PANDANGAN MASYARAKAT OKINAWA TERHADAP PATUNG SHISA
SHISA NO CHOUMON NI TAISHITE NO OKINAWA NO SHAKAI NO KENKAI
SKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana
dalam bidang Ilmu Sastra Jepang
Oleh: MIKE MELIALA
NIM: 110708020
DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PANDANGAN MASYARAKAT OKINAWA TERHADAP PATUNG SHISA
SHISA NO CHOUMON NI TAISHITE NO OKINAWA NO SHAKAI NO KENKAI
SKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana
dalam bidang Ilmu Sastra Jepang
Oleh: MIKE MELIALA
NIM: 110708020
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Hamzon Situmorang, M. S, Ph. D
NIP. 19580704 1989 12 1 001 NIP. 19600827 1991 03 1 001
Dr. Yuddi Adrian Muliadi, M.A
DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DisetujuiOleh :
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Medan, September 2015 Departemen Sastra Jepang Ketua,
Abstrak
要旨
Pandangan Masyarakat Okinawa Terhadap Patung Shisa
シーサーの彫像に対しての沖縄の社会の見解
Jepang terkenal sebagai negara yang modern. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai
aspek kehidupan masyarakatnya yang banyak mengalami perubahan dikarenakan masuknya
pengaruh kebudayaan luar ke negara ini. Namun, perubahan ini tidak membuat masyarakat
Jepang melupakan kebudayaan dalam negeri. Sampai sekarang masyarakat Jepang masih
mempertahankan dan memelihara tradisi kebudayaan leluhur dari generasi ke generasi. Salah
satunya dapat dilihat pada masyarakat prefektur Okinawa. Di daerah ini terdapat tradisi
budaya meletakkan patung yang berbentuk setengah singa dan anjing di depan rumah. Patung
ini disebut shisa. Tradisi ini telah ada sejak dahulu dan masih ada sampai sekarang.
日本は近代的な国として認められている。これは海外からの影響がこの国に入
いたので、社 会の生活 の局面に多く の変更か ら見られた。 しかし、 この変更は日本
社会が自国の 文化を忘 れることがで きない。 今まで、日本 社会は世 代から世代への
伝統的な先祖 の伝来の 文化を守って いる。そ の一つは沖縄 県の社会 に見られる。こ
の地域で家の 前に半分 のライオンや 半分の犬 の形の像を置 く文化が ある。この像は
「シシャ」といわれた。この伝統は昔から今までもまだ守られている。
Hal yang membuat tradisi ini masih bertahan adalah masyarakat Okinawa percaya
berbuat jahat, dan menjaga agar roh baik tetap tinggal di dalam rumah. Kepercayaan ini tidak
muncul tiba-tiba. Kepercayaan ini muncul dari mitos-mitos masyarakat Okinawa yang
disebarkan dari mulut ke mulut, lalu dijadikan sebagai sebuah kebenaran. Dari
bermacam-macam cerita mitos yang dikumpulkan, semuanya bercerita tentang zaman dahulu shisa telah
menyelamatkan desa di Okinawa dari bahaya. Sejak saat itu, patung shisa dijadikan sebagai
pelindung bagi masyarakat Okinawa.
この文化が今まで存在しているのは沖縄の社会はシシャが悪魔、悪い人から人
間を守れ、善 霊は家に 存在するのが 守れると 信用している 。この信 用は急に存在す
るわけ では ない。沖縄 の社会 にあ るう わさ の神話 から 出て 、本 当の話 にな って しま
った。いろい ろな 情 報から集まっ ていた神 話によると、 すべては シシャが危険な
ことから沖縄 の村を助 けてあげると 語ったそ うである。そ のときか ら、シシャの像
は沖縄の社会にとって保護者になった。
Patung singa pertama kali muncul di India, lalu disebarkan ke negara lain. Negara yang
paling banyak mendapat pengaruh ini adalah negara yang ada di Asia. Cina merupakan salah
satu negara yang mendapatkan pengaruh patung tersebut. Patung singa pertama kali masuk ke
negara ini sekitar abad ke-3 SM. Lalu pada abad ke-14 patung singa ini masuk ke kerajaan
ryukyuu (sekarang Okinawa). Pada abad itu, kerajaan ryukyuu (sekarang Okinawa) banyak
melakukan hubungan kerjasama dengan Cina. Dari hubungan kerjasama ini, banyak
kebudayaan Cina yang masuk ke Okinawa, salah satunya adalah patung shisa.
ライオンの像は最初にインドに現れ、それから他の国へ広がれていた。多くの
ライオンの像 は最初に この国に入っ たのは紀 元前三世紀で あった。 そして、第十四
世紀にこのラ イオンの 像は琉球王国 (現代は 沖縄)に入っ た。その 世紀で琉球王国
(今は沖縄) は中国と よく協同を組 合してい た。その協同 組合から 多くの中国の文
化が沖縄に入った。その一つはシーサーの像である。
Dahulu, patung ini hanya berfungsi untuk melindungi bangunan istana kerajaan dan kuil.
Sebab, patung shisa hanya ada di tempat tersebut. Namun sekarang, shisa hampir ada di
semua tempat di Okinawa. Patung ini ada di rumah-rumah warga, toko, kuil, taman, tempat
wisata, hotel, rumah sakit, dan masih banyak lagi. Selain itu, dahulu shisa hanya berkaitan
dengan kepercayaan, namun sekarang patung shisa sudah menjadi bagian dari kebudayaan
Okinawa. Kebiasaan meletakkan patung shisa ini sudah ada sejak dahulu dan masih dilakukan
sampai sekarang. Sehingga kebiasaan ini telah menjadi tradisi budaya. Selain itu, patung ini
juga telah menjadi artefak kebudayaan, bahkan menjadi ikon prefektur Okinawa. Sekarang
shisa dapat dibuat dari keramik, tanah liat, kayu, dan lain-lain. Namun dahulu patung shisa
hanya terbuat dari batu.
昔、この像は寺や王宮の建物をしか守らない効用があった。その像はそのとこ
ろに初めてあ ったから である。しか し、今は シーサーが沖 縄の多く のところに見つ
けられる。こ の像は市 民の家、店、 寺、公園 、観光地、ホ テル、病 院などにある。
その上、昔、 シーサー は宗教しかつ ながらな く、今は沖縄 の文化の 一つの部分にな
っている。シ ーサーの 像を置く習慣 は昔から 今までずっと 続けてい る。この習慣は
縄県の アイ コン もな る。今 、シー サー が統 制、粘 土、 木材 など から作 られ る。 しか
し昔はシーサーが石から作られた。
Patung shisa memiliki nilai kearifan lokal. Nilai-nilai ini ditaati dan menjadi pelindung.
Misalnya, patung ini membuat masyarakat Okinawa menjadi takut untuk mencuri. Sebab
masyarakat Okinawa percaya ketika ada orang yang ingin mencuri, patung shisa tiba-tiba
akan menjadi hidup, dan menyerang si pencuri tersebut. Jadi suasana didaerah ini terasa aman
dan bebas dari pencuri.
シーサーは地元の知恵の価値観がある。この価値観を守って、導きになる。例
えば、このシ ーサーは 沖縄の社会に とって盗 むことを恐が らせると いった考えもあ
る。沖縄の社 会は盗み たい人がいれ ば、シー サーの像が急 に生きて その盗みたい人
を攻めること を信じて いるからであ る。その ため、この地 域は安全 で強盗がなくな
る。
Selain itu, karena bentuk dari patung ini seperti rupa anjing, hal ini membuat
masyarakat Okinawa memandang anjing sebagai pelindung manusia. Sehingga di daerah ini
anjing menjadi hewan yang sangat dihargai. Di Shibuya didirikan sebuah patung anjing
Hachiko untuk mengenang sifat kesetiaan anjing kepada tuannya. Simbol-simbol yang ada
pada bentuk patung shisa juga mengajarkan agar dalam kehidupan masyarakat melakukan
hal-hal baik. Serta menjaga keseimbangan hidup dengan cara menjaga kesehatan. Hal inilah
yang membuat kebanyakan masyarakat Okinawa memiliki umur yang panjang.
それに、この像の形が犬みたいで、沖縄の社会は犬に対して人間の保護者のイ
れている動物 である。 渋谷で飼い主 に非常な 犠牲がある犬 の像が作 られた。シーサ
ーの形にある 象徴も人 生の中で社会 に良いこ とばかりを教 えるよう にする。そして
健康を守って 人生のバ ランスも守る 。このこ とは最多の沖 縄の社会 が長生きにさせ
る。
Tanpa disadari, Nilai-nilai ini kemudian membentuk karakter masyarakat Okinawa yang
menghargai binatang khususnya anjing, serta senantiasa menjaga kesehatan. Karakter baik
inilah yang membuat tatanan kehidupan masyararakat Okinawa menjadi teratur. Jadi
kesimpulannya, nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam kepercayaan terhadap patung
shisa ikut memberikan pengaruh dalam terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan
teratur.
