• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu (Pityriasis versicolor) Tahun 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu (Pityriasis versicolor) Tahun 2011"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

(PITYRIASIS VERSICOLOR) TAHUN 2011

Oleh :

DESILIANI SILALAHI 080100238

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

(PITYRIASIS VERSICOLOR) TAHUN 2011

KARYA TULIS ILMIAH

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh :

DESILIANI SILALAHI 080100238

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu

(Pityriasis versicolor) Tahun 2011 Nama : Desiliani Silalahi

NIM : 080100238

Pembimbing Penguji I

(dr. Nelva Karmila Jusuf, Sp. KK(K) ( dr. Aliandri, SpTHT-KL ) NIP. 1967 0915 1997 02 2001 NIP. 1966 0309 2000 12 1007

Penguji II

( dr. Tri Widyawati, MSi ) NIP. 1976 0709 2003 12 2001

Medan, 14 Januari 2012 Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(4)

ABSTRAK

Kebersihan kulit merupakan mekanisme utama untuk mengurangi kontak dan transmisi terjadinya infeksi, salah satunya infeksi jamur dimana yang paling sering ditemukan adalah Pityriasis versicolor yang lebih dikenal dengan panu. Pityriasis versicolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare. Infeksi ini bersifat menahun, ringan dan biasanya tanpa peradangan. Pityriasis versicolor dapat menyerang masyarakat kita tanpa memandang golongan umur tertentu. Dari segi usia yakni usia 16-40 tahun. Kemungkinan karena segmen usia tersebut lebih banyak mengalami faktor predisposisi atau pencetus misalnya pekerjaan basah, trauma, banyak keringat, selain pajanan terhadap jamur lebih lama dan higiene juga kurang sempurna.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu (Pityriasis versicolor). Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian adalah seluruh siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya yang berada di lingkungan Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau. Jumlah sampel sebanyak 78 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan stratified random sampling. Sampel tersebut kemudian didistribusikan secara proporsional berdasarkan tingkatan kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner dan analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dengan menggunakan program komputer.

Hasil uji pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya berada dalam ketegori cukup, yaitu 56,4 %.

(5)

ABSTRACT

Skin hygiene is the main mechanism for reducing contact and transmission of infection, one of which is fungal infections that most often found is pityriasis versicolor. Pityriasis versicolor is a superficial fungal infection of the stratum corneum of the skin caused by Malassezia furfur or Pityrosporum orbiculare. This infection is chronic, mild and usually without inflammation. Pityriasis versicolor can attack our society regardless of their particular age group. In terms of age Pityriasis versicolor more frequently found in the group 16-40 years of age. Possibly because of age segments are more likely to have predisposing factors or triggers such as wet work, trauma, a lot of sweat, in addition to longer exposure to fungi and is also less than perfect hygiene.

This study aims to determine the knowledge level of students' in SMK Widya Karya Balai Jaya in the Subdistrict Bagan Sinembah, District of Rokan Hilir, Riau of Hygiene of the Skin against pityriasis versicolor. This study used descriptive research method with cross-sectional study approach. The study population was all students within SMK Widya Karya Balai Jaya in the Subdistrict Bagan Sinembah, District of Rokan Hilir, Riau. A total of 78 samples were collected. The Sampling techniques conducted by stratified random sampling. The sample is then distributed proportionally based on grade level. The data was collected by distributing questionnaires and data analysis done with descriptive statistics using computer program.

The tests results of knowledge of high school students in SMK Widya Karya Balai Jaya Jaya about hygiene skin against skin fungus disease shows that most in enough categories (56.4%).

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini, sebagai salah satu syarat kelulusan sarjana kedokteran Program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera utara.

Karya tulis ilmiah ini berjudul “Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu (Pityriasis versicolor) Tahun 2011”. Dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp. PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu dr. Nelva Karmila Jusuf, Sp. KK(K), selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada penulis sehingga karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik.

3. Bapak dr. Aliandri, SpTHT-KL dan Ibu dr. Tri Widyawati, MSi selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada penulis sehingga karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik.

4. Bapak Hamzah, SH.I, MM, selaku Kepala Sekolah SMK Widya Karya Balai Jaya, yang telah memberikan izin dan banyak bantuan kepada penulis dalam melakukan proses pengumpulan data di lokasi penelitian.

(7)

6. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

7. Terima kasih tiada tara penulis persembahkan kepada Ayahanda tercinta, Jaerly Silalahi dan Ibunda tercinta, Rohani Sinaga yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang dan tiada bosan-bosannya mendoakan dan memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan. 8. Untuk yang tersayang kepada Zuly Gunawan, Bayu Chandra Silalahi, Andri

Yusuf Silalahi, Rindi Ariska Silalahi, Ana Suyatni Silalahi terima kasih atas bantuan dan dukungannya.

9. Terima kasih banyak kepada Ahmed Mawardi dan Shella Novita atas bantuan dan dukungannya.

10.Seluruh siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya, atas bantuan dan partisipasinya dalam proses penelitian ini.

11.Seluruh teman-teman Stambuk 2008, atas bantuan dan dukungannya.

Untuk seluruh bantuan baik moril maupun materil yang diberikan kepada penulis selama ini, penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan dan pahala yang sebesar-besarnya.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat berguna bagi kita semua.

Medan, 22 Desember 2011 Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan ... i

Abstrak ... ii

Abstract ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... vi

Daftar Tabel ... ix

Daftar Singkatan ... x

Daftar Lampiran ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1. Pengetahuan ... 5

2.1.1. Pengertian Pengetahuan... 5

2.1.2. Tingkatan Pengetahuan ... 5

2.1.3. Pengukuran Pengetahuan... 7

2.2. Kebersihan Kulit ... 7

2.3.Kulit ... 8

2.3.1. Pengertian Kulit ... 8

2.3.2. Anatomi Kulit ... 8

2.3.3. Fungsi Kulit ... 9

2.4. Pityriasis versicolor ... 9

(9)

2.4.2. Epidemiologi ... 10

2.4.3. Etiologi ... 10

2.4.4. Patogenesis ... 10

2.4.5. Gambaran Klinis ... 11

2.4.6. Diagnosis ... 11

2.4.7. Diagnosis Banding ... 11

2.4.8. Pengobatan ... 12

2.4.9. Pencegahan ... 13

2.4.10.Prognosis ... 13

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 14

3.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 14

3.2. Definisi Operasional ... 14

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 18

4.1. Jenis Penelitian ... 18

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 18

4.2.1. Waktu Penelitian ... 18

4.2.2. Tempat Penelitian... 18

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 18

4.3.1. Populasi ... 18

4.3.2. Sampel ... 19

4.4.Metode Pengumpulan Data ... 20

4.4.1. Uji Validitas dan Reabilitas ... 20

(10)

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 23

5.1. Hasil Penelitian ... 23

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 23

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden ... 23

5.1.3. Hasil Analisis Data ... 24

5.1.3.1. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tingkat Pengetahuan tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu ( Pityriasis versicolor) ... 24

5.1.3.2. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tingkat Pengetahuan tentang Kebersihan Kulit ... 25

5.1.3.3. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tingkat Pengetahuan tentang Panu ( Pityriasis versicolor) ... 25

