• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Uji Produk Rokok Putffi Baru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Uji Produk Rokok Putffi Baru"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)

ARNI RAHMITA. Analisis Uji Produk Rokok Putih Baru (Analysis of New Ciga~ette Prodzict). Dibimbing oleh AJI HAMIM WGENA dan FAHMI SHADRY.

Pengujian suatu produk sebelum diluncurkan ke pasaran perlu dilakukan supaya produk yang dihasilkan bisa diterima konsumen. Dalam penelitian ini produk rokok yang akan diuji adalah rokok putih merek P dan akan dibandingkan dengan rokok Ardath dan Pall Mall.

Pengujian rokok putih merek P ditujukan untuk responden perokok Ardath (mencoba rokok merek Ardath, P, dan Pall Mall) dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap blirid test (tanpa melihat merek) dan tahap brmlded test (melihat merek). Masing-masing responden memheri penilaian intensitas dan ideal dari rokok yang dicoba pada tiap tahap sepanjang garis yang berskala hedonik kontinu 10 cm. Metode analisis yang digunakan yaitu metode nilai rata-rata dan metode kernel. Metode nilai rata-rata digunakan untuk melihat perbandingan rata-rata masing-masing rokok. Sedangkan metode kernel untuk melihat perbandingan bentuk seharan dan nilai peluang masing-masing rokok.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa atribut dari suatu rokok yang dianggap berpengamh terhadap rasa secara keselumhan adalah atribut pengmh di dada, isapan, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

(33)

ANALISIS

UJI

PRODUK ROKOK PUTIH BARU

ARNI RAHMITA

JURUSAN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(34)

ARNI RAHMITA. Analisis Uji Produk Rokok Putih Baru (Analysis of New Ciga~ette Prodzict). Dibimbing oleh AJI HAMIM WGENA dan FAHMI SHADRY.

Pengujian suatu produk sebelum diluncurkan ke pasaran perlu dilakukan supaya produk yang dihasilkan bisa diterima konsumen. Dalam penelitian ini produk rokok yang akan diuji adalah rokok putih merek P dan akan dibandingkan dengan rokok Ardath dan Pall Mall.

Pengujian rokok putih merek P ditujukan untuk responden perokok Ardath (mencoba rokok merek Ardath, P, dan Pall Mall) dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap blirid test (tanpa melihat merek) dan tahap brmlded test (melihat merek). Masing-masing responden memheri penilaian intensitas dan ideal dari rokok yang dicoba pada tiap tahap sepanjang garis yang berskala hedonik kontinu 10 cm. Metode analisis yang digunakan yaitu metode nilai rata-rata dan metode kernel. Metode nilai rata-rata digunakan untuk melihat perbandingan rata-rata masing-masing rokok. Sedangkan metode kernel untuk melihat perbandingan bentuk seharan dan nilai peluang masing-masing rokok.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa atribut dari suatu rokok yang dianggap berpengamh terhadap rasa secara keselumhan adalah atribut pengmh di dada, isapan, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

(35)

ANALISIS UJI PRODUK ROKOK PUTIH BARU

ARNI RAHMITA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

pada J U N S ~ ~ Statistika

JURUSAN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(36)

Judul

:

Analisis Uji Produk Rokok Putih Baru

Nama

:

Arni Rah~nita

NRP

:

GO3496042

Menyetuj ui,

Ir. Aii Hami~n

Wieena.

MSc

Penihimhing I

Ir. I'ahnii Shadrv

I'ctnh~mh~ng

I 1

Ketua Jurusan

(37)

Penulis dilahirkan di Pekanbaru (propinsi Riau) pada tanggal 13 Juli 1978 sebagai anak bungsu dari

dua bersaudara, putri pasangan Drs. Abang Anwar dan Dra. Nudimar.

Tahun 1996 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Pekanbam dan pada tahun yang sama lulus seleksi

masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB OJSMI) jumsan Statistika, Fakultas Matematika

dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan mengambil bidang penunjang Ilmu komputer.

Penulis pernah aktif dan menjadi pengurus Himpro mahasiswa statistika Gamma Sigma Beta (GSB)

periode 199811999 di Departemen Kajian Strategis, pengurus organisasi kedaerahan Ikatan Keluarga

Pelajar Mahasiswa Riau ( M P M R ) Bogor periode 199711998 dan menjadi Bendahara Umum IKPMR

Bogor periode 199811999. Selain itu penulis juga pernah praktik lapang (PL) di PT DEKA Marketing

(38)

PRAKATA

Alhamdulillah dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia- Nya sehingga karya ilmiah ini herhasil diselesaikan.

Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah dengan ikhlas membantu penyelesaian penulisan karya ilmiah ini, antara lain :

4. Bapak Ir. Aji Hamim Wigena, MSc dan Bapak Ir. Fahmi Shadry yang telah memberikan bimbingan serta saran kepada penulis.

+:.

Seluruh staf pengajar jurusan Statistika IPB yang telah membekali penulis dengan berbagai disiplin ilmu.

't Papa, mama, dan kak Rini yang telah memberi doa, kasih sayang, semangat dan dorongan kepada penulis.

+:.

Noor dengan slrppo~t dan persahabatan yang insya Allah akan langgeng selalu dan tercapai yang dicita-citakan.

+:* Kiki (/hank's very nirrch atas pinjaman hard disknya), Faisal (Irini's atas perbaikan komputernya), Utami (thnr~k'~ untuk koreksi makronya), Widi ('makasih saran dan masukannya), dan Yayak ('makasih atas kerjasamanya selama PL).

.>

Maria, Wiwik, Eni (S&G), Mai, Reny (R&M), Sri, Yenni, Yanti, N'joe, Pimpi, Rina, Ayu, Iyus, Eka, Hanhan, 'ii, Siska, Licu, Farah, Mella, Risma, Didah, Firza, Dini, Erni, m' Lami, B-ra, Sandi, Edwin, Rifa, Fafan, Andi, Nanang, Felix, Gono, Angga, Asep, Luthpi, Imun, Yunus, Arif, Eval, Bambang, Indra, Jimmi, Haris, Frans, dan mas Puji atas kebersamaan dan kekompakannya.

+:+

Anik, Fitri, dan Aa' sebagai pemhahas seminar penulis.

4. Ambar dengan persahabatannya yang tejalin sampai saat ini dan untuk saat selanjutnya.

.:+

Ibu Soehari, Kak Nona, mbak Rojah, Ocha, Linda, Imus, Meri, Tri, Maria, Rere, Ida, Ayi, Ari, dan crew Hnlinin .nveef horiie lainnya atas rasa kekeluargaan dan suka duka yang dialami selama ini. Ibu Markonah, Ibu Sulis, Ibu Balgis, dan Pak Iyan atas kelancaran administrasinya, Ibu Dede untuk pinjaman b u h - b u h n y a serta Bang Sudin atas candanya.

+:.

Abang, kakak, dan adik IKPMR Bogor.

Semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian karya ilmiah ini.

Semoga kalya ilmiah ini dapat bermanfaat.

Buitenzorg, 3 Februari 2001

(39)

DAFTAR IS1

Halaman

...

DAFTAR TABEL

..

... v111

... DAFTAR GAMBAR ... VIII

DAFTAR LAMPIRAN ... ix PENDAHULUAN

Latar Belakang ... ... ... ... .... .... ... ... ... . ... . ... . .... ... .... . .... ... ... ... . ... . . 1 Tujuan Penelitian ... 1

TINJAUAN PUSTAKA

Rokok Putih 1

Penarikan Cont . . . , . . . , . . . , , , . . . 1

Skala Hedonik 1

Metode Kernel 2

BAHAN DAN METODE

Bahan 2

Metode 3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Atribut yang Berpengamh Terhadap Rasa Secara Keseluruhan ... 4 Kelebihan dan Kekurangan Rokok Putih P ... 4 Strategi Pengembangan ... 5

(40)

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Panel responden ... 2 2. Hasil uji koetisien regresi ... 4

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(41)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Butir-butir pertanyaan kuesioner yang terdapat pada tahap blind test dan branded test ... 2. Tabel peroleban basil dari metode kernel dan metode nilai rata-rata ... 3. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa secara keseluruhan ...

4. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa gurib

5. Kurva penduga fingsi kepekatan peluang beda rasa pahit

6. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda aroma

7. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda kekuatan aroma

8. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa panas di hidung ...

9. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa kering di tenggorokan ... 10. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda nyegrak asap di tenggorokan ... 11. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda pengamh di dada

12. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda isapan

13. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa tembakau

(42)

PENDAHULUAN

Latar Belakmg

Adanya persaingan yang cukup ketat antar pemsahaan menyehabkan perusahaan tersebut bemsaha menghasilkan produk yang lebib unggul dan sesuai dengan selera konsumen. Oleh karena itu setiap pemsahaan hams senantiasa mengembangkan dan melakukan inovasi terhadap kualitas produknya secara berkesinamhungan agar produk yang dihasilkan hisa diterima di pasaran. Begitu juga halnya untuk produk rokok.

