Kecerdasan spiritual dan hubungannya dengan penerapan nilai-nilai kejujuran siswa MTS Darul Hikmah Pamulang

93  133  Download (0)

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh:

Salafudin NIM: 106011000170

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Dosen Pembimbing

Dr. Akhmad Sodiq, M.Ag NIP. 19710709 199803 1001

Oleh:

Salafudin NIM: 106011000170

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

dinyatakan lulus dalam ujian munaqasah pada tanggal 02 September 2010 dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) dalam bidang Pendidikan Agama.

Jakarta, ………….2010

Panitia Ujian Munaqasah

Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Program Studi) Tanggal Tanda Tangan

Bahrissalim, M.Ag ………….. ………..

NIP. 19680307 199803 1 002 Sekretaris Jurusan PAI

Drs. Sapiuddin Shidiq, M.Ag ………….. ……….

NIP. 19670328 200003 1 001

Penguji I

Drs. H. Masan AF, M.Pd ………….. ………..

NIP. 19510521 198103 1 004 Penguji II

Bahrissalim, M.Ag …………... ………..

NIP. 19680307 199803 1 002

Mengetahui:

Dekan fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

(4)

NIM : 106011000170

Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Judul Skripsi : “Kecerdasan Spiritual dan Hubungannya dengan Nilai- nilai Kejujuran Siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang”. Dosen Pembimbing:

Nama : Dr. Akhmad Sodiq, M.A. NIP : 19710709 199803 1001

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 (S1) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan asli karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 02 Agustus 2010

(5)

Pamulang

Fakultas/Jurusan : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan/ Pendidikan

Agama Islam

Proses pencerdasan bangsa dapat terlaksana jika dilakukan secara terintegrasi oleh sektor-sektor pembangunan. Salah satu sektor pembangunan tersebut adalah pendidikan. Namun betapapun tinggi ilmu pengetahuan seseorang, apabila tidak beragama, maka pengetahuannya akan digunakan untuk mencari kesenangan dan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan lain. Sedangkan kendali jiwa yang menahan dan mengontrol tindakan serta perbuatannya tidak ada, yaitu kepercayaan kepada Tuhan dan ketekunannya dalam mengindahkan ajaran-ajaran agamanya.

Di sinilah letak tragisnya pengetahuan yang tidak disertai oleh jiwa taqwa kepada Tuhan, mereka tidak akan sedikitpun memperdulikan nilai-nilai kejujuran dalam proses pembelajaran. Maka dari itu guru sangat berpengaruh besar dalam mengembalikan serta meningkatkan kecerdasan spiritual atau jiwa seseorang. Karena kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri secara utuh. Banyak sekali dari kita yang saat ini menjalani hidup yang penuh luka dan berantakan. Dengan kecerdasan spiritual diharapkan masalah-masalah yang datang akan mudah dihadapi dan diharapkan dengan adanya penerapan kecerdasan spiritual pada peserta didik dapat meningkatkan nilai-nilai kejujuran siswa khusunya dalam proses pembelajaran dan di dalam pergaulan sehari-hari.

Penulis melakukan penelitian di MTs Daarul Hikmah Pamulang dengan menggunakan sistem random sampling khususnya kelas VIII dengan menggunakan koefisien korelasi product moment. Setelah penelitian dilakukan, penulis memperoleh hasil penelitian tingkat Kecerdasan Spiritual Siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang adalah 47,533 sedangkan tingkat nilai-nilai kejujuran siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang adalah 48,488 dan angka koefisien korelasi antara kecerdasan spiritual terhadap nilai-nilai kejujuran siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang terutama kelas VIII yaitu sebesar 0,507 dengan demikian koefisien korelasinya sedang atau cukup. Berada pada rentangan 0,40 - 0,70 sehingga dapat diketahui bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dengan nilai-nilai kejujuran siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang.

(6)

dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Kecerdasan Spiritual dan Hubungannya dengan Nilai-nilai kejujuran Siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang”. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan teknologi ini.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan walaupun waktu, tenaga, dan piikiran telah diperjuangkan dengan segala keterbatasan yang penulis miliki demi terselesaikannya skripsi ini agar bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari partisipasi beberapa pihak yang telah membantu, sehingga patut kiranya penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Akhmad Sodiq, M.Ag selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membagi ilmunya dengan sabar dan teliti dalam mengoreksi dan membimbing penulis dalam membuat skripsi.

4. Abdul Ghofur, M.Ag selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan pengarahan dan masukan kepada penulis.

5. Pimpinan dan seluruh staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

6. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) terutama untuk Jurusan Pendidikan Agama Islam khususnya yang telah memberikan kontribusi pemikiran melalui pengajaran dan diskusi yang berkaitan dengan skripsi ini.

(7)

iii

8. Untuk kakak-kakakku tercinta yang telah memberikan warna-warni kehidupan

dan semangat serta inspirasi yang sangat berharga bagi penulis.

9. Seluruh sahabat senasib sepenanggungan yang selalu memberi kesan dan pesan dalam perjalanan hidupku. Seperti sahabat-sahabat kost, IMPP-J, HIMA-MAN Pemalang, PMII, HIKMAH Salafiyah, UKM PRAMUKA Racana Fatahillah – Nyi Mas Gandasari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 10.Seluruh teman Mahasiswa angkatan 2006 khususnya kelas E dan anggota

IRAQ dan tentunya teman-teman HISTORY CLASS yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun kebersamaan kita baik senang, sedih, canda tawa, haru, marah dan bahagia. Terima kasih untuk semua dukungan dan perhatian yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini. Dan juga kepada teman-temanku yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Penulis berharap dan berdo’a kepada Allah SWT agar seluruh pengorbanan yang telah diberikan akan mendapatkan balasan yang setimpal di sisi-Nya. Semoga ukiran tinta hitam yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi diri saya sendiri khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

jazakumullah khairan katsiran.

Jakarta, 06 Agustus 2010

Penulis

(8)

LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK . ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL . ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A....Lat ar Belakang Masalah ... 1

B....Ide ntifikasi Maslaah ... 8

C....Pe mbatasan Masalah ... 9

D...Per umusan Masalah ... 9

E...Tuj uan dan Manfaat ... 9

1...Tuj uan Penelitian ... 9

2...Ma nfaat Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ... 10

A....KE CERDASAN SPIRITUAL ... 10

1....Pen gertian Kecerdasan Spiritual ... 10

(9)

4....Fu

ngsi Kecerdasan Spiritual. ... 23

B....KE JUJURAN ... 24

1.... Arti Jujur ... 24

2....Nil ai-nilai Kejujuran ... 25

C. KERANGKA BERPIKIR. ... 28

D. PENGAJUAN HIPOTESIS. ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30

A...Te mpat dan Waktu Penelitian ... 30

B...Var iabel Penelitian ... 30

C...Me tode Penelitian ... 30

D...Po pulasi dan Sampel ... 31

E...Te knik Pengumpulan Data ... 32

F....Inst rumen Penelitian . ... 33

G....Te knik Pengolahan dan Analisis Data ... 34

(10)

arah Berdirinya MTs Daarul Hikmah Pamulang . ... 39 2....Vis i, Misi dan Motto MTs Daarul Hikmah Pamulang . ... 40 3....Kip rah MTs Daarul Hikmah Pamulang . ... 41 4....Pro fil MTs daarul Hikmah Pamulang ... 42 5....Dat a Siswa, Guru, Tata Usaha dan Karyawan ... 43 B....De

skripsi Data . ... 46 1....Var

iabel Bebas (Kecerdasan Spiritual) . ... 46 2...Var

iabel Terikat (Nilai-nilai kejujuran Siswa) . ... 54 C...An

alisis . ... 62 BAB V PENUTUP ... 67 A...Ke

simpulan . ... 67 B...Sar

an ... 69 DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN

(11)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel. 1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian ……… 33

Tabel. 2 Penafsiran Prosentase ……… 35

Tabel. 3 Interpretasi terhadap “r” Product Moment ………... 37

Tabel. 4 Profil MTs Daarul Hikmah Pamulang ……….. 42

Tabel. 5 Jumlah Guru, TU dan Karyawan ……….. 43

Tabel. 6 Keadaan Siswa Semester Genap ………. . 45

Tabel. 7 Berkaitan dengan Keimanan ………. 46

Tabel. 8 Berkaitan dengan Keilmuan ………. 47

Tabel. 9 Berkaitan dengan Pengendalian Diri ……… 49

Tabel. 10 Berkaitan dengan Pergaulan Sosial ……….. 50

Tabel. 11 Skor Skala Likert kecerdasan Spiritual (Variabel X) ……... 52

Tabel. 12 Kejujuran dalam Evaluasi Pembelajaran ……….. 54

Tabel. 13 Kejujuran di Luar Proses pembelajaran ……… 55

Tabel. 14 Kejujuran yang Berkaitan dengan Kepercayaan Diri ……….. 57

Tabel. 15 Kejujuran dalam Proses Pembelajaran ………. 58

Tabel. 16 Skor Skala Likert Nilai-nilai Kejujuran Siswa (Variabel Y)… 59 Tabel. 17 Angka Hasil Perhitungan Variabel X dengan Variabel Y …... 62

