• Tidak ada hasil yang ditemukan

Knowledge management system development for soybean’s pest at PUSTAKA (Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Knowledge management system development for soybean’s pest at PUSTAKA (Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination)."

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBANGUNAN SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN

HAMA KEDELAI PADA PUSAT PERPUSTAKAAN DAN

PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN

HENDRA YUNIAR

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA *

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pembangunan Sistem Manajemen Pengetahuan Hama Kedelai pada Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, November 2013 Hendra Yuniar NRP G651110411

(4)

RINGKASAN

HENDRA YUNIAR. Pembangunan Sistem Manajemen Pengetahuan Hama Kedelai Pada Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian.Dibimbing oleh YANI NURHADRYANI dan RETNO SRI HARTATI MULYANDARI.

Sistem manajemen pengetahuan adalah sebuah pengetahuan yang mempelajari bagaimana pengetahuan dikumpulkan, disimpan, dikelola dan disebarluaskan.Bagi sebuah organisasi atau perusahaan pengetahuan adalah sumberdaya yang penting.Oleh karena itu pengetahuan berusaha untuk dikelola agar dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kinerja bagi perusahaan atau organisasi.Melalui manajemen pengetahuanakan teridentifikasi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki sebuah organisasi, mengetahui sumber daya dalam organisasi, menggunakan kembali pengetahuan yang sudah ada, mempercepat proses penciptaan pengetahuan baru dari pengetahuan yang sudah ada, dan menjaga pergerakan organisasi tetap stabil meskipun terjadi arus keluar-masuk SDM. Selain itu pengetahuan yang sudah didapatkan organisasi tidak akan hilang karena tidak disimpan dalam bentuk pengetahuan tacit, dan semua orang dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut agar tercipta sebuah standar prosedur kerja yang sama meskipun orang yang mengetahui pengetahuan tersebut tidak berada ditempat.

Salah satu komoditas penting yang harus dikembangkan di Indonesia adalah kedelai.Hal ini karena kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan berkembangnya industri pangan. Produk pangan berupa tahu, tempe dan kecap membutuhkan pasokan kedelai yang cukup besar untuk menjaga kelangsungan ketersediaan bahan pangan tersebut. Indonesia sampai saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan kedelai tersebut, sehingga harus melakukan impor kedelai dari negara lain. Salah satu ancaman dalam usaha untuk mencapai target swasembada kedelai adalah gangguan hama. Oleh karena itu memiliki dokumentasi pengetahuan yang konfrehensif tentang hama kedelai dengan teknologi pengendaliannya yang mudah diakses merupakan suatu kebutuhan guna mengurangi kerugian akibat serangan hama kedelai.

Metodologi penelitian ini diambil dari sistem manajemen pengetahuan life cyle yang terdiri atas beberapa tahapan proses yaitu evaluasi kms, membentuk tim, menangkap pengetahuan, merancang cetak biru sistem, mengembangkan sistem dan menguji aplikasi.

Hasil pembangunan sistem manajemen pengetahuan hama kedelai dapat dijadikan sebagai sarana untuk menangkap, mengumpulkan, menyimpan, memelihara dan menyebarkan pengetahuan. Diharapkan dengan adanya sistem ini maka para petani dapat memperoleh informasi seputar hama kedelai yang kemudian dapat diterapkan dalam usaha pertanaman kedelai. Selain itu sistem ini dapat membantu para penyuluh dan para pakar hama kedelai untuk memperkenalkan hama kedelai dan teknologi pengendalinya kepada para petani, sehingga akan mengurangi kerugian petani ketika bertanam kedelai.

(5)

SUMMARY

HENDRA YUNIAR. Knowledge Management System Development for Soybean’s Pest at PUSTAKA (Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination). Supervised byYANI NURHADRYANI and RETNO SRI HARTATI MULYANDARI.

Knowledge management system is knowledge that learning how knowledge collected, stored, managed and disseminated. For an organization or enterprise, knowledge is an important resource. Those,well-organized knowledge established in order to provide value-added for enterprise or organization performance improvement. Through knowledge management, knowledgesfrom organization would be identified, resources of the organization would be known, existing knowledge could be re-used, accelerate the process of creating new knowledge from existing knowledge, and maintain the organization stability due to human resourceshifting. Besides, the existing organization knowledge would not disappear because it is not stored as a tacit knowledge, and everyone couldutilize the knowledge to create standard procedures even though the people who has the tacit knowlede are not in a place.

One of the most important commodities that should be developed in Indonesia is soybean. This is because the soybean demand continues to increase along with the food industry development. Food products such as tofu, tempeh and soy sauce require large enough amount to supply its sustainability. Recently, Indonesia has not been able to maintain the soybeans demands, so imports must be done. One of the threats in an attempt to achieve self-sufficiency soybeans are a nuisance pest. There are 111 species of soybean pests that been recorded. Therefore, have a comprehensive documentation knowledge about soybean pest control technology-that is easily accessible-is a major issue in order to reduce losses due to pests.

This research methodology adapted from life cyle knowledge management system that consists of several stages.The stages are knowledge management system evaluation, teamforming, knowledgecapturing, blueprintsdesigning, systemdeveloping, andsystem applications testing process.

Result of the soybean pest knowledge management system development could be used as a means to capture, collect, store, preserve and disseminate knowledge. Hopefully with this system, farmers could obtain more information about soybean pests that applied in the soybean cultivation. Furthermore, the system could assist trainers and experts to introduce the soybean pests and their control technology to the farmers, so that farmers could reduce the losses when planting soybeans.

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)

PEMBANGUNAN SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN

HAMA KEDELAI PADA PUSAT PERPUSTAKAAN DAN

PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN

HENDRA YUNIAR

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Komputer

pada

Program Studi Ilmu Komputer

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Tesis : Pembangunan Sistem Manajemen Pengetahuan Hama Kedelai pada Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Nama : Hendra Yuniar

NIM : G651110411

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr Yani Nurhadryani, SSi, MT

Tanggal ujian : 16 September 2013 Tanggal lulus :

Dr Ir Retno Sri Hartati Mulyandari, MSi

Ketua Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Ilmu Komputer

(10)
(11)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 sampai September 2013 ini ialah sistem manajemen pengetahuan, dengan judul Pembangunan Sistem Manajemen Pengetahuan Hama Kedelai pada Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Yani Nurhadryani, SSi, MT dan Ibu Dr Ir Retno Sri Hartati Mulyandari, MSi, selaku pembimbing, serta Bapak Prof Dr Muhammad Arifin yang telah banyak memberi saran. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Ir Wedanimbi Tengkano, MS, Ibu Ir Sri Wahyu Indiati, MS dan bapak Suntono, SP, peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Malang, yang telah banyak membantu selama penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada bapak, ibu serta seluruh keluarga atas segala doa dan dukungannya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(12)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ii

DAFTAR GAMBAR iii

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 4

Ruang Lingkup 4

Manfaat Penelitian 4

2 TINJAUAN PUSTAKA 5

Data Informasi dan Pengetahuan 5

Sistem Manajemen Pengetahuan 5

Penciptaan dan Perubahan Bentuk Pengetahuan 6

Elemen Manajemen Pengetahuan 7

Menangkap Pengetahuan 8

Pengkodean Pengetahuan 10

Arsitektur Manajemen Pengetahuan 10

Metode Membangun Sistem Manajemen Pengetahuan 11

Hama Kedelai 14

3 METODE 17

Evaluasi Sistem Manajemen Pengetahuan 17

Membentuk Tim Manajemen Pengetahuan 18

Menangkap Pengetahuan 18

Merancang Cetak Biru Sistem 18

Mengembangkan Sistem Manajemen Pengetahuan 19

Menguji Sistem Manajemen Pengetahuan 20

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 23

Evaluasi Sistem Manajemen Pengetahuan 23

Membentuk Tim Manajemen Pengetahuan 25

Menangkap Pengetahuan 25

Merancang Cetak Biru Sistem 31

Mengembangkan Sistem Manajemen Pengetahuan 34

Menguji Sistem Manajemen Pengetahuan 49

(13)

Kesimpulan 51

Saran 51

DAFTAR PUSTAKA 53

LAMPIRAN 57

RIWAYAT HIDUP 96

DAFTAR TABEL

1 Jenis serangga hama yang berasosiasi selama masa pertumbuhan 15

2 Anggota tim sistem manajemen pengetahuan 18

3 Pengujian lapisan arsitektur sistem 20

4 Daftar bagian yang akan diuji 21

5 Tingkat terpenuhinya klasifikasi manajemen pengetahuan 24

6 Anggota tim sistem manajemen pengetahuan 25

7 Decision tables menentukan jenis pengendalian hama 31

8 Production rules penanaman pohon perangkap 33

9 Aktor yang terlibat dan use case 34

10 Pengujian lapisan arsitektur sistem 49

DAFTAR GAMBAR

1 Model konversi pengetahuan Nonaka dan Takeuchi (1995) 6

2 Model sistem manajemen pengetahuan 7

3 Metodologi siklus hidup sistem manajemen pengetahuan 17

4 Knowledge map menentukan jenis hama kedelai 32

5 Diagram use case 33

6 Halaman antar muka pengguna 35

7 Halaman hama kedelai 36

8 Halaman musuh alami 37

9 Halaman hasil penelitian 37

10 Halaman mencari hama 38

11 Halaman teknologi pengendali 40

(14)