Sebelum suatu produk rokok putih baru bermerek P diluncurkan ke pasaran, maka perlu dilakukan pengujian kualitas dan penerimaan konsumen terhadap produk merek P tersehut. Dari hasil pengujian, maka akan dapat diietahui kualitas dan ciri produk benchniark maupun produk rokok putih bam P itu sendiri yang pada akhirnya dapat menyempurnakan produk sebelum diluncurkan ke pasaran. Uji produk berguna sebagai langkah awal untuk inovasi selanjutnya (Tauber, 1977).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk rokok putih bam P herdasarkan penilaian rokok ideal menurut perokok Ardath menggunakan metode nilai rata- rata dan metode kernel serta menyusun strategi pengembangannya.

TINJAUAN PUSTAKA

Analisis yang hiasa dilakukan untuk pengujian suatu produk yang penilaian respondennya berskala hedonik kontinu dengan penarikan contoh kuota disproporsional menggunakan metode nilai rata-rata. Namun, dalam penelitian pengujian produk rokok putih kali ini &an diterapkan dua metode sekaligus, yaitu metode kernel dan metode nilai rata-rata.

Rokok Pntih

Dalam industri rokok dikenal istilah rokok kretek dan rokok putih. Hal yang memhedakan antara rokok putih dengan rokok jenis lainnya adalah bahwa rokok putih tidak menggunakan cengkeh sebagai baban baku, sehingga kandungan tar rokok ini jauh lebih rendah, tak kurang dari 12 mg. Selain itu juga karena jenis tembakau impor dan cara budi dayanya yang lehih canggib,

memungkinkan mendapatkan kandungan nikotin lebih rendah (Palupi & Sudarmadi, 1999).

Salah satu contoh pemsahaan rokok putib yang meluncurkan produk substitusi yang harga dan kualitasnya tidak kalah dengan produk bet~chn~arknya yaitu PT BAT Indonesia. Pemsahaan ini mempakan produseit rokok Lucky Strike dan 555 yang meluncurkan rokok Pall Mall di akhir Agustus 1998 dengan mematok harga yang cukup menggiurkan yaitu Rp 2.S00,00/bungkus (isi 16 hatang). Harga ini setara dengan rokok Ardath yang berharga Rp 3.500,00/bungkus (isi 20 batang) yang selama ini dikenal sebagai rokok putih termurah. Bahkan Pall Mall meluncurkan produknya dengan tiga versi yaitu regular, menthol, dan rendah nikotin (Palupi & Kartajaya, 1999).

Penarilian Contoh Kuota

Penarikan contoh kuota mempakan penarikan tanpa peluang yang sama dengan penarikan contoh acak berlapis, akan tetapi untuk setiap kelompok diberi jatah atau kuota dengan pemilihannya secara subjektif (Supranto, 1997).

Pada dasamya penarikan contoh kuota dibagi dua (Deka, 2000), yaitu :

1. Penarikan contoh kuota proporsional adalah salah satu teknik pemeriksaan responden dimana responden yang dipilih mempakan cerminan dari populasi.

2. Penarikan contoh kuota disproporsional adalah panarikan contoh yang herdasarkan pada kebutuhan survey.

Umumnya penarikan contoh kuota dipakai untuk uji suatu produk. Hal ini dikarenakan sifatnya hanya untuk evaluasi pada target group dari produk tersebut yang ditentukan oleh penggunanya. Dalam ha1 ini panel mempakan faktor penting, sebab kriteria yang didapat herdasarkan pada panel tersebut.

Skala Hedonik

Menumt Peryam & Girardot (1952) dalam Gacula & Singh (1984) dinyatakan bahwa skala yang populer digunakan untuk pilihan penilaian adalah skala hedonik, yang dikembangkan pada tahun 1947 di Quartertnaster Food dan Confaii~er histitrrte pada angkatan bersenjata.

(43)

memberikan penilaian tanpa dihadapkan pada kategori-kategori yang panjangnya tertentu. Ada dua jenis nilai yang dihasilkan, yaitu :

1. Nilai intensitas, yaitu penilaian terhadap intensitas suatu rokok putih yang dicoba. 2. Nilai ideal, yaitu penilaian terhadap posisi

intensitas rokok putih yang diharapkan oleh responden.

Metode Kernel

Metode kernel adalah metode pendugaan fungsi kepekatan nonparametrik yang pertama kali dikembangkan oleh Fix dan Hodges pada tahun 1951. Pengynaan metode kernel telah dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Lusiana (1992), Hamdani (1996), Syafitri (2000) serta yang lainnya.

Menurut Silverman (1986), bentuk umum dari penduga kepekatan kernel peubah tunggal :

dimana

x = nilai beda

Xi = nilai beda pengamatan ke

-

i n = jumlah pengamatan

11 = lebar jendela K(.) = fungsi kernel

Untuk mengukur ketepatan keseluruhan f

sebagai penduga f adalah Integral Kuadrat Tengab

Galat (Mean li~fegrafed Square Error atau MISE) didefinisikan oleh (Rosenhlatf 1956 dalmn Silverman, 1986)

MISE ( f ) = E l(f (1) -

f

(1)) - d x

Nilai ideal dari lebar jendela diperoleh dengan meminimumkan MISE. Lebar jendela (h) merupakan parameter pemulus yang sangat mempengaruhi bentuk penduga kepekatan yang dihasilkan. Semakin lebar jendela yang diynakan, maka bentuk pendugaan kepekatan yang dihasilkan semakin mulus (Lusiana, 1992).

Pemilihan fungsi kernel tidak berpengamh terbadap bentuk pendugaan fungsi kepekatan peluang yang diperoleh dengan melihat nilai efisiensi dari masing-masing hngsi kernel yang dibandingkan dengan fungsi kernel Epanechnikov (Silverman, 1986). Dalam penelitian ini menggunakan fungsi kernel Gauss (0, I), yaitu

1 -L(,z) K ( t ) =

-

G"

dan lebar jendela (h) yang digunakan adalah 0.9An'~"~' , dimana A adalah min (simpangan baku, jarak antar kuartil/l.34). Lebar jendela yang digunakan untuk masing-masing atribut adalah rata-rata jendela dari enam rokok (tiga rokok yang dicobakan pada tabap blind fcs/ dan tiga rokok pada tahap branded test).

BAHAN DAN METODE

Bahan

Penelitian ini menggunakan data hasil survey secara kuantitatif sebuah perusahaan riset pemasaran di Jakarta pada tanggal 13-15 Juli 1999. Jumlah respoden pada penelitian ini sebanyak 80 responden perokok Ardath dari kota Jakarta. Adapun kriteria respondennya sebagai berikut :

.:+

Responden adalah laki-laki perokok berusia antara 20-35 tahun, berasal dari kelas sosial ekonomi rumah tangga yang pengeluarannya lebih dari atau sama dengan Rp 900.000,OO.

+:.

Responden tersebut merupakan perokok

Ardath, yang menghisap rokok sedikitnya 12 batang dalam satu hari.

*:* Responden haruslah orang yang tidak sedang sakit, misalnya gangyan pernafasan maupun gangyan penciuman hidung.

.:+

Responden terakhir kali makan pagilsiang harus lebih dari 1 jam yang lalu.

.:+

Pendidikan terakhir yang ditamatkan responden minimal Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA).

4 Panel responden disajikan pada Tabel 1.

Tahel I. Panel responden

Merek rokok yang dicoba responden adalah rokok Ardath , P, dan Pall Mall. Merek rokok putih P merupakan produk rokok putib baru yang akan diluncurkan ke pasaran.

SES A B TOTAL PEROKOK ARDATH USJA

20-25 / 26-30 1 31-35 1 TOTAL

153'0 /o I536

I

2036 / 5036 1546 1 1536 1 2034 1 5036 30% 1 30 5% 1 4034 1 LOO %

Kcrcrnnall :

SES A = Pcngslunrnn 2 Rp 1.200.WO.00

(44)

Metode

Metode penarikan contoh yang digunakan adalah kuota disproporsional berdasarkan kriteria responden yang telah ditentukan dengan teknik sentral lokasi di Plaza Atrium Senin, Jakarta.

Tahap pengujian terhadap produk rokok putih yang akan dicobakan untuk setiap responden terdiri dari dua tahap, yaitu :

1. Tahap blind test.

Responden mencoba tiga rokok tanpa mengetahui merek rokoknya.

2. Tahap brnr~ded test.

Responden mencoba tiga rokok dengan ditunjukkan merek rokoknya.

Atribut dari produk rokok yang akan dilihat antara lain dalam ha1 rasa secara keselumhan, rasa gurih, rasa pahit, aroma, kekuatan aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengamh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut (Lampiran 1).

