BAB 1
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang Masalah
Zaman Meiji (1868-1912 ) merupakan salah satu periode yang paling istimewa
dalam sejarah negara Jepang. Pada masa inilah muncul restorasi meiji yaitu suatu
kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Jepang dibawah pimpinan kaisar Meiji untuk
membuka diri dari dunia luar. Salah satu dampak positif dari kebijakan ini membawa
Jepang bergerak maju sehingga hanya dalam beberapa dasawarsa saja mencapai
pembentukan suatu bangsa yang modern yang memiliki perindustrian,
lembaga-lembaga politik, pola masyarakat, serta pemikiran yang modern hingga saat ini.
Namun, Jepang yang mendapatkan peringkat ketiga sebagai Negara maju di
dunia ini memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan negara maju lainnya.
Mereka masih memiliki kepercayaan terhadap hal-hal supranatural dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini dapat dilihat bahwa hampir seluruh orang Jepang memiliki jimat
keberuntungan. Contoh lainnya, di dalam media massa seperti televisi banyak sekali
jenis-jenis ramalan mulai dari ramalan cuaca, shio, golongan darah, dsb yang sangat
laris diikuti masyarakat Jepang. Buku-buku mengenai paranormal menjadi bestseller
dalam waktu singkat, dan semua majalah sekarang dicurahkan untuk membahas
fenomena supranatural. Belum lagi mengenai bermacam-macam dewa yang ada di
Jepang, serta pemujaan roh leluhur yang berupa kamidana 神 棚 (rak dewa Shinto),
akhirnya dijadikan sebagai kepercayaan rakyat atau minkan shinkou 民 間 信 仰
(Situmorang, 2013:28).
Masyarakat Jepang juga masih mempercayai dan masih mempertahankan cerita
rakyat seperti mitos atau mitologi. Walaupun sebagian masyarakat memandang mitos
hanya sebagai cerita bohong, kepalsuan, takhayul, ataupun dongeng belaka, namun
tidak bagi masyarakat Jepang. Bagi mereka, mitos justru memiliki peran yang cukup
penting dalam kehidupan sehari-hari. Para ahli juga menganggap bahwa manusia baik
perseorangan maupun sebagai kelompok, tidak dapat hidup tanpa mitos. “Mitos’’
seperti yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial, khususnya para antropolog,
dipandang sebagai sesuatu yang diperlukan manusia untuk menjelaskan alam
lingkungan di sekitarnya, juga sejarah masa lampaunya.
Contoh nyata dari kepercayaan masyarakat Jepang terhadap mitos dapat dilihat
pada masyarakat Okinawa. Di daerah ini terdapat mitos tentang sepasang patung
berbentuk setengah singa dan setengah anjing yang dapat melindungi manusia. Patung
tersebut diberi nama shisa. Saat berkunjung ke daerah Okinawa, akan terlihat bahwa
hampir disetiap bangunan seperti rumah, toko, restoran, hotel, dan lainnya diletakkan
sepasang patung ini. Hal inilah yang membuat Okinawa memiliki ciri khas tersendiri
bila dibandingkan dengan daerah lain. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi masyarakat
Okinawa untuk meletakkan patung shisa di depan atau atap rumah/bangunan.
Kebiasaan meletakkan patung ini bermula dari munculnya mitos-mitos yang
mengatakan bahwa patung shisa memiliki kekuatan supranatural yang dapat melindungi
kebiasaan ini diwariskan secara turun-temurun sampai sekarang hingga shisa dijadikan
sebagai salah satu artefak kebudayaan dan ikon daerah Okinawa.
Shisa merupakan mahluk mitologis. Makhluk mitologis adalah
keberadaannya dituturkan dalam kisah-kisah
tersebut juga terkait deng
bersifa
Jika dilihat dari segi bentuk, beberapa makhluk mitologis merupakan
yaitu gabungan dari dua binatang (hewan mitologi) atau lebih. Ciri khas ini juga
ditemukan pada patung shisa yang bentuknya seperti gabungan antara anjing dan singa.
