BAB. I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Setiap manusia berhak untuk hidup. Namun kesempatan hidup secara baik tidaklah mudah. Seseorang harus berjuang untuk memperoleh kehidupan yang baik. Karena dalam kehidupan ini, setiap individu memiliki impian hidup yang mapan. Semua kebutuhan hidup tercukupi, baik kebutuhan hidup yang bersifat primer maupun sekunder. Untuk mencapai tujuan hidup tersebut, individu harus bekerja keras. Setiap individu akan memanfaatkan waktu secara optimal sehingga kadang- kadang tidak mengenal waktu, jarak, dan kesulitan yang dihadapainya.
Mereka sangat bersemangat dan berusaha keras untuk meraih hasil yang baik dan maksimal. Sehingga apa yang diingikan dapat tercapai. Seperti keinginan untuk mencapai posisi pemimpin dalam organisasi tempatnya bekerja. Setiap individu akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai posisi jabatan pemimpin tersebut. Berbagai usaha akan dilakukan seseorang untuk mendapatkan jabatan pemimpin.
Kepemimpinan menurut Kartini Kartono (1994:33) pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan organisasi. Pemimpin besar akan berusaha menanamkan rasa percaya diri pada para pendukung. Jika orang memiliki percaya diri tinggi, maka kita akan terkejut pada hasil luar biasa yang akan mereka raih (Sam Walton).
Pancasila sebagai filsafat juga memberikan kontribusi pada seorang pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari Kepemimpinan Pancasila adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha: Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya, menjadikan dirinya pola panutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya, Ing Madya Mangun Karsa: Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang -orang yang dibimbingnya dan Tut Wuri Handayani: pemimpin harus mampu mendorong orang - orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Dalam suatu organisasi tanggung jawab terbesar akan dipegang oleh pemimpin. Seperti pada birokrasi pemerintah, jabatan pemimpin disebut juga sebagai jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS). Adapun jabatan karier dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Jabatan Struktural,
yaitu jabatan yang secara tegas ada dalam struktur organisasi. Eselon dan jenjang pangkat jabatan struktural sesuai Peraturan Pemerintah (PP) no. 13 Tahun 2002: Perubahan atas PP no.100 tahun 2000 tentang Pengangkatan PNS dalam Jabatan Struktural. Kedudukan jabatan struktural bertingkat-tingkat dari tingkat yang terendah (eselon IV/b) hingga yang tertinggi (eselon I/a). Contoh jabatan struktural di PNS Pusat adalah: Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal, Kepala Biro, dan Staf Ahli. Sedangkan contoh jabatan struktural di PNS Daerah adalah:
sekretaris daerah, kepala dinas/badan/kantor, kepala bagian, kepala bidang, kepala seksi, camat, sekretaris camat, lurah, dan sekretaris lurah.
2. Jabatan Fungsional,
Merupakan jabatan teknis yang tidak tercantum dalam struktur organisasi, tetapi dari sudut pandang fungsinya sangat diperlukan dalam pelaksansaan tugas-tugas pokok organisasi, misalnya: auditor (Jabatan Fungsional Auditor atau JFA), guru, dosen, dokter, perawat, bidan, apoteker, peneliti, perencana, pranata komputer, statistisik, pranata laboratorium pendidikan, dan penguji kendaraan bermotor.Jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil terdiri atas jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan. Produk hukum yang mengatur pengangkatan dalam Jabatan Fungsional adalah PP no. 40 Tahun 2010:
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 1994 Tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil, PP No. 16 Tahun 1994 dan Keppres No. 87 tahun 1999.