Cara pengisian kuesioner pada tiap tahap adalah sama yaitu dengan memberikan tanda garis tegak pada posisi penilaian responden untuk masing-masing rokok. Skala hedonik kontinu yang digunakan berskala 10 cm. Kutub paling lemah mempunyai nilai 0 dan kutub paling h a t mempunyai nilai 10.

Hasil penilaian responden terhadap rokok- rokok yang dicoba dikelompokkan terlehih dahulu menurut kode rokok yang ditentukan pada tiap tahap sebelum dianalisis.

Metode analisis pertama yaitu dengan menghitung nilai rata-rata tiap-tiap atribut untuk rokok ideal, Ardath, P, dan Pall Mall. Kemudian dibandingkan nilai rata-rata rokok P terhadap rokok ideal, Ardath, dan Pall Mall. Perbandingan ini menggunakan uji nonparametrik yaitu uji peringkat bertanda Wilcoxon untuk dua contoh yang berhubungan Uji ini menggunakan sofivare SPSS 9.Ofor ~viridows.

Sedangkan metode analisis kedua yaitu metode kernel dengan penduga fungsi kepekatan peluang untuk mengetahui hentuk sebaran nilai beda terhadap masing-masing merek rokok yang dicoba. Nilai beda (x) didapat dengan mengurangkan nilai intensitas pada pada masing- masing rokok yang dicoba dengan nilai ideal pada penilaian rokok ideal (Gambar 1).

Rokok ideal

Nilai W n = -xi

Rokok pertama

kulub lmah : hvtubkuat

Nilai bedn = x Rokok kedua

kutub lernnh

Nilai hda = 0

Rokok ketiga I

hvtub icmoh

I

hulub kuat

Gambar 1. Jenis nilai beda pada masing-masing rokok.

Dari Gambar 1 terlihat bahwa jika nilai intensitas berada di sehelah kiri nilai ideal, maka nilai beda bertanda negatif. Sebaliknya jika nilai beda bertanda positif bila nilai intensitas berada di sebelah kanan nilai ideal dan jika nilai intensitas berhimpit dengan nilai ideal, maka nilai heda = 0.

Perhitungan dibuat dengan bantuan program makro Minitab relense 11.12 (menggunakan program Lusiana, 1992 yang direvisi oleh Syafitri, 2000). Kurva penduga fungsi kepekatan peluang disajikan dengan bantuan paket Microsoft Excel '97. Pada kurva, kode Ardath 1, P 1, dan Pall Mall 1 mempakan keterangan untuk merek rokok yang dicobakan pada tahap blind lest. Sedangkan kode Ardath 2, P 2, dan Pall Mall 2 merupakan keterangan untuk merek rokok yang dicobakan pada tahap brarided test.

Perhitungan nilai peluang untuk masing-masing atribut pada tiap tahap, yaitu :

r

Jika P(x<-m) berarti peluang bahwa atribut rokok yang diamati mempunyai intensitas yang kurang dari idealnya.

r

Jika P ( - m ~ x ~ m ) berarti peluang bahwa atribut rokok yang diamati mempunyai intensitas yang sama dari idealnya.

r

Jika P(x>m) berarti peluang bahwa atribut rokok yang diamati mempunyai intensitas yang lebih dari idealnya.

Nilai m diperoleh dengan cara membagi dua dari selisih antara batas atas dengan batas bawah selang kepercayaan 95% rata-rata rokok ideal.

[image:44.595.298.509.58.223.2]
(45)

juga didasarkan pada kekurangan dan kelebihan rokok P, Ardath, maupun Pall Mall.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Atribut yang Berpengaruh Terhadap Rasa Secara Keseluruhan

Sebelum melakukan perubahan pada rokok putih baru P, perlu dilihat terlebih dahulu atribut yang mempunyai pengaruh terliadap rasa secara keseluruhan. Atribut yang berpengaruh tersebut dapat dilihat dari persamaan regresi berikut :

Tabel 2. Hasil uji koefisien regresi

a = ~n&ecnra keseluruhun b = Rasa gurih

e = Rnsa pahit d = k o m n

e = Kekuatan aroma

f = R a w mnas di hiduna i = pen gad^ di dada j =Isapan

k = Rcsil tcmbckau

I = Rasa yang dilinggalkandi mulut

Dari Tabel 2, atribut yang mempunyai nilai peluang signifikan pada taraf nyata 5% yaitu pengaruh di dada (i), isapan (j), dan rasa yang ditinggalkan di mulut (I). Masing-masing atribut tersebut memberikan pengaruh terhadap rasa secara keseluruhan dengan pengamhnya masing- masing sebesar 0.299, 0.118, dan 0.221. Nilai R-sq menunjukkan bahwa atrihut rasa secara keseluruhan dapat dijelaskan oleh atribut rasa gurih, rasa pahit, aroma, kekuatan aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan,

nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut hanya sebesar 50.5%.

Ketebihan dan Keknrangan Rokok Putih P Berdasarkan Lampiran 2 pada basil metode nilai rata-rata, diperoleh bahwa rokok Ardath (pemimpin pasar), rokok P, dan rokok Pall Mall mempunyai kesamaan kelebihan pada atribut kekuatan aroma (sesuai dengan ideal). Sedangkan kekurangan rokok Ardath, P, maupun Pall Mall pada atribut rasa secara keseluruhan, rasa gurih, rasa pahit, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Untuk melihat analisis lebih lanjut masing- masing atribut ketiga rokok dari peroleban nilai peluang (Lampiran 2) dan kuwa (Lampiran 3-14) pada metode kernel bisa dilihat sebagai berikut :

+

Atribut rasa secara keseluruhan, rasa gurih, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut mempunyai nilai peluang P(x<-m) lebih besar daripada peluang P(x>m) untuk tiap tahap. Selain itu kurva yang dihasilkan umumnya lebih menjulur ke arah negatif, yang berarti bahwa atribut tersebut masih kurang dari segi rasa, wangi, dan menimbulkan efek di dada, hidung, maupun tenggorokan.

+

Sedangkan atribut rasa pahit dan isapan mempunyai nilai peluang P(x>m) lebih besar daripada peluang P(x<-m) dengan luas dibawah kuwa yang juga besar ke arah positif, sehingga rokok yang diamati terasa agak pahit dan agak berat isapannya.
(46)

Strategi Pengembangan

Dengan melihat kekurangan rokok putih barn P, maka dari Lampiran 15 dibuatlah prioritas kekurangan rokok tersebut. Prioritas pertama diberikan pada atribut rasa secara keselumhan (3.47), kemudian diikuti oleh atribut rasa yang ditinggalkan di mulut (2.63), pengamh di dada (2.54), rasa kering di tenggorokan (2.12), nyegrak asap di tenggorokan (1.95), rasa y r i h (1.64), rasa panas di hidung (1.57), rasa pahit (-1.37), aroma (1.06), rasa tembakau (0.74), dan isapan (-0.61).

Strategi pengembangan yang disusun untuk rokok putih P sebelum diluncurkan ke pasaran yaitu dengan meningkatkan rasa secara keselumhan dan rasa yang ditinggalkan di mulut. Selain itu juga dengan mengurangi pengaruh di dada, rasa kering di tenggorokan, dan nyegrak asap di tenggorokan dengan tetap mempertahankan kekuatan aroma.

KESIMPULAN

Atribut yang dianpgap berpengamh terbadap rasa secara keseluruhan dari suatu rokok menurut konsumen rokok Ardath adalah atribut pengaruh di dada, isapan, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Kelebihan rokok putih baru P hanya pada kekuatan aromanya, karena atribut tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen Ardath. Sedangkan kekurangannya terletak pada atribut rasa secara keselumhan, rasa y r i h , rasa pahit, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengamh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Strategi pengembangan rokok putih baru P agar diterima di pasaran konsumen rokok Ardath yaitu dengan tetap mempertahankan kekuatan aroma yang menjadi daya tarik rokok tersebut, meningkatkan rasa secara keselumhan dan rasa yang ditinggalkan di mulut, serta mengurangi pengamh di dada, rasa kering di tenggorokan, dan nyegrak asap di tenggorokan.

DAFTAR PUSTAKA

Deka. 2000. Technical & Managemeilt Tr~itlillg. Deka Marketing Research, Jakarta (tidak dipublikasikan).

Gacula, M. C. Jr., & J. Singh. 1984. Stalistical Methods in Food and Cons~i~ner Researc/?. Academic Press, Inc, London.

Hamdani, M. 1996. Pendugaan Fungsi Kepekatan Waktu Pelayanan Verifikasi Otomotif Menggunakan Metode Kernel. Skripsi. Jurusan Statistika FMIPA IPB, Bogor.

Lusiana, B. 1992. Pendugaan Kepekatan Peluang Dengan Metode Kernel pada Data Peubah Tunggal dan Ganda Dua. Skripsi. Jumsan Statistika FMIPA IPB, Bogor.

Palupi, D. H. &

E

Kartajaya. 1999. 36 Kmrs Pemnasaran Asli Indonesia Seri Dtra. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Palupi, D. H. & Sudarmadi. 2-8 Desember 1999. Sektor Rokok : Dibawah Ancaman Serius. Swa 24 (XV):44-46.

