Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari

Universitas Komputer Indonesia

Oleh

DHIMAS SYAHENDRA

NIM : 13006004

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

(2)

i

Jembatan merupakan sarana transportasi darat yang penting. Oleh sebab itu, segala detail pendukung jembatan perlu diperhatikan. Salah satu pendukung jembatan adalah Expansion Joint atau Siar Muai. Skripsi ini bertujuan untuk mempelajari jenis-jenis dari Expansion Joint khususnya yang umum digunakan di Indonesia dan cara pemasangannya. Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode studi kepustakaan untuk mengumpulkan literatur.

Expansion Joint adalah bahan yang dipasang di antara dua bidang lantai beton untuk kendaraan atau pada perkerasan kaku dan dapat juga pada pertemuan antara konstruksi jalan pendekat sebagai media lalu lintas yang akan melewati jembatan supaya pengguna jalan merasa aman dan nyaman. Terdapat 2 model dari Expansion Joint, joint terbuka dan joint tertutup. Setiap model mempunyai jenis yang beragam dan setiap jenisnya mempunyai spesifikasi yang berbeda.

Analisis biaya, waktu, dan mutu dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis Expansion Joint.

Studi kasus yang dilakukan adalah perencanaan dan pemilihan Expansion Joint pada jembatan girder 1 bentang. Perhitungan dilakukan untuk mengetahui lebar celah Expansion Joint minimum. Didapatkan 4 jenis Expansion Joint yang memenuhi kriteria dari perhitungan yang dilakukan. Dari analisis yang dilakukan, Expansion Joint jenis Asphaltic Plug lah yang lebih unggul dari jenis lain dalam hal kenyamanan dan keamanan para pengguna jalan.

(3)

ii By

DHIMAS SYAHENDRA NIM: 13006004

STUDY PROGRAM OF CIVIL ENGINEERING

Bridge is one of important means in land transportation. Therefore, every supporting detail of the bridge need to be more concerned. One of the bridge’s supporting is Expansion Joint or Siar Muai. This mini thesis intend to study types of Expansion Joint in particular are commonly used in Indonesia and how to install. In writing this paper, writer used study literature method to collect the data.

Expansion Joint is a material which installed between two concrete floors or on rigid pavement as a media for road users in order to give a comfort and safety ride for them. There is two models of Expansion joint, open and closed joint. Each models has various types and each type has different specifications.

Analysis of cost, time, and quality conducted to determine the advantages and disadvantages of each type Expansion Joint.

Planning and selection of the Expansion Joint on a 1 span girder bridge is the case studies in this mini thesis. Calculations performed to determine the minimum width gap of Expansion Joint. From the calculations, it obtained 4 types of Expansion Joint that meet the criteria. From the analysis, Asphaltic Plug Joint is superior to the other types in terms of comfort and safety for the road users.

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji serta syukur kepada Allah SWT. atas segala rahmat

dan karunianya kepada Penulis sehingga selesai penulisan skripsi ini dan semoga

memberika ridho-Nya atas apa yang telah Penulis capai dan jalani dalam studi di

Universitas Komputer Indonesia.

“Teknologi Expansion Joint Pada Jembatan” merupakan judul yang diambil dalam rangka memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana teknik Jurusan

Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer

Indonesia.

Penulisan skripsi ini tidak akan terlaksana dan selesai tanpa bantuan berbagai

pihak. Oleh karena itu Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Y. Djoko Setiyarto ST., MT., selaku Pembimbing dalam penulisan skripsi ini

yang telah memberikan bimbingan dan waktunya.

2. Yatna Supriyatna ST., MT., selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Universitas

Komputer Indonesia dan Koordinator Skripsi.

3. M. Donie Aulia ST., MT. dan Vitta Pratiwi ST., MT., selaku Dosen di

Jurusan Teknik Sipil Universitas Komputer Indonesia.

4. Prof. Dr. H. Denny Kurniadie, Ir., M.Sc., selaku Dekan Fakultas Teknik dan

Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia

5. Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, selaku Rektor Universitas Komputer

Indonesia.

6. Seluruh Staff Administrasi Universitas Komputer Indonesia.

7. Mama dan Papa tercinta yang senantiasa mendukung dan mendoakan dalam

(5)

v skripsi ini.

10. Sahabat dan rekan-rekan di Jurusan Teknik Sipil, di kosan 18c dan 16c, di

Bekasi, dan semua yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.

Dengan rendah hati Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun

sehingga dapat menciptakan kesempurnaan dalam penulisan skripsi ini atau

penulisan-penulisan karya ilmiah berikutnya.

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat bagi Penulis dan para pembacanya.

Bandung, Agustus 2012

(6)
(7)

vii

3.2 Analisis Biaya, Waktu, Dan Mutu Dari

Masing-masing Expansion Joint ... III-2 BAB IV CONTOH KASUS PEMILIHAN EXPANSION JOINT ... IV-1 4.1 Perencanaan Expansion Joint ... IV-1 4.1.1 Deformasi Akibat Creep (rangkak beton) ... IV-1

4.1.2 Deformasi Akibat Shrinkage (susut beton) ... IV-2

4.1.3 Deformasi Akibat Perubahan Suhu ... IV-3

4.1.4 Perhitungan Celah Expansion Joint ... IV-3

(8)

viii

Gambar II.19 Ukuran Tebal dan Lebar Pelat Menurut Thorma ... II-16

Gambar II.20 Alat Preheater & Kompresor ... II-17

Gambar II.26 Hasil Pembongkaran Sambungan ... II-21

Gambar II.27 Pembersihan Dengan kompresor ... II-21

Gambar II.28 Penyetalan Pelat Besi ... II-22

(9)

ix

Gambar II.33 Pemanasan Agregat ... II-25

Gambar II.34 Penuangan Binder ... II-26

Gambar II.35 Penetrasi Seluruh Rongga Pada Celah Agregat ... II-26

Gambar II.36 Pencampuran Agregat Pada Belle Mixer ... II-27

Gambar II.37 Pelapisan Kedua ... II-27

Gambar II.38 Pemadatan Dengan Stamper ... II-28

Gambar II.39 Hasil Lapis Kedua ... II-28

Gambar II.40 Pelapisan Penutup Tipis ... II-29

Gambar II.41 Hasil Akhir Asphaltic Plug ... II-29

Gambar III.1 Diagram Alir Penyajian Laporan ... III-1

Gambar IV.1 Butt Joint Yang Rusak ... IV-4

Gambar IV.2 New Cut Off Joint Yang Rusak ... IV-5

(10)

x

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel II.1 Tipe dan Movement NCOJ ... II-4

Tabel II.2 Pergeseran Pada Asphaltic Plug Joint ... II-13

Tabel II.3 Persyaratan Asphaltic Plug Binder ... II-14

Tabel II.4 Spesifikasi Agregat ... II-15

Tabel II.5 Ukuran Lebar Celah dan Tebal Pelat Penutup ... II-16

Tabel III.1 Fitur, keunggulan, dan kelemahan dari masing-masing

expansion joint ... III-6

Tabel III.2 Fitur, keunggulan, dan kelemahan New Cut Off Joint

(11)

xi

pada halaman

fc’ Kuat tekan beton yang diisyaratkan dengan

benda uji silinder IV-1

εe Regangan elastis akibat bekerjanya regangan tetap IV-1

Cu Koefisien rangkak maksimum IV-1

εcs.t Nilai regangan susut beton pada umur t hari IV-2 t Umur beton yang dirawat basah di lokasi pekerjaan,

terhitung sejak 7 hari pengecoran IV-2

εcs.u Nilai susut maksimum beton IV-2

(12)

I-1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia di masa-masa yang akan

datang akan meningkatkan kegiatan manusia itu sendiri, dengan peningkatan

kegiatan manusia itu diperlukan adanya sarana dan prasarana transportasi. Dalam

hal ini perlu adanya peningkatan mutu, baik konstruksinya maupun pelayanannya

sehingga jalan itu sendiri memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh undang-undang

No. 13 tahun 1980 tentang jalan. Keberadaan jalan sebagai sarana transportasi

darat sangat penting dalam rangka pembangunan nasional. Jalan berperan sebagai

penunjang kehidupan nasional di segala bidang, baik ekonomi, politik, sosial dan

budaya, maupun pertahanan nasional.

Berkaitan dengan fungsi dan kebutuhan jalan sebagai sarana transportasi, maka

detail pendukung jalan perlu diperhatikan. Salah satu pendukung jalan khususnya

pada jembatan adalah Expansion Joint atau Siar Muai.

Di Indonesia, terdapat beberapa jenis expansion joint yang umum digunakan.

Disini penulis akan mencoba menjelaskan jenis-jenis expansion joint tersebut.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari jenis-jenis

expansion joint khususnya yang umum digunakan di Indonesia, dari yang

sederhana sampai mutakhir. Sehingga tulisan ini nantinya dapat dijadikan sebagai

referensi dalam pemilihan expansion joint pada jembatan.

1.3 Batasan Masalah

Dalam tulisan ini penulis membatasi pembahasan hanya pada:

a. Mengenal jenis-jenis expansion joint dan cara pemasangan.

b. Membahas keunggulan maupun kelemahan dari masing-masing expansion

(13)

c. Peninjauan contoh kasus pemilihan expansion joint pada jembatan girder 1

bentang.

1.4 Metode Penulisan

Dalam penulisan ini metode yang dipakai adalah studi kepustakaan. Studi ini

dimaksudkan untuk mengumpulkan literatur yang berhubungan dengan bahasan

skripsi ini.

1.5 Sistematika Penulisan

Guna untuk membentuk keutuhan bagian-bagian dari penulisan ini, maka perlu

disusun dalam sistematika penulisan yang urutannya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini memuat tentang latar belakang, maksud dan tujuan, batasan masalah,

metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II STUDI LITERATURE EXPANSION JOINT

Berisikan tentang studi literature yang diangkat guna memberikan dasar teoritis

dan menunjang bahasan tentang konstruksi expansion joint.

BAB III METODE ANALISIS KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN EXPANSION JOINT

Merupakan bahasan mengenai keunggulan dan kelemahan dari masing-masing

expansion joint.

BAB IV CONTOH KASUS PEMILIHAN EXPANSION JOINT Peninjauan kasus pemilihan expansion joint pada jembatan girder 1 bentang.

BAB V KESIMPULAN

(14)

II-1

BAB II

STUDI LITERATUR EXPANSION JOINT

2.1 Expansion Joint

Expansion Joint atau Siar Muai adalah bahan yang dipasang di antara dua bidang

lantai beton untuk kendaraan atau pada perkerasan kaku dan dapat juga pertemuan

antara konstruksi jalan pendekat sebagai media lalu lintas yang akan melewati

jembatan, supaya pengguna lalu lintas merasa aman dan nyaman (Badan Litbang

PU, Pd T-13-2005-B).

Fungsi dari expansion joint adalah untuk mengakomodasi gerakan yang terjadi

pada bagian superstruktur jembatan. Gerakan ini berasal dari beban hidup,

perubahan suhu, dan sifat fisik dari pembentuk jembatan (Transportation

Research Board, 2003).

2.2 Jenis-jenis Expansion Joint

Menurut Florida Department of Transportationdalam “Bridge Maintenance and

Repair Handbook”, expansion joint dibagi dalam 2 jenis, joint terbuka dan joint

tertutup. Joint tertutup dirancang agar kedap air, sedangkan joint terbuka tidak.

2.2.1 Expansion Joint Terbuka

Pada expansion joint terbuka, sistem drainase diletakan di bawah joint untuk

mengumpulkan dan membawa air ke pembuangan. Hal ini dilakukan untuk

mencegah kerusakan pada struktur beton. Sistem drainase sendiri berbentuk

palung dan dibuat dari bahan anti karat.

Jenis expansion joint terbuka yang umum digunakan di Indonesia adalah

Butt Joint dan Finger Joint.

a. Butt Joint

Butt joint adalah joint yg menggunakan besi berbentuk siku untuk

(15)

Joint ini digunakan untuk jembatan dengan small movement, dengan

gap maksimum sebesar 25 mm.

