• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab XVII Administrasi Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bab XVII Administrasi Negara"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB XVII

ADMINISTRASI NEGARA.

1. Hingga berapa djauh rentjana-rentjana pembangunan sosial dan ekonomi kita akan berhasil didalam penjusunan dan pelaksana-annja, dalam instansi terachir ditentukan oleh tingkat kemampuan dan mutu alat-alat penjelenggaranja.

Ini berarti bahwa perbaikan seluruh aparatur pemerintahan, dimana segenap tjabang-tjabangnja baik setjara langsung maupun setjara tidak langsung mengambil bagian masing-masing, dan penje-derhanaan prosedur-prosedur administratifnja, perlulah sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh suatu aparat jang disamping fungsi-fungsi lain jang lazim sebagai pemberi berbagai djasa kepada masjarakat, chusus memenuhi sjarat-sjarat sebagai alat penjusun dan pelaksana rentjana pembangunan tersebut diatas.

Kenjataan bahwa tugas ini harus dilakukan bersamaan dengan usaha mengubah suatu aparatur djadjahan mendjadi suatu aparatur negara merdeka lengkap dengan masalah-masalahnja, pula didalam suatu masa penuh dengan perubahan-perubahan sosial ekonomi jang serba tjepat, sekali-kali tidaklah mempermudah tugas diatas itu.

2. Oleh karena luasnja persoalan jang dihadapi itu, maka R.P.L.T. jang pertama ini dalam bidang Administrasi Pemerintahan membatasi diri dengan menundjuk kepada empat persoalan pokok dan beberapa tindakan sebagai pangkal permulaan pemetjahannja.

Persoalan-persoalan pokok itu ialah:

(a) Menjusun dan menjelenggarakan anggaran belandja.

(b) Mentjapai pembatasan tugas antara fungsi-fungsi pemerintahan jang tegas.

(c) Menjusun pemerintahan swatantra (otonomi) jang seluas-luasnja.

(d) Mempertinggi effisiensi corps pegawai negeri jang tjakap dan djudjur.

(2)

Munap ini dapat dipandang sebagai kelandjutan dari pada Rapat Penguasa Militer pada tanggal 27-29 April 1957 dan tanggal 17-19 Djuni 1957 dan Musjawarah Nasional (MUNAS) pada tanggal 10-16 September 1957. Keputusan-keputusan Munap sedjauh mungkin telah diperhitungkan didalam Nota Tambahan terhadap Undang-undang Rentjana Pembangunan Lima Tahun 1956 — 1960.

4. Didalam Nota Tambahan itu diterangkan pada Bab 19 Administrasi pemerintahan (hal. 19) bahwa, pada dasarnja tidak ada perbedaan didalam penempatan masalah pokok dalam lapangan administrasi negara sebagaimana dilihat oleh Musjawarah Nasional Pembangunan dan didalam Rentjana Pembangunan Lima Tahun. Demikian pula halnja dengan penelaahan berbagai segi administrasi dan perumusan tudjuand-tudjuan dan kebidjaksanaan-kebidjak-sanaan.

Boleh dikatakan bahwa sifatnja saling memperlengkap, saling menutupi atau saling mengisi.

5. Maka untuk praktisnja penilaian kemadjuan-kemadjuan jang tertjapai didalam bidang administrasi pemerintahan, dibawah ini akan dilakukan menurut urutan pokok-pokok seperti tertjantum dalam Bab 19 Nota Tambahan.

B. Hal melaksanakan hasil-hasil Musjawarah Nasional I Panitia I.

Setelah berachirnja MUNAP telah dibentuk tiga Panitia ad-hoc Pemerintah, diantaranja Panitia ad-hoc I Urusan Umum dan Peme-rintahan. Sepandjang mengenai hasil-hasil Munas Panitia I, pen-dapat-pendapat Panitia ad-hoc I ini didjadikan pegangan dalam pelaksanaannja.

Pendapat-pendapat ini adalah sedjalan pula dengan Rentjana Lima Tahun.

Umum:

1. Perihal keputusan-keputusan Konperensi Penguasa Militer (tanggal 27-29 April 1957) chusus mengenai segi otonomi dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

a. Hal djumlah dan urutan susunan tingkatan daerah.

Didalam buku Garis-garis Besar Rentjana Pembangunan Lima Tahun 1956-1960, disinggung pula kenjataan adanja maksud untuk membentuk berbagai propinsi jang baru. Dan pembentukan propinsi memang dapat memberikan rangka untuk melaksanakan perkem-bangan daerah sesuai dengan keinginan-keinginan penduduk di-daerah itu.

(3)

Akan tetapi persoalan ini perlu dipertimbangkan masak-masak dengan menindjaunja dari pelbagai sudut, pada umumnja dengan memperhatikan segala faktor jang dapat mempengaruhi madju-mundurnja daerah dan penduduknja.

Diantaranja faktor-faktor jang terpenting ialah hasrat murni rakjat dan sistim jang dapat dibiajai oleh Negara. Tetapi didalam kenjataan tidak selamanja tertjapai keputusan jang mentjerminkan suatu perseimbangan diantara faktor-faktor jang perlu diperhitung-kan itu.

Hal ini akan djelas apabila diperhatikan adanja dan penjebaran Daerah-daerah Swatantra tingkat I dan II jang telah terbentuk.

Pembentukan Daerah Swatantra tingkat III belum dapat dilak-sanakan dalam waktu jang singkat oleh karena perlu terlebih dahulu diadakan perubahan I.G.O. dan I.G.O.B. sehingga memung-kinkan desa dan daerah jang setingkat berkembang menudju kearah otonomiseperti jang dikehendaki.

Rantjangan Undang-undang perubahan I.G.O. dan I.G.O.B. kini sudah siap untuk dibahas oleh Dewan Menteri.

b. Hal pembentukan Daerah-daerah tingkat I di Sulawesi, Ma-luku danNusa-Tenggara.

(1) Mengenai daerah Sulawesi dapat dikemukakan bahwa rantjang-an Undang-undang pembentukan Daerah-daerah tingkat I Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakjat bersamaan dengan rantjangan Undang-undang tentangpemben-tukan Daerah-daerah tingkat II di Sulawesi.

(2) Mengenai daerah Maluku dapat diterangkan bahwa Undang-undang Darurat No. 22 tahun 1957 tentang pembentukan Daerah Swatantra tingkat I Maluku (L.N. tahun 1957 No. 79) kini sudah ditetapkan sebagai Undang-undang dengan Undang-undang No. 20 tahun 1958 (L.N. tahun 1958 No. 61). Sedangkan Undang-undang Darurat No. 23 tahun 1957 tentang pembentuk-an daerah-daerah Swatantra tingkat II dalam wilajah daerah Swatantra tingkat I Maluku (L.N. tahun 1957 No. 80), kini sudah ditetapkan mendjadi Undang-undang dengan Undang-Undang-undang No. 60 tahun 1958 (L.N. tahun 1958 No. 111).

(4)

tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah tingkat II dalam wilajah Daerah-daerah tingkat I Bali, Nusa-Tenggara Barat dan Nusa-Tenggara Timur (L.N. tahun 1958 No. 122).

c. Hal kedudukan Kepala Daerah dan pengawasan pelaksanaan otonomioleh Pemerintah Pusat.

Konsepsi Pemerintah seperti jang disinggung oleh Panitia ad-hoc mengenai masalah ini ialah jang termuat didalam Surat Putusan Menteri Dalam Negeri tanggal 5 Desember 1957 No. Pam. 10/2/18 jang menetapkan:

(1) Pedoman untuk dipergunakan datum pemetjahan masalah Pamong Pradja dalam masa peralihan mendjelang realisasi sepenuhnja Undang-undang tentang Pokok-pokok Pemerintah-an Daerah tahun 1956 (UndPemerintah-ang-undPemerintah-ang No. 1 tahun 1957). (2) Instruksi tentang hubungan antara Pemerintah Pusat, Menteri

Dalam Negeri chususnja, Pamong Pradja dan Pemerintah Daerah.

(3) Instruksi tentang tugas Pemerintah Daerah dan kedudukan Kepala Daerah.

Perihal kedudukan Kepala Daerah diatur didalam Instruksi sub (3) diatas jang pada pokoknja menjatakan:

(a) bahwa Kepala Daerah itu adalah sepenuhnja alat Daerah, jang dalam penjelenggaraan pemerintahan Daerah selalu bertindak kolegial, jaitu bersama-sama anggauta-anggauta D.P.D. lainnja dan bertanggung-djawab setjara kolegial terhadap D.P.R.D. tentang penjelenggaraan tugasnja;

(h) bahwa dengan demikian kedudukan Kepala Daerah menurut Undang-undang No. 1 tahun 1957 sangat berlainan dari kedu-dukan Kepala Daerah menurut Undang-undang Pokok Peme-rintahan Daerah jang lama (Undang-undang No. 22/1948 dan Undang-undang N.I.T. No. 44/1950).

