• Tidak ada hasil yang ditemukan

LATAR BELAKANG RESPON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "LATAR BELAKANG RESPON"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bagi sebuah perguruan tinggi Islam maka menyiapkan peserta didik sedini mungkin sangatlah dibutuhkan. Banyak pandangan yang muncul dari sebagian pengamat berpendapat bahwa mutu pendidikan di Indonesia tidak meningkat, bahkan cenderung menurun. Maka berbagai terobosan dilakukan untuk meningkatkan pendidikan ini. Apalagi saat ini persoalan akreditasi menjadi persoalan yang urgen dalam perguruan tinggi. Bahkan banyak lembaga pemerintah yang tidak mau menerima tamatan perguruan tinggi yang lulusannya belum terakreditasi.

Belum lagi persoalan kesiapan alumni untuk memasuki dunia kerja dengan adanya kegamangan tamatan perguruan tinggi untuk kembali ketengah-tengah masyarakat. Hal ini salah satu indicator, dengan semakin banyaknya lulusan institusi pendidikan yang tidak dapat memiliki kesiapan dalam memasuki dunia kerja sesuai dengan ilmu dan bidang yang ditekuninya. Sehingga jadilah muncul mahasiswa yang lebih banyak pengangguran dan tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

Juga hal yang sangat penting dengan indikator adalah menurunnya kapasitas para lulusan yang semakin hari cenderung semakin jauh dari kwalitas yang dikehendaki. Untuk mengantisipasi persoalan semacam itu, pendidikan perlu direkonstruksi ulang agar dapat menghasilkan lulusan yang lebih sigap dan siap menghadapi “dunia” masa depan yang penuh dengan problema dan tantangan, serta dapat menghasilkan lulusan yang memiliki pandangan dan paradigma siap pakai.

Oleh sebab itu wajar saja kalau setiap Perguruan Tinggi pada hakekatnya ingin mencetak lulusan yang memiliki kemampuan yang komprehensif. Menginginkan mahasiswa yang mempunyai kemampuan komprehensif, tidak cukup hanya meningkatkan kualitas akademisnya saja, tetapi juga harus punya kemampuan yang berkaitan dengan persoalan yang ada di masyarakat serta referensi yang digunakan.

(2)

perkuliahan. Mental baja untuk mencari peluang kerja. Kesiapan dengan kondisi apapun. Maka perlu pembekalan soft skil dan life yang mumpuni.1

1.Kondisi Pendidikan di Perguruan Tinggi Agama Islam

Ada paradigma yang tertanam bahwa kualitas dan kwantitas tamatan pendidikan Islam yang masih dipandang dibawah pendidikan umum walaupun tidak bisa digeneralisasi semua umat Islam berpandangan demikian.2 Tentu stigma di sebahagian umat Islam memandang bahwa pendidikan agama (baca pendidikan Islam) menjadi pendidikan kelas dua. Di sisi lain pendidikan umum di tempatkan pada posisi nomor wahid. Walaupun sebahagian para orang tua atau masyarakat masih banyak yang mendahulukan pendidikan agama anak-anaknya. Bahkan kehausan akan pendidikan agama semakin lama semakin terlihat.3

Namun paradigma yang tertanam di mata masyarakat atau orang tua bahwa kalau ingin belajar agama bagi anaknya tentu mesti masuk ke sekolah agama seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTsN), Madrasah Aliyah (MA) dan perguruan tinggi agama Islam (PTAI). Kalau ingin masuk belajar umum (baca nonagama) masuk ke Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi umum (PTU) baik sekolah agama dan sekolah umum itu swasta maupun negeri.

Mengutip apa yang ditulis oleh Abdurrahman Mas’ud dalam bukunya “ Menggagas Format nondikotomok”4 ketika berbicara

mengenai ontologi Pendidikan Islam. Dimana sebenarnya Islam tidak mengenal dikotomi. Islam adalah religion of nature maka dalam ajaran Islam sudah tentu tidak dikenal adanya dikotomik ini.