知らずに、この価値観は沖縄の社会の性格、動物、特に犬を大事にし、健康を
いつも守るの を作った 。この良い性 格は沖縄 の社会の生活 が定期的 にさせる。まと
めとしては、 シーサー の確信におけ る地域の 知恵が安全で 定期的な 社会の生活にも
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi Tuhan Yang Maha Kuasa
yang telah memberkati dan memberikan hikmat-Nya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini. skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan program sarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Jurusan Sastra Jepang. adapun judul skripsi ini adalah “Pandangan Masyarakat
Okinawa Terhadap Patung Shisa.”
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah
membantu dan memberikan dukungan baik materil maupun moril. Tanpa bantuan dan
dukungan dari pihak tersebut, penulis tidak akan menyelesaikan skripsi ini. oleh karena
itu, penulis ingin menyampaikan penghargaan, penghormatan dan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum, selaku ketua departemen Sastra Jepang
yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan kepada saya dalam
penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Prof. Drs. Hamzon Situmorang, M.S Ph.D, selaku dosen pembimbing I,
yang telah banyak memberikan waktu, kesempatan, saran, masukan, kritikan,
dan nasehat, serta semangat kepada penulis selama proses penyusunan skripsi
4. Bapak Drs. Yuddi Adrian Muliadi, M.A, selaku dosen pembimbing II, yang
juga berkenan memberikan waktu, saran, nasehat, arahan dan bimbingan
keada saya dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen dan staf pegawai Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera
Utara, yang juga turut membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan
skripsi ini.
6. Kepada kedua orang tua penulis yang terkasih, Ayahanda Ir. Toni Sembiring
dan Ibunda Dra. Moriani Bangun, terima kasih untuk segala kasih sayang
tulus, kesabaran, pengertian, doa yang tiada henti, nasihat, serta dukungan
moral maupun materil selama ini.
7. Saudara-saudari penulis yang terkasih Bama Andrew, Apri Ananta Putra, Nina
Karina, serta Regi Meliala yang senantiasa mengingatkan dan memberikan
semangat serta doa yang tiada henti untuk menyelesaikan skripsi ini.
8. Kepada Paman, Tante, sepupu yaitu Kezia, Daniel, Areni serta keluarga besar
atas bantuan moral maupun materil yang diberikan selama penulis menuntut
ilmu di bangku perkuliahan hingga penyelesaian penulisan skripsi ini.
9. Teman-teman penulis di Jurusan Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara
angkatan 2011, terutama untuk sahabat penulis Aseng Supriadi, Betrik Krisna,
Boda Sinulingga, Ita Manik, Lisna Malawati, Marcelina Sinambela, Nora
Marpaung, serta teman-teman lainnya yang tidak disebutkan satu persatu,
terima kasih untuk setiap dukungan, nasihat, canda tawa, kebersamaan, serta
bantuan tulus yang diberikan kepada penulis selama awal perkuliahan sampai
10.Kepada kak Leli Jelani, kak Feberlina sirait, Afryna Sihombing, Ayu
Permatasari, Juliani Purba, Novita Ester, dan Ingrid Zerlinda terima kasih
untuk setiap sharing-sharing yang menguatkan, dan membimbing penulis.
11.Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini, yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari tidak dapat membalas kebaikan dan budi dari orang-orang
yang telah menopang dan menolong penulis selama ini. Namun penulis berharap
kiranya Tuhan yang mampu membalasnya.
Penulis juga menyadari bahwa penyusunan skripsi ini jauh dari kesempurnaan.
Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini berguna bagi kita semua.
Medan, September 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 2
1.2 Perumusan Masalah ... 4
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ... 6
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ... 7
1.4.1 Tinjauan Pustaka ... 7
1.4.2 Kerangka Teori ... 10
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 14
1.6 Metode Penelitian ... 15
BAB II SEJARAH OKINAWA DAN KEMUNCULAN PATUNG SHISA ... 17
2.1 Sejarah Okinawa ... 17
2.2 Asal-usul Kemunculan Patung Shisa ... 25
2.2.1 Realita Patung Shisa ... 27
2.2.2 Cerita-Cerita Rakyat Okinawa tentang Patung Shisa ... 30
2.3 Tempat-Tempat yang Terdapat Patung Shisa ... 33
BAB III KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT OKINAWA TERHADAP PATUNG SHISA ... ... 35
3.1 Fungsi Patung Shisa Sebagai Pelindung/ A Guardian ... 35
3.1.1 Wilayah Keluarga ... 36
3.2 Sebagai kearifan lokal ... 37
3.2.1 Kearifan Lokal Kesejahteraan ... 41
3.2.2 Kearifan Lokal Kedamaian ... 43
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 45
4.1 Kesimpulan ... ... 45
4.2 Saran …… ... ... 46
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Abstrak
要旨
Pandangan Masyarakat Okinawa Terhadap Patung Shisa
シーサーの彫像に対しての沖縄の社会の見解
Jepang terkenal sebagai negara yang modern. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai
aspek kehidupan masyarakatnya yang banyak mengalami perubahan dikarenakan masuknya
pengaruh kebudayaan luar ke negara ini. Namun, perubahan ini tidak membuat masyarakat
Jepang melupakan kebudayaan dalam negeri. Sampai sekarang masyarakat Jepang masih
mempertahankan dan memelihara tradisi kebudayaan leluhur dari generasi ke generasi. Salah
satunya dapat dilihat pada masyarakat prefektur Okinawa. Di daerah ini terdapat tradisi
budaya meletakkan patung yang berbentuk setengah singa dan anjing di depan rumah. Patung
ini disebut shisa. Tradisi ini telah ada sejak dahulu dan masih ada sampai sekarang.
日本は近代的な国として認められている。これは海外からの影響がこの国に入
いたので、社 会の生活 の局面に多く の変更か ら見られた。 しかし、 この変更は日本
社会が自国の 文化を忘 れることがで きない。 今まで、日本 社会は世 代から世代への
伝統的な先祖 の伝来の 文化を守って いる。そ の一つは沖縄 県の社会 に見られる。こ
の地域で家の 前に半分 のライオンや 半分の犬 の形の像を置 く文化が ある。この像は
「シシャ」といわれた。この伝統は昔から今までもまだ守られている。
Hal yang membuat tradisi ini masih bertahan adalah masyarakat Okinawa percaya
berbuat jahat, dan menjaga agar roh baik tetap tinggal di dalam rumah. Kepercayaan ini tidak
muncul tiba-tiba. Kepercayaan ini muncul dari mitos-mitos masyarakat Okinawa yang
disebarkan dari mulut ke mulut, lalu dijadikan sebagai sebuah kebenaran. Dari
bermacam-macam cerita mitos yang dikumpulkan, semuanya bercerita tentang zaman dahulu shisa telah
menyelamatkan desa di Okinawa dari bahaya. Sejak saat itu, patung shisa dijadikan sebagai
pelindung bagi masyarakat Okinawa.
この文化が今まで存在しているのは沖縄の社会はシシャが悪魔、悪い人から人
間を守れ、善 霊は家に 存在するのが 守れると 信用している 。この信 用は急に存在す
るわけ では ない。沖縄 の社会 にあ るう わさ の神話 から 出て 、本 当の話 にな って しま
った。いろい ろな 情 報から集まっ ていた神 話によると、 すべては シシャが危険な
ことから沖縄 の村を助 けてあげると 語ったそ うである。そ のときか ら、シシャの像
は沖縄の社会にとって保護者になった。
Patung singa pertama kali muncul di India, lalu disebarkan ke negara lain. Negara yang
paling banyak mendapat pengaruh ini adalah negara yang ada di Asia. Cina merupakan salah
satu negara yang mendapatkan pengaruh patung tersebut. Patung singa pertama kali masuk ke
negara ini sekitar abad ke-3 SM. Lalu pada abad ke-14 patung singa ini masuk ke kerajaan
ryukyuu (sekarang Okinawa). Pada abad itu, kerajaan ryukyuu (sekarang Okinawa) banyak
melakukan hubungan kerjasama dengan Cina. Dari hubungan kerjasama ini, banyak
kebudayaan Cina yang masuk ke Okinawa, salah satunya adalah patung shisa.
ライオンの像は最初にインドに現れ、それから他の国へ広がれていた。多くの
ライオンの像 は最初に この国に入っ たのは紀 元前三世紀で あった。 そして、第十四
世紀にこのラ イオンの 像は琉球王国 (現代は 沖縄)に入っ た。その 世紀で琉球王国
(今は沖縄) は中国と よく協同を組 合してい た。その協同 組合から 多くの中国の文
化が沖縄に入った。その一つはシーサーの像である。
Dahulu, patung ini hanya berfungsi untuk melindungi bangunan istana kerajaan dan kuil.