Manumit sistim lama, Kepala Daerah adalah pedjabat Perintah Pusat jang disamping tugas-tugas Swatantra, djuga me-njelenggarakan tugas-tugas dalam bidang Pemerintahan Pusat. Dalam sistim Undang-undang No. 1 tahun 1957 Kepala Daerah adalah alat Pemerintah Daerah sepenuhnja, sedang aktipitet Kepala Daerah tersebut tergantung dari pada kedudukannja sebagai Ketua D.P.D. dan pembagian pekerdjaan setjara intern antara anggauta-anggauta Dewan Pemerintah Daerah.

Perihal pengawasan pelaksanaan otonomi oleh Pemerintah Pusat diatur didalam Instruksi sub (2) diatas jang pada pokoknja me-njatakan:

(5)

(a) bahwa pengawasan terhadap Daerah Swatantra tingkat I didjalankan oleh Menteri Dalam Negeri jang selandjutnja menjerahkan kekuasaan kepada para Gubernur (pedjabat Kementerian Dalam Negeri jang ditundjuk oleh Menteri Dalam Negeri bagi Kotapradja Djakarta-Raya dan Kepala atau Wakil Kepala Daerah Istimewa sebagai Wakil Pemerintah Pusat bagi Daerah Istimewa Jogjakarta) (lihat pasal 64 dan 68 Undang-undang No. 1 tahun 1957);

(b) bahwa pengawasan terhadap Daerah tingkat II didjalankan atas nama Menteri Dalam Negeri oleh para Gubernur (bagi Daerah Istimewa Jogjakarta oleh Kepala atau Wakil Kepala Daerah Istimewa sebagai penguasa jang ditundjuk oleh Menteri Dalam Negeri (lihat pasal 65, 66 dan 67 Undang-undang No. 1 tahun 1957).

Dalam mendjalankan tugasnja ini para Gubernur dibantu oleh para Residen dan para Residen pada gilirannja oleh para Bupati jang diperbantukan kepadanja (bagi Daerah Istimewa Jogja-karta, Kepala Daerah dibantu oleh para Bupati Pamong Pradja).

d. Hal isiotonomi.

Dengan maksud terutama untuk menjiapkan rantjangan-rantjang-an Peraturrantjangan-rantjang-an-peraturrantjangan-rantjang-an Pemerintah tentrantjangan-rantjang-ang pelbagai urusrantjangan-rantjang-an dari masing-masing Kementerian jang akan diserahkan kepada Daerah-daerah otonom dengan mengusahakan keseragaman sebanjak mung-kin dalam hal itu, telah dibentuk suatu Panitia Interdepartemental. Penjerahan sebagian Urusan Pemerintah Pusat kepada Daerah Otonom dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia No. 434/P.M./1957 tanggal 28 Nopember 1957.

Setelah selesai dengan tugasnja Panitia tersebut telah dibubarkan pada tanggal 9 Desember 1958. Kemudian dengan surat keputusan jang sama (Rep. P.M. No. 601/PM/1958) telah dibentuk pula Panitia Interdepartemental untuk mengurus soal-soal jang berhu-bungan dengan pelaksanaan Peraturan-peraturan Pemerintah tentang penjerahan beberapa urusan Pemerintah Pusat kepada Daerah Otonom.

(6)

Selandjutnja dengan (Rantjangan) Undang-undang tentang penje-rahan tugas-tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum, perbantuan pegawai negeri dan penjerahan keuangannja kepada Pemerintah Daerah, pada azasnja semua tugas kewadjiban, kekuasaan dan kewenangan Pamong Pradja ketjuali beberapa soal jang tetap ditangan Pemerintah Pusat dengan sekaligus diserahkan kepada Pemerintah Daerah.

Achirnja dengan adanja ajat 1 pasal 31 Undang-undang No. 1 tahun 1957 jang menjatakan bahwa urusan rumah-tangga Daerah diatur oleh Pemerintah Daerah, segala urusan jang tidak atau belum diatur oleh Pemerintah Pusat atau Daerah tingkat atasan dapat diatur oleh Daerah. Tetapi apabila sesuatu urusan berdasarkan ke-pentingan umum diatur oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah tingkat atasan, maka peraturan Daerah jang mengatur urusan itu dengan sendirinja berhenti berlaku.

