• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ragam Hias Singa dan Kepala Naga Bersayap pada Dinding Candi Induk Panataran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ragam Hias Singa dan Kepala Naga Bersayap pada Dinding Candi Induk Panataran"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Ragam Hias Singa dan Kepala Naga Bersayap pada Dinding Candi Induk

Panataran

Dini Yudha Kriscahyanti1 dan Agus Aris Munandar2

1. Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok 2. Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok

Email : [email protected]

Abstrak

Kompleks Candi Panataran merupakan tinggalan penting yang berasal dari masa Majapahit. Gugusan percandian ini memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki candi lain di masa sebelumnya, antara lain memiliki ukuran yang luas dan terbagi ke dalam tiga halaman. Bangunan utama dalam gugusan percandian ini adalah Candi Induk yang terletak pada halaman paling belakang. Seperti bangunan candi pada umumnya, arsitektur pada percandian Panataran dilengkapi dengan ragam hias, baik ragam hias arsitektural maupun ornamental. Penelitian ini membahas variasi bentuk pemahatan ornamen berupa relief singa dan kepala naga bersayap yang terletak pada dinding teras ketiga Candi Induk Panataran.

The Ornaments of Winged Lion and Naga Head on the Wall of Panataran Main Temple Abstract

The temple complex of Panataran is an important remains that derived from Majapahit period. This monuments has several features that are not owned by another temple at the previous period, for example that has a wide size and consist of three courtyards. The main temple located at the end of the complex. As the temple in general, this monuments complemented by architectural and ornamental decorative. This research describes the variation sculpture of winged lion and naga head ornaments on the third terrace of Panataran main temple.

Keywords:

Panataran temple, ornaments, winged lion, winged naga head.

Pendahuluan

Kebudayaan yang berasal dari India membawa pengaruh yang cukup signifikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, terlebih masyarakat Jawa Kuna. Pengaruh kebudayaan India yang masuk ke wilayah Indonesia bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari sistem keagamaan (Sedyawati, 1985:4). Agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India diterima, dan berkembang cukup cepat di kalangan masyarakat

(2)

kala itu. Salah satu tinggalan Hindu-Buddha yang masih dapat dijumpai hingga sekarang adalah candi. Menurut Soekmono dalam disertasinya yang berjudul Candi, Fungsi, dan Pengertiannya (1974), candi merupakan suatu bangunan suci yang berfungsi sebagai tempat peribadatan bagi umat Hindu maupun Buddha pada masa lalu.

Arsitektur candi dilengkapi dengan ragam hias yang dapat digolongkan ke dalam dua jenis, yakni ragam hias arsitektural dan ragam hias ornamental (Krom, 1923: 156). Ragam hias arsitektural merupakan bentuk hiasan pokok yang harus ada pada bangunan candi, apabila dihilangkan akan mengganggu keseimbangan arsitektur candi. Ragam hias ornamental memiliki fungsi sebagai penghias belaka, ada atau tidaknya ragam hias ini tidak akan mempengaruhi keseimbangan arsitektur candi (Munandar, 1989: 277). Sementara menurut van der Hoop (1949) ragam hias berdasarkan motifnya dapat digolongkan ke dalam empat kelompok, yaitu motif hias geometris, anthropomorf, tumbuh-tumbuhan dan binatang.

Salah satu jenis ragam hias yang telah banyak dikaji oleh peneliti terdahulu ialah relief. Relief pada bangunan suci yang berfungsi untuk memperindah sekaligus menambah kesakralan suatu bangunan. Relief tersebut dapat berupa relief cerita, relief ornamen yang bernafaskan konsep keagamaan, dan relief cerita biasa (Munandar, 1989: 277; 2011: 195); maupun relief yang berupa kalangwan atau lukisan keindahan alam (Satari, 1987a: 289). Relief pada candi-candi Jawa Timur pada umumnya merupakan relief rendah, dan menggunakan cerita acuan dari kepustakaan Jawa Kuna serta beberapa saduran karya sastra India (Munandar, 2011: 7).

Salah satu tinggalan monumental dari masa Majapahit adalah Kompleks Candi Panataran. Candi ini merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur. Di dalam Nagarakrtagama disebutkan bahwa ketika Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling, candi Panataran (Rabut Palah) menjadi salah satu tempat yang dikunjunginya. Hal ini menunjukkan bahwa Candi Panataran merupakan salah satu tempat yang cukup penting dalam Kerajaan Majapahit (Soekmono, 1993: 71).