Butt Joint dibuat dari besi siku yang disebut armor untuk melindungi

bagian tepi beton dan dipasangkan pada beton menggunakan stud atau

baut.

Di Negara barat Butt Joint tidak digunakan lagi karena tidak kedap air.

Tapi di Indonesia sendiri masih digunakan untuk jembatan-jembatan

pendek.

Gambar II.1 Butt Joint

Sumber: Florida Department of Transportation

b. Finger Joint

Finger Joint bisa mengakomodasi movement mulai dari 75 mm. Finger

Joint terbuat dari baja dan berbentuk seperti 2 sisir yang saling

(16)

II-3

Gambar II.2 Finger Joint

Sumber: Transportation Research Board, 2003

Karena Finger Joint termasuk dalam jenis Joint terbuka, maka diberi

drainase di bawah joint.

Gambar II.3 Finger Joint Dengan Drainase

Sumber: http://ilwontec.com/eng/business-area/manufacture-sales-information/big-finger-expansion-joint-bfj/

2.2.2 Expansion Joint Tertutup

Jenis expansion joint tertutup yang biasa dipakai di Indonesia adalah New

Cut Off Joint, Asphaltic Plug Joint, Strip Seal Joint, dan Modular Joint.

a. New Cut Off Joint (NCOJ)

New Cut Off Joint adalah expansion joint yang menggunakan seal

(17)

movement yang terjadi pada jembatan. NCOJ adalah produk dari

SHO-BOND.

Gambar II.4 New Cut Off Joint

Sumber: http://www.hibondconstruction.com/expansion.html

Tabel II.1 Tipe dan Movement NCOJ

Sumber: http://www.hibondconstruction.com/expansion.html

b. Asphaltic Plug Joint

Asphaltic Plug Joint adalah sambungan siar muai yang terbuat dari

bahan agregat yang dicampur dengan bahan pengikat binder, pelat baja

dan angkur, dibuat pada tempratur tertentu yg berfungsi sebagai bahan

(18)

II-5

Gambar II.5 Asphaltic Plug Joint Sumber: Agrement, 2003

c. Strip Seal Joint

Strip Seal Joint berbentuk strip yag terbuat dari elastomer yang

dimasukan ke dalam besi yang ditanam ke pelat beton. Strip Seal Joint

mempunyai beberapa tipe untuk beragam movement. Ukuran Strip Seal

Joint terbesar bisa menangani movement hingga 125 mm, tetapi untuk

keamanan kebanyakan orang hanya membatasi hingga 100 mm saja.

(19)

d. Modular Joint

Modular Joint berbentuk sepeti gabungan dari dua atau lebih Strip Seal

Joint untuk mengakomodasi movement yang sangat besar.

Modular Joint dibuat untuk mengakomodasi movement lebih dari 100

mm. Besarnya modular joint tergantung besarnya movement. Modular

joint dirancang untuk jembatan dengan bentang yang panjang dengan

kemampuan movement sampai 2 m. Biasanya modular joint digunakan

untuk movement antara 150 mm sampai 600 mm. Ada 3 bagian utama

dari joint ini, yaitu: sealer, separator beam, dan support bar

(Transportation Research Board, 2003).

Gambar II.7 Modular Joint

Sumber: Sumber: Watson Bowman Acme, 2000

2.3 Cara Pemasangan

Untuk expansion joint jenis Butt Joint, Finger Joint, Strip Seal Joint dan Modular

Joint pemasangan dilakukan dengan cara menjangkarkan joint tersebut ke dalam

(20)

II-7

Gambar II.8 Pemasangan Finger Joint

Sumber: http://en.structurae.de/photos/index.cfm?JM=115

Gambar II.9 Pemasangan Strip Seal Joint Sumber:

(21)

Gambar II.10 Ilustrasi Strip Seal Joint

Sumber: http://www.dsbrown.com/Bridges/ExpansionJointSystems/Steelflex.aspx

Gambar II.11 Pemasangan Modular Joint

Sumber: http://www.mto.gov.on.ca/english/transtek/roadtalk/rt15-2/

Sedangkan untuk New Cut Off Joint dan Asphaltic Plug Joint berbeda dalam

(22)

II-9

2.3.1 Pemasangan New Cut Off Joint

Untuk New Cut Off Joint semua bahan yang diperlukan dipesan dari

SHO-BOND. Bahan-bahan berupa SBR mortar, SHO-BOND #301, F.R.P, Joint

Seal Rubber.

Produk SHO-BOND yang digunakan sebagai pengikat atau lem.

c. F.R.P

F.R.P atau Fiber Reinforced Powder digunakan sebagai lapisan

atas.

d. Joint Seal Rubber

Karet yang akan diletakan pada celah jembatan.

2.3.1.2 Alat a. Cutter

Digunakan untuk memotong aspal atau beton pada bagian yang

(23)

Gambar II.12 Cutter Sumber: Google

b. Gabus (Styrofoam)

Digunakan sebagai penyekat saat pemasangan mortar.

2.3.1.3 Metode Pelaksanaan

1. Pemotongan dan Pembongkaran

Setelah diberi tanda. Aspal atau pelat jembatan dipotong dengan

kedalaman sesuai spesifikasi. Lalu dibersihkan.

2. Pemasangan Mortar

Oleskan SHO-BOND #301 ke permukaan yang akan dipasang

mortar. Styrofoam diletakan didalam bukaan aspal, lalu mortar

yang sudah dicampur dituang kedalam bukaan. Lalu mortar

(24)

II-11

Gambar II.13 Aplikasi Mortar

Sumber: http://www.hibondconstruction.com/expansion.html

3. Pemasangan F.R.P

F.R.P diaplikasikan di atas mortar, lalu diratakan dan dibiarkan

sampai setting.

Gambar II.14 Aplikasi F.R.P

(25)

4. Pemasangan Joint Seal Rubber

Setelah Mortar dan F.R.P setting selanjutnya Styrofoam dibuka.