Tabel. 18 Nilai Hasil Perhitungan ………... 64

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Segala sesuatu yang terjadi pada manusia bukan begitu saja ada dan berada, tetapi senantiasa berencana dan membuat skenario sejarah kehidupannya baik yang telah lalu dan yang berbentuk perencaan pada masa depan. “Temuan-temuan pengkajian tentang manusia saat ini telah menunjukkan manfaat yang multi-disiplin. Dalam bidang psikologi misalnya, teori-teori tentang pendidikan, tidak saja untuk kepentingan psikologi semata, tetapi juga untuk bidang-bidang lain seperti sejarah, ekonomi, politik, sosial, bahkan agama”.1 Permasalah yang muncul kemudian adalah apakah sesuatu yang memiliki nilai pragmatis yang didasarkan atas pengkajian empiris-eksperimental selalu sejalan dengan nilai-nilai kebenaran yang idealis seperti penerapan nilai-nilai kejujuran, keadilan, kesabaran, ketawadhuan, sebagaimana Islam dan ajaran-ajaran lain yang tentunya mengajarkan kepada kebenaran dan kebaikan.

Saat ini manusia hidup di tengah-tengah kegalauan peradaban modern dalam menemukan bentuk jati dirinya. Terbukti dengan munculnya berbagai macam permasalahan di bidang pendidikan, seperti masalah orientasi, tujuan

dan proses pendidikan, menyebabkan terjadinya ketimpangan dan penurunan nilai-nilai moral diantaranya nilai kejujuran. Bahkan telah menjalar dan

1

Fadilah Suralaga dkk, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Islam. (Jakarta: Press, 2005), cet. ke-1, hlm. 1

(13)

merasuk kepada nilai-nilai agama yang menyebabkan terjadinya ketimpangan dan penurunan nilai-nilai kebenaran yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan. Setidaknya apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini bisa dijadikan ukuran. Ketika terjadi krisis ekonomi dan politik, bersamaan dengan itu konflik sosial pun bermunculan di berbagai daerah. Bangsa Indonesia yang

sebelumnya dikenal sebagai bangsa yang ramah dan memiliki tata krama yang tinggi pun kini berubah menjadi bangsa yang brutal dan bengis, seolah-olah seperti bangsa yang tidak beragama.

Mencari orang jujur saat ini semakin sulit, yang banyak ditemui adalah orang yang memiliki kepribadian ganda yaitu kejujuran dan kemunafikan bercampur menjadi satu. Nilai-nilai kejujuran tidak lagi menjadi esensi dan pegangan hidup seseorang, tetapi telah menjadi alat untuk memperjuangkan berbagai kepentingan sempit. Dengan kata lain, kejujuran yang seharusnya menjadi nilai etis yang mewarnai hidup kita telah tereduksi sekedar menjadi pemanis bibir di dalam kehidupan masyarakat. Sementara perilaku dan tindakannya jauh dari nilai-nilai kejujuran.

Orang jujur banyak di dalam masyarakat, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kemunafikan telah menjadi fenomena umum di masyarakat. Sindrom verbalisme kejujuran yang menjadikan kejujuran hanya sebagai pemanis bibir adalah fenomena “masyarakat yang sakit”. Karena, kondisi ini secara langsung maupun tidak langsung telah mendapat legitimasi dari masyarakat. Dalam masyarakat tersebut, nilai-nilai sosial dan agama semakin termarjinalkan posisinya dalam melakukan kontrol terhadap prilaku anggota masyarakat.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah praktek ketidakjujuran yang dilakukan oleh seorang peserta didik dalam proses pembelajaran, nilai-nilai kejujuran yang seharusnya diterapkan mulai dari kita mendapatkan pendidikan formal tercoreng dengan kurang diperhatikannya nilai-nilai kejujuran.

(14)

sehari-hari apapun keadaannya. Dalam kasus yang bisa dikatakan sudah tidak menjadi rahasia umum lagi, “bahwa dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang terjadi adalah para peserta didik memberikan kunci jawaban kepada temannya dan mereka sebarkan ke teman yang lain agar dapat menjawab seluruh pertanyaan yang diujikan”.2 Hal tersebut merupakan suatu kesalahan

yang tertanam semenjak dini, mereka merasa itu perbuatan yang biasa-biasa saja, padahal hal tersebut akan menjadi kebiasaan buruk yang akan dibawa ke jenjang yang lebih tinggi dan bahkan bisa juga akan menjalar ke tingkah laku sehari-hari. Kasus lain pun banyak terjadi disaat maraknya penerimaan siswa baru dan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Salah satu kasus terjadi di tempat pendaftaran siswa atau mahasiswa baru, “beberapa anggota dewan meloby panitia dengan memberikan sejumlah uang agar putra putrinya dapat diterima di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi negeri dengan mudah”.3 Hal tersebut merupakan perbuatan yang tidak mencerminkan kejujuran. Seharusnya semua calon peserta baru diperlakukan sama dengan yang lain sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku, tanpa ada pembedaan anak pejabat atau orang biasa semua ketentuan harus dilalui dan dijalani dengan jujur.

Sesuatu yang sangat berpengaruh dari dalam diri manusia ternyata benar-benar ada. “kecerdasan” itulah terminologi yang mula-mula dinisbatkan oleh para ilmuan. Kecerdasan adalah sesuatu yang berdiam dalam diri manusia. Kecerdasan bisa saja diartikan semacam kemampuan, ketangkasan, kelihaian dan kecerdikan. Orang-orang berpacu untuk menjadi manusia yang cerdas, karena hanya dengan kecerdasanlah seseorang bisa menjadi yang terpandai dan sukses. Setidaknya ketika manusia menyebut cerdas maka yang terbesit dan terbayang adalah kelihaian dan kecanggihan kerja otak.

Otak yang cerdas tentunya menjadi idaman setiap orang, ketika yang terjadi demikian, maka para pakarpun menjadi tertarik untuk meneliti otak,

lalu mulailah otak diteliti dengan berbagai metode, sehingga “ditemukanlah dalam otak itu, syaraf-syaraf yang bisa dikembangkan, kejeniusan otak, otak

2

Nusantara, Koran Kompas, sabtu, 29 Mei 2010, (NIK/ABK), hlm. 23 3

(15)

kanan dan otak kiri, kalau otak kanan kecenderungannya ke mana, kalau otak kiri ke mana, dan hal-hal lain yang terkait dengan otak”. 4 Di samping itu pula dapat ditemukan kelemahan-kelemahan dari otak tersebut.

Contohnya Albert Enstein sebagai manusia yang memiliki otak jenius dari jutaan otak yang ada di dunia yang dimiliki manusia. Ketika ada berita

Enstein sebagai orang yang amat pandai otaknya, dia dielu-elukan sebagai orang yang jenius, hal itu menggugah masyarakat untuk mengukur kecerdasan otaknya. Maka berbondong-bondonglah manusia berdatangan kepada para pakar untuk mengukur kecanggihan dan melihat otaknya. Karena sudah tertanam dalam benak mereka, bahwa orang yang hebat kerja otaknya dia adalah orang yang hebat dan akan sukses sebagaimana Enstein, mereka sudah mengasumsikan otak adalah segalanya di dunia dan menjadi standar bagi kesuksesan manusia. Persepsi seperti ini masih berkembang dan berakar di masyarakat Indonesia sampai saat ini.

Lahirlah term baru yang cukup fenomenal yang kemudian menjadi icon pertama bagi lahirnya terminologi kecerdasan, yaitu apa yang disebut IQ (Intellectual Quotient) atau “Kecerdasan Intelektual”. IQ ini sangat populer khususnya di dunia pendidikan, bagaimana tidak, dalam dunia pendidikan atau kalangan akademisi kepiawaian kognisi merupakan hal paling dijargonkan, diutamakan dan menjadi simbol menentukan dari keberhasilan pendidikan. Dengan kecerdasan intelektual orang dapat menguasai dunia, dengan kecerdasan intelektual siswa dapat menjadi bintang kelas, dan dengan kecerdasan intelektual orang akan menjadi yang paling hebat.