Bahkan kalau perlu mesti dihindari dikotomi antara sains dan agama. Justru semakin jauh ilmuwan mendalami sains, dia akan 1 Adlan Sanur, Selamat Menempuh Hidup Baru, Tulisan dimuat dalam opini al-Itqan terbitan Edisi 08 tahun 2012

2 Lihat tulisan ini dalam Opini Harian Singgalang yang ditulis oleh Adlan Sanur Th, Menuntut Ilmu dan Kemiskinan, Harian Singgalang, Padang, Minggu 9 Maret 2008

3 Lihat Tulisan Adlan Sanur Th , Nasib Guru Ngaji, Harian Umun Haluan, Padang, 28 Juli 2008.

(3)

memperoleh wisdom berupa philosophic perennis yang dalam filsafat Islam disebut dengan transendnce. Iman tidak akan pernah bertentangan dengan sains karena iman adalah rasio dan rasio adalah alam itu sendiri.5

2. Prolematika Perguruan Tinggi Agama Islam

Di antara berbagai persoalan di perguruan tinggi agama Islam adalah pengembangan prodi studi umum. Pengembangan prodi umum di IAIN dan STAIN ternyata mengalami beberapa kendala, antara lain adalah ketiadaan aturan yang menjadi dasar bagi pengembangan prodi umum di IAIN dan STAIN. Hingga saat ini, tidak didapati aturan yang menjadi dasar pengembangan prodi umum dimaksud. Yang ada hanyalah konsep wider mandate yang tidak diikuti oleh selembar aturan tentang penyelenggaraan prodi umum tersebut. Yang ada hanyalah surat rekomendasi dari Kementerian Pendidikan Nasional –direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi—dan kemudian ditindaklanjuti dengan SK Izin Operasional dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.Pasca dicabutnya UU BHP oleh Mahkamah Konstitus, maka terjadi ketiadaan aturan formal yang mengatur tentang pendidikan, secara khusus pendidikan tinggi. Kementerian Agama –Dirjen Pendidikan Islam— telah memanggil beberapa UIN, IAIN dan STAIN untuk merumuskan tentang semacam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) yang akan menjadi dasar bagi penyelenggaraan pendidikan di bawah Kementerian Agama.

(4)

UNJ, Unijoyo, Universitas Trisakti dan sebagainya. Di dalam penyelenggaraan pendidikan keagamaan tersebut, maka dipastikan bahwa PTU harus memperoleh rekomendasi dari Kementerian Agama dan sebaliknya PTAI yang menyelenggarakan pendidikan umum juga harus memperoleh rekomendasi dari Kementerian Pendidikan Nasional. Basis aturan ini sangat diperlukan. Berbagai persoalan itu seperti diungkapkan oleh Nursyam dengan sarannya sebagai berikut:6

1. Problema kualitas kelembagaan. Kualitas kelembagaan di PTAIN memang masih termasuk lembaga pendidikan tinggi Klas 3. Jika kita menggunakan ukuran kualitas kelembagaan itu dari rangking pendidikan tinggi di Indonesia, maka belum ada yang masuk ke dalam 50 besar perguruan tinggi unggul di Indonesia. Jika PTN sudah banyak yang memiliki rangking dunia, maka belum ada PTAIN yang mampu memasukinya. UI, UGM, ITB, IPB, Unair, Undip, UNS, UB, Unhas, dan sebagainya sudah memasuki World Class University (WCU). Sedangkan belum ada satupun PTAIN yang memasuki kawasan itu. Ukuran yang banyak dipakai adalah Time Higher Education Supplement (THES) dan juga Webometrics. Jika kita mengambil contoh UNS, maka rangking yang dibanggakan adalah peringkat Webometrics dan THES yang memang sudah diperolehnya. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan tentu harus sudah ada yang memiliki rangking di WCU sebagai bukti akan keberhasilan pengembangan pendidikan di Kementerian Agama.

(5)

kemudian memiliki akses agar dapat bekerja di sector yang relevan. Ada usulan tentang pengembangan soft skill melalui pemberian lembar kompetensi. Misalnya, memberikan keahlian di bidang bahasa, computer, dan keahlian lain yang memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat. Hingga hari ini, kita belum memiliki data tentang berapa lama masa tunggu alumni PTAIN untuk memasuki dunia kerja. Melalui data ini, maka kita akan tahu tentang arah dan kecenderungan pasar kerja terhadap alumni PTAIN.

3. Penguatan praktikum. Di banyak tempat, praktikum sering menjadi problema mendasar. Sudah berulangkali dilakukan demonstrasi oleh mahasiswa tentang kejelasan status uang praktikum. Memang tarikan praktikum didasarkan atas Peraturan Pemerintah . Sehingga kedudukan praktikum di dalam system pendidikan di PTAIN sangat kuat. Akan tetapi mahasiswa melakukan penolakan terhadap praktikum disebabkan oleh ketidakjelasan menu praktikum tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya pendoman praktikum yang komprehensip dan dapat diberikan kepada mahasiswa di semester pertama. Pedoman praktikum tersebut akan dijadikan sebagai standart pelayanan praktikum yang memadai bagi para mahasiswa.

