• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akses dan Kontrol Sumberdaya Hutan Gunung Ciremai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Akses dan Kontrol Sumberdaya Hutan Gunung Ciremai"

Copied!
210
0
0

Teks penuh

(1)

1

AKSES DAN KONTROL

SUMBERDAYA HUTAN GUNUNG CIREMAI

D E N I

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

3

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis saya berjudul ―Akses dan Kontrol Sumberdaya Hutan Gunung Ciremai‖ adalah karya saya sendiri dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan di cantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Maret 2014

D e n i

(4)
(5)

5 ABSTRACT

DENI. Access and Control of Mt. Ciremai Forest. Under direction of SOERYO ADIWIBOWO AND ARIF SATRIA

The obejectives of the research are, first, to understand the historical access and control to forest resource of Mount Ciremai. Second, to understand the feature of power relations and web of power that mobilizied, framed and shaped by actors due to changingforest policy of Mount Ciremai. Third, analyzing the impact of changing forest policy of Mount Ciremai to the farmers. A constructivism paradigm and qualitative approach are applied. In-depth interviews were conducted along with snowball techniques. Secondary data are also collected. The results showed that, first, access and control over forest resource of Mount Ciremai are dynamically changing since Colonial era following actor that hold political power for allocating and

distributing forest resource. Secondly, the latest policy for Mount Ciremai‘s forest that change the state enterprise‘s production forest to National Park creates unequal power relations between local university and the government (central and local government) on the one hand, and local NGOs and the farmers on the other hand. The government and local university is proponent for national park initiative, whereas the farmers and local NGOs strongly opposed the initiative. Thirdly, the latest forest

policy that appointed Mount Ciremai‘s forest as National Park, exclude the tenurial

pattern that formerly established between forest state enterprise and the farmers, which then further significantly affect the income of the farmers.

(6)
(7)

7

RINGKASAN

DENI. Akses dan Kontrol Sumberdaya Hutan Gunung Ciremai. Dibimbing oleh SOERYO ADIWIBOWO dan ARIF SATRIA

Studi tentang akses dan kontrol dalam perspektive ekologi politik berupaya menerangkan proses-proses ―kemampuan‖ seseorang dalam memanfaatkan

sumberdaya alam yang ada. Dibalik dari ―kemampuan‖ seseorang dalam

memanfaatkan sumber daya alam, terjadi serangkaian berbagai bentuk jaringan kerja

yang terjalin dari berbagai kepentingan dan kekuasaan. Akses sebagai ―kemampuan‖

selain dipengaruhi oleh sumber kekuasaan (network) juga dipengaruhi dimensi wacana yang menyelimuti para aktor. Jejaring kerja para aktor berkontestasi memperebutkan hak pada pengelolaan sumberdaya hutan yang mempengaruhi aspek penggunaan hutan serta aspek penghidupan seseorang. Meskipun akses dan kontrol dapat dibatasi dalam hukum formal namun pada berbagai studi yang telah dilakukan

oleh peneliti ekologi politik mengungkapkan sebuah kenyataan bahwa ―kemampuan‖

dalam memanfaatkan sumberdaya tidak dibatasi oleh hukum formal sehingga meskipun hukum formal membentuk sebuah aturan pembatasan penggunaan sumberdaya namun di tingkat tapak dapat saja terjadi bentuk-bentuk pemanfaatan sumberdaya oleh para aktor. Gunung Ciremai sebagai objek studi menarik untuk diungkap terutama pada aspek akses dan kontrol sumberdaya hutan terutama karena Gunung Ciremai telah mengalami perubahan berbagai bentuk hukum formal dalam pengaturan dan pengelolaannya dari sejak era Kolonial sampai dengan era hutan konservasi. Sumber-sumber jaringan kekuasaan yang mempengaruhi kebijakan formal pengaturan hutan Gunung Ciremai dan yang mempengaruhi bentuk-bentuk

―kemampuan‖ seorang petani perlu diungkap terutama untuk melihat fenomena ekologi politik.

Tujuan dari penelitian ini adalah, pertama, untuk memahami sejarah akses dan kontrol sumber daya hutan Gunung Ciremai. Kedua, untuk memahami fitur relasi kekuasaan dan jaringan kekuasaan yang dimobilisasi, dibingkai dan dibentuk oleh pelaku karena perubahan kebijakan pemanfaatan sumberdaya hutan Gunung Ciremai. Ketiga, menganalisis dampak perubahan kebijakan hutan Gunung Ciremai pada petani. Penelitian ini mengambil studi kasus di kawasan hutan Gunung Ciremai namun hanya dibatasi daerah administrasi Kabupaten Kuningan Penelaahan kasus lokal tersebut akan ditelusuri dari desa-desa yang berada di sekitar kawasan hutan Gunung Ciremai. Namun, dalam pengambilan data hanya dilakukan di empat desa yang berada pada status pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai. Paradigma konstruktivisme dan pendekatan kualitatif diterapkan dalam penelitian ini. Wawancara mendalam dilakukan dengan teknik snowball . Data sekunder juga dikumpulkan.

(8)

8

telah dimulai sejak Era Pemerintahan Kolonial Belanda (pemberlakuan perlindungan hutan), Era Pemerintahan Orde Baru (penetapan sebagai kaasan hutan produksi Perhutani), Era Reformasi (pemberlakuan PHBM serta penetapan sebagai kawasan Taman Nasional). Setiap kebijakan pengelolaan ini memiliki implikasi pada bentuk-bentuk akses dan kontrolnya. Perubahan kebijakan pada pengelolaan Gunung Ciremai merupakan hasil konstruksi relasi aktor dan kekuasaan berbagai dimensi baik lokal, nasional bahkan internasional. Jaringan relasi dengan proporsi kekuasaan yang ada pada tiap relasi kekuasaan dapat membentuk dominasi kontruksi kebijakan.

Hasil studi mengungkapkan bentuk-bentuk pemanfaatan sumberdaya alam sebagai bentuk akses yang berbeda di 2 desa pembanding (Desa Pajambon dan Desa Seda). Saat ini petani Desa Pajambon masih dapat memanen hasil tanaman eks PHBM meskipun tindakan tersebut diketahui oleh petugas TNGC sedangkan petani Desa Seda memiliki perlakuan represif dari petugas TNGC. Masyarakat petani Desa Pajambon telah membanguan jejaring kuasa dengan LSM lokal (KANOPI) serta telah menggunakan laporan administrasi pengelolaan kawasan wisata Lembah Cilengkrang sebagai alat posisi tawar agar mereka tetap memiliki akses pada lahan hutan eks PHBM. Disamping itu, setoran PNBP dari masyarakat petani pengelola wisata Lembah Cilengkrang telah membangun hubungan saling ketergantungan antara Petani Pajambon dengan TNGC. Sedangkan petani Desa Seda memiliki perlakuan yang berbeda dengan tindakan represif ketika petani Seda mengolah dan memanen tanaman eks PHBM di taman nasional. Fenomena akses dan kontrol dalam kedua kasus ini dipengaruhi oleh bundle of power yang melekat pada aktor sehingga pada kenyataannya bagi mereka yang memiliki jejaring kuasa tetap dapat memiliki akses pada sumberdaya hutan Gunung Ciremai meskipun secara hukum formal tidak, sedangkan bagi mereka yang tidak memiliki bundle of power maka mereka tidak dapat mengakses. Kasus ini terjadi pada petani Desa Pajambon dan Desa Seda.

Fakta di lapangan untuk studi kasus 4 desa ini menemukan adanya keragaman aspek sosial ekonomi pada anggota petani eks PHBM Gunung Ciremai. Keragaman aspek sosial ekonomi ini terutama sekali disebabkan oleh keragaman jumlah kepemilikan lahan milik (pribadi). Sejak diberlakukannya status kawasan menjadi taman nasional, para petani Gunung Ciremai tidak lagi dapat menggarap lahan hutan eks PHBM secara optimal. Secara peraturan formal, mereka dilarang untuk mengolah lahan eks PHBM tersebut. Namun beberapa petani masih melakukannya baik dengan cara terbuka maupun tersembunyi. Berdasarkan hasil survey pendapatan rumah tangga petani eks PHBM, pendapatan dari sektor buruh tani saat ini berkurang menjadi rata-rata Rp 2.000.066,- dari semula (ketika program PHBM masih berjalan) memiliki rata-rata Rp. 6.951.662,- untuk pendapatan tahunan. Saat ini, jam kerja sektor pertanian hanya diandalkan dari pertanian lahan milik. Secara umum dapat disimpulkan perbedaan penghidupan petani pasca diberlakukannya perubahan status menjadi taman nasional yaitu : 1) petani kehilangan pendapatan tambahan dari komoditas yang mereka tanam di lahan PHBM terlebih jika mereka tidak memiliki lahan pertanian milik sendiri; 2) tidak tersedianya jam kerja tambahan (upah buruh) yang semula PHBM menyediakan lapangan kerja buruh baik untuk buruh tanam,

(9)

9

wisata alam yang merupakan bentuk “conservation alternative livelihood” belum memberikan hasil yang siginifikan untuk membantu ekonomi rumah tangga petani pengelola wisata. Hasil studi mengungkapkan bahwa tambahan pendapatan rumah tangga petani sebagai pengelola hanya sebesar Rp 1.351.725,- (tahun 2011) per rumah tangga per tahun sedangkan aset wisat tersebut memiliki nilai dari penjualan tiket sebesar Rp. 72.090.000,- (tahun 2011). Perbedaan antara nilai kawasan wisata dengan pendapatan rumah tangga petani pengelola yang besar ini dikarenakan adanya iuran-iuran wajib yang perlu dikeluarkan oleh petani pengelola wisata sebagai bentuk sharing hasil seperti (setoran PNBP, dana konservasi, iuran desa serta iuran kelompok PHBM dan potongan biaya operasional pengelola).

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, pertama, akses dan kontrol atas sumber daya hutan Gunung Ciremai secara dinamis berubah sejak era Kolonial berikut aktor yang memegang kekuasaan politik untuk mengalokasikan dan mendistribusikan sumber daya hutan. Kedua, kebijakan hutan Gunung Ciremai yang mengubah hutan produksi perusahaan Negara (Perhutani) ke Taman Nasional tercipta dari hubungan kekuasaan yang tidak setara antara universitas lokal dan pemerintah (pemerintah pusat dan daerah) di satu sisi, dan LSM lokal dan petani di sisi lain. Pemerintah dan universitas lokal pendukung untuk inisiatif Taman Nasional, sedangkan petani dan LSM lokal sangat menentang inisiatif. Ketiga, kebijakan kehutanan yang menunjuk hutan Gunung Ciremai sebagai Taman Nasional, telah mengeluarkan pola tenurial yang sebelumnya didirikan antara perusahaan hutan negara (Perhutani) dan petani yang kemudian memberikan pengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Penelitian ini memberikan implikasi dan rekomendasi diantaranya : 1) Ketika kekuatan relasi aktor menjadi kunci penting dalam mempengaruhi penerapan pemberian akses kepada masyarakat kecil maka jejaring kuasa dan relasi aktor untuk kepentingan masyarakat kecil perlu diperkuat; 2) Perubahan kebijakan yang dapat mendorong pemberian akses petani hutan untuk dapat memanfaatkan hutan Gunung Ciremai pasca statusnya sebagai Taman Nasional perlu didukung melalui jaringan kerja aktor populis. Kekuatan aktor populis perlu ditingkatkan dengan rasionalisasi yang dapat diterima oleh aktor pro lingkungan. Besarnya jaringan aktor pro lingkungan menyebabkan sulitnya kebijakan pemberian akses pemanfaatan lahan hutan di Taman Nasional Gunung Ciremai. Aktor akademisi sebagai pemroduksi kebenaran perlu mengungkapkan hasil-hasil penelitian kemiskinan petani hutan serta keamanan ekologi pemanfaatan lahan hutan. Peran aktor akademisi sebagai aktor populis menjadi kontribusi penting dalam membentuk rasionalisasi pemanfaatan dan pemberian akses lahan hutan di kawasan Taman Nasional; 3) Penting untuk melihat pengaruh wacana (diskursus) dalam kontestasi kebijakan kehutanan sehingga perlu dilakukan studi diskursus untuk melihat seberapa besar wacana mempengaruhi aktor dan mempengaruhi relasi kekuasaan.

(10)

10

(11)

11

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB.

(12)
(13)

13

AKSES DAN KONTROL

SUMBERDAYA HUTAN GUNUNG CIREMAI

D E N I

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Sosiologi Pedesaan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(14)

14

(15)

15

Judul Tesis : Akses dan Kontrol Sumberdaya Hutan Gunung Ciremai

Nama : Deni

NRP : I353100091

Disetujui: Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS Dr. Arif Satria, SP., M.Si

Ketua Anggota

Diketahui:

Koordinator Program Studi Mayor Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Sosiologi Pedesaan

Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc.Agr. Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

(16)
(17)

17 PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak Januari 2012 ini adalah Akses dan Kontrol Sumberdaya Hutan Gunung Ciremai. Karya ilmiah ini dibuat guna penyelesaian studi Program Magister (S2) pada Program Studi Sosiologi Pedesaan. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada:

1. Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS dan Dr. Arif Satria SP., M.Si. selaku pembimbing tesis yang memberikan arahan dan bimbingan guna menyempurnakan karya ilmiah ini.

2. Dr. Satyawan Sunito, selaku penguji luar tesis, yang telah memberikan kritik, masukan dan saran untuk menyempurnakan karya ilmiah ini.

3. Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, MSc.Agr. selaku Ketua Program Studi Sosiologi Pedesaan dan Dr. Ir. Rilus A. Kinseng MA selaku wakil Program Studi Sosiologi Pedesaan, yang selalu memberi motivasi dan mendukung penyelesaian studi ini.

4. Dosen-dosen yang mengajar selama kuliah di Sosiologi Pedesaan.

5. Kedua orang tua, Bapak Andi Nurdin (Almarhum). dan Ibu Idah Hamidah. yang telah memberikan dukungan baik moral dan material selama menempuh studi dan penelitian, sehingga saya bisa menyelesaikan belajar S2 di IPB. 6. Istri Annisa dan adinda Aisya Putri, terima kasih atas dorongan dan dukungan

selama ini.

7. Masyarakat Desa Seda, Pajambon, Cisantana, Puncak serta Kompepar Lembah Cilengkrang atas bantuan dan informasi yang diberikan

(18)

18

9. Terima kasih kepada Rahmat (LSM KANOPI) yang telah membantu memberikan informasi detil sehingga penelitian ini dapat terwujud.

10.Terima kasih kepada kawan-kawan Sosiologi Pedesaan Angkatan 2010, Mas Yanu, Bu Sukma, Bu Sri, Mas Aldi, Mas Rinto, Mas Deni Kusuma, Mas Ali, Mas Tarmidji dan Bu Susi atas diskusi dan pembelajaran selama kuliah di Sosiologi Pedesaan.

Bogor, Maret 2014

(19)

19

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cirebon, 2 Febuari 1980 sebagai anak kedua dari pasangan Bapak Andi Nurdin (Almarhum) dan Ibu Idah Hamidah. Pada Tahun 1998, penulis menempuh pendidikan sarjana melalui jalur UMPTN pada Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada Tahun 2007 penulis lulus pendidikan sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kemudian pada Tahun 2010, penulis melanjutkan studi ke program magister pada Program Studi

(20)
(21)

21

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... xiv

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR KOTAK ... xviii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah Penelitian ... 5

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

BAB II. PENDEKATAN TEORI ... 8

2.1 Teori Akses dan Properti ... 8

2.2 Negara dan Penguasaan Sumberdaya Alam... 11

2.3 Petani, Transisi Agraria dan Kuasa Eksklusi ... 18

2.4 Rumusan Masalah dan Kerangka Pemikiran Penelitian ... 21

BAB III. METODOLOGI ... 27

3.1 Paradigma dan Strategi Penelitian ... ... 27

3.2 Lokasi Penelitian ... 28

3.3 Metode dan Strategi Pengumpulan Data ... 28

3.4 Analisis Data ... 32

3.5 Definisi Operasional ... 34

BAB IV. KUNINGAN DAN HUTAN GUNUNG CIREMAI DALAM KONTEKS STUDI ... 37

4.1 Sejarah Kuningan Sebagai Tata Pemerintahan ... 37

4.2 Hutan Gunung Ciremai dan Dinamikanya ... 47

4.3 Studi Kasus Penelitian : Desa Seda, Pajambon, Cisantana, Puncak Kabupaten Kuningan ... 55

BAB V. PERJALANAN PENGATURAN AKSES DAN KONTROL GUNUNG CIREMAI ... 63

5.1 Kayu dan Tanah Hutan sebagai Alat Kontrol ... ... 63

5.1.1 Penerapan Culturstelsel di Gunung Ciremai ... 66

5.1.2 Pemberlakuan Perlindungan Hutan Gunung Ciremai ... 71

5.2 Ciremai dan Legitimasi Perhutani ... 78

5.3 Era Konservasi dan Pengelolaannya ... 94

(22)

22

5.3.2 Zonasi Taman Nasional : Akses dan Kontrol Baru Terhadap Gunung Ciremai ... 100 5.4 Ikhtisar ... 108

BAB VI. PROSES POLITIK PERUBAHAN KEBIJAKAN... 110

6.1 Era Pra Kemerdekaan ... ... 110 6.2 Era Perum Perhutani... 119 6.3 Era Taman Nasional ... 123 6.4 Ikhtisar ... 130

BAB VII. KEHIDUPAN PETANI GUNUNG CIREMAI : DINAMIKA ATAS

IMPLIKASI KEBIJAKAN ... 134

7.1 Era Pra Kemerdekaan ... ... 134 7.2 Era Perhutani ... 136 7.3 Era Taman Nasional ... 146 7.3.1 Sektor Pertanian Pasca Perubahan Status ... 146 7.3.2 Sumber Pencaharian dari Wisata Alam : Studi Kasus Desa Pajambon ... 158 7.3.3 Penggarapan Lahan Eks PHBM : Studi Kasus Desa Pajambon dan

Desa Seda ... 167 7.4 Ikhtisar ... 168

BAB VIII. SIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 170

8.1 Simpulan ... ... 176 8.2 Implikasi ... 177

(23)

23

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Strategi Pengumpulan Data ... 29 Tabel 3.2 Variabel dan Indikator dalam Pendapatan Rumah Tangga Petani ... 30 Tabel 3.3 Definisi Operasional Penelitian ... 35 Tabel 4.1 Catatan Kegiatan Gunung Ciremai dan Fenomena Geologi Gunung Api yang

Teramati... 49 Tabel 4.2 Perbandingan Jumlah Jenis Pohon di Beberapa Hutan Pegunungan Jawa Barat ... 51 Tabel 4.3 Gambaran Kependudukan di Lokasi Studi ... 59 Tabel 4.4 Sarana Pendidikan di Lokasi Studi ... 60 Tabel 4.5 Pola Penggunaan Lahan di Lokasi Studi ... 61 Tabel 5.1 Zonasi pada Lokasi Studi Pasca Perubahan Status Menjadi Taman Nasional ... 104 Tabel 6.1 Relasi Kekuasaan Perubahan Kebijakan yang Mempengaruhi Pengelolaan

Gunung Ciremai Kabupaten Kuningan ... 132 Tabel 7.1 Model Sharing Hasil pada Nota Perjanjian Kerjasama Program PHBM (Studi

Kasus NPK Desa Padabeunghar Gunung Ciremai ... 142 Tabel 7.2 Komoditas dan Siklus Panen Tanaman pada Lahan Milik Petani di Empat

Desa (Desa Seda, Pajambon, Cisantana, Puncak) ... 148

Tabel 7.3 Komoditas dan Siklus Panen Tanaman pada Lahan Eks-PHBM Gunung

Ciremai di Empat Desa ... 150 Tabel 7.4 Pendapatan Petani per Tahun yang Memiliki Lahan > 100 bata ... 153 Tabel 7.5 Pendapatan Petani per Tahun yang Memiliki Lahan < 100 bata ... 154 Tabel 7.6 Perbedaan Pendapatan Sektor Buruh Tani ... 157 Tabel 7.7 Data Pengunjung Obyek Wisata Lembah Cilengkrang Periode

2002-2009

... 162

Tabel 7.8 Rincian Swadaya Berupa Tenaga dan Uang Anggota Kompepar ... 163 Tabel 7.9 Kontribusi Kompepar Lembah Cilengkrang dari Tiket Masuk Kepada

(24)

24

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 25 Gambar 3.1 Metode dan Strategi Pengumpulan Data terkait Pendapatan Petani ... 31 Gambar 3.2 Metode dan Strategi Pengumpulan Data terkait Akses dan Kontrol

Pemanfaatan Hutan Negara ... 32 Gambar 3.3 Analisis Sintesis antara Makna Akses dan Kontrol SDH dengan Pendapatan

Petani ... 33 Gambar 4.1 Pengolahan Citra Sateliet dan Intepretasi Tutupan Hutan Gunung Ciremai ... 55 Gambar 4.2 Lokasi Studi ... 58 Gambar 5.1 Titik Koordinat Perkebunan Kopi Era Culturestelsel di Gunung Ciremai ... 67 Gambar 5.2 Perkembangan Konservasi di Indonesia ... 100 Gambar 5.3 Peta Zonasi Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai ... 105 Gambar 5.4 Sejarah Perubahan Akses dan Kontrol Gunung Ciremai di Lokasi Studi ... 107 Gambar 6.1 Jejaring Kuasa Perubahan Kebijakan Gunung Ciremai ... 130 Gambar 7.1 Pendapatan Rumah Tangga Petani Selama Satu Tahun ... 155 Gambar 7.2 Peta Kawasan Wisata di Desa Pajambon dan Cisantana ... 159 Gambar 7.3 Perbandingan Nilai Pendapatan Kotor Penjualan Tiket dengan Nilai Swadaya

Tenaga dan Swadaya Uang Anggota Kompepar ... 164 Gambar 7.4 Perbandingan Nilai Kawasan Wisata Cilengkrang dengan Pendapatan Bersih

(25)

25

DAFTAR KOTAK

(26)

26

DAFTAR LAMPIRAN

(27)

27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejarah pemanfaatan hutan di Indonesia dapat dikatakan setua dengan sejarah manusia Indonesia itu sendiri. Dikatakan seperti itu karena secara fungsinya hutan memiliki manfaat yang dibutuhkan manusia pra sejarah yaitu fungsi sebagai sumberdaya agraria dan sebagai sumberdaya livelihood baik untuk pemenuhan material maupun non material (budaya/ sesembahan). Pemukiman komunitas dan perburuan/ peramuan sumberdaya hayati pada saat itu memang diperoleh sebagian besar dari hutan. Namun seiring berjalannya waktu serta perubahan orientasi nilai/ norma masyarakat dan ekonomi politik, hutan mengalami penekanan pemanfaatan, terutama pemanfaatan untuk lahan budidaya (pertanian, perkebunan, kehutanan), pemukiman serta pemanfaatan sebagai penyangga ekosistem dan keanekaragaman hayati spesifik dimana hal ini tentu menyebabkan perubahan komposisi tutupan hutan dan tujuan pengelolaannya.

Hutan pada masa kerajaan penggunaannya masih terbatas pada kebutuhan subsisten masyarakat (kayu bakar, sumber bahan obat, sumber makanan, dll) meskipun kayu pada waktu itu telah digunakan oleh masyarakat sebagai bahan baku utama kapal dan pemukiman namun tetap dalam jumlah terbatas. Pada masa Kolonial, hutan telah menjadi kebutuhan utama sebagai ‗ruang‘ untuk budidaya komoditas perkebunan. Tauchid (2009) menyebutkan bahwa pada masa Kolonial telah terjadi

(28)

28

diambil alih oleh Pemerintahan Belanda, wajah penguasaan kawasan hutan mulai menunjukan bentuk dominasi Negara Kolonial terutama setelah munculnya Undang-Undang Agraria Pemerintah Kolonial pada tahun 1870 yang disebut Agrarische Wet. Meskipun latar belakang diberlakukannya Undang-Undang ini memiliki maksud yang positif yaitu memberi kepastian hak kepemilikan lahan pribadi bagi masyarakat sebagai akibat berlakunya politik etis bagi Pemerintahan Kolonial yang sebelumnya hak tersebut ―terampas‖ oleh elite kerajaan dan pengusaha VOC pada masa Kolonial. Undang-Undang Agraria yang dikeluarkan Belanda ini adalah tonggak awal yang menjadi penataan kawasan hutan pada era berikutnya (orde lama, orde baru bahkan sampai dengan saat ini).Dalam Undang-Undang ini menyebutkan bahwa tanah/ lahan

yang tidak ―bertuan‖ secara otomatis dimiliki dan dikuasai oleh Negara Kolonial

dimana secara umum tanah-tanah yang dimaksud tersebut merupakan kawasan hutan dan diduga pada waktu itu memiliki luas ± > 80% dari luas keseluruhan daratan Indonesia. Pada era tersebut, meskipun masih terjadi ketimpangan penguasaan, namun kebijakan Negara Kolonial ini telah menghasilkan bentuk baru penguasaan tanah dan tenaga kerja.

Perjalanan permasalahan penguasaan lahan tidak berhenti pada zaman Kolonial saja. Pada awal Kemerdekaan banyak bermunculan gerakan kaum tani yang memperjuangkan hak mereka dalam mendapatkan kepastian lahan terutama pada lahan-lahan eks-perkebunan pengusaha asing. Situasi politik yang rumit pada era ini (awal Kemerdekaan) menjadikan tarik menarik penguasaan lahan mulai diperdebatkan baik itu tuntutan dari Belanda maupun perdebatan dari elite politik di

(29)

29

Rezim Orde Baru. Pada masa Rezim Orde Baru dengan perspektif peta politik yang bertolak belakang dengan era Soekarno telah merubah wajah berbagai kebijakan termasuk kebijakan penguasaan hutan Negara. Era Orde Baru pada akhirnya mengeluarkan kebijakan penataan lahan yang lebih mirip dengan kebijakan Agraria pada zaman Pemerintahan Kolonial tahun 1870 dengan dikeluarkannya Undang-Undang Pokok Kehutanan tahun 1967 dimana pada Undang-Undang-Undang-Undang tersebut penguasaan hutan sepenuhnya diatur oleh Negara.

Ada tiga komponen dalam penguasaan akses hutan (terutama hutan produksi) yaitu penguasaan tanah; penguasaan/ pengendalian spesies dan penguasaan tenaga kerja hutan. Ketiga komponen masing-masing dapat dipikirkan sebagai jenis

sumberdaya kekuasaan atau sebagai perwujuadan kekuasaan negara atau perusahaan (Weber 1978:991; Peluso, 2006:24). Penguasaan ideologis yang diwujudkan dalam undang-undang kehutanan yang mengesahkan kewenangan negara atas hutan, bergabung dengan ketiga komponen itu untuk membentuk penguasaan akses hutan. Setiap komponen pun memiliki signifikansi tersebut (Peluso, 2006:24).

(30)

30

melainkan juga dari perspektif para aktornya yang di bawah maupun di atas (Peluso,2006:29).

Pemenang dari pergulatan kekuasaan ini mungkin saja kalah dalam pertarungan lain yang lebih serius. Seandainya struktur penguasaan pusat terlalu kaku, ada resiko

struktur itu akan menerjang garis urat kehidupan ―lawannya‖. Jika ini sampai terjadi,

para warga pengguna hutan mungkin tiba-tiba memilih mengabaikan seluruh aturan dan mengguncang landasan sistem penguasaan itu sekuat tenaga. Bila petani kelihatan sudah di atas angin dalam perimbangan kekuasaan, para pengelola hutan mungkin saja memperbesar pengusaan mereka melalui pemaksaan. Pemaksaan, koersi dan kekerasan bukan hanya penyimpangan dari pola permainan manajemen.

Itu semua merupakan alternative yang ancaman maupun kenyataan pemberlakuannya menentukan sikap kedua belah pihak (Peluso, 2006:29).

Studi tentang akses dan kontrol dalam perspektive ekologi politik berupaya menerangkan proses-proses ―kemampuan‖ seseorang dalam memanfaatkan

sumberdaya alam yang ada. Dibalik dari ―kemampuan‖ seseorang dalam

memanfaatkan sumber daya alam, terjadi serangkaian berbagai bentuk jaringan kerja yang terjalin dari berbagai kepentingan dan kekuasaan. Akses sebagai ―kemampuan‖ selain dipengaruhi oleh sumber kekuasaan (network) juga dipengaruhi dimensi wacana yang menyelimuti para aktor. Jejaring kerja para aktor berkontestasi memperebutkan hak pada pengelolaan sumberdaya hutan yang mempengaruhi aspek penggunaan hutan serta aspek pendapatan seseorang. Meskipun akses dan kontrol dapat dibatasi dalam hukum formal namun pada berbagai studi yang telah dilakukan

oleh peneliti ekologi politik mengungkapkan sebuah kenyataan bahwa ―kemampuan‖

(31)

31

konservasi. Sumber-sumber jaringan kekuasaan yang mempengaruhi kebijakan formal pengaturan hutan Gunung Ciremai dan yang mempengaruhi bentuk-bentuk

―kemampuan‖ seorang petani perlu diungkap terutama untuk melihat fenomena ekologi politik. Disamping itu, dinamika pendapatan petani atas perubahan pengaturan hutan Gunung Ciremai perlu diungkap untuk menjelaskan implikasi-implikasi dari proses ekologi politik pengaturan dan pemanfaatan hutan Gunung Ciremai.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Penelitian ini, akan memberikan gambaran perjalanan kebijakan pemanfaatan

hutan negara yang berimplikasi pada pola dan penguasaan terhadap akses sumberdaya hutan dengan menggunakan studi kasus kawasan hutan Gunung Ciremai dimana dalam penelitian ini, selain akan merekonstruksi relasi aktor pada proses perubahan kebijakan, peneliti juga akan mengamati dampak yang dihasilkan dari perubahan kebijakan tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati petani sebagai objek hasil perubahan kebijakan sehingga diharapkan hasil penelitian ini dapat menjelaskan hubungan kebijakan akses dan kontrol sumberdaya hutan terhadap pendapatan petani. Penelitian ini akan menggunakan studi kasus kawasan hutan Gunung Ciremai untuk menemukan makna dari sebuah perubahan kebijakan pengelolaan hutan yang berimplikasi pada akses dan kontrol sumberdaya hutan dengan beberapa panduan pertanyaan dalam penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana bentuk akses dan kontrol sumberdaya hutan pada setiap periode pengelolaan di kawasan hutan Gunung Ciremai (dari statusnya sebagai kawasan hutan kolonial, kawasan hutan produksi maupun kawasan hutan konservasi)?

2. Bagaimana jejaring kuasa aktor pada perubahan kebijakan baik jejaring kuasa pada kontruksi kebijakan maupun relasi kekuasaan dalam pemanfaatan akses di kawasan hutan Gunung Ciremai?

(32)

32 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini akan memaparkan periodisasi pengelolaan hutan yang mengalami berbagai perubahan kebijakan. Secara sederhana berbagai perubahan kebijakan akan berimplikasi pada pola pengendaliannya yang disesuaikan dengan tujuan pengelolaan dan siapa yang memiliki kekuasaan atas pengendalian tersebut. Kendali dan pola akses yang terjadi selama periodesisasi tersebut tentu berdampak pada pendapatan petani yang berada di sekitar kawasan hutan Gunung Ciremai khususnya yang memiliki ketergantungan pada sumberdaya hutan baik dari aspek sumberdaya maupun agrarianya. Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :

1. Memahami sejarah akses dan kontrol sumber daya hutan Gunung Ciremai. Mengetahui bentuk akses dan kontrol sumberdaya hutan pada setiap pengelolaan di kawasan huta Gunung Ciremai baik saat statusnya sebagai

kawasan hutan Pemerintah Kolonial, kawasan hutan produksi maupun statusnya sebagai kawasan Taman Nasional.

2. Memahami fitur relasi kekuasaan dan jaringan kekuasaan yang dimobilisasi, dibingkai dan dibentuk oleh pelaku karena perubahan kebijakan pemanfaatan sumberdaya hutan Gunung Ciremai.

3. Memahami dampak perubahan kebijakan hutan Gunung Ciremai pada petani khususnya aspek pendapatan rumah tangga pasca perubahan status menjadi Taman Nasional.

(33)

33

Gunung Ciremai mengakibatkan terjadinya dinamika akses dan kontrol Gunung Ciremai sehingga akan mempengaruhi segi sosial ekonomi petani. Penelitian ini sedikitnya akan memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Memberikan informasi ilmiah tentang faktor relasi dan jejaring kekuasaan sebagai pengaruh perubahan akses dan kontrol sumberdaya hutan Gunung Ciremai.

2. Memberikan informasi ilmiah tentang pengaruh perubahan kebijakan serta dinamika akses dan kontrol sumberdaya hutan Gunung Ciremai terhadap pendapatan rumah tangga petani.

3. Memberikan justifikasi ilmiah untuk menentukan rekomendasi yang tepat

(34)

34

BAB II

PENDEKATAN TEORI

2.1Teori Akses dan Properti

Peluso dan Ribot (2003) mendefinisikan akses sebagai kemampuan menghasilkan keuntungan dari sesuatu, termasuk diantaranya objek material, perorangan, institusi, dan simbol. Dengan menfokuskan pada kemampuan dibandingkan dengan kepemilikan yang ada dalam teori properti. Formulasi ini memberikan perhatian pada wilayah yang lebih luas pada hubungan sosial yang mendesak dan memungkinkan orang untuk menguntungkan dari sumber daya tanpa menfoukuskan diri pada hubungan properti semata.

We define access as "the ability to derive benefits from things," broadening from property's classical definition as "the right to benefit from things." Access, following this definition, is more akin to "a bundle of powers" than to property's notion of a "bundle of rights." This formulation includes a wider range of sosial relationships that constrain or enable benefits from resource use than property relations alone. (Lee Peluso and Jesse C. Ribot, 2003)

Peluso dan ribot (2003) melihat bahwa ada semacam susunan jaringan akses. Perhatian mereka memungkinkan seseorang memetakan proses hubungan akses dengan sumber daya. Konsep akses disini ditempatkan pada analisa siapa yang sebenarnya diuntungkan dari sesuatu dan melalui proses apa mereka melakukannya. Akses secara empiris menfokuskan diri pada siapa yang mendapatkan apa, dalam cara apa, dan kapan.

(35)

35

kebudayaan, dan ekonomi-politik dengan ikatan dan jaringan kekuasaan yang menyususun akses sumber daya.

Beberapa orang dan institusi yang mengontrol sumber daya sementara yang lain mempertahankan akses mereka. Analisa akses juga membantu dalam memahami mengapa beberapa orang atau institusi mendapatkan keuntungan dari sumber daya, apakah mereka mempunyai kepemilikan barang ataupun tidak. Macpherson (1978) menambahkan studi akses yang membantu memahami keanekaragaman jalan orang untuk mendapatkan keuntungan dari sumber daya termasuk diantaranya hubungan properti.

Peluso dan Ribot (2003) membedakan teori akses dan teori properti. Akses

lebih kepada kemampuan sedangkan kepemilikan ada pada properti. Banyak dimensi akses termasuk diantaranya mengitari definisi yang digunakan dalam studi properti. Properti berhubungan dengan literatur dalam penggunaan sehari-hari terhadap kepemilikan sendiri yang dibatasi oleh hukum adat atau konvensi. Walaupun dengan konsep hubungan properti bisa dilihat dalam hubungan kepemilikan sumber daya dan sanksi pengendalian dalam institusi. Oleh karena itu, analisa akses membutuhkan perhatian pada properti sebagaimana tindakan terlarang, hubungan produksi, hubungan pemberian dan sejarah dari semua itu.

(36)

36

mengatur tindakan bebas. Mempertahankan akses memerlukan kuasa untuk menjaga sebagian sumber daya akses yang terbuka. Baik pengendalian dan pengontrolan merupakan dua hal yang saling melengkapi. Keduanya membentuk hubungan diantara aktor dalam hubungan terhadap sumber daya, manajemen, dan penggunaan. Disaat yang sama, makna dan nilai sumber daya menyangga antara siapa yang mengontrol dan siapa yang mempertahankan akses. Seperti akses pengendalian dan mempertahankan mempunyai kesamaan dengan ide Marx mengenai hubungan buruh dan pemilik modal. Hubungan antara aktor yang mempunyai modal dan yang berperan sebagai buruh secara paralel berhubungan dengan aktor yang mengontrol akses dan aktor yang mempertahankan akses mereka. Penempatan akses pada bingkai

kerja ekonomi-politik telah melengkapi model teori perubahan sosial. Hubungan sosial timbul dari kerjasama dan konflik yang mengelilingi keuntungan dengan sebagian momen ekonomi-politik. Maka dari itu, pendekatan proses menjadi pendekatan yang baik dalam menangkap perubahan tersebut. Analisa proses juga merupakan identifikasi dalam pemetaan mekanisme akses yaitu penambahan, mempertahankan, dan pengendalian. Analisa akses melibatkan 1) Identifikasi dan pemetaan aliran kepentingan sebagai keuntungan, 2) Identifikasi mekanisme oleh perbedaan aktor yang melatarbelakangi penambahan, pengendalian dan mempertahankan aliran keuntungan dan distribusinya. Dan 3) analisa hubungan kekuaaan yang menegaskan mekanisme akses yang melibatkan darimana keuntungan didapatkan (Peluso dan Ribot, 2003).

