ANALISIS PROPERTI PSIKOMETRI ALAT TES
TRAIT EMOTIONAL INTELLIGENCE
QUESTIONNAIRE-ADOLESCENT SHORT FORM (TEIQue-ASF)
VERSI BAHASA INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
oleh
VERA GANDHI
101301057
FAKULTAS PSIKOLOGI
SHORT FORM (TEIQue-ASF) VERSI BAHASA INDONESIA
Dipersiapkan dan disusun oleh :
VERA GANDHI 101301057
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji
Pada tanggal 28 Januari 2015
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Psikologi
Prof. Dr. Irmawati, Psikolog
NIP. 195301311980032001
Dewan Penguji
1. Etti Rahmawati, M.Si. Penguji I/Pembimbing
NIP: 198107252008012013
2. Lili Garliah, M.Si, Psikolog Penguji II
NIP: 196006041986032002
3. Dina Nazriani, M.A. Penguji III
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa skripsi saya yang berjudul:
Analisis Properti Psikometri Alat Tes Trait Emotional Intelligence Questionnaire – Adolescent Short Form (TEIQue-ASF)
Versi Bahasa Indonesia
adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari
hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi
ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
ABSTRAK
Kecerdasan emosional (emotional Intelligence – EI) sangat berperan penting pada masa remaja dan skor EI dapat memprediksi prilaku menyimpang pada remaja, namun di Indonesia, alat tes EI yang dikhususkan untuk remaja masih sangat minim serta belum memiliki kajian psikometrik yang mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis properti psikometri alat tes Trait Emotional Intelligence Questionnaire-Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) dalam versi bahasa Indonesia. Alat tes TEIQue-ASF dikhususkan untuk partisipan berusia 13 – 17 tahun.
Subjek penelitian yang digunakan berjumlah 500 orang dengan rincian 100 orang untuk setiap tingkatan umur, yang semuanya merupakan pelajar dari sekolah Wiyata Dharma. Properti psikometri yang akan dianalisis dalam penelitian ini yaitu validitas berdasarkan struktur internal dengan melakukan analisis faktor konfirmatori dan reliabilitas dengan menggunakan formula Alpha Cronbach.
Hasil analisis validitas TEIQue-ASF versi bahasa Indonesia berdasarkan struktur internal menunjukkan bahwa hanya 50% aitem saja yang memiliki validitas yang baik. Hasil analisis reliabilitas sebesar 0.73 menunjukkan bahwa hasil pengukuran TEIQue-ASF versi bahasa Indonesia dapat dipercaya. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu alat tes TEIQue-ASF versi bahasa Indonesia reliabel, tetapi hanya memiliki 50% aitem yang valid untuk mengukur trait EI pada remaja.
Kata kunci : remaja, trait emotional intelligence, TEIQue-ASF
1
Psychometric Properties Analysis of The Trait Emotional Intelligence
Questionnaire-Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) in Indonesian Version
Vera Gandhi1 dan Etti Rahmawati2
ABSTRACT
Emotional Intelligence (EI) has an important role in adolescence age and EI score can predict deviant behavior in adolescent. However in Indonesia, EI
assessment tool which is specially made for adolescents is very limited and hasn’t
had a deep psychometric analysis. Therefore, the purpose of this research is to analyse psychometric properties of The Trait Emotional Intelligence Questionnaire - Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) in Indonesian version. The TEIQue-ASF is specified for 13 – 17 years old.
Research subjects used amount to 500 people, 100 people for each age level in detail. The subjects are all students at Wiyata Dharma School. Psychometric properties that will be analyzed in this research is the validity evidence based on an internal structure using confirmatory factor analysis (CFA), and the reliability using Alpha Cronbach formula.
The result of validity analysis of The TEIQue-ASF in Indonesia version based on internal structure shows that only 50% items have good validity. The 0.73 result of reliability analysis shows that assessment result of TEIQue-ASF in Indonesian version is reliable. The conclusion of this research is TEIQue-ASF in Indonesia version is reliable, but only has 50% valid items to measure trait EI for adolescent.
Keywords : adolescent, trait emotional intelligence, TEIQue-ASF
1
Kuasa karena berkat karunia dan rahmat-Nya, penulis masih diberi kesempatan
serta kesehatan yang baik untuk menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul
“Analisis Properti Psikometri Alat Tes Trait Emotional Intelligence Questionnaire
– Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) Versi Bahasa Indonesia”
Peneliti juga telah mendapatkan banyak bimbingan, wawasan, motivasi,
nasihat, dan saran dari beberapa pihak selama proses penyusunan skripsi ini. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Prof . Dr. Irmawati, Psikolog selaku dekan Fakultas Psikologi Sumatera
Utara.
2. Ibu Etti Rahmawati, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia
membagikan ilmu dan waktunya dalam membimbing peneliti untuk
menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Lili Garliah, M.Si, Psikolog dan Kakak Dina Nazriani, M.A. yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk menguji peneliti dan membimbing
peneliti dalam melakukan revisi.
4. Bapak Ferry Novliadi, M.Si selaku dosen pembimbing akademik selama
perkuliahan berlangsung.
5. Keluarga yang telah mendukung peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.
6. Sekolah Wiyata Dharma yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk
7. Teman-teman yang telah bersedia membantu mengadministrasikan alat tes di
sekolah (Lili, Yohanti, Weillon, Irun, Icut, Yoseva, Yulian), terima kasih
banyak.
8. Teman-teman seperjuangan kuliah (Yohanti, Decil, Irene, Vivian, Johan, Dede,
Weillon, Steven, Anggun, dan keluarga Insos Kece lainnya), teman-teman
angkatan 2010 dan 2011 yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima
kasih banyak.
9. Seluruh pihak yang terlibat dalam penyelesaian skripsi ini namun tidak tersebut
di atas, penelitian mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan dan
bantuan yang telah diberikan.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan yang
dikarenakan oleh keterbatasan kemampuan, waktu, dan pengetahuan yang dimiliki.
Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan
skripsi ini. Akhir kata peneliti mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini
bermanfaat.
Medan, Januari 2015
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II LANDASAN TEORI ... 8
A. Emotional Intelligence ... 8
1. Sejarah EI ... 8
2. Definisi Trait EI ... 10
3. Aspek-aspek Trait EI ... 10
4. Alat Tes Trait EI ... 18
B. ADAPTASI ALAT TES ... 19
1. Definisi Adapatasi Alat Tes ... 19
2. Prosedur Adaptasi Tes ... 19
C. Properti Psikometri ... 24
1. Validitas ... 24
2. Reliabilitas ... 27
BAB III METODE PENELITIAN ... 30
A. Jenis Penelitian ... 30
B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ... 30
C. Instrument Penelitian ... 31
2. Tahap Alih Bahasa ... 34
3. Tahap Pelaksanaan Pengumpulan data ... 40
E. Teknik Analisis Data ... 41
1. Analisis Bukti Validitas Berdasarkan Struktur Internal ... 41
2. Analisis Reliabilitas ... 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 44
A. Deskripsi Umum Data Penelitian ... 44
B. Deskripsi Hasil ... 44
1. Analisis Bukti Validitas Berdasarkan Struktur Internal ... 44
a. Uji Kecocokan Model ... 44
b. Analisis Parameter Aitem TEIQue-ASF Versi Bahasa Indonesia ... 45
2. Analisis Reliabilitas ... 46
C. Pembahasan ... 47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 52
A. Kesimpulan ... 52
B. Saran ... 52
DAFTAR PUSTAKA ... 54
Tabel 2. Aitem Trait EI Versi Asli... 33
Tabel 3. Perbandingan Hasil back translation ... 34
Tabel 4. Revisi Aitem Berdasarkan Kesetaraan Hasil Terjemahan ... 37
Tabel 5. Blueprint Aitem TEIQue-ASF ... 38
Tabel 6. Hasil Professional Judgement ... 39
Tabel 7. Revisi Aitem Berdasarkan Ujicoba Kualitatif ... 40
Tabel 8. Ukuran Goodness of Fit ... 43
Tabel 9. Keterangan Aitem yang Valid dan Tidak Valid... 45
DAFTAR GAMBAR
ABSTRAK
Kecerdasan emosional (emotional Intelligence – EI) sangat berperan penting pada masa remaja dan skor EI dapat memprediksi prilaku menyimpang pada remaja, namun di Indonesia, alat tes EI yang dikhususkan untuk remaja masih sangat minim serta belum memiliki kajian psikometrik yang mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis properti psikometri alat tes Trait Emotional Intelligence Questionnaire-Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) dalam versi bahasa Indonesia. Alat tes TEIQue-ASF dikhususkan untuk partisipan berusia 13 – 17 tahun.