Adapun solusi yang ditawarkan adala:

1. Perlunya berbagai aturan atau perundang-undangan yang dapat dijadikan sebagai back up penyelenggaraan pendidikan di kementerian agama. Kiranya diperlukan peraturan bersama antara Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional dalam penyelenggaraan pendidikan di kementerian agama.

2. Perlunya pemihakan Kementerian Agama. Di dalam hal ini Dirjen Pendidikan Islam harus melakukan pemihakan terhadap institusi pendidikan tinggi Islam. Semestinya, dirjen pendidikan Islam memiliki prioritas untuk pengembangan SDM, sarana dan prasarana dan juga kualitas akademik di PTAIN.

(6)

terdapat anggaran yang dialokasikan oleh Kemendiknas untuk pengembangan PTAIN dalam berbagai aspeknya. 4. Perlunya Inspektorat jenderal merumuskan pedoman di

dalam pemeriksaan keuangan bagi PTAIN, sehingga terdapat pedoman yang dijadikan pegangan bersama di dalam pengawasan dan pembinaan pengelolaan keuangan. 5. Perlunya keberpihakan PTAIN untuk merumuskan kebijakan

pengembangan dan memprioritaskan hal-hal mendasar sesuai dengan kebutuhan. Harus dirumuskan program prioritas yang menyangkut tiga hal mendasar sesuai dengan kebutuhan dasar, yaitu pengembangan kelembagaan, pengembangan SDM dan pengembangan sarana dan prasarana.

6. Perlunya PTAIN merumuskan system pembelajaran dan pendidikan dalam berbagai aspeknya, sehingga system pembelajaran dan pendidikan tersebut secara transparan dapat diketahui oleh semua stakeholders PTAIN.

7. PTAIN juga harus mengedepankan usaha agar dapat memasuki kawasan World Class University (WCU) misalnya melalui Webometrics, THES, dan sebagainya. 8. Harus ada pemetaan yang mendasar tentang kualitas

kelembagaan, dosen, alumni dan posisi PTAIN di tengah kompetisi antar PT di era yang akan datang.

Problematika lainnya adalah dimana telah bertahun-tahun kebijakan dan pendekatan pendidikan diarahkan hanya pada keunggulan intelektual akademik secara sempit dan linear sehingga kemampuan berpikir dan bekerja secara lateral dan kreatif tidak terasah dengan baik. Konsekuensinya lulusan pendidikan PTAI amat buruk dalam menampilkan diri sebagai calon karyawan yang mampu bekerja dalam tataran softskills memadai sebagaimana yang dibutuhkan dunia usaha dan industri.

(7)

dunia pendidikan, khususnya dalam persoalan metodologi pembelajaran. Pemberdayaan guru dan dosen dalam mengantarkan materi belajarnya yang dapat meningkatkan kualitas softskills pelajar sangat mendesak dibutuhkan, oleh karena itu kualitas softskills guru dan dosen adalah yang pertama dan utama untuk ditumbuhkembangkan terlebih dahulu sebelum mendapatkan lulusan yang siap kerja.

3. Catatan Penting Dinamika Perguruan Tinggi Agama Islam7

Perguruan Tinggi Agama Islam adalah perguruan tinggi di Indonesia yang pengelolaannya berada di bawah Departemen Agama. Secara teknis akademis, pembinaan Perguruan Tinggi Islam Negeri dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, sedangkan secara fungsional dilakukan oleh Departemen Agama. Sedangkan Output Perguruan Tinggi Agama Islam yang dimaksudkan disini adalah lulusan atau hasil keluaran yang dihasilkan dari Perguruan Tinggi Agama Islam tersebut. Upaya tokoh-tokoh Islam untuk memberdayakan umat Islam di Indonesia dalam jalur pendidikan juga diwujudkan dengan mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam sebagai sebuah lembaga lanjutan. Upaya ini disempurnakan secara berkesinambungan mulai dari awal hingga sekarang dengan berbagai terobosan.