Benar bahwa dalam diri manusia memang masih banyak tersimpan potensi lain selain hanya kecerdasan otak semata, bahkan potensi-potensi itu dapat menjadi faktor utama bagi kesuksesan manusia sendiri. Pada akhirnya kelemahan-kelemahan dari kecerdasan otak (IQ) mulai terkuak setelah kurang

lebih selama satu abad lamanya banyak orang yang mengagung-agungkan kemampuan otak dibandingkan yang lain. Karena, tiba-tiba orang yang cerdas

4

(16)

otaknya menjadi seorang yang pemurung, orang yang lihai menjadi kaku, orang yang jago berbicara menjadi seorang yang pendiam, situasi ini justru menggambarkan bahwa orang yang cerdas lebih bodoh dari orang-orang yang biasa-biasa saja. Kalaupun tidak sebodoh orang-orang biasa yang semula cerdas dalam sekolahnya berubah menjadi orang yang berandal, brutal, egois

dan bahkan dapat melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh masyarakat dan agama.

Berdasarkan hasil survey di Amerika Serikat pada tahun 1918 tentang IQ ternyata ditemukan sebuah paradoks yang membahayakan. Ketika skor IQ anak-anak makin tinggi, maka emosi mereka justru menurun. Yang paling mengkhawatirkan lagi adalah dari hasil survey besar-besaran terhadap orang tua dan guru bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi ketimbang dengan generasi pendahulunya. Jika disamakan secara rata, anak-anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan lebih sulit diatur, lebih gugup dan cenderung cemas, impulsif dan agresif.5

Para ilmuan mengkaji dan meneliti situasi paradoks ini. Ada apa dengan orang-orang cedas otaknya, kenapa mereka menjadi tidak cerdas kembali, apa yang mempengaruhi dan membuat mereka begini? Kemudian ditemukan peran emosi terhadap diri seorang anak, orang yang cerdas secara kognisi ternyata mengalami tekanan perasaan yang begitu dalam, sehingga ia berubah seratus persen dan kecerdasan intelektualnya menjadi kurang domianan, dengan sendirinya kenyataan menjawab. Kalau sebenarnya persepsi manusia sebelumnya telah salah, masih ada faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap belajarnya seorang pelajar, yaitu emosi.

Emosi kemudian menjadi piranti yang perlu mendapat perhatian serius dan ternyata juga perlu dicerdaskan karena berpengaruh besar terhadap perkembangan dan keberhasilan belajar. Lahirlah terminologi kecerdasan emosi (Emotional Quotient) yang disingkat menjadi EQ. “Penemuan ini sangat fenomenal dan membuat dunia cukup terkesima, dengan penemuan ini diharapkan problema yang selama ini menggandrungi dunia pendidikan

5

(17)

khususnya dalam proses pembelajaran dapat terpecahkan”.6 Keinginan untuk memecahkan persoalan besar yang dihadapi membuat manusia selalu berlebihan terhadap teori yang dimiliki, manusia terlalu mengandalkan dan seakan-akan menuhankan temuannya, oleh karena problemnya berada pada emosi, kemudian konsentrasi manusia terpatri sepenuhnya terhadap

gejala-gejala perasaan dan mengabaikan hal lain, manusia terjebak pada ruang yang tidak kalah bermasalahnya dari problem sebelumnya, bahkan problem yang dihadapi lebih kompleks dan semakin rumit.

Kecerdasan emosi ternyata hanya dapat menyelesaikan satu persoalan dari jutaan persoalan yang dihadapi manusia. Karena ketika kecerdasan emosi terus digalakkan, kecerdasan ini menjadi dominan dan mengungguli kecerdasan intelektual, sehingga hasilnya, seorang anak menjadi sangat perasa, lemah dan pesimis dalam menghadapi pelajaran, kenyataan ini sama sekali tidak sesuai dengan yang diharapkan. Harapan kita kecerdasan emosi dapat bekerja sama dengan kecerdasan intelektual dan saling memback up dan juga saling melengkapi dalam dunia pendidikan khususnya pembelajaran.

Kedua kecerdasan ini seakan-akan tidak pernah akur dan bahkan berkompetisi untuk saling mendominasi dan menguasai antara satu dengan lainnya. Andaikan keduanya dapat berjalan beriringan dan bahkan saling melengkapi, tentunya hasil belajar akan sangat mengesankan. Di sinilah diharapkan kembali peran pendidikan untuk mengatasi persoalan ini, karena persoalan ini bagian dari signifikansi dan pentingnya dunia pendidikan. Lahirlah kemudian Quantum Learning dengan konsep belajar aktifnya, yang semakin populer setelah Emotional Quotient, kemudian lahir pula fisika kuantum dan paradigma sosial politik yang lebih komunikatif (demokrasi dan HAM) sebagai salah satu upaya untuk mengatasi problema tersebut. “Tidak ketinggalan negeri ini pun ikut-ikutan merespon perkembangan dalam

pendidikan, muncullah paradigma pendidikan nasional sebagai wahana belajar

6

(18)

hidup atau life learning”.7 Guna menyatukan kedua kecerdasan yang sangat dominan dalam diri manusia.

Kendatipun kedua kecerdasan ini menyatu dan bekerja sama, belum ada jaminan suasana belajar akan lebih efektif, produktif dan akan lebih berkembang. Tetapi minimal dengan lahirnya kedua kecerdasan ini, dapat

diketahui bahwa dalam diri manusia terdapat sesuatu yang berharga, artinya kedua kecerdasan ini merupakan awal informasi untuk pengkajian lebih dalam terhadap diri manusia yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Hal itu menjadi awal yang baik untuk mengantarkan diri para pelajar pada puncak idealitas belajar. Meminjam bahasa Igo Ilham “Dengan kecerdasan intelektual dan emosional manusia telah mampu sampai pada bukit-bukit ilmu, tapi belum sampai pada gunungnya ilmu”.8 Ungkapan ini jelas mengilustrasikan bahwa masih ada tingkatan yang lebih tinggi dari hanya sekedar kedua kecerdasan tersebut, yang mana hal itu harus dicapai dalam proses pembelajaran agama Islam khususnya.

Proses pencerdasan bangsa baru bisa terlaksana jika dilakukan secara terintegrasi oleh sektor-sektor pembangunan. Salah satu sektor pembangunan adalah pendidikan. Namun betapapun tinggi ilmu pengetahuan seseorang, apabila tidak beragama, maka pengetahuannya itu akan digunakan untuk mencari kesenangan dan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan lain. Sedangkan kendali jiwa yang menahan dan mengontrol tindakan dan perbuatannya tidak ada, yaitu kepercayaan kepada Tuhan dan ketekunannya dalam mengindahkan ajaran-ajaran agamanya. Di sinilah letak tragisnya pengetahuan yang tidak disertai oleh jiwa taqwa kepada Tuhan, mereka tidak akan sedikitpun memperdulikan nilai-nilai kejujuran dalam proses pembelajaran. Maka dari itu guru sangat berpengaruh besar dalam mengembalikan serta meningkatkan kecerdasan spiritual atau jiwa seseorang.

Karena kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu

7

Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis

Pendidikan Islam, (Jogyakarta: Tiara Wacana, 2002), cet. ke- 1, hlm. 166 8

(19)

menyembuhkan dan membangun diri secara utuh. “Banyak sekali dari kita yang saat ini menjalani hidup penuh luka dan berantakan. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berada di bagian diri yang dalam, berhubungan dengan kearifan di luar ego atau pikiran sadar”.9

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk

mengangkat judul “Kecerdasan Spiritual dan hubungannya dengan penerapan nilai-nilai kejujuran siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang”. Karena dengan menggunakan kecerdasan spiritual dapat menjadi kreatif, lebih cerdas secara spiritual dalam pembelajaran dan dalam beragama. Untuk itu, menghadapi persoalan manusia modern sekarang ini kecerdasan spiritual dapat menjadi salah satu upaya untuk mengembalikan jati diri manusia kepada fitrah dan penciptaannya untuk berbakti kepada Allah.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, timbullah beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi, antara lain:

1. Terdapatnya persepsi yang salah baik dalam keluarga maupun lembaga pendidikan bahwa proses pembelajaran hanya menekankan kepada salah satu pengembangan kecerdasan.

2. proses pembelajaran yang hanya menekankan pada pengembangan nilai-nilai kognitif.

3. Masih minimnya perhatian terhadap pengetahuan pendidik tentang pentingnya kecerdasan spiritual.

4. Merosotnya nilai-nilai kejujuran di kalangan lulusan lembaga pendidikan 5. Kurang efektifnya pembelajaran agama dalam membentuk nilai-nilai

kejujuran.

9

Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam

(20)

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi yang telah diuraikan dan karena terlalu luas pembahasan identifikasi masalah di atas, maka penulis membatasi pada:

1. Persepsi yang kurang tepat dalam keluarga maupun lembaga pendidikan bahwa proses pembelajaran hanya mengedepankan Kecerdasan

Intelektual, tanpa mementingkan Kecerdasan Spiritual.

