PENGARUH JENIS KEMASAN DAN TINGKAT KEMASAKAN BUAH
TERHADAP DAYA SIMPAN BENIH TANAMAN JARAK PAGAR
(Jatropha curcas L.)
Oleh ALI NAPIAH
A34404048
PROGRAM STUDI
PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PENGARUH JENIS KEMASAN DAN TINGKAT KEMASAKAN BUAH
TERHADAP DAYA SIMPAN BENIH TANAMAN JARAK PAGAR
(Jatropha curcas L.)
Oleh ALI NAPIAH
A34404048
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI
PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
ALI NAPIAH. Pengaruh Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan Buah
terhadap Daya Simpan Benih Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Dibimbing oleh MEMEN SURAHMAN dan JAN BARLIAN.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kemasan simpan dan tingkat kemasakan buah terhadap daya simpan benih jarak pagar. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni 2008 – November 2008 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Leuwikopo Darmaga Bogor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis kemasan (K) yang terdiri dari kemasan plastik (K1), kaleng (K2), kain terigu (K3), kain blacu (K4) dan karung goni (K5). Faktor kedua adalah tingkat kemasakan (T) terdiri dari 2 taraf yaitu tingkat kemasakan 1 (T1) (kulit buah berwarna kuning) dan Tingkat kemasakan 2 (T2) (kulit buah berwarna coklat sampai hitam).
Hasil penelitian menunjukan bahwa selama penyimpanan, kadar air benih terus mengalami penurunan, tetapi ketika periode simpan enam bulan benih mengalami sedikit kenaikan kadar air. Benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning memiliki kandungan kadar air awal sebelum disimpan lebih tinggi yaitu 10.36 %, sedangkan benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat kehitaman kadar air mencapai 9.24 %. Kemasan plastik dan kaleng relatif lebih mampu menahan perubahan kadar air benih dari pada kemasan kain terigu, kain blacu dan goni, hal itu dapat dilihat dari nilai kadar air yang relatif lebih tinggi pada periode simpan 0-5 bulan, dimana pada saat itu benih mengalami penurunan kadar air. Pada perlakuan interaksi, benih yang dikemas dalam kemasan plastik memiliki nilai kadar air tertinggi, hal itu berarti bahwa kemasan plastik relatif lebih mampu menahan perubahan kadar air pada benih. Kemasan goni memiliki kemampuan paling rendah dalam mempertahankan perubahan kadar air benih, ini karena kemasan ini bersifat porous dan memiliki rongga kemasan lebih besar dari kemasan kain terigu dan blacu.
coklat kehitaman setelah umur simpan tiga bulan DB hanya mencapai 65.07%. pada tolok ukur PTM, KCT, dan BKKN, benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning juga memiliki nilai yang lebih tinggi dari benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat kehitaman pada seluruh masa periode simpan.
Judul Penelitian : PENGARUH JENIS KEMASAN DAN TINGKAT KEMASAKAN BUAH TERHADAP DAYA SIMPAN
BENIH TANAMAN JARAK PAGAR ( Jatropha curcas L.)
Nama : Ali Napiah
NRP : A34404048
Progran Studi : Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih
Menyetujui :
Dosen pembimbing I Dosen pembimbing II
Dr. Ir. Memen Surahman, MSc Ir. Jan Barlian, MSc
NIP : 19630628.199002.1.002 NIP : 19451011.196708.1.001
Mengetahui : Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, MAgr NIP. 19571222.198203.1.002
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sentosa, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur, pada tanggal 19 Desember 1985. Penulis merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara, pasangan bapak Jumhar dan ibu Rusmiati.
Tahun 1998 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 012 Rantau Sentosa, kemudian pada tahun 2001 penulis menyelesaikan studi di SLTPN 1 Muara Ancalong. Penulis lulus SMUN 2 Tenggarong pada tahun 2004.
Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) pada tahun 2004. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa pada Program Studi Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian.
Penulis juga aktif dalam beberapa organisasi seperti menjadi anggota DKM Al-falah, anggota FM BUD KUKAR, dan Klub Agribisnis IPB pada tahun 2004. Tahun 2005 penulis menjadi anggota DPM Faperta, Staf Eksternal HIMAGRON, Reporter Gema Almamater, dan Koordinator HUMAS FM BUD KUKAR. Pada tahun 2006 penulis menjadi Koordinator Penelitian dan Pengembangan Gema Almamater, Kepala Departemen Aplikasi Pertanian HIMAGRON dan Ketua Komisi Pengawasan DPM FAPERTA. Tahun 2007 penulis masih mejadi koordinator penelitian dan pengembangan Gema Almamater dan Anggota HIMAGRI (Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia).
Penulis juga aktif pada kegiatan kepanitiaan, seperti pada tahun 2006 penulis menjadi Koordinator Tata Tertib pada Masa Perkenalan Fakultas (SAUNG TANI 2006) dan Masa Perkenalan Departemen (SAWAH 2006). Pada tahun 2007 penulis menjadi Ketua Panitia Pemilihan Raya IPB, dan Ketua Pelatihan Jurnalistik.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW dan semoga kita sebagai ummat-Nya yang senantiasa istikomah dijalan-Nya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kemasan dan tingkat kemasakan buah terhadap daya simpan benih jarak pagar dengan tolok ukur vigor dan viabilitas benih.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr. Ir. Memen Surahman, MSc dan Ir. Jan Barlian, MSc selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis hingga penelitian dan penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Kepada keluarga besarku ayah, ibu, mertua, adik dan kakak terima kasih. Kepada istriku terima kasih atas motifasi dan dukungannya selama ini, dan juga kepada rekan-rekan program studi Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih angkatan 41 terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya.
Penulis berharap penelitian ini dapat berguna bagi masyarakat dan menambah pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu dan teknologi benih sehingga pertanian Indonesia dapat meningkat.
Bogor, Januari 2009
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 3
Hipotesis ... 3
TINJAUAN PUSTAKA ... 4
Klasifikasi dan Morfologi Jarak Pagar ... 4
Manfaat Jarak Pagar ... 4
Pengaruh Kondisi Simpan terhadap Viabilitas Benih ... 5
Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Viabilitas Benih ... 6
Kemasakan Buah ... 8
BAHAN DAN METODE ... 9
Waktu dan Tempat ... 9
Bahan dan Alat ... 9
Metode Penelitian... 9
Pelaksanaan Penelitian ... 10
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13
Kondisi Umum ... 13
Pengaruh Jenis Kemasan, Tingkat Kemasakan Buah dan Interaksinya terhadap Tolok ukur Kadar Air Benih ... 15
Pengaruh Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan Buah terhadap Tolok Ukur Daya Berkecambah ... 17
Pengaruh Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan Buah terhadap Tolok Ukur Potensi Tumbuh Maksimum ... 18
Pengaruh Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan Buah terhadap Tolok Ukur Berat Kering Kecambah Normal ... 20
Pengaruh Jenis Kemasan, Tingkat Kemasakan Buah dan Interaksinya terhadap Tolok Kecepatan Tumbuh ... 21
KESIMPULAN DAN SARAN ... 24
DAFTAR PUSTAKA ... 25
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
1. Rekapitulasi Uji F Pengaruh Jenis Kemasan (K), Tingkat Kemasakan Buah (T), dan Faktor Interaksinya terhadap Tolok Ukur DB, PTM, KCT, BKKN, dan KA pada Periode Simpan 0 – 6 Bulan ... 15 2. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan
terhadap Kadar Air (KA) Benih ... 16 3. Pengaruh Interaksi antar Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis
Kemasan terhadap Kadar Air (KA) Benih ... 17 4. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan pada
Tolok Ukur Daya Berkecambah (DB) ... 18 5. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan pada
Tolok Ukur Potensi Tumbuh Maksimum ... 19 6. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan pada
Tolok Ukur Berat Kering Kecanbah Normal (BKKN) ... 21 7. Pengaruh Tingkat Kemasakan buah, Jenis Kemasan dan
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Teks
1. Bagan Kegunaan Tanaman Jarak Pagar ... 5
2. Tingkat Kemasakan Berdasarkan Warna Kulit Buah ... 10
3. Jenis Kemasan Simpan ... 11
PENDAHULUAN
Latar belakang
Bahan bakar minyak (BBM) merupakan sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui dan kebutuhan akan konsumsi BBM semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun seiring dengan peningkatan kebutuhan tersebut, ketersediaan akan BBM sendiri semakin menipis dan diperkirakan ketersediaannya di Indonesia hanya akan mencapai 18 tahun ke depan. Oleh karena itu perlu adanya bahan bakar alternatif yang berbasis nabati (biofuel) untuk menggantikan ketergantungan akan bahan bakar minyak tersebut.
Semenjak tiga tahun terakhir, jarak pagar merupakan tanaman yang sangat populer karena ekstrak dari tanaman ini dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM. Namun bahan bakar hasil dari olahan tanaman ini belum berkembang secara komersial karena belum mampu bersaing dengan BBM yang relatif lebih murah karena subsidi dari pemerintah.
Jarak pagar merupakan tanaman semak yang mampu tumbuh dengan baik pada berbagai macam kodisi lahan termasuk pada lahan marginal kerena tanaman ini mampu bertahan pada kodisi stres air (Mahmud et al, 2006). Di Indonesia pengembangan jarak pagar dapat dilakukan pada areal pertanian yang sudah digunakan atau pada areal potensial yang belum digunakan dan lahan-lahan tidur yang sebagian besar terletak di luar pulau Jawa (Hasnam dan Mahmud, 2006). Penanaman pada lahan-lahan tersebut bertujuan agar tidak terjadi kompetisi dengan tanaman lainnya yang lebih baik dan memiliki nilai ekonomi tinggi jika ditanam pada lahan yang berpotensial.
Perbanyakan tanaman jarak pagar di lapang biasanya menggunakan dua bagian tanaman yaitu benih dan stek batang (Prihandana dan Hendroko, 2006). Benih dapat ditanam langsung di lapang atau disemai terlebih dahulu. Keberhasilan tumbuh di lapang lebih tinggi pada benih yang disemai terlebih dahulu karena kondisi tanaman lebih siap dan mampu untuk beradaptasi dengan baik, sehingga penggunaan bibit dari benih banyak dipilih dari pada penanaman langsung dari benih.
2
kurang, sedangkan untuk pengembangan jarak pagar memerlukan benih-benih yang bermutu supaya tidak menimbulkan kerugian dikemudian hari. Agar kualitas benih dapat dipertahankan sebaik mungkin, maka harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi mutu benih yaitu faktor-faktor genetik dan faktor-faktor lingkungan. Faktor genetik adalah faktor bawaan yang berkaitan dengan genetika tanaman sedangkan faktor lingkungan berkaitan dengan kondisi perlakuan, baik pada pra panen maupun pasca panen (Salbiati, 2005). Pra panen mencakup seluruh rangkaian kegiatan dari mulai benih ditanam hingga dilakukan pemanenan. Penentuan waktu panen penting untuk diketuhui karena dapat mempengaruhi mutu benih. Menurut Sadjad.(1993) mutu tertinggi benih diperoleh saat benih mencapai masak fisiologis, karena pada saat ini benih memiliki berat kering, viabilitas dan vigor yang maksimum. Hasnam dan Mahmud (2006) mengatakan bahwa pada tanaman jarak pagar, buah yang telah mencapai masak fisiologis ditandai dengan kulit buah berwarna kuning. Pada tanaman jarak pagar kemasakan buah terjadi secara tidak bersamaan bahkan pada malai yang sama (Adikadarsih dan Hartono, 2008). Ini disebabkan karena penyerbukan bunga yang tidak serempak. Jarak pagar merupakan tanaman yang menyerbuk silang dengan tipe bunga berumah satu (Prihandana dan Hendroko, 2006). Sumanto (2006) mengatakan bahwa terdapat empat tingkat kemasakan buah jarak pagar yaitu buah muda, buah setengah masak, buah masak, dan buah lewat masak. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan pembelajaran lebih lanjut mengenai tingkat kemasakan buah jarak pagar dan kaitannya terhdap vigor dan viabilitas benih.
3
benih, menghindarkan benih dari serangan hama, dan menurunkan laju kemunduran fisiologis benih serta memudahkan dalam proses transportasi.
Penyimpanan benih bertujuan untuk mempertahankan daya hidup benih (daya simpan) selama mungkin. Faktor yang mempengaruhi daya simpan adalah faktor benih itu sendiri, faktor lingkungan fisik ruang, dan faktor jasad hidup di ruang penyimpanan. Faktor benih mencakup faktor genetik dan tingkat kadar air benih. Kadar air benih tinggi menyebabkan laju respirasi tinggi sehingga sejumlah energi di dalam benih menjadi hilang dan secara tidak langsung memberikan kondisi yang optimum untuk perkembangbiakan hama dan penyakit (Khairuni, 2004). Faktor lingkungan fisik di ruang penyimpanan yang perlu diperhatikan adalah suhu dan kelembaban. Tingginya suhu menyebabkan semakin tinggi laju respirasi sehingga mempercepat kemunduran benih, sedangkan kelembaban berpengaruh terhadap kadar air benih dan aktifitas mikroorganisme.
Metode pengemasan yang tertutup rapat dapat mengisolasi benih yang disimpan dari pengaruh luar wadah simpan bila terjadi fluktuasi kelembaban. Sebaliknya pengemasan terbuka, adanya perubahan kondisi udara akan berpengaruh terhadap benih yang disimpan. Dalam penelitian ini digunakan lima jenis kemasan simpan yaitu plastik, kaleng, kain terigu, kain blacu dan goni. Pemilihan bahan kemasan tersebut dikarenakan sering dijumpai penggunaannya oleh para petani dan harganya yang murah. Fungsi penting kemasan sebagai wadah penyimpanan adalah kemampuannya dalam mempertahankan viabilitas benih dan menurunkan laju kemunduran fisiologis benih. Diharapkan dari penelitian ini diketahui jenis kemasan yang paling efektif bagi benih jarak pagar dalam mempertahankan viabilitasnya selama masa penyimpanan.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan simpan dan tingkat kemasakan buah terhadap daya simpan benih jarak pagar.
Hipotesis
1. Tingkat kemasakan buah berpengaruh terhadap daya simpan benih jarak pagar. 2. Jenis kemasan berpengaruh terhadap daya simpan benih jarak pagar.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi dan Morfologi Jarak Pagar
Prihandana dan Hendroko (2006), menjelaskan klasifikasi jarak pagar sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotiledonae Ordo : Euphorbiales Family : Euphorbiaceae Genus : Jatropha
Spesies : Jatropha curcas
Jarak pagar adalah tanaman perdu dengan tinggi mencapai lima meter, bercabang, batang berkayu, berbentuk silindris, bergetah, daun menjari dan dapat diperbanyak dengan menggunakan biji atau stek (Mahmud et al., 2006). Tanaman jarak pagar yang diperbanyak dari biji akan tumbuh lima akar yakni empat akar cabang dan sebuah akar tunggang sedangkan tanaman yang diperbanyak dengan stek tidak memiliki akar tunggang. Buah jarak pagar berbentuk oval, berupa buah kotak dengan diameter 2-4 cm. Pembentukan buah membutuhkan waktu selama 90 hari dari pembungaan sampai matang. Panen pertama dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 6-8 bulan setelah tanam dengan produktivitas mencapai 0.5 – 1.0 ton/ha/tahun, selanjutnya meningkat secara bertahap hingga 5 ton/ha/tahun. Biji berbentuk bulat lonjong, bewarna coklat kehitaman dengan ukuran panjang 2 cm, tebal 1 cm, dan berat 0.4 – 0.6 g/biji (Prihandana dan Hendroko, 2006).
Manfaat Jarak Pagar
5
Pada musim kemarau, tanaman ini akan menggugurkan daunnya, tetapi akarnya tetap mampu menahan air tanah sehingga disebut sebagai tanaman pioner, tanaman penahan erosi, dan tanaman yang dapat dijadikan barier untuk mengurangi kecepatan angin.
Gambar 1. Bagan Kegunaan Tanaman Jarak Pagar
Pengaruh Kondisi Simpan terhadap Viabilitas Benih
Daya simpan benih berbeda-beda, tergantung pada jenis benih, cara, kondisi dan tempat penyimpanannya (Sutopo, 2004). Penyimpanan dengan kondisi yang optimum dapat memperlambat laju kemunduran benih (Copeland dan McDonald, 2001). Kemunduran benih dapat ditekan seminimal mungkin dengan merancang kondisi penyimpanan. Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih selama periode simpan sepanjang mungkin. Sehingga waktu simpan berbeda-beda mulai dari hanya beberapa hari hingga tahunan.
Pohon Jarak pagar
daun buah Kulit batang getah
Tannin
batang
Pakan ulat sutera & obat
Inti biji cangkang Kulit biji
6
Hong dan Ellis (1996), menyatakan bahwa dalam prosedur pengujian sifat benih, benih yang tidak kehilangan viabilitas selama 12 bulan yang disimpan pada suhu 16oC dan RH 50% termasuk tipe benih ortodoks. Jarak pagar termasuk tipe benih ortodoks karena mampu bertahan dan memiliki viabilitas yang tinggi pada saat kadar air mencapai 7-9% (Hasnam dan Mahmud, 2006). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adikarsih dan Hartono (2008), yaitu benih jarak yang dikeringkan mecapai kadar air 7% mampu disimpan hingga satu tahun pada kondisi suhu di ruang terbuka.
Menurut Justice dan Bass (2002) suhu penyimpanan dan kadar air benih merupakan faktor penting yang mempengaruhi masa hidup benih. Harrington (1973) mengemukakan kaidahnya tentang hubungan suhu, kadar air, dan masa hidup benih bahwa setiap kenaikan suhu simpan sebesar 5oC untuk kisaran suhu 0-50oC dan setiap kenaikan kadar air 1% pada kisaran 5–14%, maka masa hidup benih berkurang setengahnya. Sutopo (2004) menyatakan bahwa kadar air benih dapat dikontrol dengan mengeringkan benih dan menyimpannya dalam ruang yang kelembabannya terjaga. Selain itu, dengan menurunnya suhu tempat penyimpanan sampai 10oC atau lebih rendah lagi, akan sangat membantu memperpanjang umur benih yang disimpan.
Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Viabilitas Benih
Kualitas benih dapat dipertahankan dengan memperhatikan cara-cara pengemasan, sehingga pada saat benih ditanam daya berkecambahnya tetap terjaga (Kartasapoetra, 2003). Bahan kemasan harus mempunyai syarat-syarat antara lain tidak toksik terhadap benih, cocok dengan bahan yang dikemas (benih), dapat menjamin sanitasi dan syarat-syarat kesehatan benih (Nurminah, 1997).
7
terhadap benih yang disimpan. Berikut beberapa jenis bahan kemasan menurut Barlian (1989) :
1) Bahan porous contohnya kain blacu, kertas, jute dan cellophane.
2) Resisten kelembaban contohnya Polyethilene, polyphorophelene, dan polyvinilcloride.
3) Bahan kedap udara dan kelembaban contohnya kaleng, aluminium foil dan gelas.
Kemasan kain blacu, kertas, jute dan cellophane adalah kemasan yang berpengaruh paling buruk terhadap viabilitas benih karena termasuk jenis kemasan yang porous yaitu kemasan yang tembus udara dan mudah terjadi pertukaran kelembaban dengan udara di sekelilingnya. Dengan sifat demikian kemasan porous hanya dapat digunakan untuk penyimpanan benih dalam waktu yang pendek.
Bahan pengemas yang resisten seperti Polyethilene, polyphorophelene, dan polyvinilcloride dimana udara dan kelembaban tidak mampu menembus pada batas tertentu. Sehingga kemasan ini mampu menyimpan benih dalam waktu cukup lama. Bahan pengemas kedap udara dan kelembaban seperti kaleng, aluminium foil dan gelas dapat menghambat pertukaran kelembaban dengan sekitarnya sehingga dapat digunakan untuk menyimpan benih dalam jangka waktu yang lama ( Justice dan Bass, 2002).
Harington (1973) mengemukakan bahwa penggunaan kemasan peyimpanan yang tertutup dapat melindungi benih dari perubahan kadar air. Sutopo (2004) juga menambahkan, benih yang disimpan dalam kemasan tertutup untuk waktu yang lama harus memiliki kadar air rendah. Kemasan simpan harus dibuat dari bahan yang memiliki kekuatan tekanan, tahan atas kerusakan serta tidak mudah sobek. Kemasan yang kurang baik dapat mempengaruhi sifat fisik benih dan aspek fisiologisnya (Kartasapoetra, 2003).
8
Kemasakan Buah
Tingkat kemasakan buah penting diketahui untuk menentukan waktu panen yang tepat, karena waktu pemanenan sangat mempengaruhi vigor dan viabilitas benih. Harrington dan Robert dalam Justice dan Bass (2002) menjelaskan bahwa kemasakan benih adalah saat dimana bobot kering maksimum benih tercapai. Menurutnya benih yang masak lebih awet disimpan dibanding benih yang belum masak, selain itu viabilitas dan vigor benih yang sudah lewat masak lebih rendah dari benih yang masak. Benih yang dipanen pada saat mencapai masak fisiologis mempunyai daya berkecambah maksimum karena embrio sudah terbentuk sempurna, sedangkan benih yang dipanen setelah masak fisiologis akan memiliki daya berkecambahan rendah karena telah mengalami deraan cuaca (Hasanah, 1989). Hasil penelitian Kartika dan Ilyas (1994) menujukan bahwa pada kacang jogo, benih yang telah mencapai masak fisiologis memiliki vigor yang maksimum, sedangkan yang belum dan lewat masak memiliki vigor yang lebih rendah.
Justice dan Bass (2002) menyatakan bahwa vigor benih tertinggi tercapai saat benih masak secara fisiologis, setelah itu benih akan kehilangan vigor secara perlahan-lahan. Moore (1955) dalam Justice dan Bass (2002) menyimpulkan bahwa suatu benih mencapai puncak vigor pada saat benih masak, dan setelah itu vigor akan berkurang karena benih mengalami proses penuaan. Salah satu penyebab berkurangnya vigor benih setelah masak fisiologis dikarenakan adanya deraan cuaca dilapangakibat keterlambatan panen.
9
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2008 – November 2008 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Leuwikopo Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB.
Bahan dan Alat
Bahan yang dibutuhkan adalah benih jarak pagar dengan dua tingkat kemasakan (didapat dari kebun induk jarak pagar SBRC yang berlokasi di desa Cibeduk, kecamatan Ciawai, Bogor), bahan kemasan (plastik, karung goni, kain terigu, kain blacu, kaleng). media tanam (pasir), dan box plastik untuk perkecambahan. Alat yang diperlukan adalah ember, timbangan, desikator, oven, alat pengukur suhu dan RH, dan ruang penyimpanan.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis kemasan (K) yang terdiri dari kemasan plastik (K1), kaleng (K2), kain terigu (K3), kain blacu (K4) dan karung goni (K5). Faktor kedua adalah tingkat kemasakan (T) terdiri dari 2 taraf yaitu tingkat kemasakan 1 (T1) (kulit buah berwarna kuning) dan Tingkat kemasakan 2 (T2) (kulit buah berwarna coklat sampai hitam). Masing-masing percobaan terdiri dari tiga ulangan dengan tujuh taraf periode simpan, sehingga total mencapai 210 satuan percobaan.
Model rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut : Yijk = µ + Mi + Kj + Tk + (KT)jk + εijk
Keterangan :
Yijk = nilai pengamatan dari kelompok ke-i, faktor jenis kemasan taraf ke-j, dan faktor tingkat kemasakan taraf ke-k.
µ = nilai tengah umum Ti = pengaruh kelompok ke-i
Kj = pengaruh jenis kemasan taraf ke-j Tk = pengaruh tingkat kemasakan taraf ke-k
10
εijk = pengaruh galat percobaan kelompok ke-i, faktor jenis kemasan taraf ke-j dan faktor tingkat kemasakan taraf ke-k
keterangan : i = 1, 2, 3 j = 1, 2, 3, 4, 5. k = 1, 2
Data yang diperoleh diananlisis dengan menggunakan uji F. Apabila didapat hasil yang berbeda nyata, maka dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Test (DMRT) taraf 5% (Gomez dan Gomez, 1995).
Pelaksanaan Penelitian
1. Persiapan
Tahap persiapan meliputi seluruh rangkaian kegiatan yang menunjang penelitian, seperti penyiapan bahan-bahan yang dibutuhkan dan mengurus seluruh administrasi yamg berkaitan dengan penggunaan Laboratorium serta alat-alat yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian.
2. Pemanenan Buah
Buah dipanen dengan dua tingkat kemasakan yang berbeda (Gambar 2), kemudian buah diekstraksi secara manual untuk memisahkan biji dan kulit buah. Pada kulit biji tidak terdapat selaput yang menyelimuti benih sehingga tidak dilakukan pencucian. Biji yang diperoeh dikering-anginkan hingga mencapai kadar air aman simpan.
Gambar 2. Tingkat Kemasakan Berdasarkan Warna Kulit Buah 3. Pengemasan Benih
11
Kemudian masing-masing kemasan diisi dengan benih jarak pagar sebanyak 100 butir.
Gambar 3. Jenis Kemasan Simpan 4. Penyimpanan Benih
Benih yang telah dikemas diletakkan dalam sebuah alat penyangga kemudian disimpan pada ruang simpan suhu kamar (suhu = 25-33 0C, RH = 57-94%) dengan periode waktu simpan selama 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 bulan. Tiap bulan benih diambil dari tiap kemasan untuk dilakukan pengujian viabilitas dan kadar airnya.
5. Pengujian Viabilitas Benih
Pengujian viabilitas dilakukan di rumah kaca Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Leuwikopo. Benih dikecambahkan menggunakan media pasir pada box plastik ukuran 30 cm x 30 cm. Setiap box plastik ditanami 25 butir benih tiap ulangan.
6. Pengamatan
Tolok ukur viabilitas benih yang diamati adalah sebagai berikut : Daya Berkecambah
Daya berkecambah (DB) adalah kemampuan benih untuk tumbuh menjadi kecambah normal dalam lingkungan tumbuh yang optimum. DB dihitung berdasarkan presentase kecambah normal (KN) pada hitungan 14 HST.
DB (%) = kecambah normal x 100% benih yang ditanam
Potensi Tumbuh Maksimum
12
PTM (%) = benih yang tumbuh x 100%
benih yang ditanam
Kecepatan Tumbuh (KCT)
Kecepatan tumbuh dihitung berdasarkan akumulasi kecepatan tumbuh setiap hari dalam unit tolak ukur persentase harian.
tn KCT =
Σ
N
t
0 Keterangan:t = waktu pengamatan
N = % KN setiap waktu pengamatan tn = waktu akhir pengamatan
Berat Kering Kecambah Normal
Seluruh kecambah normal, dibungkus dengan kertas atau aluminium foil, kemudian dioven pada suhu 60oC selama 3 x 24 jam. Selanjutnya kecambah dimasukkan dalam desikator kurang lebih 30 menit dan ditimbang. Pengujian ini dilakukan di akhir ketika pengamatan telah selesai.
Pengukuran Kadar Air (KA)
KA = Bobot benih basah – bobot benih kering x 100% Bobot benih basah
13
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum
Benih jarak yang digunakan pada penelitian ini berasal dari kebun benih binaan SBRC (Surfactant and Bioenergy Research Center) IPB yang berlokasi di desa Cibedug, kabupaten Bogor. Benih dipanen dengan dua tingkat kemasakan yang berbeda yaitu kulit buah berwarna kuning (tingkat kemasakan satu) dan berwarna coklat sampai kehitaman (tingkat kemasakan dua). Benih kemudian disimpan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Lewikopo pada kondisi suhu kamar dalam lima kemasan yang berbeda (plastik, kaleng, kain terigu, kain blacu, dan karung goni).
Kondisi lingkungan pada saat penelitian cukup stabil, suhu dan kelembaban (RH) relatif sama dari hari ke hari selama masa penelitian. Suhu dan RH pada ruang simpan berkisar antara 25oC-31oC dan 65%-80%, sirkulasi udara pada ruang simpan lancar karena pada ruangan terdapat fentilasi udara. Pada ruang penyimpanan tidak terdapat alat pengatur suhu dan RH sehingga sangat tergantung dengan kondisi lingkungan. Berdasarkan Badan Meteorologi dan Giofisika suhu dan kelembaban (RH) harian rata-rata di Bogor mencapai 25 0C dan 80%, sedangkan curah hujan 1.4 mm/hari dengan intensitas penyinaran mencapai 90%-100%. Selama masa penyimpanan tidak terdapat gangguan hama dan penyakit karena kondisi ruangan yang cukup bersih dan kering. Gambar 4 menunjukan bahwa sampai masa simpan enam bulan kondisi benih masih utuh dan tanpa mengalami gangguan hama dan penyakit sedikitpun.
14
15
Tabel 1. Rekapitulasi Uji F Pengaruh Jenis Kemasan (K), Tingkat Kemasakan Buah (T), dan Faktor Interaksinya terhadap Tolok Ukur DB, PTM, KCT, BKKN, dan KA pada Periode Simpan 0 – 6 Bulan.
Periode
Keterangan : K = Jenis Kemasan T = Tingkat Kemasakan Buah I = Interaksi
tn = tidak berpengaruh nyata * = berpengaruh nyata ** = berpengaruh sangat nyata
Pengaruh Jenis Kemasan, Tingkat Kemasakan Buah dan Intertaksinya
terhadap tolok Ukur Kadar Air Benih
Selama penyimpanan, kadar air benih terus mengalami penurunan, tetapi ketika periode simpan enam bulan benih mengalami sedikit kenaikan kadar air. Kenaikan kadar air pada periode simpan enam bulan ini diduga karena perubahan kelembaban ruang simpan. Justice dan Bass (2002) menyatakan bahwa selama kadar air benih berada di bawah tingkat keseimbangan dengan kelembaban nisbi udara sekitar, uap air akan bergerak ke dalam benih dan begitu pula sebaliknya.
Benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning memiliki kadar air awal lebih tinggi yaitu 10.36 %, sedangkan benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat sampai hitam kadar air awalnya hanya 9.24 % (Tabel 2). Benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat sampai hitam telah lewat masak fisiologis (Adikarsih dan Hartono, 2008). Benih ini diduga telah mengalami deraan cuaca yang mengakibatkan kadar air benih menurun. Utomo (2008) menyatakan bahwa buah jarak pagar yang berwarna coklat kehitaman (57 HSA), telah lewat masak fisiologis dan masuk pada fase pemasakan sehingga kadar air benih menurun.
16
kadar airnya, benih pada kemasan plastik dan kaleng memiliki nilai kadar air tertinggi pada periode simpan satu hingga lima bulan dan pada periode simpan ini nilai kadar air benih mengalami penurunan. Pada periode simpan enam bulan kadar air benih mengalami kenaikan, namun benih pada kemasan plastik dan kaleng tetap menunjukan perubahan nilai kadar air yang kecil. Hal ini disebabkan karena sifat kemasan yang kedap sehinggga mampu menekan peningkatan dan penurunan kadar air benih. Hal tersebut sejalan dengan yang diungkapkan Justice dan Bass (2002) bahwa benih yang berada pada kemasan yang terbuat dari bahan yang kedap akan menunjukkan perubahan kadar air yang kecil sedangkan benih yang berada dalam kemasan yang terbuat dari bahan yang porous akan mengalami perubahan kadar air yang relatif lebih tinggi.
Tabel 2. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan terhadap Kadar Air(%) berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%
Interaksi kemasan dan tingkat kemasakan menunjukan pengaruh yang berbeda-beda terhadap kadar air selama penyimpanan (Tabel 3). Benih yang dikemas pada kemasan plastik menunjukan nilai kadar air tertinggi, hal itu berarti bahwa kemasan plastik relatif lebih mampu menahan perubahan kadar air pada benih. Kaleng merupakan kemasan yang bersifat kedap uap air (Harrington, 1973), namun memiliki kemampuan lebih rendah dari kemasan plastik dalam menahan perubahan kadar air, hal ini dikarenakan pada aplikasinya hanya ditutup begitu saja sehingga memungkinkan adanya rongga-rongga kecil yang menyebabkan terjadinya sirkulasi udara.
17
rendah dari kemasan plastik dan kaleng dalam menahan perubahan kadar air benih. Walaupun sama bersifat porous kemasan goni memiliki kemampuan yang lebih rendah dari kemasan kain terigu dan kain blacu, hal ini karena goni memiliki pori kemasan yang lebih besar (lebih renggang) dari kemasan kain terigu dan kain blacu sehingga tingkat keporousannya juga lebih tinggi.
Tabel 3. Pengaruh Interaksi antar Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan terhadap Kadar Air (%)
Keterangan : angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom menunjukan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%
(T1:Tingkat Kemasakan 1, T2:Tingkat Kemasakan 2, K1:Kemaasan Plastik, K2:Kemasan Kaleng, K3:Kemasan Terigu, K4:Kemasan Blacu, K5:Kemsan Goni).
Pengaruh Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan Buah terhadap tolok
Ukur Daya Berkecambah
18
bahwa benih yang dipanen dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning (52 HSA) memiliki nilai DB yang lebih tinggi dari benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat kehitaman (57 HSA).
Pada perlakuan jenis kemasan, benih yang dikemas menggunakan plastik menunjukan nilai daya berkecambah tertinggi, pada periode simpan enam bulan nilai DB mencapai 81.33%, namun tidak berbeda nyata dengan nilai daya berkecambah benih yang disimpan pada kemasan kaleng yaitu 71.33%. Benih yang disimpan pada kemasan yang porous yaitu kain terigu, kain blacu, dan goni memiliki daya simpan lebih pendek yaitu hanya mencapai periode simpan tiga bulan, setelah itu daya berkecambah benih menurun hingga dibawah 80%. Kemasan porous cenderung tidak dapat mempertahankan viabilitas benih sehingga benih memiliki daya simpan relatif pendek.
Tabel 4. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan pada Tolok
Ket : angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom menunjukan berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%
Pengaruh Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan Buah terhadap tolok
Ukur Potensi Tumbuh Maksimum
19
97.07% untuk benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat kehitaman. Nilai PTM pada periode simpan dua bulan merupakan nilai PTM tertinggi dari seluruh periode simpan. Setelah periode simpan dua bulan benih kembali mengalami penurunan PTM. Benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning memiliki viabilitas yang lebih tinggi, ini ditunjukan dengan nilai PTM yang lebih tinggi pada seluruh periode simpan. Kartika dan Ilyas (1994) mengungkapkan bahwa benih yang telah mencapai masak fisiologis memiliki viabilitas yang lebih tinggi dari benih yang belum atau telah lewat masa masak fisiologisnya.
Pada perlakuan jenis kemasan, benih yang disimpan dengan kemasan plastik memiliki nilai PTM tertinggi, pada periode simpan enam bulan nilai nya adalah 84.00%, tidak berbeda nyata dengan kemasan kaleng yang nilai PTM-nya 77.00%. Pada kemasan kain terigu, kain blacu dan goni secara berturut-turut nilai PTM-nya hanya mencapai 68.67%, 62.33%, dan 49.33%. Pastik dan kaleng merupakan kemasan yang kedap dan cenderung lebih mampu mempertahankan nilai PTM dibanding kemasan porus seperti kain terigu, kain blacu dan goni. Kondisi tersebut sejalan dengan penelitian Rahayu dan Widajati (2007), bahwa benih yang dikemas menggunakan kemasan yang kedap memiliki nilai DB, PTM, dan BKKN yang lebih tinggi dari kemasan yang porous, setelah mengalami masa simpan enam bulan.
Tabel 5. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan pada Tolok Ukur Potensi Tumbuh Maksimum (%) Ket : angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom menunjukan berbeda nyata
20
Pengaruh Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan Buah terhadap tolok
Ukur Berat Kering Kecambah Normal
Berat kering kecambah normal merupakan salah satu indikator viabilitas (Sutopo, 2004), tingginya nilai BKKN menunjukkan tingginya viabilitas benih (Justice dan Bass, 2002). Sadjad et al., (1999) mengemukakan bahwa kemampuan berkecambah suatu benih berhubungan dengan banyaknya cadangan makanan yang dikandungnya. Prawiranata et al., (1992) menjelaskan benih yang memiliki viabilitas tinggi mampu menghasilkan berat kering kecambah yang tinggi pada kondisi optimum dan suboptimum. Tabel 6 menunjukkan bahwa pada perlakuan tingkat kemasakan buah, benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning memiliki nilai BKKN yang lebih tinggi dibanding benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat kehitaman pada semua masa periode simpan. Hal ini mengindikasikan bahwa benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning memiliki viabilitas yang lebih tinggi. Waemata dan Ilyas (1987) menyatakan bahwa, benih buncis yang dipanen setelah lewat masak fisiologis, memiliki nilai viabilitas yang lebih rendah dari benih yang dipanen pada waktu masak fisiologis. Adikarsih dan Hartono (2008) menambahkan, pada jarak pagar benih yang dipanen pada tingkat kemasakan buah berwarna kuning memiliki viabilitas yang lebih tinggi dari benih yang dipanen pada tingkat kemasakan buah berwarna coklat kehitaman.
21
Tabel 6. Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Jenis Kemasan pada Tolok Ukur Berat Kering Kecanbah Normal (Gram) Ket : angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom menunjukan berbeda nyata
dengan uji DMRT pada taraf 5%
Berdasarkan data diatas, nilai BKKN terus mengalami penurunan dari periode simpan 0-6 bulan. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Sadjad (1994), bahwa benih yang disimpan akan terus mengalami penurunan viabilitas. Penurunan ini tidak dapat dihindari, tetapi dapat diperlambat
Pengaruh Jenis Kemasan, Tingkat Kemasakan Buah dan Interaksinya
terhadap tolok Ukur Kecepatan Tumbuh
22
yang dipanen setelah lewat masa masak fisiologisnya (buah berwarna coklat kehitaman).
Pada perlakuan jenis kemasan, benih yang dikemas dengan menggunakan kemasan plastik memiliki nilai KCT tertinggi, pada masa periode simpan enam bulan nilainya mencapai 7.34 %/etmal. namun tidak berbeda nyata dengan benih pada kemasan kaleng yang mencapai 6.44 %/etmal. sedangkan benih pada kemasan kain terigu mencapai 4.42 %/etmal, dan tidak berbeda nyata dengan benih pada kain blacu yang mencapai 3.46 %/etmal. Benih pada kemasan goni hanya mencapai 2.28 %/etmal dan merupakan nilai KCT terkecil. Hal itu sejalan dengan yang diungkapkan Salbiati (2005) bahwa pada benih jagung manis yang disimpan menggunakan kemasan yang kedap memiliki nilai kecepatan dan keserempakan tumbuh yang lebih tinggi dari kemasan yang porous. Wahyuni (1986) menambahkan bahwa pada benih kedelai, penyimpanan yang mengguakan kemasan plastik memiliki nilai vigor yang lebih tinggi dari kemasan kertas.
23
Tabel 7. Pengaruh Tingkat Kemasakan, Jenis Kemasan dan Interaksinya pada Tolok Ukur Kecepatan Tumbuh (%/etmal)
Tingkat
Ket : angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom menunjukan berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning memiliki daya simpan yang lebih tinggi yaitu mencapai periode simpan lima bulan, sedangkan benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat kehitaman hanya mampu mencapai tiga bulan masa simpan. Pada periode simpan lima bulan benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna kuning masih memiliki nilai daya berkecambah 81.60%, sedangkan benih dengan tingkat kemasakan buah berwarna coklat kehitaman setelah periode simpan tiga bulan nilai daya berkecambahnya hanya 65.07%.
Benih yang disimpan pada kemasan plastik memiliki daya simpan yang relatif lebih tinggi, hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya nilai daya berkecambah yaitu 81.33%. Benih pada kemasan kaleng memiliki daya simpan hingga lima bulan, dengan DB mencapai 88.67%, namun setelah periode simpan enam bulan telah mengalami penurunan yaitu mencapai 71.33%. Benih pada kemasan kain terigu, kain blacu dan goni memiliki daya simpan hingga tiga bulan saja, ditunjukkan dengan nilai DB yang berturut-turut mencapai 94.67%, 94.67%, 96.00%. dan setelah empat bulan masa simpan masing-masing DB turun menjadi 74.00%, 76.00% dan 66.00%.
Saran
25
DAFTAR PUSTAKA
Adikadarsih, S dan J. Hartono. 2008. Pengaruh kemasakan buah terhadap mutu benih jarak pagar. Infotek Jarak Pagar 7(1) : 10-15
Barlian, Y. 1989. Pergudangan dan penyimpanan benih. Seed Technology Training for Researches. Seed Science and TechnologyWinrock International. AARP. Ed II. 192-218.
Barian, Y. 1991. Teknologi Benih Tanaman Kehutanan. Depertemen Budidaya Tanaman IPB. 209 hal.
Copeland, L. O. dan M. B. McDonald. 2001. Seed Science and Technology. Kluwer Academic Publishers. London. 425 hal.
Gomez, K. A. dan A. A Gomez. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian. Endang .S & Justika S. B. (Trj). UI-Press. Jakarta. 698 hal. Harrington, J. C. 1973. Problems of seed storage, p. 251-263. In: Heydecker (Ed).
Seed Ecologi. Academy Prees. London.
Hasanah, M. 1989. Kemunduran benih. Seed Technology Training for Researces. Seed Secience and Technology Winrock International. AARP. Ed II.
Hasnam dan Z. Mahmud. 2006. Panduan Perbenihan Jarak Pagar. (Jatropha curcas L.). Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor. 25 hal. Hong, T. D. and R. H. Ellis. 1996. Protocol to de termine seed Storage benaviour.
IPGRI. Tech. Bulletin No 1. Int. Plan Genetic Resources Inst. Roma. 64p. Justice, O. L. dan L. N. Bass. 2002. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih.
Roesli, R. (Terjemahan). Cetakan Ketiga. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 446 hal.
Kartasapoetra, A. G. 2003. Teknologi Benih (Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum). Cetakan Keempat. Rineka Cipta. Jakarta. 188 hal.
Kartika, E. dan S. Ilyas. 1994. Pengaruh tingkat kemasakan benih dan metode konservasi terhadap vigor benih dan vigor kacang jogo. Buletin Agronomi 22(2):44-59
Khairuni, U. 2004. Pengaruh Cara Ekstraksi dan Periode Simpan terhadap Viabilitas Benih Duku. Skripsi Departemen AGH IPB. Bogor. 35 hal Mahmud, Z., A. A. Rivaie dan D. Allorerung. 2006. Petunjuk Teknis Budidaya
Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor. 35 hal.
Nurminah, M. 1997. Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan Plastik dan Kertas serta Pengaruhnya Terhadap Bahan yang Dikemas. Skripsi. Jurusan Teknologi Pangan IPB. Bogor. 74 hal.
26
Prawiranata, W., S. Harran. dan P. Tjndronegoro. 1992. Dasar-dasar fisiologi tumbuhan. Fakultas Matemetika dan Ilmu Alam. IPB Bogor. 247 hal. Prihandana, R. dan R. Hendroko. 2006. Petunjuk Budidaya Jarak Pagar. Agromedia
Pustaka. Jakarta. 84 hal.
Qamara, W. dan A. Setiawan. 2004. Produksi Benih. Bumi Aksara. Jakarta. 130 hal.
Rahayu, E. dan E. Widajati. 2007. Pengaruh kemasan, kondisi ruang simpan, dan periode simpan terhadap viabilitas benih caisin. Bul Agron 35(3)191-196.
Sadjad, S. 1980. Panduan pembinaan mutu benih tanaman kehutanan. Proyek Pusat Perbenihan Kehutanan. Derektorat Reboisasi dan Rehabilitasi. Dirjen Kehutanan. Jakarta. 60 hal.
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Grasindo. Jakarta. 144 hal.
Sadjad, S. 1994. Kuantifikasi Metabolisme Benih. PT Grasindo. Jakarta. 144 hal. Sadjad, S. E. Muniarti dan S. Ilyas. 1999. Parameter Pengujian Vigor Benih dari
Komparatif ke Simulatif. Grasindo. Jakarta. 184 hal.
Salbiati, H. 2005. Pengaruh Kondisi Simpan dan Kombinasi Jenis Kemasan-Perlakuan Metalaksil terhadap Viabilitas Benih Dua Kultivar Jagung Manis. Skripsi. Departemen AGH IPB. Bogor. 52 hal
Sumanto. 2006. Pengaruh Ketuaan Buah Jarak Pagar terhadap Kandungan Minyak. Infotek Jarak Pagar (jatropha curcas L.). 1(3) : 11.
Sutopo, L. 2004. Teknologi Benih. Edisi Revisi. Raja Grfindo Persada. Jakarta. Utomo, B. P. 2008. Fenologi Pembungaan dan Pembuahan Jarak Pagar. Skripsi
Departemen AGH IPB. Bogor. 39 hal
Waemata, S. dan S. Ilyas. 1987. Pengaruh tingkat kemasakan dan kelembaban relatif ruang simpan terhadap viabilitas benih buncis. Buletin Agronomi 18(2):27 – 34.
Wahyuni, S. 1986. Pengaruh materi kemasan, kondisi gas dan kadar air awal terhdap daya simpan benih kedelai varietas lokon. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian IPB Bogor. 41 hal.