PERFORMA AYAM KAMPUNG YANG DIBERI ZEOLIT
DALAM RANSUMNYA
RODEX JORDAN SIMANGUNSONG
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN FAKULTAS
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Performa Ayam Kampung yang Diberi Zeolit dalam Ransumnya adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2014
Rodex Jordan Simangunsong
ABSTRAK
RODEX JORDAN SIMANGUNSONG. Performa Ayam Kampung yang diberi Zeolit dalam Ransumnya. Dibimbing oleh MARIA ULFAH dan POLLUNG H SIAGIAN.
Zeolit adalah mineral yang memiliki struktur berongga yang dapat menyerap molekul lain. Penggunaan zeolit dapat meningkatkan efisiensi pakan dan mengurangi kelembaban litter dengan menghambat pertumbuhan dan kerja mikroorganisme. Berdasarkan kemampuannya, zeolit dapat digunakan dalam pakan ayam. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek dari zeolit terhadap performa ayam kampung. Penelitian ini menggunakan 320 ekor ayam kampung yang dipelihara selama enam minggu dan dibagi menjadi 16 kandang masing-masing berisi 20 ekor ayam kampung. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL). Taraf penggunaan zeolit yang digunakan adalah 0%, 0.5%, 1.0% dan 1.5%, masing-masing dengan 4 ulangan dan 20 ekor kampung per unit percobaan. Peubah yang diukur adalah pertambahan bobot badan harian, konsumsi ransum harian, konversi pakan dan mortalitas. Data dianalisis menggunakan metode analisis ragam (ANOVA). Hasil menunjukkan bahwa penambahan zeolit hingga taraf 1.5% tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum harian, pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum.
Kata kunci: ayam kampung, konsumsi ransum harian, konversi ransum, pertambahan bobot badan harian, zeolit
ABSTRACT
RODEX JORDAN SIMANGUNSONG. Effect of Zeolite Supplemented on Feed on Kampung Performances. Supervised by MARIA ULFAH and POLLUNG H SIAGIAN.
Zeolite are minerals that have a hollow structure that can absorb other molecules. The use of zeolite can improve feed efficiency and reduce litter moisture content by inhibiting microbial growth and development. Based on their ability, zeolites therefore can be used in chicken feed. This study aims to assess the effect of zeolite supplemented feed on kampung chicken performances. This research used 320 kampung chickens which were kept for six weeks and divided into 16 cages (each containing 20 kampung chickens). The experimental design used in this study was a completely randomized design (CRD). The addition of zeolites used were 0%, 0.5%, 1.0% and 1.5%, with 4 repetitions (20 chickens/experimental unit). The variables measured were daily feed consumption, daily gain, feed conversion ratio and mortality. Data was analyzed by analysis of variance (ANOVA) methods. The result showed that the addition of zeolite to the extent of 1.5% had no significant difference for the daily feed consumption, daily gain and feed conversion ratio.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
PERFORMA AYAM KAMPUNG YANG DIBERI ZEOLIT
DALAM RANSUMNYA
RODEX JORDAN SIMANGUNSONG
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN FAKULTAS
Judul Skripsi : Performa Ayam Kampung yang diberi Zeolit dalam Ransumnya Nama : Rodex Jordan Simangunsong
NIM : D14100033
Disetujui oleh
Maria Ulfah, SPt MSc Agr Pembimbing I
Prof Dr Ir Pollung H Siagian, MS Pembimbing II
Diketahui oleh
Prof Dr Ir Muladno, MSA Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul Performa Ayam Kampung yang Diberi Zeolit dalam Ransumnya ini yang telah dilakukan sejak bulan Mei 2014 hingga Juni 2014.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Maria Ulfah, SPt MSc Agr dan Bapak Prof Dr Ir Pollung H Siagian, MS selaku pembimbing, Bapak Dr Rudi Afnan, SPt MSc Agr selaku pembahas seminar dan penguji ujian sidang dan Ibu Dr Tuti Suryati, SPt Msi selaku dosen pembimbing akademik yang telah banyak memberi saran serta motivasi. Secara khusus penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis Bapak Leveri Simangunsong dan Ibu Hotnida Nainggolan serta kedua saudari penulis Eka JN Simangunsong dan Putri D Simangunsong yang senantiasa memberikan doa dan dorongan semangat untuk penulis. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Edwin Situmeang selaku rekan dalam penelitian, keluarga besar Tobing Farm, teman-teman IPTP 47, teman- teman UKM PMK IPB, keluarga besar Bapa House atas doa, semangat, dan motivasi yang diberikan kepada penulis sepanjang perjalanan penelitian hingga penyusunan karya ilmiah ini. Semoga hasil penelitian ini berguna untuk ilmu pengetahuan khususnya dalam pengembangan dan penerapan ilmu peternakan serta menjadi berkat bagi bangsa Indonesia.