2. Minimnya penerapan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari ketika masih di sekolah maupun setelah lulus dari lembaga pendidikan. 3. Kurang efektifnya pembelajaran agama Islam dalam membentuk nilai-nilai

kejujuran khususnya dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka dapat dirumuskan: “Sejauhmana hubungan kecerdasan spiritual dengan penerapan nilai-nilai kejujuran siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang”.

E. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Untuk menjelaskan hubungan Kecerdasan Spiritual (SQ) dengan penerapan nilai-nilai kejujuran MTs Daarul Hikmah Pamulang.

2. Manfaat Penelitian

a. Memasyarakatkan konsep spiritual pada dunia pembelajaran/ pendidikan

b. Sebagai tawaran alternatif dan bahan acauan perbaikan hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran.

c. Dapat dijadikan salah satu sumbangan dalam memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.

d. Memotivasi para pendidik dan peserta didik untuk selalu mengisi jiwanya dengan nilai-nilai spiritual dalam masa pembelajaran.

e. Setidaknya merubah pola pikir seseorang yang terlalu mengidam-idamkan kecerdasan intelektual (IQ) tanpa diimbangi kecerdasan

(21)

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. KECERDASAN SPIRITUAL 1. Pengertian Kecerdasan Spiritual

Banyak definisi yang diajukan oleh para sarjana, namun satu nama lain berbeda, sehingga tidak memperjelas definisi kecerdasan secara tepat. Claparede dan Stern misalnya, mendefinisikan arti intelligence/

“kecerdasan adalah penyesuaian diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. Sedangkan K. Buhler memberi definisi yang sangat luas, yaitu: intelligence/kecerdasan adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian”.1

Kecerdasan (dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan dalam bahasa Arab disebut al-dzakra’) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara tepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapannya sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog falsafi, menyebutkan kecerdasan sebagai kekuatan intuitif (al-hads).2

Pengertian kecerdasan yang dipahami selama ini seakan-akan hanya berkaitan dengan kepandaian, sehingga digambarkan dengan ukuran-ukuran intelektualitas dan ilmu pengetahuan semata. Kalaupun kemudian

1

Jejen, Kecerdasan Akal Menurut Hadits, Kordinat (Jakarta), 02 Oktober 2005, h. 17 2

Abdul Mujib dan Jususf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), cet. ke-2, h. 317

(22)

aspek kecerdasan dihubungkan dengan masalah yang bernuansa spiritual, itu pun masih bersifat substansial.

Lewat bukunya Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, Howard Gardner mengemukakan bahwa selama ini kita cenderung mempersepsikan kecerdasan terlalu sempit, yaitu mengarah pada IQ. Padahal manusia mempunyai bermacam kecerdasan yang seringkali terabaikan oleh diri kita sendiri. Kecerdasan menurut Howard Gardner adalah kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nilai IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.3

Dalam Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences Theory) ada 9 jenis kecerdasan manusia, yaitu: Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Matematis-Logis, Kecerdasan Spasial, Kecerdasan Kinestetis-Jasmani, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Naturalis, Kecerdasan Eksistensial. Teori ini berdasarkan pakar Psikologi Harvard Howard Gardner. Gardner mengemukakan bahwa pandangan klasik percaya bahwa inteligensi merupakan kapasitas kesatuan dari penalaran logis, di mana kemampuan abstraksi sangat bernilai.

Pada mulanya kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktural akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif (al-majal al-ma’rifi). Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktural akal, melainkan terdapat struktur kalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif (al-majal al-infi’ali) seperti kecerdasan spritual.4

Pengertian kecerdasan menurut tokoh psikologi David C. Edward seperti dikutip oleh Alisuf Sabri dalam buku “psikologi pendidikan” sebagai berikut: “Intelligent Is a General Capacity of Behave in an Adaptable and Acceptable Manner. Dari pengertian ini dapat disimpulkan

3

Fandi Tarakan, (http://fandi4tarakan.wordpress.com/2010/01/03/teori-multiple-intelligence/) diakses pada hari senin 06 September 2010.

4

(23)

bahwa kecerdasan adalah kemampuan umum mental individu yang tampak dalam cara bertindak atau berbuat atau dalam memecahkan masalah (problem solving)”.5

Faldam mendefinisikan “kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan”.6 Dalam pengertian ini, kecerdasan terkait dengan kemampuan memahami lingkungan atau alam sekitar, kemampuan penalaran atau berpikir logis, dan sikap bertahan hidup dengan menggunakan sarana dan sumber-sumber yang ada.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kecerdasan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memahami lingkungan atau alam sekitar serta berpikir rasional guna menghadapi tantangan hidup serta dapat memecahkan berbagai problem yang dihadapi.

Suparman menjelaskan yang dimaksud kecerdasan (intelligence) adalah “kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan dan pandai melaksanakannya dalam praktik. Potensi kecerdasan meliputi: kemampuan

memahami, kemampuan menganalisa, kemampuan membuat keputusan, sampai pada kemampuan menjalankan (mengeksekusi)”.7 Dalam hal ini yang terlibat bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual juga”.

Sedangkan pengertian spiritual adalah kejiwaan, rohani, batin, mental atau moral.8

Secara bahasa, kata spiritual menurut Loran Bagus dalam kamus filsafatnya memiliki beberapa makna:

a. Immateri, tidak jasmani, terdiri dari roh.

b. Mengacu pada kemampuan-kemampuan lebih tinggi (mental, intelektual, esthetic, religious) dan nilai-nilai pikir.

5

Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2002), h. 116 6

Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006), cet. Ke-1, h. 59

7

Ririen Kusumawati, Artificial Intelligence Menyamai Kecerdasan Buatan Ilahi?

(Malang: UIN Malang Press, 2007), cet. 1, h. 46 8

(24)

c. Mengacu pada nilai-nilai keislaman yang non materi seperti keindahan, kebaikan, cinta kebenaran, belas kasihan, kejujuran dan kesucian.

d. Mengacu pada perasaan dan emosi religious dan esthetic.9

Menurut Khalil Khavari, “kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi nonmaterial kita, ruh manusia inilah intan yang kita semua memilikinya. Kita harus mengenalinya secara apa adanya, menggosoknya sehingga mengkilap dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan abadi”.10

Dalam Emotional Spiritual Quotient (ESQ), “kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu menyinergikan kecerdasan rasional, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual secara komprehensif”.11 Kecerdasan Spiritual mampu menilai suatu tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lainnya. Kecerdasan ini dapat membedakan sesuatu hal, baik atau buruk. Kecerdasan ini pula memberikan rasa moral, kemampuan menyesuaiakan aturan yang kaku, dan kemampuan memahami cinta sampai pada batasannya.

Kecerdasan Spiritual sebagai bagian dari psikologi memandang bahwa seseorang yang taat beragama belum tentu memiliki kecerdasan spiritual. Seringkali mereka memiliki sikap fanatisme, eksklusivisme, dan intoleransi terhadap pemeluk agama lain, sehingga mengakibatkan permusuhan dan peperangan. Namun sebaliknya, bisa jadi seseorang yang humansi-non-agamis memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, sehingga sikap hidupnya inclusive, setuju dalam perbedaan (agree un disagree-ment), dan penuh toleran. Hal ini menunjukkan bahwa makna “Spirituality” (keruhanian) di sini tidak selalu berarti agama atau bertuhan.12

9

Hasan Shadily, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Vanhoeve, 1998), jilid VI, cet. ke-1, h. 3279

10

Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Keerdasan Spiritual dalam

Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Terj dari SQ: Spiritual Intelligence the Ultimate Intelligence oleh Rahmani Astuti, Ahmad Nadjib Burhani dan Ahmad Baiquni,(Bandung: Mizan, 2001), cet. ke-2, h. xxvii

11

Ary Ginanjar Agustian, ESQ Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan

Spiritual, (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), h. 46-47 12

(25)

“Kecerdasan spiritual adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, bahkan kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi”.13 Intelektual akan lebih terarah ke tempat yang benar dengan adanya kecerdasan spiritual. Begitu pula dengan kecerdasan emosi, apabila diiringi dengan kecerdasan spiritual maka dunia dan akhirat dapat diraih, karena kecerdasan spiritual dapat dijadikan tolak ukur dan pegangan dalam bersikap.

Cara kerja pemikiran kecerdasan spiritual berpusat pada otak. Kecerdasan spiritual tidak harus berhubungan dengan suatu agama. Kecerdasan ini dapat menghubungkan seseorang dengan makna dan ruh esensial di belakang semua agama yang ada.

Kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang dapat menyatukan hal yang bersifat intra-personal dan inter-personal serta dapat menjembatani kesenjangan antara diri sendiri dengan orang lain. Pada hakikatnya seseorang dapat menggunakan kecerdasan spiritual untuk mencapai diri yang lebih utuh, karena berhak memiliki potensi tersebut.14 Dalam Islam, hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan emosi dan spiritual seperti konsistensi (istiqamah), kerendahan hati (tawadhu), berusaha dan berserah diri (tawakkal), ketulusan/sincerity (ikhlas), totalitas (kaffah), keseimbangan (tawazun), integritas dan penyempurnaan (ihsan) itu dinamakan akhlakul karimah.15

Dengan adanya nilai-nilai kebaikan (akhlakul karimah) tersebut yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, tentunya akan semakin memberikan kesadaran kepada setiap individu untuk selalu menerapkan nilai-nilai kejujuran dalam proses pembelajaran yang akan selalu memberikan pancaran kebaikan di masa yang akan datang. Sehingga apa yang dicita-citakan akan tercapai yaitu mencetak generasi-generasi bangsa yang berilmu pengetahuan dan beragama dengan baik serta berakhlakul karimah.

13

Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual …, h. 4 14

Amir Teuku Ramly, Pumping Talent, (Jakarta: Kawan Pustaka, 2004), cet-2, h. 15-16 15

Ary Ginanjar Agustian, ESQ Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan

(26)

Menurut Jalaluddin Rakhmat “kecerdasan spiritual sebagai kemampuan orang untuk memberi makna dalam kehidupan atau kemampuan untuk tetap bahagia dalam situasi apapun tanpa tergantung kepada situasi”.16 Dari berbagai pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menghadapi dan memecahkan berbagai makna serta kemampuan memberi makna nilai ibadah dalam kehidupannya agar menjadi manusia yang sempurna agar tercapainya kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

2. Ciri-ciri Kecerdasan Spiritual

Orang-orang yang bisa berpikir dan memiliki kecerdasan spiritual dan mengetahui sesuatu secara inspiratif, tidak hanya memahami dan memanfaatkan sebagaimana adanya, tetapi mengembalikannya pada asal ontologisnya, yakni Allah SWT.

Kecerdasan spiritual ditandai dengan sejumlah ciri, yaitu: a. Mengenal motif kita yang paling dalam.

b. Memiliki tingkat kesadaran yang tinggi. c. Bersikap responsif pada diri yang dalam.

d. Mampu memanfaatkan dan mentransendenkan kesulitan.

e. Sanggup berdiri, menentang, dan berbeda dengan orang banyak. f. Enggan mengganggu atau menyakiti orang dan makhluk yang lain. g. Memperlakukan agama cerdas secara spiritual.

h. Memperlakukan kematian cerdas secara spiritual.17

Motif yang paling dalam berkaitan erat dengan motif kreatif. Motif kreatif adalah motif yang menghubungkan kita dengan kecerdasan spiritual. Ia tidak terletak pada kreatifitas, tidak bisa dikembangkan lewat IQ. IQ hanya akan membantu untuk menganalisis atau mencari pemecahan soal secara logis. Sedangkan EQ adalah kecerdasan yang membantu kita untuk bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitar kita. Berempati dengan orang-orang di sekeliling kita, bisa bersabar menerima

16

Beniglarashati, “Kecerdasan Emosional VS Kecerdasan Spiritual,” artikel diakses pada 03 September 2010 dari http://beninglarashati.wordpress.com

17

(27)

orang lain apa adanya serta bisa mengendalikan diri. Tetapi, untuk bisa kreatif kita memerlukan suatu kecerdasan, yaitu kecerdasan spiritual. Jadi, motif kreatif adalah motif yang lebih dalam, dan salah satu ciri orang yang cerdas secara spiritual adalah orang yang mengetahui motifnya yang paling dalam.

Berikutnya ialah ia mempunyai kesadaran yang tinggi. Maksudnya adalah dia memiliki tingkat kesadaran bahwa dia tidak mengenal dirinya lebih, karena ada upaya untuk mengenal dirinya lebih dalam. Misalnya, dia selalu bertanya siapa diriku ini? Sebab hanya mengenal diri, maka dia mengenal tujuan dan misi hidupnya. Jadi, orang yang tingkat kecerdasan spiritualnya tinggi adalah orang yang mengenal dirinya dengan baik.

Ciri selanjutnya ialah, bersikap responsif pada diri yang dalam. Artinya melakukan introspeksi diri, refleksi dan mau mendengarkan dirinya. Kemudian kita kadang-kadang baru mau mendengarkan suara hati nurani ketika ditimpa musibah. Misalnya, tiba-tiba usaha kita bangkrut, dikecewakan oleh orang yang kita percayai. Keadaan seperti ini

mendorong kita untuk melakukan introspeksi diri dengan melihat ke dalam hati yang paling dalam.

Melihat ke hati yang paling dalam ketika menghadapi musibah disebut mentransenden kesulitan. Orang yang cerdas secrara spiritual tidak mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain sewaktu menghadapi kesulitan atau musibah, tetapi menerima kesulitan itu dan meletakkannya dalam rencana hidup yang lebih besar, dan memberikan makna kepada apa yang terjadi pada dirinya, dan ini berarti bahwa orang yang cerdas secara spiritual bertangung jawab itu kepada orang lain.

(28)

Kemudian ciri kecerdasan spiritual selanjutnya ialah merasa bahwa alam semesta ini adalah sebuah kesatuan, sehingga kalau mengganggu apapun dan siapapun pada akhirnya akan kembali kepada diri sendiri. Misalnya, kalau menyakiti orang lain nanti akan disakiti pula. Kalau merusak alam nantinya akan menimbulkan kesulitan atau musibah, seperti banjir dan tanah longsor. Karena itu orang yang cerdas secara spiritual tidak akan menyakiti orang lain dan alam sekitarnya.

Sejalan dengan hal itu, kalau orang itu beragama, maka tidak akan mengganggu atau memusuhi orang yang beragama lain atau menganut kepercayaan lain. Karena agama hanyalah jalan masing-masing orang menuju Tuhan. Tetapi kecerdasan spiritual tidak sama dengan beragama, Ian Marshall dan Danar Zohar mengemukakan bahwa “kecerdasan spiritual tidak sama dengan bertuhan. Bagi sebagian orang kecerdasan spiritual mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama formal, tetapi beragama tidak menjamin kecerdasan spiritual menjadi tinggi”.18

Kecerdasan spiritual tentang memperlakukan agama secara cerdas

hal ini sesuai dengan tasawuf, karena tasawuf mengajarkan dimensi bathiniah agama, yaitu perbuatan hati, seperti sabar, ikhlas, jujur, sederhana, adil dan sebagainya. Perbuatan hati bersifat universal melintasi batas-batas agama. “Ciri terakhir mengenai memperlakukan kematian secara cerdas ini juga sesuai dengan ajaran tasawuf. Berdasarkan al-Qur’an dan hadits tasawuf mengajarkan bahwa kematian harus diingat, karena kematian itu pasti akan dialami oleh setiap orang”.19 Karena itu, harus menyikapi diri menghadapi kematian dengan selalu beribadah, beramal shalih dan meninggalkan maksiat dan kejahatan. Harus ingat bahwa kehidupan dunia hanya sementara, sedang kematian akan membawa kepada kehidupan kekal. Hanya ibadah dan amal shalih yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Dengan demikian kecerdasan spiritual/ruhani membuat kehidupan agama menjadi lebih baik.

18

Sudirman Tebba, Kecerdasan Sufistik Jembatan Menuju Makrifat, (Jakarta: Kencana, 2004), cet. ke-2, h. 27

19

(29)

3. Cara Mengaktualkan Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual bersumber dari fitrah manusia. Kecerdasan ini tidak dibentuk melalui pengalaman-pengalaman atau memori-memori fenomenal, tetapi merupakan aktualisasi sendiri.

Ia “memancar” dari kedalaman diri manusia, karena dorongan-dorongan keingintahuan dilandasi kesucian, ketulusan dan tanpa pretense egoisme. Dalam bahasa yang tepat, kecerdasan spiritual ini akan aktual, jika manusia hidup berdasarkan visi dasar dan misi utamanya, yakni sebagai ‘abid (hamba) dan sekaligus khalifah Allah di Bumi. Kecerdasan spiritual tidak hanya berkenaan dengan alam dan fenomenanya, tetapi juga berkenaan dengan fenomena sosial dan “kedirian” manusia itu sendiri. 20 “Membebaskan diri dari hawa nafsu, adalah jenis kecerdasan spiritual yang tidak kalah pentingnya. Karena dengan bebasnya diri kita dari nafsu dan potensi ego, kita akan menjadi perpanjangan “kehendak” Ilahi dalam menyebarkan rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam)”.21 Kecerdasan spiritual dapat diibaratkan sebagai permata yang tersimpan dalam batu. Allah senantiasa memberikan cahaya permata itu, seperti diungkapkan dalam al-Qur’an surat an-Nur: 35

Suharsono, Mencerdaskan Anak: Melejitkan Dimensi Moral, Intelektual & Spiritual,

(Jakarta: Insiani Press, 2003), cet. ke-3, h. 51 21

Suharsono, Mencerdaskan Anak: Melejitkan Dimensi Moral, Intelektual & Spiritual,

(30)

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. an-Nur: 35)

Melalui wahyu-wahyu yang diturunkan-Nya, baik bersifat tekstual (al-Kitab) maupun alam semesta itu sendiri. “Tetapi bagaimanakah memperdayakan “permata” itu, sangat tergantung pada apakah kita menggosok batunya sehingga bercahaya, atau menutupnya dengan sampah, dapat diibaratkan dengan tindak jahat, potensial, egoisme dan amarah”.22 Psikolog Decon menunjukkan bahwa kita telah menggunakan kecerdasan spiritual secara harfiah untuk menumbuhkan otak manusiawi. Kecerdasan spiritual telah “menyalakan” kita untuk menjadi manusia seperti adanya sekarang dan memberi kita potensi untuk “menyala lagi”, untuk tumbuh dan berubah, serta menjalani lebih lanjut evolusi potensi manusiawi. Kita menggunakan kecerdasan spiritual untuk menjadi kreatif. Kita menghadirkannya untuk menjadi luwes, berwawasan luas, atau spontan secara kreatif.

Kita menggunakan kecerdasan spiritual untuk berhadapan dengan masalah eksistensial yaitu saat kita secara pribadi merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran, dan masalah masa lalu kita akibat penyakit dan kesedihan. Kecerdasan spiritual yang menjadikan kita sadar bahwa kita mempunyai masalah eksistensial dan membuat kita mampu mengatasinya atau setidak-tidaknya bisa berdamai dengan masalah tersebut. Kecerdasan spiritual memberikan kita suatu rasa yang “dalam” menyangkut perjuangan hidup. Kita menggunakan kecerdasan spiritual untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama.23

22

Suharsono, Melejitkan IQ, IE & IS, (Jakarta: Inisiani Press, 2001), cet. ke-1, hlm. 134 23

Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam

(31)

Hidayat Nataatmaja memberikan elaborasi yang sangat menarik berkenaan dengan intelegensi spiritual ini. Menurutnya, evolusi atau lebih tepat disebut pentahapan, intelegensi manusia berlangsung melalui jalur Iqra’, yakni 5 ayat pertama dari surat al-‘Alaq:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Membaca pena Allah mengaktualkan intelegensi spiritual. Sedangkan membaca buku hanya menumbuhkan kemampuan rasional, atau apa yang dikenal sebagai intelegensi rasional. Kecerdasan manusia sangat tergantung pada kemampuannya mengaktualkan intelegensi spiritual. Itulah maka ketika seseorang yang selesai membaca ribuan buku, akan tetapi tidak peduli terhadap pena Allah, seperti alam itu sendiri, fenomena sosial, suasana batin dan eksistensi dirinya sendiri, dianggap al-Qur’an sebagai kaum ahli kitab, atau lebih buruk lagi seperti keledai yang terbebani dengan kitab. Sebaliknya, orang cerdas adalah mereka yang mampu mengapresiasi kehidupan itu sendiri, serta mencari tahu dari jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Mereka inilah orang-orang yang berhasil mengaktualkan intelegensi spiritualnya secara optimal. 24

Personifikasi paling sempurna tipe manusia yang berhasil mengaktualkan intelegensi spiritual adalah Rasulullah Saw. Karena beliau memelihara fitrahnya sendiri secara baik, tanpa mengotorinya dengan perilaku buruk, egoisme dan sebagainya, sehingga fitrah itu menjadi aktual. Dengan fitrah itulah beliau mempresepsi, berinteraksi dan mengatisipasi persoalan-persoalan kehidupan.

24

(32)

Seperti dinyatakan oleh Jalaluddin Rumi, bahwa ada semacam pengetahuan yang didasarkan pada inspirasi Ilahi. Dan karena itu pula ada jenis kecerdasan yang bersumber dari pada-Nya. Pengetahuan inspiratif (Ilahi) lebih berharga daripada pengetahuan mental. Pengetahuan Ilahi tidak bergerak melalui perubahan dan tidak bertentangan dengan dirinya sendiri. Ibaratnya, pengetahuan yang dibentuk oleh kemampuan mental mencukupi buat kulitnya, sementara pengetahuan Ilahi juga mencukupi bagi isi atau substansinya. Itulah maka, orang-orang yang bisa berpikir dan memiliki kecerdasan spiritual dan mengetahui sesuatu secara inspiratif, tidak hanya memahami dan memanfaatkan sebagaimana adanya, tetapi mengembalikannya pada asal ontologisnya, yakni Allah SWT.25

Karena itu orang-orang yang masuk dalam kategori ini, yakni memiliki kecerdasan spiritual, biasanya memiliki dedikasi kerja yang lebih tulus dan jauh dari kepentingan pribadi (egoisme), apalagi bertindak dzalim kepada orang lain. Motivasi-motivasi yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu juga sangat khas, yakni pengetahuan dan kebenaran. Itulah, maka sebagaimana dapat disimak dari sejarah hidup para Nabi dan biografi orang-orang cerdas dan kreatif, biasanya memiliki kepedulian terhadap sesama, memiliki integritas moral yang tinggi, shaleh dan tentu juga integritas spiritual yang tinggi.

Secara umum, kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dengan meningkatkan penggunaan tersier psikologis, yaitu kecenderungan untuk bertanya mengapa, untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu, untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna di balik atau di dalam sesuatu, menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau di luar diri kita, bertangung jawab, lebih sadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri, dan lebih pemberani.26

Karena kecerdasan spiritual berkaitan dengan psikologi seseorang, maka dalam menanggapi segala macam kejadian yang terjadi harus dikembalikan kepada tanggapan dari dalam hati apakah kejadian yang menimpa tersebut terdapat sesuatu yang baik ataukah sebaliknya malah akan berdampak tidak baik.

25

Suharsono, Melejitkan IQ, EQ & IS (Jakarta: Inisiani Press, 2001), cet. ke-1, h. 139 26

Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam

(33)

Berkaitan dengan hal tersebut seseorang harus dapat menjaga agar kecerdasan spiritual tetap terjaga bahkan dapat meningkatkan kecerdasan spiritual. Terdapat tujuh langkah praktis mendapatkan kecerdasan spiritual lebih baik, diantaranya:

a. Menyadari di mana saya sekarang.

b. Merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah.

c. Merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apa motivasi saya yang paling dalam.

d. Menemukan dan mengatasi rintangan.

e. Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju. f. Menetapkan hati saya pada sebuah jalan.

g. Tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.27

Di samping itu Zohar dan Marshall, mengemukakan beberapa indikator dari kecerdasan spiritual yang tinggi, yaitu:

a. Kemampuan untuk menjadi fleksibel b. Derajat kesadaran diri yang tinggi

c. Kecakapan menghadapi dan menggunakan serangan

d. Kecakapan menghadapi dan menyalurkan/memindahkan rasa sakit e. Kualitas untuk terilhami oleh visi dan nilai

f. Enggan melakukan hal yang merugikan

g. Kecenderungan melihat hubungan antar hal yang berbeda (keterpaduan)

h. Ditandai oleh kecenderungan untuk bertanya mengapa, mencari jawaban mendasar.28

Spiritual berhubungan dengan batin atau rohani manusia. “Spiritual adalah proses oleh akal-budi manusia dalam upaya mencapai dan memahami Tuhan yang menciptakannya. Dengan perkataan lain, spiritual adalah proses pencarian jati diri dalam hubungannya dengan sang Pencipta dan berperilaku berdasarkan jati diri tersebut”.29 Karena jika dalam menjalani kehidupan ini tidak pernah memiliki rasa untuk mencari jati diri,

27

Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam

Berpikir…, h. 231 28

Nana Syaodih Sukmadinata, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003), cet. ke-1, h. 98

29

(34)

maka yang ada hanyalah meniti hidup seperti berjalan tanpa arah dan tanpa tujuan, segala tindak tanduknya tidak dapat terkendali.

4. Fungsi Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual adalah “kecerdasan yang bersumber dari jiwa, atau hati nurani yang beroperasi dalam pusat otak manusia. Dalam bahasa ibrani, “hati nurani”, memiliki kata yang sama dengan kata pedoman, yang tersembunyi, kebenaran batin yang tersembunyi dari jiwa”.30

Oleh karena itu fungsi kecerdasan spiritual menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, antara lain:

a. Kecerdasan yang digunakan dalam masalah eksistensial, yaitu ketika kita secara pribadi merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran, dan masalah masa lalu akibat penyakit dan kesedihan.

b. Kecerdasan menjadikan kita sadar bahwa kita memiliki masalah eksistensial dan membuat kita mampu mengatasinya, karena kecerdasan spiritual memberi kita semua rasa yang dalam menyangkut perjuangan hidup.

c. Kecerdasan yang membuat manusia mempunyai pemahaman tentang siapa dirinya dan apa makna segala sesuatu baginya dan bagaimana semua itu memberikan suatu tempat di dalam dunia kepada orang lain dan makna-makna mereka.

d. Kecerdasan spiritual sebagai landasan bagi seseorang untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Karena, kecerdasan merupakan puncak kecerdasan manusia.

e. Kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Sehingga manusia menjadi kreatif, luwes, berwawasan luas, berani, optimis dan fleksibel. Karena ia terkait langsung dengan problem-problem eksistensi yang selalu ada dalam kehidupan.

f. Kecerdasan yang dapat memberikan rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku dibarengi degan pemahaman sampai

30

(35)

batasnya. Karena dengan memiliki kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang bertanya apakah saya ingin berada pada situasi atau tidak. Intinya kecerdasan spiritual berfungsi untuk mengarahkan situasi.

g. Kecerdasan yang dapat menjadikan lebih cerdas secara spiritual dalam beragama. Sehingga seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi tidak berpikiran eksklusif, fanatik, dan berprasangka. 31

Pada hakekatnya, manusia merupakan makhluk yang mencari makna Spiritual Quotient inilah sebagai pusat pemberi makna yang aktif dan menyatukan diri.

Adanya “rasa ber-Tuhan” pada diri manusia itu tidak disikapi sebatas mitos belaka atau gagasan-gagasan spekulatif saja. Fungsi ini mencakup hal-hal yang bersifat supernatural dan religius, yang menurut beberapa penelitian “bersumber” dari dalam otak manusia. Fungsi ini hendak menegaskan bahwa “keberadaan Tuhan” adalah sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan. “Keberadaan Tuhan” sedikitnya, ditampakkan dalam kesempurnaan jalinan “Tuhan” direduksi sampai bentuk seluler persarafan manusia atau tingkat terendah dalam wujud materi sebagaimana diyakini oleh para materialis.32

Dari fungsi kecerdasan spiritual di atas dapat disimpulkan, bahwa kecerdasan spiritual sebenarnya menepis pribadi yang telah terbelah, sebaliknya mengantarkan orang pada pribadi yang utuh, holistic, dan integral (Insan Kamil).

B. KEJUJURAN 1. Arti Jujur

Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran. Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan

31

Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ. Memanfaatkan …, h. 13 32

(36)

seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi”.33 Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harfiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya. Sedangkan menurut Thaddeus B. Clark yang diterjemahkan oleh Sunarsi Sunario mendefinisikan kejujuran dengan arti “menaati peraturan-peraturan yakni persetujuan-persetujuan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur semua perhubungan kita dengan orang-orang lain”.34

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentunya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat) dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial di masyarakat, yang justru kebanyakannya adalah wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti: Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, tidak sakit kok! Jangan nangis, yah!". Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung anak diajarkan dan dilatih

kemampuan untuk dapat "berbohong", menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (supaya tidak menangis).

Selain itu banyak kejadian yang sering dilihat dan dialami seperti: Ketika seseorang bertamu dan ditanya: "Sudah makan, belum?", walaupun tawaran tuan rumah serius biasanya dengan cepat akan menjawab "Oh, sudah, baru saja makan", padahal sebenarnya belum makan. Dalam lingkungan usaha/dagang, kejujuran sering disebut-sebut sebagai modal yang penting untuk mendapatkan kepercayaan. Akan tetapi sangat kontroversial dan lucunya dalam setiap transaksi dagang itulah justru banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh, penjual yang mengatakan bahwa dia menjual barang "tanpa untung" atau "bahkan rugi" hampir bisa diyakini bohong untuk menarik simpati pembeli. Banyak

33

Albert Hendra Wijaya, http://indonesia.siutao.com/tetesan/kejujuran.php, diakses pada tanggal 19 Januari 2010.

34

(37)

kejadian berkaitan dengan nilai-nilai kejujuran yang semakin hari semakin ditinggalkan, itu adalah bentuk dari ketimpangan yang terjadi pada diri karena tidak mampu mendayagunakan dan bahkan belum mampu menerapkan nilai-nilai spiritualitas yang baik.

2. Nilai-nilai Kejujuran

Mencari orang jujur saat ini semakin sulit. Yang banyak ditemui adalah orang yang memiliki kepribadian ganda yaitu kejujuran dan kemunafikan bercampur menjadi satu. Nilai-nilai kejujuran tidak lagi menjadi esensi dan pegangan hidup seseorang, tetapi telah menjadi alat untuk memperjuangkan berbagai kepentingan sempit. Dengan kata lain, kejujuran yang seharusnya menjadi nilai etis yang mewarnai hidup telah tereduksi sekedar menjadi pemanis bibir di dalam kehidupan masyarakat. Sementara prilaku dan tindakan yang dilakukan sebetulnya jauh dari nilai-nilai kejujuran. Kepribadian ganda (split personality) seperti ini telah melahirkan berbagai prilaku menyimpang dalam masyarakat seperti

korupsi, asusila, kriminalitas, kecurangan dan berbagai prilaku lainnya yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Jika ditelusuri lebih jauh, ada beberapa faktor yang menyebabkan kepribadian ganda atau sindrom verbalisme kejujuran ini menguat dalam masyarakat kita, yakni: Pertama, terjadinya pergeseran nilai akibat akulturasi yang berlebihan. Masuknya nilai-nilai modernitas dari luar melalui berbagai media telah merubah gaya hidup masyarakat kita menjadi masyarakat konsumtif, hedonis dan pragmatis. 35

Masyarakat yang konsumtif adalah masyarakat yang cenderung membelanjakan hartanya untuk kebutuhan konsumsi dan hidup mewah. Masyarakat yang hedonis cenderung kepada gaya hidup yang senang-senang dan hura-hura. Sementara kondisi pragmatis dalam masyarakat memperlihatkan gaya hidup yang serba menganggap mudah segala sesuatu (menggampangkan) dan ingin hidup enak dengan cara mudah. Semua gaya

35

(38)

hidup tersebut bisa disingkat dengan bahasa populer “gaya hidup matre”. Ketika sikap seseorang menjadi matre, maka segala cara akan dilakukan untuk memperoleh dan mempertahankan gaya hidup yang demikian, walaupun kondisi tidak mendukung di antarnya dengan melakukan korupsi, dan sebagainya. Gaya hidup matre sering menjadi pemicu lahirnya konflik sosial karena memunculkan kesenjangan dan kecemburuan sosial (social jealousy) di dalam masyarakat. Dalam masyarakat yang demikian, penghargaan sosial lebih ditentukan oleh kedudukan, jabatan dan kekayaan yang dimiliki seseorang, bukan pada nilai-nilai kejujuran.

Kedua, memudarnya peran agama dalam kehidupan masyarakat. Kini, agama cenderung menjadi identitas simbolik semata. Sementara pemahaman, kesadaran, dan pelaksanaan dari ajaran dan nilai-nilai agama itu sendiri menjadi tidak penting. Banyak orang melakukan shalat, mengeluarkan zakat, bahkan melakukan ibadah haji. Tetapi, semua ibadah tersebut hanya menjadi ritual dan simbol sosial yang tidak banyak berdampak pada prilaku sehari-hari yang menyebabkan rendahnya keshalehan seseorang.36

Banyak orang nampak alim dan bagus ibadahnya, tetapi mereka juga melakukan korupsi, manipulasi dan berbagai penyakit masyarakat lainnya. Pola dakwah para ulama, ustadz atau pemuka agama yang kurang inovatif memberi kontribusi pada terjadinya pendangkalan pemahanam agama umat Islam. Pelaksanaan syariat Islam di Aceh malah melahirkan ketidakjujuran dan kemunafikan karena diterapkan secara simbolis dan diskriminatif.

“Ketiga, kegagalan institusi pendidikan dalam melakukan transformasi sosial. Harus diakui, lembaga pendidikan baik formal maupun informal telah gagal mentransformasikan nilai-nilai kejujuran kepada anak didiknya”.37 Budaya jujur jarang diajarkan secara sungguh-sungguh di sekolah, yang terjadi justru sejak dini para pelajar sudah

36

Yusnidur Usman Musa, Sabtu 19 Januari 2008, http://pulapingkui.blogspot.com/ 2008/01/sindrom-verbalisme-kejujuran.html

37

(39)

terbiasa dengan prilaku mencuri dan mencontek dalam ujian. Para guru juga sering melakukan hal yang sama, yakni memberi toleransi terhadap kondisi tersebut. Demikian halnya di perguruan tinggi, di mana kejujuran tidak lagi menjadi pegangan. Pendidikan telah menjadi sarana bersaing memperebutkan masa depan secara tidak sehat. Ketidakjujuran yang sudah diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan secara langsung maupun tidak langsung telah berkontribusi pada lahirnya sindrom verbalisme kejujuran di masyarakat kita.