13 Halaman ahli kedelai 42

14 Halaman histori konsultasi 43

15 Halaman administrator 44

16 Halaman menjawab pertanyaan 44

17 Lapisan hak akses 45

18 Lapisan collabarative filtering dan intelligence 45

19 Lapisan transport 46

20 Pencarian hama 47

21 Solusi teknologi pengendali hama 48

22 Sarana berkomunikasi 48

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hama kedelai yang menyerang pertanaman kedelai 59 2 Serangan dan status hama kedelai berdasarkan umur tanaman 60 3 Hama kedelai dan bagian tanaman yang diserang 61

4 Ciri-ciri hama kedelai 62

5 Gejala serangan hamakedelai pada areal pertanaman 64

6 Teknologi pengendali hama kedelai 66

7 Diagram aktifitas 69

8 Diagram sekuensial 73

9 Diagram kelas 77

10 Struktur program sistem manajemen pengetahuan 78

11 Tabel daftar uji blackbox 79

12 Daftar pertanyaan wawancara 80

(15)

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pengetahuan merupakan sumberdaya yang penting.Setiap organisasi berupaya untuk menghimpun pengetahuan yang dimilikinya agar dapat dikelola dan memberikan nilai tambah berupa peningkatan performa atau kinerja organisasi.Pengetahuan yang dikelola dengan baik dapat meningkatkan kinerja suatu perusahaan, baik dari efektifitas kerja, efisiensi waktu dan dapat menunjang dalam pengambilan keputusan manajemen.Nonaka dan Takeuchi (1995) menyebutkan bahwa yang menjadi kunci keberhasilan perusahaan-perusahaan di Jepang adalah kemampuan dan keahlian mereka dalam mengorganisasikan pengetahuan.Perusahaan Jepang memiliki kemampuan untuk menciptakan pengetahuan baru, menyebarkannya dalam organisasi dan mewujudkannya dalam produk, jasa serta sistem.

Salah satu upaya mengelola pengetahuan adalah dengan menerapkan

knowledge management (KM). Melalui KM akan teridentifikasi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki sebuah organisasi untuk meningkatkan kinerja dan menghasilkan berbagai inovasi. Menurut Munir (2008) untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari pengetahuan yang dimiliki, perusahaan seharusnya mengelola pengetahuan melalui manajemen pengetahuan.Melalui manajemen pengetahuan, pengetahuan yang dimiliki seorang karyawan tetap tinggal dan menjadi aset perusahaan meskipun secara fisik karyawan tersebut telah meninggalkan perusahaan.Mulyanto (2009) mengatakan implementasi manajemen pengetahuan dalam organisasi akan memberi manfaat bagi organisasi antara lain : mengetahui sumber daya dalam organisasi, menggunakan kembali pengetahuan yang sudah ada, mempercepat proses penciptaan pengetahuan baru dari pengetahuan yang sudah ada, dan menjaga pergerakan organisasi tetap stabil meskipun terjadi arus keluar-masuk SDM. Selain itu Tan (2010) menyebutkan keunggulan-keunggulan bagi sebuah organisasi yang menerapkan manajemen pengetahuan seperti : bahwa pengetahuan yang sudah didapatkan organisasi tidak akan hilang karena tidak disimpan dalam bentuk pengetahuan tacit, dan bahwa semua orang dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut agar tercipta sebuah standar prosedur kerja yang sama meskipun orang yang mengetahui pengetahuan tersebut tidak berada ditempat.

Indonesia adalah negara pertanian yang besar dengan luas lahan pertanian mencapai 70,20 juta ha (BPS 2008). Hampir 60% penduduknya tinggal didesa dengan kegiatan utama di sektor pertanian (Sudaryanto dan Rusastra 2006).Belum lagi didukung dengan alam yang subur.Tetapi produktivitas hasil pertanian Indonesia belum maksimal. Sehingga Indonesia harus mengimpor hasil pertanian dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.Ini adalah permasalahan yang dihadapi pertanian Indonesia.

(16)

sama terhadap sumber-sumber pengetahuan pertanian di Indonesia maka pertanian di Indonesia akan maju.

Salah satu komoditas pentingyang harus dikembangkan di negeri ini adalah kedelai.Hal ini karena kebutuhan kedelai terus meningkat seiring denganberkembangnya industri pangan. Produk pangan berupa tahu, tempe dan kecap membutuhkan pasokan kedelai yang cukup besar untuk menjaga kelangsungan ketersediaan bahan pangan tersebut. Sementara Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Untuk itu Indonesia terpaksa melakukan imporkedelai dari negara lain. Statistik lima tahun terakhir dari BPS menunjukkan nilai imporyang cukup besar yang dilakukan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Tercatat untuk tahun 2011 Indonesia terpaksa mengimpor kedelai sebesar 2 juta ton.

Kementerian Pertanian berupaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan memasukkannya dalam Renstra 2010-2014. Didalamnya dicanangkan target utama yang hendak dicapai, yang salah satunya adalah swasembada (kedelai, gula, daging sapi) dan swasembada berkelanjutan (padi dan jagung). Untuk mencapai target tersebut dilakukan langkah-langkah oleh pemerintah dalam upayanya memenuhi kebutuhan kedelai nasional pada tahun 2011 diantaranya melalui : (1) Penciptaan dan penelitian varietas unggul dimana telah dihasilkan satu varietas unggul baru, (2) Pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) kedelai seluas 300 ribu hektar yang dilaksanakan oleh 30 ribu kelompok tani, dan (3) Bantuan benih unggul bermutu sebanyak 12 ribu ton untuk pertanaman kedelai seluas 300 ribu hektar, (4) Bantuan benih melalui cadangan benih nasional (CBN) seluas 20 ribu hektar, (5) Pengembangan kedelai melalui GP3K seluas 73.500 hektar dan perluasan areal tanam/panen melalui GP3K seluas 51.000 hektar, dan (6) penyuluhan (Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2011).

(17)

Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) memerlukan mekanisme yang sistematis untuk memetakan, mengumpulkan dan mendokumentasikan agar aset pengetahuan, baik yang berupa pengetahuan yang bersifat explicit yang tertulis, terarsip baik cetak maupun elektronik dan pengetahuan yang bersifat tacit berupa pengalaman, skill dan pemahaman para peneliti ketika menangani hama kedelai dapat diakses dengan mudah. Mekanisme ini berupa aplikasi berbasis sistem manajemen pengetahuan dimana pengetahuan individu, kelompok dan organisasi dicapture, diciptakan, dikodifikasi, dibagi, diakses, diaplikasikan dan digunakan ulang dalam siklus manajemen pengetahuan.Selain itu guna mendukung PUSTAKA sebagai unit organisasi yang bertanggung jawab untuk menyebarluaskan hasil inovasi pertanian, ditengah-tengah peran penyuluh pertanian yang mengalami penurunan secara signifikan dari tahun ke tahun. Misalnya tahun 1999 penyuluh pertanian berjumlah 37.636 orang, berkurang menjadi 33.659 orang pada tahun 2001. Dan sampai akhir tahun 2009 jumlah penyuluh pertanian berkurang drastis menjadi 25.708 orang (Laporan Kinerja Kementerian Pertanian2011).

Pengembangan sistem manajemen pengetahuanhama kedelai pada PUSTAKA merupakan topik penelitian yang penting untuk dilakukan. Rancangan ini diharapkan dapat mendokumentasikan pengetahuan hama pada kedelai dengan teknologi pengendaliannya yang tersebar di berbagai institusi pemerintah, berbagai jurnal penelitian atau pengetahuan yang masih tersimpan dalam benak peneliti sehingga mudah diakses. Selain itu diharapkan dapat membantu para penyuluh pertanian menjalankan tugasnya.

(18)

Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah membangun sistem manajemen pengetahuan hama kedelai sebagai sarana untuk mendukung petani dan penyuluh lapang dengan menyajikan informasi tentang hama kedelai yang merupakan salah satu ancaman dalam usaha untuk mencapai target swasembada kedelai dan mengurangi kerugian ditingkat petani.

Ruang Lingkup

Kegiatan penelitian dilakukan denganmelakukan evaluasi sistem manajemen pengetahuan di PUSTAKA, membentuk timknowledge developer, menangkap pengetahuan yang tersimpan dalam jurnal-jurnal penelitian, buku-buku, prosiding dan benak para ahli yang dilakukan dengan wawancara dan kunjungan lapang, merancang cetak biru sistem, mengembangkan sistem dan menguji sistem.

Manfaat

Manfaat yang dapat diambil dari pembangunan sistem manajemen pengetahuan hama kedelai adalah :

1. Dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan tentang hama kedelai dan penanganannya bagi para petani dan penyuluh pertanian.Sehingga diharapakan petani dan penyuluh lapang dapat dengan mudah mendapatkan informasi tersebut.

2. Memiliki materi untuk membangun database yang lengkap tentang hama kedelai. Database hama kedelai sangat diperlukan mengingat saat ini belum ada database yang menghimpun pengetahuan tersebut. Hal ini menyebabkan petani dan penyuluh mengalami kesulitan untuk mendapatkan pengetahuan hama kedelai.

(19)

2 TINJAUAN PUSTAKA

Data Informasi dan Pengetahuan

Menurut Bergeron (2003) pada dasarnya data, informasi dan pengetahuan adalah konsep yang saling berhubungan.Data adalah angka atau atribut yang bersifat kuantitas yang berasal dari hasil observasi atau eksperimen.Informasi adalah kumpulan data yang telah diolah yang terkait dengan penjelasan dan interpretasi.Sedangkan pengetahuan adalah informasi yang telah diorganisasi untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman.