Dengan ini terdjamin kesempatan sepenuhnja bagi Daerah meng-isi otonominja dengan memperkembangkan sepenuhnja inmeng-isiatif dan kemampuannja.

e. Halpertimbangan keuangan.

Berdasarkan P.P. No. 5 tahun 1957 tentang Panitia Negara Perimbangan Keuangan (L.N. No. 12 tahun 1957), telah diangkat dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 196 tahun 1957 tanggal 4 Oktober 1957, anggauta-anggauta Panitia Negara Perim-bangan Keuangan.

Dewasa Panitia tersebut sedang membahas setjara integral Undang-undang No. 32 tahun 1956 tentang Perimbangan Keuangan dan Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1958 tentang Penetapan Persentasi dari penerimaan beberapa padjak Negara untuk daerah, dan pada waktunja hasil pembahasan tersebut akan diadjukan ke-pada Dewan Menteri untuk mendapat penetapannja.

f. Hal sjarat-sjarat keanggautaan D.P.R.D. dan D.P.D.

Sebagaimana telah diadjukan oleh Panitia ad-hoc, melihat keada-an, belum waktunja kiranja untuk memperberat sjarat-sjarat keang-gautaan tersebut, biarpun tak dapat disangkal bahwa usaha-usaha Pemerintah Daerah akan berdjalan lebih lantjar apabila para anggauta D.P.R.D. dan D.P.D. memenuhi sjarat-sjarat jang lebih tinggi.

g. Halkedudukan Pamong Pradja.

Sebagaimana telah disebutkan, dengan surat putusan Menteri Dalam Negeri tanggal 5 Desember 1957 No. Pem. 10/2/18 antara lain telah ditetapkan pula pedoman pelaksanaan kebidjaksanaan

(7)

RANGKA ORGANISASI PEMBANGUNAN MASJARAKAT DESA

(8)

dalam menjelesaikan djabatan-djabatan Pamong Pradja jang berarti penegasan mengenai kedudukan Pamong Pradja menurut Konsepsi Pemerintah.

Sebagai dasar-dasar pokok jang ditudju jang berarti realisasi sepenuhnja Undang-undang No. 1 tahun 1957 ialah:

(1) Didaerah hanja ada satu Pemerintah Daerah.

Bentuk Pemerintah Daerah adalah Dewan (Dewan Perwakilan Rakjat Daerah dan Dewan Pemerintah Daerah).

(2) Didaerah tidak ada wakil/pedjabat Pemerintah Pusat jang mempunjai wewenang umum (bestuur) sebagaimana lazim me-lekat pada pedjabat Pamong Pradja sekarang.

Sebelum ini terlaksana sepenuhnja harus dilampaui suatu masa peralihan jang lamanja tidak dapat dipastikan dan untuk mana ditentukan tiga fase. Tiga fase itu singkatnja ialah:

Fase pertama:

Fase penjerahan tugas-tugas pemerintahan umum jang lazim dikerdjakan oleh pedjabat-pedjabat Pamong Pradja dari Peme-rintah Pusat pada PemePeme-rintah Daerah.

Fase kedua:

Setelah semua kewenangan dibidang pemerintahan umum jang wadjar dimiliki oleh Pemerintah Daerah selesai diserahkan, maka organisasi penjelenggaraan kewenangan-kewenangan ini dapat disempurnakan misalnja dalam bentuk djawatan daerah tersendiri.

Fase ketiga:

Setelah fase pertama dan kedua laku, maka tibalah fase stabili-sasi dari pada kewenangan-kewenangan jang telah tegas-tegas diperintji apa jang mutlak merupakan kewenangan-kewenang-an Daerah dkewenangan-kewenang-an apa jkewenangan-kewenang-ang merupakkewenangan-kewenang-an sisa jkewenangan-kewenang-ang sewadjarnja ada dalam tangan pedjabat Pusat.

Sesudah tiga fase tersebut diatas lampau, tiga bidang tugas jang ada dalam tangan seorang pedjabat Pusat akan dibagikan kepada pedjabat-pedjabat Pusat lainnja, sehingga hilanglah kedudukan Pamong Pradja sama sekali. Maka sebagai suatu tindakan dalam fase pertama jang berarti penjesuaian kedudukan Pamong Pradja pada keadaan baru ialah keluarnja Rantjangan Undang-undang tentang penjerahan tugas-tugas Pemerintah Pusat dalam bidang-bidang pemerintahan umum, perbantuan pegawai negeri dan penje-rahan keuangannja, kepada Pemerintah Daerah.

