak perlu memberikan susu formula atau susu sapi sebagai minuman untuk bayi yang diberi ASI pada usia 6 24 bulan . Susu formula hanya akan menggantikan ASI dan menyebabkan resiko terkena penyakit . Meskipun demikian akan bermanfaat bila bayi diberi makanan yang berasal dari susu (keju , yoghurt/susu fermentasi, dll) untuk memastikan bayi mendapatkan kalsium yang cukup. Hal ini sangat penting bila anak tidak makan makanan yang berasal dari hewan secara teratur.
Rekomendasi tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat melalui Pernyataan Bersama UNICEF WHO dan IDAI pada 7 Januari 2005, menyebutkan bahwa dalam situasi darurat :
セ@ Menyusui menjadi lebih penting karen a sangat terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih , bahan bakar. dan kesinambungan ketersediaan susu formula dalam jumlah memadai
セ@ Pemberian susu formula akan meningkatkan resiko terjadinya diare, kekurangan gizi dan kematian bayi
セ@ Sumbangan susu formula dari donor, maka distribusi maupun penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga yang terlatih , sesuai dengan beberapa prinsip di bawah ini :
Susu formula hanya boleh diberikan pada keadaan sangat terbatas yaitu :
Telah dilakukan penilaian terhadap status menyusui dari ibu, dan relaktasi tidak memungkinkan
Setelah umur 6 (enam) bulan, anak membutuhkan makanan lain sebagai tambahan dari pemberian ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Makanan yang diberikan harus melengkapi energi dan gizi yang sudah ada dalam ASI. Istilah yang dipakai untuk pemberian makanan dan minuman lain sebagai tambahan di samping pemberian ASI, adalah "Makanan Pe ndamping ASI (MP-ASI)".
Usia 0 24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga kerap diistilahkan sebagai periode emas sekaligus peri ode kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi dan anak memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal. Sebaliknya apabila bayi dan anak pada masa ini tidak memperoleh makanan sesuai kebutuhan gizinya, maka peri ode emas akan berubah menjadi periode kritis yang akan mengganggu tumbuh kembang bayi dan anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya.
Pada umur 6 12 bulan, ASI merupakan makanan utanu bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi , perlu ditambah dengan MPASI. Setelah umur I tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih memberikan manfaat.
Antara umur 6 24 bulan, perkembangan bayi sangat eepat, sedangkan lambungnya relatif masih kecil, sehingga pada masa ini bayi membutuhkan makanan yang bergizi tinggi, akan tetapi dalam volume yang keeil . Dengan demikian bayi berumur di atas 6 bulan dan balita perlu diberikan makanan yang paling bergizi dan terbaik yang ada di keluarga, dengan mempertimbangkan eara penyajian yang tepat untuk mereka (digiling, dieineang, dihaluskan , dll) agar sesuai dengan kemampuan makan dan peneernaan anakanak.
Beberapa ketentuan dalam pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), sesuai dengan rekomendasi WHO & UNICEF, antara lain:
• MPASI hanya boleh diberikan setelah bayi berumur 6 bulan
• M PAS I sebaiknya disediakan berdasarkan bahan Iokal, bahan pangan yang murah dan mudah diperoleh di daerah setempat (indigenous food ) .
• MPASI harus yang mudah dieerna
• Pemberian MPASI disesuaikan dengan umur dan kebutuhan gizi bayi • MPASI harus mengandung kalori dan mikronutrien yang eukup
member1kan atau memerah ASI cfengan menyedlakan fasHitas dan sar ana untu k men yusui
6. Sosialisasi mengenai Pemberdayaan Perempuan dalam Peningkatan Pemberian ASI di sarana pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan dengan tu juan :
Menyamakan persepsi di antara tenaga pelayanan kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI
I
""".",.o",
"",",R.<m ...セ オL@
me,",., "",uk
kebe,"","",me'yu....e"'k'"'.
selama 6 bulan . Suami, keluarga , tenaga kesehatan, masyarakat memegang peranan penting dalam keberhasilan ibu menyusui. Hampir semua ibu dapat menyusui bila dibantu untuk memperoleh rasa percaya diri serta diberi informasi mengenai tehnik menyusui yang benar.