Lalu oleskan lagi SHO-BOND #301 ke permukaan dalam Mortar

dan F.P.R yang berfungsi sebagai lem dari JointSealRubber.

Gambar II.15 Aplikasi SHO-BOND

Sumber: http://www.hibondconstruction.com/expansion.html

Gambar II.16 Pemasangan Seal

(26)

II-13

2.3.2 Pemasangan Asphaltic Plug Joint

Asphaltic Plug dipasang antara dua bidang lantai kendaraan pada jembatan,

pada perkerasan kaku.

Ketebalan joint bergantung pada ukuran celah sambungan dan besarnya

pergeseran.

Tabel II.2 Pergeseran Pada Asphaltic Plug Joint

Lebar Sambungan Tebal sambungan Pergeseran Horisontal Max

(mm) (mm) (mm)

Binder adalah bahan yang merupakan campuran bitumen,

polymer, filler dan surface active agent, atau dari aspal yang

ditambah beberapa persen bahan (aditif) hingga mempunyai sifat

karakteristik tertentu dan nilai penetrasi dibawah 60.

(27)

Tabel II.3 Persyaratan Asphaltic Plug Binder

Jenis Pengujian

Metode

Pengujian Persyaratan

Penetrasi pada 25°C, 100g SNI 06-2456-91 Maksimum 20 dmm

5 detik (0,1 mm)

Temp. Pelaksanaan °C SNI 06-2433-91 180 - 200 Temp. Pemanasan °C SNI 06-2433-91 Maksimum 220

Sumber: Pelaksanaan Pemasangan Siar Muai Jenis Asphaltic Plug Untuk Jembatan, Pd T-13-2005-B

Persyaratan lain:

1. Kedap air.

2. Elastis dan fleksibel.

3. Tidak mencair pada suhu pelayanan.

4. Encer pada tempratur aplikasi.

5. Mudah dan cepat dalam pemasangan.

6. Curing time singkat.

b. Agregat

Agregat yang digunakan mempunyai kekerasan setara basalt,

gritstone, gabbro atau kelompok granit. Agregat bebentuk kubus

dengan ukuran antara 14, 20, dan 28 mm.

Batu dibersihkan, diukur, dan disaring untuk dikirim ke lokasi.

Kemudian untuk menyempurnakan kebersihannya, dengan

(28)

II-15

Crushing (Aggregate Crushing BS 82 14%

Value)

Polish Stone Value BS 82 ≥ 62

Flakiness BS 812 < 25%

Shape and size index BS 594 < 60%

(29)

c. Pelat Baja Penutup Lubang

Pelat baja penutup celah mempunyai lebar minimum 5 cm atau

disesuaikan dengan jarak lubang celah. Pelat baja harus memiliki

lubang untuk angkur sebagai pengikat.

Tabel II.5 Ukuran Lebar Celah dan Tebal Pelat Penutup

Lebar Celah Max Tebal Pelat Baja

mm mm

< 45 1,5

45 - 70 3

70 - 95 6

Sumber: Pelaksanaan Pemasangan Siar Muai Jenis Asphaltic Plug Untuk Jembatan, Pd T-13-2005-B

Gambar II.19 Ukuran Tebal dan Lebar Pelat Menurut Thorma Sumber: Brosur Thorma Joint

Untuk angkur biasanya digunakan paku baja berukuran besar.

Dimasukan ke dalam lubang yang sudah dibuat pada pelat baja.

2.3.2.2 Alat

a. Alat Preheater & Kompresor

Alat Preheater adalah alat untuk mencairkan binder dengan sistim

pemanasan tidak langsung (indirect heating) menggunakan “oil

(30)

II-17

kompresor (min 85 cfm 100 psi) yang digunakan untuk

membongkar sambungan dengan jack hammer dan untuk alat

penyembur panas (Hot Compress Air Lance).

Gambar II.20 Alat Preheater & Kompresor Sumber: Citra Marga, 2007

b. Belle Mixer

Belle Mixer dengan kapasitas 90 hingga 150 liter tanpa lubang

yang berfungsi untuk mengaduk campuran bahan pengikat dengan

agregat.

c. Barrow Mixer

Barrow Mixer adalah alat untuk memanaskan agregat,

lubang-lubang yang ada pada mixer tersebut diperuntukan untuk

(31)

Gambar II.21 Alat Barrow Mixer Sumber: Citra Marga, 2007

d. Hot Compress Air Lance

Hot Compress Air Lance adalah alat penyembur panas sekaligus

berfungsi juga sebagai alat pembersih yang dipergunakan untuk

memanasi permukaan beton dan agregat.

(32)

II-19

e. Cutter

Alat cutter digunakan untuk memotong aspal dan pelat lantai

beton.

f. Jack Hammer

Digunakan untuk membongkar aspal dan beton yang akan diberi

expansion joint.

Gambar II.23 Jack Hammer Sumber: Google

g. Alat Pemadat (Stamper)

Digunakan untuk memadatkan campuran agregat dan binder.HK

(33)

2.3.2.3 Metode Pelaksanaan

Berikut adalah tahapan metode pelaksanaan yang diambil dari “Spesifikasi Teknis Pekerjaan Expansion Joint (Asphaltic Plug)”, Citra Marga.

1. Pemberian tanda (marking out)

Lebar sambungan ditandai sesuai dengan lebar dan ukurannya,

dilakukan dengan menarik garis lurus dari ujung hingga akhir

tidak terputus atau bersambung beberapa kali.

Gambar II.25 Pemberian Tanda Sumber: Citra Marga, 2007

2. Pemotongan & pembongkaran sambungan

Aspal permukaan dipotong pada daerah yang akan dipasang

sambungan jembatan sampai kepermukaan lantai beton dibuat

tegak lurus sesuai dengan penandaan garis selanjutnya dibongkar

menggunakan alat jack hammer dengan tenaga kompresor tekanan

tinggi, bagian yang terlihat harus dibersihkan dari sisa-sisa

(34)

II-21

Gambar II.26 Hasil Pembongkaran Sambungan Sumber: Citra Marga, 2007

3. Pembersihan

Kebersihan pada permukaan sangat-sangat diutamakan dengan

menyemburkan udara bertekanan tinggi.

