• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMODELAN MODIFIED COOPERATIVE WEB CACHE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PEMODELAN MODIFIED COOPERATIVE WEB CACHE"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

61

BAB IV

PEMODELAN

MODIFIED COOPERATIVE WEB CACHE

IV.1 Metode Pemodelan Modified Cooperative Web Cache

Metode pemodelan yang digunakan untuk membentuk modified cooperative web

cache dapat dilihat pada gambar IV-1. Langkah pertama untuk menggambarkan

model modified cooperative web cache adalah melakukan identifikasi kebutuhan yang harus diwujudkan pada fungsi modified cooperative web cache. Setelah identifikasi kebutuhan, maka akan dilakukan identifikasi aktor yang terlibat dalam

modified cooperative web cache dan perannya. Kemudian akan dilakukan

identifikasi siklus hidup berdasarkan fungsi dasar cooperative web cache. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, maka dibuatlah model dari cooperative

web cache.

Gambar IV-1. Metode pembentukan model modified cooperative web cache

IV.2 Identifikasi Kebutuhan

Ide dasar dari pembentukan model modified cooperative web cache adalah mengurangi trafik ke internet yang disebabkan oleh proses cooperative dengan meningkatkan peran koordinator sebagai penyimpan informasi keberadaan sebuah

(2)

62

objek pada sibling web cache yang lain. Sesuai dengan rekomendasi yang ada pada bab III.4.3.7, maka kebutuhan penting terkait dengan model modified

cooperative web cache adalah:

a. Menambah peran koordinator sebagai penyimpan informasi objek dari seluruh anggota cooperative web cache.

b. Penambahan mekanisme untuk mengetahui validitas keberadaan objek pada sibling web cache.

c. Mekanisme untuk mengetahui validitas keberadaan objek harus dirancang sedemikian rupa agar tidak menambahkan trafik menuju internet yang tidak signifikan.

d. Sistem sedapat mungkin tidak terpengaruh kinerjanya dengan variabel jumlah sibling web cache.

Model modified cooperative web cache yang dibangun harus tetap memiliki tujuan sebagai berikut:

a. Meningkatkan hit rate.

b. Mengurangi delay waktu akses.

c. Mengurangi trafik yang menuju ke internet karena proses cooperative.

IV.3 Identifikasi Aktor dan Peran

Tabel IV-1 menyatakan aktor dan peran yang terlibat pada modified cooperative

web cache. Pada modified cooperative web cache ada tambahan aktor yaitu

koordinator. Koordinator akan berperan sebagai pengelola proses cooperative. Koordinator berperan utama dalam mengurangi trafik dan pembagian beban proses cooperative.

(3)

63

Tabel IV-1. Aktor dan peran pada modified cooperative web cache

Aktor   Peran  

Client   - Mengirimkan request HTTP

- Menerima response kembali dari proxy. Proxy   - Menerima request HTTP dari client.

- Mencari objek ke local cache.

- Jika objek tidak ditemukan pada local cache, membentuk pesan request objek ke koordinator.

- Menerima response meta data lokasi objek dari koordinator, jika objek ditemukan di sibling web cache.

- Meneruskan request ke sibling web cache yang ditunjuk koordinator untuk mengambil objek yang diinginkan.

- Menerima response HTTP berisi objek dari koordinator, jika objek tidak ditemukan di sibling web cache.

- Mengirimkan response HTTP ke client.

- Memutuskan apakah ingin menyimpan objek atau tidak

- Jika memutuskan ingin menyimpan objek, maka mengirim pesan commit ke koordinator.

Local Cache   - Menerima request HTTP dari proxy. - Mengirimkan response kembali ke proxy.

- Menyimpan objek web yang merupakan response dari web server jika diperlukan.

Koordinator  - Menerima request meta data dari web cache.

- Mengirimkan response meta data jika objek yang diinginkan ditemukan di sibling web cache.

- Jika tidak ditemukan di sibling web cache, meneruskan request ke web server aslinya atau ke parent web cache jika local cache atau sibling web cache tidak memiliki objek yang diminta.

Parent Web  Cache /   Web Server  

- Menerima request HTTP dari koordinator

- Mengirimkan response HTTP kembali ke koordinator Sibling Web 

Cache  

- Menerima pesan request HTTP dari web cache sibling. - Mengirimkan pesan response HTTP ke web cache sibling.

(4)

64

IV.4 Identifikasi Artifak

Pada proses cooperative membutuhkan artifak yang akan digunakan oleh koordinator dalam memantau dan mengetahui apa yang telah dan apa yang sedang terjadi dalam proses cooperative. Koordinator akan berperan sebagai pengelola proses cooperative. Koordinator berperan utama dalam mengurangi trafik dan pembagian beban proses cooperative. Koordinator akan memutuskan bagaimana

request dari web cache diproses sehingga menghasilkan response yang sesuai dan

dapat dikirimkan ke client.

Artifak pada cooperative web cache tersebut adalah: a. Templates: properti hasil dari kerja cooperative.

Tujuan cooperative web cache adalah sebagai berikut:

i. Menemukan informasi keberadaan sebuah objek yang berada pada

sibling web cache.

Untuk menemukan informasi keberadaan sebuah objek, web cache harus mengirimkan pesan query ICP ke koordinator. Koordinator akan mengirimkan reply ICP kembali ke web cache, jika objek ditemukan. Jika tidak ditemukan, koordinator akan meneruskan

request obje ke parent web cache atau ke web server.

ii. Efisiensi tempat penyimpanan objek web.

Karena pada cooperative web cache dapat saling berbagi web

object, maka objek yang sudah tersimpan pada sibling web cache

tidak perlu disimpan ulang pada cache lokal. Sehingga cache lokal dapat digunakan untuk menyimpan objek lain yang belum disimpan pada sibling web cache. Objek yang perlu disimpan adalah objek yang diperoleh dari koordinator. Objek yang diterima dari sibling web cache, tidak perlu disimpan.

b. Maps: spesifikasi interdependensi antar task maupun sumber daya dalam skenario cooperative.

Maps pada modified cooperative web cache dinyatakan dengan hubungan

(5)

65

cooperative. Koordinator akan menyimpan informasi mengenai objek

yang ada pada masing-masing web cache, dan mengelolanya sehingga web

cache dapat saling memanfaatkan objek yang tersimpan dalam sistem cooperative. Setiap kali terjadi proses cooperative, maka koordinator akan

memperbarui informasi objek yang dikelola misalnya waktu akses objek, hasil validasi, dan hasil komitmen dari web cache.

c. Scripts: spesifikasi protokol mengenai artikulasi sebuah task dan interaksi sumber daya.

Scripts pada cooperative web cache dinyatakan dalam sebuah file

konfigurasi yaitu squid.conf. Tabel pada tabel A-1 di lampiran A menyatakan beberapa konfigurasi penting yang menyatakan task dan interaksi sumber daya yang digunakan dalam cooperative web cache. Sebagian besar scripts yang ada pada cooperative web cache akan digunakan lagi.

IV.5 Identifikasi Siklus Hidup

Untuk mengidentifikasi siklus hidup yang terjadi pada modified cooperative web

cache, akan dijabarkan mengenai empat fungsi dasar web cache, yaitu:

a. Discovery

Proses discovery di cache lokal dilakukan dengan menggunakan protokol HTTP. Proses discovery objek di luar cache lokal akan menggunakan bantuan koordinator. Koordinator menyimpan informasi lokasi dari seluruh objek yang dimiliki oleh web cache anggota cooperative. Proxy akan mengirimkan pesan request ICP ke koordinator. Jika koordinator menemukan objek yang diinginkan, maka koordinator akan mengirimkan pesan reply ICP yang berisi informasi lokasi objek yang diinginkan. Jika koordinator tidak menemukan objek yang diinginkan, koordinator tidak perlu mengirimkan reply ICP. Koordinator akan membentuk request HTTP dari pesan ICP yang dikirimkan client, kemudian meneruskan

(6)

66

request tersebut ke parent web cache atau ke web server. Response HTTP

yang diterima kemudian diteruskan ke proxy. Selanjutnya proxy akan mengirimkan response tersebut ke client.

b. Dissemination

Penentuan proses dissemination sama prosedurnya dengan metode

dissemination yang diterapkan pada cooperative web cache yaitu dengan

menentukan apakah sebuah objek cachable atau tidak. Objek yang akan ditentukan cachability-nya adalah objek yang diterima proxy dari koordinator, yang menandakan bahwa objek tersebut belum disimpan di

web cache yang lain. Dengan mempertimbangkan keberadaan sebuah

objek pada web cache lain, akan menurunkan derajat duplikasi objek sehingga dapat mempengaruhi meningkatnya nilai hit rate.

Sebagai tambahannya, ketika web cache memutuskan untuk menyimpan objek tertentu, maka web cache harus menjalankan komitmen tersebut selama periode waktu tertentu dan menginformasikan kepada koordinator tentang komitmennya tersebut. Lamanya periode penyimpanan objek ditentukan secara otonom dan bergantung pada kebijakan penyimpanan yang diterapkan.

Tujuan dari komitmen tersebut adalah untuk menghindari terjadinya false

hit. False hit menyatakan bahwa sebuah objek ada di lokasi tertentu,

namun ketika dicari di lokasi tersebut, objek tidak ditemukan. False hit dihasilkan dari informasi lokasi yang sudah kadaluarsa dan tidak valid. Jadi meta data informasi digunakan sebagai metode untuk menyatakan bahwa sebuah objek masih ada di lokasi tertentu.

Kebijakan penyimpanan tugasnya adalah memprediksi periode penyimpanan dan menentukan apakah sebuah objek perlu divalidasi atau tidak. Selanjutnya koordinator menentukan kapan validasi sebuah objek dilakukan.

(7)

67

Untuk menentukan periode penyimpanan, objek dalam sebuah web cache harus diberi peringkat berdasarkan popularitas dengan menggunakan algoritma cache replacement, misalnya LRU. Semakin besar kemungkinan

hit sebuah objek, semakin kecil peringkatnya. Semakin tinggi

peringkatnya, semakin tinggai juga kemungkinan objek tersebut akan dihapus. Berdasarkan peringkat tersebut, kemudian ditentukan berapa periode penyimpanan yang sesuai untuk sebuah objek. Periode penyimpanan tersebut kemudian dikirimkan ke koordinator sebagai bagian dari isi pesan commit.

c. Validation

Proses validation dilakukan oleh koordinator. Metode validation yang digunakan sama dengan metode validation pada cooperative web cache. Karena informasi mengenai lokasi objek dan informasi yang dibutuhkan untuk validasi dimiliki oleh koordinator, maka setiap kali ada request terhadap suatu objek yang perlu divalidasi, koordinator akan langsung melakukan proses validation ke web server aslinya. Hasil proses

validation akan disimpan informasinya di koordinator, dan dikirimkan

objeknya ke web cache yang meminta. d. Replacement

Proses replacement dilakukan pada masing-masing web cache dan koordinator. Setiap web cache akan melakukan proses replacement ketika

web cache penuh. Metode replacement yang digunakan sama dengan

metode pada cooperative web cache yaitu dengan metode LRU. Namun, ada tambahan informasi untuk menentukan apakah sebuah objek boleh dihapus atau tidak, yaitu nilai periode penyimpanan. Objek yang boleh dihapus adalah objek hasil LRU yang periode penyimpanannya sudah kadaluarsa. Tambahan pertimbangan nilai periode penyimpanan adalah untuk memelihara konsistensi dengan informasi yang ada di koordinator, sehingga false hit tidak akan terjadi.

(8)

68

Koordinator juga melakukan proses replacement terhadap meta data yang disimpan. Metode yang digunakan adalah metode LRU. Proses

replacement pada koordinator, tidak perlu melakukan komunikasi dengan web cache anggota cooperative karena tidak mempengaruhi konsistensi

terhadap penyimpanan yang ada di web cache.

Gambar IV-2 menunjukkan sequence diagram dari siklus hidup cooperative web

cache. Siklus hidup menyatakan proses yang dilakukan oleh web cache dalam

menerima request dari client, sampai client menerima response atas permintaannya tersebut. Response dapat berupa objek yang diinginkan maupun pesan error atas request yang diberikan.

Gambar IV-2 Siklus hidup modified cooperative web cache

Ada tiga buah skenario yang tertera dalam gambar IV-2, yaitu:

1. Local HIT, dicapai jika cache lokal memiliki objek yang diinginkan client. 2. Sibling HIT, dicapai jika koordinator menemukan objek yang diinginkan

(9)

69

3. Sibling MISS, dicapai jika koordinator tidak menemukan objek yang diinginkan oleh client pada sibling web cache, sehingga objek harus diambil dari web server aslinya atau ke parent.

IV.6 Model Modified Cooperative Web Cache

Berdasarkan bab IV.2 sampai bab IV.5 dibentuklah model modified cooperative

web cache yang dapat dilihat pada gambar IV-3. Skenario yang terjadi pada

gambar IV-3 adalah sebagai berikut:

a. Skenario Local HIT dicapai melalui jalur 1-2-3-12.

b. Skenario Sibling HIT dicapai melalui jalur 1-2-4-5-6-7-8-12.

c. Skenario Sibling MISS dicapai melalui jalur 1-2-4-5-9-10-11-12-13-14 jika objek ingin disimpan dalam cache atau melalui jalur 1-2-4-5-9-10-11-12 jika objek tidak perlu disimpan dalam cache.

(10)

70

IV.7 Analisa Kuantitatif

Untuk membuktikan bahwa model modified cooperative web cache membutuhkan biaya komunikasi yang lebih sedikit dari pada model cooperative web cache, maka dibuat sebuah skema komunikasi seperti terlihat pada gambar IV-4.

Client

Parent Web Cache / Web Server Sibling Web Cache -n

Web Cache Router 1

Router Hsn-1

Router Ha-1 Jarak = Jumlah Hop = Hsn

Jarak = Jumlah Hop = Ha

Local Hit = Lh

Router Hs2-1

Router Hs1-1

Sibling Web Cache -1 Sibling Web Cache -2

Sibling Hit = Sh

Jarak = Jumlah Hop = Hs2

Jarak = Jumlah Hop = Hs1

Koordinator

Jarak = Jumlah Hop = Hs

Jarak = Jumlah Hop = Ha

Router Hs-1

Gambar IV-4 Skema komunikasi model modified cooperative web cache

Pada modified cooperative web cache, skenario local hit tidak menghasilkan trafik tambahan menuju ke internet. Skenario yang menghasilkan trafik internet adalah skenario sibling hit dan skenario sibling miss. Pada skenario sibling hit, trafik ke internet diperlukan untuk mengirimkan pesan ICP ke koordinator dan mengirim

(11)

71

Pada skenario sibling miss, trafik ke internet diperlukan untuk mengirimkan pesan ICP ke koordinator untuk mencari objek pada sibling web cache, dan request HTTP dari koordinator ke parent web cache atau web server untuk mengambil objek yang diinginkan. Selain itu, dibutuhkan trafik untuk pengiriman pesan

commit jika web cache memutuskan untuk menyimpan objek.

Karena yang membutuhkan trafik ke internet adalah skenario sibling hit dan

sibling miss, maka penghitungan biaya komunikasi yang dihasilkan dari aktivitas modified cooperative web cache didasarkan pada dua skenario saja yaitu skenario sibling hit dan sibling miss.

Diasumsikan bahwa posisi koordinator adalah sama dengan sibling web cache, maka jarak antara web cache dengan koordinator disebut juga Hs, jarak antara

web cache dengan sibling web cache adalah Hs, dan jarak antara koordinator

dengan parent web cache atau web server adalah Ha. Dengan menjalankan skenario cooperative web cache tersebut diperoleh local hit sebesar Lh dan sibling

hit sebesar Sh. Skenario cooperative web cache tersebut dapat diamati pada

gambar IV-4.

Skenario pada gambar IV-4 diturunkan dari gambar III-9. Sesuai dengan penjelasan pada bab II.5, Squid yang memiliki dua sisi fungsi yaitu sisi client yang berkomunikasi dengan web client seperti browser, dan sisi server yang berkomunikasi dengan web server. Oleh karena itu, pada gambar IV-4, web cache berfungsi sebagai client dalam skenario cooperative web cache.

Jumlah total komunikasi pada cooperative web cache pada kasus sibling hit ada dua, yaitu:

a. Pertukaran pesan ICP, baik query maupun reply.

b. Koneksi HTTP ke sibling web cache untuk mengambil objek yang diinginkan.

(12)

72

Jumlah total komunikasi pada kasus sibling miss ada dua yaitu: a. Pertukaran pesan query ICP.

b. Koneksi HTTP dari koordinator ke parent web cache atau web server aslinya.

c. Pengiriman pesan commit jika web cache memutuskan untuk menyimpan objek.

IV.7.1 Kasus Modified Cooperative Web Cache

Pada kasus modified cooperative web cache artinya setiap kali terjadi local miss, maka pesan ICP akan dikirimkan ke koordinator. Sekali pesan ICP terdiri atas

query dan reply, sehingga ada 2 paket data yang dikirimkan ke koordinator

sebesar 160 bytes. ICP memunculkan kemungkinan terjadinya sibling hit sebesar Sh. Jika terjadi sibling hit, maka request HTTP akan diteruskan ke sibling web

cache. Jika terjadi sibling miss, maka request HTTP akan diteruskan koordinator

ke parent web cache atau web server aslinya. Jika web cache memutuskan untuk menyimpan sebuah objek, maka pesan commit akan dikirimkan ke koordinator. Pesan ICP berisi URL. Pesan commit berisi URL, lokasi penyimpanan, dan periode penyimpanan. Jika dimisalkan ukuran pesan commit adalah dua kali ukuran pesan ICP, maka satu buah pesan commit berukuran sebesar 320 bytes, setara dengan 320 bytes dibagi 1400 bytes = 0,23 paket. Karena menurut (Wessels, 2001), bahwa 75% response adalah cachable, maka kemungkinan terjadi pengiriman pesan commit adalah sebesar 75% dari Sm .

Sehingga rumus (3) dapat diturunkan menjadi rumus (10):

) 23 , 0 75 , 0 ( ) ( ) ( ) 2 ( ) (Ha Lm Jp Hs Sh Jp Hs Sm Jp Ha Sm Hs PH = × × icp× + × Sh× + × Sm× + × × × (10)

Dengan Jp = rata-rata jumlah total paket yang dilewatkan di jaringan Lm

(13)

73 Sh

Jp = rata-rata jumlah total paket yang dilewatkan di jaringan

pada kondisi sibling hit.

Sm

Jp = rata-rata jumlah total paket yang dilewatkan di jaringan

pada kondisi local miss.

Sm

Jp = rata-rata jumlah total paket ICP. Lm = rata-rata frekuensi local miss. Sh = rata-rata frekuensi sibling hit.

Sm = rata-rata frekuensi sibling miss.

Ha = jumlah hop dari web cache ke web server atau jumlah hop dari koordinator ke web server.

Hs = jumlah hop dari web cache ke sibling web cache atau jumlah hop dari web cache ke koordinator.

Biaya komunikasi pada model modified cooperative web cache untuk skenario terburuk, setidaknya harus sama dengan biaya komunikasi pada kasus web cache. Dengan menyamakan antara rumus (4) dengan rumus (10), maka akan diperoleh titik impas biaya komunikasi berdasarkan jumlah paket yang dilewatkan di jaringan, yang dicapai melalui persamaan (11).

) 23 , 0 75 , 0 ( ) ( ) ( ) 11 , 0 2 (Lm Hs Sh Jp Hs Sm Jp Ha Sm Hs Ha Jp Lm× Lm× = × × × + × Sh× + × Sm× + × × × (11) Dengan memasukkan nilai Lm , Jp , Sm , Lm Jp , Sh , dan Sm Jp dari tabel III-8, Sh menghasilkan persamaan (12).

(14)

74 Hs Ha Hs Ha Hs Hs Ha × = × × × + × × + × × + × × = × × 77 , 1 ) 23 , 0 59 , 0 75 , 0 ( ) 37 , 12 59 , 0 ( ) 58 , 5 04 , 0 ( ) 22 , 0 64 , 0 ( 84 , 11 64 , 0 (12) Persamaan tersebut menyatakan bahwa, model modified cooperative web cache

akan menguntungkan untuk diterapkan jika jarak antara web cache dengan web

server aslinya lebih besar dari 1,77 x jarak antara web cache dengan sibling web cache. Artinya sibling web cache hanya boleh menyimpan objek dari web server

yang jauhnya lebih dari 1,77 x jarak web cache ke sibling web cache. Jika kurang dari jarak tersebut, maka sistem cooperative web cache dinilai tidak menguntungkan dari sisi biaya komunikasi.

Jika dibanding dengan model cooperative web cache, maka model modified

cooperative web cache dinilai lebih baik, karena nilai Ha dibanding Hs untuk

model modified cooperative web cache lebih kecil. Artinya model modified

cooperative web cache dapat mengakomodasi objek-objek dengan jarak mulai

dari 1,77 kali jarak web cache ke sibling web cache. Dengan kata lain, nilai kegunaan dari modified cooperative web cache-nya lebih bagus dan mampu menurunkan delay akses objek lebih banyak.

Untuk mengetahu berapa persen sibling hit yang dihasilkan dari model modified

cooperative web cache, maka dilakukan penurunan rumus persamaan (11).

Hasilnya adalah persamaan (13).

) ) 1725 , 0 ( ) ( )) ( ) 3925 , 0 (( ) 1 ( Hs Jp Ha Jp Ha Jp Jp Hs Lh Sh Sh Sm Lm Sm × − + × × − + × × − = (13)

Dari tabel III-8, nilai Lh , Jp , Lm Jp , dan Sm Jp dapat digunakan untuk Sh

menyederhanakan persamaan (13), sehingga hasilnya adalah persamaan (14).

) 4075 , 5 ( ) 37 , 12 ( )) 53 , 0 ( ) 3925 , 0 (( 64 , 0 Hs Ha Ha Hs Sh × − × × + × × = (14)

Dari persamaan (14), dapat diketahui pengaruh jarak antara web cache dengan

web server (Ha) dan jarak antara web cache dengan sibling web cache

(15)

75

30. Dari tabel B-8, diperoleh bahwa nilai maksimal Hs adalah 7. Dengan memvariasikan nilai Ha dan Hs, maka diperoleh hasil penghitungan rumus (14). Hasil penghitungan rumus (14), dapat dilihat pada lampiran A. Dari hasil perhitungan tersebut diambil nilai yang hubungan antara Ha dan Hs memenuhi persamaan (12), sehingga diperoleh grafik batas bawah PH(Ha) seperti yang terlihat pada gambar IV-5.

Gambar IV-5. Titik optimal PH dari model modified cooperative web cache

IV.8 Kontribusi Penelitian terhadap Indikator Capaian

Strategi Bisnis

Biaya komunikasi pada model cooperative web cache diperoleh dengan dengan menggunakan rumus (5). Dengan mengambil asumsi Ha diambil dari nilai rata-rata Ha, dan Hs diperoleh dari nilai rata-rata-rata-rata Hs, maka berdasarkan lampiran B.7 diperoleh bahwa Hs=5, dan Ha= 15,41.

Berdasarkan rumus (7) dinyatakan bahwa nilai Ha mininimal harus 4,94 x Hs. Dengan asumsi Hs=5, dan Ha= 15,41, maka skema cooperative web cache tidak dapat diberlakukan karena tidak memenuhi persamaan rumus (7). Oleh karena itu, biaya komunikasi yang dibutuhkan sama dengan biaya komunikasi pada skema

(16)

76

Biaya komunikasi pada cooperative web cache tertera dalam rumus (15).

77 , 116 ) 41 , 15 84 , 11 64 , 0 ( ) ( = × × = × × = PH Ha Jp Lm PH Lm (15)

Biaya komunikasi pada model modified cooperative web cache diperoleh dengan menggunakan rumus 10. Dengan mengambil asumsi Ha diambil dari nilai rata-rata Ha, dan Hs diperoleh dari nilai rata-rata-rata-rata Hs, maka berdasarkan lampiran B.7 diperoleh bahwa Hs=5, dan Ha= 15,41.

Berdasarkan rumus (7) dinyatakan bahwa nilai Ha mininimal harus 4,94 x Hs. Dengan asumsi Hs=5, dan Ha= 15,41, maka skema cooperative web cache dapat diberlakukan karena memenuhi persamaan rumus (7).

Biaya komunikasi pada modified cooperative web cache tertera dalam rumus (16).

80 , 114 51 , 0 47 , 112 12 , 1 704 , 0 ) 5 23 , 0 59 , 0 75 , 0 ( ) 41 , 15 37 , 12 59 , 0 ( ) 5 58 , 5 04 , 0 ( ) 5 22 , 0 64 , 0 ( ) 23 , 0 75 , 0 ( ) ( ) ( ) 11 , 0 2 ( = + + + = × × × + × × + × × + × × = × × × + × × + × × + × × × = PH PH PH Hs Sm Ha Jp Sm Hs Jp Sh Hs Lm PH Sh Sm (16) Berdasarkan rumus (15) dan rumus (16), terjadi penghematan biaya komunikasi sebesar 1,97%. Jika ditambahkan dengan nilai Lh pada tabel III-8, maka diperoleh total penghematan sebesar 38,38%.

Indikator capaian jumlah bandwith per mahasiswa yang ditetapkan dalam strategi bisnis ITB menuju universitas riset adalah 10 Kbps/mahasiswa. Jumlah bandwith yang dimiliki ITB sekarang adalah 150 MBps. Jumlah mahasiswa per Desember 2008 berdasarkan data pada data center USDI adalah seperti tercantum pada tabel IV-2.

(17)

77

Tabel IV-2. Jumlah mahasiswa ITB per Desember 2008

Strata  Jumlah Mahasiswa 

S1  13403

S2  3592

S3  465

Total  17460

Sumber: Data Center USDI- Desember 2008

Jika dikaitkan dengan target indikator jumlah bandwith per mahasiswa yang ingin dicapai, maka skema modified cooperative web cache menghasilkan nilai capaian indikator sebesar (dengan asumsi bandwith ITB saat ini sebesar 150MBps, dan jumlah mahasiswa adalah 17.460 orang):

mahasiswa KBps MBps siswa JumlahMaha with JumlahBand 150 17.460 11,89 / 100 38 , 138 100 38 , 138 = ÷ × = ÷ ×

Jika tidak menggunakan modified cooperative web cache maka capaian indikatornya adalah sebagai berikut:

mahasiswa KBps MBps siswa JumlahMaha with JumlahBand 150 17.460 8,59 / 100 100 100 100 = ÷ × = ÷ ×

IV.9 Kesimpulan Analisa Kuantitatif Model Modified

Cooperative Web Cache

Kesimpulan dari pengembangan model modified web cache adalah sebagai berikut:

1. Model modified cooperative web cache dikembangkan untuk mengurangi trafik ke internet yang disebabkan oleh proses cooperative, yaitu dengan menambah peran koordinator sebagai penyimpan informasi objek dari seluruh anggota cooperative web cache. Dengan koordinator, sibling web

(18)

78

untuk melakukan proses cooperative, sehingga dapat mengurangi trafik ke internet yang disebabkan oleh proses cooperative.

2. Perbandingan antara model cooperative web cache dengan model modified

cooperative web cache dapat disimpulkan pada tabel IV-3.

Tabel IV-3. Perbandingan kinerja cooperative web cache dan modified

cooperative web cache

Parameter  Cooperative 

web cache 

Modified  

Cooperative Web Cache  Nilai Kualitatif 

Sh minimal  3,1% 2,85% Lebih baik

Sh maksimal  5,07% 5,11% Setara

Ha/Hs  Ha=4,94*Hs Ha=1,77*Hs Lebih baik

3. Nilai sibling hit minimal menunjukkan batas bawah sibling hit yang ditolerir oleh model modified cooperative web cache yaitu 2,85%. Jika ada

sibling web cache yang sibling hit-nya kurang dari 2,85% lebih baik

dihapus dari keanggotaan cooperative web cache. Jika dibandingkan dengan batas bawah sibling hit pada model cooperative web cache, nilainya lebih kecil. Batas bawah sibling hit pada model cooperative web

cache adalah 3,14%. Artinya model modified cooperative web cache

memiliki nilai batas bawah yang lebih baik daripada model cooperative

web cache. Batas bawah sibling hit adalah nilai minimal sibling hit yang

harus dihasilkan oleh sibling web cache untuk dapat dikatakan menguntungkan bagi cooperative web cache dari sisi biaya komunikasi. 4. Nilai sibling hit maksimal yang dihasilkan model modified cooperative

web cache adalah 5,11%. Jika dibandingkan dengan model modified cooperative web cache, nilainya hampir sama. Artinya model ini tidak

menawarkan nilai sibling hit rate yang lebih baik.

5. Berdasarkan rumusan (12) disimpulkan bahwa model modified

cooperative web cache mampu mengurangi jumlah trafik ke internet yang

(19)

79

perbandingan Hs dengan Ha yang nilainya lebih kecil daripada nilai perbandingan Ha dengan Hs pada model cooperative web cache.

6. Jumlah bandwith yang dapat ditambahkan sebagai penghematan atas hasil

modifiied cooperative web cache adalah 5,11%. Penghematan ini dapat

ditambahkan sebagai perhitungan dalam melakukan pengelolaan bandwith untuk kebutuhan penelitian. Selain itu, juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan penyusunan strategi teknologi informasi ITB terkait dengan penghematan penggunaan bandwith untuk meningkatkan nilai capaian indikator jumlah bandwith per mahasiswa.

Gambar

Gambar IV-1. Metode pembentukan model modified cooperative web cache
Tabel IV-1 menyatakan aktor dan peran yang terlibat pada modified cooperative  web cache
Tabel IV-1. Aktor dan peran pada modified cooperative web cache
Gambar IV-2 menunjukkan sequence diagram dari siklus hidup cooperative web  cache. Siklus hidup menyatakan proses yang dilakukan oleh web cache dalam  menerima  request dari client, sampai client menerima response atas  permintaannya tersebut
+6

Referensi

Dokumen terkait

Kurikulum pendidikan tinggi khususnya sekolah bisnis dan manajemen perlu memikirkan untuk mendesain aktivitas kokurikuler yang akan meningkatkan kemampuan softskill selain

Berdasarkan Gambar 4.8 terlihat bahwa respon sistem yang menggunakan kontroler PD dapat beradaptasi dengan perubahan sinyal referensi yang diberikan, namun waktu untuk

Pengunjung yang datang sebagian besar masyarakat. ilmiah khususnya generasi muda. Mereka bertujuan untuk penelitian, menambah pengetahuan dan arena pendidikan non

Jika daerah asal fungsi F dibatasi pada cakram tertutup C(O,1) , maka nilai ekstrimnya hanya. ki i di i ik b

Tujuan dari analisis korelasi ini yaitu untuk membuktikan apakah variabel yang satu dengan variabel yang lain memiliki hubungan atau tidak yaitu hubungan antara

Kegiatan pendahuluan diawali dengan aktifitas Ice Breaking/ Slps Zone yaitu guru mengajak peserta didik melakukan ice Breaking (pemecah kebekuan) Hal ini dilakukan guru

Namun meningkatnya rasio NPL secara tidak langsung juga akan membuat adanya risiko yang besar pada bank tersebut serta menggerus modal perbankan yang ditunjukkan

Permasalahan yang terjadi di lapangan yaitu pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang bervariasi, yaitu hanya menggunakan metode ceramah,diskusi, danitukurang