Perguruan Tinggi Agama Islam mempunyai ciri khas yang yaitu terlihat jelas pada beban studi yang ditawarkan kepada mahasiswa dan produk yang dihasilkannya, Perguruan Tinggi Agama Islam secara konsisten berupaya menghasilkan produk yang memiliki berbagai kompetensi. Diantaranya kompetensi akademik yang berkaitan dengan metodelogi keilmuan, kompetensi professional yang menyangkut dengan kemampuan penerapan ilmu dan teknologi dalam realitas kehidupan, dan kompetensi intelektual yang berkaitan dengan kepekaan terhadap persoalan yang berkembang. Sasaran ini tentu saja sangat sesuai dengan tuntutan

7 Tulisan ini diambil dari Erlik Khoirun Nisak dengan judul, Analisis dan Problematika Output Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI)

dalam Kebijakan Pendidikan Nasional, dari

(8)

perkembangan zaman yang memotivasi penajaman intelektual. Dengan demikian, idealnya, output yang dihasilkan Perguruan Tinggi Agama Islam memiliki kualitas yang handal dan mampu bersaing ditengah masyarakat. Selain sebagai wahana yang berorentasi kepada peningkatan kualitas output yang merupakan kunci kemampuan daya saing yang tinggi, Perguruan Tinggi Agama Islam juga dibangun sebagai wahana untuk alih teknologi dan pengembangannya serta sebagai lembaga mitra dalam perencanaan dan pemecahan problematika umat.

Output yang dihasilkan Perguruan Tinggi Agama Islam diharapkan memiliki keunggulan dalam pengembangan keilmuan serta keluhuran moral atau akhlak mulia. Walaupun namanya Perguruan Tinggi Agama Islam namun dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak hanya mengajarkan pelajaran-pelajaran agama saja, tetapi juga mengajarkan pelajaran-pelajaran umum, hal ini supaya output yang dihasilkan tidak hanya berbudi luhur, berakhlak mulia, pandai dalam ilmu agama tetapi juga pandai dalam ilmu-ilmu lainnya, sehingga output yang dihasilkan dari Perguruan Tinggi Agama Islam ini kelak dapat bersaing dengan Perguruan Tinggi yang lainnya. Namun dalam kenyataannya, masih sangat banyak persoalan dalam Perguruan Tinggi Agama Islam terutama yang menyangkut masalah outputnya, antara lain dalam manajemennya, minat masyarakat yang masih kurang karena mereka menganggap Perguruan Tinggi Umum lebih maju.

(9)

dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata kehidupan bersama. c. Mampu bersikap dan berperilaku dalam membawakan diri berkarya di bidang keahliannya maupun dalam berkehidupan bersama di masyarakat. d. Mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian yang merupakan keahliannya.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 24 ayat (1) yang berbunyi: “Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik serta otonomi keilmuan”. Adapun kebebasan akademik merupakan salah satu segi yang mendasar dalam upaya pengembangan keilmuan. Kebebasan akademik memiliki dua sisi, yaitu hak untuk mengutarakan pendapat atau pandangan secara akademik dan kewajiban untuk menyampaikan hasil temuannya baik bagi kepentingan dunia ilmu maupun kesejahteraan umat manusia yang dapat menghasilkan lulusan atau output sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya. Selain itu, Lulusan atau output Perguruan Tinggi Agama Islam harus memiliki kompetensi-kompetensi tertentu.

(10)

menentu serta mengantisipasi pekerjaan dengan persyaratan kompetensi yang sifatnya kompetitif dan tidak mengenal batas-batas fisik wilayah, Negara dan pemerintahan.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 24 ayat (2) yang berbunyi: “Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat”. Hal ini dimaksudkan bahwa perguruan tinggi memiliki kebebasan untuk mengelola sendiri lembaganya dalam berbagai hal utamanya dalam pendidikannya yang merupakan kegiatan dalam upaya menghasilkan manusia terdidik. Selain itu juga dalam hal penelitian ilmiah yang merupakan kegiatan menelaah kaidah-kaidah dalam upaya untuk menemukan kebenaran atau menyelesaikan masalah dalam ilmu pengetahuan, teknologi, atau kesenian. Selanjutnya pada pengabdian kepada masyarakat yang merupakan kegiatan untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya memberikan sumbangan demi kemajuan masyarakat

(11)

membaca dan menulis (reading-writing society). Kendala selanjutnya berhubungan dengan dimensi sosial dan masyarakat. PTAIN belum memiliki daya tarik bagi masyarakat secara luas.