Bogor, Oktober 2014
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
METODE 2
Waktu dan Lokasi Penelitian 2
Bahan 2
Alat 2
Prosedur 3
Peubah 3
Rancangan 4
Analisis Data 5
HASIL DAN PEMBAHASAN 5
Keadaan Umum 5
Konsumsi Ransum Harian 6
Pertambahan Bobot Badan Harian 7
Konversi Ransum 7
Mortalitas 8
SIMPULAN DAN SARAN 9
DAFTAR PUSTAKA 10
LAMPIRAN 11
RIWAYAT HIDUP 11
DAFTAR TABEL
1 Kandungan nutrisi ransum penelitian dan hasil analisis mineral zeolit 3 2 Rataan suhu dan kelembaban selama penelitian 5 3 Rataan konsumsi ransum harian ayam kampung selama pemeliharaan 6 4 Rataan pertambahan bobot badan harian ayam kampung selama
pemeliharaan 7
5 Konversi ransum ayam kampung selama pemeliharaan 8 6 Mortalitas ayam kampung selama pemeliharaan 8
DAFTAR LAMPIRAN
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ayam kampung adalah ayam lokal Indonesia yang kehidupannya sudah lekat dengan masyarakat (Nataamijaya 2010; Sartika dan Iskandar 2007). Masyarakat perdesaan umumnya memelihara ayam kampung untuk mendapatkan daging, telur maupun sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat diuangkan. Penampilan fenotipe ayam kampung sangat beragam, begitu juga dengan sifat-sifat kualitatifnya seperti warna bulu dan jengger (Sartika dan Iskandar 2007).
Ayam kampung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bibit dalam upaya menunjang ketahan pangan dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Namun, usaha peternakan ayam kampung belum berkembang antara lain belum tersedianya bibit unggul serta cara sistem pemeliharaan yang masih konvensional. Mempertimbangkan potensi itu, perlu diupayakan jalan keluar untuk meningkatkan populasi dan produktivitasnya. Peningkatan produktivitas ayam kampung dapat dilakukan melalui perbaikan kuantitas dan kualitas pakan yang diberikan dengan sistem pemeliharaan intensif.
Salah satu alternatif dalam memperbaiki manajemen pemeliharaan adalah dengan penggunaan zeolit dalam pakan ayam. Zeolit adalah suatu kelompok mineral yang dihasilkan dari proses hidrotermal pada batuan beku basa. Zeolit banyak terdapat di Indonesia, terutama di daerah gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas. Mineral ini biasanya dijumpai mengisi celah-celah ataupun rekahan dari bebatuan. Jenis dan kualitas zeolit di setiap tempat berbeda-beda, hal ini berkaitan dengan struktur pembentukannya. Struktur fisik zeolit yang berongga menyebabkan zeolit dapat menyerap sesuatu di sekitarnya yang berdiameter lebih kecil.
Leung et al. (2006) menyatakan bahwa zeolit dapat digunakan sebagai suplemen ransum karena zeolit dapat meningkatkan kecernaan pakan sehingga dapat menurunkan biaya pakan. Zeolit jika ditambahkan dalam ransum diduga berfungsi dalam membantu pengangkutan zat makanan atau memperlambat laju pergerakan digesta dalam proses pencernaan ayam dan akan menghasilkan karkas serta organ dalam yang baik. Zeolit memiliki kemampuan menukar ion yang dapat membantu dalam menurunkan kadar amonia, hidrogen sulfida, kadar air dan gas-gas beracun yang dihasilkan dari ekskreta ayam broiler. Penggunaan zeolit dalam ransum juga dapat mengurangi kadar gas NH3 dan H2S ekskreta yang berdampak bagi kesehatan ayam dan menjadikan peternakan ayam menjadi ramah lingkungan (Kamaludin 2011). Zeolit dapat membantu proses penyerapan nutrien sehingga penggunaan ransum akan lebih efisien. Menurut Sutamba (2011), zeolit dapat mempercepat pertumbuhan ayam broiler pada minggu pertama hingga ke-tiga dan juga memberikan keuntungan kepada peternak ayam.
