• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Lean Thinking Untuk Mengurangi Waste pada PT Baja Pertiwi Industri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pendekatan Lean Thinking Untuk Mengurangi Waste pada PT Baja Pertiwi Industri"

Copied!
205
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI PENDEKATAN LEAN THINKING UNTUK

MENGURANGI WASTE PADA PT BAJA PERTIWI

INDUSTRI

TUGAS SARJANA

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Oleh

FANESHA FEBRIARY TOBING NIM. 060403060

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus atas segala

kasih Karunia-Nya serta kemurahannya sehingga penulis dapat meneyelesaikan

Laporan Tugas Sarjana ini. Tugas Sarjana merupakan salah satu syarat akademis

yang harus dipenuhi oleh mahasiswa Teknik Industri untuk memperoleh gelar

Sarjana Teknik.

Penulis melaksanakan Tugas Sarjana di PT Baja Pertiwi Industri yang

bergerak dalam industri pengolahan baja dengan produk yang dihasilkan adalah

sparepart dari peralatan di pabrik kelapa sawit. Tugas Sarjana ini berjudul “Studi

Pendekatan Lean Thinking Untuk Mengurangi Waste pada PT Baja Pertiwi Industri.”

Penulis menyadari bahwa laporan Tugas Sarjana ini masih jauh dari

kesempurnaan, penulis terbuka untuk setiap kritik dan saran yang bersifat

membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan tulisan ini ke depan.

Medan, Desember 2010

(5)

UCAPAN TERIMAKASIH

Dalam penulisan Tugas Sarjana ini penulis telah mendapat bimbingan dan

dukungan dari berbagai pihak, baik berupa materi, spiritual, informasi maupun

administrasi. Oleh karena itu selayaknya penulis mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Ibu Ir. Rosnani Ginting, MT. selaku Ketua Departemen Teknik Industri

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Aulia Ishak, S. T., M. T. dan Bapak Ir. Sugih Arto Pujangkoro, M. M.

selaku koordinator Tugas Sarjana Departemen Teknik Industri Universitas

Sumatera Utara serta Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE. Selaku

Ketua bidang Manajemen Rekayasa dan Produksi.

3. Bapak Dr. Ir. Harmein Nasution, MSIE, selaku Dosen Pembimbing I dan Ibu Ir.

Dini Wahyuni, MT, selaku Dosen Pembimbing II dalam pelaksanaan Tugas

Sarjana yang telah memberikan banyak pengajaran baru bagi penulis dan

memberikan motivasi yang sangat berharga.

4. Staff pegawai Teknik Industri Bang Mijo, Kak Dina, Bang Nurmansyah, Bang

Kumis, Kak Rahma dan Ibu Ani, dan Bang Riidho terimakasih atas bantuannya

dalam masalah administrasi untuk melaksanakan Tugas Sarjana ini.

5. Bapak Sudirman selaku Direktur Utama PT Baja Pertiwi Industri yang telah

bersedia mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di Perusahaan

tersebut dan Bapak William Rajali selaku Manajer yang memberikan arahan

(6)

Industri yang telah banyak membantu memberikan informasi yang dibutuhkan

oleh penulis dalam melaksanakan Tugas Sarjana ini.

6. Kedua orang tua penulis (Z. Lumban Tobing dan E. Simatupang) dan

saudara-saudara penulis (Debby Ishabel Tobing, Maria Monthesori Tobing, Jove

Thobias Sumurung L Tobing) serta keluarga besar Simatupang dan Tobing

yang telah mendukung lewat doa, semangat, dan dana.

7. Teman-teman B2B (K’Desima Aruan, B’ Marojahan Tampubolon, Wenny C S

Purba dan Santa M Sitorus) yang selalu setia mendoakan penulis dan

memberikan semangat yang luar biasa selama pengerjaan Tugas Sarjana ini

serta membagikan kepadaku makna karya ini terhadap pengembangan dunia

pendidikan.

8. Adik-adik Kelompok Kecil (Debby Purba, Melanie Saragih, Dewi Sihombing,

Grace Sitepu, Rachel Ompusunggu, Petrus Pardede, Advent Silalahi) yang

senantiasa memberikan semangat serta doa pada penulis.

9. Teman-teman pengurus UKM KMK USU UP FT periode 2011 (B’Saor,

K’Chay, K’Neke, K’Grace, Mega, Yana, Juwita, Surya, Ayu, Anton, Oktav,

Bonar dan lainnya) yang senantiasa menjadi tempat berbagi.

10. Dame, Pahala, Bernido, Folda, K’Trisna, K’Elly yang senantiasa memberikan

doa dan semangatnya kepada penulis.

11. Indah Permata Sari Siahaan dan Mastora Siahaan yang menjadi sahabat,

sahabat doa dan rekan peneliti di PT Baja Pertiwi Industri.

12. Rekan-rekan stambuk 2006 (Jefri, Delfandi, Yansis, Julius, Sartono, Andi V,

(7)

Ronald, Yantok, Kiyo, Jacka dan yang lain yang tidak dapat disebutkan satu per

satu ) yang senantiasa memberikan semangat lewat sikap dan senyuman kepada

(8)

DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

ABSTRAK

I. PENDAHULUAN ... I-1

1.1. Latar belakang ... I-1

1.2. Rumusan Permasalah ... I-4

1.3. Tujuan dan Manfaat ... I-5

1.4. Batasan Masalah dan Asumsi ... I-5

1.5 Sistematika Penulisan Laporan ... I-6

II. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... II-1

2.1. Sejarah Perusahaan ... II-1

(9)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

2.3. Lokasi Perusahaan ... II-2

2.4. Daerah Pemasaran ... II-2

2.5. Organisasi dan Manajemen ... II-2

2.5.1. Struktur Organisasi ... II-2

2.5.2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab ... II-4

2.5.3. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja ... II-4

2.5.3.1. Jumlah Tenaga Kerja ... II-4

2.5.3.2. Jam Kerja ... II-5

2.5.4. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya ... II-6

2.6. Proses Produksi ... II-7

2.6.1. Bahan yang Digunakan ... II-7

2.6.1.1. Bahan Baku ... II-7

2.6.1.2. Bahan Penolong ... II-8

2.6.1.3. Bahan Tambahan ... II-9

2.6.2. Uraian Proses... II-10

2.7. Mesin dan Peralatan ... II-14

2.7.1. Mesin ... II-14

(10)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

III. LANDASAN TEORI ... III-1

3.1. Konsep Lean ... III-1

3.1.1. Defenisi ... III-1

3.1.2. Keunggulan dan Tujuan Pendekatan Lean ... III-3

3.1.3 Prinsip Utama Pendekatan Lean... III-6

3.1.4. Tujuh Tipe Pemborosan (Waste) ... III-9

3.2. Penerapan Lean pada Berbagai Perusahaan Manufaktur... III-11

3.3. Metode yang Digunakan dalam Lean Manufacturing ... III-12

3.3.1 Value Stream Mapping ... III-13

3.3.1.1. Current State Map ... III-15

3.3.1.2. Future State Map ... III-22

3.4. 5 S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) ... III-25

3.4.1. Seiri (Pemilahan) ... III-26

3.4.2. Seiton (Penataan) ... III-27

3.4.3. Seiso (Pembersihan) ... III-28

3.4.4. Seiketsu (Pemantapan) ... III-29

3.4.5. Shitsuke (Pembiasaan) ... III-29

3.5. Kanban ... III-30

3.5.1. Persiapan Pra Kanban ... III-30

(11)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

3.5.2.1. Fungsi Kanban ... III-33

3.5.2.2. Aturan Kanban ... III-35

3.6. Keseimbangan Lintasan (Line Balancing) ... III-37

3.6.1. Pendahuluan ... III-37

3.6.2. Data Masukan ... III-39

3.6.3. Metode Penyeimbangan Lintasan... III-40

3.7. Studi Waktu ... III-38

3.7.1. Cara Pengukuran Kerja Dengan Stop Watch Time Study ... III-40

IV. METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1

4.1. Blok Diagram Penelitian... IV-1

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... IV-2

4.3. Metode Penelitian ... IV-2

4.3.1. Jenis Penelitian ... IV-2

4.3.2. Defenisi Variabel Operasional ... IV-2

4.3.3. Kerangka Konseptual... IV-3

4.4. Metodologi Penelitian ... IV-6

4.4.1. Pengumpulan Data ... IV-6

4.4.2. Pengolahan Data ... IV-7

(12)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

V. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA... V-1

5.1. Pengumpulan Data ... V-1

5.1.1. Data Jumlah Permintaan ... V-1

5.1.2. Data Hasil Pengamatan Proses Produksi ... V-2

5.2. Pengolahan Data ... V-4

5.2.1. Pembentukan Current State Map ... V-4

5.2.1.1. Penentuan Produk Model Line ... V-4

5.2.1.2. Penentuan Value Stream Manager ... V-6

5.2.1.3. Pembuatan Peta Untuk Setiap Kategori Proses

(Door-to-Door Flow) di Sepanjang Value-

stream ... V-6

5.2.1.4. Pembentukan Peta Aliran Keseluruhan Pabrik ... V-22

5.2.2. Peramalan Jumlah Permintaan dengan Metode Time-

Series ... V-23

5.2.3. Perhitungan Takt Time ... V-31

VI. ANALISIS PEMECAHAN MASALAH ... VI-1

6.1. Analisis Current State Map ... VI-1

6.2. Rancangan Tindakan Perbaikan ... VI-9

(13)

