KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN ITIK PETELUR
DENGAN PEMANFAATAN KEONG MAS SEBAGAI
SUMBER PAKAN ALTERNATIF
(Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)
SKRIPSI
AHMAD HAMDAN H34076013
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
RINGKASAN
AHMAD HAMDAN Kelayakan Usaha Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan Alternatif, (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon).Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan POPONG NURHAYATI).
Seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk, pendidikan, pendapatan, daya beli masyarakat, serta kesadaran akan perlunya pangan yang bergizi, menyebabkan permintaan terhadap produk peternakan juga semakin meningkat, sehingga ini merupakan potensi bagi pengembangan usaha peternakan di masa yang akan datang. KTTI “Bebek Jaya” adalah salah satu Kelompok Tani Ternak Itik yang ada di Kabupaten Cirebon. Hal utama yang melatar belakangi KTTI “Bebek Jaya” merencanakan pendirian unit usaha baru peternakan Itik petelur dengan mengkombinasikan peternakan Itik pola semi intensif dan kolam budidaya Keong Mas dalam satu area adalah: adanya permintaan akan telur Itik yang semakin meningkat dan potensi pengembangan peternakan yang masih terbuka lebar, sementara harga pakan ternak sebagai penyokong utama budidaya terus melonjak. Keadaan tersebut merupakan suatu momentum dimana usaha peternakan harus berbenah diri.
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Menganalisis kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan Keong Mas sebagai sumber pakan alternatif di KTTI “Bebek Jaya” Desa Babadan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi dan aspek finansial, (2) Menganalisis sensitivitas kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan Keong Mas di KTTI “Bebek Jaya” tersebut, jika terjadi adanya peningkatan harga pakan yaitu pakan kecepu serta penurunan harga telur Itik.
Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengkaji aspek pasar, aspek teknis, dan aspek manajemen yang dijelaskan secara deskriptif. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengkaji kelayakan finansial usaha berdasarkan kriteria kelayakan investasi diantaranya, Net Present Value (NPV), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), Internal
Rate of Return (IRR), Payback period (PP), dan analisis sensitivitas switching
value.
khususnya. Susunan organisasi yang sederhana memudahkan tugas, wewenang dan tanggung jawab seluruh komponen yang ada. Sistem ketenagakerjaan yang ada dalam farm dinilai cukup memadai dan sangat efektif. Dari ketiga aspek diatas dapat disimpulkan bahwa usaha tersebut layak untuk dijalankan
Hasil analisis aspek finansial berdasarkan kriteria kelayakan investasi menunjukan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan. hal ini dikarenakan nilai
NPV lebih dari nol, nilai Net B/C lebih dari satu, nilaiIRR lebih besar dari tingkat
discount rate yang ditentukan, dan PP berada sebelum masa proyek berakhir.
KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN ITIK PETELUR
DENGAN PEMANFAATAN KEONG MAS SEBAGAI
SUMBER PAKAN ALTERNATIF
(Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)
AHMAD HAMDAN H34076013
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Kelayakan Usaha Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan Alternatif, (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)
Nama : Ahmad Hamdan
NIM : H34076013
Disetujui, Pembimbing
Ir. Popong Nurhayati, MM
NIP. 19670211 199203 2 002
Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP. 19580908 198403 1 002
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul ”Kelayakan Usaha
Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan
Alternatif (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon) adalah karya
sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, September 2010
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 30 Desember 1982
sebagai anak kedua dari empat bersaudara, penulis merupakan anak dari pasangan
Bapak Narisa dan Ibu Aemi yang keduanya berprofesi sebagai guru.
Pendidikan dasar hingga sekolah menengah umum diselesaikan di
Cirebon, yang dimulai dari Sekolah Dasar Ciptakarya II Mayung, Cirebon Utara
dan Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlas Babadan, Cirebon Utara lulus pada tahun
1995. pada tahun 1998 penulis menamatkan pendidikan di Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 1 Cirebon Barat, dan pada tahun 2001 penulis
menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 7 Kota
Cirebon.
Pada tahun 2002 penulis diterima sebagai mahasiswa pada Program Studi
Diploma III Teknisi Usaha Ternak Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan
Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor dan lulus
pada tahun 2005. Selepas menempuh program Diploma III, penulis sempat
berkerja di PT. Satwa Boga Sampurna sebagai Supervisor Produksi. Pada tahun
2007 penulis berhenti dari pekerjaan dan melanjutkan studi pada Program Sarjana
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat nikmat dan karuniaNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Kelayakan Usaha
Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan
Alternatif (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)”.
Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan unit usaha yang akan
didirikan, yaitu peternakan Itik petelur berbasis pemanfaatan sumber pakan
alternatif berupa Keong Mas, yang dibudidayakan secara integrasi pada satu
lokasi. Analisis kelayakan usaha ini ditinjau dari aspek pasar, teknis, manajemen,
dan finansial.
Namun demikian, sangat disadari masih terdapat keterbatasan dan kendala
yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun ke arah penyempurnaan pada skripsi ini sehingga dapat bermanfaat
bagi semua pihak, amin.
Bogor, September 2010
UCAPAN TERIMA KASIH
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagi pihak sebagai bentuk
rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ingin menyampaikan terimakasih dan
penghargaan kepada:
1. Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan,
waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan
skripsi ini.
2. Ir, Narni Farmayanti, MSc selaku dosen evaluator pada kolokium yang telah
memberikan koreksi dan saran demi perbaikan skripsi ini.
3. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS selaku dosen penguji pada ujian sidang skripsi
yang telah memberikan koreksi serta saran demi penyempurnaan skripsi ini.
4. Rahmat Yanuar, SP, MSi selaku dosen komdik yang telah memberikan
koreksi pada teknik penulisan juga saran kepada penulis.
5. Orang tua, keluarga, dan istriku tercinta Tria Anggita, SP atas dukungan dan
doa yang diberikan, semoga ini bisa menjadi persembahan yang terbaik.
6. Bapak Warkiya beserta segenap jajaran pengurus dan anggota KTTI ”Bebek
Jaya” atas waktu, kesempatan, informasi dan kepercayaan yang diberikan.
7. Teman-teman seperjuangan di MH dan teman-teman ekstensi Agribisnis atas
semangat dan sharing selama penelitian hingga penulisan skripsi. (Vikky,
Dimas, Bang Dani, Zepri, Bangun, Bayu, Desi, Oom) dan lainnya yang tidak
dapat disebutkan satu persatu) terimakasih atas kebersamaanya selama ini.
8. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak
dapat disebutkan satu per satu, semoga Allah SWT membalas dan
memberikan rahmat hidayah-Nya.