Secara garis besar pengetahuan terdiri atas 2 jenis, yaitu pengetahuan

explicit danpengetahuan tacit, yang dijabarkan sebagai berikut :

1. Pengetahuan explicit adalah pengetahuan yang dapat diekspresikan dengan kata-kata atau bilangan dan disimpan dalam dokumen atau database. Dalam organisasi, pengetahuan ini terdiri dari kebijakan, petunjuk prosedural, kertas putih, laporan, desain, strategi, tujuan dan misi. Ini adalah pengetahuan yang telah dikodekan (didokumentasikan) sehingga dapat didistribusikan kepada orang lain (Turban et al. 2005).

2. Pengetahuan tacit adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang baik berupa tindakan, pengalaman, maupun idelaisme. Pengetahuan ini bersifat sangat personal dan sulit dirumuskan sehingga membuatnya sangat sulit untuk dikomunikasikan atau disampaikan kepada orang lain. Perasaan pribadi, intuisi, bahasa tubuh, pengalaman fisik serta petunjuk praktis adalah contoh dari pengetahuan ini.

Sistem Manajemen Pengetahuan

Sistem manajemen pengetahuan adalah penggunaan teknologi informasi modern untuk sistematisasi guna meningkatkan dan mempercepat pengelolaan pengetahuan di dalam dan antar organisasi (Ahlawat2006). Sedangkan definisi menurut Laudon dan Laudon (2012) adalah kumpulan dari proses-proses yang dibangun didalam perusahaan untuk menciptakan, mengumpulkan, menyimpan, memelihara serta menyebarkan pengetahuan yang dimiliki oleh perusahaan.

Suatu sistem dikatakan sistem manajemen pengetahuan apabila sistem tersebut memiliki klasifikasi sebagai berikut (Elias dan Hassan 2004):

1. Adanya sistem untuk menemukan pengetahuan. Sebuah sistem manajemen pengetahuan yang baik haruslah mengandung sebuah modul untuk menemukan pengetahuan. Modul ini merupakan sebuah alat untuk para pengguna menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang dibutuhkan. Bisa berupa mesin pencari yang dapat digunakan untuk menemukan sebuah artikel.

(20)

3. Adanya sistem untuk berbagi pengetahuan. Yaitu sebuah modul dari aplikasi dimana aplikasi menyediakan akses untuk dapat mengambil pengetahuan. Bisa berupa aplikasi upload/download pengetahuan.

4. Adanya sistem untuk aplikasi pengetahuan. Yaitu bentuk pengetahuan yang tersedia dalam sebuah sistem sehingga mudah untuk diakses oleh mereka yang membutuhkan.

Penciptaan dan Perubahan Bentuk Pengetahuan

Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) penciptaan pengetahuan selalu dimulai dari individu. Pengetahuan tersebut dikumpulkan dan kemudian dibakukan dalam sebuah perusahaan sehingga dapat menjadi pengetahuan bagi orang lain. Dalam model ini terdapat empat model konversi pengetahuan yaitu :

Gambar 1 Model konversi pengetahuan Nonaka dan Takeuchi (1995) 1. Tacit knowledge ke tacit knowledge disebut dengan proses sosialisasi.

Tacit knowledge di share kepada orang lain dengan cara mengamati, mencontoh dan melatih tanpa mendokumentasikan dan mempublikasikan

knowledge tersebut.

2. Tacit knowledge ke explicit knowledge disebut dengan proses eksternalisasi.

Tacit knowledge di share kepada orang lain dengan

caramendokumentasikan pengetahuan dari para ahli sehingga mudah dimengerti oleh orang lain.

3. Explicit knowledge ke explicit knowledge disebut dengan proses kombinasi. Adalah proses mengubah laporan atau dokumen dalam bentuk kertas atau

hardcopy menjadi digital atau softcopy sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk media yang lain.

4. Explicit knowledge ke tacit knowledge disebut dengan proses internalisasi.

Explicit knowledge yang sudah ada dipelajari dan dipraktekkan untuk

(21)

Elemen Manajemen Pengetahuan

Menurut Setiarso et al. (2009) manajemen pengetahuan memiliki komponen yang saling terkait antara satu dengan yang lain, dan saling melengkapi. Komponen ini merupakan komponen penting yang dapat menentukan keberhasilan implementasi sistem.Tanpa komponen tersebut sistem manajemen pengetahuan tidak dapat berfungsi dengan baik. Komponen tersebut adalah : 1. Manusia, merupakan pemegang peranan yang penting. Tanpa ketersediaan

manusia yang berkompeten sulit untuk menjalankan proses manajemen pengetahuan. Oleh karena itu pengembangan kompetensi manusia dalam organisasi ditambah dengan pengetahuan peran dan tanggung jawab masing-masing dengan jelas dalam mengelola dan menjalankan pengetahuan merupakan hal pokok yang harus dikembangkan.

2. Proses, merupakan teknik pengambilan nilai-nilai pengetahuan ke kedalam suatu media dan kemudian didistribusikan ke setiap individu untuk digunakan kembali.Rangkaian proses dikenal dengan model SECI (Socialization, Externalization, Combination dan Internalization) dari Nonaka dan Takeuchi (1995).

3. Teknologi, diperlukan untuk membantu kolaborasi dan komunikasi yang terjadi dalam proses manajemen pengetahuandiantaranya dengan menangkap, menyimpan dan mempermudah menggunakan informasi. Oleh sebab itu perlu dibangun sarana pendukung kolaborasi berbasis teknologi seperti misalnya basis data penyimpanan, server, portal, atau perangkat teknologi informasi lainnya.

4. Content (isi), yaitu database knowledge dan dokumen yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugasnya.

(22)

Menangkap Pengetahuan

Langkah ini berupa menangkap pengetahuan baik dari dokumen-dokumen tercetak mengenai hama kedelai maupun dari para pakarnya. Jika pengetahuan itu berupa pengetahuan explicitmaka menangkap pengetahuan dilakukan dengan merubah dokumen berupa buku-buku, prosiding, hasil-hasil penelitian dan jurnal-jurnal menjadi dokumen yang dapat disimpan secara elektronik didalam sebuah database. Sementara untuk pengetahuan yang berada di dalam benak manusia sangat sulit untuk didokumentasikan. Oleh karena itu diperlukan sebuah proses untuk mengeluarkan pengetahuan yang berada di dalam kepala pemiliknya. Pengetahuan tersebut kemudian didokumentasikan. Proses untuk menggunakan pemikiran dan pengalaman para ahli yang kemudian didokumentasikan disebut dengan menangkap pengetahuan (Elias dan Hassan 2004).

Dalam upaya untuk menangkap pengetahuan yang berada didalam kepala manusia digunakan metode wawancara. Wawancara dapat dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu :

1. Terstruktur adalah bentuk wawancara dengan mempergunakan pertanyaan yang jawabannya telah disediakan. Contohnya pertanyaan pilihan ganda, pertanyaan dengan skala urutan (1-10) dll.

2. Tidak terstruktur adalah bentuk wawancara dengan jawaban bebas dan biasanya digunakan dalam kasus untuk mencari solusi permasalahan.

3. Semi terstruktur adalah wawancara dengan bentuk jawaban yang telah disediakan, tetapi juga diberi kebebasan untuk mengekspresikan jawabannya.

Selain itu ada beberapa teknik lain yang dapat digunakan untuk menangkap pengetahuan tacityaitu :

1. On-Site Observation

Adalah sebuah teknik menangkap pengetahuan dengan cara mengamati, merekam dan menafsirkan proses pemecahan masalah yang dilakukan para ahli secara langsung. Dalam teknik ini hendaknya pengembang pengetahuan lebih banyak diam dan mencatat, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, menghindari memberikan nasehat dan berdebat dengan para ahli.Teknik ini memiliki keunggulan dibanding dengan wawancara dimana dalam teknik ini pengembang pengetahuan mendapatkan contoh nyata pemecahan permasalahan lengkap dengan teknik dan prosedur yang digunakan para ahli.Tetapi juga memiliki kelemahan diantaranya tidak semua ahli mau diamati ketika melakukan pekerjaannya dan hasil pengamatan berkurang oleh adanya kesenjangan antara pengamatan dan waktu pencatatan.

2. Brainstorming

Adalah teknik untuk mendapatkan sebanyak mungkin ide-ide berupa solusi untuk memecahkan suatu masalah dengan melibatkan 2 orang ahli atau lebih.Dalam teknik ini para ahli diminta untuk sebanyak mungkin melemparkan ide-ide pemecahan masalah tetapi tidak diperkenankan untuk berdebat mempertahankan ide-ide.

(23)

Adalah teknik untuk mendapatkan sebanyak mungkin ide-ide berupa solusi untuk memecahkan suatu masalah dengan melibatkan 2 orang ahli atau lebih dengan dibantu oleh perangkat komputer.Dengan perangkat komputer para ahli bisa langsung melemparkan ide-ide pemecahan masalah tanpa harus menunggu giliran untuk berbicara.

4. Protocol Analysis

Adalah teknik untuk mendapatkan ide-ide dengan mengumpulkan skenario dari para ahli dengan meminta para ahli mengungkapkannya secara verbal mengenai proses pengambilan keputusan yang mereka lakukan.

