SIKAP BAHASA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MAHASISWA SEMESTER 1 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN
SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR MUHAMMAD BAKRI
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia Mahasiswa Semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Hasil peneltian dideskripsikan dalam bentuk angka.
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 13 orang yang terdiri dari 1 orang laki-laki dan 12 orang perempuan sehingga penelitian ini disebu penelitian populasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket sebagai instrumen penelitian. Angket dibagikan kepada mahasiswa yang menjadi objek penelitian sehingga menghasilkan data. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan rumus indeks persen. Batas sikap positif dan sikap negatif berpatokan pada rumus interval.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah positif. Sikap bahasa yang dimaksudkan di sini adalah sikap bahasa positif yang meliputi kesetiaan bahasa, kebanggaan bahasa, dan kesadaran akan norma bahasa. Jadi, hasil penelitian ini menunjukan bahwa sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar adalah positif.
Kata kunci: Sikap Bahasa, Kesetiaan bahasa, Kebanggaan dan kesadaran akan norma bahasa Indonesia.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang multibahasa. Selain bahasa Indonesia yang digunakan secara nasional, terdapat pula ratusan bahasa daerah, besar maupun kecil, yang digunakan oleh para anggota masyarakat bahasa daerah itu untuk keperluan yang bersifat kedaerahan. Dalam masyarakat multilingual yang mobilitas geraknya tinggi, anggota masyarakatnya akan cenderung untuk menggunakan dua bahasa atau lebih, baik sepenuhnya maupun sebagian sesuai dengan kebutuhannya (Chaer, 2007: 65). Masyarakat multilingual itu akan terlihat melalui interaksi sosial. Dalam interaksi tersebut, bahasa digunakan sebagai alat komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Komunikasi yang berupa pembicaraan itu dapat dilakukan secara tatap muka, juga melalui media seperti HP dan surat. Pembicaraan secara tatap muka juga dapat terjadi dalam proses pembelajaran. Salah satunya pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan latar belakang, muncul gagasan untuk mengkaji fenomena tersebut. Permasalahan yang tedapat dalam fenomena ini sangat luas sehingga hanya akan difokuskan pada bagaimana sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Objek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar angkatan 2016? Kemudian, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar angkatan 2016.
Manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama manfaat teoretis yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian lebih lanjut. Kedua, hasil penelitian ini dapat memberikan suatu masukan kepada dosen sebagai upaya untuk lebih meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia dalam pembelajaran bahasa
Indonesia agar dapat meningkatkan sikap positif mahasiswa semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar.
PEMBAHASAN
Rokeach dalam Suhardi (1996:28) mengatakan bahwa sikap adalah “ a relatively
enduring organization of beliefs around an object or situation predisposing one to respond in some preferential mannner” (tata
kepercayaan yang secara relatif berlangsung lama mengenai suatu objek atau situasi yang seseorang untuk menanggapinya dengan cara tertentu yang disukainya). Sementara, Openheim dalam Chaer (2010:151) mengatakan bahwa sikap tidak dapat disimpulkan hanya dari perbuatan, sebaliknya perbuatan tidak dengan sendirinya merupakan pernyataan sikap yang lebih benar dari pernyataan verbal. Kaitan antara sikap dan perbuatan merupakan jaringan yang sangat rumit.
Triandis dalam Chaer (2010:150) mengungkapkan bahwa sikap merupakan kesiapan bereaksi terhadap suatu keadaan atau kejadian yang dihadapi. Kesiapan ini dapat mengacu kepada sikap mental atau kepada sikap perilaku. Pernyataan tersebut didukung oleh Allport dalam Chaer (2010:150) yang mengatakan bahwa sikap adalah kesiapan metal dan saraf, yang terbentuk melalui pengalaman yang memberikan arah atau pengaruh yang dinamis kepada reaksi seseorang terhadap semua objek dan keadaan yang menyangkut sikap itu. Lambert dalam Chaer (2010:150) mengatakan bahwa sikap itu terdiri atas tiga komponen, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif. Komponen kogtnitif berhubungan dengan pengetahuan mengenai alam sekitar dan gagasan yang biasanya merupakan kategori yang dipergunakan dalam proses berpikir. Komponen afektif menyangkut masalah penilaian baik, suka atau tidak suka, terhadap sesuatu atau suatu keadaan. Jika memiliki nilai rasa baik atau suka terhadap suatu keadaan, orang itu dikatakan memiliki sikap positif. Jika sebaliknya, disebut memiliki sikap negatif. Sementara komponen konatif menyangkut perilaku atau perbuatan sebagai “putusan
akhir” kesiapan reaktif terhadap suatu keadaan.
Berdasarkan pendapat para pakar dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kesiapan mental seseorang untuk bertindak, suatu bentuk respons terhadap rangsangan yang diwujudkan dalam bentuk tindakan.
Pap dalam Suhardi (1996:35) beranggapan bahwa sikap bahasa mengacu kepada (a) penilaian orang terhadap suatu bahasa (indah atau tidak, kaya atau miskin, efisien atau tidak); (b) penilaian penutur suatu bahasa tertentu sebagai suatu kelompok etnis dengan watak kepribadian khusus. Sementara, Holmes dalam Budiawan (2008:39) menyatakan bahwa sikap bahasa berarti merefleksikan penilaian terhadap bahasa, penutur bahasa, pengguna bahasa.
Asdam (2008:18) mengatakan bahwa jika dihubungkan dengan pemakaian bahasa Idonesia, sikap seseorang dapat berperilaku positif dan negatif. Garvin dan Mathiot dalam Chaer (2010:152) mengemukakan tiga ciri sikap bahasa (sikap positif) adalah: (1) kesetiaan bahasa (language loyality) yang mendorong suatu masyarakat bahasa mempertahankan bahasanya dan apabila perlu mencegah bahasa lain; (2) kebanggaan bahasa (language pride) yang mendorong orang mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat; (3) kesadaran akan norma bahasa (awareness of the norm) yang mendorong orang menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun dan merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa (language use).
Kemudian Chaer (2010:152) mengatakan bahwa kalau ketiga ciri sikap positif yang diungkapkan Garvin dan Mathiot tersebut sudah menghilang atau melemah dari diri seseorang atau dari diri sekelompok orang anggota masyarakat tutur, berarti sikap negatif terhadap suatu bahasa telah melanda diri orang atau kelompok orang tersebut.
Selain faktor positif, Chaer (2010:152) mengungkapkan bahwa sikap negatif terhadap suatu bahasa bisa terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang sudah tidak lagi mempunyai rasa bangga terhadap bahasanya, serta mengalihkan bahasa
lain yang bukan miliknya. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hilangnya rasa bangga terhadap bahasa sendiri dan menumbuhkan pada bahasa lain, antara lain faktor politik, ras, etnik,dan gengsi.
Chaer (2010:152) mengatakan bahwa tiadanya gairah atau dorongan untuk mempertahankan kemandirian bahasanya merupakan salah satu penanda bahwa kesetiaan bahasanya mulai melemah, yang bisa berlanjut menjadi hilang sama sekali. Sikap negatif tehadap bahasa akan lebih terasa lagi akibat-akibatnya apabila seseorang atau sekelompok orang tidak mempunyai kesadaran akan adanya norma bahasa. Sikap tersebut akan tampak dalam keseluruhan tindak tutur orang tersebut. Orang seperti itu tidak merasa perlu untuk menggunakan bahasa secara cermat dan tertib, mengikuti kaidah yang berlaku.
Asdam (2008:18) mengatakan bahwa sikap positif terhadap bahasa Indonesia
merupakan hal yang harus
ditumbuhkembangkan dan dijunjung tinggi. Sikap positif akan mempertinggi keberhasilan belajar bahasa. Taylor dalam Budiawan (2008: 41) mengungkapkan bahwa seseorang memiliki sikap positif terhadap suatu bahasa apabila memiliki perasaan suka pada bahasa tersebut. Jadi sikapnya terhadap bahasa tersebut adalah positif. Sebaliknya, sikap seseorang dikatakan negatif jika memiliki rasa negatif atau tidak suka tehadap bahasa tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap bahasa adalah sikap seseorang dalam memperlakukan bahasa, bagaimana bahasa sendiri atau bahasa orang lain digunakan, dipilih, dan diperlakukan dalam proses komunikasi.
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia adalah suatu kegiatan belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
Triandis dalam Suhardi (1996:32) menyebutkan empat alasan mengapa memiliki sikap. Pertama, sikap membantu memahami dunia sekeliling dengan cara mengatur dan menyederhanakan dunia sekitar yang amat kompleks. Kedua, sikap dapat melindungi
rasa harga diri karena sikap dapat membantu menghindarkan diri dari kenyataan yang tidak menyenangkan diri seseorang. Ketiga, sikap dapat membantu seseorang menysuaikan diri dengan dunia sekitar yang amat kompleks dengan cara memberikan tanggapan yang paling menguntungkan bagi diri orang tertsebut. Keempat, sikap memberikan kemungkinan kepada seseorang untuk menyatakan nilai-nilai asasi.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Lokasi penelitian bertempat di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bosowa Makassar. Variabel dalam penelitian ini adalah sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar angkatan 2016.
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan cara menggunakan angket. Data yang terkumpul melalui angket diolah melalui skala bertingkat, maka analisisnya sesuai dengan Skala Likert. Untuk mendapatkan hasil akhir akan dianalisis menggunakan rumus indeks persen. Rumus Indeks % =!"#$% !"#$! 𝑋 100 (Siswanto, 2013)
HASIL PENELITIAN
Tanggapan responden terhadap 6 butir pernyataan yang menggambarkan sikap kesetiaan bahasa. Dari 6 butir pernyataan dalam angket terkandung 4 butir pernyataan yang bersifat positif dan 2 butir pernyataan yang bersifat negatif mengenai sikap kesetiaan bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar angkatan 2016. Dari 13 responden untuk 4 butir pernyataan yang besifat positif, masing-masing menduduki kategori sangat baik dengan memperoleh indeks 92,2% atau sangat baik, 88,3% atau sangat baik, 89,3% atau sangat baik, 87,3% atau sangat baik. Kemudian untuk 2 butir pernyataan yang bersifat negatif, masing-masing menduduki kategori baik dengan mempeoleh indeks
75,1% atau baik dan 78% atau baik. Kategori sangat baik pada pernyataan positif dan kategori baik pada pernyataan negatif yang dipeoleh 13 responden terhadap 6 butir pernyataan tersebut menunjukan bahwa sikap kesetiaan bahasa mahasiswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah positif.
Tanggapan responden terhadap 6 butir pernyataan yang menggambarkan sikap kebanggaan bahasa. Dari 7 butir pernyataan dalam angket terkandung 5 butir pernyataan yang bersifat positif dan 2 butir pernyataan yang bersifat negatif mengenai sikap kebanggaan bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar angkatan 2016. Dari 13 responden untuk 5 butir pernyataan yang besifat positif, masing-masing menduduki kategori sangat baik dengan memperoleh indeks 84,3% atau sangat baik, 85,9% atau sangat baik, 88,3% atau sangat baik, 92,7% atau sangat baik, 92,7% atau sangat baik. Kemudian untuk 2 butir pernyataan yang bersifat negatif, masing-masing 1 butir pernyataan menduduki kategori sangat baik dengan memperoleh indeks 86,3% atau sangat baik dan 1 butir pernyataan menduduki kategori baik dengan memperoleh indeks 66,9% atau baik. Kategori sangat baik dan kategori baik pada pernyataan positif dan pada pernyataan negatif yang diperoleh 13 responden terhadap 7 butir pernyataan tersebut menunjukan bahwa sikap kebanggaan bahasa mahasiswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah positif.
Tanggapan responden terhadap 6 butir pernyataan yang menggambarkan sikap kesadaran akan norma bahasa. Dari 7 butir pernyataan dalam angket terkandung 1 butir pernyataan yang bersifat positif dan 6 butir pernyataan yang bersifat negatif mengenai sikap kesadaran akan norma bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Bosowa. Dari 13 responden untuk 1 butir pernyataan yang besifat positif berhasil menduduki kategori sangat baik dengan memperoleh indeks 92,2% atau sangat baik. Kemudian untuk 6 butir pernyataan yang bersifat negatif diperoleh 4 butir pernyataan menduduki kategori sangat
baik dengan memperoleh indeks 81,5% atau sangat baik, 83,9% atau sangat baik, 87,3% atau sangat baik, 87,9% atau sangat baik, 92,2% atau sangat baik dan 2 butir pernyataan menduduki kategori baik dengan memperoleh indeks 70,7% atau baik dan 78% atau baik. Kategori sangat baik dan kategori baik pada pernyataan positif dan pernyataan negatif yang diperoleh 13 responden terhadap 7 butir pernyataan tersebut menunjukan bahwa sikap kesadaran akan norma bahasa mahasiswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah positif.
Hasil penelitian ini akan dipertegas dengan pembahasan mengenai 20 butir pernyataan yang secara garis besar terdiri atas dua bagian yaitu 10 butir pernyataan positif dan 10 butir pernyataan negatif. Hasil angket menunjukan bahwa dari 10 butir pernyataan positif masing-masing menduduki kategori sangat baik dengan memperoleh indeks 84,4% sampai 92,7% yang berarti sikap bahasa siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah positif. Kemudian untuk 10 butir pernyataan yang negatif, hasil yang diperoleh untuk setiap butir pernyataan masing-masing menduduki kategori baik hingga sangat baik dengan memperoleh indeks 66,9% sampai 87,9%. Indeks ini menujukan bahwa sikap bahasa siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah positif.
Berdasarkan hasil pembahasan angket siswa di atas, sikap bahasa mahasiswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia berada di atas skor negatif. Jadi, hasil angket ini menunjukan bahwa sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar adalah positif
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh melalui angket, dapat disimpulkan bahwa sikap bahasa mahasiswa terhadap aspek kesetiaan bahasa untuk 4 butir pernyataan termasuk kategori sangat baik dan 2 butir lainnya termasuk kategori baik; aspek kebanggaan bahasa untuk 6 butir pernyataan termasuk kategori sangat baik dan 1 butir lainnya termasuk kategori baik; dan aspek kesadaran akan norma bahasa untuk 5 butir
pernyataan termasuk kategori sangat baik dan 2 butir lainnya termasuk kategori baik.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sikap bahasa mahasiswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia berada di atas skor negatif. Jadi, hasil penelitian ini disimpulkan bahwa sikap bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia mahasiswa semester 1 program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Bosowa Makassar adalah positif. Hal tersebut dapat digunakan sebagai salah satu indikator keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia, khusunya yang berkaitan dengan kebanggaan bahasa, kesetiaan bahasa, dan kesadaran akan norma bahasa mahasiswa terhadap bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta. Arsad. 2012. Apresiasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII MTs 1 Baraka Kabupaten Enrekang. Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas ‘’45’’ Makassar. Asdam, Muhammad. 2008. Bahasa Indonesia
Pengantar Sukses di Perguruan Tinggi.
Makassar: Pusat Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional (P3AI) Universitas 45 Makassar. Budiawan. 2008. Pengaruh Sikap Bahasa dan Motivasi Belajar Bahasa terhadap Prestasi pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Siswa SMA se-Bandar Lampung. Tesis. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. (online), (http://lib.ui.ac. id/file?file=digital/ 20251271 RB00B 424p Pengaruh%20sikap.pdf diakses 31 Desember 2015). Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik
Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Siswanto, Duwi. 2013. Skala Likert: Burung Elang. (Online), (http:// semuailmubisa.
blogspot.co.id/ 2013/12/ Skala
Likert:html?m=I diakses 31 Desember 2015). Suhardi, Basuki. 1996. Sikap Bahasa: Suatu
Telaah Eksploratif atas Sekelompok Sarjana dan Mahasiswa di Jakarta. Jakarta: FSUI.