• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Masyarakat Okinawa Terhadap Patung Shisa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pandangan Masyarakat Okinawa Terhadap Patung Shisa"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang Masalah

Zaman Meiji (1868-1912 ) merupakan salah satu periode yang paling istimewa

dalam sejarah negara Jepang. Pada masa inilah muncul restorasi meiji yaitu suatu

kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Jepang dibawah pimpinan kaisar Meiji untuk

membuka diri dari dunia luar. Salah satu dampak positif dari kebijakan ini membawa

Jepang bergerak maju sehingga hanya dalam beberapa dasawarsa saja mencapai

pembentukan suatu bangsa yang modern yang memiliki perindustrian,

lembaga-lembaga politik, pola masyarakat, serta pemikiran yang modern hingga saat ini.

Namun, Jepang yang mendapatkan peringkat ketiga sebagai Negara maju di

dunia ini memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan negara maju lainnya.

Mereka masih memiliki kepercayaan terhadap hal-hal supranatural dalam kehidupan

sehari-hari. Hal ini dapat dilihat bahwa hampir seluruh orang Jepang memiliki jimat

keberuntungan. Contoh lainnya, di dalam media massa seperti televisi banyak sekali

jenis-jenis ramalan mulai dari ramalan cuaca, shio, golongan darah, dsb yang sangat

laris diikuti masyarakat Jepang. Buku-buku mengenai paranormal menjadi bestseller

dalam waktu singkat, dan semua majalah sekarang dicurahkan untuk membahas

fenomena supranatural. Belum lagi mengenai bermacam-macam dewa yang ada di

Jepang, serta pemujaan roh leluhur yang berupa kamidana 神 棚 (rak dewa Shinto),

(2)

akhirnya dijadikan sebagai kepercayaan rakyat atau minkan shinkou 民 間 信 仰

(Situmorang, 2013:28).

Masyarakat Jepang juga masih mempercayai dan masih mempertahankan cerita

rakyat seperti mitos atau mitologi. Walaupun sebagian masyarakat memandang mitos

hanya sebagai cerita bohong, kepalsuan, takhayul, ataupun dongeng belaka, namun

tidak bagi masyarakat Jepang. Bagi mereka, mitos justru memiliki peran yang cukup

penting dalam kehidupan sehari-hari. Para ahli juga menganggap bahwa manusia baik

perseorangan maupun sebagai kelompok, tidak dapat hidup tanpa mitos. “Mitos’’

seperti yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial, khususnya para antropolog,

dipandang sebagai sesuatu yang diperlukan manusia untuk menjelaskan alam

lingkungan di sekitarnya, juga sejarah masa lampaunya.

Contoh nyata dari kepercayaan masyarakat Jepang terhadap mitos dapat dilihat

pada masyarakat Okinawa. Di daerah ini terdapat mitos tentang sepasang patung

berbentuk setengah singa dan setengah anjing yang dapat melindungi manusia. Patung

tersebut diberi nama shisa. Saat berkunjung ke daerah Okinawa, akan terlihat bahwa

hampir disetiap bangunan seperti rumah, toko, restoran, hotel, dan lainnya diletakkan

sepasang patung ini. Hal inilah yang membuat Okinawa memiliki ciri khas tersendiri

bila dibandingkan dengan daerah lain. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi masyarakat

Okinawa untuk meletakkan patung shisa di depan atau atap rumah/bangunan.

Kebiasaan meletakkan patung ini bermula dari munculnya mitos-mitos yang

mengatakan bahwa patung shisa memiliki kekuatan supranatural yang dapat melindungi

(3)

kebiasaan ini diwariskan secara turun-temurun sampai sekarang hingga shisa dijadikan

sebagai salah satu artefak kebudayaan dan ikon daerah Okinawa.

Shisa merupakan mahluk mitologis. Makhluk mitologis adalah

keberadaannya dituturkan dalam kisah-kisah

tersebut juga terkait deng

bersifa

Jika dilihat dari segi bentuk, beberapa makhluk mitologis merupakan

yaitu gabungan dari dua binatang (hewan mitologi) atau lebih. Ciri khas ini juga

ditemukan pada patung shisa yang bentuknya seperti gabungan antara anjing dan singa.

