Bahan Pendadaran Perjamuan Kudus GITJ Semarang – Desember 2015
Tema : Janganlah Mendukakan Roh Kudus Teks : Efesus 4:30-32
I. Pendahuluan
Pengajaran Alkitab berkenaan dengan istilah “mendukakan Roh Kudus” dalam surat Efesus, ternyata telah disinggung dalam zaman nabi Yesaya (Yesaya 63:10). Teguran nabi Yesaya tersebut secara jelas disampaikan kepada bangsa Israel. Bahwa pada dasarnya, Juruselamat dan ‘bapa’ dari bangsa Israel adalah Allah sendiri. Akan tetapi ketika kasih karunia Allah begitu melimpah atas bangsa Israel, justru pada saat itupula bangsa Israel memberontak kepada Allah dan mendukakan Roh Kudus Allah. Gambaran keadaan demikian pula yang dipakai oleh rasul Paulus untuk menegur jemaat di Efesus supaya tetap setia kepada Allah.
II. Pembahasan
Secara sederhana, perintah firman Tuhan jelas: “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan”. Sebagaimana diketahui, bahwa kita adalah umat tebusan Allah. Kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah melalui pengurbanan Kristus. Oleh karena itu kita telah menerima jaminan keselamatan sorgawi oleh Roh Kudus yang berdiam di dalam kita. Maka kita harus menjaga diri kita, supaya jangan sampai keselamatan yang telah kita terima tersebut dicemari oleh perbuatan-perbuatan yang menentang Allah. Karena perbuatan-perbuatan yang menentang Allah membawa kita pada kehancuran hidup dan jelas mendukakan Roh Kudus. Dengan demikian dapat kita pahami ada perbuatan yang menyukakan Roh Kudus, dan sebaliknya ada jua yang mendukakan. Ketika kita menyukakan Roh Kudus kita akan tetap hidup dalam damai sejahtera. Namun sebaliknya, ketika kita mendukakan Roh Kudus, kehidupan kita sedang menuju kepada kehancuran.
Supaya kita terhindar dari dosa ‘mendukakan Roh Kudus’, ada perbuatan-perbuatan yang harus dibuang – ditinggalkan dan ada juga perbuatan yang harus diupayakan untuk dilakukan dalam kehidupan. Pertama – tama yang harus dibuang adalah kepahitan hati, kegeraman, kemarahan yang tak kunjung selesai, pertikaian, fitnah dan segala kejahatan yang lain. Kedua, yang harus kita bersama lakukan adalah keramahan – (lawan kata dari antisosial; ‘ judes’ ), kasih yang tulus terhadap sesama, dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Namun demikian, terkadang kita merasa sulit untuk melakukan firman Tuhan ini. Sebenarnya bagi kita orang-orang yang sudah percaya dan menerima Roh Kudus, kita dimampukan untuk melakukan firman-Nya. Sebagaimana kita pahami, kita bukanlah “manusia yang manusiawiah” tetapi kita disebut sebagai “manusia rohani” (I Kor.3). Bagaimana mungkin “manusia rohani” dapat mendukakan Roh Kudus? Perintah firman Tuhan bagi kita sudah jelas, baiklah kita bersama berkomitmen untuk menghindari perbuatan yang mendukakan Roh Kudus.