Silverman, B. W. 1986. Density Estin~atior? for Statistics and Data Analysis. Chappman and Hall, London.

Supranto, J. 1997. Metode Risef. Rineka Cipta, Jakarta.

Syaiitri, U. D. 2000. Pemodelan Sebaran Paparan Gamma di Reaktor Serba Guna G. A. Siwabessy Dengan Fungsi Kepekatan Peluang Kernel. Skripsi. Jumsan Statistika FMLPA IPB, Bogor.

(47)
(48)

Lampiran 1. Butir-butir pertanyaan kuesioner yang terdapat pada tahap blind lest dan tahap brat~ded tesl.

Saya akan meminta anda untuk membandingkan secara jujur antara rokok yang ideal, rokok yang paling sering diisap dan rokok-rokok yang ada dalam beberapa ha1 berikut ini. Keterbukaan anda dalam menilai rokok-rokok tersebut sangatlah membantu kami dalam meningkatkan kualitas suatu merek rokok.

Pla. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa secara keselumhan dari . . . ?

Sangat tidak sesuai selera - Sannat sesuai selera

-

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Plb. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa rmrih dari . . . . .. . . ?

Sangat tidak gurih Sangat gurih - -

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Plc. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa pahit dari . . . . .. . . .. ?

Sangat tidak pahit Sangat pahit

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoha

Pld. Bagaimana penilaian anda mengenai

aroma

dari . .. . . ?

Sangat tidak wangi Sangat wangi

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Ple. Bagaimana penilaian anda mengenai kekuatan aroma dari . . . . .. . . ?

Sangat lemah Sangat kuat

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

P l f Bagaimana penilaian anda mengenai rasa panas di hiduns dari . .. . . . .. . . ?

Sangat panas Sangat tidak panas

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Plg. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa kerine, di tenevorokan dari . . . ?

Sangat kering Sangat tidak kering

Rokok ideal

(49)

Lampiran 1 (lanjutan)

P l h. Bagaimana penilaian anda m e n g e ~ i nveerak asap di teneeorokan dari . . .

.

. . . ?

Sangat nyegrak Sangat tidak nyegrak

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Pli. Bagaimana penilaian anda mengenai pencaruh di dada dari . . . .

.

. . . ?

Sangat menyesakkan Sangat tidak menyesakkan

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Plj. Bagaimana penilaian anda mengenai b ndari . .. . . ?

Sangat ringan Sangat berat

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Plk. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa tembakau dari . . . ?

Sangat tidak terasa Sangat terasa

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

P11. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa vane ditineealkan di mulut dari

...

... .... ?

Sangat tidak en& Sangat enak

Rokok ideal

(50)
(51)

Lampiran 3. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa secara keseluruhan

Lampiran 4. Kurva penduga fungsi kepelcatan peluang beda rasa y r i h

Lampiran 5. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa pahit

Lampiran 7. Icurva penduga fungsi kepekatan peluang beda kekuatan aroma

Lampiran 6. Kurva penduga fungsi kepekatan veluang beda aroma

(52)

Lampiran 9. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa kering di tenanorokan

Lampiran 10. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang be& nyegrak asap di tenmorokan

/

. s o d d . 7 4 d 4 d l . , 0 l 2 3 " 5 6 i . P i .

Lampiran 1 1 . Kurva penduga fungsi kepekatan Lampiran 12. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda pengamh di dada peluang beda isapan

i--- 1 I

Lampiran 13. Kurva penduga fungsi kepekatan Lampiran 14. Kurva penduga fungsi kepekatan peluang beda rasa tembakau peluang beda rasa yang

ditinggalkan di mulut

. 1 0 - 2 - B I ) . d J A - > - i - I 0 i 2 1 4 $ 6 1

-

(53)

-Lampiran 15. Tabel selisih nilai rata-rata antara rokok ideal terhadap rokok P

11 Isapan

(54)

ANALISIS

UJI

PRODUK ROKOK PUTIH BARU

ARNI RAHMITA

JURUSAN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(55)

PENDAHULUAN

Latar Belakmg

Adanya persaingan yang cukup ketat antar pemsahaan menyehabkan perusahaan tersebut bemsaha menghasilkan produk yang lebib unggul dan sesuai dengan selera konsumen. Oleh karena itu setiap pemsahaan hams senantiasa mengembangkan dan melakukan inovasi terhadap kualitas produknya secara berkesinamhungan agar produk yang dihasilkan hisa diterima di pasaran. Begitu juga halnya untuk produk rokok.

Sebelum suatu produk rokok putih baru bermerek P diluncurkan ke pasaran, maka perlu dilakukan pengujian kualitas dan penerimaan konsumen terhadap produk merek P tersehut. Dari hasil pengujian, maka akan dapat diietahui kualitas dan ciri produk benchniark maupun produk rokok putih bam P itu sendiri yang pada akhirnya dapat menyempurnakan produk sebelum diluncurkan ke pasaran. Uji produk berguna sebagai langkah awal untuk inovasi selanjutnya (Tauber, 1977).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk rokok putih bam P herdasarkan penilaian rokok ideal menurut perokok Ardath menggunakan metode nilai rata- rata dan metode kernel serta menyusun strategi pengembangannya.

TINJAUAN PUSTAKA

Analisis yang hiasa dilakukan untuk pengujian suatu produk yang penilaian respondennya berskala hedonik kontinu dengan penarikan contoh kuota disproporsional menggunakan metode nilai rata-rata. Namun, dalam penelitian pengujian produk rokok putih kali ini &an diterapkan dua metode sekaligus, yaitu metode kernel dan metode nilai rata-rata.

Rokok Pntih

Dalam industri rokok dikenal istilah rokok kretek dan rokok putih. Hal yang memhedakan antara rokok putih dengan rokok jenis lainnya adalah bahwa rokok putih tidak menggunakan cengkeh sebagai baban baku, sehingga kandungan tar rokok ini jauh lebih rendah, tak kurang dari 12 mg. Selain itu juga karena jenis tembakau impor dan cara budi dayanya yang lehih canggib,

memungkinkan mendapatkan kandungan nikotin lebih rendah (Palupi & Sudarmadi, 1999).

Salah satu contoh pemsahaan rokok putib yang meluncurkan produk substitusi yang harga dan kualitasnya tidak kalah dengan produk bet~chn~arknya yaitu PT BAT Indonesia. Pemsahaan ini mempakan produseit rokok Lucky Strike dan 555 yang meluncurkan rokok Pall Mall di akhir Agustus 1998 dengan mematok harga yang cukup menggiurkan yaitu Rp 2.S00,00/bungkus (isi 16 hatang). Harga ini setara dengan rokok Ardath yang berharga Rp 3.500,00/bungkus (isi 20 batang) yang selama ini dikenal sebagai rokok putih termurah. Bahkan Pall Mall meluncurkan produknya dengan tiga versi yaitu regular, menthol, dan rendah nikotin (Palupi & Kartajaya, 1999).

Penarilian Contoh Kuota

Penarikan contoh kuota mempakan penarikan tanpa peluang yang sama dengan penarikan contoh acak berlapis, akan tetapi untuk setiap kelompok diberi jatah atau kuota dengan pemilihannya secara subjektif (Supranto, 1997).

Pada dasamya penarikan contoh kuota dibagi dua (Deka, 2000), yaitu :

1. Penarikan contoh kuota proporsional adalah salah satu teknik pemeriksaan responden dimana responden yang dipilih mempakan cerminan dari populasi.

2. Penarikan contoh kuota disproporsional adalah panarikan contoh yang herdasarkan pada kebutuhan survey.

Umumnya penarikan contoh kuota dipakai untuk uji suatu produk. Hal ini dikarenakan sifatnya hanya untuk evaluasi pada target group dari produk tersebut yang ditentukan oleh penggunanya. Dalam ha1 ini panel mempakan faktor penting, sebab kriteria yang didapat herdasarkan pada panel tersebut.

Skala Hedonik

Menumt Peryam & Girardot (1952) dalam Gacula & Singh (1984) dinyatakan bahwa skala yang populer digunakan untuk pilihan penilaian adalah skala hedonik, yang dikembangkan pada tahun 1947 di Quartertnaster Food dan Confaii~er histitrrte pada angkatan bersenjata.

(56)

PENDAHULUAN

Latar Belakmg

Adanya persaingan yang cukup ketat antar pemsahaan menyehabkan perusahaan tersebut bemsaha menghasilkan produk yang lebib unggul dan sesuai dengan selera konsumen. Oleh karena itu setiap pemsahaan hams senantiasa mengembangkan dan melakukan inovasi terhadap kualitas produknya secara berkesinamhungan agar produk yang dihasilkan hisa diterima di pasaran. Begitu juga halnya untuk produk rokok.