Masyarakat yang memilih PTAIN sebagai tempat kuliah masih terbatas pada kalangan masyarakat santri. Keadaan ini barang kali ada kaitannya dengan penilaian mereka yang salah tentang mata kuliah yang diajarkan di PTAIN. Kendala yang berikutnya adalah kendala psikologis. Masyarakat Indonesia secara psikologis belum bisa diajak maju, baik masyarakat yang berasal dari level pejabat, kalangan pendidikan, siswa atau mahasiswa maupun para orang tua. Kendala-kendala tersebut mempengaruhi lulusan atau output yang dihasilkan oleh Perguruan Tinggi Agama Islam sehingga sulit membaca kebutuhan masyarakat. Apabila selama ini perguruan tinggi tidak mampu melahirkan tenaga-tenaga terampil yang dibutuhkan dunia lapangan kerja, ini disebut kegagalan pendidikan tinggi. Jadi terlepas dari usaha manusia, bisa dikatakan bahwa pengangguran ini juga disebabkan oleh kurikulum lembaga pendidikan yang tidak tepat sasaran. Perguruan tinggi tidak bisa memberikan yang terbaik bagi nasib dan masa depan bangsa ke depan. Perguruan tinggi tidak sepenuhnya berdedikasi tinggi bagi pengentasan pengangguran yang membanjiri negeri ini dan justru ikut menyumbangkan persoalan di tengah sosial dengan segala konsekwensi buruknya. Bila ada pendapat yang mengatakan bahwa perguruan tinggi menjadi tulang punggung utama guna memperbaiki kehidupan bangsa, itu pun masih perlu dibahas kembali dan dicarikan kebenarannya dalam konteks apalah namanya. Jelas, ada yang salah dalam pengelolaan pendidikan tinggi di perguruan tinggi saat ini.

Sudah diakui oleh kalayak luas bahwa perguruan tinggi merupakan tempat untuk meningkatkan kualitas manusia, baik dari aspek jiwa atau ruh, intelektual, sosial dan profesionalitasnya. Amanah atau beban itu sebenarnya tidak mudah dipikul oleh Perguruan Tinggi Agama Islam, utamanya perguruan tinggi yang tidak didukung oleh finansial yang mencukupi. Akibatnya banyak lulusan atau output yang tidak sesuai dengan harapan pemerintah dan juga masyarakat yang biasanya disebut dengan Sarjana pengangguran.

(12)

kampus.okezone.com adalah sebagai berikut: Yogyakarta -Tingginya jumlah lulusan perguruan tinggi atau sarjana Strata 1 (S-1) yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan kerja yang memadai menyebabkan jumlah intelektual yang menganggur tinggi. Selain itu, persoalan terbatasnya informasi dan kualifikasi yang kurang memenuhi kompetensi juga menjadi pemicu utama mengapa penyerapan angkatan kerja, terutama jebolan dari Perguruan Tinggi sampai sekarang masih rendah. “Pengangguran akademik ini bukan semata-mata akibat jumlah lapangan pekerjaan yang kurang, tapi juga tidak lancarnya pertemuan antara pencari kerja dan penyedia kerja. Ini friksi yang menciptakan pengangguran di pasar tenaga kerja,” papar Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid saat membuka Job Fair Campus Hiring di Kampus Terpadu UII, Yogyakarta. Edy menuturkan, berdasarkan data terakhir, jumlah pengangguran yang bergelar sarjana mencapai 7,8 persen dari total angkatan kerja. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan pengangguran secara nasional yaitu 6,8 persen.

Sehingga melalui adanya kegiatan tersebut diharapkan dapat menjembatani para pencari kerja. Hal diatas kurang sesuai dengan kebijakan yang diberikan oleh pemerintah khususnya pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 Pasal 1 ayat (1) yang diharapkan dapat mengghasilkan lulusan atau output yang memiliki kualifikasi tertentu serta sesuai dengan tuntutan masyarakat. Ada yang tidak dan belum beres dalam mengelola pendidikan tinggi di perguruan tinggi.

(13)

perguruan tinggi tetap menjalankan pendidikan tingginya itu. Sangat jelas, antara keinginan para orang tua dan perguruan tinggi tidak bersatu dan dicoba satupadukan. Sejatinya dan secara ideal, perguruan tinggi itu harus mengerti dan memahami kebutuhan para konsumen pendidikan, namun hal tersebut dibiarkan begitu saja dan tidak mendapat ruang kepedulian. Ini sungguh memilukan. Perguruan tinggi mementingkan kepentingan dirinya sendiri sementara kepentingan para orang tua dan peserta didik sebagai konsumen ditelantarkan dengan begitu saja.