(35)

4. Penyetelan Pelat

Setelah itu dilakukan penyetelan pemasangan pelat pada celah,

pelat harus bertumpu pada permukaan yang rata sehingga pada

saat pelat diletakan tidak ada gerakan, untuk mencapai hal tersebut

maka bagian yang tidak rata harus digerinda sampai rata.

Gambar II.28 Penyetelan Pelat Besi Sumber: Citra Marga, 2007

5. Pembersihan dengan memanaskan permukaan

Berikut ini adalah persiapan pengecoran dengan memanaskan

permukaan yang terlihat dengan Hot Compress Air Lance

(36)

II-23

Gambar II.29 Pembersihan Dengan Memanaskan Permukaan Sumber: Citra Marga, 2007

6. Pemasangan Tambang

Sebelum dituang binder pada permukaan yang terlihat, tambang

dipasang pada celah beton untuk menyumbat sehingga binder

tidak tembus sampai kebawah jembatan.

Gambar II.30 Pemasangan Tambang Sumber: Citra Marga, 2007

7. Pelapisan (tanking) dengan Binder

(37)

Gambar II.31 Pelapisan (Tanking) Dengan Binder Sumber: Citra Marga, 2007

8. Pemasangan Pelat Besi

Pemasangan pelat besi, permukaan pelat besi harus dilapisi lagi

dengan binder sampai merata, suhu binder harus selalu dikontrol

tidak boleh dibawah 190 C.

(38)

II-25

9. Pemanasan Agregat

Persiapan agregat dengan memanaskannya sampai dengan suhu

minimum 150C dengan menggunakan Hot Compress Air Lance,

tapi tidak boleh lebih dari 190C.

Gambar II.33 Pemanasan Agregat Sumber: Citra Marga, 2007

10.Penuangan Binder

Setelah agregat digelar, segera dituang binder sampai dengan

semua agregat terendam dengan kedalaman 50 mm, untuk

memastikan semua agregat terlapisi oleh binder, maka agregat

harus diratakan dengan garpu rumput atau sekop, suhu harus

(39)

Gambar II.34 Penuangan Binder Sumber: Citra Marga, 2007

11.Penetrasi seluruh rongga pada celah Agregat

Dibiarkan sejenak agar binder dapat mengalir dan mengisi seluruh

rongga pada celah agregat, indikasi dari pada proses tersebut

ditandai dengan adanya gelembung undara pada permukaan

binder.

(40)

II-27

12.Pencampuran Agregat

Setelah gelembung udara sudah dipastikan tidak terjadi lagi, maka

dilaksanakan lapisan kedua dengan menuangkan agregat yang

sudah dilapisi oleh binder dengan kedalaman 25 mm, pelapisan

agregat tersebut diproses dengan memasukan agregat pada Belle

Mixer sambil dipanasi dengan Hot Compress Air Lance pada

waktu bersamaan binder dituangkan.

Gambar II.36 Pencampuran Agregat Pada Belle Mixer Sumber: Citra Marga, 2007

(41)

13.Pemadatan

Lapisan kedua tersebut harus dipadatkan sampai rata dengan

permukaan jalan.

Gambar II.38 Pemadatan Dengan Stamper Sumber: Citra Marga, 2007

(42)

II-29

14.Finishing

Lapisan penutup dengan binder pada permukaan yang sudah

dipadatkan, lapisan tersebut merupakan lapisan tipis sebagai bahan

kedap air.

Gambar II.40 Pelapisan Penutup Tipis Sumber: Citra Marga, 2007

(43)

III-1 3.1 Penyajian Laporan

Studi Literature

Analisis

Biaya, waktu pengerjaan, dan mutu

Jenis-jenis expansion

joint Cara pemasangan

Studi kasus

Kesimpulan

(44)

III-2

3.2 Analisis Biaya, Waktu, dan Mutu Dari Masing-masing Expansion Joint

a. Butt Joint  Biaya

Dengan asumsi buttjoint menggunakan baja siku 70 mm x 70 mm x

7 mm, dan dengan jangkar menggunakan baja berdiameter 16 mm

dan panjang 15 cm dengan jarak antar jangkar 20 cm. Didapat berat

total sebesar 9.67 kg. Dan harga baja dipasaran adalah Rp 9.500/kg.

Jadi harga bahan butt jointadalah Rp 91.865/m’.

 Waktu Pengerjaan

Dalam waktu pengerjaan butt joint terbilang cepat. Butt joint

dipasang saat pengecoran pelat lantai jembatan.

 Mutu

Sulit untuk melindungi armor dari korosi dan mendapatkan

konsolidasi beton yang baik. Seiring waktu armor dapat lepas karena

kelelahan dari jangkar. Lepasnya armor bisa berbahaya bagi lalu

lintas (Transportation Research Board, 2003, Bridge Deck Joint

Performance).

b. Finger Joint  Biaya

Dengan asumsi finger joint menggunaka pelat baja dengan tebal 16

mm, lebar 300 mm, panjang 1 m, dan memakai jangkar baja

diameter 16 mm dan panjang 150 mm dengan jumlah jangkar

keseluruhan 28 buah. Maka didapat berat total sebesar 50,93 kg.

Harga baja dipasaran Rp 9.500/kg. Maka harga total bahan finger

joint sebesar Rp 483.835/m’.

 Waktu Pengerjaan

Pekerjaan finger joint bisa mulai dilakukan saat pelat beton jembatan

(45)

 Mutu

Finger joint cenderung lebih sedikit masalah dibanding joint lain.

Tipikal masalah yang ada adalah masalah pada jangkar, masalah jari

yang menekuk ke atas, yang menghasilkan suara bising, permukaan

yang kasar, dan jari yang patah (Transportation Research Board,

2003, Bridge Deck Joint Performance).

c. New Cut Off Joint  Biaya

Harga jadi dari new cut off joint menurut Journal Of Material

Building And Interior Propinsi DKI Jakarta:

1. Gap 20 mm Rp 2.900.000/m’

seperti yang dibahas pada sub bab 2.3.1.3.

