ANALISA PERTANGGUNG JAWABAN PENYIDIK POLRI
DALAM KAITAN TERHADAP TERJADINYA SALAH
TANGKAP ATAU ERROR IN PERSONA
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Oleh :
080200266
YESSI KURNIA ARJANI MANIK
Departemen Hukum Pidana
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
MEDAN
ANALISA PERTANGGUNG JAWABAN PENYIDIK POLRI
DALAM KAITAN TERHADAP TERJADINYA SALAH
TANGKAP ATAU ERROR IN PERSONA
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Oleh
080200266
Yessi KurniaArjani Manik
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
Disetujui oleh:Ketua Departemen Hukum Pidana
Nip.195703261986011001 Dr. M. Hamdan, SH. M.Hum
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Liza Erwina, S.H., M.Hum
Nip. 19611024198903200 Nip. 197404012002121001 Dr. Mahmud Mulyadi, S.H., M.Hum
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Yessi Kurnia Arjani manik * Liza Erwina**
Mahmud Mulyadi***
Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah salah satulembaga penegak hukum yang berfungsi melakukan tindakan pencegahan terhadap terjadinya kejahatan dan memberikan perlindungan terhadap seluruh masyarakat. Dalam pelaksanaan hukum pidana dan hukum acara pidana tindakan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian sebagai langkah awal dalam proses penegakan hukum.
Permasalahan yang diikemukakan dalam skripsi ini adalah adalah Bagaimana fungsi Polri dalam penegakan hukum, penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum serta Bagaimana pertanggungjawaban penyidik Polri terhadap terjadinya salah tangkap atau error in persona.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan metode pendekatan kualitatif. Penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang menggunakan bahan pustaka atau data sekunder yang diperoleh dari berbagai literatur, peraturan perundang-undangan dan menganalisis putusan pengadilan negeri, dihubungkan dengan pendekatan kualitatif dilakukan dengan mewawancarai instansi pemerintah terkait yang dapat membantu memecahkan permasalahan dalam skripsi ini.
Penyidik sebagai salah satu aparat penegak hukum yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk menegakkan hukum, sehingga tugas dan wewenang yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dibentuknya lembaga penegak hukum. Pengawas penyidik dalam hal ini berwenang dalam memberikan pengawasan terhadap penyidik yang apabila jika terjadi penyalahgunaan wewenang melakukan penyidikan, sehingga dapat diberikan Sanksi terhadap penyidik dalam melakukan kesalahan dalam prosedur penangkapan merupakan suatu pelanggaran yang dilakukan oleh penyidik dalam melakukan tugas dan wewenangnya.
Penyidik Polri sebagai penegak hukum diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat. Masyarakat pada umumnya mengharapkan sosok penegak hukum yang benar-benar dapat menciptakan keadilan bagi mereka. Penyidik polisi adalah transparansi proses penyidikan tindak pidana, hal ini disebabkan karena banyak nya laporan atau pun komplain dari masyarakat mengenai masalah penyidikan Polri. Realisasi yang ingin dicapai tentu saja mengarah pada sosok penyidik yang mampu dapat melaksanakan proses penyidikan dengan cepat dan profesional.
Kata kunci : polri, penyidik penyidik, salah tangkap
* Penulis, Mahasiswa Departemen Hukum Pidana Universitas Sumatera Utara
** Pembimbing I, Staf Pengajar Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta
alam serta tak lupa shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW.
Skripsi ini berjudul : “PERTANGGUNGJAWABAN PENYIDIK POLRI
TERHADAP TERJADINYA SALAH TANGKAP ATAU ERROR IN PERSONA
BERDASARKAN KUHAP DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002”.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam rangka
memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari
berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kehadirat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW yang dengan berkat dan
rahmat-Nya memberikan kesehatan, petunjuk, dan kelapangan berpikir kepada
penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Kedua Orangtuaku tercinta, yang tiada hentinya mendoakan, menemani,
mengasihi, dan memberikan dukungan serta semangat pantang menyerah
kepada penulis.
3. Saudara Kandungku, Umi Chairani Manik S.farm.,apt kakak yang juga
sedang berjuang untuk mendapatkan gelar masternya, Abangku Syukri
Abdullah Manik S.T, dan adik-adikku Winda Imoyati Manik, Rachmi Lolo
Maya Manik, yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya,
4. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H. M.Hum. selaku Dekan FH USU, Bapak Prof.
Dr. Runtung S.H. M.Hum. selaku Pembantu Dekan I, Bapak Syafruddin S.H.
M.Hum.D.F.M. selaku Pembantu Dekan II, dan Bapak Husni S.H. M.Hum.
selaku Pembantu Dekan III.
5. Bapak Dr. M. Hamdan S.H. M.Hum. selaku Ketua Departemen Hukum
Pidana.
6. Ibu Liza Erwina S.H. M.Hum,selaku Sekretaris Departemen Hukum Pidana
dan Dosen Pembimbing I
7. Bapak Dosen Pembimbing II Dr. Mahmud Mulyadi, S.H. M.Hum., penulis
berterimakasih yang sebesar-besarnya atas bimbingan dan arahan selama ini.
8. Bapak Dosen Pembimbing Akademik Prof. Dr.Bismar Siregar, S.H. M.Hum.,
9. Para Narasumber bapak J. Pakpahan, J. Sirait selaku Wassidik Kanit I dan
Kanit II di Polda Sumatera Utara penulis berterimakasih banyak atas
informasi yang diberikan.
10.Seluruh staf pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang
telah memberikan banyak ilmu pengetahuan selama perkuliahan.
11.Seluruh staf dan pegawai pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
12.Sahabat Seperjuangan, Zola Sondra Siregar, Ainul Mardiah S.H, Noni
Hardiyanti S.H, Rendi Kurniawan, Haris Fadhillah, Jefrianto Sembiring S.H,
Samuel S.H, Hisar Simanjuntak, Wulans, Samuel Nainggolan, Meta Permata
membutuhkan bantuan, memberi semangat untuk menyelesaikan skripsi ini,
penulis sangat menghargai dan bangga memiliki kalian semua.
13.Kak Maya Barus S.H.,M.H dan Sari Mariska Siregar S.H yang tak
bosan-bosannya membuka pintu rumah untuk berdiskusi dan memberikan masukan
untuk melengkapi bahan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
14.Junior ku Julia Agnetha Barus S.H, Sharin Alfi, Lia Hartika, Jojo, Adri
Hariadi, Iswanda, yang selalu mendoakan serta memberi motivasi-motivasi
yang dapat menghibur penulis.
15.Teman sejurusan, dan Para Senior, teman Satu Angkatan 2008 , maupun para
junior semuanya yang tidak dapat disebut satu persatu, yang terkadang tiada
henti menanyakan kabar skripsi daripada kabar penulis sendiri, tetapi
menjadikan motivasi bagi penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
16.Orang-orang yang telah banyak membantu penulis baik selama perkuliahan
maupun selama penulisan skripsi.
Saya sadari skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna, sehingga penulis
dengan senang hati menerima kritik dan saran. Demikianlah penulis sampaikan,
kiranya skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi masyarakat.
Medan, 11 April 2013 Hormat Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAKSI ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI . ... v
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 11
C. Tujuan Penulisan ... 12
D. Manfaat Penulisan ... 12
E. Keaslian Penulisan ... 13
F. Tinjauan Kepustakaan ... 13
G. Metode Penelitian... 22
H. Sistematika Penulisan ... 25
BAB II FUNGSI POLRI dalam PENEGAKAN HUKUM ... 27
A. Tugas dan Fungsi Polri secara Umum ... 27
B. Tugas dan fungsi Polri dalam Penegakan Hukum ... 36
BAB III PERTANGGUNGJAWABAN PENYIDIK POLRI TERHADAP TERJADINYA SALAH TANGKAP ATAU ERROR IN PERSONA BERDASARKAN KUHAP DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002
A. Pertanggungjawaban Penyidik Polri terhadap Terjadinya Salah Tangkap atau
Error In persona Berdasarkan KUHAP dan UU No. 2 Tahun 2002 ………. 90
B. Prosedur teknis proses Praperadilan sebagai upaya pertanggungjawaban
penyidik terkait kasus salah tangkap di Polda Sumatera Utara Tanjung
Morawa ……….123
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan……….... 161
B. Saran……….. 162
ABSTRAK
Yessi Kurnia Arjani manik * Liza Erwina**
Mahmud Mulyadi***
Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah salah satulembaga penegak hukum yang berfungsi melakukan tindakan pencegahan terhadap terjadinya kejahatan dan memberikan perlindungan terhadap seluruh masyarakat. Dalam pelaksanaan hukum pidana dan hukum acara pidana tindakan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian sebagai langkah awal dalam proses penegakan hukum.
Permasalahan yang diikemukakan dalam skripsi ini adalah adalah Bagaimana fungsi Polri dalam penegakan hukum, penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum serta Bagaimana pertanggungjawaban penyidik Polri terhadap terjadinya salah tangkap atau error in persona.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan metode pendekatan kualitatif. Penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang menggunakan bahan pustaka atau data sekunder yang diperoleh dari berbagai literatur, peraturan perundang-undangan dan menganalisis putusan pengadilan negeri, dihubungkan dengan pendekatan kualitatif dilakukan dengan mewawancarai instansi pemerintah terkait yang dapat membantu memecahkan permasalahan dalam skripsi ini.
Penyidik sebagai salah satu aparat penegak hukum yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk menegakkan hukum, sehingga tugas dan wewenang yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dibentuknya lembaga penegak hukum. Pengawas penyidik dalam hal ini berwenang dalam memberikan pengawasan terhadap penyidik yang apabila jika terjadi penyalahgunaan wewenang melakukan penyidikan, sehingga dapat diberikan Sanksi terhadap penyidik dalam melakukan kesalahan dalam prosedur penangkapan merupakan suatu pelanggaran yang dilakukan oleh penyidik dalam melakukan tugas dan wewenangnya.
Penyidik Polri sebagai penegak hukum diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat. Masyarakat pada umumnya mengharapkan sosok penegak hukum yang benar-benar dapat menciptakan keadilan bagi mereka. Penyidik polisi adalah transparansi proses penyidikan tindak pidana, hal ini disebabkan karena banyak nya laporan atau pun komplain dari masyarakat mengenai masalah penyidikan Polri. Realisasi yang ingin dicapai tentu saja mengarah pada sosok penyidik yang mampu dapat melaksanakan proses penyidikan dengan cepat dan profesional.
Kata kunci : polri, penyidik penyidik, salah tangkap
* Penulis, Mahasiswa Departemen Hukum Pidana Universitas Sumatera Utara
** Pembimbing I, Staf Pengajar Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai salah satu lembaga
penyelenggaraan tugas dan fungsi pemerintahan dalam melaksanakan tugas dan
fungsi nya juga harus berdasarkan legitimasi hukum yang berlaku. Dimana fungsi
utama dari polisi adalah menegakkan hukum dan melayani kepentingan masyarakat
umum. Sehingga dapat dikatakan bahwa tugas polisi adalah melakukan pencegahan
terhadap kejahatan dan memberikan perlindungan kepada masyarakat.1
1. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.
Polisi adalah hukum yang hidup. Melalui polisi janji-janji dan tujuan-tujuan
hukum untuk mengamankan serta melindungi masyarakat menjadi kenyataan.
Perincian tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia, misalnya membuktikan hal
tersebut, diantaranya yaitu:
2. Memelihara keselamatan orang, benda dan masyarakat, termasuk memberi
perlindungan dan pertolongan.
3. Memelihara keselamatan Negara terhadap gangguan dari dalam.
4. Mencegah dan memberantas menjalarnya penyakit-penyakit masyarakat.
5. Mengusahakan ketaatan warga Negara dan masyarakat terhadap
peraturan-peraturan Negara.
1
Mahmud Mulyadi, Kepolisian dalam sistem peradilan pidana, USU press,
Perincian tugas-tugas polisi sebagaimana yang tertera diatas, mencapai dan
memelihara ketertiban merupakan tugas pokok yang harus dilakukan oleh polisi.
Persoalan mulai timbul pada saat dipertanyakan dengan cara bagaimanakah tujuan
tersebut hendak dicapai. Ternyata pekerjaan kepolisian tersebut hanya boleh
dijalankan dengan mengikuti dan mematuhi berbagai pembatasan tertentu. Salah satu
dari pembatasan-pembatasan tersebut adalah hukum. Polisi ditugasi untuk
menciptakan dan memelihara ketertiban dalam kerangka hukum yang berlaku.2
Disepakati atau tidak sebenarnya polisi adalah pekerja sosial berseragam,
tidak dapat disangkal bahwa mereka menyediakan sesuatu yang dalam arti luas dapat
disebut sebagai pelayanan sosial bagi masyarakat yang menjadi tanggung jawab
mereka. Jelas, hanya sebagian kecil dari kerja rutin aparat kepolisian harus mengarah Kepolisian dalam Undang-undang No. 2 tahun 2002 merupakan sebagai alat negara
yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan
hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Kepolisian dalam
undang-undang tersebut juga disebutkan mempunyai tujuan untuk mewujudkan
keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban
masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan,pengayoman,
dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan
menjunjung tinggi hak asasi manusia.
2
kepada mencegah, menjawab, dan menangani kejahatan. Sebenarnya jasa yang
mereka berikan, entah berkaitan dengan kejahatan atau tidak, merupakan suatu
bentuk layanan jasa sosial. Namun lebih jauh, dalam konteks kerja kepolisian, polisi
harus berurusan dengan sederet pemberi jasa lainnya yang luas, mulai dari biro
layanan keluarga dan anak-anak hingga dinas pekerjaan umum yang menyangkut
pengumpulan sampah dan kondisi jalan. Bukan hal yang aneh jika tiba-tiba polisi
harus menengahi penculikan anak, menangani pertikaian suami-istri, perkelahian
antar tetangga, dan kasus-kasus depresi serta bunuh diri yang kondusif bagi
kerjasama yang lebih besar dengan biro jasa sosial. Diantara kegiatan mereka, aparat
kepolisian harus tiba-tiba berurusan dengan pemberi jasa lain, atau dalam beberapa
kasus, berhadapan dengan masalah pencegahan kejahtan yang barangkali lebih
beresiko, misalnya yang menyangkut orang-orang jompo atau manula atau pemabuk,
keduanya memerlukan kepekaan yang berbeda antara calon korban dan calon
pelanggar.3
Polisi pada hakekatnya dihadapkan kepada suatu situasi konflik dan polisi
bertugas untuk mengambil keputusan. Apabila pada akhirnya polisi bertindak, maka
pada saat tersebut polisi telah melakukan suatu yang menguntungkan atau melindungi
salah satu pihak dalam konflik, tetap dengan melawan, mengalahkan “merugikan”
pihak yang lain, tetapi sulit juga untuk mengharapkan, polisi selalu akan
mempertimbangkan dengan masak-masak segala segi etis dan moral. Untuk itu, maka
3
polisi tidak hanya harus berbuat sebagai seorang polisi, melainkan juga seorang
filosofi.4
Penyelidikan merupakan tindakan, bukanlah suatu tindakan atau fungsi yang
berdiri sendiri, terpisah dari fungsi penyidikan. Penyelidikan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari fungsi penyidikan. Penyelidikan merupakan salah satu cara
atau metode atau sub fungsi penyidikan yang mendahului tindakan lain, yaitu
penindakan yang berupa penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan,
pemeriksaan surat, pemanggilan, tindakan pemeriksaan dan penyerahan berkas
kepada penuntut umum.
Kepolisian Berdasarkan undang Nomor 8 tahun 1981 Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) diberikan kewenangan dalam hal
melaksanakan tugas sebagai penyelidik dan penyidik.
5
Berdasarkan kewenangan Aparat Kepolisian sebagai penyelidik dan penyidik
dalam membantu memperlancar proses penyidikan maka seorang aparat kepolisian
juga berwenang untuk melakukan Penangkapan, yaitu Wewenang yang diberikan
kepada penyidik khusus nya yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana sangatlah luas.
Bersumber dari wewenang tersebut,penyidik berhak mengurangi kebebasan dan hak
asasi seseorang, selama masih berpijak pada suatu landasan hukum yang sah. Salah
satu wewenang untuk melakukan penangkapan terhadap tersangka pelaku tindak
4
Satjipto Rahardjo, Op.Cit. halaman 113-117 5
pidana. Aparat kepolisian juga berwenang melakukan Penahanan,yang merupakan
salah satu bentuk perampasan kemerdekaan bergerak seseorang, sehingga penahanan
merupakan suatu kewenangan penyidik yang sangat bertentangan dengan hak asasi
manusia.6 Penahanan berkaitan erat dengan penangkapan karena seorang tersangka
pelaku tindak pidana yang setelah ditangkap dan memenuhi persyaratan sebagaimana
telah ditentukan oleh Undang-undang, baru dapat dikenakan penahanan guna
kepentingan pemeriksaan. Jadi penangkapan merupakan langkah awal dari
perampasan kemerdekaan tersangka atau terdakwa.7
Aparat penegak hukum adalah manusia biasa, yang tidak terlepas dari
perbuatan khilaf dan salah. Penangkapan atau penahanan yang sebetulnya dilakukan
dengan tujuan untuk kepentingan pemeriksaan demi tegaknya keadilan dan ketertiban
dalam masyarakat, ternyata kadang-kadang dilakukan terhadap orang yang tidak
bersalah atau kadang-kadang dilakukan melampaui batas waktu yang telah
ditentukan, sehingga tersangka/ terdakwa menderita lahir bathin akibat sikap tindak
para aparat penegak hukum tersebut. Sudah tentu ini merupakan pelanggaran
terhadap hak asasi manusia.8
Seseorang ditangkap, ditahan, kemudian diadili diforum pengadilan dengan
kekuasaan yang diberikan hukum (khususnya aturan tertulis) mengandung resiko
bahwa, semakin bebas aparatur hukum melaksanakan tugas (kewenangan ) yang
6
Mahmud Mulyadi, Op.cit, halaman 20 7
Ratna Nurul Afiah, Praperadilan dan ruang lingkupnya, Akademika Pressindo, Jakarta, 1986, halaman 35-36
8
ditentukan aturan formal (tidak luwes), semakin besar kemungkinan terjadi
pelanggaran (penyelewengan/penyimpangan), karena pada dasarnya aturan (itu
sendiri) merupakan “musuh tersembunyi”( a hidden enemy). Hal demikian membawa
konsekuensi (semacam tuntutan), perlu kehati-hatian dalam menerapkan aturan,
karena aturan seringkali bias terutama apabila berjalan melalui proses penafsiran.9
Salah satu solusi yang rasional dan realistis adalah apabila kata ‘permulaan
dalam ketentuan tersebut dihilangkan. Dengan demikian nya ada tercipta suatu
kepastian dalam melakukan proses penangkapan, sebagaimana yang telah diterapkan
dalam hukum acara pidana Amerika yang menentukan bahwa untuk melakukan
tindakan penangkapan atau penahanan harus didasarkan atas affidavit and testimony
yakni harus berdasarkan adanya bukti dan kesaksian .
Tindakan penangkapan sebagai pegangan, baru dapat dilakukan oleh
penyidik apabila seseorang itu: “diduga keras melakukan tindak pidana, dan dugaan
itu didukung oleh permulaan bukti yang cukup”. Pembuat Undang-undang
menyerahkan sepenuhnya kepada penilaian penyidik. Akan tetapi, sangat disadari
cara penerapan yang demikian, bisa menimbulkan “kekurangpastian”dalam praktek
hukum serta sekaligus membawa kesulitan bagi praperadilan untuk menilai tentang
ada atau tidak permulaan bukti yang cukup.
10
Penangkapan tidak boleh dilakukan terhadap tersangka tindak pidana
pelanggaran sebagaimana yang telah ditentukan dalam Pasal 19 ayat 2 KUHAP,
9
Anton F. Susanto, Wajah Peradilan Kita, PT. Refika Aditama, Bandung, 2004, Halaman 6-7 10
namun apabila tersangka tindak pidana pelanggaran tidak memenuhi panggilan
penyidik selama 2 (dua) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah maka tersangka
dapat ditangkap dan dibawa ke kantor polisi dengan paksa untuk dilakukan
pemeriksaan.
Menurut ketentuan Pasal 21 ayat 4 KUHAP tidak semua tersangka tindak
pidana pelanggaran tidak dapat ditangkap dan ditahan karena menurut ketentuan ini
penahanan dapat dilakukan terhadap tersangka pelaku percobaan tindak pidana dan
terhadap orang yang memberi bantuan untuk terjadinya suatu tindak pidana.
Setiap dalam melakukan tugasnya, Polisi (dalam hal ini adalah penyidik) harus selalu
bertindak berdasarkan peraturan Perundang-undangan yang berlaku sehingga tidak
boleh melakukan sesuatu hanya dengan sewenang-wenang saja dan tidak boleh
melanggar hak asasi manusia, sebagaimana yang tercantum didalam Pasal 1 ayat (1)
KUHP menyatakan “ tiada suatu perbuatan yang dapat dihukum, kecuali berdasarkan
ketentuan pidana menurut Undang-undang yang telah ada terlebih dahulu daripada
perbuatannya itu sendiri.11
Pelaksanaan wewenang sebagai bentuk pelayanan terhadap masyarakat yang
dilakukan oleh aparatnya terkadang terjadi penyimpangan tindakan anggota Polri dari
yang seharusnya dengan menyalahgunakan kewenangan yang diberikan. Padahal
Polisi yang sehari-hari dihadapkan pada tugas yang tak menentu dan berhadapan
11
langsung dengan masyarakat, sangat mutlak memiliki kestabilan emosi dan
berprilaku baik kepada masyarakat.12
Salah satu contoh Korban salah tangkap di Jakarta,yang dianiaya oleh oknum
kepolisian Polres Tangerang Kabupaten, Ujang A. Melalui kuasa hukumnya
mengatakan telah ditangkap untuk kasus yang kejahatan yang tidak dilakukan,
kemudian dianiaya oknum polisi dan tidak bertanggungjawab atas perbuatan itu.
"Sampai saat ini tidak ada itikad baik dari kepolisian terkait salah tangkap ini," jelas
kuasa hukum korban. Kuasa hukum korban menjelaskan bahwa Ujang diperlakukan
bak tahanan selama 12 hari. Ia ditangkap, dipaksa mengaku, dianiaya kemudian
dilepas kemudian diajak belanja beli baju lalu diberi uang Rp1 juta. "Keadilannya
dimana, sudah dituduh yang tidak benar, disiksa, lalu sadar telah salah menangkap,
klien dikeluarkan begitu saja tanpa kata maaf dan surat perintah perhentian
penyidikan (SP3)," paparnya. Ujang K sudirman, sehari-harinya bekerja sebagai
Kepolisian terutama Polri nyatanya sebagai penyidik yang memiliki
kewenangan dalam menangani setiap tindak pidana. Sebagaimana fenomena yang ada
sekarang tentang Kepolisian Republik Indonesia banyak dijumpai kejanggalan-
kejanggalan dalam hal penyidikan yang melampaui dari batas-batas kewenangannya,
seperti dalam tahap awal pemeriksaan yang seringkali tidak sesuai dengan prosedur
yang telah diatur oleh peraturan perundang-undang yang ada. Penyimpangan
pelanggaran hak asasi manusia terkadang terjadi didalam prakteknya.
12
tukang ojek. Ia sendiri dituduh terlibat kasus pencurian brankas berisi uang tunai Rp.
80 juta dan surat-surat berharga di rumah Mintarja, warga Perumahan Citra Raya,
Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang.13
Menurut laporannya itu, mereka meminta agar pemerintah menindak aparat
yang menangkap suaminya Ang Ho dan Sun An karena dituduh sebagai otak
pembunuhan di Medan, Sumatera Utara. Tidak hanya ditangkap, korban juga
mengalami kekerasan fisik dan seksual saat menjalani pemeriksaan.Sia Kim Tui
ditangkap bersama suaminya saat berada di Hotel JW Marriot. Sedangkan Sumiyati
ditahan kesesokan harinya di Kisaran, Sumatera Utara. Keempatnya dibawa ke ruang
tahanan Mako Brimob Medan, Polsek Medan Timur dan Polresta Medan."Saya dan
suami Sun An ditangkap polisi tanpa surat penangkapan. Saat di tahanan, saya
mendengar suami berteriak karena disiksa. Saya juga diancam intel dan penyidik
berjumlah 10 orang untuk mengakui suami saya otak pelaku pembunuhan," ujar Sia
Kim di Wantimpres, Jakarta, Selasa (23/10).
Akibat berada di bawah ancaman sejumlah penyidik, Sun An terpaksa mengakui Medan Sumatera Utara, juga ada terdapat kasus salah tangkap Sumiyati dan
Sia Kim Tui, istri korban salah tangkap melaporkan kasus kekerasan dan intimidasi
aparat kepolisian ke Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Ditemani aktivis
KontraS Usman Hamid, mereka diterima secara langsung oleh anggota bidang
Hukum Albert Hasibuan.
13
perbuatan yang belum pernah dia lakukan dan menandatangani BAP. Saat
menandatangani, Sun An tidak didampingi pengacara yang ditunjuk
pemerintah."Selama pemeriksaan, penyidik meminta uang sebesar Rp 12 juta, lalu
minta lagi Rp 20 juta. Total ada Rp 30 juta. Ketika di tahanan, HP dan kartu ATM
suami diambil dan diminta nomor PIN, di sana mereka mengambil semua uang
tabungan yang jumlahnya Rp 50 juta," Sia Kim nada kesal.Tidak selesai di sana,
salah satu penyidik bernama Aiptu Baharuddin yang memeriksa suaminya
mengirimkan surat yang ditandatangai atas namanya. Surat itu berisi permintaan
Baharuddin agar suami maupun keluarga memberikan bantuan untuk dapat
membangun rumah tinggal.Dalam pemeriksaan di pengadilan, keduanya diputus
bersalah dan dihukum seumur hidup, lebih tinggi dari tuntutan JPU selama 20 tahun
penjara."Padahal BAP sudah dibatalkan, tapi hakim pengadilan negeri dan tinggi
Medan menutup mata," sahut Edwin.Terkait pengalaman itu, dengan bantuan dari
kuasa hukum dan KontraS, keluarga melaporkan kejadian yang mereka alami melalui
Propam Mabes Polri, Kompolnas, Komisi Yudisial dan Wantimpres. Mereka
berharap agar mendapatkan keadilan dari peristiwa yang mereka alami.14
Terjadinya salah tangkap terhadap orang-orang yang tidak sama sekali
bersalah, bahkan lebih dari sekedar penangkapan, orang yang tidak bersalah tersebut
terkadang mau tidak mau harus merasakan pahitnya penahanan dengan kurungan,
menghadapi hukuman yang sama sekali tidak diperbuat oleh korban. Hal ini sudah
14
pasti mengalami mental dan fisik yang negatif pula bagi si korban, selain mendapati
kerugian-kerugian besar bagi keluarga korban salah tangkap tersebut yang sebagian
merupakan tulang punggung bagi kehidupan keluarganya selama ini, kemudian pada
akhirnya di ketahui terjadinya kesalahan Penyidik Polri dalam melakukan tugasnya
sebagai penegak hukum, tetapi hanya dengan membebaskan atau meminta maaf
kepada korban salah tangkap tanpa melihat kerugian-kerugian yang diterima si
korban. Hal tersebut sudah jelas tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang
diperbuat oleh Polri sebagai penyidik.
Aparatur harus mampu mengoptimalkan fasilitas, kinerja yang ditopang oleh
sikap mental agar hasil optimal, dan suasana kondusif dapat diwujudkan. Hal ini
dapat menjadi umpan balik yaitu sebagai bentuk pengendalian diri sekaligus
mekanisme tanggung jawab (akuntabilitas) peradilan yang selama ini sulit dipastikan.
Sangat tidak bijaksana dan memperlihatkan rentannya persoalan apabila seorang
(pejabat peradilan), atau kelompok tertentu yang memiliki kekuasaan (dalam sebuah
birokrasi) melakukan tindakan (pelanggaran hak asasi) yang merugikan (tersangka
atau masyarakat umum), terlebih jika tindakan tersebut dilakukan dengan dalih atau
dasar sebuah aturan yang mendukung. Etika, akuntabilitas pejabat dan
professionalitas merupakan kunci utama yang mampu membawa peradilan kepada
model pelayanan manusiawi, karena peradilan harus memanusiakan manusia sebagai
manusia dan bukan mesin atau objek pasif yang rigid serta tertutup.15
15
Untuk itu saya ingin mengetahui secara lebih jelas bagaimana upaya-upaya
dan pertanggungjawaban penyidik Polri atas kesalahan yang diperbuat dan apa yang
dapat dilakukan korban salah tangkap tersebut untuk menuntut atas hukuman dan
kerugian yang telah korban alami.
Maka dalam kasus diatas saya selaku penulis tertarik untuk membahas dan
untuk mengetahui lebih lanjut mengenai judul skripsi yang berjudul “Analisa
Pertanggungjawaban Penyidik Polri Dalam Kaitan Terhadap Terjadinya Salah
Tangkap atau Error In Persona”.
A. Rumusan Masalah
Permasalahan yang dirumuskan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah fungsi Polri dalam penegakan hukum?
2. Bagaimanakah pertanggungjawaban penyidik Polri terhadap terjadinya salah
tangkap atau error in persona.
B. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dirumuskan
sebelumnya, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui bagaimana fungsi Polri dalam penegakkan hukum.
2. Menganalisa dan mengkaji penegakan hukum pidana dalam mengaplikasikan
peraturan perandang-undangan yang mengatur tentang kesalahan penyidik Polri
dalam kasus salah tangkap yang terjadi.
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran secara teoritis
kepada disiplin ilmu hukum sehingga dapat berguna bagi pengembangan ilmu
hukum pidana di Indonesia khususnya terhadap pengaturan-pengaturan
pertanggungjawaban penyidik Polri terhadap korban salah tangkap yang terjadi
atas kesalahan si penyidik sehingga kemungkinan terjadinya
kerancuan-kerancuan dan tumpang tindih hukum dapat diminimalisasi.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat member manfaat untuk kepentingan penegakan
hukum, sehingga dapat dijadikan masukan kepada aparatur pelaksana penegakan
hukum dalam rangka melaksanakan tugas-tugas mulianya memperjuangkan
keadilan dan mewujudkan tujuan hukum yang dicita-citakan.
D. Keaslian Penulisan
Penulisan skripsi mengenai Analisa Pertanggungjawaban Penyidik Polri
dalam Kaitan Terhadap Terjadinya Salah tangkap atau Error In Persona berdasarkan
pemeriksaan arsip hasil penulisan skripsi di Fakultas Universitas Sumatera Utara
(USU) belum pernah dilakukan.
Penulisan skripsi ini adalah asli dari ide, gagasan pemikiran dan usaha
penulisan sendiri tanpa ada penipuan, penjuplakan atau dengan cara lain yang dapat
merugikan pihak-pihak tertentu. Hasil dari upaya penulisan dalam mencari
perundang-undangan dan pihak-pihak lain yang sangat erat kaitannya dengan
pemberantasan tindak pidana korupsi di bidang perbankan. Dengan demikian,
penulisan skripsi merupakan penulisan yang pertama dan asli adanya.
F. Tinjauan Kepustakaan
1. Pengertian Tanggung Jawab
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan wajib
menanggung segala sesuatunya. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah
laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tangung jawab juga
berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab
timbul karena telah diterimanya wewenang. Tanggung jawab juga membentuk
hubungan tertentu antara pemberi wewenang dan penerima wewenang. Jadi tanggung
jawab seimbang dengan wewenang.
Sedangkan menurut WJS. Poerwodarminto, tanggung jawab adalah sesuatu yang
telah menjadi kewajiban (keharusan) untuk dilaksanakan, dibalas dan sebagainya. Dengan
demikian kalau terjadi sesuatu maka seseorang yang dibebani tanggung jawab wajib
menanggung segala sesuatunya. Dengan kata lain, tanggung jawab adalah kesadaran manusia
akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung
jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Burhanuddin Salam, dalam bukunya “Etika Sosial”, memberikan pengertian
bahwa responsibility is having the character of a free moral agent; capable of
determining one’s acts; capable deterred by consideration of sanction or
mampu menentukan tindakan seseorang; mampu ditentukan oleh sanksi/hukuman
atau konsekuensi). Setidaknya dari pengertian tersebut, dapat kita ambil 2 kesimpulan
: a)harus ada kesanggupan untuk menetapkan suatu perbuatan; dan b)harus ada
kesanggupan untuk memikul resiko atas suatu perbuatan. Kemudian, kata tanggung
jawab sendiri memiliki 3 unsur : 1)Kesadaran (awareness).16
Jadi, sebelum dilakukan tindakan penyidikan, dilakukan dulu penyelidikan
oleh pejabat penyelidik, dengan maksud dan tujuan mengumpulkan “bukti
permulaan” atau “bukti yang cukup” agar dapat dilakukan tindak lanjut penyidikan,
Barangkali penyelidikan dapat disamakan dengan pengertian “tindakan pengusutan”
2. Pengertian Penyidik
Menurut KUHAP ketentuan umum, pasal 1 ayat (1) penyidik adalah pejabat
polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang
diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakiikan penyidikan. Dan
kemudian menjelaskan bahwa penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik
dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta
mengampalkan bukti-bukti terjadi dan guna menemukan tersangkanya, Penyidikan
dilakukan setelah adanya tahap penyelidikan terlebih dahulu yaitu serangkaian
tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga
sebagai ttndak pidana guna menentnkan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang.
16
Muhammad Joe Sekigawa, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan,
sebagai usaha mencari dan menemukan jejak berupa keterangan dan bxikti-bukti
sesuatu peristiwa yang diduga merupakan tindak pidana.17
A. Penyidik Polri
Penyidik sebagaimana diatur didalam KUHAP terdiri dari dua bagian yaitu:
Penyidik menurut ketentuanTasal 6 ayat (l) huruf a, salah satu instansi yang
diberi wewenang melakukan penyidikan ialah “pejabat polisi Negara”. Memang dari
segi diferensiasi fungsional, KUHAP telah meletakkan tanggung jawab fungsi
penyidikan kepada instansi kepolisian. Cuma agar seorang pejabat kepolisian dapat
diberi jabatan sebagai penyidik, haras memenuhi “syarat kepangkatan” sebagaimana
hal itu ditegaskan dalam pasal 6 ayat (2), Menurut penjelasan Pasal 6 ayat (2),
kedudukan dan kepangkatan penyidik yang diatur dalam Peraturan Pemerintah
diselaraskan dan diseimbangkan dengan kedudukan dan kepangkatan penuntut umum
dan hakim peradilan umum. Dari bunyi penjelasan ini, KUHAP sendiri belum
mengatur syarat kepangkatan yang dikehendaki Pasal 6. Syarat kepangkatan itu diatur
lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Untuk itu, penjelasan Pasal 6 telah memberi
petunjuk supaya dalarn menetapkan kepangkatan jabatan penyidik disesuaikan
dengan kepangkatan penutut umum dan Hakim Peradilan Negeri Peraturan
Pemerintah yang mengatur masalah kepangkatan pejabat penyidik sebagaimana yang
dikehendaki ketentuan Pasal 6 sudah ada, dan telah ditetapkan pada tanggal 1
Agustus 1983, berupa PP No. 27 tahun 1983. Syarat kepangkatan pejabat penyidik
diatur dalam Bab II. Memperhatikan ketentuan kepangkatan yang diatur dalam Bab
17
11 PP dimaksud, syarat kepangkatan dan pengangkatan pejabat penyidik kepolisian,
dapat dilihat sebagai berikut:
1. Pejabat penyidik penuh
Pejabat polisi yang dapat diangkat sebagai pejabat “penyidik penuh” harus
memenuhi syarat kepangkatan dau pengangkaian.
a. Sekurang-kurangnyaPembantu Letnan Dua Polisi;
b. Atau yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua apabila
dalam suatu sector kepolisian tidak ada pejabat penyidik yang berpangkat
Pembantu letnan Dua;
c. Ditunjuk dan diangkat oleh Kepala kepolisian RI.
Demikian syarat kepangkatan dan pengangkatan pejabat polisi menjadi
penjabat penyidik. Dari bunyi ketentuan Pasal 2 ayat (2) PP No. 27 Tahun 1983,
sekalipun prinsipnya syarat kepangkatan pejabat penyidik sekurang-kurangnya
berpangkat pembantu letnan Dua, namun mengingat kurangnya tenaga personel yang
belum memadai terutama di daerah-daerah atau di kantor sector kepolisian, Peraturan
Pemerintahan memperkenankan jabatan penyidik dipangku oleh seorang anggota
kepolisian yang “berpangkat bintara”. Kepangkatan yang serupa ini memang tidak
serasi jika ditinjau dari sudut keseimbangan Kepangkatan penuntut umum maupun
hakim yang bertugas di Pengadilan Negeri. Apalagi dari segi kemampuan
pengetahuan hukum seorang bintara kurang dapat dipertanggungjawabkan segi
kemampuan dan pengalaman. Itu sebabnya sering dijumpai penyidikan yang tidak
2. Penyidik Pembantu
Pejabat polisi yang dapat diangkat sebagai “penyidik pembantu”diatur dalam
Pasal 3 PPNo. 27 Tahun 1983.menurut ketentuan ini, syarat kepangkatan
untuk dapat diangkat sebagai pejabat penyidik umum:
a. Sekurang-kurangnya berpangkat Sersan Dua Polisi;
b. Atau pegawai negeri sipil dalam lingkungan kepolisian Negara dengan
syarat sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda (golongan II/a)
c. Diangkat oleh Kepala Kepolisian RI atas usul komandan atau pimpinan
kesatuan masing-masing.
Penyidikan pembantu bukan mesti terdiri dari anggota Polri, tetapi bisa
diangkat dari kalangan pegawai sipil Polri, sesuai dengan keahlian khusus yang
mereka miliki dalam bidang tertentu.misalnya ahli kimia atau ahli patologi. Kalau
pegawai negeri sipil Polri yang demikian tidak bisa diangkat menjadi penyidik
pembantu, mungkin akan menimbulkan hambatan dalam pelaksanaan penyidikan.
Sebab di kalangan anggota Polri sendiri, yang memiliki syarat pengangkatan dan
keahlian tertentu mungkin masih sangat langka. Itu sebab utama yang menjadi
motivasi keperluan penyidik pembantu dapat diangkat dari kalangan pegawai sipil.
B. Penyidik Pegawai Negeri Sipil
Mereka diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Penyidik negeri sipil
diatur dalam Pasal ayat (1) huruf b, yaitu pegawai sipil yang mempunyai fungsi dan
bersumber pada ketentuan undang-undang pidana khususnya, yang telah menetapkan
sendiri pemberian wewenang penyidikan pada salah satu pasal. Lebih lanjut dapat
dilihat kedudukan dan wewenang penyidik pegawai negeri sipil dalam melaksanakan
tugas penyidikan.
1. Penyidik pegawai negeri sipil kedudukannya berada di bawah:
a. Koordinasi penyidik Polri, dan
b. Di bawah pengawasan penyidik Polri
2. Untuk kepentingan penyidikan, penyidik Polri memberikan petunjuk kepada
penyidik pegawai negeri sipil tertentu, dan memberikan bantuan penyidikan yang
diperlukan (Pasal 107 ayat (1))
3. Penyidik pegawai negeri sipil tertentu, harus melaporkan kepada penyidik Polri
tentang adanya suatu tindak pidana yang sedang disidik, jika dari penyidikan itu
oleh penyidik pegawai negeri sipil ada ditemukan bukti yang kuat untuk
mengajukan tindak pidananya kepada penuntut umum (pasal 107 ayat (2)).
4. Apabila penyidik pegawai negeri sipil telah selesai melakukan penyidikan, hasil
penyidikan tersebut harus diserahkan kepada penuntut umum. Cara
penyerahannya kepada penuntut dilakukan penyidik pegawai negeri sipil melalui
5. Apabila penyidik pegawai negeri sipil menghentikan penyidikan yang telah
dilaporkan kepada penyidik Polri, penghentian penyidikan itu harus
diberitahukan kepada penyidik Polri dan penuntut umum (pasal 109 ayat (3)).18
3. Penangkapan
Sering kali dikatakan pengertian penangkapan dan penahanan. Penangkapan
sejajar dengan arrest (inggris) sedangkan penahanan sejajar dengan detention
(inggris). Jangka waktu penangkapan tidak lama. Dalam hal tertangkap tangan,
penangkapan (yang dapat dilakukan setiap orang) hanya berlangsung antara
ditangkapnya tersangka sampai ke pos polisi terdekat. Sesudah sampai di kantor
polisi atau penyidik, maka polisi atau penyidik dapat menahan jika delik yang
dilakukan ditentukan tersangkanya dapat ditahan.
Penangkapan pada Pasal 1 butir 20 KUHAP dijelaskan: “penangkapan adalah
suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka
atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau
penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam
undang-undang”.
Dari defenisi penangkapan yang disebut dalam pasal 1 butir 20 KUHAP,
maka dapat disimpulkan bahwa yang berwenang melakukan penangkapau ialah:
a. Penyidik dan alas perintah penyidik juga penyelidik serta penyidik pernbanru
untuk kepentingan penyidikan.
b. Penuntut umum untuk kepentingan penuntutan.
18
c. Hakim untuk kepentingan pemeriksaan pengadilan.
Untuk kepentingan penyidikan, maka baik penyidik maupun penyidik
pembantu berwenang melakukan penangkapan. Penangkapan yang akan dilakukan
ditujukan kepada orang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan
bukti permulaan yang cukup. Yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup
ialah bukti permulaan untuk menduga adanya tindak pidana. Oleh sebab itu
penangkapan tidak dapat dilakukan dengan sewenang-wenang, tetapi ditajukan
kepada orang yang benar-benar melakukan tindak pidana.19
a. Seorang tersangka diduga keras melakukan tindakan pidana.
Mengenai alasan penangkapan atau syarat penangkapan terdapat dalam pasal
17:
b. Dan dugaan yang kuat itu, didasarkan pada permulaan bukti yang cukup.
Yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup menurut penjelasan pasal
17 ialah bukti permulaan untuk menduga adanya tindak pidana sesuai dengan bunyi
pasal 1 butir 14. Selanjtrtnya penjelasan pasal 17 menyatakan; “Pasal ini
menunjukkan bahwa perintah penangkapan tidak dapat dilakukan dengan
sewenang-wenang, tetapi ditujukan kepada mereka yang betul-betul melakukan tindak pidana”.
Sebagai pegangan, tindakan penangkapan bara dapat dilakukan oleh penyidik
apabila seseorang itu: “diduga keras melakukan tindak pidana, dan dugaan itu
didukung oleh permulaan bukti yang cukup”. Pembuat undang-undang menyerahkan
sepenuhnya kepada penilaian penyidik. Akan tetapi, sangat disadari cara penerapan
19
yang demikian, bias menimbulkan “kekurangpastian” dalam praktek hukum serta
sekaligus membawa kesulitan bagi praperadilan untuk menilai tentang ada atau tidak
permulaan bukti yang cukup.20
Error in persona adalah suatu dwaling, saata salah faham atau kekeliruan dari
pihak terdakwa terhadap orang yang akan dituju. Jadi, salah paham tentang obyeknya
perbuatan, umpamanya, apabila yang akan dibunuh itu A, kemudian dikira telah
membunuh A, padahal sesungguhnya yang dianggap A itu adalah B.
4. Error in persona
21
Keadaan semacam itu dikatakan bahwa terdakwa tidak mempunyai
kesengajaan untuk membunuh B, Tetapi terdakwa dapat dipidana tergantung dari
bunyinya dakwaan. Jika didakwa telah membunuh B, tidak dapat dipidana, oleh
karena memang kesengajaannya untuk itu tidak ada. Yang adalah untuk membunuh
A. Seharusnya didakwakan telah membunuh orang lain, yang ternyata B. Rumusan
pasal 338 KUHP juga hanya mensyaratkan matinya orang lain (lain dari pada
terdakwa). Jadi error in persona dalam contoh diatas tidak membawa akibat
apa-apa.22
Metode diartikan sebagai suatu jalan atau cara untuk mencapai sesuatu.
Sebagaimanatentang cara penelitian hams dilakukan, maka metode penelitian yang
digunakan penulis mencakup antara lain:
G. Metode Penelitian
20
M. Yahya Harahap, Op Cit. halaman 158. 21
Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta 2008, halaman 209. 22
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan yuridis normatif dan yuridis
empiris. Pendekatan yuridis normatif dimaksudkan untuk melakukan
pengkajian terhadap hukum pidana dan penerapan pidana sebagai sarana
kebijakan hukum pidana, dalam rangka pembangunan dan pembaharuan
hukum pidana Indonesia. Pendekatan yuridis empiris dimaksudkan untuk
melakukan penelitian terhadap eksistensi pidana badan di Indonesia dan
aplikasinyaterhadap penegakan hukum di Indonesia.
2. Sumber Data
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari penelitian lapangan.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan yang
berupa bahan-bahan hukum yang terdiri dari :
1) Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang bersifat mengikat yang
terdiri dari :
a. Norma kaidah dasar yaitu pembukaan Undang-undang Dasar
Republik Indonesia 1945;
b. Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945;
c. Undang-undang No, 8 Tahun 1981 tentang kitab Undang-undang
Hukum acara pidana dan Undang-undang No. 2 Talum 2002 tentang
d. Peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan
penelitian ini.
2) Badan Hukum Sekunder, yaitu badan hukum yang memberikan
penjelasan terhadap bahan hukum primer, yang terdiri dari:
a. Buku-buku yang terkait dengan hukum;
b. Artikel dijurnal hukum;
c. Komentar-komentar atas putusan pengadilan;
d. Skripsi, tesis dan Disertasi Hukum.
e. karya ilmiah lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3) Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk
atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder, yang terdiri dari :
a. Kamus hukum dan kamus bahasa Indonesia;
b. Majalah-majalah yang ada hubungatmya dengan penelitian ini;
c. Surat kabar yang berkaitan dengan materi skripsi;
d. Data skunder diatas akan didukung alat data primer berupa data
laporan
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kepolisian Medan pada instansi :
a. Polda Sumatera Utara
4. Narasumber Penelitian
a. Kepala Direktur Resort kriminal Umum atau yang mewakilinya
b. Pelaku atau korban salah tangkap atau yang mewakilinya.
5. Teknik Pengumpulan Data
a. Library research (penelitian kepustakaan).
Yaitu dengan melakukan penelitian terhadap berbagai sumber bacaan.
dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara studi
dokumen, yaitu mengkaji, mempelajari dan menelaah bahan-bahan hukum
yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
b. Field research (penelitian lapangan)
Yaitu data dilakukan dengan cara wawancara dan mengajukan daftar
pertanyaan kepada responden penelitian.
6. Analisis Data
Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif,
yaitu data yang diperoleh dari penelitian disajikan dan diolah secara kualitatif
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Data yang diperoleh dari penelitian diklasifikasikan sesuai dengan
permasalahan dalam penelitian
b. Hasil klasifikasi data selanjutnya disistematisasikan
c. Data yang telah disistematisasikan kemudian dianalisis untuk dijadikan
H. Sistematika Penulisan
Dalam membantu penulis dan pembaca dalam memahami suatu skripsi perlu
dibuat suatu sistematika (gambaran isi) dengan menguraikan secara singkat
materi-materi yang terdapat didalam uraian mulai dari bab pertama sampai dengan bab yang
terakhir sehingga tergambar hubunaan antara bab yang satu dengan bab yang lain.
Maka dalam penulisan skripsi ini penulis menyusun secara sistematis dalam
beberapa bab sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan tentang : Latar belakang, Perumusan
Masalah, Tujuan dan Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan,
Tinjauan Kepustakaan, Metode Penelitian, Sistemarika Penulisan.
BAB II : FUNGSI POLRI DALAM PENEGAKAN HUKUM
Dalam bab ini akan diuraikan pembahasan tentang : Tugas dan
Fungsi POLRI secara umum, Fungsi POLRI dalam penegakan
hukum, Penyimpangan Prilaku Penyidik dalam Penegakan Hukum
BAB III : PERTANGGUNGJAWABAN PENYIDIK POLRI MENURUT
KUHAP TENTANG POLISI BERDASARKAN UU NO.2 TAHUN
2002 TENTANG KEPOLISIAN
Dalam bab ini akan diuraikan pembahasan tentang :
Pertanggungjawaban Penyidik POLRI Menurut KUHAP Tentang
Polisi Berdasarkan UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian,
pertanggungjawaban Penyidik terkait kasus salah tangkap di POLDA
Sumatera Utara Tanjung Merawa Medan.
BAB IV : KESIMPULAN dan SARAN
Dalam bagian terakhir ini akan diuraikan Kesimpulan dan Saran
BAB II
TUGAS DAN FUNGSI PENYIDIK POLRI DALAM PENEGAKAN HUKUM
A. Tugas dan Fungsi Polri Secara Umum
Kepolisian adalah suatu institusi yang memiliki ciri universal yang dapat
ditelusuri dari sejarah lahirnya polisi baik sebagai fungsi maupun organ. Pada
awalnya polisi lahir bersama masyarakat untuk menjaga sistem kepatuhan
(konformitas) anggota masyarakat terhadap kesepakatan antar warga masyarakat itu
sendiri terhadap kemungkinan adanya tabrakan kepentingan, penyimpangan perilaku
dan perilaku kriminal dari masyarakat. Ketika masyarakat bersepakat untuk hidup di
dalam suatu negara, pada saat itulah polisi dibentuk sebagai lembaga formal yang
disepakati untuk bertindak sebagai pelindung dan penjaga ketertiban dan keamanan
masyarakat atau yang disebut sebagai fungsi “Sicherheitspolitizei”. Kehadiran polisi
sebagai organisasi sipil yang dipersenjatai agar dapat memberikan efek pematuhan
(enforcing effect). 23
23
Bibit Samad Rianto, Pemikiran Menuju POLRI yang Professional, Mandiri, Berwibawa, dan dicintai Rakyat ,PTIK Press dan Restu AGUNG, Jakarta, 2006,halaman 36
Tugas, peran dan fungsi kepolisian suatu Negara selalu berkembang dari
waktu ke waktu. Perkembangannya itu dipengaruhi oleh banyak hal.Beberapa
diantaranya adalah lingkungan, politik, ketatanegaraan, ekonomi maupun social budaya.Begitu
pula dengan tugas, peran dan fungsi kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
(UUD) tanggal 18 Agustus 1945 sampai dengan sekarang, tugas, peran dan fungsinya
mengalami perkembangan. Apabila dahulu pada masa awal disahkannya kepolisian
nasional disamping melaksanakan tugas rutin kepolisian juga secara aktif ikut dalam
perang mempertahankan kemerdekaan, maka pada saat sekarang ini berdasarkan
Undang - Undang No 2 tahun 2002 Kepolisian Negara Republik Indonesia pada Pasal
2 merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban
masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.24
Fungsi Kepolisian yang tercantum dalam Undang-undang tidak terlepas dari
fungsi hukum dimana didalam dasar dari adanya Undang-undang tersebut yaitu
tujuan pokok dari hukum yang dapat direduksi hal yaitu:25
1. Ketertiban
Ketertiban adalah tujuan utama dari hukum. Ketertiban merupakan syarat
utama untuk suatu masyarakat yang ingin teratur. Pembangunan hanya dapat
dilakukan di dalam masyarakat yang teratur. Disamping ketertiban ialah
tercapainya keadilan. Keadilan tidak mungkin ada tanpa ketertiban. Untuk
mencapai ketertiban perlu terciptanya kepastian dalam pergaulan.
24
senin14 januari 2013 pukul 15.30 25
2. Alat pembaharuan masyarakat
Dengan menciptakan Undang-undang maka dapat diciptakan pembaharuan
sikap dan cara berfikir. Justru hakekat daripada pembangunan adalah
pembaharuan sikap hidup. Tanpa sikap dan cara berfikir yang berubah maka
pengenalan lembaga modern dalam kehidupan tak akan berhasil. Usaha
berubah cara berfikir dalam jual beli yang sifatnya riel kearah berfikir yang
konsensual diciptakanlah undang-undang pokok agraria. Menghentikan cara
berfikir magis di Kalimantan seperti “mengayu”di larang melalui KUHP.
Melarang perbudakan di Amerika (masalah hak sipil negro) diciptakan
Undang-undang New deal.
Melihat daripada fungsi hukum diatas maka bila ada hukum, undang-undang
yang tidak menciptakan ketertiban berarti undang-undang itu kehilangan fungsinya.
Hukum demikian harus ditiadakan, dihapus. Hukum yang baik adalah hukum yang
sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat yang tentunya
sesuai pula atau merupakan pencerminan daripada nilai yang berlaku dalam
masyarakat. Dengan kata lain hukum undang-undang sebagai kaidah sosial dalam
masyarakat bahkan dapat dikatakan hukum, undang-undang itu merupakan
dari sikap dan sifat yang dimiliki orang-orang yang menjadi anggota masyarakat yang
sedang membangun itu.26
Sebagaimana yang ditentukan dalam Peaturan Pemerintah wilayah kepolisian
dibagi secara berjenjang mulai tingkat pusat yang biasa disebut dengan Markas Besar
Polri yang wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia
yang dipimpin oleh seorang Kapolri yang bertanggung jawab kepada Presiden,
kemudian wilayah di tingkat Provinsi disebut dengan Kepolisian Daerah yang lazim
disebut dengan Polda yang dipimpin oleh seorang Kapolda yang bertanggung jawab
kepada Kapolri, di tingkat Kabupaten disebut dengan Kepolisian Resot atau disebut
juga Polres yang dipimpin oleh seorang Kapolres yang bertanggungjawab kepada Pasal 4 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2002 Kepolisian
Negara Republik Indonesia mempunyai tujuan untuk mewujudkan keamanan dalam
negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan
tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman dan pelayanan
masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak
asasi manusia. Agar dalam melaksanakan fungsi dan perannya diseluruh wilayah
Negera Republik Indonesia atau yang dianggap sebagai wilayah negara republik
Indonesia tersebut dapat berjalan dengan efektif dan effisien, maka wilayah Negara
Republik Indonesia dibagi dalam daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan
tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
26
Kapolda, dan di tingkat Kecamatan ada Kepolisian Sektor yang biasa disebut dengan
Polsek dengan pimpinan seorang Kapolsek yang bertanggungjawab kepada Kapolres,
dan di tingkat Desa atau Kelurahan ada Pos Polisi yang dipimpin oleh seorang
Brigadir Polisi atau sesuai kebutuhan menurut situasi dan kondisi daerahnya.27
1. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;
Berdasarkan Pasal 13 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun
2002 Bab 3 Tugas Pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah:
2. Menegakkan hukum dan;
3. Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada
masyarakat
Pasal 14, dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud
dalam pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas :
a. Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli terhadap kegiatan
masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan.
b. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban dan
kelancaran lalu lintas di jalan;
c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran
hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan
perundang-undangan;
d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;
27
e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum;
f. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pembinaan teknis terhadap kepolisian
khusus, penyidik pegawai negeri sipil dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa;
g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai
dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya;
h. Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium
forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian;
i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat dan lingkungan hidup
dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan
pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia;
j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh
instansi dan atau pihak yang berwenang;
k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam
lingkup tugas kepolisian; serta
l. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 15 dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
pasal 13 dan 14, Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang :
a. Menerima laporan dan/atau pengaduan;
b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat menganggu
ketertiban umum;
d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan
dan kesatuan bangsa;
e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratuf
kepolisian;
f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam
rangka pencegahan;
g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;
h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang;
i. Mencari keterangan dan barang bukti;
j. Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional;
k. Mengeluarkan surat izin dan/ atau surat keterangan yang di perlukan dalam rangka
pelayanan masyarakat;
l. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan
pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat;
m. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu.
Tugas Kepolisian berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 2002 Pasal 16
adalah:
1. Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal
13 dan 14 di bidang proses pidana, kepolisian Negara Republik Indonesia
berwenang untuk:
b. Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian
perkara untuk kepentingan penyidikan;
c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka
penyidikan;
d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakn serta memeriksa
tanda pengenal diri;
e. ‘melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau
saksi;
g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan
pemeriksaan perkara;
h. Mengadakan penghentian penyidikan;
i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;
j. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang
berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau
mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka
melakukan tindak pidana;
k. Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai
negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil
untuk diserahkan kepada penuntut umum;dan
2. Tindakan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf I adalah tindakan
penyelidikan dan penyidikan yang dilaksanakan jika meemenuhi syarat
berikut ini:
a. Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;
b. Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut
dilakukan;
c. Harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya;
d. Pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa dan
e. Menghormati hak asasi manusia.
Lembaga kepolisian merupakan lembaga yang harus tetap berdiri tegak
sekalipun negara runtuh, pemerintahan atau rezim jatuh atau untuk mengamankan
warga masyarakat dari ekses-ekses yang mengancam jiwa, raga, dan harta bendanya.
Bahkan pada saat negara negara diduduki tentara asing polisi tetap menjalankan
tugasnya yaitu menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Polisi adalah
subordinasi dari masyarakatnya, dimana masyarakat menjadi titik awal dan titik akhir
pengabdian polisi.28
Bermacam bentuk tindakan dan wewenang yang diberikan undang-undang
kepada penyidik dalam rangka pembatasan kebebasan dan hak asasi seseorang. Mulai
dari bentuk penangkapan, penahanan, penyitaan, dan penggeledahan. Tapi harus
diingat, semua tindakan penyidik yang bertujuan untuk mengurangi kebebasan dan
28
pembatasan hak asasi seseorang, adalah tindakan yang benar-benar diletakkan pada
proporsi “demi untuk kepentingan pemeriksaan”, dan “benar-benar sangat diperlukan
sekali”. Jangan disalahgunakan dengan cara yang terlampau murah, sehingga setiap
langkah tindkan yang dilakukan penyidik, langsung menjurus ke arah penangkapan
atau penahanan.29
Pelaksana penegakan hukum tidak hanya Criminal justice system (CJS) atau
Catur Wangsa atau Panca Wangsa (termasuk Lembaga Pemasyarakatan), tetapi juga
melibatkan pemerintahan (baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
termasuk instansi pemerintah dan TNI) serta masyarakat pada umumnya (baik secara
perseorangan maupun secara berkelompok) sesuai dengan peran mereka
masing-masing.
30
B. Tugas dan Fungsi Polri dalam Penegakan Hukum
Penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang
terjabarkan dalam kaidah-kaidah, pandangan-pandangan yang mantap dan
mengejawantahkannya dalam sikap, tindak sebagai serangkaian penjabaran nilai
btahap akhir untuk menciptakan kedamaian pergaulan hidup.31
Masalah penegakan hukum pada umumnya, termasuk di Indonesia mencakup
tiga hal penting yang harus diperhatikan dan dibenahi, yaitu kultur masyarakat tempat
29
M. Yahya Haharap, Op,.cit, halaman 157
30
Bibit Samad Rianto, Op,.cit, halaman 45 31
dimana nilai-nilai hukum akan ditegakkan, struktur para penegak hukumnya dan
terakhir substansi hukum yang akan ditegakkan. Disampingkan itu untuk mencegah
tindakan main hakim sendiri kepada masyarakat harus secara kontinyu diberikan
penyuluhan hukum agar taat hukum walaupun kemungkinan terjadinya tindakan main
hakim sendiri oleh masyarakat itu juga sebagai dampak dari lemahnya penegakan
hukum.32
Masalah penegakan hukum akan selalu terjadi sepanjang kehidupan manusia
itu ada, semakin tumbuh dan berkembang manusia maka masalah penegakan hukum
pun semakin bermacam-macam yang terjadi. Bicara tentang penegakan hukum
tentunya tidak bisa lepas dari soal aparat yang menempati posisi strategis sebagai
penegak hukum yaitu Polisi Jaksa dan Hakim yang terbatas pada masalah
profesionalitas.33
Konsep negara hukum, bahwa wewenang pemerintahan berasal dari
peraturan perundang-undangan, artinya suatu wewenang yang harus bersumber dari Kepolisian di dalam Undang-undang No. 2 tahun 2002 Pasal 2 yang
merupakan fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan
ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan
kepada masyarakat.
32
Moh. Hatta, Beberapa Masalah Penegakan Hukum Pidana Umum dan Pidana khusus, Liberty, Yogyakarta, 2009, halaman 32
33
peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga di dalam suatu Negara Hukum
penerapan asas asas Legalitas menjadi salah satu prinsip utama yang menjadi dasar
utama dalam penyelenggaraan pemerintahan terutama bagi Negara-negara hukum
yang menganut system civil Law (Eropa Kontinental). Dengan demikian setiap
penyelenggaraan pemerintahan harus memiliki legitimasi yakni suatu kewenangan
yang diberikan oleh Undang-undang.34
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai salah satu penyelenggara
kegiatan pemerintahan di bidang penegakan hukum yang melindungi dan mengayomi
masyarakat tidaklah memiliki tugas yang ringan, karena ruang lingkup tugas
kepolisian sangat luas yakni seluruh masyarakat, dan perkembangan kemajuan
masyarakat yang cukup pesat, mengakibatkan adanya perubahan tuntutan pelayanan Wewenang kepolisian yang diperoleh secara atributif, yakni wewenang yang
dirumuskan dalam pasal peraturan undang-undangan seperti wewenang kepolisian
yang dirumuskan Pasal 30 ayat (4) Undang-undang Dasar, Undang-undang No. 8
Tahun 1981 Tentang KUHAP, dan lain-lain. Berdasarkan wewenang atributif tersebut
kemudian dalam pelaksanaannya lahir wewenang delegasi dan wewenang mandat,
yakni pemberian wewenang dari satuan atas kepada satuan bawah (berupa mandat),
maupun pendelegasian kepada bidang-bidang lain di luar struktur.
terhadap masyarakat di segala bidang, termasuk pelayanan kepolisian terhadap
masyarakat.35
Tata cara penyelidikan adalah:
Berdasarkan undang Nomor 8 tahun 1981 tentang kitab
undang Hukum acara Pidana (KUHAP) maka wewenang yang diberikan
Undang-undang ini kepada aparat kepolisian adalah kewenangan dalam hal melaksanakan
tugas sebagai penyelidik dan penyidik.
Penyelidikan dalam Pasal 1 butir 5 KUHAP adalah serangkaian tindakan
penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai
tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut
cara yang diatur dalam undang-undang.
36
1. Penyelidik dalam melakukan penyelidikan wajib menunjukkan tanda
pengenalnya. Penyelidik yang mengetahui, menerima laporan atau pengaduan
tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana
wajib segera melakukan tindakan yang diperlukan. Dalam hal tertangkap
tangan tanpa menunggu perintah penyidik, penyelidik wajib segera melakukan
tindakan yang diperlukan dalam rangka penyelidikan. Terhadap tindakan yang
dilakukan tersebut diatas, penyelidik wajib membuat berita acara dan
35
Mahmud Mulyadi Op,.cit, halaman 40
36
melaporkannya kepada penyidik sedaerah hukum. Laporan atau pengaduan
yang diajukan secara tertulis harus ditandatangani oleh pelapor atau pengadu.
Laporan atau pengaduan yang diajukan secara lisan harus dicatat oleh
penyelidik dan ditandatangani oleh pelapor atau pengadu atau penyelidik.
Dalam hal pelapor atau pengadu tidak dapat menulis, hal itu harus disebutkan
sebagai catataan dalam laporan atau pengaduan tersebut. Dalam melaksanakan
tugas penyelidikan, penyelidik wajib menunjukkan tanda pengenalnya.
2. Penyelidik dikoordinasi, diawasi, dan diberi, petunjuk oleh penyidik. Dalam
melaksanakan tugas penyelidikan, penyelidik dikoordinasi, diawasi, dan diberi
petunjuk oleh penyidik pejabat polisi negara Republik Indonesia.
Dapat dikatakan bahwa penyelidik adalah polisi terdepan atau paling utama
yang ditugaskan untuk melakukan tugas mengungkapkan suatu tindak pidana, dalam
KUHAP tidak ditentukan pangkat dari polisi yang bertugas melakukan penyelidikan.
Tetapi dari ketentuan di atas dan ketentuan Peraturab Pemerintah No. 27 Tahun 1983
Pasal 2, kita dapat mengambil patokan bahwa penyelidik adalah polisi yang
berpangkat di bawah pembantu letnan dua, atau jika di suatu tempat tidak ada pejabat
penyidik berpangkat pembantu letnan dua melainkan hanya berpangkat bintara, maka
penyelidik adalah berpangkat di bawah bintara.37
KUHAP dalam ketentuan umum, Pasal 1 ayat (1) penyidik adalah pejabat
Polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil terteentu yang
37