Subjek penelitian yang digunakan berjumlah 500 orang dengan rincian 100 orang untuk setiap tingkatan umur, yang semuanya merupakan pelajar dari sekolah Wiyata Dharma. Properti psikometri yang akan dianalisis dalam penelitian ini yaitu validitas berdasarkan struktur internal dengan melakukan analisis faktor konfirmatori dan reliabilitas dengan menggunakan formula Alpha Cronbach.
Hasil analisis validitas TEIQue-ASF versi bahasa Indonesia berdasarkan struktur internal menunjukkan bahwa hanya 50% aitem saja yang memiliki validitas yang baik. Hasil analisis reliabilitas sebesar 0.73 menunjukkan bahwa hasil pengukuran TEIQue-ASF versi bahasa Indonesia dapat dipercaya. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu alat tes TEIQue-ASF versi bahasa Indonesia reliabel, tetapi hanya memiliki 50% aitem yang valid untuk mengukur trait EI pada remaja.
Kata kunci : remaja, trait emotional intelligence, TEIQue-ASF
1
Psychometric Properties Analysis of The Trait Emotional Intelligence
Questionnaire-Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) in Indonesian Version
Vera Gandhi1 dan Etti Rahmawati2
ABSTRACT
Emotional Intelligence (EI) has an important role in adolescence age and EI score can predict deviant behavior in adolescent. However in Indonesia, EI
assessment tool which is specially made for adolescents is very limited and hasn’t
had a deep psychometric analysis. Therefore, the purpose of this research is to analyse psychometric properties of The Trait Emotional Intelligence Questionnaire - Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) in Indonesian version. The TEIQue-ASF is specified for 13 – 17 years old.
Research subjects used amount to 500 people, 100 people for each age level in detail. The subjects are all students at Wiyata Dharma School. Psychometric properties that will be analyzed in this research is the validity evidence based on an internal structure using confirmatory factor analysis (CFA), and the reliability using Alpha Cronbach formula.
The result of validity analysis of The TEIQue-ASF in Indonesia version based on internal structure shows that only 50% items have good validity. The 0.73 result of reliability analysis shows that assessment result of TEIQue-ASF in Indonesian version is reliable. The conclusion of this research is TEIQue-ASF in Indonesia version is reliable, but only has 50% valid items to measure trait EI for adolescent.
Keywords : adolescent, trait emotional intelligence, TEIQue-ASF
1
Emotional intelligence (EI) memiliki peranan yang penting dalam
kehidupan manusia. Penelitian mengenai EI telah banyak dilakukan pada berbagai
bidang psikologi seperti organisasi, klinis, kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Selain itu, penelitian ini juga telah dilakukan pada berbagai kalangan usia mulai
dari anak-anak hingga dewasa. Salah satu tahapan terpenting dalam kehidupan
manusia adalah masa remaja, yaitu tahap perkembangan ketika seseorang berusaha
untuk mencari jati dirinya dan ingin mencoba-coba sesuatu yang baru. Masa
remaja yang termasuk tahap ke lima dalam teori perkembangan Erikson
merupakan masa yang labil dalam kehidupan seseorang (Papalia, Olds & Feldman,
2007). EI juga memiliki peranan yang penting pada masa ini.
Penelitian EI yang dilakukan oleh Parker, Taylor, Eastabrook, Schell, dan
Wood (dalam Petrides, 2011) dalam bidang kesehatan menunjukkan bahwa EI
berkorelasi negatif dengan prilaku adiktif seperti bermain internet dan berjudi. EI
juga berkorelasi negatif dengan ketergantungan alkohol (Austin, Saklofske, &
Egan, 2005, dalam Petrides 2011) serta penggunaan obat ekstasi (Craig, Fisk,
Montgomery, Murphy, & Wareing, 2010, dalam Petrides 2011).
Penelitian dalam bidang klinis yang dilakukan oleh Mikolajczak, Petrides,
dan Hurry (2009) menemukan bahwa ada kaitan antara EI dengan prilaku
membahayakan diri sendiri (self-harm) pada remaja. Remaja yang memiliki skor
2
ataupun mengalami gangguan psikologis tertentu. Petrides, Frederickson, dan
Furnham (2004) melakukan penelitian EI pada remaja dalam konteks pendidikan,
yang menunjukkan bahwa pelajar dengan skor EI yang tinggi memiliki tingkat
absen ilegal yang rendah dan jarang dikeluarkan dari sekolah yang disebabkan oleh
pelanggaran aturan dibandingkan dengan pelajar dengan skor EI yang rendah. Skor
EI juga berkorelasi negatif dengan prilaku agresif dan menyimpang pada pelajar.
Penelitian Mavroveli & Sanchez-Ruiz menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
yang terlalu signifikan antara EI dengan pencapaian akademik pelajar, kecuali
pada grup spesifik anak-anak yang berkebutuhan khusus (dalam Petrides, 2011).
Di Indonesia, masalah penyimpangan prilaku pada remaja juga semakin
mencemaskan. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto
mengatakan bahwa tingkat penyimpangan prilaku remaja telah di luar batas pelajar
(Prihananto, 2013). Pada tahun 2010, data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan United Nations Fund for
Population Activities (UNFPA) menyatakan bahwa setengah dari 63 juta jiwa
remaja berusia 10 sampai 24 tahun rentan terhadap prilaku yang tidak sehat
(Separuh dari 63 Juta, 2010). Selain itu jika dilihat dari sisi klinis remaja, pakar
kesehatan jiwa, Albert Maramis juga menyampaikan bahwa bunuh diri di kalangan
anak remaja juga semakin meningkat (Aditya, 2014).
Pemaparan di atas menunjukkan pentingnya EI agar dapat mengurangi
prilaku yang menyimpang pada remaja serta sebagai upaya pencegahan terhadap
penyimpangan prilaku yang dilakukan remaja. Namun, alat ukur di Indonesia
yang sudah terstandarisasi untuk mengukur skor EI pada remaja masih minim.
Penelitian mengenai kaitan EI dengan bidang lainnya cukup banyak dilakukan di
Indonesia, tetapi alat ukur EI yang dikonstruk maupun diadaptasi belum memiliki
kajian psikometri yang mendalam. Selain itu, landasan teori alat ukur EI yang
digunakan oleh peneliti di Indonesia sebagian besar menggunakan teori yang
dicetuskan oleh Daniel Goleman.
Goleman merupakan orang pertama yang mempopulerkan istilah EI
setelah konstrak EI pertama kali diusulkan oleh Salovey dan Mayer pada tahun
1990. Buku yang dipublikasikan oleh Goleman pada tahun 1995 berjudul
Emotional Intelligence – Why it can mattter more than IQ, menjadi bestseller di berbagai negara, bahkan menjadi artikel sampul di majalah Time (Gibbs, 1995,
dalam Mayer, Salovey, & Caruso, 2008). Meskipun demikian, Goleman mendapat
kritikan dari berbagai pihak atas pernyataan yang dibuat, bahwa EI lebih penting
daripada IQ. Klaim ini dianggap tidak memiliki dasar penelitian ilmiah yang jelas,
karena kesimpulan tersebut ditarik berdasarkan cerita anekdotal yang disampaikan
dalam bukunya atau hanya berupa perkiraan saja (Lee, 2010). Oleh karena itu,
peneliti bermaksud mengadaptasi alat ukur EI yang bukan berdasarkan pada teori
Goleman.