 Mutu

Masalah yang sering terjadi adalah menumpuknya puing di dalam

lekukan seal, tepi mortar yang hancur, dan lepasnya ikatan karet seal

dengan mortar.

d. Asphaltic Plug Joint  Biaya

Harga jadi dari asphaltic plug joint menurut Journal Of Material

Building And Interior Propinsi DKI Jakarta:

(46)

III-4

2. Gap 30 mm Rp 1.500.000/m’

 Waktu Pengerjaan

Asphaltic plug joint dikerjakan setelah pelat lantai jembatan sudah

siap.

Joint ini mempunyai beberapa tahapan dalam pemasangan, seperti

yang dibahas pada sub bab 2.3.2.3.

 Mutu

Menurut Transportation Research Board (2003), Bridge Deck Joint

Performance, masalah utama pada asphaltic plug joint adalah iklim,

seperti melunak pada cuaca panas dan retak pada cuaca yang sangat

dingin. Dan seiring waktu joint ini akan menipis karena sering

dilalui kendaraan.

e. Strip Seal Joint  Biaya

Harga jadi dari strip seal joint merk Wabo menurut Journal Of

Material Building And Interior Propinsi DKI Jakarta:

1. SMM 100 Rp 5.750.000/m’

2. SMM 125 Rp 6.150.000/m’

3. SMM 100 Rp 5.000.000/m’

 Waktu Pengerjaan

Strip seal joint bisa dipasang saat pelat beton jembatan sudah kering.

 Mutu

Masalah yang paling sering terjadi adalah terkumpulnya pasir dan

material lain di dalam seal. Saat joint terbuka pasir dan puing

masuk, dan saat joint tertutup sair dan puing akan terperangkap

didalamnya, hal ini bisa menyebabkan seal pecah dan kehilangan

(47)

dan puing yang berada di seal oleh kendaraan yang melintas

(Transportation Research Board, 2003, Bridge Deck Joint

Performance).

f. Modular Joint  Biaya

Harga jadi modular joint menurut merk Wabo menurut Journal Of

Material Building And Interior Propinsi DKI Jakarta:

1. SDM 160 (total movement 160 mm) Rp 39.000.000/m’

2. SDM 200 (total movement 200 mm) Rp 42.750.000/m’

3. SB 240 (total movement 240 mm) Rp 52.500.000/m’

4. SB 320 (total movement 320 mm) Rp 75.000.000/m’

5. SB 400 (total movement 400 mm) Rp 115.900.000/m’

6. SB 480 (total movement 480 mm) Rp 145.350.000/m’

 Waktu Pengerjaan

Sama seperti finger joint dan strip seal joint, modular joint juga bisa

dipasang saat beton dari pelat lantai jembatan telah kering.

 Mutu

Masalah yang terjadi pada modular joint adalah kelelahan pada

(48)

III-6 Tabel III.1 Fitur, Keunggulan, dan Kelemahan Dari Masing-masing Expansion Joint

Tipe Joint Fitur Keunggulan Kelemahan

Butt Joint digunakan untuk biaya relatif murah rentan terhadap karat,

jembatan bentang tidak kedap air

pendek dan

movement kecil

Finger Joint digunakan untuk bisa mengakomodasi kemungkinan

jembatan dengan movement yang penyumbatan celah

bentang menengah cukup besar oleh puing di

sampai panjang. daerah jari

Strip Seal Joint memiliki record kedap air kinerja tergantung

performa yang baik, pada ketepatan

bisa mengakomodasi pada pemilihan

movement sampai ukuran dan material

5 inch seal

Modular Joint digunakan untuk bisa mengakomodasi suara yang

jembatan bentang movement besar ditimbulkan dan

panjang dan dan kedap air seal yang tertutup

movement besar puing

(49)

III-7 Tabel III.2 Fitur, Keunggulan, dan Kelemahan New Cut Off Joint dan Asphaltic Plug Joint

Tipe Joint Fitur Keunggulan Kelemahan

New Cut Off Joint dapat mudah dalam puing yang

mengakomodasi pemasangan, menumpuk pada

movement sampai kedap air seal

50 mm

Asphaltic Plug Joint dapat mudah dalam menipis seiring

mengakomadasi pemasangan, waktu

movement sampai kedap air

(50)

IV-1

BAB IV

CONTOH KASUS

PEMILIHAN EXPANSION JOINT

Pada bab ini akan membahas tentang pemilihan jenis expansion joint yang akan

dipakai pada satu contoh kasus.

Kasus yang digunakan adalah pemilihan expansion joint pada jembatan yang

berada di Kabupaten Bangka. Jembatan ini menggunakan girder dan panjang

bentangnya 8,8 m.

Expansion joint direncanakan supaya mampu mengakomodasi pergerakan yang

diakibatkan creep, shrinkage, dan perubahan temperature.

∆expansion joint = ∆cr+sh + 2∆temp

4.1 Perencanaan Expansion Joint

Perhitungan deformasi akibat creep, shrinkage, dan temperature dilakukan untuk

mengetahui lebar minimum celah expansion joint.

Diketahui jembatan girder dengan panjang 8,8 m. Menggunakan mutu beton

K-350 (fc’ = 0.83 * 35 = 29.05 MPa). Suhu di lapangan, Tmax = 40ºC dan Tmin =

27ºC.

4.1.1 Deformasi Akibat Creep (rangkak beton)

Rangkak merupakan regangan jangka panjang yang tergantung pada suatu

kondisi tegangan tetap. Ini perhitungan menurut RSNI T-12-2004:

∆cr = εcc.t.L

εcc.t= Φcc(t).εe

Koefisien rangkak, Φcc(t), bila tidak dilakukan pengukuran atau pengujian

secara khusus, bisa dihitung dari rumusan:

(51)

Φcc(t) = (36500.6 / (10 + 36500.6)) * 2.462

εe = Regangan elastis sesaat akibat bekerjanya tegangan tetap. t = Umur rencana pembebanan (10 tahun atau 3650 hari).