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

6.2.2. Kanban ... VI-14

6.2.3. Keseimbangan Lintasan Produksi ... VI-19

6.3. Kemungkinan Penerapan ... VI-26

VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1

6.1. Kesimpulan ... VII-1

6.2. Saran ... VII-1

(14)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

1.1. Waktu Menunggu pada Proses Produksi Roda Lorry ... I-2

2.1. Alokasi Tenaga Kerja ... II-4

3.1. Era yang Berbeda pada Industri Otomotif ... III-4

3.2. Perbandingan Sebelum dan Sesudah Penerapan Lean ... III-12

3.3. Lambang-lambang yang Digunakan pada Peta Kategori Proses ... III-18

3.4. Lambang-Lambang yang Melengkapi Peta Keseluruhan ... III-20

3.5. Hubungan Antara Fungsi Kanban dan Aturan yang Digunakan ... III-35

5.1. Jumlah Permintaan Roda Lorry ... V-1

5.2. Data Uptime, Scrap dan Jumlah Operator ... V-2

5.3. Data Pengamatan Waktu Siklus ... V-3

5.4. Cycle Time Stasiun Pembuatan Corong ... V-6

5.5. Uji Kecukupan Data Stasiun Pembuatan Corong ... V-8

5.6. Rekapitulasi Pengujian Data ... V-9

5.7. Rekapitulasi Waktu Proses ... V-10

5.8 Perhitungan Waktu Baku (Menit) ... V-12

5.9. Jumlah Permintaan Roda Lorry ... V-23

5.10. Perhitungan Peramalan untuk Metode Siklis ... V-24

5.11. Perhitungan Parameter Peramalan untuk Metode Kuadratis... V-28

5.12. Perhitungan SEE untuk Metode Siklis ... V-27

(15)

DAFTAR TABEL (Lanjutan)

TABEL HALAMAN

5.14. Perhitungan Hasil Verifikasi ... V-30

5.15. Rekapitulasi Takt Time ... V-34

6.1. Total Value Added Time ... VI-1

6.2. Total Non-Value Added Time ... VI-2

6.3. Penggunaan Metode 5 Why dalam Mengetahui Akar

Permasalahan ... VI-8

6.4. Kebutuhan Setiap Barang di Setiap Stasiun ... VI-9

6.5. Waktu Siklus dar Setiap Stasiun ... VI-20

6.6. Waktu Baku Setiap Proses ... VI-21

6.7. Menentukan Elemen Kerja Tiap-tiap Region ... VI-23

6.8. Hasil Work Center yang Diseimbangkan ... VI-24

(16)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

2.1. Struktur Organisasi PT. Baja Pertiwi Industri ... II-3

3.1. Skema 5S ... III-26

3.2. Kanban Penarikan ... III-31

3.3. Kanban Perintah Produksi… ... III-31

4.1. Blok Diagram Penelitian ... IV-1

4.2. Kerangka Konseptual ... IV-5

4.3. Blok Diagram Pengolahan dan Analisis Data... IV-12

5.1. Flow Process Chart Produksi Roda Lorry ... V-5

5.2. Peta Kontrol Cycle Time Stasiun Pembuatan Corong ... V-8

5.3. Layout Stasiun Pembuatan Mal ... V-13

5.4. Layout Stasiun Pembuatan Corong ... V-14

5.5. Layout Stasiun Pembuatan Cetakan... V-15

5.6. Layout Stasiun Peleburan ... V-16

5.7. Layout Stasiun Pembongkaran ... V-16

5.8. Layout Stasiun Pembersihan ... V-17

5.9. Layout Stasiun Pembubutan Roda Lorry ... V-17

5.10. Layout Stasiun Pendempulan dan Pengecatan ... V-18

5.11. Layout Stasiun Pemotongan Ash ... V-18

5.12. Layout Stasiun Pembubutan Ash ... V-20

(17)

DAFTAR GAMBAR (Lanjutan)

GAMBAR HALAMAN

5.14. Scatter Diagram Jumlah Permintaan Roda Lorry PT Baja

Pertiwi Industri pada Periode Satu Tahun ... V-24

5.15. Moving Range Chart Permintaan Roda Lorry ... V-31

6.1. Pie Chart Perbandingan VA dan NVA ... VI-3

6.2. Format Kanban Penarikan... VI-17

6.3. Kanban Penarikan ... VI-18

6.4. Format Kanban Perintah Produksi ... VI-18

6.5. Kanban Perintah Produksi... VI-19

6.6. Precedence Diagram ... VI-19

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN HALAMAN

1. Tugas dan Tanggung Jawab Pemegang Jabatan di PT. BajaPertiwi

Industri ... L-1

2. Data Spesifikasi Mesin PT Baja Pertiwi Industri ... L-4

3. Pengujian Data Waktu (Cycle Time) ... L-8

4. Tabel Kelonggaran Berdasarkan Faktor-faktor yang Berpengaruh ... L-19

5. Tabel Distribusi F ... L-26

6. Form Tugas Akhir... L-27

7. SK Tugas Sarjana ... L-28

8. Surat Penjajakan ... L-29

9. Surat Balasan ... L-30

(19)

ABSTRAK

Perusahaan Baja Pertiwi Industri merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan baja. Produk yang dihasilkan adalah sparepart dari peralatan di pabrik kelapa sawit seperti roda lorry, roda transfer carriage, screw,

jaw, parang tanduk, mesin pompa dan sebagainya. Bahan baku diperoleh dari supplier barang bekas yang bahan dasarnya stainless dan besi. Selama ini

perusahaan menggunakan sistem make to order, jadi produksinya adalah berdasarkan pesanan. Dengan demikian perusahaan sangat bergantung kepada pelanggan. Dalam menjalankan kegiatan produksinya, PT Baja Pertiwi Industri mengalami permasalahan yaitu adanya waste pada bagian produksi yang dalam hal ini pada pemenuhan order roda lorry antara lain waktu menunggu, transportasi dan

stock. Perusahaan perlu mengatasi pemborosan yang terjadi sehingga production lead time menjadi lebih pendek.

Penggunaan value stream mapping dapat membantu untuk mengidentifikasi terjadinya waste (tujuh jenis waste antara lain overproduction, waiting,

transportation, inappropriate processing, unnecessary inventory, unnecessary motion, defect)selama proses produksi berlangsung. Value stream mapping adalah

alat bantu untuk memetakan nilai selama proses produksi untuk setiap aktivitas yang terjadi sehingga dapat diketahui aktivitas mana yang dapat memberikan nilai tambah dan yang tidak memberikan nilai tambah, dengan kata lain mengidentifikasi pemborosan yang terjadi selama proses produksi sehingga dapat diambil langkah untuk mengurangi pemborosan tersebut. Pemborosan yang menjadi perhatian adalah waktu menunggu antar proses yang panjang yang dapat pada current state

map. Setelah dicari akar permasalahan dengan menggunakan tool 5 why diperoleh

bahwa yang menjadi akar permasalahan adalah ketidakseimbangan lintasan produksi. Beberapa usulan perbaikan untuk membuat future state map kemudian diberikan antara lain penerpaan prinsip 5S, kanban, dan penyeimbangan lintasan dengan menggunakan metode Kilbridge Wester. Dengan dilakukannya perbaikan diperoleh pengurangan production lead time sebanyak 3825.57 menit ataupun 53.60%.

Keyword : value stream mapping, waste, waktu menunggu, 5S, kanban, line

(20)

ABSTRAK

Perusahaan Baja Pertiwi Industri merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan baja. Produk yang dihasilkan adalah sparepart dari peralatan di pabrik kelapa sawit seperti roda lorry, roda transfer carriage, screw,

jaw, parang tanduk, mesin pompa dan sebagainya. Bahan baku diperoleh dari supplier barang bekas yang bahan dasarnya stainless dan besi. Selama ini

perusahaan menggunakan sistem make to order, jadi produksinya adalah berdasarkan pesanan. Dengan demikian perusahaan sangat bergantung kepada pelanggan. Dalam menjalankan kegiatan produksinya, PT Baja Pertiwi Industri mengalami permasalahan yaitu adanya waste pada bagian produksi yang dalam hal ini pada pemenuhan order roda lorry antara lain waktu menunggu, transportasi dan

stock. Perusahaan perlu mengatasi pemborosan yang terjadi sehingga production lead time menjadi lebih pendek.

