• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah Reproduksi Pada Sapi Perah di Daerah Tingkat II Cirebon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Masalah Reproduksi Pada Sapi Perah di Daerah Tingkat II Cirebon"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

1. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

3. Maha Pemurah la§'i Maha Penyayang 4. Yang menguasai hari pernbalasan

5.

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada eョァォ。セ@ lah kami mohon pertolongan

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus

7.

(yai tu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikma t kepada mereka; bukan .( jalan ) mereka yang dimurkai dan bukan ( pula jalan ) mereka yang sesat

( AL FAA TIHAH )

(2)

!3 /

H/!,yflG

/0

12

MASALAH REPROOUKSI PAOA SAPI PERAH

01 OAERAH TINGKAT II CIREBON

oleh

WAS ITO

B. 18.1147

fakuセtas@ KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

RINGI\ASAN

WAS I 'I;

o.

Masalah Reproduksi pada Sapi Perah di Daerah Tingka t II Cirebon (Di bawah bimbingan I1QZES R. TOELIHERE).

Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui masalah reproduksi pada sapi perah serta sa!]l pai berapa jauh perhatian peternak terhadap masalah tersebut

dan penanganannya dalam upaya pengembangan dan peningka tan produksi sapi perah di Kabupaten Daerah Tingkat II Cirebon.

Sapi perah cukup penting artinya bagi peternak sehing-ga dijuluki "Raja Kaya" dan merupakan tisehing-ga sumber "Tambang Ema s" (pu tih-susu, merah-daging dan hijau-pupuk). "Tambang Emas Putih" telah dirasakan manfaatnya dalam mensejahterakan rna syara ka t.

Usaha peternakan sapi perah di Daerah Tingkat II Cire-bon umumnya bersifat peternakan rakyat dengan pemilikan ra-ta-ra ta 4 - 8 e.kor sapi. Beternak sapi perah merupakan ma-ta pencaharian ma-tambahan dengan cara beternak yang dilalrukan secara intensif.

Tujuan utama berternak untuk produksi susu. Tingkat kesuburan ternak 73,3% sapi beranak untuk pertama kali pada umur dua sampai tiga tahun. Pengembangan sapi perah di

da-erah tersebut meIaIui tiga jalur yai tu GKSIjKUD, PUSP s«rta Cra sh Pro gra m.

Dari keseluruhan responden 16,7% dari p eterna k sapi mi lilmya pernah mengalami keguguran pada awal masa kebunting-an dkebunting-an 11,1 % keguguran pada aldrLr- rnasa kebuntingan. Nasalah retensio secundinae pada sapi milik responden s・kセIセセセAセセ@

(4)

dibanding jumlah kelahiran (Tabel

7).

ea ra yang dj pa lla i pe terona k da1am mengawinkan sapinya 93,3% melalui III dengan i'r-elntVlell[;1. pelaksanaan IB sampai burr

ting ュ・セオイオ@ t r-esponden セSLGU@ % Be tel ah di IB dua kali; 30% se-telah di III tiga ka1j atau lebjh dnn 26,7% Betelah di IB sa-tu lenli. Jurnlah aleseptor dan dosis IB meningkat dari tahun lee tahun ('l'abel 9 atau 10).

Kasus-Imsus reproduksi dan kebidanan selama tahun 1985/ 1986 frekUlvensi terbanya k a dalah ka sus eLP /p eriodik (Ta bel 12). Tingkat pendidikan formal peternak 50% SD. Bidang ュセ@

najemen peternalean masih lrurang diperhatilean misalnya tata-laksana kandang, pembuangan kotoran sapi dan salurannya, falf tor makanan terutama pemanfaatan limbah pertanian yang meli!!! pah.

Permasalahan tersebut di atas tercermin dari penurunan populasi sapi perah selama tahun 1983 - 1985 (Tabel 6).

(5)

MASALAH REPRODUliSI P"DA SAPI PERAH

DI DAERAH TINGKA T II CIREEON

SKRIPSI

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Dokter Hewan pada セ。ォオャエ。ウ@ Kedokteran Hewan

Insti tut Pertanian Bogor

01 eh:

WASITO

Sarjana Kedokteran Hewan 1986

B 18.1147

FAKULTAS ImDOKTERAN HENAN

INSTITUT PERTANIAN EOGOR

(6)

Penulis dilahirkan di Dinjai pada tanggal 20 Maret 1961, sebagai anak ke enarn dari tujuh bersaudara, dari ayah bernarna Arnat Rebin dan Ibu bernctrna Viainem.

Pada tahun 1973 penulis lulus dari Sekolah Dasar Negeri Pungai Pasar VlIL(Binjai). Kemudian pada tahun 1975 ュ・ャ。ョェオセ@

kan ke Sekolah ャセ・ョ・ョァ。ィ@ Pertama Neg:eri I Binjai, dan lulus P.!!. da tahun 1977. Pada tahun 1978 penulis rnelanjutkan ke Seko

-lah セャ・ョ・ョァ。ィ@ Atas Negeri I Binjai, dan lulus pada tahun 1981.

Pada tahun 1981 penulis memasuki Insti tut Pertanian Bo

-gor melalui Proyek Perintis 11 dan pada tahun 1982 terdartar di Fakul tas l\edokter'an Hewan. Pada tanggal 13 Maret 1986 di-nyatakan lulus sebagai Sarjana g:edokteran Hewan.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatl(an ke hadirat Allah yang t.§.

lah memberi rahmat dan ridho-Nya sehingga penulis telah 、。セ@

pat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Dokter Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan

Ins ti tu t Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada

1. Bapak Prof. Dr. Mozes R. Toelihere, M.Sc. sebagai dosen

pembimbing dalam penyusunan skripsi ini.

2. Seluruh Staf Pengajar di lingkungan Fakul taa Kedokteran

Hewan Institut Pertanian Bogor yang telah membimbing

se-lama penulis menuntut ilmu.

3.

Seluruh petugas perpustakaan FKH セ@ IPB, Perpustakaan

Pu-sat IPB, Perpustakaan Fakultas Peternakan IPB.

4. Semua pihak yang telah membantu penulis selama menuntut

ilmu di F'KH - IP B •

. '; Kri tik dan Saran sangat penulis harapkan dari para

pem-baca. Semoga apa yang dituangkan dalam skripsi ini 「・イュ。ョヲセ@

at bagi mereka yang memerlukan.

Bogor, Desember 1986

Penulis

(8)

Halaman

ringkNasaャセ@ ... " .. III i

kQセセia@ pセZnganセ|ャ|r@ ... iv

DAFTAR Tl\bl!:L ... ..

vi

DA. F'rl\ R G.A ifJBli II ... ..

viii

I . PENDAHULUAN ••••••••••••••••••••••••••••••• 1

II.

TINJA UAN PUSTAKA

..

... ..

Sejarah Perkernbangan Sapi Perah di

Indonesia ... ,. ... ..

Sapi Perah dalarn Perspektif Sistem

Pernbangunan Peternakan di Indone

-3

3

S18 ... 4

Berbagai Faktor yang Mempengaruhi

Produksi Susu . . . • • . . • • • • 9

Pengaruh Lingkungan 'terha dap ; Per

-kembangan Produkti vi tas Sapi Perah

12

Faktor Genetik dalam Perkernbangan

Sapi Perah ... 17

Pentingnya Penanganan Penyakit

r・セ@

roduksi pade Sapi Perah

•••..•••••

18

III. METODlo: Pl!.:NGA1'lB1L.'IN DJiTA ••••••••••••••••••• 26

IV.

V.

VI.

HASIL

...

27

Keadaan Umum Kabupaten Daerah Tin£

ka t II Cirebon ... 27

Perkembangan Peternakan Ruminansia

Besar di Kabupaten Daerah Tingkat

II Oirebon . . . • • 28

Pembinaan Usaha Petani Ternak

••••

28

Pengamanan Ternak •...•••••.• 36

Produksi Peternakan

•..••..•..••••

36

Pl!.:MBA H.'ISA N

.

... ..

37

42

KE S 1MPU LA N DAN sNaヲオセn@ ... .o • .o . . . .o . . . ..

.D.AE'Tl\R PUSTHKA ... .o.o.o.o .. .o.o.o.o .... .o .. .o • .o...

44

LA /IlP1RII N

.. ..

..

..

.

..

..

..

..

.

..

..

.

..

.. .. .. ..

..

.. ..

..

..

..

..

.

.. .. .. .. .. .. ..

.

..

..

..

.

..

..

47

(9)

DAFTnI1 TABEL

Ralaman

Nomor 'I'eks

1. Perkembangan Populasi Sari Perah di Indonesia

selama 12 tahun ( 1974 - 1985 ) •••..•••....•• 4 2. I\esenjangan an tara Produksi dan Konsumsi

ter-hadap kebutuhan baku gizi ( 1984 - 1988 ).... 5 3. Daya Produksi Susu dan Produl{si Susu ra

ta-ra-ta Perlakta-ra-tasi Sapi FH di beberapa Perusahaan., 11

4.

Rata-rata Umur beranak pertama, Lama laktasi,

Masa kering, Calving interval pada beberapa

Peternak Sapi Perah... 15

5,

Penggunaan lahan di Kabupaten Cirebon tahun

1985...

27

6. Populasi Ternak Ruminansia Besar di Kabupaten Cirebon 1983 - 1985 •...•...••..•..••.••.••. 7. Dartar Perkembangan Sapi Perah (GKSI, PUSP,

Crash Program) di Kabupaten Cirebon 1985 ... 8. Hasil IB pada Sapi Perah di Kewedanan Ciledug

(Ka bupa ten Cirebon) 1985/1986 ••••••••••••••••

9.

Hasil Inseminasi Buatan pada Sapi di Kabupa.-.

ten Cirebon 1985/1986 ... ᄋセ@ .... ..

10. Hasil Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) pada Sapi di Kabupaten Cirebon 1985/1986 ••.•..•.•..•••• 11. Jumlah Kelahiran pada Sapi Perah di Kabupaten

Cirebon 1985/1986 ... ..

12. Diagnosis Kasus Reproduksi dan Kebidanan pada Sapi Perah di Kabupaten Cirebon 1985/1986 •••• 13. Produksi Komodi ti Daging dan Susu di Ka bupa

-ten Cirebon 1983 - 1985 ••.•.•..•.••••••.••.•.

Lampiran

1. Konsumsi daging, telur dan susu per kapi ta

28

29

32

32

35

per

ta

hun ( 1974 - 1985 )... 47 2. Populasi ternak di Indonesia ( 1974 - 1985 ). 48
(10)

Lampiran

3.

Beberapa negara oenghasil ternak sapi di

berbagai negara di dunia... .'49 4. Penyebaran ternak dana berbantuan...

50

5.

Pertirnbangan nilai bobot untuk resDonden

(p enj elasan) •• • • • • . • . • • . • • • • • . . . • . • • • • • • .51 6. Realisasi Inseminasi Buatan di daerah ta

hun

1980' - 1984

(dosis) ••.•••.••••••••• -: ·52

7.

Kelahiran dari Inseminasi Buatan menurut

Propinsi tahun

1980 - 1984...

.53

8. Kasus-kasus Penyakit Hewan Meuular

kecu-ali Uuggas di Daerah Tingkat

II

Cirebon

(11)

DA セGta@ It Gli MB11 It

Nemer Teks

1. l'eta penyebaran Sapi l)er'ah di beberapa Kecamat

an Daerah Tingkat II Kabupaten Cireben tahun

-Halaman

1984· ••••••••••••••••••••..• セ@ ••••.•..••••••••• ·

5-5-2. Peta Da era h Penye ba ran PenYiJ ki t Anthrax dan

Brucellosis di beberapa Kecmnatan Daerah

'fing-kat II Kabupaten Cirebel! tahun 1984 ••••••••••

56

(12)

Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, maka permi£

taan terhadap bahan pangan bermutu atau yang lebih baik

ni-lai gizinya juga akan meningka t. Hal ini nya ta akan

terli-ha t dengan meningka tnya p ermin taannya akan daging, telur,

dan susu. Kebutuhan protein pada manusia rata-rata 55 gram

per kapita per hari, yang terdiri dari 35 gram protein ョ。「セ@

.ti, 15 gram protein asal ikan, serta 5 gram protein hewani

asal ternak.

Henurut Dirjen Peternakan, tingkat konsumsi protein ィセ@

wan asal ternak pada ma syara ka t dewasa ini men capai

4,1

kg

per kapita per tahun. Pada akhir Pelita III yang lalu tinE;

kat konsumsi baru mencapai 2,31 gram per kapita per hari,

yang melipu ti 1,44 gram asal daging, telur 0,53 gram dan sy

su 0,34· gram (Anonimus, 1986e ). (lihat tabel lampiran 1).

Dengan meningka tnya permin taan bahan pangan bermu tu,

maka prospek pengembangan peternal{an sapi perah cukup cerah

malah perlu dikembangkan lagi. Seperti telah kita ketahui

dan disadari bersama, sapi perah sebagai "Raja Kaya" dan ウセ@

bagai tiga sumber "'fambang Emas" (putih-susu, merah-daging,

hijau-pupuk). "Tambang Emas Putih" telah dirasakan man1'aal

nya dalam .mensejahterakan masyarakat. Jadi kita harus

me-nyedialcan sendiri protein hewani tersebut dengan jalan

me-ningkatlcan populasi dan produksi hasil ternak yang telah

a-da. Hal tersebut dicanangkan dalam kebijaksanaan

'pemerin-tah pada Pelita IV untuk melaksanaJmn swasembada protein he

(13)

Bishop (1979) menyatakan bahHa usaha peternakan

meru-pakan proses produksi, sehingga rendahnya tingkat

pendapa-tan disebabkan oleh penggunaan faktor-faktor produksi tidak

efisien. Worrel (1978) berpendapat bahHa efisiensi usaha

sangat penting untu){ mencapai keuntungan maksimum dari suo!!.

tu kegia tan produksi.

Pada umumnya para peternak sapi perah di Indonesia co!!.

ra berternaknya masih berdasarkan atas pengalaman dari

o-rang tuanya dari generasi ke generasi. Cara berternak ter.

sebut tidak dapat dibiarkan terus apabila ki,ta menghendaki

kemajuan dalam bidang peternakan untuk mencapai efisiensi

dalam produksi susu. Perlu diketahui bahHa variasi

kemam-puan berproduksi susu untuk seekor sapi 30% dipengaruhi 0

-1 eh sifa t genetis dan 70% 01 eh keadaan lingkungan (makanan,

ta talal{sana, iklim, p enyaki t dan lain-lain) (Sudono, 1984).

Mengingat prospek pengembangan pete:makan sapi perah

yang cUkup baik dalam rangka peningkatan taraf hidup,

ke-cerda san dan kesejahteraan masyarakat maka patutlah kalau

rna salah sapi p erah p erlu mendapa t per!;latian. Tulisan ini

mengetengahkan masalah reproduksi pada sapi perah di

dae-rah tingkat II Cirebon dan usaha penanganannya untuk

peng-embangan dan peningka tan produksi terna k sapi perah.

(14)

Sejarah Perkembangan Sari Perah di Indonesia

Peternakan sopi perah di Indonesia telah dimulai sejak

abad ke-19 dengan impor sapi-sapi perah bangsa Jersey,

Ayr-shire serta Hilking Shorthon dar-i Australia. Kemudian pada

permulaan abad l,e-20 didatangkan sapi perah jenis Fries HoI

land (FH) dari negeri Belanda. Pada awalnya petemakan

sa-pi perah diusahakan 01 eh penduduk non pribumi un tuk

memenu-hi kebutuhan orang-orang l:lelanda. Baru pada tahun 1925

di-perkiralran berdiri perusahoan sapi perah pribumi yang ー・イエセ@

rna.

Pada tahun 1911 populasi sapi perah di Jawa dan Madura

tercatat 6.468 elwr, tahun 1930 sekitar 13.238 ekoli' dan

21-552 ekor pada tahun 1940. Pada tahun 1959 diselingi dengan

impor sapi perah bangsa !led Danish dari Denmark, tetapi

ti-dak sesuai dengan lingkungan di Indonesia. ,Peranakannya

ma-sih terdapat di Pulau Madura. Dari daerah yang sama pada

tahun 1962 diimpor sapi-sapi FH. Sapi tersebut pada tahun

1965 diimpor lagi dari negeri Belanda. Pada tahun 1979 dan

1980 dida tangkan sapi FH dan Ilawara Shorthon yang

jumlah-nya ribuan ekor (Sudono, 1984). ( lihat Tabel Lampiran 3 ).

Selama Peli ta IV untuk mencapai sasaran produksi susu

akan didatangkan sapi perah sebanyak 50.800 ekor impor dan

26.000 ekor dari dalam negeri (Anonimus, 1986'e).

Adapun perl{embangan populasi sapi perah dari tahun 19

(15)

Ta bel 1. Perkembangan populasi sapi p'erah di

Indone-sia 8elama 12 tahun ( 1974 - 1985 )

Kenai kan ra ta rata 8elama Pelita I adalah 7,82%

セG。ィオョ@ Jumlah dalam s eri bu ekor 'rahun Jumlah seri bu

1974 86 1979

1975 90 1980

1976 87 1981

1977 91 1982

1978 93 1983

Kenaikan rata-rata selama Pelita II adalah 2,03%

a)

1984 173

b)

1985

dalam ekor

94

103

113

140

162

186

Kenaikan rata-rata selama Pelita III adalah 11,9996

Sumber: Buku Statistik Peternakan tahun 1986

Ket: a) angka diperbaiki b) angka sementara

Sapi Perah D3.1am Per8pektif Sistem Pembangunan Peternakan

di Indonesia

Dengan p erki raan p ertambahan p en duduk Indonesia 296 p e£

tahun dan peningkatan pendapatan per kapita 4-59& serta ela.§.

tisi tas permintaan terhadap peningkatan pendapatan untul{ 、セ@

ging dan susu sebesar 1,3 dan 1,5 maka permintaan terhadap

komoditi tersebut diperkiralcan 7,6% dan 8,4% per tahun.

Bila laju perkembangan produksi komodi ti tersebut tetap

sa-ja seperti 10 tahun terakhir, maka akan terdapat kesenjang,..

(16)

an antara produksi dan·konsumsi terhadap kebutuhan baku gi

zi ( Tabel 2 ).

Ta bel 2. Kes enj angan an tara produksi dan konsumsi

terhadap kebutuhan baku gizi (1984 - 1988)

Perin ci an 1984 1985 1986 1987

])a ging (000 ton)

Konsumsi ef'ektif'(a) 767,3 825,6 888,3 955,8

Kebutuhan baku gizi 1042,6 1067,3 1092,0 1118,5

( b)

Produksi (c)

Kesenjangan(c-a)

Kesenjangan (c-b)

Susu (000 tonl.

677,5 707,7 739,4 773,0

-89,8 -117,9 -148,9 -182,8

-365,1 -359,6 -352,6 -345,0

Konsumsi ef'ektif'(a) 825,5 880,3 938,6 1001,0

Kebutuhan baku gizi

(b)

Produksi (c)

Kesenj angan (c-a)

Kesenjangan(c-b)

481,2 492,6

98,9107,5

504,0

117,6

516,0

128,7

-727,2 -772,8 -821,0 -872,3

-382,9 -385,4 -386.4 -387,3

1988 1028,5 1144,0 808,2 -220,3 -335,8 1067" 4 528,0 140,8 -926,6 -387,2

Sumber: Di t. Bina Program, Dit. Jen. Peternakan,1982

Dari angka-angka dalam tabel tersebut didapatkan perbedaan

yang cukup besar antara permintaan nyata dengan kemampuan

produksi susu dalam negeri dipenuhi dengan susu impor dan

besarnya kurang lebih 80% dari seluruh permintaan (

Anoni-mus, 1982a)

Peka tanggap pemerintah dimanif'estasikan.dengan

akse-lerasi injeksi impor sapi perah guna menggalakkan produksi

(17)

6

susu lokal ke a rah volume yang I ebih mendeka ti kes eimbang

an dan hal ini berlangsung melalui tiga jalur yai tu PUSP,

Koperasi dan Banpres. Pada Ilepelita IV impor ditambah

me-lalui jalur P.erusahaan In ti Hakya t (PIIl) Persusuan. Namun

dalam penyaluran produksi susu, ketergantungan akan jasa

pabrik pengolahan susu belum terpeeahkan seeara seimbang

A tmadilaga , 1983 ).

Dari segi po tensi pengembangan ( f'aktor sosial-ekonomi

menyangkut segi pendidikan, l{esehatan dan jumlah penduduk)

mempunyai effek potensiatif. Dari segi kebijaksanaan

Pe-merintah yang tertuang dalam IlEPELITA, proses pembangunan

petemakan seeara garis besar di tempuh melalui masa rehabi.

litasi, konsolidasi, pengembangan, diversif'ikasi spesialis

dan semua i tu berti tik tolak dari penciptaan iklim terlak",

sanya azas 'P-dnea Usaha '['emak' yang meliputi temak bibit,

tepat makan, tepat manajemen, tepat pengendalian penyaltit,

dan tepat pemasaran( Atmadilaga, 1983).

Menurut Triwibowo (1986.) panea usaha diartikan panea

terampil yang berarti terampil atau mampu memilih bibit

unggul, terampil memilih atau menyediakan pakan yang bergi.

zi, terampil memelihara terna l{ dengan baik, terampil un tuk

meneegah penyaki t ternak dan terampil memasarkan hasil.

Dengan lahimya Direktora t Bina Haaha Petani Ternak dan

Pengolahan Hasil Petemakan di tambah adanya direktorat

ba-ru ialah Direktorat Penyuluhan Petemakan, maka istilah

panea . (lima) masih kurang lengkap. Istilah yang lebih

(18)

7

usaha yang belul1l disebU't ialah pasca. panen dan manaj em en';

pembentul{an koperasi. Pasca panen berarti penanganan hasil

peternakan yang mudah busuk.

Kedudukan Direktorat Jenderal Peternakan sebagai pela]f

sana kebijaksanaan Pemerintah berfungsi sebagai koordinator

dan pencipta perubahan, pengendali, pembina dan lembaga

pe-layananj sedang lembaga yang terkai t meHakili unsur pendi

'-dikan, penelitian, himpunan proresi, organisasi peternak,

dan asosiasi usaha. Kebijakan dalam diversj.fikasi usaha 、セ@

pat berupa instrumen Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri,

Penanaman Modal aウゥョァHpセセI@ atau Penanaman Modal Dalam n・ァセ@

ri(PMDN). Dalam meningkatkan usaha ternak tradisional ke

usaha ternak majujkomersial perlu didukung oleh subsektor

lain. Sebagai contoh dalam rangka kegiatan agro-hutani, sl:!.

dah mulai digalakkan penanaman rumput gajah, perkebunan te£

lantar yang tidak dilanjutkan dapat ditranformasikan

menja-di pusat produk rumput gajah;hijauan dan limbah pertanian

bergizi dari lahan pertanian serat dukungan hijauan (

Atma-dilaga, 1983 ).

Usaha Sapi Perah malalui Hadah koperasi yang dimulai

sejak tahun 1978 dengan kordinator Bapak Menteri Muda

Urus-an Koperasi ( Anonimus, 1982 a ). Menurut ketua umum GKSIj

koperasi primer yang benar-benar aktif ,:tahun 1985., ada 173 s!1.

dang tahun 1983 ada 183 koperasi serta pada tahun 1984 ada

178 koperasi. Disamping jumlah koperasi mengalami ー・ョオイオセ@

an, diimbangi jumlah peternak anggota koperasi yang menu

run. Fada tahun 1985 tercatat 59.524 orang, sedang pada

(19)

aldbat pemindahan sapi bagi koperasi yang lemah, disamping

terdapat peternak yang gagal (Anonimus, 1986d ).

Eerlandaskan manfaat ganda, Pemerintah berusaha ュ・ョケセ@

diakan ban tuan ternak kepa da p etani yang dip erol eh dari d.§.

na A PBN, Banpres, Crash Program, dan ban tuan luar negeri

seperti ADE, IFliD, IEHD, N'rASP, SESTADP ( Anonimus, 1986b ).

Dalam rangka pengembangan sapi perah, akan dilaksanakan 「・セ@

bagai inaeam pola yalmi pola mandiri,' PIH Persusuan, dengan

jaminan pihak ketiga (Anonimus, 1986e ).' (lampiran 4).

Fada 25 Oktober 1986, Presiden Republik Indonesia

mem-berikan restu dan petunjuk ten tang PIR Persusuan (bentuk

pembinaan) melalui sistim kerja sama tertutup yang saling

menguntungkan antara Inti (perusahaan) dan Plasma (petani

peternak yang tergabung dalam KUD). Bertindak sebagai Inti

adalah PT. Nandi Amerta Agung dengan fasilitas penanaman m.Q.

dal asing, sedang permodalan dari inti meliputi Gabungan Ko

perasi Susu Indonesia(GKSI) 20%, Land 0 Lakes(LOL) 2196, Co2,

perative fussiness Internasional(CEI)

4%

dan PT. Mantrust

55%., Usaha budidaya ternak tetap dilakukan oleh petani dan

KUD susu diberi fungsi pembinaan anggota serta pengawasan

hubungan Inti - Plasma ( Anonimus, 1986

a).

Masalah PIR Persusuan di Jawa Tengah melibatkan semua

potensi pembangunan yang ada. Fada tanggal

17

Maret 1986

dikeluarkan Petunjuk Pelaksana PIR Persusuan dan disetujui

oleh Hapat Tim Kordinasi Persusuan Nasional yang

selanjut-nya 12 Mei 1986 Menteri Pertanian melalui SK no. 280;KPTS/

TN. 320/86 menetapkan Tata. Cara Pelaksanaan Kebijaksanaan

(20)

'l'anggal 2 Juni 1986 Nenteri Pertanian mencabut kembali SK no. 280!KP'fSjrN. 320,/86 dan dengan memperhatikan petunju!{

Presiden. kepda Nen teri Kordina tor bidang EKUIN dan Pengawa§. an Pembangunan maka keluar SK no. 322;KPTSl'fN. 320;86 ( Ana nimus, 1986f).

Guna mendapatkan sukses dalam usaha peternakan sapi P.!1. rah harus dapat menggabungkan kemampuan tatalaksana yang ba ik dengan menentukan lokasi peternakan yang baik, besarnya peternakan, sapi yang berproduksi tinggi, pemakaian

perala-tan yang tepa t, perala-tanah yang subur un tuk perala-tanaman hijauan dan pemasaran yang baik (Sudono, 1984).

Berbagai Faktor Yang Membengaruhi Produksi Susu

Secara garis besar peternakan di Indonesia dibagi men-jadi peternakan daerah padat penduduk (Jawa, Madura dan Ba-'li) dan petemakan daerah jarang penduduk (luar Ja"la). Hal

ini mempunyai implikasi pengaruh terhadap cara pemeliharaan ternak yang dapa t bersifa t in tensif a tau eks tensif (A tmadi-laga, 1983).

(21)

Secara garis besar ada dua pembagian sapi perah yaitu bangsa sapi perah yang besar seperti FH dan bangsa sapi ーセ@ rah l{ecil seperti Jersey yang lrurang begi tu dikenal oleh p eternak Indonesia, Sapi p erah bangsa besar dapa t mengha-silkan produksi susu lebjh banyak bila dibandingkan bangsa kecil, tetapi butir lemak susunya lebih.keciJ., padahal

bu-tir-butir lemak ada hubungannya dengan kerusakan susu (Gu-nawan,1986.),

Un tuk pengembangan wilayah ternak perah dengan sapi FH tidak terdapa t hamba tan walaupun di da taran rendah. Per'soalannya banya makanan yang cukup kuantitas dan kuali-tas serta tatalaksana yang baik dan menghasillmn produksi susu tinggi bila dibandingkan dengan sapi-sapi perah lain-nya, baik di daerah iklim sedang maupun di daerah tropis

(Sudono, 1983). Disamping itu sapi FH dapat digunakan se-bagai penghasil daging yang baik dengan cara digemukkan dan menghasilkan pertambahan bobot badan rata-rata 0,90 kg per ekor per hari (Horan, 1978),

Beberapa peneliti di daerah tropis menunjukkan bahwa sapi Brown Swiss memiliki p enurunan f'ertili tas dan produk-si susu lebih rendah dari sapi FH (Sudono, 1983). Dalam tahun 1977 produksi susu diduga baru memenuhi 15% dari ke-butuhan domestik (Anonimus, 1978), Untuk memperkecil imb.§. ngan antara permintaan dan produksi oleh Pemerintah ditem-puh dua cara yaitu program j.nseminasi buatan' (IB) dan im-pOl' sapi betina (Sudono, 1983),

Pada umumnya daya produksi susu sapi perah di

Indone-sia

mas1.h rendl'll"l d:ibl!lnc1iDrr, OU]1i ]1">1;'llh eli daerah il{lim
(22)

dang. Dengan program IB yani'. dilalmkan sekar'ang produksi susu s api p erah dapa t di tingka tkan walaupun tidak tinggi

( Soemarmo, 1980; Sitorus dan Subandryo, 1979 ). Peningkal an susu yang rendah tersebut disebabkan program IB yang ti-dak,'diikuti dengan pencatatan produksi susu, seleksi dan P.!i. nyingkiran (Tabel 3).

'l'abel

3.

Daya Produksi Susu dan Produksi Susu r.ata-rata P'erlaktasi Sapi FH di b'eberapa Perusa-haan

Tempa t Daya produksi susu Sumber data rata-rata per satu

masa laktasi (kg)

Salatiga 2535 Tossin, 1978

Cirebon 2848 Purwanto, 1979

Pujon 2339 Widodo §.1 aI, 1980

Lembang I 3495 Mekir, 1982

Lembang I I 3033 l1ekir, 1982

Rawa Sen eng 3365 Mekir, 1982

Ba turaden 2558 Mekir, 1982

Dari tabel ter.sebut tampak bahwa proauksi susu sapi FH di dataran rendah (Cirebon) dapat lebih tinggi dari pa-da di pa-dataran tinggi (Baturaden, Salatiga). Keadaan ini membuktikan 「。ィセL。@ tidak ada hamba tan untuk memelihara sapi

FH di daerah panas ( Sudono, 1983 ).

(23)

kemampu-an produksi susu dalam negeri ( Anonimus, 1986 c

r.

Ke be.!:

hasilan tersebut karena dilaksanakannya kebijaksanaan

Peme-rintah me.lalui impor sapi perah yang diikuti peningkatan p!!.

layanan telmis kepada peternak: bimbingan dan penyuluhan di

sertai penyediaan fasili tas; lcebijaksanaan pemasaran susu,

melalui pembelian susu oleh KUD dengan impor bahan baku

su-su oleh Industri Pengolahan Susu-su.

Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Perkembangan

Produkti-vitas Sari Perah

Peningkatan produksi ternak sapi perah memerlukan pe -:

ningkatan pakan yang cukup, terutama penyediaan hijauan yang

murah. !iasil intensifikasi daerah padat penduduk terhadap

tanaman pangan tidak saja menghasilkan pangan lebih banyak

tetapi menghasilkan limbah pertanian yang juga melimpah( LeE.

dosukoyo, 1983 ). Limbah pertanian merupakan bahan ligno

-selulosa yang banyak dihasilkan tetapi belum digunakan sec.§.

ra efisien, dalam sistem pakan digolongkan sebagai pakan non

konvensional. Limbah pertanian yang penting di Indonesia all

ta ra lain j erami padi, jagung, sorgum, ka cang tanah, ka cang

kedele; pucuk tebu; pucuk ketela rambat atau ketela pohon.

Gangguan nutrisi mempunyai pengaruh besar terhadap

rep-roduksi sapi perah. 'l'ingkat enersi dalam makanan, kerja,

laktasi dan faktor lingkUngan lain seperti iklim atau cuaca

sangat ·mempengaruhi tingkat kesuburan (Anonimus, 1978 ).

Kondisi sapi yang jelek tidak mendapat makanan yang culrup un

tuk enersi menyebabkan terganggunya siklus berahi ( A chmad,

(24)

Sapi yang mengalami balans enersi negatif akan menga-lami kegagalan berahi dan ovulasi (Arthur, 1979). Bebera-pa mineral yang penting dalam fungsi reproduksi adalah co-baIt, mangan, ternbaga, fosfor. Defisiensi mineral menyeba.!2 kan kegagalan berahi dan berahi yang tidak teratur ( Hafez, 1969 ).

Faktor makanan dengan tingkat enersi tidak menentu se-belum dan sesudah beranak memberikan pengaruh reproduksi nya ta (A chmad, 1983.). pengaruh tersebut dapat dibagi merr

jadi empat kelompok:

a,_ Tingkat enersi yang tinggi sebelum dan sesudah beranak berpengaruh lebih baik terhadap interval antar kelahiran

b. Tingkat enersi yang tinggi sebelum beranak dan rendah sesudah beranak menunjukkan tingkat konsepsi yang kurang , memuaskan

c. Tingkat enersi yang rendah sebelurn beranak dan tinggi sesudah beranak menyebabkan tertunda berahi pertama

d. Tingkat enersi yang rendah sebelum dan sesudah beranak beraki ba t rendahnya tingka t konsepsi dan panjangnya in-terval antar kelahiran

Program kesehatan pada peternakan sapi perah hendaknya dijalankan secara teratur, terutama di daerah-daerah yang ウセ@ ring terja:qgld t, p eI).yaki t 'menular. misal:. rna sti tis, tuberkulQ

sis, brucellosis, anthraks, apthae epizootica, cacar sapi, ringHorm, anaplasmosis dan piroplasmosis serta p enyaki t ber sifa t tidak menular seperti mill{ fever, ketosis, dan timpani

(25)

-14 kan bebas, keI'acunan, zat-zat penghambat, defisiensi atau kelebihan mineral dan vi tamin seperti penyaki t metabolik ーセ@

dOl sapi bunting, melahirkan dan laktasi, milk fever atau grass tett;ll'ly ( Reksohadiprodjo, 1984 ).

Penyaki エセー・ョケ。ォゥ@ t sapi perah dapat menimbulkan kemun-duran produksi susu di perusahaan. Penyakit-penyakit ters.§. but antar" lain penyaki t yang menyebabkan kematian pedet s.§. perti penyakit saluran pencernaan, gangguan makanan, penga-ruh lingkungan dan pengapenga-ruh prenatal; mastitis; penyakit respirasi dan penyakit reproduksi ( Soesanto, Arab dan Su -'tjipto, 1983 ). Infeksi saluran pencernaan berupa enteritis

dan septicemia paling sering disebabkan oleh セN@ coli dan p.§. da pedet banyak menimbulkan kerugian ( Ward et aI, 1974 'd!::!, lam Soesanto et al., 1983 ). Faktor musim dan metereologik sangat penting dalam kehidupan pedet ( Martin et a1., 1975). Udara yang berpengaruh negatif pada pedet terutama pada ming gu pertama umur pedet.

(26)

Problema dalam "Tatalaksana. Peternakan Sapi Perah

Tatalaksana adalah cara-c"ra pemeliharaan ternak setiap harinya. Faktorfaktor yang perlu diperhatilmn dalam tata -laksana guna mencapai efisiensi produksi susu adalah umur be£ ana k p ertama, lama la ktasi, ma sa kering, efisiensi reproduksi

("calving interval", 'service per conception', calving perce!2 tage", dan "service periodll

) , peremajaan dan culling serta ーセ@

makaian tenaga ker j a ( Sudono, 1984 )' Tiibel 4 ).

Tabel

4.

Rata-rata Umur Beranak Pertama, セ。ュ。@ Laktasi, l1asa Kering, Calving Interval pada beberapa Peternakan Sapi Perah

Tempat

Pangal engan Lembang Bogor Baturaden Rawa Beneng Cirebon

Sapi betina dewasa

( ekor )

29 203 44 75 110 34

Umur ber-anak per-tama (bln) 42 33 36 28

33

Lama· masa laktasi

(bUlan)

11

,6

12,46

8,4

10,3

11 ,6

13.41 Calving interval (bulan) 15,5 15,4 15,0 13,9 14,3

15.66

Sebenarnya sapi FH dan keturunannya dapat beranak ー・イエセ@

rna p" da umur 2 sampai 2,5 tahun, a sal ta talal{sana dan pembe-rian makanan pada anak sapi/sapi dara c,ukup baik. Lama lak-t&si tergantung persistensi, masa kering dipengaruhi ganggu-an reproduksi.

[image:26.605.77.516.278.502.2]
(27)

16

su

9%

dari laktasi yang sedang berjalan dan penurunan

3,7%

pada laktasi berilmtnya. Bila diperpanjang sampai 15 bulan

produlcsi naile masing-masing 3,5% ( Johansen, 1961 dalam

Su-dono, 1984 ). l-lenurut Asdell (1955) bila ahglca SIC lebih

1,85 perlu perbailcan dalam reprodulcsi. Hasil service

peri-od terbaik 2 bulan. Sebailmya peremajaan per tahun 20-25%

dari jumlah sapi betina dewasa, sedang untuk efisiensi tena

ga kerja sebailmya satu orang menangani 6 sampai 7 ekor

sa-pi 、・セャ。ウ。N@ Henurut Yapp dan Nevans (1955) dalam Sudono;

dengan sistim pemeliharaan "cut and carry" dalam pemberian

rumput, seorang tenaga kerja dapat melayani 10 sampai 12

ekor sapi dewasa.

'l.'a talaksana mencakup pembersihan kandang dari ko toran

ternak. Dengan membuang kotoran sapi sebagai pupuk kandang

maka fertilitas dan kondisi fisik tanah dapat dipertahankan

disamping i tu pupuk kandang sapi perah Iebih baik nilainya

dari pada pupuk kandang sapi po tong karena sapi perah ba.

-nyak menggunakan biji-bijian. Jadi walaupun belum seperti

tambang emas putih-susu, manfaat sebagai tambang ernas hijau

pupuk telah dirasakan juga dan turut mernberi andil tidak ウセ@

ja dalam mensejahterakan masyarakat tetapi turut juga

meme-Iihara kelestarian Iingkungan ( Sudono, 1984 ).

Kotoran ternak dapat menggantikan sebagian bahan penYJ:!

sun ransum 5 sampai 30 persen, tergantung jenis kotoran dan

ternak yang mengkonsumsikannya Nuller, 1982 dalam Serniadi

1986). Hasil analisis limbah gas bio kotoran sapi di

-Eropah menunjukkan kandungan pro tein ka sar 21,9%; 1 ernak 1,3

(28)

1982 ) dan Soemi tro menyebutkan bahVla nilai kandungan pro-tein kasarnya

9.4 - 11.25%.(

dalam Semiadi.

1986

).

F'aktor Genetik dalam Perleembangan SaRi Perah

Untuk memperbailei mutu genetile temale, guna meningkat-kan produkti vi tas harus melalui usaha pemuliaan. Pemuliaan temak ialah cara-ca'ra seleksi dan sistem perkaViinan untuk memperoleh ternak yang mulia dengan sifat-sifat keturunan produksi tinggi. daya adaptasi yang baik terhadap iklim dan

tahan terhadap beberapa penyakit (Sudono, 1984). Sistem perkaViinan yang umum digunalcan pada sapi perah ialah:

a. Ka,lin silang (cross breeding) ialah perkaViinan antara dua hewan yang berlainan bangsa, untuk membentuk bangsa ternak yang baru.

b. Grading-up ia1ah perlcawinan antara pejantan mumi dan· betina lokal, misalnya sapi Grati.

c. KaViin alam (inbreeding) ialah perlcawinan antar keluarga d. Kawin luar (out breeding)

Dasar-dasar seleksi yang umum dipakai ialah seleksi berdasarkan tipe seperti bentuk badan, kontes/lomba, s11si-lah/pedigree dan atas uji produi{si. Pemuliaan dan faktor linglcungan atau interalcsi an tara keduanya merupakan faktor penentu produktivitas ternalc.

Peningkatan mutu genetik sapi perah dapat diketahui 、セ@ ngan menduga ripitabilitas, heritabilitas dan korelasi ァ・ョセ@

tik sifat-sifat ーイッ、オォウセ@ ( Van Vlech dan Henderson. 1961 ). Fol ey セ@ a1.( .1973 ) melaporlcan bahVla ripi ta bili tas produk-8i susu 0.5. Suhartati et al.

(29)

pi tabU i. tas dan heri tabili tas produksi susu sapi perah di Yayusan :3antu l'iaria sebesaX' PLセX@ ;:': 0,16 dan 0,32 ± 0,38. Hipitabi.l itas dipengaI'uhi oleh jumlah catatan yang diguna-kan dan pengapuh 1ingkungan yang bersi fa t semen tapa. Lin, dan llllaire (1978) dulam 0umudllita セ@ a1. (1983) melapor -kan bullwa heritubilitus pI'oduksi susu 0,25 - 0,45 dan dipe-ngaruhi jum1 ah con toh yang digunakan dalam p erhi tungan.

Menurut Pirchener (1969) seleksi'terhadap 1 (8atu) 8i-fat berpengaruh tcrhudap si8i-fat-si8i-fat lain, apabiilia terdapat korelasi genetik yang besar antara sifat-sifat tersebut. Hoque dun Hodges (1980) dalam :3ullludhita セ@ a1. (1983) mela-porlcun bahwa korelusi genetik antara produksi susu laktasi pertama dengan lumanya berprodul(si pada sapi perah 0,34 -0,94.

lnseminasi Buatan (18) salah satu kebijaksanaan Peme -rintah dalam rangka menambuh populasi sapi perah. IB ー・イエセ@ ma kali diperkenalkan di Indonesia pada permulaan tahun-50 an oleh Prof. G. Seit dari DenmDrk di F'akultas Kedokteran Hewan dan Lembaga Pene1itian Peternakan Bogor.

Manf'aat dari 1B meliputi mempertinggi penggunaan peja!}. tan unggul, sanga t menghema t biaya, mempertinggi po tensi sf. leksi ternak, mencegah penul<lran penyakit, memperpendek cal ving interval, rnenurunkan repeat breeding dan perbaikan re-cording ( '£oelihere, 1981b ).

Pentingnyd Penanganan penyakit Heproduksi pada Sapi Perah 'foelihere (1983) meny8talwn secara normal dalam suatu ,kelompol{ sapi pereh yang dlkelola dengen baik menunjukkan

(30)

angka Jeonsepsi (CR) 65-75% pada perkawinan/inseminasi per-tama dengan jumlah inseminasi per konsepsi (SIC) sebanyak 1,3 - 1,7 dan in terval kelahiran a tau j angka waktu an tara satu kelahiran dengan ke1ahiran berilrutnya sekitar 12-13 b]l lan. Pada akhir tahun pengelolaan, 90% sapi betina di da-lam ke10mpoknya telah bunting atau beranak; jadi seharusnya hanya 10% yang infertil dan 2,5% steril yang harus di sing-kirkan dari kelompok tema k betina.

Achmad (1983) mengutip pernyataan Arthur (1978) bahwa problema infertili tas pada sapi di tandai interval beranak lebih dari 400 hari, interval antara beranak dengan terjadi nya konsepsi ber'iJrut lebih 120 hari, tingkat konsepsi yang kurang dari 50% serta service per konsepsi berikutnya lebih besar dari 2. Infertilitas karena komplikasi setelah 「・イセ@

anal, sering dj.sebablmn oleh retensi plasenta atau metritis Achmad, 1983 ).

Sebagian besar kegagalan reproduksi disebabkan oleh gangguan fungsional ( Nara et al., 1972). Hal ini diseba£ kan 01 eh ketidaks eimbangan hormonal, kausa nu trisional dan kausa kongeni tal /heredi tel'. Masalah ini dapa t didiagno sis secara praktis di lapangan melalui eksplorasi rektal ( Toe-lihere, 1983 ). Kegagalan reproduksi adalah hasil interak-si berbagai kausa komplek dan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama manajemen dan pemberian rna kanan yang buruk dan lcurangnya peranan dokter hewan dalam menangan i berbagai p enyaki t repro dulcsi ( To elihere, 1983 ).

(31)

20 tamin atau mineral ( Toelihere, 1981 ). Menurut Djojosuda,£ mo dan Partodihardjo (1978) bahwa kegagalan reproduksi da -pat diklasif'ikasikan menjadi 3 pokok yaitu f'aktor pengelol.§. an, f'aktor in tern he\oJan, dan f'a\{tor lain yang bersif'at aksi den (kecela\wan). F'aktoy· intern hevian dapat dibeda-bedakan menjadi bebel'apa segi yai tu kelainan bentuk anatomi, kelai!2 an fungsi endokrin dan segi penyaki t.

Toelihere(1981a) menyatakan bahwa gangguan hormonal d.§. pat meliputi ova ria yang sistik, kegagalan berahi atau ane.§.

trus, kawin berulang karena kegagalan ovulasi, kegagalan p embuahan dan kema tian embrional. Anestrus dapa t di bagi dua yaitu anestrus dengan corpus luteum (CL) yang normal ウセ@

perti kegagalan berahi karena kebuntingan, corpus luteum persisten (eLP), subestru atau silent heat, berahi yang ti-dak diamati; dan anestrus tanpa CL seperti subestrus, anes-trus karena kelemahan atau penurunan berat badan, dei'isien-si mskanan, penyakit-penyakit kronik dan melemahkan, senili tas, iklim, ovarium yang sisti!c dan kondisi lain seperti hi pofungsi.ovarium, hipoplasia ovari !congenital, i'reemartin,

tumor ovarium dan gangguan pada hipoi'isis.

Anestrus yang berhubungan dengan patologi uterus dan CL yang i'ungsional atau kebuntingan, mungkin disebabkan kegagalan pelepassn bahan luteolitik dari endometrium ( Gin -ther, 1968 dalam Toelihere, 1981a). Apabila CL menetap sa!!! pai beberapu bulan, CL tersebut akan terletak sentral pada ovarium dan mskin sulit didiagnosis. 11enurut Kidder et

&.

(32)

Gangwar et

E.,l.

(1965) menunjukkan bahwa pada sapi-sapi dara yang ditempatkan dalam lnmdang bersuhu 24-350 C lama periode estrus hanya 11 jam dibanding dengan 20 jam pada sg hu 17 - 18°C. Dibawah stress panas insidenanestrus menca-pai 30% dibandingkan dengan hanya 7 - 8% bila tanpa stress panas.

Ovarium yang sisti!c merupakan !causa utama infertilitas pada sapi perah, dan hampir 25% sapi yang ngadat dalam

rep-roduksi mengandung ovari.um yimg sistik ( Toelihere, 1981a).

Sebab dasar ova ria yang sistik adalah kegagalan hipofisis dalam melepaskan jurnlah LH yang cukup untuk menyebabkan ovg lasi dan pengembangan corptis luteum.

Sebab-sebab kawin berulang dapat dibagi dalam dua ke-lompolc yai tu kegagalan fertili tas dan kematian embrio dini

( Casida, 1961 dalarn 1'oelihere, 1981a). Menurut Roberts, (1971) bahwa kawin berulang akibat patologik dan manajeri-al seperti lcelainan anatomik smanajeri-aluran reprodulcsi yang bersi fat kongenital/genetik, kelainan ova atau sperma atau em -brio muda yang bersifat kongenital, proses perbarahan meng lar atau traumatik, gangguan hormonal dan defisiensi nutri sional.

Kejadian kawin berulang terendah pada sapi dara(5,2%). dan meningkat rnenjadi 13,3% pada sapi tua yang berumur 9 tahun atau lebih ( Hewett, 1968 dalam Toelihere,1981a ). Kema tian embrio dini pada sapi yang kawin berulang men ca-pai 28,5% (Old, 1969 dalam 'l'oelihere, 1981 a ) .

(33)

22 embrional dini terjadi segera sesudah 16 hari masa kebuntinE

an ( Hawk et al., 1955 dalam Toelihere, 1981a).

Faktor-faktor herediter penyebab sterilitas atau

infer-tilitas dapat dibagi atas bentuk-bentuk yang menghasilkan d.§,

fek anatomik terhadap organ reproduksi dan bentuk yang ku

-rang jelas dan sulit ditentukan. Defek herediter biasanya'

disebabl{an oleh pengaruh satu gene autosomal tunggal dengan

penetrasi yang kurang lengkap dan aplasia segmentalis ductus

Mulleri atau 'white heifer disease' adalah suatu defek

gene-tik yang berhubungan dengan warna putih terutama terdapat ーセ@

da sapi Shorthon dan keturunannya ( Toelihere, 1981a).

Kelakuan berahi pada sapi mungkin bersifat genetik,

mi-salnya berahi yang 1 emah a tau berahi tenang. Inbreeding

atau silang dalam umumnya menyebabkan penurunan kesuburan,t.§,

tapi derajat infertilitas tergontung pada pejantan yang 、ゥーセ@

kai, sedang cross breeding dapat mempertinggi kesuburan pada

ternak ( To elihere, 1981a).

Sebah-sebab patologik infertilitas atau sterilitas

aki-bat trauma/infeksi atau keduanya yang umumnya diperoleh pada

waktu atau sesudah beranak. Kadang-kadang ditemukan tumor

pada organ reproduksi yang dapat menyebabkan infertilitas.

Keadaan patologi tersebut dapot berupa patologi ovarium (tg

mor, ovaritis, siste parovarial); patologi saluran telur (

salpingitis, hydrosalpinx, pyosalpinx); patologi uterus (en

dometritis, pyometra, perimetritis, parametritis, mukometra

atau hydrometra, abses pada dinding uterus, dan metritis ('l

sklerotik atau tumor utepus); patologi cervix (cervicitis,

(34)

tumor); dan patologi vestibulum/vulva (vestibulitis, vulvi-tis, sista vestibular dan tumor vulva) ( Toelihere, 1981 a ).

Kegagalan reproduksi akibat penyakit dapat disebabkan oleh kuman, virus, protozooa dan berbagai infeksi jasad re-nik campuran. Kegagalan reprodul(si yang sangat nyata akibat

kausa kuman ialah abortus(kelahiran fetus sebelum waktunya) ( Djojosudarmo dan partidihardjo, 1978). Kuman-kuman ter-sebut merupakRn kausa penyakit brucellosis, Vibriosis,

lep-tospirosis, listerosis dan sebagainya.

Brucellosis yang disebabkan oleh Brucella abortus Bang penularannya melalui rute alat pencernaan dan masuk pereda:.'", ran darah dan bermanifestasi di alat reproduksi. Penularan dapa t juga melalui koi tus, tetapi j arang terj adio Vi brio -sis disebabkan oleh Vibrio fetus veneralis yang disebarkan malalui jalan perkawinan atau inseminasi buatan (IB) menye-babkan abortus pada kebuntingan dua sampai enam bulan.

Leptospirosis akibat

1..

pomona dan

1..

canicola dengan simptom warna urine yang merah hi tam sampai seperti kecap. Listerosis yang disebabkan Listeria monocytogenes dapat me-nyebabkan abortus pada segala umur kebuntingan tetapi biasa pada ke bun tingan 4 bulan kea ta s. Tuberkulosi s dengan tube.!: kel dapat tumbuh dalam mukosa uterus, cervix, vagina, tuba fallopi atau ovarium. Escherichia coli, Corynebacterium pyogenes, Strep toco ccus 32" dan Staphylococcus sp, bukanlah penyebab infertili tas yang bersifat enzootik.
(35)

babkan karena fibris tinggi dan setelah hewan normal alat

reproduksinya baik kembali( Djojosudarmo et al., 1978 ).

EAE ( Enzootic Abortion

Of

EVie ) dan EEA ( Enzootic Bovine

Abortion) menyebabkan abortus secara enzootik. Bedanya

EAE menyerang kal'lanan domba sedang EEA menyerang kawanan ウセ@

pi. Gejala penyakit berupa plasentitis terlihat adanya 「・セ@

cak-bercak yang jika diperiksa secara mikroskopis akan 、ゥエセ@

mukan inclusion bodies, terutama pada EEA. Virus IPV (

In-fectious Pustular Vul vovagini tis ) a tau IBR ( InIn-fectious Bo

vin e Rhino tra che tis ) menyerang semua sapi baik jantan a tau

betina tua dan muda.

Epivag adalah nama singkatan dari Specific Bovine Vene

セ@ Epididymi tis and Vagini tis artinya penyaki t ini

berma,'-nifestasi dalam epididymis dan vagina, di tularkan melaui h)d

bungan kelamin. Peradangan yang terjadi menjalar dari vagi

na ke cervix, uterus, tuba Fallopi dan 25% dari sapi dalam

kawanan yang terserang pada umumnya menjadi steril secara

permanen ( Djojosudarmo et セNL@ 1978). GVD ( Granular

Ve-nereal Disease) tidak menyebabkan sterili tas tetapi dapat

membuka jalan bagi infeksi jasad renik lain untuk

menyebab-kan radang di vagina dan penis. Virus Diarrheae sangat

me-nular dan mudah menyebabkan sakit dengan morbidity rate

tinggi (sampai 100%) tapi angka kematian rendah (mortality

rate 4-8%) serta yang bunting mudah mengalami keguguran (

Djojosudarmo et al., 1978). Diagnosis yang sangat

berde-ka tan ialah Hinderpest( dalam hal mortality dan morbidi ty

rate) dan Coriza Gangrenosa Bovis.

(36)

Kegagalan reproduksi yang disebabkan oleh protozooa; teru tama tri chomonas dan toxoplasma ( Djojosudarmo et セNL@

1978 ). Trichomoniasis disebablwn oleh Trichomonas fetus, protozooa dengan bentulmya mirip ikan sepat menyebabkan abortus puda lcebuntingan dibawah Umur 4 bulan sedangkan pada kebuntingan 4 bulan atau lebih jarang terjadi. Bila kebuntingan telah mencapai 6 bulan l{eatas anak selamat sam pai lahir normal. Penyebarannya melalui perkawinan secara alami. Pada sapi betina 'l'richomonas fetus di temukan dalam vagina, cervix dan isi uterus sedang pada heHan jantan pada mukosa penis, preputium dan terbanyak di daerah fornix. Toxoplasmosis akibat 'I'oxoplasms gondii dapat ditemukan pada dinding uterus dan plasenta setelah sapi mengabortuskan ka£ dungan.

Sekali-kal i didapa tkan keja dian abortus yang tidak di-sebabkan oleh sesuatu penyakit, namun dari plasenta yang menderita placentitis dapat dilihat dan diasingkan sejenis

jamur. Mucormycosis adalah penyakit jamur yang disebabkan Rhizopus, Absidis dan l'1ucor menyebabkan abortus pada kebu£ tingan 3-7 bulan ( Djojosudarmo

rt

a1., 1978 ). Aspergil-losis disebabkan oleh Aspergillus fumigatus ( genus parasit Aspergillus) menyerang hampir semua jenis hewan dan

manu-sia, sering ditemukan pada kejadian abortus pada kuda dan sapi.

(37)

III. METODE PENGAMBILAN DATA

I:a ta untuk penulisan skripsi ini dikumpl11kan dari Ka bu

paten I:aerah Tingkat II Cirebon selama masa praktek daerah

pada bulan Juli 1986. I:ata tersebut terdiri dari data

pri-m er dan da ta skun der.

I:ata primer diperoleh dari hasil wawancara langsung

dengan peternak sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan yang エセ@

lah disusun dalam kuesioner. Pertanyaanpertanyaan terse

-but berguna untuk mendapatkan keterangan mengenai identitas

peternak, tehnik beternak, kawin alam, inseminasi bUatan ーセ@

da ternak dan anamnese terhadap gangguan reproduksi ternak.

Wawancara dilakukan pada peternak yang dipilih secara

acak dan tersebar di tiga kecamatan yaitu Waled, Babakan.

-Ciledug ( I:aerah Kewedanan -Ciledug ). Pertimbangan yang

eli

pergunakan adalah seluruh responden petani peternak diberi

bobot nilai 100% a tau mempunyai bobot nilai lebih 100%., '.

Bobot nilai 100% dipergunakan apabila setiap responden

hanya mempunyai satu pilihan dari banyak pilihan yang

dibe-rikan untuk satu kri terium, lebih darE 10096,dipergunakan u!l

tuk setiap responden yang diperbolehkan memilih lebih dari

satu pilihan atau keseluruhan pilihan dari banyaknya

pilih-an ypilih-ang diberikpilih-an untuk satu kriterium. ( Tabel lampiral)

5-4

dan.B: )".

Sumber data skunder adalah Lap9ran Tahunan Dinas p・エ・セ@

nakan Kabupaten Cirebon tahun 1983 sampai tahun 1985 berupa

keadaan umum, perkembangan peternakan, pembinaan usaha ー・セ@

(38)

Keadaan Umum ])l.erah 'I'ingkat II Cirebon

raerah Tingkat II Cirebon merupakan salah satu

kabupa-ten di Propinsi Jawa Barat bagian utara yang

_ 7°

terl etak pada

Lin tang Sel

a-108°40' - 108°48' Bujur Timur

2

tan. Luas wilayah 948,39 km terdiri dari 6 セiゥャ。ケ。ィ@ pemban

tu bupati serat 21 kecamatan dan 2 wilayah perwakilan

keca-matan dan secara keseluruhan meliputi 204 desa.

Letak ketinggian dari permukaan laut antara 0 - 103 m,

mempunyai iklim tropis dengan suhu rata-rata antara 28

sam-pai 33g C dan curah hujan

!

1952 mm per tahun.

Jumlah penduduk di Ka bupa ten Cirebon 1. 408.337 jiwa

(1985). Hata pencaharian penduduk beragam mencakup

pengusa-ha, petani, nelayan tumooak, peternak, dan pegawai negeri;

atau sektor lain seperti industri/kerajinan.

Penggunaan lahan yang ada di Kabupaten Cirebon dapat

diliha t dalam Ta bel S.

Ta bel 5. Penggunaan lahan di Ka bupa ten Ci rebon tahun

1985

Luas Luas

Peman faa tan lahan ( ha ) Pemanfaatan lahan (ha )

Pekarangan 14.041 Tambak 1.263

Tegal ;Kebun 5.738,058 Penggembalaan 661,7

La dang 1.404,411 KolamjErnpang 1.517,19

Rutan Rakyat;Kayu-kayu 637,618 Hutan Negara 2.232

Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dalam Dinas Peter

(39)

l'erkembangan Peternakan RLlminansia Besar di Kabupaten D'lTI

II Cirebon

Populasi ternak tahun 1985 dapat dikatakan mengalami

p eningka tan, meskipun ada ternak yang populasinya menurun

seperti sapi perah (Tabel 6).

Ta bel 6. Populasi 'l'ernak Ruminansia Besar di Ka

bupa-ten Cirebon tahun 1983 - 1985

Jenis ternak Jumlah dalam ekor ( tahun)

1983 1984 1985

Kuda 429 450 448

sapi perah

Sapi potong

1.458

224

1.180 1 .116

112 149

Kerbau 15.694 17.767 18.430

Sumber: Dinas Peternakan Kabupaten Cirebon, 1985.

Pembinaan Us aha Petani Ternak

Ternak nagara yang ada di Kabupaten Cirebon adalah:

(1). Ternal{ bantuan Presiden (Banpres)

Ternak bantuan Presiden ada tiga jenis yai tu sapi

Pe-ranakan Ongole(PO) disebarkan tahun 1977 berjumlah 50

ekor, sapi Drougt Master disebarkan tahun 1978 berju!!!.

lah 40 ekor dan sapi Brahman disebarkan tahun 1978 ウセ@

ban yak 12 ekor.

(2). Ternak pengembangan usaha sapi perah (PUSP)

Ternak ini merupakan salah satu proyek pemerintah

da-lam proyek persusuan. Pelaksanaan proyek PUSP di

Ka-bupaten Cirebon sejak 1981/1982 terdiri 3tahapan deng

(40)

ta-.\1.un. 1983/1984 a!;la 527 ekor dan 1985 ada 658 e1&:or •.

(3). Ternak Gabunean Koperasi Susu Indonesia (GKSI)

Temak ini merupakan sapi perah kredi t yang berasal

dari koperasi yang disalurkan melalui GKSI. Sapi tel:

sebut disebarkan pertama kali tahun 1981 (25 April),

jumlah keseluruhannya sampai droping ketiga ada 350

ekor. pada akhir tahun 1983/84 ada 294 dengan jumlah

keturunan 489 ekor.

(4). Ternak" Crash Program"

l1erupakanternak sapi dengan tipe dwiguna yai tu sapi

Sahiwal Cross. Jumlah droping pertama kali ada 130

ekor, pada akhir tahun 1983/1984 ada 123 ekor dengan

keturunan sebanyak 46 ekor tetapi 28 ekor disebarkan

lagi dan pada tahun 1985 ada 120 ekor.

Perkembangan sapi-sapi gabungan koperasi susu

Indone-sia, pengembangan usaha sapi perah(PUSP) dan sapi Crash

Program tertera pada Tabel

7

dan Gambar Lampiran 1.

Tabel

"f..

Daf'tar perkembangan sapi perah (GKSI, PUSP,

Crash Program) di Kabupaten Cirebon tahun 1985

Perkembangan

Program

Jumlah petemak

(orang)

Jumlah Droping

(ekor)

lLahir Mati

(ekor) (ekor)

GKSI

PUSP

Crash Program

178

97

130

350

580

130

178

362

109

Sumber: Dinas Petemakan Kabupaten Cireblim, 1985.

190

284

[image:40.605.51.512.30.709.2]
(41)

Dari )l:eseluruhan respondenjpetani ternak sapi perah

(100%), pekerjaan utama mereka yaitu 90% bertani; 26,7%

berdagang; pegawai negeri 26,7% dan pamong desa 6,7%. pセ@

ternakan sapi perah tersebut ada yang dimulai tahun 1979

(6,7%), tahun 1982 (50%), tahun 1983 (23,3%), tahun 1984

( 6,7 %), dan tahun 1985 (1 6,7

%) •

Tujuan berternak sapi perah ,'pada

ttmumnya

untuk diam.,

bil susunya (100%), untuk ternak potong (43,3%) dan 6,7%

untuk diambil pupuknya. Status pemilikan ternak 93,3%

me-セオー。ォ。ョ@ milik s endiri dan 6,7% adalah ti tipan. Kemauan.,

berternak sapi perah 83,3% atas inisiatif sendiri; 10% kar.

na ikut-ikutan dan 6,7% karena mendapat himbauan orang.'

Bentuk kandang yang dibangun peternak 60% bersifat ウセ@

mi permanen; 26,7% bersifat sederhana dan 13,3% bersifat

kandang permanen.

Tingkat pendidikan formal peternak 50% SD; 109t\'-SLTP;

16,7% SLA;'6,7%'pernah m'endudtlki Jenjang pergtiruiin, tingg:j.

sedangkan .16,7%'. tidak'perpah bersekolah., ..

])3.lam ma salah tehnik berternak 93,3% cara berternak

dengan sistim dikandangkan terus menerus (intensif) dan ィセ@

nya 6,7% dikandangkan sore sampai pagi, siang dilepas

(se-mi intensif). Dari sejumlah ternak sapi perah pada waktu

p enca cahan memiliki variasi 8,3% j an tan dan 11,4% betina (

pedet lebih kecil atau sarna dengan 1 tahun); 15,2% betina

muda (1 - 3 tahun); 55,396 betina dewasa dan 9.8% jantan d&,

wasa (3 - 8 tahun). Mengenai tingkat kesuburan ternak:

(42)

33,3% pada umur 3-4 tahun dan 6,7% pada umur 4-5 tahun.

Dari semua responden menga talcan sapi betina dewasa yang

beranak satu kali dalam satu sampai dua tahun (23,3%);

per-nah beranalc tetapi sudah dua tahun tidak beranak lagi(26,7%)

dan 6,7% betina dewasa belum pernah beranak sama selcali.

Adapun pengenalan tanda-tanda berahi pada sapi perah

oleh peternak yang sis tim pemeliharaannya secara intensif

umumnya sudah paham yaitu 100% menyatakan sapinya terlihat

gelisah, menguaknguak; keluar lendir jernih, lengket, te

-セョァ@ tembus dari alat kelamin. Sedangkan tanda berahi yang

bersifat kurang nafsu makan, produksi susu turun dan alat

kelamin bagian luar (vulva) bengkak, merah dan hangat ,ada

93,3% dari responden. Pada peternakan yang semi intensif

(6,7%) mengenali tanda-tanda berahi pada sapinya dengan

ge-jala menaiki hewan lain atau diam saja bi:l!a dinaiki baik

oleh jantan atau betina.

Sebanyak 56,7% responden menyatakan ballwa lama

tanda-tanda berahi sapi p erah berlangsung 12 jam; 33, 3%menya tal'.'"

kan berlangsung 20 jam dan 10% berpendapat selama 26 jam (

pengamatan dimulai pada pagi hari).

Cara yang dipakai peternak dalam men,gawinkan sapinya

93,3% melalui kawin suntik dan 26,7% kawin alamo Responden

yang menya takan perkawinan alam; 27,2% P ej an tan yang diguna:"

kan adalah milik sendiri; 27,2% menyewa pejantan orang lain

dan 18,1% pejantannya milik dinas peternakan. Keseluruhan..,

nya menyatakan bahwa cara mengawinkannya dengan menggiring

(43)

32

Inseminasi l3uatan pada sapi perah mulai dilaksanakan

di Kabupaten D1erah Tingkat II Cirebon sekitar tahun 1980

Jumlah akseptor clan closis IE meningkat clari tahun ke tahun

( Ta bel 8 clan 9 ).

Tabel 8. Hasil IE pada sapi perah di Kecamatan Waled,

Babakan dan Ciledug ( Kabupaten Cirebon ) tahun 1985/1986.

Triwulan akseptor Jumlah 113 ke SIC CR

I II III (

% )

113

IV(Jan-Mar'85) 279 215 48 16 1,32 74

I 211 177 27 '7 1,20 80,'7

II 159 139 17 3 1,16 85.3

III 135 97 31 7 1,33 75,3

IV(Jan-Mar'86) 136 109 18 9 1,27 80

Sumber: Insemina tor Kewedanan Ciledug, 1986.

Tabel 9. Hasil IE pa,da sapi di Ka bupa ten Cirebon

Tahun Target Jumlah Dosis yang

(dosis) akseptor dicapai

1980/1981 600 250 215

1981/1982 1000 674 506

1982/1983 2000 1000 1650

1983.-/1984 2000 1500 2000

1984/1985 2500 1200

Triwulan akseptor 113 ke SIC CR

I I I III 'IV

( %

l

I (Apr-Jun'85) 483 355 97 31 1,33 74

II 395 338 45 12 1,20 84,7

III 379 230 100 41 8 1,55 60,3

IV(Jan-Mar'86) 376 264 51 47 12 1 , 51 69

(44)

Peternak sapi perah (responden); 93,3% sudah mendenga l'

istilah atau pengertian kawin suntik pada sapi; 90% mereka

mendengar dari dinas peternakan; 10% mendengar dari ternan:;

6,7% dari kontak tani dan 6,7% dari siaran pedesaan. J::ari

93,396 peternak tersebut sudah mengikutsertakan sapinya da

-lam program lB.

Sebanyak 73·,')% responden menyatakan apabila terlihat

tanda-tanda berahi pada pagi hari langsung melaporkan pada

p etugas pa da saa t i tu juga dan 26,7% melaporkannya baru

pa-da siang a tau sore harinya. Seperti hal diatas bila

tanda-tanda berahi terlihat pada sore hari. Apabila sapi terlihat

berahi pada pagi hari dan melaporkannya langsung, sapi

gika-winkan pada siang atau sore harinya (83,3%) dan 16,7%

menya-takan dikawinkan pada besok paginya. Apabila sapi terlihat

tanda-tanda berahi pada sore hari dan langsung melaporkan,

sapi dikawinkan pada besok paginya (100%). Seratus persen

melaporkan sapi yang berahi kepada,inseminator; 26,7% bisa

juga pada mantri hewan atau pada kontak tani (6,796).

J::alam hal frekwensi pelaksanaan 15 sampai bunting ada

43,3% menyatakan dua kali; 26,7% satu kali; 16,796 tiga kali

dan 13,396 menyatakan lebih dari tiga kali. Kalau sapi tidak

bunting setelah dikawinkan, responden menya'takan bahwa tan

-da-tanda berahi akan terulang lagi 3.minggu berikutnya(73,3%

atau 2 minggu berikutnya (10%) atau 4minggu berikutnya(10%)

atau 5 minggu berikutnya (6,7%). Perkawinan pertama

dilaku-kan pada induk apabila anaknya sudah berumur 2 bulan (73,3%)

(45)

Tabel 10. Hasil Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) pada

sapi di Ka bupa ten D'l. TI II Cirebon

Tahun 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 Triwulan ke

I (Kpril-Juni' 8 5)

I I

III

IV (Jan - Mar'86)

Jumlah IB (dosis) 215 506 1650 2000 125 163 189 129

Hasil PKB

Posi tip Nega tip

100 147 Ei20 850 392 79 101 143 89 115 359 1030 1150 46 62 46 40

Sumber : Dinas Peternakan Kabupaten Cirebon 1984-1985.

34

Tabel 11. Jumlah kelahiran sapi di Kabupaten Cirebon

Tahun Bunting

( + ) Lahir Jantan Betina

1980/1981 100 50 30 20

1981/1982 147 93 63 30

1982/1983 620

1983/1984 850 389

1984/1985 392 161

Triwulan ke

I (Apr';"Jun'85) 26 20 11 9

II 101 61 34 27

III 143 98 53 45

IV 89 38 16 22

April, Mei'86 53 45 23 22

[image:45.602.97.509.107.336.2]
(46)

35

Alasan peternak dengan dipakainya IB 90% ber'pendapat m)l rah atau menguntungkan dan praktis (60%). Jumlah kelahiran selama sa tu tahun yang lalu baik dengan kawin alam a tau IB 6,8% dari jumlah populasi adalah jantan, dan 17,9% betina. Jumlah kema tian selama sa tu tahun 1,5% dari jumlah popula si karena keguguran dan 2,3% mati muda.

Kasuskasus reproduksi dan kebidanan banyak ditemukan -pada sapi perah peternak ( Tabel 12 ).

Tabel 12.

Diagnosis

Diagnosis Kasus Reproduksi dan Kebidanan pa-da Sapi Perah tahun 1985/1986 di Kabupaten Cirebon.

Jumlah yang menderita ( ekor)

Hipofungsi ovarium CLP ,lperiodik

4

115 18 123

49

Metri tis

Aspesifik Siste ovarium

Jumlah 309

Sumber: Dinas Peternakan Kabupaten Cirebon, 1986.

Dari keseluruhan responden 16,7% sapi miliknya pernah mengalami abortus pada awal kebuntingan dan 11,1

%

abortus p!:.. da akhir kebuntingan. Masalah retensio secundinae pada sapi milik responden seki tar

44,4%

pernah terjadi. Sebanyak 60% peternak menyatakan kalau ada berahi sesudah kelahiran ter-akhir, interval antara kelahiran terakhir dan munculnya 「・イセ@
(47)

36

Pengamanan Ternak

Kegia tan yang dila lrukan dalam pencegahan dan pemberan ta.§.

an penyaki t adalah vaksinasi dengan metode yang disesuaikan

terha dap sif'a t timbulnya penya ki t hewan menular, misaInya si.§.

tern 'crash program' bila penyakit bersif'at enzootik, dan

sis-tern ring vaksinasi untuk penyaki t Ngorok (SE) serta Anthrax.

Pengama tan penyaki t hewan menular dilakukan dengan jalan

pe-meriksaan kesehatan hewan ( Gambar 2 ). Penolakan penyakit

dilakukan di pos 'check point' terhadap ternak yang masuk ke

daerah Kabupaten Girebbn.

Jumlah kasus penyakit di daerah tersebut yang banyak di

temukan pada ternak sapi antara lain masti tis, infeksi dan

timpani ( Lampiran S ). Kegia tan da lam bidang keseha tan

ma-syarakat veteriner meliputi pemberantasan penyakit zoonosis,

kesehatan daging dan kesehatan susu.

Produksi PeternakFln

Komodi ti ternak seperti daging dan susu selama tiga

ta-hun terakhir di Kabupaten Girebon terlihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Produksi komoditi daging sapi dan susu di

Kabupaten ffiTI II Girebon 1983 - 1985.

Jenis komodi ti

])3. ging (kg)

Susu (Ii ter)

Produksi tahun

1983 1984

29.095 36.210

1.018.479 1.074.012

Sumber: Dinas Peternakan Kabupaten Girebon,1986.

1985

44.540 1 .051 .200

Kebutuhan makanan ternak dipenuhi dari pengadaan hijauan,

[image:47.599.82.514.427.643.2]
(48)

Sebagaimana daerah lndonesia 1ainnya, Kabupaten Ci-rebon mempunyai iklim tropis dengan suhu rata-rata 28-33°C. Curah hujan + 1.952 mm per tahun. Lua s da erah 948,39 km 2 , berpenduduk 1.408.337 jiwa (1985). I:ar'i sebagian be-sal' responden, selain sebagai petani peternak sapi perah, mereka juga bertani. Us aha peternakannya mereka memil:ilki ra te.-re. ta 5-8 ekor sapi, umumnya dikerjakan 01 eh mereka

sendiri;keluarga. I:apat di]wtakan beternak sapi perah me-rupakan mata pencaharian tarnbahan guna meningkatkan penda-patan per ]wpi tanya. Peternak sapi perah di daerah

terse-but mulai dirintis tahun 1979.

Tujuan ut(!ma . usaha beternak sapi perah tersebut pada umumnya un tuk dimanfaa tItan susunya, tetapi aapa t, aeka1igua dipergt.makan pada saat-saat kritis butuh uang dengan menju-al ternak tersebut, sedang nupu]{ dianggap sebagai hasil sampingan.

Seorang peternak ada yang sekaligus memiliki sapi pe-rah dari KUD dan PUSP; tetapi umumnwa mereka mempero1ehnya dari KUD. Sejak tahun 1981/1982 dengan adanya pelaksanaan "Proyek PUSP dan GKSI melalui KUD maka banyak peternak yang memelihara sapi perah atas kemauan seridiri, dan sebagianya dipengaruhi peternak lain. Jadi pengembangan sapi perah di daerah Kabupaten Cirebon melalui セセァ。@ jatur : GKSI/KUD, PUSP dan Crash Programe.

(49)

Pendidikan formal terbanyak hanya tingkatan SD, tetapi ada

sebagian kecil sudah pernah kuliah di perguruan tinggi.

Tingka tan pendi dikan yang rendah ini akan menyuli tkan ュ・イセ@

ka un tuk men erima inovasi baru, umumnya mereka hanya menco!1.

toh yang dilakukan oleh orangtuanya. D

Gambar

Tabel 4. Rata-rata Umur Beranak Pertama, セ。ュ。@
Tabel "f..
Tabel 10. Hasil Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) pada
Tabel 13. Produksi komoditi daging sapi dan susu di
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian pengamatan performans repro- duksi pada sapi perah eks-impor dan lokal dilakukan di usaha sapi perah yang dipelihara di Unit Sapi Potong dan Perah Terpadu (SP 2 T),

Faktor – faktor yang menyebabkan tingginya nilai DO di peternakan sapi perah KUD Batu dapat dikarenakan oleh beberapa hal, yaitu pakan yang nutrisinya kurang,

Jenis sapi perah yang dipelihara oleh peternak di Jawa Tengah adalah Fries Holland (FH) dan peranakannya. Sapi FH yang berada di Indonesia merupakan sapi perah yang

Penelitian ini menggunakan bahan – bahan berupa induk sapi perah Peranakan Fries Holland (PFH) terdiri dari Paritas1 atau sapi beranak ke-1, sapi beranak ke-2 (Paritas

Judul Skripsi : Hubungan Retensio Sekundinae dan Endometritis dengan Efisiensi Reproduksi pada Sapi Perah: Studi Kasus di Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara

Akan tetapi berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan, bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara kemampuan pro- duksi susu sapi perah turunan impor yang

Warwick dan Legates (1979) menyatakan bahwa produksi susu maksimum akan dicapai pada waktu sapi berumur 6 sampai 8 tahun yaitu dimana pada saat sapi perah

Faktor – faktor yang menyebabkan tingginya nilai DO di peternakan sapi perah KUD Batu dapat dikarenakan oleh beberapa hal, yaitu pakan yang nutrisinya kurang, sesuai