5.1.3.4. Distribusi Frekuensi Variabel Pengetahuan ... 26

5.1.3.5. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Pengetahuan Berdasarkan Jenis kelamin ... 27

5.1.3.6. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Pengetahuan Berdasarkan Usia ... 28

5.2. Pembahasan ... 29

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 33

6.1. Kesimpulan ... 33

6.2. Saran ... 33

(11)

DAFTAR TABEL

Variabel penelitian, definisi operasional, alat ukur, cara ukur, hasil ukur dan skala ukur

Skor berdasarkan pilihan jawaban Hasil Uji Validitas dan Reabilitas

Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia Distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor)

Distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan tentang kebersihan kulit

Distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan tentang panu

( Pityriasis versicolor)

Distribusi frekuensi jawaban responden pada variabel pengetahuan

Distribusi frekuensi hasil uji pengetahuan berdasarkan jenis kelamin

Distribusi frekuensi hasil uji pengetahuan berdasarkan usia

(12)

DAFTAR SINGKATAN

EC Ethical Clearance

KOH Kalium Hidroksida

MF Malassezia Furfur

PO Pityrosporum Orbiculare

PV Pityriasis Versicolor

SMK Sekolah Menengah Kejuruan

SPSS Statistic Product and Service Solution

USA United States of America

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup

Lampiran 2 Lembar Penjelasan Kepada Subjek Penelitian Lampiran 3 Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan

Lampiran 4 Kuesioner

Lampiran 5 Izin Penelitian SMK Widya Karya

Lampiran 6 Lembar Persetujuan Komisi Etik Penelitian Bidang Kesehatan

(14)

ABSTRAK

Kebersihan kulit merupakan mekanisme utama untuk mengurangi kontak dan transmisi terjadinya infeksi, salah satunya infeksi jamur dimana yang paling sering ditemukan adalah Pityriasis versicolor yang lebih dikenal dengan panu. Pityriasis versicolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare. Infeksi ini bersifat menahun, ringan dan biasanya tanpa peradangan. Pityriasis versicolor dapat menyerang masyarakat kita tanpa memandang golongan umur tertentu. Dari segi usia yakni usia 16-40 tahun. Kemungkinan karena segmen usia tersebut lebih banyak mengalami faktor predisposisi atau pencetus misalnya pekerjaan basah, trauma, banyak keringat, selain pajanan terhadap jamur lebih lama dan higiene juga kurang sempurna.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu (Pityriasis versicolor). Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian adalah seluruh siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya yang berada di lingkungan Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau. Jumlah sampel sebanyak 78 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan stratified random sampling. Sampel tersebut kemudian didistribusikan secara proporsional berdasarkan tingkatan kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner dan analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dengan menggunakan program komputer.

Hasil uji pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya berada dalam ketegori cukup, yaitu 56,4 %.

(15)

ABSTRACT

Skin hygiene is the main mechanism for reducing contact and transmission of infection, one of which is fungal infections that most often found is pityriasis versicolor. Pityriasis versicolor is a superficial fungal infection of the stratum corneum of the skin caused by Malassezia furfur or Pityrosporum orbiculare. This infection is chronic, mild and usually without inflammation. Pityriasis versicolor can attack our society regardless of their particular age group. In terms of age Pityriasis versicolor more frequently found in the group 16-40 years of age. Possibly because of age segments are more likely to have predisposing factors or triggers such as wet work, trauma, a lot of sweat, in addition to longer exposure to fungi and is also less than perfect hygiene.

This study aims to determine the knowledge level of students' in SMK Widya Karya Balai Jaya in the Subdistrict Bagan Sinembah, District of Rokan Hilir, Riau of Hygiene of the Skin against pityriasis versicolor. This study used descriptive research method with cross-sectional study approach. The study population was all students within SMK Widya Karya Balai Jaya in the Subdistrict Bagan Sinembah, District of Rokan Hilir, Riau. A total of 78 samples were collected. The Sampling techniques conducted by stratified random sampling. The sample is then distributed proportionally based on grade level. The data was collected by distributing questionnaires and data analysis done with descriptive statistics using computer program.

The tests results of knowledge of high school students in SMK Widya Karya Balai Jaya Jaya about hygiene skin against skin fungus disease shows that most in enough categories (56.4%).

(16)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan (Hidayat, 2009).

Mengingat pentingnya kulit sebagai pelindung organ-organ tubuh didalamnya, maka kebersihan kulit perlu dijaga kesehatannya. Kebersihan kulit merupakan mekanisme utama untuk mengurangi kontak dan transmisi terjadinya infeksi, salah satunya infeksi jamur (Larson E, 2001).

Infeksi jamur kulit cukup banyak ditemukan di Indonesia, yang merupakan negara tropis beriklim panas dan lembab, apalagi bila higiene juga kurang sempurna (Madani A, 2000).

Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit jamur atau mikosis yang mempunyai insidensi cukup tinggi ialah mikosis superfisialis. Penyakit yang termasuk mikosis superfisialis adalah dermatofitosis dan nondermatofitosis, yang terdiri atas berbagai penyakit diantaranya Pityriasis versicolor (PV), yang lebih dikenal sebagai penyakit panu (Budimulja, 2008). Sebagian besar kasus Pityriasis versicolor terjadi karena keadaan yang mempengaruhi keseimbangan antara hospes dengan jamur tersebut diduga adanya faktor lingkungan diantaranya kelembaban kulit (Radiono, 2001).

Ditinjau dari masing-masing kasus mikosis superfisialis yang paling sering ditemukan adalah Pityriasis versicolor. Pityriasis versicolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur atau

(17)

Pityriasis versicolor dapat menyerang masyarakat kita tanpa memandang golongan umur tertentu. Dari segi usia yakni usia 16-40 tahun. Kemungkinan karena segmen usia tersebut lebih banyak mengalami faktor predisposisi atau pencetus misalnya pekerjaan basah, trauma, banyak keringat, selain pajanan terhadap jamur lebih lama. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, walaupun pernah dilaporkan di USA penderita yang tersering menderita berusia antara 20-30 tahun dengan perbandingan 1.09% pria dan 0,6% wanita. Insidensi Pityriasis versicolor yang akurat di Indonesia belum ada. Hanya diperkirakan 50% dari populasi di negara tropis terkena penyakit ini (Partosuwiryo, 1992; Adiguna MS, 2001; Radiono, 2001).

(18)

1.2. Rumusan Masalah

Yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor) tahun 2011.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor) tahun 2011.

1.3.2. Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan Siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya tentang kebersihan kulit

2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan Siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya tentang penyakit panu (Pityriasis versicolor)

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yaitu untuk :

1. Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan kemampuan menggali tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor)

2. Bagi pelajar dapat menambah pengetahuan pentingnya menjaga kebersihan diri dan dapat memberikan pandangan tentang dampak negatif dari kurangnya pengetahuan tentang kebersihan kulit

(19)

4. Bagi keluarga dapat menjadi masukan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan meningkatkan kebersihan kulit serta lingkungan

(20)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan

2.1.1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui pancaindera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Menurut Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2003 dan 2007), sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :

1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu

2. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus

3. Evaluation, yakni orang tersebut menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya

4. Trial, orang tersebut mulai mencoba perilaku baru

5. Adoption, yakni subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

2.1.2. Tingkatan Pengetahuan

Ada 6 (enam) tingkatan pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif, yaitu:

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali

(21)

yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

5. Sintesis (synthesis)

(22)

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2003 dan 2007).

