• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN RESILIENSI REMAJA DARI KELUARGA SINGLE PARENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "GAMBARAN RESILIENSI REMAJA DARI KELUARGA SINGLE PARENT"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN RESILIENSI REMAJA DARI

KELUARGA SINGLE PARENT

SKRIPSI

Oleh :

Amelia Fipri Anda

06810022

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

GAMBARAN RESILIENSI REMAJA DARI

KELUARGA SINGLE PARENT

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang Sebagai Salah Satu Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Psikologi

Oleh :

Amelia Fipri Anda

(06810022)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN

1. Judul Skripsi : Gambaran Resiliensi Remaja dari Keluarga

Single Parent

2. Nama Peneliti : Amelia Fipri Anda

3. Tempat, tanggal lahir : Probolinggo, 20 Mei 1988

4. Nomor Induk Mahasiswa : 06810022

5. Fakultas : Psikologi

6. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang

7. Waktu Penelitian : 15 November

Mengetahui,

Pembimbing I Pembimbing II

(4)

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini telah diuji oleh dewan penguji

Tanggal: 5 Februari 2011

Dewan Penguji Tanda Tangan

Ketua Penguji : Dra. Djudiyah, S.Psi.,M.Si ( )

Anggota Penguji :

1. Diana Savitri Hidayati, M.Psi ( )

2. Dra. Cahyaning S, M.Si ( )

3. Yuni Nurhamida S.Psi, M.Si ( )

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Malang

(5)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Amelia Fipri Anda

NIM : 06810022

Fakultas / Jurusan : PSIKOLOGI / Psikologi

Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Menyatakan bahwa Skripsi/Karya Ilmiah

Judul :

GAMBARAN RESILIENSI REMAJA DARI KELUARGA

SINGEL PARENT

1. Adalah bukan karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan kecuali

penulisan dalam bentuk kutipan yang digunakan dalam naskah ini dan telah

disebutkan sumbernya.

2. Hasil tulisan karya ilmiah/skripsi dari penelitian yang saya lakukan merupakan

Hak bebas Royalti non eksklusif, apabila digunakan sebagai sumber pustaka.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila

pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mendapatkan sanksi sesuai

dengan Undang-undang yang berlaku.

Mengetahui, Malang, 5 Februari 2011

Ketua Program Studi Yang menyatakan

(6)

KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam dengan segala kebesaran,

karunia dan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat

dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan

sahabat dan pengikut jejak langkahnya sampai hari akhir nanti.

Skripsi ini berjudul “Gambaran Resiliensi Remaja Dari Keluarga Single

Parent”. Maksud penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat

menyelesaikan studi tingkat Strata 1 (S-1) di Fakultas Psikologi Universitas

Muhammadiyah Malang.

Sebagai pribadi yang memiliki keterbatasan, penulis menyadari bahwa

kelancaran penyusunan skripsi ini tidak lepas dari dorongan, bantuan, dan dukungan

dari semua pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Drs. Tulus Winarsunu, M. Si selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas

Muhammadiyah Malang.

2. Dra. Djudiyah, M. Si, selaku pembimbing I yang telah membimbing,

mengarahkan, dan member masukkan dari awal sampai akhir sehingga penulis

dapat menyelesaikan karya ini.

3. Diana Savitri Hidayati M. Psi selaku pembimbing II yang juga dengan sabar

memberikan bimbingan, dukungan, arahan, masukan yang membangun, dan

bantuan yang diberikan sejak awal penulis.

4. M. Salis Yuniardi, S. Psi. M. Si yang juga telah membantu kelancaran,

dukungan dan motivasi dalam penyelesaian karya ini.

5. Yudi Suharsono, S.Psi.M.Si sebagai dosen wali kelas A yang telah membantu

kelancaran proses perkuliahan yang selama ini saya jalani, terimakasih atas

petunjuk-petunjuk dan motivasi yang bapak berikan selama ini.

6. Bapak Supriyadi dan Mama Sri Wati, terimakasih atas kasih sayang yang selama

ini engkau limpahkan kepada anakmu ini, termikasih telah memberiku

dukungan, motivasi dan do’a yang tiada hentinya. Terimakasih atas manjaan

(7)

7. Bu Ririn dan Bu fifty terimakasih atas segala dukungan dan nasehat, sehingga

penelitian ini dapat berjalan dengan baik.