5. Consensus Decision Making

Teknik pengambilan keputusan dengan melakukan diskusi yang mengacu kepada pemecahan masalah, menciptakan sudut pandang yang sama terhadap masalah serta memikirkan tindakan yang paling mungkin dilakukan berdasarkan suatu kondisi tertentu dimana hal tersebut merupakan keputusan yang dibuat dalam kelompok dan disetujui bersama. Pada teknik ini para ahli yang terlibat diberikan kesempatan yang sama dan memadai untuk menyampaikan pandangannya. Ide-ide tersebut kemudian didiskusikan secara bersama-sama sehingga didapatkan solusi sebagai hasil keputusan bersama.Teknik ini bisa jadi sangat membosankan karena memakan waktu yang panjang.

6. Nominal Group Technique

Teknik pengambilan keputusan yang menggunakan suatu pertemuan yang terstruktur dengan cara mengumpulkan ide-ide dari tiap peserta yang kemudian diberikan voting dan rangking terhadap ide-ide yang mereka pilih. Ide yang dipilih adalah yang paling banyak skor-nya, yang berarti merupakan konsensus bersama.

7. Delphi Method

Suatu teknik untuk mendapatkan solusi terbaik dengan cara melakukan survei kepada para pakar dengan memberikan kuesioner untuk mengumpulkan pendapat para pakar untuk menyelesaikan suatu masalah. Hasil dari kuesioner tersebut akan dievaluasi ulang untuk menyusun kuesioner berikutnya, dan seterusnya.

8. Repertory Grid

Grid adalah suatu skala untuk mengukur elemen-elemen dari masalah dimana grid dipakai untuk menangkap dan mengevaluasi model dari pakar.

9. Concept Mapping

Pemetaan suatu konsep dengan menggunakan titik dan garis untuk menghubungkan titik-titik tersebut.Sebuah titik merepresentasikan suatu konsep dan sebuah garis merepresentasikan hubungan antar konsep tersebut.Tujuan dari pemetaan ini adalah merancang struktur yang kompleks, menghasilkan ide, mengkomunikasikan ide, dan untuk mendiagnosa kesalahpahaman.

10. Blackboarding

(24)

yang digunakan untuk menyimpan semua solusi sementara dan data-data penting lain yang berhubungan dengan pemecahan masalah tersebut.

Pengkodean Pengetahuan

Pengetahuan yang telah ditangkap kemudian didokumentasikan. Proses ini adalah melakukan dokumentasi pengetahuan tacit kedalam bentuk pengetahuan

explicit dimana pengetahuan tersebut diatur, dikategorikan, diindeks dan dapat diakses. Elias dan Hassan (2004) menyebutkan beberapa alat/prosedur yang dapat digunakan untuk melakukan pengkodean pengetahuan, yaitu :

1. Knowledge Mapadalah sebuah representasi visual dari suatu pengetahuan dimana dalam knowledge map dijabarkan kejadian yang saling terhubung antara satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian proses.

2. Decision Treeadalah suatu pohon keputusan dengan titik dan garis yang

menunjukkan kondisi dan tindakan yang dapat dilakukan.

3. Decision Tablesadalah suatu tabel yang berisi matriks dari beberapa kondisi, aturan dan tindakan yang dapat dilakukan. Digunakan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan. Misalnya dengan kondisi A dan aturan B maka akan dilakukan tindakan C.

4. Framesdigunakan untuk melakukan pengkodean pengetahuan melalui

pengalaman sebelumnya

5. Production Rulesadalah pernyataan kondisional untuk menentukan tindakan yang akan diambil dalam kasus tertentu. Sintaksnya adalah : IF(premise) THEN(action).

6. Case-Based Reasoningadalah teknik yang mencatat dan

mendokumentasikan suatu kasus dan mencari kasus yang sesuai untuk memecahkan kasus baru yang dibawakan ke pakar. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kasus dari masa lalu yang paling mirip dengan kasus yang dihadapi sekarang. Dokumentasi dari kasus-kasus tersebut akan diklasifikasikan sehingga jika ada kasus baru bisa dicari kasus yang paling mirip untuk kemudian dipelajari dan diambil tindakan.

Arsitektur Manajemen Pengetahuan

Agar suatu sistem manajemen pengetahuan dapat menjalankan fungsinya untuk menciptakan, mendokumentasikan, menggolongkan dan menyebarkan pengetahuan, maka perlu dibuat arsitektur manajemen pengetahuan. Arsitektur itu terdiri dari lapisan-lapisan sebagai sebagai berikut (Elias dan Hassan 2004):

1. User Interface Layeradalah lapisan yang menghubungkan orang dengan

sistem manajemen pengetahuan. Biasanya web browser digunakan sebagai antarmuka antara pengguna dan sistem manajemen pengetahuan. Dalam membuat lapisan ini yang perlu diperhatikan adalah konsistensi, relevansi, kejelasan visual, navigasi dan kegunaan. Hal ini patut diperhatikan agar tampilan muka berfungsi dengan baik.

2. Authorized Access Controladalah lapisanyangbertugas melakukan

(25)

danmenjamin aksesyang berwenang untukpengetahuanyang ditangkap dandisimpan dalamrepositoriorganisasi. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah adanya penyalahgunaan wewenang. Misalnya penggunaan

password, firewall, security dan authentication.

3. Collaborative Intelligence and Filteringadalah lapisan tempat fungsi-fungsi yang akan membantu pengguna dalam menggunakan sistem manajemen pengetahuan, belajar pengetahuan baru dan berkontribusi pengetahuan dalam sistem manajemen pengetahuan. Fungsi tersebut contohnya fungsi pencarian artikel, pencarian dokumen, fungsi rekomendasi dan filtering.

4. Knowledge Enabling Aplications adalah lapisan tempat penyimpanan

direktori keterampilan, sarana berkolaborasi, konferensi video, sistem pendukung keputusan, dan whiteboard digital.

5. Transport Layer adalah lapisan yang menyediakan kemampuan networking

dan distribusi manajemen pengetahuan. Biasanya memuat teknologi seperti

web server, e-mail server, pendukung untuk alur video dan audio, dan sebagainya.

6. Middleware adalah lapisan yang berfungsi sebagai penghubung sistem

manajemen pengetahuan dengan database. Biasanya berupa suatu software. ODBC (Open Database Connectivity) merupakan suatu middleware yang memungkinkan pengguna dapat mengakses data dari database dengan cara menerjemahkan data query dalam suatu perintah yang dimengerti oleh database.

7. The Physical Layer adalah lapisan paling bawah yang menyediakan fasilitas penyimpanan database operasional, database hasil diskusi, web forum dan arsip dokumen digital yang terintegrasi dengan sistem manajemen pengetahuan.

Metode Membangun Sistem Manajemen Pengetahuan

Agar sebuah sistem manajemen pengetahuan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka dalam membangun sebuah sistem haruslah dilakukan dengan perencanaan yang baik.Beberapa model dalam membangun sistem manajemen pengetahuan telah dihasilkan, diantaranya :

1. Model Zack

Siklus manajemen pengetahuan Zack terdiri dari tahapan-tahapan:

a. Akuisisi data/informasi, merupakan tahap pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan sistem jemput bola dengan menghubungi langsung dan melakukan survei.

b. Perbaikan, merupakan tahap perbaikan data yang telah berhasil dikumpulkan

c. Penyimpanan/pengambilan, merupakan tahap penemuan kembali pengetahuan yang disimpan dalam database.

d. Distribusi, merupakan tahap berbagi pengetahuan.

(26)

2. Model Bukowitz dan Williams

Pada model ini adalah bagaimana suatu organisasi mampu menghasilkan pengetahuan, mampu memelihara pengetahuan, dan mampu mengumpulkan pengetahuan yang sehingga mampu menciptakan nilai baru bagi pengetahuan. Secara umum model Bukowitz dan William dimulai dari mendapatkan pengetahuan(Get), menggunakan (use), mempelajari (learn), mengkontribusikannya (contribute), mengkaji (asses), membangun (build/sustain) atau divestasi (divest). Penjelasan model tersebut adalah sebagai berikut :

a. Dapatkan (Get): Terdiri dari mencari informasi yang diperlukan dalam rangkauntuk membuat keputusan, memecahkan masalah, atau berinovasi.

b. Gunakan (Use): Bagaimana menggabungkan informasi dengan cara baru danmenarik dalam rangka mendorong inovasi organisasi. Fokusnya adalah terutama pada individu dan kemudian pada kelompok. c. Belajar (learn): mengacu pada proses belajar formal dari pengalaman

sebagaisarana untuk menciptakan keunggulan kompetitif.

d. Kontribusi (contribute): berhubungan dengan mencari karyawan untukmemposting apa yang telah mereka pelajari ke basis pengetahuan komunal(misalnya, repositori)

e. Mengkaji (asses): lebih banyak berurusan dengan kelompok dan tingkatorganisasi. Penilaian merujuk pada evaluasi modal intelektual danmensyaratkan bahwa organisasi mendefinisikan misi-kritis pengetahuan danpeta modal intelektual saat ini terhadap masa depan yang membutuhkanpengetahuan.

f. Membangun dan Mempertahankan (build/sustain): memastikan bahwamodal intelektual masa depan organisasi akan menjaga organisasi yang layakdan kompetitif.

g. Divestasi (divest): Organisasi tidak harus berpegang pada aset-fisik atau intelektual jika mereka tidak lagi menciptakan nilai.