Penggunaan value stream mapping dapat membantu untuk mengidentifikasi terjadinya waste (tujuh jenis waste antara lain overproduction, waiting,

transportation, inappropriate processing, unnecessary inventory, unnecessary motion, defect)selama proses produksi berlangsung. Value stream mapping adalah

alat bantu untuk memetakan nilai selama proses produksi untuk setiap aktivitas yang terjadi sehingga dapat diketahui aktivitas mana yang dapat memberikan nilai tambah dan yang tidak memberikan nilai tambah, dengan kata lain mengidentifikasi pemborosan yang terjadi selama proses produksi sehingga dapat diambil langkah untuk mengurangi pemborosan tersebut. Pemborosan yang menjadi perhatian adalah waktu menunggu antar proses yang panjang yang dapat pada current state

map. Setelah dicari akar permasalahan dengan menggunakan tool 5 why diperoleh

bahwa yang menjadi akar permasalahan adalah ketidakseimbangan lintasan produksi. Beberapa usulan perbaikan untuk membuat future state map kemudian diberikan antara lain penerpaan prinsip 5S, kanban, dan penyeimbangan lintasan dengan menggunakan metode Kilbridge Wester. Dengan dilakukannya perbaikan diperoleh pengurangan production lead time sebanyak 3825.57 menit ataupun 53.60%.

Keyword : value stream mapping, waste, waktu menunggu, 5S, kanban, line

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan 1

Perusahaan Baja Pertiwi Industri merupakan perusahaan yang bergerak

dalam industri pengolahan baja. Produk yang dihasilkan adalah sparepart dari

peralatan di pabrik kelapa sawit seperti roda lorry, roda transfer carriage, screw, Dasar pemikiran dari lean thinking adalah berusaha menghilangkan waste

(pemborosan) di dalam proses, atau dapat juga dikatakan sebagai suatu konsep

perampingan atau efisiensi. Konsep lean thinking ini dapat diaplikasikan pada

perusahaan manufaktur maupun jasa, karena pada dasarnya efisiensi selalu menjadi

target yang ingin dicapai oleh semua perusahaan. Untuk dapat mengaplikasikan

konsep lean thinking pada perusahaan, baik itu perusahaan jasa ataupun

manufaktur, maka perusahaan harus mampu untuk mengidentifikasi kebutuhan dari

konsumen, dan apa yang dipentingkan oleh konsumen. Pendekatan ini merupakan

filosofi dasar untuk mengoptimalkan performansi sistem manufaktur.

Menurut Liker (2006) Toyota telah mengidentifikasikan tujuh jenis aktivitas utama

yang tidak memiliki nilai tambah dalam bisinis maupun proses manufaktur antara

lain produksi berlebihan, waktu menunggu, transportasi, persediaan berlebih,

gerakan yang tidak perlu dan produk cacat. Seluruh kegiatan tersebut merupakan

pemborosan (waste) yang dapat memperpanjang production lead time.

1

(22)

jaw, parang tanduk, mesin pompa dan sebagainya. Bahan baku diperoleh dari

supplier barang bekas yang bahan dasarnya stainless dan besi. Selama ini

perusahaan menggunakan sistem make to order, jadi produksinya adalah

berdasarkan pesanan. Dengan demikian perusahaan sangat bergantung kepada

pelanggan. Karena itu kinerja perusahaan dalam memberikan supply produk pada

pelanggan harus dioptimalkan. Adapun yang menjadi pelanggan dari PT Baja

Pertiwi Industri adalah Pabrik-pabrik kelapa sawit yang berdomisili di daerah

Sumatera Utara.

Produk yang memiliki pemenuhan order terbanyak adalah roda lorry yaitu

mencapai 23% dari jumlah produk yang dihasilkan dalam setiap bulannya. Proses

produksi dari roda lorry terdiri dari proses peleburan baja, penuangan cairan baja ke

dalam cetakan pasir, pembongkaran, pembubutan, pemotongan dan pembubutan

ash, pengecatan dan pengepressan. Sepanjang proses produksi tersebut terjadi

waktu menunggu yang dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Waktu Menunggu pada Proses Produksi Roda Lorry

No Kegiatan Waktu Menunggu (Menit)

1 Cetakan pasir (cup dan drag) di stasiun pencetakan 180

2 Corong di stasiun pencetakan 180

3 Bahan baku di stasiun peleburan 40

4 Cetakan yang telah didinginkan di stasiun

pembongkaran

(23)

Tabel 1.1. Waktu Menunggu pada Proses……(Lanjutan)

No Kegiatan Waktu Menunggu (Menit)

5 Calon produk di stasiun pembersihan 30

6 Roda lorry di stasiun pembubutan 120

7 Roda lorry distasiun pendempulan dan pengecatan 960

8 Roda lorry di stasiun pengepressan 480

9 Ash distasiun pemotongan 60

10 Ash dstasiun pembubutan 480

11 Ash distasiun pengepressan 4

Sumber: PT. Baja Pertiwi Industri

Selain itu transportasi yang terjadi pada proses produksi roda lorry sering

terjadi karena stasiun kerja disusun berdasarkan jenis layout by process dan

perusahaan dalam menjaga ketersediaan barang senantiasa melakukan stock dalam

bentuk calon produk (work in process).

Penelitian dengan menggunakan pendekatan lean telah banyak dilakukan

dalam rangka mereduksi waste. Sri Hartini dkk pada tahun 2009 melakukan

penelitian dengan judul “Analisis Pemborosan Perusahaan Mebel dengan

Pendekatan Lean Manufacturing (Studi Kasus PT X)”. Pada penelitian ini

mengelompokkan aktivitas kedalam tiga bagian yaitu value added, non value

added, necessary non value added. Hasil penelitian ini adalah value stream

mapping (VSM) perusahaan yang meliputi aliran material dan informasi. Dari VSM

diketahui peta aktivitas-aktivitas dilantai pabrik yang mendominasi. Dari FMEA

diketahui nilai RPM (Risk Priority Number) terbesar pada aktivitas yang

berhubungan dengan jig. Untuk mereduksi pemborosan (waste) dilakukan

(24)

dilakukan oleh Marcy Lolita dan Wilma Latuny dari Universitas Pattimura Ambon

dengan judul “Implementasi Konsep Lean Thinking untuk Menganalisis Order

Fullfilment Process” yaitu dengan menyebarkan kuisioner waste workshop untuk

mengidentifikasi jenis waste. Tools yang digunakan untuk menganalisa waste

tersebut adalah root cause analysis (RCA). Dari hasil simulasi diperoleh

peningkatan output sebesar 6872 buah aquarium dengan penambahan 1 mesin

cutting glass dan 4 operator, 1 mesin bending dan 1 orang operator, 1 mesin corner

dan 1 orang operator.

Oleh karena itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk mengidentifikasi dan

mereduksi waste pada proses produksi agar perusahaan dapat menghemat sumber

daya bahan baku, waktu dan energi sehingga terjadi peningkatan efisiensi dengan

menggunakan pendekatan lean. Adapun tools yang digunakan dalam penelitian ini

adalah value stream mapping yang akan memberikan gambaran jelas mengenai

proses produksi perusahaan. Saran perbaikan untuk mengurangi waste diharapkan

dapat memperbaiki kinerja perusahaan.

1.2. Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah pemborosan yang

terjadi pada lantai produksi yang mengakibatkan panjangnya production lead time.

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya perbaikan untuk mereduksi pemborosan

(25)

1.3. Tujuan dan Manfaat

Tujuan penelitian adalah untuk mengeliminasi waste yang terjadi pada

bagian produksi PT Baja Pertiwi Industri dan memberikan masukan kepada

perusahaan untuk mengurangi pemborosan (waste) dalam rangka meningkatkan

produktivitas perusahaan.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Memberikan sumbangan dalam rangka mengembangkan konsep lean thinking

yang digunakan untuk mereduksi waste

2. Menjadi sarana untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis yang terjadi

dengan menggunakan konsep lean thinking.

1.4. Batasan Masalah dan Asumsi

Penelitian dilakukan dalam batasan-batasan tertentu, antara lain:

1. Waste yang diamati adalah 7 macam waste yang didefinisikan Shigeo Shingo

yaitu produksi berlebihan (overproduction), menunggu (waiting), transportasi

(transportation), proses yang tidak tepat (inappropriate processing),

persediaan yang tidak perlu (unnecessary inventory), gerakan yang tidak perlu

(unnecessary motion), kecacatan (defect).

2. Pengamatan yang dilakukan adalah pada proses pemenuhan order produk roda

lorry yang merupakan produk dengan permintaan terbanyak dari konsumen.

3. Pengujian waktu hanya digunakan untuk data waktu proses produk sedangkan

(26)

4. Tahapan penelitian yang dilakukan hanya sampai pada perancangan strategi

perbaikan.

5. Didalam penelitian ini tidak dilakukan perhitungan biaya.

Sedangkan asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Proses produksi berlangsung normal

2. Tingkat kepercayaan dan tingkat ketelitian masing-masing sebesar 95% dan

5%.

3. Tidak terjadi perubahan proses produksi selama penelitian berlangsung.

1.5. Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Untuk mempermudah dalam memahami sistematika penulisan tugas sarjana

ini disajikan dalam beberapa bab. Pada bab I (pendahuluan) dijelaskan mengenai

latar belakang permasalahan, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, batasan masalah dan asumsi yang digunakan serta sistematika penulisan

tugas akhir. Pada bab II (gambaran umum perusahaan) diuraikan mengenai sejarah

perusahaan, ruang lingkup bidang usaha, struktur organisasi dan manajemen, dan

proses produksi yang terjadi di perusahaan.

Pada bab III diuraikan mengenai kerangka teoritis yang berisikan teori-teori

yang mendukung permasalahan dan analisis pemecahan masalah, antara lain konsep

lean manufacturing, value stream mapping, 5S, kanban, line balancing dan studi

(27)

penelitian, rancangan penelitian, objek penelitian, variabel penelitian, instrument

penelitian, pengolahan data, analisis data dan pelaksanaan penelitian.

Bab V (pengumpulan dan pengolahan data) adalah bab yang memuat data

yang digunakan dalam penelitian yang diperoleh dari hasil pengamatan dan

pengukuran yang dilakukan di lapangan antara lain urutan proses produksi, waktu

siklus, data permintaan 1 tahun terakhir dari roda lorry, serta data mengenai mesin

seperti data change over time, uptime, dan jumlah operator. Dengan menggunakan

data tersebut dilakukan pengolahan data yaitu untuk memperoleh waktu siklus yang

digunakan dalam current state map, peramalan permintaan untuk mengetahui takt

time yang digunakan untuk mengetahui seberapa sering suatu produk diproduksi

untuk memenuhi permintaan konsumen. Pada bab VI (analisis pemecahan masalah)

diuraikan analisis dan pembahasan mengenai hasil dari pengolahan data yaitu

dengan menganalisis pemborosan yang terjadi selama proses produksi yang

diperoleh dari current state map kemudian dilakukan perbaikan terhadap proses

produksi saat ini dengan mengupayakan mengurangi pemborosan yang terjadi

dengan menggunakan beberapa metode yang sesuai dengan akar permasalahan

penyebab terjadinya pemborosan pada proses produksi.

Bab terakhir yaitu bab VII (kesimpulan dan saran) berisikan mengenai

kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini serta rekomnedasi

(28)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Baja Pertiwi Industri didirikan pada tahun 1983 oleh Sudirman. PT.

Baja Pertiwi Industri merupakan badan usaha yang merupakan badan usaha yang

bergerak dalam bidang pelayanan kebutuhan spare part dalam pembangunan jalan

raya, yang pada akhirnya berubah menjadi perusahaan pengecoran. Pendirian PT.

Baja Pertiwi Industri dilatarbelakangi dengan adanya permintaan akan spare part

dimana dalam usaha pemenuhannya sangat sulit dan dengan kualitas yang kurang

memuaskan sehingga diputuskan untuk mendirikan PT. Baja Pertiwi Industri.

Pada awalnya PT. Baja Pertiwi Industri menghasilkan produk hanya untuk

memenuhi kebutuhan perusahaannya sendiri. Tetapi seiring dengan banyaknya

permintaan konsumen terhadap spare part yang dihasilkan maka perusahaan

memutuskan memproduksi untuk perusahaan lain yang membutuhkan. Barang yang

diproduksi sesuai permintaan konsumen atau dengan kata lain job order.

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha

PT. Baja Pertiwi Industri merupakan badan usaha yang bergerak di bidang

manufacturing spare part. Spare part yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan

pada perkebunan kelapa sawit, spare part kereta api, pompa air dan pompa minyak.

Dalam hal ini, PT. Baja Pertiwi Industri akan memproduksi barang sesuai dengan

(29)

2.3. Lokasi Perusahaan

PT. Baja Pertiwi Industri beralamat di Jln, Sisingamangaraja No. 62B, KM

7,5 Medan-Tanjung Morawa.

2.4. Daerah Pemasaran

Produk yang paling banyak dipesan oleh pelanggan adalah spare part untuk

perusahaan kelapa sawit, di antaranya loda lorry. Perusahaan ini memberikan harga

produk yang lebih murah dibanding dengan perusahaan pesaing, yang

mengakibatkan tingginya permintaan pada perusahaan ini. Sistem produksi make to

order yang diterapkan oleh perusahaan ini membuat konsumen dapat menentukan

spesifikasi yang diinginkan sehingga sesuai dengan kebutuhan.

2.5. Organisasi dan Manajemen 2.5.1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi PT. Baja Pertiwi Industri berbentuk fungsional. Untuk

(30)

Director

Manager

Human Resource

Coordinator Shift Coordinator

Financial Coordinator

Head of Marketing Head of Cost Production Head of

Laboratory Maintance

Foreman Production

Foreman Daily

Security Office

Administration

Sumber: PT. Baja Pertiwi Industri

(31)

2.5.2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab

Bardasarkan struktur organisasi di atas, tugas, wewenang, dan tanggung

jawab dari setiap pemegang jabatan di PT. Baja Pertiwi Industri dapat dilihat pada

Lampiran 1.

2.5.3. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja 2.5.3.1. Jumlah Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan sumber daya yang paling menentukan bagi

perusahaan karena pada prinsipnya sumber daya manusia bagian integral dari

unsur-unsur manajemen. Setiap jabatan atau pekerjaan memerlukan persyaratan

minimal dari personil yang menjabatnya. Persyaratan ini harus dipenuhi agar

setiap tugas dalam jabatan atau pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

PT. Baja Pertiwi Industri memiliki jumlah tenaga kerja 104 orang, dimana

tenaga kerja yang ada pada umumnya lulusan SMP, SMA dan SMK, dengan

[image:31.595.165.461.543.747.2]

pendistribusian ketenagakerjaan dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Alokasi Tenaga Kerja

Tenaga Kerja Jumlah

1. Direktur utama 1

2. Manajer 1

3. Kepala bagian personalia 1

4. Kepala bagian pabrik 1

5. Kepala bagian keuangan 1

6. Bagian administrasi 2

7. Bagian keamanan 4

8. Bagian kebersihan 4

9. Bagian produksi

a. Bagian membuat pola 4

(32)
[image:32.595.165.460.127.397.2]

Tabel 2.1. Alokasi Tenaga Kerja (Lanjutan)

Tenaga Kerja Jumlah

c. Bagian peleburan 3

d. Bagian penuangan 4

e. Bagian finishing 7

f. Bagian gerinda 6

g. Bagian bongkar muat bahan baku 6

h. Bagian sunblasting 8

i. Bagian pembubutan 14

j. Bagian pembongkaran 6

k.Bagian scrap 1

l. Bagian bor 2

10. Bagian perawatan 5

11. Bagian QC 6

12. Bagian pembelian dan penjualan 2 13. Bagian biaya produksi dan umum 2

Total 105

Sumber: PT. Baja Pertiwi Industri

2.5.3.2. Jam Kerja

PT. Baja Pertiwi Industri menetapkan hari kerja efektifnya dimulai

dari hari senin hingga sabtu dengan jam kerja yang sebanyak delapan jam per

hari. Jam kerja yang ada pada PT. Baja Pertiwi Industri sebagai berikut:

1. Bagian produksi

a. Hari Senin sampai Kamis

Kerja aktif : 08.00 – 12.00 WIB

Istirahat : 12.00 – 13.00 WIB

Kerja aktif : 13.00 – 16.00 WIB

b. Hari Jumat

Kerja aktif : 08.00 – 12.00 WIB

(33)

Kerja aktif : 14.00 – 16.00 WIB

c. Hari Sabtu

Kerja aktif : 08.00 – 12.00 WIB

Istirahat : 12.00 – 13.00 WIB

Kerja aktif : 13.00 – 16.00 WIB

2. Bagian personalia, administrasi dan kesekretariatan

Senin sampai Sabtu

Kerja aktif : 08.00 – 12.00 WIB

Istirahat : 12.00 – 13.00 WIB

Kerja aktif : 13.00 – 16.00 WIB

3. Bagian security

Senin sampai Sabtu

Kerja aktif : 08.00 – 12.00 WIB

Istirahat : 12.00 – 13.00 WIB

Kerja aktif : 13.00 – 17.00 WIB

2.5.4. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya

PT. Baja Pertiwi Industri menggunakan sistem pengupahan harian, dan

akan diterima karyawan pada akhir bulan. Karyawan PT. Baja Pertiwi Industri

didaftarkan sebagai anggota JAMSOSTEK, dimana jaminan sosial tersebut adalah

salah satu bentuk layanan kesejahteraan sosial yang diberikan kepada setiap

(34)

Apabila karyawan tidak masuk kerja selama beberapa hari tanpa alasan

yang jelas, maka perusahaan akan memberikan sanksi sesuai dengan peraturan

yang berlaku. Apabila karyawan bekerja melebihi jam normal, pihak perusahaan

memberikan upah lembur. Lembur yang dilakukan di perusahaan ini biasanya jam

16.00-17.00 dengan upah lembur per jam adalah Rp. 10.000.

Karyawan yang bekerja di atas lima tahun akan diberikan fasilitas lainnya

berupa baju atau seragam dan sepatu kerja.

2.6. Proses Produksi

Proses produksi didefinisikan sebagai suatu cara, metode dan

teknik-teknik mengubah sumber atau input menjadi hasil atau output, sehingga hasil yang

berupa barang atau jasa serta hasil sampingannya memiliki nilai tambah atau nilai

guna yang berarti. Pengolahan atau pengubahan pada proses tersebut dapat terjadi

secara fisik maupun nonfisik yang berupa bentuk, dimensi, serta sifat.

2.6.1. Bahan yang Digunakan

Bahan yang digunakan dalam melakukan proses produksi mencacup tiga

hal, yaitu bahan baku, bahan penolong dan bahan tambahan.

2.6.1.1.Bahan Baku

Bahan baku merupakan bahan utama dalam proses produksi dimana sifat

dan bentuknya akan mengalami perubahan, yang langsung ikut dalam proses

(35)

produk akhit dibandingkan dengan bahan-bahan yang lain. Adapun bahan baku

yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Scrap atau potongan besi

Potongan besi merupakan bahan utama pembuat spare part pada perusahaan

kelapa sawit, misalnya pembuatan lorry, screw dan lain-lain.

2. Scrap atau potongan baja

Potongan baja merupakan bahan utama dalam pembuatan komponen alat

pembuat jalan, ataupun komponen yang digunakan oleh kereta api, di

antaranya jaw, tip, liner, dan lain-lain.

3. Scrap atau potongan stainless

Potongan stainless digunakan untuk pembuatan komponen pompa, baik pompa

air maupun pompa minyak.

2.6.1.2. Bahan Penolong

Bahan penolong merupakan bahan yang digunakan selama proses

produksi dengan tujuan membantu memperlancar proses produksi. Bahan ini tidak

terlihat pada produk akhir. Bahan penolong yang digunakan dalam pembutan

produk pada perusahaan ini terdiri atas:

1. Pasir merupakan bahan utama dalam pembuatan cetakan.

2. Air digunakan untuk mempertinggi keliatan pasir cetak sehingga pasir cetak

(36)

3. Bentonit digunakan sebagai untuk membentuk pasir cetak, dimana bentonit

akan dicampur dengan pasir. Bentonit berfungsi untuk memadatkan pasir

cetak.

4. Pasir silika digunakan untuk menjaga bagian drag dan bagian cup agar tidak

lengket.

5. Water glass digunakan sebagai campuran pasir silika untuk bahan pembuat

inti.

6. Molasses (Gula tetes) digunakan sebagai campuran pasir silika untuk bahan

pembuat inti.

7. Grafit digunakan untuk memperhalus permukaan cetakan.

8. Kayu jelutung merupakan bahan yang digunakan untuk pembuatan mal.

9. Slack digunakan untuk menjaga suhu agar tetap stabil pada waktu penuangan,

dan untuk mengikat kotoran-kotoran kecil pada saat peleburan bahan.

10. Batu gamping berfungsi untuk meningkatkan suhu dan membantu pembakaran

arang.

11. Arang kayu digunakan sebagai bahan bakar.

2.6.1.3. Bahan Tambahan

Bahan tambahan merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam proses

pembuatan produk untuk membantu peningkatan mutu produk. Bahan tambahan

dapat dilihat pada produk akhir. Adapun bahan tambahan yang digunakan dalam

(37)

a. Cat digunakan untuk memberikan warna kepada produk sesuai dengan

permintaan konsumen. Hal ini dilakukan untuk menambah nilai jual dari

produk tersebut.

b. Silikon berfungsi agar produk menjadi lebih ulet.

c. Slack remover berfungsi untuk mengikat kotoran pada saat peleburan.

d. Aluminium merupakan bahan yang digunakan untuk menetralkan suhu agar

bahan leburan tidak keluar dari dapur induksi.

e. Mangan, Crom berfungsi untuk mengeraskan bahan, yang dicampurkan

dalam pembuatan alat-alat berat, misalnya dalam peleburan jaw.

2.6.2. Uraian Proses

Uraian proses untuk pembentukan produk secara umum dapat dilihat pada

uraian berikut ini:

1. Penerimaan bahan baku

Scrap didatangkan dengan menggunakan dump truck dan diletakkan di

tempat penumpukan. Pemindahan bahan baku ke lokasi peleburan dilakukan

secara manual dengan menggunakan lorry atau hoist crane. Sebagian bahan

baku ditumpuk di sebelah dapur peleburan untuk proses peleburan. Sebelum

scrap dimasukkan ke dalam dapur induksi, scrap harus dipilih dengan

syarat-syarat sebagai berikut:

a. Bahan baku harus kering dari oli ataupun air. Hal ini digunakan untuk

(38)

b. Bahan baku tidak mengandung karat (Fe2O3), karena karat mengandung

oksigen yang dapat menyebabkan pengikatan karbon pada waktu dilebur

sehingga dapat menurunkan kadar karbon cairan logam. Untuk menjaga

kestabilan kadar karbon maka diusahakan scrap yang mengandung

banyak karbon dicampur dengan scrap yang mengandung sedikit karbon.

c. Scrap yang bentuknya terlalu besar atau panjang akan dipotong terlebih

dahulu agar tidak susah saat dimasukkan ke dalam dapur peleburan.

2. Proses peleburan

Proses peleburan (melting) adalah proses untuk mencairkan bahan baku serta

campuran lainnya. Dapur yang digunakan oleh PT. Baja Pertiwi Industri

adalah dapur listrik induksi kurs yang bervolume 800 ton dan 1000 ton.

3. Penuangan

Besi cair hasil peleburan dituangkan terlebih dahulu terhadap ladel yang

digerakkan dengan menggunakan hoist crane dan bantuan operator untuk

dibawa ke daerah pencetakan. Bahan cair yang akan dituang diusahakan pada

temperature 13000C – 14000C dan kecepatan penuangan yang sesuai untuk menghindari cacat produk. Setelah leburan besi dituangkan ke dalam cetakan,

didiamkan terlebih dahulu hingga 3 jam untuk mengalami proses

pendinginan. Apabila leburan tersebut dingin, cetakan dibawa ke bagian

pembongkaran. Adapun proses pembuatan cetakan dapat dilihat pada uraian

berikut ini:

(39)

Bahan tersebut meliputi bahan dasar dan bahan pengikat. Bahan dasar

merupakan substansi yang tidak dapat mengikat satu dengan yang lain,

tahan api dan terdiri dari butiran-butiran dengan pembagiannya

mengikuti analisa tertentu. Bahan dasar yang digunakan adalah pasir

kuarsa (SiO2). Sedangkan bahan pengikat yang digunakan adalah water

glass atau tetes gula. Tetes gula digunakan untuk membuat part yang

dibutuhkan perusahaan, sedangkan untuk konsumen digunakan water

glass. Hal ini dilakukan karena harga water glass lebih murah daripada

tetes gula.

b. Pengadukan pasir

Pasir dari penumpukan dimasukkan ke dalam mesin pengaduk pasir

dengan menggunakan sekop. Pasir diangkat dengan crane ke dalam

mesin penggilingan. Mesin penggilingan ini akan berputar dan memecah

pasir yang masih berupa gumpalan-gumpalan. Pasir yang telah digiling

diayak dengan menggunakan pengayak getar. Pasir dimasukkan ke dalam

bak penampung pasir. Pasir yang akan segera digunakan membuat

cetakan dimasukkan ke dalam mixer untuk diaduk secara merata dengan

water glass dan air. Proses pengadukan ini terjadi selama 15-20 menit.

c. Pembuatan cetakan

Cetakan terdiri dari dua bagian yaitu bagian atas (cup) dan bagian bawah

(drag). Cetakan ini terbuat dari kayu jelutung. Cetakan tersebut akan diisi

dengan pasir yang telah digiling. Pada cetakan bagian atas dibuat saluran

(40)

bagian tertentu. Setelah pasir padat memenuhi tempat cetakan, cetakan

tersebut dibalikkan. Mal diletakkan di cetakan bagian bawah kemudian

ditutupi dengan pasir dan dipadatkan. Mal dikelurkan dari kayu tempat

cetakan dan kemudian gas CO2 disemprotkan pada lubang-lubang

tertentu pada cetakan pasir agar pasir cetak lebih kuat dan kokoh.

4. Pembongkaran

Pembongkaran yang dimasukkan adalah pemisahan calon produk dari cetakan

pasir. Hasil dari penuangan dibawa ke bagian pembongkaran dengan troli dan

dibongkar dengan mesin pembongkar. Setelah sebagian besar pasir cetakan

terlepas dari produk, maka produk dibawa ke bagian pembersihan untuk

melepaskan pasir-pasir yang masih melekat pada produk yang tidak dapat

terlepas dengan menggunakan mesin pembongkar.

5. Pembersihan

Pada bagian pembersihan ini, pasir yang masih melekat pada produk di

bagian pembongkaran dibersihkan dari seluruh permukaan produk. Produk

dimasukkan ke dalam mesin pembersihan (sand blasting) dengan

menggunakan troli. Setelah produk bersih, produk dikeluarkan dari mesin

pembersihan dibawa ke bagian penggerindaan.

