• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIP KARYA SENI SAKA CUPAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIP KARYA SENI SAKA CUPAK"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIP KARYA SENI

SAKA CUPAK

        OLEH:

I GUSTI NYOMAN SEDANA PUTRA NIM: 2010 02 031

PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN JURUSAN SENI KARAWITAN

FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN

INSTITUT SENI INDONESIA

DENPASAR

2014

(2)

SKRIP KARYA SENI

SAKA CUPAK

        OLEH:

I GUSTI NYOMAN SEDANA PUTRA NIM: 2010 02 031

PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN JURUSAN SENI KARAWITAN

FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN

INSTITUT SENI INDONESIA

DENPASAR

2014

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

SKRIP KARYA SENI SAKA CUPAK

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan

memperoleh gelar Sarjana Seni (S1)

MENYETUJUI

PEMBIMBING I PEMBIMBING II

I Nyoman Windha, SSKar., MA I Nyoman Pasek, SSKar., M.Si NIP. 19560704 198103 1 002 NIP. 19631231 199303 1 017

(4)

Karya Seni ini telah dipergelarkan dan diuji oleh Dewan Penguji, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar pada:

Hari, tanggal : Sabtu, 10 Mei 2014

Ketua : I Wayan Suharta, SSKar., M.Si NIP. 19630730 199002 1 001

Sekertaris : I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum NIP. 19641231 199002 1 040

Anggota : I Wayan Suharta, SSKar., M.Si NIP. 19630730 199002 1 001 : Kadek Suartaya, SSKar., M.Hum

NIP. 19601231 199103 1 104 : I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn

NIP. 19681231 199603 1 007 : I Nyoman Windha, SSKar., MA

NIP. 19560704 198103 1 002 : I Nyoman Pasek, SSKar., M.Si

NIP. 19631231 199303 1 017

(5)

Skrip karya ini telah dipertahankan di depan Dewan Penguji, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar, pada:

Hari, tanggal : Selasa, 13 Mei 2014

Ketua : I Wayan Suharta, SSKar., M.Si ( )

NIP. 19630730 199002 1 001

Sekertaris : I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum ( ) NIP. 19641231 199002 1 040

Dosen Penguji :

1. I Wayan Suharta, SSKar., M.Si ( )

NIP. 19630730 199002 1 001

2. Kadek Suartaya, SSKar., M.Hum ( )

NIP. 19601231 199103 1 104

3. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn ( )

NIP. 19681231 199603 1 007

4. I Nyoman Windha, SSKar., MA ( )

NIP. 19560704 198103 1 002

5. I Nyoman Pasek, SSKar., M.Si ( )

NIP. 19631231 199303 1 017

Disahkan pada tanggal :

Mengesahkan : Mengetahui :

Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Seni Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar Ketua,

Dekan,

I Wayan Suharta, SSKar., M.Si Wardizal, S.Sen., M.Si NIP.19630730 199002 1 001 NIP. 19660624 199303 1 002

(6)

MOTTO

JANGAN MERASA PUAS SAMPAI DISINI

KALAU INGIN MENJADI SEORANG

(7)

KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur penata panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat asung kerta wara nugraha-Nya penata dapat menyelesaikan skrip karya seni ini tepat pada waktunya. Penata sungguh merasa memiliki suatu keberuntungan tersendiri karena dalam kesempatan yang baik ini penata diberikan peluang untuk mendeskripsikan suatu karya yang penata garap.

Penata menyadari, tanpa adanya bantuan serta dorongan semangat dari dosen pembimbing dan kerjasama dari semua pihak yang terkait, kegiatan ini tidak akan berjalan sebagaimana yang diinginkan. Maka dari itu, dalam tulisan ini penata tidak lupa menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Dr. I Gede Arya Sugiartha, SSkar.,M.Hum, selaku Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah memberikan fasilitas yang memadai dalam proses pembelajaran.

2. I Wayan Suharta, SSKar., M.Si, selaku Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan karya maupun skrip karya.

3. Wardizal, S.Sen.,M.Si, selaku Ketua Jurusan Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, yang selalu memberikan dorongan motivasi dalam menempuh tugas akhir.

4. I Nyoman Windha, SSKar., MA dan I Nyoman Pasek, SSKar., M.Si selaku pembimbing karya tulis dan karya seni yang telah banyak meluangkan waktu

(8)

dalam memberikan bimbingan dan petunjuk selama proses penggarapan berlangsung.

5. Sekaa Gong Cipta Gopta, Desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung selaku pendukung utama dalam mewujudkan karya karawitan ini. 6. I Gusti Made Sujana dan Ni Wayan Merti sebagai orang tua penata, serta

seluruh keluarga tercinta yang selalu memberikan doa serta kesabarannya memberikan dorongan moral dan material selama perkuliahan hingga terselenggaranya tugas akhir ini.

7. Segenap pihak pendukung dan rekan-rekan yang tidak bisa penata sebutkan satu-persatu yang tulus iklas membantu dan mendukung kelancaran karya seni ini.

Karya ini masih jauh dari kesempurnaan, penata menyadari banyak keterbatasan dan kekurangan yang penata miliki, oleh karena itu dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati penata mohon kepada para pembaca, agar sudi kiranya memberikan saran-saran atau kritik yang bersifat membangun demi penyempurnaan penulisan selanjutnya. Semoga apa yang dipersembahkan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Denpasar, Mei 2014

(9)

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR DEWAN PENGUJI KARYA SENI ... iii

LEMBAR DEWAN PENGUJI SKRIP KARYA SENI ... iv

MOTTO ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Garapan ... 1

1.2 Ide Garapan ... 3

1.3 Tujuan Garapan ... 4

1.4 Manfaat Garapan ... 5

1.5 Ruang Lingkup ... 6

BAB II KAJIAN SUMBER ... 9

2.1 Sumber Pustaka ... 9

2.2 Sumber Diskografi ... 10

BAB III PROSES KREATIVITAS ... 12

3.1 Tahap Penjajagan ... 13

3.2 Tahap Percobaan ... 15

3.3 Tahap Pembentukan ... 18 v

(10)

BAB IV WUJUD GARAPAN ... 26 4.1 Deskripsi Garapan ... 26 4.2 Struktur Garapan ... 28 4.3 Instrumentasi ... 42 4.3.1 Fungsi Instrumen ... 42 4.4 Sistem Notasi ... 44 4.5 Analisa Penyajian/Penampilan ... 46

4.5.1 Tempat pementasan dan Setting Instrumen ... 48

4.5.2 Kostum ... 49

4.5.3 Tata Lampu dan Tata Penyajian ... 50

BAB V PENUTUP ... 51 5.1 Kesimpulan ... 51 5.2 Saran-saran ... 52 DAFTAR PUSTAKA ... 53 DAFTAR DISKOGRAFI ... 54 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 55

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Pelaksanaan Kegiatan Latihan ... 20 Tabel 2 Penganggening Aksara Bali ... 45 Tabel 3 Lambang Instrumen dan Bunyi ... 46

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Sinopsis ... 56

Lampiran 2 Notasi ... 57

Lampiran 3 Nama Pendukung ... 68

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ada beberapa ceritra yang tumbuh berkembang di masyarakat Bali, salah satu cerita dari rakyat Bali adalah I Cupak teken I Grantang. Diceriterakan bahwa I Cupak dan I Grantang dua bersaudara yang mempunyai sifat, wajah, dan prilakunya sangat berbeda. I Cupak wajahnya jelek, kumisnya lebat, brewok, dekil, perut besar, suka makan, malas, dan rambutnya merah kaku seperti sapu, berbeda dengan I Grantang yang mempunyai prilaku halus, wajah ganteng, kalem, bersih, tuturnya manis, rajin, dan banyak disukai wanita.

Dalam kehidupan sehari-hari I Cupak banyak mempunyai pemikiran yang licik untuk memfitnah adiknya I Grantang karena I Cupak ingin menang sendiri. Ketika I Cupak dan I Grantang bekerja di sawah, I Grantang mengembala sapi dan I Cupak Cuma asik bermain. I Cupak cuek dengan adiknya yang sedang bekerja ketika I Grantang sudah selesai bekerja barulah I Cupak datang dari bermain. Meskipun prilaku kakaknya begitu, I Grantang sebagai adik tetap menghormati kakaknya tersebut dengan berbicara halus terhadapnya. I Grantangpun menyuruh I Cupak pulang kerumah untuk mandi dan setelah melihat kakaknya pulang I Grantang pun ikut pulang untuk mandi, namun I Cupak tidak langsung pulang tetapi malah bermain lumpur yang membuat dirinya kotor. Sesampainya di rumah I Cupak berteriak-teriak sambil menangis dan ayah ibunya terkejut mendengar tangisan I Cupak. I Cupakpun mengarang cerita seakan dia ditinggal bermain oleh

(14)

adiknya I Grantang dan membiarkan ia bekerja di sawah sendirian sampai kotor dan capek. I Cupak memfitnah adiknya sendiri dan setiba adiknya dirumah dengan keadaan bersih dan ganteng ayah dan ibunyapun percaya kalau I Grantang hanya bermain dan meninggalkan I Cupak bekerja sendirian di sawah tetapi itu hanyalah fitnah I Cupak. Ayah dan Ibunyapun mengusir I Grantang karena fitnah I Cupak tersebut. Ini adalah sepenggal cerita yang mengisahkan betapa buruknya sifat I Cupak.

Fenomena yang terjadi dalam kehidupan saat ini, seperti halnya di kehidupan masyarakat maupun di instansi pemerintahan bagaikan sifat I Cupak dengan adanya banyak kasus yang melanda negara ini, seperti korupsi, pemfitnahan, perebutan kedudukan dengan cara yang tidak baik demi suatu tujuannya dengan menggunakan sifat buruk dari I Cupak. Namun demikian, masih banyak orang yang teguh memegang sifat dari I Grantang sebagai perilakunya. Perbedaan ini membuktikan baik dan buruk tidak bisa terpisahkan, karena dua unsur tersebut akan menjadi penyeimbang dalam kehidupan.

Terinspirasi dari cerita Cupak dan Grantang dengan fenomena kehidupan saat ini, penata ingin mengangkat sifat tokoh I Cupak ke dalam sebuah garapan komposisi dengan judul Saka Cupak.

Saka Cupak berasal dari kata Saka dan Cupak, Saka yang berarti tahun, dan Cupak salah satu ungkapan sifat rakus menurut mitologi masyarakat Bali. Jadi Saka Cupak yang di maksud tersebut adalah pada tahun saat ini, melihat fenomena jaman sekarang, banyak manusia yg membawa sifat-sifat buruk dari I Cupak, ada yang membawa sifat yang ingin merebut tahta kekuasaan, dan ada

(15)

juga kejadian yang terlihat di media telopisi seperti korupsi, mencuri barang-barang milik orang, dan ingin merebut istri dari orang lain. Keadaan tersebut memacu luapan emosi yang muncul dari diri seorang manusia untuk melakukan sesuatu yang mungkin dianggap mampu olehnya.

Dalam merealisasikan konsep tersebut, media ungkap yang dipakai adalah barungan gamelan Gong Kebyar. Dipilihnya Gong Kebyar sebagai media ungkap, dikarenakan bagi penata merasa mampu untuk menyampaikan atau mengungkap semua sifat-sifat I Cupak melalui Gong Kebyar. Sifat yang fleksibel dari Gong Kebyar dirasa mampu untuk mengaktualisasikan ide kedalam bentuk garapan.

1.2 Ide Garapan

Ide sabagai landasan dalam penggarapan merupakan kunci awal untuk melangkah dalam menggapai sebuah karya seni. Ide atau gagasan merupakan hasil dari suatu proses pemikiran yang terus menerus dari seorang seniman terhadap lingkungan secara kompleks dan merupakan manifestasi budaya dimana ia hidup. Ide atau gagasan tidaklah muncul secara mudah. Ide memerlukan proses pemikiran yang panjang dan kerja keras, terkadang muncul berdasarkan realitas kehidupan, aktivitas kehidupan sehari-hari, fenomena alam, serta ungkapan perasaan yang mendalam dari pribadi seseorang.  Demikian pula dengan karya musik Saka Cupak ini, peranan seniman dalam mengaktualisasikan karya seninya agar mampu beradaptasi dengan situasi dan jamanya. Sebagai mana yang terjadi dalam seni karawitan Bali, banyak seni karawitan yang dulunya kurang diminati namun dengan kreativitas seniman akhirnya menjadi seni yang populer, dan menjadi kebanggaan generasinya. Gong Kebyar dewasa ini menjadi salah satu

(16)

gamelan paling populer di Bali. Popularitas kebyar tidak hanya teramati dari segi banyaknya jumlah barungan yang ada, tetapi juga banyak muncul bentuk garap atau komposisi baru yang menggunakan media Gong Kebyar. Lahirnya ide garapan ini, sangat besar dipengaruhi oleh keberadaan Gong Kebyar yang terus mengalami perkembangan. Gong Kebyar yang begitu fleksibel yang mampu menyerap hampir seluruh reportoar gamelan yang ada di Bali, memberikan inspirasi kepada penata untuk mengarapnya dengan mengedepankan penggambaran sifat-sifat dari I Cupak.

Penata tertarik mengangkat tokoh sifat dari I Cupak yang begitu rakusnya tidak ada bedanya kalau dilihat dari segi sifat manusia saat ini dan berawal dari pengamatan dan pengalam penata sendiri, tingkah pola yang mereka lakukan memberikan rangsangan tersendiri bagi penata untuk berimajinasi dalam pembentukan komposisi musik lewat gamelan Gong Kebyar. Penata mencoba menggambarkan suasana yang mereka lakukan ke dalam sebuah komposisi karawitan.

1.3 Tujuan Garapan

Pada dasarnya, dalam penyelesaian dan proses suatu tugas sudah jelas mempunyai tujuan atau sasaran. Tujuan atau sasaran yang hendak dicapai adalah untuk sebuah motivasi dalam mendorong terwujudnya suatu garapan. Adapun tujuan dari garapan ini dibedakan menjadi 2 yaitu: tujuan umum dan tujuan khusus.

(17)

Tujuan Umum, diantaranya :

a. Sebagai salah satu syarat menempuh gelar Sarjana Seni (S1) pada Jurusan Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar.

b. Untuk mengembangkan kreativitas teknik permainan melodi, tempo, ritme, dan dinamika didalam mendukung garapan komposisi sehingga terkesan utuh.

c. Untuk menghasilkan sebuah garapan komposisi karawitan kreasi baru yang kreatif dan inovatif serta layak disajikan untuk tugas akhir.

d. Dengan adanya karya ini, nantinya diharapkan dapat memberikan motivasi bagi seniman dalam berkreasi.

e. Menambah penbendaharaan hasil karya seniman khususnya karawitan tabuh Kreasi.

Tujuan Khusus, diantaranya :.

a. Untuk mewujudkan garapan Saka Cupak dengan media ungkap Gong Kebyar yang dikemas dalam bentuk tabuh kreasi.

b. Untuk memberikan gambaran kepada masyarakat karakter dan sifat-sifat ada pada cupak, lewat media Gong Kebyar.

1.4 Manfaat Garapan

Manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan komposisi karawitan tabuh kreasi Saka Cupak ini adalah sebagai berikut :

(18)

a. Sebagai wahana untuk mengukur daya kreativitas penata dalam sebuah karya komposisi musik.

b. Mendapatkan pengetahuan yang baru tentang cara-cara menuangkan ide kedalam sebuah garapan komposisi tabuh kreasi dan menambah pengalaman dalam menggarap sebuah komposisi musik, khususnya komposisi tabuh kreasi.

c. Meningkatkan kreativitas untuk mencari sesuatu yang lebih inovatif serta menambah wawasan dan pengalaman dalam berkarya seni.

d. Meningkatkan kreativitas, pengalaman, serta menambah wawasan dalam berkarya seni yang nantinya sangat berguna, baik bagi penata maupun masyarakat.

e. Menambah khazanah sajian musik di Institut Seni Indonesia Denpasar yang kiranya bermanfaat sebagai acuan, serta sebagai bahan perbandingan dalam meningkatkan kreativitas karya seni, khususnya di kalangan seniman karawitan (akademis).

1.5 Ruang Lingkup

Garapan ini merupakan sebuah ekpresi musikal yang terinspirasi dari ceritera I Cupak, dan menarik untuk diangkat sebagai karya seni komposisi karawitan kreasi baru. Untuk menghindari salah persepsi terhadap wujud garapan ini, maka penata akan mencoba memberikan batasan pemahaman tentang ruang lingkup karya ini sebagai berikiut.

(19)

a. Saka Cupak ini merupakan sebuah garapan komposisi musik kreasi Gong Kebyar yang dalam pengolahannya merupakan pengembangan dari pola-pola tradisi dalam gamelan Bali.

b. Garapan ini merupakan sebuah gambaran terhadap sifat manusia yang kebanyak mempunyai sifat seperti I Cupak dengan segala akal licik dan kerakusannya.

c. Media ungkap yang di pergunakan dalam garapan ini adalah seperangkat gamelan Gong Kebyar serta dilakukan penambahan instrume diluar barungan gamelan tersebut.

Adapun spesifikasinya adalah sebagai berikut:

Komposisi karawitan ini merupakan sebuah garapan komposisi yang masih berpedoman pada pola-pola tradisi, namun tetap diberi sentuhan dengan unsur-unsur musikal seperti nada, melodi, irama (ritme), tempo, harmoni, dan dinamika. Garapan komposisi tabuh kreasi ini menggunakan Gong Kebyar sebagai media ungkap. Adapun instrumen yang digunakan dari Gong Kebyar yang sebagai media ungkap antara lain:

a. Satu pasang kendang gupekan ( lanang dan wadon). b. Satu buah kendang lanang jedugan.

c. Satu ceng-ceng ricik ( kecil). d. Satu buah kajar.

e. Empat tungguh pemade. f. Empat tungguh kantilan. g. Satu tungguh ugal.

(20)

h. Dua tungguh jublag. i. Dua tungguh penyacah. j. Dua tungguh jegog. k. Satu tungguh reyong.

l. Sepasang Gong (lanang dan wadon). m. Satu tungguh kempur.

n. Satu tungguh bende. o. Lima buah suling.

p. Garapan ini terbagi atas IV bagian.

(21)

BAB II KAJIAN SUMBER

2.1 Sumber Pustaka

Terwujudnya suatu komposisi karawitan, tidak terlepas dari sumber dan informasi. Untuk menghasilkan karya seni yang di dalamnya mengandung nilai filsafat, etika, dan estetika, maka komposisi ini didukung dengan beberapa kajian sumber. Sumber- sumber tersebut diantaranya :

Pengetahuan Karawitan Bali. I WM Aryasa. 1984. Buku ini berisikan beberapa jenis gamelan Bali dan instrumenasi serta nama-nama gendingnya. Dalam buku ini terdapat informasi tentang fungsi dan instrumenasi dari gamelan Gong Kebyar.

Ubit-Ubitan Sebuah Teknik Permainan Gamelan Bali. 1987. I Made Bandem. Dalam buku ini disebutkan ada beberapa jenis ubit-ubitan yang ada dalam permainan gamelan Bali. Melalui buku ini penata mendapat masukan mengenai penggunaan beberapa jenis teknik ubit-ubitan yang ditranspormasikan lewat karya.

Estetika Sebuah Pengantar. 1999. A.A M. Djelantik. Referensi ini mengulas tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan seni, baik estetika itu sendiri, penyajian bobot, dan lain sebagainya dibahas dalam buku ini dan bagaimana meninjau kesenian dan keindahan secara ilmiah. Dengan adanya sumber ini penata mendapat masukan tentang segala sesuatu yang digarap dalam karya seni.

(22)

Ensiklopedi Mini Karawitan Bali. 1998. Pande Made Sukerta. Bandung : MSPI. Dalam buku ini dijelaskan beberapa istilah yang terdapat pada Karawitan Bali. Dengan membaca referensi ini, memberikan masukan bagi penata tentang gamelan Gong Kebyar yang akan digunakan sebagai media ungkap.

Prakempa Sebuah Lontar Gamelan Bali. Diterjemahkan oleh I Made Bandem, Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, 1998. Buku Prakempa ini merupakan sebuah lontar teologi gamelan Bali yang diduga cukup tua umurnya. Dari buku ini penata memperoleh informasi mengenai gamelan Bali yang di tinjau dari aspek filsafat, etika, estetika dan teknik (gegebug).

2.2 Sumber Discografi

Perwujudan karya seni tidak lepas dari tinjauan sumber yang melandasi, baik sumber buku maupun discografi. Sumber tersebut dikaji secara seksama dan mendalam guna dapat memberikan data yang akurat sebagai acuan karya yang diwujudkan. Adapun tinjauan sumber dan sumber discografi yang dipakai dalam garapan ini adalah:

Kaset tabuh kreasi, Delod Brawah, Festival Gong Kebyar PKB 2004 Kabupaten Badung, Produksi Bali Record pada tahun 2005, no kaset B 1134. karya I Wayan Widia, S.Skar, menginspirasikan penata untuk mencari pola melodi yang dinamis.

Mp3 tabuh kreasi, Lekesan, Festival Gong Kebyar PKB 2004 kota Denpasar karya I Nyoman Windha.SSkar.MA juga menginspirasikan penata untuk mengolah melodi-melodi, sebab kreasi Lekesan tersebut banyak memakai melodi-melodi yang sangant manis dan dinamis untuk didengar.

(23)

Video ujian akhir Kualit karya I Gusti Ngurah Alit Supariawan S.Sn yang menginspirasikan penata untuk mengolah motif-motif yang menurut penata cocok untuk dituangkan ke dalam karya komposisi karawitan tabuh kreasi Saka Cupak ini.

Parade Angklung Kebyar dalam ajang Pesta Kesenian Bali tahun 2010 dengan tabuh kreasi “Jangkrik Ngibing” karya I Made Mindrawan, dan tabuh keklentangan “Giri Asri” karya I Ketut Suarta Jaya SSKar, sebagai Duta Kabupaten Badung, yang dibawakan oleh Sekaa Angklung Guna Karya, Br. Adat Pangsan, Desa Pangsan, Kec. Petang, Kab. Badung. Pada garapan ini memberi inspirasi bagi penata untuk mewujudkan sebuah komposisi karawitan kreasi baru dengan berbagai olahan melodi, tempo dan pengembangan dari pola-pola tradisi karawitan Bali.

Rekaman MP3 Festival Gong Kebyar tahun 2008, tabuh kreasi “Murba” dan tabuh dua lelambatan “Toh Jiwa” tahun 2006 Duta Kabupaten Badung. Garapan ini bagi penata sangat menarik akan jenis kotekannya yang begitu padat dan menjadi jalinan utuh. Dari komposisi ini juga diperoleh pengetahuan pemanfaatan media yang tidak mungkin menjadi mungkin digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan kesan yang ingin disampaikan

(24)

BAB III

PROSES KREATIVITAS

Kesenian tidak lepas dengan perkembangan dari masa ke masa untuk menuangkan ide-ide artistik kedalam sebuah garapan tabuh kreasi, dalam hal ini seorang penata harus memerlukan pemikiran, ketrampilan, pengalaman, pengetahuan dan daya kreativitas. Dalam kreativitas tersebut diperlukan tahap-tahap yang bertujuan untuk memudahkan dalam berkarya, dengan cara memilah-milah dan mengklasifikasikan elemen-elemen yang berkaitan dengan garapan itu sendiri. Proses tersebut bisa berjalan dengan mudah dan cepat, tetapi bisa juga memakan waktu yang sangat lama, malahan bisa berhenti di tengah jalan, hingga karya yang di wujudkan tidak pernah terwujud. Pada dasarnya proses perwujudan itu menyangkut dua tahap, yang pertama adalah penciptaannya yang dimulai dengan dorongan yang dirasakan, disusul dengan ide yang menemukan cara-cara untuk perwujudannya, dan yang kedua adalah pengerjaan perwujudannya sampai karya itu selesai. Begitu juga dalam proses terbentuknya garapan musik Saka Cupak ini, mengalami proses panjang serta menguras tenaga dan pikiran untuk mewujudkannya.

Sebagai proses kreatif, seorang seniman memiliki kebebasan untuk menjalanni proses dan menafsirkan hal-hal apa saja yang menjadi pengaruh dari dalam maupun dari luar dirinya, sehingga mampu menghadirkan sebuah ide yang sesuai dengan latar blakang. Proses kreatif melalui pengumpulan elemen-elemen yang kiranya bisa mendukung terwujudnya sebuah karya seni, yang di dukung

(25)

oleh kemampuan menjalani sehingga terwujud menjadi sebuah karya seni yang utuh dan bisa menggambarkan serta memberikan kesan dan pesan kepada penikmatnya sesuai dengan apa yang penata inginkan.

Proses kreativitas merupakan sebuah tahapan-tahapan yang dilakukan oleh seorang komposer dalam mewujudkan karyanya. Sebagai karya yang akan dipertanggung jawabkan secara akademik, penciptaan garapan ini mengacu pada teori pengembangan kreatif yang dapat diklarifikasikan menjadi tiga bagian. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah: tahap penjajagan(eksplorasi); tahap percobaan(improvisasi), dan tahap pembentukan(forming).

3.1 Tahap Penjajagan (Eksplorasi)

Tahap penjajakan merupakan langkah awal dalam melakukan proses penggarapan karya seni. Pada tahapan ini yang dilakukan adalah pencarian ide atau bahan yang akan diangkat untuk dijadikan sebuah karya seni (Soedarsono, 1978). Upaya untuk mendapatkan ide garapan dilakukan melalui pengamatan-pengamatan dari suatu kejadian sosial di masyarakat, membaca buku, mendengarkan kaset-kaset, serta masukan-masukan seni yang mengarah pada suatu garapan karya seni, dimana pokok-pokok pikirannya akan dijadikan sebagai sebuah garapan karya seni. Pokok pikiran tersebut juga merupakan suatu tantangan untuk dapat melahirkan karya seni yang lebih inovatif. Maka dalam tahap penjajakan ini penata menemukan ide yaitu inggin mengangkat sebuah gambaran tokoh dari I Cupak yang sangat rakus. Dengan melihat fenomena yang terjadi saat ini, kebanyakan masyarakat masih membawa sipat buruk dari I Cupak. Contoh: korupsi, merebut tahta kekuasaan, dan merebut istri dari orang lain.

(26)

Fenomena tersebut terasa memiliki suatu kekuatan yang menggugah keinginan penata untuk mewujudkannya ke dalam sebuah garapan musik, penata terasa telah menemukan ide yang cocok untuk diangkat ke dalam sebuah garapan komposisi musik yang berjudul Saka Cupak.

Berangkat dari hal tersebut penata memikirkan bagaimana cara mengolah melodi yang ada serta apakah ada kemungkinan untuk mengeksplorasi melodi yang lain, kemudian bagaimana mengolah pola-pola dan teknik permainan tempo, mensiasati melodi, menjelajah pola ritme, dan mengatur dinamika yang dapat memberikan kesan bahwa dari mendengarkan musik ini penikmat bisa membayangkan tema sentral yang di kemas lewat bahasa musikalnya. Dengan demikian proses eksplorasi ini menjadi tahap yang sangat penting karena akan menentukan proses berikutnya. Eksplorasi terhadap pemilihan motip-motip merupakan hal yang penting pula agar sesuai dengan nuansa musical yang diinginkan. Kemudian memikirkan pola-pola pepayasan dari pola-pola melodi pokok dan unsur musikal lainnya merupakan hal yang sangat menentukan dari tingkat kwalitas bentuk karya itu sendiri.

Setelah disadari ternyata memang harus ada sikap dan rasa keberanian jika ingin menjadi composer handal yang dapat membuat karya khususnya karya karawitan yang orisinal. Bagi penata hal tersebut justru menjadi cambuk untuk tetap optimis dan berusaha untuk mendapatkan ide-ide segar dari pemikiran yang matang dengan menguji segala ide yang didapat untuk memperkaya motif yang di timbulkan. Berdasarkan rasa optimisme tersebut selanjutnya penata mencari referensi pustaka yaitu berupa buku-buku yang berkaitan dengan ide dan tema

(27)

garapan. Dengan acuan yang diperoleh dan berkompeten dengan ide yang di garap, selang berapa lama akirnya penata membulatkan tekad untuk menentukan judul garapan mulai pengajuan proposal pada tanggal 10-11 februari 2014, yang diberi judul Saka Cupak.

Menindak lanjuti usulan karya yang diajukan dan telah dinyatakan lulus tersebut, penata mulai mengadakan pendekatan kepada pendukung. Sekaa Gong Citra Gopta, Banjar Adat Petang, Desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung menjadi pilihan utama penata sebagai pendukung dalam mewujudkan karya ini, karena penata kebetulan ikut serta dalam keanggotaan sekaa tersebut. Keinginan penata untuk memakai Sekaa Gong Citra Gopta sebagai pendukung diagendakan dalam rapat pada tanggal 5 januari 2014. Setelah disepakati oleh sekaa tersebut dan mengatakan siap untuk mendukung ujian Tugas Akhir ini secara tulus ikhlas, selanjutnya penata mulai menyusun jadwal latihan.

Sambil menentukan waktu yang tepat untuk bertemu dan memulai latihan dengan pendukung, penata mulai merenungkan pola-pola baik itu berupa jalinan melodi, pola tempo, pola ritme, maupun motif-motif ornamentasi

3.2 Tahap Percobaan (Impropisasi)

Pada tahap percobaan ini penata mencoba berproses untuk menciptakan suatu karya seni. Pada tahap ini penata melakukan percobaan mencari melodi-melodi untuk pembuatan awalan dalam pembentukan tabuh kreasi agar awalan yang dibuat dapat menggambarkan konsep yang sudah dirancang oleh penata, yaitu bagimana caranya agar tahap percobaan ini bisa menggambarkan tokoh I Cupak, bagaimana manusia jaman sekarang yang masih kebanyakan membawa

(28)

sifat-sifat buruk dari I Cupak. Tahap ini menjadi sangat penting dalam memilih, mempertimbangkan, membedakan , membuat harmonisasi, dan kontras-kontras tertentu. Di sini persoalannya semakin konfleks, melebar, menyangkut rasa dan kedalaman. Singkatnya bagaimana mengatur seluruh bunyi dengan aspek penciptaan untuk satu kesatuan garapan komposisi, sehingga menemukan kesatuan terhadap berbagai percobaan yang tlah dilakukan. Setiap hasil eksplorasi, perenungan, dan juga hasil mencoba-coba dicatat, selanjutnya diwujudkan dalam bentuk notasi agar jangan sampai hilang.

Sebagai umat Hindu, penata mempunyai keyakinan bahwa setiap memulai kegiatan apapun bentuknya, terlebih dahulu dilakukan suatu proses persembahyangan guna memohon restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selama proses latihan berlangsung sampai akhir penyajian karya diberikan keselamatan, kelancaran serta petunjuk dengan jalan nuasen. Upacara ini dilakukan di Pura luhur Pucak manik Desa Adat Petang pada tanggal 27 Pebruari 2014 pada pukul 17.00 Wita, pada acara nuasen ini pun tidak semua pendukung yang berkesempatan hadir, namun demikian, tidak mengurangi kekhidmatan dari upacara tersebut. Setelah selusai sembahyang, penata mengadakan latihan ringan yang intinya adalah memulai latihan ini dengan tujuan supaya diberikan keselamatan dan berjalan dengan lancar. Untuk melakukan kegiatan latihan selanjutnya disepakati jadwal dilakukan lima kali dalam seminggu. Adapun hari yang penata tetapkan pada waktu itu adalah hari senin, selasa, rabu, kamis, jumat yang berlangsung dari pukul 19.00 sampai 22.00 Wita.

(29)

Pada latihan pertama yang dilakukan pada tanggal 27 Pebruari 2014 pada pukul 19.00-22.00 Wita, penata memberikan arahan atau penjelasan tentang bentuk yang diinginkan, agar mereka memahami ide dan konsep yang telah direncanakan. Selanjutnya memperkenalkan instrumen-instrumen yang digunakan serta menentukan peran pendukung berdasarkan kemampuannya. Pada latihan-latihan berikutnya sudah mulai mencari, pola susunan melodi, ornametasi, motif-motif, dimana penuangannya dilakukan secara bertahap, yaitu mulai dari bagian pertama, kedua, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar memudahkan bagi para pendukung memahami bagian-bagian yang terdapat dalam garapan.

Jadwal ini telah di tentukan berjalan sesuai harapan, tetapi ada kalanya pada saat latihan beberapa orang pendukung berhalangan hadir karena ada keperluan mendadak. Hal ini yang menyebabkan proses latihan menjadi kurang lancar, karena dalam garapan ini setiap instrumen berperan sama penting. Kendala lain yang mempengaruhi jalannya proses latihan adalah mengkordinir pendukung yang jumlahnya cukup banyak, diantara mereka ada saja yang berhalangan secara mendadak, sehingga sedikit mengganggu kelancaran dan target yang telah ditetapkan. Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan kesabaran yang tinggi karena jika tidak memaklumi situasi dan emosional biar berdampak pada hal yang tidak diinginkan. Memang dalam bermain gamelan rasa kebersamaan sangat besar pengaruhnya, jika dua atau lebih yang tidak hadir maka akan mengurangi semangat orang lain.

(30)

3.3 Tahap Pembentukan (Forming)

Pada tahap pembentukan ini merupakan tahap penyusunan dan pengolahan motif dan pola-pola gending hingga menjadi satu kesatuan wujud komposisi pada bagian-bagian yang telah dicari, di rangkai menjadi satu bentuk komposisi yang pada dasarnya masih kasar dan belum utuh. Hal ini terjadi karena ketidak puasan dari tafsiran penata sendiri dan dalam penuangan materi yang telah ditulis dalam bentuk notasi, memang belum menjamin terlaksana sesuai dengan yang dihapkan. Hal ini dapat pula menimbulkan kejenuhan dalam menuangkan materi. Dalam keadaan tersebut ternyata diperlukan keluwesan dan kesabaran dalam mempertimbangkan materi dengan pendukung untuk mencari pemecahannya. Sehingga sering tanpa disadari muncul secara sepontanitas materi-materi baru yang perlu ditambahkan dalam penggarapan tersebut. Mengingat pada bulan maret terbentur dengan hari raya Nyepi maka latihan di tunda beberapa hari agar pendukung tetap bisa santai pada saat hari raya tersebut, dengan demikian latihan selanjutnya dilakukan setelah hari raya penyepian tepatnya pada saat paling penyepian. Dalam tahap pembentukan ini proses penata dilakukan sudah lebih mengarah pada pembakuan karya. Maka proses latihan dari tahap ini lebih di padatkan dari tahap-tahap sebelumnya. Proses dalam mewujudkan garapan Saka Cupak ini dilakukan secara bertahap dari bagian I, bagian II, bagian III dan bagian IV. Dilakukan pemantapan materi baik dari segi bentuk, rasa, serta penampilan dari garapan ini. Sebagai karya yang bersifat akademik, perlu dilakukan proses evaluasi yaitu bimbingan dari para dosen pembimbing guna dicapai kesempurnaan dalam garapan ini. Dari hasil bimbingan ini hal-hal yang bersifat

(31)

korektif dan saran untuk penyempurnaan terhadap karya diterima dan dipertimbangkan sesuai dengan arahan yang diberikan.

Adapun pembimbing karya maupun sekrip karya yang telah memberikan masukan dan saran-saran yang sangat berarti untuk penyempurnaan garapan maupun sekrip karya ini adalah Bapak I Nyoman windha, SSKr., MA. selaku pembimbing satu dan Bapak I Nyoman Pasek, S.SKar, M.Si. selaku pembimbing dua. Masukan dan saran-saran tersebut antara lain mengenai ritme, dinamika, dan penonjolan-pononjolan tertentu terhadap instrumen yang dimainkan agar sesuai dengan pesan, kesan, dan suasana yang diharapkan.

(32)

Tabel 1

Tabel Pelaksanaan Kegiatan Latihan

No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan

1 Kamis 27 februari 2014.

Nuasen persembahyangan bersama beberapa pendukung dan pemangku. Tujuannya untuk memohon kepada ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar dalam proses pengarapan tidak mengalami hambatan dan dapat terwujud seperti yang penata harapkan.

Dilaksanakan dengan beberapa pendukung dan pemangku. 2 Jumat 28 februari 2014.

Menjelaskan secara menyeluruh bentuk karya yang akan digarap, dengan harapan para pendukung dapat mengerti maksud dan tujuan yang akan dicapai dengan penuangan bagian pertama.

-

3 Sabtu 1 Maret 2014.

Memantapkan materi sebelumnya Dengan beberapa pendukung yang bisa hadir 4 Minggu 2 Maret 2014.

Penata mencoba menambah materi dan mencoba menuangkan motif ubit-ubitan untuk bagian keII sediket namun sudah terbentuk secara kasar kemudian di rekam untuk di ingatkan

Dilaksanakan dengan beberapa pendukung 5 Senin 3 Maret 2014.

Menambah materi dari bagian I,dengan membikin transisi biar nyambung sampik bagian II.

Dengan beberapa pendukung

(33)

No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan 6 Selasa 4 Maret

2014.

Memperbaiki bagian-bagian yang belum dikuasai oleh pendukung sampai bagian I dan II Karena belum dikuasai dengan baik oleh pendukung 7 Selasa 11 Maret 2014.

Pada hari ini dilakukan rekam dari bagian I dan II Sebagai bahan untuk di dengarkan oleh teman yang sudah berpengalama dalam menggarap 8 Rabu 12 Maret 2014.

Mencoba untuk menuangkan melodi supaya cocok di jadikan bagian II (dua).

Latihan dengan beberapa pendukung yang bisa hadir 9 Kanis 13 Maret 2014.

Masih mencoba membikin melodi, pada bagian II. Dengan beberapa pendukung 10 Jumat 14 Maret 2014.

Masih memantapkan bagian I, dan II. Karena Pendukung sedikit yang hadir

(34)

No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan 11 Sabtu 15 Maret

2014.

Dengan mengingat-ngingat latihan yang sebelumnya Karena hujan tidak bisa lancar karena kehadiran pendukung yang sediki 12 Minggu 16 Maret 2014.

Latihan untuk menyelesaikan bagian I, bagian II, dan membikin transisi mencari bagian III, sampik rekaman.

Dengan kehadiran pendukung yang cukup banyak 13 Rabu 2 April 2014

Penata mencoba menambah materi dan menco menuangkan motif ubit-ubitan untuk bagian keII sediket namun sudah terbentuk secara kasar kemudian di rekam untuk di ingatkan

Karena libur panjang terbentur hari raya Kuningan 14 Kamis 3 April 2014.

Latihan untuk mengingat dan memantapkan bagian I (satu) dan II (dua) sampai selesai Dengan beberapa pendukung 15 Jumat 4 April 2014

Memperbaiki bagian-bagian yang belum dikuasai oleh pendukung sampai bagian I dan II Karena belum dikuasai dengan baik oleh pendukung

(35)

No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan 16 Sabtu 5 April

2014

Pada hari ini dilakukan rekam dari bagian I dan II Sebagai bahan untuk di dengarkan oleh teman yang sudah berpengalama dalam menggarap 17 Minggu 6 April 2014

Mencoba untuk menuangkan melodi supaya cocok di jadikan bagian III (tiga)

Latihan dengan beberapa pendukung yang bisa hadir 18 Senin 7 April 2014

Masih memantapkan bagian ke III Dengan beberapa pendukung

19 Selasa 8 April 2014

Masih memantapkan bagian III Karena Pendukung cukup banya yang hadir 20 Rabu 9 April

2014

Dengan mengingat-ngingat latihan yang sebelumnya Karena hujan tidak bisa lancer karena kehadiran pendukung yang sediki

(36)

No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan 21 Kamis 10 April

2014

Latihan untuk menyelesaikan bagian III Dengan kehadiran pendukung yang cukup banyak 22 Jumat 11 April 2014

Latihan di liburkan karena ada acra ngayaah di pura puseh kangin Desa Carangsari Petang Semus pendukung ngayah 23 Sabtu 12 April 2014

Latihan kembali mengalami hambatan karena cuaca yang hujan

Pendukung berhalangan hadir

24 Minggu 13 April 2014

Melakukan latihan dari bagian I II dan III dan menuangkan sedikit melodi dan mencari motif ubit-ubitan yang cocok untuk melodi yang sudah di siapakan untuk dijadikan bagian IV

Pendukung yang cukup banyak

25 Senin 14 April 2014

Latihan di liburkan sekali karena semua pndukung menyambut kedataangan Pembina dari Kabupaten Badung untuk mengusi acra pada PKB yang akan datang Pertemuan di sanggar Guntur madu Petang 26 Minggu 20 April 2014

Melanjutkan materi bagian IV Dengan pendukung yang sedikit Karena terbentur dengan ujian SMP

(37)

No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan 27 Senin 21 April

2014

Melanjutkan bagian IV sampai selesai dan mencoba mengingat dari bagian I II, III dan IV Dengan pendukung yang cukup banyak 28 Selasa 22 April 2014

Latian dilanjutkan dan seterusnya untuk persiapan gladi bersih tanggal 12 Mei 2013 Dengan pendukung yang gak menentu 29 Sabtu 3 Mei 2014

Gladi bersih di gedung Natya Mandala ISI Denpasar

Dengan semua pendukung

(38)

BAB IV WUJUD GARAPAN

4.1 Deskripsi Garapan

Garapan tabuh kreasi Saka Cupak merupakan garapan yang menggunakan satu barung gamelan Gong Kebyar sebagai media ungkap. Struktur garapan ini terdiri dari empat bagian yang setiap bagian mempunyai pola-pola yang dikembangkan baik dari teknik permainannya dan motif-motif gendingnya. Pengembangan tersebut diolah dari unsur-unsur musikal seperti ritme, melodi, dinamika dan warna suara yang ditimbulkan sehingga diharapkan bisa mewujudkan sebuah garapan yang terkesan baru.

Wujud merupakan salah satu aspek mendasar yang terkandung pada sebuah benda atau peristiwa kesenian. Wujud dimaksudkan kenyataan yang nampak secara kongkret di depan kita (berarti dapat dipersepsi dengan mata atau telinga) dan juga kenyataan yang tidak nampak secara kongkrit dimuka kita, tetapi secara abstrak dan wujud itu dapat dibayangkan, seperti sesuatu diceritakan atau yang kita membacanya dalam buku. Semua jenis kesenian, baik visual maupun yang auditif, dan yang abstrak mengandung dua unsur yang mendasar, yakni : bentuk (form) dan susunan (structure) (Djelantik, 1990: 17-18). Hal ini dilakukan agar sebuah karya seni mempunyai bobot yang cukup untuk dinikmati.

Saka Cupak merupakan komposisi yang menggunakan barungan Gong Kebyar sebagai media ungkap yang terdiri dari empat bagian. Penggarapan karya seni ini mengolah unsur-unsur musikal seperti ritme, melodi, dinamika dan warna

(39)

suara (timbre). Garapan ini diharapkan menampilkan kesan pembaharuan dengan mengembangkan pola-pola tradisi tersebut ke dalam bentuk garapan komposisi yang baru dengan berpedoman pada tiga unsur dasar estetik dalam struktur karya seni, meliputi: keutuhan (unity), penonjolan (dominance), keseimbangan (balance) (Djelantik, 1990: 32-45). Ketiga unsur tersebut dijadikan pedoman dalam penataan karya ini sehingga mampu menghasilkan karya yang utuh dengan penonjolan-penonjolan yang seimbang.

a. Keutuhan (unity)

Keutuhan yang dimaksudkan bahwa karya yang indah menunjukan dalam keseluruhan sifat yang utuh atau tidak ada cacatnya, berarti tidak ada yang kurang dan tidak ada yang berlebihan. Terdapat hubungan yang bermakna (relevan) antar bagian tanpa adanya bagian yang sama sekali tidak berguna atau tidak mempunyai hubungan dengan bagian yang lain (Djelantik, 1990: 32-33). Keutuhan dari garapan ini terlihat dari berhasilnya penyampaian pesan kepada penikmat melalui komposisi yang dihasilkan. Masing-masing bagian mempunyai makna, kesan, nuansa yang tercermin dari konsep yang diangkat.

b. Penonjolan (dominance)

Penonjolan mempunyai maksud mengarahkan perhatian orang yang menikmati suatu karya seni pada sesuatu hal tertentu, yang dipandang lebih penting dari hal-hal yang lain (Djelantik, 1990 : 41). Penonjolan dalam garapan ini dapat diamati pada perubahan ritme dan melodi disetiap bagian garapan ini.

(40)

Dapat pula diamati dari pergantian tempo, dari tempo cepat ke tempo lambat atau sebaliknya dan permainan instrumen secara bergantian.

c. Keseimbangan (balance)

Keseimbangan adalah apa yang dirasakan seimbang biasanya “ sama kuat” (Djelantik, 1990 : 44). Keseimbangan dimaksudkan adanya penekanan yang sama dari masing-masing instrumen. Adanya durasi waktu dari setiap bagian dalam garapan ini juga termasuk dalam unsur keseimbangan. Keseimbangan dalam garapan ini dilakukan dengan memberikan panjang pendeknya penonjolan yang dilakukan oleh setiap instrumen baik berupa melodi, ritme, tempo, dan dinamika sehingga keseimbangan bisa terwujud dalam garapan ini.

4.2 Struktur Garapan

Musikalitas garapan Saka Cupak   tersusun berdasarkan komposisi atau struktur garapan yang terdiri dari empat bagian pokok yang disebut sebagai bagian I, II, III, dan IV, masing-masing mempunyai karakteristik berbeda dari unsur-unsur musik yang ada.

Konsep garapan yang di terapkan dalam garapan ini masih memakai konsep tradisi inovasi, artinya masih ada elemen-elemen tradisi yang dipertahankan namun disertai dengan pembaruan baik dari segi teknik permainan maupun pengolahan fungsi masing-masing instrumen. Hasil akhir dari wujud garapan ini merupakan sebuah bentuk komposisi karawitan kreasi instrumental.

(41)

Bagian I

Bagian pertama dalam garapan Saka Cupak ini menggambarkan sosok sifat dari I Cupak dengan melihat fenomena yang terjadi di masyarakat zaman sekarang, kebanyakan manusia yang ingin merebut kekuasaan kerajaan (ingin menjadi seorang pemimpin). untuk menggambarkan kedalam bentuk garapan yaitu diawali dengan permainan kendang dan kekebyaran setelah itu diikuti dengan permainan reong setelah itu masuk pukulan kendang jagulan kemudian kembali diisi dengan vokal dan kekebyaran. Setelah itu diisi dengan melodi suling dan permainan reong dan permainana kendang yang di olah sedemikian rupa. kembali dengan kekebyaran kemudian diikuti dengan permainan gangsa dan kantil saling bergantian, kemudian masuk kotekan gangsa dan kantil, kemudian kembali memasuki kendang gupekan dengan motif geguletan dengan jalinan pukulan muka kendang lanang dan wadon ditambah dengan permainan reong. Kemudian diisi dengan melodi dari pukulan penyacah, jublag, jegog dan suling kemudian kembali dengan kotekan gangsa dan kantil, kemudian melodi jublag terus berjalan kemudian masuk instrumen suling sebagai pemanis melodi dengan mengikuti melodi jublag dan penyacah, setelah itu masuk permainan reong, setelah permainan reong diikuti oleh permainan kendang yang tidak mengikuti tempo. Instrumen sampai habis bagian pertama. Untuk lebih jelasnya, adapun notasi dari bagian pertama yaitu sebagai berikut:

(42)

^ o ^...o.^..^ o ^ ^ ^ o ^

.- < .- - < - < -

Bsm.

11 17 13 713

Kd. o.^..- < .- - < - -< -. ( o ( o ( ( ..^ o ^ ^ o ^ o ^ < - ^ o ^ Kebyar pengawak

11.1 .5435

.71 775 45.3.45 4431

Ry

.5 51 .5 51 .5 51 .137 15713

.1 .7 3453 43534 453 43543

.1 35 135 134 54 31 37 135

Gs

.1 15 15 13 553 .57 357

Ktl

775 .57

Gs

.7 75 53 31

(43)

Ktl

.1 11 44 4(

Kd. o ^ oo ^ o ^ o

.- < - < . - < - - < - < - < - <

.- < - < - < - < - o ^ o ^ < - o

^ o . ^ . o ^ o - < - < - < -

.- < - < - < - < - ^ ^ ^ - - ^ ^ ^

.^ .^ . o ^ o . ^ . o ^ o . ^ - < ^ - < ^ ^

.^ - ^ - . ^ . ^ - ^ - .^

Vocal

Pak cupak, pak cupak, pak cupak Bsm

(1)71 .57.45 .543 1343 1343 1343 1343(1)

Slng

1.345

Ry

..1345 5.1345 1345 ..171.57.45.34

Bsm

.7(1)

(44)

.77 1771

Pny, jb, jg

.5 .7(4)

Gs

.34

Kebyar

..13 13 333 3.33 1371 313 713

.55 .33 5533 5745 757 4575 431.

Suling 3=5= Sundaren

//543..31345..17574.

.545 54354..543 54313//2x

...1 31.3 54 .5 71 .75.5 75 .3 43

.1 71 34 3

...1 31 .3 54 .5 71 .75 .7 17 .1 31 .7 31 .73

Kd. o^ - ^ o o - . o - .^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^

. ^ o ^ o < - ^ o < - < - ^ o < -

-< - o . < - < - o < - o

. o o - - o - . ^ ^ ^ ^ ^ ^

. ^ o ^ o ^ o ^ < - ^ o ^

. ^ o ^ o ^ o ^ (o)

o - o - . ^ o ^ o < - ^ o < - ^ o < -

.11 .44 .11 .44 143 17

(45)

.5 755 755 7557

Pny,jb,jg 314(3) Gs

.3 17 37 75 534 343

41 14 41 17 171 443 .34 545 43 434 431 37 171

Kantil

.3 17 34 31 45 53 37 75 53 31 1(5)

Bsm. Pc 31 31 531 13 .5 .31 Jb 3. 53 47 14 7.5 171 Jg .3...17..1.543 Jb,pc

3.1353.13547.7.77

.5.5.4.7.3.5.4.3

.3.5.4.7.3.5.4.3

//....7134..57543.

4.534571..53457.5

.454315431.713//2x

Bsm,Rg

//.5 71 31 31 37 134

(46)

54313715713//

Bagian II

Bagian ke dua ini menggambarkan sosok I Cupak dengan melihat fenomena yang terjadi di zaman sekarang melihat sifat manusia yang haus dengan keseksian wanita dan juga ingin merebut istri dari orang lain (selingkuh). Untuk bagian ini diawali dengan permainan reong dan jegogan, setelah itu masuk instrumen pukulan gangsa, diikuti dengan permainan kantil dan melodi lalu masuk semua instrumen. Pada bagian ini permainan yang mendominasi adalah pola pukulan gegenderan dari instrumen gangsa dan diulang dua kali supaya memperjelas bagian ini, setelah bagian kedua ini diulang dua kali yaitu masuklah bagian transisi untuk peralihan kebagian tiga. Untuk lebih memperjelas paparan ini adapun notasinya sebagai berikut:

Bsm.

.4 31 71 37 13 71 33 41 37134

41 73 17 317. 334 57 57 .5.7

..33 35 74 57 45 74 57 45 455

45 17 53 54 3..3

Melodi (Gegenderan)

(47)

.75 45 754 .17 .71 54

37 171 .31 .54 .73 175 345.45 ..45 .4 54(3)

.4.515475431

515151.54134.1345

7575754754345.343.17

57133.7.3(1)

//1375 71 .5 .1 53 .45 45 .457.31//4x

171 57 .51 71 57 .31 71 57 .34

54 34 .53 54 34 .54 54 34 .7(1)

//171 .3 13175754 .5754 3457

.545.4543 1345 .43//2x

//3 575 71 .5 .1 53 .45 .45.

457 .31//2x

Suling

//13 13 43 45 457//2x

75 45 3.345 .45 75 75 17 543

...754...34 31..3431 354

..357...15 71 71 757

Bsm

553355115533535315151

Suling

1...57157.71 754...53457457.4571

Bsm

(48)

//1753//2x

Bagian III

Bagian ketiga ini menggambarkan fenomena dimasyarakat zaman sekarang yang selalu ingin menguasai kekayaan dari pemerintah dengan cara korupsi yang sama persis dengan sifat buruk I Cupak. Dengan demikian dibagian ketiga ini yaitu diawali dengan melodi suling, kemudian masuk kekebyaran dan penonjolan dari masing- masing instrumen tersebut seperti melodi, ritme, tempo dan dinamika dicoba di tuangkan dalam bagian ini. Pada bagian ini dengan pemanfaatan tempo dan pengolahan melodi, masing-masing instrumen ditata permainanya secara lincah dengan pola pukulan gegambangan, ubit-ubitan dan oncang oncangan.

Bsm

13 13 .3 14317

//431743174317431(7)

Bsm.

.5 713131313135431

//51515351//2x

11111317

Bende T T . T T . Melodi

(49)

//.77157.7715(7)//

.717543.71345.454317 71345.7.31

.317.34(1).317.34(1)

Kebyar

1.34 431 134 431

175 517 555 71 31 71

5.71 .1 .11 .34 3.4 545 .7.77

13 43 17571 33 13 713 43 14 431 111

Rg.

113 4143 113 4143

113 413 413 4143

1513.731 75 .5 17 57

15 71 37 13 41 34 53 457

Jb,pc.

//.5 17 53 45 717575431

34313457//

7.7.4 57 .1 .5 17 543171354

Bsm

.14.4.3.3.3(3)

57 57 .4 34 57 57 .44

.7.1.3.4.5.4.5.4.5.4.4.1.5.7

.1.7.1.7.1.3.4.5.7.5.7.5.7.1.3.4

.5.7.1.(3)//2x

(50)

Bsm.

14 .3 .3 .3 371 33 713.

.371 33 713 .4 3137

Bsm.

1...3...53457

.5 17 54 75 45 43 17(3)

.7317 .1431 .3543 .7317

Bsm.

.7 31 43 54 77 47

(7)57 .5 .3 .535151.41.4.1333

(3)33.3.(3)33.3

Bagian IV

Bagian IV merupakan bagian paling akhir dari garapan ini. Hampir semua unsur-unsur yang terdapat dalam komposisi seperti melodi, ritme, tempo, dan dinamika dicoba di tuangkan dalam bagian ini. Pada bagian ini dengan pemanfaatan tempo sedang dan pengolahan melodi, masing-masing instrumen ditata permainanya secara lincah dengan pola pukulan gegambangan, ubit-ubitan dan oncang-oncangan. Bagian ini masuk permainan instrumen kendang memakai kendang jendugan dan terdapat jagul di dalamnya. Sehingga memperkuat bahwa suasana pada bagian IV ini adalah melihat fenomena kehidupan masyarakat jaman sekarang masih banyak yang membawa sifat buruk dari I Cupak seperti, rakus

(51)

ingin mementingkan diri sendiri, dan ingin merebut hak dari orang lain, contoh; ingin mencuri, pada bagian ini berakhirlah garapan komposisi karawitan Saka Cupak ini. Adapun wujud dari garapan bagian IV ini dalam bentuk notasi adalah sebagai berikut: Bsm.

45 34 31 71 .7

.137 1571 313 4313 4173 1731

71 .7 .137 1571 3341 3713

4453 4534 545 .754

..45 .754..445.445.445.445.54317(1)

Mld.

17135431717135435

747445454171

3131343131313131431

317343141431354

.434343457575755717

413137.57.57

777777.333.3333

Bsm. kebyar

.57 .54 53431

//31313457575757545454543(1)//2x

Kd. //. o ^ o ^ - o ^ -// 2x

(52)

Bsm. 1...5

11.7.711.7.717.71

51351317.5.577.5.575.57

Gs.

75.5 75 .5 75 .5 75 .57

754 543 13.1757.13

543 17.5713

Mld.

.7 5.34.17.7134543134

17 571 4313417 571

Bsm.

...7.3(1)17 543.13.171317

5554 317 5554 31 753.171

377.5457.45717

Mld.

//....1371..517543

.4534534..17137(1)//

Bsm.

//13 13 43 45 457//2x

111(1) 71574571574571

111(1).151.5 153 53 .5 351

51 .5 153 53 .5 357

4574575745745731111(1)

(53)

Vocal. Huuhh!!!!!

. ^ o ^ ^ o ^ . o ^ o ^ . < -

Bsm.

131131137137

//7517547541431//

54315431

11111.1.11.11

111(1)

Kd. ^ ^ ^ ^ . o ^ o ^ < - ^ .- < - ^ - < - o // . o ^ o ^ - o ^ - //2x

. o ^ o ^ < - < -

//. O ^ ^ ^ o ^ ^ ^ //2x

. ^ o o ^ o ^ o ^ ^ ^ o ^

.o ^ o ^ < - o ^ <

.o ^ < - o o < - o

^ < - o ^ < - o ^ o ^ < - o ^ o . ^

. o ^ o . ^ o ^ . < -

Bsm.kebyar

151.5757457574575

453 33.3313 713

(54)

13 71 31 757 57 457 57 45

75 71(3)

.7 31 43 547

Vocal. Caka Cupak Bsm.

.4754 .354 5754(7)

4.3 Instrumenasi 4.3.1 Fungsi Instrumen

Fungsi dari masing-masing instrumen Gong Kebyar dalam garapan ini tidak jauh menyimpang dari fungsi sebelumnya (tradisi), hanya saja ada beberapa insrtumen yang dikembangkan fungsinya, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan musikalitas untuk mendukung ide dari garapan ini.

Adapun fungsi instrumen dalam garapan ini adalah sebagai berikut: 1. Ugal

- Membawa melodi gending

- Menghubungkan ruas-ruas gending 2. Pemade dan Kantilan

- Membuat jalinan-jalinan tertentu

- Memberi hiasan terhadap nada pokok berupa ubit-ubitan 3. Jublag

- Menentukan jatuhnya pukulan jegogan

(55)

4. Jegogan

- Memperjelas tekanan-tekanan gending pada setiap akhir kalimat lagu. - Dalam garapan ini fungsi dari instrumen jegogan juga dikembangkan

sebagai pembawa melodi. 5. Reong

- Memberikan angsel-angsel (ritme) - Membuat jalinan motif-motif tertentu

- Memberi hiasan pada nada pokok berupa ubit-ubitan

- Membuat jalinan melodi tertentu dengan permainan tunggal 6. Kendang

- Sebagai pemurba irama

- Sebagai penghubung ruas-ruas gending - Memberi angsel-angsel

7. Gong

- Sebagai finalis lagu/gending

- Memberikan tekanan-tekanan sesuai dengan tujuan lagu itu sendiri

- Tapi dalam garapan ini jatuhnya pukulan gong tidak memakai hitungan artinya jatuhnya pukulan gong pada lagu yang tepat.

8. Kempur

- Memberi aksen pada itungan tertentu - Pematok ruas gending

9. Klentong

(56)

10. Kajar

- Sebagai pemegang tempo 11. Ceng-ceng ricik

- Sebagai pengisi irama

- Membuat angsel-angsel, variasi-variasi tertentu bersama dengan - kendang.

12. Suling

- Memperindah bagian-bagian gending yang lirih - Membuat suasana tertentu

- Menjalankan melodi

- Dalam garapan ini suling sangat memegang melodi. 13. Kempli

- Dimainkan secara bergantian dengan kempur dalam satu gong

4.4 Sistem Notasi

Sistem notasi yang dipergunakan dalam garapan ini adalah sistem notasi karawitan Bali yang disebut dengan notasi Ding-Dong yang simbulnya adalah lambang atau simbul yang berasal dari penganggening aksara Bali, yang berupa (4)tedong, ( 5 ) taleng ,( 7 ) suku ,( 1 ) carik, (3) ulu, ( 6 ) suku ilut dan ( 2 ) pepet. Penulisan notasi ini dicatat dalam bentuk notasi preskriftif yang artinya notasi yang dibuat secara detail. Notasi ini harus dimainkan seperti apa yang tercatat dalam notasi itu sendiri.

Penganggening aksara Bali ini bila dibaca dalam karawitan Bali maka aksara tersebut akan berbunyi ( 4 ) dong, ( 5 ) deng, ( 6 ) deung, ( 7 ) dung, ( 1 )

(57)

dang, ( 3 ) ding, ( 2 ) daing. Bunyi seperti ini terdapat pada laras pelog 7 nada. Untuk lebih jelasnya simbul-simbul tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 2

Penganggening Aksara Bali

Dibaca dalam laras pelog sapta nada

No Simbol Nama Aksara Dibaca

1 2 3 4 5 6 7  

3

4

5

6

7

1

2

  Ulu Tedong Taleng Suku ilut Suku Carik Pepet   Ding Dong Deng Deung Dung Dang Daing  

Disamping penggunaan simbol-simbol nada di atas, juga dilengkapi dengan simbol-simbol lain untuk mewakili beberapa instrumen, antara lain lihat pada tabel berikut:

(58)

Tabel 3

Lambang dan Peniruan Bunyi Instrumen

No Instrumenasi Lambang Peniruan Bunyi

1 Kempur +

2 Gong ( . )

3 Kendang lanang ( T ) Tut ( pukulan pada bagian muka kiri kendang ditutup dengan jari)

4 Kendang wadon ( D ) De ( pukulan pada bagian muka kendang)

5 Kendang lanang dan wadon ( C ) Cung ( dipukul bagian tengah muka kanan kendang dengan jari)

       

Selain penggunaan simbol-simbol tersebut, juga dilengkapi oleh tanda-tanda yang umum dipakai dalam pencatatan atau penulisan notasi karawitan Bali, meliputi :

a. Tanda Titik ( . )

Satu titik di atas mempunyai makna dimainkan satu oktaf lebih tinggi dari nada normal, sebaliknya satu titik di bawah mempunyai makna dimainkan satu oktaf lebih rendah dari nada normal.

b. Tanda Ulang . . . .

Tanda ini berupa dua garis yang diletakan di depan dan dibelakang kalimat lagu dan memdapan makna pengulangan.

(59)

c. Garis Nilai . . . .

Garis ini berupa garis yang diletakan di atas simbol nada yang menunjukan nilai nada tersebut dalam satu ketukan.

d. Tanda Coret Miring Pada Simbol ( 3 )

Simbol nada yang mendapat tanda ini mempunyai arti bahwa dalam prakteknya nada tersebut dimainkan dengan cara dipukul sambil menutup bilahnya.

e. Singkatan-singkatan Istilah

Untuk memudahkan dalam penulisan notasi, ada beberapa singkatan-singkatan istilah yang dipergunakan, antara lain:

1. Kd : Kendang 2. Gs : Gangsa 3. Kt : Kantil 4. Ry : Reyong 5. Pc : Penyacah 6. Jg : Jegogan 7. Bsm : Bersama 8. Sl : Suling 9. Cr : Ceng-ceng Ricik 10. Jb : Jublag

Demikianlah simbol-simbol dan beberapa singkatan istilah yang dipergunakan dalam penulisan notasi garapan Saka Cupak ini.

(60)

4.5 Analisa Penyajian/Penampilan

4.5.1 Tempat Pementasan dan Setting Instrumen

Garapan Saka Cupak ini dipentaskan dihadapan dewan penguji Tugas Akhir Karya Seni yang bertempat di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar. Gedung Natya Mandala yang panggungnya menghadap ketimur, dengan kondisi panggung seperti itu, maka masing-masing instrumen yang digunakan dalam garapan ini di atas sedemikian rupa berdasarkan konsep dan kebutuhan penata dalam garapan ini.

Adapun penempatan masing-masing instrumen dalam garapan ini dapat dilihat seperti gambar berikut:

10 9 9 8 8 8 8 6 6 6 6 5 14 15   12 12 1 2 4   3 11   11   7   16   16   13   17  

(61)

Keterangan :

1. Kendang Wadon 2. Kendang Lanang 3. Ceng-ceng Ricik

4. Suling 5. Kajar 6. Gangsa

7. Ugal 8. Kantil 9. Jublag

10. Reyong 11. Penyacah 12. Jegogan

13. Kempur 14. Klemong 15. Kempli

16. Gong 17. Bende

4.5.2 Kostum

Dalam penyajian garapan komposisi Saka Cupak ini didukung rias wajah dan penataan kostum yang cukup berperan untuk hal penampilan. Garapan ini menggunakan kostum adat Bali, namun tidak menggunakan baju. Busana yang dipakai adalah :

• Memakai hiasan kepala yaitu udeng warna hitam dihiasi motif-motif kembang prada berwarna kuning.

• Memakai selendang yang dililitkan dileher untuk pengganti baju dengan warna merah tua dihiasi motif-motif kembang prada berwarna kuning keemasan.

• Memakai kain sesaputan yang berwarna hitam yang dihiasi motif kembang prada berwarna kuning.

(62)

4.5.3 Tata Lampu dan Tata Penyajian

Garapan dengan judul Saka Cupak ini disajikan dengan situasi yang cenderung tidak menentu. Oleh karena itu diperlukan pengaturan tata lampu yang sesuai dengan tema yang diangkat. Untuk mendukung dalam garapan ini menggunakan penataan lampu yang didominasai pemakaian lampu general. Sebagai latar belakang garapan ini menggunakan latar gapura dan menggunakan dekorasi panggung seperlunya.

(63)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari uraian di atas yang telah dijabarkan dari Bab I sampai Bab IV akhirnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Komposisi karawitan Saka Cupak ini merupakan komposisi yang diwujudkan sesuai dengan ide-ide yang dikaitkan dengan suasana sifat-sirat I Cupak ke dalam bentuk sebuah komposisi karawitan kreasi.

Melalui garapan ini penggarap ingin berkomposisi dengan memaksimalkan serta mengangkat potensi elemen yang ada sebagai media ungkap dalam berkomposisi.

Dalam garapan ini penggarap mencurahkan pengalamannya ke dalam bentuk garapan komposisi untuk dijadikan sebuah tabuh kreasi baru yang berjudul Saka Cupak.

Komposisi garapan Saka Cupak ini adalah komposisi yang terdiri dari empat bagian yaitu bagian pertama, bagian dua, bagian tiga dan bagian empat, dengan beberapa peralihan yang menghubungkan bagian-bagian tersebut, dimana masing-masing bagian mempunyai karakter musikal yang berbeda.

(64)

5.2 Saran-saran

Tradisi budaya, termasuk kesenian terus-menerus mengalami perubahan, dimana proses perubahan merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan tradisi, oleh karenanya melalui tulisan ini penggarapan menyarankan kepada seniman-seniman khususnya para mahasiswa di lingkungan ISI Denpasar agar:

1. Dalam memanfaatkan proses perubahan tersebut sebagai tantangan dalam berkreativitas tanpa membuang dan meninggalkan tradisi yang ada.

2. Mewujudkan sebuah karya seni bukanlah suatu hal yang mudah, oleh karena itu diperlukan kesiapan yang cukup matang, baik kesiapan mental maupun yang lainnya.

3. Sebelum melangkah keproses garapan penentuan konsep dan ide yang matang jauh sebelumnya merupakan kunci untuk meraih keberhasilan di dalam berkarya.

4. Diharapkan agar para seniman akan semakin tergugah untuk menciptakan karya seni dengan menggunakan instrumen gamelan Gong Kebyar.

(65)

DAFTAR PUSTAKA

Aryasa. I WM. 1984. Pengetahuan Karawitan Bali. Denpasar. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali

Bandem, I Made. 1987. Ubit-Ubitan Sebuah Teknik Permainan Gamelan Bali. Denpasar: Dilaksanakan Atas Biaya Daftar Isian Kegiatan STSI. Dikjen Pendidikan Tinggi Depdikbud

Djelantik, A.A M. 1999. Estetika Sebuah Pengantar. Denpasar: STSI Denpasar Edmud, Prier SJ, Karl. 1996. Ilmu Bentuk Musik.

(66)

DAFTAR DISCOGRAFI

Jaya, I Ketut Suarta. 2010. Tabuh Keklentangan “Giri Asri” Parade Angklung Kebyar dalam ajang Pesta Kesenian Bali

Mindrawan, I Made. 2010. “Jangkrik Ngibing” Parade Angklung Kebyar dalam ajang Pesta Kesenian Bali

Supariawan, I Gusti Ngurah Alit. 2011. Kualit. Video karya ujian akhir STSI Denpasar.

Widia, I Wayan. 2004. “Tabuh Kreasi Delod Brawah”, Festival Gong Kebyar PKB Kabupaten Badung 2004, Denpasar: Produksi Bali Record, no kaset B 1134.

Widia. I Wayan 2006. Dua Lelambatan “Toh Jiwa” Festival Gong Kebyar tahun 2006. Rekaman MP3. Duta Kabupaten Badung

Widia. I Wayan 2009. Tabuh Kreasi “Murba” Festival Gong Kebyar tahun 2008. Rekaman MP3. Duta Kabupaten Badung

Windha. I Nyoman 2004. “Tabuh Kreasi Lekesan”, Festival Gong Kebyar PKB kota Denpasar . Mp3

(67)
(68)

Lampiran 1. Sinopsis Garapan

Ketika globalisasi mengikis kearfan lokal yang tercermin pada kehidupan masyarakat jaman sekarang yang cenderung berorientasi kepada tahta, harta, dan kekuasaan serta pengakuan atas status sosia paling tinggi dari orang lain. Hal tersebut mengakibatkan manusia diliputi sifat-sifat angkara murka, tamak, lhoba bagaikan I Cupak pada dalam mitologi masyarakat Bali.

I Cupak menjelma dalam segala aspek kehidupan, banyak I Cupak yang memanfaatkan keadaan untuk kepentingan diri sendiri. Melihat fenomena tersebut dapat diartikan bahwa tahun ini adalah tahun Cupak, hal inilah menjadi landasan awal dari penata muda untuk menterjemahkan sifat dan tingkah pola I Cupak, maka penata mengangkat sebuah judul yaitu Saka Cupak. Tabuh kreasi Gong Kebyar ini masih berpijak pada strukur dan pola-pola tradisi dengan pengembangan tanpa menghilangkan teks, konteks, dan kontekstual dalam penataannya. Hingga nanti mampu memberi pembaharuan dalam ranah tabuh kreasi Gong Kebyar.

(69)

Lampiran 2. Notasi Bagian I

^ o ^...o.^..^ o ^ ^ ^ o ^

.- < .- - < - < -

Bsm.

11 17 13 713

Kd. o.^..- < .- - < - -< -. ( o ( o ( ( ..^ o ^ ^ o ^ o ^ < - ^ o ^ Kebyar pengawak

11.1 .5435

.71 775 45.3.45 4431

Ry

.5 51 .5 51 .5 51 .137 15713

.1 .7 3453 43534 453 43543

.1 35 135 134 54 31 37 135

Gs

.1 15 15 13 553 .57 357

Ktl

775 .57

Gs

.7 75 53 31

(70)

Ktl

.1 11 44 4(1)

Kd. o ^ oo ^ o ^ o

.- < - < . - < - - < - < - < - <

.- < - < - < - < - o ^ o ^ < - o

^ o . ^ . o ^ o - < - < - < -

.- < - < - < - < - ^ ^ ^ - - ^ ^ ^

.^ .^ . o ^ o . ^ . o ^ o . ^ - < ^ - < ^ ^

.^ - ^ - . ^ . ^ - ^ - .^

Vocal

Pak cupak, pak cupak, pak cupak Bsm

(1)71 .57.45 .543 1343 1343 1343 1343(1)

Slng

1.345

Ry

..1345 5.1345 1345 ..171.57.45.34

Bsm

.7(1)

Gs

(71)

.77 1771

Pny, jb, jg

.5 .7(4)

Gs

.34

Kebyar

..13 13 333 3.33 1371 313 713

.55 .33 5533 5745 757 4575 431.

Suling 3=5= Sundaren

//543..31345..17574.

.545 54354..543 54313//2x

...1 31.3 54 .5 71 .75.5 75 .3 43

.1 71 34 3

...1 31 .3 54 .5 71 .75 .7 17 .1 31 .7 31 .73

Kd. o^ - ^ o o - . o - .^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^

. ^ o ^ o < - ^ o < - < - ^ o < -

-< - o . < - < - o < - o

. o o - - o - . ^ ^ ^ ^ ^ ^

. ^ o ^ o ^ o ^ < - ^ o ^

. ^ o ^ o ^ o ^ (o)

(72)

o - o - . ^ o ^ o < - ^ o < - ^ o < -

.11 .44 .11 .44 143 17

.5 755 755 7557

Pny,jb,jg 314(3) Gs

.3 17 37 75 534 343

41 14 41 17 171 443 .34 545 43 434 431 37 171

Kantil

.3 17 34 31 45 53 37 75 53 31 1(5)

Bsm. Pc 31 31 531 13 .5 .31 Jb 3. 53 47 14 7.5 171 Jg .3...17..1.543 Jb,pc

3.1353.13547.7.77

.5.5.4.7.3.5.4.3

.3.5.4.7.3.5.4.3

//....7134..57543.

4.534571..53457.5

.454315431.713//2x

Referensi

Dokumen terkait

Tanaman yang kurang sesuai untuk fungsi penjerap partikel merupakan tanaman dengan beberapa ciri fisik yang mencukupi untuk penjerapan partikel namun kurang baik pada beberapa

Tujuan dilakukannya penelitian dalam tugas akhir ini adalah menciptakan sebuah buku pembelajaran bahasa inggris dengan menggunakan teknologi augmented reality berbasis android

a) Rasa tidak percaya diri di kalangan anggota perempuan untuk mengajukan usul atau pendapat. Hal ini bisa terjadi dikarenakan sosok perempuan yang terbiasa berbicara

Sedangkan pada pesisir pantai terdapat hutan mangrove yang tumbuh cukup baik pada bagian utara, barat, hingga ke selatan, namun daerah timur pulau ini sudah banyak mangrove

Sebagaimana yang dikatakan oleh Meichati (dalam Purwati dan Lestari: 2002) bahwa hidup beragama akan dapat memberikan bantuan moral dalam menghadapi krisis serta

Hasil analisis data FTIR dan XRD menunjukkan bahwa kalsinasi hidrotalsit Mg/Al pada temperatur kalsinasi 200 o C tidak mengakibatkan perubahan struktur senyawa hidrotalsit,

Sedangkan menurut madzhab Hanafi orang yang berakad, barang yang dibeli dan nilai tukar barang termasuk syarat jual beli bukan rukun jual beli. Ali Hasan, Berbagai

Kamus data digunakan untuk menyimpan deskripsi semua data yang digunakan pada Aplikasi Penentuan Lokasi Pengeboran Minyak Bumi menggunakan algoritma Ant-based Clustering