Shisa atau yang dalam bahasa Jepang シーサー diperkirakan datang ke Okinawa dari
negeri Cina pada abad ke 14. Mitos ini dipercaya oleh masyarakat Okinawa dan
diteruskan dari generasi ke generasi. Sejak saat itu juga patung shisa memiliki arti
penting yaitu dianggap sebagai pelindung bagi masyarakat Okinawa.
Tidak hanya di Okinawa, pada masyarakat Jepang secara umum pun terdapat
mahluk mitologi yang memiliki kesamaan bentuk dan juga dipercaya dapat melindungi,
namun dengan nama yang berbeda yaitu komainu yang dalam huruf kanji ditulis狛犬.
Jika dilihat sekilas, komainu dan shisa hampir serupa. Tetapi terdapat perbedaan antara
keduanya. Jika shisa ada hampir disetiap bangunan dan rumah-rumah di Okinawa,
komainu justru hanya dapat ditemukan pada pintu-pintu gerbang kuil shinto di Jepang.
Selain itu, dari segi sejarah dan asal usul kemunculannya pun berbeda. Beberapa sumber
kuno untuk semenanjung korea, dan ada juga yang mengatakan istilah itu mengandung
arti berasal dari negara asing. Sedangkan 犬adalah huruf kanji dari kata anjing. Seperti
shisa, komainu juga diwujudkan dalam bentuk patung.
Di negara Myanmar, Tibet, Korea, dan Asia timur lainnya juga terdapat patung
yang berfungsi sebagai pelindung sama seperti shisa dengan nama dan variasi bentuk
yang sedikit berbeda. Namun, diyakini hanya di daerah Okinawa yang diletakkan pada
rumah-rumah warga dan bangunan komersial. Sedangkan di tempat atau negara lain
biasanya hanya diletakkan di kuil dan istana kerajaan atau hanya dijadikan sebagai
simbol otoritas istana kerajaan.
Jika dilihat, topik ini sangat menarik untuk dibahas. Seperti yang telah dituliskan
sebelumnya bahwa negara Jepang sudah banyak mengalami proses modernisasi dalam
berbagai bidang sehingga menjadikannya sebagai negara yang maju. Secara langsung,
daerah Okinawa juga tersentuh oleh proses modernisasi tersebut. Namun uniknya
masyarakat okinawa masih mempertahankan dan mempercayai mitos-mitos tentang
benda tertentu yang memiliki kekuatan supranatural dapat melindungi. Oleh karena itu,
penulis merasa tertarik untuk meneliti “PANDANGAN MASYARAKAT
OKINAWA TERHADAP PATUNG SHISA”
1.2 Rumusan Masalah
Mahluk mitologi Okinawa yaitu Shisa yang diwujudkan ke dalam bentuk
Hori Ichiro dalam Situmorang (2013: 28) mengatakan folk belief adalah kepercayaan
rakyat terhadap benda-benda yang mempunyai kekuatan supranatural.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kemunculan patung shisa ke
daerah Okinawa diperkirakan berasal dari negeri Cina. Hal ini diperkuat dengan
banyaknya pengaruh kebudayaan Cina yang mendominasi di daerah ini, salah satunya
adalah bangunan bersejarah Okinawa yang mirip dengan arsitektur bangunan milik
kerajaan Cina. Selain itu, dahulu Okinawa merupakan sebuah kerajaan yang terpisah
dari Jepang dan bernama kerajaan ryukyuu. Kerajaan ini banyak melakukan hubungan
perdagangan dengan Cina. Dari aktivitas ini, banyak kebudayaan Cina yang masuk dan
terserap, kemudian mengalami pembauran dengan kebudayaan setempat. Dari sekian
banyak kebudayaan yang mengalami pembauran, patung shisa adalah salah satunya.
Suatu kebudayaan luar yang diterima dan masih terus terpelihara oleh suatu
daerah disebabkan oleh adanya manfaat atau keuntungan yang dirasakan dalam
kehidupan sehari-hari. Hal ini sama seperti patung shisa yang dirasakan bermanfaat
sebagai penjaga atau pelindung oleh masyarakat Okinawa. Contohnya, semenjak
kebiasaan meletakkan patung shisa di rumah/bangunan terus dilakukan, tindak
kejahatan khususnya pencurian semakin berkurang dan keadaan kota pun semakin aman.