Sebelum suatu produk rokok putih baru bermerek P diluncurkan ke pasaran, maka perlu dilakukan pengujian kualitas dan penerimaan konsumen terhadap produk merek P tersehut. Dari hasil pengujian, maka akan dapat diietahui kualitas dan ciri produk benchniark maupun produk rokok putih bam P itu sendiri yang pada akhirnya dapat menyempurnakan produk sebelum diluncurkan ke pasaran. Uji produk berguna sebagai langkah awal untuk inovasi selanjutnya (Tauber, 1977).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk rokok putih bam P herdasarkan penilaian rokok ideal menurut perokok Ardath menggunakan metode nilai rata- rata dan metode kernel serta menyusun strategi pengembangannya.

TINJAUAN PUSTAKA

Analisis yang hiasa dilakukan untuk pengujian suatu produk yang penilaian respondennya berskala hedonik kontinu dengan penarikan contoh kuota disproporsional menggunakan metode nilai rata-rata. Namun, dalam penelitian pengujian produk rokok putih kali ini &an diterapkan dua metode sekaligus, yaitu metode kernel dan metode nilai rata-rata.

Rokok Pntih

Dalam industri rokok dikenal istilah rokok kretek dan rokok putih. Hal yang memhedakan antara rokok putih dengan rokok jenis lainnya adalah bahwa rokok putih tidak menggunakan cengkeh sebagai baban baku, sehingga kandungan tar rokok ini jauh lebih rendah, tak kurang dari 12 mg. Selain itu juga karena jenis tembakau impor dan cara budi dayanya yang lehih canggib,

memungkinkan mendapatkan kandungan nikotin lebih rendah (Palupi & Sudarmadi, 1999).

Salah satu contoh pemsahaan rokok putib yang meluncurkan produk substitusi yang harga dan kualitasnya tidak kalah dengan produk bet~chn~arknya yaitu PT BAT Indonesia. Pemsahaan ini mempakan produseit rokok Lucky Strike dan 555 yang meluncurkan rokok Pall Mall di akhir Agustus 1998 dengan mematok harga yang cukup menggiurkan yaitu Rp 2.S00,00/bungkus (isi 16 hatang). Harga ini setara dengan rokok Ardath yang berharga Rp 3.500,00/bungkus (isi 20 batang) yang selama ini dikenal sebagai rokok putih termurah. Bahkan Pall Mall meluncurkan produknya dengan tiga versi yaitu regular, menthol, dan rendah nikotin (Palupi & Kartajaya, 1999).

Penarilian Contoh Kuota

Penarikan contoh kuota mempakan penarikan tanpa peluang yang sama dengan penarikan contoh acak berlapis, akan tetapi untuk setiap kelompok diberi jatah atau kuota dengan pemilihannya secara subjektif (Supranto, 1997).

Pada dasamya penarikan contoh kuota dibagi dua (Deka, 2000), yaitu :

1. Penarikan contoh kuota proporsional adalah salah satu teknik pemeriksaan responden dimana responden yang dipilih mempakan cerminan dari populasi.

2. Penarikan contoh kuota disproporsional adalah panarikan contoh yang herdasarkan pada kebutuhan survey.

Umumnya penarikan contoh kuota dipakai untuk uji suatu produk. Hal ini dikarenakan sifatnya hanya untuk evaluasi pada target group dari produk tersebut yang ditentukan oleh penggunanya. Dalam ha1 ini panel mempakan faktor penting, sebab kriteria yang didapat herdasarkan pada panel tersebut.

Skala Hedonik

Menumt Peryam & Girardot (1952) dalam Gacula & Singh (1984) dinyatakan bahwa skala yang populer digunakan untuk pilihan penilaian adalah skala hedonik, yang dikembangkan pada tahun 1947 di Quartertnaster Food dan Confaii~er histitrrte pada angkatan bersenjata.

(57)

memberikan penilaian tanpa dihadapkan pada kategori-kategori yang panjangnya tertentu. Ada dua jenis nilai yang dihasilkan, yaitu :

1. Nilai intensitas, yaitu penilaian terhadap intensitas suatu rokok putih yang dicoba. 2. Nilai ideal, yaitu penilaian terhadap posisi

intensitas rokok putih yang diharapkan oleh responden.

Metode Kernel

Metode kernel adalah metode pendugaan fungsi kepekatan nonparametrik yang pertama kali dikembangkan oleh Fix dan Hodges pada tahun 1951. Pengynaan metode kernel telah dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Lusiana (1992), Hamdani (1996), Syafitri (2000) serta yang lainnya.

Menurut Silverman (1986), bentuk umum dari penduga kepekatan kernel peubah tunggal :

dimana

x = nilai beda

Xi = nilai beda pengamatan ke

-

i n = jumlah pengamatan

11 = lebar jendela K(.) = fungsi kernel

Untuk mengukur ketepatan keseluruhan f

sebagai penduga f adalah Integral Kuadrat Tengab

Galat (Mean li~fegrafed Square Error atau MISE) didefinisikan oleh (Rosenhlatf 1956 dalmn Silverman, 1986)

MISE ( f ) = E l(f (1) -

f

(1)) - d x

Nilai ideal dari lebar jendela diperoleh dengan meminimumkan MISE. Lebar jendela (h) merupakan parameter pemulus yang sangat mempengaruhi bentuk penduga kepekatan yang dihasilkan. Semakin lebar jendela yang diynakan, maka bentuk pendugaan kepekatan yang dihasilkan semakin mulus (Lusiana, 1992).

Pemilihan fungsi kernel tidak berpengamh terbadap bentuk pendugaan fungsi kepekatan peluang yang diperoleh dengan melihat nilai efisiensi dari masing-masing hngsi kernel yang dibandingkan dengan fungsi kernel Epanechnikov (Silverman, 1986). Dalam penelitian ini menggunakan fungsi kernel Gauss (0, I), yaitu

1 -L(,z) K ( t ) =

-

G"

dan lebar jendela (h) yang digunakan adalah 0.9An'~"~' , dimana A adalah min (simpangan baku, jarak antar kuartil/l.34). Lebar jendela yang digunakan untuk masing-masing atribut adalah rata-rata jendela dari enam rokok (tiga rokok yang dicobakan pada tabap blind fcs/ dan tiga rokok pada tahap branded test).

BAHAN DAN METODE

Bahan

Penelitian ini menggunakan data hasil survey secara kuantitatif sebuah perusahaan riset pemasaran di Jakarta pada tanggal 13-15 Juli 1999. Jumlah respoden pada penelitian ini sebanyak 80 responden perokok Ardath dari kota Jakarta. Adapun kriteria respondennya sebagai berikut :

.:+

Responden adalah laki-laki perokok berusia antara 20-35 tahun, berasal dari kelas sosial ekonomi rumah tangga yang pengeluarannya lebih dari atau sama dengan Rp 900.000,OO.

+:.

Responden tersebut merupakan perokok

Ardath, yang menghisap rokok sedikitnya 12 batang dalam satu hari.

*:* Responden haruslah orang yang tidak sedang sakit, misalnya gangyan pernafasan maupun gangyan penciuman hidung.

.:+

Responden terakhir kali makan pagilsiang harus lebih dari 1 jam yang lalu.

.:+

Pendidikan terakhir yang ditamatkan responden minimal Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA).

4 Panel responden disajikan pada Tabel 1.

Tahel I. Panel responden

Merek rokok yang dicoba responden adalah rokok Ardath , P, dan Pall Mall. Merek rokok putih P merupakan produk rokok putib baru yang akan diluncurkan ke pasaran.

SES A B TOTAL PEROKOK ARDATH USJA

20-25 / 26-30 1 31-35 1 TOTAL

153'0 /o I536

I

2036 / 5036 1546 1 1536 1 2034 1 5036 30% 1 30 5% 1 4034 1 LOO %

Kcrcrnnall :

SES A = Pcngslunrnn 2 Rp 1.200.WO.00

(58)

memberikan penilaian tanpa dihadapkan pada kategori-kategori yang panjangnya tertentu. Ada dua jenis nilai yang dihasilkan, yaitu :

1. Nilai intensitas, yaitu penilaian terhadap intensitas suatu rokok putih yang dicoba. 2. Nilai ideal, yaitu penilaian terhadap posisi

intensitas rokok putih yang diharapkan oleh responden.

Metode Kernel

Metode kernel adalah metode pendugaan fungsi kepekatan nonparametrik yang pertama kali dikembangkan oleh Fix dan Hodges pada tahun 1951. Pengynaan metode kernel telah dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Lusiana (1992), Hamdani (1996), Syafitri (2000) serta yang lainnya.