Sebab, patung shisa hanya ada di tempat tersebut. Namun sekarang, shisa hampir ada di
semua tempat di Okinawa. Patung ini ada di rumah-rumah warga, toko, kuil, taman, tempat
wisata, hotel, rumah sakit, dan masih banyak lagi. Selain itu, dahulu shisa hanya berkaitan
dengan kepercayaan, namun sekarang patung shisa sudah menjadi bagian dari kebudayaan
Okinawa. Kebiasaan meletakkan patung shisa ini sudah ada sejak dahulu dan masih dilakukan
sampai sekarang. Sehingga kebiasaan ini telah menjadi tradisi budaya. Selain itu, patung ini
juga telah menjadi artefak kebudayaan, bahkan menjadi ikon prefektur Okinawa. Sekarang
shisa dapat dibuat dari keramik, tanah liat, kayu, dan lain-lain. Namun dahulu patung shisa
hanya terbuat dari batu.
昔、この像は寺や王宮の建物をしか守らない効用があった。その像はそのとこ
ろに初めてあ ったから である。しか し、今は シーサーが沖 縄の多く のところに見つ
けられる。こ の像は市 民の家、店、 寺、公園 、観光地、ホ テル、病 院などにある。
その上、昔、 シーサー は宗教しかつ ながらな く、今は沖縄 の文化の 一つの部分にな
っている。シ ーサーの 像を置く習慣 は昔から 今までずっと 続けてい る。この習慣は
縄県の アイ コン もな る。今 、シー サー が統 制、粘 土、 木材 など から作 られ る。 しか
し昔はシーサーが石から作られた。
Patung shisa memiliki nilai kearifan lokal. Nilai-nilai ini ditaati dan menjadi pelindung.
Misalnya, patung ini membuat masyarakat Okinawa menjadi takut untuk mencuri. Sebab
masyarakat Okinawa percaya ketika ada orang yang ingin mencuri, patung shisa tiba-tiba
akan menjadi hidup, dan menyerang si pencuri tersebut. Jadi suasana didaerah ini terasa aman
dan bebas dari pencuri.
シーサーは地元の知恵の価値観がある。この価値観を守って、導きになる。例
えば、このシ ーサーは 沖縄の社会に とって盗 むことを恐が らせると いった考えもあ
る。沖縄の社 会は盗み たい人がいれ ば、シー サーの像が急 に生きて その盗みたい人
を攻めること を信じて いるからであ る。その ため、この地 域は安全 で強盗がなくな
る。
Selain itu, karena bentuk dari patung ini seperti rupa anjing, hal ini membuat
masyarakat Okinawa memandang anjing sebagai pelindung manusia. Sehingga di daerah ini
anjing menjadi hewan yang sangat dihargai. Di Shibuya didirikan sebuah patung anjing
Hachiko untuk mengenang sifat kesetiaan anjing kepada tuannya. Simbol-simbol yang ada
pada bentuk patung shisa juga mengajarkan agar dalam kehidupan masyarakat melakukan
hal-hal baik. Serta menjaga keseimbangan hidup dengan cara menjaga kesehatan. Hal inilah
yang membuat kebanyakan masyarakat Okinawa memiliki umur yang panjang.
それに、この像の形が犬みたいで、沖縄の社会は犬に対して人間の保護者のイ
れている動物 である。 渋谷で飼い主 に非常な 犠牲がある犬 の像が作 られた。シーサ
ーの形にある 象徴も人 生の中で社会 に良いこ とばかりを教 えるよう にする。そして
健康を守って 人生のバ ランスも守る 。このこ とは最多の沖 縄の社会 が長生きにさせ
る。
Tanpa disadari, Nilai-nilai ini kemudian membentuk karakter masyarakat Okinawa yang
menghargai binatang khususnya anjing, serta senantiasa menjaga kesehatan. Karakter baik
inilah yang membuat tatanan kehidupan masyararakat Okinawa menjadi teratur. Jadi
kesimpulannya, nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam kepercayaan terhadap patung
shisa ikut memberikan pengaruh dalam terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan
teratur.
知らずに、この価値観は沖縄の社会の性格、動物、特に犬を大事にし、健康を
いつも守るの を作った 。この良い性 格は沖縄 の社会の生活 が定期的 にさせる。まと
めとしては、 シーサー の確信におけ る地域の 知恵が安全で 定期的な 社会の生活にも
BAB 1 PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang Masalah
Zaman Meiji (1868-1912 ) merupakan salah satu periode yang paling istimewa
dalam sejarah negara Jepang. Pada masa inilah muncul restorasi meiji yaitu suatu
kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Jepang dibawah pimpinan kaisar Meiji untuk
membuka diri dari dunia luar. Salah satu dampak positif dari kebijakan ini membawa
Jepang bergerak maju sehingga hanya dalam beberapa dasawarsa saja mencapai
pembentukan suatu bangsa yang modern yang memiliki perindustrian,
lembaga-lembaga politik, pola masyarakat, serta pemikiran yang modern hingga saat ini.
Namun, Jepang yang mendapatkan peringkat ketiga sebagai Negara maju di
dunia ini memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan negara maju lainnya.
Mereka masih memiliki kepercayaan terhadap hal-hal supranatural dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini dapat dilihat bahwa hampir seluruh orang Jepang memiliki jimat
keberuntungan. Contoh lainnya, di dalam media massa seperti televisi banyak sekali
jenis-jenis ramalan mulai dari ramalan cuaca, shio, golongan darah, dsb yang sangat
laris diikuti masyarakat Jepang. Buku-buku mengenai paranormal menjadi bestseller
dalam waktu singkat, dan semua majalah sekarang dicurahkan untuk membahas
fenomena supranatural. Belum lagi mengenai bermacam-macam dewa yang ada di
Jepang, serta pemujaan roh leluhur yang berupa kamidana 神 棚 (rak dewa Shinto),
akhirnya dijadikan sebagai kepercayaan rakyat atau minkan shinkou 民 間 信 仰
(Situmorang, 2013:28).
Masyarakat Jepang juga masih mempercayai dan masih mempertahankan cerita
rakyat seperti mitos atau mitologi. Walaupun sebagian masyarakat memandang mitos
hanya sebagai cerita bohong, kepalsuan, takhayul, ataupun dongeng belaka, namun
tidak bagi masyarakat Jepang. Bagi mereka, mitos justru memiliki peran yang cukup
penting dalam kehidupan sehari-hari. Para ahli juga menganggap bahwa manusia baik
perseorangan maupun sebagai kelompok, tidak dapat hidup tanpa mitos. “Mitos’’
seperti yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial, khususnya para antropolog,
dipandang sebagai sesuatu yang diperlukan manusia untuk menjelaskan alam
lingkungan di sekitarnya, juga sejarah masa lampaunya.
Contoh nyata dari kepercayaan masyarakat Jepang terhadap mitos dapat dilihat
pada masyarakat Okinawa. Di daerah ini terdapat mitos tentang sepasang patung
berbentuk setengah singa dan setengah anjing yang dapat melindungi manusia. Patung
tersebut diberi nama shisa. Saat berkunjung ke daerah Okinawa, akan terlihat bahwa
hampir disetiap bangunan seperti rumah, toko, restoran, hotel, dan lainnya diletakkan
sepasang patung ini. Hal inilah yang membuat Okinawa memiliki ciri khas tersendiri
bila dibandingkan dengan daerah lain. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi masyarakat
Okinawa untuk meletakkan patung shisa di depan atau atap rumah/bangunan.
Kebiasaan meletakkan patung ini bermula dari munculnya mitos-mitos yang
mengatakan bahwa patung shisa memiliki kekuatan supranatural yang dapat melindungi
kebiasaan ini diwariskan secara turun-temurun sampai sekarang hingga shisa dijadikan
sebagai salah satu artefak kebudayaan dan ikon daerah Okinawa.
Shisa merupakan mahluk mitologis. Makhluk mitologis adalah
keberadaannya dituturkan dalam kisah-kisah
tersebut juga terkait deng
bersifa
Jika dilihat dari segi bentuk, beberapa makhluk mitologis merupakan
yaitu gabungan dari dua binatang (hewan mitologi) atau lebih. Ciri khas ini juga
ditemukan pada patung shisa yang bentuknya seperti gabungan antara anjing dan singa.
Shisa atau yang dalam bahasa Jepang シーサー diperkirakan datang ke Okinawa dari
negeri Cina pada abad ke 14. Mitos ini dipercaya oleh masyarakat Okinawa dan
diteruskan dari generasi ke generasi. Sejak saat itu juga patung shisa memiliki arti
penting yaitu dianggap sebagai pelindung bagi masyarakat Okinawa.
Tidak hanya di Okinawa, pada masyarakat Jepang secara umum pun terdapat
mahluk mitologi yang memiliki kesamaan bentuk dan juga dipercaya dapat melindungi,
namun dengan nama yang berbeda yaitu komainu yang dalam huruf kanji ditulis狛犬.