Shisa atau yang dalam bahasa Jepang シーサー diperkirakan datang ke Okinawa dari

negeri Cina pada abad ke 14. Mitos ini dipercaya oleh masyarakat Okinawa dan

diteruskan dari generasi ke generasi. Sejak saat itu juga patung shisa memiliki arti

penting yaitu dianggap sebagai pelindung bagi masyarakat Okinawa.

Tidak hanya di Okinawa, pada masyarakat Jepang secara umum pun terdapat

mahluk mitologi yang memiliki kesamaan bentuk dan juga dipercaya dapat melindungi,

namun dengan nama yang berbeda yaitu komainu yang dalam huruf kanji ditulis狛犬.

Jika dilihat sekilas, komainu dan shisa hampir serupa. Tetapi terdapat perbedaan antara

keduanya. Jika shisa ada hampir disetiap bangunan dan rumah-rumah di Okinawa,

komainu justru hanya dapat ditemukan pada pintu-pintu gerbang kuil shinto di Jepang.

Selain itu, dari segi sejarah dan asal usul kemunculannya pun berbeda. Beberapa sumber

(4)

kuno untuk semenanjung korea, dan ada juga yang mengatakan istilah itu mengandung

arti berasal dari negara asing. Sedangkan 犬adalah huruf kanji dari kata anjing. Seperti

shisa, komainu juga diwujudkan dalam bentuk patung.

Di negara Myanmar, Tibet, Korea, dan Asia timur lainnya juga terdapat patung

yang berfungsi sebagai pelindung sama seperti shisa dengan nama dan variasi bentuk

yang sedikit berbeda. Namun, diyakini hanya di daerah Okinawa yang diletakkan pada

rumah-rumah warga dan bangunan komersial. Sedangkan di tempat atau negara lain

biasanya hanya diletakkan di kuil dan istana kerajaan atau hanya dijadikan sebagai

simbol otoritas istana kerajaan.

Jika dilihat, topik ini sangat menarik untuk dibahas. Seperti yang telah dituliskan

sebelumnya bahwa negara Jepang sudah banyak mengalami proses modernisasi dalam

berbagai bidang sehingga menjadikannya sebagai negara yang maju. Secara langsung,

daerah Okinawa juga tersentuh oleh proses modernisasi tersebut. Namun uniknya

masyarakat okinawa masih mempertahankan dan mempercayai mitos-mitos tentang

benda tertentu yang memiliki kekuatan supranatural dapat melindungi. Oleh karena itu,

penulis merasa tertarik untuk meneliti “PANDANGAN MASYARAKAT

OKINAWA TERHADAP PATUNG SHISA”

1.2 Rumusan Masalah

Mahluk mitologi Okinawa yaitu Shisa yang diwujudkan ke dalam bentuk

(5)

Hori Ichiro dalam Situmorang (2013: 28) mengatakan folk belief adalah kepercayaan

rakyat terhadap benda-benda yang mempunyai kekuatan supranatural.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kemunculan patung shisa ke

daerah Okinawa diperkirakan berasal dari negeri Cina. Hal ini diperkuat dengan

banyaknya pengaruh kebudayaan Cina yang mendominasi di daerah ini, salah satunya

adalah bangunan bersejarah Okinawa yang mirip dengan arsitektur bangunan milik

kerajaan Cina. Selain itu, dahulu Okinawa merupakan sebuah kerajaan yang terpisah

dari Jepang dan bernama kerajaan ryukyuu. Kerajaan ini banyak melakukan hubungan

perdagangan dengan Cina. Dari aktivitas ini, banyak kebudayaan Cina yang masuk dan

terserap, kemudian mengalami pembauran dengan kebudayaan setempat. Dari sekian

banyak kebudayaan yang mengalami pembauran, patung shisa adalah salah satunya.

Suatu kebudayaan luar yang diterima dan masih terus terpelihara oleh suatu

daerah disebabkan oleh adanya manfaat atau keuntungan yang dirasakan dalam

kehidupan sehari-hari. Hal ini sama seperti patung shisa yang dirasakan bermanfaat

sebagai penjaga atau pelindung oleh masyarakat Okinawa. Contohnya, semenjak

kebiasaan meletakkan patung shisa di rumah/bangunan terus dilakukan, tindak

kejahatan khususnya pencurian semakin berkurang dan keadaan kota pun semakin aman.

Hal ini dikarenakan orang yang ingin mencuri menjadi takut akan terkena musibah atau

hukuman dari hewan mitologi shisa ini.