Menurut Silverman (1986), bentuk umum dari penduga kepekatan kernel peubah tunggal :

dimana

x = nilai beda

Xi = nilai beda pengamatan ke

-

i n = jumlah pengamatan

11 = lebar jendela K(.) = fungsi kernel

Untuk mengukur ketepatan keseluruhan f

sebagai penduga f adalah Integral Kuadrat Tengab

Galat (Mean li~fegrafed Square Error atau MISE) didefinisikan oleh (Rosenhlatf 1956 dalmn Silverman, 1986)

MISE ( f ) = E l(f (1) -

f

(1)) - d x

Nilai ideal dari lebar jendela diperoleh dengan meminimumkan MISE. Lebar jendela (h) merupakan parameter pemulus yang sangat mempengaruhi bentuk penduga kepekatan yang dihasilkan. Semakin lebar jendela yang diynakan, maka bentuk pendugaan kepekatan yang dihasilkan semakin mulus (Lusiana, 1992).

Pemilihan fungsi kernel tidak berpengamh terbadap bentuk pendugaan fungsi kepekatan peluang yang diperoleh dengan melihat nilai efisiensi dari masing-masing hngsi kernel yang dibandingkan dengan fungsi kernel Epanechnikov (Silverman, 1986). Dalam penelitian ini menggunakan fungsi kernel Gauss (0, I), yaitu

1 -L(,z) K ( t ) =

-

G"

dan lebar jendela (h) yang digunakan adalah 0.9An'~"~' , dimana A adalah min (simpangan baku, jarak antar kuartil/l.34). Lebar jendela yang digunakan untuk masing-masing atribut adalah rata-rata jendela dari enam rokok (tiga rokok yang dicobakan pada tabap blind fcs/ dan tiga rokok pada tahap branded test).

BAHAN DAN METODE

Bahan

Penelitian ini menggunakan data hasil survey secara kuantitatif sebuah perusahaan riset pemasaran di Jakarta pada tanggal 13-15 Juli 1999. Jumlah respoden pada penelitian ini sebanyak 80 responden perokok Ardath dari kota Jakarta. Adapun kriteria respondennya sebagai berikut :

.:+

Responden adalah laki-laki perokok berusia antara 20-35 tahun, berasal dari kelas sosial ekonomi rumah tangga yang pengeluarannya lebih dari atau sama dengan Rp 900.000,OO.

+:.

Responden tersebut merupakan perokok

Ardath, yang menghisap rokok sedikitnya 12 batang dalam satu hari.

*:* Responden haruslah orang yang tidak sedang sakit, misalnya gangyan pernafasan maupun gangyan penciuman hidung.

.:+

Responden terakhir kali makan pagilsiang harus lebih dari 1 jam yang lalu.

.:+

Pendidikan terakhir yang ditamatkan responden minimal Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA).

4 Panel responden disajikan pada Tabel 1.

Tahel I. Panel responden

Merek rokok yang dicoba responden adalah rokok Ardath , P, dan Pall Mall. Merek rokok putih P merupakan produk rokok putib baru yang akan diluncurkan ke pasaran.

SES A B TOTAL PEROKOK ARDATH USJA

20-25 / 26-30 1 31-35 1 TOTAL

153'0 /o I536

I

2036 / 5036 1546 1 1536 1 2034 1 5036 30% 1 30 5% 1 4034 1 LOO %

Kcrcrnnall :

SES A = Pcngslunrnn 2 Rp 1.200.WO.00

(59)

Metode

Metode penarikan contoh yang digunakan adalah kuota disproporsional berdasarkan kriteria responden yang telah ditentukan dengan teknik sentral lokasi di Plaza Atrium Senin, Jakarta.

Tahap pengujian terhadap produk rokok putih yang akan dicobakan untuk setiap responden terdiri dari dua tahap, yaitu :

1. Tahap blind test.

Responden mencoba tiga rokok tanpa mengetahui merek rokoknya.

2. Tahap brnr~ded test.

Responden mencoba tiga rokok dengan ditunjukkan merek rokoknya.

Atribut dari produk rokok yang akan dilihat antara lain dalam ha1 rasa secara keselumhan, rasa gurih, rasa pahit, aroma, kekuatan aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengamh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut (Lampiran 1).

Cara pengisian kuesioner pada tiap tahap adalah sama yaitu dengan memberikan tanda garis tegak pada posisi penilaian responden untuk masing-masing rokok. Skala hedonik kontinu yang digunakan berskala 10 cm. Kutub paling lemah mempunyai nilai 0 dan kutub paling h a t mempunyai nilai 10.

Hasil penilaian responden terhadap rokok- rokok yang dicoba dikelompokkan terlehih dahulu menurut kode rokok yang ditentukan pada tiap tahap sebelum dianalisis.

Metode analisis pertama yaitu dengan menghitung nilai rata-rata tiap-tiap atribut untuk rokok ideal, Ardath, P, dan Pall Mall. Kemudian dibandingkan nilai rata-rata rokok P terhadap rokok ideal, Ardath, dan Pall Mall. Perbandingan ini menggunakan uji nonparametrik yaitu uji peringkat bertanda Wilcoxon untuk dua contoh yang berhubungan Uji ini menggunakan sofivare SPSS 9.Ofor ~viridows.

Sedangkan metode analisis kedua yaitu metode kernel dengan penduga fungsi kepekatan peluang untuk mengetahui hentuk sebaran nilai beda terhadap masing-masing merek rokok yang dicoba. Nilai beda (x) didapat dengan mengurangkan nilai intensitas pada pada masing- masing rokok yang dicoba dengan nilai ideal pada penilaian rokok ideal (Gambar 1).

Rokok ideal

Nilai W n = -xi

Rokok pertama

kulub lmah : hvtubkuat

Nilai bedn = x Rokok kedua

kutub lernnh

Nilai hda = 0

Rokok ketiga I

hvtub icmoh

I

hulub kuat

Gambar 1. Jenis nilai beda pada masing-masing rokok.

Dari Gambar 1 terlihat bahwa jika nilai intensitas berada di sehelah kiri nilai ideal, maka nilai beda bertanda negatif. Sebaliknya jika nilai beda bertanda positif bila nilai intensitas berada di sebelah kanan nilai ideal dan jika nilai intensitas berhimpit dengan nilai ideal, maka nilai heda = 0.

Perhitungan dibuat dengan bantuan program makro Minitab relense 11.12 (menggunakan program Lusiana, 1992 yang direvisi oleh Syafitri, 2000). Kurva penduga fungsi kepekatan peluang disajikan dengan bantuan paket Microsoft Excel '97. Pada kurva, kode Ardath 1, P 1, dan Pall Mall 1 mempakan keterangan untuk merek rokok yang dicobakan pada tahap blind lest. Sedangkan kode Ardath 2, P 2, dan Pall Mall 2 merupakan keterangan untuk merek rokok yang dicobakan pada tahap brarided test.

Perhitungan nilai peluang untuk masing-masing atribut pada tiap tahap, yaitu :

r

Jika P(x<-m) berarti peluang bahwa atribut rokok yang diamati mempunyai intensitas yang kurang dari idealnya.

r

Jika P ( - m ~ x ~ m ) berarti peluang bahwa atribut rokok yang diamati mempunyai intensitas yang sama dari idealnya.

r

Jika P(x>m) berarti peluang bahwa atribut rokok yang diamati mempunyai intensitas yang lebih dari idealnya.

Nilai m diperoleh dengan cara membagi dua dari selisih antara batas atas dengan batas bawah selang kepercayaan 95% rata-rata rokok ideal.

[image:59.595.298.509.58.223.2]
(60)

juga didasarkan pada kekurangan dan kelebihan rokok P, Ardath, maupun Pall Mall.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Atribut yang Berpengaruh Terhadap Rasa Secara Keseluruhan

Sebelum melakukan perubahan pada rokok putih baru P, perlu dilihat terlebih dahulu atribut yang mempunyai pengaruh terliadap rasa secara keseluruhan. Atribut yang berpengaruh tersebut dapat dilihat dari persamaan regresi berikut :

Tabel 2. Hasil uji koefisien regresi

a = ~n&ecnra keseluruhun b = Rasa gurih

e = Rnsa pahit d = k o m n

e = Kekuatan aroma

f = R a w mnas di hiduna i = pen gad^ di dada j =Isapan

k = Rcsil tcmbckau

I = Rasa yang dilinggalkandi mulut

Dari Tabel 2, atribut yang mempunyai nilai peluang signifikan pada taraf nyata 5% yaitu pengaruh di dada (i), isapan (j), dan rasa yang ditinggalkan di mulut (I). Masing-masing atribut tersebut memberikan pengaruh terhadap rasa secara keseluruhan dengan pengamhnya masing- masing sebesar 0.299, 0.118, dan 0.221. Nilai R-sq menunjukkan bahwa atrihut rasa secara keseluruhan dapat dijelaskan oleh atribut rasa gurih, rasa pahit, aroma, kekuatan aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan,

nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut hanya sebesar 50.5%.

