• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PEMBAHASAN. dilakukan mengenai perbandingan pengaruh tabata workout dengan intermittent

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VI PEMBAHASAN. dilakukan mengenai perbandingan pengaruh tabata workout dengan intermittent"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

64 BAB VI PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dijelaskan interpretasi hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai perbandingan pengaruh tabata workout dengan intermittent fasting diet terhadap penurunan berat badan pada remaja overweight di SMA Negeri 2 Malang. Pada bab ini dijabarkan interpretasi dan diskusi hasil dengan membandingkan hasil yang telah ditemukan dalam penelitian dengan tinjauan pustaka atau teori yang didapatkan, keterbatasan penelitian dan implikasi fisioterapi dalam penelitian yang dilakukan.

A. Interpretasi dan Hasil Diskusi

1. Pengaruh Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Pada penelitian ini responden berjumlah 52 orang remaja yang mengalami overweight. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden dalam penelitian ini berusia 16 sampai 17 tahun yang merupakan kelompok usia remaja pertengahan. Hasil tersebut sesuai dengan pernyataan oleh Arisman (2009) bahwa salah satu kelompok usia yang berisiko terhadap terjadinya overweight adalah kelompok usia remaja ke dewasa awal.

Menurut Riskesdas (2013) menyatakan peningkatan overweight dan obesitas terjadi pada remaja. Prevalensi kegemukan pada remaja yang berusia 16-18 yaitu 1,4 persen. Sedangkan pada tahun 2013 prevalensi gemuk pada remaja yang berusia 16-18 tahun sebanyak 7,3 persen yang terdiri dari 5,7 persen gemuk dan 1,6 persen obesitas. Hasil tersebut sesuai juga dengan pada World Health Organization (2017)

(2)

menjelaskan bahwa prevalensi overweight dikalangan remaja berusia 15-19 tahun mengalami peningkatan secara signifikan dari 4 persen di tahun 1975 meningkat menjadi 18 persen pada tahun 2016.

Menurut Rahmawati (2015) Usia remaja adalah salah satu faktor terjadinya masalah overweight karena kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak baik. Amelia (2009) menjelaskan lemak tubuh akan meningkat saat usia remaja baik pada laki-laki maupun perempuan. Lemak tubuh dapat meningkat dikarenakan semakin bertambahnya usia seseorang maka secara tidak sadar semakin berkurang pula aktivitas fisik yang dilakukan dan semakin bertambahnya usia maka metabolisme didalam tubuh akan menurun dan dapat mempengaruhi berat badan.

2. Pengaruh Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Pada hasil penelitian ditemukan bahwa sebanyak 17 responden berjenis kelamin laki-laki dan 35 responden berjenis kelamin perempuan. Jenis kelamin cukup berpengaruh pada tingkat kegemukan seseorang. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan hormon yang di miliki antara laki-laki dan perempuan. Perempuan memiliki hormon estrogen yang dimana membutuhkan lemak untuk bekerja. Semakin bertambahnya usia akan terjadi perubahan atau menurunnya hormon estrogen yang menyebabkan terjadinya penumpukan lemak (Inandia, 2012; dalam Prashida, 2017).

Makaryani (2013) menguatkan teori bahwa overweight lebih umum terjadi pada perempuan. Overweight yang terjadi pada wanita

(3)

dapat disebabkan salah satunya karena faktor endokrin yang muncul. Hasyim (2010) memperkuat bahwa perempuan juga memiliki 5-10% resting metabolic rate yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini diartikan bahwa pembakaran kalori pada perempuan lebih kecil atau lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Hal ini terjadi dikarenakan massa otot perempuan lebih sedikit atau lebih kecil dibandingkan massa otot pada laki-laki akibat dari pengaruh hormon. Sejalan dengan pendapat tersebut, Novitasary (2013) menjelaskan bahwa pada perempuan, berkurang atau sedikitnya aktivitas fisik sangat mempengaruhi kesehatan. Berkurangnya aktivitas namun asupan makanan lebih banyak maka dapat menyebabkan penimbunan lemak yang dapat mengakibatkan kegemukan.

Menurut Asil, et al., (2014) IMT dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah jenis kelamin, laki-laki lebih banyak mengalami overweight dibandingkan perempuan. Distribusi lemak tubuh pada laki-laki cenderung mengalami kegemukan daripada perempuan. Selain jenis kelamin, berdasarkan beberapa penelitian menjelaskan bahwa faktor genetik juga dapat berpengaruh terhadap berat badan seseorang. Pola makan, makanan fast food merupakan faktor penyebab kelebihan berat badan karena memiliki kandungan lemak dan gula yang tinggi.

(4)

3. Pengaruh Karakteristik Responden Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT)

Dalam penelitian ini didapatkan data IMT dari total 52 responden memiliki Indeks Massa Tubuh dengan kategori overweight hingga obesitas II yaitu dengan rata-rata nilai IMT sebesar 24,8 Kg/m2.

Penelitian yang dilakukan oleh Adriani, (2016) mengatakan bahwa semakin tinggi nilai IMT maka semakin rendah aktivitas fisik yang dilakukan atau semakin rendah nilai IMT maka semakin tinggi aktivitas yang dilakukan. Hasil ini sesuai dengan pernyataan dari WHO (2011) yang menyatakan bahwa semakin tinggi IMT maka semakin tinggi tingkat kegemukan dan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi IMT maka cenderung seseorang semakin memiliki berat badan yang berlebih.

4. Pengaruh Intervensi Tabata Worout terhadap Penurunan Berat Badan pada Remaja Overweight di SMA Negeri 2 Malang

Dari hasil uji Paired T-test setelah diberikan intervensi tabata workout didapatkan hasil bahwa kurang dari nilai alfa yang dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, hal ini dapat diartikan bahwa adanya pengaruh tabata workout terhadap penurunan berat badan pada remaja overweight di SMA Negeri 2 Malang.

Overweight atau obesitas menurut World Health Organization (WHO), (2017) merupakan kondisi dimana terjadi abnormal dan berlebihnya akumulasi jumlah lemak pada tubuh yang dapat mengganggu kesehatan. Penyebab yang mendasar terjadinya

(5)

overweight dan obesitas adalah ketidakseimbangan kalori makanan yang masuk dengan kalori yang dikeluarkan. Peningkatan berat badan bisa terjadi karena kurangnya aktivitas seseorang dan terdapat perubahan kontraksi otot.

Penimbuan lemak didalam tubuh dapat terjadi karena adanya peningkatan insulin yang dimana merupakan hormon yang sangat berkaitan dengan metabolisme tubuh salah satunya karbohidrat. Insulin diproduksi oleh sel beta di pankreas, dan hormon tersebut akan dikeluarkan (diekskresikan) apabila terdapat peningkatan kadar gula darah. Ketika seseorang mengkonsumsi makanan dengan mengandung karbohidrat yang tinggi secara berlebih maka gula darah akan mengalami peningkatan sehingga insulin akan diproduksi lebih banyak dan makanan akan disimpan sebagai cadangan makanan atau lemak didalam tubuh (Effendi, 2013).

Penurunan berat badan dapat disebabkan karena meningkatnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh sampel yang awalnya hanya melakukan olahraga seminggu sekali menjadi 3 kali seminggu dengan intensitas yang sedang ke tinggi dimana sumber energi yang dibutuhkan berasal dari pembakaran cadangan lemak pada tubuh. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Lyne (2001) yang menjelaskan bahwa latihan yang dilakukan pada intensitas rendah atau sedang dalam waktu 30 menit maka akan membakar lemak dan apabila dilakukan dengan intensitas tinggi dalam waktu kurang dari 30 menit akan membakar gula.

(6)

Latihan Tabata Workout adalah salah satu jenis HIIT yang dimodifikasi dalam kondisi tertentu yaitu overweight atau obesitas. Hal ini dapat dikarenakan tabata workout dapat menekan pembakaran kalori yang lebih banyak hingga 6-15% lebih kalori (energy expenditure) yang dikeluarkan selama latihan (Kravitz, 2014). Tabata workout di desain untuk meningkatkan metabolisme tubuh saat pembakaran lemak serta dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan aerobik maupun anaerobik, meningkatkan pembakaran lemak dalam waktu yang relatif singkat. Tabata workout dapat digunakan untuk meningkatkan kebugaran aerobik dan kebugaran anaerobik, penurunan berat badan dan lemak, memperbaiki sensitivitas insulin dan regulasi glukosa dalam waktu yang sangat singkat (Olson, 2014).

Dalam melakukan tabata workout atau aktifitas fisik dibutuhkan energi yang berasal dari pembakaran karbohidrat, lemak dan protein sesuai dengan kerja otot dan intensitas pada latihan. Pembakaran karbohidrat sebagai sumber energi yang digunakan untuk latihan yang berintensitas tinggi atau latihan yang berat. Latihan intensitas tinggi dengan durasi yang pendek penyediaan energinya melalui sistem anaerobik disebut sebagai latihan anaerobik. Setelah melakukan HIIT atau latihan dengan intensitas tinggi dapat terjadi proses peningkatan oksidasi lemak yang berupa hasil dari sejumlah adaptasi termasuk peningkatan volume mitokondria dan perubahan beberapa langkah regulasi lipolysis jaringan adipose triacylglycerol (TG) menjadi asam lemak. Hasil dari latihan tabata workout yang berkontribusi lebih besar

(7)

dalam proses pengeluaran energi adalah berasal dari asam lemak yang disimpan dalam jaringan adipose dan intramuscular triacylglycerol (Talanian, 2006 dalam Fachri, 2018). Hal tersebut sejalan dengan penelitian Trapp (2007) bahwa efek yang mendasari penurunan lemak dan berat badan dalam tubuh dari melakukan latihan HIIT disebabkan karena jenis dari latihan ini dapat meningkatkan katekolamin secara signifikan.

5. Pengaruh Intervensi Intermittent Fasting Diet terhadap Penurunan Berat Badan pada Remaja Overweight di SMA Negeri 2 Malang

Pada penelitian ini dari hasil uji Paired T-test setelah diberikan intervensi intermittent fasting diet didapatkan hasil bahwa nilai kurang dari nilai alfa sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, hal tersebut dapat diartikan bahwa adanya pengaruh intermittent fasting diet terhadap penurunan berat badan pada remaja overweight di SMA Negeri 2 Malang.

Intermittent fasting diet dapat digunakan pada seseorang yang mengalami overweight maupun obesitas dikarenakan pada intermittent fasting diet terjadi pengaturan pada pola makan seseorang dan penurunan asupan atau kalori makanan yang dibatasi. Secara teori, penurunan berat badan dapat terjadi karena kebutuhan energi pada tubuh yang tidak terpenuhi dan adanya pembatasan kalori sehingga tubuh akan membakar cadangan makanan atau energi yaitu lemak (Nabawiyah, 2019). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Keogh et al., 2014 yang menjelaskan mengenai intermittent fasting diet dapat

(8)

dipergunakan bagi remaja atau seseorang yang akan melakukan penurunan berat badan. Intermittent fasting diet atau puasa berselang memiliki efektifitas yang sama dengan pengurangan asupan makanan secara berkesinambungan.

Kalori merupakan satuan dasar yang dapat digunakan untuk menyatakan energi. Masukan energi didalam tubuh diperoleh dari intake kalori yang masuk melalui sumber makanan yang dikonsumsi. Energi yang dihasilkan dari proses biokimiawi makanan yang masuk di dalam tubuh akan digunakan oleh sel dalam bentuk ATP untuk dapat melakukan kerja biologis. Energi tersebut dapat disimpan dalam bentuk glikogen (di hati dan otot) dan triasilgliserol (di jaringan adiposa) dan dipergunkaan kembali sebagai bahan bakar tubuh ketika tidak adanya proses pencernaan dan penyerapan makanan. Penumpukan cadangan energi yang disimpan oleh jaringan adiposa dapat menyebabkan kelebihan berat badan apabila intake kalori tidak seimbang dengan jumlah energi yang digunakan (Sherwood, 2011).

Penelitian Klempel et al.,2012 mengungkapkan bahwa intermittent fasting diet dapat mengurangi berat badan hingga 7% pada orang dengan berat badan berlebih atau obesitas. Pada penelitian ini juga kolesterol LDL dan konsentrasi trigliserida juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 10% dan 17%. Strategi pada intermittent fasting diet ini umumnya melibatkan pembatasan kalori dengan 75-90% dari kebutuhan kalori pada satu atau dua hari per minggu. Intermittent fasting diet dapat menghasilkan efek fisiologis terhadap tubuh berupa

(9)

terjadinya penurunan insulin, LDL, trigliserida dan low density lipoprotein. Ketika seseorang melakukan pembatasan kalori terhadap tubuhnya maka insulin didalam tubuh dapat berkurang dan apabila pembatasan kalori dilakukan secara terus menerus maka akan semakin sedikit energi yang didapatkan dari makanan yang menyebabkan tubuh secara otomatis mengambil atau membakar cadangan makanan atau lemak.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Patterson (2015) menjelaskan telah melakukan pembatasan energi 85% pada intermittent fasting diet dengan hasil terjadi penurunan lemak, leptin dan resistin, peningkatan adiponektin dan penurunan berat badan yang signifikan berkisar 3,2%.

6. Analisa Perbandingan Pengaruh Tabata Workout dengan Intermittent Fasting Diet terhadap Penurunan Berat Badan pada Remaja Overweight di SMA Negeri 2 Malang

Teknik Tabata workout pada penelitian ini adalah latihan dilakukan dengan durasi 20 menit dan dilakukan 3 kali dalam seminggu. Frekuensi yang digunakan oleh tabata yaitu 20 detik latihan dengan 10 detik istirahat yang diulang sebanyak 2 kali setiap segmen. Pada tabata workout memiliki empat segmen yang dimana masing-masing segmen mempunyai empat gerakan yang dilakukan sedangkan teknik yang dilakukan pada intermittent fasting diet yaitu dengan penggabungan metode 5:2 dengan 16/8 yang dimana 5 hari pembatasan kalori dan 2 hari berpuasa. Pada saat berpuasa menggunakan metode

(10)

16/8 yang dimana individu dapat mengkonsumsi makanan dalam waktu yang ditentukan yaitu 8 jam dapat digunakan untuk mengkonsumsi makanan dan 16 jam dilakukan puasa (Patterson & Sears, 2017).

Tabata workout di desain untuk meningkatkan metabolisme tubuh saat pembakaran lemak serta dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan aerobik maupun anaerobik, meningkatkan pembakaran lemak dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan latihan yang berintensitas sedang dan tinggi (Olson, 2014), berbeda dengan Intermittent fasting diet atau puasa berselang yaitu memiliki efektifitas yang sama dengan pengurangan asupan makanan secara berkesinambungan dan melibatkan pembatasan kalori dengan 75-90% dari kebutuhan kalori pada satu atau dua hari per minggu yang mdapat menyebabkan kolesterol LDL dan konsentrasi trigliserida mengalami penurunan masing-masing sebesar 10% dan 17% (Keogh, et al., 2014)

Latihan dengan intensitas tinggi dapat terjadi proses peningkatan oksidasi lemak berupa proses lipolysis jaringan adipose triacylglycerol menjadi asam lemak dan digunakan sebagai energi untuk proses latihan tabata. Dan juga melibati metabolisme tubuh, selama latihan tenaga yang banyak digunakan pertama adalah glukosa kemudian terjadi penurunan glukosa sehingga energi yang akan digunakan adalah lemak. Yang dimana trigliserida (penyimpanan lemak) masuk ke pembuluh darah dan terpecah menjadi gliserol dan dibuang ke otot menjadi energi Sedangkan ketika seseorang melakukan pembatasan kalori terhadap tubuhnya maka insulin didalam tubuh dapat berkurang, secara otomatis

(11)

tubuh akan menggunakan hasil dari metabolisme tubuh disimpan ke dalam ATP dan dijadikan sebagai sumber energi. Apabila pembatasan kalori dilakukan secara terus menerus maka akan semakin sedikit energi yang didapatkan dari makanan yang menyebabkan tubuh akan mengambil atau membakar cadangan makanan atau lemak. Pada saat berpuasa akan terjadi penurunan asupan cairan sehingga seseorang akan kekurangan cairan dan terjadi peningkatan osmolaritas darah yang merangsang hipofisis posterior untuk memproduksi Hormon Anti Diuretik (ADH). Hormon tersebut dapat meningkatkan reabsorbsi air yang mengakibatkan volume urin yang diproduksi akan sedikit (Klempel, et al.,2012).

Grafik 6.1 Selisih Perbandingan Tabata Workout dengan Intermittent Fasting Diet terhadap Penurunan Berat Badan

Menurut Grafik 6.1 dari hasil analisa data dari nilai rata-rata selisih penurunan berat badan sebelum dan sesudah diberikan intervensi tabata workout didapatkan hasil nilai rata-rata 1,35 sedangkan pada kelompok intervensi intermittent fasting diet didapatkan nilai rata-rata 1,8. Dari hasil analisa tersebut menunjukan bahwa kedua intervensi memiliki selisih yaitu 0,3. Akan tetapi dengan demikian didapatkan nilai signifikansi dengan menggunakan uji independent t-test setelah

1.35

1.8

Tabata Workout Intermittent Fasting Diet

(12)

melakukan intervensi tabata workout dan intermittent fasting diet dengan program SPSS yaitu 0,835 atau 0,835>0,05 yang dapat disimpulkan H1 ditolak yang diartikan bahwa tidak ada perbandingan pengaruh tabata workout dengan intermittent fasting diet terhadap penurunan berat badan pada remaja overweight di SMA Negeri 2 Malang.

B. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan yang peneliti alami yakni peneliti tidak dapat mengontrol hal yang dapat mempengaruhi hasil penelitian contohnya aktivitas fisik atau cheating day yang dilakukan oleh responden tanpa sepengetahuan peneliti.

C. Implikasi Fisioterapi

Hasil dari penelitian perbandingan pengaruh tabata workout dengan intermittent fasting diet terhadap penurunan berat badan pada remaja overweight di SMA Negeri 2 Malang selama 6 minggu yaitu 17 Januari hingga 28 Februari 2020 dengan latihan yang dilakukan sebanyak 3 kali perminggu dan intermittent fasting yang dilakukan degan metode 5 hari pembatasan kalori dengan 2 hari puasa didapatkan hasil bahwa kedua intervensi memiliki pengaruh terhadap penurunan berat badan, adapun pada penelitian ini tidak didapatkan perbandingan pengaruh antara kedua intervensi yang dapat dikarenakan efek fisiologis dalam tubuh yang sama-sama dominan.

Hasil dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi sebagai salah satu intervensi dalam penurunan berat badan pada remaja

(13)

overweight. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Fisioterapi yaitu khususnya untuk remaja yang memiliki berat badan berlebih dapat menggunakan kedua intervensi pada penelitian ini untuk penurunan berat badan.

Gambar

Grafik 6.1 Selisih Perbandingan Tabata Workout dengan Intermittent  Fasting Diet terhadap Penurunan Berat Badan

Referensi

Dokumen terkait

Kecerdasan naturalis adalah kecerdasan yang dimiliki oleh individu terhadap tumbuhan, hewan dan lingkungan alam sekitarnya. individu yang memiliki kecerdasan

Apabila hal-hal penting dalam perjanjian telah disepakati maka para pihak harus hadir tanpa diwakili untuk mendatangani perjanjian simpan pinjam, proses penandatangan perjanjian

6WDWXV WDQDK KDVLO UHNODPDVL SDQWDL DGDODK WDQDK QHJDUD 6WDWXV KDN DWDV WDQDK \DQJ GLSHUROHK SHUXVDKDDQ VZDVWD \DQJ EHUDVDO GDUL UHNODPDVL SDQWDL DGDODK +DN *XQD %DQJXQDQ DWDX +DN

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah hasil belajar siswa SMP Negeri 220 Jakarta Barat dalam

Proses pemanasan yang bertujuan untuk memperpanjang umur simpan bahan pangan adalah pengukusan, pasteurisasi dan sterilisasi ( Haris dalam Devananda 2007).

Wilayah kecamatan Genuk yang beresiko mengalami kejadian diare karena kualitas air bersih yang tidak memenuhi syarat sebanyak 91,44%, karena kondisi sarana pembuangan

Sebagaimana disebutkan dalam penelitian bahwa pekerjaan berpengaruh dalam stressor seseorang yang memiliki aktivitas diluar rumah sehingga mendapat pengaruh yang