Dari uraian diatas, bisa disimpulkan juga bahwa patung shisa merupakan sebuah

kearifan lokal. Sebab, patung ini menjadi alat untuk mensiasati lingkungan hidup di

daerah Okinawa agar tetap aman dan dijadikan sebagai bagian dari budaya, serta

(6)

shisa sebagai sebuah kearifan lokal. Maka dari itu, penulis akan mencoba merumuskan

permasalahan yang akan dibahas agar penelitian lebih terarah dan memudahkan sasaran

yang ingin dikaji. Perumusan masalahnya sebagai berikut:

1. Bagaimana asal-usul kemunculan patung shisa ?

2. Bagaimana pandangan kearifan lokal masyarakat Okinawa terhadap patung

shisa ?

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan

Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka penulis

menganggap perlu adanya pembatasan masalah agar dalam membahas masalah tidak

terlalu luas dan peneliti juga dapat lebih terfokus membahas masalah yang ingin diteliti.

Serta agar tidak menyulitkan pembaca dalam memahami pokok permasalahan yang

akan dibahas.

Secara umum, penelitian ini dibatasi menjadi dua fungsi yaitu fungsi religius dan

fungsi logis. Fungsi religius meliputi tentang asal-usul patung shisa sehingga dijadikan

sebagai suatu kepercayaan. Sedangkan fungsi logisnya meliputi tentang patung shisa

yang merupakan hasil karya pemikiran masyarakat dijadikan sebagai bagian dari

kebudayaan yang lambat laun menjadi suatu kearifan lokal.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, patung berbentuk setengah singa dan

setengah anjing ini tidak hanya ada pada daerah Okinawa saja tetapi juga ada di

beberapa negara lain. Untuk membatasi ruang lingkup dalam pembahasannya, maka

(7)

dan sumber lain yang terkait dengan masyarakat Okinawa saja dan tidak mengaitkan

atau membandingkannya dengan komainu, ataupun dengan patung setengah singa

setengah anjing yang terdapat di negara lain secara mendalam meskipun terdapat

banyak kesamaan. Penulis juga terlebih dahulu akan membahas mengenai sejarah

singkat berdirinya daerah Okinawa. Selain itu, untuk mendukung pembahasan ini

penulis akan membahas tentang bagian-bagian dari patung shisa yang memiliki makna

penting bagi masyarakat Okinawa.

1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori

1. Tinjauan Pustaka

C. Kluckhohn dalam Poerwanto (2005: 88) mendefinisikan Kebudayaan adalah

proses belajar dan bukan sesuatu yang diwariskan secara biologis. Oleh karenanya

kebudayaan merupakan pola tingkah laku yang dipelajari dan disampaikan dari satu

generasi ke generasi berikutnya.

Sedangkan menurut Koentjaraningrat dalam Wisadirana (2004: 26), kebudayaan

adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar,

beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Beliau juga membagi 3 wujud

kebudayaan yaitu:

a. Wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Ada

didalam kepala, atau dengan lain perkataan, dalam alam pikiran dari warga

masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup

b. Wujud kedua dari kebudayaan yang sering disebut sistem sosial, mengenai tata

(8)

aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain

dari detik ke detik, hari ke hari, dan tahun ke tahun selalu menurut pola-pola

tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.

c. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik. Berupa seluruh total dari

hasil fisik aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat,

sifatnya konkret, dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat,

atau difoto.

Salah satu hasil dari wujud kebudayaan adalah cerita mitos. Bascom dalam

Danandjaja (1984:50-67) mengatakan bahwa mitos adalah cerita prosa rakyat yang

dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh empunya itu sendiri. Kata mitos

berasal dari bahasa yunani muthos, yang secara harfiah diartikan sebagai cerita atau

sesuatu yang dikatakan seseorang, dalam pengertian yang lebih luas bisa berarti suatu

pernyataan, sebuah cerita, ataupun alur suatu drama (Dhavamony, 2001:147). Ilmu yang

mempelajari tentang mitos disebut mythology. Kata mythology dalam bahasa inggris

menunjuk pengertian, baik sebagai studi atas mitos atau isi mitos, maupun bagian

tertentu dari sebuah mitos. Sedangkan kata mitos berasal dari bahasa inggris “myth”

yang berarti dongeng atau cerita yang dibuat-buat.

Mitos atau mite juga merupakan wujud dari kebudayaan masyarakat. Mitos

adalah cerita tentang asal mula terjadinya dunia, alam, peristiwa yang tidak biasa

sebelum (atau dibelakang) alam duniawi yang kita hadapi sekarang ini. Cerita itu

menurut kepercayaan sungguh-sungguh terjadi dan dalam arti tertentu keramat (Keesing,

(9)

Sedangkan Pals dalam Agus (2003:60), mengatakan bahwa mitos adalah cerita

untuk memperdekat dunia supranatural ke dunia natural. Mitos penuh dengan

cerita-cerita tentang yang sakral yang mendekatkan kehidupan supernatural yang ilahi ke

dalam kehidupan nyata manusia.

Cerita mitos merupakan salah satu wujud dari tradisi budaya. Di dalam tradisi

budaya, terkandung nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan lokal adalah suatu nilai dan

norma budaya yang berlaku dalam menata kehidupan masyarakat (Sibarani, 2012:131).

Sedangkan definisi kearifan lokal Dalam Kamus Inggris Indonesia John M.

Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan)

sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan

setempat) dapat di pahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang

bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti

oleh masyarakatnya.

Kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam

mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai

bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi.

Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita,

legenda-legenda, nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat

(10)

2. Kerangka Teori

Dalam melakukan penelitian memerlukan kerangka teori untuk mendukung

penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka teori berfungsi sebagai pendorong proses

berfikir deduktif yang bergerak dari bentuk abstrak ke dalam bentuk yang nyata

(Koentjaraningrat dalam Astuti, 2014:10).

Jika membahas tentang sistem kepercayaan, tidak hanya berhubungan dengan

agama. Namun bisa juga berupa konsepsi tentang faham-faham yang terintegrasikan

dalam dongeng-dongeng (Koentjaraningrat, 1967: 240). Ada berbagai bentuk

kepercayaan atau religius beliefs, salah satunya adalah percaya akan berbagai hal yang

mengandung kekuatan sakti atau kekuatan yang dianggap ada dalam hal-hal atau

peristiwa luar biasa pada alam, binatang, tumbuhan, benda-benda dan suara. Hal ini

sama dengan masyarakat Okinawa yang percaya bahwa patung shisa memiliki kekuatan

sakti dan terintegrasikan juga ke dalam cerita-cerita rakyat seperti mitos. Sehingga, bisa

dikatakan bahwa patung shisa juga merupakan bagian dari kepercayaan di daerah ini.

Mitos menceritakan bagaimana suatu keadaan menjadi sesuatu yang lain;

bagaimana dunia yang kosong menjadi berpenghuni, bagaimana situasi yang kacau

menjadi teratur dan lain-lain (Mubarak, 2009). Zaman mitos adalah kejadian yang

menyebabkan manusia dipengaruhi dan menjadi seperti sekarang ini. Di zaman modern

seperti sekarang ini pun tetap ada dan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Sehingga

bisa dikatakan bahwa mitos sangat bermanfaat bagi manusia. Dalam Dhavamony (1958:

1134-5) Eliade menyatakan, mengetahui mitos berarti mempelajari rahasia asal muasal

(11)

patung shisa, kita akan mengetahui asal muasal patung shisa dijadikan sebagai

pelindung masyarakat Okinawa.

Sedangkan menurut Minsarwati dalam Mubarak (2009) mitos adalah suatu

fenomena yang sangat dikenal, namun tempatnya sangat sulit dirumuskan dengan tepat,

sehingga dalam membicarakan mengenai mitos, pertama harus diuraikan dahulu apa

makna dari mitos. Mitos (myth) adalah cerita rakyat legendaris atau tradisional,

biasanya bertokoh mahluk yang luar biasa dan mengisahkan peristiwa-peristiwa yang

tidak dijelaskan secara rasional, seperti cerita terjadinya sesuatu kepercayaan atau

keyakinan yang tidak terbukti tetapi diterima mentah-mentah (Sudjima, 1988: 50).

Begitu juga halnya dengan shisa, yang memiliki berbagai mitos, dimana

mitos-mitos itu berupa cerita-cerita yang dapat dipercaya tetapi tidak bisa dibuktikan secara

rasional. Karena hal itu penulis menggunakan landasan atau pandangan terhadap teori

mitos.

Selain itu penulis juga memakai landasan teori magi. Menurut Dhavamony

(2001: 47), magi adalah suatu fenomena yang sangat dikenal dan umumnya dipahami,

namun tampaknya sangat sulit dirumuskan dengan tepat. Atau lebih jelasnya magi

adalah kepercayaan dan praktik menurut yang mana manusia yakin bahwa secara

langsung mereka dapat mempengaruhi kekuatan alam dan mereka sendiri, entah unuk

tujuan baik atau buruk.

Menurut Frazer dalam Dhavamony (1958:58) magi sama sekali tidak berkaitan

dengan agama yang dedefinisikannya sebagai sesuatu orientasi ke arah roh, dewa-dewa,

(12)

menghubungkan dirinya dengan kekuatan “supranaturral” yang melampaui alam dan

manusia. Dengan demikian, magi adalah suatu jenis supranaturalisme . Shisa juga

mempunyai kekuatan magi untuk menarik orang untuk bisa memilikinya dan

meyakininya. Seolah-olah shisa mempunyai kekuatan supranatural yang tersembunyi.

Selain itu, magi bersifat individual, magi biasanya merupakan keadaan dimana

seseorang mempergunakan penyihir untuk memenuhi maksud-maksud pribadi tertentu.

Misalnya kematian seorang musuh, penyembuhan penyakit, tercapainya kemakmuran

atau kemenangan atas suatu perang (B.Malinowski, 1967:88). Jika dilihat, shisa

memiliki magi untuk melindungi pemiliknya dari roh jahat, menjaga agar roh baik tetap

ada namun bukan untuk menyakiti atau merugikan seseorang.

Selain mitos dan magi, penulis juga menggunakan landasan Takhayul yang

hampir sama dengan magi namun jelas berbeda. Menurut Mustafa kamal dalam

Mubarak (2009) Takhayul berasal dari Tahayalat yang artinya khayalan. Oleh karena

itu Takhayul merupakan cerita hayalan dari manusia. Takhayul itu mitos, sesuatu yang

tidak nyata (khayali) jadi Takhayul itu hanya ada dalam cerita-cerita yang tidak jelas

asal usulnya atau cerita dalam mimpi dan cerita yang tidak masuk akal. Sedangkan

menurut Yusfitriadi dalam Mubarak (2009), Takhayul adalah sesuatu yang tidak nyata.

Itu hanya ada dalam cerita saja tidak nyata (khayali). Berdasarkan pendapat diatas,

cerita shisa juga bisa dikatakan cerita berupa khayalan belaka, khayalan-hkayalan yang

dibuat oleh masyarakat okinawa saja. Namun khayalan ini bisa menjadi kenyataan dan

bisa juga tidak sama sekali. Tetapi masyarakat Okinawa tetap menjadikan cerita tentang

shisa sebagai suatu kepercayaan, karena sudah menjadi suatu kebudayaan bagi

(13)

Takhayul adalah semacam sistem kepercayaan ada unsur keyakinan terhadap

sesuatu yang ada di luar jangkauan logika dan nalar. Keyakinan ini akan menjadi sebuah

tradisi ketika dipertahankan dari generasi ke generasi (http;//kompas.com). maka dari itu

cerita tentang shisa yang dipercaya dapat melindungi dari roh jahat ini sudah menjadi

suatu kepercayaan dan keyakinan yang telah tertanam kuat dalam masyarakat Okinawa.

Penulis juga menggunakan teori interaksionalisme simbolik. Teori ini memiliki

tiga premis utama, yang salah satunya yaitu manusia bertindak terhadap sesuatu (benda,

orang, atau ide) atas dasar makna yang diberikan kepada sesuatu itu (Bungin, 2010: 7).

Seperti yang telah dituliskan sebelumnya bahwa penulis juga akan coba

menguraikan mengenai kearifan lokal yang terdapat dalam kepercayaan patung shisa.

Kearifan lokal bersumber dari nilai budaya yang dimanfaatkan untuk menata kehidupan

komunitas. Kearifan lokal juga sering dianggap padanan kata Indigenous Knowledge

yakni kebiasaan, pengetahuan, persepsi, norma, dan kebudayaan yang dipatuhi bersama

suatu masyarakat dan hidup turun-temurun (Sibarani, 2012:120-121). Di dalam

kepercayaan terhadap patung shisa, terdapat nilai-nilai budaya yang dijadikan pedoman

dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kehidupan bermasyarakat tertata dengan baik.