Jika dilihat sekilas, komainu dan shisa hampir serupa. Tetapi terdapat perbedaan antara
keduanya. Jika shisa ada hampir disetiap bangunan dan rumah-rumah di Okinawa,
komainu justru hanya dapat ditemukan pada pintu-pintu gerbang kuil shinto di Jepang.
Selain itu, dari segi sejarah dan asal usul kemunculannya pun berbeda. Beberapa sumber
kuno untuk semenanjung korea, dan ada juga yang mengatakan istilah itu mengandung
arti berasal dari negara asing. Sedangkan 犬adalah huruf kanji dari kata anjing. Seperti
shisa, komainu juga diwujudkan dalam bentuk patung.
Di negara Myanmar, Tibet, Korea, dan Asia timur lainnya juga terdapat patung
yang berfungsi sebagai pelindung sama seperti shisa dengan nama dan variasi bentuk
yang sedikit berbeda. Namun, diyakini hanya di daerah Okinawa yang diletakkan pada
rumah-rumah warga dan bangunan komersial. Sedangkan di tempat atau negara lain
biasanya hanya diletakkan di kuil dan istana kerajaan atau hanya dijadikan sebagai
simbol otoritas istana kerajaan.
Jika dilihat, topik ini sangat menarik untuk dibahas. Seperti yang telah dituliskan
sebelumnya bahwa negara Jepang sudah banyak mengalami proses modernisasi dalam
berbagai bidang sehingga menjadikannya sebagai negara yang maju. Secara langsung,
daerah Okinawa juga tersentuh oleh proses modernisasi tersebut. Namun uniknya
masyarakat okinawa masih mempertahankan dan mempercayai mitos-mitos tentang
benda tertentu yang memiliki kekuatan supranatural dapat melindungi. Oleh karena itu,
penulis merasa tertarik untuk meneliti “PANDANGAN MASYARAKAT
OKINAWA TERHADAP PATUNG SHISA”
1.2 Rumusan Masalah
Mahluk mitologi Okinawa yaitu Shisa yang diwujudkan ke dalam bentuk
Hori Ichiro dalam Situmorang (2013: 28) mengatakan folk belief adalah kepercayaan
rakyat terhadap benda-benda yang mempunyai kekuatan supranatural.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kemunculan patung shisa ke
daerah Okinawa diperkirakan berasal dari negeri Cina. Hal ini diperkuat dengan
banyaknya pengaruh kebudayaan Cina yang mendominasi di daerah ini, salah satunya
adalah bangunan bersejarah Okinawa yang mirip dengan arsitektur bangunan milik
kerajaan Cina. Selain itu, dahulu Okinawa merupakan sebuah kerajaan yang terpisah
dari Jepang dan bernama kerajaan ryukyuu. Kerajaan ini banyak melakukan hubungan
perdagangan dengan Cina. Dari aktivitas ini, banyak kebudayaan Cina yang masuk dan
terserap, kemudian mengalami pembauran dengan kebudayaan setempat. Dari sekian
banyak kebudayaan yang mengalami pembauran, patung shisa adalah salah satunya.
Suatu kebudayaan luar yang diterima dan masih terus terpelihara oleh suatu
daerah disebabkan oleh adanya manfaat atau keuntungan yang dirasakan dalam
kehidupan sehari-hari. Hal ini sama seperti patung shisa yang dirasakan bermanfaat
sebagai penjaga atau pelindung oleh masyarakat Okinawa. Contohnya, semenjak
kebiasaan meletakkan patung shisa di rumah/bangunan terus dilakukan, tindak
kejahatan khususnya pencurian semakin berkurang dan keadaan kota pun semakin aman.
Hal ini dikarenakan orang yang ingin mencuri menjadi takut akan terkena musibah atau
hukuman dari hewan mitologi shisa ini.
Dari uraian diatas, bisa disimpulkan juga bahwa patung shisa merupakan sebuah
kearifan lokal. Sebab, patung ini menjadi alat untuk mensiasati lingkungan hidup di
daerah Okinawa agar tetap aman dan dijadikan sebagai bagian dari budaya, serta
shisa sebagai sebuah kearifan lokal. Maka dari itu, penulis akan mencoba merumuskan
permasalahan yang akan dibahas agar penelitian lebih terarah dan memudahkan sasaran
yang ingin dikaji. Perumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Bagaimana asal-usul kemunculan patung shisa ?
2. Bagaimana pandangan kearifan lokal masyarakat Okinawa terhadap patung
shisa ?
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka penulis menganggap perlu adanya pembatasan masalah agar dalam membahas masalah tidak
terlalu luas dan peneliti juga dapat lebih terfokus membahas masalah yang ingin diteliti.
Serta agar tidak menyulitkan pembaca dalam memahami pokok permasalahan yang
akan dibahas.
Secara umum, penelitian ini dibatasi menjadi dua fungsi yaitu fungsi religius dan
fungsi logis. Fungsi religius meliputi tentang asal-usul patung shisa sehingga dijadikan
sebagai suatu kepercayaan. Sedangkan fungsi logisnya meliputi tentang patung shisa
yang merupakan hasil karya pemikiran masyarakat dijadikan sebagai bagian dari
kebudayaan yang lambat laun menjadi suatu kearifan lokal.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, patung berbentuk setengah singa dan
setengah anjing ini tidak hanya ada pada daerah Okinawa saja tetapi juga ada di
beberapa negara lain. Untuk membatasi ruang lingkup dalam pembahasannya, maka
dan sumber lain yang terkait dengan masyarakat Okinawa saja dan tidak mengaitkan
atau membandingkannya dengan komainu, ataupun dengan patung setengah singa
setengah anjing yang terdapat di negara lain secara mendalam meskipun terdapat
banyak kesamaan. Penulis juga terlebih dahulu akan membahas mengenai sejarah
singkat berdirinya daerah Okinawa. Selain itu, untuk mendukung pembahasan ini
penulis akan membahas tentang bagian-bagian dari patung shisa yang memiliki makna
penting bagi masyarakat Okinawa.
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1. Tinjauan Pustaka
C. Kluckhohn dalam Poerwanto (2005: 88) mendefinisikan Kebudayaan adalah
proses belajar dan bukan sesuatu yang diwariskan secara biologis. Oleh karenanya
kebudayaan merupakan pola tingkah laku yang dipelajari dan disampaikan dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
Sedangkan menurut Koentjaraningrat dalam Wisadirana (2004: 26), kebudayaan
adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar,
beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Beliau juga membagi 3 wujud
kebudayaan yaitu:
a. Wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Ada
didalam kepala, atau dengan lain perkataan, dalam alam pikiran dari warga
masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup
b. Wujud kedua dari kebudayaan yang sering disebut sistem sosial, mengenai tata
aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain
dari detik ke detik, hari ke hari, dan tahun ke tahun selalu menurut pola-pola
tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
c. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik. Berupa seluruh total dari
hasil fisik aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat,
sifatnya konkret, dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat,
atau difoto.
Salah satu hasil dari wujud kebudayaan adalah cerita mitos. Bascom dalam
Danandjaja (1984:50-67) mengatakan bahwa mitos adalah cerita prosa rakyat yang
dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh empunya itu sendiri. Kata mitos
berasal dari bahasa yunani muthos, yang secara harfiah diartikan sebagai cerita atau
sesuatu yang dikatakan seseorang, dalam pengertian yang lebih luas bisa berarti suatu
pernyataan, sebuah cerita, ataupun alur suatu drama (Dhavamony, 2001:147). Ilmu yang
mempelajari tentang mitos disebut mythology. Kata mythology dalam bahasa inggris
menunjuk pengertian, baik sebagai studi atas mitos atau isi mitos, maupun bagian
tertentu dari sebuah mitos. Sedangkan kata mitos berasal dari bahasa inggris “myth”
yang berarti dongeng atau cerita yang dibuat-buat.
Mitos atau mite juga merupakan wujud dari kebudayaan masyarakat. Mitos
adalah cerita tentang asal mula terjadinya dunia, alam, peristiwa yang tidak biasa
sebelum (atau dibelakang) alam duniawi yang kita hadapi sekarang ini. Cerita itu
menurut kepercayaan sungguh-sungguh terjadi dan dalam arti tertentu keramat (Keesing,
Sedangkan Pals dalam Agus (2003:60), mengatakan bahwa mitos adalah cerita
untuk memperdekat dunia supranatural ke dunia natural. Mitos penuh dengan
cerita-cerita tentang yang sakral yang mendekatkan kehidupan supernatural yang ilahi ke
dalam kehidupan nyata manusia.
Cerita mitos merupakan salah satu wujud dari tradisi budaya. Di dalam tradisi
budaya, terkandung nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan lokal adalah suatu nilai dan
norma budaya yang berlaku dalam menata kehidupan masyarakat (Sibarani, 2012:131).
Sedangkan definisi kearifan lokal Dalam Kamus Inggris Indonesia John M.
Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan)
sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan
setempat) dapat di pahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang
bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti
oleh masyarakatnya.
Kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam
mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai
bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi.
Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita,
legenda-legenda, nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat
2. Kerangka Teori
Dalam melakukan penelitian memerlukan kerangka teori untuk mendukung
penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka teori berfungsi sebagai pendorong proses
berfikir deduktif yang bergerak dari bentuk abstrak ke dalam bentuk yang nyata
(Koentjaraningrat dalam Astuti, 2014:10).
Jika membahas tentang sistem kepercayaan, tidak hanya berhubungan dengan
agama. Namun bisa juga berupa konsepsi tentang faham-faham yang terintegrasikan
dalam dongeng-dongeng (Koentjaraningrat, 1967: 240). Ada berbagai bentuk
kepercayaan atau religius beliefs, salah satunya adalah percaya akan berbagai hal yang
mengandung kekuatan sakti atau kekuatan yang dianggap ada dalam hal-hal atau
peristiwa luar biasa pada alam, binatang, tumbuhan, benda-benda dan suara. Hal ini
sama dengan masyarakat Okinawa yang percaya bahwa patung shisa memiliki kekuatan
sakti dan terintegrasikan juga ke dalam cerita-cerita rakyat seperti mitos. Sehingga, bisa
dikatakan bahwa patung shisa juga merupakan bagian dari kepercayaan di daerah ini.
Mitos menceritakan bagaimana suatu keadaan menjadi sesuatu yang lain;
bagaimana dunia yang kosong menjadi berpenghuni, bagaimana situasi yang kacau
menjadi teratur dan lain-lain (Mubarak, 2009). Zaman mitos adalah kejadian yang
menyebabkan manusia dipengaruhi dan menjadi seperti sekarang ini. Di zaman modern
seperti sekarang ini pun tetap ada dan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Sehingga
bisa dikatakan bahwa mitos sangat bermanfaat bagi manusia. Dalam Dhavamony (1958:
1134-5) Eliade menyatakan, mengetahui mitos berarti mempelajari rahasia asal muasal
patung shisa, kita akan mengetahui asal muasal patung shisa dijadikan sebagai
pelindung masyarakat Okinawa.
Sedangkan menurut Minsarwati dalam Mubarak (2009) mitos adalah suatu
fenomena yang sangat dikenal, namun tempatnya sangat sulit dirumuskan dengan tepat,
sehingga dalam membicarakan mengenai mitos, pertama harus diuraikan dahulu apa
makna dari mitos. Mitos (myth) adalah cerita rakyat legendaris atau tradisional,
biasanya bertokoh mahluk yang luar biasa dan mengisahkan peristiwa-peristiwa yang
tidak dijelaskan secara rasional, seperti cerita terjadinya sesuatu kepercayaan atau
keyakinan yang tidak terbukti tetapi diterima mentah-mentah (Sudjima, 1988: 50).
Begitu juga halnya dengan shisa, yang memiliki berbagai mitos, dimana
mitos-mitos itu berupa cerita-cerita yang dapat dipercaya tetapi tidak bisa dibuktikan secara
rasional. Karena hal itu penulis menggunakan landasan atau pandangan terhadap teori
mitos.
Selain itu penulis juga memakai landasan teori magi. Menurut Dhavamony
(2001: 47), magi adalah suatu fenomena yang sangat dikenal dan umumnya dipahami,
namun tampaknya sangat sulit dirumuskan dengan tepat. Atau lebih jelasnya magi
adalah kepercayaan dan praktik menurut yang mana manusia yakin bahwa secara
langsung mereka dapat mempengaruhi kekuatan alam dan mereka sendiri, entah unuk
tujuan baik atau buruk.
Menurut Frazer dalam Dhavamony (1958:58) magi sama sekali tidak berkaitan
dengan agama yang dedefinisikannya sebagai sesuatu orientasi ke arah roh, dewa-dewa,
menghubungkan dirinya dengan kekuatan “supranaturral” yang melampaui alam dan
manusia. Dengan demikian, magi adalah suatu jenis supranaturalisme . Shisa juga
mempunyai kekuatan magi untuk menarik orang untuk bisa memilikinya dan
meyakininya. Seolah-olah shisa mempunyai kekuatan supranatural yang tersembunyi.
Selain itu, magi bersifat individual, magi biasanya merupakan keadaan dimana
seseorang mempergunakan penyihir untuk memenuhi maksud-maksud pribadi tertentu.
Misalnya kematian seorang musuh, penyembuhan penyakit, tercapainya kemakmuran
atau kemenangan atas suatu perang (B.Malinowski, 1967:88). Jika dilihat, shisa
memiliki magi untuk melindungi pemiliknya dari roh jahat, menjaga agar roh baik tetap
ada namun bukan untuk menyakiti atau merugikan seseorang.
Selain mitos dan magi, penulis juga menggunakan landasan Takhayul yang
hampir sama dengan magi namun jelas berbeda. Menurut Mustafa kamal dalam
Mubarak (2009) Takhayul berasal dari Tahayalat yang artinya khayalan. Oleh karena
itu Takhayul merupakan cerita hayalan dari manusia. Takhayul itu mitos, sesuatu yang
tidak nyata (khayali) jadi Takhayul itu hanya ada dalam cerita-cerita yang tidak jelas
asal usulnya atau cerita dalam mimpi dan cerita yang tidak masuk akal. Sedangkan
menurut Yusfitriadi dalam Mubarak (2009), Takhayul adalah sesuatu yang tidak nyata.
Itu hanya ada dalam cerita saja tidak nyata (khayali). Berdasarkan pendapat diatas,
cerita shisa juga bisa dikatakan cerita berupa khayalan belaka, khayalan-hkayalan yang
dibuat oleh masyarakat okinawa saja. Namun khayalan ini bisa menjadi kenyataan dan
bisa juga tidak sama sekali. Tetapi masyarakat Okinawa tetap menjadikan cerita tentang
shisa sebagai suatu kepercayaan, karena sudah menjadi suatu kebudayaan bagi
Takhayul adalah semacam sistem kepercayaan ada unsur keyakinan terhadap
sesuatu yang ada di luar jangkauan logika dan nalar. Keyakinan ini akan menjadi sebuah
tradisi ketika dipertahankan dari generasi ke generasi (http;//kompas.com). maka dari itu
cerita tentang shisa yang dipercaya dapat melindungi dari roh jahat ini sudah menjadi
suatu kepercayaan dan keyakinan yang telah tertanam kuat dalam masyarakat Okinawa.
Penulis juga menggunakan teori interaksionalisme simbolik. Teori ini memiliki
tiga premis utama, yang salah satunya yaitu manusia bertindak terhadap sesuatu (benda,
orang, atau ide) atas dasar makna yang diberikan kepada sesuatu itu (Bungin, 2010: 7).
Seperti yang telah dituliskan sebelumnya bahwa penulis juga akan coba
menguraikan mengenai kearifan lokal yang terdapat dalam kepercayaan patung shisa.
Kearifan lokal bersumber dari nilai budaya yang dimanfaatkan untuk menata kehidupan
komunitas. Kearifan lokal juga sering dianggap padanan kata Indigenous Knowledge
yakni kebiasaan, pengetahuan, persepsi, norma, dan kebudayaan yang dipatuhi bersama
suatu masyarakat dan hidup turun-temurun (Sibarani, 2012:120-121). Di dalam
kepercayaan terhadap patung shisa, terdapat nilai-nilai budaya yang dijadikan pedoman
dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kehidupan bermasyarakat tertata dengan baik.
Kebiasaan meletakkan patung shisa di setiap bangunan ini telah ada dan dilakukan sejak
dahulu dan disampaikan turun-temurun sehingga masih hidup sampai sekarang.
Geertz dalam Sibarani (2012:131) mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan
entitas yang menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitas. Dengan kata
lain, kearifan lokal dapat membentuk karakter baik seorang individu yang dapat
mengajarkan masyarakat untuk tidak mencuri, merawat binatang khususnya anjing
dengan baik, dan lain-lain. Karna hal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, secara
tidak sadar telah membentuk karakter yang baik dalam diri setiap masyarakat Okinawa .
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, ada tujuan
dari penelitian yang ingin dilakukan, yaitu:
1. Untuk mengetahui bagaimana asal-usul munculnya patung shisa
2. Untuk mengetahui pandangan masyarakat Okinawa terhadap patung shisa sebagai
sebuah kearifan lokal
2. Manfaat Penelitian
1. Dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pembaca untuk menambah
pemahaman dan pengetahuan tentang sejarah atau asal usul munculnya patung
shisa
2. Dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pembaca untuk menambah
pemahaman dan pengetahuan tentang fungsi dan pandangan masyarakat Okinawa
terhadap patung shisa sebagai bagian dari kearifan lokal
3. Menambah referensi atau informasi untuk peneliti lain yang ingin melakukan
1.6 Metode Penelitian
Istilah metode memiliki arti jalan atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai
suatu tujuan. 2 hal penting yang terdapat dalam sebuah metode yaitu cara melakukan
sesuatu dan rencana didalam pelaksanaannya. Metode adalah cara yang sudah
dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu
guna mencapai tujuan yang dikehendaki
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Ini
adalah suatu metode yang dipakai untuk memecahkan suatu masalah dengan cara
mengumpulkan, menyusun, mengklarifikasi, mengkaji dan menginterpretasikan data.
Penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran yang secermat mungkin
mengenai suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Oleh karena itu,
data-data yang diperoleh, dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan, sekaligus dikaji dan
kemudian diinterpretasikan dengan tetap mengacu pada sumber data dan informasi yang
ada (Koentjaraningrat 1976: 30).
Selain metode deskriptif, dalam melakukan penelitian ini penulis juga
menggunakan metode studi kepustakaan (library Research). Metode ini sangat penting
bagi peneliti. Menurut Nasution (1996 : 14), metode kepustakaan atau Library Research
adalah mengumpulkan data dan membaca referensi yang berkaitan dengan topik
permasalahan yang dipilih penulis. Kemudian merangkainya menjadi suatu informasi
yang mendukung penulisan skripsi ini. Studi kepustakaan merupakan aktivitas yang
sangat penting dalam kegiatan penelitian yang dilakukan. Beberapa aspek yang perlu
Agar penelitian ini lebih jelas, peneliti juga mencari dan mengumpulkan
data-data dari beberapa situs di internet yang mendukung permasalahan yang akan diteliti.
Seluruh data-data yang didapat dari studi kepustakaan dan internet akan dianalisa dan
BAB II
SEJARAH OKINAWA DAN KEMUNCULAN PATUNG SHISA
2.1 Sejarah Okinawa
Okinawa atau 沖 縄 adalah salah satu prefektur yang ada di Jepang. Kata
“Okinawa” adalah sebutan untuk pulau dalam bahasa Jepang, pertama kali ditemukan
dalam biografi Jianzhen yang ditulis pada tahun 779. Okinawa terletak di sebelah
selatan Kyushu dan dikelilingi oleh laut Cina timur dan Samudera Pasifik. Okinawa
juga merupakan pulau terbesar di kepulauan ryukyu, Jepang dengan luas wilayah
2,271.30 km. Manusia diyakini telah menetap di pulau ini sekitar puluhan ribu tahun
yang lalu. Bukti-bukti tertua yang menyatakan keberadaan manusia di kepulauan
ryukyu (bagian dari pulau Okinawa) di temukan di Naha dan Yaese berupa serpihan
tulang dari zaman paleolitikum. Tetapi orang-orang yang diduga telah beberapa kali
datang ke pulau ini berasal dari Cina Selatan, Asia Tenggara, Polinesia, dan terakhir
dari daratan Jepang.
Jika membahas mengenai awal mula berdirinya prefektur Okinawa, ini secara
langsung berkaitan erat dengan sejarahnya. Pada awalnya, Okinawa bukanlah bagian
dari prefektur Jepang. Dahulu, daerah ini merupakan sebuah pulau yang terpisah dari
Jepang dan di pulau ini berdiri tiga kerajaan yang kemudian menjadi satu kerajaan yang
bernama ryukyu. Kerajaan ini sering melakukan hubungan kerjasama dengan Cina
seperti perdagangan dan pengiriman mahasiswa untuk belajar di Cina. Dampak dari
hubungan kerjasama ini, banyak kebudayaan Cina yang masuk dan mengalami
Okinawa sedikit berbeda dengan Jepang. Hal ini dikarenakan budaya Cina sudah
mendarah daging di daerah ini. Hal ini sama dengan yang diungkapkan oleh steve
rabson yang mengatakan bahwa Okinawa cenderung lebih seperti Cina daripada Jepang
(http://www.jpri.org/publications/occasionalpapers/op8.html). Sebenarnya bukan hanya
budaya Cina, budaya dari Korea dan Asia Tenggara juga dapat dirasakan namun tidak
terlalu mendominasi.
Sebagai gambaran, saat berkunjung ke Okinawa akan terlihat bangunan
peninggalan Kerajaan yang mirip dengan arsitekur bangunan Kerajaan Cina. Contoh
lainnya jika mendengar musik tradisional Okinawa maka akan terdengar nuansa musik
tradisional Cina dan Asia Tenggara. Jangan lupakan pula olahraga Karate yang ternyata
merupakan adaptasi dari seni beladiri Siew Liam Sie Quan Fu (Shorinji Kempo).
Masuknya kebudayaan Cina dan negara yang ada di Asia timur lainnya juga
menyebabkan dialek masyarakat Okinawa agak berbeda dengan Jepang pada umumnya.
Bahasa yang digunakan didaerah ini disebut ウ チ ナ ー 県 (uchinaa-ken). Untuk
memudahkan pemahaman lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Okinawa, penulis
membaginya menjadi beberapa poin sejarah.
a. Berdirinya kerajaan ryukyu
Seperti yang telah dituliskan sebelumnya bahwa pada mulanya di pulau ryukyu
berdiri kerajaan yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu Nanzan, Chuzan, dan Hokuzan
( Selatan, Tengah, dan Utara). Lalu, pada tahun 1372 raja sato dari chuzan mengadakan
hubungan upeti dengan Cina. Upeti adalah harta yang diberikan oleh satu pihak ke
diminta oleh negara yang kuat kepada negara yang lemah, negara bawahan, atau
wilayah-wilayah yang ditaklukannya
seperti yang telah dilakukan sebelumnya dengan negara-negara yang ada di Asia timur
lainnya. Pada abad ke-14 ketiga kerajaan ini digabung menjadi satu di bawah kekuasaan
Chuzan, dan tepatnya pada tahun 1429 didirikan kerajaan ryukyu merdeka dengan
mengirimkan utusan ke pengadilan kaisar Cina dengan tujuan menerima penobatan
terhadap kerajaan ryukyu untuk misi penghormatan melegitimasi setiap penerus
kerajaan.
Setelah ketiga kerajaan tersebut di gabung menjadi kerajaan ryukyu, hubungan
upeti dengan negara Cina menjadi tidak terancam, justru sebaliknya semakin leluasa.
Bahkan, pada abad ke-15 kerajaan ryukyu termasuk negeri upeti kekaisaran Cina. Selain
itu, Kerjasama ini membawa kerajaan ryukyu kepada masa kejayaan yang disebut
dengan “Golden Age”. Sebab pada periode ini sistem perdagangan kerajaan ryukyu
mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ryukyu sudah melakukan perdagangan
internasional dengan Cina, Jepang, Korea, dan Asia Tenggara. Beberapa kegiatan
ekspor yang paling menguntungkan adalah tekstil, pewarna, lacquer ware, sutra
berwarna, kertas, keramik, emas, tembaga, biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran.
Walaupun ada sedikit masalah pada periode ini seperti kasus petugas bea cukai Cina
yang memeras pedagang ryukyu, dan sebaliknya terkadang perilaku buruk yang
ditunjukkan oleh rakyat ryukyu kepada Cina, namun secara keseluruhan hubungan
perdagangan antar negara khususnya dengan Cina ini dirasakan saling menguntungkan.
Hubungan kerjasama yang dilakukan dengan Cina dirasakan memiliki pengaruh
ekonomi, tetapi juga mempengaruhi bidang lainnya serta memperkaya kebudayaan
setempat. Sejak saat itu, arsitektur bangunan publik dan swasta seperti gedung
pengadilan didasarkan pada model Cina. Selain itu aliran Konfusianisme menjadi sangat
berpengaruh di Ryukyu, contohnya tradisi pemujaan leluhur yang sangat mudah diterima
di daerah ini. Undang-undang Cina yang melarang senjata api dan mengatur
kepemilikan tanah, diet Cina, penggunaan sumpit, serta peternakan pun juga diadopsi .
Bahkan, para pemimpin kerajaan juga belajar bahasa Cina, sastra, seni, dan filsafat dari
para pengrajin dan pedagang Cina yang bermukim di pulau ini.
Pada periode ini juga diperkirakan patung shisa masuk ke pulau ryukyu dan
mengalami pembauran. Shisa datang dari Cina, dikarenakan negara ini juga memiliki
patung setengah singa dan setengah anjing dengan nama shishi atau獅子.
Berbeda dengan kerajaan ryukyu, hubungan antara Cina dan Jepang justru
memburuk selama abad 15 dan 16. Hubungan yang tidak harmonis ini sempat
mempengaruhi kerajaan ryukyu. Sebab, pada tahun 1451 keshogunan ashikaga
mendeklarasikan kerajaan ryukyu sebagai negara upeti Jepang. Pada tahun 1590
Toyotomi Hideyoshi berencana ingin melakukan invasi terhadap Cina melalui Korea.