Bogor, September 2010
DAFTAR ISI
2.2 Praktek Budidaya dan Produktivitas Ternak Itik ... 14
2.2.1 Perkandangan ... 14
2.9 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 19
III KERANGKA PEMIKIRAN ... 23
3.1.4.3 Kriteria Kelayakan Investasi ... 30
3.1.4.4 AnalisisSensitivitas ... 32
IV METODE PENELITIAN ... 36
4.4.2 Analisis Kelayakan Aspek Teknis ... 37
4.4.3 Analisis Kelayakan Aspek Manajemen ... 38
4.4.4 Analisis Kelayakan Aspek Finansial ... 38
4.5 Asumsi Dasar ... 41
VI ANALISIS KELAYAKAN ASPEK PASAR, ASPEK TEKNIS, ASPEK MANAJEMEN... 47
6.3.1 Manajemen Pembangunan Proyek ... 71
6.3.2 Manajemen Dalam Operasi ... 71
VII ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL ... 76
7.1 Arus Kas ... 76
7.1.1 Arus Penerimaan(Inflow) ... 76
7.1.2 Arus Pengeluaran(Outflow) ... 78
7.2 Analisis Laba Rugi ... 83
7.3 Analisis Kelayakan Finansial Pakan Keong Mas ... 85
7.4 Analisis Kelayakan Finansial Pembanding (Jika Menggunakan Pakan Konsentrat Tipe 511 Produksi PT. CPI) ... 86
7.5 Hasil Perbandingan Analisis Kelayakan Finansial (Pakan Keong Mas dengan Pakan Konsentrat Tipe 511 Produksi PT. CPI) ... 87
7.6 Analisis SensitivitasSwitching Value (Nilai Pengganti) ... 87
VIII KESIMPULAN DAN SARAN ... 88
8.1 Kesimpulan ... 88
8.2 Saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 89
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1 Populasi Unggas Indonesia Tahun 2004-2009 ... 1
2 Neraca Telur Itik Nasional Tahun 2007-2009 ... 3
3 Jumlah Impor Telur Itik Tahun 2007-2009 ... 3
4 Harga Telur Itik di Tingkat Peternak Kabupaten Cirebon Tahun 2006-2009 (dalam Rupiah per Butir) ... 4
5 Produksi Telur Kabupaten Cirebon Dirinci Menurut Jenis Unggas ... 5
6 Nilai produksi Telur Kabupaten Cirebon Dirinci Menurut Jenis Unggas ... 5
7 Kandungan Zat Makanan Tepung Keong Mas ... 7
8 Harga Pakan konsentrat Produksi PT. CPI Tahun 2004 sd2009 ... 9
9 Penelitian Terdahulu yang Relevan Mengenai Kelayakan Usaha . 22 10 Kandungan Zat Makanan Dalam Ransum Berdasarkan Hasil Perhitungan(as feed basis)... 43
11 Jumlah Penduduk Di Beberapa Propinsi Tujuan Pemasaran Telur Itik Kabupaten Cirebon ... 47
12 Nilai Gizi Telur Itik dan Telur Ayam Per 100 Gram Telur ... 48
13 Perkembangan Produksi, Konsumsi dan Impor Telur Itik Nasional ... 49
14 Proyeksi Permintaan dan Penawaran Telur Itik ... 50
15 Proyeksi Pangsa Pasar(Market Share) Telur Itik ... 50
16 Biaya Gaji/Kompensasi Pertahun ... 79
17 Biaya Pemeliharaan Alat dan Bangunan Dalam Setahun ... 80
18 Perhitungan Biaya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ... 80
19 Angsuran Pembayaran Pinjaman ... 81
20 Perhitungan Pajak Penghasilan Usaha ... 83
21 Biaya Penyusutan Pertahun (Rupiah) ... 84
22 Hasil Analisis Kelayakan Finansial ... 85
23 Hasil Analisis Kelayakan Finansial Pembanding ... 86
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1 Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas
Sebagai Sumber Pakan Alternative Pada KTTI ”Bebek Jaya ... 35
2 Struktur Organisasi KTTI “Bebek Jaya” ... 45
3 Alur Pemasaran telur KTTI “Bebek Jaya” ... 46
4 Proses Pengolahan Keong Mas Untuk Pakan ... 60
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1 Keterangan Operasi Perhitungan Pada Budidaya Itik ... 93
2 Keterangan Operasi Perhitungan Pada Budidaya Keong Mas ... 94
3 Proyeksi Produksi Telur Itik KTTI "Bebek Jaya" (butir) ... 95
4 Proyeksi Penerimaan Hasil Penjualan Telur Itik KTTI “Bebek Jaya” (Rupiah) ... 95
5 Proyeksi Penerimaan Itik Afkir (Ekor) ... 96
6 Proyeksi Penerimaan Hasil Penjalan Itik Afkir (Rupiah) ... 96
7 Proyeksi Penerimaan Penjualan Daging giling Keong Mas. (kilogram) ... 97
8 Proyeksi Penerimaan Penjualan Daging giling Keong Mas. (Rupiah) ... 97
9 Keterangan Biaya Pada Budidaya Keong Mas Sebagai Dasar Penentuan HPP ... 98
10 Perhitungan HPP Daging Giling Keong Mas ... 99
11 Rincian Biaya Investasi ... 100
12 Jumlah Nilai sisa Usaha Itik Petelur pada Farm Integrasi KTTI “Bebek Jaya” ... 102
13 Rincian Biaya Re-Investasi ... 103
14 Proyeksi Pembelian Pakan Limbah Sayuran (karung) ... 105
15 Proyeksi Pembelian Pakan Limbah Sayuran (Rupiah) ... 105
16 Proyeksi Pembelian Gas 3 kg (Tabung) ... 106
18 Proyeksi Penggunaan Kecepu Dalam Formulasi Pakan
(Kilogram) ... 107
19 Proyeksi Pengeluaran Biaya Pakan Kecepu (Rupiah) ... 107
20 Penggunaan Daging Keong Mas Dalam Formulasi Pakan (kilogram) ... 108
21 Proyeksi Pengeluaran Biaya Pakan Daging Keong Mas (Rupiah) ... 108
22 Jumlah Populasi Ternak (ekor) ... 109
23 Proyeksi Pengeluaran Biaya Obat-Obatan (Rupiah) ... 109
24 Proyeksi Pengeluaran Biaya Transportasi (Rupiah) ... 110
25 Laporan Laba Rugi ... 111
26 LaporanCashflow ... 112
27 Laporan Laba Rugi Pembanding (Pakan Konsentrat Tipe 511) harga Rp. 4,960/kg ... 114
28 Laporan Cashflow Pembanding (Pakan Konsentrat Tipe 511) harga Rp. 4,960/kg... 115
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu tujuan
utama dalam pembangunan jangka panjang. Kualitas sumber daya manusia yang
dimiliki suatu bangsa akan sangat menentukan kemajuan di masa yang akan
datang. Salah satu upaya yang sangat menentukan dalam penciptaan sumberdaya
manusia yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia adalah tercukupinya
kebutuhan protein hewani. Seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan
penduduk, pendidikan, pendapatan, daya beli masyarakat, serta kesadaran akan
perlunya pangan yang bergizi, menyebabkan permintaan terhadap produk
peternakan juga semakin meningkat, sehingga ini merupakan potensi bagi
pengembangan usaha peternakan di masa yang akan datang.
Itik di Indonesia merupakan salah satu komoditas peternakan yang
mempunyai nilai ekonomis dan potensi yang cukup menjanjikan untuk
dikembangkan, baik untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani maupun sebagai
sumber pendapatan dalam menunjang kebutuhan keluarga. Perkembangan
peternakan Itik di Indonesia, dapat dilihat dari jumlah populasi ternak Itik yang
semakin meningkat dari tahun-ke tahun, seperti yang tertera pada Tabel 1.
Tabel 1. Populasi Unggas Indonesia Tahun 2004-2009
Tahun (ribuan ekor) Jenis Unggas
2004 2005 2006 2007 2008 2009
Ayam Buras 276.989 278.954 291.085 272251 243.423 261.398
Ayam Ras Petelur 93.416 84.790 100.202 111.489 107.955 110.106
Ayam Ras Pedaging 778.970 811.189 797.527 891.659 902.052 930.318
Itik 32.573 32.405 32.481 35.867 39.840 42.090
Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2009
Data pada Tabel 1 tersebut menunjukkan ada kenaikan populasi Itik dari
tahun-ke tahun, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2005. Penyebabnya antara
lain karena terjadi inflasi pada tahun 2004 sebesar 6,4 persen dan terus meningkat
mencapai angka 17,1 persen pada tahun 2005 yang disebabkan adanya kenaikan
harga bahan bakar minyak dan beras. Kejadian tersebut menyebabkan kerugian
serap pasar terhadap produk hasil ternak tersebut tidak optimal, sedangkan biaya
produksi yang dikeluarkan peternak cenderung menaik karena terjadinya kenaikan
harga bahan bakar minyak. Kenaikan tersebut secara langsung menyebabkan
terjadinya peningkatan harga komoditi pakan.
Bahan makanan berupa telur Itik mempunyai beberapa kelebihan, telur
mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh, rasanya enak, mudah dicerna,
menimbulkan rasa segar dan kuat dan tubuh, serta dapat menjadi berbagai macam
produk makanan. Telur itik, protein lebih banyak terdapat pada bagian kuning
telur sebanyak 17 persen sedangkan pada putihnya 11 persen. Protein telur Itik
terdiri dari ovalbumin (putih telur) dan ovavitelin (kuning telur). Protein telur Itik
mengandung semua asam amina esensial yang dibutuhkan tubuh untuk hidup
sehat. Suatu penelitian dengan percobaan diketahui bahwa telur Itik mempunyai
kandungan nilai keguaan protein(Net Protein Utilization) 100 persen, bandingkan
dengan daging ayam (80%) dan susu (75%). Fungsi trigliserida dan fosfolipida
bagi tubuh adalah sebagai sumber energi, satu gram lemak menghasilkan 9
kilokalori energi. Lemak dalam telur Itik berbentuk emulsi (bergabung dengan
air), sehingga menjadi lebih mudah dicerna, baik oleh bayi, anak-anak, maupun
golongan lanjut usia.
Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan besar
bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Dari sebutir telur didapatkan gizi
yang cukup sempurna karena mengandung zat-zat gizi yang lengkap dan mudah
dicerna. Telur merupakan bahan pangan yang sangat baik untuk anak-anak yang
sedang tumbuh dan memerlukan proten dalam jumlah banyak. Telur juga sangat
baik dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil dan menyusui. Bahkan telur juga
dianjurkan diberikan kepada orang yang sedang sakit untuk mempercepat proses
kesembuhannya.
Menurut data statistika Direktorat Jendral Peternakan, konsumsi telur Itik
pada periode tahun 2007-2009 mengalami peningkatan, akan tetapi peningkatan
konsumsi tersebut tidak diimbangi oleh produksi dalam negeri. Hal ini dapat
Tabel 2. Neraca Telur Itik Nasional Tahun 2007-2009 (dalam ribu ton)
Tahun Produksi Konsumsi
2007 167,6 194,6
2008 182,1 186,9
2009 193,8 197,1
Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2009 (Diolah)
Data dari Tabel 2 menunjukkan bahwa Indonesia belum dapat memenuhi
permintaan akan telur Itik di dalam negeri, dan populasi ternak Itik yang ada
sekarang ternyata tidak mampu untuk memenuhi tingkat konsumsi telur Itik
secara nasional. Adanya permintaan pasar telur Itik yang semakin meningkat,
tentunya akan memberikan dampak yang baik yaitu terbukanya peluang pasar
yang besar.