Setelah dipublikasikannya buku tersebut, berbagai model alat ukur EI pun
mulai muncul seperti EQi (Emotional Quotioent Inventory), SEIS (Schutte
Emotional Intelligence Scale), MEIS (Multifactor Emotional Intelligence Scale),
4
sebagainya. Namun, masalah yang kemudian muncul yaitu alat tes ini memiliki
metode pengukuran yang berbeda. Sebagian peneliti mengembangkan metode
self-report questionnaires, sedangkan yang lain mengembangkan metode
maximum-performance test. Perbedaan ini merupakan masalah yang serius karena
pendekatan pengukuran yang berbeda memiliki kecenderungan tinggi
memproduksi hasil yang berbeda. Oleh karena itu, Petrides dan Furnham
membagi EI menjadi dua yaitu ability EI, yang menggunakan metode
maximum-performance test, dan trait EI, yang menggunakan metode kuesioner self-report
(dalam Petrides, 2011).
Ability EI didefinisikan sebagai kemampuan untuk merasakan dan
mengekspresikan emosi, mengasimilasikan emosi dalam pikiran, memahami dan
mengetahui penyebab suatu emosi, serta meregulasi emosi dalam diri dan dengan
orang lain (Mayer & Salovey, 1997). Metode maximum-performance test yang
digunakan dalam pengukuran ability EI merupakan tes yang memiliki jawaban
benar dan salah. Kritik terhadap metode ini yaitu pada saat proses penilaian alat tes
ability EI, aitem yang dibuat tidak dapat benar-benar dinilai dengan kriteria yang
objektif. Prosedur penilaian alternatif seperti konsensus ataupun professional
judgement juga tidak menjamin seberapa objektif penilaian tersebut, karena
jawaban yang benar sangat berkaitan dengan norma ataupun kultur yang
melatarbelakangi responden. Selain itu, Wilhelm (dalam Petrides, 2011) juga
mengkritik bahwa prosedur pengukuran ability EI menghasilkan skor yang asing
Menurut Petrides (2011), teori trait EI (disebut juga trait emotional
self-efficacy) mampu mengukur subjektivitas yang melekat pada pengalaman
emosional seseorang. Trait EI didefinisikan sebagai kumpulan persepsi diri yang
lokasinya terletak pada level yang lebih rendah dari hirarki kepribadian (Petrides,
Pita, & Kokkinaki, 2007). Alat ukur yang dikonstruk oleh Petrides (Petrides &
Furnham, 2003) adalah The TEIQue (Trait Emotional Intelligence Questionnaire)
dengan berdasarkan pada 15 faset. Petrides, Pita & Kokkinaki (2007) telah
mengklaim bahwa trait EI termasuk dalam personality trait, sehingga sama sekali
tidak berhubungan dengan kemampuan kognitif lagi. Penelitian mengenai trait EI
pada sampel anak-anak, remaja, dan dewasa, menunjukkan bahwa hasil skor pada
trait EI dapat memprediksi prilaku prososial dan antisosial individu, gaya
mengatasi masalah yang adaptif dan pengaruh yang menyebabkan depresi
(adaptive coping styles and depressive affect), kepemimpinan, regulasi emosi, dan
pengambilan keputusan yang efektif.
Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa alat tes
trait EI memiliki kaitan yang lebih erat dengan psikologi, yaitu mengukur
pengalaman emosional seseorang secara subjektif, dan bukan berdasarkan pada
kecerdasan kognitif seseorang seperti yang diukur dalam ability EI. Ability EI juga
lebih sulit diadaptasikan ke Indonesia karena tidak ada jawaban yang tepat untuk
budaya yang berbeda. Oleh karena itu, peneliti akan mengadaptasi alat ukur The
TEIQue ke dalam bahasa Indonesia dan mengkaji karakteristik psikometrinya.
The TEIQue memiliki beberapa versi seperti, The TEIQue (full form),
6
TEIQue 360, yang diisi oleh rekan ataupun orang dekat individu yang
bersangkutan, TEIQue-AF (adolescent form), TEIQue-ASF (adolescent short form),
untuk sampel berusia 13-17 tahun, dan TEIQue-CF (child form) untuk anak-anak
berusia 8-12 tahun. Sesuai dengan latar belakang masalah pada pemaparan
sebelumnya, bahwa prilaku remaja di Indonesia sudah semakin mencemaskan dan
rentan terhadap prilaku tidak sehat, maka diperlukan alat tes EI untuk mengukur
skor EI pada remaja, agar nantinya dapat dilakukan pelatihan peningkatan EI pada
remaja dengan skor sangat rendah sebagai salah satu bentuk pencegahan terhadap
prilaku tidak sehat. Peneliti memilih untuk mengadapatasi The TEIQue-ASF yang
memang dikhususkan untuk mengukur skor EI remaja berusia 13-17 tahun.
TEIQue-ASF dalam bahasa Indonesia akan diuji properti psikometrinya,
seperti validitas dan reliabitas alat tes tersebut. Alat tes TEIQue-ASF versi bahasa
Indonesia ini akan diujicobakan pada 500 sampel yang berusia 13-17 tahun yang
berdomisili di kota Medan.
B. RUMUSAN MASALAH
Masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah:
Apakah alat tes TEIQue-ASF dalam versi bahasa Indonesia memiliki
properti psikometri yang baik?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasikan alat tes TEIQue-ASF ke
D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian terbagi atas :
1. Manfaat teoritis
Peneliti melihat belum adanya penggunaan alat tes TEIQue-ASF di Indonesia,
sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam ilmu
pengetahuan di bidang Psikologi Umum dan Eksperimen, khususnya topik yang
berhubungan dengan trait emotional intelligence pada remaja.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyediakan alat tes trait emotional
intelligence untuk remaja yang valid, sehingga dapat digunakan oleh peneliti
lainnya yang ingin meneliti topik mengenai trait emotional intelligence pada
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab ini berisi kajian teoritis emotional intelligence (EI) berupa sejarah EI,
definisi trait EI, dan aspek-aspek trait EI, kajian teoritis adaptasi tes berupa
definisi dan prosedur adaptasi tes, serta kajian teoritis properti psikometri yang
terdiri dari pembahasan validitas dan reliabilitas.
A. EMOTIONAL INTELLIGENCE 1. Sejarah EI
Sejarah EI diawali dari konsep social intelligence yang diusulkan oleh
Thorndike pada tahun 1920. Thorndike mendefinisikan social intelligence sebagai
kemampuan untuk memahami pria dan wanita, laki-laki dan perempuan, serta
bertindak secara bijak dalam hubungan manusia. Inti dari social intelligence yaitu
kemampuan untuk merasakan keadaan internal, motivasi, dan prilaku diri sendiri
dan orang lain, serta bertindak kepada orang lain secara optimal berdasarkan
informasi tersebut (dalam Salovey & Mayer, 1990). Pada saat itu, istilah EI belum
ada. Istilah EI muncul pertama kali pada tahun 1966 oleh Leuner, namun itu hanya
sebatas suatu istilah saja tanpa ada konstruk yang konkret (Petrides, 2011).
Petrides (2011) juga menambahkan pada tahun 1983, Gardner dalam bukunya
Frames of Mind mengusulkan teori multiple intelligence yang mengungkapkan
bahwa tiap-tiap orang memiliki tipe inteligensi yang berbeda. Dua tipe inteligensi
yang memberikan pengaruh besar atas terciptanya EI yaitu kecerdasan
dirinya dengan efektif) dan kecerdasan interpersonal (kemampuan untuk
memahami orang lain dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain).
Salovey dan Mayer merupakan orang pertama yang membuat konstruk EI
secara utuh pada tahun 1990. Saat itu emotional intelligence belum terkenal seperti
sekarang ini dan hanya digunakan dalam bidang penelitian ilmiah. Orang pertama
yang mempopulerkan istilah ini kepada publik adalah Daniel Goleman melalui
bukunya yang berjudul Emotional intelligence – Why it can matter more than IQ, yang dipublikasikan pada tahun 1995 (Petrides, 2011).