2
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menilai performa ayam kampung yang diberi suplemen zeolit dalam ransum komersial.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini mencakup penilaian performa ayam kampung menggunakan ayam kampung yang diberi zeolit dalam ransum komersial. Penilaian yang dilakukan meliputi konsumsi ransum harian, pertambahan bobot badan harian, konversi ransum dan mortalitas.
METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu yaitu dari bulan Mei hingga Juni 2014, di Tobing Farm yang berada di kawasan Kampung Cina, Parung, Bogor, Jawa Barat.
Bahan Ayam Kampung
Ayam kampung yang digunakan pada penelitian ini adalah ayam kampung yang diproduksi oleh PT. AKI sebanyak 320 ekor. Pemeliharaan dilakukan pada saat ayam berumur 3 minggu dengan masa pemeliharaan selama 6 minggu di dalam 16 petak kandang yang berukuran 1.5 x 1.5 x 1 m dan masing-masing diisi dengan 20 ekor ayam kampung.
Ransum
Ransum yang digunakan pada penelitian ini adalah ransum komersial CB 12. Zeolit yang digunakan berasal dari pasar Bogor dengan ukuran 50 mesh yang termasuk dalam kategori halus. Zeolit yang ditambahkan ke dalam ransum terdiri atas 4 taraf zeolit per 100 kg ransum yaitu 0%, 0.5%, 1% dan 1.5%, masing-masing sebagai perlakuan R1, R2, R3 dan R4.
Alat
3
Tabel 1 Kandungan nutrisi ransum penelitian* dan hasil analisis mineral zeolit**
Nutrien R1 R2 R3 R4
Protein kasar (%) 21.80 21.26 20.02 21.86
Lemak kasar (%) 7.68 6.76 9.12 7.34
Abu (%) 6.74 7.17 8.50 8.16
Serat kasar (%) 2.02 2.79 2.37 2.34 Mineral Zeolit Persentase (%) Konsentrasi (ppm)
Ca 0.14 1 398.15
P 0.01 56.29
NaCl 0.58 Keterangan : *Hasil Analisis Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB (2014)
dalam kondisi 100% bahan kering, **
Hasil Analisis Laboratorium Teknologi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (2014)
Prosedur Persiapan Kandang
Pemeliharaan ayam diawali dengan persiapan kandang yaitu, sanitasi dan disinfeksi kandang dan peralatan yang digunakan. Kandang yang telah bersih lalu diberi kapur. Kandang dibagi menjadi 16 sekat. Sekat dibuat dari bilah bambu yang telah dipotong dan dibersihkan. Lantai kandang lalu ditebari alas berupa sekam dengan ketebalan 3 cm dari lantai kandang. Semua peralatan untuk pemeliharaan yang digunakan dicuci dan disterilkan terlebih dahulu. Kandang kemudian dikosongkan sampai anak ayam umur 3 minggu tiba.
Pemeliharaan
Ayam kampung berumur 3 minggu dengan rataan bobot badan 150 g sebanyak 320 ekor diambil dari kandang brooder, ditimbang satu per satu dan dimasukkan sebanyak 20 ekor secara acak ke dalam 16 sekat kandang yang sudah disediakan. Setelah itu dipelihara dalam kandang yang diberi litter selama 6 minggu. Kegiatan-kegiatan umum yang dilakukan setiap hari selama pemeliharaan adalah pemberian ransum dan air minum disediakan ad libitum, pembersihan tempat pakan dan minum ayam serta pembersihan lingkungan sekitar kandang.
Setiap dua minggu sekali dilakukan penimbangan bobot ayam dan sisa pakan. Pemberian vaksin pada ayam dilakukan secara berkala yaitu pada saat ayam berumur 4, 7, 12, 18, dan 25 hari masing-masing dengan vaksin yaitu ND + IB + vitamin, Vaksin Al + vitamin, Gumboro + vitamin, ND lasota + vitamin dan Gumboro + vitamin.
Peubah
Konsumsi Ransum Harian (KRH)
4
ransum harian ayam diperoleh dengan cara menghitung selisih antara jumlah pemberian ransum selama tujuh hari dengan sisa pakan pada tempat ransum kemudian dibagi dengan tujuh hari. Rumus yang digunakan yaitu:
KRH (g e-1 h-1) =
P S
Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)
Pertambahan bobot badan harian (PBBH) diperoleh dari hasil penimbangan bobot hidup ayam yaitu bobot badan akhir dikurangi bobot badan awal dibagi lamanya pemeliharaan. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) dihitung dengan rumus:
PBBH (g e-1 h-1) = B B
Konversi Ransum (Feed Conversion Ratio/ FCR)
Konversi ransum adalah nilai yang menunjukkan banyaknya ransum (g) yang diperlukan untuk menghasilkan satu gram pertambahan bobot badan dalam satuan waktu tertentu. Konversi ransum dihitung dengan rumus:
FCR = RH PBBH
Mortalitas
Mortalitas adalah perbandingan jumlah ayam yang mati dalam suatu populasi dengan jumlah populasi awal. Mortalitas dihitung dengan rumus:
Mortalitas =
x 100%
Data lain yang diamati dalam penelitian ini adalah suhu dan kelembaban kandang yang diukur tiga kali sehari pada pagi hari pukul (06.00-07.00 WIB), siang hari (12.00-13.00 WIB) dan sore hari (18.00-19.00 WIB). Rumus yang digunakan untuk melindungi rataan suhu dan kelembaban adalah:
T = T T T RH = RH RH RH
Keterangan : Asumsi suhu dan kelembapan pada malam hari dan pagi hari sama sehingga terdapat empat kali pengukuran, T1=suhu pagi hari, T2=suhu siang hari, T3=suhu sore hari, RH1=kelembaban pagi hari, RH2=kelembapan siang hari dan RH3=kelembapan sore hari.
Rancangan
5
1.0% dan 1.5% masing-masing 4 ulangan dengan 20 ekor/kandang sebagai satu satuan unit percobaan. Model matematika dari rancangan tersebut adalah sebagai berikut (Matjik dan Sumertajaya 2000).
Yij = µ + αi + εij Keterangan :
Yij : nilai pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ : nilai rataan umum
αi : pengaruh perlakuan ke-i
εij : error perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
i : perlakuan taraf penggunaan zeolit dalam ransum; 0%; 0.5%; 1.0% dan 1.5% j : ulangan perlakuan taraf penggunaan zeolit dalam ransum; 1; 2; 3 dan 4
Analisis Data
Data peubah Konsumsi Ransum Harian (KRH), Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH), dan Konversi Ransum (Feed Conversion Ratio/ FCR) yang diperoleh terlebih dahulu diuji asumsi, jika memenuhi syarat maka dilakukan uji analisis ragam atau analysis of variance (ANOVA). Jika hasil analisis berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji perbandingan nilai tengah dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum
Rataan suhu dan kelembaban kandang selama penelitian mencapai 27.30C dan 77.98%. Rataan suhu dan kelembaban kandang ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2 Rataan suhu dan kelembaban selama penelitian
Minggu ke- Suhu (°C) Kelembaban (%)
Pagi Siang Sore Rataan Pagi Siang Sore Rataan 1 23.93 32.66 27.70 27.05 87.00 58.43 77.57 77.50 2 24.73 33.16 28.84 27.86 86.71 55.14 74.43 75.75 3 24.66 33.01 28.77 27.78 86.43 55.14 75.71 75.93 4 24.86 32.09 27.23 27.26 87.71 60.00 80.86 79.07 5 24.64 31.27 28.20 27.19 87.43 63.86 78.71 79.36 6 24.11 31.29 27.10 26.65 88.14 63.29 81.43 80.25 Rataan 24.49 32.25 27.97 27.30 87.24 59.31 78.12 77.98 Keterangan: Rataan suhu harian = (2T pagi + T siang +T sore)/4; Rataan kelembaban harian =
6
Rataan suhu dan kelembaban selama penelitian pada pagi, siang dan malam hari masing-masing 24.49C dan 87.24%; 32.25C dan 59.31%; serta 27.97 C dan 78.12%. Menurut Charles (2002) bahwa suhu optimum kandang ayam berkisar 18-22 C. Tingginya suhu kandang selama penelitian diduga menyebabkan cekaman panas pada ayam yang berpengaruh terhadap konsumsi ransum dan tingkah laku ayam. Cooper dan Washburn (1998) menyatakan cekaman panas menurunkan pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan serta meningkatkan FCR (feed conversion ratio).
Pada kondisi suhu lingkungan tinggi ayam cenderung lebih banyak mengkonsumsi air dibandingkan pakan. Penurunan konsumsi pada kondisi panas dilakukan untuk menekan produksi panas yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuh. Hal ini sejalan dengan pendapat Jahja (2002) yang menyatakan pada suhu lingkungan tinggi (cekaman panas) aktivitas tubuh berkurang, konsumsi pakan berkurang dan konsumsi air minum meningkat. Selain menurunkan konsumsi pakan, cekaman panas juga mempengaruhi tingkah laku ayam (shelter seeking). Selama penelitian pada siang hari ayam terlihat cenderung menyebar dan beristirahat di bawah tempat minum untuk mendapatkan suhu yang lebih rendah (sensible heat loss).
Konsumsi Ransum Harian
Rataan konsumsi ransum harian (KRH) ayam kampung pada minggu ke-5 dan 6 pemeliharaan ditampilkan pada Tabel 3. Berdasarkan analisis ragam diketahui penambahan zeolit dalam ransum dengan taraf 0%, 0.5%, 1.0% dan 1.5% tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap konsumsi ransum harian (KRH) ayam kampung. Walaupun secara statistik tidak berbeda nyata, pemberian zeolit dengan taraf 1.5% (R4) mampu menurunkan konsumsi ransum menjadi 46.58 g e -1
h-1 dibandingkan dengan ransum kontrol sebesar 47.51 g e-1 h-1.
Tabel 3 Rataan konsumsi ransum harian ayam kampung selama pemeliharaan
Perlakuan Konsumsi Ransum Harian KK
g e-1h-1 %
7
pencernaan makanan sehingga lebih lama tinggal dalam usus. Semakin lama makanan tinggal dalam usus semakin sempurna proses penyerapan nutrien makanan oleh usus sehingga efisiensi pakan semakin meningkat (FCR bernilai kecil). Perbedaan hasil tersebut diduga disebabkan oleh perbedaan taraf zeolit, jenis zeolit yang digunakan, bangsa ternak ayam dan lingkungan penelitian.
Pertambahan Bobot Badan Harian
Pertambahan bobot badan harian (PBBH) merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan sebagai standar berproduksi. Rataan PBBH ditampilkan pada Tabel 4.
Tabel 4 Rataan pertambahan bobot badan harian ayam kampung selama pemeliharaan
Perlakuan Pertambahan Bobot Badan Harian KK
g e-1h-1 %
Hasil analisis ragam menunjukkan penambahan zeolit dalam ransum tidak bepengaruh nyata (P>0.05) terhadap PBBH. Hasil penelitian menunjukkan ayam kampung dengan perlakuan R3 (17.52±1.70 g e-1 h-1) menghasilkan rataan pertambahan bobot badan harian terendah, kemudian diikuti secara berturut-turut oleh perlakuan R1 (18.43±3.22 g e-1 h-1), R4 (19.37±0.65 g e-1 h-1) dan R2 (19.44±1.66 g e-1 h-1). Akan tetapi bila dilihat rataannya, pertambahan bobot badan harian ayam yang diberi zeolit sampai taraf 1.5% lebih tinggi dibandingkan dengan ayam tanpa penambahan zeolit (kontrol).
Rendahnya pertambahan bobot badan harian pada perlakuan R3 diduga disebabkan oleh kandungan protein ransum yang rendah. Kandungan protein pada ransum perlakuan R3 yaitu 17.74%lebih rendah dibandingkan ransum perlakuan lainnya. Hasil ini sejalan dengan penelitian Sutamba (2011) dan Brahmana (2012) yang menyatakan penambahan Aclinop dalam ransum ayam dan babi dapat menurunkan kandungan protein ransum. Iskandar (2012) menyatakan kekurangan asupan energi dan protein menyebabkan tertahannya kemampuan genetik tumbuh sehingga ternak tumbuh kurang optimal. Sebaliknya, apabila asupan protein dan energi berlebihan, ternak akan mengeluarkan kelebihan protein tersebut sehingga merupakan pemborosan.
Konversi Ransum
8
(3.61±0.17) memiliki nilai konversi ransum yang paling baik dan masing-masing diikuti oleh perlakuan R2 (3.69±0.27), R1 (3.98±0.92) dan R3 (4.10±0.33). Hasil konversi ransum ayam kampung selama penelitian ditampilkan pada Tabel 5.
Tabel 5 Konversi ransum ayam kampung selama pemeliharaan
Perlakuan Konversi Ransum
R1 3.98±0.92 R2 3.69±0.27 R3 4.10±0.33 R4 3.61±0.17 Rataan 3.85±0.42 Nilai konversi yang sangat tinggi pada ransum dengan perlakuan R3 disebabkan oleh konsumsi ransum harian yang tinggi dan pertambahan bobot badan harian yang rendah. Hal ini diduga dipengaruhi oleh konsentrasi nutrien ransum perlakuan R3 yang memiliki kadar abu (8.50%) yang tertinggi dan kadar protein (20.02%) yang terendah diantara ransum lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat (Amrullah 2004) yang menyatakan zat nutrisi yang terkandung dalam ransum merupakan salah satu yang mempengaruhi nilai konversi ransum. Nataamijaya (2010) juga menambahkan tingginya nilai konversi ayam kampung disebabkan oleh mutu genetika yang masih sangat beragam.
Rataan konversi ransum perlakuan tanpa zeolit (R1) adalah 3.98±0.92, sedangkan ransum dengan penambahan zeolit dengan berbagai atau taraf 0.5%; 1.0% dan 1.5% zeolit adalah 3.80±0.26. Hasil ini menunjukkan konversi ransum dengan penambahan zeolit lebih rendah atau lebih efesien dibandingkan ransum tanpa zeolit. Hasil ini sejalan dengan pendapat (Papaioannou et al 2002) yang menyatakan zeolit dalam pencernaan memiliki fungsi sebagai penyaring molekul dan penukar ion sehingga dapat meningkatkan efesiensi pakan ternak.
Mortalitas
Penambahan zeolit hingga taraf 1.5% dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap mortalitas ayam kampung. Jumlah ayam yang mati selama penelitian adalah 4 ekor (1.25%) dari total 320 ekor ayam kampung yang dipelihara. Hasil mortalitas ayam kampung selama penelitian ditampilkan pada Tabel 6.
Tabel 6 Mortalitas ayam kampung selama pemeliharaan Kematian
38 R3T2 1 Chronic Respiratory
Disease (CRD)
9
Penyebab kematian ayam diduga karena faktor penyakit dan manajemen pemeliharaan. Pemeliharaan dan pengembangan usaha ayam kampung pada penelitian ini belum sepenuhnya memenuhi sistem Good Farming Practice
(GFP). Tingkat biosecurity yang rendah menyebabkan populasi predator di sekitar kandang tinggi. Hasil menunjukkan kematian ayam yang terjadi di minggu ke-4 penelitian disebabkan oleh adanya predator (tikus) disekitar kandang. Hal ini juga disebabkan oleh lingkungan kandang yang dikelilingi perkebunan dan hutan kecil. Penyakit yang menyerang ayam pada minggu ke-5 dan 6 diduga adalah penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD). Perubahan cuaca yang terjadi selama penelitian sangat mempengaruhi kondisi tubuh ayam. Technical Service Medion (2008) menyatakan cuaca yang tidak menentu akan menyebabkan kondisi tubuh ayam menurun sehingga lebih mudah terinfeksi bibit penyakit. Amer et al. (2009) menyatakan bahwa pemeliharaan ayam dalam kandang dengan kepadatan yang tinggi dan sirkulasi udara yang kurang baik dapat menyebabkan ternak ayam terinfeksi bakteri Mycoplasma gallisepticum. Mycoplasma gallisepticum
menyerang saluran pernafasan di bagian kantong udara. Kantong udara menjadi dipenuhi mukus. Tahap infeksi yang lebih akut menyebabkan mukus berwarna kuning dan kental (Bell dan Weaver 2002). Gejala yang terlihat pada ayam muda adalah adanya indikasi kesulitan bernafas seperti bersin dan nafas yang bersuara (ngorok). Menurut Bell dan Weaver (2002) gejala CRD pada ayam dewasa adalah ayam terlihat depresi dan tidak aktif, konsumsi ransum menurun namun mortalitasnya rendah.