(37)

37

berdasarkan sanksi hukum, adat istiadat, dan konvensi. Label kejahatan bisa dikenakan pada aktor tergantung pada hubungan aktor sebagai lawan atau bentuk lainnya. Bisa dikatakan akses illegal mengarah pada kesenangan keuntungan dari sesuatu dengan cara tidak mendapatkan sanksi sosial oleh negara atau masyarakat. Akses illegal beroperasi melalui koersif dan secara diam-diam, Pembentukan hubungan antara mereka berusaha untuk mendapatkan penambahan, pengendalian, dan mempertahankan akses (Peluso dan Ribot, 2003).

Blaikie menjelaskan bahwa modal dan identitas sosial mempengaruhi kepemilikan prioritas akses sumber daya. Akses teknologi merupakan suatu cara dalam memediasikan akses sumber daya dengan sejumlah cara. Penggunaan

teknologi atau peralatan digunakan untuk mendapatkan sumber daya dengan cara mengeskstrak-nya. Akses modal merupakan suatu faktor yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan dari sumber daya dengan pengendalian dan mempertahankan akses mereka. Modal digunakan untuk mengakses pengendalian sumber daya melalui pembelian kepemilikan. Itu juga bisa digunakan untuk mempertahankan dengan cara membayar sewa, biaya formal akses, atau membeli pengaruh orang yamg mengendalikan sumber daya. Akses pasar merupakan kemampuan untuk mengkomersilkan keuntungan dari sumber daya. Akses pasar adalah pengendalian melalui proses dan sejumlah besar struktur. Hal ini berarti akses modal, struktur monopsoni, praktik tertutup, dan bentuk persekongkolan antara aktor pasar atau pedukung kebijakan negara. Akses buruh dan kesempatan buruh juga mengambil peranan penting dalam keuntungan dari dumber daya. Selain itu, bagi yang mengendalikan kesempatan buruh bisa mengalokasikan mereka ke dalam bagian hubungan patron-klien. Begitu juga dengan akses pengetahuan yang berguna dalam pengendalian ideologi dan kepercayaan.

2.2 Negara dan Penguasaan Sumberdaya Hutan

(38)

38

Amerika LATIN dan Asia memiliki penilaian bahwa negara berperan dalam melembagakan perubahan politik secara komprehensif, membantu mempertajam pembangunan ekonomi nasional dan melakukan tawar-menawar dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Ahli sejarah ekonomi dan ekonomi politik telah berteori tentang negara sebagai pembuat lembaga hak-hak kepemilikan dan sebagai pengatur dan pengubah pasar. Dari sisi antropologi budaya, telah mengeksplorasi arti khusus dan kegiatan negara dalam pandangan non-western. Negara sebagai aktor penting dan memahami bagaimana negara mempengaruhi politik dan proses sosial melalui kebijakan negara dan pola hubungan negara dengan kelompok-kelompok sosial (Skocpol, 1989; Awang, 2004)

Menurut Max Weber negara merupakan gabungan kewajiban pengawasan hak teritorial dan penduduk didalamnya, jika diperlukan menerapkan kebijakan yang dibuat oleh negara dengan kekuatan /paksaan (Skocpol, 1989:47). Administrasi, hukum, organisasi-organisasi ekstraktif dan yang bersifat memaksa adalah inti dari negara. Organisasi-organisasi pelaksana negara tersebut bervariasi strukturnya antar negara-negara, dan mereka mungkin melekat dalam beberapa macam peraturan perundangan dan konstitusi. Alfred Stepan memformulasikan perspektif Weberian tentang negara sebagai berikut:

―Negara harus dipertimbangkan sebagai lebih dari pemerintah. Hal ini

merupakan kelanjutan dari sistem-sistem administrasi, peraturan, birokrasi dan pemaksaan yang mencoba tidak hanya menata struktur hubungan antara masyarakat civil dan kewenangan publik di dalam satu kemasan politik tetapi juga menata struktur banyak hubungan krusial dalam masyarakat civil‖ (Alfred Stepan dalam Skocpol 1989:7).

Menurut Skocpol, membahas peran-peran negara di dalam pengertian bring the

state back in tidak harus membacanya dari sistem grand system theories

(39)

39

perubahan dunia. Kedepan diperlukan secara solid pemahaman mendasar dan ketajaman analisis tentang sebab musabab yang beraturan yang mendasari sejarah negara, struktur sosial dan hubungan transnasional dalam dunia modern (Skocpol, 1989:28). Perbedaan konstruksi daerah di luar pusat-pusat pertumbuhan negara dan komponen manusianya dan alamnya menghasilkan perbedaan versi sejarah juga. Penjelasan tentang alam dan lingkungan tidak bebas terhadap ideologi, idealisme atau penilaian moral dan semuanya itu mempunyai konsekuensi politik. Penyisihan manusia dari sejarah alam merubah cara-cara sumberdaya alam dirasakan, diartikan, dinilai, dialokasikan dan digunakan dan pada akhirnya dapat merusak konservasi. Aktor manusia, khususnya berkaitan dengan investasi tenaga kerja, didalam

penciptaan alam sering kali memberikan hak-hak kepemilikan atau akses. Ratusan tahun sudah penduduk asli (indigenous people) melakukan pemanfaatan dan pengawasan terhadap sumber daya alam yang mereka kuasai sebelum ada claim dari negara terhadap sumberdaya alam tersebut. Kurangnya penghargaan atas peran manusia dalam menciptakan lingkungan alam merupakan satu pernyataan politik, ---termasuk keputusan untuk mengakui hak-hak dan tanggung jawab rakyat dan akses serta kontrol mereka (masyarakat) terhadap sumberdaya alam (Peluso, 1996:136).

Dalam kaitannya dengan konservasi, maka pertanyaan kritis perlu diajukan seperti bagaimana kelompok-kelompok pejuang konservasi internasional (perspektif barat) dapat dengan sengaja mempromosikan strategi konservasi dalam pembangunan hingga merugikan atau berlawanan dengan pengguna-pengguna sumberdaya lokal. Kelompok konservasi Internasional mungkin menyumbang pada kekerasan negara atas nama konservasi dan konservasi dapat menjadi bagian dari strategi negara untuk mengontrol masyarakat dan teritorial.

(40)

40

penggunaan legitimasi kekerasan, mungkin menggunakan kekerasan melawan penggunaan sumberdaya atas nama konservasi, baik kepentingan lingkungan maupun ekonomi dan hal tersebut sebagai satu cara perlindungan kedaulatan politiknya (Peluso, 1992). Masyarakat lokal sangat memiliki kepentingan pada sumberdaya mereka, oleh karena itu jika ada intervensi dari negara sangat dimungkinkan membawa masyarakat kembali ke suasana pertentangan dengan kekerasan (Peluso, 1996:138).

Kepentingan negara dalam pengawasan penggunaan sumberdaya terutama sekali ada 2 hal yaitu terkait dengan : (1) Power (kekuasaan)--- yang mencakup pengawasan dan kemampuan untuk mengatur; (2) ekonomi. Perjuangan kekuasaan

dilakukan secara terus menerus di dalam hal alokasi , kontrol dan akses sumberdaya. Kontrol terhadap sumberdaya meningkatkan kontrol sosial oleh negara (Barber, 1989; Peluso, 1996:138; Poffenberger, 1990). Sementara itu kekuasaan ekonomi memberi negara legitimasi lebih besar dimata komunitas internasional, sekarang kontrol ekonomi seperti inilah yang berlaku, walaupun sering terjadi kompetisi atau persaingan dengan para pemilih sendiri. Kompetisi pada arena legitimasi dilakukan dalam banyak dimensi dengan skala yang berbeda: dalam negara sendiri (antara lembaga, antar menteri dan antar faksi politik); dalam berbagai arena internasional (antar kelompok yang berbeda kepentingan dalam sumberdaya alam, komoditi perdagangan, produksi dan konservasi); dan pada daerah luar kota (non perkotaan, dimana ada lokasi sumberdaya dan dimana pengguna lokal mungkin berkompetisi dengan orang luar dan antar masyarakat sendiri dalam rangka akses pada sumberdaya lokal) (Peluso, 1996:139-140).

(41)

41

kekerasan negara tersebut ditingkat lapangan. Padahal militer tidak pernah

memainkan posisi ―netral‖ dan umumnya peran mereka digerakkan oleh sasaran,

metoda dan ideologi yang berasal dari kekuasaan pemerintah pusat. Hal tersebut bertolak belakang dengan kebutuhan kelompok masyarakat marginal seperti penggembala ternak dan peladang berpindah, serta kelompok masyarakat pengguna sumberdaya hutan. Kelompok masyarakat marginal ini memang sangat sulit di kontrol keberadaannya oleh pemerintah.. Oleh karena itu pemerintah seringkali menggunakan kekuatan militer untuk memantapkan pengawasan daerah hutan yang di klaim oleh masyarakat, untuk tujuan politik dan perlindungan lingkungan. Seringkali kelompok konservasi di negara dunia ketiga memperbesar dana dan

kapasitas fisik untuk melindungi sumberdaya dengan nilai-nilai yang bersifat global. Beberapa organisasi lingkungan internasional melakukan tindakan perlindungan secara paksa sesuai dengan outcome mereka sendiri yaitu pengawetan kekayaan warisan biologi tanpa ada kejelasan penggunaannya untuk mencapai sasaran apa (Duedney, 1990:461-476). Perdebatan paling sering muncul terkait dengan kelompok konservasionis adalah terkait dengan perlindungan atas spesies langka, bahaya lingkungan dan ekosistem secara keseluruhan. Para konservasionis paling sering menggambarkan agenda-agenda mereka sebagai hal yang seolah-olah menjadi persoalan masyarakat dan kepentingan setiap orang secara merata, mengkonstruksikan citra pada tingkatan komunitas global. Pernyataan Peluso tentang pengawasan negara atas sumberdaya alam dapat disimak pada uraian di bawah ini.

However, violence in the name of resource control also helps states to control people, especially recalcitrant regional groups, marginal groups, or minority groups who contest state resource claims or otherwise

challenge the state‘s authority (Peluso. 1996:139)

(42)

42

tidak perduli dengan perlawanan dan pemberontakan masyarakat lokal tersebut. Bahkan dengan menggunakan retorika konservasi untuk memperoleh legitimasi dari kelompok-kelompok lingkungan yang berasal dari luar negeri, negara mungkin berhasil dalam penguatan kapasitasnya untuk mengatur sasaran konservasi melalui penggunaan kekuatan (Migdal, 1988).

Sumberdaya hutan (SDH) menurut pengaturan hukum masuk ke dalam domein publik. Diskursus tentang domein publik sudah berlangsung lama, dimulai oleh seorang ahli hukum dari Prancis yang bernama Proudhon yang membicarakan hak-hak negara atas benda-benda milik publik. Seperti diketahui dalam melaksanakan tugasnya pemerintah (yang menjadi personifikasi negara) memiliki fasilitas-fasilitas

seperti gedung-gedung, benda-benda inventaris serta mempunyai hak mengelola benda-benda milik publik seperti terminal, sungai, laut, Gunung dan hutan. Karena itu wajar jika muncul pertanyaan bagaimana sesungguhnya hubungan hukum antara negara dan benda-benda publik tersebut.

Menurut Proudhon (Mahfud, 2001:108) publik domein itu harus dibedakan atas dasar kepunyaan publik dan kepunyaan individu (private). Kepunyaan publik adalah benda-benda milik publik yang pemanfaatannya dapat dinikmati oleh masyarakat seperti jalan, laut, terminal, stadion, bandara, hutan dan sebagainya. Kepunyaan individu adalah publik domein yang pemanfaatannya secara langsung menjadi monopoli pejabat atau pegawai pemerintah tersebut seperti kantor, benda inventaris, asrama dan sebagainya. Dalam pengertian seperti ini, pengertian domein publik tidak menimbulkan masalah dari para ahli hukum. Domein publik kemudian menimbulkan perdebatan antara setuju dan tidak setuju dikalangan ahli hukum ketika memasuki wilayah hukum administrasi negara. Perdebatan ini dimunculkan oleh Verting, Marecel Waline, Barkhausen, Thorbecke dan von Reeken (Mahfud, 2001:108-109). Dengan membaca silang pendapat dari para ahli tentang domein publik tersebut, lalu bagaimana pilihan hukum administrasi negara tentang publik domein di Indonesia?

(43)

43

penjajah kolonial belanda). Para penyusun UUD 1945 di BPUPKI dan PPKI sama sependapat bahwa negara bukanlah pemilik atas publik domein melainkan merupakan pihak yang menguasai (Mahfud, 2001:110). Hubungan ini jelas sekali dicantumkan

dalam pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menggariskan bahwa ―bumi, air, dan

kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat‖. Kemudian ―hak menguasai‖ diformulasikan lagi ke dalam UU No.5/ 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok

Agraria.. Menurut pasal 2 ayat (2) UU ini yang dimaksud dengan ―hak menguasai‖

oleh negara adalah kewenangan negara untuk: Pertama, mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, persediaan, dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang

angkasa; Kedua, menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum, air dan ruang angkasa; Ketiga, menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa. Logika yang dipakai adalah bahwa sumberdaya hutan (SDH) merupakan domein publik yang dikuasai oleh negara dan SDH merupakan bagian dari agraria yang dikuasai oleh negara.

Teori konstruksi sosial untuk alam dan lingkungan oleh Barry didekati dari perspektif marxian dan ekonomi neo klasik yang menitik beratkan pada mekanisme pasar sebagai tempat transaksi. Negara/pemerintah tidak ikut menentukan mekanisme pasar tersebut karena pasar telah memiliki mekanisme alamiahnya sendiri. Negara/pemerintah yang memiliki hak kuasa atas sumberdaya hutan, pada praktiknya memunculkan sikap nyaris sekehendak mereka saja dalam mendominasi peruntukan dan pemanfaatan hutan di Indonesia.

(44)

44

dilakukan oleh pemerintah tanpa menerapkan prinsip-prinsip good governance (tata pemerintahan yang baik). Oleh karena itu tidak dapat dihindari pada masa Orde Baru telah terjadi bahwa birokrasi negara berkolusi dengan berbagai konglomerat untuk menghasilkan pendapatan dalam sektor kehutanan dengan mengorbankan masyarakat lokal (Atje dkk, 2001:130).

Munculnya pemikiran ekonomi politik seperti di atas dimulai sejak dikeluarkannya UU penanaman Modal Asing (PMA) tahun 1967. UU ini memang dirancang sedemikian rupa sampai tidak banyak publik mengetahui bahwa kelak kemudian hari UU ini merupakan pintu masuk kapitalisme internasional, sistemik dan terstruktur rapih. UU PMA inilah yang menjadi titik awal masuknya modal asing

dan investor dalam pengusahaan hutan alam tropis di Indonesia. Konsepsi pengusahaan hutan alam tropis oleh HPH (hak pengusahaan hutan) merupakan pendekatan ekonomi politik yang dipilih oleh Pemerintah Orde Baru (Awang, 2003:5). Sasaran utama eksploitasi hutan adalah menciptakan sumber fiskal dan devisa, pengembangan industri kehutanan, penciptaan lapangan kerja dan untuk pembangunan regional. Dalam praktiknya, sasaran-sasaran tersebut berubah menjadi peningkatan produksi dan ekspor kayu gelondongan (Ramli dan Ahmad, 1993:4).

Alam (hutan) dikonstruksi oleh manusia sebagai lingkungan yang selayaknya dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat, hal ini sejalan dengan paham modernitas yang bertumpu pada eksploitasi sumberdaya alam guna pengembangan industri. Pada kasus HPH dan kasus-kasus pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di Indonesia lebih dapat dijelaskan melalui teori konstruksi sosial.

2.3 Petani, Transisi Agraria dan Kuasa Eksklusi

(45)

45

dalam penguasaan sumberdaya agrarian akan menimbulkan kemiskinan di pedesaan (Soemarjan, 1980 dalam Fadjar, 2000).

Melalui kegiatan/ usaha produktif di atas sumberdaya lahan yang dikuasai para petani, mereka berpotensi memperoleh penghasilan yang memadai dan berkelanjutan

sehingga tujuan utama petani untuk ―memenuhi kelangsungan hidup‖ dan ―membuat

kehidupan yang lebih baik‖ dapat dicapai. Selain itu, menurut Scott (1989), secara sosiologis penghasilan minimum sebuah rumah tangga masyarakat non-kapitalis tidak hanya ditunjukan untuk menyediakan makanan anggota keluarga secara memadai tetapi juga untuk memenuhi kewajiban sosial, misalnya untuk membiayayi kegiatan seremonial.

Terkait sumberdaya agraria sebagai basis kesejahteraan petani, seberapa jauh sumberdaya tersebut dapat berperan akan ditentukan oleh : 1) karakteristik sumberdaya lahan; 2) keadaan hubungan sosial dalam komunitas petani (baik diantara sesame komunitas lokal maupun antara komunitas lokal dengan pendatang). Dalam konteks land tenure, kesejahteraan mencakup tiga hal berikut (Fremerey dan Aminy, 2002) : 1) jalan untuk menguasai lahan; 2) pengakuan tanah miliki dan; 3) tipe penggunaan lahan. Kemudian sejalan dengan pendapat Sitorus (2002) basis kesejahteraan petani yang bersumber dari lahan yang dikuasai petani berlangsung

melalui : 1) pengaturan sosial ―penguasaan tetap‖, dalam hal ini lahan yang

diusahakan petani berperan sebagai ―modal ekonomi‖ atau 2) pengaturan sosial

―penguasaan sementara‖ (sistem sewa, sistem bagi hasil) dalam hal ini lahan yang diusahakan petani berperan sebagai ―modal sosial‖. Secara ringkas, uraian-uraian tersebut menunjukan bahwa peta kesejahteraan petani yang berbasis pada sumberdaya agrarian (lahan) sangat tergantung dari seberapa jauh para petani memiliki kontrol terhadap penguasaan sumberdaya agraria tersebut. Kemudian, mengingat kontrol petani terhadap sumberdaya agraria tersebut ditentukan oleh bentuk struktur agrarian maka akan berimplikasi pada perubahan peta sistem kesejahteraan keluarga/ komunitas petani.

(46)

46

hubungan antara ―pemilik lahan‖ dengan ―bukan pemilik lahan‖. Secara umum

berkembangnya komersialisasi pertanian pertanian telah memperlemah posisi para petani yang tidak memiliki lahan (petani penggarap dan/ atau buruh tani) dan kemudian akan berdampak pada berkurangnya jaminan subsistensi mereka. Dengan kata lain, hierarki dalam penguasaan lahan berimplikasi pada hierarki jaminan subsistensi atau hierarki kesejahteraan petani yang berbasis pada sumberdaya lahan. Oleh sebab itu, dalam konteks kesejahteraan petani, petani ―pemilik lahan sempit‖

sangat mungkin lebih tinggi statusnya dari pada ―penyewa lahan luas‖ karena petani

pemilik lahan sempit memiliki sendiri sarana subsistensi yang mereka perlukan. Bila kontrol petani terhadap penguasaan sumberdaya agraria semakin menurun

sehingga luas sumberdaya agraria yang mereka kuasai dan mereka usahakan bertambah sempit atau bahkan petani tersebut terlepas dari penguasaan sumberdaya agraria dan hanya menjadi buruh tani, maka potensi penghasilan yang diperoleh petani dari sumberdaya agraria tersebut semakin kecil dan/ atau semakin tidak pasti. Bila kedua keadaan tersebut kemudian menyebabkan penghasilan petani (dari sumberdaya agraria) hanya cukup untuk memenuhi persediaan pangan yang berada dekat garis kemiskinan atau tingkat minimum fisiologi maka mereka berada pada

situasi ―problema kesejahteraan‖ karena pengurangan lebih lanjut akan menyebabkan

malnutrisi/ kematian dini (Scott,1989).

Sebagai gambaran umum, Scott (1989) juga menjelaskan bahwa problema kesejahteraan petani seringkali muncul pada situasi dimana para petani menghadapi hal-hal berikut : 1) kekurangan tanah untuk usaha pertanian; 2) jumlah anggota komunitas terus bertambah; kekurangan modal untuk menjalankan usahatani (secara intensif) dan 3) kegiatan non-pertanian tidak dapat dijadikan alternatif sumber penghasilan keluarga. sementara itu, menurut Ponsioen (1969) problema kesejahteraan petani juga akan muncul manakala institusi berubah sangat cepat. Dengan penguasaan lahan yang sempit maka upaya petani memenuhi kesejahteraan keluarga sulit dipenuhi.

(47)

47

strategi ―intensifikasi‖ sehingga penghasilan mereka meningkat. Akan tetapi,

implementasi strategi tersebut sangat tergantung pada sejauhmana penguasaan petani atas faktor produksi lain, terutama tenaga kerja, bahan dan alat, serta modal financial (Wolf, 1985). Upaya yang paling sulit dilakukan petani kecil adalah akumulasi modal finansial karena harus bersaing dengan pemenuhan biaya kebutuhan sehari-hari keluarga dan pemenuhan biaya lainnya terutama biaya seremonial yang berperan menopang ikatan sosial tradisional dengan sesamanya. Oleh sebab itu, Scott (1989) menyangsikan dapat berlangsungnya intensifikasi oleh para petani subsisten karena perhatian utama mereka adalah bagaimana memenuhi kepentingan hari ini, bukan bagaimana mencapai cita-cita masa depan. Bahkan dalam situasi ini, upaya yang

dilakukan petani cenderung menghindari kegagalan (risk oversion) atau memilih

―dahulukan selamat‖ (safety first). Dengan kata lain, petani tidak dapat berjiwa wiraswasta. Namun demikian, berbeda dengan pendapat Scott, Popkin (1986) berpendapat bahwa para petani di pedesaan sebenarnya merupakan petani pemecah masalah yang rasional. Para petani terus menerus berupaya keras selain melindungi diri juga untuk menaikan tingkat subsistensi mereka. Walaupun para petani pedesaan sangat miskin dan sangat dekat dengan garis bahaya, namun mereka masih memiliki sedikit kelebihan untuk melakukan tindakan investasi yang beresiko, baik melalui investasi jangka panjang maupun jangka pendek. Logika investasi tersebut mereka aplikasikan dalam pertukaran pasar maupun bukan pasar.

2.4 Rumusan Masalah dan Kerangka Pemikiran Penelitian

(48)

48

lakukan. Selanjutnya, pengendalian akses menurut Peluso (2003) adalah kemampuan untuk memediasi akses lainnya. Pengendalian mengarah pada pemeriksaan dan pengawasan tindakan, fungsi atau kekuatan yang mengawasi dan mengatur tindakan bebas. Mempertahankan akses memerlukan kekuasaan untuk menjaga sebagian sumber daya akses yang terbuka. Baik pengendalian dan pengontrolan merupakan dua hal yang saling melengkapi. Keduanya membentuk hubungan diantara aktor dalam hubungan terhadap sumberdaya, manajemen, dan penggunaan (Peluso dan Ribot, 2003). Pengertian akses dan control dalam konteks penelitian ini mengikuti pandangan yang diberikan oleh Peluso dan Ribot tersebut.

Dalam catatan sejarahnya, kawasan hutan Gunung Ciremai memiliki

(49)

49

menolak keras perubahan status karena akan berdampak pada program PHBM1 mereka.

Berbagai perubahan status pengelolaan yang terjadi di kawasan hutan Gunung Ciremai memiliki implikasi tersendiri pada pola akses dan control sumberdayanya, terutama bagi petani yang sangat tergantung dengan sumberdaya hutan. Berdasarkan definisi akses dari Peluso bahwa akses merupakan kemampuan bukan kepemilikan hak yang dibentuk dari hubungan ekonomi-politik aktornya maka kejadian-kejadian pemanfaatan sumberdaya hutan Gunung Ciremai dalam konteks akses ini bukan hanya dilihat dari kacamata status formal penguasaannya saja. Dalam studi awal yang dilakukan peneliti, yang terjadi pada kawasan hutan Gunung Ciremai adalah

‗penyimpangan-penympangan‘ dari hokum formal atas pemanfaatan sumbedaya hutan . Satu contoh yang baru ditelusuri peneliti adalah penyimpanagan pemanfaatan akses PHBM yang dikuasasi oleh pelaku agribisnis dan bukan pada kelompok tani kecil dengan luasan yang telah ditentukan. Kenyataan dari penyimpangan berikutnya adalah pada perubahan statusnya sebagai Taman Nasional (TNGC), dimana secara hokum formal hak kepemilikan dan penguasaan pengelolaan sumberdaya hutan ditentukan oleh Balai Taman Nasional yang merupakan UPT dari Departemen Kehutanan, namun pada kenyataannya masih saja ada penggarapan lahan hutan untuk praktek pertanian bekas kerja PHBM para petani. ‗Penyimpanan-penyimpangan‘ ini membuktikan kebenaran tentang akses yang dikonsepsikan oleh Peluso bahwa kepemilikan hak bukan semata-mata praksis riil yang terjadi di lapangan namun ada konteks hubungan politik dan kekuatan para aktor pemanfaat sumberdaya hutan yang

membentuk pemanfaat ‗bayangan‘ yang nota bene tidak memiliki kekuatan hokum

formal.

Untuk kerja penelitian ini, mengungkap relasi aktor dan relasi kekuasaan serta kekuatan politik menjadi salah satu tujuan dalam memahami pemanfaatan sumberdaya hutan. Bahwasannya dinamika yang cepat menyebabkan terjadinya pola

1

(50)

50

yang cepat pula dalam struktur pemanfaatan sumberdaya hutan. Strategi dan upaya para aktor dalam membuat relasi politik dan intervensi-intevensi baru menjadikan dinamika pemanfaatan dan akses sumberdaya hutan terus berkembang dan berubah. Ini yang memerlukan penelusuran yang lebih mendalam pada konteks kerja penelitian. Sehingga mengamati akses sumberdaya hutan seperti mengamati kontestasi para aktor yang bersaing memperebutkan penguasaan sumberdaya hutan.

Disatu sisi, pendapatan petani dalam kaitannya sebagai aktor yang berkontestasi tentu mengalami pasang surut ketidakpastian. Diluar dari itu semua, sebenarnya ada golongan petani miskin yang sama sekali luput dan seolah-olah tidak masuk pada relasi aktor yang berkontestasi dalam memperebutkan pendapatan. Ini menarik untuk

menjadi perhatian penelitian ini terutama untuk mengungkap sebab-sebab tindakan mereka dalam konteks akses sumberdaya hutan. Seperti yang dijelaskan oleh Peluso

bahwa

s

eseorang mungkin memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan dari tanah

tetapi mungkin tidak dapat melakukannya tanpa akses ke tenaga kerja atau modal. Ini akan menjadicontoh dari memiliki properti (hak untuk memperoleh manfaat) tanpa akses (kemampuan untukmanfaat). Mungkin saja petani miskin yang luput dari kontestasi tersebut merupakan gambaran petani yang dijelaskan Peluso tersebut. Ketika mereka (petani miskin) memiliki partisipasi program PHBM dan secara formal dapat menguasai sebidang lahan yang dapat mereka garap namun pada kenyataannya lahan garapan tersebut tidak digarap, digarap olehnya sebagai buruh, atau dipersewakan kepada para pengusaha agribisnis.

Selain relasi aktor dan pendapatan petani, yang menjadi perhatian utama dalam sintesis penelitian ini adalah negara. Terutama konteksnya sebagai pengendali akses sumberdaya hutan. Kepentingan negara dalam pengawasan penggunaan sumberdaya terutama sekali ada 2 hal yaitu terkait dengan : (1) Power (kekuasaan)--- yang

mencakup pengawasan dan kemampuan untuk mengatur; (2) ekonomi. Perjuangan kekuasaan dilakukan secara terus menerus di dalam hal alokasi, kontrol dan akses

(51)

51

(52)

52

Penilaian dan peningkatan kemampuan negara untuk mengontrol sumberdaya mungkin meningkatkan penolakan masyarakat tingkat lokal atau melakukan pemberontakan melawan kontrol negara atau pihak Internasional terhadap sumberdaya lokal yang ada di sekitar masyarakat.. Namun demikian, negara seringkali tidak perduli dengan perlawanan dan pemberontakan masyarakat lokal tersebut. Bahkan dengan menggunakan retorika konservasi untuk memperoleh legitimasi dari kelompok-kelompok lingkungan yang berasal dari luar negeri, negara mungkin berhasil dalam penguatan kapasitasnya untuk mengatur sasaran konservasi melalui penggunaan kekuatan (Migdal, 1988; Awang, 2004).

Penelitian ini, ingin memperlihatkan perjalanan sejarah periodisasi kebijakan

(53)

53

BAB III

METODOLOGI

3.1 Paradigma dan Strategi Penelitian

Mengikuti jalan pikiran Ritzer (1996), paradigma penelitian diartikan sebagai pandangan fundamental tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) disiplin tertentu. Sementara itu, menurut Guba sebagaimana dikutip Denzin dan Lincoln (2002) paradigma penelitian adalah suatu set kepercayaan yang membimbing tindakan, berkaitan dengan prinsip utama, dan merupakan konstruksi umat manusia. Lebih lanjut Denzin dan Lincoln (2000) menjelaskan bahwa paradigma penelitian dibangun oleh : 1) ontology, 2) epistemology, dan 3) methology, melalui ontology dapat diajukan pertanyaan mendasar tentang bentuk dan sifat realitas serta tentang hal apa yang dapat diketahui mengenai realitas tersebut. Kemudian melalui epistemology dapat diajukan pertanyaan apa yang harus dilakukan untuk mengetahui realitas dan bagaimana hubungan sosial antara peneliti dengan yang diteliti sebaiknya dibangun. Sementara itu, melalui metodologi dapat dipilih peralatan dan cara terbaik untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas.

Bertolak dari pemahaman tentang paradigma penelitian tersebut, maka penelitian ini akan dilaksanakan dengan mengacu terutama pada paradigma

―konstruktivism‖ yang mengembangkan sejumlah indikator sebagai pijakan dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu. Beberapa indikator tersebut antara lain : (1) penggunaan metode kualitatif daripada menggunakan metode kuantitatif

(54)

54

(6) penelitian bersifat partisipasi daripada mengontrol sumber informasi (Guba, 2001:62). Dalam paradigma konstruktivism menurut Guba (2001:78), yang dipertahankan sebagai kriteria kebenaran adalah keterpercayaan (trustworthiness) dan keaslian (authenticity). Kedua aspek tersebut mengacu pada berbagai konsep yang mengandung unsur : kredibilitas (kepercayaan yang berasal dari dalam), transferabilitas (garis kebenaran yang bisa dkembangkan pada unsur kebenaran yang lain), konfirmabilitas (penegasan terhadap obyektivitas), ontological authenticities (ontology-keaslian, kemampuan untuk memperluas konstruksi konsepsi yang ada).

Educative authenticities (kebenaran pendidikan, kemampuan memimpin dan

mengadakan perbaikan). Catalytic authenticities (kemampuan dalam merangsang dan

bertindak) tactical authenticity (kemampuan untuk memberdayakan masyarakat) (Guba, 2001:78).

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil studi kasus di kawasan hutan Gunung Ciremai namun hanya dibatasi daerah administrasi Kabuapten Kuningan. Penelaahan kasus lokal tersebut akan ditelusuri dari desa-desa yang berada disekitar kawasan hutan Gunung Ciremai. Namun, dalam pengambilan data hanya dilakukan di empat desa meliputi Desa Seda, Desa Pajambon, Desa Cisantana dan Desa Puncak.

3.3 Metode dan Strategi Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian dengan tujuan untuk merekonstruksi realitas sosial secara dealektik antara peneliti dengan aktor sosial yang diteliti (tineliti). Dengan kata lain, pemahaman tentang suatu realitas atau

temuan penelitian merupakan hasil proses ―interaksi asosiatif‖. Oleh sebab itu,

pengumpulan data dan informasi dilakukan bersama-sama antara peneliti dengan yang diteliti dan dilakukan secara dialogis atau dialektika agar realitas hubungan dalam kerangka penelitian dapat ditelusuri secara komprehensif.

(55)

55

teknik snowball. Jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan merupakan hasil dari interaksi peneliti dan tineliti dalam konteks penelitian dimana informan dan tineliti dalam penelitian ini terdiri dari petani sekitar Taman Nasional Gunung Ciremai, Akademisi dari Universitas Kuningan, Staf dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, LSM KANOPI, LSM Akar, Staf dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan, staf dari Perum Perhutani daerah administrasi Kuningan, staf dari Bappeda Kuningan, perusahaan perkebunan lokal, pelaku agribisnis, perangkat desa dan tokoh-tokoh masyarakat. Proses strategi pengumpulan data dari penelitian ini ditunjukan pada tabel 3.1.

Dalam mengamati pendapatan petani sebagai obyek analisis, dilakukan dengan

membuat dan membatasi kriteria yang berkaitan dengan pendapatan petani. Rumah tangga petani yang akan diteliti tidak terbatas jumlahnya namun dari jumlah informan yang diwawancarai harus mencakup kesimpulan umum tentang pendapatan petani yang tesebar pada wilayah penelitian.

Tabel 3.1. Strategi Pengumpulan Data

Pendapatan Petani  Pendapatan rumah tangga Wawancara mendalam dengan

(56)

56

Kolonial, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi serta informan dari petani-petani saat ini yang berada disekitar hutan Gunung Ciremai

Kriteria dalam pendapatan petani yang dibangun dalam penelitian ini mengacu

pada teori-teori livelihood dasar serta pemodelan kesejahteraan petani dimana dari berbagai sumber tersebut kriteria yang dibangun tentang pendapatan petani dalam konteks penelitian ini meliputi : pola penguasaan lahan (yang termasuk kepemilikan lahan rumah tangga), pola akses pemanfaatan sumberdaya alam, pola dan strategi nafkah rumah tangga, struktur sosial produksi yang menggambarkan relasi sosial dalam organisasi produksi terutama komoditas pertanian, usaha tani rumah tangga (yang menelusuri tingkat pendapatan bersih dari usaha pertanian), serta surplus rumah tangga dimana mengamati kelebihan pendapatan setelah dipotong dengan berbagai kebutuhan dan pengeluaran rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari. Tabel 3.2 dan gambar 3.1 merupakan penjelasan yang terkait dengan variabel dan indikator serta strategi pengumpulan data yang ditetapkan penelitian ini yang terkait dengan data pendapatan rumah tangga petani.

Tabel 3.2. Variabel dan Indikator dalam Pendapatan Rumah Tangga Petani

Sedangkan, dalam menelusuri informasi mengenai ragam, karakteristik, dan proporsi akses dan kontrol sumberdaya hutan dilakukan dengan merekonstruksi

Variabel Indikator

Pola Penguasaan Lahan 1. Lahan Milik

2. Lahan Sewa

3. Lahan dengan Hak Guna Formal

4. Lahan dengan Penggunaan Informal (illegal)

Akses Sumberdaya Alam 1. Pola Pengaturan Akses

2. Kewenangan Akses SDA

3. Kebijakan Akses SDA Pendapatan Rumah Tangga 1. Jenis dan Sumber Pendapatan

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
Tabel 3.1. Strategi Pengumpulan Data
Gambar 3.1 Metode dan Strategi Pengumpulan Data terkait dengan Pendapatan Petani
Gambar 3.2 Metode dan Strategi Pengumpulan Data terkait dengan Akses dan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian dapat digunakan untuk memperkaya data dan informasi mengenai kondisi kawasan hutan adat Citorek terutama perubahan penutupan lahan dan pengelolaannya serta

· selektif. Pola penggunaan lahan ini diharapkan dapat セ・ョァオョエオョァォ。ョ@ bagi pemilik lahan daerah penyangga taman nasional dan mampu menjadi pelindung

.Dalam hal ini upaya pencegahan dari pengelola Taman Wisata Alam Gunung Pancar direncanakan akan menjalin kesepakatan khusus dengan masyarakat sekitar kawasan agar lahan

Balai Besar TNBBS dalam beberapa tahun terakhir telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka menjaga keutuhan kawasan taman nasional dengan tujuan pemantapan kawasan

Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan kawasan yang kaya akan keanekaragaman jenis tumbuhan obat!. Hal tersebut disebabkan tanah yang subur dan

Pengukuhan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yang belum mendapatkan kekuatan hukum tersebut menimbulkan terjadinya masalah-masalah dalam pengelolaan dan

Hutan primer atas dan hutan sekunder di Taman Nasional ini mempunyai jumlah jenis hewan mamalia yang lebih banyak dengan tingkat keragaman yang lebih tinggi dari plot lainnya

Taman Nasional Gunung Ciremai telah berhasil melakukan eksklusi pada petani penggarap dan mulai menata lahan terbuka untuk pemulihan kawasan sedangkan Taman Nasional Gn Gede