Sejumlah bukti perguruan tinggi tidak sepenuhnya berpihak pada kepentingan dan kebutuhan konsumen pendidikan, itu bisa dibaca dan diketahui di beberapa perguruan tinggi dengan program studi yang tidak dan kurang aplikatif. Ada beberapa program studi yang tidak layak dipertahankan, itu pun masih dipertahankan keberadaannya. Seolah bertujuan untuk melengkapi program studi lainnya supaya kelihatan banyak program studi yang diberlangsungkan dalam perguruan tinggi tersebut. Sementara ada beberapa program studi yang sangat diminati konsumen pendidikan, program studi tersebut tidak digarap secara serius. Ini sangat menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan tinggi selama ini tidak dikerjakan secara profesional. Oleh karenanya, ketidakmampuan perguruan tinggi membaca kebutuhan lapangan yang kongkrit pun menjadi sebuah persoalan baru yang cukup merumitkan keadaan. Ini sesungguhnya yang justru akan menambah ketidakjelasan arah pendidikan tinggi di perguruan tinggi. Sangat jelas, hal sedemikian memberikan satu stigma buruk terhadap pendidikan tinggi yang selama ini diberlangsungkan. Pendidikan tinggi hanya dikerjakan apa adanya, tanpa dikonsep secara jelas dan matang. Pendidikan tinggi adalah sebuah proses penyelenggaraan pendidikan yang tidak memiliki dasar pemikiran sangat matang dan aplikatif, akan dibawa kemana arah pendidikannya. Hal sedemikian sungguh sebuah potret pendidikan tinggi yang muram dan sudah kehilangan identitas dirinya sebagai pendidikan yang siap mencetak generasi bangsa, yang dipersiapkan untuk mengisi seluruh lini kehidupan bangsa guna menggapai bangsa besar, maju dan makmur dan berakhirnya persentase besar-besaran munculnya sarjana pengangguran

(14)

memberikan peluang untuk tetap eksisnya lembaga Pendidikan Tinggi Islam. b. Banyaknya lembaga pendidikan Islam tingkat dasar dan menengah yang menjadi raw input bagi Perguruan Tinggi Agama Islam, seperti pesantren, sekolah, dan madrasah. c.

(15)

Harapan masyarakat terutama umat Islam sangat besar terhadap pendidikan tinggi Islam. c. Semakin banyak lembaga pendidikan tinggi islam yang berkualitas sehingga digandrungi masyarakat. d. Etos belajar yang menyangkut kemampuan belajar serta berfikir secara kreatif dan kritis serta mengoptimalkan kegunaan kemampuan-kemampuan biologis dan psikologis. 4.

Ancaman (Threatment) a. Menghadapi era globalisasi yang menuntut perubahan paradigma untuk bisa bertahan hidup di era globalisasi. b. Masih banyak perguruan tinggi Islam yang amsih dalam proses pembinaan sehingga dikhawatirkan kalah bersaing di era persaingan sekarang. Semakin sulitnya mendapat lowongan kerja bagi lulusan pendidikan tinggi Islam terutama alumni ilmu-ilmu keislaman. c. Yang menjadi prioritas sekarang adalah, bagaimana pendidikan tinggi yang telah ada, mampu untuk menghasilkan sosok lulusan atau output yang kompeten sehingga benar-benar bisa mengurangi suatu pengangguran di negeri ini. Baik mempertimbangkan faktor-faktor internal maupun eksternal.

Problem Solving Pendidikan adalah bagian terpenting bagi suatu negara dalam rangka mencetak sumber daya manusia yang berkualitas untuk membawa kemajuan bangsa pada kancah dunia internasional. Melihat begitu besanya peran pendidikan, disini penulis mencoba untuk memberikan tawaran guna memecahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi bahwa dalam pencapaian tujuan program Pendidikan Islam ini dilakukan melalui sejumlah kegiatan strategis sebagai berikut : 1. Peningkatan Akses dan Mutu Pendidikan Tinggi Islam Lulusan atau output yang hendak dihasilkan adalah: a. Meningkatnya akses pendidikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). b. Meningkatnya mutu layanan pendidikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). c. Meningkatnya mutu dan daya saing lulusan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). d. Meningkatnya mutu tata kelola Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI).