Buku Goleman menuai banyak pujian dari publik dan juga kecaman dari
kalangan ilmiah. Oleh karena itu, penelitian terhadap EI mulai berkembang pesat
di atas tahun 1995 serta berkembang juga berbagai pengukuran EI seperti EQi
(Emotional Quotient Inventory), SEIS (Schutte Emotional Intelligence Scale),
MSCEIT (Mayer Salovey Caruso Emotional Intelligence Test), dan TEIQue (Trait
Emotional Intelligence Questionnaire). Masalah yang kemudian muncul yaitu
antara satu alat ukur dengan alat ukur lainnya memiliki metode pengukuran yang
berbeda. Sebagian alat ukur dikembangkan dengan metode self-report
questionnaires, yang lainnya dikembangkan dengan metode
maximum-performance test. Perbedaan ini menyebabkan hasil yang diperoleh dari alat ukur
tersebut juga berbeda. Oleh karena itu, Petrides dan Furnham (2001) membagi EI
menjadi dua yaitu ability EI, yang menggunakan metode maximum-performance
10
2. Definisi Trait EI
Trait EI didefinisikan sebagai kumpulan persepsi diri yang terletak pada level
yang lebih rendah dari hirarki kepribadian (Petrides, Pita, & Kokkinaki, 2007).
Petrides, Pita, dan Kokkinaki (2007) telah mengklaim bahwa trait EI termasuk
dalam personality trait, sehingga sama sekali tidak berhubungan dengan
kemampuan kognitif lagi. Trait EI disebut juga trait emotional self-efficacy.
Petrides (2011) menyatakan bahwa trait EI memiliki operasionalisasi yang
mampu mengenali subjektivitas yang melekat pada pengalaman emosional. Trait
EI memberi perhatian pada konsistensi cross-situational prilaku yang
dimanifestasikan dalam trait spesifik (seperti empati, asertif, optimisme). Hal ini
berlawanan dengan ability EI yang lebih memberi perhatian pada
kemampuan-kemampuan seperti mengidentifikasi, mengekspresikan, dan melabel emosi.
Pengukuran Trait EI menggunakan metode self-report yang mengukur prilaku
tertentu, sehingga tidak ada jawaban partisipan yang benar ataupun salah.
3. Aspek-aspek Trait EI
Petrides dan Furnham (2001) melakukan analisis konten pada model-model
EI yang sudah ada sebelumnya dan juga konstruk yang memiliki hubungan,
seperti alexithymia, komunikasi afektif, ekspresi emosi, dan empati. Analisis
konten ini menghasilkan 15 faset trait EI untuk remaja dan dewasa sebagai
berikut :
a. Adaptabilitas (adaptability) - fleksibel dan mau beradaptasi terhadap kondisi
Individu dengan skor yang tinggi pada faset ini merupakan orang yang
fleksibel baik dalam dunia kerja maupun dalam kehidupannya. Mereka memiliki
kemauan dan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan kondisi yang baru,
menikmati sesuatu yang baru serta perubahan yang bertahap. Skor rendah pada
faset ini merupakan orang yang tidak ingin berubah dan merasa sulit mengubah
pekerjaan dan gaya hidupnya. Mereka biasanya tidak fleksibel, memiliki
pandangan dan ide yang sudah tetap.
b. Asertivitas (assertiveness) - Berterus terang, jujur, mau mempertahankan
hak-hak mereka.
Individu dengan skor tinggi pada faset ini adalah orang yang dapat berbicara
dengan langsung dan berterus-terang, tahu bagaimana meminta sesuatu, memberi
dan menerima pujian, serta mengkonfrontasi jika diperlukan. Mereka adalah orang
yang mampu memimpin dan dapat mempertahankan hak-hak serta keyakinan
mereka. Individu dengan skor rendah cendrung mengalah walaupun mereka tahu
mereka benar. Mereka juga sulit mengatakan tidak, sehingga pada akhirnya
mereka sering melakukan hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan.
Kebanyakan dari mereka lebih suka menjadi bagian dari tim daripada menjadi
pemimpin.
c. Ekspresi emosi (emotion expression) - Mampu mengkomunikasikan perasaan
mereka kepada orang lain.
Individu dengan skor tinggi pada faset ini adalah orang yang mampu
mengkomunikasikan emosi mereka dengan lancar kepada orang lain, dapat
12
mengindikasikan kesulitan dalam mengkomunikasikan pikiran yang berhubungan
dengan emosi, serta sulit membiarkan orang lain tahu apa yang mereka rasakan.
Ketidakmampuan mengekspresikan emosi juga mengindikasikan kurangnya
percaya diri dan asertivitas sosial.
d. Pengelolaan emosi – pada orang lain (emotion management – others) - Mampu mempengaruhi keadaan emosional orang lain.
Skor tinggi menunjukkan individu mampu mempengaruhi perasaan orang lain
seperti menenangkan, menghibur, dan memotivasi orang lain. Mereka dapat
membuat orang lain merasa lebih baik ketika dibutuhkan. Skor rendah pada faset
ini menunjukkan individu tidak mampu mempengaruhi perasaan orang lain, juga
kewalahan ketika harus menangani luapan emosi orang lain serta cenderung
kurang menikmati sosialisasi dan menjalin jaringan dengan orang lain.
e. Persepsi terhadap emosi – diri sendiri dan orang lain (emotion perception – self and others)- Jelas terhadap perasaan diri sendiri maupun orang lain.
Individu dengan skor tinggi akan jelas terhadap perasaan mereka dan mampu
mengartikan ekspresi emosional orang lain. Sedangkan individu dengan nilai
rendah sering merasa bingung dengan apa yang mereka rasakan dan kurang
memperhatikan tanda-tanda emosional yang ditunjukkan orang lain.
f. Regulasi emosi (emotion regulation) - Mampu mengontrol emosi dan
perasaan diri sendiri.
Individu dengan skor tinggi mampu mengontrol emosi mereka dan dapat
menenangkan kembali emosi mereka. Skor rendah mengindikasikan bahwa
individu mudah terpengaruh pada serangan emosional dan merasakan kecemasan
yang lebih lama, bahkan depresi. Mereka sulit menangani perasaan mereka, sering
moody dan mudah tersinggung.
g. Keimpulsifan – rendah (impulsiveness – low) - Reflektif dan cenderung tidak mengikuti nafsu keinginan.
Faset ini lebih mengukur disfungsi impulsivitas daripada fungsional
impulsivitas. Individu dengan impulsivitas rendah akan berpikir sebelum
bertindak dan berhati-hati dalam membuat keputusan. Skor tinggi pada faset ini
berarti individu menimbang semua informasi sebelum mereka memutuskan
sesuatu, tetapi juga tidak terlalu berlebihan. Sedangkan skor rendah cenderung
tidak sabar dan mudah mengikuti keinginan hati mereka. Hal ini dapat terlihat
pada anak-anak yang menginginkan kepuasan langsung dan memiliki kontrol diri
yang rendah, serta berbicara tanpa benar-benar memikirkannya terlebih dulu dan
sering berubah pikiran.
h. Hubungan personal (relationships) - Mampu mempertahankan hubungan
personal yang memuaskan.
Hubungan ini termasuk dengan teman dekat, pasangan, dan keluarga,
bagaimana memulai dan mempertahankan ikatan emosional dengan orang lain.
Individu dengan skor tinggi biasanya memiliki hubungan personal yang
memuaskan sehingga secara positif mampu mempengaruhi produktivitas dan
kesejahteraan emosionalnya. Mereka tahu bagaimana mendengar dan merespon
14
sulit untuk memiliki ikatan dengan orang lain dan cenderung kurang menghargai
hubungan personal mereka. Mereka juga sering berprilaku yang dapat menyakiti
orang-orang dekatnya.
i. Penghargaan terhadap diri (self-esteem) –Percaya diri dan memandang positif atas pencapaiannya.
Faset ini mengukur evaluasi keseluruhan individu pada dirinya sendiri.
Individu dengan skor tinggi memandang dirinya dan segala pencapaiannya dengan
positif. Mereka percaya diri dan puas pada hampir seluruh aspek dalam
kehidupannya. Skor rendah menununjukkan individu kurang begitu menghargai
dirinya sendiri.
j. Motivasi diri (self-motivation) – Terdorong dan tidak pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan.