8. Siswa-siswi SMA 1 Batu yang telah menjadi subyek penelitian ini, terimakasih

atas segalanya, bagiku kalian merupakan keluarga baru.

9. Mbak Nurma dan Mas Ferdiyan, Terimakasih juga atas semangat yang kalian

berikan, dukungan yang tiada hentinya serta ketulusan hati kalian sehingga aku

bisa menjadi seperti kalian, cepet kasih ponakan yaa…

10. Buat seseorang yang telah memberiku semangat, perhatian dan kasih sayang.

Setiap hari yang tiada hentinya mengingatkan dan mengajarkanku arti kesabaran

dalam menjalani hidup.

11. Nopha dan Kicki Parlente, kebersamaan di setiap langkah kita untuk

menyelesaiakan penelitian ini tidak akan pernah terlupakan...Las Vegas mizz

you..

12. Lebbay (Riris, Shinta, Pipit, Tyas, Ciqi) aku sangat..sangat merindukan

kebersamaan kita yang dahulu, jangan pernah melupakan perjuangan yang

pernah kita lalui bersama…susah senang kita lalui bersama, tangis tawa juga kita

lewati bersama.

13. Edlewise Kemayu (Lia, Riya, Iren, Ntil) Terimakasih telah menemani

kesendirianku di kota Malang ini. Kalian memang soulmate yang lucu….mulai

dari kekompakan samapai pertengkaran pernah kita lalui, tapi itu semua yang

membuat aku bisa lebih berfikiran dewasa.

14. Teman – teman KKN 09 2010 Sumawe…bersama songoku aku bisa lebih

mengerti arti hidup dan kekompakan dalam satu tim. Aku merindukan alunan

lagu yang setiap pagi aku dengar.

Akhir kata tiada satupun karya manusia yang sempurna, saran dan kritik

sangat penulis harapkan untuk kebaikan bersama. Semoga karya ilmiah ini

bermanfaat bagi kita semua.

Malang, 5 Februari 2011

(8)

DAFTAR ISI

3. Faktor – faktor Mempengaruhi Individu dalam Mengembangkan Resiliensi ... 10

C.Orang Tua Tunggal / Single parent 1. Pengertian ... 23

2. Faktor – faktor Penyebab Single parent ... 23

(9)

4. Keluarga yang Berstatus Orang Tua Tunggal Ayah ... 27

5. Keluarga yang Berstatus Orang Tua Tunggal Ibu ... 28

D.Gambaran Daya Resiliensi Remaja dari Keluarga Single Parent 29

BAB III. METODE PENELITIAN A.Jenis dan Desain Penelitian ... 31

B.Batasan Masalah ... 31

C.Subjek Penelitian ... 32

D.Prosedur Penelitian ... 32

E.Metode Pengumpulan Data ... 33

F. Analisa Data ... 34

G.Keabsahan Data ... 35

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.Deskripsi Data ... 37

1. Identitas Subyek Penelitian ... 37

2. Deskripsi Hasil Penelitian... 37

B.Analisa Data ... 45

C.Pembahasan ... 53

BAB V. PENUTUP A.Kesimpulan ... 58

B.Saran ... 59

DAFTAR PUSTAKA ... 60

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Pelaksanaan Penelitian ... 33

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Diagram Resiliensi Subyek IM ... 45

Gambar 2 Diagram Resiliensi Subyek FK... 47

Gambar 3 Diagram Resiliensi Subyek AN ... 49

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. & Asrori,M. 2004. Psikologi remaja. Jakarta: Bumi Aksara.

Balson, M. 1993. Bagaimana menjadi orang tua yang baik. Jakarta : Bumi Aksara.

Capai 6.716 kasus Perceraian di Malang Tertinggi.(2010, 21 Juni). Malang Post

Dampak Psikologis anak yang dibesarkan tanpa Figur Ayah.(2006,5 Oktober).

Kompas

Desmita. 2008. Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Goode. W.J. Sosiologi keluarga. Jakarta : Bumi Aksara.

Grotberg. 1991. Origins of Resilience. Clinic@4. Washington.edu; diakses pada tanggal 30 Mei 2010

Handerson, N, & Milstein,M.M, 2003. Resilience in School. California : Corwin Press.

Hurlock, E.B.1980. Psikologi perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Lemay, R dan Ghazal,H, 2001.Resilience And Positive Psychology : Finding Hope.

The Journal of Child and Family. 5, 10-21.

Mappiare, A, 1982. Psikologi remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

Moleong. L. J. 2009. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rest & Garmezy. 1990. Toward An Operational Definition Of Resilience. www. Society. Medicine.html. diakses tanggal 25 Mei 2010.

Santrock, J.W. 2002. Life Span Development. Jakarta: Erlangga.

(13)

Siahaan, H. N, 1986. Peranan ibu bapak mendidik anak. Bandung: Angkasa.

Spock, B, 1981. Masalah orang tua menghadapi remaja. Jakarta: Bharatara K arya Aksara

Su’adah. 2005. Sosiologi keluarga. Malang:UMM Press.

Sugiyono.2009. Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga merupakan sekelompok manusia yang disatukan oleh jalinan

perkawinan, darah atau adopsi yang membentuk sebuah rumah tangga

berinteraksi dan berkomunikasi dalam aturan sosial mereka suami dan istri, ayah

dan ibu, anak laki-laki dan anak perempuan, kakak dan adik . (Su’adah, 2005 ).

Pada umumnya, keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Tentunya, keluarga

memiliki fungsi yang penting bagi anak maupun bagi pasangan suami istri atau

orang tua.

Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak dan tempat anak

mendapatkan perlindungan, kasih sayang serta rasa aman. Orang tua mempunyai

peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual

anaknya seperti, memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar agar

anak tidak tertekan, mengajarkan kepada anak tentang dasar-dasar pola hidup

pergaulan yang benar, memberikan contoh perilaku yang baik dan pantas bagi

anak-anaknya. Hal ini disebabkan orang tua khususnya, dalam ruang lingkup

keluarga merupakan media awal dari satu proses sosialisasi, sehingga dalam

proses sosialisasi tersebut orang tua mencurahkan perhatiannya untuk mendidik

anak–anaknya menjadi pribadi yang baik. Dalam hal ini, orang tua yang

dimaksud tentunya adalah ayah dan ibu.

Seorang anak seyogyanya dibesarkan dalam sebuah keluarga utuh. Namun

untuk keadaan tertentu terkadang anak terpaksa tumbuh dan besar tanpa figur

dari ayah atau ibu. Ada banyak alasan yang menjadi penyebab sebuah keluarga

tidak lagi utuh. Perpisahan perkawinan terjadi dalam berbagai macam bentuk

yaitu perceraian, kematian, ditinggalkan, serta banyak hal lain yang

menyebabkan tidak lagi bisa hidup bersama. Perceraian adalah penyebab

perpisahan tertinggi. Angka perceraian di Indonesia mungkin tidak setinggi di

Amerika Serikat 66,6% perkawinan berakhir dengan perceraian. Namun kita

(15)

2

perceraian.

Berikut adalah data berdasarkan pengadilan agama kota Malang selama

tahun 2009. Telah terjadi perceraian sebanyak 6.716 kasus. Jumlah ini sedikit

lebih kecil dibanding Banyuwangi yang mencapai 6.784 kasus. Kemudian

disusul kota Jember 6.054 kasus dan Surabaya sebagai kota ke dua terbesar di

Indonesia berada diurutan keempat dengan 5.253 kasus. Secara akumulasi

selama tahun 2009 telah terjadi 92.729 kasus perceraian naik sekitar 15 persen

dibanding tahun 2008 yang hanya 80.121 kasus. Malang Post ( 2010, 21 Juni).

Apapun bentuk perpisahan yang terjadi dalam suatu keluarga

mengakibatkan terjadi single parent atau menjadi orang tua tunggal. Salah satu

fenomena yang banyak dijumpai dalam masyarakat kita saat ini adalah

keberadaan orang tua tunggal atau lazim dengan istilah single parent. Single

parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orang tua ayah dan ibu

seorang diri karena kehilangan atau terpisah dengan pasangannya (Balson,

1993).

Besarnya angka keluarga single parent yang diprediksi menjadi penyebab

terjadinya penyimpangan perilaku remaja. Seperti perceraian orang tua juga

memberi dampak yang kurang baik terhadap perkembangan kepribadian anak.

Dari hasil penelitian beberapa ahli (dalam Yusuf, 2001) remaja yang orang

tuanya bercerai cenderung menunjukan ciri-ciri: berperilaku nakal, mengalami

depresi, melakukan hubungan seksual secara aktif, dan memakai narkoba. Selain

itu, kehilangan figur ayah atau ibu menjadi awal dari permasalahan dimana

sebuah kebutuhan kasih sayang yang diharapkan datang dari kedua orang tua

tidak terpenuhi. Kondisi ini diperparah dengan perilaku orang tua yang kurang

kondusif dalam pola pengasuhan remaja karena memiliki peran ganda sebagai

ayah sekaligus ibu atau sebaliknya yang keduanya sulit untuk dicapai.

Sebuah studi mengenai hubungan antara keluarga dengan kenakalan yang

dilakukan oleh Michael Rutern dan Norman Garmezy (dalam Santrock, 2003)

menyimpulkan bahwa keluarga memang memiliki pengaruh terhadap

terbentuknya kenakalan pada remaja. Tak dapat dipungkiri bahwa single parent

memaksa orang tua menjalankan peran ganda, yaitu mengasuh anak dan bekerja

(16)

3

mengawasi keberadaan anak di luar rumah dan kerap kali orang tua juga kurang

meluangkan waktu dengan anak. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh

Gerald Patterson dan rekannya (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa

faktor keluarga utama dalam menentukan munculnya kenakalan adalah

pengawasan orang tua yang tidak memadai, meliputi rendahnya pengawasan

terhadap remaja, dan penerapan disiplin yang tidak efektif.

Sejalan dengan hal tersebut, penelitian menunjukkan bahwa banyak

kesulitan yang dialami single parent yang hidup dengan anaknya dimana salah

satunya adalah kesulitan dalam mendidik anak secara memuaskan. Oleh karena

itu, jelas bahwa menjadi single parent, baik ayah maupun ibu bukanlah sebuah

hal yang mudah karena seorang ibu belum tentu mampu menggantikan figur

ayah sepenuhnya begitupun sebaliknya.

Siahaan (1991) menyatakan bahwa anak yang orang tuanya bercerai atau

meninggal dunia seringkali mengalami problem perilaku diri dan perilaku sosial.

Misalnya, mudah tersinggung dan marah-marah, murung ataupun lebih memilih

bermain sendiri.

Remaja sendiri termasuk fase dalam kehidupan yang mana pada fase ini

mereka ingin untuk dimengerti dan dipahami. Satu diantara usaha yang

dilakukan adalah dengan mengetahui dan mengerti tentang pertumbuhan dan

perkembangan remaja khususnya dalam mengantar remaja menuju kematangan

psikis dan kematangan sosialnya (Mappiare, 1982).

Berbeda dengan kondisi remaja yang memiliki keluarga ayah dan ibu,

dalam keluarga utuh anak tentunya akan merasa mudah untuk berkomunikasi

dengan orang tua. Mayoritas remaja dari keluarga single parent mempunyai

problem tambahan dibandingkan dengan remaja dari keluarga dengan ayah dan

ibu, mereka merasa ditinggalkan, kecewa dan kesedihan yang dalam (Balson,

1993). Hal ini diakibatkan selain menghadapi beban psikologis yang cukup

berat, mereka juga harus menanggung perlakuan dari masyarakat yang kurang

mendukung eksistensi single parentdi masyarakat.

Disisi lain remaja dari keluarga single parent merupakan bagian generasi

muda yang mempunyai fungsi, peran dan tanggung jawab dalam pembangunan

(17)

4

– tugas perkembangan yang harus dilewati. Hurlock (1980) mengatakan remaja

yang tidak dapat melewati tugas perkembangannya akan bermasalah pada tahap

perkembangan selanjutnya. Pada akhirnya mereka terperangkap pada trauma

yang mereka alami dengan segala dampaknya, mulai dari perasaan ketidak

yakinan akan kemampuan diri, keterasingan, kemarahan, dendam, hingga segala

bentuk pelariannya yang seringkali negatif dalam mengahadapi masalah dari

pada menyelesaikannya.

Dewi (2006) seorang psikolog dari Universitas Indonesia, menyatakan

bahwa dampak psikologis yang dihadapi anak dari keluarga single parent

dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain kepribadian dan gender si anak, serta

bagaimana penghayatan si ibu terhadap peran yang dijalaninya."Pada anak-anak

yang memiliki sifat tegar atau cuek mungkin dampaknya tidak terlalu terlihat,

tapi untuk anak yang sensitif pasti akan terjadi perubahan perilaku, misalnya jadi

pemurung atau suka menangis diam-diam, hal ini biasanya terjadi pada anak

yang orang tuanya bercerai," ujarnya. Seorang anak laki-laki membutuhkan figur

ayah untuk mempelajari hal-hal yang tidak dia dapatkan dari ibunya, begitu pun

dengan anak perempuan, ada sesuatu yang dia butuhkan dari kehadiran figur

ayah, misalnya bagaimana relasi interpersonal pria dan wanita."Setelah remaja

atau dewasa, anak-anak ini mungkin saja tumbuh menjadi anak yang permisif,

tertutup, pemalu atau justru agresif sekali pada lawan jenis. Kompas (2006,5

Oktober).

Ada individu yang mampu bertahan dan pulih dari situasi negatif secara

efektif sedangkan individu lain gagal karena mereka tidak berhasil keluar dari

situasi yang tidak menguntungkan. Di dalam kehidupan setiap orang pernah

merasakan bencana, kesulitan, kemalangan, dan permasalahan lainnya yang

membuat kita merasakan kesedihan, dan putus asa. Ketika seseorang tetap

dengan keadaan sedih dan putus asa, dan dibiarkan berlarut akan mengalami

kesedihan, memicu stress, bahkan trauma. Kemampuan untuk melanjutkan hidup

setelah ditimpa kemalangan atau setelah mengalami tekanan yang berat

bukanlah sebuah keberuntungan, tetapi hal tersebut menggambarkan adanya

(18)

5

(Tugade & Fredrikson, 2004). Individu yang bisa kembali seperti semula setelah

mengalami berbagai masalah disebut individu itu resilien.

Sebuah potensi, yang dapat bersumber dari internal maupun adanya

dukungan eksternal, yang akan menjadi kekuatan atau daya manakala disadari

dan kemudian dikembangkan. Resiliensi merupakan suatu proses yang alamiah

terjadi dalam diri individu. Hanya saja, seberapa waktu yang diperlukan oleh

seseorang untuk melewati proses tersebut bersifat individual dan berbeda antara

satu orang dengan yang lainnya. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi cepat

lambatnya seseorang pulih kembali ke keadaannya yang semula, baik yang

berasal dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitarnya.

Adapun contoh kasus dari salah satu subyek yakni NR, yang tinggal bersama

orang tua tunggal. NR tinggal bersama seorang ibu dan Kakaknya, 1 tahun yang

lalu Ayah NR meninggal dunia karena penyakit koplikasi. Atas kepergian sang

ayah NR cukup berat untuk menerima keadaan ini. Disaat keluarganya masih

utuh NR lebih dekat dengan sang Ayah, jika pergi kemana-mana NR selalu

bersama ayahnya. Bercanda gurau itu hal biasa yang dilakukan oleh NR dengan

ayahnya. Hal yang paling membuat NR selalu mengingat ayahnya, jika NR

melihat teman-temannya di antar jemput oleh ayah pada saat bersekolah. Sampai

sekarang sepeninggalan ayah NR belum bisa menerima keadaan. NR menjadi

lebih pendiam tidak mau terbuka dengan orang lain dan selalu ingin menyendiri.

Fenomena ini menunjukan bahwa resiliensi ini sangat penting karena orang

yang resilien mengetahui bagaimana mengembalikan mental dari suatu

kemalangan atau kesengsaraan dan membaliknya menjadi sesuatu yang lebih

baik, bahkan dibandingkan keadaan sebelum kemalangan itu sendiri. Mereka

maju dengan cepat dalam perubahan yang berlangsung terus menerus karena

mereka fleksibel, cerdas, kreatif, secara cepat menyesuaikan diri, sinergik, dan

belajar dari pengalaman. Mereka dapat mengendalikan kesulitan – kesulitan

besar, dengan lebih baik meski ketika dipukul oleh kemunduran besar, mereka

tetap tidak mengeluh dengan kehidupannya yang tidak wajar (Siebert, 2000).

Seperti halnya hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Puspitasari

(2006) menyebutkan bahwa pemenuhan kasih sayang dan keharmonisan dalam

(19)

6

permasalahan dan tekanan yang ada. Ketika kebutuhan kasih sayang tidak

terpenuhi karena remaja tersebut hanya mendapatkan kasih sayang dari salah

satu dari orang tuanya, dapat mengakibatkan remaja kurang mendapat perhatian

sehingga berkecenderungan melakukan perilaku menyimpang dan negatif. Hal

ini diakibatkan karena daya resiliensi yang dimiliki belum berkembang optimal

yang menyebabkan mereka kurang mampu menyelesaikan masalah dan lebih

memilih untuk menghindar.

Resiliensi merupakan faktor penting dalam kehidupan kita sekarang ini

khususnya untuk remaja. Ketika perubahan dan tekanan hidup berlangsung

begitu intens dan cepat, maka seseorang perlu mengembangkan kemampuan

dirinya untuk mampu melewati tugas perkembangannya secara efektif seperti

menghadapi perubahan fisik dan psikologis, ujian nasional, masalah teman

sebaya dan sekolah, pengaturan sikap, perilaku, dan lain sebagainya. Dari hal

diatas, maka kebutuhan akan kemampuan untuk menjadi resilien saat ini

sungguhmenjadi makin tinggi.

Berangkat dari fenomena tersebut yang telah dipaparkan diatas, maka

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Bagaimana Gambaran Daya

Resiliensi Remaja Dari Keluaraga Single Parent.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah yang ingin diungkap

adalah, bagaimana gambaran daya resiliensi remaja dari keluarga single parent?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran

(20)

7

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaaat dari penelitian ini yang dapat dipetik, yaitu:

1. Manfaat teoritis

Manfaat di bidang psikologi, hasil penelitian ini diharapkan dapat

memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan ilmu psikologi,

terutama psikologi klinis, psikologi perkembangan.

2. Manfaat secara praktis

Dapat memberikan manfaat bagi para orang tua khususnya orang tua tunggal

yang mengasuh anak seorang diri dan dapat digunakan sebagai informasi

Referensi

Dokumen terkait

Pentanahan pada instalasi listrik atau pabrik dilakukan persyaratan yang tinggi dibandingkan dengan instalasi listrik untuk penerangan yang meliputi tahanan

Setelah penulis mendekripsikan serta melakukan analisis komparatif terhadap ketentuan fasakh nikah dengan alasan suami miskin menurut Ulama Syafi’iyyah dan Hukum

kuliner yang disajikan pada momen-momen terrentu saja, sepcrti kuliner yang hanya dapat ditcmul pada kegiatan tradisi atau upacara.. tcrtcntu- Namun terkadang, ada

Peneliti mendapatkan hasil tentang sumber informasi yang didapatkan tentang tenun, kebuhan informasi yang ada dalam suatu media, dan konten buku yang diinginkan. Bentuk informasi

Arus listrik dapat menghasilkan panas dan elektron-elektron yang mampu berinteraksi dengan membran sel bakteri hingga dapat menghambat dan/atau menonaktifkan bakteri Escerichia

Sedangkan pada daging matang yang diberikan perlakuan penambahan dan pengganti secara signifikan menunjukan nilai expressible drip yang rendah atau memiliki daya ikat air

1) Sebagian besar lansia di Panti Sosial Tresna Werda Unit Budi Luhur Yogyakarta tidak depresi yaitu 24 responden (53,3%). 2) Sebagian besar aktivitas religi di Panti Sosial

Hal yang diutamakan terutama masalah: peran guru PAI dalam menumbuhkembangkan Konsep Cerdas, Energik, Religius, Ilmiah Amaliah (CERIA) pada Peserta Didik.. Subiyantoro,