Ketebihan dan Keknrangan Rokok Putih P Berdasarkan Lampiran 2 pada basil metode nilai rata-rata, diperoleh bahwa rokok Ardath (pemimpin pasar), rokok P, dan rokok Pall Mall mempunyai kesamaan kelebihan pada atribut kekuatan aroma (sesuai dengan ideal). Sedangkan kekurangan rokok Ardath, P, maupun Pall Mall pada atribut rasa secara keseluruhan, rasa gurih, rasa pahit, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Untuk melihat analisis lebih lanjut masing- masing atribut ketiga rokok dari peroleban nilai peluang (Lampiran 2) dan kuwa (Lampiran 3-14) pada metode kernel bisa dilihat sebagai berikut :

+

Atribut rasa secara keseluruhan, rasa gurih, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut mempunyai nilai peluang P(x<-m) lebih besar daripada peluang P(x>m) untuk tiap tahap. Selain itu kurva yang dihasilkan umumnya lebih menjulur ke arah negatif, yang berarti bahwa atribut tersebut masih kurang dari segi rasa, wangi, dan menimbulkan efek di dada, hidung, maupun tenggorokan.

+

Sedangkan atribut rasa pahit dan isapan mempunyai nilai peluang P(x>m) lebih besar daripada peluang P(x<-m) dengan luas dibawah kuwa yang juga besar ke arah positif, sehingga rokok yang diamati terasa agak pahit dan agak berat isapannya.
(61)

juga didasarkan pada kekurangan dan kelebihan rokok P, Ardath, maupun Pall Mall.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Atribut yang Berpengaruh Terhadap Rasa Secara Keseluruhan

Sebelum melakukan perubahan pada rokok putih baru P, perlu dilihat terlebih dahulu atribut yang mempunyai pengaruh terliadap rasa secara keseluruhan. Atribut yang berpengaruh tersebut dapat dilihat dari persamaan regresi berikut :

Tabel 2. Hasil uji koefisien regresi

a = ~n&ecnra keseluruhun b = Rasa gurih

e = Rnsa pahit d = k o m n

e = Kekuatan aroma

f = R a w mnas di hiduna i = pen gad^ di dada j =Isapan

k = Rcsil tcmbckau

I = Rasa yang dilinggalkandi mulut

Dari Tabel 2, atribut yang mempunyai nilai peluang signifikan pada taraf nyata 5% yaitu pengaruh di dada (i), isapan (j), dan rasa yang ditinggalkan di mulut (I). Masing-masing atribut tersebut memberikan pengaruh terhadap rasa secara keseluruhan dengan pengamhnya masing- masing sebesar 0.299, 0.118, dan 0.221. Nilai R-sq menunjukkan bahwa atrihut rasa secara keseluruhan dapat dijelaskan oleh atribut rasa gurih, rasa pahit, aroma, kekuatan aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan,

nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut hanya sebesar 50.5%.

Ketebihan dan Keknrangan Rokok Putih P Berdasarkan Lampiran 2 pada basil metode nilai rata-rata, diperoleh bahwa rokok Ardath (pemimpin pasar), rokok P, dan rokok Pall Mall mempunyai kesamaan kelebihan pada atribut kekuatan aroma (sesuai dengan ideal). Sedangkan kekurangan rokok Ardath, P, maupun Pall Mall pada atribut rasa secara keseluruhan, rasa gurih, rasa pahit, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Untuk melihat analisis lebih lanjut masing- masing atribut ketiga rokok dari peroleban nilai peluang (Lampiran 2) dan kuwa (Lampiran 3-14) pada metode kernel bisa dilihat sebagai berikut :

+

Atribut rasa secara keseluruhan, rasa gurih, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengaruh di dada, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut mempunyai nilai peluang P(x<-m) lebih besar daripada peluang P(x>m) untuk tiap tahap. Selain itu kurva yang dihasilkan umumnya lebih menjulur ke arah negatif, yang berarti bahwa atribut tersebut masih kurang dari segi rasa, wangi, dan menimbulkan efek di dada, hidung, maupun tenggorokan.

+

Sedangkan atribut rasa pahit dan isapan mempunyai nilai peluang P(x>m) lebih besar daripada peluang P(x<-m) dengan luas dibawah kuwa yang juga besar ke arah positif, sehingga rokok yang diamati terasa agak pahit dan agak berat isapannya.
(62)

Strategi Pengembangan

Dengan melihat kekurangan rokok putih barn P, maka dari Lampiran 15 dibuatlah prioritas kekurangan rokok tersebut. Prioritas pertama diberikan pada atribut rasa secara keselumhan (3.47), kemudian diikuti oleh atribut rasa yang ditinggalkan di mulut (2.63), pengamh di dada (2.54), rasa kering di tenggorokan (2.12), nyegrak asap di tenggorokan (1.95), rasa y r i h (1.64), rasa panas di hidung (1.57), rasa pahit (-1.37), aroma (1.06), rasa tembakau (0.74), dan isapan (-0.61).

Strategi pengembangan yang disusun untuk rokok putih P sebelum diluncurkan ke pasaran yaitu dengan meningkatkan rasa secara keselumhan dan rasa yang ditinggalkan di mulut. Selain itu juga dengan mengurangi pengaruh di dada, rasa kering di tenggorokan, dan nyegrak asap di tenggorokan dengan tetap mempertahankan kekuatan aroma.

KESIMPULAN

Atribut yang dianpgap berpengamh terbadap rasa secara keseluruhan dari suatu rokok menurut konsumen rokok Ardath adalah atribut pengaruh di dada, isapan, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Kelebihan rokok putih baru P hanya pada kekuatan aromanya, karena atribut tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen Ardath. Sedangkan kekurangannya terletak pada atribut rasa secara keselumhan, rasa y r i h , rasa pahit, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengamh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Strategi pengembangan rokok putih baru P agar diterima di pasaran konsumen rokok Ardath yaitu dengan tetap mempertahankan kekuatan aroma yang menjadi daya tarik rokok tersebut, meningkatkan rasa secara keselumhan dan rasa yang ditinggalkan di mulut, serta mengurangi pengamh di dada, rasa kering di tenggorokan, dan nyegrak asap di tenggorokan.

DAFTAR PUSTAKA

Deka. 2000. Technical & Managemeilt Tr~itlillg. Deka Marketing Research, Jakarta (tidak dipublikasikan).

Gacula, M. C. Jr., & J. Singh. 1984. Stalistical Methods in Food and Cons~i~ner Researc/?. Academic Press, Inc, London.

Hamdani, M. 1996. Pendugaan Fungsi Kepekatan Waktu Pelayanan Verifikasi Otomotif Menggunakan Metode Kernel. Skripsi. Jurusan Statistika FMIPA IPB, Bogor.

Lusiana, B. 1992. Pendugaan Kepekatan Peluang Dengan Metode Kernel pada Data Peubah Tunggal dan Ganda Dua. Skripsi. Jumsan Statistika FMIPA IPB, Bogor.

Palupi, D. H. &

E

Kartajaya. 1999. 36 Kmrs Pemnasaran Asli Indonesia Seri Dtra. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Palupi, D. H. & Sudarmadi. 2-8 Desember 1999. Sektor Rokok : Dibawah Ancaman Serius. Swa 24 (XV):44-46.

Silverman, B. W. 1986. Density Estin~atior? for Statistics and Data Analysis. Chappman and Hall, London.

Supranto, J. 1997. Metode Risef. Rineka Cipta, Jakarta.

Syaiitri, U. D. 2000. Pemodelan Sebaran Paparan Gamma di Reaktor Serba Guna G. A. Siwabessy Dengan Fungsi Kepekatan Peluang Kernel. Skripsi. Jumsan Statistika FMLPA IPB, Bogor.

(63)

Strategi Pengembangan

Dengan melihat kekurangan rokok putih barn P, maka dari Lampiran 15 dibuatlah prioritas kekurangan rokok tersebut. Prioritas pertama diberikan pada atribut rasa secara keselumhan (3.47), kemudian diikuti oleh atribut rasa yang ditinggalkan di mulut (2.63), pengamh di dada (2.54), rasa kering di tenggorokan (2.12), nyegrak asap di tenggorokan (1.95), rasa y r i h (1.64), rasa panas di hidung (1.57), rasa pahit (-1.37), aroma (1.06), rasa tembakau (0.74), dan isapan (-0.61).

Strategi pengembangan yang disusun untuk rokok putih P sebelum diluncurkan ke pasaran yaitu dengan meningkatkan rasa secara keselumhan dan rasa yang ditinggalkan di mulut. Selain itu juga dengan mengurangi pengaruh di dada, rasa kering di tenggorokan, dan nyegrak asap di tenggorokan dengan tetap mempertahankan kekuatan aroma.

KESIMPULAN

Atribut yang dianpgap berpengamh terbadap rasa secara keseluruhan dari suatu rokok menurut konsumen rokok Ardath adalah atribut pengaruh di dada, isapan, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Kelebihan rokok putih baru P hanya pada kekuatan aromanya, karena atribut tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen Ardath. Sedangkan kekurangannya terletak pada atribut rasa secara keselumhan, rasa y r i h , rasa pahit, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengamh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Strategi pengembangan rokok putih baru P agar diterima di pasaran konsumen rokok Ardath yaitu dengan tetap mempertahankan kekuatan aroma yang menjadi daya tarik rokok tersebut, meningkatkan rasa secara keselumhan dan rasa yang ditinggalkan di mulut, serta mengurangi pengamh di dada, rasa kering di tenggorokan, dan nyegrak asap di tenggorokan.

