PERAWATAN PENDERITA STROKE DI RUMAH OLEH KELUARGA SUKU BATAK TOBA DI PEMATANGSIANTAR
SKRIPSI Oleh Delima Siahaan
071101052
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala
berkat, hikmat, dan penyertaanNya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul “Perawatan Penderita Stroke di Rumah oleh Keluarga Suku Batak
Toba di Pematangsiantar”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat bagi
penulis untuk menyelesaikan pendidikan dan mencapai gelar sarjana di Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah
memberikan bantuan, bimbingan, dan dukungan dalam proses penyelesaian
proposal ini, sebagai berikut:
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
2. Ibu Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS selaku dosen pembimbing yang senantiasa
memberikan waktu untuk membimbing dan memberikan masukan yang sangat
berharga dalam penulisan skripsi ini.
3. Ibu Rosina Tarigan, S.Kp, M.Kep, SpKMB, CWCC dan Lufthiani, S.Kep., Ns.,
M.Kes. selaku dosen penguji yang dengan teliti memberikan masukan yang
berharga dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Ismayadi, SKep., Ns. selaku dosen pembimbing akademik yang membantu
penulis dalam perkuliahan.
5. Seluruh Dosen Pengajar S1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
yang telah banyak mendidik penulis selama proses perkuliahan dan staf yang
6. Pihak RSUD dr.Djasamen Saragih Pematangsiantar yang telah memberi izin dan
informasi penelitian bagi penulis.
7. Seluruh responden yang telah bersedia berpartispasi selama proses penelitian
berlangsung dan setiap anggota keluarga responden yang ikut mendukung
penelitian ini.
8. Terima kasih kepada Ayahanda terkasih H.P Siahaan dan Ibunda L. Sitinjak
tercinta yang selalu mendoakan dan menyayangi, memberikan dukungan baik
moril maupun materil, dan senantiasa memberikan yang terbaik untuk penulis.
Terima kasih juga penulis ucapkan kepada saudara-saudaraku Artha Siahaan,
S.E., Margaretha Siahaan, S.Si., Megawati Siahaan, S.E., Jojor Siahaan, S.E., dan
adikku Samuel Parningotan Siahaan yang selalu mendoakan, memotivasi, dan
memberi semangat bagi penulis.
9. Terima kasih buat KTB penulis (Kak Grace, Tiwi, Vina) dan teman-teman
koordinasi UP Fakultas Keperawatan USU (Trimurti, Dian, Dahlia, Novia, Tia,
Fransiska, Rutami, Devi, dan Gita), serta terima kasih buat adik-adik KK penulis
(Putri, Novia, Pesta, Sri Sihotang, dan Sri Rejeki) yang selalu sabar mendukung,
memotivasi, dan berdoa bagi penulis.
10. Teman-teman Fakultas Keperawatan stambuk 2007 Wasli, Nova, Novri, Marli,
dan teman-teman yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, terima kasih buat
setiap kebersamaan yang boleh terjadi selama empat tahun ini dalam
menyelesaikan studi di fakultas keperawatan.
11. Kepada seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu per satu yang
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dan penuh kasih melimpahkan berkat
dan karunia-Nya kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis.
Harapan penulis skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan di bidang keperawatan dan bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Penulis sangat mengharapkan adanya saran yang bersifat membangun untuk
perbaikan yang lebih baik di masa yang akan datang.
.
Medan, Juni 2011
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Lembar Pengesahan Skripsi ... i
Prakata ... ... ii
Daftar Isi ... v
Daftar Skema ... vii
Daftar Tabel ... viii
Abstrak ... ix
Abstract ... x
Bab 1. Pendahuluan ... 1
1.Latar Belakang ... 1
2.Pertanyaan Penelitian ... 5
3.Tujuan Penelitian ... 5
4.Manfaat Penelitian ... 5
Bab 2. Tinjauan Kepustakaan ... 7
1. Stroke ... 7
1.1 Defenisi Stroke... 7
1.2 Penyebab Stroke ... 7
1.3 Faktor Risiko Stroke ... 8
1. 3.1 Faktor Risiko Stroke yang Tidak Dapat Diubah .... 9
1.3.2 Faktor Risiko yang Dapat Dikontrol ... 9
1.4 Klasifikasi Stroke ... 11
1.5 Manifestasi Klinis Stroke ... 12
1.6 Rehabilitasi ... 15
2. Perawatan Penderita Stroke di Rumah ... 16
2.1 Membantu Aktivitas Fisik setelah Stroke ... 17
2.2 Menangani Kebersihan Diri ... 17
2.3 Menangani Masalah Makan dan Minum ... 19
2.4 Kepatuhan Program Pengobatan di Rumah ... 20
2.5 Mengatasi Masalah Emosional dan Kognitif ... 20
2.6 Pencegahan Cedera/ Jatuh ... 22
3. Konsep Keluarga ... 24
3.1 Definisi Keluarga ... 24
3.2 Ciri-Ciri Keluarga ... 24
3.3 Tipe Keluarga ... 24
3.4 Struktur Keluarga ... 26
3.5 Fungsi Pokok Keluarga ... 27
3.6 Peran Keluarga ... 28
4. Suku Batak Toba ... 28
3.1 Sejarah Suku Batak Toba ... 28
3.2 Pengobatan dalam Budaya Batak Toba ... 29
3.2.1 Obat Urut dan Tulang (Dappol Siburuk) ... 29
3.2.2 Pengobatan Tawar Mulajadi ... 30
Bab 3. Kerangka Konsep ... 31
1. Kerangka Konseptual ... 31
Bab 4. Metodologi Penelitian ... 33
1. Desain Penelitian ... 33
2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 33
3. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 34
4. Pertimbangan Etik Penelitian ... 34
5. Instrumen Penelitian ... 35
6. Validitas dan Reliabilitas ... 36
7. Teknik Pengumpulan Data ... 37
8. Analisa Data ... 38
Bab 5. Hasil dan Pembahasan ... 41
1. Hasil ... 41
2.Pembahasan ... 55
Bab 6. Kesimpulan dan Saran ... 80
1.Kesimpulan ... 80
2.Saran ... 81
Daftar Pustaka ... 84
Lampiran-lampiran 1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden ... 88
2. Instrumen Penelitian ... 89
3. Anggaran Biaya Penelitian... 95
4. Jadwal Penelitian ... 96
5. Surat Izin Penelitian ... 97
6. Surat Izin Pengambilan Data ... 98
7. Hasil Pengolahan Data dengan Komputerisasi ... 99
DAFTAR SKEMA
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar(n=26) ... 42
Tabel 5.2 Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dalam membantu aktivitas fisik setelah stroke (n=26) ... 43 Tabel 5.3 Kategori perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku
Batak Toba di Pematangsiantar dalam membantu aktivitas fisik setelah stroke (n=26) ... 44
Tabel 5.4 Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dalam menangani kebersihan diri penderita stroke (n=26) ... 45
Tabel 5.5 Kategori perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dalam menangani kebersihan diri penderita stroke (n=26) ... 46
Tabel 5.6 Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dalam menangani masalah makan dan minum penderita stroke (n=26) ... 47 Tabel 5.7 Kategori perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku
Batak Toba di Pematangsiantar dalam menangani masalah makan dan minum penderita stroke (n=26) ... 48
Tabel 5.8 Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dalam menangani kepatuhan program pengobatan penderita stroke (n=26) ... 49
Tabel 5.9 Kategori perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dalam menangani kepatuhan program pengobatan di rumah penderita stroke (n=26) ... 50
Tabel 5.10 Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dalam mengatasi masalah kognitif dan emosional penderita stroke (n=26) ... 51 Tabel 5.11 Kategori perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku
Batak Toba di Pematangsiantar dalam mengatasi masalah kognitif dan emosional penderita stroke (n=26) ... 53
Tabel 5.12 Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Tobadi Pematangsiantar dalam pencegahan cedera/ jatuh penderita stroke ... 53 Tabel 5.13 Kategori perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku
Batak Toba di Pematangsiantar dalam pencegahan cedera/ jatuh penderita stroke (n=26) ... 54 Tabel 5.14 Kategori perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku
Judul : Perawatan Penderita Stroke di Rumah oleh Keluarga Suku Batak Toba di Pematangsiantar
Peneliti : Delima Siahaan
NIM : 071101052
Program : Sarjana Keperawatan (S.Kep)
Tahun Akademik : 2011
Abstrak
Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga merupakan segala tindakan yang dilakukan keluarga demi mempertahankan kesehatan penderita stroke, seperti membantu aktivitas fisik setelah stroke, menangani kebersihan diri, menangani masalah makan dan minum, kepatuhan program pengobatan di rumah, mengatasi masalah kognitif dan emosional, dan pencegahan cedera/ jatuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar. Desain penelitian ini adalah penelitian deskripsi dengan metode kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 26 responden dengan tehnik pengambilan sampel adalah
purposive sampling. Peneliti menentukan kriteria sampel yaitu keluarga suku
Batak Toba asli, merupakan keluarga kandung dengan penderita stroke, dan bersedia menjadi responden. Hasil penelitian menunjukkan perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dikategorikan baik sebanyak 19 responden (73,1%) dan cukup baik sebanyak 7 responden (26,9%). Hasil penelitian juga menunjukkan adanya pantangan, anjuran/ kepercayaan, dan penggunaan obat tradisional dalam keluarga suku Batak Toba selama merawat anggota keluarganya yang sakit stroke. Penelitian ini hanya memperhatikan perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba. Maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi penggunaan pengobatan tradisional selama perawatan penderita stroke yang dilakukan keluarga di rumah serta pengaruh pengobatan tradisional terhadap pemulihan stroke.
Title : Care of Stroke Patients at Home by Batak Toba Tribe Family in Pematangsiantar
Name : Delima Siahaan
NIM : 071101052
Program : Bachelor of Nursing
Year : 2011
Abstract
Care of stroke patients at home by a family is all actions taken to preserve the health of stroke patients, such as helping to physical activity after stroke, handle personal hygiene, dealing with eating and drinking, compliance with care programs at home, overcome cognitive and emotional problems, and injury prevention / fall. This study aims to identify stroke patients care at home by the Batak Toba tribe family in Pematangsiantar. The design of this study is a description of explorative with quantitative methods. The sample in this study were as many as 26 respondents with sampling technique was purposive sampling. Researchers determined that the sample criteria Toba Batak indigenous tribal families, the biological family with the stroke patients, and willing to be respondents. Results showed care of stroke patients at home by the Batak Toba family in Pematangsiantar 19 respondents (73,1%) good categorized and 7 respondents (26,9%) good enough categorized. The results also indicate the existence of taboos, the suggestion / belief, and the use of traditional medicine in Batak Toba families caring for a stroke patients in their family. This study concerned only patients with stroke care at home by the family of Toba Batak tribe. It is necessary to further research to identify factors that influence the use of traditional medicine for treatment of stroke patients who carried the family at home and the influence of traditional treatment of stroke recovery.
Judul : Perawatan Penderita Stroke di Rumah oleh Keluarga Suku Batak Toba di Pematangsiantar
Peneliti : Delima Siahaan
NIM : 071101052
Program : Sarjana Keperawatan (S.Kep)
Tahun Akademik : 2011
Abstrak
Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga merupakan segala tindakan yang dilakukan keluarga demi mempertahankan kesehatan penderita stroke, seperti membantu aktivitas fisik setelah stroke, menangani kebersihan diri, menangani masalah makan dan minum, kepatuhan program pengobatan di rumah, mengatasi masalah kognitif dan emosional, dan pencegahan cedera/ jatuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar. Desain penelitian ini adalah penelitian deskripsi dengan metode kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 26 responden dengan tehnik pengambilan sampel adalah
purposive sampling. Peneliti menentukan kriteria sampel yaitu keluarga suku
Batak Toba asli, merupakan keluarga kandung dengan penderita stroke, dan bersedia menjadi responden. Hasil penelitian menunjukkan perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar dikategorikan baik sebanyak 19 responden (73,1%) dan cukup baik sebanyak 7 responden (26,9%). Hasil penelitian juga menunjukkan adanya pantangan, anjuran/ kepercayaan, dan penggunaan obat tradisional dalam keluarga suku Batak Toba selama merawat anggota keluarganya yang sakit stroke. Penelitian ini hanya memperhatikan perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba. Maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi penggunaan pengobatan tradisional selama perawatan penderita stroke yang dilakukan keluarga di rumah serta pengaruh pengobatan tradisional terhadap pemulihan stroke.
Title : Care of Stroke Patients at Home by Batak Toba Tribe Family in Pematangsiantar
Name : Delima Siahaan
NIM : 071101052
Program : Bachelor of Nursing
Year : 2011
Abstract
Care of stroke patients at home by a family is all actions taken to preserve the health of stroke patients, such as helping to physical activity after stroke, handle personal hygiene, dealing with eating and drinking, compliance with care programs at home, overcome cognitive and emotional problems, and injury prevention / fall. This study aims to identify stroke patients care at home by the Batak Toba tribe family in Pematangsiantar. The design of this study is a description of explorative with quantitative methods. The sample in this study were as many as 26 respondents with sampling technique was purposive sampling. Researchers determined that the sample criteria Toba Batak indigenous tribal families, the biological family with the stroke patients, and willing to be respondents. Results showed care of stroke patients at home by the Batak Toba family in Pematangsiantar 19 respondents (73,1%) good categorized and 7 respondents (26,9%) good enough categorized. The results also indicate the existence of taboos, the suggestion / belief, and the use of traditional medicine in Batak Toba families caring for a stroke patients in their family. This study concerned only patients with stroke care at home by the family of Toba Batak tribe. It is necessary to further research to identify factors that influence the use of traditional medicine for treatment of stroke patients who carried the family at home and the influence of traditional treatment of stroke recovery.
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Stroke atau cedera serebrovaskular (CVA) adalah berhentinya suplai darah
ke bagian otak sehingga mengakibatkan hilangnya fungsi otak (Smeltzer &
Suzane, 2001). Hal ini dapat terjadi karena pecahnya pembuluh darah atau
terhalanginya asupan darah ke otak oleh gumpalan. Terhambatnya penyediaan
oksigen dan nutrisi ke otak menimbulkan masalah kesehatan yang serius karena
dapat menimbulkan kecatatan fisik mental bahkan kematian (WHO, 2010).
World Health Organisation (WHO) menyatakan bahwa sekitar 5, 5 juta
orang di dunia meninggal akibat stroke pada tahun 2002 (Juniarti, 2008).
Konferensi Stroke Internasional tahun 2008 yang diadakan di Wina, Austria,
mengungkapkan bahwa jumlah kasus stroke di kawasan Asia terus meningkat
(Jurnal Stroke, 2010). Projodisastro (2009) dalam Juniarti (2008) memperkirakan
penyakit jantung dan stroke akan menjadi penyebab utama kematian di dunia pada
tahun 2020. Selain itu, WHO (2004) dalam Aziz et al (2008) memprediksi bahwa
jumlah kasus stroke akan meningkat sehubungan dengan peningkatan trend dalam
populasi lanjut usia di seluruh dunia.
Data stroke yang dikeluarkan oleh Yayasan Stroke Indonesia menyatakan
bahwa penderita stroke di Indonesia jumlahnya terus meningkat dari tahun ke
tahun (Jurnal Stroke, 2010). Berdasarkan penelitian Riset Kesehatan Dasar tahun
2007 di 33 provinsi dan 440 kabupaten di Indonesia diperoleh hasil bahwa
(Riskesdas, 2007). Secara kasar, setiap hari ada dua orang Indonesia mengalami
serangan stroke.
Penderita stroke tidak dapat disembuhkan secara total. Namun, apabila
ditangani dengan baik maka dapat meringankan beban penderita, meminimalkan
kecacatan, dan mengurangi ketergantungan pada orang lain dalam beraktivitas.
Smeltzer & Suzane (2001) menyatakan bahwa kira-kira dua juta orang penderita
stroke yang mampu bertahan hidup mempunyai beberapa kecatatan. Sekitar 40%
dari mereka memerlukan bantuan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Penelitian Van Excel, dkk (2005) terhadap 151 penderita stroke dan keluarganya
menunjukkan bahwa anggota keluarga yang merawat penderita stroke rata-rata
menghabiskan waktu 3,4 jam sehari untuk bersama penderita stroke (misalnya,
mengantar ke dokter, mandi, dan berpakaian) dan 10,8 jam sehari untuk tugas
mengawasi penderita stroke (misalnya, mengawasi saat jalan dan makan)
(Bethesda Stroke Center, 2007).
Seringkali ketika pulang dari rumah sakit, pasien pasca stroke masih
mengalami gejala sisa, misalnya keadaan kehilangan fungsi motorik (hemiplegi),
kehilangan komunikasi atau kesulitan berbicara (disatria), gangguan persepsi,
kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik, atau disfungsi kandung kemih,
bahkan pasien pulang dalam keadaan bedrest total. Oleh karena itu, perawatan
yang diberikan kepada penderita stroke harus dilakukan secara terus-menerus.
Perawatan ini bertujuan agar kondisi klien membaik, risiko serangan stroke
berulang menurun, tidak terjadi komplikasi, atau kematian mendadak. Oleh
karena itu, perawat perlu mengkaji kebutuhan pasien dalam perawatan di rumah
pasien sendiri di rumah secara terus-menerus demi tercapainya keadaan fisik yang
maksimal (Smeltzer & Suzane, 2001).
Penderita stroke membutuhkan penanganan yang komprehensif, termasuk
upaya pemulihan dan rehabilitasi dalam jangka lama, bahkan sepanjang sisa
hidup penderita. Keluarga sangat berperan dalam fase pemulihan ini sehingga
keluarga diharapkan terlibat dalam penanganan penderita sejak awal perawatan
(Mulyatsih, 2008). Penderita stroke cenderung dapat mempertahankan
kemampuannya untuk melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari jika mereka
menerima pelayanan terapi dan perawatan di rumah. Terapi dan perawatan di
rumah dapat menurunkan risiko kematian atau kemunduran dalam kemampuan
melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari (Outpatient Service Trialist, 2003).
Friedman (1998) menyatakan bahwa keluarga sangat mendukung masa
penyembuhan dan pemulihan. David Reiss (1981) dalam Friedman (1998)
berpendapat bahwa keluarga memiliki struktur nilai, norma dan budaya yang
mempengaruhi segala tindakan yang akan dilakukan oleh keluarga. Keluarga
juga dapat menciptakan paradigmanya sendiri, yaitu struktur yang menyangkut
keyakinan-keyakinan bersama, ketetapan, dan asumsi-asumsi tentang dunia
sosial. Keyakinan-keyakinan ini berasal dari pengalaman masa lalu keluarga.
Sebuah nilai dari keluarga dan sistem keyakinan membentuk pola-pola tingkah
lakunya sendiri dalam menghadapi masalah-masalah yang ada dalam keluarga.
Keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai keluarga menentukan bagaimana sebuah
keluarga akan mengatasi masalah kesehatan.
Provinsi Sumatera Utara memiliki beraneka ragam kebudayaan. Suku
Badan Pusat Statistik pada tahun 2002 menunjukkan bahwa penduduk Sumatera
Utara didominasi oleh suku Batak Toba (Widiantoro, 2008 dalam Pakpahan
2010).
Di Sumatera Utara, masih ada masyarakat suku Batak Toba yang
menganut kepercayaan dari nenek moyang mereka. Kepercayaan ini membentuk
pola pikir dan tingkah laku yang mempengaruhi orang Batak Toba dalam hal
kesehatan. Salah satu kepercayaan dari masyarakat suku Batak Toba, yaitu apabila
seseorang jatuh sakit maka tondi (roh) si sakit pergi ke suatu tempat
meninggalkan tubuhnya. Bila ada anggota keluarga suku Batak Toba yang sakit,
mereka akan membawa orang yang sakit ke Baso atau Datu (orang pintar atau
dukun). Mereka percaya Baso dapat mengembalikan roh orang sakit. Masyarakat
Batak Toba juga percaya bahwa ulos tondi dari hula-hula (saudara laki-laki ibu)
dapat menyembuhkan dan mengobati penyakit. Selain itu, sebagian masyarakat
Batak Toba yang tidak sembuh dari penyakitnya masih mencari pengobatan
alternatif sebagai pilihan lain untuk mendapatkan kesembuhan.
Kepercayaan di atas membuat masyarakat suku Batak Toba memiliki
keunikan tersendiri dalam hal kesehatan, termasuk dalam melakukan perawatan
penderita stroke. Keluarga suku Batak Toba dengan anggota keluarga penderita
stroke memiliki cara yang berbeda dalam melakukan perawatan di rumah. Adanya
pantangan-pantang dalam suku Batak Toba dalam hal kesehatan dan keterlibatan
pengobatan lain di luar pengobatan medis, membuat keluarga suku Batak Toba
mempunyai cara tersendiri dalam merawat anggota keluarga yang sedang sakit.
Fenomena yang terlihat dari masyarakat menunjukkan bahwa ada perlakuan yang
penderita stroke. Keluarga suku Batak Toba mulai melibatkan pengobatan dokter
dalam merawat penderita stroke meskipun tidak dapat dipungkiri rendahnya
pelayanan kesehatan membuat keluarga mencari cara lain di luar tindakan medis
dalam merawat penderita stroke.
Berdasarkan uraian di atas, keluarga suku Batak Toba memiliki cara yang
berbeda dalam melakukan perawatan penderita stroke di rumah. Oleh karena itu,
peneliti tertarik untuk meneliti perawatan penderita stroke di rumah oleh
keluarga suku Batak Toba.
2. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi
perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba.
4. Manfaat Penelitian
4.1 Bagi Praktek Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk
mengetahui perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba.
Praktisi keperawatan, khususnya perawat komunitas, mampu memberikan
pelayanan kesehatan di rumah kepada keluarga yang merawat penderita stroke
dengan memperhatikan kepercayaan atau kebiasaan suku Batak Toba dalam
4.2 Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan
wawasan tentang perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak
Toba.
4.3 Bagi Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan informasi dan referensi
untuk penelitian berikutnya yang berhubungan dengan perawatan penderita stroke
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Stroke 1.1 Defenisi Stroke
Stroke adalah gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat
pembatasan atau terhentinya suplai darah ke otak (Price& Wilson, 2005).
Stroke adalah suatu gangguan yang timbul karena terjadi gangguan
peredaran darah di otak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak
sehingga mengakibatkan seseorang menderita kelumpuhan atau kematian
(Batticaca, 2008).
Stroke atau gangguan peredaran darah otak (GPDO) merupakan penyakit
neurologis yang sering dijumpai dan harus ditangani secara cepat dan tepat.
Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan
karena terjadinya gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja
dan kapan saja (Muttaqin, 2008).
1.2 Penyebab Stroke
Menurut Mutaqin (2008), penyebab stroke terdiri dari:
a. Trombosis Serebral
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi
sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan
oedema dan kongesti di sekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang
tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena
iskemi serebral. Tanda dan neurologis sering kali memburuk pada 48 jam
setelah trombosis
b. Hemoragi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk dalam perdarahan
dalam ruang subaraknoid atau ke dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan
ini dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi. Akibat pecahnya
pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah ke dalam parenkim
otak yang dapat mengakibatkan penekanan, pergeseran dan pemisahan
jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan membengkak, jaringan
otak membengkak, sehingga terjadi infark otak, edema, dan mungkin
herniasi otak.
c. Hipoksia Umum
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum adalah
hipertensi yang parah, henti jantung-paru, curah jantung yang turun akibat
aritmia.
d. Hipoksia Setempat
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat adalah
spasme arteri serebral yang disertai dengan subaraknoid dan vasokontriksi
arteri otak disertai sakit kepala migren.
1.3 Faktor Risiko Stroke
Ada sejumlah faktor risiko yang dapat memicu terjadinya stroke. Menurut
(2007), ada dua jenis faktor risiko stroke yaitu faktor risiko yang tidak dapat
diubah/ dikontrol dan faktor risiko yang dapat dikontrol.
1.3.1 Faktor Risiko Stroke yang Tidak Dapat Diubah
a. Usia
Stroke dapat menyerang segala usia, tetapi semakin tua usia seseorang
maka semakin besar kemungkinan orang tersebut terserang stroke.
b. Jenis Kelamin
Laki-laki dua kali lebih berisiko daripada perempuan, tetapi jumlah
perempuan yang meninggal akibat stroke lebih banyak.
c. Riwayat Keluarga
Keluarga dengan riwayat anggota keluarga pernah mengalami stroke
berisiko lebih besar daripada keluarga tanpa riwayat stroke.
d. Ras
Ras Afrika-Amerika mempunyai risiko yang lebih tinggi mengalami
kematian dan kecatatan akibat stroke dibandingkan dengan ras kulit putih.
1.3.2 Faktor Risiko yang Dapat Dikontrol
a. Tekanan Darah Tinggi
Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyebab stroke.
b. Merokok
Merokok dapat mengakibatkan rusaknya pembuluh darah dan peningkatan
plak pada dinding pembuluh darah yang dapat menghambat sirkulasi
c. Diabetes Melitus
Penyakit diabetes mellitus dapat mempercepat timbulnya plak pada
pembuluh darah yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya stroke
iskemik. Penderita diabetes cenderung menderita obesitas. Obesitas dapat
mengakibatkan hipertensi dan tingginya kadar kolesterol, di mana
keduanya merupakan faktor risiko stroke.
d. Obesitas
Peningkatan berat badan dapat meningkatkan risiko stroke. Obesitas juga
dapat menimbulkan faktor risiko lainnya seperti tekanan darang tinggi,
tingginya kolesterol jahat, dan diabetes.
e. Penyakit pada Arteri Carotid dan Arteri Lainnya
Pembuluh darah arteri carotid merupakan pembuluh darah utama yang
membawa darah ke otak dan leher. Rusaknya pembuluh darah carotid
akibat lemak menimbulkan plak pada dinding arteri sehingga menghalangi
aliran darah di arteri.
f. Kurangnya Aktivitas Fisik
Latihan penting untuk mengontrol faktor risiko stroke, seperti berat badan,
tekanan darah, kolesterol, dan diabetes.
g. Alkohol, Kopi, dan Penggunaan Obat-Obatan
Konsumsi alkohol meningkatkan risiko stroke. Minum alkohol lebih dari
satu gelas pada pria dan lebih dua gelas pada pria dapat mengakibatkan
peningkatan tekanan darah. Selain itu, minum tiga gelas kopi sehari dapat
seperti kokain dan amphetamine merupakan risiko terbesar terjadinya
stroke pada dewasa muda.
h. Kurang Nutrisi
Diet tinggi lemak, gula, dan garam meningkatkan risiko stroke.Penelitian
menunjukkan bahwa mengkonsumsi 5 porsi buah dan sayur sehari dapat
mengurangi risiko stroke sebesar 30%.
i. Stres
Penelitian menunjukkan hubungan antara stress dengan mempersempit
pembuluh darah carotid.
j. Estrogen
Pemakaian pil KB atau Hormone Replacement Theraphy (HRT) yang
mengandung estrogen dapat mengubah kemampuan penggumpalan darah
yang dapat mengakibatkan stroke.
1.4 Klasifikasi Stroke
Menurut Muttaqin (2008), stroke dikelompokan atas dua yaitu:
a. Stroke Hemoragi
Stroke hemoragi merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan
subaraknoid yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada
area otak tertentu. Stroke in biasanya kejadiannya saat melakukakn
aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi pada saat istirahat.
b. Stroke Nonhemoragik
Stroke nonhemoragik dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis
serebral. Stroke ini biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru
bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi
iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema
sekunder.
1.5 Manifestasi Klinis Stroke
Manifestasi klinis stroke menurut Smeltzer & Suzane (2001) adalah:
a. Kehilangan motorik
Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan
kontrol volunteer terhadap gerakan motorik. Disfungsi motorik paling
umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada
sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi
tubuh adalah tanda yang lain.
b. Kehilangan komunikasi
Fungsi otak lain yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan
komunikasi. Stroke adalah penyebab afasia paling umum. Disfungsi
bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikan oleh hal berikut:
1) Disartria (kesulitan berbicara), ditunjukkan dengan bicara yang sulit
dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung
jawab untuk berbicara.
2) Disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara) yang
3) Apraksia (ketidakmampuan melakukan tindakan yang dipelajari
sebelumnya), seperti terlihat ketika pasien mengambil sisir dan
berusaha untuk menyisir rambutnya.
c. Gangguan persepsi
Gangguan persepsi merupakan ketidakmampuan menginterpretasikan
sensasi. Stroke dapat mengakibatkan disfungsi persepsi visual, gangguan
dalam hubungan visual spasial, dan kehilangan sensori.
1) Disfungsi persepsi visual karena gangguan jaras sensori primer di
antara mata dan korteks visual. Hominus heminopsia (kehilangan
setengah lapang pandang) dapat terjadi karena stroke dan mungkin
sementara atau permanen. Sisi visual yang terkena berkaitan dengan
sisi tubuh yang paralisis. Kepala pasien berpaling dari sisi tubuh yang
sakit dan cenderung mengabaikan bahwa tempat dan ruang pada sisi
tersebut. Hal ini disebut amorfosintesis. Pada keadaan ini, pasien tidak
mampu melihat makanan pada setengah mampan dan hanya setengah
ruangan yang terlihat.
2) Gangguan hubungan visual spasial (mendapatkan hubungan dua atau
lebih objek dalam area spasial) sering terlihat pada pasien dengan
hemiplegia kiri. Pasien mungkin tidak dapat memakai pakaian tanpa
bantuan karena ketidakmampuan untuk mencocokan pakaian ke bagian
tubuh.
3) Kehilangan sensori karena stroke dapat berupa kerusakan sentuhan
ringan atau mungkin lebih berat, dengan kehilangan propriosepsi
kesulitan dalam menginterpretasikan stimuli visual, taktil, dan
auditorius.
d. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik
Bila kerusakan telah terjadi pada lobus frontal, mempelajari kapasitas,
memori, atau intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin rusak.
Disfungsi ini dapat ditunjukkan dalam lapang perhatian terbatas, kesulitan
dalam pemahaman, lupa, dan kurang motivasi, yang menyebabkan pasien
ini menghadapi masalah frustasi dalam program rehabilitasi mereka.
Depresi umum terjadi dan mungkin diperberat oleh respon alamiah pasien
terhadap penyakit katastrofik ini. Masalah psikologik lain juga umum
terjadi dan dimanifestasikan oleh labilits emosional, bermusuhan, frustasi,
dendam, dan kurang kerja sama.
e. Disfungsi kandung kemih
Pasien pasca stroke mungkin mengalami inkontinensia urinarius sementara
karena konfusi, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan
ketidakmampuan menggunakan urinal/ bedpan karena kerusakan control
motorik dan postural. Kadang-kadang setelah stroke, kandung kemih
menjadi atonik, dengan kerusakan sensasi dalam respon terhadap
pengisian kandung kemih. Kadang-kadang kontrol sfingter urinarius
eksternal hilang atau berkurang. Inkontinensia ani dan urine yang berlanjut
1.6 Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan bagian penting dalam proses pemulihan stroke.
Tujuan rehabilitasi ini adalah untuk menolong penderita stroke untuk memperoleh
kembali apa yang mungkin dapat dipertahankan untuk memaksimalkan fungsi
tubuh pada penderita stroke (Stroke and Heart Foundation, 2010).
Lumbantobing (2004) menyatakan bahwa tujuan rehabilitasi ialah menjaga
atau meningkatkan kemampuan jasmani, rohani, keadaan ekonomi dan
kemampuan kerja semaksimal mungkin. Berbagai usaha dilakukan untuk
mencapai tujuan ini, diantaranya terapi fisik/ fisioterapi, latihan bicara, latihan
mental, terapi okupasi, psikoterapi , memberi alat bantu, ortotik prostetik, dan
olah raga.
Bentuk tindakan di atas tentunya disesuaikan dengan berat ringan cacat,
bentuk cacat, kemampuan atau tingkat mental penderita. Young & Forster (2007)
dan Duncan et al (2005) menyatakan bahwa penanganan rehabilitasi merupakan
pendekatan multidisiplin, beberapa ahli di berbagai bidang bekerja sama, misalnya
dokter keluarga, ahli rehabilitasi medik, ahli saraf, perawat dan anggota keluarga.
Koordinator tindakan rehabilitasi ini sebaiknya dipegang oleh dokter keluarga,
yang lebih banyak mengetahui penderita, keluarganya, latar belakang
pendidikannya, serta tugas jabatan. Dokter keluarga dapat bertidak sebagai
motivator, memberi bimbingan dan petunjuk kepada penderita dan keluarganya
2. Perawatan Penderita Stroke di Rumah
Menurut Batticaca (2008), penanganan dan perawatan penderita stroke di
rumah antara lain, berobat secara teratur ke dokter, tidak menghentikan atau
mengubah dan menambah dosis obat tanpa petunjuk dokter, meminta bantuan
petugas kesehatan atau fisioterapi untuk memulihkan kondisi tubuh yang lemah
atau lumpuh, memperbaiki kondisi fisik dengan latihan teratur di rumah,
membantu kebutuhan klien, memotivasi klien agar tetap bersemangat dalam
latihan fisik, memeriksakan tekanan darah secara teratur, dan segera bawa klien ke
dokter atau rumah sakit jika timbul tanda dan gejala stroke.
Vallery (2006) dalam Agustina,dkk (2009) mengemukakan bahwa pasien
dan orang yang merawat/ keluarga perlu menyadari semua tantangan dan
tanggung jawab yang akan dihadapi sebelum meninggalkan rumah sakit atau
fasilitas rehabilitasi lain. Meskipun sebagian besar pasien telah mengalami
pemulihan yang cukup bermakna sebelum di pulangkan, sebagian masih
memerlukan bantuan untuk turun dari tempat tidur, mengenakan pakaian, makan,
dan berjalan. Keluarga sebaiknya mengetahui tentang layanan komunitas lokal
yang dapat memberikan bantuan, termasuk dokter keluarga, perawat kunjungan
rumah, ahli fisioterapi, petugas sosial, ahli terapi wicara, dan layanan relawan.
Kebutuhan pasien pasca rawat dapat meliputi kebutuhan fisiologis, psikologis,
sosial dan spiritual.
Berikut ini merupakan perawatan penderita stroke yang dapat dilakukan
2.1 Membantu aktivitas fisik setelah stroke
Penderita stroke perlu melakukan kembali aktivitas sebelumnya sebanyak
mungkin. Jenis aktivitas yang mungkin dilakukan bergantung pada efek stroke.
Penderita stroke yang tidak banyak mengalami masalah fisik dapat mencoba
berjalan, menggunakan sepeda statis, dan melakukan aktivitas olahraga yang biasa
mereka lakukan. Penderita stroke yang masalahnya lebih berat, misalnya penderita
stroke dengan hemiplegia, mungkin memerlukan bantuan ahli fisioterapi atau
spesialis olahraga. Secara umum, seperti pada orang lain, sebaiknya penderita
stroke melakukan sekitar setengah jam aktivitas yang menyebabkan pasien merasa
hangat, sedikit terengah-engah, dan sedikit berkeringat, tiga kali seminggu atau
lebih. (Thomas, 2000).
Penderita stroke dengan masalah orientasi ruang atau apraksia sering
membutuhkan bantuan untuk mengenakan busana karena ketidakmampuan
menggunakan kedua lengan dengan benar, bahkan meskipun mereka tidak
mengalami kelemahan yang nyata pada anggota badan. Penderita stroke dengan
masalah orientasi ruang atau apraksia kadang-kadang mengenakan busana di
bagian yang salah dan sering tidak dapat memasukkan kancing. Penting bagi
orang yang merawat penderita untuk berhati-hati agar sendi yang lumpuh tidak
teregang, terutama sendi bahu. (Graham, 2006).
2.2 Menangani kebersihan diri
Penderita stroke juga memerlukan bantuan keluarga dalam memenuhi
perawatan diri. Kemunduran fisik akibat stroke menyebabkan kemunduran gerak
Perawatan kulit sangat penting untuk mencegah dekubitus (luka karena
tekanan) dan infeksi kulit. Adanya dekubitus dan infeksi luka menunjukkan
bahwa perawatan penderita stroke kurang optimal. Keduanya sebaiknya dicegah
karena dekubitus dapat menimbulkan nyeri dan memiliki proses penyembuhan
luka yang lama dan jika terinfeksi, luka ini dapat mengancam nyawa. Penderita
stroke dapat mengalami dekubitus karena berkurangnya sensasi dan mobilitas.
Inkontinensia, malnutrisi, dan dehidrasi juga meningkatkan risiko timbulnya
dekubitus dan menghambat proses penyembuhan luka (Leigh, 2005).
Penderita stroke yang tidak dapat bergerak harus sering digerakkan dan
direposisi. Hal yang perlu diperhatikan keluarga dalam perawatan kulit dapat
meliputi perhatian terhadap kondisi seprai tempat tidur penderita stroke harus
terpasang kencang dan perhatian terhadap bagian-bagian tubuh yang paling
berisiko pada penderita yang hanya dapat berbaring atau duduk di kursi roda,
antara lain punggung bawah (sakrum), paha, tumit, siku, bahu, dan tulang belikat
(skapula). Keluarga dapat menggunakan spons kering untuk membantali titik-titik
tekanan ini sekali sehari agar mencegah tertekannya saraf dan terbentuknya
dekubitus. Keluarga memeriksa ada tidaknya abrasi, lepuh, dan kemerahan kulit
yang tidak hilang ketika ditekan karena hal-hal ini menunjukkan awal dekubitus.
Selain itu, kulit penderita stroke harus dijaga kering dan diberi bedak (Leigh,
2005).
Stroke dapat mempengaruhi indra penglihatan. Jika penderita stroke selalu
membuka mata dalam jangka panjang, maka mata mereka dapat mengering dan
menyebabkan infeksi dan ulkus kornea. Keluarga dapat menggunakan kain
Jika pasien selalu membuka mata dalam jangka panjang, maka mata mereka dapat
mengering dan menyebabkan infeksi dan ulkus kornea. Untuk mencegah hal ini,
keluarga dianjurkan penggunaan pelumas, salep, atau air mata buatan yang dapat
dibeli bebas (Edmund, 2007).
Penderita stroke yang tidak dapat minum tanpa bantuan harus
membersihkan mulutnya dengan sikat lembut yang lembab atau kapas penyerap
sekitar satu jam. Perawatan mulut yang teratur sangat penting, terutama untuk
penderita yang sulit atau tidak dapat menelan (Edmund, 2007).
2.3 Menangani masalah makan dan minum
Penderita stroke memerlukan makanan yang memadai, lezat, dan
seimbang dengan cukup serat, cairan (2 liter atau lebih sehari), dan miktonutrien.
Jika nafsu makan penderita berkurang maka penedrita stroke dapat diberi
makanan ringan tinggi-kalori yang lezat dalam jumlah terbatas setiap 2-3 jam,
bersama dengan minuman suplemen nutrisional. Penderita stroke harus makan
dalam posisi duduk, bukan berbaring, untuk mencegah tersedak dan pneumonia
aspirasi (John, 2004; Lotta, 2006; David 2002).
Keluarga dapat elakukan modifikasi dalam penggunaan alat makan
penderita stroke, seperti meletakkan antiselip pada alas piring atau menggunakan
piring yang cekung sehingga makanan tidak mudah tumpah. Keluarga dapat juga
menyediakankan alat-alat bantu untuk penderita stroke yang makan dengan satu
tangan, seperti mangkuk telur yang dapat ditempelkan pada meja (John, 2004;
2.4 Kepatuhan program pengobatan di rumah
Pelayanan kesehatan berperan dalam upaya promotif, pencegahan,
diagnosa dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan, serta pemulihan
(rehabilitasi) suatu penyakit (Maryam, 2008). Dukungan keluarga diketahui
sangat penting dalam kepatuhan terhadap program pengobatan jangka panjang
(Schatz, 1988 dalam Stanley, 2006). Keluarga bertanggung jawab terhadap semua
prosedur dan pengobatan anggota keluarga yang sakit, seperti menggunakan obat
menggunakan alat-alat khusus, dan menjalankan latihan (Friedman, 1998).
2.5 Mengatasi Masalah Emosional dan Kognitif
Sebagian masalah emosional muncul segera setelah stroke, sebagai akibat
kerusakan di otak. Hampir 70% pasien stroke sedikit banyak mengalami masalah
emosional, misalnya reaksi sedih, mudah tersinggung, tidak bahagia, murung, atau
depresi. Terdapat bukti bahwa orang yang menderita depresi pasca stroke
memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar meninggal dalam 10 tahun
dibandingkan dengan penderita stroke tanpa depresi. Namun, jika penderita stroke
dan orang yang merawatnya menyadari masalah ini, biasanya ada hal-hal yang
dapat dikerjakan untuk mengatasi masalah tersebut (Lotta, 2006).
Ketidakmampuan seseorang untuk mengekspresikan dirinya sendiri akibat
masalah bahasa dapat menimbulkan sikap mudah marah. Masalah emosional lain
timbul pada tahap lebih belakangan, misalnya sewaktu pasien akhirnya menyadari
dampak penuh stroke atas kemandirian mereka.
Orang yang pernah mengalami stroke sangat rentan terhadap perubahan
saat mereka pertama kali keluar rumah untuk berjalan-jalan. Ini merupakan reaksi
fisiologis normal, dan penderita stroke harus didorong untuk membahas
kekhawatiran mereka akan karier serta anggota keluarga sehingga masalah
tersebut dapat diatasi sebanyak mungkin (Lotta, 2006).
Pada sebagian besar kasus, masalah emosional mereda seiring waktu,
tetapi ketika terjadi, masalah itu dapat menyebabkan penderita stroke menolak
terapi atau kehilangan motivasi untuk menjalani proses rehabilitasi, yang dapat
memengaruhi pemulihan penderita. Masalah emosional reaktif ini sering dapat
dikurangi secara substansial dengan mendorong penderita stroke membicarakan
ketakutan dan kemarahan mereka. Penderita stroke harus merasa bahwa mereka
adalah anggota keluarga yang berharga. Penting bagi keluarga untuk
mempertahankan lingkungan rumah yang suportif, yang mendorong timbulnya
perhatian orang lain dan aktivitas waktu luang, misalnya membaca, memasak,
berjalan-jalan, berbelanja, bermain, dan berbicara. Penderita stroke yang
keluarganya atau orang yang merawatnya tidak suportif dan yang memiliki
kehidupan keluarga yang tidak berfungsi cenderung memiliki prognosis lebih
buruk dibandingkan dengan penderita lainnya. Sebagian penderita stroke mungkin
merasa nyaman jika mereka berbagi pengalaman mereka dengan penderita stroke
lain (Lotta, 2006).
Masalah emosional penderita stroke dapat diatasi dengan konseling
individual atau terapi kelompok. Psikoterapi juga dapat membantu sebagian
penderita, misalnya mereka yang mengalami apatis berat, depresi, tak tertarik atau
menentang pengobatan. Jika masalahnya menetap, terutama depresi, dokter
atau berkonsultasi dengan psikiater atau ahli psikologi klinis. Konsultasi dini
biasanya dianjurkan untuk penderita stroke yang mengalami depresi berat,
terutama mereka yang mungkin ingin bunuh diri (Lotta, 2006).
Masalah kognitif pada penderita stroke mencakup kesulitan berpikir,
memusatkan perhatian, mengingat, membuat keputusan, menggunakan nalar,
membuat rencana, dan belajar. Hal-hal ini sering menjadi komplikasi stroke,
mengenai sekitar 64% dari penderita stroke yang selamat dan menyebabkan
demensia pada 1 dari 5 penderita stroke usia yang lebih lanjut. Namun, bagi
banyak penderita stroke, masalah kognitif yang ringan cenderung akan mereda
seiring dengan waktu, dan kemampuan mereka akan pulih sepenuhnya (John,
2004).
Jika penderita stroke tidak dapat mengikuti instruksi di obat resep, orang
yang merawat perlu menjamin bahwa penderita stroke minum obat dalam jumlah
dan saat yang tepat. Ada baiknya dibuat bagan atau tabel tentang aktivitas harian,
obat, dan kemajuan penderita stroke pada selembar kertas (John, 2004).
Penderita stroke dengan gangguan kognitif yang parah, misalnya
demensia, jarang pulih sempurna dan dapat bertambah buruk seiring dengan
waktu. Hal ini terutama berlaku pada orang berusia lanjut yang pernah mengalami
beberapa kali stroke serta mengidap penyakit-penyakit lain (John, 2004).
2.6 Pencegahan cedera/ jatuh
Thomas (2000) dan Leigh (2005) menyatakan faktor risiko yang
mempermudah pasien jatuh antara lain masalah ayunan langkah dan
inaktivitas, inkontinensia, gangguan penglihatan, dan berkurangnya kekuatan
tungkai bawah.
Yudi (2007) menyatakan bahwa indikasi terbaik bahwa penderita stroke
siap bergerak ke tingkat mobilitas vang lebih tinggi adalah kemampuan
menoleransi tingkat mobilitas yang telah mereka capai. Demi alasan keamanan,
sebaiknya ada satu atau dua orang asisten berdiri di samping penderita stroke dan
membantu penderita, terutama pada tahap-tahap awal. Ketika berdiri atau
berjalan, penderita stroke sebaiknya berupaya menggunakan tungkai mereka yang
lumpuh dengan menopangkan beban badan mereka pada tungkai tersebut sebisa
mungkin dan dengan memindahkan beban badan dari satu sisi tubuh ke sisi
lainnya. Pada awalnya, penderita stroke harus mencoba hanya beberapa langkah
kecil. Sesi latihan yang sering dan singkat, dengan peningkatan gerakan secara
perlahan, merupakan cara yang paling aman dan efektif. Jika penderita stroke
telah yakin dapat berjalan di lantai yang datar, mereka dapat mulai naik tangga,
tetapi tetap memperhatikan bahwa susunan tangganya telah aman dan kuat.
Selain itu, Graham (2006) menyatakan jika penderita stroke menggunakan
kursi roda, sebaiknya rumah mereka memiliki tangga, dibangun jalan masuk
landai dari kayu atau beton. Keluarga juga mungkin perlu memperlebar
pintu-pintu rumah agar penderita stroke dapat bergerak bebas di dalam rumah.
Pemasangan kabel listrik yang aman, pegangan tangan di kamar mandi,, dan
3. Konsep Keluarga 3.1 Definisi Keluarga
Keluarga adalah dua orang atau lebih oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan
ikatan emosional serta mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari
keluarga (Friedman, 1998).
Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang peranannya sangat penting
untuk membentuk kebudayaan yang sehat. Dari keluargalah, pendidikan kepada
individu dimulai dan dari keluarga inilah akan tercipta tatanan masyarakat yang
baik, sehingga untuk membangun suatu kebudayaan maka seyogyanya dimulai
dari keluarga (Setiadi, 2008).
3.2 Ciri-Ciri Keluarga
Menurut Robert Mac Iver dan Charles Horton, ciri-ciri keluarga yaitu
disatukan oleh hubungan perkawinan, berbentuk suatu kelembagaan yang
berkaitan dengan hubungan perkawinan yang disengaja dibentuk atau dipelihara,
mempunyai suatu sistem tata nama (nomeclatur) termasuk perhitungan garis
keturunan, mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggota
berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan
anak, dan merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga.
3.3 Tipe Keluarga
Tipe keluarga dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:
a. Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari
ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunan atau diadopsi atau
keduanya.
b. Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah anggota
keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek-nenek,
paman-bibi).
Secara modern, keluarga dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Tradisional Nuclear, adalah keluarga inti (ayah, ibu, anak) tinggal dalam
satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam satu ikatan
perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
b. Reconstituted Nuclear adalah pembentukan baru dari keluarga inti melalui
perkawinankembali suami/ istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah
dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil
dari perkawinan baru, satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
c. Niddle Age/ Aging Couple adalah suami sebagai pencari uang, istri di
rumah, atau kedua-duanya bekerja, anak-anak sudah meninggalkan rumah
karena sekolah/ perkawinan/ meniti karier.
d. Dyadic Nuclear adalah suami istri yang sudah berumur dan tidak
mempunyai anak yang keduanya atau salah satu bekerja di luar rumah.
e. Single Parent adalah satu orang tua kaibat perceraian atau kematian
pasangannya dan anak-anak dapat tinggal di rumah atau di luar rumah.
f. Dual Carrier adalah suami istri atau keduanya orang carier dan tanpa
g. Commuter Married adalah suami istri atau keduanya orang karier dan
tinggal terpisah pada jarak tertentu. Keduanya saling mencari pada
waktu-waktu tertentu.
h. Cohibing Couple adalah dua orang atau satu pasangan yang tinggal
bersama tanpa kawin
Gay and lesbian Family adalah keluarga yang dibentuk oleh pasangan
yang berjenis kelamin sama (Friedman, 1998).
3.4 Struktur Keluarga
Menurut Friedman (1998), struktur keluarga terdiri dari:
a. Pola dan Proses Komunikasi
Komunikasi dalam keluarga ada yang berfungsi ada yang tidak. Hal ini
disebabkan beberapa faktor yang ada dalam komponen komunikasi
seperti pengirim pesan, pesan, lingkungan, media, dan penerima pesan.
b. Struktur Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi
sosial yang diberikan.
c. Struktur Kekuatan
Hal ini mendasari suatu proses dalam pengambilan keputusan dalam
keluarga, seperti konsesus, tawar menawar, musyawarah, atau paksaan.
d. Nilai-Nilai Keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap, dan kepercayaan yang secara sadar
keluarga juga merupakan suatau pedoman perilaku dan pedoman bagi
perkembangan norma dan peraturan.
3.5 Fungsi Pokok Keluarga
Friedman (1998) mengemukakan bahwa keluarga mempunyai lima fungsi
dasar, yaitu:
a. Fungsi Afektif yaitubfungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan
segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan
dengan orang lain.
b. Fungsi Sosialisasi yaitu fungsi untuk mengembangkan dan tempat melatih
anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk
berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
c. Fungsi Reproduksi yaitu fungsi untuk mempertahankan generasi dan
menjaga kelangsungan keluarga.
d. Fungsi Ekonomi yaitu fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluatga secara
ekonomi dan tempat utuk mengembangkan kemampuan individu dalam
meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
e. Fungsi Perawatan/ Pemeliharaan Kesehatan yaitu fungsi untuk
mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memilki
3.6 Peran Keluarga
Effendy (1998) mengungkapkan ada beberapa peran keluarga, yaitu:
a. Peran Ayah
Ayah sebagai suami bagi istrinya dan ayah bagi anak-anaknya, berperan
sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman,
sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta
sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
b. Peran Ibu
Sebagai istri dari suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Ibu mempunyai
peranan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik
anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, di
samping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahn
dalam keluarga.
c. Peran Anak
Anak-anak melaksanakan peranan psikologis sesuai dengan tingkat
perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
4. Suku Batak Toba
3.1 Sejarah Suku Batak Toba
Suku Batak adalah salah satu dari ratusan suku yang terdapat di Indonesia.
Suku Batak terdapat di wilayah Sumatera Utara. Sebahagian masyarakat Batak
mempercayai bahwa suku Batak berasal dari Pusuk Buhit daerah Sianjur Mula
Menurut kepercayaan orang Batak Toba, asal orang Batak Toba dimulai
dari si Raja Batak (leluhur orang Batak) yang bermukim di Kaki Pusuk Buhit,
terletak di sebelah barat Pulau Samosir. Si Raja Batak mempunyai dua orang putra
yakni Guru Tatean Bulan dan Saribu Raja Isumbaon. Guru Tatean Bulan
mempunyai empat orang putra yakni Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja,
dan Manalu Raja. Sementara Raja Isumbaon mempunyai tiga orang putra yakni
Tuan Sorimangaraja, si Raja Asiasi, dan Sungkar Somalindang. Kemudian
keturunan ini berpencar mendiami daerah-daerah tertentu di Sumatera Utara,
terutama berdiam di Tapanuli Utara yang wilayahnya meliputi Ajibata (berbatasan
dengan Parapat), Pulau Samosir, Pakkat serta Sarula (Pakpahan, 2010).
3.2 Pengobatan dalam Budaya Batak Toba
Suku Batak Toba memiliki cara berbeda dalam melakukan pengobatan
penyakit yang timbul dalam masyarakat Batak Toba. Tradisi suku Batak Toba ini
diturunkan dari nenek moyang mereka (Manik, 2008).
3.2.1 Obat Urut dan Tulang (Dappol Siburuk)
Asal mula manusia menurut orang Batak adalah dari ayam atau burung.
Obat Dappol Siburuk ini dulunya berasal dari burung siburuk yang mana langsung
dipraktekkan dengan penelitian alami dan hampir seluruh keturunan Si Raja Batak
menggunakan obat ini dalam kehidupan sehari-hari. Dappol dalam bahasa
Indonesia berarti urut atau kusuk. Siburuk artinya burung.
Menurut masyarakat Batak Toba, awal pengobatan dappol siburuk ini
minyak kelapa. Hasil dari olahan tersebut kemudian digunakan sebagai minyak
untuk mengkusut atau memijat orang sakit (Manik, 2008).
3.2.2 Pengobatan Tawar Mulajadi
Zaman dahulu, banyak orang Batak yang menderita penyakit kulit bahkan
sampai membusuk. Melihat kejadian tersebut Si Raja Batak berpesan bahwa untuk
mengobati setiap orang yang berpenyakit kulit supaya menggunakan Tawar
Mulajadi. Tawar Mulajadi adalah sesuatu yang berasal dari asap dapur. Orang
Batak pada zaman dahulu menggunakan kayu bakar untuk memasak, maka di atas
dapur tersebut ada serpihan hitam bergantungan. Serpihan itu berasal dari asap
pada saat memasak. Menurut orang Batak, serpihan hitam tersebut dinamakan
Tawar Mulajadi atau Tappar Api. Serpihan hitam ini kemudian diseduh dengan air
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL
1. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di
Pematangsiantar, yang akan digambarkan ke dalam tiga kategori yaitu baik, cukup
baik, dan kurang baik.
Skema 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Perawatan Penderita
Stroke di Rumah oleh Keluarga Suku Batak Toba di Pematangsiantar
1. Baik
2. Cukup Baik 3. Kurang Baik
Perawatan Penderita Stroke di Rumah oleh Keluarga Suku Batak Toba
1. Membantu aktivitas fisik setelah stroke 2. Menangani kebersihan diri
2. Defenisi Operasional
Perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba
merupakan segala bentuk perlakuan keluarga suku Batak Toba di rumah dalam
membantu anggota keluarganya yang sakit stroke untuk melakukan aktivitas fisik
setelah stroke, menangani kebersihan diri, menangani masalah makan dan minum,
kepatuhan program pengobatan di rumah, mengatasi masalah emosional dan
kognitif, dan pencegahan cedera/ jatuh.
BAB 4
METODE PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskripsi
eksploratif dengan metode kuantitatif yang bertujuan untuk mengidentifikasi
secara mendalam perawatan penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak
Toba di Pematangsiantar.
2. Populasi dan Sampel Peneltian 2.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi pada
penelitian ini adalah keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar yang merawat
penderita stroke di rumah.
2.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah
dari karakteristik yang dimiliki populasi (Hidayat, 2009). Arikunto (2006)
menyatakan bahwa penentuan sampel untuk penelitian deskriptif minimal 30
sampel. Dalam penelitian ini, peneliti seharusnya meneliti 30 keluarga suku Batak
Toba yang merawat penderita stroke di Pematangsiantar. Namun, karena
keterbatasan waktu maka peneliti hanya meneliti 26 sampel.
Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive
yang memenuhi kriteria, yaitu keluarga suku Batak Toba asli, merupakan keluarga
kandung dengan penderita stroke, dan bersedia menjadi responden.
3. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2010 sampai dengan Juni
2011. Pengumpulan data telah dilaksanakan pada bulan Januari 2011 sampai April
2011. Penelitian ini dilakukan di Pematangsiantar. Adapun alasan peneliti
memilih lokasi ini karena Pematangsiantar merupakan daerah dengan penduduk
Batak Toba yang masih menganut nilai-nilai suku Batak Toba yang belum
terkontaminasi budaya asing di luar suku Batak Toba. Selain itu, lokasi ini belum
pernah dilakukan penelitian tentang perawatan penderitan stroke oleh keluarga
suku Batak Toba. Untuk memudahkan peneliti maka peneliti melakukan
pengambilan sampel penelitian di Polineurologi Rumah Sakit Umum Daerah
dr.Djasamen Saragih Pematangsiantar. Rumah sakit ini merupakan satu-satunya
rumah sakit rujukan milik pemerintah kota Pematangsiantar.
4. Pertimbangan Etik Penelitian
Penelitian ini dilakukan setelah peneliti mendapat persetujuan dari
Fakultas Keperawatan USU. Dalam pengumpulan data terdapat beberapa hal
yang berkaitan dengan permasalahan etik dalam pengumpulan data. Dalam proses
pengumpulan data, peneliti menjelaskan maksud, tujuan, dan prosedur penelitian
kepada responden. Apabila responden bersedia untuk diteliti maka terlebih dahulu
responden harus menandatangani lembar persetujuan (informed consent). Jika
menghormati haknya. Peneliti tidak mencantumkan nama responden dalam
lembar kuesioner yang diisi oleh responden demi menjaga kerahasian responden.
Lembar tersebut hanya diberi kode tertentu untuk menjamin kerahasiaan informasi
yang diberikan oleh responden (Nursalam, 2003).
5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan tinjauan
pustaka dalam bentuk kuesioner yang harus dijawab oleh responden.
Instrumen ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama yaitu kuesioner
data demografi responden yang meliputi umur, jenis kelamin, hubungan dengan
penderita, agama, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan perawatan penderita
stroke di rumah. Bagian kedua yaitu kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan
yang menggambarkan bagaimana perawatan penderita stroke di rumah oleh
keluarga suku Batak Toba. Kuesioner ini terdiri dari 25 pernyataan yang peneliti
kembangkan dari teori perawatan penderita stoke di rumah. Kuesioner terdiri dari
pernyataan yang mengidentifikasi dan mendeskripsikan perawatan stroke di
rumah, seperti membantu aktivitas fisik setelah stroke, menangani kebersihan diri,
menangani masalah makan dan minum, kepatuhan program pengobatan di rumah,
mengatasi masalah kognitif dan emosional, dan pencegahan cedera/ jatuh
Peneliti menggunakan skala likert, dengan jawaban selalu (SL): 4, sering: 3,
kadang-kadang (KD): 2, dan tidak pernah (TP): 1. Total skor yang terendah
adalah 25 dan skor tertinggi ada 100. Untuk mengetahui kategori perawatan
penderita stroke di rumah oleh keluarga suku Batak Toba di Pematangsiantar,
berdasarkan rumus statistik, p= rentang/ banyak kelas (Hidayat, 2007), di mana p
merupakan panjang kelas dengan rentang (nilai tertinggi dikurangi nilai terendah)
sebesar 75 dan 3 kategori kelas untuk perawatan penderita stroke di rumah (baik,
cukup baik, kurang baik). Batas kelas interval pertama digunakan p=25 dan nilai
terendah 25. Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh skor dari masing-masing
kategori, yaitu kategori kurang baik dengan nilai 25-49, kategori cukup baik
dengan nilai 50-74, dan kategori baik dengan nilai 75-100.
Bagian ketiga dari instrument penelitian ini yaitu kuesioner yang berisi
pertanyaan terbuka mengenai pantangan, anjuran/ kepercayaan, dan penggunaan
obat tradisional dalam keluarga suku Batak Toba selama merawat penderita stroke
di rumah. Peneliti mengumpulkan semua jawaban dari pertanyaan terbuka dan
menganalisa setiap jawaban dari masing-masing responden untuk mengetahui
adanya pantangan, anjuran/ kepercayaan, dan penggunaan obat tradisional dalam
keluarga suku Batak Toba selama merawat anggota keluarganya yang sakit stroke.
6. Validitas dan Reliabilitas
Kuesioner dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan tinjauan pustaka. Oleh
karena itu, kuesioner perlu diuji validitas dan reabilitas. Uji validitas yang telah
dilakukan pada penelitian ini adalah uji validitas isi. Validitas isi adalah suatu
keputusan tentang bagaimana instrument dengan baik mewakili karakteristik yang
dikaji. Penelitian tentang validitas isi bersifat subjektif dan keputusan apakah
instrument sudah mewakili atau tidak yang didasarkan pada pendapat ahli
pembimbing skripsi Ibu Siti Zahara Nasution, S.Kp, MNS dan telah dinyatakan
valid dan dapat digunakan.
Uji reliabilitas instrument bertujuan untuk mengetahui seberapa besar
derajat atau kemampuan alat ukur. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang
memberikan hasil yang relatif sama bila digunakan beberapa kali pada kelompok
subjek yang sama bila digunakan beberapa kali pada kelompok subjek yang sama
(Azwar, 2003). Adapun uji reliabilitas yang dilakukan pada instrument penelitian
ini yaitu pertanyaan tertutup dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang telah
dibuat peneliti. Menurut Brockopp (1999) reliable suatu instrument
menggambarkan stabilitas dan konsistensi suatu instrument. Uji reliabilitas
instrument dilakukan sebelum pengumpulan data. Uji reliabilitas instrument
penelitian ini telah dilakukan terhadap 10 responden yang memenuhi kriteria
sampel penelitian (Azwar, 2003). Kemudian jawaban dari responden diolah
dengan menggunakan bantuan komputerisasi (SPSS Statistic 17.0). Dari hasil
perhitungan kesepuluh responden terhadap jawaban dari instrument penelitian,
diperoleh nilai reliabilitas instrumen penelitian ini yaitu 0,879. Berdasarkan nilai
reliabilitas instrument yang didapat maka instrument penelitian ini sudah reliabel
dan dapat digunakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Polit & Hungler (1999),
bahwa suatu instrument dikatakan reliabel jika memiliki nilai reliabilitas (nilai
cronbach’s alpha) lebih besar dari 0,70.
7. Teknik Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah
pendidikan (Fakultas Keperawatan USU) kemudian permohonan izin dikirim ke
tempat penelitian (RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar). Untuk
memudahkan peneliti menemukan responden sesuai kriteria yang telah ditentukan
sebelumnya, peneliti meminta daftar status pasien rawat jalan dari perawat
polineurologi untuk mengetahui diagnosa medis setiap pasien yang sedang
berobat jalan saat itu. Apabila peneliti telah menemukan responden yang
memenuhi kriteria maka responden diambil menjadi subjek penelitian.
Setelah mendapatkan responden, peneliti menjelaskan pada calon
responden tentang tujuan, manfaat dan pengisian kuesioner, responden yang
bersedia diminta menandatangani informed concern (surat persetujuan).
Responden diminta untuk mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti. Peneliti
tetap mendamping responden selama mengisi kuesioner.
8. Analisa Data
Setelah semua data terkumpul maka akan dilakukan analisa data melalui
beberapa tahap, pertama editing yaitu memeriksa kelengkapan identitas dan data
responden serta memastikan semua jawaban telah diisi sesuai petunjuk. Pada
tahap ini peneliti telah memasukkan data responden, baik itu data demogarfi
maupun data dari semua jawaban responden pada pertanyaan tertutup yang ada
pada instrument penelitian. Peneliti telah memastikan bahwa semua data yang
dimasukkan adalah sesuai petunjuk.
Tahap kedua adalah coding yaitu memberi kode atau angka tertentu pada
lembar kuesioner untuk mempermudah mengadakan tabulasi dan analisa data.
pada data demografi maupun data dari semua jawaban responden pada pertanyaan
tertutup. Adapun pengkodean yang dilakukan peneliti pada data demografi
responden yaitu pada interval usia responden kode 1=15-30 tahun, kode 2=31-45
tahun, kode 3=46-60 tahun, dan kode 4= >60 tahun. Pengkodean pada jenis
kelamin yaitu kode 1=laki-laki dank ode 2=perempuan. Pengkodean pada
hubungan responden dengan penderita stroke yaitu kode 1 untuk 1=istri, 2=suami,
dan 3=anak. Pengkodean pada agama responden yaitu 1=Islam dan 2=Kristen.
Pengkodean pada pekerjaan responden yaitu 1=ibu rumah tangga, 2=pegawai
swasta/ Wiraswata, 3=PNS/ TNI/ Polri, dan 4=pensiunan. Pengkodean
penghasilan per bulan yaitu 1= <Rp500.000, 2=Rp500.000–Rp1.000.000,
3=Rp1.000.000–Rp3.000.000, dan 4= >Rp3.000.000. Selain itu, peneliti juga
melakukan pengkodean pada jawaban responen pada pertanyaan terbuka yaitu,
1=tidak pernah, 2=kadang-kadang, 3=sering, dan 4=selalu. Pemberian kode ini
memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi data yang telah terkumpul.
Tahap ketiga adalah processing yaitu memasukkan data dari lembar
kuesioner ke dalam program computer. Peneliti telah memasukkan data ke dalam
program computer dalam bentuk kode sesuai dengan yang telah dibuat pada saat
coding.
Tahap keempat cleaning yaitu mengecek kembali data yang telah
dimasukkan untuk mengetahui ada kesalahan atau tidak. Peneliti telah melakukan
pengecekan kembali dan pada saat tahap ini peneliti melakukan tiga kali
pengecekan hingga akhirnya data yang telah dimasukan adalah benar dan tepat.
Pada tahap ini didapati bahwa ada data yang tidak tepat karena kesalahan peneliti
dengan mengecek ulang data yang di computer dengan data yang di kuesioner dan
menyakinkan bahwa data yang sudah masuk sudah benar. Pada tahap cleaning
yang telah dilakukan, peneliti telah memastikan bahwa data telah siap ditabulasi.
Tahap kelima tabulating yaitu menganalisa data secara deskriptif. Peneliti
telah melakukan pengolahan data dengan tehnik komputerisasi dan memperoleh
hasil tabulasi dalam bentuk angka. Peneliti kemudian menyajikan hasilnya dalam
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Pada bab ini diuraikan hasil penelitian mengenai perawatan penderita
stroke