6. Penggerindaan

Penggerindaan merupakan proses perautan, perataan dan penghalusan

material. Proses penggerindaan dilakukan dengan mesin gerinda yang

kerjanya bergerak secara kontinu terhadap benda. Produk diangkat dan

(41)

bergerak saat dilakukan penggerindaan. Mesin gerinda dihidupkan dan roda

gerinda akan berputar, dan operator akan mengarahkan ke permukaan

tertentu.

7. Pembubutan

Proses pembubutan adalah proses pengikisan atau pemotongan benda kerja

yang dilakukan dengan memutar benda kerja dan pisau pahat yang terbuat

dari baja akan mengikis permukaan benda sesuai dengan yang diinginkan.

Benda kerja diletakkan pada dudukan dan dikaitkan dengan menggunakan

baut agar posisi benda kerja tidak berubah saat dilakukan pembubutan. Benda

kerja diukur terlebih dahulu untuk menentukan ketebalan permukaan yang

akan dibuat. Kemudian benda kerja diputar perlahan-lahan dengan panel

kendali. Lalu mata pahat didekatkan sampai mengikis benda kerja sesuai

dengan ketebalan yang diinginkan. Jika proses benda kerja sudah memenuhi

ukuran yang ditentukan, maka kegiatan pembubutan selesai.

8. Pengecatan

Proses pengecatan dilakukan untuk melindungi produk dari korosi serta

memberikan warna yang lebih menarik terhadap produk. Proses pengecatan

dilakukan dengan bantuan kuas dan alat semprot. Setelah produk dicat, maka

(42)

2.7. Mesin dan Peralatan 2.7.1. Mesin

Adapun mesin yang digunakan pada PT. Baja Pertiwi Industri adalah

sebagai berikut:

1. Mesin Bubut

Mesin bubut adalah mesin perkakas yang mempunyai gerakan utama

berputar. Benda kerja diputar terhadap pahat pemotong sehingga benda kerja

tersayat dalam bentuk bram/chips. Gerak jalan dilakukan oleh pahat yang

dijepit pada tool post. Salah satu ujung benda kerja dijepit pada pelat cekam

yang berada pada kepala tetap sedang ujung lain dari benda kerja ditumpu

pada senter dari kepala lepas. Mesin bubut biasanya digunakan untuk

mengerjakan benda-benda yang sentris tetapi disamping itu digunakan juga

untuk meratakan permukaan datar, menggurdi (membuat lubang),

memperbesar lubang (boring) dan lain-lain.

2. Mesin Bor

Mesin bor berfungsi untuk melubangi benda kerja

3. Mesin Gerinda

Mesin gerinda adalah mesin yang mampu meratakan permukaan dan

penghalusan permukaan yang kasar. Cara kerja mesin gerinda adalah

perputaran yang terjadi pada dengan kecepatan yang tinggi, dimana fungsi

putaran batu gerinda tersebut mampu menghaluskan permukaan yang kasar.

4. Mesin Potong (Hack saw machine)

(43)

5. Mesin Press

Menyambung antara satu benda kerja dengan benda kerja lainnya

6. Mesin Pembersih (Sand blasting)

Mesin pembersih merupakan mesin yang digunakan untuk membersihkan

pasir dan leburan yang masih melekat pada benda kerja.

7. Oven

Oven digunakan untuk mengeraskan benda atau produk. Produk yang

dikeraskan hanya produk tertentu saja, misalnya jaw, screw, tip, tapak saw.

8. Mesin Dapur Induksi Listrik

Meleburkan besi hancuran dan sisa tuangan

2.7.2. Peralatan

Adapun mesin yang digunakan pada PT. Baja Pertiwi Industri adalah

sebagai berikut:

1. Hoist Crane

Hoist crane digunakan untuk memindahkan barang dari satu tempat ke

tempat yang lain. Biasanya digunakan untuk benda yang berat.

2. Multistick

Multistick digunakan untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat

lain dengan cara menarik atau mendorong alat tersebut oleh operator.

3. Vernier Caliper

Vernier Caliper adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda kerja

(44)

4. Flens

Flens adalah alat yang digunakan untuk mengunci batu gerinda pada poros

mesin gerinda.

5. Batu Gerinda

Batu gerinda adalah alat potong yang dipasang pada mesin gerinda yang

dijepit pada flens.

6. Drill Chuck

Drill chuck merupakan alat bantu yang digunakan untuk mencekam mata bor

saat melakukan pengeboran.

7. Lathe Centre

Lathe centre adalah alat bantu yang digunakan untuk menahan benda kerja

yang panjang pada saat pembubutan.

8. Dial Indicator

Dial indicator adalah alat bantu yang digunakan untuk mengukur kerataan

dan kesejajaran benda kerja maupun alat yang digunakan. Ketelitian dari

pekerjaan ini tergantung pada penggunaan alat ini.

9. Meteran

Meteran digunakan untuk mengukur benda kerja apakah sesuai dengan

spesifikasi atau tidak. Selain itu meteran ini juga digunakan mengukur mal

yang digunakan apakah sudah sesuai atau tidak.

10. Mata Pisau

Mata pisau digunakan sebagai alat untuk memakan benda kerja.

(45)

Pengait digunakan untuk mengambil scrap dari mesin tersebut supaya tidak

menganggu pekerjaan mesin. Selain itu pengait juga digunakan untuk

mengangkat kotoran-kotoran pada dapur peleburan.

12. Kertas Pasir

(46)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Konsep Lean 3.1.1. Defenisi Lean

2

Defenisi berdasarkan kamus bahasa Inggris diartikan sebagai perampingan,

ataupun sesuatu yang tidak sesuai dengan proporsi dasarnya. Dalam bukunya

Lean Thinking, James Womack dan Daniel Jones mendefinisikan lean

manufacturing sebagai suatu proses yang terdiri dari lima langkah:

mendefinisikan nilai bagi pelanggan, menetapkan value stream, membuatnya

“mengalir”, “ditarik” oleh pelanggan, dan berusaha keras untuk mencapai

yang terbaik. Untuk menjadi perusahaan manufaktur yang lean diperlukan

suatu pola pikir yang terfokus pada membuat produk mengalir melalui proses

penambahan nilai tanpa interupsi (one-piece flow), suatu sistem “tarik” yang

berawal dari permintaan pelanggan, dengan hanya menggantikan apa yang

diambil oleh proses berikutnya dalam interval yang singkat, dan suatu budaya

dimana semua orang berusaha keras melakukan peningkatan secara

terus-menerus.

3

2

Likert, J. K. 2006. The Toyota Way. Jakarta: Penerbit Erlangga

Tujuan utama dari implementasi lean adalah untuk mengidentifikasi dan

mengeliminasi waste dari suatu stasiun kerja. Eliminasi waste dilakukan

3

(47)

dengan mengidentifikasi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah

terhadap konsumen karena aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah

dapat menambah waktu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan pada

akhirnya akan mengurangi produktivitas dari tiga faktor produksi yang

mempengaruhi efisiensi proses antara lain pekerja, peralatan, dan fasilitas.

4

1. Identifikasi apa yang memberikan nilai dan apa yang tidak dilihat dari sudut

pandang pelanggan dan bukan dari perspektif organisasi, fungsi dan

departemen.

Lean pada awalnya merupakan terminologi yang digunakan untuk

mendeskripsikan pendekatan yang dilakukan di industri otomotif Jepang yaitu

Toyota untuk membedakannya dengan pendekatan produksi massal yang ada

di Barat. Pendekatan lean yang diterapkan di pabrik Toyota kemudian

disarikan oleh Womack dan Jones dalam bukunya Lean Thinking menjadi

lima prinsip berikut:

2. Identifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk merancang, memesan dan

memproduksi produk di sepanjang aliran proses nilai tambah untuk menandai

adanya pemborosan.

3. Buat kegiatan yang memberikan nilai tambah mengalir tanpa gangguan,

berbalik atau menunggu.

4. Buatlah hanya yang diminta oleh pelanggan.

4

(48)

5. Berupayalah untuk sempurna dengan secara kontinyu mengurangi

pemborosan.

3.1.2. Keunggulan dan Tujuan Pendekatan Lean

Pendekatan lean biasa dianggap sebagai perpanjangan dan kombinasi dari dua

pendekatan terdahulu yaitu craft production dan mass production. Craft

production pada intinya adalah kegiatan produksi yang dilakukan dalam skala

yang sangat kecil. Karena tidak adanya kemampuan untuk menciptakan

standar, tidak ada dua produk yang identik. Pada perusahaan yang beroperasi

dengan model craft production, tenaga kerja biasanya terampil untuk

membuat rancangan produk maupun memproduksi rancangan tersebut. Untuk

mengakomodasikan kebutuhan produksi yang bervariasi, mesin-mesin dan alat

produksi lainnya bersifat fleksibel dan bisa melakukan multifungsi.

Di sisi lain, mass production menekankan pentingnya jumlah output per

satuan waktu dan variasi produk bukan merupakan isu yang penting.

Pendekatan lean mengkombinasikan kedua pendekatan terdahulu tersebut.

Fokus utamanya adalah efisiensi tanpa mengurangi efektivitas proses. Untuk

mendukung tujuan ini tenaga kerja biasanya memiliki berbagai keahlian.