2.1.3. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas (Notoatmodjo, 2003 dan 2007).

Penilaian pengetahuan dapat dilihat dari setiap item pertanyaan yang akan diberikan peneliti kepada responden. Menurut Arikunto ( 2006) dalam Machfoedz (2009), kategori pengetahuan dapat ditentukan dengan kriteria :

1. Pengetahuan baik : jika jawaban benar 76 – 100 % 2. Pengetahuan cukup : jika jawaban benar 56 – 75 % 3. Pengetahuan kurang : jika jawaban benar ≤ 55 %

2.2. Kebersihan Kulit

Kebersihan individu yang buruk atau bermasalah akan mengakibatkan berbagai dampak baik fisik maupun psikososial. Dampak fisik yang sering dialami seseorang tidak terjaga dengan baik adalah gangguan integritas kulit (Wartonah, 2003).

(23)

sinar ultraviolet (UV). Mengingat pentingnya kulit sebagai pelindung organ-organ tubuh didalamnya, maka kulit perlu dijaga kesehatannya (Wijayakusuma, 2004). Penyakit kulit dapat disebabkan oleh jamur, virus, kuman, parasit hewani dan lain-lain. Salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur adalah Pityriasis versicolor ( Juanda, 2000).

Sabun dan air adalah hal yang penting untuk mempertahankan kebersihan kulit. Mandi yang baik adalah : 1). Satu sampai dua kali sehari, khususnya di daerah tropis. 2). Bagi yang terlibat dalam kegiatan olah raga atau pekerjaan lain yang mengeluarkan banyak keringat dianjurkan untuk segera mandi setelah selesai kegiatan tersebut. 3). Gunakan sabun yang lembut. Germicidal atau sabun antiseptik tidak dianjurkan untuk mandi sehari-hari. 4). Bersihkan anus dan genitalia dengan baik karena pada kondisi tidak bersih, sekresi normal dari anus dan genitalia akan menyebabkan iritasi dan infeksi. 5). Bersihkan badan dengan air setelah memakai sabun dan handuk yang sama dengan orang lain (Webhealthcenter, 2006).

2.3. Kulit

2.3.1. Pengertian Kulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1.50-1.75 m2 dengan berat kira-kira 15 % berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif, bervariasi pada iklim, umur, seks, ras dan juga bergantung pada lokasi tubuh (Harahap M, 2000 danWasitaatmadja SM, 2008).

2.3.2. Anatomi Kulit

Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu : 1. Lapisan epidermis

(24)

2. Lapisan dermis

Lapisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen seluler dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni : pars papilare dan pars retikulare.

3. Lapisan subkutis

Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar dengan inti terdesak kepinggir sitoplasma lemak bertambah (Wasitaatmadja SM, 2008).

2.3.3. Fungsi Kulit

Kulit mempunyai fungsi yang bermacam-macam untuk menyesuaikan tubuh dengan lingkungan. Fungsi utama kulit ialah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh, pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D dan keratinisasi (Graham RB, 2005 dan Wasitaatmadja SM, 2008).

2.4. Pityriasis versicolor 2.4.1. Definisi

Pityriasis versicolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur (MF) atau Pityrosporum orbiculare (PO).

Infeksi ini bersifat menahun, ringan dan biasanya tanpa peradangan. Pityriasis versicolor mengenai muka, leher, badan, lengan atas, ketiak, paha dan lipat paha (Madani A, 2000).

Penyakit ini dikenal untuk pertama kali sebagai penyakit jamur pada tahun 1846 oleh Eichsted. Robin pada tahun 1853 memberi jamur penyebab penyakit ini dengan nama Microsporum furfur dan tahun 1889 oleh Baillon spesies ini diberi nama

(25)

2.4.2. Epidemiologi

Pityriasis versicolor adalah penyakit universal dan terutama ditemukan di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur kelembaban. Menyerang hampir semua usia terutama remaja, terbanyak pada usia 16-40 tahun. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, walaupun di Amerika Serikat dilaporkan bahwa penderita berusia antara 20-30 tahun dengan perbandingan 1.09% pria dan 0,6% wanita. Insidensi Pityriasis versicolor yang akurat di Indonesia belum ada. Hanya diperkirakan 50% dari populasi di negara tropis terkena penyakit ini. Sedang di negara sub tropis yaitu Eropa tengah dan utara dilaporkan insidensi penyakit ini hanya 0,5-1% dari semua penyakit jamur (Partosuwiryo, 1992 dan Budimulja, 2008).

2.4.3. Etiologi

Pityriasis versicolor disebabkan oleh ragi lipofilik yang merupakan flora normal kulit yang dikenal dalam genus malassezia dan sebagai spesies tunggal disebut sebagai Malassezia furfur. Sebelumnya ragi ini disebut juga sebagai

Pityrosporum orbiculare atau Pityrosporum ovale. Pityriasis versicolor lebih prevalensi (± 50%) di daerah tropis yang bersuhu hangat dan lembab (Radiono, 2001).

2.4.4. Patogenesis

Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya

Pityriasis versicolor ialah Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau

Pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Kedua merupakan organisme yang sama, dapat berubah sesuai dengan lingkungannya, misalnya suhu, media dan kelembaban.

(26)

2.4.5. Gambaran Klinis

Kelainan kulit Pityriasis versicolor sangat superfisial dan sering ditemukan dibadan timbul bercak putih ataupun kecokelatan dan kehitaman yang kadang gatal bila berkeringat. Bisa pula tanpa keluhan gatal sama sekali, tetapi penderita mengeluh karena malu oleh karena adanya bercak tersebut. Pada orang kulit berwarna, lesi yang terjadi biasanya tampak sebagai bercak hipopigmentasi, tetapi pada yang berkulit pucat lesi bisa berwarna kecokelatan atau kemerahan. Di atas lesi terdapat sisik halus. Bentuk lesi tidak teratur dapat berbatas tegas sampai difus dan ukuran lesi dapat miliar, lentikular, numular sampai plakat. Ada 2 bentuk yang sering didapat yaitu bentuk makular yang berupa bercak-bercak yang agak lebar dengan skuama halus diatasnya dengan tepi tidak meninggi dan bentuk folikular seperti tetesan air sering timbul disekitar folikel rambut (Siregar RS, 2004).

2.4.6. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan atas dasar gambaran klinis, pemeriksaan fluoresensi, lesi kulit dengan lampu wood dan sediaan langsung. Gambaran klinis timbul bercak putih ataupun kecokelatan dan kehitaman yang kadang gatal bila berkeringat, fluoresensi lesi kulit pada pemeriksaan lampu wood berwarna kuning keemasan dan pada sediaan langsung kerokan kulit dengan larutan KOH 20% telihat campura hifa pendek dan spora-spora bulat yang dapat berkelompok (Budimulja, 2008).

2.4.7. Diagnosis Banding

Penyakit ini harus dibedakan dengan dermatitis seboroika, eritrasma, sifilis II, achromia parasitik dari Pardo-Castello dan Dominiquez, morbus handsen, pitiriasis alba dan vitiligo (Budimulja, 2008).