Hal ini dikarenakan orang yang ingin mencuri menjadi takut akan terkena musibah atau
hukuman dari hewan mitologi shisa ini.
Dari uraian diatas, bisa disimpulkan juga bahwa patung shisa merupakan sebuah
kearifan lokal. Sebab, patung ini menjadi alat untuk mensiasati lingkungan hidup di
daerah Okinawa agar tetap aman dan dijadikan sebagai bagian dari budaya, serta
shisa sebagai sebuah kearifan lokal. Maka dari itu, penulis akan mencoba merumuskan
permasalahan yang akan dibahas agar penelitian lebih terarah dan memudahkan sasaran
yang ingin dikaji. Perumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Bagaimana asal-usul kemunculan patung shisa ?
2. Bagaimana pandangan kearifan lokal masyarakat Okinawa terhadap patung
shisa ?
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka penulis
menganggap perlu adanya pembatasan masalah agar dalam membahas masalah tidak
terlalu luas dan peneliti juga dapat lebih terfokus membahas masalah yang ingin diteliti.
Serta agar tidak menyulitkan pembaca dalam memahami pokok permasalahan yang
akan dibahas.
Secara umum, penelitian ini dibatasi menjadi dua fungsi yaitu fungsi religius dan
fungsi logis. Fungsi religius meliputi tentang asal-usul patung shisa sehingga dijadikan
sebagai suatu kepercayaan. Sedangkan fungsi logisnya meliputi tentang patung shisa
yang merupakan hasil karya pemikiran masyarakat dijadikan sebagai bagian dari
kebudayaan yang lambat laun menjadi suatu kearifan lokal.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, patung berbentuk setengah singa dan
setengah anjing ini tidak hanya ada pada daerah Okinawa saja tetapi juga ada di
beberapa negara lain. Untuk membatasi ruang lingkup dalam pembahasannya, maka
dan sumber lain yang terkait dengan masyarakat Okinawa saja dan tidak mengaitkan
atau membandingkannya dengan komainu, ataupun dengan patung setengah singa
setengah anjing yang terdapat di negara lain secara mendalam meskipun terdapat
banyak kesamaan. Penulis juga terlebih dahulu akan membahas mengenai sejarah
singkat berdirinya daerah Okinawa. Selain itu, untuk mendukung pembahasan ini
penulis akan membahas tentang bagian-bagian dari patung shisa yang memiliki makna
penting bagi masyarakat Okinawa.
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori
1. Tinjauan Pustaka
C. Kluckhohn dalam Poerwanto (2005: 88) mendefinisikan Kebudayaan adalah
proses belajar dan bukan sesuatu yang diwariskan secara biologis. Oleh karenanya
kebudayaan merupakan pola tingkah laku yang dipelajari dan disampaikan dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
Sedangkan menurut Koentjaraningrat dalam Wisadirana (2004: 26), kebudayaan
adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar,
beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Beliau juga membagi 3 wujud
kebudayaan yaitu:
a. Wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Ada
didalam kepala, atau dengan lain perkataan, dalam alam pikiran dari warga
masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup
b. Wujud kedua dari kebudayaan yang sering disebut sistem sosial, mengenai tata
aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain
dari detik ke detik, hari ke hari, dan tahun ke tahun selalu menurut pola-pola
tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
c. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik. Berupa seluruh total dari
hasil fisik aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat,
sifatnya konkret, dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat,
atau difoto.
Salah satu hasil dari wujud kebudayaan adalah cerita mitos. Bascom dalam
Danandjaja (1984:50-67) mengatakan bahwa mitos adalah cerita prosa rakyat yang
dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh empunya itu sendiri. Kata mitos
berasal dari bahasa yunani muthos, yang secara harfiah diartikan sebagai cerita atau
sesuatu yang dikatakan seseorang, dalam pengertian yang lebih luas bisa berarti suatu
pernyataan, sebuah cerita, ataupun alur suatu drama (Dhavamony, 2001:147). Ilmu yang
mempelajari tentang mitos disebut mythology. Kata mythology dalam bahasa inggris
menunjuk pengertian, baik sebagai studi atas mitos atau isi mitos, maupun bagian
tertentu dari sebuah mitos. Sedangkan kata mitos berasal dari bahasa inggris “myth”
yang berarti dongeng atau cerita yang dibuat-buat.
Mitos atau mite juga merupakan wujud dari kebudayaan masyarakat. Mitos
adalah cerita tentang asal mula terjadinya dunia, alam, peristiwa yang tidak biasa
sebelum (atau dibelakang) alam duniawi yang kita hadapi sekarang ini. Cerita itu
menurut kepercayaan sungguh-sungguh terjadi dan dalam arti tertentu keramat (Keesing,
Sedangkan Pals dalam Agus (2003:60), mengatakan bahwa mitos adalah cerita
untuk memperdekat dunia supranatural ke dunia natural. Mitos penuh dengan
cerita-cerita tentang yang sakral yang mendekatkan kehidupan supernatural yang ilahi ke
dalam kehidupan nyata manusia.
Cerita mitos merupakan salah satu wujud dari tradisi budaya. Di dalam tradisi
budaya, terkandung nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan lokal adalah suatu nilai dan
norma budaya yang berlaku dalam menata kehidupan masyarakat (Sibarani, 2012:131).
Sedangkan definisi kearifan lokal Dalam Kamus Inggris Indonesia John M.
Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan)
sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan
setempat) dapat di pahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang
bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti
oleh masyarakatnya.
Kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam
mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai
bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi.
Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita,
legenda-legenda, nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat
2. Kerangka Teori
Dalam melakukan penelitian memerlukan kerangka teori untuk mendukung
penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka teori berfungsi sebagai pendorong proses
berfikir deduktif yang bergerak dari bentuk abstrak ke dalam bentuk yang nyata
(Koentjaraningrat dalam Astuti, 2014:10).
Jika membahas tentang sistem kepercayaan, tidak hanya berhubungan dengan
agama. Namun bisa juga berupa konsepsi tentang faham-faham yang terintegrasikan
dalam dongeng-dongeng (Koentjaraningrat, 1967: 240). Ada berbagai bentuk
kepercayaan atau religius beliefs, salah satunya adalah percaya akan berbagai hal yang
mengandung kekuatan sakti atau kekuatan yang dianggap ada dalam hal-hal atau
peristiwa luar biasa pada alam, binatang, tumbuhan, benda-benda dan suara. Hal ini
sama dengan masyarakat Okinawa yang percaya bahwa patung shisa memiliki kekuatan
sakti dan terintegrasikan juga ke dalam cerita-cerita rakyat seperti mitos. Sehingga, bisa
dikatakan bahwa patung shisa juga merupakan bagian dari kepercayaan di daerah ini.
Mitos menceritakan bagaimana suatu keadaan menjadi sesuatu yang lain;
bagaimana dunia yang kosong menjadi berpenghuni, bagaimana situasi yang kacau
menjadi teratur dan lain-lain (Mubarak, 2009). Zaman mitos adalah kejadian yang
menyebabkan manusia dipengaruhi dan menjadi seperti sekarang ini. Di zaman modern
seperti sekarang ini pun tetap ada dan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Sehingga
bisa dikatakan bahwa mitos sangat bermanfaat bagi manusia. Dalam Dhavamony (1958:
1134-5) Eliade menyatakan, mengetahui mitos berarti mempelajari rahasia asal muasal
patung shisa, kita akan mengetahui asal muasal patung shisa dijadikan sebagai
pelindung masyarakat Okinawa.