Hirarki manajemen terpendek sehingga disamping biaya-biaya berkurang,

juga terjadi penurunan waktu koordinasi serta peningkatan otonomi di level

hirarki yang lebih rendah. Pendekatan lean juga menyadari bahwa penciptaan

proses-proses yang efektif dan efisien juga berarti perusahaan harus melihat

(49)

berarti mengajak supplier meningkatkan kualitas material yang dikirim serta

mengajak perusahaan jasa pengiriman untuk menciptakan dan menerapkan

standar kualitas pengiriman. Dengan demikain, pihak-pihak di luar organisasi

ikut dirangkul untuk melakukan perbaiukan secara berkelanjutan.

Karena tantangan untuk melayani pelanggan yang semakin kritis dan siklus

hidup produk yang semakin pendek, pendekatan lean juga didasari oleh

prinsip fleksibilitas. Salah satu implikasinya, fasilitas produksi harus cukup

fleksibel dan bisa melakukan multifungsi. Karakteristik pendekatan sistem

[image:49.595.80.547.416.715.2]

produksi craft, massal dan lean dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Era yang Berbeda pada Industri Otomotif (Diadaptasi dari The

Machine that Changed the World)

Craft Mass Lean

Tenaga Kerja Terampil membuat rancangan produk dan mengoperasikan mesin. Spesialisasi tenaga kerja namun dimungkinkan

rotasi dari satu pekerjaan ke yang lain

Tim bersifat fleksibel, hirarki manajemen sedikit, setiap lapisan di jajaran organisasi punya tanggung jawab perbaikan

Organisasi Sangat

terdesentralisasi tetapi konsentrasi di satu kota.

Integrasi vertikal. Kegiatan

perancangan, teknik dan produksi ada di satu tempat.

Jaringan supplier dengan kemampuan

perancangan dan teknik. Perbaikan terjadi di sepanjang

supply chain.

Alat Peralatan multi fungsi (general purpose)

Mesin-mesin khusus (dedicated)

Multi fungsi.

Produk Volume produksi

sangat rendah dan tidak ada produk yang sama atau identik

Volume produksi tinggi, siklus hidup produk panjang.

Siklus hidup produk menurun.

(50)

Konsep lean merupakan konsep perampingan yang fokus utamanya adalah

efisiensi tanpa mengurangi efektivitas proses. Mekong Capital’s

mendefinisikan lean manufacturing yang disebut juga lean production sebagai

sekumpulan alat dan metodologi yang mempunyai tujuan untuk

mengeliminasi waste secara kontinyu dalam proses produksi. Keuntungan

utama yang diperoleh adalah biaya produksi lebih rendah, output meningkat

dan lead time produksi lebih pendek.

Secara lebih spesifik, beberapa tujuan lean production antara lain

sebagai berikut :

1. Defects dan wastage

Mengurangi defect dan scrap yang tidak diperlukan, termasuk penggunaan

input bahan baku yang berlebihan, defect yang dapat dicegah, biaya yang

dihubungkan dengan pengulangan proses untuk item yang cacat, dan

karakteristik produk yang tidak diperlukan dimana tidak sesuai dengan

keinginan customer.

2. Cycle Time

Mengurangi manufacturing lead time dan waktu siklus produksi dengan

mengurangi waktu tunggu antar proses.

3. Inventory Levels

Meminimumkan level inventory pada semua tahap produksi per bagian pada

work-in progress antar tahap pemrosesan. Inventory yang lebih rendah berarti

membutuhkan working capital yang lebih rendah juga.

(51)

Meningkatkan produktivitas tenaga kerja dengan mengurangi waktu idle dari

pekerja dan memastikan bahwa pekerja sedang melakukan pekerjaannya,

mereka menggunakan usaha yang seproduktif mungkin dalam bekerja (tidak

melakukan tugas yang tidak diperlukan atau gerakan yang tidak perlu).

5. Utilization of equipment and space

Penggunaan peralatan dan ruang manufacturing lebih efisien dengan

mengeliminasi bottleneck dan memaksimumkan tingkat produksi dengan

peralatan yang ada, meminimasi downtime mesin.

6. Flexibility

Mempunyai kemampuan untuk memproduksi produk lebih fleksibel dengan

meminimumkan change over cost dan change over time.

7. Output

Mengurangi waktu siklus, meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan

mengeliminasi bottleneck dan downtime mesin yang dapat dicapai, perusahaan

dapat meningkatkan output secara significan dengan fasilitas yang ada.

3.1.3. Prinsip Utama Pendekatan Lean

Konsep Lean Thinking ini diprakarsai oleh sistem produksi Toyota di Jepang.

Lean dirintis di Jepang oleh Taichi Ohno dan Sensei Shigeo Shingo dimana

implementasi dari konsep ini didasarkan pada 5 prinsip utama (Hines dan

(52)

1. Specify value

Menentukan apa yang dapat memberikan nilai dari suatu produk atau

pelayanan dilihat dari sudut pandang konsumen bukan dari sudut pandang

perusahaan.

2. Identify whole value stream

Mengidentifikasikan tahapan-tahapan yang diperlukan, mulai dari proses

desain, pemesanan, dan pembuatan produk berdasarkan keseluruhan value

stream untuk menemukan pemborosan yang tidak memiliki nilai tambah (non

value adding waste).

3. Flow

Melakukan aktivitas yang dapat menciptakan suatu nilai tanpa adanya

gangguan, proses rework, aliran balik, aktivitas menunggu (waiting) ataupun

sisa produksi.

4. Pulled

Hanya membuat apa yang diinginkan oleh konsumen.

5. Perfection

Berusaha mencapai kesempurnaan dengan menghilangkan waste

(pemborosan) secara bertahap dan berkelanjutan.

Untuk dapat menerapkan lean production, pemahaman tentang nilai yang

didefinisikan oleh customer menjadi hal yang sangat fundamental. Hal yang

pertama harus dilakukan adalah mengeliminasi atau mengurangi waste dari

(53)

untuk membayar aktivitas-aktivitas tersebut. Dalam konteks ini akan

dibedakan aktivitas-aktivitas menjadi tiga yaitu:

1. Aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (non-value adding) dan bisa

direduksi atau dihilangkan.

2. Aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah tapi perlu dilakukan (necessary

but non-value adding).

3. Aktivitas yang memang memberikan nilai tambah (value-adding).

Aktivitas produksi, yaitu mengubah bahan baku menjadi produk setengah jadi

atau produk jadi adalah kegiatan yang memberikan nilai tambah. Nilai tambah

tersebut harus dikaitkan dengan perspektif pelanggan. Artinya, perubahan

bahan baku menjadi produk jadi adalah sesuatu yang punya nilai bagi

pelanggan karena produk tersebut punya fungsi atau bisa dimanfaatkan oleh

pelanggan. Kegiatan memindahkan material tidak memberikan nilai tambah

namun sering kali tidak bisa dihilangkan kecuali dengan melakukan

perombakan dramatis pada tata letak fasilitas produksi. Demikian halnya

dengan kegiatan transportasi dan penyimpanan. Kedua kegiatan ini tidak

memberikan nilai tambah namun sering kali harus dilakukan.5

5

Pujawan, I Nyoman. 2005. Supply Chain Management. Surabaya: Guna Widya

Pada lingkungan manufaktur atau logistik dimana yang dominan adalah

aktivitas fisik, aktivitas non-value adding biasanya dominan. Secara umum

menurut Hines dan Taylor (2000), rasio ketiga jenis aktivitas di atas adalah

(54)

1. 5% aktivitas yang memberikan nilai tambah.

2. 60% aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (dan mungkin bisa

dikurangi)

3. 35% aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah namun perlu dilakukan.

Untuk lingkungan jasa, secara umum ketimpangan antar tiga jenis aktivitas

tersebut ternyata lebih besar lagi. Aktivitas yang memberikan nilai tambah

hanya 1%, sedangkan dua yang berikutnya masing-masing 49% dan 50%. Ini

menunjukkan bahwa sektor jasa, upaya penerapan konsep lean bisa berpotensi

meningkatkan efisiensi atau mengurangi pemborosan secara dramatis.

3.1.4. Tujuh Tipe Pemborosan (Waste)

Prinsip utama dari pendekatan lean adalah pengurangan atau peniadaan

pemborosan (waste). Menurut Sistem Produksi Toyota (TPS), ada tujuh hal yang

dikategorikan sebagai pemborosan (waste) yaitu:

1. Produksi berlebihan (overproduction)

2. Menunggu (waiting)

3. Transportasi (transportation)

4. Proses yang tidak tepat (inappropriate processing)

5. Persediaan yang tidak perlu (unnecessary inventory)

6. Gerakan yang tidak perlu (unnecessary motion)

7. Kecacatan (defect)

Produksi berlebihan dianggap sebagai bentuk pemborosan yang paling

(55)

berbagai masalah yang ada pada sistem produksi. Masalah kualitas bisa muncul

disini karena dengan produksi berlebihan, karyawan akan sulit secara dini

mendeteksi adanya kecacatan. Produksi berlebihan juga mengakibatkan

pemakaian kapasitas tidak tepat sehingga produk yang seharusnya bisa dikerjakan

lebih dini bisa tertunda penyelesaiannya. Ini senada dengan inventory yang

berlebih. Inventory yang berlebih bisa dianggap topeng dari masalah yang ada.