Berdasarkan bentuk lesi terbagi atas: a. Lesi hipopigmentasi : pitiriasis alba dan vitiligo b. Lesi hiperpigmentasi : ephelides dan lentigines

(27)

2.4.8. Pengobatan

Pityriasis versicolor dapat diterapi secara topikal maupun sistemik. Tinggi angka kekambuhan merupakan masalah, dimana mencapai 60% pada tahun pertama 80% setelah tahun kedua. Oleh sebab itu diperlukan terapi profilaksis untuk mencegah rekurensi.

1. Pengobatan Topikal

Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten. Obat yang dapat digunakan ialah :

- Selenium sulfida 1,8% dalam bentuk shampo 2-3 kali seminggu. Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit sebelum mandi.

- Salisil spiritus 10%

- Turunan azol misalnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol dan ekonazol dalam bentuk topikal

- Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%

- Larutan Tiosulfas natrikus 25%, dioleskan sehari 2 kali sehabis mandi selama 2 minggu.

2. Pengobatan Sistemik

Pengobatan sistemik diberikan pada kasus pitiriasis versikolor yang luas atau jika pemakaian obat topikal tidak berhasil. Obat yang dapat diberikan adalah :

- Ketokonazol 200 mg / hari selama 10 hari

(28)

2.4.9. Pencegahan

Untuk pencegahan dapat disarankan pemakaian 50% propilen glikol dalam air atau sistemik ketokonazol 400 mg/hari sekali sebulan.

Pada daerah endemik untuk pencegahan penyakit dapat disarankan pemakaian ketokonazol 200 mg/hari selama 3 hari setiap bulan atau itrakonazol 200 mg sekali sebulan atau pemakaian shampo selenium sulfid sekali seminggu (Partogi, 2008).

2.4.10. Prognosis

(29)

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

3.2. Defenisi Operasional

a. Pengetahuan adalah apa saja yang diketahui siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor). Penilaian terhadap pengetahuan siswa-siswi tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor) dilakukan dengan mengajukan pertanyaan dalam bentuk angket (kuesioner) kepada responden dengan skor 1 untuk setiap jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban yang salah, tidak menjawab maupun tidak tahu. Penilaian pengetahuan dapat dilihat dari setiap item pertanyaan yang akan diberikan peneliti kepada responden. Menurut Arikunto ( 2006) dalam Machfoedz (2009), kategori pengetahuan dapat ditentukan dengan kriteria :

1. Pengetahuan baik : jika jawaban benar 76 – 100 % 2. Pengetahuan cukup : jika jawaban benar 56 – 75 % 3. Pengetahuan kurang : jika jawaban benar ≤ 55 % Pengetahuan

Siswa-Siswi

Kebersihan Kulit Terhadap Penyakit Panu

(30)

b. Siswa-siswi SMK adalah peserta pendidikan formal pada jenjang Sekolah Menengah Atas yang menurut kelompok umurnya dapat dikategorikan sebagai kelompok usia remaja. Siswa-siswi yang menjadi sampel/responden pada penelitian ini adalah siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya yang berada di lingkungan Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau, bersedia menjadi subjek penelitian dan masih aktif saat penelitian ini dilakukan.

c. Kebersihan kulit adalah memelihara kebersihan dan kesehatan diri untuk kesejahteraan fisik dan psikis.

(31)
(32)

Tabel 3.2. Skor berdasarkan pilihan jawaban

No A B C

1 1 0 0

2 0 1 0

3 0 0 1

4 1 0 0

5 0 1 0

6 0 1 0

7 0 1 0

8 0 1 0

9 0 1 0

10 1 0 0

11 0 0 1

12 0 0 1

13 1 0 0

14 0 1 0

(33)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian bersifat deskriptif, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah,

Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang kebersihan diri terhadap penyakit panu

(Pityriasis versicolor). Pendekatan yang dilakukan pada desain penelitian ini adalah

cross sectional study dimana data dikumpulkan pada satu waktu tertentu. Penelitian ini telah mendapatkan ethical clearance (EC) atau Persetujuan Komisi Etik Penelitian tentang Pelaksanaan Penelitian di Bidang Kesehatan.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu Penelitian

Penelitian ini berlangsung selama 10 bulan, sejak peneliti menentukan judul, menulis proposal hingga seminar hasil yang berlangsung sejak bulan Februari hingga Desember 2011.

4.2.2. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMK Widya Karya Balai Jaya, provinsi Riau.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi

(34)

masih aktif saat penelitian ini dilakukan. Didapati jumlah populasi sebanyak 340 orang siswa-siswi.

4.3.2. Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah sebagian dari siswi-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya. Dalam menentukan besarnya sampel, dilakukan perhitungan sampel dengan menggunakan rumus (Notoatmodjo, 2005):

N

d = Tingkat kepercayaan (ketepatan yang diinginkan)

2 dari rumus di atas berjumlah sekitar 78 orang. Pengambilan dilakukan dengan teknik

stratified random sampling. Sampel tersebut kemudian didistribusikan merata pada setiap jenjang kelas di sekolah tersebut:

 Siswa kelas X : 39 orang

(35)

4.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dibagi menjadi 2 cara, yakni menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden dimana pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang dibagikan kepada responden untuk mendapatkan jawaban pertanyaan. Sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan dari pihak sekolah yang berhubungan dengan jumlah dan karekteristik Siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya, dimana telah mendapat persetujuan langsung secara lisan dari pihak sekolah untuk mendapatkan data siswa yang akan dijadikan sampel penelitian.

4.4.1. Uji Validitas dan Reabilitas

Kuesioner yang dipergunakan dalam penelitian ini akan diuji validitas dan reliabilitasnya dengan menggunakan teknik korelasi product moment dan uji

(36)

Tabel 4.1. Hasil uji validitas dan reabilitas Pertanyaan Korelasi

pearson Status Alpha Status

1 0,537 Valid 0,869 Realiabel

2 0,447 Valid Realiabel

3 0,594 Valid Realiabel

4 0,680 Valid Realiabel

5 0,668 Valid Realiabel

6 0,383 Valid Realiabel

7 0,791 Valid Realiabel

8 0,659 Valid Realiabel

9 0,643 Valid Realiabel

10 0,827 Valid Realiabel

11 0,757 Valid Realiabel

12 0,549 Valid Realiabel

13 0,627 Valid Realiabel

14 0,694 Valid Realiabel

15 0,494 Valid Realiabel

4.5. Metode Analisis Data

Data diperoleh dari penilaian jawaban keusioner responden dimasukkan ke dalam komputer oleh peneliti. Analisis data yang diperoleh dilakukan dengan statistik deskriptif dengan menggunakan program komputer.

(37)
(38)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah SMK Widya Karya Balai Jaya. Sekolah ini terdapat di Jalan Lintas Sei Dua KM. 37 Balam, Desa Balai Jaya, Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Sekolah ini berdiri sejak 31 Juni 2009. Pada Juni 2011 sekolah ini mempunyai jumlah total siswa-siswi sebanyak 340 orang, dengan perincian 180 siswa dan 160 siswi.

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini, responden yang terpilih sebanyak 78 orang yang terdiri dari 39 orang kelas X dan 39 orang kelas XI.

Dari keseluruhan responden,gambaran karakteristik yang diamati meliputi jenis kelamin dan usia responden. Data lengkap bila ditinjau dari jenis kelamin dan segi usia dapat dilihat pada tabel 5.1. dan 5.2.