(16)

dengan berbagai pihak, pengembangan Ma`had Aly pada Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), penataan program studi dan bidang keilmuan yang fleksibel memenuhi kebutuhan pembangunan, penguatan konsorsium atau perpustakaan ilmu-ilmu keislaman yang memperkuat pengembangan dan pengkajian ilmu-ilmu keislaman di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), serta peningkatan mutu tata kelola Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). 2. Penyediaan Subsidi Pendidikan Tinggi Islam Bermutu Lulusan atau output yang hendak dihasilkan adalah tersedia dan tersalurkannya beasiswa bagi mahasiwa miskin dan mahasiswa berprestasi termasuk di daerah bencana, terpencil dan tertinggal. 3. Peningkatan Mutu dan Kesejahteraan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Tinggi Islam Lulusan atau output yang hendak dihasilkan adalah: a. Meningkatnya profesionalisme dosen dan tenaga kependidikan pada Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). b. Meningkatnya kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan pada Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Lulusan atau output tersebut dapat dicapai melalui peningkatan kualifikasi pendidikan dosen dan tenaga kependidikan, penyediaan beasiswa dan bantuan belajar, penyediaan tunjangan fungsional, tunjangan profesi dan tunjangan lainnya bagi dosen.

4. Jurusan Syari’ah dan Keunggulan

STAIN Bukittinggi yang merupakan Pendidikan Tinggi Agama Islam Negeri yang ada di Bukittinggi. Dimana pembinaan akademik STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi diarahkan kepada pembangunan ilmu-ilmu agama Islam dan pemenuhan tuntutan masyarakat dan bangsa yang sedang membangun terutama di Sumatera Barat. Sistem pendidikan yang dianut adalah yang bersifat fungsional dan profesional dalam kehidupan masyarakat dan bangsa dan juga memenuhi efisien dan efektivitas dalam kerangka Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.8

Dengan berdirinya Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittingi, maka Fakultas Syariah sebagai asal STAIN Bukittinggi beralih status menjadi

(17)

Jurusan Syariah semenjak tahun 1997 itu, di samping ada Jurusan Tarbiyah yang izin operasionalnya didapatkan tahun 1998. Sebagai sebuah Jurusan, maka Jurusan-jurusan yang dulu berada di bawah Fakultas Syariah juga beralih status menjadi Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Ahwalus Syakhsiyyah, Prodi Muamalah, dan Prodi Jinayah Siyasah. Semua program studi tersebut telah tekareditasi B dari BAN Perguruan Tinggi dan punya izin program studi

Adapun yang menjadi visi jurusan Syari’ah adalah Unggul dan terkemuka dalam Pengembangan Ilmu Hukum Islam. Sedangkan misinya adalah Mengembangkan Pendidikan dan Pengajaran Hukum Islam yang berwawasan Humanisme dan Kebangsaan. Mengembangkan tradisi ijtihad dalam penggalian Hukum Islam untuk kepentingan Akademis dan Masyarakat. Meningkatkan Peran serta jurusan Syari’ah dalam pemberdayaan masyarakat melalui integrasi antara Hukum Islam dengan Hukum Positif untuk terwujudnya masyarakat yang sadar dan taat Hukum. Serta menjalin dan mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak dalam bidang hukum Islam.

Sedangkan tujuan dari jurusan syari’ah Menghasilkan sarjana di bidang Hukum Islam yang memiliki kompetensi akademik dan Profesional. Menghasilkan sarjana yang beriman, berakhlak mulia danmemiliki kecakapan sosial. Mengembangkan, mensosialisasikan dan menerapkan Hukum Islam untuk perbaikan kehidupan Masyarakat.9

Tentu saja sesuai dengan visi dan misi ini diharapkan akan terbentuknya mahasiswa yang berkualitas. Mudah-mudahan STAIN Bukittinggi sebagai lembaga yang selama ini dipercaya dengan alumninya yang banyak tersebar di berbagai bidang yang salah satunya adalah di Kemeterian Agama dan Peradilan Agama di Kota Bukittinggi. Banyak keunggulan yang selama ini dipunyai seperti keunggulan dalam memahami kitab kuning10 dengan baik. Makanya kalau dulu ada tes cakim dari Fak. Syari’ah atau jurusan syari’ah

9Visi dan misi serta tujuan Jurusan Syari’ah diambil dari Buku Kurikulum Jurusan Syari’ah yang disusun oleh jurusan Syari’ah tahun 2010 untuk penyempurnaan kurikulum di jurusan Syari’ah STAIN Bukittnggi.

(18)

Bukittinggi banyak yang gamang kalau sudah berhadapan dengan mahasiswa tersebut. Namun hal itu adalah nostalgia masa lalu. Sekarang tentu kemampuan mahasiswa jauh menurun dan begitu juga dengan kesempatan bekerja yang semakin sempit dan peluang di instansi lain juga terbuka. Walaupun diakui sampai saat ini untuk tes hakim dalam hal membaca kitab kuning STAIN Bukittinggi masih tetap unggul.

B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan dari penelitian ini adalah

”Bagaimana Respon Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Kota Bukittinggi Terhadap Alumni Jurusan Syari’ah STAIN Bukittinggi?

C. Pertanyaan Penelitian dan Batasan Masalah 1. Pertanyaan Penelitian

Dalam rangka untuk melihat Respon Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Kota Bukittinggi Terhadap Alumni Jurusan Syari’ah STAIN Bukittinggi dan sehubungan dengan luasnya ruang lingkup kajian yang hendak dibahas, maka penulis mengemukakan pertanyaan penelitian yang lebih mendasar yaitu :

1. Bagaimana tanggapan alumni jurusan Syari’ah di Kementerian Agama dan Pengadilan Agama di Kota Bukittinggi mengenai dunia kerja?

2. Bagaimana tanggapan Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Kota Bukittinggi terhadap Alumni Jurusan Syari’ah STAIN Bukittinggi?

3. Bagaimana tanggapan alumni jurusan Syari’ah yang bekerja di Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Kota Bukittinggi untuk peningkatan kualitas alumni?

2. Batasan Masalah Penelitian

Supaya penelitian ini fokus maka perlu dibuat batasan masalah sebagai berikut:

1. Respon dari alumni jurusan Syari’ah yang bekerja di Kementerian Agama dan Peradilan Agama di Kota Bukittinggi mengenai dunia kerja.

2. Respon dari Kementerian Agama dan Peradilan Agama di Kota Bukittinggi diambil dari pimpinan unit masing-masing terhadap alumni jurusan Syari;ah STAIN Bukittinggi.

(19)

Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Kota Bukittinggi untuk peningkatan kualitas alumni.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana respon Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Kota Bukittinggi Terhadap Alumni Jurusan Syari’ah STAIN Bukittinggi, sehingga akan ada masukan dari respon tersebut. Oleh karena itu penelitian ini sangat mempunyai arti dalam rangka perbaikan dan peningkatan kelembagaan STAIN Bukittinggi terutama pada jurusan syari’ah dan program studi yang ada. Sebagai sebuah penelitian maka penelitian ini bertujuan secara khusus untuk:

1. Mengetahui Respon dari alumni jurusan Syari’ah yang bekerja di Kementerian Agama dan Peradilan Agama di Kota Bukittinggi mengenai dunia kerja;

2. Mengetahui tanggapan Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Kota Bukittinggi terhadap Alumni Jurusan Syari’ah STAIN Bukittinggi;

3. Mengetahui tanggapan alumni jurusan Syari’ah yang bekerja di Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Kota Bukittinggi untuk peningkatan kualitas alumni.

2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan masukan bagi Jurusan Syari’ah dan STAIN Bukittinggi dalam pelaksanaan pendidikan pengajaran sehingga memberikan kegunaan sebagai berikut:

1. Secara ilmiah dapat memberikan pengembangan wawasan bagi pengembangan program studi di Jurusan Syari’ah. 2. Secara praktis dapat memberikan manfaat bagi

penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di Jurusan Syari’ah sekaligus memberikan perbaikan dalam pelaksanaannya.

3. Untuk menyikapi paradigma masyarakat terhadap semakin lemahnya kwalitas dan kwantitas PTAI.

(20)

E. Telaah Kepustakaan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sesuai dengan Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem perencanaan Pembangunan Nasional dan pasal 52 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam

(1) Dalam rangka pelaksanaan kebijakan di bidang keuangan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (4), Pemerintah Daerah diberikan kewenangan untuk melakukan

Kebijakan dari pemerintah setempat kurang mengakomodir petani KJA, karena dinilai masih belum berkontribusi pada petani ikan KJA, yaitu kebijakan mengenai kuantitas

Bagi instansi atau pemerintah terkait, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan instansi atau pemerintah

Berdasarkan Pasal 1 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun Dan Pendaftaran Tanah, menentukan bahwa Hak

23 Berdasarkan tugas KPPU yang terdapat dalam Pasal 35 huruf e UU Nomor 5 Tahun 1999, KPPU dapat memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan Pemerintah

Inspektorat Kota Palangka Raya mempunyai tugas pokok Sesuai dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 dan ketentuan Pasal 3

Instruksi Presiden melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi pasal 1 ayat 8 Pimpinan perguruan tinggi adalah Rektor untuk