Spesifikasi jabatan (job specification) menunjukkan siapa yang melakukan pekerjaan itu dan faktor-faktor manusia yang diisyaratkan (Handoko : 1996). Di dalam spesifikasi jabatan ditentukan kemampuan dan bakat dasar yang harus dimiliki untuk menjalankan pekerjaan. Pada umumnya spesifikasi jabatan memuat ringkasan pekerjaan yang jelas yang diikuti oleh kualifikasi definitive yang dibutuhkan dari calon yang memangku jabatan itu. Spesifikasi jabatan adalah persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh orang yang menduduki suatu jabatan, agar ia dapat melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik dan bertanggung jawab. Beberapa hal yang pada umumnya dimasukkan dalam spesifikasi jabatan adalah:
1. Persyaratan pendidikan, latihan, dan pengalaman kerja 2. Persyaratan pengetahuan dan keterampilan
3. Persyaratan fisik dan mental
4. Persyaratan umur dan jenis kelamin.
Fenomena persaingan menduduki posisi sebagai pemimpin dalam jabatan tertentu juga terjadi di lingkungan akademik. Universitas merupakan salah satu penyelenggara dilingkungan akademik tingkat tinggi. Dalam menyelenggarakan kegiatan akademik universitas, dibutuhkan suatu pengelola untuk menduduki jabatan.
Komponen penyelenggara universitas adalah para akademisi.
Terdiri dari mahasiswa, dosen dan tenaga pendidikan. Semua unsur tersebut bertugas sesuai dengan kapasitas masing – masing. Mahasiswa melaksanakan perkuliahan, tenaga pendidikan membantu administrasi dan dosen melaksakan Tridharma Perguruan Tinggi. Dosen merupakan bagian akademisi yang memiliki tingkat intelektual paling tinggi.
Sehingga sudah selayaknya, jabatan dilingkungan universitas akan ditempati oleh para akademisi. Sebagai para akademisi yang mempunyai kewajiban pokok melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan posisi jabatan pemimpin. Meskipun secara langsung para akademisi sudah mendapat jabatan fungsional, baik yang berprofesi sebagai dosen (tenaga pengajar) maupun sebagai tenaga pendidikan. Menduduki posisi jabatan pemimpin di lingkungan akademisi saat ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Karena posisi tersebut merupakan posisi eksekutif. Posisi dimana seseorang akan mendapat pujian, disegani, dihormati, memiliki kewenangan dan tambahan penghasilan.
Instruksi Presiden melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi pasal (1) ayat (8) Pimpinan perguruan tinggi adalah Rektor untuk Universitas/
Institut, Ketua untuk sekolah tinggi, dan Direktur untuk politeknik/akademi; ayat (9) Penyelenggara perguruan tinggi adalah Departemen, Departemen lain, atau pimpinan lembaga Pemerintah lain bagi perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah, atau badan penyelenggara perguruan tinggi swasta bagi perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat.Selanjutnya pada Pasal 50 ayat (1) Jurusan merupakan unit pelaksana akademik yang melaksanakan pendidikan akademik dan/atau profesional dan bila memenuhi syarat dapat melaksanakan pendidikan program pasca sarjana dalam sebagian atau satu cabang ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian tertentu, ayat (3) Jurusan terdiri atas (a) unsur pimpinan: Ketua dan Sekretaris jurusan; (b).unsur pelaksana akademik: para dosen, ayat (4) Jurusan dipimpin oleh Ketua yang dibantu oleh Sekretaris, ayat (5) Ketua jurusan bertanggung jawab kepada Dekan fakultas yang membawahinya dan ayat (6) Ketua dan Sekretaris jurusan diangkat untuk masa 4 (empat) tahun dan dapat diangkat kembali. Permendikbud no.33 tahun 2012:
Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua/Direktur pada Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Permendiknas no. 67 Tahun 2008 tentang pengangkatan pimpinan Perguruan Tinggi Negri (PTN); pasal 2: dosen di lingkungan kemendiknas dapat diberi tugas tambahan dengan cara diangkat sebagai Pimpinan Perguruan Tinggi atau Pimpinan Fakultas. PP no. 37 tahun 2009 pasal 18 ayat (1) s/d (6): PNS dosen yang sudah bertugas sebagai dosen paling sedikit 8 tahun dapat ditempatkan pada jabatan struktural di luar Perguruan Tinggi, dibebaskan sementara dari jabatan apabila ditugaskan secara
penuh di luar jabatan dosen dan semua tunjangan yang berkaitan dengan tugas sebagai dosen diberhentikan sementara. Kepmenkowasbangpan nomor. 38/KEP/MK.WASPAN/8/1999 pasal 26:dosen dibebaskan sementara dari tugas-tugas jabatannya apabila ditugaskan secara penuh di luar jabatan fungsional dosen
Secara vertikal pemegang jabatan tertinggi dalam struktur organisasi institusi universitas di pegang oleh Rektor; selanjutnya Wakil Rektor; Dekan, Ketua Departemen, Ketua Jurusan dan Ketua Program Studi. Mekanisme pengangkatan dan pemberhentian masa jabatan diatur dalam peraturan akademik (PERAK) yang telah ditetapkan sebelumnya oleh SENAT Universitas. Ketetapan yang diberlakukan, diantaranya mengenai pengangkatan dan pemberhentian pejabat di lingkungan universitas. Adapun proses penetapan PERAK dilakukan secara bertahap yaitu:
1. Rumusan pada tingkat masing–masing SENAT Fakultas 2. Penetapan pada tingkat SENAT Fakultas
2. Rumusan pada tingkat SENAT Universitas
3. Penetapan rumusan pada tingkat SENAT Universitas
Setiap pemimpin suatu jabatan berkewajiban melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin. Jabatan pimpinan di universitas satu periode jabatan dilaksanakan selama 4 tahun dan selama – lamanya hanya diperbolehkan menjabat 2 periode secara berturut-turut.
Selebihnya tidak diperkenankan mencalonkan kembali pada jabatan yang sama.
Peraturan akademik atau biasa disebut PERAK merupakan peraturan tertulis yang wajib dilaksanakan semua civitas akademis tanpa
terkecuali. Dari tingkat Rektor sampai dengan tingkat terkecil. Peraturan perekrutan jabatan pemimpin sampai dengan pelantikan, semua telah diatur dalam PERAK. Para akademisi yang berkeinginan menduduki posisi jabatan sebagai pemimpin harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. Sehingga terdapat akademisi yang kecewa karena tidak mampu atau sudah tidak bisa menduduki posisi sebagai pemimpin bukan karena tidak mampu dalam bidang intelektual namun lebih kearah administrasi. Seperti sudah menjabat 2 kali periode secara berturutan, golongan dan kepangkatan belum masuk dalam daftar yang disyaratkan dan ketentuan umur. Kondisi seperti ini jelas berlawanan dengan kondisi seseorang saat akanmenduduki jabatan dan dilantik, aura wajahnya cenderung merasa bahagia, terhormat, punya kharisma . Banyak teman, kerabat akan datang bersama mengucapkan doa – doa yang indah.
Ucapan selamat terus mengalir. Namun sebaliknya kondisi akan terbalik pada saat jabatan berakhir. Seseorang cenderung murung, tidak bergairah, mudah emosi, mengasingkan diri, tidak produktif lagi dan seperti ketakutan menghadapi hari penyerahan jabatan. Perasaan takut semua yang telah dimiliki selama menjabat akan hilang. Hari – hari kedepan dibayangkan akan suram. Tidak lagi mendapat pelayanan, pendapatan akan berkurang, tidak memiliki kewenangan dan dan tidak disegani lagi oleh staff dan teman – temanya lagi. Sehingga tanpa disadari oleh seseorang tersebut, secara psikis individu tersebut sudah tidak sehat. Biasanya kondisi psikis yang tidak sehat akan berpengaruh pada perubahan fisik secara negative. Seperti sering sakit, penglihatan semakin berkurang yang ditandai dengan bertambahnya ukuran kacamata, pendengaran berkurang dan seringkali berjalanpun harus memerlukan bantuan alat atau orang lain. Kondisi keterpurukan seseorang tersebut biasa di sebut Post Power Syndrom.