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

Laki-laki 34 43.6

Perempuan 44 56.4

Jumlah 78 100

(39)

Tabel 5.2. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia

Kelompok Usia Frekuensi Persentase (%)

15 7 9

16 38 48.7

17 22 28.2

18 11 14.1

Jumlah 78 100

Dari tabel di atas terlihat bahwa kelompok terbesar responden terdapat pada usia 16 tahun yaitu sebanyak 48,7 %, diikuti usia 17 tahun sebanyak 28,2 %, lalu usia 18 tahun sebanyak 14,1 % dan terendah pada usia 15 tahun sebanyak 9 %.

5.1.3. Hasil Analisis Data

5.1.3.1. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tingkat Pengetahuan tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu ( Pityriasis versicolor)

Hasil uji tingkat pengetahuan mengenai kebersihan kulit terhadap penyakit panu ( Pityriasis versicolor) dengan menggunakan angket dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu ( Pityriasis versicolor)

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

Baik 17 21.8

Cukup 44 56.4

Kurang 17 21.8

Jumlah 78 100

(40)

kategori cukup, yaitu sebanyak 46 orang ( 56,4 % ), diikuti dengan kategori baik sebanyak 17 orang ( 21,8 % ) dan kategori buruk sebanyak 17 orang ( 21,8 % ).

5.1.3.2. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tingkat Pengetahuan tentang Kebersihan Kulit

Hasil uji tingkat pengetahuan mengenai kebersihan kulit menggunakan angket nomor 1, 2, 3, 4 dan 5 dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4. Distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan tentang kebersihan kulit

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

Baik 58 74.4

Cukup 17 21.8

Kurang 3 3.8

Jumlah 78 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai kebersihan kulit paling banyak pada kategori baik, yaitu sebanyak 58 orang ( 74,4 % ), diikuti dengan kategori cukup sebanyak 17 orang ( 21,8 % ) dan kategori buruk sebanyak 3 orang ( 3,8 % ).

5.1.3.3. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tingkat Pengetahuan tentang Panu ( Pityriasis versicolor)

Hasil uji tingkat pengetahuan mengenai panu ( Pityriasis versicolor)

(41)

Tabel 5.5. Distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan tentang panu ( Pityriasis versicolor)

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

Baik 12 15.4

Cukup 58 74.3

Kurang 8 10.3

Jumlah 78 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai panu ( Pityriasis versicolor) paling banyak pada kategori cukup, yaitu sebanyak 58 orang ( 74,3 % ), diikuti dengan kategori baik sebanyak 12 orang ( 15,4 % ) dan kategori buruk sebanyak 8 orang ( 10,3 % ).

5.1.3.4. Distribusi Frekuensi Variabel Pengetahuan

Data lengkap distribusi frekuensi jawaban responden pada variabel pengetahuan dapat dilihat pada tabel 5.6.

Tabel 5.6. Distribusi frekuensi jawaban responden pada variabel pengetahuan

No Pertanyaan

Jawaban Responden

Benar Salah

n % N %

1 Pengertian kebersihan 55 70,5 23 29,5

2 Pengertian kesehatan 62 79,5 16 20,5

3 Penyakit pada kebersihan kulit yang kurang

76 97,4 2 2,6

4 Bukan merupakan kebersihan kulit 51 65,4 27 34,6

5 Mandi dalam sehari 69 88,5 9 11,5

(42)

7 Fungsi kulit dari pancaindera 58 74,4 20 25,6

8 Faktor predisposisi 37 47,4 41 52.6

9 Penyebab panu 52 66,7 26 33,3

10 Mikroorganisme penyebab panu 52 66,7 26 33,3

11 Penularan panu 66 84,6 12 15,4

12 Sifat infeksi panu 20 25,6 58 74,4

13 Bagian tubuh yang sering terkena panu 58 74,4 20 25,6

14 Pengobatan panu 64 82,1 14 17,9

15 Kekambuhan pada panu 33 42,3 45 57,7

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pertanyaan yang paling banyak dijawab benar oleh responden adalah pertanyaan nomor 3 yaitu dengan persentase sebesar 97,4 %, sedangkan pertanyaan yang paling banyak dijawab salah oleh responden adalah pertanyaan nomor 12 dengan persentase sebesar 74,4 %.

5.1.3.5. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Pengetahuan Berdasarkan Jenis kelamin Data lengkap distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.7.

Tabel 5.7. Distribusi frekuensi hasil uji pengetahuan berdasarkan jenis kelamin

Jenis kelamin

Tingkat Pengetahuan

Baik Cukup Kurang Total

N % n % n % (%)

Laki-laki 9 26,5 17 50 8 23,5 100

Perempuan 8 18,1 27 61,4 9 20,5 100

(43)

adalah 26,5 %, 50 % dan 23,5 % sedangkan pada responden berjenis kelamin perempuan yang mempunyai pengetahuan baik, cukup dan kurang masing-masing adalah 18,1 %, 61,4 % dan 20,5 %.

5.1.3.6. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Pengetahuan Berdasarkan Usia

Data lengkap distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 5.8.

Tabel 5.8. Distribusi frekuensi hasil uji pengetahuan berdasarkan usia

Usia

Tingkat Pengetahuan

Baik Cukup Kurang Total

N % n % n % (%)

15 1 14,3 4 57,1 2 28,6 100

16 10 26,3 20 52,6 8 21,1 100

17 4 18,2 13 59,1 5 22,7 100

18 2 18,2 7 63,6 2 18,2 100

(44)

5.2. Pembahasan

Menurut Notoatmodjo (2003 dan 2007) pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.

Berdasarkan dari hasil analisis data (tabel 5.3) dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya mengenai kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor) berada dalam kategori cukup yaitu sebesar 56,4 %. Pada hasil uji tingkat pengetahuan tentang kebersihan kulit (tabel 5.4) berada dalam kategori baik yaitu sebesar 74,4% dan pada hasil uji tingkat pengetahuan tentang panu (Pityriasis versicolor) (tabel 5.5) berada dalam kategori cukup yaitu sebesar 74,3 %.

(45)

kebersihan kulit yaitu sebesar 65,4%. Hal ini dikarenakan kebersihan kulit yaitu menjaga kelembaban dan dehidrasi kulit. Pada pertanyaan 5 kebanyakan responden mengetahui tentang mandi dalam sehari yaitu sebesar 88,5%. Hal ini dikarenakan Mandi yang baik adalah 1 sampai 2 kali sehari, khususnya di daerah tropis penting untuk mempertahankan kebersihan kulit (Webhealthcenter, 2006).