3. Model McElroy

Tahapan pembentukan sistem manajemen pada model ini meliputi :

a. Knowledge production, merupakan tahap penciptaan pengetahuan

dalam sebuah organisasi. Bagaimana suatu data diolah menjadi informasi kemudian dengan bercampur dengan pengalaman, intuisi diolah menjadi pengetahuan.

b. Organizational Knowledge, merupakan tahap mengumpulkan

pengetahuan-pengetahuan yang tersebar sehingga menjadi sebuah pengetahuan organisasi.

c. Knowledge Integration, merupakan tahap menyatukan kumpulan

pengetahuan menjadi sebuah sistem manajemen pengetahuan. 4. Model Wiig

Tahapan pembentukan sistem manajemen pada model ini meliputi :

a. Build Knowledge, adalah tahap membangun pengetahuan yang

(27)

b. Hold Knowledge,adalah tahap mengumpulkan berbagai sumber pengetahuan yang telah berhasil ditangkap

c. Pool Knowledge, adalah tahap bagaimana kumpulan

pengetahuan-pengetahuan yang telah ditangkap bisa ditempatkan dalam satu tempat seperti misalnya database.

d. Use Knowledge adalah tahap mengimplementasikan pengetahuan.

5. Tiwana dan Amrit (2000) dengan 10 langkahknowledge management roadmap. Langkah-langkahnyasebagai berikut :

a. Analisa infrastruktur yang ada, yaitu dengan melakukan identifikasi manajemen pengetahuan yang sedang berjalan.

b. Menyelaraskan antara manajemen pengetahuan dengan strategi bisnis, yaitu bagaimana membuat manajemen pengetahuan mampu mendukung strategi bisnis suatu perusahaan/organisasi.

c. Merancang arsitektur dan disain manajemen pengetahuan, yaitu menentukan platform apa yang akan digunakan sesuai dengan kriteria manajemen pengetahuan, yaitu :

(i) Efficient protocols, yaitu memungkinkan pengetahuan di share

dengan aman dan cepat.

(ii) Portable operation, yaitu memungkinkan sistem dapat berjalan pada semua sistem operasi yang berbeda.

(iii)Consistent and easy to use, yaitu mudah digunakan oleh pengguna. (iv) Scalability, yaitu pada saat pengguna semakin banyak maka sistem

harus dapat memenuhi permintaan seluruh pengguna.

(v) Legacy integration, yaitu sistem harus dapat mengintegrasikan data ke interface.

(vi) Security, yaitu mempunyai pengamanan terhadap data.

(vii)Flexibility, yaitu mudah untuk diubah sesuai kebutuhan pengguna. d. Mengaudit aset dan sistem pengetahuan yang ada, yaitu dengan

mengetahui pengetahuan apa saja yang penting untuk disimpan pada aplikasi dan pengetahuan apa saja yang sudah atau belum didokumentasikan.

e. Membentuk tim untuk perancangan dan pengembangan aplikasi sistem beserta tugas, tanggung jawab dan karakteristik yang dibutuhkan dari masing-masing tim.

f. Membuat cetak biru sistem, yaitu membuat perencanaan untuk membangun aplikasi dengan menggambarkan workflow, interaksi antar modul dan fungsi-fungsi yang akan dibangun pada aplikasi.

g. Membangun sistem, yaitu membangun lapisan arsitektur sistem seperti lapisan antar muka pengguna, lapisan otentik dari pengguna, lapisan collaborative intelligence, lapisan aplikasi, lapisan transport, lapisan

middleware dan lapisan repository.

h. Prototipe dan uji coba, yaitu uapaya menguji prototipe yang telah dibuat dan memperbaiki jika ada kesalah nantinya. Dilakukan dengan menggunakan metode Result-Driven Incremental (RDI) atau perbaikan yang didorong oleh hasil.

(28)

bergantung kepada teknologi saja, tetapi juga ditentukan oleh perubahan kultur dan perubahan didalam struktur penghargaan.

j. Melakukan evaluasi sistem, yaitu mengukur keberhasilan sistem apakah sudah sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pengguna.

6. Elias dan Hassan (2004) dengan Knowledge Management System Life Cycle. Dengan tahapan pembentukan sistem manajemen sebagai berikut : a. Evaluasi infrastruktur berjalan, yaitu dengan melakukan analisa

infrastruktur manajemen pengetahuan yang sedang berjalan sehingga infrastruktur tersebut dapat dikembangkan dan diperbaiki sesuai dengan kebutuhan.

b. Pembentukan tim, yaitu dengan melakukan identifikasi stakeholder

yang kemudian mereka dilibatkan dalam pembuatan sistem manajemen pengetahuan.

c. Menangkap pengetahuan, yaitu menangkap pengetahuan baik berupa pengetahuan tacit maupun explicit untuk kemudian di dokumentasikan. Dilakukan dengan merubah buku, jurnal, prosiding menjadi cd atau file-file elektronik. Selain itu bisa juga dilakukan dengan wawancara atau alat-alat lainnya seperti kunjungan lapang, sarasehan dan yang lainnya. d. Merancang blueprint sistem, yaitu menggambarkan secara detail

mengenai rancangan dari prototype aplikasi sistem manajemenen pengetahuan yang akan dikembangkan.

e. Menguji aplikasi, yaitu melihat apakah sistem yang telah dibuat dapat berfungsi dengan baik atau tidak untuk kemudian melakukan perbaikan jika ada kekurangan.

f. Menerapkan sistem yang telah dibuat didalam organisasi atau institusi. g. Mengelola perubahan.

h. Evaluasi sistem, yaitu mengukur keberhasilan sistem apakah sudah sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pengguna.

Hama Kedelai

(29)

Tabel 1 Jenis serangga hama yang berasosiasi selama fase pertumbuhan kedelai di Indonesia

Jenis Hama Umur tanaman (hari)

<10 11-30 31-50 51-70 >70

+ = kurang membahayakan ++ = membahayakan

+++ = sangat membahayakan

(viii) = kemungkinan kehadirannya kecil ? = belum ada data

Sumber : Tengkano dan Soehardjan (1993); Iman dan Tengkano (2002)

(30)

Kerusakan akibat serangan hama kedelai ditentukan oleh beberapa faktor yaitu tinggi rendahnya populasi hama, bagian tanaman yang dirusak, daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan umur tanaman (Marwoto 2007). Sementara gagalnya petani dalam mengatasi hama kedelai disebabkan oleh lemah dalam identifikasi hama dan gejala serangan, tindakan pengendalian yang terlambat dan aplikasi insektisida yang kurang tepat. Selain itu faktor petani juga turut andil menimbulkan masalah hama, seperti (Marwoto 2007) :

1. Keragaman waktu tanam : sering menimbulkan masalah karena stadia pertumbuhan yang dikehendaki hama selalu ada.

2. Keragaman benih : keberhasilan pengembangan kedelai tidak luput pada penggunaan bibit kedelai yang bebas hama dan penyakit.

3. Keragaman ketersediaan air : semakin kekurangan air semakin parah serangan hama dan penyakit tanaman.

4. Keragaman kondisi kesuburan tanah.

5. Keragaman pengendalian hama : semakin beragam cara pengendaliannya semakin besar tingkat ketidakefektifannya.

(31)

3 METODE

Metodologi penelitian ini diambil dari sistem manajemen pengetahuan life cyle Elias dan Hassan (2004) yang terdiri atas beberapa tahapan proses yaitu evaluasi kms, membentuk tim, menangkap pengetahuan, merancang cetak biru sistem, mengembangkan sistem dan menguji aplikasi. Penelitian dilakukan di Kebun percobaan dan laboratorium hama Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Malang pada bulan Mei 2013. Metodologi siklus hidup sistem manajemen pengetahuan ditampilkan pada gambar 3.

Evaluasi KMS berjalan

Membentuk Tim KM

Menangkap Pengetahuan

Merancang cetak biru KM

Mengembangkan KM

Menguji Aplikasi KM

Gambar 3Metodologisiklus hidup sistem manajemen pengetahuan Elias dan Hassan (2004)

Evaluasi Sistem ManajemenPengetahuan di Pustaka

Dengan melakukan analisa sistem manajemen pengetahuan di PUSTAKA. Sistem manajemen pengetahuan yang ada dievaluasi sehingga didapatkan gambaran bahwa sistem manajemen pengetahuan yang sekarang tidak/kurang mendukung. Hal-hal yang akan dievaluasi keberadaannya sesuai dengan klasifikasi sistem menurut Elias dan Hassan (2004) adalah :

(32)

Membentuk Tim Manajemen Pengetahuan

Struktur tim dibuat beserta tugas, tanggung jawab dan karakteristik yang dibutuhkan dalam rangka pengembangan aplikasi manajemen pengetahuan. Pembentukan tim pengembang manajemen pengetahuan sangat penting. Tanpa tim yang baik dan berkualitas maka manajemen pengetahuan yang dihasilkan tidak maksimal. Berikut anggota tim pengembangpengetahuan :

Tabel 2 Anggota tim sistem manajemen pengetahuan

Nama Tanggung jawab

Pakar kedelai Memberikan pengetahuannya tentang hama kedelai baik pengetahuan tacit maupun explicit yang dimilikinya. Selain itu juga sebagai validator pengetahuan yang telah ditangkap

Penyuluh Memberikan pengetahuannya tentang hama kedelai baik pengetahuan tacit maupun explicit yang dimilikinya

Sistem analist Memastikan sistem secara keseluruhan dapat berjalan

Programer Mengimplementasikan seluruh pengetahuan yang diberikan pakar kedalam sebuah aplikasi

Menangkap Pengetahuan

Langkah ini berupa menangkap pengetahuan dari para pakar dibidangnya.Jika pengetahuan itu berupa pengetahuan explicitmaka menangkap pengetahuan dilakukan dengan merubah dokumen berupa buku-buku, prosiding, hasil-hasil penelitian dan jurnal-jurnal menjadi dokumen yang dapat disimpan secara elektronik didalam sebuah database. Sementara jika pengetahuan tacit yang tersimpan di benak para ahli, menangkap pengetahuan dilakukan dengan metode :

1. Interview

Adalah bentuk menangkap pengetahuan yang dilakukan dengan melakukan tanya jawab langsung kepada pakar terhadap permasalahan tertentu.