Kebutuhan telur Itik di Indonesia saat ini dipenuhi dari dua sumber yaitu
peternakan Itik dalam negeri dan impor dari luar negeri. Adanya impor telur Itik
ini dikarenakan agar tidak adanya perbedaan yang terlalu jauh antara tingkat
produksi dan konsumsi di dalam negeri. Keterangan jumlah impor telur Itik pada
periode tahun 2007-2009 disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 tersebut menjelaskan
tentang perkembangan jumlah impor telur Itik selama tiga tahun terakhir. Dari
data tersebut dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2008 terjadi penurunan impor
telur Itik, ini dikarenakan adanya wabah virus flu Babi yang mengancam Negara
pengekspor telur Itik di dunia seperti Cina dan Vietnam, kemudian terjadi
kenaikan kembali impor telur Itik pada tahun 2009.
Tabel 3. Jumlah Impor Telur Itik Tahun 2007-2009 (dalam ribu ton)
Tahun Jumlah Impor (000 Ton)
2007 25,20
2008 2,15
2009 2,34
Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2009 (Diolah)
Meskipun terdapat telur Itik impor ternyata tidak menyebabkan harga telur
Itik didalam negeri menurun, ini disebabkan karena jumlah telur Itik impor
ternyata kurang dari 1,5 persen dari jumlah total telur itik yang ada. Seperti yang
bisa dilihat pada Tabel 3, Tabel tersebut menunjukan adanya peningkatan harga
tahun 2006-2009, meskipun sempat terjadi penurunan pada tahun 2007 akibat dari
efek belum pulihnya kepercayaan masyarakat pada isu flu burung dan keamanan
pangan asal unggas.
Tabel 4. Harga Telur Itik Di Tingkat Peternak Kabupaten Cirebon Tahun 2006-2009 (dalam Rupiah per Butir)
Tahun (Rupiah/Butir)
No Bulan
2006 2007 2008 2009
1 Januari 675 620 841 1.119
2 Februari 741 643 848 1.025
3 Maret 732 647 1.043 1.125
4 April 747 655 841 950
5 Mei 768 655 965 1.119
6 Juni 777 655 965 1.025
7 Juli 733 655 965 1.025
8 Agustus 733 655 965 1.025
9 September 733 655 655 1.025
10 Oktober 750 655 655 1.125
11 November 750 655 1.083 1.119
12 Desember 745 661 900 1.025
Harga Telur Rata-Rata 740,33 650,92 893,83 1.058,92
Sumber : BPS Kabupaten Cirebon, 2009 (Diolah)
Pola pengusahaan ternak Itik di Indonesia sampai saat ini masih
didominasi oleh peternakan rakyat skala kecil. Walaupun demikian peran
ekonomi usaha ternak Itik bagi peternak sangat penting sehingga perlu untuk terus
ditingkatkan. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu upaya yang dapat
mendorong peningkatan produktivitas usaha, sehingga peternak bisa mencapai
tingkat usaha yang ekonomis. Apabila kondisi tersebut dapat tercapai maka usaha
ternak Itik akan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap tingkat
pendapatan keluarga peternak dan sumber pendapatan daerah melalui retribusi
usaha.
Wilayah Kabupaten Cirebon yang terletak di ujung Timur Provinsi Jawa
Barat di era otonomi daerah kini terus berbenah diri, dengan luas wilayah
mencapai 989,7 km2, garis pantai sepanjang 54 Km. Secara adminisratif,
Kabupaten Cirebon mempunyai 31 kecamatan yang terdiri dari 412 desa serta 12
kelurahan, masyarakatnya sebagian besar tidak lagi mengandalkan hasil pertanian
dan home industri, tapi sudah bergerak pada tataran pengolahan industri
manufaktur, agribisnis, di samping home industri lainnya yang masih bertahan.
jiwa ini bertindak sebagai daerah penyangga bagi daerah di sekitarnya terutama
bagi Kota Cirebon yang merupakan satu-satunya outlet Jawa Barat yakni sebagai
pintu gerbang ekspor impor barang dan jasa. Karena letak geografisnya yang
berada di Pantai Utara Laut Jawa (Pantura) serta aspek kehidupan dan dinamika
sosiokulturnya itu, Kabupaten Cirebon mempunyai komoditas unggulan lain di
sektor agribisnis peternakan unggas, yakni ternak Itik. Tabel 5 menggambarkan
dengan jelas bahwa peternakan Itik diwilayah Kabupaten Cirebon semakin
meningkat dari tahun ke tahun.
Tabel 5. Produksi Telur Kabupaten Cirebon Dirinci Menurut Jenis Unggas 2003 s.d 2007
Tahun Jenis
Produksi Satuan 2003 2004 2005 2006 2007
Ayam
Ras 000 kg 510,97 327,05 179,28 178,33 246,34
Ayam
Kampung 000 kg 1.058,44 1.284,86 1.053,72 1.279,08 1.138,82
Itik 000 kg 1.037,59 2.281,60 2.167,55 2.167,55 2.578,98
Sumber : BPS Kabupaten Cirebon, 2009
Bahkan jika dilihat dari nilai produksi telur sudah mampu mengalahkan
Ayam Kampung yang pada tahun 2003 ke bawah sempat menjadi produk
unggulan, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Nilai Produksi Telur Kabupaten Cirebon Dirinci Menurut Jenis Unggas 2003 s.d 2007
Tahun Jenis
Produksi Satuan 2003 2004 2005 2006 2007
Ayam Ras 000
Rupiah 3.321.318 2.223.940 1.568.700 1.426.640 2.709.687
Ayam Kampung
000
Rupiah 6.879.873 25.697.200 23.698.800 31.977.000 28.470.560
Itik 000
Rupiah 6.744.309 27.379.200 32.377.650 30.887.588 36.750.403
Sumber : BPS Kabupaten Cirebon, 2009
Populasi Itik tahun 2008 di Kabupaten Cirebon mencapai 339.500 ekor
dengan produksi telur sebanyak 3.329 ton per tahun, produksi DOD (anak Itik)
mencapai 2.808.058 ekor per tahun, digarap oleh sekitar 2.708 Rumah Tangga
Peternak (RTP). Hingga kini ada sekitar 60 kelompok peternak itik, dan tiap
kelompok beranggotakan 30 peternak Lahan yang digunakan berupa lahan sawah
Kabupaten Cirebon, bisa memenuhi kebutuhan wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah
dan DKI Jakarta, sementara DOD (anak Itik) dan bibit siap bertelur selain dikirim
ke wilayah tadi juga dikirim ke Jawa Timur, Sumatera, Papua dan Kalimantan.
Meski demikian, ternyata produksi yang dihasilkan RTP di Kabupaten Cirebon
masih jauh dari kebutuhan untuk wilayah pengiriman yang mencapai 44.000 ton
telur dan 4.243.404 ekor DOD setiap tahunnya. Sentra produksi Itik di Kabupaten
Cirebon ini terletak di wilayah sepanjang jalur Pantura yang meliputi wilayah
Kecamatan Kapetakan, Panguragan, Babakan, Losari dan Gunung Jati.
Pengembangan usaha agribisnis peternakan Itik di Kabupaten Cirebon
bukan tanpa masalah. Permasalahan umum yang sering dihadapi peternak Itik
adalah biaya pakan yang semakin mahal. Biaya pakan memiliki komposisi lebih
dari 70 persen dari total biaya pemeliharaan. Untuk mengatasi masalah tersebut
adalah perlu adanya pemanfaatan bahan-bahan pakan alternatif yang layak secara
teknis maupun menguntungkan secara ekonomis, juga ketersediannya bisa terjaga
sepanjang tahun, sehingga pencapaian tingkat usaha yang ekonomis bisa tercapai,
dan peternak akan bisa lebih sejahtera.
Keong Mas dalam pandangan petani adalah hama yang rakus dan
keberadaannya tidak berguna serta hanya menimbulkan bencana. Petani hanya
memikirkan bagaimana mencari cara untuk membasmi Keong Mas agar tidak
mengganggu lahan garapannya, tanpa memikirkan ada atau tidaknya manfaat
yang terkandung didalam tubuh keong mas tersebut. Padahal menurut hasil
penelitian Crop Protection Division, Philippine Rice Research Institute dalam
Sulistiono 2007, menerangkan bahwa setiap 100 gram daging Keong Mas
mengandung: Energi 83 kalori, Protein 12.2 gram, Lemak 0.4 gram, Karbohidrat
6.6 gram, Abu 3.2 gram, Fosfor 61 mg, Natrium 40 mg, Kalium 17 mg,
Riboflavin 12 mg, Niacin 1.8 mg, dan kandungan makanan yang lain: Vitamin C,
Zn, Cu, Mn dan Iodium. Hal ini juga di perkuat dengan hasil penelitian Tim
Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan IPB pada tahun 1999
yang menyatakan kandungan Zat Makanan Tepung Keong Mas adalah seperti
Tabel 7. Kandungan Zat Makanan Tepung Keong Mas.