Kanibalisme pada ayam di minggu ke-6 (hari ke-42) diduga terjadi karena tingkat kepadatan kandang. Kondisi kandang yang terlalu padat meningkatkan persaingan untuk mendapatkan pakan dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrien. Ayam semakin banyak beraktivitas seiiring dengan bertambahnya bobot badan sehingga semakin meningkat bobot badan ayam maka ayam seharusnya memerlukan tempat tinggal yang lebih luas dari sebelumnya.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Penambahan zeolit dengan taraf 0%, 0.5%, 1.0% dan 1.5% dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum harian, pertambahan bobot badan harian, dan konversi ransum. Namun demikian, penambahan zeolit dengan taraf 1.5% memiliki pengaruh terbaik dari antara perlakuan lain yaitu mampu menahan laju konsumsi ransum harian dan menghasilkan pertambahan bobot harian yang tinggi serta konversi pakan yang paling baik.
Saran
10
DAFTAR PUSTAKA
Amer MM, El-Bayomi KM, Zenab MSG, Hanafei AEA. 2009. Field study on control of chronic respiratory disease in vertically infected broiler chicks. J. BS. Vet. Med.19 (1): 27-33.
Amrullah IK. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Ed ke-3. Bogor (ID): Lembaga Satu Gunungbudi.
Bell DD, Weaver Jr WD. 2002. Commercial Chicken Meat and Egg
Production. 5th Ed. New York (US): Springer Science Business Media,
Inc.
Brahmana RB. 2012. Pengaruh taraf penambahan zeolit “Aclinop” dalam ransum terhadap penampilan babi periode grower dan finisher [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Charles DR. 2002. Responses to the thermal environment. In: Charles, D. A & Walker, A. W. (Eds). Poultry Environment Problems, A guide to solution. Nottingham (UK): Nottingham University Press
Cool WM, Willard JM. 1982. Effect of clinoptilolite on swine nutrition. Nutr. Rep. Int. 26:759.
Cooper MA, Washburn KW. 1998. The relationship of body temperature to weight gain, feed consumption, and feed utilization in broiler under heat stress. Poultry Sci. 77 : 237-242.
Iskandar S. 2012. Optimalisasi protein dan energi ransum untuk meningkatkan produksi daging ayam lokal. Pengembangan Inovasi Pertanian 5(2), 2012:
96-107. Bogor (ID): Balai Penelitian Ternak Bogor.
Jahja. 2000. Ayam Sehat Ayam Produktif. Petunjuk-petunjuk Beternak Ayam. Edisi ke-18. Bandung (ID): Medion Press.
Kamaludin E. 2011. Efektifitas penambahan zeolit dalam ransum dan litter untuk menurunkan kadar amonia dan hidrogen sulfida ekskreta dan meningkatkan kualitas manur ayam broiler [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Leung, S., Barrington S., Wan Y., Zhao X., dan El-Husseini B. 2006. Zeolite (clinoptilolite) as feed additive to reduce manure mineral content. Bioresour Technol. [ diunduh 2014 September 16 ]. http://www. Ncbi.
Nlm. Nih. Gov/ entrez/ utils/ fref.fcgi?.
Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi
SAS dan Minitab. Ed ke-2. Bogor (ID): IPB Pr.
Nataamijaya AG. 2010. Pengembangan potensi ayam lokal untuk menunjang peningkatan kesejahteraan petani. Bogor (ID): Jurnal Litbang Pertanian, 29(4), 2010.
11
Sartika T, Iskandar S. 2007. Mengenal Plasma Nutfah Ayam Indonesia dan
Pemanfaatannya. Edisi pertama. Bogor (ID): Balai Penelitian Ternak.
Sutamba CF. 2011. Performa ayam broiler yang diberi zeolit dalam ransum dan litternya [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Technical Service Medion. 2008. Info Medion (Edisi Desember 2008) [Internet]. [diunduh 2014 September 16]. Tersedia pada: http://info.medion.co.id/index.php/artikel/layer/penyakit/penyakit
2008/reprint.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil analisis ragam konsumsi ransum harian
Sumber Keragaman dB JK KT Fhit P
Lampiran 2 Hasil analisis ragam pertambahan bobot badan harian
Sumber Keragaman dB JK KT Fhit P
Lampiran 3 Hasil analisis ragam konversi ransum
Sumber Keragaman dB JK KT Fhit P
12
lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI dan diterima di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan.