• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SEMIOTIKA ROLAND BARTHES. Semiotika Roland Barthes yang menjadi analisa dalam lirik Karatagan Ciremai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III SEMIOTIKA ROLAND BARTHES. Semiotika Roland Barthes yang menjadi analisa dalam lirik Karatagan Ciremai"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

Semiotika Roland Barthes yang menjadi analisa dalam lirik Karatagan Ciremai akan diuraikan dalam bab ini. Penjelasan semiotika secara teoritis dan beberapahal yang menjadi kerangka penting dalam semiotika dibahas pada ini. Kemudian mitos yang merupkan analisa semiotika Roland Barthes menjadi gambaran dalam analisis lirik lagu pada bab selanjutnya.

3.1. Semiotika

Pada masa filsafat Yunani dua ribu tahun yang lalu sudah memikirkan fungsi tanda-tanda dan pada abad pertengahan pengertian serta penggunaan tanda suda disinggung-singung. Islitah semiotika baru digunakan pada abad 18 yang dicetuskan oleh ahli filsafat kelahiran Jerman bernama Lambert.1 Istilah semiotika kemudian banya dibahas secara panjang lebar dan sistemati pada abad 19 oleh beberapa tokoh seperti Roland Barthes, Julia Kristeva, Umberto Eco, Charles Sanders Pierce dan Ferdinand Saussure.

Kelahiran semiotika modern mengenal dua tokoh besar dalam penggagas semiotika yaitu Charles Sanders Pierce dan Ferdinand Saussure. Kedua tokoh tersebut hidup satu zaman namun tidak saling mengenal. Pierce yang memliki latar belakang ahli logika dan Saussure berlatar belekang linguistik. Memunculkan perbedaan dalam penggunaan istilah. Pierce menggunakan istilah

(2)

semiotika dan Saussure menggunakan istilah semiologi. Tidak ada perbedaan yang essensial terhadap kedua istilah ini, yang berbeda hanya mengacu pada orientasi pengguna istilah yaitu kubu Pierce dan kubu Saussure.2 Istilah semiotika lebih populer digunakan oleh banyak pemikir termasuk kubu dari pemikiran Saussure.

Semiotika berasal dari bahasa Inggris semiotic sedangkan bahasa Yunani

semeion yaitu tanda, yang berarti teori tanda-tanda.3 Mengkaji tanda-tanda untuk menemukan makna-makna yang ada dibaliknya. Menurut Saussure semiotika atau semiologi merupakan ilmu yang mengkaji tanda-tanda dalam kehidupan sosial.4

Umberto Eco mengatakan Semiotika secara prinsipil ialah ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berbohongan. Atau kerapkali disebut dengan teori dusta.5 Semiotika sebagai teori dusta yang dikemukakan oleh Eco menjadi merupakan makna yang secara implisit menjelaskan makna kebalikan. Jika semiotika dapat mengungkapkan dusta maka secara otomatis mengetahui kebenaran yang ada di baliknya.

Semiotika menekankan pada pembacaan tanda-tanda untuk mengetahui makna yang ada dibaliknya. Saussure menyatakan pentingnya suatu ilmu tanda

2Zoest, Op. Cit. Hal 2

3Lorens Bagus, (2000) Kamus Filsafat. Jakarta; Gramedia Pustaka Utama. Hal. 985.

4Saussure, Ferdinand De. (1988) Pengantar Linguistik Umum. Diterjemahkan; Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta; Universitas Gajah Mada Press.hal.82

5Eco, Umberto. (2011) Teori Semiotika; Signifikasi komunikasi, Teori Kode, serta Teori Produksi-Tanda, Yogyakarta; Jalasutra Hal 7

(3)

dalam pengantar bukunnya.6 Perkembangan teori semiotika semakin detail dari analisa tanda dan sekaligus semakin luas pembahasan akan tanda-tanda yang ada dalam kehidupan sehari-hari. John Fiske mengemukakan semiotika mempunyai tiga studi utama, yaitu:7

a. Tanda adalah konstruksi manusia yang dapat hanya dipahami bagi penggunannya. Banyak perbedaan akan tanda-tanda sendiri dan

penyampaian tanda akan makna. Hal ini kemudian terbagi menjadi istilah penanda dan petanda yang akan selalu ada dalam embhasan semiotika. b. Kode adalah pengorganisasian berbagai tanda-tanda yang memiliki makna

atas konvensi atau kesepakatan yang dibangun. Kode meliputi ‗pilihan dan hubungan‘—paradigmatik dan sintagmatik.

c. Kebudayaan adalah dimana tempat beroperasinya tanda dan kode. Makna didapatkan tergantung pada penggunaan tanda dan kode yang dipahami bersama. Sebagimana yang diungkapkan Saussure, tanda memiliki ‗kehidupan dalam masyarakat.

Saussure menjelaskan model analisa penelitian bahasa, yaitu analisis diakronik dan sinkronik. Analisis diakronik adalah analisis tentang perubahan historis bahasa yaitu bahsa dalam perubahan dimensi waktu , perkembangan dan perubahanya. Analisis sinkronik adalah analisis yang di dalamnya mengambil

6

Zoest,Op. Cit. 56

7John Hartley. (2010) Communication, Cultural dan Media; Konsep Kunci. Diterjemahkan; Kartika Wijayanti. Yogyakarta; Jalasutra. hal 279

(4)

irisan sejarah dan mengkaji struktur bahasa hanya pada satu momen tertent saja, bukan dalam konteks perubahan historisnya.8

Selain analisis bahasa, C.S Morris menjelaskan tiga analisis semiotika, yaitu dimensi sintaktik, semantik dan paradigmatik. Sintaktik adalah berkaitan dengan studi mengenai tanda itu sendiri secara individual maupun kombinasinya. Semantik, studi mengenai relasi antara tanda dan signifikasi atau maknanya. Pragmatik adalah studi mengenai relasi antara tanda penggunanya (interperter).9

Semiotika sering disalahmengertikan dengan ilmu komunikasi. Ilmu komunikasi lebih memfokuskan diri pada studi teknis mengenai cara pesan transmisi dan pada hukum matematis dan psikologis yang mengatur transmisi, resepsi dan pemprosean informasi. Semiotika lebih memperhatikan makna pesan dan cara pesan disampaikan tanda-tanda.10

3.2. Penanda dan petanda

Semiotika muncul sebagai pembacaan akan adanya penandaan dan petandaan yang disebut dengan tanda. Menurut Ferdinand De Saussure, sebuah tanda terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified).11 Keterkaitan antara penanda dan petanda bersifat arbiter karena tidak ada ketekaitan logis. Penandaan

8 Yasraf A Piliang (2000). Hipersemiotika; Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta; Jalasutra. Hal 256

9Danesi, Marcel. (2012) Pesan, Tanda dan Makna; Buku Teks Dasar Mengenai Semiotik dan

Teori Komunikasi. Diterjemahkan; Evi Setyarini dan Lusi Lian Piantari. Yogyakarta; Jalasutra.12

10Danesi, Op. Cit. Hal13

(5)

adalah proses yang terjadi di pikiran pada saat menggunakan atau menafsiri tanda.12

Penanda mengacu pada petanda yang kemudian mengacu pada referensi atau realitas.13 Penandaan yang bersifat arbiter mengacu pada ranah acuan yang tidak terbatas. Acuan dapat bersifat konkret, abstrak ataupun imajiner. Acuan itu mungkin ada, pernah ada atau mungkin akan ada di masa yang akan datang. Semua yang dibayangkan oleh manusia dapat menjadi sebuah acuan.14

Charles Sander Pierce membagi tiga tipologi tanda.15 Pertama indeks yaitu tanda yang memiliki hubungan penanda (signifer) dan petanda (signifed) di dalamnya bersifat kausal, seperti hubungan asap dan api. Kedua, ikon yaitu tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat keserupaan (similitude). Simbol adalah tanda yang hubungan penanda dan petandanya bersifar arbiter atau konvensional.

Tanda tidak dapat dilihat hanya secara individu, akan tetapi dalam relasi dan kombinasi dengan tanda-tanda lainya dalam sebuah sistem. Seperangkat bentuk tanda yang dikombinasikan dengan cara tertentu atau sistem disebut dengan teks. Pengertian teks sangat luas dalam cakupan penggunaan seperti, televisi, fesyen, patung, puisi atau iklan.

12Danesi, Op. Cit. Hal 15

13

Yasraf (2000) Hipersemiotika, Hal.158 14Zoes,Op. Cit. Hal. 12

(6)

Analisa teks melibatkan apa yang disebut dengan aturan pengkombinasian

(rule of combination) terdiri dari dua aksis. Pertama, aksis paradigmatik yaitu

perbendaharaan tanda atau kata. Kedua, aksis sintagmatik (syntagmatic) yakni cara pemilihan dan pengkombinasian perbendaharaan tanda tersebut berdasarkan aturan atau kode tertentu sehingga dapat menghasilkan makna tertetu.16

Menurut Barthes sebuah teks terbentuk dari fragmen-fragmen dari sesuatu yang telah dibaca, dilihat, dilakukan, dialami; kode adalah kebangkitan dari yang telah ada tersebut.17 Pengkombinasian kode dilandasi oleh kesepakatan sosial yang berlaku dalam satu komunitas bahasa. Pengkombinasian tanda-tanda berdasarkan aturan dan kode tertentu. Sehingga dapat menghasilkan sebuah ekspresi bermakna yang dapat dikomunikasikan dari individu kepada individu lain.

Dua model aksis bahasa yang dikemukankan Saussure yaitu sintagma dan paradigma. Roland Barthes mengembangkan sebuah model relasi antara apa yang disebut dengan sistem, yaitu perbendaharaan tanda (kata, visual, gambar, benda) dan sintagma. Yaitu cara pengkombinasian tanda dengan menggunakan aturan tertentu.18

Selain kombinasi tanda untuk menghasilkan konvensi sosial. Interaksi diantara tanda-tanda perlu diperhatikan, yaitu metafora dan metonim.19 Metafora adalah sebuah interaksi tanda yang di dalamnya sebuah tanda dari sistem

16Yasraf (2011), Op. Cit. Hal 162 17

Yasraf (2011), Op. Cit. Hal 171 18Yasraf (2000), Op. Cit. Hal 260 19Yasraf (2011), Op. Cit. Hal 163

(7)

digunakan untuk menjelaskan makna sistem yang lain. Metonim adalah interaksi tanda ketika sebuah tanda diasosiasikan dengan tanda lain dan di dalamnya terdapat hubungan bagian dengan keseluruhan.

Hjelmslev menandaskan bahwa ―sepertinya akan lebih tepat jika kata tanda digunakan sebagai nama bagi unit yang terdiri dari bentuk-isi (content-form) dan bentuknya-ekspresi (exspression-(content-form) dan terbentuk dari kesalingterkaitan yang disebut dengan fungsi‖.20

Fungsi tanda dapat lahir jika sebuah ekspresi dikaitkan dengan sebuah isi. Saussure menyebut sebuah tanda adalah korespodensi antara penanda dan petanda yang dapat diterima. Asumsi ini melahirkan hal-hal berikut:21

a. Tanda bukanlah entitas fisik, kalau disebut fisik itu hanya kemunculan konkret elemen ekspresif.

b. Tanda bukanlah entitas semiotis yang baku, akan tetapi merupakan landasan tempat bertemunya berbagai element independen (yang muncul dari dua sisi yang berbeda dari dua ranah yang berbeda pula dan sama-sama den bertemu pada landasan tempat terjadinya korelasi pengkodean).

Untuk mengetahui makna perlu melihat unsur pada suatu kondisi pengungkapan tertentu tidak bisa disingkap melalui tampilan formal unsur-unsur

20

Eco, Umberto. (2011) Teori Semiotika; Signifikasi komunikasi, Teori Kode, serta Teori Produksi-Tanda, Yogyakarta; Jalasutra. Hal 70

(8)

itu sendiri, melainkan hubungan pertandaan/relasional antara unsur-unsur tersebut dengan unsur-unsur lain di dalam satu totalitas.22

3.3. Denotasi dan Konotasi

Hubungan antara penenada dan petanda menghasilkan sebuah makna yang terbentuk dari konvensi sosial. Roland Barthes mengembangkan dua tingkat pertandaan (straggered systems),23 yang memungkinkan untuk dihasilkannya makna yang juga bertingkat-tingkat, yaitu tingkat denotasi (denotation) dan konotasi (connotation).

Denotasi adalah pertandaan yang menjalaskan hubungan antara penanda dan petanda atau antara tanda dan rujukanya pada realitas yang menghasilkan makna eksplesit. Denotasi adalah tanda yang memiliki tingkat konvensi atau kesepakatan yang tinggi.

Konotasi (connotattive meaning) adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna implisit, tidak pasti dan tidak langsung. MenciPTakan pemaknaan tingkat kedua yang dikaitkan dengan keadaan psikolgis, perasaan, keyakinan.

Ciri kode konotatif adalah fakta bahwa signifikasi kedua dan seterusnya secara konvensional bersandar pada signifikasi pertama. Perbedaan antara denotasi dan konotasi hanya terletak pada konvensi kode, terlepas dari fakta bahwa konotasi-konotasi sering kali kurang stabil bila dibandingkan dengan

22Yasraf (2000), Hal 159 23Yasraf (2000), hal 261

(9)

denotasi-denotasi: stbilitas tersebut berkaitan dengan kekuatan dan durasi konvesi kode. Tetapi sekali konvensi terbentuk maka konotasi merupakan pemungsi stabil dari suatu fungsi-tanda yang pemungsi dasarnya adalah fungsi-tanda yang lain.24

Dalam produksi dan konsumsi teks atau diskursus tidaklah mudah memastikan nilai komunikatif sebuah teks disebabkan keanekaragaman jalur kebudayaan. Pada tingkat denotasi mungkin dapat menyikap pemaknaan yang sama dengan pengarang. Dalam tingkat konotasi akan mungkin berbeda karena latar kebudayaan berbeda.25

Konotasi memungkinkan kita untuk mengembangkan penerapan tanda secara kreatif. Konotasi merupakan mode operatif penandaan dalam konstruksi dan interpretasi semua teks kreatif.26

Pebedaan konotatif menunjukan bahwa27, Selagi makna kebanyakan konsep dipengaruhi oleh tafsiran personal dan perasaan subyektif, jarak variasi bukanlah sekadar persoalan keacakan, melainkan juga membentuk pola berbasis sosial. Makna konotasi lahir dalam latar belakang tanda budaya. Sedangkan makna denotasi jarang muncul dari penafsiran latar budaya.

24Eco (2011), Op.Cit. Hal 80 25Yasraf (2000), Op. Cit. Hal 169 26

Danesi, Marcel. (2012) Pesan, Tanda dan Makna; Buku Teks Dasar Mengenai Semiotik dan

Teori Komunikasi. Diterjemahkan; Evi Setyarini dan Lusi Lian Piantari. Yogyakarta; Jalasutra 16

(10)

Kode konotasi yang didasarkan pada kode yang lebih dasar dinamakan subkode.28Semiotika konotatif akan ada manakala semiotika yang bidang ekspresifnya adalah semiotika yang lain.29

Barthes juga melihat beroperasi makna yang lebih dalam. Makna yang dibangun dari sebuah konvensi sosial, beroperasi sebuah ideologi atau budaya dibaliknya yang disebut mitos.