“Keempat, hilangnya keteladhanan di dalam masyarakat. Semakin langkanya orang jujur di dalam masyarakat menyebabkan terjadinya krisis keteladanan”.38 Masyarakat menjadi tidak punya panutan untuk diikuti, yang menyebabkan kesadaran kolektif masyarakat untuk menggunakan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bersama menjadi lemah. Tidak adanya panutan membuat masyarakat mencari panutan dari luar, yang berdampak pada terjadinya krisis identitas dalam masyarakat. Para muda-mudi lebih suka menjadikan artis-artis Hollywood atau artis sinetron sebagai panutan

gaya hidup. Sementara memperkenalkan Rasulullah dan para Sahabat sebagai panutan justru kurang diminati karena tokoh-tokoh masyarakat sendiri prilaku dan gaya hidupnya jauh dari teladhan Rasulullah dan para sahabat. Itulah salah satu dampak krisisnya keteladhanan yang diberikan oleh anggota keluarga sehingga berdampak luas terhadap tokoh yang dijadikan panutan dalam berperilaku sehari-hari.

C. KERANGKA BERFIKIR

Masalah-masalah spiritual kurang mendapat perhatian serius dari para konseptor pendidikan dan pemerhati pendidikan lainnya selama ini, bahkan sepertinya para tokoh dan akademisi pendidikan cenderung meremehkan pengaruh spiritualitas dalam kehidupan belajarnya, kaum akademisi saat ini seakan-akan meyakini otaknya sebagai satu-satunya kekuatan yang paling

38

(40)

dominan dalam pembelajaran. Padahal itu juga belum tentu yang terbaik. “Jika spiritualitas dibedah secara benar dan terimplementasi dalam kehidupan pseserta didik, maka akan dengan sendirinya peserta didik tersebut akan menjadi baik. Harusnya semua orang yang ada di institusi kependidikan mengkaji hal ini secara serius. Sehingga pengaruhnya terhadap diri peserta didik dan belajarnya dapat diketahui”.39

Menurut penulis, gagalnya pendidikan lebih disebabkan gagalnya institusi pendidikan mendidik moral dan menciptakan kepribadian yang baik. Maka penulis menganggap penting sekali melihat dimensi spiritual untuk dikaitkan dengan pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Kekuatan spiritual sebagai moral effect yang sangat penting guna memotivasi belajar, menerapkan nilai-nilai kejujuran, dan lebih-lebih dalam keberhasilan pembelajaran. Untuk itulah, penulis mengangkat spiritualitas sebagai narasi besar. Karena hal tersebut sangat krusial dan berpengaruh pada dimensi pendidikan, khususnya penerapan nilai-nilai kejujuran dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, kajian skripsi ini akan mencoba membedah sesuatu yang disebut sebagai gunungnya ilmu oleh Igo Ilham. Sebagai unsur terdalam yang terbenam dan paling kuat pengaruhnya terhadap gerak control action manusia. Kekuatan ini dibuktikan ada, dan masuk dalam salah satu kategori kecerdasan, yang tentunya dapat dipelajari, diasah, dan dipertajam sebagaimana kecerdasan-kecerdasan yang lain. Orang-orang menyebutnya dengan sebutan kecerdasan spirtitual atau Spiritual Quotient (SQ).

D. PENGAJUAN HIPOTESIS

Penulis memandang perlu untuk dapat memberikan gambaran tentang dugaan serta jawaban sementara dari cara-cara pemecahan permasalahan yang ada pada peneltian ini. Dugaan sementara penelitian ini berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan adalah sebagai berikut: Hipotesis Alternatif (Ha):

39

(41)
(42)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat yang dijadikan objek penelitian adalah MTs Daarul Hikmah

yang berlokasi di Jl. Surya Kencana No. 14 Pamulang – Tangerang. Penulis

mengadakan penelitian dari mulai tanggal 19 Juli sampai 01 Agustus 2010.

B. Variabel Penelitian

Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Suharsimi Arikunto bahwa

“variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu

penelitian”.1 Variabel penelitian ini adalah kecerdasan spiritual dan

pengaruhnya terhadap nilai-nilai kejujuran siswa dalam proses pembelajaran

agama Islam di MTs Daarul Hikmah Pamulang. Variabel ini mengkaji dua

variabel, yaitu pengaruh kecerdasan spiritual sebagai variabel bebas (variabel

X) dan nilai-nilai kejujuran siswa sebagai variabel terikat (variabel Y).

C. Metode Penelitian

Metodologi Penelitian adalah “strategi umum yang dianut dalam

mengumpulkan dan menganlisa data yang diperlukan guna menjawab

persoalan yang dihadapi”.2

1

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), cet. Ke-13, hlm. 118

2

Arif Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hlm. 50

(43)

Metode penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian deskriptif kuantitatif. “Penelitian deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi

tentang arti data tersebut”.3 Tujuan menggunakan statistik guna menjawab

permasalahan yang ada atau tidaknya hubungan kedua variabel yang diteliti

dan diprediksi tentang berapa besar kontribusi variabel bebas terhadap

variabel terikat.

Sedangkan jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini

adalah korelasional yang bertujuan untuk mencari hubungan antara dua variabel dan menjelaskan hasil penelitian secara deskriptif. Hal ini agar

penulis dapat memperoleh data yang lengkap dan gambaran mengenai

keadaan yang sebenarnya dari objek yang diteliti, yaitu gambaran tingkat

kecerdasan spiritual dan nilai-nilai kejujuran siswa. Dalam teknik penulisan,

penulis mengacu pada buku Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan oleh

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta tahun 2007.

D. Populasi dan Sampel

Populasi dan sampel merupakan unsur terpenting dalam suatu

penelitian. Yang dimaksud dengan populasi adalah ”keseluruhan subjek

penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam

wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi”.4

Populasi adalah ”unit tempat diperolehnya informasi. Elemen tersebut

bisa berupa individu, keluarga, rumah tangga, kelompok sosial, sekolah, kelas,

organisasi, dan lain-lain. Dengan kata lain populasi adalah kumpulan dari

sejumlah elemen”.5 Dalam penelitian ini yang menjadi populasi target adalah

seluruh siswa dan siswi MTs Daarul Hikmah Pamulang angkatan 2009/2010

3

Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah dasar Metode Teknik, (Bandung: Tarsito, 1998), Ed. 8, hlm. 139

4

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta : Rineka Cipta, 1998), cet. ke-11, hlm. 115

5

Figur

Tabel. 1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian
Tabel. 1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian p.45
Tabel. 2 Penafsiran Prosentase
Tabel. 2 Penafsiran Prosentase p.47
tabel dibawah ini:

tabel dibawah

ini: p.49
Tabel. 4 Profil MTs Daarul Hikmah Pamulang
Tabel. 4 Profil MTs Daarul Hikmah Pamulang p.54
Tabel. 5 Jumlah Guru, Tata Usaha dan Karyawan
Tabel. 5 Jumlah Guru, Tata Usaha dan Karyawan p.55
Tabel. 6 Keadaan Siswa Semester Genap MTs Daarul Hikmah Pamulang
Tabel. 6 Keadaan Siswa Semester Genap MTs Daarul Hikmah Pamulang p.57
Tabel. 7 Berkaitan dengan Keimanan
Tabel. 7 Berkaitan dengan Keimanan p.58
Tabel. 8
Tabel. 8 p.59
Tabel. 9
Tabel. 9 p.61
Tabel. 10
Tabel. 10 p.62
Tabel tersebut menunjukkan bahwa jawaban siswa terhadap

Tabel tersebut

menunjukkan bahwa jawaban siswa terhadap p.63
Tabel. 11
Tabel. 11 p.64
Tabel. 12
Tabel. 12 p.66
Tabel. 13
Tabel. 13 p.67
Tabel. 14
Tabel. 14 p.69
Tabel No. 5 dan 6 menunjukkan jawaban siswa yang membiarkan

Tabel No.

5 dan 6 menunjukkan jawaban siswa yang membiarkan p.70
Tabel. 16
Tabel. 16 p.71
Tabel. 17
Tabel. 17 p.74
Tabel Nilai Koefisien Korelasi “r” Product Moment Dari Pearson untuk Berbagai df.

Tabel Nilai

Koefisien Korelasi “r” Product Moment Dari Pearson untuk Berbagai df. p.92

Referensi

Memperbarui...