Peranan suami dan keluarga sangat besar dalam mendukung keberhasilan ibu menyusu i eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun antara lain dengan :
»
Membantu membangun rasa percaya diri istrinya agar mau dan mampu menyusui.»
Khususnya dalam hal inisiasi menyusu dini, sebaiknya suami juga ikut hadir dan memberi dukungan kepada istri saat melahirkan»
Berbagi peran sebagai orang tua dengan ikut merawat dan menjaga bayinya»
Memastikan istri mendapat gizi yang baik dan istirahat yang cukupMasalah lain yang dapat menjadi kendala keberhasilan menyusui , khususnya ASI Eksklusif 6 bulan adalah ibu kembali bekerja setelah cuti bersalin , yang menyebabkan penggunaan susu formula, sehingga menggantikan pemberian AS!. Jatah cuti hamil yang hanya 3 bulan , jarak rumah-tempat kerja yang umumnya jauh, dan tidak tersedianya Ruang ASI di tempat kerja untuk memerah air susu serta tempat penyimpanannya hingga jam pulang kerja , menambah daftar hambatan menyusui eksklusif bagi perempuan yang bekerja. Meskipun dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan , telah mengakomodasi pemberian kesempatan kepada tenaga kerja yang masih menyusui untuk menyusui bayinya, namun hal ini belum diterapkan disemua tempat kerja.
Pclekatall yangcbaik
Menyusui Eksklusif 6 bulan adalah pemberian hanya Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai berumur enam bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh , air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya , bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya. Pemberian ASI eksklusif juga mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anakanak seperti diare dan radang paru , serta mempercepat pemulihan bila sakit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan pertumbuhan pada awal masa kehidupan balita, antara lain disebabkan oleh kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan, pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) terlalu dini atau terlalu lambat, MP ASI tidak cukup mengandung energi dan zat mikro terutama mineral besi dan seng, perawatan bayi yang kurang memadai, dan yang tidak kalah pentingnya adalah ibu tidak berhasil memberi ASI Eksklusif kepada bayinya.
Kenyataan di Indonesia, cakupan ASI Ekslusif hanya 38% dari keseluruhan bayi (SDKI, 2007), dan ratarata hanya diberi ASI Eksklusif kurang dari dua bulan . Padahal bayi yang sehat, lahir dengan membawa cukup cairan di dalam tubuhnya. Kondisi ini akan tetap terjaga bahkan dalam cuaca panas sekalipun, bila bayi diberi ASI secara eksklusif siang dan malam. Namun kebiasaan memberi cairan pada bayi selama 6 bulan pertama, masih banyak dilakukan , dimana akan berakibat buruk pada gizi dan kesehatan bayi. Kebiasaan memberi air putih dan cairan lain seperti teh, air manis, jus dan madu kepada bayi menyusui dalam bulanbulan pertama, umum dilakukan masyarakat. Kebiasaan ini seringkali dimulai saat bayi berusia sebulan dengan alasan yang berbeda sesuai nilainilai budaya yang ada di masyarakat. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah menghilangkan rasa haus mencegah dan mengobati pilek dan sembelit serta menenangkan bayi sehingga bayi tidak rewe!.
Nilainilai budaya turut ikut mempengaruhi pemberian cairan sebagai minuman tam bah an untuk bayi, sebagai contoh dari generasi ke generasi diturunkan keyakinan bahwa bayi baru lahir sebaiknya diberi cairan misalnya madu atau air putih . Oleh karena itu, ibuibu perlu mendapat informasi dan diyakinkan untuk merubah perilaku yang dapat membuat pemberian ASI eksklusif menjadi norma baru atau nilai budaya dalam masyarakat. Disamping itu ibu