• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelayakan Usaha Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan Alternatif, (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kelayakan Usaha Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan Alternatif, (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN ITIK PETELUR

DENGAN PEMANFAATAN KEONG MAS SEBAGAI

SUMBER PAKAN ALTERNATIF

(Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)

SKRIPSI

AHMAD HAMDAN H34076013

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

RINGKASAN

AHMAD HAMDAN Kelayakan Usaha Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan Alternatif, (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon).Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan POPONG NURHAYATI).

Seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk, pendidikan, pendapatan, daya beli masyarakat, serta kesadaran akan perlunya pangan yang bergizi, menyebabkan permintaan terhadap produk peternakan juga semakin meningkat, sehingga ini merupakan potensi bagi pengembangan usaha peternakan di masa yang akan datang. KTTI “Bebek Jaya” adalah salah satu Kelompok Tani Ternak Itik yang ada di Kabupaten Cirebon. Hal utama yang melatar belakangi KTTI “Bebek Jaya” merencanakan pendirian unit usaha baru peternakan Itik petelur dengan mengkombinasikan peternakan Itik pola semi intensif dan kolam budidaya Keong Mas dalam satu area adalah: adanya permintaan akan telur Itik yang semakin meningkat dan potensi pengembangan peternakan yang masih terbuka lebar, sementara harga pakan ternak sebagai penyokong utama budidaya terus melonjak. Keadaan tersebut merupakan suatu momentum dimana usaha peternakan harus berbenah diri.

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Menganalisis kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan Keong Mas sebagai sumber pakan alternatif di KTTI “Bebek Jaya” Desa Babadan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi dan aspek finansial, (2) Menganalisis sensitivitas kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan Keong Mas di KTTI “Bebek Jaya” tersebut, jika terjadi adanya peningkatan harga pakan yaitu pakan kecepu serta penurunan harga telur Itik.

Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengkaji aspek pasar, aspek teknis, dan aspek manajemen yang dijelaskan secara deskriptif. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengkaji kelayakan finansial usaha berdasarkan kriteria kelayakan investasi diantaranya, Net Present Value (NPV), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), Internal

Rate of Return (IRR), Payback period (PP), dan analisis sensitivitas switching

value.

(3)

khususnya. Susunan organisasi yang sederhana memudahkan tugas, wewenang dan tanggung jawab seluruh komponen yang ada. Sistem ketenagakerjaan yang ada dalam farm dinilai cukup memadai dan sangat efektif. Dari ketiga aspek diatas dapat disimpulkan bahwa usaha tersebut layak untuk dijalankan

Hasil analisis aspek finansial berdasarkan kriteria kelayakan investasi menunjukan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan. hal ini dikarenakan nilai

NPV lebih dari nol, nilai Net B/C lebih dari satu, nilaiIRR lebih besar dari tingkat

discount rate yang ditentukan, dan PP berada sebelum masa proyek berakhir.

(4)

KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN ITIK PETELUR

DENGAN PEMANFAATAN KEONG MAS SEBAGAI

SUMBER PAKAN ALTERNATIF

(Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)

AHMAD HAMDAN H34076013

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

Judul Skripsi : Kelayakan Usaha Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan Alternatif, (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)

Nama : Ahmad Hamdan

NIM : H34076013

Disetujui, Pembimbing

Ir. Popong Nurhayati, MM

NIP. 19670211 199203 2 002

Diketahui

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS

NIP. 19580908 198403 1 002

(6)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul ”Kelayakan Usaha

Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan

Alternatif (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon) adalah karya

sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi

manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan

maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan

dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2010

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 30 Desember 1982

sebagai anak kedua dari empat bersaudara, penulis merupakan anak dari pasangan

Bapak Narisa dan Ibu Aemi yang keduanya berprofesi sebagai guru.

Pendidikan dasar hingga sekolah menengah umum diselesaikan di

Cirebon, yang dimulai dari Sekolah Dasar Ciptakarya II Mayung, Cirebon Utara

dan Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlas Babadan, Cirebon Utara lulus pada tahun

1995. pada tahun 1998 penulis menamatkan pendidikan di Sekolah Lanjutan

Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 1 Cirebon Barat, dan pada tahun 2001 penulis

menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 7 Kota

Cirebon.

Pada tahun 2002 penulis diterima sebagai mahasiswa pada Program Studi

Diploma III Teknisi Usaha Ternak Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan

Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor dan lulus

pada tahun 2005. Selepas menempuh program Diploma III, penulis sempat

berkerja di PT. Satwa Boga Sampurna sebagai Supervisor Produksi. Pada tahun

2007 penulis berhenti dari pekerjaan dan melanjutkan studi pada Program Sarjana

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat nikmat dan karuniaNya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Kelayakan Usaha

Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas Sebagai Sumber Pakan

Alternatif (Kasus KTTI Bebek Jaya, Babadan, Gunung Jati, Cirebon)”.

Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan unit usaha yang akan

didirikan, yaitu peternakan Itik petelur berbasis pemanfaatan sumber pakan

alternatif berupa Keong Mas, yang dibudidayakan secara integrasi pada satu

lokasi. Analisis kelayakan usaha ini ditinjau dari aspek pasar, teknis, manajemen,

dan finansial.

Namun demikian, sangat disadari masih terdapat keterbatasan dan kendala

yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang

membangun ke arah penyempurnaan pada skripsi ini sehingga dapat bermanfaat

bagi semua pihak, amin.

Bogor, September 2010

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagi pihak sebagai bentuk

rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ingin menyampaikan terimakasih dan

penghargaan kepada:

1. Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan,

waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan

skripsi ini.

2. Ir, Narni Farmayanti, MSc selaku dosen evaluator pada kolokium yang telah

memberikan koreksi dan saran demi perbaikan skripsi ini.

3. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS selaku dosen penguji pada ujian sidang skripsi

yang telah memberikan koreksi serta saran demi penyempurnaan skripsi ini.

4. Rahmat Yanuar, SP, MSi selaku dosen komdik yang telah memberikan

koreksi pada teknik penulisan juga saran kepada penulis.

5. Orang tua, keluarga, dan istriku tercinta Tria Anggita, SP atas dukungan dan

doa yang diberikan, semoga ini bisa menjadi persembahan yang terbaik.

6. Bapak Warkiya beserta segenap jajaran pengurus dan anggota KTTI ”Bebek

Jaya” atas waktu, kesempatan, informasi dan kepercayaan yang diberikan.

7. Teman-teman seperjuangan di MH dan teman-teman ekstensi Agribisnis atas

semangat dan sharing selama penelitian hingga penulisan skripsi. (Vikky,

Dimas, Bang Dani, Zepri, Bangun, Bayu, Desi, Oom) dan lainnya yang tidak

dapat disebutkan satu persatu) terimakasih atas kebersamaanya selama ini.

8. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak

dapat disebutkan satu per satu, semoga Allah SWT membalas dan

memberikan rahmat hidayah-Nya.

Bogor, September 2010

(10)

DAFTAR ISI

2.2 Praktek Budidaya dan Produktivitas Ternak Itik ... 14

2.2.1 Perkandangan ... 14

2.9 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 19

III KERANGKA PEMIKIRAN ... 23

3.1.4.3 Kriteria Kelayakan Investasi ... 30

3.1.4.4 AnalisisSensitivitas ... 32

(11)

IV METODE PENELITIAN ... 36

4.4.2 Analisis Kelayakan Aspek Teknis ... 37

4.4.3 Analisis Kelayakan Aspek Manajemen ... 38

4.4.4 Analisis Kelayakan Aspek Finansial ... 38

4.5 Asumsi Dasar ... 41

VI ANALISIS KELAYAKAN ASPEK PASAR, ASPEK TEKNIS, ASPEK MANAJEMEN... 47

6.3.1 Manajemen Pembangunan Proyek ... 71

6.3.2 Manajemen Dalam Operasi ... 71

(12)

VII ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL ... 76

7.1 Arus Kas ... 76

7.1.1 Arus Penerimaan(Inflow) ... 76

7.1.2 Arus Pengeluaran(Outflow) ... 78

7.2 Analisis Laba Rugi ... 83

7.3 Analisis Kelayakan Finansial Pakan Keong Mas ... 85

7.4 Analisis Kelayakan Finansial Pembanding (Jika Menggunakan Pakan Konsentrat Tipe 511 Produksi PT. CPI) ... 86

7.5 Hasil Perbandingan Analisis Kelayakan Finansial (Pakan Keong Mas dengan Pakan Konsentrat Tipe 511 Produksi PT. CPI) ... 87

7.6 Analisis SensitivitasSwitching Value (Nilai Pengganti) ... 87

VIII KESIMPULAN DAN SARAN ... 88

8.1 Kesimpulan ... 88

8.2 Saran ... 88

DAFTAR PUSTAKA ... 89

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Populasi Unggas Indonesia Tahun 2004-2009 ... 1

2 Neraca Telur Itik Nasional Tahun 2007-2009 ... 3

3 Jumlah Impor Telur Itik Tahun 2007-2009 ... 3

4 Harga Telur Itik di Tingkat Peternak Kabupaten Cirebon Tahun 2006-2009 (dalam Rupiah per Butir) ... 4

5 Produksi Telur Kabupaten Cirebon Dirinci Menurut Jenis Unggas ... 5

6 Nilai produksi Telur Kabupaten Cirebon Dirinci Menurut Jenis Unggas ... 5

7 Kandungan Zat Makanan Tepung Keong Mas ... 7

8 Harga Pakan konsentrat Produksi PT. CPI Tahun 2004 sd2009 ... 9

9 Penelitian Terdahulu yang Relevan Mengenai Kelayakan Usaha . 22 10 Kandungan Zat Makanan Dalam Ransum Berdasarkan Hasil Perhitungan(as feed basis)... 43

11 Jumlah Penduduk Di Beberapa Propinsi Tujuan Pemasaran Telur Itik Kabupaten Cirebon ... 47

12 Nilai Gizi Telur Itik dan Telur Ayam Per 100 Gram Telur ... 48

13 Perkembangan Produksi, Konsumsi dan Impor Telur Itik Nasional ... 49

14 Proyeksi Permintaan dan Penawaran Telur Itik ... 50

15 Proyeksi Pangsa Pasar(Market Share) Telur Itik ... 50

16 Biaya Gaji/Kompensasi Pertahun ... 79

17 Biaya Pemeliharaan Alat dan Bangunan Dalam Setahun ... 80

18 Perhitungan Biaya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ... 80

19 Angsuran Pembayaran Pinjaman ... 81

20 Perhitungan Pajak Penghasilan Usaha ... 83

21 Biaya Penyusutan Pertahun (Rupiah) ... 84

22 Hasil Analisis Kelayakan Finansial ... 85

23 Hasil Analisis Kelayakan Finansial Pembanding ... 86

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1 Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Itik Petelur Dengan Pemanfaatan Keong Mas

Sebagai Sumber Pakan Alternative Pada KTTI ”Bebek Jaya ... 35

2 Struktur Organisasi KTTI “Bebek Jaya” ... 45

3 Alur Pemasaran telur KTTI “Bebek Jaya” ... 46

4 Proses Pengolahan Keong Mas Untuk Pakan ... 60

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Keterangan Operasi Perhitungan Pada Budidaya Itik ... 93

2 Keterangan Operasi Perhitungan Pada Budidaya Keong Mas ... 94

3 Proyeksi Produksi Telur Itik KTTI "Bebek Jaya" (butir) ... 95

4 Proyeksi Penerimaan Hasil Penjualan Telur Itik KTTI “Bebek Jaya” (Rupiah) ... 95

5 Proyeksi Penerimaan Itik Afkir (Ekor) ... 96

6 Proyeksi Penerimaan Hasil Penjalan Itik Afkir (Rupiah) ... 96

7 Proyeksi Penerimaan Penjualan Daging giling Keong Mas. (kilogram) ... 97

8 Proyeksi Penerimaan Penjualan Daging giling Keong Mas. (Rupiah) ... 97

9 Keterangan Biaya Pada Budidaya Keong Mas Sebagai Dasar Penentuan HPP ... 98

10 Perhitungan HPP Daging Giling Keong Mas ... 99

11 Rincian Biaya Investasi ... 100

12 Jumlah Nilai sisa Usaha Itik Petelur pada Farm Integrasi KTTI “Bebek Jaya” ... 102

13 Rincian Biaya Re-Investasi ... 103

14 Proyeksi Pembelian Pakan Limbah Sayuran (karung) ... 105

15 Proyeksi Pembelian Pakan Limbah Sayuran (Rupiah) ... 105

16 Proyeksi Pembelian Gas 3 kg (Tabung) ... 106

(16)

18 Proyeksi Penggunaan Kecepu Dalam Formulasi Pakan

(Kilogram) ... 107

19 Proyeksi Pengeluaran Biaya Pakan Kecepu (Rupiah) ... 107

20 Penggunaan Daging Keong Mas Dalam Formulasi Pakan (kilogram) ... 108

21 Proyeksi Pengeluaran Biaya Pakan Daging Keong Mas (Rupiah) ... 108

22 Jumlah Populasi Ternak (ekor) ... 109

23 Proyeksi Pengeluaran Biaya Obat-Obatan (Rupiah) ... 109

24 Proyeksi Pengeluaran Biaya Transportasi (Rupiah) ... 110

25 Laporan Laba Rugi ... 111

26 LaporanCashflow ... 112

27 Laporan Laba Rugi Pembanding (Pakan Konsentrat Tipe 511) harga Rp. 4,960/kg ... 114

28 Laporan Cashflow Pembanding (Pakan Konsentrat Tipe 511) harga Rp. 4,960/kg... 115

(17)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu tujuan

utama dalam pembangunan jangka panjang. Kualitas sumber daya manusia yang

dimiliki suatu bangsa akan sangat menentukan kemajuan di masa yang akan

datang. Salah satu upaya yang sangat menentukan dalam penciptaan sumberdaya

manusia yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia adalah tercukupinya

kebutuhan protein hewani. Seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan

penduduk, pendidikan, pendapatan, daya beli masyarakat, serta kesadaran akan

perlunya pangan yang bergizi, menyebabkan permintaan terhadap produk

peternakan juga semakin meningkat, sehingga ini merupakan potensi bagi

pengembangan usaha peternakan di masa yang akan datang.

Itik di Indonesia merupakan salah satu komoditas peternakan yang

mempunyai nilai ekonomis dan potensi yang cukup menjanjikan untuk

dikembangkan, baik untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani maupun sebagai

sumber pendapatan dalam menunjang kebutuhan keluarga. Perkembangan

peternakan Itik di Indonesia, dapat dilihat dari jumlah populasi ternak Itik yang

semakin meningkat dari tahun-ke tahun, seperti yang tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Populasi Unggas Indonesia Tahun 2004-2009

Tahun (ribuan ekor) Jenis Unggas

2004 2005 2006 2007 2008 2009

Ayam Buras 276.989 278.954 291.085 272251 243.423 261.398

Ayam Ras Petelur 93.416 84.790 100.202 111.489 107.955 110.106

Ayam Ras Pedaging 778.970 811.189 797.527 891.659 902.052 930.318

Itik 32.573 32.405 32.481 35.867 39.840 42.090

Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2009

Data pada Tabel 1 tersebut menunjukkan ada kenaikan populasi Itik dari

tahun-ke tahun, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2005. Penyebabnya antara

lain karena terjadi inflasi pada tahun 2004 sebesar 6,4 persen dan terus meningkat

mencapai angka 17,1 persen pada tahun 2005 yang disebabkan adanya kenaikan

harga bahan bakar minyak dan beras. Kejadian tersebut menyebabkan kerugian

(18)

serap pasar terhadap produk hasil ternak tersebut tidak optimal, sedangkan biaya

produksi yang dikeluarkan peternak cenderung menaik karena terjadinya kenaikan

harga bahan bakar minyak. Kenaikan tersebut secara langsung menyebabkan

terjadinya peningkatan harga komoditi pakan.

Bahan makanan berupa telur Itik mempunyai beberapa kelebihan, telur

mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh, rasanya enak, mudah dicerna,

menimbulkan rasa segar dan kuat dan tubuh, serta dapat menjadi berbagai macam

produk makanan. Telur itik, protein lebih banyak terdapat pada bagian kuning

telur sebanyak 17 persen sedangkan pada putihnya 11 persen. Protein telur Itik

terdiri dari ovalbumin (putih telur) dan ovavitelin (kuning telur). Protein telur Itik

mengandung semua asam amina esensial yang dibutuhkan tubuh untuk hidup

sehat. Suatu penelitian dengan percobaan diketahui bahwa telur Itik mempunyai

kandungan nilai keguaan protein(Net Protein Utilization) 100 persen, bandingkan

dengan daging ayam (80%) dan susu (75%). Fungsi trigliserida dan fosfolipida

bagi tubuh adalah sebagai sumber energi, satu gram lemak menghasilkan 9

kilokalori energi. Lemak dalam telur Itik berbentuk emulsi (bergabung dengan

air), sehingga menjadi lebih mudah dicerna, baik oleh bayi, anak-anak, maupun

golongan lanjut usia.

Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan besar

bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Dari sebutir telur didapatkan gizi

yang cukup sempurna karena mengandung zat-zat gizi yang lengkap dan mudah

dicerna. Telur merupakan bahan pangan yang sangat baik untuk anak-anak yang

sedang tumbuh dan memerlukan proten dalam jumlah banyak. Telur juga sangat

baik dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil dan menyusui. Bahkan telur juga

dianjurkan diberikan kepada orang yang sedang sakit untuk mempercepat proses

kesembuhannya.

Menurut data statistika Direktorat Jendral Peternakan, konsumsi telur Itik

pada periode tahun 2007-2009 mengalami peningkatan, akan tetapi peningkatan

konsumsi tersebut tidak diimbangi oleh produksi dalam negeri. Hal ini dapat

(19)

Tabel 2. Neraca Telur Itik Nasional Tahun 2007-2009 (dalam ribu ton)

Tahun Produksi Konsumsi

2007 167,6 194,6

2008 182,1 186,9

2009 193,8 197,1

Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2009 (Diolah)

Data dari Tabel 2 menunjukkan bahwa Indonesia belum dapat memenuhi

permintaan akan telur Itik di dalam negeri, dan populasi ternak Itik yang ada

sekarang ternyata tidak mampu untuk memenuhi tingkat konsumsi telur Itik

secara nasional. Adanya permintaan pasar telur Itik yang semakin meningkat,

tentunya akan memberikan dampak yang baik yaitu terbukanya peluang pasar

yang besar.

Kebutuhan telur Itik di Indonesia saat ini dipenuhi dari dua sumber yaitu

peternakan Itik dalam negeri dan impor dari luar negeri. Adanya impor telur Itik

ini dikarenakan agar tidak adanya perbedaan yang terlalu jauh antara tingkat

produksi dan konsumsi di dalam negeri. Keterangan jumlah impor telur Itik pada

periode tahun 2007-2009 disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 tersebut menjelaskan

tentang perkembangan jumlah impor telur Itik selama tiga tahun terakhir. Dari

data tersebut dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2008 terjadi penurunan impor

telur Itik, ini dikarenakan adanya wabah virus flu Babi yang mengancam Negara

pengekspor telur Itik di dunia seperti Cina dan Vietnam, kemudian terjadi

kenaikan kembali impor telur Itik pada tahun 2009.

Tabel 3. Jumlah Impor Telur Itik Tahun 2007-2009 (dalam ribu ton)

Tahun Jumlah Impor (000 Ton)

2007 25,20

2008 2,15

2009 2,34

Sumber : Direktorat Jendral Peternakan, 2009 (Diolah)

Meskipun terdapat telur Itik impor ternyata tidak menyebabkan harga telur

Itik didalam negeri menurun, ini disebabkan karena jumlah telur Itik impor

ternyata kurang dari 1,5 persen dari jumlah total telur itik yang ada. Seperti yang

bisa dilihat pada Tabel 3, Tabel tersebut menunjukan adanya peningkatan harga

(20)

tahun 2006-2009, meskipun sempat terjadi penurunan pada tahun 2007 akibat dari

efek belum pulihnya kepercayaan masyarakat pada isu flu burung dan keamanan

pangan asal unggas.

Tabel 4. Harga Telur Itik Di Tingkat Peternak Kabupaten Cirebon Tahun 2006-2009 (dalam Rupiah per Butir)

Tahun (Rupiah/Butir)

No Bulan

2006 2007 2008 2009

1 Januari 675 620 841 1.119

2 Februari 741 643 848 1.025

3 Maret 732 647 1.043 1.125

4 April 747 655 841 950

5 Mei 768 655 965 1.119

6 Juni 777 655 965 1.025

7 Juli 733 655 965 1.025

8 Agustus 733 655 965 1.025

9 September 733 655 655 1.025

10 Oktober 750 655 655 1.125

11 November 750 655 1.083 1.119

12 Desember 745 661 900 1.025

Harga Telur Rata-Rata 740,33 650,92 893,83 1.058,92

Sumber : BPS Kabupaten Cirebon, 2009 (Diolah)

Pola pengusahaan ternak Itik di Indonesia sampai saat ini masih

didominasi oleh peternakan rakyat skala kecil. Walaupun demikian peran

ekonomi usaha ternak Itik bagi peternak sangat penting sehingga perlu untuk terus

ditingkatkan. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu upaya yang dapat

mendorong peningkatan produktivitas usaha, sehingga peternak bisa mencapai

tingkat usaha yang ekonomis. Apabila kondisi tersebut dapat tercapai maka usaha

ternak Itik akan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap tingkat

pendapatan keluarga peternak dan sumber pendapatan daerah melalui retribusi

usaha.

Wilayah Kabupaten Cirebon yang terletak di ujung Timur Provinsi Jawa

Barat di era otonomi daerah kini terus berbenah diri, dengan luas wilayah

mencapai 989,7 km2, garis pantai sepanjang 54 Km. Secara adminisratif,

Kabupaten Cirebon mempunyai 31 kecamatan yang terdiri dari 412 desa serta 12

kelurahan, masyarakatnya sebagian besar tidak lagi mengandalkan hasil pertanian

dan home industri, tapi sudah bergerak pada tataran pengolahan industri

manufaktur, agribisnis, di samping home industri lainnya yang masih bertahan.

(21)

jiwa ini bertindak sebagai daerah penyangga bagi daerah di sekitarnya terutama

bagi Kota Cirebon yang merupakan satu-satunya outlet Jawa Barat yakni sebagai

pintu gerbang ekspor impor barang dan jasa. Karena letak geografisnya yang

berada di Pantai Utara Laut Jawa (Pantura) serta aspek kehidupan dan dinamika

sosiokulturnya itu, Kabupaten Cirebon mempunyai komoditas unggulan lain di

sektor agribisnis peternakan unggas, yakni ternak Itik. Tabel 5 menggambarkan

dengan jelas bahwa peternakan Itik diwilayah Kabupaten Cirebon semakin

meningkat dari tahun ke tahun.

Tabel 5. Produksi Telur Kabupaten Cirebon Dirinci Menurut Jenis Unggas 2003 s.d 2007

Tahun Jenis

Produksi Satuan 2003 2004 2005 2006 2007

Ayam

Ras 000 kg 510,97 327,05 179,28 178,33 246,34

Ayam

Kampung 000 kg 1.058,44 1.284,86 1.053,72 1.279,08 1.138,82

Itik 000 kg 1.037,59 2.281,60 2.167,55 2.167,55 2.578,98

Sumber : BPS Kabupaten Cirebon, 2009

Bahkan jika dilihat dari nilai produksi telur sudah mampu mengalahkan

Ayam Kampung yang pada tahun 2003 ke bawah sempat menjadi produk

unggulan, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Nilai Produksi Telur Kabupaten Cirebon Dirinci Menurut Jenis Unggas 2003 s.d 2007

Tahun Jenis

Produksi Satuan 2003 2004 2005 2006 2007

Ayam Ras 000

Rupiah 3.321.318 2.223.940 1.568.700 1.426.640 2.709.687

Ayam Kampung

000

Rupiah 6.879.873 25.697.200 23.698.800 31.977.000 28.470.560

Itik 000

Rupiah 6.744.309 27.379.200 32.377.650 30.887.588 36.750.403

Sumber : BPS Kabupaten Cirebon, 2009

Populasi Itik tahun 2008 di Kabupaten Cirebon mencapai 339.500 ekor

dengan produksi telur sebanyak 3.329 ton per tahun, produksi DOD (anak Itik)

mencapai 2.808.058 ekor per tahun, digarap oleh sekitar 2.708 Rumah Tangga

Peternak (RTP). Hingga kini ada sekitar 60 kelompok peternak itik, dan tiap

kelompok beranggotakan 30 peternak Lahan yang digunakan berupa lahan sawah

(22)

Kabupaten Cirebon, bisa memenuhi kebutuhan wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah

dan DKI Jakarta, sementara DOD (anak Itik) dan bibit siap bertelur selain dikirim

ke wilayah tadi juga dikirim ke Jawa Timur, Sumatera, Papua dan Kalimantan.

Meski demikian, ternyata produksi yang dihasilkan RTP di Kabupaten Cirebon

masih jauh dari kebutuhan untuk wilayah pengiriman yang mencapai 44.000 ton

telur dan 4.243.404 ekor DOD setiap tahunnya. Sentra produksi Itik di Kabupaten

Cirebon ini terletak di wilayah sepanjang jalur Pantura yang meliputi wilayah

Kecamatan Kapetakan, Panguragan, Babakan, Losari dan Gunung Jati.

Pengembangan usaha agribisnis peternakan Itik di Kabupaten Cirebon

bukan tanpa masalah. Permasalahan umum yang sering dihadapi peternak Itik

adalah biaya pakan yang semakin mahal. Biaya pakan memiliki komposisi lebih

dari 70 persen dari total biaya pemeliharaan. Untuk mengatasi masalah tersebut

adalah perlu adanya pemanfaatan bahan-bahan pakan alternatif yang layak secara

teknis maupun menguntungkan secara ekonomis, juga ketersediannya bisa terjaga

sepanjang tahun, sehingga pencapaian tingkat usaha yang ekonomis bisa tercapai,

dan peternak akan bisa lebih sejahtera.

Keong Mas dalam pandangan petani adalah hama yang rakus dan

keberadaannya tidak berguna serta hanya menimbulkan bencana. Petani hanya

memikirkan bagaimana mencari cara untuk membasmi Keong Mas agar tidak

mengganggu lahan garapannya, tanpa memikirkan ada atau tidaknya manfaat

yang terkandung didalam tubuh keong mas tersebut. Padahal menurut hasil

penelitian Crop Protection Division, Philippine Rice Research Institute dalam

Sulistiono 2007, menerangkan bahwa setiap 100 gram daging Keong Mas

mengandung: Energi 83 kalori, Protein 12.2 gram, Lemak 0.4 gram, Karbohidrat

6.6 gram, Abu 3.2 gram, Fosfor 61 mg, Natrium 40 mg, Kalium 17 mg,

Riboflavin 12 mg, Niacin 1.8 mg, dan kandungan makanan yang lain: Vitamin C,

Zn, Cu, Mn dan Iodium. Hal ini juga di perkuat dengan hasil penelitian Tim

Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan IPB pada tahun 1999

yang menyatakan kandungan Zat Makanan Tepung Keong Mas adalah seperti

(23)

Tabel 7. Kandungan Zat Makanan Tepung Keong Mas.

Zat Makanan Komposisi

Bahan Kering (%) 92,49

Abu (% BK) 9,03

Protein (% BK) 30,68

Lemak (% BK) 3,20

Serat Kasar (% BK) 2,45

BETN (% BK) 24,20

Ca (% BK) 7,50

P (% BK) 0,97

Sumber : Tim Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, IPB (1999)

Beberapa hasil penelitian yang menunjukan bahwa Keong Mas sangat

bermanfaat dalam pembuatan pakan ternak diantaranya sebagai berikut: Menurut

Sulistiono (2007) Di Sumatra Selatan, pemberian ramuan keong mas 10 persen

memberikan pertumbuhan yang baik bagi Itik pada periode layer (bertelur). Di

Pasaman, penggunaan keong mas untuk pakan itik mampu menaikkan hasil

telurnya mencapai 80 persen.

Tepung tubuh dan cangkang keong mas memberikan nilai pertumbuhan

yang cukup baik bagi peternakan ayam. Hal yang cukup mengejutkan bahwa

penggunaan tepung yang berasal dari cangkang keong mas juga memberikan nilai

pertumbuhan yang bagus. Selain dalam bentuk tepung, silase daging keong mas

juga telah terbukti menjadi sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras

Pakan yang berbasis protein keong mas pernah diujicobakan pada peternakan

burung puyuh (Coturnix coturnix) dan memberikan pertumbuhan yang baik.

(BP2TP Sumatra Utara dalam Sulistiono 2007).

Tepung keong mas sejak tahun 1999 telah diujicobakan. Pada penggantian

kandungan tepung ikan menjadi tepung Keong Mas sebanyak 25-75 persen

memberikan pengaruh yang cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian

individu, efisiensi pakan, retensi protein dan retensi lemak (Sholikhati dalam

Sulistiono 2007).

Pemeliharaan ikan patin (Pangasius sp.) di Bengkalis, dengan pakan

keong mas memberikan hasil yang cukup baik bagi pertumbuhan ikan tersebut.

(24)

50% telung keong mas memberikan pertumbuhan yang cukup baik, dengan nilai

konversi pakan yang rendah (Abdullah, 2000 dalam Sulistiono 2007)

Dilihat dari sisi budidaya Keong Mas sangat layak untuk di budidayakan,

menurut Sudarto (1991) perkawinan Keong Mas dilakukan sepanjang musim, dan

seekor Keong Mas dewasa mampu memproduksi 1000–1200 butir telur setiap

bulannya. Daya tetas rata-rata telur induk Keong Mas adalah 76,27 persen dengan

masa inkubasi 11-13 hari (Prihandini, 1995). Keong mas mempunyai siklus hidup

yang singkat dari fase telur sampai dewasa yaitu hanya membutuhkan waktu 60

hari. Setelah 60 hari Keong mas siap untuk bertelur sepanjang musim sampai

dengan umur Tiga tahun (Susanto, 1995). Menurut Tarupayet al. (1991), Keong

Mas bersifat pemakan segala (omnivora), secara spesifik keong ini memakan

lumut, semua tanaman air, umbi-umbian, daun-daunan, sayur-sayuran, sampah

dapur organik, sisa tanaman yang telah mati, dan lain sebagainya.

Berdasarkan data-data hasil pengujian kandungan nutrisi dan beberapa

hasil penelitian tersebut, maka Keong Mas secara teknis dapat dibudidayakan dan

dapat dikatakan layak serta berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber protein

pakan ternak alternatif pengganti konsentrat buatan pabrik, khususnya untuk Itik.

Adanya regulasi kebijakan kenaikan bea masuk impor untuk produk bahan

baku pakan berimplikasi pada kenaikan pakan ternak hasil produksi. Keadaan

inilah yang menyebabkan kerugian bagi peternak yang menggantungkan

pakannya pada pakan produksi pabrik.

1.2 Perumusan Masalah

Indonesia pada saat ini masih mengalami kekurangan pasokan telur Itik

karena hasil produksi telur itik di dalam negeri ternyata tidak bisa mengimbangi

kebutuhan konsumsi telur secara nasional, dan di lain pihak kebutuhan masyarakat

akan telur tersebut cenderung semakin meningkat. Adanya kebijakan impor telur

Itik dari luar negeri semata-mata adalah keterpaksaan karena untuk menstabilkan

ketahanan pangan nasional.

Dalam menuju era industrialisasi peternakan, maka setiap usaha dituntut

untuk dapat bersaing secara ketat dengan meningkatkan efisiensi. Untuk usaha

(25)

produktivitas, sehingga usaha yang dijalankan akan mampu memberikan hasil

yang maksimal.

Salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas telur Itik dengan tetap

menjaga efisiensi biaya usaha diantaranya adalah adanya upaya penggunaan

bahan-bahan pakan inkonvensional yang bermutu, berkualitas, murah dan

ketersediaannya dapat terjaga. Biaya pakan dalam usaha peternakan unggas

memiliki komposisi terbesar dari total biaya pemeliharaan. Hal inilah yang

menjadikan pakan merupakan kunci utama maju atau mundurnya suatu

peternakan unggas khususnya Itik di masa yang akan datang.

Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) “Bebek Jaya” Desa Babadan, adalah

salah satu Kelompok Tani Ternak Itik yang ada di Kabupaten Cirebon. Saat ini

KTTI “Bebak Jaya” memiliki anggota sebanyak 38 orang peternak Itik. Hal utama

yang melatar belakangi KTTI “Bebek Jaya” merencanakan pendirian usaha

peternakan Itik petelur dengan mengkombinasikan peternakan Itik pola semi

intensif dan kolam budidaya Keong Mas dalam satu area adalah: adanya

permintaan akan telur Itik yang semakin meningkat dan potensi pengembangan

peternakan yang masih terbuka lebar, sementara harga pakan ternak sebagai

penyokong utama budidaya terus melonjak naik, seperti yang dapat kita lihat pada

Tabel 8. Tabel tersebut menggambarkan bahwa setiap tahun pakan konsentrat

produksi PT. CPI Tipe 511 harganya semakin meningkat, kenaikannya berada

pada kisaran 10 persen setiap tahun. Kenaikan harga pakan konsentrat ini adalah

sebagai imbas dari kenaikan harga impor bahan baku pakan ternak.

Tabel 8. Harga Pakan Konsentrat Tipe 511 Produksi PT. CPI Tahun 2004 s.d 2009

Tahun Harga Pakan (Rupiah/Kilogram)

2004 2.800

2005 3.080

2006 3.388

2007 3.727

2008 4.099

2009 4.509

2010*) 4.960

Sumber : Laporan Tahunan(Annual Report) PT. CPI (2004 s/d 2009).

(26)

Permasalahan pakan ini juga yang menyebabkan jumlah anggota KTTI

“Bebek Jaya” pasang surut diantaranya ada yang tidak bisa bertahan. Adanya

penggunaan bahan pakan alternatif berupa Keong Mas ini diharapkan bisa

menjadi solusi yang baik dalam menghadapi masalah pakan yang di hadapi

anggota KTTI “Bebek Jaya” pada khususnya dan seluruh peternak Itik pada

umumnya.

Mengingat cukup besarnya biaya investasi yang akan dikeluarkan dalam

pendirian usaha ini maka diperlukan suatu analisis kelayakan usaha. Diharapkan

hasil dari penelitian ini akan dapat menjawab keraguan-keraguan yang mungkin

timbul pada diri peternak dalam upaya memanfaatkan Keong Mas sebagai sumber

pakan alternatif usaha peternakannya. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab

berbagai permasalahan sebagai berikut, yaitu:

1. Bagaimana kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan

Keong Mas sebagai sumber pakan alternatif di KTTI “Bebek Jaya” Desa

Babadan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dilihat dari aspek

pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi dan aspek

finansial?

2. Bagaimana sensitivitas kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan

pemanfaatan Keong Mas di KTTI “Bebek Jaya” tersebut jika terjadi adanya

peningkatan harga pakan yaitu pakan kecepu serta penurunan harga telur Itik.

1.3 Tujuan

Berdasarkan pada perumusan masalah tersebut, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

1. Menganalisis kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan

Keong Mas sebagai sumber pakan alternatif di KTTI “Bebek Jaya” Desa

Babadan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dilihat dari aspek

pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi dan aspek

finansial.

2. Menganalisis sensitivitas kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan

pemanfaatan Keong Mas di KTTI “Bebek Jaya” tersebut, jika terjadi adanya

(27)

1.4 Manfaat

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi masukan dan

memberikan Informasi bagi berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan

tertarik dalam pemanfatan Keong Mas sebagai pakan alternatif, khususnya para

peternak anggota KTTI “Bebek Jaya” Desa Babadan, Kecamatan Gunung Jati,

Kabupaten Cirebon, dan bagi pemerintah daerah Kabupaten Cirebon agar ikut

berperan aktif dalam memajukan peternakan rakyat melalui bantuan dan

kebijakannya, agar kesejahteraan peternak kecil bisa terangkat. Secara rinci hasil

penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:

1. Peternak, sebagai sumber informasi dan bahan masukan untuk perbaikan

peternakannya di masa yang akan datang, juga hasil penelitian ini bisa

dijadikan suatu alat referensi ketika akan melakukan langkah pengembangan

usaha peternakannnya jika diperlukan.

2. Pemerintah daerah, Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi bahan

pertimbangan dalam perumusan kebijakan yang berhubungan dengan usaha

peternakan itik petelur di daerah setempat.

3. Pembaca, diharapkan dapat menjadi sumber literatur dan perbandingan dalam

penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.

4. Penulis, penelitian ini dijadikan sebagai pengalaman dan wadah pelatihan

dalam mengaplikasikan teori ilmu yang diperoleh terhadap kondisi yang riil

dilapangan, sebagai bekal terjun di dalam masyarakat nanti.

1.5 Ruang Lingkup

1. Cakupan Objek, Penelitian yang akan dilaksanakan mencakup objek seputar

analisis kelayakan usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan Keong

Mas sebagai sumber bahan pakan alternatif di KTTI “Bebek Jaya”.

2. Cakupan Wilayah, Penelitian ini akan dilaksanakan di KTTI “Bebek Jaya”

Desa Babadan, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Alasan

pemilihan tempat penelitian adalah, KTTI “Bebek Jaya” sedang merencanakan

pendirian usaha peternakan Itik petelur dengan pemanfaatan bahan pakan

alternatif. KTTI “Bebek Jaya” juga dianggap bisa mewakili KTTI di

Kabupaten Cirebon secara keseluruhan, bahkan untuk daerah-daerah sentra

(28)

3. Cakupan Kedalaman Materi. Penelitian ini akan mengkaji secara mendalam

bagaimana potensi Itik yang menggunakan pakan Keong Mas dari sisi

ekonomis melalui jalur ilmu studi kelayakan usaha, dilihat dari aspek pasar,

aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek finansial, penelitian ini juga akan

membahas bagaimana analisis kelayakan investasi usahanya. Kriteria investasi

yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah: Net Present Value (NPV), Net

Benefit-Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), Payback period

(29)

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Usaha Ternak Itik

Saragih (1998) berpendapat bahwa dilihat dari pengusahaan, kegiatan

ekonomi berbasis peternakan diselenggarakan oleh dua golongan kepenguasaan,

yaitu: (1) peternakan rakyat, (2) perusahaan peternakan. Kemudian dari tingkat

komersialisasinya usaha peternakan dapat juga dikelompokan menjadi empat pola

usaha, yaitu: (1) usaha sampingan, (2) cabang usaha, (3) usaha pokok, (4) industri

peternakan.

Menurut Samosir (1983), dengan kebutuhan modal yang relatif kecil,

adanya pendapatan setiap hari, serta tidak adanya hambatan sosiobudaya dalam

pemeliharaannya, merupakan beberapa hal yang menguntungkan ternak Itik

dibandingkan ternak besar. Beberapa hal yang merupakan kekuatan atau

keunggulan dalam beternak itik adalah sebagai berikut : 1) Itik mampu bertelur

200-240 butir telur per ekor per tahun, dengan asumsi harga jual Rp. 800 per butir,

telur Itik sangat potensial sebagai sumber pendapatan keluarga peternak, 2)

Kandungan protein telur Itik 13,3 % dan dagingnya sebesar 21,4 % lebih tinggi

dari daging ayam, sapi dan domba, 3) Ternak Itik merupakan unggas lokal yang

telah beradaptasi dengan kondisi iklim pedesaan dan tahan terhadap serangan

penyakit.

Dalam kaitannya sebagai usaha ternak, berdasarkan hasil penelitian

Purwanti (1999), tentang peternakan Itik rakyat di Karawang, tenaga kerja yang

terlibat dalam pemeliharaan ternak Itik lebih banyak menggunakan tenaga kerja

keluarga (96,97 %), dan non keluarga (3,03 %), namun demikian efisiensi

produksi usaha ternak Itik masih relatif rendah dikarenakan kepemilikan yang

relatif kecil dan kualitas bibit yang belum baik (Prasetyo dan Susanti, 1997).

Dirjen Bina Produksi Peternakan menulis hasil penelitian dalam buku

statistik peternakan tentang konsumsi telur di beberapa provinsi di Indonesia pada

tahun 2004, pembahasannya adalah: konsumsi telur di beberapa provinsi

menunjukan jumlah yang besar, Sumatra Utara 120.000 ton, DKI Jakarta 123.740

ton, Jawa Barat 114.937 ton, Jawa Tengah 108.639 ton, Jawa Timur 190.669 ton,

dan Sulawesi Selatan sebesar 50.000 ton. Konsumsi masyarakat pada ke Enam

(30)

Indonesia. Kondisi seperti ini merupakan peluang pemasaran Itik yang

menjanjikan.

2.2 Praktek Budidaya dan Produktivitas Ternak Itik

2.2.1 Perkandangan

Menurut Rasyaf (1986), kandang merupakan tempat kediaman ternak, dan

dari kandang tersebut ternak memperoleh manfaat. Untuk mengetahui sistem

kediaman tersebut memberikan manfaat yang optimal dan menguntungkan,

hendaknya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) harus memberikan

kenyamanan bagi ternak Itik, (2) memberikan kesehatan pada Itik yang ada di

dalamnya, (3) harus memberikan hasil bagi peternak, (4) tidak mengganggu

peternak, (5) memenuhi syarat ekonomis. Selanjutnya Rasyaf (1986),

menambahkan bahwa pemilihan tempat peternakan menjadi hal yang utama dalam

usaha. Tempat yang dipilih hendaknya memiliki persyaratan sebagi berikut: (1)

dekat dengan sumber air, (2) dekat dengan daerah pemasaran, (3)dekat dengan

sumber bahan baku, (4) tidak mengganggu lingkungan sekitar, (5) tidak

mengganggu peternak. Samosir (1983) menjelaskan bahwa pada peternakan Itik,

kandang yang umum digunakan adalah tipe sheed. Lantai kandang yang terbaik

adalah yang terbuat dari semen atau papan, karena untuk mempermudah

membersihkannya.

Menurut Suharno dan Amri (2002), luas kandang hendaknya disesuaikan

dengan jumlah dan umur Itik yang dipelihara. Untuk Itik dewasa (> 6 bulan), Itik

dara (2-6 bulan), anak Itik (1 hari-2 bulan), kapasitas kandang Itik masing-masing

4-5 ekor per meter persegi, 5-10 ekor per meter persegi, dan 8-10 meter persegi

untuk 100 ekor anak Itik.

2.2.2 Pakan

Makanan Itik yang dipelihara secara ekstensif tidaklah diperhatikan secara

benar, sebab Itik dilepas saja untuk mencari makanan sendiri. Itik mendapat

makanan dari sisa panenan yang didapatnya di sawah, dan protein hewani

diperoleh dari remis, cacing, dan belalang (Harahapet.al 1978).

Rasyaf (1986) menjelaskan, bahwa bahan-bahan makanan yang bisa

(31)

bungkil-bungkilan, ubi kayu, daun lamtoro, daun petai cina, kulit kerang, garam dapur,

minyak atau lemak, dan tepung darah. Batas maksimum pemakaian bahan

makanan tersebut dipengaruhi oleh kualitas bahan dan harga bahan makanan

tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, hasil penelitian Harahapet.al (1978) pada

peternak Itik di Sumatera Barat, jumlah induk yang dipelihara mempengaruhi

biaya makanan, makin banyak Itik yang dipelihara, peternak akan lebih banyak

memperhatikan ternaknya terutama tentang pakannya.

Samosir (1983) menyatakan bahwa patokan-patokan kebutuhan protein,

lemak, energi metabolis, asam-asam amino vitamin, atau mineral untuk Itik

petelur Indonesia, masih jauh dari jangkauan. Baik kebutuhan untuk anak Itik, Itik

remaja, Itik petelur dewasa maupun untuk ternak Itik pembibitan. Untuk Itik-Itik

yang dipelihara secara intensif, kebutuhan akan nutrisi tersebut sepenuhnya harus

dapat disediakan. Khusus untuk Itik petelur kebutuhan akan kalsium dan fosfor

cenderung lebih banyak. Bagi Itik petelur kalsium dan fosfor dimanfaatkan untuk

membuat kulit telur dan membantu kelancaran fisiologis. Untuk sebutir telur, Itik

memerlukan 2,6 gram kalsium yang tercerna. Secara umum pakan Itik harus

mengandung 16-18 persen protein, 2800 Kkal/gram energi metabolis, delapan

persen serat kasar, 3,5-4 persen kalsium, dan 0,3-0,9 persen fosfor (Kardjono,

1998).

Suharno dan Amri (2002) menyarankan untuk pakan yang dibeli dari

pabrik (ransum komersial) hanya digunakan pada saat pemeliharaan Itik periode

awal, sementara untuk Itik dara mulai dari umur tujuh minggu dan seterusnya

menggunakan makanan yang diramu sendiri dengan bahan-bahan yang diperoleh

disekitar lokasi usaha. Kebutuhan nutrisi bagi Itik sepenuhnya harus dapat

disediakan. Khusus bagi induk Itik petelur, kebutuhan akan kalsium dan fosfor

cenderung lebih banyak karena akan dimanfaatkan untuk pembentukan cangkang

telur dan membantu kelancaran proses pengeluaran telur.

2.2.3 Bibit

Penyediaan bibit bagi para peternak Itik di Indonesia diperoleh melalui

perkawinan ternak Itik penghasil bibit (breeder) antar kelompok ternaknya

sendiri. Perbandingan pejantan dan kelompok betina yang dianjurkan adalah satu

(32)

Menurut Suharno dan Amri (1995), perusahaan pembibitan ternak Itik

belum secanggih ayam ras. Bahkan biasanya peternak sendiri yang melakukan

pembibitan. Lebih lanjut dikatakan bahwa beberapa cara memperoleh bibit yang

lebih baik adalah: (1) membeli telur tetas, (2) memelihara ternak itik, (3) membeli

DOD.

2.2.4 Karakteristik Itik Tegal

Berbagai jenis Itik lokal telah dikenal di Indonesia, dengan penyebaran

yang cukup luas diberbagai propinsi. Itik asli indonesia yang terkenal diantaranya

Itik Tegal. Dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, Itik Tegal atauIndian Runer

mempunyai kapasitas produksi telur yang cukup tinggi, yaitu sebesar 140-250

butir per tahun. Bobot badan dewasa itik ini pada jantan mencapai 2,043 kilogram,

sedangkan pada betina mencapai 1,816 kilogram (Samosir, 1983). Dengan

melakukan seleksi induk yang produktif, sistem pemeliharaan yang modern dan

terawat kesehatannya maka produksi telur masih dapat ditingkatkan. Hal ini

dimungkinkan karena variasi produksi Itik Tegal masih cukup besar (Balai Pusat

Penelitian Pertanian, 1992).

Berkaitan dengan hal tersebut, berdasarkan hasil penelitian Hartono

(1998), tentang pengaruh galur dan tingkat kandungan protein ransum terhadap

produksi dan kualitas telur Itik lokal, bahwa dengan peningkatan protein ransum

pada Itik Tegal dapat mempercepat pencapaian masa dewasa kelamin, sehingga

dapat meningkatkan produksi telur. Itik Tegal mulai bertelur pada umur 22-24

minggu, mempunyai daya tahan tinggi dan dapat berjalan jauh (Suharno dan

Amri, 1995).

2.3 Aspek Ekonomi Usaha Ternak Itik

Daerah-daerah tertentu seperti di Provinsi D.I Aceh, Jawa Barat, Jawa

Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan, potensi Itik di

daerah tersebut sebagai penghasil bibit yang dapat dimanfaatkan untuk

pengembangan Itik di daerah lain (Balai Pusat Penelitian Pertanian, 1992).

Samosir (1983), mengatakan bahwa secara garis besar peran ternak Itik

bagi masyarakat adalah sebagai berikut: (1) sumber pendapatan petani-peternak,

(2) menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di kota-kota, (3) lapangan

(33)

Berdasarkan hasil penelitian Purwanti (1999), tentang peternakan Itik di

Karawang, bahwa dari sisi penyerapan tenaga kerja peternakan Itik merupakan

kegiatan basis yang diharapkan mampu mendorong kegiatan lain dalam rangka

mengatasi pengangguran dan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak.

2.4 Biaya Usaha

Menurut Adiwilaga (1974), pembiayaan usaha dapat dilakukan dengan

modal sendiri atau dengan modal pinjaman. Cahyono (1994) berpendapat bahwa

biaya dalam usahatani harus diperhitungkan sesuai dengan iklim usaha yang

sedang berlangsung. Selanjutnya Cahyono (1994) menambahkan, bahwa biaya

yang harus diperhitungkan dalam usahatani, meliputi biaya tetap dan biaya tidak

tetap. Biaya tetap merupakan biaya yang besar kecilnya tidak tergantung produksi,

yang terdiri: biaya sewa tanah, biaya peralatan, bunga pinjaman berupa uang, dan

penyusutan atas barang-barang inventaris, sedang biaya tidak tetap adalah biaya

yang diperlukan pada saat proses produksi berlangsung, yang terdiri dari: biaya

pakan, biaya obat-obatan, biaya tenaga kerja, selain penggolongan diatas,

Mubyarto (1989) mengatakan bahwa biaya produksi dapat pula dibagi dalam

biaya-biaya yang berupa uang tunai dan biaya in natura. Di dalam proses produksi

usahatani, pembiayaan diperlukan untuk merealisasi rencana kegiatan usahatani

(Cahyono, 1994). Suharno dan Amri (1995) mengatakan bahwa untuk usaha

ternak Itik, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal perencanaan

usaha yaitu: tujuan budidaya, skala usaha, bibit.

2.5 Modal Usaha

Menurut Adiwilaga (1974), modal adalah seluruh kekayaan yang

dipergunakan di dalam usaha. Soekartawi (1993) mengatakan bahwa modal

usahatani dapat diklasifikasikan sebagai bentuk kekayaan baik berupa uang

maupun barang untuk menghasilkan sesuatu secara langsung maupun tidak

langsung dalam suatu proses produksi.

Mubyarto (1989) berpendapat bahwa jika dilihat dari sumbernya, modal

dapat dibagi dua yaitu modal sendiri(equity capital) dan modal pinjaman(credit).

Berkaitan dengan hal tersebut, Adiwilaga (1974) mengatakan bahwa pada garis

(34)

tanah, bangunan, alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan (2) modal tidak tetap,

seperti: bahan baku, hasil usaha dalam simpanan, dan dana-dana usaha.

2.6 Pemasaran Hasil Produksi

Itik pada setiap tahap umur mempunyai segmen pasar khusus dengan nilai

jual yang cukup tinggi. Telur Itik sendiri dipasarkan dalam tiga bentuk yaitu telur

segar, telur olahan, dan telur untuk penetasan. Salah satu bentuk telur olahan

adalah telur asin. Jika tujuan beternak adalah untuk menghasilkan telur konsumsi

maka sistem beternak tanpa air dan pejantan merupakan salah satu pilihan yang

tepat (Suharno dan Amri, 2002). Menurut Suharno dan Amri (2002) telur Itik

sebagai telur tetas akan mempunyai harga jual yang lebih tinggi dan stabil dari

pada telur segar. Telur ini ditetaskan untuk menghasilkan bibit. Telur Itik untuk

konsumsi juga mempunyai pasaran tersendiri.

2.7 Pendapatan Usaha Ternak Itik

Berdasarkan hasil penelitian Harahapet al. (1978), pada peternakan Itik di

Sumatra Barat, jumlah induk yang dipelihara mempengaruhi pendapatan peternak,

dengan manajemen yang lebih baik maka produksi ternak Itik akan meningkat,

yang akan membuat pendapatan peternak dari Itik yang dipeliharanya akan

meningkat.

Samosir (1983) berpendapat bahwa ternak Itik memegang peranan penting

dalam menunjang sumber pendapatan petani-peternak, baik pada skala usaha kecil

maupun skala usaha besar. Hal ini juga dinyatakan oleh Purwanti (1999),

berdasarkan hasil penelitiannya pada peternak Itik di Karawang, dari sisi

pendapatan sumbangan dari ternak Itik terhadap pendapatan keluarga sebesar

35,43 persen. Selain itu, usaha ternak Itik merupakan kegiatan basis yang

mempunyai peranan yang cukup penting dalam pembangunan pertanian, sehingga

dapat meningkatkan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu daerah

(Purwanti, 1999).

2.8 Penggunaan Keong Mas Untuk Pakan

Sulistiono (2007) menulis jurnal penelitian yang berjudul ”Keong Mas,

(35)

mempublikasikan manfaat dari Keong Mas yaitu sebagai sumber pakan dan

obat-obatan. Kutipan yang ada dalam jurnal tersebut diantaranya sebagai berikut:

Bagus dalam Sulistiono 2007 menyatakan bahwa pada pengembangan

ternak Itik, Keong Mas (setelah dicincang) merupakan makanan campuran

sebagai sumber protein yang murah. Selain mengandung banyak protein, Keong

Mas juga kaya akan kalsium. Keong mas dapat juga dijadikan tepung, setelah

direbus, dikeringkan dan digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan

dedak padi dan menir dengan perbandingan masing-masing 3,4 persen, 73,3

persen, dan 23,3 persen.

Kompiang dalam Sulistiono 2007 penggunaan Keong Mas sebagai

makanan Itik sebagai sumber protein hewani telah dilakukan sejak tahun 1985.

Akhir-akhir ini banyak wilayah padi dan wilayah ternak Itik seperti halnya di

daerah Banten, Jawa Tengah, Riau, dan beberapa daerah di Sulawesi dan

Kalimantan telah memanfaatkan keong mas ini sebagai sumber pakan Itik. Di

Sumatra Selatan, pemberian ramuan keong mas 10 persen memberikan

pertumbuhan yang baik bagi Itik pada periode layer (bertelur). Di Pasaman,

penggunaan keong mas untuk pakan Itik mampu menaikkan hasil telurnya

mencapai 80 persen (Sulistiono, 2007).

Widyatmoko (1996) menyatakan bahwa tepung tubuh dan cangkang

Keong Mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang cukup baik bagi peternakan

ayam. Hal yang cukup mengejutkan bahwa penggunaan tepung yang berasal dari

cangkang Keong Mas juga memberikan nilai pertumbuhan yang bagus. Selain

dalam bentuk tepung, silase daging Keong Mas juga telah terbukti menjadi

sumber pakan ternak bagi ruminansia dan ayam buras (BP2TP Sumatra Utara

dalam Sulistiono 2006).

2.9 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan

Kamid (2002), melakukan penelitian tentang analisis kelayakan usaha

ternak Itik petelur pada kelompok tani ternak Itik branjangan putih Kecamatan

Losari Kabupaten Cirebon. Dalam penelitiannya menggunakan alat analisis

investasi berupa NPV, BCR, IRR dan hasil yang didapat dari penelitian tersebut

adalah: pada tingkat suku bunga 12 persen pertahun, untuk pemeliharaan ternak

(36)

nilai BCR yang diperoleh adalah sebesar 1,38, nilai IRR yang didapat adalah 30

persen, dari hasil perhitungan tersebut bisa disimpulkan bahwa usaha tersebut

layak untuk dijalankan. bahan pakan yang digunakan berupa dedak/bekatul,

menir, nasi kering, dan ikan petek.

Syawal (2003) melakukan penelitian yang berjudul ”Analisis Kelayakan

Finansial Usaha Peternakan Itik Petelur di Desa Candirejo Kecamatan Ponggok

Kabupaten Blitar”, dalam penelitiannya mendapatkan biaya yang dikeluarkan oleh

peternak Itik berupa biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi

meliputi: biaya pakan, biaya tenaga kerja, dan biaya lahan per tahun. Adapun

penerimaan peternak berasal dari penjualan telur dan Itik afkir. Setelah dilakukan

perhitungan biaya dan penerimaan dalam satu tahun diperoleh pendapatan Rp.

3.796.450,00 pada skala usaha 257 ekor, Rp. 11.130.749,00 pada skala usaha 587

ekor dan Rp. 24.061.174,00 pada skala usaha 1.329 ekor. Penerimaan yang

dimaksud adalah nilai uang yang diperoleh peternak atas penjualan output yang

dihasilkan. Dalam penelitiannya Syawal menggunakan analisis investasi NPV,

B/C rasio, IRR dan nilai yang dihasilkan dalam perhitungan adalah NPV sebesar

18.528.430, B/C rasio sebesar 1,18 dan IRR sebesar 99,03 persen. Dalam

penelitian tersebut pakan menggunakan pakan konsentrat buatan pabrik dengan

merk dagang SDL dan 144.

Herwin (2005) melakukan penelitian tentang analisis kelayakan usaha

pembibitan Itik di Desa Kagokan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa

Tengah. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa pakan yang dipakai berupa

konsentrat dan bekatul dengan perbandingan 1:10, dari hasil perhitungan tentang

analisis investasi di dapatkan nilai sebagai berikut: NPV sebesar Rp. 1.380.367,

IRR sebesar 39 persen, Net B/C sebesar 1,59. dari hasil perhitungan tersebut bisa

disimpulkan bahwa usaha pembibitan Itik tersebut dikatakan layak untuk

dijalankan.

Herlina (2006) melakukan penelitian tentang kajian kelayakan usaha

pendederan dan penggelondongan Ikan Kerapu Macan di Balai Budidaya Laut

(BBL) Pulau Semak Daun, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi

DKI Jakarta. Dalam penelitiannya Herlina menganalisis aspek teknis, aspek

(37)

penelitian tersebut adalah NPV, IRR, Net B/C,PP dan analisis sensitivitas, dari

hasil kesimpulan yang didapat bahwa usaha pendederan dan penggelondongan

ikan Kerapu Macan tersebut layak untuk dijalankan.

Bukit (2007) melakukan penelitian tentang analisis kelayakan usaha ikan

patin di Kabupaten Bogor, kasus pembenihan di Kecamatan Ciampea dan

pembesaran di Kecamatan Kemang. Dalam penelitiannya Agripa Bukit

menganalisis aspek teknis, aspek institusional, aspek finansial, aspek sosial dan

aspek pasar. Kriteria investasi yang dibahas dalam penelitian tersebut adalah

NPV, IRR, Net B/C, PP dan analisis sensitivitas. Hasilnya adalah usaha ikan patin

(38)

Tabel 9. Penelitian Terdahulu yang Relevan Mengenai Kelayakan Usaha

No Nama Th Judul Penelitian Beda Penelitian Metode

(39)

III KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka pemikiran berisi teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan

yang ada dalam penelitian dan merupakan acuan untuk menjawab permasalahan

tersebut.

3.1 Analisis Proyek

Proyek pertanian merupakan suatu kegiatan investasi di bidang pertanian

yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang-barang kapital yang

dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat setelah beberapa waktu tertentu.

Pemilihan diantara berbagai alternatif beberapa sumberdaya perlu dilakukan

karena sumber-sumber tersebut sifatnya terbatas (Gittinger, 1986).

Tujuan diadakannya analisis proyek adalah untuk melihat apakah suatu

proyek yang dilaksanakan menghasilkan keuntungan atau tidak. Menurut

Gittinger (1986), analisis proyek bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan

yang dapat dicapai melalui investasi dalam suatu proyek, menghindari

pemborosan sumber-sumber yaitu dengan menghindari pelaksanaan proyek yang

tidak menguntungkan, mengadakan penilaian terhadap peluang investasi yang ada

sehingga dapat dipilih alternatif proyek yang paling menguntungkan dan

menentukan prioritas investasi. Adapun alasan dilakukan analisis terhadap suatu

proyek pada dasarnya adalah mencoba untuk menentukan atau menilai

biaya-biaya dan manfaat yang timbul dengan adanya proyek dan membandingkannya

dalam situasi tanpa proyek. Sehingga dari analisis proyek juga dapat diketahui

apakah proyek tersebut layak untuk dilaksanakan atau dipertahankan

kelangsungannya.

Dalam analisis proyek terdapat aspek-aspek yang saling berkaitan dan

bersama-sama menentukan bagaimana keuntungan yang akan diperoleh dari suatu

investasi tertentu. Gittinger (1986), mengatakan bahwa aspek-aspek ini harus

dipertimbangkan pada setiap tahap dalam perencanaan proyek dan siklus

pelaksanaan. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), beberapa aspek yang

mempengaruhi kelayakan suatu proyek tersebut antara lain: aspek pasar, aspek

teknis, aspek keuangan, aspek hukum, aspek finansial dan aspek ekonomi negara.

Menurut Gittinger (1986), aspek pasar adalah hal-hal yang berkenaan

(40)

teknis adalah hal-hal yang berhubungan dengan penyediaan input dan output

berupa barang-barang yang nyata dan jasa-jasa. Analisis secara teknis akan

menguji hubungan-hubungan teknis yang mungkin dalam suatu proyek yang

diusulkan, misalnya keadaan tanah, iklim, dan teknologi yang digunakan.

Selanjutnya Husnan dan Suwarsono (1999) berpendapat bahwa aspek manajemen

yaitu hal-hal yang berkenaan dengan mempertimbangkan mengenai sesuai atau

tidaknya proyek dengan susunan organisasi proyek agar sesuai dengan prosedur

organisasi setempat juga berkenaan dengan kesanggupan atau keahlian staf yang

ada untuk menangani proyek. Aspek finansial yaitu semua yang berkaitan dengan

pengaruh-pengaruh finansial proyek terhadap peserta proyek.

Kelayakan aspek-aspek diatas akan menentukan apakah suatu usaha yang

sedang dianalisis layak atau tidak untuk diusahakan. Adapun aspek-aspek yang

dianalisis kelayakannya dalam penelitian ini meliputi aspek non finansial dan

aspek finansial. Aspek non finansial meliputi: aspek pasar, aspek teknis dan aspek

manajemen.

3.1.1 Aspek Pasar

Pada aspek pasar, analisis kelayakan usaha dilakukan terhadap

kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan rencana pemasaran produk dan rencana

penyediaan input produksi (Gittinger, 1986). Kelayakan aspek pasar akan sangat

berkaitan dengan besarnya penerimaan yang akan diperoleh dalam usaha, karena

aspek ini akan menentukan besarnya penekanan biaya pemasaran dan peningkatan

nilai jual output yang dapat diupayakan. Kotler (1997) mendefinisikan pemasaran

sebagai suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok

mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan

dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Dalam memasarkan suatu

produk hendaknya manajer pemasaran menerapkan strategi bauran pemasaran

yang meliputi empat komponen yaitu: produk, harga, saluran distribusi dan

promosi.

3.1.2 Aspek Teknis

Menilai kelayakan dalam aspek teknis merupakan langkah awal yang

harus dilakukan dalam memutuskan untuk memulai atau mengembangkan suatu

(41)

tersebut akan berjalan dan berkembang dengan baik. Aspek teknis merupakan

suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis

dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun (Hasan dan

Suwarsono, 1999).

Menurut Gittinger (1986), analisis secara teknis berhubungan dengan input

proyek (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang-barang nyata dan

jasa-jasa. Aspek-aspek yang lain hanya dapat berjalan jika analisis secara tenis dapat

dilakukan. Analisis aspek teknis akan menguji hubungan-hubungan teknis yang

mungkin dalam suatu proyek pertanian yang diusulkan, misalnya: keadaan tanah

didaerah proyek dan potensinya bagi pembangunan pertanian, ketersediaan air,

suhu udara, pengadaan input produksi dan lain sebagainya.

Dalam bidang pertanian, hubungan-hubungan teknis di atas sangat

menentukan keberhasilan suatu usaha, terutama keberhasilan dalam proses

produksi. Masing-masing komponen dalam aspek teknis tersebut saling berkaitan

satu sama lain, dan jika ada salah satu yang tidak layak maka akan mengganggu

proses produksi usaha secara keseluruhan. Misalnya jika terdapat salah satu input

usaha tidak memenuhi syarat secara kuantitas dan kualitas hal tersebut akan

mengganggu atau bahkan menghambat jalannya proses produksi. Atau misalnya

jika lingkungan fisik yang ada tidak sesuai dengan syarat habitat mahluk hidup

yang akan di budidayakan maka usaha ini juga tidak akan berhasil. Mengenai

metode atau cara-cara pembudidayaan yang dilakukan, maka perlu dikaji apakah

secara teknis cara-cara yang dilakukan oleh tenaga kerja sudah optimal dan

mencapai tingkat produksi yang relatif tinggi. Mengingat output yang diusahakan

merupakan mahluk hidup yang terkait dengan sifat biologis, maka dalam proses

produksi usaha peternakan Itik petelur ini kebutuhan akan gizi dari pakan perlu di

perhatikan.

Selain dari fasilitas produksi, kelayakan teknis dari fasilitas pemasaran

juga harus dipenuhi, karena hal tersebut juga akan menentukan keberhasilan

dalam pemasaran output., khususnya dalam upaya menekan biaya pemasaran dan

tentunya untuk mempertahankan kualitas output yang dihasilkan untuk mencapai

(42)

adalah telur, yang tentunya memiliki sifat yang mudah rusak sehingga diperlukan

penanganan yang baik dalam upaya pemasarannya.

Menurut Gittinger (1986), bila analisis secara teknis telah dilakukan,

analisis teknis harus terus menerus memastikan bahwa pekerjaan secara teknis

tersebut berjalan lancar dan memang tepat untuk dilakukan, dan bahwa

perkiraan-perkiran secara teknis cocok dengan keadaan sebenarnya, dan bahwa petani-petani

yang menggunakan teknologi yang diusulkan pada lahan mereka dapat

mewujudkan hasil-hasil seperti yang diperkirakan. Walaupun berdasarkan

evaluasi teknis yang telah dilakukan terhadap suatu usaha menyatakan bahwa

secara teknis usaha tersebut layak, namun menurut Husnan dan Suwarsono

(1999), analisis tetap harus memperhatikan pengalaman pada proyek lain yang

serupa dilokasi lain yang menggunakan teknik dan teknologi serupa. Hal ini

penting untuk membantu dalam pengambilan keputusan akhir apakah usaha

tersebut akan dikembangkan atau tidak.

3.1.3 Aspek Manajemen

Aspek manajemen merupakan aspek yang penting untuk dianalisis dalam

suatu usaha. Walaupun semua aspek yang lain sudah dinyatakan baik, namun jika

tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pihak pengelola maka kegiatan usaha

tersebut tidak akan efisien. Kelayakan pada aspek manajemen pada suatu usaha

khususnya usaha peternakan Itik petelur sangat penting, mengingat usaha ini

memiliki karakteristik yang cukup khas, yang berbeda dengan usaha peternakan

yang lain.

Menurut Gittinger (1986), masalah-masalah dalam persiapan proyek

berkisar diantara aspek-aspek institusional, organisasi dan manajerial yang

tumpang tindih, yang secara jelas mempunyai pengaruh yang penting terhadap

pelaksanaan proyek. Untuk dapat dilaksanakan, suatu proyek harus dihubungkan

secara tepat dan struktur kelembagaan di suatu negara atau daerah.

Kadariah (1988) menyatakan bahwa pada aspek organisasi perhatian

utama ditujukan pada hubungan antara administrasi proyek dan bagian

administrasi pemerintah lainnya untuk melihat apakah hubungan antara

masing-masing wewenag (authority) dan tanggung jawab (responsibility) dapat diketahui

(43)

untuk menjalankan administrasi kegiatan dalam ukuran besar (large scale

activities). Keahlian manajemen hanya dapat dievaluasi secara subjektif, namun

jika hal ini tidak mendapat perhatian khusus, maka banyak kemungkinan terjadi

pengambilan keputusan yang kurang baik dalam proyek yang direncanakan.

3.1.4 Aspek Finansial

Dalam analisis finansial, proyek dilihat dari sudut badan-badan atau

orang-orang yang menanamkan modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan

langsung dalam proyek, sedangkan analisis ekonomi proyek dilihat dari sudut

perekonomian secara keseluruhan (Kadariah, 1988). Dalam penelitian ini tidak

dilakukan analisis ekonomi, melainkan dibatasi pada analisis finansial saja.

Menurut Kadariah (1988), analisis finansial ini penting artinya dalam

memperhitungkan rangsangan (incentive) bagi mereka yang turut serta dalam

mensukseskan proyek, sebab tidak ada gunanya melaksanakan proyek yang

menguntungkan dilihat dari sudut perekonomian sebagai keseluruhan, jika mereka

yang menjalankan kegiatan produksi tidak bertambah baik keadaannya.

Selain itu dalam analisis finansial yang perlu diperhatikan adalah waktu

diperoleh penerimaan (returns) untuk menentukan apakah individu atau

perusahaan tersebut mampu atau tertarik untuk menanamkan modalnya dalam

kegiatan proyek. Hal ini penting karena bagi perusahaan, dalam jangka waktu

tertentu bila tidak diperoleh return yang memadai maka kemungkinan mereka

akan kehabisan modal. Lain halnya dengan analisis ekonomi, yang perlu

diperhatikan adalah besarnya manfaat bersih tambahan yang diperoleh dari semua

sumber yang digunakan dalam proyek untuk masyarakat atau perekonomian

secara keseluruhan, tanpa melihat siapa yang menyediakan sumber-sumber

tersebut (Kadariah, 1988).

Untuk membuat analisis finansial suatu usaha, diperlukan data mengenai

arus peneriman yang terdiri atas produksi total, peneriman pinjaman, bantuan,

nilai sewa dan nilai sisa. Selain itu juga diperlukan data mengenai arus

pengeluaran yang terdiri dari biaya investasi, biaya produksi, pengembalian

pinjaman dan bunga, pemeliharaan peralatan dan bangunan serta biaya lain seperti

(44)

Selanjutnya kriteria yang digunakan dalam analisis finansial usaha berupa

kriteria kelayakan investasi. Analisis ini ditekankan pada penilaian kelayakan

investasi, karena investasi merupakan unsur yang bersifat jangka panjang dan

akan mengalami perubahan nilai sepanjang tahun. Karena sifat yang jangka

panjang ini, maka keputusan penanaman dan penarikan investasi tidak dapat

dilakukan dengan mudah atau tanpa perhitungan, sebab apabila terjadi kesalahan

dalam keputusan investasi maka pengusaha tersebut akan mengalami kerugian

yang jumlahnya biasanya relatif besar. Dengan diadakannya analisis kelayakan

investasi ini, maka resiko adanya kegagalan investasi dapat dikurangi, hal ini

sesuai dengan yang dinyatakan oleh Husnan dan Muhammad (2000) bahwa,

tujuan dari dilakukannya suatu analisis kelayakan usaha adalah untuk menghindari

penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak

menguntungkan.

3.1.4.1 Teori Biaya dan Manfaat

Menurut Gittinger (1986), biaya adalah segala sesuatu yang mengurangi

suatu tujuan dan manfaat adalah segala sesuatu yang membantu suatu tujuan.

Biaya-biaya yang dimasukan dalam perhitungan analisis usaha pertanian

umumnya adalah biaya-biaya yang dapat dikuantifikasi atau yang berpengaruh

langsung seperti biaya investasi, biaya operasional dan biaya lain-lain. Menurut

Kadariah (1988), yang dimaksud dengan biaya investasi ialah biaya yang

dikeluarkan untuk memperoleh barang-barang fisik yang akan digunakan dalam

usaha untuk jangka waktu yang relatif lama (umumnya lebih dari 1 tahun).

Sedangkan biaya operasional adalah biaya tahunan untuk keperluan rutin selama

umur ekonomi proyek.

Biaya total dibagi menjadi dua bagian, yaitu biaya tetap total dan biaya

variabel total. Biaya tetap total adalah biaya yang tidak berubah meskipun

outputnya berubah, biaya ini sering disebut biaya overhead atau biaya yang tidak

dapat dihindarkan. Biaya variabel merupakan biaya yang berkaitan langsung

dengan output, yang bertambah besar dengan meningkatnya produksi dan

berkurang dengan menurunnya produksi.

Kadariah (1988) menyatakan bahwa, penurunan biaya dapat berupa;

Gambar

Tabel 8. Harga Pakan Konsentrat Tipe 511 Produksi PT. CPI Tahun 2004 s.d 2009
Tabel 9. Penelitian Terdahulu yang Relevan Mengenai Kelayakan Usaha
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Kelayakan Usaha
Tabel 10. Kandungan Zat Makanan Dalam Ransum Berdasarkan Hasil Perhitungan (asfeed basis)
+3

Referensi

Dokumen terkait