Individu dengan skor tinggi akan terdorong untuk menghasilkan kualitas
pekerjaan yang bagus. Mereka tekun dan gigih, serta tidak perlu mendapatkan
penghargaan eksternal karena motivasi mereka muncul dari dalam diri. Individu
dengan skor rendah memerlukan banyak bonus dan dukungan untuk
menyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka cenderung menyerah ketika
menghadapi kesulitan, juga kurang gigih dan kurang memiliki dorongan dari
dalam diri.
k. Kesadaran sosial (social awareness) – Mencapai jaringan yang luas dengan keterampilan sosial yang superior.
pengertian. Mereka unggul dalam negosiasi, transaksi broker, dan mampu
mempengaruhi orang lain. Mereka juga cenderung dapat mengontrol emosi dan
prilaku mereka, serta percaya diri dalam berbagai konteks sosial, seperti pesta
ataupun even perkumpulan. Individu dengan nilai rendah meyakini bahwa mereka
memiliki keterampilan sosial yang terbatas dan sering merasa cemas karena tidak
tahu harus berprilaku seperti apa dalam lingkungan yang kurang mereka kenali.
Mereka sulit mengekspresikan diri secara jelas dan hanya memiliki sedikit
kenalan, serta dikenal sebagai orang yang memiliki keterampilan interpersonal
yang terbatas.
l. Pengelolaan stres (stress management) - Mampu menahan tekanan dan
meregulasi stres.
Skor tinggi mengindikasikan individu mampu menangani tekanan dengan
tenang dan efektif karena mereka telah mengembangkan coping mechanism
(mekanisme menanggulangi) dengan sukses. Mereka juga pintar dalam meregulasi
emosi yang dapat membantu mereka dalam menghadapi stres. Individu dengan
skor rendah cenderung kurang mengembangkan strategi menghadapi stres.
Mereka lebih suka menghindari situasi yang dapat membuat mereka lelah
daripada menghadapinya. Oleh karena itu mereka lebih banyak menolak
proyek-proyek penting yang perlu kerjakan dalam waktu lama.
m. Trait empati (trait empathy) - Mampu melihat melalui perspektif orang lain,
memahami kebutuhan dan keinginan orang lain.
Individu dengan skor tinggi pada faset ini cenderung memiliki keterampilan
16
pandang lawan bicaranya dan menghargainya. Skor rendah menunjukkan
kesulitan mengadopsi perspektif orang lain, cederung suka beropini dan
argumentatif, serta kelihatan lebih self-centered.
n. Trait kebahagiaan (trait happiness) - Riang dan puas dengan kehidupannya.
Individu dengan skor tinggi pada faset ini adalah orang yang periang dan
merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Skor rendah menunjukkan individu
sering murung dan memandang berbagai hal dengan negatif. Mereka juga
cenderung kecewa dengan kehidupannya sekarang. Trait happiness, self-esttem,
dan optimism merefleksikan keadaan psikologis seseorang secara umum pada
saat ini.
o. Trait optimisme (trait optimis) - Percaya diri dan cenderung melihat
kehidupan dari sisi yang positif.
Skor tinggi pada faset ini menunjukkan individu yang selalu melihat kejadian
dalam kehidupannya secara positif dan mengharapkan terjadinya hal-hal yang
positif. Nilai rendah menunjukkan kecederungan pesimis dan memandang
kejadian dari sisi yang negatif. Mereka kurang mampu mengejar kesempatan baru
dan takut mengambil resiko.
Selain 15 faset spesifik di atas, 13 dari aspek trait EI juga bisa
dikelompokkan menjadi 4 faktor yang berelevansi dan lebih luas, yaitu :
1) Well being, mencakup trait optimism, trait happiness, self-esteem
2) Emotionality, mencakup : trait empathy, emotional perception, emotional
3) Self-control, mencakup : emotion regulation, low impulsiveness, stress
management
4) Sociability, mencakup : emotional management, assertiveness, social
awareness
Dua faset yang tidak termasuk di dalam 4 faktor di atas yaitu self-motivation
dan adaptability yang dikelompokan ke dalam faset tambahan (auxiliary facets).
Faset tambahan ini berkontribusi pada skor global trait EI. Alat ukur trait EI,
yaitu Trait Emotional Intelligence Questionnaire (TEIQue) versi lengkap, akan
menghasilkan skor dari masing-masing faset, skor dari 4 faktor dan faset
tambahan (auxiliary facets), serta skor global trait EI. Berikut ini adalah gambar
pembagian faset serta faktor yang mencakupnya.
18
4. Alat Tes Trait EI
Jumlah alat tes EI yang menggunakan metode self-report yang membludak
memunculkan anggapan bahwa mengkonstruk alat tes ini adalah hal yang mudah.
Namun faktanya, hanya sedikit alat tes trait EI yang memiliki kerangka teori yang
jelas dan bahkan lebih sedikit lagi yang memiliki fondasi empiris yang kuat (Pérez,
Petrides, dan Furnham, 2005). Petrides (2011) mengemukakan bahwa Trait EI
hanya bisa diukur hanya jika diinterpretasi berdasarkan teori trait EI, dengan
menggunakan alat tes Trait Emotional Intelligence Questionnaire (TEIQue).
TEIQue memiliki beberapa versi seperti, The TEIQue (full form), TEIQue-SF
(short form), yang digunakan untuk sampel berusia 17 tahun ke atas, TEIQue 360,
yang diisi oleh rekan ataupun orang dekat individu yang bersangkutan,
TEIQue-AF (adolescent form), TEIQue-ASF (adolescent short form), untuk sampel berusia
13-17 tahun, dan TEIQue-CF (child form) untuk anak-anak berusia 8-12 tahun.
Penelitian ini akan menggunakan TEIQue-ASF yang terdiri dari 30 aitem,
yaitu dua aitem untuk setiap faset (total 15 faset). Menurut Petrides (2011), alat
tes TEIQue-ASF khusus dirancang untuk mengukur skor global trait EI, kurang
disarankan untuk mengukur skor dari tiap faktor karena memiliki konsistensi
internal yang lebih rendah dan tidak dapat digunakan untuk menghasilkan skor
B. ADAPTASI ALAT TES 1. Definisi Adaptasi Alat Tes
Pada umumnya adaptasi tes dan penerjemahkan tes dianggap sebagai hal
yang sama, tetapi sebenarnya kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda.
Kata “menerjemahkan” lebih kepada upaya linguistik untuk mengganti bahasa
suatu teks dengan bahasa yang lain. Sedangkan adaptasi tes merupakan
serangkaian aktivitas yang tidak sekedar menerjemahkan saja, tetapi juga
mempersiapkan suatu alat tes untuk dapat digunakan dalam bahasa dan budaya
yang berbeda. Dengan kata lain, aktivitas dalam adapatasi lebih dari sekedar
“mengalihbahasakan saja”. Hal ini diungkapkan oleh Hambleton dan Kanjee pada
tahun 1995 dalam ulasan yang dibuat oleh Purwono (dalam Supraktinya & Susana,
2010). Serangkaian aktivitas tersebut dimulai sejak ditentukannya suatu tes
benar-benar mengukur konstruk yang sama pada bahasa dan budaya berbeda
(penelaahan koeksistensi konstruk), melakukan tahap alih bahasa, tahap empirik,
hingga tahap validasi dan standarisasi kembali alat tes tersebut.
2. Prosedur Adaptasi Tes
Purwono (dalam Supraktinya & Susana 2010) memaparkan bahwa
langkah-langkah adaptasi tes ada 4, yaitu penelaahan koeksistensi konstruk, tahap alih
bahasa, tahap empirik (memastikan kesetaraan psikometrik), dan tahap validasi
dan standarisasi kembali alat ukur. Berikut ini akan dipaparkan penjelasan dari
20
a. Penelaahan koeksistensi konstruk yang diukur
Penelaahan konstruk merupakan tahap pertama dalam langkah adaptasi, yaitu
dengan cara memahami sosial budaya tempat adaptasi tes akan dilakukan. Proses
penelaahan konstruk sangat penting karena budaya sangat mempengaruhi
munculnya suatu prilaku, sehingga harus diperhatikan dalam pengadaptasian tes.
Benson, dalam ulasan yang dibuat oleh Purwono, menjelaskan secara spesifik
bahwa konstruk dapat direpresentasikan dalam domain teoritik dan domain
empiris (dalam Supraktinya & Susana, 2010). Domain teoritik yaitu hasil evolusi
teori-teori ilmiah pada suatu konstruk, sedangkan domain empirik merupakan
serangkaian variabel yang teramati untuk mengukur suatu konstruk. Masalah inti
yang dapat muncul dalam adaptasi tes yaitu konstruk pada dua atau lebih
lingkungan budaya yang berbeda memiliki domain teoritik yang sama, tetapi
domain empiriknya berbeda. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan berikut
dirumuskan sebagai bentuk operasionalisasi penelaahan koeksistensi suatu
konstruk :
1) Apakah konstruk/trait yang diukur oleh tes yang akan diadaptasikan juga
dikenal di lingkungan sosial budaya target?
2) Bila konstruk tersebut juga terdapat dalam lingkungan sosial budaya target,
apakah konstruk tersebut mencakup indikator prilaku yang sama dengan
indikator prilaku di lingkungan sosial budaya asal tes tersebut dikembangkan?
b. Tahap alih bahasa
Alat ukur akan diterjemahkan ke bahasa tujuan dengan memperhatikan
lingkungan sosial budaya setempat sehingga alat ukur tersebut dapat mudah
dimengerti. Menerjemahkan di sini bukanlah menerjemahkan kata demi kata,
Bassnet (dalam Supraktinya & Susana, 2010) mengutip pendapat Etienne Dolet
dalam bukunya yang berjudul How to translate Well from One Language into
Another, yang mengungkapkan 5 prinsip penerjemahan:
1) Makna teks asli harus dimengerti sepenuhnya oleh penerjemah.
2) Pengetahuan yang memadai pada bahasa teks asli dan bahasa tujuan harus
dimiliki oleh penerjemah.
3) Teks tidak boleh diterjemahkan kata demi kata.
4) Penerjemah harus menggunakan bentuk bahasa yang dapat dipahami dengan
mudah.
5) Kata maupun kalimat yang dipilih dan disusun harus memiliki makna yang
tepat dengan teks aslinya.
Selain itu, Besnet juga mengutip pendapat Alexander Fraser Tytler (dalam
Supraktinya & Susana, 2010) yang juga mengungkapkan prinsip penerjemahan
berikut:
1) Gagasan pada naskah asli harus diberikan oleh penerjemah dalam bentuk
transkripsi lengkap.
2) Hasil terjemahan harus memiliki karakter/gaya penulisan yang sama seperti
22
3) Naskah asli dan terjemahan harus mengandung komposisi yang sama.
Salah satu persyaratan penerjemahan yang tercantum dalam langkah-langkah
adaptasi yang dipaparkan oleh International Test Commission (ITC) dalam buku
Hambleton (dalam Supratiknya & Susana, 2010) terdapat pada pedoman
(guideline) D1 yang berisi:
1) Penerjemah harus berkompeten dan berpengalaman dalam bahasa asli dan
bahasa tujuan, salah satu syarat penting yaitu penerjemah harus memiliki
sertifikasi dan sudah berpengalaman.
2) Materi tes yang akan diadaptasi harus dipahami secara mendalam oleh
penerjemah.
3) Pengetahuan dasar mengenai pengembangan instrumen dan penulisan aitem
harus dimiliki oleh penerjemah.
4) Proses adatasi tes sebaiknya dilakukan oleh tim yang terdiri dari beberapa
orang, termasuk penerjemah.
5) Untuk menjamin hasil terjemahan, sebaiknya dibentuk tim dengan
anggota-anggota yang menguasasi kedua bahasa tersebut.
Tahapan terakhir proses penerjemahan yaitu memeriksa efektivitas hasil
terjemahan. Dua rancangan yang sering digunakan dalam penerjemahan tes adalah
forward translation dan back translation. Pada forward translation, penerjemah
menerjemahkan alat ukur secara linguistik, kemudian penerjemah lain memeriksa
ketepatan terjemahan dan merevisinya jika ada kekurangan. Rancangan yang lebih
lain ke dalam bahasa aslinya, kemudian dilakukan pemeriksaan kesetaraan antara
bahasa asli dengan bahasa terjemahan yang diterjemahkan kembali ke bahasa
aslinya.
c. Tahap empirik – memastikan kesetaraan psikometrik
Tujuan utama dalam mengadaptasi tes yaitu mendapatkan alat ukur dengan
bahasa yang berbeda tetapi tetap ekuivalen secara psikometrik dengan bahasa
aslinya. Hambleton, Swaminathan, & Rogers dalam ulasan yang dipaparkan oleh
Purwono mengungkapkan bahwa aitem dalam alat ukur dianggap ekuivalen bila
individu yang berasal dari kelompok yang berbeda tetapi memiliki kemampuan
yang sama, juga memiliki kemungkinan yang sama untuk menjawab suatu aitem
dengan benar walaupun menggunakan versi bahasa yang berbeda (dalam
Supraktinya & Susana, 2010). Ekuivalensi alat tes dapat dilihat melalui
Differential Item Functioning (DIF) pada aitem dalam suatu alat tes. Contoh
prosedur untuk mengidentifikasikan DIF yaitu prosedur General Linear Model
(GLM), prosedur Mantel-Haenszel (MH), logistic regression, dan prosedur
berbasis Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan confirmatory
factor analysis (CFA).
d. Tahap revalidasi dan restandarisasi
Alat tes yang telah diterjemahkan harus divalidasi kembali oleh pihak
pengembang dan pengguna tes. Hal ini disebabkan karena suatu tes belum tentu
tepat digunakan untuk tujuan yang berbeda, dan juga tes yang tepat untuk
digunakan di suatu lingkungan sosial budaya belum tentu tepat di lingkungan
24
berdasarkan norma baru yang berasal dari populasi di mana tes akan digunakan,
bukan menggunakan norma yang dikumpulkan oleh negara tempat tes versi asli
dikembangkan.
Penelitian ini tidak melaksanakan semua prosedur adaptasi alat ukur
dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga peneliti. Prosedur yang akan
dilaksanakan dalam penelitian ini hanya sampai pada tahap empirik untuk
memeriksa kesetaraan psikometrik alat tes TEIQue-ASF versi bahasa Indonesia.
Analisis tersebut akan dilakukan dengan metode CFA yang akan dibahas lebih
lanjut di bab III.
C. PROPERTI PSIKOMETRI
Suatu alat tes dikatakan akurat bila alat tes tersebut dapat memberikan
informasi yang berkaitan dengan subjek yang mengisinya. Keakuratan alat tes
dapat dilihat dari validitas dan reliabilitasnya. Semakin tinggi validitas dan
reliabilitas suatu alat tes, maka informasi yang diberikan oleh tes tersebut akan
semakin akurat (Azwar, 2003). Berikut ini akan dijelaskan keterangan mengenai
validitas dan reliabilitas.
1. Validitas
Validitas merupakan pertimbangan yang paling dasar dan paling penting
dalam psikometri. Dalam pengukuran psikometri modern, validitas diartikan
sebagai suatu tingkatan akumulasi bukti yang dapat mendukung interpretasi skor
tes sesuai dengan tujuan yang diusulkan (American Educational Research
skor tes pada situasi asesmen tertentu, bukan mengutamakan alat ukur tertentu, (b)
membuktikan validitas melibatkan proses evaluatif yang formal, serta (c) validitas
juga merupakan sebuah eksplorasi dalam psikologi.
Konsep psikometri modern juga memandang validitas sebagai konsep yang
menyatu, sehingga tidak ada lagi tipe-tipe validitas yang berbeda seperti validitas
konten, validitas berdasarkan kriteria, ataupun validitas konstruk. Namun,
akumulasi bukti validitas harus bersumber dari konten, konstruk, kriteria eksternal
dan internal yang berhubungan dengan skor tes. Semua bukti ini akan
dikumpulkan selama dilakukan evaluasi validitas. Proses evaluasi validitas harus
mengumpulkan bukti dari berbagai sumber. Berikut ini adalah sumber-sumber
bukti validitas (Osterlind, 2010):
a. Bukti validitas berdasarkan konten tes
Blueprint tes berupa deskripsi dari konten dan format proses respon pada
suatu alat tes akan sangat bermanfaat untuk pengguna tes, terutama dalam proses
evaluasi validitas. Dasar teori dan praktik serta ketentuan administrasi alat tes juga
berguna dalam mengumpulkan bukti konten tes. Selain itu, informasi konten tes
dapat juga diperoleh melalui penilaian ahli (expert judgement), bukti berdasarkan
teori, dan juga spesifikasi lainnya.
b. Bukti validitas berdasarkan proses respon
Bukti validitas berdasarkan proses respon yaitu memeriksa proses mental
maupun kognitif pengisi tes yang berkemungkinan menghasilkan suatu respon
terhadap stimulus alat ukur yang diberikan. Tes akan menjadi bersalahan ketika
26
menjawab suatu aitem dengan benar, tetapi pengisi tes merespon dengan benar
aitem tersebut hanya berdasarkan hafalan yang telah ada dalam kepalanya.
Beberapa metode yang dapat mengukur proses respon yaitu berdasarkan variabel
laten dan proses kausal suatu konstruk termasuk analisis variabel laten, structural
equation modeling (SEM), hierarchical linear modeling (HLM), analisis dugaan
(conjectural analysis), analisis lintasan (path analsis), dan beberapa jenis
meta-analisis.
c. Bukti validitas berdasarkan struktur internal
Memeriksa struktur internal suatu tes juga berarti telah mencakup
keseluruhan tujuan validitas. Pertimbangan terhadap struktur internal dimulai dari
memeriksa teori yang mendasari suatu konstruk. Bila teori tersebut hanya fokus
pada satu dimensi, maka penetapan konstruk dapat dilakukan dengan cermat.
Beberapa contoh metode psikometrik yang dapat dilakukan untuk memeriksa
struktur internal suatu alat tes, apakah benar hanya mengukur satu dimensi atau
multidimensi yaitu (1) analisis faktor dan metode reduksi data yang lain, (2)
cluster analysis, principal component analysis, (3) Confirmatory Factor Analysis
(CFA), (4) multitrait-multimethod matrix (MTMM), (5) IRT, (6) strategi seperti
generalisasi teori ataupun indeks reliabilitas lainnya.
d. Bukti validitas berdasarkan hubungan dengan variabel lain
Bukti validitas berdasarkan hubungan dengan variabel lain yaitu bukti yang
diperoleh melalui hubungan antara skor tes dengan kriteria yang diperiksa, atau
related evidence), keduanya menunjukkan korelasi antara alat tes dengan suatu
kriteria eksternal. Bukti prediktif dapat diperoleh dari perbandingan antara skor
tes saat ini, dengan kriteria yang akan muncul pada skor tes lain yang akan datang.
Sedangkan bukti konkuren diperoleh ketika skor tes dan kriteria bisa serentak
didapatkan bersamaan. Sampai sekarang perbedaan penggunaan kedua bukti ini
belum ditetapkan, tetapi kedua jenis bukti tersebut harus menjadi bagian dari
pengukuran validitas. Pada dasarnya, korelasi tetap harus ditentukan dalam
evaluasi validitas.
e. Bukti validitas berdasarkan pertimbangan eksternal
Salah satu bukti validitas berdasarkan pertimbangan eksternal yaitu validitas
tampang (face validity). Validitas ini mengacu pada bagaimana tampang alat tes
ketika diberikan kepada partisipan, sehingga partisipan tidak merasa asing
ataupun merasa bahwa alat tes tidak dipersiapkan secara profesional. Validitas ini
tidak dapat diuji dengan metode statistik, tetapi tetap harus dipertimbangkan oleh
pembuat alat tes. Bukti validitas lain yaitu validitas generalisasi, sebagai suatu
tingkatan bukti validitas berdasarkan validitas kriteria yang dapat
digeneralisasikan pada situasi yang baru, tanpa harus melakukan penelitian lebih
jauh mengenai validitas pada situasi baru tersebut.
2. Reliabilitas
Reliabilitas merupakan suatu gambaran teknis kesalahan pengukuran.
Reliabilitas mengestimasi seberapa bagus sampel dalam stimulus pengukuran
yang tepat dapat merepresentasikan seluruh stimulus yang memungkinkan pada
28
pengukuran ketika pengukuran dilakukan berulang kali terhadap sampel yang
sama, maka reliabilitas suatu alat tes semakin baik. Suatu alat tes yang semakin
reliabel menunjukkan bahwa hasil pengukuran memiliki eror yang semakin kecil
sehingga tingkat kepercayaan terhadap hasil pengukuran semakin tinggi
(Osterlind 2010).
Suatu alat tes dikatakan reliabel dapat dilihat dari seberapa tinggi angka pada
koefisien reliabilitasnya. Koefisien reliabilitas dilambangkan dengan simbol rxx’,
yang mana r merupakan koefisien korelasi antara tes pertama (x) dengan tes
kedua (x’) yang paralel dengan tes pertama. Jika kedua tes yang dianggap paralel
memiliki koefisien korelasi yang semakin tinggi, maka alat tes tersebut semakin
reliabel. Koefisien reliabilitas memiliki nilai minimal 0 dan maksimal 1. Namun
dalam prakteknya, nilai 0 dan 1 jarang di temukan, bahkan tidak pernah dijumpai.
(Azwar, 2003).
Reliabilitas yang tinggi diperlukan ketika suatu alat tes digunakan untuk
membuat keputusan yang penting terhadap seseorang. Reliabilitas yang lebih
rendah boleh digunakan pada tahap awal pemeriksaan dari serangkaian tes yang
akan diberikan. Untuk tes inteligensi, koefisien reliabilitas yang dianggap baik
adalah di atas 0.9, sedangkan untuk tes prestasi atapun tes kepribadian berkisar
antara 0.7 hingga 0.9. Sedangkan reliabilitas dia bawah 0.7 dianggap rendah
sehingga kurang disarankan untuk digunakan (Murphy & Davidshofer, 2003).
Secara tradisional, beberapa metode yang dapat digunakan untuk
a. Metode tes – ulang (test-retest)
Metode ini menggunakan tes yang sama sebanyak dua kali untuk partisipan
yang sama dengan waktu yang berbeda.
b. Metode bentuk paralel (parallel-forms/alternate-forms)
Metode ini menggunakan dua bentuk tes yang paralel, baik isi aitem secara
kualitas ataupun kuantitasnya serta kedua tes memiliki tujuan ukur yang sama,
diberikan kepada partisipan berturut-turut setelah tes yang satu selesai dikerjakan
c. Metode konsistensi internal (internal consistency),
Teknik ini menggunakan hanya satu bentuk tes dan dilakukan sekali saja pada
sekelompok partisipan (single-trial administration), sehingga estimasi reliabilitas
dilakukan dengan membelah aitem menjadi dua atau lebih bagian. Cara membelah
aitem tergantung pada sifat dan fungsi alat tes, serta jenis skala pengukuran yang
digunakan dalam alat tes tersebut. Beberapa cara pembelahan yaitu pembelahan
aitem menjadi dua bagian (formula Spearman Brown, Rulon), pembelahan tiga
bagian (formula Kristof), dan pembelahan multibagian (formula Alpha Cronbach).
Penelitian ini akan menggunakan reliabilitas berdasarkan metode konsistensi
internal dengan pembelahan multibagian, yaitu alpha cronbach. Dasar
penggunaan formula ini yaitu pertimbangan bahwa tes yang diberikan kepada
partisipan hanya satu kali saja, serta jumlah aitem alat tes yang tidak terlalu
banyak. Koefisien alpha cronbach dapat dihasilkan dengan bantuan program
BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini akan menjelaskan metode penelitian yang mencakup jenis penelitian
yang digunakan, populasi, sampel, teknik pengambilan sampel, instrumen
penelitian, prosedur penelitian, serta teknik analisis data yang akan digunakan.
A. JENIS PENELITIAN
Penelitian mengenai karakteristik psikometrik alat tes TEIQue-ASF
menggunakan metode penelitian kuantitif yang analisisnya lebih ditekankan pada
data-data numerikal dan diolah dengan metode statistik. Jenis penelitian yang
digunakan merupakan penelitian deskriptif, yaitu data penelitian dianalisis dan
hasilnya disajikan secara sistematik sehingga kesimpulan penelitian lebih mudah
ditarik (Azwar, 2010). Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak perlu mencari
korelasi, membuat hipotesis, ataupun menguji hipotesis, melainkan hanya
mendeskripsikan hasil penelitian berdasarkan hasil analisis data saja (Suryabrata,
2010). Properti psikometri yang akan dideskripsikan dalam penelitian ini yaitu
bukti validitas berdasarkan struktur internal dan reliabilitas alat tes TEIQue-ASF.
B. POPULASI, SAMPEL, DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
1. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan kelompok subjek yang akan dikenai generalisasi dari
hasil penelitian yang dilakukan. Sedangkan sampel merupakan bagian dari
populasi, yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan populasinya (Azwar, 2010).
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar
mengajarnya di kota Medan, Sumatera Utara. Sampel yang digunakan yaitu
pelajar SMP dan SMA berusia 13 sampai 17 tahun di sekolah Wiyata Dharma.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode penentuan sampel secara bertingkat dengan tidak proporsional
(disproportional stratified sampling). Dengan teknik ini, penentuan sampel dari
tiap tingkat ditentukan terlebih dulu sehingga setiap tingkat terdiri dari jumlah
sampel yang sama banyak, namun tidak proporsional dengan jumlah populasinya.
Penelitian ini menggunakan sampel sebesar 500 orang, yaitu 100 sampel berusia
13 tahun, 100 sampel berusia 14 tahun, 100 sampel berusia 15 tahun, 100 sampel
berusia 16 tahun, dan 100 sampel berusia 17 tahun.
C. INSTRUMEN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan alat tes TEIQue-ASF yang dibuat oleh K.V.
Petrides untuk mengukur trait EI. TEIQue-ASF berjumlah 30 aitem, merupakan
versi pendek dari TEIQue-AF yang berjumlah 153 aitem. Alat tes TEIQue-ASF
menggunakan skala likert dengan 7 rentang. Pilihan angka semakin ke 1
menunjukkan semakin tidak sesuai dengan pernyataan yang diberikan, dan
semakin ke angka 7 menunjukkan semakin sesuai dengan pernyataan tersebut.
TEIQue-ASF akan menghasilkan skor global dari trait EI dengan berdasarkan
32
Tabel 1. 15 Faset Trait EI
No. Faset
1. Kemampuan adaptasi (adaptability) 2. Asertivitas (assertiveness)
3. Ekspresi emosi (emotion expression)
4. Pengelolaan emosi – pada orang lain (emotion management – others) 5. Persepsi terhadap emosi – diri sendiri dan orang lain
(emotion perception – self and others) 6. Regulasi emosi (emotion regulation) 7. Impulsivitas– rendah (impulsiveness – low) 8. Hubungan personal (relationship)
9. Penghargaan terhadap diri (self-esteem) 10. Motivasi diri (self-motivation)
11. Kesadaran sosial (social awareness) 12. Pengelolaan stres (stress management) 13. Trait empati (trait empathy)
14. Trair kebahagiaan (trait happiness) 15. Trait optimisme (trait optimis)
D. PROSEDUR PENELITIAN 1. Tahap Persiapan
Peneliti mengkaji literatur yang berhubungan dengan EI dan trait EI agar lebih
memahami teori yang akan menjadi dasar alat ukur TEIQue-ASF. Peneliti juga
melakukan penelaahan koeksistensi konstruk sebagai langkah pertama dalam
adaptasi, dengan mengumpulkan jurnal penelitian dan literatur yang mengkaji
kecerdasan emosional di Indonesia. Banyaknya penelitian dan literatur di bidang
ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial budaya di Indonesia sudah tidak asing
dengan topik ini. Selain itu, peneliti juga mengkaji literatur yang berhubungan
Tabel 2. Aitem Trait EI Versi Asli
12 Sometimes, I think my whole life is going to be miserable
17 I’m able to “get into someone’s shoes” and feel their emotions
22 Sometimes, I get involved in things I later wish I could get out of
28 Sometimes, I wish I had a better relationship with my parents
1 2 3 4 5 6 7
29 I’m able cope well in new environments 1 2 3 4 5 6 7 30 I try to control my thoughts and not worry too much
about things
34
2. Tahap Alih Bahasa
Proses penerjemahan alat tes TEIQue-ASF terdiri dari beberapa tahapan :
a. Mengunduh alat tes TEIQue-ASF dari psychometriclab.com serta meminta
izin dengan mengirimkan email kepada Dr. Petrides untuk menerjemahkan alat
ukurnya.
b. Proses penerjemahan aitem menggunakan desain back translation, yang terdiri
dari dua tahapan yaitu:
1) Menerjemahkan teks asli dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, dengan
melibatkan lembaga bahasa Inggris Sun Education Center.
2) Hasil terjemahan bahasa Indonesia diterjemahkan kembali ke dalam bahasa
Inggris oleh penerjemah lain, yaitu Lembaga Pusat Bahasa USU.
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan kesetaraan antara bahasa Inggris yang asli
dengan bahasa Inggris yang diterjemahkan dari bahasa Indonesia, dengan
mempertimbangkan kesetaraan maknanya. Perbandingan hasil terjemahan back
translation disajikan dalam tabel 3.
Tabel 3. Perbandingan Hasil back translation
No. Aitem Asli Bahasa Indonesia Bahasa Inggris II
Tabel 3. Perbandingan Hasil back translation (lanjutan)
No. Bahasa Inggris I Bahasa Indonesia Bahasa Inggris II
4
It is difficult for me to control my feeling
It is difficult for me to know exactly what i am thinking about
9 I’m comfortable with the way I look
36
Tabel 3. Perbandingan Hasil back translation (lanjutan)
No. Bahasa Inggris I Bahasa Indonesia Bahasa Inggris II
14
It is difficult for me to cope with the
It is difficult for me to make me
motivated
19
Tabel 3. Perbandingan Hasil back translation (lanjutan)
No. Bahasa Inggris I Bahasa Indonesia Bahasa Inggris II
24 I feel good about
Kedua terjemahan tersebut dibandingkan untuk dilihat kesetaraan hasil
terjemahannya. Proses perbandingan hasil terjemahan dilakukan oleh lembaga
bahasa Inggris Sun Education Centre. Aitem yang diperlukan perbaikan adalah
aitem nomor 24 dan 30, seperti yang disajikan pada tabel 4.
Tabel 4. Revisi Aitem Berdasarkan Kesetaraan Hasil Terjemahan
No Terjemahan Awal Revisi aitem
24 Saya menyukai diri saya. Saya merasa nyaman dengan diri saya.
30 Saya mencoba mengendalikan pikiran saya untuk tidak terlalu merasa risau.
38
Aitem yang telah diperbaiki kemudian diberikan kepada 2 dosen untuk
melakukan professional judgment yaitu dosen dari fakultas Psikologi USU yang
berasal dari departemen Psikologi Perkembangan dan departemen Psikologi
Umum dan Eksperimen. Kedua dosen memeriksa validitas konten serta
memperbaiki kalimat menjadi lebih efektif. Validitas konten dilihat berdasarkan
blueprint yang tertera pada tabel 5 dan hasil professional judgement dapat dilihat
pada tabel 6.
Tabel 5. Blueprint Aitem TEIQue-ASF
No. Faset No. Aitem Jumlah
Pengelolaan emosi – pada orang lain
(emotion management – others)
11 26 2
5
Persepsi terhadap emosi – diri sendiri dan orang lain
(emotion perception – self and others)
9 Penghargaan terhadap diri
(self-esteem) 9, 24 - 2
10 Motivasi diri
(self-motivation) 3 18 2
11 Kesadaran sosial
(social awareness) 21, 6 - 2
12 Pengelolaan stres
(stress management) 15, 30 - 2
13 Trait empati (trait empathy) 17 2 2