Faktor – faktor yang menyebabkan post power syndrom merupakan bagian dari krisis identitas individu yang disebabkan tidak siapnya individu atas terjadinya sebuah perubahan. Penulis mengambil referensi dari tiga peneliti sebelumnya, yang mengkaji penelitian yang memfokuskan pada persiapan pegawai menghadapi pensiun. Sedangkan dalam kajian makalah ini, penulis berupaya melakukan penelitian tingkat pemimpin dilingkungan institusi universitas yang berakhir masa jabatan dan masih berusia produktif. Selama masih berusia produktif, akademisi masih berkewajiban melaksanakan tugas pokok Tridarma Perguruan Tinggi yang terdiri dari (1) melaksanakan Pendidikan dan Pengajaran, (2) melaksanakan Penelitian dan Pengembangan dan (3) Pengabdian Masyarakat. Meskipun individu tersebut sudah tidak menjabat lagi sebagai pemimpin. Referensi penulis dari ke-3 artikel terangkum pada tabel 1 dibawah ini:
Tabel. 1 Daftar Referensi Variabel
(power full/power
less)
Definisi Operasionel
variabel Indikator Sumber
Sustainable Career/ Post
Power Syndrom
Masa pensiun merupakan kesempatan individu untuk lebih bertakwa kepada Tuhannya, lebih
dekat dengan
lingkunganya dan mendapatkan kebebasan untuk berkarya di tempat lain
Penerimaan diri
Penguasaan lingkungan Otonomi diri
RitmaTrisusanti dan Satiningsih
;2012
Sumber: Hasil analisis, 2017
Artikel (1) RitmaTrisusanti dan Satiningsih dalam Gambaran Psychologycal Well Being Pada Pria Pensiunan Pegawai Negeri Struktural Yang Menjadi Tulang Pugung Keluarga. Pensiunan PNS yang menjabat STRUKTURAL dan sebagai tulang punggung keluarga, tidak berdampak buruk bagi kondisi Psychological well – being pada dua responden. Mereka tetap mampu menyesuaikan diri dan menerima keadaan pasca pensiun dengan melakukan kegiatan – kegiatan yang menghasilkan finansial dan menjalankan hobi masing – masing; (2) Sudarilah ; Kiat–Kiat Dalam Menghadapi Pensiun. Masa pensiun cepat maupun lambat pasti akan tiba, namun pensiun tidak berarti berhenti berkarya, masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan yang bermanfaat bagi masyarakat. Memasuki masa pensiun tidak berarti bahwa sudah terlepas dari segala macam tantangan yang dapat mengusik ketentraman dan ketenangan; dan (3) Yuli Handayani; Post Power Syndrom Pada Pegawai Negeri Sipil Yang Mengalami Masa Pensiun. Post power syndrome disebabkan kehilangan jabatan yang berkaitan dengan kehilangan harga diri dan faktor hubungan eksklusif, kehilangan
Post power syndrome cenderung terjadi adanya perubahan pada fisik, emosi perilaku dan sakit susah tidur
Gejala Fisik Gejala Emosi Gejala perilaku Susah tidur
Sudarilah,2012
Post power syndrome cenderung terjadi adanya perubahan pada fisik, emosi dan perilaku
Gejala Fisik Gejala Emosi Gejala perilaku
Yuli
Handayani,2012
kewibawaan, kehilangan kontak sosial dengan kehilangan sumber penghasilan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dianalisis dalam kajian ini yaitu:(1) Bagiamana seorang pemimpin mempersiapkan diri menghadapi keadaan tidak lagi menjabat? (2) Apa saja yang dilakukan para pemimpin program studi setelah masa jabatan berakhir?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena apa saja yang dilakukan beberapa pemimpin di institusi universitas setelah berakhir masa jabatan sebagai pemimpin.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi manfaat teoritis dan praktis, yaitu:
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) dan secara khusus dapat memberikan kontribusi dari penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya yang meneliti post power syndrom.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan referensi seseorang yang mempunyai jabatan sebagai pemimpin, secara khusus pemimpin program studi di lingkungan institusi universitas. Mengingat
diluar jabatan sebagai pemimpin, individu tersebut juga memiliki jabatan fungsional melaksakana Tridarma Perguruan Tinggi.