Zat Makanan Komposisi
Bahan Kering (%) 92,49
Abu (% BK) 9,03
Protein (% BK) 30,68
Lemak (% BK) 3,20
Serat Kasar (% BK) 2,45
BETN (% BK) 24,20
Ca (% BK) 7,50
P (% BK) 0,97
Sumber : Tim Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, IPB (1999)
Beberapa hasil penelitian yang menunjukan bahwa Keong Mas sangat
bermanfaat dalam pembuatan pakan ternak diantaranya sebagai berikut: Menurut
Sulistiono (2007) Di Sumatra Selatan, pemberian ramuan keong mas 10 persen
memberikan pertumbuhan yang baik bagi Itik pada periode layer (bertelur). Di
Pasaman, penggunaan keong mas untuk pakan itik mampu menaikkan hasil
telurnya mencapai 80 persen.
Tepung tubuh dan cangkang keong mas memberikan nilai pertumbuhan
yang cukup baik bagi peternakan ayam. Hal yang cukup mengejutkan bahwa
penggunaan tepung yang berasal dari cangkang keong mas juga memberikan nilai
pertumbuhan yang bagus. Selain dalam bentuk tepung, silase daging keong mas
juga telah terbukti menjadi sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras
Pakan yang berbasis protein keong mas pernah diujicobakan pada peternakan
burung puyuh (Coturnix coturnix) dan memberikan pertumbuhan yang baik.
(BP2TP Sumatra Utara dalam Sulistiono 2007).
Tepung keong mas sejak tahun 1999 telah diujicobakan. Pada penggantian
kandungan tepung ikan menjadi tepung Keong Mas sebanyak 25-75 persen
memberikan pengaruh yang cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian
individu, efisiensi pakan, retensi protein dan retensi lemak (Sholikhati dalam
Sulistiono 2007).
Pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) di Bengkalis, dengan pakan
keong mas memberikan hasil yang cukup baik bagi pertumbuhan ikan tersebut.
50% telung keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik, dengan nilai
konversi pakan yang rendah (Abdullah, 2000 dalam Sulistiono 2007)
Dilihat dari sisi budidaya Keong Mas sangat layak untuk di budidayakan,
menurut Sudarto (1991) perkawinan Keong Mas dilakukan sepanjang musim, dan
seekor Keong Mas dewasa mampu memproduksi 1000–1200 butir telur setiap
bulannya. Daya tetas rata-rata telur induk Keong Mas adalah 76,27 persen dengan
masa inkubasi 11-13 hari (Prihandini, 1995). Keong mas mempunyai siklus hidup
yang singkat dari fase telur sampai dewasa yaitu hanya membutuhkan waktu 60
hari. Setelah 60 hari Keong mas siap untuk bertelur sepanjang musim sampai
dengan umur Tiga tahun (Susanto, 1995). Menurut Tarupayet al. (1991), Keong
Mas bersifat pemakan segala (omnivora), secara spesifik keong ini memakan
lumut, semua tanaman air, umbi-umbian, daun-daunan, sayur-sayuran, sampah
dapur organik, sisa tanaman yang telah mati, dan lain sebagainya.
Berdasarkan data-data hasil pengujian kandungan nutrisi dan beberapa
hasil penelitian tersebut, maka Keong Mas secara teknis dapat dibudidayakan dan
dapat dikatakan layak serta berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber protein
pakan ternak alternatif pengganti konsentrat buatan pabrik, khususnya untuk Itik.
Adanya regulasi kebijakan kenaikan bea masuk impor untuk produk bahan
baku pakan berimplikasi pada kenaikan pakan ternak hasil produksi. Keadaan
inilah yang menyebabkan kerugian bagi peternak yang menggantungkan
pakannya pada pakan produksi pabrik.
1.2 Perumusan Masalah
Indonesia pada saat ini masih mengalami kekurangan pasokan telur Itik
karena hasil produksi telur itik di dalam negeri ternyata tidak bisa mengimbangi
kebutuhan konsumsi telur secara nasional, dan di lain pihak kebutuhan masyarakat
akan telur tersebut cenderung semakin meningkat. Adanya kebijakan impor telur
Itik dari luar negeri semata-mata adalah keterpaksaan karena untuk menstabilkan
ketahanan pangan nasional.
Dalam menuju era industrialisasi peternakan, maka setiap usaha dituntut
untuk dapat bersaing secara ketat dengan meningkatkan efisiensi. Untuk usaha
produktivitas, sehingga usaha yang dijalankan akan mampu memberikan hasil
yang maksimal.
Salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas telur Itik dengan tetap
menjaga efisiensi biaya usaha diantaranya adalah adanya upaya penggunaan
bahan-bahan pakan inkonvensional yang bermutu, berkualitas, murah dan
ketersediaannya dapat terjaga. Biaya pakan dalam usaha peternakan unggas
memiliki komposisi terbesar dari total biaya pemeliharaan. Hal inilah yang
menjadikan pakan merupakan kunci utama maju atau mundurnya suatu
peternakan unggas khususnya Itik di masa yang akan datang.
Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) “Bebek Jaya” Desa Babadan, adalah
salah satu Kelompok Tani Ternak Itik yang ada di Kabupaten Cirebon. Saat ini
KTTI “Bebak Jaya” memiliki anggota sebanyak 38 orang peternak Itik. Hal utama
yang melatar belakangi KTTI “Bebek Jaya” merencanakan pendirian usaha
peternakan Itik petelur dengan mengkombinasikan peternakan Itik pola semi
intensif dan kolam budidaya Keong Mas dalam satu area adalah: adanya
permintaan akan telur Itik yang semakin meningkat dan potensi pengembangan
peternakan yang masih terbuka lebar, sementara harga pakan ternak sebagai
penyokong utama budidaya terus melonjak naik, seperti yang dapat kita lihat pada
Tabel 8. Tabel tersebut menggambarkan bahwa setiap tahun pakan konsentrat
produksi PT. CPI Tipe 511 harganya semakin meningkat, kenaikannya berada
pada kisaran 10 persen setiap tahun. Kenaikan harga pakan konsentrat ini adalah
sebagai imbas dari kenaikan harga impor bahan baku pakan ternak.
Tabel 8. Harga Pakan Konsentrat Tipe 511 Produksi PT. CPI Tahun 2004 s.d 2009
Tahun Harga Pakan (Rupiah/Kilogram)
2004 2.800
2005 3.080
2006 3.388
2007 3.727
2008 4.099
2009 4.509
2010*) 4.960
Sumber : Laporan Tahunan(Annual Report) PT. CPI (2004 s/d 2009).
Permasalahan pakan ini juga yang menyebabkan jumlah anggota KTTI
“Bebek Jaya” pasang surut diantaranya ada yang tidak bisa bertahan. Adanya
penggunaan bahan pakan alternatif berupa Keong Mas ini diharapkan bisa
menjadi solusi yang baik dalam menghadapi masalah pakan yang di hadapi
anggota KTTI “Bebek Jaya” pada khususnya dan seluruh peternak Itik pada
umumnya.
Mengingat cukup besarnya biaya investasi yang akan dikeluarkan dalam
pendirian usaha ini maka diperlukan suatu analisis kelayakan usaha. Diharapkan
hasil dari penelitian ini akan dapat menjawab keraguan-keraguan yang mungkin
timbul pada diri peternak dalam upaya memanfaatkan Keong Mas sebagai sumber
pakan alternatif usaha peternakannya. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab
berbagai permasalahan sebagai berikut, yaitu:
1. Bagaimana kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan
Keong Mas sebagai sumber pakan alternatif di KTTI “Bebek Jaya” Desa
Babadan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dilihat dari aspek
pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi dan aspek
finansial?
2. Bagaimana sensitivitas kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan
pemanfaatan Keong Mas di KTTI “Bebek Jaya” tersebut jika terjadi adanya
peningkatan harga pakan yaitu pakan kecepu serta penurunan harga telur Itik.
1.3 Tujuan
Berdasarkan pada perumusan masalah tersebut, maka tujuan dari
penelitian ini adalah:
1. Menganalisis kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan
Keong Mas sebagai sumber pakan alternatif di KTTI “Bebek Jaya” Desa
Babadan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dilihat dari aspek
pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi dan aspek
finansial.
2. Menganalisis sensitivitas kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan
pemanfaatan Keong Mas di KTTI “Bebek Jaya” tersebut, jika terjadi adanya
1.4 Manfaat
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi masukan dan
memberikan Informasi bagi berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan
tertarik dalam pemanfatan Keong Mas sebagai pakan alternatif, khususnya para
peternak anggota KTTI “Bebek Jaya” Desa Babadan, Kecamatan Gunung Jati,
Kabupaten Cirebon, dan bagi pemerintah daerah Kabupaten Cirebon agar ikut
berperan aktif dalam memajukan peternakan rakyat melalui bantuan dan
kebijakannya, agar kesejahteraan peternak kecil bisa terangkat. Secara rinci hasil
penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:
1. Peternak, sebagai sumber informasi dan bahan masukan untuk perbaikan
peternakannya di masa yang akan datang, juga hasil penelitian ini bisa
dijadikan suatu alat referensi ketika akan melakukan langkah pengembangan
usaha peternakannnya jika diperlukan.
2. Pemerintah daerah, Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam perumusan kebijakan yang berhubungan dengan usaha
peternakan itik petelur di daerah setempat.
3. Pembaca, diharapkan dapat menjadi sumber literatur dan perbandingan dalam
penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.
4. Penulis, penelitian ini dijadikan sebagai pengalaman dan wadah pelatihan
dalam mengaplikasikan teori ilmu yang diperoleh terhadap kondisi yang riil
dilapangan, sebagai bekal terjun di dalam masyarakat nanti.
1.5 Ruang Lingkup
1. Cakupan Objek, Penelitian yang akan dilaksanakan mencakup objek seputar
analisis kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan Keong
Mas sebagai sumber bahan pakan alternatif di KTTI “Bebek Jaya”.
2. Cakupan Wilayah, Penelitian ini akan dilaksanakan di KTTI “Bebek Jaya”
Desa Babadan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Alasan
pemilihan tempat penelitian adalah, KTTI “Bebek Jaya” sedang merencanakan
pendirian usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan bahan pakan
alternatif. KTTI “Bebek Jaya” juga dianggap bisa mewakili KTTI di
Kabupaten Cirebon secara keseluruhan, bahkan untuk daerah-daerah sentra
3. Cakupan Kedalaman Materi. Penelitian ini akan mengkaji secara mendalam
bagaimana potensi Itik yang menggunakan pakan Keong Mas dari sisi
ekonomis melalui jalur ilmu studi kelayakan usaha, dilihat dari aspek pasar,
aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek finansial, penelitian ini juga akan
membahas bagaimana analisis kelayakan investasi usahanya. Kriteria investasi
yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah: Net Present Value (NPV), Net
Benefit-Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), Payback period
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha Ternak Itik
Saragih (1998) berpendapat bahwa dilihat dari pengusahaan, kegiatan
ekonomi berbasis peternakan diselenggarakan oleh dua golongan kepenguasaan,
yaitu: (1) peternakan rakyat, (2) perusahaan peternakan. Kemudian dari tingkat
komersialisasinya usaha peternakan dapat juga dikelompokan menjadi empat pola
usaha, yaitu: (1) usaha sampingan, (2) cabang usaha, (3) usaha pokok, (4) industri
peternakan.
Menurut Samosir (1983), dengan kebutuhan modal yang relatif kecil,
adanya pendapatan setiap hari, serta tidak adanya hambatan sosiobudaya dalam
pemeliharaannya, merupakan beberapa hal yang menguntungkan ternak Itik
dibandingkan ternak besar. Beberapa hal yang merupakan kekuatan atau
keunggulan dalam beternak itik adalah sebagai berikut : 1) Itik mampu bertelur
200-240 butir telur per ekor per tahun, dengan asumsi harga jual Rp. 800 per butir,
telur Itik sangat potensial sebagai sumber pendapatan keluarga peternak, 2)
Kandungan protein telur Itik 13,3 % dan dagingnya sebesar 21,4 % lebih tinggi
dari daging ayam, sapi dan domba, 3) Ternak Itik merupakan unggas lokal yang
telah beradaptasi dengan kondisi iklim pedesaan dan tahan terhadap serangan
penyakit.
Dalam kaitannya sebagai usaha ternak, berdasarkan hasil penelitian
Purwanti (1999), tentang peternakan Itik rakyat di Karawang, tenaga kerja yang
terlibat dalam pemeliharaan ternak Itik lebih banyak menggunakan tenaga kerja
keluarga (96,97 %), dan non keluarga (3,03 %), namun demikian efisiensi
produksi usaha ternak Itik masih relatif rendah dikarenakan kepemilikan yang
relatif kecil dan kualitas bibit yang belum baik (Prasetyo dan Susanti, 1997).
Dirjen Bina Produksi Peternakan menulis hasil penelitian dalam buku
statistik peternakan tentang konsumsi telur di beberapa provinsi di Indonesia pada
tahun 2004, pembahasannya adalah: konsumsi telur di beberapa provinsi
menunjukan jumlah yang besar, Sumatra Utara 120.000 ton, DKI Jakarta 123.740
ton, Jawa Barat 114.937 ton, Jawa Tengah 108.639 ton, Jawa Timur 190.669 ton,
dan Sulawesi Selatan sebesar 50.000 ton. Konsumsi masyarakat pada ke Enam
Indonesia. Kondisi seperti ini merupakan peluang pemasaran Itik yang
menjanjikan.
2.2 Praktek Budidaya dan Produktivitas Ternak Itik
2.2.1 Perkandangan
Menurut Rasyaf (1986), kandang merupakan tempat kediaman ternak, dan
dari kandang tersebut ternak memperoleh manfaat. Untuk mengetahui sistem
kediaman tersebut memberikan manfaat yang optimal dan menguntungkan,
hendaknya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) harus memberikan
kenyamanan bagi ternak Itik, (2) memberikan kesehatan pada Itik yang ada di
dalamnya, (3) harus memberikan hasil bagi peternak, (4) tidak mengganggu
peternak, (5) memenuhi syarat ekonomis. Selanjutnya Rasyaf (1986),
menambahkan bahwa pemilihan tempat peternakan menjadi hal yang utama dalam
usaha. Tempat yang dipilih hendaknya memiliki persyaratan sebagi berikut: (1)
dekat dengan sumber air, (2) dekat dengan daerah pemasaran, (3)dekat dengan
sumber bahan baku, (4) tidak mengganggu lingkungan sekitar, (5) tidak
mengganggu peternak. Samosir (1983) menjelaskan bahwa pada peternakan Itik,
kandang yang umum digunakan adalah tipe sheed. Lantai kandang yang terbaik
adalah yang terbuat dari semen atau papan, karena untuk mempermudah
membersihkannya.
Menurut Suharno dan Amri (2002), luas kandang hendaknya disesuaikan
dengan jumlah dan umur Itik yang dipelihara. Untuk Itik dewasa (> 6 bulan), Itik
dara (2-6 bulan), anak Itik (1 hari-2 bulan), kapasitas kandang Itik masing-masing
4-5 ekor per meter persegi, 5-10 ekor per meter persegi, dan 8-10 meter persegi
untuk 100 ekor anak Itik.
2.2.2 Pakan
Makanan Itik yang dipelihara secara ekstensif tidaklah diperhatikan secara
benar, sebab Itik dilepas saja untuk mencari makanan sendiri. Itik mendapat
makanan dari sisa panenan yang didapatnya di sawah, dan protein hewani
diperoleh dari remis, cacing, dan belalang (Harahapet.al 1978).
Rasyaf (1986) menjelaskan, bahwa bahan-bahan makanan yang bisa
bungkil-bungkilan, ubi kayu, daun lamtoro, daun petai cina, kulit kerang, garam dapur,
minyak atau lemak, dan tepung darah. Batas maksimum pemakaian bahan
makanan tersebut dipengaruhi oleh kualitas bahan dan harga bahan makanan
tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, hasil penelitian Harahapet.al (1978) pada
peternak Itik di Sumatera Barat, jumlah induk yang dipelihara mempengaruhi
biaya makanan, makin banyak Itik yang dipelihara, peternak akan lebih banyak
memperhatikan ternaknya terutama tentang pakannya.
Samosir (1983) menyatakan bahwa patokan-patokan kebutuhan protein,
lemak, energi metabolis, asam-asam amino vitamin, atau mineral untuk Itik
petelur Indonesia, masih jauh dari jangkauan. Baik kebutuhan untuk anak Itik, Itik
remaja, Itik petelur dewasa maupun untuk ternak Itik pembibitan. Untuk Itik-Itik
yang dipelihara secara intensif, kebutuhan akan nutrisi tersebut sepenuhnya harus
dapat disediakan. Khusus untuk Itik petelur kebutuhan akan kalsium dan fosfor
cenderung lebih banyak. Bagi Itik petelur kalsium dan fosfor dimanfaatkan untuk
membuat kulit telur dan membantu kelancaran fisiologis. Untuk sebutir telur, Itik
memerlukan 2,6 gram kalsium yang tercerna. Secara umum pakan Itik harus
mengandung 16-18 persen protein, 2800 Kkal/gram energi metabolis, delapan
persen serat kasar, 3,5-4 persen kalsium, dan 0,3-0,9 persen fosfor (Kardjono,
1998).
Suharno dan Amri (2002) menyarankan untuk pakan yang dibeli dari
pabrik (ransum komersial) hanya digunakan pada saat pemeliharaan Itik periode
awal, sementara untuk Itik dara mulai dari umur tujuh minggu dan seterusnya
menggunakan makanan yang diramu sendiri dengan bahan-bahan yang diperoleh
disekitar lokasi usaha. Kebutuhan nutrisi bagi Itik sepenuhnya harus dapat
disediakan. Khusus bagi induk Itik petelur, kebutuhan akan kalsium dan fosfor
cenderung lebih banyak karena akan dimanfaatkan untuk pembentukan cangkang
telur dan membantu kelancaran proses pengeluaran telur.
2.2.3 Bibit
Penyediaan bibit bagi para peternak Itik di Indonesia diperoleh melalui
perkawinan ternak Itik penghasil bibit (breeder) antar kelompok ternaknya
sendiri. Perbandingan pejantan dan kelompok betina yang dianjurkan adalah satu
Menurut Suharno dan Amri (1995), perusahaan pembibitan ternak Itik
belum secanggih ayam ras. Bahkan biasanya peternak sendiri yang melakukan
pembibitan. Lebih lanjut dikatakan bahwa beberapa cara memperoleh bibit yang
lebih baik adalah: (1) membeli telur tetas, (2) memelihara ternak itik, (3) membeli
DOD.
2.2.4 Karakteristik Itik Tegal
Berbagai jenis Itik lokal telah dikenal di Indonesia, dengan penyebaran
yang cukup luas diberbagai propinsi. Itik asli indonesia yang terkenal diantaranya
Itik Tegal. Dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, Itik Tegal atauIndian Runer
mempunyai kapasitas produksi telur yang cukup tinggi, yaitu sebesar 140-250
butir per tahun. Bobot badan dewasa itik ini pada jantan mencapai 2,043 kilogram,
sedangkan pada betina mencapai 1,816 kilogram (Samosir, 1983). Dengan
melakukan seleksi induk yang produktif, sistem pemeliharaan yang modern dan
terawat kesehatannya maka produksi telur masih dapat ditingkatkan. Hal ini
dimungkinkan karena variasi produksi Itik Tegal masih cukup besar (Balai Pusat
Penelitian Pertanian, 1992).
Berkaitan dengan hal tersebut, berdasarkan hasil penelitian Hartono
(1998), tentang pengaruh galur dan tingkat kandungan protein ransum terhadap
produksi dan kualitas telur Itik lokal, bahwa dengan peningkatan protein ransum
pada Itik Tegal dapat mempercepat pencapaian masa dewasa kelamin, sehingga
dapat meningkatkan produksi telur. Itik Tegal mulai bertelur pada umur 22-24
minggu, mempunyai daya tahan tinggi dan dapat berjalan jauh (Suharno dan
Amri, 1995).
2.3 Aspek Ekonomi Usaha Ternak Itik
Daerah-daerah tertentu seperti di Provinsi D.I Aceh, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan, potensi Itik di
daerah tersebut sebagai penghasil bibit yang dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan Itik di daerah lain (Balai Pusat Penelitian Pertanian, 1992).
Samosir (1983), mengatakan bahwa secara garis besar peran ternak Itik
bagi masyarakat adalah sebagai berikut: (1) sumber pendapatan petani-peternak,
(2) menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di kota-kota, (3) lapangan
Berdasarkan hasil penelitian Purwanti (1999), tentang peternakan Itik di
Karawang, bahwa dari sisi penyerapan tenaga kerja peternakan Itik merupakan
kegiatan basis yang diharapkan mampu mendorong kegiatan lain dalam rangka
mengatasi pengangguran dan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak.
2.4 Biaya Usaha
Menurut Adiwilaga (1974), pembiayaan usaha dapat dilakukan dengan
modal sendiri atau dengan modal pinjaman. Cahyono (1994) berpendapat bahwa
biaya dalam usahatani harus diperhitungkan sesuai dengan iklim usaha yang
sedang berlangsung. Selanjutnya Cahyono (1994) menambahkan, bahwa biaya
yang harus diperhitungkan dalam usahatani, meliputi biaya tetap dan biaya tidak
tetap. Biaya tetap merupakan biaya yang besar kecilnya tidak tergantung produksi,
yang terdiri: biaya sewa tanah, biaya peralatan, bunga pinjaman berupa uang, dan
penyusutan atas barang-barang inventaris, sedang biaya tidak tetap adalah biaya
yang diperlukan pada saat proses produksi berlangsung, yang terdiri dari: biaya
pakan, biaya obat-obatan, biaya tenaga kerja, selain penggolongan diatas,
Mubyarto (1989) mengatakan bahwa biaya produksi dapat pula dibagi dalam
biaya-biaya yang berupa uang tunai dan biaya in natura. Di dalam proses produksi
usahatani, pembiayaan diperlukan untuk merealisasi rencana kegiatan usahatani
(Cahyono, 1994). Suharno dan Amri (1995) mengatakan bahwa untuk usaha
ternak Itik, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal perencanaan
usaha yaitu: tujuan budidaya, skala usaha, bibit.
2.5 Modal Usaha
Menurut Adiwilaga (1974), modal adalah seluruh kekayaan yang
dipergunakan di dalam usaha. Soekartawi (1993) mengatakan bahwa modal
usahatani dapat diklasifikasikan sebagai bentuk kekayaan baik berupa uang
maupun barang untuk menghasilkan sesuatu secara langsung maupun tidak
langsung dalam suatu proses produksi.
Mubyarto (1989) berpendapat bahwa jika dilihat dari sumbernya, modal
dapat dibagi dua yaitu modal sendiri(equity capital) dan modal pinjaman(credit).
Berkaitan dengan hal tersebut, Adiwilaga (1974) mengatakan bahwa pada garis
tanah, bangunan, alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan (2) modal tidak tetap,
seperti: bahan baku, hasil usaha dalam simpanan, dan dana-dana usaha.
2.6 Pemasaran Hasil Produksi
Itik pada setiap tahap umur mempunyai segmen pasar khusus dengan nilai
jual yang cukup tinggi. Telur Itik sendiri dipasarkan dalam tiga bentuk yaitu telur
segar, telur olahan, dan telur untuk penetasan. Salah satu bentuk telur olahan
adalah telur asin. Jika tujuan beternak adalah untuk menghasilkan telur konsumsi
maka sistem beternak tanpa air dan pejantan merupakan salah satu pilihan yang
tepat (Suharno dan Amri, 2002). Menurut Suharno dan Amri (2002) telur Itik
sebagai telur tetas akan mempunyai harga jual yang lebih tinggi dan stabil dari
pada telur segar. Telur ini ditetaskan untuk menghasilkan bibit. Telur Itik untuk
konsumsi juga mempunyai pasaran tersendiri.
2.7 Pendapatan Usaha Ternak Itik
Berdasarkan hasil penelitian Harahapet al. (1978), pada peternakan Itik di
Sumatra Barat, jumlah induk yang dipelihara mempengaruhi pendapatan peternak,
dengan manajemen yang lebih baik maka produksi ternak Itik akan meningkat,
yang akan membuat pendapatan peternak dari Itik yang dipeliharanya akan
meningkat.
Samosir (1983) berpendapat bahwa ternak Itik memegang peranan penting
dalam menunjang sumber pendapatan petani-peternak, baik pada skala usaha kecil
maupun skala usaha besar. Hal ini juga dinyatakan oleh Purwanti (1999),
berdasarkan hasil penelitiannya pada peternak Itik di Karawang, dari sisi
pendapatan sumbangan dari ternak Itik terhadap pendapatan keluarga sebesar
35,43 persen. Selain itu, usaha ternak Itik merupakan kegiatan basis yang
mempunyai peranan yang cukup penting dalam pembangunan pertanian, sehingga
dapat meningkatkan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu daerah
(Purwanti, 1999).
2.8 Penggunaan Keong Mas Untuk Pakan
Sulistiono (2007) menulis jurnal penelitian yang berjudul ”Keong Mas,
mempublikasikan manfaat dari Keong Mas yaitu sebagai sumber pakan dan
obat-obatan. Kutipan yang ada dalam jurnal tersebut diantaranya sebagai berikut:
Bagus dalam Sulistiono 2007 menyatakan bahwa pada pengembangan
ternak Itik, Keong Mas (setelah dicincang) merupakan makanan campuran
sebagai sumber protein yang murah. Selain mengandung banyak protein, Keong
Mas juga kaya akan kalsium. Keong mas dapat juga dijadikan tepung, setelah
direbus, dikeringkan dan digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan
dedak padi dan menir dengan perbandingan masing-masing 3,4 persen, 73,3
persen, dan 23,3 persen.
Kompiang dalam Sulistiono 2007 penggunaan Keong Mas sebagai
makanan Itik sebagai sumber protein hewani telah dilakukan sejak tahun 1985.
Akhir-akhir ini banyak wilayah padi dan wilayah ternak Itik seperti halnya di
daerah Banten, Jawa Tengah, Riau, dan beberapa daerah di Sulawesi dan
Kalimantan telah memanfaatkan keong mas ini sebagai sumber pakan Itik. Di
Sumatra Selatan, pemberian ramuan keong mas 10 persen memberikan
pertumbuhan yang baik bagi Itik pada periode layer (bertelur). Di Pasaman,
penggunaan keong mas untuk pakan Itik mampu menaikkan hasil telurnya
mencapai 80 persen (Sulistiono, 2007).
Widyatmoko (1996) menyatakan bahwa tepung tubuh dan cangkang
Keong Mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang cukup baik bagi peternakan
ayam. Hal yang cukup mengejutkan bahwa penggunaan tepung yang berasal dari
cangkang Keong Mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang bagus. Selain
dalam bentuk tepung, silase daging Keong Mas juga telah terbukti menjadi
sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras (BP2TP Sumatra Utara
dalam Sulistiono 2006).
2.9 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan
Kamid (2002), melakukan penelitian tentang analisis kelayakan usaha
ternak Itik petelur pada kelompok tani ternak Itik branjangan putih Kecamatan
Losari Kabupaten Cirebon. Dalam penelitiannya menggunakan alat analisis
investasi berupa NPV, BCR, IRR dan hasil yang didapat dari penelitian tersebut
adalah: pada tingkat suku bunga 12 persen pertahun, untuk pemeliharaan ternak
nilai BCR yang diperoleh adalah sebesar 1,38, nilai IRR yang didapat adalah 30
persen, dari hasil perhitungan tersebut bisa disimpulkan bahwa usaha tersebut
layak untuk dijalankan. bahan pakan yang digunakan berupa dedak/bekatul,
menir, nasi kering, dan ikan petek.
Syawal (2003) melakukan penelitian yang berjudul ”Analisis Kelayakan
Finansial Usaha Peternakan Itik Petelur di Desa Candirejo Kecamatan Ponggok
Kabupaten Blitar”, dalam penelitiannya mendapatkan biaya yang dikeluarkan oleh
peternak Itik berupa biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi
meliputi: biaya pakan, biaya tenaga kerja, dan biaya lahan per tahun. Adapun
penerimaan peternak berasal dari penjualan telur dan Itik afkir. Setelah dilakukan
perhitungan biaya dan penerimaan dalam satu tahun diperoleh pendapatan Rp.
3.796.450,00 pada skala usaha 257 ekor, Rp. 11.130.749,00 pada skala usaha 587
ekor dan Rp. 24.061.174,00 pada skala usaha 1.329 ekor. Penerimaan yang
dimaksud adalah nilai uang yang diperoleh peternak atas penjualan output yang
dihasilkan. Dalam penelitiannya Syawal menggunakan analisis investasi NPV,
B/C rasio, IRR dan nilai yang dihasilkan dalam perhitungan adalah NPV sebesar
18.528.430, B/C rasio sebesar 1,18 dan IRR sebesar 99,03 persen. Dalam
penelitian tersebut pakan menggunakan pakan konsentrat buatan pabrik dengan
merk dagang SDL dan 144.
Herwin (2005) melakukan penelitian tentang analisis kelayakan usaha
pembibitan Itik di Desa Kagokan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa
Tengah. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa pakan yang dipakai berupa
konsentrat dan bekatul dengan perbandingan 1:10, dari hasil perhitungan tentang
analisis investasi di dapatkan nilai sebagai berikut: NPV sebesar Rp. 1.380.367,
IRR sebesar 39 persen, Net B/C sebesar 1,59. dari hasil perhitungan tersebut bisa
disimpulkan bahwa usaha pembibitan Itik tersebut dikatakan layak untuk
dijalankan.
Herlina (2006) melakukan penelitian tentang kajian kelayakan usaha
pendederan dan penggelondongan Ikan Kerapu Macan di Balai Budidaya Laut
(BBL) Pulau Semak Daun, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi
DKI Jakarta. Dalam penelitiannya Herlina menganalisis aspek teknis, aspek
penelitian tersebut adalah NPV, IRR, Net B/C,PP dan analisis sensitivitas, dari
hasil kesimpulan yang didapat bahwa usaha pendederan dan penggelondongan
ikan Kerapu Macan tersebut layak untuk dijalankan.
Bukit (2007) melakukan penelitian tentang analisis kelayakan usaha ikan
patin di Kabupaten Bogor, kasus pembenihan di Kecamatan Ciampea dan
pembesaran di Kecamatan Kemang. Dalam penelitiannya Agripa Bukit
menganalisis aspek teknis, aspek institusional, aspek finansial, aspek sosial dan
aspek pasar. Kriteria investasi yang dibahas dalam penelitian tersebut adalah
NPV, IRR, Net B/C, PP dan analisis sensitivitas. Hasilnya adalah usaha ikan patin
Tabel 9. Penelitian Terdahulu yang Relevan Mengenai Kelayakan Usaha
No Nama Th Judul Penelitian Beda Penelitian Metode
III KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka pemikiran berisi teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan
yang ada dalam penelitian dan merupakan acuan untuk menjawab permasalahan
tersebut.
3.1 Analisis Proyek
Proyek pertanian merupakan suatu kegiatan investasi di bidang pertanian
yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang-barang kapital yang
dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat setelah beberapa waktu tertentu.
Pemilihan diantara berbagai alternatif beberapa sumberdaya perlu dilakukan
karena sumber-sumber tersebut sifatnya terbatas (Gittinger, 1986).
Tujuan diadakannya analisis proyek adalah untuk melihat apakah suatu
proyek yang dilaksanakan menghasilkan keuntungan atau tidak. Menurut
Gittinger (1986), analisis proyek bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan
yang dapat dicapai melalui investasi dalam suatu proyek, menghindari
pemborosan sumber-sumber yaitu dengan menghindari pelaksanaan proyek yang
tidak menguntungkan, mengadakan penilaian terhadap peluang investasi yang ada
sehingga dapat dipilih alternatif proyek yang paling menguntungkan dan
menentukan prioritas investasi. Adapun alasan dilakukan analisis terhadap suatu
proyek pada dasarnya adalah mencoba untuk menentukan atau menilai
biaya-biaya dan manfaat yang timbul dengan adanya proyek dan membandingkannya
dalam situasi tanpa proyek. Sehingga dari analisis proyek juga dapat diketahui
apakah proyek tersebut layak untuk dilaksanakan atau dipertahankan
kelangsungannya.
Dalam analisis proyek terdapat aspek-aspek yang saling berkaitan dan
bersama-sama menentukan bagaimana keuntungan yang akan diperoleh dari suatu
investasi tertentu. Gittinger (1986), mengatakan bahwa aspek-aspek ini harus
dipertimbangkan pada setiap tahap dalam perencanaan proyek dan siklus
pelaksanaan. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), beberapa aspek yang
mempengaruhi kelayakan suatu proyek tersebut antara lain: aspek pasar, aspek
teknis, aspek keuangan, aspek hukum, aspek finansial dan aspek ekonomi negara.
Menurut Gittinger (1986), aspek pasar adalah hal-hal yang berkenaan
teknis adalah hal-hal yang berhubungan dengan penyediaan input dan output
berupa barang-barang yang nyata dan jasa-jasa. Analisis secara teknis akan
menguji hubungan-hubungan teknis yang mungkin dalam suatu proyek yang
diusulkan, misalnya keadaan tanah, iklim, dan teknologi yang digunakan.
Selanjutnya Husnan dan Suwarsono (1999) berpendapat bahwa aspek manajemen
yaitu hal-hal yang berkenaan dengan mempertimbangkan mengenai sesuai atau
tidaknya proyek dengan susunan organisasi proyek agar sesuai dengan prosedur
organisasi setempat juga berkenaan dengan kesanggupan atau keahlian staf yang
ada untuk menangani proyek. Aspek finansial yaitu semua yang berkaitan dengan
pengaruh-pengaruh finansial proyek terhadap peserta proyek.
Kelayakan aspek-aspek diatas akan menentukan apakah suatu usaha yang
sedang dianalisis layak atau tidak untuk diusahakan. Adapun aspek-aspek yang
dianalisis kelayakannya dalam penelitian ini meliputi aspek non finansial dan
aspek finansial. Aspek non finansial meliputi: aspek pasar, aspek teknis dan aspek
manajemen.
3.1.1 Aspek Pasar
Pada aspek pasar, analisis kelayakan usaha dilakukan terhadap
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan rencana pemasaran produk dan rencana
penyediaan input produksi (Gittinger, 1986). Kelayakan aspek pasar akan sangat
berkaitan dengan besarnya penerimaan yang akan diperoleh dalam usaha, karena
aspek ini akan menentukan besarnya penekanan biaya pemasaran dan peningkatan
nilai jual output yang dapat diupayakan. Kotler (1997) mendefinisikan pemasaran
sebagai suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok
mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan
dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Dalam memasarkan suatu
produk hendaknya manajer pemasaran menerapkan strategi bauran pemasaran
yang meliputi empat komponen yaitu: produk, harga, saluran distribusi dan
promosi.
3.1.2 Aspek Teknis
Menilai kelayakan dalam aspek teknis merupakan langkah awal yang
harus dilakukan dalam memutuskan untuk memulai atau mengembangkan suatu
tersebut akan berjalan dan berkembang dengan baik. Aspek teknis merupakan
suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis
dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun (Hasan dan
Suwarsono, 1999).
Menurut Gittinger (1986), analisis secara teknis berhubungan dengan input
proyek (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang-barang nyata dan
jasa-jasa. Aspek-aspek yang lain hanya dapat berjalan jika analisis secara tenis dapat
dilakukan. Analisis aspek teknis akan menguji hubungan-hubungan teknis yang
mungkin dalam suatu proyek pertanian yang diusulkan, misalnya: keadaan tanah
didaerah proyek dan potensinya bagi pembangunan pertanian, ketersediaan air,
suhu udara, pengadaan input produksi dan lain sebagainya.
Dalam bidang pertanian, hubungan-hubungan teknis di atas sangat
menentukan keberhasilan suatu usaha, terutama keberhasilan dalam proses
produksi. Masing-masing komponen dalam aspek teknis tersebut saling berkaitan
satu sama lain, dan jika ada salah satu yang tidak layak maka akan mengganggu
proses produksi usaha secara keseluruhan. Misalnya jika terdapat salah satu input
usaha tidak memenuhi syarat secara kuantitas dan kualitas hal tersebut akan
mengganggu atau bahkan menghambat jalannya proses produksi. Atau misalnya
jika lingkungan fisik yang ada tidak sesuai dengan syarat habitat mahluk hidup
yang akan di budidayakan maka usaha ini juga tidak akan berhasil. Mengenai
metode atau cara-cara pembudidayaan yang dilakukan, maka perlu dikaji apakah
secara teknis cara-cara yang dilakukan oleh tenaga kerja sudah optimal dan
mencapai tingkat produksi yang relatif tinggi. Mengingat output yang diusahakan
merupakan mahluk hidup yang terkait dengan sifat biologis, maka dalam proses
produksi usaha peternakan Itik petelur ini kebutuhan akan gizi dari pakan perlu di
perhatikan.
Selain dari fasilitas produksi, kelayakan teknis dari fasilitas pemasaran
juga harus dipenuhi, karena hal tersebut juga akan menentukan keberhasilan
dalam pemasaran output., khususnya dalam upaya menekan biaya pemasaran dan
tentunya untuk mempertahankan kualitas output yang dihasilkan untuk mencapai
adalah telur, yang tentunya memiliki sifat yang mudah rusak sehingga diperlukan
penanganan yang baik dalam upaya pemasarannya.
Menurut Gittinger (1986), bila analisis secara teknis telah dilakukan,
analisis teknis harus terus menerus memastikan bahwa pekerjaan secara teknis
tersebut berjalan lancar dan memang tepat untuk dilakukan, dan bahwa
perkiraan-perkiran secara teknis cocok dengan keadaan sebenarnya, dan bahwa petani-petani
yang menggunakan teknologi yang diusulkan pada lahan mereka dapat
mewujudkan hasil-hasil seperti yang diperkirakan. Walaupun berdasarkan
evaluasi teknis yang telah dilakukan terhadap suatu usaha menyatakan bahwa
secara teknis usaha tersebut layak, namun menurut Husnan dan Suwarsono
(1999), analisis tetap harus memperhatikan pengalaman pada proyek lain yang
serupa dilokasi lain yang menggunakan teknik dan teknologi serupa. Hal ini
penting untuk membantu dalam pengambilan keputusan akhir apakah usaha
tersebut akan dikembangkan atau tidak.
3.1.3 Aspek Manajemen
Aspek manajemen merupakan aspek yang penting untuk dianalisis dalam
suatu usaha. Walaupun semua aspek yang lain sudah dinyatakan baik, namun jika
tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pihak pengelola maka kegiatan usaha
tersebut tidak akan efisien. Kelayakan pada aspek manajemen pada suatu usaha
khususnya usaha peternakan Itik petelur sangat penting, mengingat usaha ini
memiliki karakteristik yang cukup khas, yang berbeda dengan usaha peternakan
yang lain.
Menurut Gittinger (1986), masalah-masalah dalam persiapan proyek
berkisar diantara aspek-aspek institusional, organisasi dan manajerial yang
tumpang tindih, yang secara jelas mempunyai pengaruh yang penting terhadap
pelaksanaan proyek. Untuk dapat dilaksanakan, suatu proyek harus dihubungkan
secara tepat dan struktur kelembagaan di suatu negara atau daerah.
Kadariah (1988) menyatakan bahwa pada aspek organisasi perhatian
utama ditujukan pada hubungan antara administrasi proyek dan bagian
administrasi pemerintah lainnya untuk melihat apakah hubungan antara
masing-masing wewenag (authority) dan tanggung jawab (responsibility) dapat diketahui
untuk menjalankan administrasi kegiatan dalam ukuran besar (large scale
activities). Keahlian manajemen hanya dapat dievaluasi secara subjektif, namun
jika hal ini tidak mendapat perhatian khusus, maka banyak kemungkinan terjadi
pengambilan keputusan yang kurang baik dalam proyek yang direncanakan.
3.1.4 Aspek Finansial
Dalam analisis finansial, proyek dilihat dari sudut badan-badan atau
orang-orang yang menanamkan modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan
langsung dalam proyek, sedangkan analisis ekonomi proyek dilihat dari sudut
perekonomian secara keseluruhan (Kadariah, 1988). Dalam penelitian ini tidak
dilakukan analisis ekonomi, melainkan dibatasi pada analisis finansial saja.
Menurut Kadariah (1988), analisis finansial ini penting artinya dalam
memperhitungkan rangsangan (incentive) bagi mereka yang turut serta dalam
mensukseskan proyek, sebab tidak ada gunanya melaksanakan proyek yang
menguntungkan dilihat dari sudut perekonomian sebagai keseluruhan, jika mereka
yang menjalankan kegiatan produksi tidak bertambah baik keadaannya.
Selain itu dalam analisis finansial yang perlu diperhatikan adalah waktu
diperoleh penerimaan (returns) untuk menentukan apakah individu atau
perusahaan tersebut mampu atau tertarik untuk menanamkan modalnya dalam
kegiatan proyek. Hal ini penting karena bagi perusahaan, dalam jangka waktu
tertentu bila tidak diperoleh return yang memadai maka kemungkinan mereka
akan kehabisan modal. Lain halnya dengan analisis ekonomi, yang perlu
diperhatikan adalah besarnya manfaat bersih tambahan yang diperoleh dari semua
sumber yang digunakan dalam proyek untuk masyarakat atau perekonomian
secara keseluruhan, tanpa melihat siapa yang menyediakan sumber-sumber
tersebut (Kadariah, 1988).
Untuk membuat analisis finansial suatu usaha, diperlukan data mengenai
arus peneriman yang terdiri atas produksi total, peneriman pinjaman, bantuan,
nilai sewa dan nilai sisa. Selain itu juga diperlukan data mengenai arus
pengeluaran yang terdiri dari biaya investasi, biaya produksi, pengembalian
pinjaman dan bunga, pemeliharaan peralatan dan bangunan serta biaya lain seperti
Selanjutnya kriteria yang digunakan dalam analisis finansial usaha berupa
kriteria kelayakan investasi. Analisis ini ditekankan pada penilaian kelayakan
investasi, karena investasi merupakan unsur yang bersifat jangka panjang dan
akan mengalami perubahan nilai sepanjang tahun. Karena sifat yang jangka
panjang ini, maka keputusan penanaman dan penarikan investasi tidak dapat
dilakukan dengan mudah atau tanpa perhitungan, sebab apabila terjadi kesalahan
dalam keputusan investasi maka pengusaha tersebut akan mengalami kerugian
yang jumlahnya biasanya relatif besar. Dengan diadakannya analisis kelayakan
investasi ini, maka resiko adanya kegagalan investasi dapat dikurangi, hal ini
sesuai dengan yang dinyatakan oleh Husnan dan Muhammad (2000) bahwa,
tujuan dari dilakukannya suatu analisis kelayakan usaha adalah untuk menghindari
penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak
menguntungkan.
3.1.4.1 Teori Biaya dan Manfaat
Menurut Gittinger (1986), biaya adalah segala sesuatu yang mengurangi
suatu tujuan dan manfaat adalah segala sesuatu yang membantu suatu tujuan.
Biaya-biaya yang dimasukan dalam perhitungan analisis usaha pertanian
umumnya adalah biaya-biaya yang dapat dikuantifikasi atau yang berpengaruh
langsung seperti biaya investasi, biaya operasional dan biaya lain-lain. Menurut
Kadariah (1988), yang dimaksud dengan biaya investasi ialah biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh barang-barang fisik yang akan digunakan dalam
usaha untuk jangka waktu yang relatif lama (umumnya lebih dari 1 tahun).
Sedangkan biaya operasional adalah biaya tahunan untuk keperluan rutin selama
umur ekonomi proyek.
Biaya total dibagi menjadi dua bagian, yaitu biaya tetap total dan biaya
variabel total. Biaya tetap total adalah biaya yang tidak berubah meskipun
outputnya berubah, biaya ini sering disebut biaya overhead atau biaya yang tidak
dapat dihindarkan. Biaya variabel merupakan biaya yang berkaitan langsung
dengan output, yang bertambah besar dengan meningkatnya produksi dan
berkurang dengan menurunnya produksi.
Kadariah (1988) menyatakan bahwa, penurunan biaya dapat berupa;