Pada pertanyaan 6 (tabel 5.6) rata-rata responden mengetahui pengertian panu yaitu sebesar 53,8%. Hal ini dikarenakan panu dapat diketahui dari gambaran klinis yaitu adanya bercak putih ataupun kecokelatan dan kehitaman di badan yang kadang gatal bila berkeringat (Siregar RS, 2004). Pada pertanyaan 7 kebanyakan responden mengetahui fungsi kulit yaitu sebesar 74,4%. Hal ini dikarenakan fungsi kulit selain sebagai proteksi dan absorbsi juga sebagai persepsi yaitu peraba (Graham RB, 2005 dan Wasitaatmadja SM, 2008). Pada pertanyaan 8 rata-rata responden mengetahui faktor predisposisi berdasarkan usia yaitu sebesar 47,4%. Hal ini dikarenakan faktor predisposisi panu ( 16-40 tahun ) terjadi sejalan dimana rata-rata responden berada pada usia tersebut (Partosuwiryo, 1992). Pada pertanyaan 9 kebanyakan responden mengetahui penyebab panu yaitu sebesar 66,7%. Hal ini dikarenakan sebagian besar kasus Pityriasis versicolor terjadi karena keadaan yang mempengaruhi keseimbangan antara hospes dengan jamur tersebut diduga adanya faktor lingkungan diantaranya kelembaban kulit dan diperkirakan 50% dari populasi di negara tropis terkena penyakit ini (Partosuwiryo, 1992; Adiguna MS, 2001; Radiono, 2001). Pada pertanyaan 10 kebanyakan responden mengetahui mikroorganisme penyebab panu yaitu sebesar 66,7%. Hal ini karena para responden menganggap jamur sebagai mikroorganisme penyebab panu.

(46)

25,6%. Hal ini karena para responden menganggap bahwa panu bersifat ringan dan berhari-hari tanpa peradangan. Pada pertanyaan 13 kebanyakan responden mengetahui bagian tubuh yang sering terkena panu yaitu sebesar 74,4%. Hal ini dikarenakan Pityriasis versicolor sering mengenai muka, leher, badan, lengan atas, ketiak, paha dan lipat paha (Madani A, 2000). Pada pertanyaan 14 kebanyakan responden mengetahui pengobatan panu yaitu sebesar 82,1%. Hal ini dikarenakan

Pityriasis versicolor dapat diterapi secara topikal maupun sistemik (Partogi, 2008 dan Prajapati, 2008). Pada pertanyaan 15 hanya sedikit responden yang mengetahui kekambuhan pada panu yaitu sebesar 42,3%. Hal ini dikarenakan para responden menganggap setelah diobati panu tidak akan kambuh kembali,sementara Tinggi angka kekambuhan merupakan masalah, dimana mencapai 60% pada tahun pertama 80% setelah tahun kedua. Oleh sebab itu diperlukan terapi profilaksis untuk mencegah rekurensi (Partogi, 2008 dan Prajapati, 2008).

Berdasarkan hasil analisis data distribusi frekuensi hasil uji pengetahuan berdasarkan jenis kelamin (tabel 5.7), dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari tingkat pengetahuan responden berdasarkan jenis kelamin. Pada responden dengan jenis kelamin laki-laki didapatkan pengetahuan kurang sebanyak 8 orang (23,5%) sedangkan perempuan sebanyak 9 orang (20,5%) dari total 17 orang. Namun hal ini tidak bermakna karena memang proporsi responden perempuan lebih besar (56,4%) dibandingkan dengan responden laki-laki (43,6%).

Berdasarkan hasil analisis data distribusi frekuensi hasil uji pengetahuan berdasarkan usia (tabel 5.8), ditemukan bahwa proporsi responden yang memiliki pengetahuan baik paling besar terdapat pada usia 16 tahun, yaitu 26,3 %. Untuk pengetahuan cukup, paling banyak ditemukan pada usia 17 tahun, yaitu 59,1 % dan pengetahuan kurang terbanyak juga ditemukan pada usia 15 tahun, yaitu 28,6 %.

(47)

(Sentosa F, 2010). Hasil ini juga tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prihyugiarto (2008), bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah usia, yaitu pada kelompok usia yang lebih tua akan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan pada kelompok usia yang lebih muda. Dalam hal ini penulis beranggapan karena mayoritas responden yang menjadi sampel penelitian adalah kelompok usia 16 tahun.

(48)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor) mayoritas berada pada kategori cukup, yaitu 56,4 %.

2. Tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya tentang kebersihan kulit mayoritas berada pada kategori baik, yaitu 74,4%.

3. Tingkat pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya tentang panu

(Pityriasis versicolor) mayoritas berada pada kategori cukup, yaitu 74,3 %.

6.2. Saran

1. Untuk meningkatkan pengetahuan siswa-siswi SMK Widya Karya Balai Jaya tentang kebersihan kulit terhadap penyakit panu (Pityriasis versicolor)

perlu dilakukan pemberian pengetahuan secara merata kepada siswa-siswi SMK Widya Karya, baik melalui jalur sekolah ataupun luar sekolah. Melalui jalur sekolah, disarankan kepada pihak sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang kebersihan kulit terhadap penyakit kulit, khususnya penyakit panu (Pityriasis versicolor). Sedangkan melalui jalur luar sekolah disarankan kepada orang tua dalam meningkatkan kepedulian mereka terhadap kebersihan, khususnya kebersihan kulit pada anak.

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Adiguna, M.S., 2001. Epidemiologi Dermatomikosis di Indonesia. Dalam: Budimulja, U., ed. Dermatomikosis Superfisialis Pedoman untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: FK UI, 1-6.

Arikunto, S., 2007. Analisi Data Penelitian Deskriptif. Dalam: Arikunto, S., ed.

Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 262-296.

Audring, et.al., 2006. Fungal Diseases. In: Sterry, W, Paus, R, and Burgdorf, W.(eds). Dermatologi. New York: 116.

Budimulja, U., 2008. Mikosis. Dalam: Djuanda, A., ed. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5 . Jakarta: FK UI, 89-102.

Elvina, P.A., 2010. Jangan Remehkan Gatal-gatal. Diperoleh dari: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid =24&id=30443. [Diakses pada 05 Desember 2011].

Graham, R.B., Burns T., 2005. Lecture Notes Dermatology. 8th ed. Jakarta: Erlangga, 8-9.

Harahap, M., 2000. Anatomi dan Fungsi Kulit. Dalam: Harahap, M., ed. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: 1-3.

Hidayat., 2009. Konsep Personal Hygiene. Diperoleh dari: http://hidayat2.wordpress.com/2009/03/20/23/. [Diakses pada 12 Maret

(50)

Iberoam, RM., 2010. Revista Iberoamericana de Micologia. Diperoleh dari: www.elsevier.es/reviberoammicol. [Diakses pada 25 April 2011].

Larson, E., 2001. Hygiene of the Skin: When Is Clean Too Clean?: Skin Barrier Properties and Effect of Hand Hygiene Practices. Diperoleh dari: http://www.medscape.com/viewarticle/414394_3 [Diakses pada 20 Mei

2011].

Madani, A.F., 2000. Infeksi Jamur Kulit. Dalam: Harahap, M., 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: 73-74.

Machfoedz, I., 2009. Metode Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan, Kebidanan, Kedokteran. Yogyakarta : Fitramaya, 126-127.

Notoatmodjo, S., 2003. Konsep Perilaku dan Perilaku Kesehatan. Dalam: Notoatmodjo, S., ed. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 121-124.

Notoatmodjo, S., 2005. Teknik Pengambilan Sampel. Dalam: Notoatmodjo, S., ed.

Metodologi Penelitian Kesehatan. . Jakarta : Rineka Cipta, 79-92.

Notoatmodjo, S., 2007. Konsep Perilaku dan Perilaku Kesehatan. Dalam: Notoatmodjo, S., ed. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta :Rineka Cipta, 139-142.