Sehingga ia memerintahkan raja ryukyu, Sho Nei agar menyediakan pasukan dan
perlengkapan. Setelah awalnya ragu-ragu, raja ryukyu memutuskan enggan mengirim
pasokan makanan untuk pasukan Jepang yang kandas di Korea. Hal ini dikarenakan
kerajaan ryukyu berusaha menghindari konflik dengan Cina.
Setelah kematian Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1598, keshogunan digantikan
oleh Tokugawa Ieyasu yang telah memenangkan pertempuran di Sekigahara pada tahun
1600. Selama Tokugawa memerintah atas Jepang, ia menempatkan kerajaan ryukyu
dibawah domain Shimazu Iehisa, seorang daimyo dari provinsi Satsuma (sekarang
prefektur Kagoshima) di sebelah selatan Kyushu. Shimazu diberi gelar “lord of the
southern islands.” Pada tahun 1609 ia mengirimkan tentara samurai untuk menegaskan
kekuasaannya atas kerajaan ryukyu. Lalu ia menyandera raja ryukyu dan memaksanya
untuk menyetujui perjanjian yang menyatakan bahwa raja bertanggung jawab untuk
menjaga kemerdekaan kerajaan ryukyu, namun menempatkannya dibawah kekuasaan
Satsuma. Sejak saat itu, kerajaan ini dibawah kekuasaan shogun Tokugawa dan domain
Satsuma. Kerajaan ryukyu diwajibkan untuk membayar upeti kepada Tokugawa dan
Shimazu. Hal ini tentu saja memberatkan ryukyu. Belum lagi pembatasan dan pajak
tinggi yang dikenakan oleh Satsuma.
Walau begitu, Shimazu tetap mempertahankan kedaulatan kerajaan ryukyu serta
mengizinkan kerajaan ini untuk melakukan hubungan upeti dengan Cina. Kedaulatan
ryukyu tetap dipelihara mengingat aneksasi ryukyu oleh Jepang berarti menciptakan
pertikaian dengan Cina yang akan mempengaruhi sistem perdagangan dengan negeri
bambu tersebut. Sebab, klan Satsuma memperoleh untung besar dari berdagang dengan
Cina yang mana pada masa itu perdagangan dengan luar negeri sangat dibatasi terkait
dengan kebijakan sakoku (kebijakan menutup diri dari dunia luar) yang dikeluarkan
oleh Tokugawa. Meskipun berada di bawah pengaruh kuat domain Satsuma, kerajaan
c. Kerajaan ryukyu menjadi prefektur Okinawa
Selama 246 tahun memerintah atas Jepang, akhirnya pada tahun 1867 sistem
feodal keshogunan runtuh. Hal ini dipicu oleh terjadinya kekacauan besar akibat
tekanan arus sosial serta politik yang menggerogoti fondasi struktur feodal dan akhirnya
kedaulatan dikembalikan sepenuhnya kepada kaisar dalam Restorasi Meiji tahun 1868.
Empat tahun setelah Restorasi Meiji, pemerintah melakukan serbuan militer ke
kerajaan ryukyu. Pemerintah ingin menegaskan kewenangannya atas ryukyu. Berbeda
dengan saat kerajaan ini dikuasai oleh Satsuma yang masih menjaga kedaulatan
kmerdekaan kerajaan, hal ini justru sebaliknya pada masa pemerintahan Meiji. Jepang
ingin menguasai kerajaan ini sepenuhnya. Sejak awal 1870-an Jepang mencoba untuk
menghilangkan politik kerajaan ryukyu baik secara nyata maupun simbolis. Pemerintah
Jepang melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap pelaut ryukyu dari Taiwan
dengan alasan diplomatik bahwa ryukyu merupakan “subyek Jepang” yang
membutuhkan perlindungan. Pada tahun 1872 pemerintah Jepang mengumumkan secara
terbuka bahwa kerajaan ryukyu telah dihapuskan dan menganeksasinya menjadi domain
ryukyu. Tindakan ini tepat lima ratus tahun setelah perjanjian raja Sato tentang
kedaulatan dengan Cina yang dikenal dengan sebutan ryukyu shobun (ryukyu
disposition) tahun 1372. Namun pada saat itu dinasti Qing masih berusaha menegaskan
kekuasaannya atas pulau ryukyu. Lalu, pada tahun 1875 pemerintah Jepang
memerintahkan kerajaan ryukyu untuk menghentikan hubungan upeti dengan Cina
Pada bulan mei tahun 1879 raja terakhir ryukyu, Sho Tai diasingkan ke daerah
Tokyo, sementara itu domain ryukyu dihapuskan dan dijadikan sebagai prefektur
kekhawatiran bahwa kerajaan ryukyu akan menimbukan masalah keamanan Jepang.
Sebagai wilayah yg tidak dikuasai pada perbatasan Jepang bagian selatan, hal ini dapat
digunakan sebagai titik perhentian bagi pasukan luar yang mengancam Jepang.
Komodor Perry dengan armada “kapal hitam” nya yang pernah tiba di Naha pada tahun
1853 dalam perjalanannya ke Edo Bay merupakan salah satunya.
Namun, kebijakan ini menarik protes tidak hanya dari orang-orang bekas
kerajaan ryukyu, tapi juga dari Cina yang masih diklaim sebagai negara upeti. Selain itu,
bangsawan Okinawa juga pernah meminta kerajaan ch’ing dan presiden AS Ulysses S.
Grant yang sedang berkunjung ke Asia Timur pada tahun 1879 untuk menengahi
permasalahan ini. Negosiasi yang berlarut-larut ini berlangsung selama dua puluh tahun,
sampai terjadinya perang Sino-Jepang dari tahun 1894-1895.
Setelah menjadi bagian dari negara Jepang, Pada tahun 1912 untuk pertama
kalinya masyarakat Okinawa mendapat hak pilih untuk mengirimkan wakil rakyat.
Sedangkan untuk bidang perekonomian, awalnya jauh dari makmur dan bukan hanya itu
saja, banyak penduduk Okinawa yang pindah ke luar negeri.
d. Keadaan Okinawa saat Perang Dunia II
Pada saat perang dunia II tepatnya tahun 1945, tentara Amerika serikat datang
mennyerbu dan merebut pulau Okinawa melalui pertempuran Okinawa. Selama 82 hari
sekitar 12.500 tentara Amerika tewas dan 37.000 jiwa terluka, serta mengorbankan
seperempat dari total warga sipil Okinawa pada saat itu. Perang ini juga mengakibatkan
Kedatangan tentara militer AS ini membuat Okinawa berada di antara dua
kekuasaan. Di satu sisi, Okinawa dikuasai oleh tentara Amerika, dan di sisi lain dikuasai
oleh sisa kedaulatan Jepang. Namun, setelah kedatangan tentara sekutu tersebut, pulau
ini dijadikan sebagai pangkalan militer Amerika Serikat untuk rencana invasi ke Jepang.
Masa ini disebut periode administrasi Amerika Serikat yang berlangsung selama 27
tahun.
Pada masa administrasi AS di Okinawa, seringkali terjadi konflik antara militer
AS dengan penduduk lokal. Meskipun sering terjadi konflik, di sisi lain Amerika juga
memberikan pengaruh yang positif bagi kemajuan Okinawa. Sebab, Amerika
memberikan beasiswa bagi pemuda Okinawa untuk belajar di Amerika, dan mendirikan
Universitas Ryukyu dengan dana pemerintah AS pada tahun 1950.
Pada tanggal 8 september 1951 pemerintah Jepang dengan tentara sekutu
mengadakan perjanjian perdamaian yang lebih dikenal sebagai Perjanjian San Fransisco.
Perjanjian ini secara resmi ditandatangani oleh 49 negara di San Fransisco, California.
Hal ini menandai berakhirnya Perang Dunia II, dan mengakhiri secara resmi kedudukan
Jepang sebagai kekuatan imperialis. Pada pasal 3 dari isi perjanjian tersebut secara
resmi memasukkan kepulauan ryukyu, termasuk Okinawa ke dalam perwalian Amerika
Serikat.
Pada tahun 1969 perundingan antara dua negara ini berakhir dengan
dikembalikannnya kepulauan ryukyu kepada Jepang. Akhirnya, pada tahun 1972,
Amerika serikat secara resmi menyerahkan kepulauan Okinawa kepada pemerintah
Jepang. Sejak saat itu, Okinawa menjadi bagian dari prefektur yang ada di Jepang
Dari latar belakang sejarah berdirinya Okinawa ini, terlihat bahwa kebudayaan
Cina banyak memberikan pengaruh bagi Okinawa hingga saat ini. kepercayaan terhadap
patung singa (shisa) juga mendapat pengaruh dari kebudayaan Cina yang masuk ke
daerah ini pada saat keduanya melakukan hubungan kerjasama di bidang perdagangan.