Sedangkan menurut Minsarwati dalam Mubarak (2009) mitos adalah suatu
fenomena yang sangat dikenal, namun tempatnya sangat sulit dirumuskan dengan tepat,
sehingga dalam membicarakan mengenai mitos, pertama harus diuraikan dahulu apa
makna dari mitos. Mitos (myth) adalah cerita rakyat legendaris atau tradisional,
biasanya bertokoh mahluk yang luar biasa dan mengisahkan peristiwa-peristiwa yang
tidak dijelaskan secara rasional, seperti cerita terjadinya sesuatu kepercayaan atau
keyakinan yang tidak terbukti tetapi diterima mentah-mentah (Sudjima, 1988: 50).
Begitu juga halnya dengan shisa, yang memiliki berbagai mitos, dimana
mitos-mitos itu berupa cerita-cerita yang dapat dipercaya tetapi tidak bisa dibuktikan secara
rasional. Karena hal itu penulis menggunakan landasan atau pandangan terhadap teori
mitos.
Selain itu penulis juga memakai landasan teori magi. Menurut Dhavamony
(2001: 47), magi adalah suatu fenomena yang sangat dikenal dan umumnya dipahami,
namun tampaknya sangat sulit dirumuskan dengan tepat. Atau lebih jelasnya magi
adalah kepercayaan dan praktik menurut yang mana manusia yakin bahwa secara
langsung mereka dapat mempengaruhi kekuatan alam dan mereka sendiri, entah unuk
tujuan baik atau buruk.
Menurut Frazer dalam Dhavamony (1958:58) magi sama sekali tidak berkaitan
dengan agama yang dedefinisikannya sebagai sesuatu orientasi ke arah roh, dewa-dewa,
menghubungkan dirinya dengan kekuatan “supranaturral” yang melampaui alam dan
manusia. Dengan demikian, magi adalah suatu jenis supranaturalisme . Shisa juga
mempunyai kekuatan magi untuk menarik orang untuk bisa memilikinya dan
meyakininya. Seolah-olah shisa mempunyai kekuatan supranatural yang tersembunyi.
Selain itu, magi bersifat individual, magi biasanya merupakan keadaan dimana
seseorang mempergunakan penyihir untuk memenuhi maksud-maksud pribadi tertentu.
Misalnya kematian seorang musuh, penyembuhan penyakit, tercapainya kemakmuran
atau kemenangan atas suatu perang (B.Malinowski, 1967:88). Jika dilihat, shisa
memiliki magi untuk melindungi pemiliknya dari roh jahat, menjaga agar roh baik tetap
ada namun bukan untuk menyakiti atau merugikan seseorang.
Selain mitos dan magi, penulis juga menggunakan landasan Takhayul yang
hampir sama dengan magi namun jelas berbeda. Menurut Mustafa kamal dalam
Mubarak (2009) Takhayul berasal dari Tahayalat yang artinya khayalan. Oleh karena
itu Takhayul merupakan cerita hayalan dari manusia. Takhayul itu mitos, sesuatu yang
tidak nyata (khayali) jadi Takhayul itu hanya ada dalam cerita-cerita yang tidak jelas
asal usulnya atau cerita dalam mimpi dan cerita yang tidak masuk akal. Sedangkan
menurut Yusfitriadi dalam Mubarak (2009), Takhayul adalah sesuatu yang tidak nyata.
Itu hanya ada dalam cerita saja tidak nyata (khayali). Berdasarkan pendapat diatas,
cerita shisa juga bisa dikatakan cerita berupa khayalan belaka, khayalan-hkayalan yang
dibuat oleh masyarakat okinawa saja. Namun khayalan ini bisa menjadi kenyataan dan
bisa juga tidak sama sekali. Tetapi masyarakat Okinawa tetap menjadikan cerita tentang
shisa sebagai suatu kepercayaan, karena sudah menjadi suatu kebudayaan bagi
Takhayul adalah semacam sistem kepercayaan ada unsur keyakinan terhadap
sesuatu yang ada di luar jangkauan logika dan nalar. Keyakinan ini akan menjadi sebuah
tradisi ketika dipertahankan dari generasi ke generasi (http;//kompas.com). maka dari itu
cerita tentang shisa yang dipercaya dapat melindungi dari roh jahat ini sudah menjadi
suatu kepercayaan dan keyakinan yang telah tertanam kuat dalam masyarakat Okinawa.