Cu = Koefisien rangkak maksimum. Diasumsikan pada suatu

kondisi standar. Untuk fc’ = 29.05 MPa, nilai Cu = 2.462

(RSNI T-12-2004).

L = Panjang bentang = 8800 mm.

4.1.2 Deformasi Akibat Shrinkage (susut beton)

Deformasi akibat shrinkage dihitung menurut RSNI T-12-2004: ∆sh = εcs.t.L

εcs.t = Nilai regangan susut beton pada umur t hari.

t = Umur beton yang dirawat basah dilokasi pekerjaan, terhitung

(52)

IV-3

εcs.u = Nilai susut maksimum beton. Diasumsikan pada suatu kondisi standar, untuk fc’ = 29.05 MPa, nilai ɛcs.u =

0.00016867 (RSNI T-12-2004).

4.1.3 Deformasi Akibat Perubahan Suhu Perhitungannya adalah sebagai berikut :

∆L = L.α.∆T

4.1.4 Perhitungan Celah Expansion Joint

Rumus untuk perhitungan expansion joint adalah :

∆expansion joint = ∆cr+sh + 2∆temp

∆expansion joint = 3.009 + 0.873 + (2 * 0.572)

∆expansion joint = 5.026 mm

4.2 Pemilihan Jenis Expansion Joint

Setelah mengetahui lebar minimum celah yang didapat dari perhitungan diatas,

sekarang kita bisa menentukan jenis expansion joint yang cocok untuk kasus ini.

Untuk lebar minimum celah sebesar 5.026 mm, jenis joint yang bisa menjadi

(53)

1. Menggunakan Butt Joint

Joint ini merupakan yang paling simple, karena hanya menggunakan

besi siku sebagai armor. Besar celah maksimumnya adalah 25 mm.

Dalam hal biaya, joint ini paling murah diantara joint lainya.

Butt joint merupakan jenis joint terbuka, jadi puing dan kotoran yang

ada diatasnya dapat masuk ke celah expansion joint. Hal ini dapat

menyebabkan penumpukan puing dan kotoran di bagian struktur bawah.

Kerusakan yang terjadi pada butt joint biasanya karena kelelahan

jangkar atau amblasnya tepian beton. Armor yang lepas bisa berbahaya

bagi pengguna jalan.

Gambar IV.1 Butt Joint Yang Rusak Sumber: Transportation Research Board, 2003

Perawatan yang dilakukan pada butt joint adalah membersihkan

puing-puing atau sampah yang berada di celah.

2. Menggunakan New Cut Off Joint

Joint merupakan jenis expansion joint tertutup. Memakai seal karet

untuk menutp celah expansion joint dan menggunakan mortar untuk

(54)

IV-5

Kerusakan yang sering terjadi adalah amblasnya mortar dan seal yang

rusak akibat tumpukan puing diatasnya. Seal rubber bisa terlepas dan

membahayakan pengguna jalan.

Gambar IV.2 New Cut Off Joint Yang Rusak Di Jalan Tol Purbaleunyi, Km 112

Perawatan yang dilakukan adalah pembersihan puing dan sampah yang

menumpuk di seal secara berkala.

3. Menggunakan Asphaltic Plug Joint

Asphaltic plug joint merupakan joint jenis tertutup yang paling banyak

digunakan saat ini di Indonesia. Perawatan yang mudah dan bahan baku

yang mudah didapat merupakan nilai lebih dari joint ini. Kelebihan lain

dari joint ini adalah minimnya suara dan getaran yang ditimbulkan saat

dilewati kendaraan.

Kerusakan yang terjadi biasanya berupa retakan antara joint dan

permukaan plat jembatan. Menipisnya lapisan aspal seiring umur. Umur

(55)

4. Menggunakan Butt Joint dengan rubber seal

Joint ini merupakan modifikasi butt joint yang diberi seal karet sebagai

penutup celah expansion joint. Pada bagian dalam armor diberi dudukan

untuk seal karet.

Masalah yang terdapat di joint ini pada dasarnya sama seperti Butt Joint

dan New Cut Off Joint, hanya saja mortar diganti dengan armor dari besi

siku.

Gambar IV.3 Butt Joint Modifikasi

Setelah melihat pilihan diatas, sekarang kita bisa menentukan expansion joint

yang sesuai dengan keadaan di lapangan.

Dari analisa yang dilakukan, dianjurkan untuk menggunakan Asphaltic Plug Joint

dikarenakan bahan baku produksi lokal yang mudah didapat, perawatan yang

(56)

V-1

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Jenis-jenis dari expansion joint sangat beragam dan akan terus bertambah seiring

dengan perkembangan jaman. Setiap jenis expansion joint mempunyai tipe dan

setiap tipe mempunyai expansion amount yg berbeda.

Pemilihan jenis expansion joint didasarkan pada perhitungan lebar celah

expansion joint dan kondisi di lapangan.

Pada contoh kasus yang dibahas pada Bab IV, dari hasil analisa dianjurkan

memilih expansion joint jenis Asphaltic Plug Joint karena bahan yang mudah

didapat, kenyamanan yang baik bagi pengguna jalan, dan perawatan yang minim.

Asphaltic Plug Joint mungkin merupakan joint yang paling banyak dipakai saat

ini. Bahan baku yang dulu menggunakan produk luar, sekarang sudah diproduksi

oleh produsen dalam negeri. Hal ini membuat bahan baku lebih murah dan mudah

didapat.

5.2 Saran

Dalam pemilihan expansion joint pada jembatan, jangan terpaku hanya pada harga

yang murah. Tetapi pertimbangkan faktor lain seperti mutu, perawatan,

kenyamanan dan keamanan para pengguna jalan.

Getaran dan suara yang timbul pada saat melewati expansion joint dapat

menggangu pengguna jalan dan lepasnya komponen dari expansion joint dapat

membahayakan pengguna jalan. Untuk menghindari hal ini pemilihan,

pemasangan, dan perawatan expansion joint harus diperhatikan. Kebersihan

expansion joint, khusunya yang memakai rubber seal sangat penting. Puing dan

sampah yang menumpuk di bagian seal bisa menyebabkan seal terlepas.

(57)

pada expansion joint. Perawatan yang baik dapat memperpanjang umur dari

(58)

DAFTAR PUSTAKA

1. Agrement South Africa (2002), Certificate Thormajoint Bridge Deck Expansion Joint System, (.pdf).

2. Badan Standardisasi Nasional (2004), Perencanaan Struktur Beton Untuk Jembatan RSNI-T-12-2004, (.pdf).

3. Citra Marga (2007), Spesifikasi Teknis Pekerjaan Expansion Joint (Asphaltic Plug), (.doc).

4. Departemen Pekerjaan Umum (2005), Pelaksanaan Pemasangan Siar Muai Jenis Asphaltic Plug untuk Jembatan, (.pdf).

5. Florida Department of Transportation (____), Bridge Maintenance and Repair Handbook, (.pdf).

(59)

DHIMAS SYAHENDRA

082117011317

...

PERSONAL DETAILS Name : Dhimas Syahendra

Sex : Male

Place & date of birth : Jakarta, 15 April 1988

Religion : Moslem

Nationality : Indonesia Marital Status : Single

Residence : Jl. Saron II No. 12, Kemang Ifi Graha Jatiasih - Bekasi

Phone : 082117011317

E-mail : dhimas.syahendra@gmail.com

...

EDUCATION Bachelor of Engineering in Civil Engineering

Indonesia Computer University, Bandung, Indonesia Graduated September, 2012

EXPERIENCE Project Supervisor for PT. Lingga Abadi Utama

Figur

Gambar II.3 Finger Joint Dengan Drainase
Gambar II 3 Finger Joint Dengan Drainase . View in document p.16
Gambar II.11  Pemasangan Modular Joint Sumber: http://www.mto.gov.on.ca/english/transtek/roadtalk/rt15-2/
Gambar II 11 Pemasangan Modular Joint Sumber http www mto gov on ca english transtek roadtalk rt15 2 . View in document p.21
Gambar II.12  Cutter
Gambar II 12 Cutter . View in document p.23
Tabel II.3 Persyaratan Asphaltic Plug Binder
Tabel II 3 Persyaratan Asphaltic Plug Binder . View in document p.27
Gambar II.18 Agregat
Gambar II 18 Agregat . View in document p.28
Gambar II.19 Ukuran Tebal dan Lebar Pelat Menurut Thorma Sumber: Brosur Thorma Joint
Gambar II 19 Ukuran Tebal dan Lebar Pelat Menurut Thorma Sumber Brosur Thorma Joint . View in document p.29
Gambar II.22 Barrow Mixer & Hot Compress Air Lance Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 22 Barrow Mixer Hot Compress Air Lance Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.31
Gambar II.23 Jack Hammer
Gambar II 23 Jack Hammer . View in document p.32
Gambar II.25 Pemberian Tanda
Gambar II 25 Pemberian Tanda . View in document p.33
Gambar II.27 Pembersihan Dengan Kompresor Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 27 Pembersihan Dengan Kompresor Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.34
Gambar II.26 Hasil Pembongkaran Sambungan Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 26 Hasil Pembongkaran Sambungan Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.34
Gambar II.28 Penyetelan Pelat Besi
Gambar II 28 Penyetelan Pelat Besi . View in document p.35
Gambar II.29 Pembersihan Dengan Memanaskan Permukaan Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 29 Pembersihan Dengan Memanaskan Permukaan Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.36
Gambar II.30 Pemasangan Tambang Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 30 Pemasangan Tambang Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.36
Gambar II.32 Pemasangan Pelat Besi Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 32 Pemasangan Pelat Besi Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.37
Gambar II.31 Pelapisan (Tanking) Dengan Binder Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 31 Pelapisan Tanking Dengan Binder Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.37
Gambar II.33 Pemanasan Agregat
Gambar II 33 Pemanasan Agregat . View in document p.38
Gambar II.34 Penuangan Binder
Gambar II 34 Penuangan Binder . View in document p.39
Gambar II.35 Penetrasi Seluruh Rongga Pada Celah Agregat Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 35 Penetrasi Seluruh Rongga Pada Celah Agregat Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.39
Gambar II.37 Pelapisan Kedua
Gambar II 37 Pelapisan Kedua . View in document p.40
Gambar II.36 Pencampuran Agregat Pada Belle Mixer Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 36 Pencampuran Agregat Pada Belle Mixer Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.40
Gambar II.38 Pemadatan Dengan Stamper Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 38 Pemadatan Dengan Stamper Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.41
Gambar II.39 Hasil Lapis Kedua
Gambar II 39 Hasil Lapis Kedua . View in document p.41
Gambar II.40 Pelapisan Penutup Tipis Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 40 Pelapisan Penutup Tipis Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.42
Gambar II.41 Hasil Akhir Asphaltic Plug Sumber: Citra Marga, 2007
Gambar II 41 Hasil Akhir Asphaltic Plug Sumber Citra Marga 2007 . View in document p.42
Gambar III.1 Diagram Alir Penyajian Laporan
Gambar III 1 Diagram Alir Penyajian Laporan . View in document p.43
Tabel III.1 Fitur, Keunggulan, dan Kelemahan Dari Masing-masing Expansion Joint
Tabel III 1 Fitur Keunggulan dan Kelemahan Dari Masing masing Expansion Joint . View in document p.48
Tabel III.2 Fitur, Keunggulan, dan Kelemahan New Cut Off Joint dan Asphaltic Plug Joint
Tabel III 2 Fitur Keunggulan dan Kelemahan New Cut Off Joint dan Asphaltic Plug Joint. View in document p.49
Gambar IV.1 Butt JointSumber:  Yang Rusak Transportation Research Board, 2003
Gambar IV 1 Butt JointSumber Yang Rusak Transportation Research Board 2003 . View in document p.53
Gambar IV.2 New Cut Off Joint Yang Rusak Di Jalan Tol Purbaleunyi, Km 112
Gambar IV 2 New Cut Off Joint Yang Rusak Di Jalan Tol Purbaleunyi Km 112 . View in document p.54

Referensi

Memperbarui...