2. On-site observation

Adalah sebuah proses mengamati, mencatat, dan menterjemahkan proses penyelesaian masalah oleh para pakaryang dapat dilakukan dengan carakunjungan lapang, survei, dan observasi yang selanjutnya dirangkum dalam sebuah tulisan.Metode ini merupakan hal yang paling ideal karena kita langsung berhadapan dengan permasalahan dan tindakan pemecahan dan dilakukan langsung oleh pakarnya, sehingga diharapkan tidak terjadi perbedaan persepsi dengan pakarnya.

Merancang Cetak Biru Sistem Manajemen Pengetahuan

Langkah ini merupakan upaya untuk mendokumentasikan pengetahuan tacit

(33)

yang bisa digunakan untuk melakukan kodifikasi pengetahuan pada penelitian ini, yaitu :

1. Knowledge Map adalah sebuah representasi visual dari suatu pengetahuan dimana dalam knowledge map dijabarkan kejadian yang saling terhubung antara satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian proses.

2. Decision Tables adalah suatu tabel yang berisi matriks dari beberapa

kondisi, aturan dan tindakan yang dapat dilakukan. Digunakan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan. Misalnya dengan kondisi A dan aturan B maka akan dilakukan tindakan C.

3. Production Rules adalah pernyataan kondisional untuk menentukan

tindakan yang akan diambil dalam kasus tertentu. Sintaksnya adalah : IF(premise) THEN(action).

Pengetahuan tacit yang telah di ubah bentuknya menjadi pengetahuan

explicit kemudian digambarkan secara detail mengenai rancangan dari prototype

aplikasi sistem manajemen pengetahuan yang akan dikembangkan. Rancangannya direpresentasikan berupa :

1. Diagram use case

merupakan pemodelan untuk menggambarkan kelakuan (behavior) sistem yang akan dibuat. Diagram use case mendeskripsikan interaksi antara satu atau lebih aktor dengan sistem yang akan dibuat.

2. Diagram activity

Menggambarkan berbagai alur aktivitas dalam sistem yang akan dirancang, bagaimana masing-masing alur berawal, decision yang mungkin terjadi dan bagaimana mereka berakhir.

3. Diagram Sequence

Digunakan untuk menggambarkan urutan event dan waktu dari suatu pesan yang terjadi antar objek.

4. Diagram Class

Menggambarkan struktur sistem dari segi pendefinisian kelas-kelas yang akan dibuat untuk membangun sistem.

Mengembangkan Sistem Manajemen Pengetahuan

Merupakantahap untuk membuat sistem dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan MySQL sehingga program dapat berjalan.Pengembangan sistem manajemen pengetahuan dilakukan dengan membuat arsitektur sistem. Berikut arsitektur sistem manajemen pengetahuan :

1. Membuat interface antar muka pengguna yang mempunyai fitur konsistensi, relavansi, kejelasan visual, usability dan kemudahan navigasi. Lapisan ini merupakan penghubung antara pengguna dengan sistem.

2. Membuat lapisan akses dan authentication yang menjaga keamanan serta menjamin akses yang berwenang bagi pengetahuan yang ditangkap yang disimpan dalam repository.

(34)

4. Membuat lapisanknowledge enabling aplications yaitu lapisan tempat penyimpanan direktori keterampilan, sarana berkolaborasi, konferensi video, sistem pendukung keputusan, dan whiteboard digital.

5. Membuat lapisantransport yaitu lapisan yang menyediakan kemampuan networking dan distribusi manajemen pengetahuan. Biasanya memuat teknologi seperti web server, e-mail server, pendukung untuk alur video dan audio, dan sebagainya.

6. Membuat lapisanmiddleware yaitu lapisan yang berfungsi sebagai penghubung sistem manajemen pengetahuan dengan database.

7. Membuat lapisanphysicalyaitu lapisan yang menyediakan fasilitas penyimpanan database operasional, database hasil diskusi, web forum dan arsip dokumen digital yang terintegrasi dengan sistem manajemen pengetahuan.

Menguji Sistem

Pengujian dilakukan terhadap arsitektur sistem manajemen pengetahuan yang telah dibuat. Pengujian dilakukan untuk memastikan bahwa sistem manajemen pengetahuan hama kedelai dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sistem manajemen dapat berfungsi dengan baik hanya apabila lapisan-lapisan arsitektur dapat berfungsi dengan baik.

Tabel 3 Pengujian lapisan arsitektur sistem

No. Lapisan Deskripsi uji

1. User interface Kemudahan navigasi, kejelasan visual,

konsistensi, relavansi dan usability

2. Authorized access control Hak akses administrator

Hak akses pakar

3. Collaborative intelligence Pencarian teknologi pengendali hama

and filtering Pencarian jurnal penelitian

Pencarian hama berdasarkan bagian terserang

4. Knowledge enabling Aplikasi pengetahuan berjalan

application

5. Transport Facebook yang dapat diakses

Twitter yang dapat diakses Email yang dapat dikirim

6. Middleware Database yang dapat diupdate

(35)

Selain itu pengujian juga dilakukan terhadap perangkat lunak dengan menggunakan pendekatan black box testing. Pada pendekatan ini perangkat lunak diuji dari segi spesifikasi fungsional tanpa menguji desain dan kode program.Pengujian dimaksudkan untuk mengetahui apakah fungsi-fungsi, masukan dan keluaran sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan.

Tabel 4 Daftar bagian yang akan diuji

No Deskripsi uji Kondisi awal Skenario uji 1. Menampilkan hal. utama

untuk ke admin

Hal. utama Masuk hal. admin 2. Keluar ke hal. utama Hal. login Memilih menu logout 3. Menampilkan hal. hama Hal. utama Memilih menu hama 4. Menampilkan hal. predator Hal. utama Memilih menu predator 5. Menampilkan hal. library Hal. utama Memilih menu library 6. Menampilkan hal. identifikasi

hama

Hal. utama Memilih menu identifikasi hama 7. Menampilkan hal. teknologi

pengendali hama

Hal. utama Memilih menu teknologi pengendali hama

9. Menampilkan hal. pakar Hal. utama Memilih menu pakar 10. Menampilkan hal. forum Hal. utama Memilih menu forum 11. Menampilkan hal. ciri hama Hal.

identifikasi

Memilih menu ciri hama 12. Menampilkan hal. daerah

serangan

Hal.

identifikasi

Memilih menu daerah serangan

13. Menampilkan hal. fase tanaman

Hal.

identifikasi

Memilih menu fase tanaman

14. Menampilkan hal. status hama

Hal.

identifikasi

Memilih menu status hama

15. Menampilkan hal. gejala serangan

Hal.

identifikasi

Memilih menu gejala serangan

16. Menampilkan hal. hama yang menyerang

Hal.

identifikasi

Memilih menu jenis hama

17. Menampilkan hal. tindakan Hal.

identifikasi

Memilih menu tindakan 18. Menampilkan hal. benih

toleran

Hal. kendali Memilih menu benih 19. Menampilkan hal. predator Hal. kendali Memilih menu predator 20. Menampilkan hal.perangkap Hal. kendali Memilih menu

perangkap 21. Menampilkan hal. pohon

inang

Hal. kendali Memilih menu inang 22. Menampilkan hal. gulma Hal. kendali Memilih menu gulma 23. Menampilkan hal. nabati Hal. kendali Memilih menu nabati 24. Menampilkan hal. ambang

kendali

Hal. kendali Memilih menu ambang 25. Menampilkan hal. insektisida Hal. kendali Memilih menu

(36)
(37)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Evaluasi Sistem Manajemen Pengetahuan di PUSTAKA

Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) adalah unit kerja dibawah Kementerian Pertanian yang memiliki tugas pokok melaksanakan pengelolaan perpustakaan dan penyebarluasan informasi pengetahuan dan teknologi pertanian. Unit kerja ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. B/1305/M.PAN17/2005. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 299/Kpts/OT.140/7/2005, tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian, PUSTAKA merupakan unsur penunjang departemen yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. Unit kerja ini memiliki dua fungsi yaitu sebagai perpustakaan pusat dalam lingkup intern Kementerian Pertanian dan sebagai lembaga yang harus menyebarluaskan informasi teknologi pertanian.