Mesin yang kurang handal, tingkat kecacatan yang tinggi, dan supplier yang

sering terlambat mengirim bahan baku menjadi tidak begitu kentara apabila

perusahaan memiliki berbagai macam persediaan secara berlebihan.

Kegiatan menunggu juga merupakan pemborosan. Suatu komponen dalam

sistem produksi harus menunggu karena sudah dikerjakan di satu proses tetapi

proses berikutnya belum siap karena operator/ mesin sibuk atau rusak. Kegiatan

menunggu juga bisa dialami oleh tenaga kerja, misalnya menunggu komponen

yang belum datang atau mesin yang masih diperbaiki.

Semua kegiatan transportasi sebenarnya bisa dikatakan pemborosan. Namun yang

bisa dikurangi adalah transportasi berlebihan seperti double handling. Kegiatan

transportasi berlebih berpotensi menimbulkan kecacatan atau penurunan kondisi

produk. Begitu pula dengan gerakan-gerakan yang tidak perlu (unnecessary

motion). Ini sering diakibatkan karena rancangan peralatan yang kurang

ergonomis sehingga memaksa operator untuk melakukan gerakan-gerakan yang

sebenarnya berlebihan.

Tujuh jenis pemborosan tersebut sedapat mungkin dikurangi secara

(56)

pemborosan tersebut berbeda karakteristiknya diperlukan pendekatan yang

berbeda-beda pula untuk menguranginya. Namun secara keseluruhan pengurangan

pemborosan tersebut dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mempelajari dan

mengerti proses dan mengerti pemborosan apa yang dominan di masing-masing

lokasi proses. Ini kemudian diikuti dengan identifikasi potensi perbaikan dan

membuat apa yang dinamakan to be process, yakni konfigurasi proses yang

diinginkan. Skala perubahan yang harus dilakukan tergantung pada perbedaan

antara apa yang terjadi sekarang (as is) dan proses yang diinginkan (to be).

3.2. Penerapan Lean pada Berbagai Perusahaan Manufaktur

Proses mencegah dan menghilangkan pemborosan (waste) memiliki

sejarah yang panjang, dan sejarah ini merupakan dasar dari filosofi dari lean. Pada

kenyataannya telah banyak konsep yang muncul sekarang ini sebagai suatu kunci

dari ditemukannya lean dan selama bertahun-tahun menjadi dasar untuk

mengurangi pemborosan.

Perusahaan manufaktur Toyota merupakan perusahaan pertama yang

menerapkan lean yaitu dengan menerapkan 14 prinsip manajemen dimana

beberapa dari prinsip tersebut merupakan tools yang digunakan dalam pendekatan

lean seperti value stream, 5S, Kanban dan sebagainya. Dampak dari keberhasilan

Toyota didokumentasikan dengan baik. Perusahaan ini memiliki reputasi yang

baik sebagai perusahaan yang unggul dalam hal kualitas, pengurangan biaya dan

(57)

Perusahaan terbesar di Jacksonville, Florida yaitu Naval Air Depot, tempat

dimana pesawat terbang milik Angkatan Laut direparasi. Pesawat terbang harus

diperiksa dengan menyeluruh secara berkala, dan sejumlah pesawat terbang yang

memiliki kelemahan serius memerlukan perbaikan yang spesifik. Dalam

melakukan perbaikan pesawat tempur F18 dan P3 yang dikerjakan di hangar yang

berbeda, dan diterapkan lean yaitu membuat bengkel kaizen yang dibuat untuk

merancang setiap bagian dari keseluruhan sistem dan 5S untuk merancang areal

kerja yang dibantu oleh konsultan lean dan diperoleh hasil perbandingan sebelum

dan sesudah penggunaan lean seperti tertera pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Perbandingan Sebelum dan Sesudah Penerapan Lean

Sebelum Lean Sesudah Lean

Pesawat di hangar (WIP) 10 pesawat 8 pesawat

Takt time Tidak ada 15 hari

Lead time ketika takt dicapai - 120 hari

Lead time aktual (hari kalender) 247 hari 200 hari (berada dijalur yang

tepat untuk mencapai target

173 hari)

Hasil tambahan Biaya dan tenaga kerja berkurang

Sumber : I Nyyoman Pujawan

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa penerapan

lean banya membawa dampak yang baik terhadapa perusahaan6

6

Likert, J. K. 2006. The Toyota Way. Jakarta: Penerbit Erlangga

(58)

3.3. Metode yang Digunakan dalam Lean Manufacturing

Perusahaan dapat memilih metode sesuai dengan kebutuhan dan tujuan

yang ingin dicapai serta kemungkinan penerapannya diperusahaan. Beberapa

metode yang dapat digunakan untuk menerapkan lean manufacturing adalah

sebagai berikut.

3.3.1. Value Stream Mapping

Value Stream adalah sekumpulan dari seluruh kegiatan yang di dalamya

terdapat kegiatan yang memberikan nilai tambah, juga yang tidak memberikan

nilai tambah, yang dibutuhkan untuk membawa produk maupun satu grup produk

dari sumber yang sama untuk melewati aliran-aliran utama, mulai dari raw

material hingga sampai ke tangan konsumen. Kegiatan-kegiatan ini merupakan

bagian dari keseluruhan proses supply chain yang mencakup aliran informasi dan

aliran operasi, sebagai inti dari setiap proses lean yang berhasil. Value Stream

Mapping merupakan suatu alat perbaikan (tool) dalam perusahaan yang digunakan

untuk membantu memvisualisasikan proses produksi secara menyeluruh, yang

merepresentasikan baik aliran material juga aliran informasi.

Tujuan pemetaan ini adalah untuk mengidentifikasi seluruh jenis

pemborosan di sepanjang value stream dan untuk mengambil langkah dalam

upaya mengeliminasi pemborosan tersebut. Mengambil langkah ditinjau dari segi

value stream berarti bekerja dalam satu lingkup gambar yang besar (bukan

proses-proses individual), dan memperbaiki keseluruhan aliran dan bukan hanya

(59)

bahasa yang umum digunakan dalam proses produksi, dengan demikian akan

mampu memfasilitasi keputusan yang lebih matang dalam memperbaiki value

stream7

1. Untuk membantu perusahaan memvisualisasikan lebih dari sekedar level

proses tunggal (misalnya: proses perakitan dan juga pengelasan) dalam

produksi. Dengan demikian akan terlihat jelas seluruh aliran. .

Value stream mapping dapat menyajikan suatu titik balik yang optimal

bagi setiap perusahaan yang ingin menjadi lean. Rother dan Shock (1999) seperti

yang dikutip oleh Abdullah (2003), menyimpulkan keuntungan-keuntungan yang

diperoleh dengan penerapan konsep value stream mapping adalah sebagai berikut:

2. Pemetaan membantu perusahaan tidak hanya melihat pemborosan yang ada

tetapi juga sumber penyebab pemborosan yang terdapat dalam value stream.

3. Value stream menggabungkan antara konsep lean dan teknik yang dapat

membantu perusahaan untuk menghindari pemilihan teknik dan konsep yang

asal-asalan.

4. Sebagai dasar dari rencana implementasi. Dengan membantu perusahaan

merancang bagaimana keseluruhan aliran yang

Gambar

Tabel 2.1. Alokasi Tenaga Kerja
Tabel 2.1. Alokasi Tenaga Kerja (Lanjutan)
Tabel 3.1. Era yang Berbeda pada Industri Otomotif (Diadaptasi dari The
Tabel 3.3. Lambang-Lambang yang Digunakan pada
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tahap ketiga pada siklus DMAIC ini merupakan tahap dimana dilakukan analisis faktor penyebab terjadinya waste pada proses produksi brown paper di PT Kertas

Seluruh dosen dan staff Tata Usaha Program Studi Teknik Industri Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta yang telah memberikan bantuan kepada penulis

Pada penelitian ini digunakan pendekatan Lean Six Sigma untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi waste (pemborosan) dalam upaya perbaikan proses yang

Kharisma Cakranusa Rubber Industry (PT. KCRI) adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan bahan baku untuk industri ban vulkanisir.. Kharisma

adalah waste yang diakibatkan oleh beberapa faktor yang dikelompokkan dalam 4 bagian yaitu : Manusia, mesin, metode, materia, yang disajikan pada Gambar 1. Waiting dengan

Waste defect terjadi karena 5 faktor yaitu manusia, mesin, lingkungan, material, dan metode. Berdasarkan kategori manusia disebabkan oleh pekerja kurang teliti dan

Pada penelitian ini, berfokus kepada pengurangan waste yang terjadi pada proses produksi yang nantinya akan berdampak pada pemberian alternatif solusi yang dapat

Proses transportasi pada proses produksi brown paper yang merupakan waste adalah proses perpindahan material dari Gudang Bahan Baku ke Hydrapulper, transportasi