• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA PEMIKIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KERANGKA PEMIKIRAN"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

14

BAB II

KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dapat memudahkan peneliti dalam menentukan langkah sistematis dalam menyusun sebuah penelitian. Studi ini juga dijadikan sebagai acuan, referensi, dan tolok ukur yang dapat membantu jalannya penelitian. Dengan memahami studi terdahulu, peneliti dapat mengetahui apa dan dengan cara apa akan meneliti kasus berdasarkan pengalaman peneliti sebelumnya.

Penelitian Terdahulu Pertama

Penelitian berjudul “Kepuasan Remaja Terhadap Penggunaan Media Sosial Instagram dan Path” yang disusun oleh Gusmi Arianti, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia pada 2017 ini melakukan analisis terhadap fenomena penggunaan media sosial Instagram dan Path di kalangan remaja. Penelitian ini berfokus pada kajian kredibilitas media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasi khalayak dan untuk menjawab persoalan tentang aktualisasi teori Penggunaan dan Kepuasan, secara khusus lewat penggunaan dua media sosial ini (Arianti, 2017).

Dalam penelitian ini, Arianti mengukur kepuasan penggunaan media sosial Instagram dan Path dengan beberapa atribut. Atribut-atribut tersebut antara lain adalah interaksi sosial, pencarian informasi, menghabiskan waktu, hiburan, relaksasi, dan kegunaan berkomunikasi dan kenyamanan.

(2)

15 Arianti (2017) mendefinisikan bahwa dengan hadirnya media sosial, pola distribusi informasi dapat berubah. Hal ini dikarenakan karakteristik media sosial yang memungkinkan terjadinya percakapan antarpribadi maupun antarkelompok tanpa dihambat oleh ruang. Dijelaskan juga bahwa sifat unik dalam media sosial memiliki potensi untuk mengubah cara berinteraksi manusia. Namun, butuh waktu yang berbeda-beda pada setiap orang dan setiap media sosial untuk mencapai tingkat kepuasan tertentu di media sosial.

Penelitian terdahulu ini menggunakan teori Penggunaan dan Kepuasan yang dikemukakan oleh Katz, Blumer, & Gurevitch (1974). Untuk mengaplikasikan teori tersebut, Arianti menggunakan konsep pengukuran kepuasan yang dikemukakan oleh Palmgreen & Rayburn (1984) yakni konsep Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO). Gratification Sought didefinisikan sebagai kepuasan yang diharapkan, diinginkan, atau dicari khalayak ketika mengonsumsi suatu media. Sebaliknya, Gratification Obtained (GO) adalah kepuasan nyata yang diperoleh khalayak setelah mengonsumsi media.

Dalam penelitian yang bersifat kuantitatif ini, pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei. Penelitian terdahulu melakukan penelitian terhadap 150 orang siswa SMA dan mahasiswa pada rentang usia 18-22 tahun di Jakarta. Penelitian yang dilakukan pada Maret-April 2017 ini menggunakan rumus Slovin dalam menentukan jumlah sampel yang akan digunakan.

Hasil dari penelitian terdahulu ini menyimpulkan bahwa Instagram menjadi media sosial yang paling dapat memenuhi kepuasan mahasiswa. Kepuasan ini terletak pada fitur dan kelebihan yang dimiliki Instagram. Dengan pengukuran

(3)

16 Customer Satisfication Index (CSI) didapatkan indeks kepuasan penggunaan Instagram oleh mahasiswa sebesar 82,79 persen. Sementara itu, tingkat kepuasan Path pada remaja ada pada nilai indeks 78,60 persen.

Kepuasan terendah dalam penelitian ini ada pada penggunaan Path oleh siswa SMA dengan nilai indeks 71,84 persen. Peneliti terdahulu menyimpulkan bahwa beberapa atribut yang membuat tingkat kepuasan yang rendah ini adalah kurangnya ruang untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan hobi di Path. Selain itu, berbeda dengan Instagram, secara umum Path juga tidak memungkinkan adanya transaksi jual beli.

Relevansi dari penelitian terdahulu ini dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti ini terdapat pada objek peliputan yang secara gambaran umum mirip. Peneliti terdahulu meneliti pada media sosial Instagram dan Path dengan khalayak remaja yang dikerucutkan ruang lingkupnya pada siswa SMA dan mahasiswa di Jakarta. Dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti ini, media yang akan digunakan juga melakukan distribusi informasi lewat media sosial. Narasi tidak memiliki saluran frekuensi publik seperti TV pada umumnya sehingga dalam kerja jurnalistiknya media ini menggunakan media sosial dan laman web sebagai saluran distribusinya.

Objek khalayak yang akan diteliti dalam penelitian ini juga sama dengan peneliti terdahulu. Hanya saja, dalam penelitian ini akan digunakan istilah generasi milenial yang merujuk pada khalayak yang lahir pada pertengahan tahun 1980-an hingga awal 2000-an. Cakupan ini sedikit lebih lebar daripada cakupan umur yang digunakan peneliti terdahulu yakni pada rentang 18-22 tahun.

(4)

17 Namun, jika Arianti (2017) menggunakan metode kuantitatif dalam penelitiannya, penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam tentang bagaimana penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan generasi milenial terhadap berita dengan model distribusi informasi omnichannel yang diterapkan Narasi.

Lokasi penelitian yang digunakan peneliti juga akan lebih luas dibanding peneliti terdahulu untuk memberikan gambaran yang lebih mendalam terhadap bagaimana penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan ini. Jika peneliti terdahulu membatasi penelitian pada wilayah Jakarta, informan yang akan disertakan dalam penelitian ini akan lebih beragam secara geografis.

Penelitian Terdahulu Kedua

Penelitian terdahulu kedua berjudul “Media Baru, Visi Khalayak Aktif dan Urgensi Literasi Media” ini disusun oleh Puji Rianto, dosen Ilmu Komunikasi di Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada 2016 dengan menggunakan teori Penggunaan dan Kepuasan. Penelitian ini dimuat di “Jurnal Komunikasi” yang diterbitkan oleh Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia pada 2016 (Rianto, 2016).

Rianto (2016) mendasarkan argumentasi penelitian ini pada asumsi dari teori Penggunaan dan Kepuasan, yakni keterlibatan khalayak secara aktif dalam mencari informasi. Menurut peneliti terdahulu, kehadiran media baru dapat membuka harapan baru bagi semakin meningkatnya partisipasi khalayak dalam proses pencarian informasi. Namun, pada sisi sebaliknya, karena kebebasan dalam berpartisipasi yang menjadi karakteristik media baru, hal ini juga mengundang

(5)

18 persoalan. Khalayak bisa saja kemudian menjadi tersesat karena pilihan medianya tidak tepat.

Peneliti terdahulu menjelaskan bahwa dalam penelitian yang dilakukannya ini, khalayak menjadi fokus utamanya. Peneliti menjelaskan bahwa teori Penggunaan dan Kepuasan yang juga menjadi teori dasar dalam penelitian ini adalah teori yang mencoba untuk menjelaskan apa yang dilakukan khalayak dengan media. Alih-alih menjelaskan apa saja yang sudah diperbuat media terhadap khalayak, teori ini akan menjelaskan bagaimana khalayak menanggapi produk jurnalistik yang telah dihasilkan media. Oleh karena itu, penelitian ini bersifat audience-centered.

Penelitian terdahulu ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan model partisipasi observasi. Model ini definisikan sebagai penelitian kualitatif yang memberi ruang bagi peneliti untuk menganalisis kehidupan khalayak dalam situasi kehidupan nyata.

Berbeda dengan penelitian terdahulu pertama, penelitian yang dilakukan Rianto (2016) ini dilakukan bukan pada media sosial, melainkan jejaring sosial, yakni aplikasi pesan WhatsApp. Perkembangan dari grup-grup dalam WhatsApp yang menjadi objek penelitiannya ini telah diikuti selama dua tahun dan lebih difokuskan lagi pada satu tahun terakhir.

Realitas yang ada di grup WhatsApp ini digambarkan sebagai cerminan dari realitas kehidupan nyata di media baru. Dengan demikian, walaupun penelitian ini bersifat imajiner, karena peneliti dan objek yang diteliti tidak bertemu secara

(6)

19 langsung, tetapi kenyataan yang ditampilkan tetap saling berkaitan antara perilaku di dunia maya dan dunia nyata.

Kelompok khalayak yang diteliti dalam penelitian terdahulu ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Namun, secara khusus peneliti terdahulu memberi penekanan pada satu kelompok khalayak, yakni kelompok “Alumni Asrama Cemara Lima Universitas Gadjah Mada.” Kelompok ini menjadi unik karena keragaman latar belakang khalayaknya cukup tinggi, mulai dari latar belakang pendidikan, jenis pekerjaan, hobi, dan juga orientasi nilai serta ideologi. Satu-satunya latar belakang yang mempersatukan khalayak di kelompok ini adalah kesamaan pengalaman tinggal di asrama Universitas Gadjah Mada.

Dalam penelitian terdahulu ini disimpulkan bahwa partisipasi aktif dari khalayak di ruang obrolan (chat room) WhatsApp dalam membagikan tautan berita sejalan dengan tingkat kepuasannya terhadap media dan isinya. Sederhananya, penelitian ini menangkap realitas bahwa ketika khalayak membagikan tautan berita ke ruang obrolan kelompoknya, saat itu sudah tercapai kepuasan dalam dirinya. Jenis berita dan asal media yang dibagikan juga mencerminkan ideologi dari khalayak.

Penelitian terdahulu ini membantu peneliti dalam menambahkan khazanah karakteristik kepuasan khalayak terhadap media dalam ruang lingkup penelitian kualitatif. Peneliti terdahulu dapat menyimpulkan bahwa khalayak puas dengan suatu media atau isinya, jika mereka membagikan dan berargumen kepada khalayak lainnya dengan media atau isi produk jurnalistik tersebut. Sudut pandang penelitian

(7)

20 kepuasan dalam metode kualitatif ini juga membantu peneliti dalam merumuskan pertanyaan kualitatif yang akan menjadi penentu dalam penelitian ini.

Berbeda dengan peneliti terdahulu yang melakukan penggalian data dengan model observasi partisipan, penelitian ini akan menggunakan wawancara sebagai teknik pengumpulan datanya. Teknik wawancara lebih cocok untuk penelitian ini karena media yang dijadikan bahan penelitian dibatasi hanya pada Narasi.

Penelitian Terdahulu Ketiga

Penelitian terdahulu ketiga berjudul “Relationship Marketing dan Mata Najwa Sebagai Bagian dari Strategi Memasarkan Narasi” ini cukup berbeda dengan dua penelitian terdahulu sebelumnya. Jika sebelumnya telah diberi gambaran studi terdahulu mengenai teori penggunaan dan kepuasan yang menjadi tujuan penelitian ini, dalam penelitian terdahulu ketiga ini akan berfokus pada gambaran media yang akan dijadikan bahan penelitian yakni Narasi. Penelitian ini dilakukan oleh Rayinoldy Boer, mahasiswa S-2 di London School of Public Relations pada 2019 (Boer, 2019).

Penelitian ini ingin melihat bagaimana citra positif dari program Mata Najwa dengan sudut pandang relationship marketing telah membantu mendongkrak popularitas Narasi. Mata Najwa sendiri sudah tayang sejak 2009 dengan penayangan awal di Metro TV. Baru kemudian, pada awal 2018, program ini “pindah” ke Trans 7.

Untuk memperkuat argumen bahwa program Mata Najwa ini memiliki citra yang positif di mata khalayak, peneliti terdahulu memaparkan data bahwa dalam 10

(8)

21 tahun penayangannya, program ini mendapatkan 17 nominasi sebagai program terbaik dan 9 di antaranya keluar sebagai pemenang.

Penelitian terdahulu ini bersifat kualitatif dan menggunakan teknik wawancara untuk penggalian datanya. Ada 3 informan yang digunakan peneliti terdahulu, yakni Najwa Shihab, pemandu acara sekaligus “bintang” dari Mata Najwa dan pendiri Narasi, Nur Ariyanto, eksekutif produser Trans 7 yang dipercaya untuk mengelola program Mata Najwa. Nur Ariyanto dipilih peneliti terdahulu karena melihat perbedaan antara wajah Trans 7 yang umumnya hiburan dengan masuknya program Mata Najwa yang cenderung serius. Selain dua praktisi media tersebut, peneliti terdahulu juga mewawancarai Wicaksono, seorang pengamat media digital untuk memberi gambaran tren media digital saat ini.

Najwa Shihab dalam wawancara dengan peneliti terdahulu menggambarkan bahwa khalayak melihat Mata Najwa sebagai ruang diskusi guna mencari solusi. Pandangan tersebut sekaligus sebagai keunggulan yang dimiliki Mata Najwa dan diturunkan ke Narasi. Dengan demikian, pandangan orang terhadap Narasi juga sama seperti memandang Mata Najwa, yakni ketika orang datang, menonton, berharap mendapatkan sesuatu dan ada tidak lanjutnya, bukan hanya omong-omong kosong belaka.

Walaupun tidak menggunakan istilah omnichannel, dalam penelitian terdahulu ini dijelaskan bahwa strategi produksi dan distribusi informasi Narasi dibuat sesuai dengan karakteristik media sosial. Narasi membuat berita yang friendly dengan anak muda yang mendominasi internet. Sama halnya dengan

(9)

22 konsep omnichannel yang menuntut media untuk membuat berita yang sealami dan sedekat mungkin dengan target khalayak yang spesifik.

Penelitian terdahulu ini relevan dengan penelitian ini karena adanya kesamaan media yang digunakan sebagai bahan penelitian, yakni Narasi. Selain itu, konsep yang digunakan juga relatif sama, yakni mengenai produksi dan distribusi informasi yang berorientasi pada khalayak. Jika dalam penelitian ini konsep itu diwakili dengan istilah omnichannel, dalam penelitian terdahulu konsep ini diwakili dengan isitlah relationship marketing.

Pernyataan Najwa tentang pandangan khalayak yang melihat Mata Najwa dan Narasi sebagai ruang diskusi guna mencari solusi juga merupakan aplikasi dari salah satu asumsi dasar teori Penggunaan dan Kepuasan, yakni khalayak mempunyai cukup kesadaran diri akan penggunaan media, minat, dan motif mereka sehingga dapat memberikan gambaran yang akurat mengenai kegunaan media tersebut bagi mereka.

Namun, berbeda dengan penelitian terdahulu yang berfokus pada media, penelitian ini akan berfokus pada mengukur kepuasan khalayak. Dengan demikian, bisa diartikan bahwa penelitian ini adalah tindak lanjut dari apa yang sudah dilakukan Narasi lewat ideologi dan eksekusi berita mereka. Dengan melihat dari sudut pandang khalayak, penelitian ini akan memberi gambaran bagaimana visi dari Narasi bisa tersampaikan lewat berita yang dikonsumsi khalayak.

Penelitian Terdahulu Keempat

Penelitian terdahulu keempat berjudul “Tingkat Kepuasan Khalayak terhadap Podcast sebagai Sumber Berita (Survei terhadap Generasi Milenial Pendengar

(10)

23 Podcast Era.id Usia 18-38 Tahun)” ini adalah skripsi kuantitatif yang diteliti oleh Apriana Nurul Aridha, mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara pada 2019. Penelitian ini ingin mengukur seberapa tinggi tingkat kepuasan generasi milenial terhadap podcast di Era.id sebagai sumber berita (Aridha, 2019).

Teori yang digunakan dalam penelitian terdahulu ini adalah teori Penggunaan dan Kepuasan dengan menggunakan konsep Gratification Sought dan Gratification Obtained. Dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitiannya adalah pendengar podcast Era.id di area Jabodetabek dengan rentang usia 18-38 tahun. Hal ini sejalan dengan segmentasi khalayak Era.id, seperti yang disampaikan Chief Content Officer Era.id Moksa Hutasoit dikutip dalam penelitian terdahulu yang menyasar generasi milenial.

Dalam mengukur tingkat kepuasan, peneliti terdahulu menggunakan indikator motif penggunaan media milik McQuail yang disesuaikan dengan konteks podcast di Indonesia. Motif yang digunakan untuk meneliti konsep GS dan GO tersebut diterjemahkan menjadi 14 pertanyaan untuk tiap-tiap konsep.

Aridha (2019) mengutip riset yang dilakukan oleh Pew Research Center dengan judul “Millenials: a Portrait of Generation.” Dalam riset tersebut, dikemukakan fakta bahwa generasi milenial lebih memilih ponsel dibandingkan televisi. Salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah waktu kelahiran generasi milenial yang ada pada masa di mana internet dan teknologi informasi dan komunikasi sedang berkembang pesat. Akibatnya, generasi milenial cenderung lebih peka dan adaptif terhadap perkembangan teknologi ini. Generasi milenial juga lebih senang menggunakan ponsel karena lebih up to date.

(11)

24 Selain itu, generasi milenial juga wajib memiliki media sosial. Media sosial atau media baru dalam riset ini disebut sebagai ruang aktualisasi diri bagi generasi milenial. Generasi milenial dapat berinteraksi dan berkomunikasi lewat media baru ini. Kebiasaan “bermain” media sosial ini pula yang membuat pola konsumsi berita generasi milenial juga ikut pindah ke media sosial. Fenomena ini yang harus dijawab media untuk tetap memenuhi asupan informasi khalayaknya. Hasil dari penelitian ini adalah generasi generasi milenial pendengar podcast Era.id di Jabodetabek puas dengan terhadap podcast tersebut sebagai sumber informasi berita mereka.

Relevansi penelitian terdahulu ini dengan penelitian ini adalah kesamaan teori dan konsep yang digunakan serta objek yang diteliti. Selain itu, penelitian terdahulu ini diakses dalam format skripsi sehingga peneliti mendapat bayangan yang lebih terperinci tentang indikator motif kepuasan yang disesuaikan dengan konsep dari McQuail. Dengan adanya gambaran ini, peneliti bisa lebih terbantu dalam mengimplementasikannya dalam pertanyaan wawancara.

Penelitian terdahulu ini menggunakan metode kuantitatif sedangkan penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif agar mendapat gambaran yang lebih mendalam dari para informan mengenai bagaimana penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan generasi milenial terhadap berita dengan model distribusi informasi omnichannel yang diterapkan Narasi.

Untuk mempermudah memahami korelasi penelitian terdahulu dengan penelitian ini, berikut adalah tabel ringkasan dari 4 penelitian terdahulu di atas.

(12)

25 Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu

“Kepuasan Remaja terhadap Penggunaan Media Sosial Instagram dan Path” oleh Gusmia Arianti (2017) “Media Baru, Visi Khalayak Aktif dan Urgensi Literasi Media” oleh Puji Rianto (2016) “Relationship Marketing dan Mata Najwa Sebagai Bagian dari Strategi Memasarkan Narasi oleh Ravinoldy Boer (2019) “Tingkat Kepuasan Khalayak terhadap Podcast sebagai Sumber Berita” oleh Apriana Nurul Aridha (2019) Hasil

Penelitian Instagram menjadi media sosial yang paling dapat memenuhi kepuasan mahasiswa. Khalayak yang sering membagikan tautan berita di grup WhatsApp cenderung lebih puas dengan media yang ia konsumsi. Citra yang dibangun Najwa Shihab dan Mata Najwa selama 10 tahun penayangan mendorong promosi Narasi. Milenial di Jabodetabek yang mendengarkan Era.id puas dengan podcast Era.id sebagai sumber berita. Relevansi

Penelitian Memberi gambaran penelitian kepuasan generasi milenial dan media baru. Memberi gambaran dan menambah khazanah sudut pandang kepuasan khalayak dalam metodologi kualitatif. Memberi gambaran tujuan dan pola kerja media Narasi serta konsep yang serupa dengan omnichannel. Memberi gambaran penelitian kepuasan generasi milenial dan media baru dengan indikator motif McQuail dengan konteks Indonesia. Sumber: Kajian Peneliti (2020)

2.2 Teori dan Konsep

Dalam sebuah penelitian ilmiah diperlukan landasan dan kerangka berpikir untuk dapat melihat suatu permasalahan dan memecahkannya. Oleh karena itu, diperlukan susunan kerangka teori dan konsep yang memuat pokok pikiran dari sebuah penelitian. Kerangka teori ini berfungsi untuk memberi gambaran, memprediksi, menjelaskan, dan menemukan korelasi antara fakta-fakta dalam penelitian secara sistematis (Effendy, 2004, p. 224).

(13)

26 2.2.1 Teori Penggunaan dan Kepuasan

Blumer, Gurevitch, dan Katz (1974) adalah peneliti yang pertama kali mengemukakan teori ini dalam buku The Uses on Mass Communication: Current Perspective on Gratification Research (1974). Secara sederhana, teori kegunaan dan kepuasan mengasumsikan bahwa khalayak secara aktif mencari media dan isi (muatan) tertentu yang menghasilkan kepuasan terhadapnya. Dengan terpenuhinya kegunaan dan kepuasan ini, khalayak akan dapat memahami dan mengevaluasi berbagai jenis media (West & Turner, 2018, pp. 387-402).

Dalam teori ini, penelitian dipusatkan pada memperhatikan bagaimana khalayak menggunakan media, bukan semata-mata bagaimana media memengaruhi khalayak. Khalayak akan terus menerus mencari media dan muatan yang mampu memuaskan kebutuhannya akan informasi. Blumer dan Katz sendiri percaya bahwa ada banyak alasan yang memengaruhi mengapa khalayak mencapai kepuasannya terhadap suatu atau beberapa media (Katz et al., 1974, dalam West & Turner, 2018, p. 389).

Walaupun teori ini dikemukakan jauh sebelum teknologi dan media baru berkembang pesat seperti sekarang, konsep-konsep yang ada dapat tetap relevan untuk digunakan. Ruggiero (2000, p. 29) menjelaskan walaupun sudah mengalami banyak perkembangan teknologi, studi mengenai teori ini tetap mempertahankan pertanyaan dasarnya, yakni tentang mengapa orang terlibat dalam komunikasi dan kepuasan apa yang mereka terima dari konsumsi tersebut. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perkembangan

(14)

27 teknologi komunikasi justru mendorong dan merangsang untuk dimulainya studi-studi mengenai teori Penggunaan dan Kepuasan dalam setiap model baru ini (Ruggeiro, 2000, p. 27).

Katz et al. (1974, dalam West & Turner, 2018, p. 389) menjelaskan lima asumsi dasar dari teori ini:

1. Khalayak aktif dan berorientasi pada tujuan ketika menggunakan media.

Asumsi ini ingin menyampaikan bahwa ketika khalayak memilih untuk mengonsumsi informasi dari suatu media, ada tujuan-tujuan yang ingin ia capai. Misalnya, dalam penelitian ini generasi milenial yang memilih mengonsumsi informasi dari Narasi tentu memiliki suatu tujuan yang ingin ia capai. Misalnya, dengan mengonsumsi Narasi ia ingin mendapatkan informasi yang mendalam, solutif, dan mudah dipahaminya.

2. Inisiatif untuk mendapatkan kepuasan media ditentukan khalayak.

Asumsi ini menjelaskan bahwa media tidak punya pengaruh untuk memaksa khalayak untuk mengonsumsi informasinya. Sebaliknya, justru media harus mampu mencari cara agar informasi yang diproduksinya dapat memenuhi kepuasan khalayak, karena usaha untuk mendapatkan kepuasan media adalah inisiatif dari khalayak itu sendiri. Dalam penelitian ini, hal tersebut yang sedang dilakukan Narasi dengan penerapan model distribusi informasi omnichannel,

(15)

28 yaitu agar generasi milenial dapat berinisiatif untuk memilih Narasi karena dirasa dapat memenuhi kepuasannya.

3. Media bersaing dengan sumber kepuasan lain.

Serupa dengan asumsi sebelumnya, hanya saja pada asumsi ketiga ini Blumer, Gurevitch, dan Katz (1974) memberikan perspektif dari sudut pandang media. Dalam penelitian ini, Narasi tentu bukan satu-satunya media yang berusaha untuk memenuhi kepuasan generasi milenial.

4. Khalayak sadar sepenuhnya terhadap ketertarikan, motif, dan penggunaan media.

Asumsi ini ingin menggambarkan bahwa khalayak yang diteliti adalah khalayak yang sudah mampu untuk memahami media dan isinya dengan baik. Dengan kata lain, khalayak dalam teori ini diasumsikan sudah terliterasi sehingga mampu memilih medianya sendiri sesuai dengan ideologinya. Maka, media mana yang mewakili ideologinya, tentu akan menjadi salah satu penentu kepuasannya. Dalam penelitian ini, generasi milenial diasumsikan sudah melek literasi media dan memilih untuk menggunakan Narasi karena merasa ideologinya terwakili.

5. Penilaian isi media ditentukan oleh khalayak.

Asumsi terakhir ini menunjukkan bahwa teori ini ditujukan bagi penelitian khalayak. Dengan demikian, baik buruknya isi suatu media dipengaruhi oleh khalayak yang mengonsumsinya. Dalam penelitian

(16)

29 ini, berita yang dihasilkan Narasi di media sosialnya akan menjadi bahan penelitian untuk mengukur kepuasan generasi milenial sebagai khalayaknya (Katz et al., 1974, dalam West & Turner, 2018, p. 389). Kriyantono mendefinisikan media yang efektif sebagai media yang mampu memenuhi kebutuhan khalayak akan informasi. Media harus selalu berusaha untuk memenuhi motif-motif khalayak agar kepuasan dapat tercapai (Kriyantono, 2014, p. 206).

Gratification Sought dan Gratification Obtained

Dalam menggunakan media, khalayak akan didorong oleh motif-motif dan kebutuhan tertentu. Maka, dengan mempertanyakan apakah motif dan kebutuhan tersebut sudah dipenuhi media atau belum, peneliti bisa mendapatkan gambaran kepuasan tersebut. Konsep ini disebut sebagai konsep Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO), yakni ketika kebutuhan seseorang terpenuhi, kepuasannya juga terpenuhi (Palmgreen & Rayburn, 1984, pp. 537-560).

Sederhananya, Gratification Sought adalah harapan kepuasan yang dimiliki khalayak sebelum menggunakan media sedangkan Gratification Obtainedi adalah kepuasan nyata yang didapatkan setelah mengonsumsi media. Dalam penelitian ini, Gratification Sought dapat digambarkan bahwa generasi milenial memiliki gambaran dan harapan tentang apa yang akan ia dapatkan saat mengonsumsi Narasi.

Misalnya, dengan citra Mata Najwa yang diwariskan nilai-nilainya dalam Narasi, generasi milenial mengharapkan berita yang mendalam,

(17)

30 solutif, dan partisipatif. Sementara itu, Gratification Obtained adalah apa yang didapatkan milenial setelah mengonsumsi informasi dari Narasi. Entah itu memenuhi Gratification Sought dari generasi milenial atau tidak. Jika memenuhi, berarti kepuasan terpenuhi dan sebaliknya.

Grafik 2.1 Expectancy Values

Sumber: Palmgreen & Rayburn, 1984, p. 540

Konsep ini didasarkan pada teori Kepentingan (Expectancy Values) di mana sikap khalayak terhadap media ditentukan oleh nilai yang mereka anut dan evaluasi mereka tentang media tersebut. Lewat pemenuhan kepentingan atau ekspektasi itu, tercapai kepuasan.

McQuail (2010, p. 534) mengkategorikan motif khalayak dalam menggunakan media sebagai berikut:

Tabel 2.2 Motif Khalayak dalam Menggunakan Media

Kategori Indikator

Informasi Mencari tahu tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat, masyarakat, dan dunia.

Kepentingan (Beliefs) Evaluasi terhadap media Pencarian Kepuasan (GS) Konsumsi Media Kepuasan yang diterima (GO)

(18)

31 Mencari nasihat mengenai berbagai masalah praktis, pendapat, dan hal- hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan.

Memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum. Belajar, pendidikan diri sendiri.

Memperoleh rasa damai melalui penambahan pengetahuan.

Identitas

Pribadi Menemukan penunjang untuk nilai-nilai ideologi pribadi. Menemukan model perilaku.

Mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai dalam media.

Meningkatkan wawasan mengenai diri sendiri. Integritas dan

Interaksi Sosial

Memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain.

Mengidentifikasi diri dengan orang lain dan meningkatkan rasa memiliki.

Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial.

Memperoleh pendamping pengganti di kehidupan nyata.

Membantu menjalankan peran sosial.

Memungkinkan seseorang untuk dapat terhubung dengan keluarga, teman, dan masyarakat.

Hiburan Melarikan diri dari permasalahan. Bersantai.

Memperoleh kedalaman kultural atau kenikmatan estetis.

Mengisi waktu. Penyaluran emosi.

Membangkitkan gairah seks. Sumber: McQuail (2010, p. 534)

Dengan asumsi dasar dalam konsep ini bahwa khalayak terpenuhi kepuasannya ketika GO sama dengan GS, maka indikator motif ini akan digunakan sebagai landasan pertanyaan wawancara untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan generasi milenial terhadap berita Narasi yang menerapkan model distribusi informasi omnichannel.

(19)

32 2.2.2 Media Sosial

Perkembangan teknologi secara khusus dalam teknologi informasi dan komunikasi yang ditandai dengan kemunculan internet membuat pola konsumsi informasi khalayak ikut berubah. Media massa konvensional yang masih menggunakan TV, radio, koran, dan majalah sebagai salurannya didorong untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia digital dan ikut ambil bagian dalam media sosial.

Straubhaar, LaRose, & Davenporth (2009, p. 269) mendefinisikan media sosial sebagai metode terbarukan dalam menggunakan teknologi internet. Kehadiran media sosial membuat partisipasi aktif khalayak meningkat dan komunikasi tidak hanya antara media dengan khalayak, tetapi juga antarkhalayak.

Dengan hadirnya media sosial, batas antara produsen dan konsumen menjadi tidak jelas. Jika pada era media massa konvensional khalayak ditempatkan hanya sebagai konsumen, di era media sosial ini khalayak juga dapat memproduksi informasi. Kondisi ini membuat pertukaran informasi yang dahulunya satu arah (dari media ke khalayak) menjadi lebih interaktif (media ke khalayak, khalayak ke media, dan khalayak ke khalayak). Ketika pertukaran informasi ini tidak dapat lagi dikontrol, terjadi yang didefinisikan Rubin (2010) sebagai banjir informasi. Fenomena ini yang menuntut kesadaran media massa untuk hadir sebagai penjernih di dalam media sosial.

Ketika media massa ambil bagian dalam media sosial, ia harus ikut beradaptasi dengan sistem kerja dan karakteristik media sosial. Jika tidak,

(20)

33 media tersebut akan kesusahan untuk bertahan. Mayfield (2008, p. 5) menjelaskan setidaknya ada 5 karakteristik dari media sosial:

1. Partisipasi

Media sosial mendorong adanya interaksi setara yang berkesinambungan antar penggunanya. Dengan demikian, batas antara media massa yang menjalankan kerja jurnalistik dengan pengguna lain yang memproduksi informasi tanpa mengindahkan kerja jurnalistik menjadi kabur. Dalam penelitian ini, karakteristik partisipatif dari media sosial diimplementasikan Narasi dalam bentuk berita yang mengajak peran serta khalayak untuk menanggapi informasi tersebut, baik itu lewat berkomentar hingga membagikannya.

2. Keterbukaan

Selaras dengan karakteristik yang partisipatif, media sosial juga identik dengan keterbukaan informasi. Semua orang dapat ambil bagian dalam memberi komentar dan umpan balik, kritik dan saran, diskusi, juga jajak pendapat. Dalam penelitian ini, Narasi mengimplementasikan karakteristik keterbukaan informasi di media sosial dengan membuka ruang interaksi di kolom komentarnya.

3. Percakapan

Pola komunikasi dalam hubungan media massa konvensional dengan khalayak dapat dikategorikan sebagai komunikasi satu arah, meskipun dalam beberapa kesempatan khalayak dapat memberi komentar lewat program telepon ataupun surat pembaca. Namun, tetap

(21)

34 saja komunikasi yang dilakukan tidak langsung dan terbatas waktu. Hal ini diperbarui di media sosial dengan karakteristik percakapan dua arah yang real-time dan tanpa batasan. Komunikasi ini dapat dilakukan lewat kolom komentar ataupun kotak pesan di media baru. Tindakan menyukai (like) dan membagikan (share) juga dapat digolongkan sebagai bentuk komunikasi.

4. Komunitas

Lewat media sosial, orang-orang yang memiliki minat pada hal yang sama dapat lebih mudah untuk berinteraksi. Karakteristik ini juga dapat dimanfaatkan media massa dalam membentuk basis khalayaknya. Dalam penelitian ini, karakteristik komunitas diimplementasikan Narasi dengan membentuk Komunitas Mata Kita yang menjadi ruang bertukar cerita dari penggemar Mata Najwa, salah satu program unggulan Narasi.

5. Keterhubungan

Berbeda dengan media massa konvensional yang terbatas pada satu saluran saja, media sosial memungkinkan terjadinya keterhubungan antarsaluran. Narasi sebagai media massa yang beroperasi di media sosial, memanfaatkan karakteristik ini dengan membuat setiap beritanya terhubung antara satu saluran dengan saluran yang lain. Misalnya, video pendek di Instagram adalah bentuk ringkas dari video panjang di YouTube (Mayfield, 2008, p. 5).

(22)

35 Dengan karakteristik ini, media massa yang terjun ke media sosial harus berusaha untuk meninggalkan cara kerja lamanya dan menciptakan pola kerja baru agar dapat terus relevan dengan khalayaknya. Pada akhirnya, khalayak sendiri yang akan dengan sadar memilih media yang mampu memenuhi kepuasannya. Penelitian akan berfokus pada bagaimana penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan generasi milenial terhadap berita dengan model distribusi informasi omnichannel yang diterapkan Narasi.

Narasi didirikan pada 2017 oleh Najwa Shihab, Dahlia Citra, dan Catharina Davy ini adalah start up media massa yang bergerak di media baru dan menyasar pada target khalayak milenial. Media ini didirikan dengan 3 nilai yang diusung, yakni anti korupsi, toleransi, dan partisipasi. Media ini berfokus pada pengembangan jurnalisme di dunia digital, khususnya lewat video. Media yang salah satu program unggulannya adalah Mata Najwa ini juga mendorong partisipasi masyarakat lewat citizen journalism.

Narasi hadir dengan konsep omnichannel. Chief Creative Officer Narasi Dahlia Citra Buana mendefinisikan media omnichannel sebagai media yang memiliki prinsip tidak terbatas pada satu kanal saja. Menurutnya, model distribusi informasi omnichannel yang dijalankan Narasi adalah dengan hadir di media apa pun yang beritanya disesuaikan dengan target khalayaknya, yakni generasi milenial (Buana, 2018, dalam FISIPOL UGM, 2018, par. 3).

CEO dan Co-Founder Narasi Catharina Davy menjelaskan dalam wawancara dengan telummedia.com, ide untuk mendirikan Narasi lahir dari keprihatinan mereka bertiga pada media televisi mainstream yang terkesan

(23)

36 memprioritaskan rating. Menurutnya, ada banyak program bagus di televisi mainstream yang harus berhenti tayang karena rating yang rendah (Davy, dalam telummedia.com, 2019).

Di sisi lain, mereka bertiga juga percaya bahwa media massa sadar tidak sadar turut ambil bagian dalam membentuk persepsi khalayak. Jika informasi yang ditayangkan selalu mengandalkan rating sehingga menuntut harus populer dan sensasional, berita-berita penting lainnya menjadi terabaikan. Celah ini yang berusaha untuk ditutupi dengan kehadiran Narasi.

Lebih lanjut, Davy menjelaskan bahwa ada tiga fokus yang diarahkan Narasi dalam kerja jurnalistiknya, yakni konten, kolaborasi, dan komunitas. Ketiga fokus ini juga hadir sebagai implementasi dari karakteristik media baru yang menjadi saluran distribusi informasi Narasi. Davy menyoroti fenomena media daring yang mengedepankan kecepatan dalam memproduksi informasi, bahkan ada beberapa media yang sudah menggunakan robot dalam proses produksinya. Oleh karena itu, Narasi hadir sebagai media yang lebih pelan, mendalam, dan kontekstual sebagai alternatif dari media daring lainnya yang mengutamakan kecepatan.

Sadar bahwa ia hadir di media baru, Narasi juga tidak hanya memproduksi berita jurnalistik dengan gaya konvensional. Nilai-nilai jurnalistik ini juga diproduksi dengan gaya hiburan. Beberapa di antaranya adalah program Tompi - Glenn, Sarah Secharian-nya Sarah Sechan, dan program Maunya Maudy oleh Maudy Ayunda, serta kegiatan offline lainnya.

(24)

37 Dengan cara-cara tersebut, Narasi berusaha untuk tetap dekat dan relevan dengan khalayaknya yang adalah milenial. Oleh karena itu, penelitian ini ingin melihat bagaimana langkah-langkah tersebut sudah mendorong kepuasan atau justru menimbulkan ketidakpuasan khalayaknya.

2.2.3 Model Distribusi Informasi Omnichannel

Model Distribusi Informasi Omnichannel adalah konsep distribusi untuk menggunakan semua saluran yang ada untuk menciptakan satu pengalaman terpadu bagi khalayak. Konsep ini umumnya digunakan dalam dunia pemasaran. Dengan model distribusi informasi omnichannel, media menciptakan karakteristik pesan yang disesuaikan dengan perilaku khalayak. Sederhananya, pengalaman mengonsumsi informasi dengan model distribusi informasi omnichannel menjadi sangat personal karena konsep ini (Blankenship, 2019, par. 5).

Joel (2014, par. 1) menekankan bahwa penerapan omnichannel yang benar adalah konvergensi media, yakni penggabungan dan pengintegrasian beberapa saluran yang ada untuk diarahkan ke dalam satu tujuan. Menurut Henry Jenkins (2004) dalam praktiknya konvergensi media lebih dari sekadar pergeseran teknologi. Menurutnya, konvergensi media telah mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, genre dan audiens. Konvergensi mengacu pada suatu proses, tetapi bukan titik akhir (Jenkins, 2004, p. 34).

Konsep konvergensi media tersebut yang kemudian dikembangkan menjadi model distribusi informasi omnichannel. Istilah konvergensi lebih banyak digunakan untuk menggambarkan media massa konvensional yang

(25)

38 bertransformasi ke media baru. Jika konvergensi media merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi (Danesi, 2010, p. 17), model distribusi informasi omnichannel hadir sebagai pengembangan dari konsep ini dengan lebih menekankan pada pengalaman alami (seamless) dan berorientasi pada pemenuhan kepuasan khalayak (Piotrowicz & Cuthbertson, 2019, p. 2).

Dalam studi media, penerapan konsep ini membantu media untuk dapat lebih dekat dengan khalayaknya. Konsep ini juga diharapkan dapat mendorong kepuasan khalayak yang semakin tinggi karena model berita telah disesuaikan dengan karakterisitk khalayak. Personalisasi berita ini kemudian mendorong media untuk memfokuskan target khalayaknya pada hal-hal yang spesifik.

Anindita (2020, par. 11) mendefinisikan empat hal yang menjadi dasar model distribusi informasi omnichannel:

1. Memahami karakteristik khalayak

Selain menyesuaikan dengan karakteristik media sosial yang digunakan, media massa juga harus memahami karakteristik khalayak yang ingin disasar. Dalam penelitian ini, generasi milenial menjadi target khalayak dari Narasi. Oleh karena itu, Narasi harus memahami terlebih dahulu karakteristik, pola konsumsi media, dan apa yang menarik perhatian generasi milenial.

(26)

39 2. Memilih kanal digital yang paling tepat

Meskipun salah satu karakteristik model distribusi informasi omnichannel adalah dengan hadir di banyak kanal, tetapi media tetap harus memilih kanal yang benar-benar sesuai dengan target khalayaknya. Dalam hal ini, karena Narasi menyasar pada generasi milenial yang juga adalah digital natives, maka media yang digunakan adalah media sosial. Akan lain halnya jika Narasi menyasar pada generasi baby boomers, media yang mereka gunakan akan berfokus pada media massa konvensional.

3. Mengintegrasikan semua kanal yang dimiliki

Salah satu asumsi dasar teori Penggunaan dan Kepuasan menyatakan bahwa khalayak dengan sadar memilih sendiri media yang menurutnya dapat memenuhi penggunaan dan kepuasannya. Oleh karena itu, harus disadari bahwa media massa juga saling bersaing untuk memenuhi kepuasan khalayak tersebut. Dengan mengintegrasikan kanal-kanal yang dimiliki, maka media dapat hadir di semua kanal yang juga digunakan khalayaknya. Dalam penelitian ini, Narasi yang hadir di Instagram, Twitter, YouTube, dan laman web melakukan integrasi dengan membuat berita yang saling melengkapi.

(27)

40 Gambar 2.1 Video “Obat Rindu Pasien Covid-19” yang

ditayangkan di Instagram Narasi

Sumber: Instagram Narasi People, 2020

Gambar 2.1 adalah konten yang ditayangkan Narasi di Instagram dengan judul “Obat Rindu Pasien Covid-19.” Konten ini sejatinya adalah format pendek dari video yang seharusnya berdurasi 4 menit 9 detik. Konten ini menyesuaikan dengan karakteristik di Instagram yang membatasi pengguna mengunggah video di Insta Feeds dengan durasi maksimal 1 menit. Konten ini kemudian diintegrasikan dengan format panjangnya yang ditayangkan di YouTube Narasi Stories, seperti yang terlihat pada Gambar 2.2.

(28)

41 Gambar 2.2 Video “Obat Rindu Pasien Covid-19” yang

ditayangkan di YouTube Narasi

Sumber: YouTube Narasi Stories, 2020

Dengan metode ini, Narasi hendak mengintegrasikan khalayaknya yang ada di Instagram dan YouTube dengan materi yang sama, tetapi model distribusinya berbeda.

4. Menggabungkan kanal daring dan luring

Selain memenuhi kepuasan khalayaknya lewat media sosial, dengan model distribusi informasi omnichannel ini media juga dituntut untuk dapat hadir secara luring. Dalam penelitian ini, Narasi yang tidak memiliki kanal luring, memanfaatkan kegiatan-kegiatan di kampus dan festival tahunannya sebagai representasi medianya secara luring, di antaranya adalah Narasi Playfest dan Mata Najwa Goes to Campus.

(29)

42 Penelitian ini akan membahas sekaligus mengevaluasi penerapan model distribusi informasi omnichannel yang diterapkan Narasi ini dengan mengambil sudut pandang penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan khalayak.

2.2.4 Khalayak

McQuail (2010, p. 499) mendefinisikan khalayak dengan konsep “penerima”. Konsep ini merujuk pada sekelompok pendengar atau penonton yang memiliki perhatian, resepsif, tetapi relatif pasif dan bersifat publik. Cangara (2010, p. 157) menekankan bahwa khalayak tidak boleh diabaikan, karena berhasil tidaknya proses komunikasi sangat ditentukan oleh khalayak.

Asumsi dari teori Penggunaan dan Kepuasan yang dijelaskan Katz, Blumer, & Gurevitch (1974) juga menggambarkan perilaku khalayak yang secara aktif mencari media dan isi (muatan) tertentu untuk menghasilkan kepuasan terhadapnya. Dengan terpenuhinya kepuasan ini, khalayak akan dapat memahami dan mengevaluasi berbagai jenis media (West & Turner, 2018, pp. 387-402). Dalam penelitian ini, khalayak yang akan diteliti akan disempitkan pada generasi milenial.

Generasi milenial adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada kelompok demografi yang lahir antara kurun waktu sekitar 1980 hingga 2000-an (Faiza & Firda, 2018, p. 3). Lebih l2000-anjut, Faiza d2000-an Firda menggambark2000-an karakteristik generasi milenial secara umum sebagai generasi yang sudah mampu merespons kebutuhannya dengan mengikuti perkembangan teknologi digital. Rentang waktu lahir milenial yang ada pada masa berkembangnya

(30)

43 teknologi terutama dalam bidang informasi dan komunikasi, membuat generasi milenial sangat peka dan tanggap dalam mengikuti perkembangan teknologi.

Sementara menurut Lancaster & Stillman dalam Putra (2016), generasi milenial memiliki kecenderungan sikap yang realistis, menghargai perbedaan, dan memilih untuk bekerja sendiri ketimbang menerima perintah. Generasi milenial juga dipandang sangat pragmatis dalam memecahkan masalah. Pola kerja generasi ini punya optimisme yang tinggi, fokus pada prestasi, percaya diri, dan percaya pada nilai-nilai moral serta sosial.

Penelitian yang dilakukan Hootsuite dan dipublikasikan pada Januari 2020 menunjukkan bahwa generasi milenial menjadi pengguna terbanyak media sosial saat ini di Indonesia dengan persentase 29% wanita dan 37,1% untuk pria dari total populasi Indonesia. Waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media sosial setiap harinya adalah di kisaran waktu 3 jam 26 menit (Data Reportal, 2020).

Dengan pola konsumsi media sosial yang masif ini, pola konsumsi informasi generasi milenial juga ikut bergerak ke media sosial. Dalam survei yang dilakukan oleh Pew Research Center, sebagian besar anak muda kini mengonsumsi berita lewat media sosial (Shearer & Matsa, 2018, p. 2).

Ali & Purwadi (2017) mendefinisikan tiga karakter dari generasi milenial, yakni percaya diri, kreatif, dan terhubung.

(31)

44 1. Percaya Diri

Karakter ini menunjukkan bahwa generasi milenial sangat senang untuk mengemukakan pendapatnya di ruang publik. Bagi generasi milenial, diskusi secara terbuka di media baru bukan hal yang tabu. Justru, lewat berani bersuara ini mereka menunjukkan jati dirinya. 2. Kreatif

Generasi milenial memiliki ide yang kreatif, di luar dugaan, dan mampu mengomunikasikan ide serta gagasannya dengan baik.

3. Terhubung

Karena lahir ketika internet sedang berkembang, keterhubungan menjadi karakter yang sangat menonjol dari generasi ini. Sosialisasi tidak hanya dilakukan secara tatap muka, tetapi juga lewat media baru. Karakteristik generasi milenial yang sejalan dengan karakteristik media baru menjadi salah satu alasan mengapa generasi milenial gemar menggunakan media baru ketimbang menggunakan paradigma lama media massa konvensional.

Dalam penelitian ini, karakteristik generasi milenial inilah yang juga menjadi dasar pertanyaan yang diajukan kepada informan untuk menganalisis lebih dalam bagaimana penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan generasi milenial terhadap berita dengan model distribusi informasi omnichannel yang diterapkan Narasi.

(32)

45

2.3 Alur Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan secara mendalam bagaimana penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan generasi milenial terhadap berita dengan model distribusi informasi omnichannel. Secara khusus, dalam penelitian ini yang akan dijadikan studi kasus adalah berita-berita yang dihasilkan Narasi.

Teori dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Penggunaan dan Kepuasan yang dikutip dalam West & Turner (2018). Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa khalayak, yang dalam penelitian ini diperkecil ruang lingkupnya pada generasi milenial, yang secara aktif mencari media dan muatannya untuk mencapai kepuasan tertentu.

Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam mengenai bagaimana pola penggunaan dan kepuasan atau ketidakpuasan tercapai. Dengan demikian, banyak konsep dan teknik pengukuran dalam teori Penggunaan dan Kepuasan dan konsep-konsep turunannya yang perlu dibahasakan ulang agar dapat diaplikasikan dalam metode penelitian kualitatif.

Peneliti akan menggunakan 4 motif penggunaan media yang dijelaskan McQuail (2010, p. 534) sebagai panduan dalam membuat pertanyaan dan menganalisis data. Empat motif itu adalah informasi (surveillance), identitas pribadi (personal identity), integritas dan interaksi sosial (intergrity and social interaction), dan hiburan (entertainment). Konsep Gratification Sought dan

(33)

46 Gratification Obtained juga akan digunakan untuk melihat apakah khalayak mencapai kepuasannya atau tidak dalam mengonsumsi berita Narasi.

Berdasarkan teori, konsep dan diperkuat dengan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan, peneliti berasumsi bahwa khalayak puas dengan berita yang telah disajikan oleh Narasi dengan konsep distribusi informasi omnichannel. Asumsi ini berdasar pada asumsi teori kepuasan dan penggunaan, karakteristik generasi milenial dan ciri media sosial yang diimplementasikan Narasi dalam penerapan konsep distribusi informasi omnichannel.

Gambar

Grafik 2.1   Expectancy Values
Gambar 2.1  adalah konten yang ditayangkan Narasi  di  Instagram dengan judul “Obat Rindu Pasien Covid-19.” Konten  ini sejatinya adalah format pendek dari video yang seharusnya  berdurasi 4 menit 9 detik

Referensi

Dokumen terkait

(Cornelissed, 2014) menjelaskan bawah, terdapat tahapan dalam merumuskan sebuah konten dari strategi komunikasi, tahapan tersebut adalah antara lain adalah mengetahui

Penggunaan uji t (t-test) yaitu jika signifikan t hitung lebih besar dari pada t tabel, maka dapat dinyatakan signifikan dan berarti secara parsial variabel

Sedangkan menurut Lupyoadi (2011:58) menyatakan bahwa bauran pemasaran memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan konsumen dan menurut Irawan (2009:37) faktor-faktor

Oleh karena itu, model pengembangan tersebut dimodifikasi, disesuaikan dan diadaptasi dalam penelitian ini sehingga menghasilkan model pengembangan yang tetap

Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (PP No. 71 Tahun 2010) definisi aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai

Selain melakukan pengamatan secara langsung pencipta juga bereksplorasi lewat media-media informasi seperti televisi, internet, dan gambar-gambar pada buku sehingga

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data, fakta, dan informasi yang berkaitan dengan pembinaan disiplin kerja dan motivasi kerja pegawai bagian

Tsaputra Antoni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggambaran kaum disabilitas dalam tiga surat kabar utama di Indonesia, yaitu Kompas.com,