DAFTAR PUSTAKA

Deka. 2000. Technical & Managemeilt Tr~itlillg. Deka Marketing Research, Jakarta (tidak dipublikasikan).

Gacula, M. C. Jr., & J. Singh. 1984. Stalistical Methods in Food and Cons~i~ner Researc/?. Academic Press, Inc, London.

Hamdani, M. 1996. Pendugaan Fungsi Kepekatan Waktu Pelayanan Verifikasi Otomotif Menggunakan Metode Kernel. Skripsi. Jurusan Statistika FMIPA IPB, Bogor.

Lusiana, B. 1992. Pendugaan Kepekatan Peluang Dengan Metode Kernel pada Data Peubah Tunggal dan Ganda Dua. Skripsi. Jumsan Statistika FMIPA IPB, Bogor.

Palupi, D. H. &

E

Kartajaya. 1999. 36 Kmrs Pemnasaran Asli Indonesia Seri Dtra. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Palupi, D. H. & Sudarmadi. 2-8 Desember 1999. Sektor Rokok : Dibawah Ancaman Serius. Swa 24 (XV):44-46.

Silverman, B. W. 1986. Density Estin~atior? for Statistics and Data Analysis. Chappman and Hall, London.

Supranto, J. 1997. Metode Risef. Rineka Cipta, Jakarta.

Syaiitri, U. D. 2000. Pemodelan Sebaran Paparan Gamma di Reaktor Serba Guna G. A. Siwabessy Dengan Fungsi Kepekatan Peluang Kernel. Skripsi. Jumsan Statistika FMLPA IPB, Bogor.

(64)

Strategi Pengembangan

Dengan melihat kekurangan rokok putih barn P, maka dari Lampiran 15 dibuatlah prioritas kekurangan rokok tersebut. Prioritas pertama diberikan pada atribut rasa secara keselumhan (3.47), kemudian diikuti oleh atribut rasa yang ditinggalkan di mulut (2.63), pengamh di dada (2.54), rasa kering di tenggorokan (2.12), nyegrak asap di tenggorokan (1.95), rasa y r i h (1.64), rasa panas di hidung (1.57), rasa pahit (-1.37), aroma (1.06), rasa tembakau (0.74), dan isapan (-0.61).

Strategi pengembangan yang disusun untuk rokok putih P sebelum diluncurkan ke pasaran yaitu dengan meningkatkan rasa secara keselumhan dan rasa yang ditinggalkan di mulut. Selain itu juga dengan mengurangi pengaruh di dada, rasa kering di tenggorokan, dan nyegrak asap di tenggorokan dengan tetap mempertahankan kekuatan aroma.

KESIMPULAN

Atribut yang dianpgap berpengamh terbadap rasa secara keseluruhan dari suatu rokok menurut konsumen rokok Ardath adalah atribut pengaruh di dada, isapan, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Kelebihan rokok putih baru P hanya pada kekuatan aromanya, karena atribut tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen Ardath. Sedangkan kekurangannya terletak pada atribut rasa secara keselumhan, rasa y r i h , rasa pahit, aroma, rasa panas di hidung, rasa kering di tenggorokan, nyegrak asap di tenggorokan, pengamh di dada, isapan, rasa tembakau, dan rasa yang ditinggalkan di mulut.

Strategi pengembangan rokok putih baru P agar diterima di pasaran konsumen rokok Ardath yaitu dengan tetap mempertahankan kekuatan aroma yang menjadi daya tarik rokok tersebut, meningkatkan rasa secara keselumhan dan rasa yang ditinggalkan di mulut, serta mengurangi pengamh di dada, rasa kering di tenggorokan, dan nyegrak asap di tenggorokan.

DAFTAR PUSTAKA

Deka. 2000. Technical & Managemeilt Tr~itlillg. Deka Marketing Research, Jakarta (tidak dipublikasikan).

Gacula, M. C. Jr., & J. Singh. 1984. Stalistical Methods in Food and Cons~i~ner Researc/?. Academic Press, Inc, London.

Hamdani, M. 1996. Pendugaan Fungsi Kepekatan Waktu Pelayanan Verifikasi Otomotif Menggunakan Metode Kernel. Skripsi. Jurusan Statistika FMIPA IPB, Bogor.

Lusiana, B. 1992. Pendugaan Kepekatan Peluang Dengan Metode Kernel pada Data Peubah Tunggal dan Ganda Dua. Skripsi. Jumsan Statistika FMIPA IPB, Bogor.

Palupi, D. H. &

E

Kartajaya. 1999. 36 Kmrs Pemnasaran Asli Indonesia Seri Dtra. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Palupi, D. H. & Sudarmadi. 2-8 Desember 1999. Sektor Rokok : Dibawah Ancaman Serius. Swa 24 (XV):44-46.

Silverman, B. W. 1986. Density Estin~atior? for Statistics and Data Analysis. Chappman and Hall, London.

Supranto, J. 1997. Metode Risef. Rineka Cipta, Jakarta.

Syaiitri, U. D. 2000. Pemodelan Sebaran Paparan Gamma di Reaktor Serba Guna G. A. Siwabessy Dengan Fungsi Kepekatan Peluang Kernel. Skripsi. Jumsan Statistika FMLPA IPB, Bogor.

(65)
(66)

Lampiran 1. Butir-butir pertanyaan kuesioner yang terdapat pada tahap blind lest dan tahap brat~ded tesl.

Saya akan meminta anda untuk membandingkan secara jujur antara rokok yang ideal, rokok yang paling sering diisap dan rokok-rokok yang ada dalam beberapa ha1 berikut ini. Keterbukaan anda dalam menilai rokok-rokok tersebut sangatlah membantu kami dalam meningkatkan kualitas suatu merek rokok.

Pla. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa secara keselumhan dari . . . ?

Sangat tidak sesuai selera - Sannat sesuai selera

-

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Plb. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa rmrih dari . . . . .. . . ?

Sangat tidak gurih Sangat gurih - -

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Plc. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa pahit dari . . . . .. . . .. ?

Sangat tidak pahit Sangat pahit

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoha

Pld. Bagaimana penilaian anda mengenai

aroma

dari . .. . . ?

Sangat tidak wangi Sangat wangi

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Ple. Bagaimana penilaian anda mengenai kekuatan aroma dari . . . . .. . . ?

Sangat lemah Sangat kuat

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

P l f Bagaimana penilaian anda mengenai rasa panas di hiduns dari . .. . . . .. . . ?

Sangat panas Sangat tidak panas

Rokok ideal

Rokok pertama dicoba Rokok kedua dicoba Rokok ketiga dicoba

Plg. Bagaimana penilaian anda mengenai rasa kerine, di tenevorokan dari . . . ?

Sangat kering Sangat tidak kering

Rokok ideal

(67)

Gambar

Gambar 1. Jenis nilai beda pada masing-masing rokok.
Gambar 1. Jenis nilai beda pada masing-masing rokok.

Referensi

Dokumen terkait

keseluruhan.Penilaian secara keseluruhan merupakan penilaian panelis terhadap bolu kemojo yang meliputi seluruh atribut mutu, yaitu aroma, rasa, dan tekstur.Uji

Hasil analisis dari penelitian mengenai pengaruh Rasa, Aroma, Tekstur, Merek, Harga, Label dan Kemasan terhadap Keputusan Pembelian (survei pada konsumen rokok Gudang

Berbeda dengan hasil penilaian warna, penilaian terhadap parameter rasa, aroma dan tekstur menunjukkan bahwa panelis atau konsumen lebih menyukai permen karamel

Dari tabel pengujian tersebut dapat dilihat bahwa preferensi responden terhadap produk olahan berbahan baku ubi jalar yang dilihat dari atribut rasa, aroma, tekstur produk

Tugas Akhir Program Sarjana Strata Satu (S1) dengan judul: “ Analisis Pengaruh Atribut Produk (Merek, Kualitas, Kemasan) terhadap Keputusan Pembelian Rokok Marlboro pada

Dari tabel pengujian tersebut dapat dilihat bahwa preferensi responden terhadap produk olahan berbahan baku ubi jalar yang dilihat dari atribut rasa, aroma, tekstur produk

Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa pernyataan tertinggi dalam pernyataan kualitas/rasa rokok Cahaya Pro memiliki rasa yang enak dengan indeks kepuasan 80,7% dan

Dalam penelitian ini ada 7 tujuh atribut produk yang diukur, yaitu harga, cita rasa, warna, aroma, bentuk, tekstur, dan kandungan gizi untuk mengetahui persepsi atau tanggapan konsumen