Sebagai sebuah perpustakaan pusat dalam lingkup intern Kementerian Pertanian, PUSTAKA dituntut untuk memiliki koleksi-koleksi hasil penelitian dalam bidang pertanian. Pengadaan bahan pustaka untuk koleksi perpustakaan dilakukan dengan pembelian (termasuk langganan) dan pertukaran.Selain itu diperoleh juga dari hibah/hadiah bahan pustaka dari yayasan atau badan-badan internasional. Koleksi-koleksi tersebut dalam bentuk tercetak seperti buku dan majalah, maupun dalam bentuk keping cd dan pangkalan data elektronik. Berikut koleksi keping cd yang tersedia:

1. AGRIS, berisi abstrak literatur hasil penelitian pertanian dari seluruh dunia yang dihimpun oleh FAO (Food and Agriculture Organisation);

2. CAB Abstrak, produk dari CABI (Center for Agricultural and Biosciences International) berisi pangkalan data bibliografis hasil penelitian bidang pertanian, kehutanan, kesehatan gizi, dll;

3. AGRICOLA, berisi pangkalan data bibliografi dari literatur bidang pertanian yang dibuat oleh NAL (National Agricultural Library, USDA); 4. TROPAG & RURAL, berisi literatur bidang pengembangan pertanian,

kehutanan, manajemen lingkungan daerah tropik, dll, yang diterbitkan oleh KIT (Koninklijke Institute voor de Tropen) Netherlands;

5. Statistik Indonesia (BPS), menyajikan data dari berbagai bidang dilengkapi dengan ulasan deskriptif dan penjelasan teknis dari bidang bersangkutan; 6. TEEAL (The Essential Electronic Agricultural Library), memuat 132

majalah dengan teks lengkap (full-text) dan 14 judul monograf terbitan FAO;

7. Journal of Biological Chemistry, diterbitkan oleh American Society of Biochemistry and Molecular Biology, Inc.;

(38)

Sedangkan pangkalan data yang tersedia adalah :

1. Pangkalan data pertanian Indonesia, memuat informasi bibliografis dan abstrak pertanian Indonesia;

2. Pangkalan data penelitian yang sedang berjalan, memuat informasi tentang penelitian pertanian yang sedang berjalan di lingkup Badan Litbang Pertanian.

3. Katalog majalah, memuat informasi mengenai judul, volume dan nomor majalah yang dimiliki PUSTAKA;

4. Pangkalan data teknologi pertanian, memuat informasi teknologi pertanian; 5. Pangkalan data komoditas pertanian;

6. Untuk memperkaya koleksi, PUSTAKA melanggan ProQuest, sebuah penyedia jasa database online yang menyediakan akses ke ratusan jurnal ilmiah.

Kompetensi utama PUSTAKA sesuai dengan visi dan misinya adalah penyebarluasan informasi teknologi pertanian. Beberapa kegiatan telah dilakukan, seperti pengumpulan berbagai sumber informasi hasil penelitian dalam bidang pertanian baik tercetak maupun dalam bentuk digital untuk kemudian menyebarluaskan informasi tersebut melalui beragam media seperti penerbitan warta, buletin, jurnal atau melalui media elektronik seperti web. Web PUSTAKA berisi informasi hasil-hasil penelitian dan teknologi pertanian yang ditujukan untuk para peneliti, mahasiswa, pengusaha, penyuluh pertanian, petani serta masyarakat luas. Layanan web tersebut berisi koleksi hasil-hasil penelitian pertanian yang berhasil dihimpun.

Salah satu layanan PUSTAKA adalah Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia.Layanan ini berisi kumpulan pengetahuan mengenai hasil-hasil penelitian dan inovasi teknologi yang dihasilkan unit pelaksana teknis lingkup Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian dan lembaga terkait lainnya.Informasi yang terkandung didalamnya terdiri dari aspek teknis, sosial budaya, ekonomi, lingkungan dan kebijakan yang menyangkut tanaman pangan. Tabel 5 Tingkat terpenuhinya klasifikasi manajemen pengetahuan dalam sistem

yang ada di PUSTAKA

Klasifikasi Sistem yang berjalan Keterangan Adanya sistem untuk

menemukan pengetahuan

Berupa mesin pencari (searching)

Sudah memenuhi klasifikasi KMS Adanya sistem untuk

menangkap pengetahuan

Pengetahuan baru yang berhasil ditangkap dimasukkan secara manual kedalam database

Belum memenuhi klasifikasi KMS Adanya sistem untuk

berbagi pengetahuan

Berupa tampilan dokumen yang dapat didownload

Sudah memenuhi klasifikasi KMS Adanya sistem untuk

aplikasi pengetahuan

Tampilan web statis Belum

memenuhi KMS Arsitektur sistem

berjalan

Arsitektur kmssudah terdapat didalamnya

(39)

Membentuk Tim Manajemen Pengetahuan

Tim manajemen pengetahuan dibentuk untuk dapat merealisakan sistem yang akan dibuat. Oleh karena itu tim ini haruslah diisi oleh orang-orang yang memiliki keahlian dibidangnya masing-masing. Berikut anggota tim manajemen pengetahuan :

Tabel 6 Anggota tim manajemen pengetahuan

Nama Tanggung jawab

Prof. Arifin Memberikan validasi pengetahuan hama kedelai yang berhasil ditangkap dan validasi pengetahuan yang berhasil ditangkap

Ir. Wedanimbi Tengkano, MS

Memberikan pengetahuannya tentang hama kedelai baik pengetahuan tacit maupun explicit

yang dimilikinya.

Ir. Sri Wahyu Indiati, MS Memberikan pengetahuannya tentang hama kedelai baik pengetahuan tacit maupun explicit

yang dimilikinya.

Suntono, SP Memberikan pengetahuannya tentang hama kedelai baik pengetahuan tacit maupun explicit

yang dimilikinya Dr. Yani Nurhadryani,

SSi, MT

Memastikan sistem secara keseluruhan dapat berjalan

Dr. Ir. Retno Sri Hartati Mulyandari, MSi

Memastikan sistem secara keseluruhan dapat berjalan

Suskamiyadi S.Kom, Supriyadi S.Kom

Mengimplementasikan seluruh pengetahuan yang diberikan pakar kedalam sebuah aplikasi

Menangkap Pengetahuan

Untuk mendapatkan pengetahuan yang menyeluruh tentang hama kedelai yang sangat diperlukan dalam pembuatan aplikasi manajemen pengetahuan dilakukan dengan berbagai cara :

1. Studi literatur

Menangkap pengetahuan explicit yang terdapat pada buku-buku, prosiding dan jurnal-jurnal penelitian ilmiah seputar hama kedelai. Pengetahuan

explicit dalam bentuk buku-buku dan jurnal-jurnal dijadikan pengetahuan

explicit dalam bentuk file-file yang dapat disimpan dalam database. Berikut buku dan jurnal penelitian yang telah berhasil ditangkap pengetahuannya : a. Pedoman penerapan rekomendasi pengendalian hama terpadu tanaman

kedelai di Indonesia.

b. Petunjuk bergambar untuk identifikasi hama dan penyakit kedelai di Indonesia edisi kedua.

c. Buku pegangan hama-hama kedelai di Indonesia.

(40)

e. Hama, penyakit dan masalah hara pada tanaman kedelai f. Pedoman umum PTT kedelai

g. Pengendalian kutu kebul pada kedelai (Marwoto dan Inayati h. Pengendalian kepik coklat pada kedelai (Prayogo)

i. Pengendalian hama kedelai dalam era perubahan iklim global (Marwoto dan Inayati)

j. Status hama penggerek pada tanaman kedelai (Indiati et al) k. Pengendalian kutu kebul pada kedelai (Inayati dan Marwoto)

l. Efektifitas biji mimba dan insektisida kimia dalam pengendalian lalat kacang pada tanaman kedelai (Indiati)

m. Biologi Aphis glycines pada beberapa tingkat umur tanaman kedelai (Rusli R)

n. Penggerek polong kedelai etiella zinckenella dan strategi pengendaliannya di Indonesia (Baliadi, W. Tengkano dan Marwoto) o. Lalat penggorok daun, Liriomyza sp. hama baru pada tanaman kedelai

di Indonesia (Y. Baliadi dan W. Tengkano)

p. Strategi dan komponen teknologi pengendalian ulat grayak pada tanaman kedelai (Marwoto dan Suharsono)

q. Tingkat kerusakan ekonomi hama kepik punggung bergaris pada kedelai (M. Arifin dan W. Tengkano)

2. Wawancara

Wawancara dilakukan sebagai upaya menangkap pengetahuan tacit yang berada di benak para ahli hama kedelai. Ahli-ahli ini dipilih karena keterlibatan mereka yang sangat intens terhadap penelitian hama kedelai di Indonesia. Wawancara dilakukan pada bulan Mei 2013 di Balitkabi Malang. a. Ir. Wedanimbi Tengkano, MS

Ibu Wimbi adalah ahli peneliti utama bidang hama dan penyakit tanaman. Gelar sarjana pertanian diperoleh dari Institut Pertanian Bogor jurusan teknik pertanian dan pendidikan S-2 diselesaikan diperguruan yang sama pada jurusan entomologi. Ibu Wimbi aktif menulis karya tulis ilmiah baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, sebagai penulis tunggal, utama dan sudah dipublikasikan dalam jurnal, majalah, semi ilmiah maupun dalam prosiding. Beberapa catatan penting hasil wawancara adalah sebagai berikut :

(41)

kepik hijau plautia. Dalam mengatasi hama kedelai ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan diantaranya :

(i) Sanitasi

Tanaman gulma dapat menjadi inang hama utama tanaman kedelai. Maka keberadaan gulma di lingkungan pertanaman merupakan ancaman bagi tanaman kedelai.Oleh karena itu keberadaan gulma harus diminimalisasi dengan melakukan sanitasi lingkungan pertanaman kedelai.