Partogi, D., 2008. Pityriasis Versicolor dan Diagnosis Bandingnya. Diperoleh dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3417/1/08E00851.pdf.

(51)

Partosuwiryo, S., Julianto, H.A.D., 1992. Pitiriasis Versikolor. Dalam: Tjokronegoro, A., ed. Diagnosis dan Penatalaksanaan Dermatomikosis. Jakarta: FK UI, 65-69.

Prihyugiarto, T. Y., 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap terhadap Perilaku Seks Pranikah pada Remaja di Indonesia. Dalam: Jurnal Ilmiah

Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi II (2). Diperoleh dari: www.bkkbn.go.id/Webs/DetailJurnalLitbang.php. [Diakses pada 04 Desember 2011].

Prajapati, V., Mydlarski, PR., 2008. Can You Identify This Condition?. Canadian Family Physician; 54: 1557-1559.

Radiono, S., 2001. Pitiriasis Versikolor. Dalam: Dermatomikosis Superfisialis Pedoman untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: FK UI, 17-21.

Sentosa, F., 2010. Tingkat Pengetahuan Siswi SMK Negeri 1 Medan Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja Tahun 2010. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Siregar, R.S., 2004. Penyakit Jamur Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC, 8-11.

Tanjung, SB., 2010. Perawatan Kebersihan Diri dan Kejadian Skabies. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Wasitaatmadja, S. M., 2008. Anatomi kulit dan Faal Kulit. Dalam: Djuanda, A., ed.

(52)

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Desiliani Silalahi

Tempat /Tanggal Lahir : Bagan Batu / 18 September 1989

Agama : Islam

Alamat : Jl. Sei Padang 138 I Medan

Riwayat Pendidikan : 1. SD Negeri 18 Balai Jaya (1995-2001)

2. SMP Babussalam Bagan Sinembah (2001-2004) 3. SMA Negeri 1 Bagan Sinembah (2004-2007) 4. Fakultas Kedokteran USU (2008-Sekarang)

Riwayat Pelatihan : 1. Workshop Sirkumsisi HMI Komisariat FK USU ( 2008 ) 2. Pekan Ilmiah Mahasiswa SCORE PEMA FK USU(2009) 3. Smart Soul Training Program PHBI FK USU ( 2009 ) 4. Seminar Internship HMI Komisariat FK USU- IDI Cabang Medan (2011)

Riwayat Organisasi : PHBI FK-USU (2009 – 2010)

(53)

LEMBAR PENJELASAN KEPADA SUBJEK PENELITIAN

Assalammualaikum Wr Wb / Salam Sejahtera

Dengan Hormat,

Saya Desiliani Silalahi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Saat ini saya sedang melakukan penelitian yang berjudul:

“ Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu (Pityriasis Versicolor)

Tahun 2011”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan siswa/i SMK terhadap panu ( Pityriasis versicolor).

Saya mengharapkan keikutsertaan dan kerja sama dari Saudara/i untuk memberikan jawaban yang sebenar-benarnya dalam penelitian ini. Jawaban yang Saudara/i berikan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian ini dan tidak akan disalahgunakan untuk maksud-maksud lain. Identitas Saudara/i akan tetap dirahasiakan dan tidak akan dipublikasikan.

Keikutsertaan Saudara/i dalam penelitian ini sangat saya harapkan. Partisipasi Saudara/i bersifat bebas dan tanpa ada paksaan. Saudara/i berhak untuk menolak berpartisipasi.

Demikianlah penjelasan ini saya sampaikan. Atas partisipasi dan kesediaan Saudara/i, saya ucapkan terima kasih.

Medan,...2011

Peneliti

(Desiliani Silalahi)

(54)

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN

“Informed Consent”

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : ... Umur : ... Alamat : ... No. Hp : ...

Setelah membaca dan mendapat penjelasan serta memahami sepenuhnya tentang penelitian,

Judul Penelitian :

Nama Peneliti : Desiliani Silalahi

Dengan ini menyatakan bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Saya akan menjawab dengan jujur seluruh pertanyaan yang diberikan oleh peneliti.

Balai Jaya, ... 2011 Yang membuat pernyataan

( ... )

Lampiran 3: Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan

Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMK Widya Karya Balai Jaya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir Riau

tentang Kebersihan Kulit terhadap Penyakit Panu (Pityriasis versicolor)

(55)

PENGETAHUAN SISWA-SISWI TENTANG KEBERSIHAN KULIT TERHADAP PENYAKIT PANU ( PITYRIASIS VERSICOLOR ) I. Karekteristik Responden

1. Apa yang dimaksud dengan hygiene/kebersihan secara umum?

a. Ilmu yang berkaitan dengan pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan

b. Ilmu yang mempelajari tentang mencuci suatu benda pribadi sampai bersih

c. Ilmu yang mempelajari tentang kesehatan fisik pada masa remaja dan terhindar dari berbagai penyakit

2. Apa yang dimaksud dengan kesehatan ?

a. Keadaan sehat fisik pada masa remaja dan terhindar dari berbagai penyakit b. Keadaan sehat fisik, mental dan sosial dan terhindar dari berbagai penyakit c. Keadaan sehat mental semasa hidup dan terhindar dari berbagai penyakit 3. Penyakit apa yang dapat di temukan pada kebersihan kulit (Skin hygiene) yang

kurang?

a. Asma b. Sakit kepala c. Gatal-gatal 4. Berikut ini yang bukan merupakan kebersihan kulit adalah?

a. Menjaga kepercayaan diri b. Menjaga kelembaban c. Mencegah dehidrasi kulit

5. Berapa kali seharusnya mandi dalam sehari? a. 1 kali b. 2 kali c. 4 kali 6. Apa yang dimaksud dengan panu?

(56)

b. Kelainan pada kulit yang ditandai dengan adanya bercak-bercak putih yang gatal

c. Kelainan pada kulit yang ditandai dengan adanya butiran-butiran putih yang gatal

7. Kulit memiliki beberapa fungsi, diantaranya pengaturan suhu tubuh. Ditinjau dari panca indera kita, manakah dibawah ini yang merupakan fungsi kulit?

a. Pengecap b. Peraba c. Pencium

8. Faktor predisposisi atau pencetus sangat berperan terjadinya penyakit panu, diantaranya adalah usia. Usia berapakah yang paling banyak dijumpai?

a. 5-10 tahun b. 16-40 tahun c. >40 tahun 9. Dibawah ini yang merupakan penyebab terjadinya panu adalah?

a. Daerah yang bersuhu dingin (<18 0C) b. Daerah bersuhu hangat dan lembab (>28 0C) c. Daerah yang bersuhu kamar (25 0C)

10. Dibawah ini mikroorganisme penyebab panu adalah? a. Jamur b. Parasit c. Bakteri

11. Bagaimanakah cara penularan panu? a. Berjabat tangan

b. Bersentuhan Lengan c. Bertukar-tukar pakaian

12. Penyakit panu merupakan infeksi pada kulit yang bersifat? a. Ringan dan berhari-hari tanpa peradangan

b. Ringan dan berbulan-bulan tanpa peradangan c. Ringan dan menahun tanpa peradangan

13. Berikut ini bagian tubuh manakah yang paling sering terkena panu? a. Leher dan muka

b. Telinga dan jari c. kaki dan bahu

14. Panu dapat diobati dengan? a. Sembuh sendiri tanpa diobati b. Pemberian salep antijamur c. Pemberian antibiotik

(57)
(58)
(59)

Kode Kelas JK Usia P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 Total Peng_Tot Keb_Kul Peng_

Kebkul Panu Peng_Panu

1 1 PR 16 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 11 Cukup 4 Baik 7 Cukup

2 1 PR 17 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 10 Cukup 4 Baik 6 Cukup

3 1 PR 16 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 11 Cukup 5 Baik 7 Cukup

4 1 PR 16 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 11 Cukup 4 Baik 7 Cukup

5 1 PR 16 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 8 Kurang 4 Baik 4 Kurang

6 1 PR 16 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 12 Baik 4 Baik 8 Baik

7 1 PR 16 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 8 Kurang 3 Cukup 5 Cukup

8 1 PR 16 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 11 Cukup 5 Baik 6 Cukup

9 1 PR 17 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 9 Cukup 3 Cukup 6 Cukup

10 1 PR 16 1 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 9 Cukup 4 Baik 5 Cukup

11 1 PR 16 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 9 Cukup 4 Baik 5 Cukup

12 1 PR 15 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 11 Cukup 4 Baik 7 Cukup

13 1 PR 16 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 8 Kurang 4 Baik 4 Kurang

14 1 PR 16 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 9 Cukup 2 Kurang 7 Cukup

15 1 PR 15 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 7 Kurang 2 Kurang 5 Cukup

16 1 LK 17 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 0 8 Kurang 4 Baik 4 Kurang

17 1 PR 17 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 9 Cukup 5 Baik 4 Kurang

18 1 PR 16 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 8 Kurang 3 Cukup 5 Cukup

19 1 PR 16 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 13 Baik 5 Baik 8 Baik

20 1 PR 17 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 9 Cukup 3 Cukup 6 Cukup

21 1 PR 16 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 12 Baik 4 Baik 8 Baik

22 1 PR 15 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 10 Cukup 4 Baik 6 Cukup

23 1 LK 16 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 10 Cukup 4 Baik 6 Cukup

24 1 LK 16 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 8 Kurang 3 Cukup 5 Cukup

(60)
(61)

65 2 PR 17 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 8 Kurang 3 Cukup 5 Cukup

66 2 PR 17 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 11 Cukup 5 Baik 6 Cukup

67 2 PR 17 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 8 Kurang 3 Cukup 5 Cukup

68 2 PR 18 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 10 Cukup 4 Baik 6 Cukup

69 2 PR 16 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 7 Kurang 3 Cukup 4 Kurang

70 2 PR 17 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 13 Baik 5 Baik 8 Baik

71 2 PR 18 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 11 Cukup 4 Baik 7 Cukup

72 2 PR 16 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 12 Baik 4 Baik 8 Baik

73 2 PR 16 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 11 Cukup 4 Baik 7 Cukup

74 2 PR 16 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 8 Kurang 3 Cukup 5 Cukup

75 2 PR 16 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 12 Baik 4 Baik 8 Baik

76 2 PR 16 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 11 Cukup 4 Baik 7 Cukup

77 2 PR 18 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 13 Baik 5 Baik 8 Baik

(62)

p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 p11 p12 p13 p14 p15 total

p1 Pearson Correlation 1 .488** .171 .267 .284 .408* .267 .385* .509** .408* .171 .036 .171 .408* -.029 .537** Sig. (2-tailed) .006 .366 .154 .129 .025 .154 .036 .004 .025 .366 .849 .366 .025 .878 .002

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

p2 Pearson Correlation .488** 1 .088 .149 -.083 .598** .149 .351 .447* .239 .088 .000 .088 .239 .120 .447* Sig. (2-tailed) .006 .645 .432 .663 .000 .432 .057 .013 .203 .645 1.000 .645 .203 .529 .013

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

p3 Pearson Correlation .171 .088 1 .196 .473** -.105 .523** .712** .523** .288 .423* .049 .135 .681** .419* .594** Sig. (2-tailed) .366 .645 .299 .008 .581 .003 .000 .003 .122 .020 .797 .478 .000 .021 .001

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

p4 Pearson Correlation .267 .149 .196 1 .557** .356 .630** .196 .259 .802** .523** .667** .523** .356 .134 .680** Sig. (2-tailed) .154 .432 .299 .001 .053 .000 .299 .167 .000 .003 .000 .003 .053 .481 .000

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

p5 Pearson Correlation .284 -.083 .473** .557** 1 -.050 .557** .473** .557** .695** .473** .371* .473** .695** .199 .668** Sig. (2-tailed) .129 .663 .008 .001 .795 .001 .008 .001 .000 .008 .043 .008 .000 .293 .000

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

p6 Pearson Correlation .408* .598** -.105 .356 -.050 1 .356 -.105 -.089 .464** .288 .200 .288 -.071 .018 .383* Sig. (2-tailed) .025 .000 .581 .053 .795 .053 .581 .640 .010 .122 .288 .122 .708 .925 .037

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

p7 Pearson Correlation .267 .149 .523** .630** .557** .356 1 .523** .259 .802** .850** .389* .523** .356 .356 .791** Sig. (2-tailed) .154 .432 .003 .000 .001 .053 .003 .167 .000 .000 .034 .003 .053 .053 .000

N 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

p8 Pearson Correlation .385* .351 .712** .196 .473** -.105 .523** 1 .850** .288 .423* .049 .135 .681** .223 .659** Sig. (2-tailed) .036 .057 .000 .299 .008 .581 .003 .000 .122 .020 .797 .478 .000 .237 .000

Gambar

Tabel 3.1. Variabel, Definisi Operasional, Cara Ukur, Alat Ukur, Hasil Ukur dan
Tabel 3.2. Skor berdasarkan pilihan jawaban
Tabel 4.1. Hasil uji validitas dan reabilitas
Tabel 5.1. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
+6

Referensi

Dokumen terkait

Besarnya nilai koefisien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R Square dalam model regresi tersebut adalah 0,238 yang berarti besar

Analisis ragam uji BNT pada taraf α = 5 % menunjukkan bahwa pemberian decanter solid terhadap pertumbuhan bibit karet ( Hevea Brasiliensis Muell. Arg) dengan media

Bentuk-bentuk soalan adalah pandangan terhadap iklan susu yang di paparkan di media dan adakah maklumat-maklumat berikan susu segar atau susu formula mempengaruhi mereka dalam

Angka reliabilitas ini menunjukkan soal tergolong pada kategori sedang dan soal sudah reliabel.Hasilanalisis tingkat kesukaran soal diketahui bahwa Hasil analisis

Keputusan kajian juga mendapati masa optimum bagi proses campuran dan pemisahan torium dalam larutan akueus kepada fasa organik masing - masing adalah 5 min.. Sehubungan dengan

(3) Customer Relationship Management berpengaruh positif dan signifikan terhadap Loyalitas Pelanggan bisnis, dengan besar pengaruh 0.4822, jadi berdasarkan data

Maulana, Mehdi, ST, UNDIP, 2011, “Pengaruh Paduan Abu Batu Bara dan Pasir Inti Cor Bekas Terhadap Konduktivitas Termal dan Kuat tekan Dingin Sebagai. Bahan Refraktori”, Bab 2,

Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Pollung... Peta Jenis Tanah