Percandian ini cukup menarik sebab terdapat beberapa keunikan yang tidak ditemukan di dalam percandian lain. Keunikan tersebut antara lain memiliki ukuran yang luas dan terbagi ke dalam tiga halaman dengan bentuk serta ukuran halaman yang tidak teratur. Model seperti ini tidak ada di masa sebelumnya. Selain itu, di dalam percandian ini terdapat bangunan yang

(3)

bergaya arsitektur Singasari, Majapahit, dan ada pula yang hanya berupa batur. Keunikan lainnya ialah adanya ornamentasi yang didominasi dengan motif medalion dan motif naga, serta relief naratif dari berbagai kisah (Bernet Kempers, 1959: 90-94; Wahyudi, 2005: 8-9). Selain itu, pada bangunan utama gugusan percandian ini, yaitu Candi Induk, terdapat ragam hias berupa singa dan kepala naga bersayap yang digambarkan dalam bentuk relief tinggi. Hal ini cukup menarik, sebab biasanya hiasan candi yang berupa figur singa maupun naga, digambarkan dalam bentuk tanpa sayap. Selanjutnya penelitian ini akan menguraikan tentang keragaman bentuk relief singa dan kepala naga bersayap yang dipahatkan pada teras ketiga Candi Induk Panataran.

Kompleks candi Panataran secara administratif terletak di Desa Panataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Secara geografis, Kabupaten Blitar berbatasan dengan Kabupaten Kediri di sebelah Utara, di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Malang, di sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, serta berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung di sebelah Barat. Kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur ini tepatnya berada di sebelah Barat Daya Gunung Kelud, pada ketinggian 450 mdpl (Bernet Kempers, 1959: 90; Bullough, 1995: 81).

Bangunan-bangunan yang ada pada gugusan percandian ini antara lain Bale Agung, Batur Pendopo, Candi Angka Tahun, Candi Naga, dan Candi Induk (lihat gambar 3.1). Candi Induk Panataran merupakan bangunan paling besar dan dianggap paling penting di kompleks tersebut. Candi Induk terletak di tengah halaman III, dikelilingi bangunan-bangunan lain, dan memiliki arah hadap ke barat sesuai dengan arah hadap Percandian. Dilihat dari struktur bangunannya, Candi Induk terdiri atas tiga kaki yang bertingkat (teras). Kaki Tingkat I (paling bawah) berdenah persegi berukuran 32,5 x 29,5 m serta tinggi 7,2 m. Objek di dalam kajian ini berupa singa bersayap berjumlah 17 panil dan kepala naga bersayap berjumlah 14 panil, yang terdapat pada candi Induk. Ragam hias yang secara keseluruhan berjumlah 31 panil tersebut memiliki keletakan berselang-seling mengelilingi candi. Untuk mempermudah proses pendeskripsian, maka dilakukan penomoran berdasarkan keletakan relief yang dimulai pada Panil 1 hingga panil 31.

(4)

Gambar 1. Denah kompleks Candi Panataran

(5)

Metode Penelitian

Secara umum metode penelitian arkeologi terdiri dari tiga tahapan yaitu proses pengumpulan data, pengolahan data, dan penafsiran data (Deetz, 1967: 8). Robert J. Sharer dan Wendy Ashmore dalam bukunya Archaeology: Discovering Our Past menjabarkan lebih rinci mengenai kerangka suatu penelitian yang terdiri atas tujuh tahapan, yaitu tahap formulasi penelitian, implementasi penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, interpretasi data, serta tahap publikasi. Penelitian ini akan menggunakan metode tersebut dengan satu penyesuaian, mengingat kajian penelitian ini bersifat deskriptif, maka setelah analisis data tidak dilakukan interpretasi melainkan langsung merujuk pada penarikan kesimpulan.

Formulasi penelitian pertama-tama dilakukan dengan cara menentukan topik penelitian, penyusunan latar belakang, rumusan permasalahan hingga merumuskan metode yang akan diterapkan di dalam penelitian. Berikutnya adalah tahap implementasi atau persiapan penelitian, diantaranya mempersiapkan soal perijinan penelitian, dana penelitian, serta berbagai kebutuhan lain yang akan dibutuhkan untuk penelitian. Kemudian masuk dalam tahap pengumpulan data.

Beberapa hal yang dilakukan dalam pengumpulan data ialah mengumpulkan berbagai keterangan yang dibutuhkan melalui sumber-sumber tertulis berupa buku, laporan penelitian, maupun artikel yang berkenaan dengan tokoh singa dan naga. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data lapangan berupa perekaman, baik secara verbal maupun piktorial. Perekaman secara verbal berupa pencatatan secara rinci terhadap seluruh figur relief singa dan kepala naga bersayap yang berjumlah 31 panil. Perekaman dilakukan berdasarkan masing-masing figur dan dilakukan secara pradaksina (mengkanan-kan candi), dimulai dari panil pertama pada tangga naik candi sebelah kiri di Barat, hingga panil terakhir (panil 31) yang terletak pada tangga naik candi sebelah kanan di Barat. Kemudian dilakukan pendokumentasian melalui foto.

Tahapan berikutnya ialah pengolahan data. Pada tahapan ini akan dilakukan pengelompokan atau klasifikasi1. Penggolongan ini didasarkan pada atribut2 kuat yang muncul

1 Klasifikasi merupakan bentuk dasar suatu analisis. Klasifikasi sering disamakan dengan tipologi karena menggolong-golongkan tipe (Deetz, 1967: 51-52).

2 Atribut merupakan bagian terkecil artefak yang memiliki ciri-ciri atau sifat tertentu, yang dapat dijadikan dasar bagi penentuan pengelompokan (Clarke, 1978: 206).  

(6)

dalam setiap ragam hias. Di dalam tahap ini, proses pengelompokan dilakukan berdasarkan ciri-ciri komponen hiasan, yang diuraikan dalam dua kelompok, yakni kelompok singa bersayap (17 panil) dan kepala naga bersayap (14 panil. Langkah selanjutnya adalah analisis data dengan cara mengamati setiap persamaan dan perbedaan yang ada dalam setiap panil, baik kelompok singa maupun kepala naga bersayap. Setelah semua diuraikan, pada akhirnya akan dilakukan tipologi berdasarkan ciri-ciri bentuk maupun hiasan masing-masing figur.

Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dibantu dengan sumber-sumber pustaka yang pernah diterbitkan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Kemudian tahapan terakhir dalam penelitian ini adalah publikasi. Publikasi tersebut diantaranya berupa skripsi cetak dan jurnal ilmiah yang dipublikasikan di lingkungan Universitas Indonesia.

Beberapa Mitologi tentang Singa dan Naga

Pemahatan ragam hias pada suatu bangunan suci biasanya memiliki kaitan erat dengan mitologi, mengingat kehidupan masyarakat kala itu tidak terlepas dari adanya mitologi-mitologi yang kisahnya masih dikenal hingga masa kini. Baik tokoh singa maupun naga, keduanya sama-sama dikenal dalam mitologi Hindu-Buddha.

Ditemukannya ragam hias berupa figur singa pada beberapa candi di Indonesia, khususnya Jawa, merupakan hal yang cukup menarik sebab singa merupakan binatang asing yang tidak pernah hidup di wilayah Indonesia. Penggambaran figur tersebut tidak terlepas dari adanya pengaruh dari India yang masuk ke kepulauan Nusantara di masa lampau. Mengutip pernyataan Timbul Haryono (1980: 43), pemahatan binatang asing seperti singa pada relief candi di Pulau Jawa banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, antara lain tenaga-tenaga asing yang diperbantukan kepada para pemahat, adanya contoh gambar atau uraian tertulis, serta adanya pemahat yang pernah melihat binatang tersebut di luar lingkungannya.

Di dalam Silpa Prakasa diuraikan bahwa ragam hias singa dengan wajah buas merupakan dekorasi terbaik untuk sebuah bangunan suci. Tanpa adanya patung singa, maka suatu bangunan suci termasuk bangunan dari tipe yang paling rendah dan tidak baik. Empat tipe penggambaran singa yang dianggap baik adalah tipe viraja, jagrata, udyata, dan gajakranta. Pada tipe viraja singa melihat ke belakang, dan digambarkan berdiri di atas kedua kaki belakang. Pada tipe

(7)

jagrata singa digambarkan dengan wajah buas, bersikap duduk, kedua depan diangkat ke atas memperlihatkan cakar. Pada tipe udyata singa digambarkan dalam sikap duduk dengan kedua kaki belakang, penggambaran ini menunjukkan seolah-olah ia siap menerkam. Pada tipe gajakranta singa digambarkan duduk dengan ketiga kakinya di atas raja gajah, sedangkan satu kakinya yang lain diangkat di depan dada. (Boner, 1966: 116-117).

Dalam kebudayaan India terdapat empat binatang yang menghiasi pilar-pilar bangunan suci. Singa termasuk salah satu binatang yang sering muncul sebagai penghias bangunan, baik bangunan suci yang bernafaskan agama Hindu maupun Buddha. Pada bangunan suci yang bernafaskan agama Buddha, singa muncul bersama dengan sapi brahman, gajah, dan kuda. Sementara dalam bangunan suci bercorak agama Hindu, singa seringkali muncul bersama kuda, gajah dan angsa (Van der Ger dalam Restiyadi, 2012: 6). Singa digambarkan pula sebagai wahana Dewi Durga (Auboyer, 1972:138), yang diberikan oleh Himalaya. Selain itu, Singa juga merupakan salah satu dari sepuluh awatara Wisnu, yaitu Narasimha (Auboyer, 1972: 140-141). Singa dalam mitologi Buddha dapat pula sebagai simbol Sakyamuni yang dikenal sebagai singa dari keluarga Sakya. Singa juga menjadi wahana beberapa dewa seperti Waisravana, Manjushri, Ganapati, Ratnasambhawa dan Wairocana (Beer dalam Restiyadi, 2012: 7). Singa dapat pula berperan sebagai pelindung dharma, yang digambarkan menjadi landasan (lapik) arca Buddha. Keberadaan singa hampir selalu dikaitkan dengan sang Buddha.

Seperti halnya singa, mitologi tentang naga juga banyak mendapat pengaruh yang berasal dari India. Naga merupakan sebutan untuk ular dalam Bahasa Sansekerta (Briggs: 1957: 14; Hall, 1994: 44). Menurut Hariani Santiko (2005:10) di dalam mitologi India dikenal dua golongan ular, yakni ular biasa dan ular naga. Ular naga digambarkan bertubuh besar, memakai mahkota dan berbagai perhiasan lainnya.

Dalam mitologi Hindu, naga berperan sebagai lambang dari dunia bawah dan erat kaitannya dengan air. Selain lambang dunia bawah, naga juga lambang dari pemilik kekayaan di dalam tanah yang sewaktu-waktu dapat dimintai pertolongan oleh manusia (Satari, 1987: 293). Sementara dalam mitologi agama Buddha, naga merupakan lambang kesuburan yang dihubungkan dengan bumi dan air. Hal ini ditunjukkan dengan cerita tentang dua ekor naga bernama Nanda dan Upananda. Kedua naga tersebut menuangkan air panas dan air dingin dari langit ke bumi ketika sang Buddha lahir. Selain itu, naga dianggap pula sebagai simbol

(8)

pelindung. Naga sebagai simbol pelindung ditunjukkan dengan kisah kepala naga-naga yang memayungi sang Buddha ketika bersemedi di bawah pohon Boddhi (Iyer, 1977: 58).

Cerita mengenai tokoh naga dapat ditemukan pula di dalam beberapa karya sastra Jawa Kuna, antara lain kisah Samudramanthana dan Garudeya yang terdapat di dalam kitab Adiparwa. Samudramanthana yang juga dikenal dengan Amertamanthana menceritakan tentang pengadukan lautan susu untuk memperoleh air amerta. Sementara itu, Garudeya mengisahkan tentang kelahiran naga dan garuda. Selain Adiparwa, cerita tentang pengadukan lautan susu untuk mencari air amerta juga dapat dijumpai dalam kitab lain, seperti kitab Tantu Panggelaran, naskah Hariwijaya dan Astikayana.

Analisis terhadap Singa dan Kepala Naga Bersayap

Ragam hias singa dan kepala naga bersayap dipahatkan berselang-seling mengelilingi candi. Susunan keletakan figur secara pradaksina dapat diurutkan dari tangga naik sebelah kanan candi pada dinding sebelah Barat, yaitu panil pertama dengan figur singa. Kemudian dilanjutkan panil kedua dengan figur singa di dinding Barat, dan seterusnya hingga panil ketigapuluh satu yang terletak pada sisi kiri tangga naik candi di sebelah Barat.

Penempatan figur secara berselang-seling (lihat Gambar 2) tersebut menghasilkan pola yang teratur dan memiliki titik sejajar dengan arah dinding yang berlawanan, seperti berikut:

1. Dinding Utara dan dinding Selatan: P5/Kn2 sejajar dengan P27/Kn13, P6/Sn4 sejajar dengan P26/Sn14, P7/Kn3 sejajar dengan P5/Kn12, P8/Sn5 sejajar dengan P24/Sn13, P9/Kn4 sejajar dengan P23/Kn11, P10/Sn6 sejajar dengan P22/Sn12, P11/Kn5 sejajar dengan P21/Kn10.

2. Dinding Barat dan dinding Timur: P2/Sn2 sejajar dengan P14/Sn8, P3/Kn1 sejajar dengan P13/Kn6, P29/Kn14 sejajar dengan P19/Kn9.

Untuk tiga panil di dinding Timur, yaitu P15/Kn7, P16/Sn9, dan P17/Kn8 sejajar dengan pintu masuk candi di sebelah Barat. Sementara empat panil berupa figur singa mengisi keempat sudut candi, masing-masing P4/Sn3 di sudut Barat Laut, P12/Sn7 di sudut Timur Laut, P20/Sn11 di

(9)

sudut Tenggara, dan P28/Sn15. Kemudian pada kedua sisi tangga naik candi di sebelah Barat terdapat figur singa, yaitu P1/Sn1 dan P31/Sn17.

Gambar 2. Denah keletakan ragam hias

Selanjutnya dilakukan analisis bentuk dan tipologi yang dipisahkan menurut masing-masing figur, yaitu singa bersayap dan kepala naga bersayap.

a. Singa bersayap

1. Bentuk Kepala

Bentuk kepala yang dimaksudkan adalah lingkar secara keseluruhan, mulai dari bagian dahi, pipi hingga dagu. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, bentuk

(10)

kepala secara umum dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yakni bentuk kepala membulat dan persegi.

Gambar 3. Bentuk kepala membulat Gambar 4. Bentuk kepala persegi

2. Tanduk

Figur singa digambarkan memiliki sepasang tanduk yang posisinya tegak dengan mata, bentuknya semakin ke atas semakin menyempit. Tanduk-tanduk ini pada dasarnya berbentuk lurus, namun terdapat variasi di bagian ujungnya yang melengkung ke dalam. Dengan adanya variasi tersebut, maka tanduk pada figur singa bersayap dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yakni tanduk lurus dan tanduk melengkung.

(11)

3. Kalung.

Kalung (hara) merupakan hiasan leher yang bentuknya bermacam-macam, ada yang pendek dan ada pula yang panjang. Kalung pendek biasanya dapat dijumpai dalam kesenian India kuna (Maulana, 1997: 47). Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, hiasan leher pada ragam hias singa bersayap maupun kepala naga bersayap dapat digolongkan ke dalam empat model, sebagai berikut.

Gambar 7. Model (a) Gambar 8. Model (b)

Gambar 9. Model (c) Gambar 10. Model (d)

4. Sayap

Figur dalam masing-masing panil memiliki sayap, yang akan digolongkan ke dalam dua bagian, yakni sayap bagian kanan dan sayap bagian kiri badan. Kemudian

(12)

dalam masing-masing bagian tersebut digolongkan lagi berdasarkan lapisan. Jumlah lapisan bervariasi, mulai dari dua lapisan, hingga lima lapisan. Lapisan pertama ialah lapisan yang paling dalam (paling dekat dengan badan), kemudian disusul dengan lapisan kedua dan seterusnya hingga lapisan terluar. Sementara bentuk sayap semakin ke luar semakin melebar, dan jumlah helainya lebih sedikit dibandingkan dengan sayap yang menempel dengan badan.

a. Sayap yang terdiri atas dua lapisan.

Gambar 11. Sayap bagian kanan Gambar 12. Sayap bagian kiri

b. Sayap yang terdiri atas tiga lapisan.

(13)

c. Sayap yang terdiri atas empat lapisan.

Gambar 15. Sayap bagian kanan Gambar 16. Sayap bagian kiri

d. Sayap yang terdiri atas lima lapisan.

Gambar 17. Sayap bagian kanan Gambar 18. Sayap bagian kiri

5. Ekor

Ekor selalu digambarkan terjuntai di sisi kanan maupun sisi kiri lapik, sehingga dapat dikelompokkan sebagai berikut.

(14)

Gambar 19. Ekor yang terjuntai di kanan lapik

Gambar 20. Ekor yang terjuntai di kiri lapik

6. Lapik

Lapik pada ragam hias singa bersayap berdasarkan bentuknya dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu lapik persegi panjang, lapik belah ketupat, dan lapik setengah lingkaran. Sementara hiasan pada lapik adalah motif sulur-suluran.

(15)

Gambar 22. Lapik belah ketupat

Gambar 33. Lapik setengah lingkaran

Tipologi Singa Bersayap.

a. Tipe 1, memiliki ciri-ciri bentuk kepala membulat, tanduk lurus, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (a), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk belah ketupat, dan sayap yang terdiri atas empat lapisan. Tipe 1 dapat dijumpai pada ragam hias P1/Sn1.

b. Tipe 2, memiliki ciri-ciri bentuk kepala membulat, tanduk lurus, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (d), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk persegi panjang dan sayap yang terdiri atas tiga lapisan. Tipe 2 dapat dijumpai pada ragam hias P18/Sn10.

c. Tipe 3, memiliki ciri-ciri bentuk kepala membulat, tanduk lurus, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (d), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk setengah lingkaran dan sayap yang terdiri atas empat lapisan. Tipe 3 dapat dijumpai pada ragam hias P28/Sn15.

(16)

d. Tipe 4, memiliki ciri-ciri bentuk kepala persegi, tanduk lurus, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (a), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk persegi panjang dan sayap yang terdiri atas tiga lapisan. Tipe 4 dapat dijumpai pada ragam hias P2/Sn2 dan P8/Sn5.

e. Tipe 5, memiliki ciri-ciri bentuk kepala persegi, tanduk lurus, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (a), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk persegi panjang dan sayap yang terdiri atas empat lapisan. Tipe 5 dapat dijumpai pada ragam hias P14/Sn8.

f. Tipe 6, memiliki ciri-ciri bentuk kepala persegi, tanduk lurus, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (c), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk persegi panjang dan sayap yang terdiri atas tiga lapisan. Tipe 6 dapat dijumpai pada ragam hias P24/Sn13.

g. Tipe 7, memiliki ciri-ciri bentuk kepala persegi, tanduk melengkung, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (a), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk persegi panjang dan sayap yang terdiri atas empat lapisan. Tipe 7 dapat dijumpai pada ragam hias P6/Sn4.

h. Tipe 8, memiliki ciri-ciri bentuk kepala persegi, tanduk melengkung, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (d), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk persegi panjang dan sayap yang terdiri atas tiga lapisan. Tipe 8 dapat dijumpai pada ragam hias P22/Sn12.

i. Tipe 9, memiliki ciri-ciri bentuk kepala persegi, tanduk melengkung, kedua mata melotot, mulut menganga memperlihatkan gigi-gigi tajam, bagian leher dihiasi kalung model (a), hiasan pinggang berupa untaian mutiara, lapik berbentuk persegi panjang dan sayap yang terdiri atas dua lapisan. Tipe 9 dapat dijumpai pada ragam hias P6/Sn4.

(17)

Demikianlah tipologi pada ragam hias singa bersayap yang terdiri atas 9 tipe. Dari keseluruhan ragam hias singa yang berjumlah 17 panil hanya 10 panil yang dapat digolongkan ke dalam tipe-tipe, akibat terdapat komponen yang tidak dapat diidentifikasi pada tujuh panil lainnya. Sementara itu persebaran tipe pada dinding candi dapat dilihat pada Tabel 1.

    Keletakan pada dinding Tipologi singa bersayap Barat Tipe 1 Tipe 3 Tipe 4 Tipe 9 Timur Tipe 2 Tipe 5 Utara Tipe 4 Tipe 7 Selatan Tipe 6 Tipe 8

  Tabel 1. Tipologi singa bersayap  

b. Kepala Naga Bersayap

1. Mahkota

Bentuk mahkota pada kepala naga bersayap secara umum memiliki pola yang sama, yaitu berhias kemuncak. Bagian tengahnya dihiasi kuncup bunga yang diapit oleh sulur daun.

(18)

2. Leher

Bagian leher digambarkan memakai hiasan berupa kalung. Di bawah kalung terdapat guratan garis-garis yang menunjukkan sisik, ragam hias pada keempat belas panil menunjukkan pola yang sama, kecuali motif kalungnya berbeda-beda.

Gambar 34. Leher figur kepala naga

3. Kalung

Penggolongan kalung pada ragam hias kepala naga bersayap jenisnya sama dengan singa bersayap, yaitu terdiri atas empat model.

4. Sayap

Seperti halnya dengan figur singa, sayap pada figur kepala naga juga dibagi menjadi dua, yaitu sayap bagian kanan dan sayap bagian kiri badan. Kemudian digolongkan lagi berdasarkan lapisan.

Tipologi Kepala Naga Bersayap

a. Tipe 1, memiliki ciri-ciri memakai mahkota, kedua mata melotot, mulut menganga menjulurkan lidah, bagian leher dihiasi kalung model (a), dan sayap yang terdiri atas tiga lapisan. Tipe 1 dapat dijumpai pada ragam hias P29/Kn14.

(19)

b. Tipe 2, memiliki ciri-ciri memakai mahkota, kedua mata melotot, mulut menganga menjulurkan lidah, bagian leher dihiasi kalung model (b), dan sayap yang terdiri atas tiga lapisan. Tipe 2 dapat dijumpai pada ragam hias P7/Kn3, P9/Kn4, P13/Kn6, P19/Kn9, dan P21/Kn10.

c. Tipe 3, memiliki ciri-ciri memakai mahkota, kedua mata melotot, mulut menganga menjulurkan lidah, bagian leher dihiasi kalung model (b), dan sayap yang terdiri atas empat lapisan. Tipe 3 dapat dijumpai pada ragam hias P15/Kn2, dan P23/Kn11.

d. Tipe 4, memiliki ciri-ciri memakai mahkota, kedua mata melotot, mulut menganga menjulurkan lidah, bagian leher dihiasi kalung model (b), dan sayap yang terdiri atas lima lapisan. Tipe 4 dapat dijumpai pada ragam hias P3/Kn1.

e. Tipe 5, memiliki ciri-ciri memakai mahkota, kedua mata melotot, mulut menganga menjulurkan lidah, bagian leher dihiasi kalung model (c), dan sayap yang terdiri atas empat lapisan. Tipe 5 dapat dijumpai pada ragam hias P15/Kn7.

f. Tipe 6, memiliki ciri-ciri memakai mahkota, kedua mata melotot, mulut menganga menjulurkan lidah, bagian leher dihiasi kalung model (d), dan sayap yang terdiri atas tiga lapisan. Tipe 6 dapat dijumpai pada ragam hias P17/Kn8.

g. Tipe 7, memiliki ciri-ciri memakai mahkota, kedua mata melotot, mulut menganga menjulurkan lidah, bagian leher dihiasi kalung model (d), dan sayap yang terdiri atas empat lapisan. Tipe 7 dapat dijumpai pada ragam hias P27/Kn13.

Tipologi pada ragam hias kepala naga bersayap terdiri atas 7 tipe. Dari keseluruhan ragam hias kepala naga bersayap yang berjumlah 14 panil, terdapat 12 panil yang dapat digolongkan ke dalam tipe-tipe. Sementara dua panil lainnya tak dapat dibuat tipologi akibat adanya komponen yang tidak dapat diidentifikasi. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan ragam hias singa bersayap. Untuk persebaran tipe pada bagian dinding candi dapat dilihat pada Tabel 2.

Keletakan pada dinding

Tipologi kepala naga bersayap

Barat Tipe 1

(20)

Timur Tipe 2 Tipe 5 Tipe 6 Utara Tipe 2 Tipe 3 Selatan Tipe 2 Tipe 3 Tipe 7

Tabel 2. Tipologi kepala naga bersayap

Kesimpulan

Mengingat dalam pembuatan candi dikerjakan oleh banyak ahli (silpin), seperti arsitek perencanaan bangunan (stapati), pelaksana dan pemimpin umum teknik (sutragrahin), ahli pahat (taksaka), dan ahli seni hias (vardhakin) (Kramrisch, 1946: 1217; Munandar, 2003: 113), maka sangat terbuka kemungkinan bagi para seniman tersebut untuk mengekspresikan gagasan estetikanya masing-masing. Karena itu ditemukan adanya penggambaran berbeda di tiap hiasan pada figur singa bersayap maupun kepala naga bersayap yang kemudian memunculkan adanya berbagai variasi bentuk.

Dalam konteksnya dengan religi figur singa dan naga memiliki peranan masing-masing. Figur singa antara lain dapat dihubungkan dengan fungsinya sebagai penjaga bangunan suci. Hal ini dapat dilihat dari penempatan figur singa, pada keempat sudut candi semuanya diisi dengan figur singa. Selain itu, pada tangga naik candi di sisi kanan dan kirinya juga dihiasi oleh figur singa. Sebelumnya telah disinggung mengenai uraian dari Silpaprakasa bahwa ragam hias singa merupakan dekorasi terbaik untuk sebuah bangunan suci.Tanpa adanya figur singa suatu bangunan suci termasuk bangunan dari tipe yang paling rendah dan tidak baik. Maka wajar apabila figur singa dipahatkan pada candi Induk, yang merupakan bangunan utama pada Kompleks Candi Panataran.

Sementara naga jika dilihat dari konteks religi pada bangunan ini memiliki kaitan dengan mitologi yang ada dalam agama Buddha, yaitu adanya kepala-kepala naga yang bentuknya menyerupai payung, memayungi sang Buddha ketika bersemedi di bawah pohon Boddhi. Maka fungsi naga disini setara dengan singa, yaitu simbol pelindung. Hal ini dapat dilihat dari figur

(21)

naga yang dipahatkan di Candi Induk tidak dipahatkan secara keseluruhan badan, melainkan hanya bagian kepalanya saja.

Daftar Referensi

Auboyer, Jeannine. 1972. “Animals in India”, dalam A. Houghton Brodrick, Animals in Archaeology, hlm 115-145. New York: Praeger Publishers.

Bernet Kempers, A.J. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J van Der Peet.

Boner, Alice dan Sadasiva Rath Sarma. 1966. Silpa Prakasa: Medieval Orissan Sanskrit Text on Temple Architecture. Leiden: E.J. Brill.

Briggs, Lawrence Palmer. 1951. The Ancient Khmer Empire. Philadelphia: The American Philosophical Society.

Bullough, Nigel. 1995. Historic East Java: Remains in Stone. Singapore: ADLine Communications.

Clarke, David L. 1978. Analytical Archaeology (second edition). New York: Columbia University Press.

Deetz, James. 1967. Invitation to Archaeology. New York: The Natural History Press.

Dowson, John. 1998. A Classical Dictionary of Hindu Mythologi and Religion Geography, History, and Literature. New Delhi: D. K. Printworld (P) Ltd.

Hall, James. 1994. Illustrated Dictionary of Symbols in Eastern and Western Art. London: John Murray Publishers Ltd.

Haryono, Timbul. “Singa dalam Kesenian Hindu di Jawa Tengah”, dalam BAY Th.I No.1, hlm 42-51. Balai Arkeologi Yogyakarta.

Iyer, K. Bharata. 1977. Animals in Indian Sculpture. Bombay: Taraporevala. Kramrisch, Stella. 1946. The Hindu Temple. Calcutta: University of Calcutta.

Krom, N.J. 1923. Inleiding Tot de Hindoe-Javaansche Kunst II. Den Haag: Martinus Nijhoff. Maulana, Ratnaesih. 1997. Ikonografi Hindu. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Munandar, Agus Aris. 1989. “Relief Masa Jawa Timur: Suatu Pengamatan Gaya”, dalam PIA V,

hlm 277-303. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

_____. 2003. Aksamala: Bunga Rampai Karya Penelitian. Bogor: Akademia. _____. 2011. Catuspatha: Arkeologi Majapahit. Jakarta: Wedata Widya Sastra.

(22)

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Pribadi, Nina Santoso. 1989. “Naga dalam Kebudayaan Kamboja”, dalam PIA V, hlm 150-160. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Restiyadi, Andri. 2012. “Penggambaran Singa di Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara”, dalam Fauna dalam Arkeologi. Medan: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan – Balai Arkeologi Medan.

Santiko, Hariani. 2005. “Ragam Hias Naga pada Kepurbakalaan di Jawa Timur abad X-XVI Masehi”, dalam Proseding Seminar Internasional Jawa Kuna, Depok, 8-9 Juli 2005. Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Satari, Sri Soejatmi. 1986. “Perkembangan Peranan Garuda dalam Seni di Asia Tenggara”, dalam PIA IV, hlm. 416-429. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan – Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

____. 1987a. “Seni Hias Ragam dan Fungsinya: Pembahasan Singkat tentang Seni Hias dan Hiasan Kuno”, dalam Estetika dalam Arkeologi Indonesia, hlm 288-295. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

____. 1987. “Penerapan dan Pengaruh Karya Sastra Hindu pada Relief Candi”, dalam 10 Tahun Kerjasama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) dan Ecole Franҫaise d’Extrême-Orient (EFEO), hlm. 23-42. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional – Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sedyawati, Edi. 1985. “Pengaruh India pada Kesenian Jawa: suatu Tinjauan Proses Akulturasi”, dalam Pengaruh India, Islam dan Barat dalam Proses Pembentukan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Proyek Penelitian Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sharer, Robert J. dan Wendy Ashmore. 2003. Archaeology: Discovering Our Past. New York: Mc. Grawhill.

Soekmono. 1952. “Amertamanthana” dalam Amerta No.1, hlm 35-38. Dinas Purbakala Republik Indonesia.

_______. (1977). Candi, fungsi, dan pengertiannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Soekmono, dan Inajati Adrisijanti Romli. 1993. “Peninggalan-peninggalan Purbakala masa Majapahit”. 700 Tahun Majapahit suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur.

Stutley, Margaret dan James. 1977. A Dictionary of Hinduism. London: Routledge & Kegan Paul Ltd.

(23)

Susanto, R. M. 1997. “Arca Singa dalam Arsitektur Hindu/Budha”, dalam Berkala Arkeologi “Sangkhakala”, hlm 16-25. Medan: Balai Arkeologi Medan.

Titasari, Coleta Palupi. 2008. “Mitologi di Balik Pahatan Naga pada Bangunan Suci”, dalam I Ketut Setiawan (ed), Seri Penerbitan Ilmiah Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, hlm. 213-227. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Van der Hoop, A. N. J. Th. a Th. 1949. Indonesische Siermotieven: Ragam-ragam Perhiasan Indonesia. K.B.G.

Wahyudi, Deny Yudo. 2005. Rekonstruksi Keagamaan Candi Panataran pada Masa Majapahit. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.

Zoetmulder, P. J. 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Gambar

Gambar 1. Denah kompleks Candi Panataran
Gambar 2. Denah keletakan ragam hias
Gambar 3. Bentuk kepala membulat  Gambar 4. Bentuk kepala persegi
Gambar 7. Model (a)  Gambar 8. Model (b)
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hal penting yang diperoleh ialah standar ISO 9002 dapat diterapkan dalam manajemen operasi RSG-GAS dan didukung oleh penerapan standar IAEA yang sudah diimplementasikan, akan

Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun lidah buaya ( Aloe vera ) memiliki aktivitas antibakteri dan anti jamur karena dapat menghambat pertumbuhan

Hipotesis 3 yang diajukan dalam penelitian eksperimen ini adalah diduga manajer yang mengalami kondisi Adverse Selection dan Locus Of Control akan

Hasil analisis regresi ganda memperlihatkan bahwa tingkat kesegaran jasmani dan motivasi belajar secara bersama-sama mempunyai keeratan hubungan yang signifikan

Selanjutnya ia menyebutkan dengan konsep perdagangan bebas ini, suatu negara dapat memproduksi produk-produk yang lebih efisien dengan biaya produksi yang lebih rendah

Berdasarkan hasil analisis of varians (ANOVA) dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menunjukan bahwa pemberian pupuk SP-36 dan pemberian POC Batang Pisang serta

Dengan adanya identitas visual yang baru, diharapkan Taman Wisata Alam Angke Kapuk dapat lebih mencitrakan nilai-nilai yang dimiliki dan dikenal baik melalui identitasnya

Pada Intinya awal kegiatan pelatihan ini Bapak Kamim menyampaikan pesan kepada peserta pelatihan untuk lebih semangat kembali dalam melaksanakan seluruh kegiatan pelatihan