(ii) Tanam serentak

Dilakukan dengan selisih waktu antara tanam awal dan tanam akhir tidak lebih dari 10 hari dan dilakukan pada areal yang seluas-luasnya dengan batasan satu golongan air atau batasan alami seperti perkampungan. Tujuan dilakukannya tanam serempak adalah untuk membuat populasi hama berada pada titik serendah-rendahnya pada awal pertumbuhan menghindari sumber infestasi yang berasal dari tanaman yang tidak ditanam serempak dan juga untuk mengurangi populasi hama.

(iii)Pergiliran tanaman

Pergiliran tanaman dilakukan juga dengan tujuan untuk mengurangi kemungkinan terserang hama tanaman kedelai. Dengan melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman lain akan memutus mata rantai hama untuk berkembang biak. Misalnya dengan bertanam kedelai segera setelah bertanam padi akan mengurangi serangan hama, karena mayoritas kebanyakan hama kedelai tidak menyerang tanaman padi, dan kebanyakan hama padi tidak menyerang tanaman kedelai, kecuali kepik hijau.

(iv) Varietas tahan

Hendaknya digunakan varietas unggul yang tahan atau agak tahan terhadap hama serta disesuaikan dengan musim, jenis lahan dan kemasaman tanah. Varietas unggul tersebut hendaknya benih yang berlabel yaitu benih murni, tidak bercampur dengan varietas lain, berdaya kecambah minimal 10%, mulus, tidak keriput, tidak berlubang dan sehat (tidak terinfestasi cendawan atau terinfeksi virus).Selain itu jangan gunakan benih yang berasal dari pertanaman yang terserang virus, terutama SSV dan SMV karena keduanya dapat ditularkan dari biji.

(v) Tanaman perangkap

Tanaman perangkap dapat digunakan untuk menarik hama tanaman kedelai untuk bertelur dan berkembang biak dilingkungan tanaman perangkap, untuk kemudian dilakukan penyemprotan efektif untuk membunuh hama kedelai tersebut tanpa merugikan musuh alami tanaman kedelaiatau pemangkasan.

b. Ir. Sri Wahyu Indiati, MS

(42)

:Mengenal hama yang menyerang tanaman kedelai merupakan hal yang sangat penting bagi petani. Dengan memiliki pengetahuan tentang hama yang menyerang areal tanamannya, maka petani dapat menentukan teknologi pengendaliannya secara tepat. Hal ini menjadi sangat penting karena jika salah melakukan identifikasi hama yang menyerang areal tanaman kedelai maka bukannya hama tersebut mati tetapi kemungkinan besar serangan hama tersebut semakin banyak. Terkadang petani mengalami kesulitan untuk dapat mengenali suatu jenis serangga apakah termasuk hama, musuh alami hama kedelai atau hanya serangga biasa yang kehadirannya dilahan tanam tidak mengganggu. Biasanya petani yang berpengalaman akan mudah mengenal apakah serangga yang terdapat dilahan tanam kedelai termasuk hama atau bukan. Untuk dapat mengenal hama yang menyerang tanaman kedelai,berikut panduannya:

(i) Hama ordo Diptera

Ciri dari hama dari ordo ini adalah adanya sepasang sayap depan berbentuk membran. Di Indonesia serangga dari ordo ini yang membahayakan dari tanaman kedelai adalah lalat kacang

(Ophioymia phaseoli Tryon) Ordo ini bermetamorfosis secara

sempurna mulai dari telur, larva, pupa dan imago.Fase membahayakan dari ordo ini untuk pertumbuhan tanaman kedelai adalah fase larva. Larva berbentuk ramping, memanjang dengan panjang maksimum berukuran 3,75 mm. Larva yang baru keluar dari telur berwarna putih bening, sedangkan larva dewasa berwarna kekuningan. Selama dua hari larva menggerek sambil makan dalam keping biji atau daun pertama dan kedua.Selanjutnya menuju ke batang sambil menggerek ke pangkal akar melalui kulit batang.Ciri dari serangan lalat kacang adalah adanya bintik putih bekas tusukan alat peletak telur pada keeping biji, daun pertama atau daun kedua. Sementara akibat serangan hama ini adalah tanaman kering, kerdil dan mati. Jika dicabut dan dibuka batang pohon terdapat pupa. (ii) Hama ordo Lepidoptera

Serangga dewasa (imago) ordo ini umumnya menarik dan tidak berbahaya seperti kupu-kupu.Metamorphosis ordo ini sempurna yaitu melalui telur, larva, pupa dan imago.Diantara Lepidoptera

(43)

polong yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, kepalanya lebih besar dari badannya dan berwarna coklat atau hitam. Larva dewasa memiliki kepala yang lebih kecil dari badannya.Badan berwarna kehijau-hijauan dengan garis merah dan ditumbuhi bulu-bulu.Ulat pemakan daun berbeda ciri serangannya dengan penggerek polong. Larva muda makan jaringan daun dan pada instar tiga akan menuju polong untuk memakan biji. Larva merusak polong dengan cara menggigit kulit polong kemudian memakan biji. Pada waktu makan biasanya kepala dan sebagian badannya masuk kedalam polong.Tanda serangan berbeda dengan penggerek polong yaitu bekas makan yang tidak beraturan dan lebih besar serta tidak dijumpai larva didalam polong yang bijinya terserang.

(iii)Hama ordo Coleoptera

Serangga dewasa mempunyai sayap depan atau elytra keras dan secara normal menyelimuti abdomen. Metamorfosis ordo ini adalah metamorphosis sempurna yaitu telur, larva, pupa dan imago. Serangga ordo ini yang menjadi hama tanaman kedelai adalah kumbang daun kedelai. Kepala dan toraks berwarna kemarahan, sayap depan mengkilap berwarna hitam kebiru-biruan. Imago tidak bisa terbang, bila tanaman tersentuh imago akan menjatuhkan diri dan diam seakan-akan mati. Kumbang ini baik imago maupun larvanya merusak pucuk tanaman, daun, tangkai daun, bunga dan polong.

(iv) Hama ordo Homoptera

Anggota ordo ini ada yang bersayap dan ada yang tidak.Yang bersayap umumnya mempunyai dua pasang sayap.Metamorfosis ordo ini berlangsung sederhana. Di Indonesia anggota ordo ini yang menjadi hama penting tanaman kedelai belum ada, tetapi ada satu jenis yang menjadi vector virus penting yaitu Bemisia tabacci. Serangga ini berukuran kecil, tubuhnya berwarna putih dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Kerusakan akibat serangan hama ini disebabkan oleh imago dan nimfa yang menghisap cairan daun, sehingga daun menjadi kering dan mati. Selain kerusakan langsung akibat isapan nimfa dan imago, kutu kebul sangat berbahaya karena dapat bertindak sebagai vector virus yang merusak tanaman kedelai.

(v) Hama ordo Hemiptera

Ciri khas ordo ini adalah sayap depan yang pada bagian pangkal sayap menebal, menyerupai kulit, tetapi pada bagian ujung sayap tetap berbentuk membran. Serangga dari ordo ini yang menjadi hama penting pada tanaman kedelai di Indonesia hanya ada 3 jenis yaitu :Nezara viridula, Piezodorus hybneri dan Riptortus linearis

c. Suntono, SP

Gambar

Gambar 2 Model sistem manajemen pengetahuan Setiarso  et al. (2009)
Tabel 1 Jenis serangga hama yang berasosiasi selama fase pertumbuhan kedelai di Indonesia
Gambar 3Metodologisiklus hidup sistem manajemen pengetahuan
Tabel 2 Anggota tim sistem manajemen pengetahuan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Terkait dengan rumusan masalah yang telah disebutkan, maka tujuan dari penelitian ini, untuk menggambarkan resepsi pesan toleransi agama Santri pondok pesantren

context=kantorA callerid=ronald username=103 secret=103 host=dynamic [104] disallow=all allow=gsm type =friend context=kantorA callerid=ronald username=104 secret=104

Ini sesuai dengan Peraturan Kepala BNPB Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan BPBD, yang menyebutkan bahwa tugas dan fungsi Sekretariat BPBD

telah melakukan test program Tugas Akhir Mahasiswa tersebut di atas pada tanggal …..../06/2014. Dengan hasil : SUKSES

Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UMKM tahun 2013 tentang Perkembangan usaha mikro, kecil, menengah dan usaha besar pada tahun 2011 – 2012 terlihat bahwa struktur

• Yang penting untuk dilakukan adalah untuk bisa membedakan suatu parafilia dari tindakan yang dilakukan untuk mengetahui efek baru dan tidak secara rekuren atau

Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjakan kehadirat Allah SWT Sang Pencipta, pemilik alam semesta yang telah menganugerahkan kenikmatan, rahmat dan

Tesis yang berjudul “Efektivitas Teknik Restrukturisasi Kognitif Dalam Konseling KelompokUntuk Meningkatkan Konsep Diri Siswa(Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa