• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. medis. Sikap merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan seseorang terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. medis. Sikap merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan seseorang terhadap"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Variabel Penelitian & Hipotesis

3.1.1 Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah sikap pasien terhadap operasi medis. Sikap merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan seseorang terhadap suatu objek seperti mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut (Thurstone dalam Azwar, 2012), seperti misalnya sikap positif individu terhadap operasi lebih cenderung akan melakukan perilaku operasi tersebut dibandingkan dengan individu yang memiliki sikap negatif terhadap operasi.

3.1.2 Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah identitas ego. Identitas ego merupakan Identitas sebagai struktur diri internal yang mencakup self-constructed, suatu dorongan, kemampuan, kepercayaan yang dinamis, dan sejarah individu (Marcia, 1980).

3.1.3 Variabel Dependen dan Independen

Variabel ini bisa masuk ke dalam kategori varibel bebas dan variabel terikat, namun belum bisa dikatakan variabel mediator. Variabel tersebut adalah persepsi ketidakpastian. Persepsi ketidakpastian menurut Mishel, 1984 (dalam Kang, 2002) merupakan situasi yang melibatkan kognisi dimana subjek tidak dapat menetapkan

(2)

nilai-nilai pada suatu kejadian atau objek dan tidak dapat memprediksikan hasil secara akurat karena kurangnya sinyal, dan informasi yang tidak jelas dan tidak tepat.

3.1.4 Hipotesis

Hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah:

1.1.4.1 Hipotesis Nol

1. Identitas ego dan persepsi ketidakpastian secara bersama tidak mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis

2. Identitas ego tidak mampu memprediksikan persepsi ketidakpastian

3. Persepsi ketidakpastian tidak mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis

3.1.4.2Hipotesis Alternatif

1. Identitas ego dan persepsi ketidakpastian secara bersama mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis

2. Identitas ego mampu memprediksikan persepsi ketidakpastian

3. Persepsi ketidakpastian mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis

3.2 Subjek Penelitian & Teknik Sampling

3.2.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Partisipan dalam penelitian ini adalah individu yang memiliki penyakit yang diharuskan melakukan operasi mayor. Jenis penyakit yang peneliti tetapkan untuk dijadikan responden adalah individu yang memiliki penyakit kanker dan jantung, karena

(3)

penyakit tersebut harus dilakukan operasi dan faktor kemudahan dalam mencari sampel karena adanya Rumah Sakit khusus Jantung dan rumah singgah kanker.

Karakteristik usia partisipan adalah usia dewasa madya yang menurut Hurlock (2008) usia dewasa madya (40-60 tahun). Penelitian mengambil partisipan pada usia tersebut karena pada usia tersebut terjadinya proses penuaan atau munculnya penyakit degeneratif akibat proses penuaan tersebut. Secara signifikan orang tua mengalami kasus mortalitas dan morbiditas lebih besar dari orang muda. Pada orang tua, perasaan depresi dan marah dapat melemahkan sistem imun yang rentan stress dan depresi. Stress dan depresi secara cepat dapat menimbulkan dan memperburuk penyakit (Fatmah, 2006).

3.2.2 Jumlah Partisipan

Sebelum melakukan penelitian, dilakukan uji alat ukur yang dilakukan di dua tempat, pertama Rumah Singgah Kanker Cancer Information Support Centre (CISC) untuk pasien berpenyakit kanker, kedua bertempat di Rumah Sakit Jantung Nasional Harapan Kita bagi pasien berpenyakit jantung. Untuk uji coba alat ukur dilakukan oleh 50 partisipan. Sampel untuk penelitian dilakukan di tempat yang sama dan populasi yang sama sebanyak 100 partisipan.

3.2.3 Teknik Sampling

Teknik yang digunakan Nonprobability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dimana setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama sebagai sampel. Teknik nonprobability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience sampling, yaitu pengambilan sampel dengan pertimbangan kemudahan. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tersebut berada

(4)

disitu atau kebetulan peneliti mengenal orang tersebut. Secara kebetulan, atau siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel (Noor, 2011).

Tempat pengambilan sampel berada di Rumah Sakit Jantung Nasional Harapan Kita dan peneliti juga berkunjung ke Rumah Singgah kanker di Cancer Information Support Center. Disana peneliti mendekati beberapa pasien untuk menawarkan kesediaan mengisi kuesioner dan pasien yang bersedia lah yang menjadi subjek peneliti.

3.3 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian noneksperimental dan korelasional-prediktif. Penelitian korelasi tidak bisa ditentukan secara pasti sebab dan akibat nya. Pada penelitian ini menggunakan dua teknik analisis. Pertama, analisis regresi linear berganda yang dilakukan sekali, dan analisis regresi linear sederhana yang dilakukan dua kali.

3.4 Alat Ukur Penelitian 3.4.1 Alat Ukur

Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen kuesioner untuk mengumpulkan data. Instrumen penelitian tersebut digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian (Sugiyono, 2012).

Setiap alat ukur menggunakan skala likert. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang

(5)

fenomena sosial. Dengan skala likert, maka variable yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen berupa pernyataan (Sugiyono, 2012).

Berikut adalah penjelasan instrumen masing-masing variabel. 3.4.1.1Alat Ukur Identitas Ego

Untuk mengukur identitas ego, peneliti menggunakan adaptasi dari alat ukur Ego Identity Process Questionnaire (EIPQ) yang dibuat oleh Marcia (1964) kemudian di perbaharui oleh Balistreri (1995). Alat ukur EIPQ mengukur dimensi eksplorasi dan komitmen yang telah dijelaskan di tinjauan pustaka dalam empat daerah ideologis (politik, agama, pekerjaan, nilai) dan empat daerah interpersonal (keluarga, pertemanan, pacaran, dan peran gender). Meskipun awal mula alat ukur ini diberikan kepada mahasiswa, Marcia menekankan dimensi eksplorasi pada alat ukur EIPQ adalah eksplorasi masa lalu dan terus-menerus sehingga dapat digunakan untuk orang dewasa. Subjek menandakan jawaban mereka dari masing-masing pernyataan pada 6 poin skala Likert. Dalam memberikan respon terhadap pernyataan-pernyataan dalam skala ini, subjek menunjukkan apakah ia: Sangat Sesuai (diberikan poin 6), Setuju (diberikan poin 5), Agak Sesuai (diberikan poin 4), Agak Tidak Sesuai (diberikan poin 3), Tidak Sesuai (diberikan poin 2) dan Sangat Tidak Sesuai (diberikan poin 1). Berikut adalah blueprint dari item skala EIPQ.

Table 3.1 Blue Print Skala Identitas Diri (EIPQ)

Dimensi Indikator Sebelum Uji Coba Setelah Uji Coba Item positif Item Negatif Item positif Item negatif Eksplorasi pekerjaan 16 20 Agama 3,18

(6)

Nilai 4 Politik 10 17 Keluarga 13 Gender 6 komitmen Pekerjaan 1,2 1,2 Pertemanan 5 3 Gender 15 9 Politik 7 Keluarga 8,9 21 4,5 11 Nilai 11,19 6,10 agama 12 14 7 8 Total 21 11

Sumber: diolah oleh peneliti

3.4.1.2 Alat Ukur Persepsi Ketidakpastian

Persepsi ketidakpastian diukur menggunakan alat ukur Mishel Uncertainty in Illness Scale-Community (MUIS-C) berjumlah 23 item yang diadaptasi dari skala Mishel Uncertainty in Illness-A (MUIS-A) yang terdiri dari 33 item. Instrumen asli yaitu MUIS-A digunakan untuk mengukur persepsi ketidakpastian pasien yang sedang menjalani perawatan inap di Rumah Sakit. Sedangkan MUIS-C diberlakukan bagi pasien yang tidak sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit atau rawat jalan. Persepsi ketidakpastian menurut Mishel, 1981 (dalam Albertsen, 2009) terdiri dari empat dimensi yaitu ambiguity, complexity, lack of information dan unpredictability. Alat ukur MUIS-C berisi 23 item dan masing – masing item pernyataan ditandakan dengan enam poin skala Likert, dari mulai Sangat Sesuai (diberikan poin 6), Sesuai (diberikan poin 5), Agak Sesuai (diberikan poin 4), Agak Tidak Sesuai (diberikan poin 3), Tidak Sesuai (diberikan poin 2) dan Sangat Tidak Sesuai (diberikan poin 1). Semakin tinggi nilai

(7)

MUIS-C, semakin tinggi persepsi ketidakpastian yang hadir. Berikut adalah blue print item kuesioner dari skala MUIS-C.

Table 3.2 Blue Print Skala Persepsi Ketidakpastian (MUIS-C)

Sumber: dioleh oleh peneliti

3.4.1.3 Alat Ukur Sikap terhadap Operasi Medis

Alat ukur yang digunakan dalam mengukur variabel ini adalah dengan menggunakan kuesioner. Sikap terhadap operasi medis diukur dengan menggunakan skala sikap (attitude scale). Metode pengungkapan sikap ini ditunjukkan dengan self-report berupa daftar pernyataan-pernyataan yang harus dijawab oleh individu yang disebut sebagai skala sikap.

Teori Thurstone menganggap sikap merupakan hanya afeksi positif atau negatif tanpa adanya komponen-komponen lain sehingga, sesuai dengan teori ini, pada perancangan skalanya aspek sikap tidak perlu diuraikan secara khusus. Dalam hal ini derajat afeksi positif atau negatif akan tampak dari respon individu setelah dikenai skala sikap. Skala sikap dibuat berdasarkan komponen-komponen sikap menurut Mar’at (1984) yang telah dijelaskan di tinjauan pustaka (Azwar, 2012).

Suatu versi metode penanyaan langsung adalah pengungkapan langsung (direct assessment) secara tertulis yang dapat dilakukan dengan menggunakan

Dimensi Sebelum uji coba Setelah uji coba

Item positif Item negatif Item positif Item negatif

Ambiguity 1,3,5,14 6,17,18 1,3,5 6,17,18 Unpredictable 8,9,20 7,10,15,22 8 7,10,14,15 Complexity 4,11,12,19 13,16 4,11,12,19 13,16 Lack of information 2 21,23 2 9,20 Total 23 20

(8)

item tunggal maupun dengan menggunakan item ganda (Ajzen, 1988). Salah satu bentuk pengungkapan langsung dengan menggunakan item ganda adalah teknik diferensi semantic.

Osgood, Suci, dan Tannebaum (1975) mengembangkan suatu cara pengukuran arti atau makna kata yang kemudian mereka sebut sebagai teknik diferensi semantik. Keunikan dari teknik ini adalah cara partisipan memberikan respon terhadap item dalam skala diferensi semantik, yang dalam hal ini partisipan tidak diminta untuk memberikan respon setuju atau tidak setuju, akan tetapi diminta langsung memberikan bobot penilaian mereka terhadap suatu stimulus menurut kata sifat yang ada pada setiap kontinum dalam skala (Azwar, 2012).

Berikut adalah blue print dari skala sikap.

Table 3.3 Blue Print Skala Sikap

Variabel Sebelum Uji Coba Sesudah Uji Coba Item

positif

Item negatif Item positif Item negatif sikap 2,3,5,11 2,5, 1,4,6,7,8,9,10 1,3,4,6,7,8,9 Total 11 9

Sumber: diolah oleh peneliti

3.4.2 Validitas & Reliabilitas Alat Ukur

Peneliti menggunakan uji validitas isi (expert judgment) yang dilakukan pada tanggal 26 dan 28 November 2013, uji korelasi butir total (corrected item total correlation) dan uji reliabilitas melalui teknik Alpha Cronbach. Kedua analisis tersebut

(9)

menggunakan program computer Statitiscal Packages for Social Science (SPSS) versi 20. Dalam pengujian alat ukur tiap variabel, menggunakan expert judgement dan validitas konstruk. Dalam hal ini setelah instrumen dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli yaitu dosen pembimbing. Ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang telah disusun itu (Sugiyono, 2012).

Setelah data ditabulasikan, maka pengujian konstruksi dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen dalam suatu faktor, dan mengkorelasikan skor faktor dengan skor total. Analisis faktor dilakukan dengan cara mengkorelasikan jumlah faktor dengan skor total. Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya 0,25 ke atas maka faktor tersebut merupakan konstruk yang kuat. Jadi berdasarkan analisis faktor itu dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut memiliki validitas konstruksi yang baik.

Reliabilitas instrumen adalah hasil pengukuran yang dapat dipercaya. Reliabilitas instrumen diperlukan untuk mendapatkan data sesuai dengan tujuan pengukuran. Untuk mencapai hal tersebut, dilakukan uji reliabilitas dengan menggunakan metode Alpha Cronbach diukur berdasarkan skala Alpha Cronbach 0 sampai 1. Item dinilai reliabel apabila nilai Alpha Cronbach yang didapatkan lebih dari 0,60. Hasil perhitungan validitas konstruk dan reliabilitas skala penelitian dijabarkan secara terperinci dala keterangan berikut:

(10)

Skala identitas ego terdiri dari dua dimensi yaitu eksplorasi dan komitmen yang dijelaskan dalam empat daerah ideologis (politik, agama, pekerjaan, nilai) dan empat daerah interpersonal (keluarga, pertemanan, pacaran, dan peran gender). Jumlah item terdiri dari 9 item unfavorable dan 12 item favorable.

Pada penelitian sebelumnya mengenai Identity Development as a Buffer of Adolscent Risk Behaviors in the Context of Peer Group Pressure and Control yang dilakukan oleh Dumas dkk di tahun 2012, untuk pembuatan alat ukur EIPQ, mereka memisahkan golongan eksplorasi dan komitmen menjadi dua skala pengukuran yang berbeda dan independent. Item-item eksplorasi dikelompokkan, begitu juga item-item komitmen, menjadi suatu kesatuan yang terpisah. Pertama, data komitmen, yang setelah dilakukan uji analisis faktor dengan korelasi item skor total dari 12 item skala komitmen didapatkan indeks korelasi berkisar antara -0.001 sampai dengan 0.629. Setelah dilakukan analisis, terdapat satu item yang <0.25 yang berarti item tersebut tidak valid, dan item tersebut harus dihilangkan. Hasil korelasi antara skor item dengan skor total dan nilai cronbach’s alpha pada skala commitment-identity EIPQ adalah sebagai berikut.

(11)

Sumber: pengolahan Data SPSS 20

Dari hasil analisa diatas, item yang harus dihilangkan karena nilai korelasi antar item-total kurang dari 0.25 adalah item nomor c7. Berdasarkan hasil analisis diperoleh 11 item valid yang terdiri dari 6 item favorable dan 4 item unfavorable setelah pengurangan satu item yang tidak valid. Hasil korelasi kedua antara skor item dengan skor total dan nilai cronbach’s alpha setelah penghapusan item yang tidak valid pada skala commitment-identity EIPQ adalah sebagai berikut.

Table 3.5 Item Total Statistik Identitas Ego Komitmen Urutan

Nomor

Nilai Corrected item-total Correlation Nilai Cronbach Alpha (α) c1 .465 .777 c2 .250 .798 c5 .529 .773 c7 .001 .820 c8 .517 .776 c9 .629 .764 c11 .275 .796 c12 .480 .775 c14 .601 .761 c15 .515 .774 c19 .583 .765 c21 .550 .767 Urutan Nomor

Nilai Corrected item-total Correlation Nilai Cronbach Alpha (α) c1 .402 .824 c5 .532 .811 c8 .543 .812 c9 .664 .799 c11 .261 .838 c12 .484 .815 c14 .664 .794

(12)

Sumber: Pengolahan Data SPSS 20

Data kedua dari skala identitas ego EIPQ, adalah eksplorasi. Setelah dilakukan uji analisis faktor dengan korelasi item skor total dari 12 item skala eskplorasi didapatkan indeks korelasi berkisar antara -0.201 sampai dengan 0.215. Indeks cronbach’s alpha yang didapatkan berkisar antara 0.073 sampai dengan 0.324. Dari hasil data pengujian item tersebut dapat disimpulkan jika tidak ada satupun item yang reliabel dan valid. Maka skala eksplorasi identitas EIPQ ini gugur dan tidak digunakan dalam penelitian. Berikut adalah hasil korelasi antara skor item dengan skor total dan nilai cronbach’s alpha pada skala exploration-identity EIPQ adalah sebagai berikut.

Table 3.6 Item Total Statistik Identitas Ego (Eksplorasi)

Sumber: Pengolahan Data SPSS 20

3.4.2.2 Persepsi Ketidakpastian c15 .541 .811 c19 .606 .802 c21 .567 .807 c1 .402 .824 Urutan Nomor

Nilai Corrected item-total Correlation Nilai Cronbach Alpha (α) e3 .172 .090 e4 -.007 .204 e6 .068 .172 e10 .206 .073 e13 -.201 .324 e16 .112 .140 e17 .185 .104 e18 .215 .072 e20 -.123 .289

(13)

Validitas konstruk didukung melalui faktor analisis yang dibangun oleh Mishel (1982) menunjukkan empat struktur faktor orisinil yang terdiri dari: ambiguity, complexity, lack of information, dan unpredictability (Albertsen, 2009). Alat ukur persepsi ketidakpastian menggunakan skala MUIS-C, yaitu adaptasi dari MUIS-A yang berjumlah 23 item. Jumlah item terdiri dari 12 item favorable dan 11 item unfavorable. Setelah dilakukan uji analisis faktor dengan korelasi item skor total dari 23 item persepsi ketidakpastian didapatkan indeks korelasi berkisar antara -0.060 sampai dengan 0.651. Setelah dilakukan analisis, terdapat tiga item yang kurang dari 0.25 yang berarti item tersebut tidak valid, dan item-item tersebut harus dihilangkan. Hasil korelasi antara skor item dengan skor total dan nilai cronbach’s alpha pada skala persepsi ketidakpastian adalah sebagai berikut.

Table 3.7 Item Total Statistik Identitas Persepsi Ketidakpastian Urutan

Nomor

Nilai Corrected item-total Correlation Nilai Cronbach Alpha (α) u1 .536 .860 u2 .398 .865 u3 .526 .861 u4 .390 .865 u5 .397 .865 u6 .604 .860 u7 .576 .860 u8 .371 .867 u9 -.060 .877 u10 .457 .863 u11 .392 .865 u12 .503 .862 u13 .577 .859 u14 .107 .874 u15 .487 .862

(14)

Sumber: Pengolahan Data SPSS 20

Dari hasil analisa diatas, item-item yang harus dihilangkan karena nilai korelasi antar item-total kurang dari 0.25 adalah item nomor u9, u14 dan u20. Berdasarkan hasil analisis diperoleh 20 item valid yang terdiri dari 9 item favorable dan 11 item unfavorable setelah pengurangan 3 item yang tidak valid. Hasil korelasi kedua antara skor item dengan skor total dan nilai cronbach’s alpha setelah penghapusan item yang tidak valid pada skala persepsi ketidakpastian adalah sebagai berikut.

Table 3.8 Item Total Statistik Persepsi Ketidakpastian Urutan

Nomor

Nilai Corrected item-total Correlation Nilai Cronbach Alpha (α) u1 .534 .884 u2 .432 .887 u3 .491 .885 u4 .322 .891 u5 .410 .887 u6 .607 .883 u7 .588 .883 u8 .380 .890 u10 .502 .885 u11 .350 .889 u12 .408 .887 u13 .659 .880 u16 .490 .862 u17 .474 .863 u18 .642 .858 u19 .651 .856 u20 .195 .871 u21 .701 .858 u22 .520 .861 u23 .419 .864

(15)

u15 .550 .883 u16 .506 .885 u17 .514 .885 u18 .651 .881 u19 .640 .880 u21 .729 .880 u22 .552 .883 u23 .525 .884

Sumber: Pengolahan Data SPSS 20 3.4.2.3 Sikap terhadap Operasi

Skala sikap yang sudah dibuat berjumlah 11 item yang terdiri dari 4 item favorable dan 7 item unfavorable. Setelah dilakukan uji analisis faktor dengan korelasi item skor total dari 11 item didapatkan indeks korelasi berkisar antara 0.152 sampai dengan 0.715. Setelah dilakukan analisis, terdapat dua item kurang dari 0.25 yang berarti item tersebut tidak valid, dan item-item tersebut harus dihilangkan. Hasil korelasi antara skor item dengan skor total dan nilai cronbach’s alpha pada skala sikap adalah sebagai berikut.

Table 3.9 Item Total Statistik Sikap Pasien terhadap Operasi Medis

Sumber: Pengolahan Data SPSS 20 Urutan

Nomor

Nilai Corrected item-total Correlation Nilai Cronbach Alpha (α) s1 .587 .794 s2 .285 .819 s3 .152 .830 s4 .408 .814 s5 .463 .806 s6 .533 .801 s7 .403 .813 s8 .732 .791 s9 .610 .792 s10 .603 .795 s11 .715 .786

(16)

Dari hasil analisa diatas, item-item yang harus dihilangkan karena nilai korelasi antar item-total kurang dari 0.25 adalah item nomor s2 dan s3. Berdasarkan hasil analisis diperoleh 9 item valid yang terdiri dari 2 item favorable dan 7 item unfavorable setelah pengurangan dua item yang tidak valid. Hasil korelasi kedua antara skor item dengan skor total dan nilai cronbach’s alpha setelah penghapusan item yang tidak valid pada skala sikap adalah sebagai berikut.

Table 3.10 Item Total Statistik Sikap Pasien terhadap Operasi Medis

Sumber: Pengolahan Data SPSS 20 3.5 Prosedur

3.5.1 Persiapan Penelitian

Dalam proses pembuatan alat ukur identitas ego, peneliti adaptasi dari alat ukur orisinil EIPQ (Ego Identity Personal Questionnaire) dengan bantuan expert judgement. Proses kedua adalah pembuatan alat ukur persepsi ketidakpastian menggunakan skala MUIS-C yang diadaptasi dari MUIS-A. Proses terakhir adalah pembuatan alat ukur sikap sesuai dengan teori Ajzen dan Fishbein, 1980 yang membuat pertanyaan sikap pada teknik pengukuran langsung (direct) peneliti menanyakan langsung keseluruhan sikap

Urutan Nomor

Nilai Corrected item-total Correlation Nilai Cronbach Alpha (α) s1 .602 .814 s4 .409 .836 s5 .503 .824 s6 .590 .815 s7 .372 .838 s8 .705 .813 s9 .657 .807 s10 .587 .816 s11 .674 .809

(17)

yang ada pada responden mengenai suatu perilaku. Item pernyataan pengukuran sikap direct menggunakan dua kutub jawaban yang berlawanan seperti baik dan buruk. Dalam pembuatan alat ukur sikap langsung ini tidak diperlukan pembuatan elisitasi beliefs.

3.5.2 Pelaksanaan Penelitian

Pada saat penelitian, pertama-tama peneliti membuat alat ukur dari masing-masing variabel sesuai dengan teori dan indikator yang ada. Sebelum dilakukan uji alat ukur, semua item dilakukan uji validitas isi yang di evaluasi oleh expert judgement. Setelah item dievaluasi oleh ahli, pilot study dilakukan kepada sampel uji. Data yang didapatkan di uji validitas dan reliabilitasnya.

Setelah uji validitas dan reliabilitas pada data yang didapatkan dari hasil uji alat ukur, item yang tidak valid dan reliabel dihapus. Peneliti menyusun item-item kembali setelah penghapusan untuk di penelitian berikutnya. Peneliti menyebarkan kuesioner di rumah singgah kanker Cancer Information Support Centre (CISC) dan Rumah Sakit Jantung Nasional Harapan Kita. Pasien yang bersedialah yang akan dijadikan subjek penelitian, dan pasien yang lemah tidak mampu mengisi kuesioner meminta peneliti mengisi dan membacakan.

3.5.3 Teknik Pengolahan Data

Uji analisis pada penelitian ini, digunakan dua teknik yaitu analisis regresi linear berganda dan sederhana. Analisis regresi digunakan terutama untuk tujuan peramalan, di mana dalam model tersebut ada sebuah variabel bebas dan variabel terikat. Pertama

(18)

adalah uji analisis regresi linear berganda, untuk melihat apakah identitas ego dan persepsi ketidakpastian secara bersama mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis. Pada masalah tersebut digunakan teknik analisis regresi linear berganda karena ada dua variabel prediktor (variabel bebas) yang digunakan dalam memprediksi variabel terikat.

Analisis regresi sederhana adalah suatu analisis untuk mencari tahu apakah variabel bebas (X) mampu memprediksikan variabel terikat (Y) atau tidak. Analisis regresi sederhana dilakukan jika pengukuran pengaruh ini melibatkan satu varaibel bebas (X) dan variable terikat (Y). Analisis ini juga digunakan untuk mengetahui arah prediksi antara variable bebas dengan variable terikat apakah positif atau negative dan untuk memprediksikan nilai dari varibel dependen apabila nilai variable independen mengalami kenaikan atau penurunan.

Dalam penelitian ini, terdapat dua regresi linear sederhana, karena terdapat dua kali prediksi pada satu variable bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). kedua tahap analisa regresi yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Analisa regresi linear sederhana antara variabel prediktor yaitu identitas komitmen terhadap variable respon yaitu persepsi ketidakpastian.

2. Analisa regresi linear sederhana antara variabel prediktor yaitu persepsi ketidakpastian terhadap variabel respon yaitu sikap pasien terhadap operasi medis.

Referensi

Dokumen terkait

Perancangan software pada miniatur rubber tyred gantry crane ini berupa pembuatan sebuah algoritma pengontrolan gerak motor DC untuk naik dan turun,motor stepper untuk

Pada pusat biaya terdapat beberapa kelemahan yaitu adanya situasi dan kondisi yang berubah-ubah seperti kenaikan harga bahan bakar gas, perubahan kurs dollar yang

Pada umumnya di dalam Gedung di buatkan kolam dan bak-bak air (Burung jatuh / mati di air).. Hal ini tidak akan bisa membuat suhu dan kelembaban

sebagai komunitas Copler, strategi dan metode dakwah Copler Community, lebih cenderung dengan tindakan-tindakan (dakwah bil-haal), Copler Community mendekatai

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Hubungan Spiritualitas dengan Penampilan Peran Lansia di Masyarakat Wilayah Posyandu Alamanda 99

Berdasarkan berbagai penelitian dengan memanfaatkan tanah andisol, lempung alam dan abu sekam, maka pada penelitian ini dilakukan pengembangan penjerap berupa campuran

Penelitian ini membahas tentang Guru Profesional Persfektif Pendidikan Islam (Telaah Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw). Mengingat guru sebagai tenaga pendidik

Pada dasarnya jaringan LAN (Local Area Network) di DisHub KomInfo Pemprov SumSel mempunyai koneksi jaringan secara riil antara dua titik yang akan berhubungan antar