3.4. Semiotika Roland Barthes

Roland Barthes merupakan sosok penting dalam perkembangan ilmu semiotika. Barthes dikenal sebagai tokoh penerus dari tokoh strukturalis Ferdinad De Saussure dalam bidang semiotika. Barthes lahir 12 November 1915 di Cherboug, Normandia, Perancis. Karya-karya yang dihasilkan oleh Barthes diantaranya, Elementary Of Semiology, S/Z, Mythologies, Camera Lucida dan beberapa karya esai lain seperti the death of author. Barthes Meninggal 26 Maret 1980.30

Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda atau biner:31Penanda dan Petanda yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi antara ‗yang ditandai‘ (signified) dan ‗yang menandai‘ (signifier).

28Eco (2011), Op. Cit. Hal 80 29Eco (2011), Op. Cit. Hal 79 30

Barthes, Roland (2010). Memebedah Mitos-Mitos Budaya Massa. Yogyakarta; Jalasutra. Hal.XIII

(11)

Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified).

Istilah signifer dan signifed yang digunakan oleh Saussure dikembangkan oleh Barthes untuk tidak berkutat terhadap penulusuran struktur dalam memaknai teks. Barthes melihat aspek pembacaan dan interaksi kultural yang dapat mempengaruhi sebuah pemaknaan. Makna teks akan muncul tidak hanya pada persoalan kode saja namun dipengaruhi dari peran pembaca (the reader) yang memiliki kedudukan penting dalam pemaknaan teks.

Barthes mengembangkan teori semiotika menjadi dua tingkat pertandaan, yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi memiliki pengertian hubungan antara penanda dan petanda terhdap realitas dengan makna yang spontan atau eksplisit. Sedangkan konotasi hubungan penanda dan petanda yang berkorelasi terhadap berbagai macam hal yang kemudian makna bersifat implisit.

Dua tingkat pertandaan denotasi dan konotasi dikenal dengan order of

signification. Pemkanaan pertama yang melihat pada aspek relasi tanda dengan

realitas yang disebut denotasi. Pemaknaan kedua melihat pada pengalaman personal dan kultural dalam proses pemaknaan. Barthes juga melihat aspek lain yang disebut dengan ―mitos‖.

Mitos dalam pengertian Barthes tidak seperti pengertian tradisional yang mengartikan kepada mistis atau klenik. Barthes menyebut mitos adalah suatu

(12)

sistem komunikasi atau sesuatu pesan.32 Mitos berada pada penandaan tingkat kedua dalam menghasilkan makna konotasi yang kemudian berkembang menjadi denotasi, pada perubahan menjadi denotasi ini, disebut dengan mitos. Barthes mengartikan mitos tidak sebagai objek pesannya tetapi cara menyatakan pesan.33

Pengembangan teori semiotika Barthes melihat tanda tidah hanya sebatas makna denotasi. Namun melihat tanda lebih dalam untuk mengetahui makna konotasi. Bagi Barthes makna konotasi mendenotasi sesuatu hal lain, yang disebut sebagai mitos. Dari sini, relasi-relasi kebudayaan atau ideologi tertentu yang mempengaruhi dapat diketahui. Konsep mitos Barthes digambarkan sebagai berikut:

Gambar Peta Tanda Roland Barthes

Signifier (Penanda) Signified (Petanda) Denotativesign (Tanda Denoatasi) Connotative Signifier (Penanda Konotasi) Connotative Signified (Petanda Konotasi) Connotative sign (Tanda Konotasi) (Tabel 2: peta tanda Barthes)34

Gambaran peta tanda Barthes dapat dipahami bahwa makna denotasi terikat akan keberadaan penanda dan petanda. Begitupun makna konotasi

32

Barthes, Op. Cit. Hal.295 33Barthes, Op. Cit. Hal 296

(13)

tergantung akan tanda denotasi. Tanda kononasi mendenotasikan tanda selanjutnya. Pemaknaan tidak berhenti pada satu titik, namun ia akan terus membuat tanda-tanda.

Untuk menangkap sebuah makna tidak cukup dengan korelasi antar ekspresi dan isi tidak hanya ditemui lewat kode saja. tetapi ―pembacaan‖ interpretatif – kontekstual yang rumit.35 Barthes mengatakan bahwa untuk menafsirkan teks bukan memberinya sebuah makna. Sebaliknya, menghargai kemajemukan apa yang membangunnya.36

Teks adalah suatu wujud penggunaan tanda dalam kehidupan sosial berupa kombinasi atau kumpulan dari seperangkat tanda yang dikombinasikan dengan cara tertentu (code) dalam rangkaian yang menghasilkan makna tertentu

(meaning).37

Semiotika teks beroperasi pada dua jaringan analisis. Pertama, analisis tanda secara individual. Kedua, analisis tanda sebagai sebuah kelompok atau kombinasi, yaitu kumpulan tanda-tanda yang membentuk teks.38

Bagi Roland Barthes, di dalam teks beroperasi lima kode pokok (five

major kode) yang di dalamnya terdapat penanda teks (leksia). Lima kode

yangditinjau Barthes39 yaitu :

35Eco, Op. Cit. Hal. 71

36Hiper, Op. Cit. Hal.153 37

Piliang, Yasraf. (2011). Bayang-bayang Tuhan Agama dan Imajinasia. Jakarta; Mizan. Hal. 158. 38Piliang (2011). Op. Cit. Hal 156

(14)

a. Kode Hermeneutika atau kode teka-teki yang berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan ―kebenaran‖ bagi pertanyaan yang muncul dalam teks. Kode teka teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. Di dalam narasi ada suatu

kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka-teki dan penyelesaiannya di dalam cerita.

b. Kode Proaretik atau kode tindakan/lakuan dianggap sebagai

perlengkapan utama teks yang dibaca orang, yang artinya antara lain, semua teks yang bersifat naratif. Barthes melihat semua lakuan dapat dikodifikasi. Pada praktiknnya, ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. Kita mengenal kode lakuan atau peristiwa karena kita dapat memahaminya.

c. Kode Simbolik merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural, atau tepatnya menurut konsep Barthes,

pascastruktural. Pemisahan dunia secara kultural dan primitif menjadi kekuatan dan nilai-nilai yang berlawanan yang secara mitologis dapat dikodekan.

d. Kode Gnomik atau kode kultural banyak jumlahnya. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Menurut Barthes, realisme tradisional didefinisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui. Rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya para penulis bertumpu.

(15)

e. Kode Semik atau kode konotatif banyak menawarkan banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan konotasi kata atau frase yang mirip. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi, kita menemukan suatu tema di dalam cerita. jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu, kita dapat mengenali suatu tokoh dengan atribut tertentu. Perlu dicatat bahwa Barthes menganggap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling ―akhir‖.

3.5. Mitos

Semiotika Barthes memaparkan bahwa tanda denotatif terdiri atas penanda dan petanda. Namun saat bersamaan, tanda denotatif sekaligus merupakan penanda konotatif. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes. Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua.

Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‗mitos‘ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Mitos adalah suatu sistem yang janggal karena ia dibentuk dari rantai semiologis yang telah eksis sebelum pola tiga dimensi: penanda, petanda dan tanda. Mitos

(16)

merupakan sistem semiologis tatanan-kedua (second-order semiological

system).40

Mitos adalah suatu sistem komunikasi, bahwa mitos adalah suatu pesan. Mungkin mitos tidak dipahami sebagai suatu objek, konsep atau gagasan; mitos merupakan mode pertandaan (a mode of signification), suatu bentuk (a form).41

Penanda mitos menampilkan diri secara ambigu: ia merupakan makna dan bentuk, penuh pada satu sisi dan kosong di sisi lain.42Yang dibongkar Barthes tidak hanya relasi dan tingkat pertandaan akan tetapi konsep ideologi itu sendiri. Pemaknaan pada tingkat kedua dalam menyusuri makna dibalik tanda berkaitan erat dengan konteks budaya.

Ideologi yang dimaksud sebagai tingkat kedua pertandaan adalah sistem, gagasan, ide atau kepercayaan yang menjadi konvensi mapan dalam satu masyarakat yang mengartikulasikan dirinya pada sistem representasi atau sistem pertandaan.43

3.6. Lirik

Semiotika dapat digunakan untuk mengungkap makna yang tersingkap dibalik media apaupun, termasuk lirik pada sebuah lagu. Lirik ―Karatagan Ciremai‖ yang menggunakan bahasa sastra Sunda kawi,menyiratkan makna secara denotatif, konotatif dan mitos. Secara denotatif lirik ―Karatagan Ciremai‖ banyak

40Barthes (2010),Op. Cit. Hal 303 41

M Barthes (2010),Op. Cit. Hal 165 42Barthes (2010),Op. Cit. Hal 307 43Yasraf (2000) Op.Cit. Hal, 167

(17)

menyampaikan kata-kata yang menyebut fenomena alam, kekuatan hayati, hewani dan menyebut nama-nama tempat seperti pesisir, gunung. Pemaknaan konotatif dalam hal ini pada tatanan tingkat kedua yang disebut mitos, memiliki makna yang lebih beragam dalam memahaminya,

Lirik adalah satu bagian dari musik yang menyampaikan pesan dengan memalui susunan kata. Jika dalam susunan keteraturan akan nada pada sebuah musik disebut dengan melodi, berbeda dengan susuanan keteraturan tata bahasa yang disebut dengan sintaksis. Maka dalam penelitian ini hanya akan menilik makna lirik yang terdapat pada musik Karatagan Ciremai.

Gambar

Gambar Peta Tanda Roland Barthes

Referensi

Dokumen terkait

Tanda-tanda yang terletak pada setiap kata yang kemudian dirangkai menjadi baris kalimat yang menandakan bahwa dalam penanda “Hamil Duluan” merupakan wujud dari petanda

Makna denotasi: telinga mampu menangkap denyut jantung yang melambat, seolah ingin berlari melompat entah kemana dan merasa tidak ada lagi lagu yang dapat memengaruhi

Dari scene diatas terdapat penanda, petanda, tanda denotatif, penanda konotatif, petanda konotatif, dan tanda konotatif.Penanda yang dimaksud adalah Raja Dretarasta

Dari petanda (I) dan penanda (II) pada ranah konotatif memunculkan tanda (III) “Apabila para pemangku telah melakukan proses Mait Aiq , maka mereka telah

Dalam tahap konotasi inilah penulis akan menemukan makana ganda yang lahir yang tidak bisa didapat pada medan atau area denotasi, karna tanda-tanda yang terlibat tadi akan

Peneliti mencoba untuk menjelaskan dalam hal ini makna denotasi serta makna konotasi dari film pendek Har yang tertera pada situs web Viddsee dan juga youtube di kanal Viddsee menurut

Makna Denotasi Tabel 7 Penanda dan petanda adegan dalam Adzan Waktu Penanda Petanda 00:20:12 Kenny tiduran di tempat tidurnya dan tersenyum sambil memegang buku Kenny tersenyum

Hal ini menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut dengan semiotika Roland Barthnes, karena ia melihat segala tanda memiliki makna pada denotasi dan konotasi untuk mengetahui maksud