2.2 Asal-usul Kemunculan Patung shisa
Kepercayaan terhadap patung shisa ini tidak muncul begitu saja di Okinawa.
kepercayaan ini merupakan hasil akulturasi dengan kebudayaan negara lain yang masuk
ke Okinawa. Patung ini pertama kali muncul dan berkembang di India. Pada waktu itu
singa merupakan simbolis dharma (ajaran agama Buddha) untuk pelindung. Seiring
dengan berjalannya waktu, simbol-simbol singa ini mulai menghiasi seni kuil-kuil yang
ada di India. Jadi bisa dikatakan bahwa patung singa ini juga berkaitan dengan agama
Buddha.
Pada masa itu, India banyak melakukan perjalanan ke negara lain dengan tujuan
untuk melakukan hubungan kerjasama di berbagai bidang salah satunya di bidang
perdagangan dengan negara lain khususnya di wilayah Asia. Bersamaan dengan
aktivitas tersebut, India juga menyebarkan ajaran agama Buddha ke setiap negara yang
telah didatangi. Salah satu negara yang mendapat penyebaran agama Buddha adalah
negara Cina. Sekitar abad ke-3 SM, agama Buddha mulai menyebar ke negara Cina
melalui jalur sutra. Karena patung singa berkaitan erat dengan ajaran agama Buddha,
dengan kebudayaan setempat. Dalam waktu yang singkat, patung ini pun juga mulai
mendominasi kuil-kuil yang ada di Cina.
Dalam bahasa Cina, Kata “singa” (termasuk patung) adalah shi 獅 atau shishi 獅
子 dan ada juga yang menyebutnya xiezhi atau獬 豸. Tidak hanya sampai di Cina,
patung singa ini juga masuk negara Korea, namun dengan nama yang berbeda yaitu
haetae atau haechi. dari segi bentuk pun terdapat sedikit perbedaan. Bentuknya lebih
dominan seperti singa, memiliki tubuh yang bersisik dan tanduk di kepalanya, serta ada
beberapa patung yang memiliki sayap kecil.
Pada periode Nara (710-794) patung singa dari korea ini masuk ke Jepang dan
berganti nama menjadi komainu. Kata “koma-inu” sendiri mengandung arti anjing dari
koma (semenanjung korea) atau asing. Bentuknya sama dengan haechi, namun bedanya
pada abad ke-14 komainu menjadi tidak memiliki tanduk. Meskipun patung singa ini
berkaitan erat dengan agama Buddha, namun komainu yang ada di Jepang justru
berhubungan dengan agama Shinto. Hal ini terbukti dari patung komainu ini dapat
dilihat pada kuil-kuil Shinto di Jepang.
Pada abad ini juga patung singa masuk ke Okinawa yang pada saat itu masih
berbentuk kerajaan yang bernama ryukyu. Namun masuknya patung singa ke daerah ini
bukan berasal dari Jepang. sebab, pada masa itu kerajaan ryukyu belum mengadakan
hubungan apapun dengan Jepang dan belum menjadi bagian dari Jepang. Berbeda
dengan komainu yang masuk ke Jepang melalui Korea, Patung singa yang kemudian
diberi nama shisa ini masuk ke Okinawa melalui Cina. Seperti yang telah dituliskan
pertukaran kebudayaan yang terjadi saat kerajaan ryukyu melakukan hubungan
kerjasama di berbagai bidang dengan Cina. Hal inilah yang menyebabkan patung shisa
dan komainu memiliki banyak kesamaan. Sebab pada dasarnya patung singa yang ada di
Okinawa dan Jepang berasal dari sumber yang sama yaitu Cina dan India.
Sempat ada perbedaan pendapat mengenai rupa dari shisa. Hal ini dikarenakan
rupa dari patung ini yang mirip dengan anjing, juga mirip dengan singa. Namun, ada
juga yang berpendapat bahwa shisa adalah seekor anjing bukan singa. Sebab, pada saat
itu di Okinawa belum terdapat hewan singa dan tidak ada yang pernah melakukan
kontak langsung dengan singa. Dalam tipologi sihir, shisa juga diklasifikasikan sebagai
binatang gargoyle. Tidak hanya negara-negara tersebut, tetapi negara Myanmar dan
Tibet juga memiliki kepercayaan seperti ini. namun dengan perbedaan yang terdapat
pada masing-masing negara.
2.2.1 Realita Patung Shisa
Pada dasarnya, patung merupakan karya seni tiga dimensi yang dibuat oleh
manusia dengan tujuan untuk menghasilkan karya yang dapat bertahan lama. Agar dapat
bertahan lama, patung ini dibuat dari bermacam-macam bahan baku. Pada mulanya
patung shisa hanya terbuat dari batu. Namun sekarang selain dari batu, shisa juga dibuat
dari bahan baku seperti tanah liat, keramik, kayu, dan lain-lain. Setiap negara pasti
memiliki karya seni patung. Ada yang menganggapnya sebatas suatu karya seni bernilai
estetika tinggi, ada pula yang beranggapan bahwa patung-patung yang mereka bangun
dan dirikan memiliki nilai-nilai religi yang mesti dihormati, dan dipelihara. Hal ini juga
Patung ini selalu diletakkan berpasangan di sebelah kiri dan kanan. Beberapa
bagian dari bentuk patung mengandung simbol-simbol yang mengandung makna yang
dipercaya oleh masyarakat Okinawa. simbol-simbol inilah yang membuat patung shisa
terlihat istimewa. Umumnya di sebelah kanan adalah patung yang bermulut terbuka
dan sebelah kiri adalah yang bermulut tertutup. Bentuk mulutnya yang seperti ini
bukanlah suatu kebetulan, ini merupakan simbolisme ajaran Buddha. Patung yang
bermulut terbuka membentuk suara “a” atau あ. sedangkan yang bermulut tertutup
membentuk suara “un” atauうん. Jika keduanya digabungkan akan membentuk kata
a-un. Huruf “a” merupakan huruf pertama, sedangkan “n” merupakan huruf terakhir
dalam alfabet Jepang. Suara ini ini juga merupakan transliterasi Jepang dari bahasa
sansekerta “AHAM” dan “AUM” yang mengandung arti awal dan akhir dari segala
sesuatu. Kedua kata ini juga seperti Sebuah analogi dari negara barat yang digambarkan
sebagai alpa dan omega.
Patung shisa yang bermulut terbuka juga dipercaya untuk mengusir dan
menakut-nakuti roh-roh jahat yang ingin masuk ke dalam rumah si pemilik. Sedangkan
yang bermulut tertutup dipercaya untuk menjaga agar roh-roh yang baik serta
keberuntungan tetap berdiam di dalam rumah. Patung yang bermulut terbuka dikatakan
shisa jantan sedangkan yang bermulut tertutup merupakan shisa betina. Ada juga jenis
patung shisa yang salah satunya sambil memegang bola emas di kakinya. Objek
melingkar ini adalah Tama 玉, atau permata suci Buddha yang merupakan simbol
kebijaksanaan Buddha yang membawa cahaya untuk kegelapan dan memegang
Patung shisa ini bisa juga dikatakan sebagai jimat pelindung rumah bagi
masyarakat Okinawa. Jimat adalah benda berenergi supranatural yang diyakini dapat
melindungi seseorang atau si pemilik dari suatu masalah. Jimat berasal dari bahasa
portugis, fetitico dan berasal dari bahasa latin factitus berarti sesuatu yang berhubungan
dengan magis atau sesuatu yang ada pengaruh dan efeknya (Soekahar, 2002:50).
Sedangkan John M Gobay mengatakan bahwa jimat merupakan benda yang berkuasa
atau dianggap sakti atau berjiwa dapat menolak penyakit dan menyebabkan kebal
(1999:60). Jimat bisa berupa benda-benda seperti batuan alam, patung, kayu bertuah,
koin, cincin, dan jenis hewan tertentu.
Namun antara jimat dengan patung shisa terdapat perbedaan. Jika jimat sebelum
digunakan atau diberikan kepada si pemilik terlebih dahulu didoakan atau diberi
jampi-jampi, hal ini tidak dilakukan pada patung shisa. Sejauh ini belum ada sumber yang
menjelaskan bahwa sebelum pemakaian, patung shisa di doakan terlebih dahulu. Namun
beberapa cerita mitos rakyat Okinawa hanya mengatakan bahwa awal mulanya patung
ini diberikan oleh seseorang yang kemudian karna patung shisa ini telah
menyelamatkan desa, dikeramatkan dan dijadikan sebagai pelindung desa. Seiring
perkembangan zaman akhirnya patung ini banyak digunakan oleh masyarakat Okinawa
dan banyak dijual di toko-toko kerajinan di daerah ini.
Dahulu, fungsi shisa ini hanya berkaitan dengan religius atau kepercayaan yakni
sebagai pelindung. Namun sekarang kebiasaan meletakkan patung ini sudah mengalami
perkembangan. Shisa sudah menjadi bagian dari artefak kebudayaan Okinawa. Bahkan
juga menjadi simbol dari prefektur Okinawa. hal ini dikarenakan kebiasaan ini sudah