Kebiasaan meletakkan patung shisa di setiap bangunan ini telah ada dan dilakukan sejak

dahulu dan disampaikan turun-temurun sehingga masih hidup sampai sekarang.

Geertz dalam Sibarani (2012:131) mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan

entitas yang menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitas. Dengan kata

lain, kearifan lokal dapat membentuk karakter baik seorang individu yang dapat

(14)

mengajarkan masyarakat untuk tidak mencuri, merawat binatang khususnya anjing

dengan baik, dan lain-lain. Karna hal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, secara

tidak sadar telah membentuk karakter yang baik dalam diri setiap masyarakat Okinawa .

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, ada tujuan

dari penelitian yang ingin dilakukan, yaitu:

1. Untuk mengetahui bagaimana asal-usul munculnya patung shisa

2. Untuk mengetahui pandangan masyarakat Okinawa terhadap patung shisa sebagai

sebuah kearifan lokal

2. Manfaat Penelitian

1. Dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pembaca untuk menambah

pemahaman dan pengetahuan tentang sejarah atau asal usul munculnya patung

shisa

2. Dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pembaca untuk menambah

pemahaman dan pengetahuan tentang fungsi dan pandangan masyarakat Okinawa

terhadap patung shisa sebagai bagian dari kearifan lokal

3. Menambah referensi atau informasi untuk peneliti lain yang ingin melakukan

(15)

1.6 Metode Penelitian

Istilah metode memiliki arti jalan atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai

suatu tujuan. 2 hal penting yang terdapat dalam sebuah metode yaitu cara melakukan

sesuatu dan rencana didalam pelaksanaannya. Metode adalah cara yang sudah

dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu

guna mencapai tujuan yang dikehendaki

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Ini

adalah suatu metode yang dipakai untuk memecahkan suatu masalah dengan cara

mengumpulkan, menyusun, mengklarifikasi, mengkaji dan menginterpretasikan data.

Penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran yang secermat mungkin

mengenai suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Oleh karena itu,

data-data yang diperoleh, dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan, sekaligus dikaji dan

kemudian diinterpretasikan dengan tetap mengacu pada sumber data dan informasi yang

ada (Koentjaraningrat 1976: 30).

Selain metode deskriptif, dalam melakukan penelitian ini penulis juga

menggunakan metode studi kepustakaan (library Research). Metode ini sangat penting

bagi peneliti. Menurut Nasution (1996 : 14), metode kepustakaan atau Library Research

adalah mengumpulkan data dan membaca referensi yang berkaitan dengan topik

permasalahan yang dipilih penulis. Kemudian merangkainya menjadi suatu informasi

yang mendukung penulisan skripsi ini. Studi kepustakaan merupakan aktivitas yang

sangat penting dalam kegiatan penelitian yang dilakukan. Beberapa aspek yang perlu

(16)

Agar penelitian ini lebih jelas, peneliti juga mencari dan mengumpulkan

data-data dari beberapa situs di internet yang mendukung permasalahan yang akan diteliti.

Seluruh data-data yang didapat dari studi kepustakaan dan internet akan dianalisa dan

Referensi

Dokumen terkait

Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Selektif terhadap masuknya budaya

4) dapat memilah-milah nilai-nilai budaya Jerman yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa serta mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi Dasar

Implementasi nilai-nilai sosial budaya masyarakat papua terutama masyarakat Kampung Mosso tentang nilain-nilai pada butir satu diatas dalam kehidupan sehari-hari baik

Banyak terdapat hal-hal sebagai bentuk dari suatu kebersamaan dalam berbagai aspek kehidupan, yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kedua negeri dimana

Sebagian besar masyarakat dapat dikatakan memiliki kepercayaan diri untuk berwirausaha (efikasi diri berwirausaha) dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari sejak kecil berada

dianut oleh bangsa Indonesia karena kebaikan, kebenaran, keindahan dan manfaatnya bagi bangsa Indonesia sehingga dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari...

kepercayaan terhadap patung singa (shisa) juga mendapat pengaruh dari kebudayaan Cina yang masuk ke daerah ini pada saat keduanya melakukan hubungan kerjasama di bidang

Adapun hasil yang didapat dari penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dijadikan pedoman bersosialisasi bagi anak-anak di kehidupan sehari-hari seperti nilai