Penulis juga menggunakan teori interaksionalisme simbolik. Teori ini memiliki
tiga premis utama, yang salah satunya yaitu manusia bertindak terhadap sesuatu (benda,
orang, atau ide) atas dasar makna yang diberikan kepada sesuatu itu (Bungin, 2010: 7).
Seperti yang telah dituliskan sebelumnya bahwa penulis juga akan coba
menguraikan mengenai kearifan lokal yang terdapat dalam kepercayaan patung shisa.
Kearifan lokal bersumber dari nilai budaya yang dimanfaatkan untuk menata kehidupan
komunitas. Kearifan lokal juga sering dianggap padanan kata Indigenous Knowledge
yakni kebiasaan, pengetahuan, persepsi, norma, dan kebudayaan yang dipatuhi bersama
suatu masyarakat dan hidup turun-temurun (Sibarani, 2012:120-121). Di dalam
kepercayaan terhadap patung shisa, terdapat nilai-nilai budaya yang dijadikan pedoman
dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kehidupan bermasyarakat tertata dengan baik.
Kebiasaan meletakkan patung shisa di setiap bangunan ini telah ada dan dilakukan sejak
dahulu dan disampaikan turun-temurun sehingga masih hidup sampai sekarang.
Geertz dalam Sibarani (2012:131) mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan
entitas yang menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitas. Dengan kata
lain, kearifan lokal dapat membentuk karakter baik seorang individu yang dapat
mengajarkan masyarakat untuk tidak mencuri, merawat binatang khususnya anjing
dengan baik, dan lain-lain. Karna hal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, secara
tidak sadar telah membentuk karakter yang baik dalam diri setiap masyarakat Okinawa .
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, ada tujuan
dari penelitian yang ingin dilakukan, yaitu:
1. Untuk mengetahui bagaimana asal-usul munculnya patung shisa
2. Untuk mengetahui pandangan masyarakat Okinawa terhadap patung shisa sebagai
sebuah kearifan lokal
2. Manfaat Penelitian
1. Dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pembaca untuk menambah
pemahaman dan pengetahuan tentang sejarah atau asal usul munculnya patung
shisa
2. Dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pembaca untuk menambah
pemahaman dan pengetahuan tentang fungsi dan pandangan masyarakat Okinawa
terhadap patung shisa sebagai bagian dari kearifan lokal
3. Menambah referensi atau informasi untuk peneliti lain yang ingin melakukan
1.6 Metode Penelitian
Istilah metode memiliki arti jalan atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai
suatu tujuan. 2 hal penting yang terdapat dalam sebuah metode yaitu cara melakukan
sesuatu dan rencana didalam pelaksanaannya. Metode adalah cara yang sudah
dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu
guna mencapai tujuan yang dikehendaki
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Ini
adalah suatu metode yang dipakai untuk memecahkan suatu masalah dengan cara
mengumpulkan, menyusun, mengklarifikasi, mengkaji dan menginterpretasikan data.
Penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran yang secermat mungkin
mengenai suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Oleh karena itu,
data-data yang diperoleh, dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan, sekaligus dikaji dan
kemudian diinterpretasikan dengan tetap mengacu pada sumber data dan informasi yang
ada (Koentjaraningrat 1976: 30).
Selain metode deskriptif, dalam melakukan penelitian ini penulis juga
menggunakan metode studi kepustakaan (library Research). Metode ini sangat penting
bagi peneliti. Menurut Nasution (1996 : 14), metode kepustakaan atau Library Research
adalah mengumpulkan data dan membaca referensi yang berkaitan dengan topik
permasalahan yang dipilih penulis. Kemudian merangkainya menjadi suatu informasi
yang mendukung penulisan skripsi ini. Studi kepustakaan merupakan aktivitas yang
sangat penting dalam kegiatan penelitian yang dilakukan. Beberapa aspek yang perlu
Agar penelitian ini lebih jelas, peneliti juga mencari dan mengumpulkan
data-data dari beberapa situs di internet yang mendukung permasalahan yang akan diteliti.
Seluruh data-data yang didapat dari studi kepustakaan dan internet akan dianalisa dan