433

(9)

Dengan Undang-undang ini maka seperti disebutkan pada sub d diatas, pada azasnja semua tugas kewadjiban, kekuasaan dan kewe-nangan Pamong Pradja ketjuali beberapa soal jang tetap ditangan Pemerintah Pusat dengan sekaligus diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Jang diketjualikan itu adalah tugas kewadjiban, kekuasaan dan kewenangan mengurus ketertiban dan keamanan umum, koor-dinasi antara Djawatan-djawatan Pemerintah Pusat didaerah dan antara djawatan-djawatan tersebut dengan Pemerintah Daerah serta mengenai pengawasan atas djalannja pemerintahan daerah.

Perlu ditjatat bahwa reaksi hebat telah timbul mula-mula dari para pedjabat pimpinan Pamong Pradja setelah diputuskan oleh Munas „bahwa sesudah berlakunja Undang-undang No. 1 tahun 1957 Corps Pamong Pradja adalah alat Pemerintah Pusat jang diper-bantukan kepada daerah otonom, sambil mendjalankan pekerdjaan Pemerintah Pusat jang belum diserahkan kepada daerah-daerah itu”.

Kulminasi reaksi tersebut terdjadi dengan diadjukannja Keputus-an Presidium S.S.K.D.N. sesudah dilKeputus-angsungkKeputus-an suatu Seminar Pamong Pradja dan Presidium S.S.K.D.N. di Surakarta pada tanggal 16, 17 dan 18 Maret 1958.

Setelah mempertimbangkan bahwa:

(1) Undang-undang Dasar Sementara belum tjukup mengatur pokok-pokok tentang Pemerintahan Daerah, sehingga tidak dapat mendjamin stabiliteit dan kelantjaran Pemerintahan Daerah.

(2) Undang-undang No. 1/1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pelaksanaannja ternjata me-nimbulkan kekatjauan-kekatjauan dalam masjarakat dan kege-lisahan dikalangan Corps Pamong Pradja, diadjukan usul-usul jang pada pokoknja menghendaki:

(a) Supaja peraturan-peraturan pokok tentang Pemerintahan Daerah lebih luas ditjantumkan dalam Undang-undang Dasar jang baharu.

(b) Supaja Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakjat menin-djau pasal-pasal dalam Undang-undang No. 1/1957 jang mengatur kedudukan Kepala Daerah.

(c) Supaja Pemerintah mentjabut kembali rentjana Undang-undang tentang penjerahan tugas-tugas Pemerintah Pusat dalam bidang pemerintahan umum, perbantuan Pegawai Negeri dan penjerahan keuangannja kepada Pemerintah Daerah.

(10)

10/2/18, terutama tentang diperbantukannja Bupati dan Walikota pada Residen.

(e) Supaja dalam merentjanakan tindakan-tindakan jang me-ngenai ke Pamong Pradjaan S.S.K.D.N. diminta pendapat-nja.

(f) Supaja pedjabat Pamong Pradja jang tertinggi didaerah diikut-sertakan dalam Staf Penguasa Perang atau Staf Pelaksana Penguasa Perang.

H a l k e d u d u k a n d a e r a h - d a e r a h S w a p r a d j a .

Sebagaimana ditegaskan oleh Panitia ad-hoc dalam menghadapi persoalan Swapradja Pemerintah berpegang teguh pada ketentuan, tertjantum dalam pasal 2 ajat (2) Undang-undang No. 1 tahun 1957, jaitu bahwa sesuatu daerah Swapradja dapat didjadikan Daerah Istimewa atau Daerah biasa.

h. Hal pelaksanaan Undang-undang No. 1 tahun 1957.

Pada tingkat sekarang, dua tahun sesudah diundangkannja Undang-undang No. 1 tahun 1957, dapatlah dikatakan bahwa seba-gian besar peraturan-peraturan pelaksanaannja jang bersifat pokok telah dikeluarkan.

H a l p e m b e n t u k a n D a e r a h - d a e r a h .

Sebagaimana diterangkan oleh Panitia ad-hoc, menurut ketentuan dalam pasal 3 Undang-undang No. 1 tahun 1957 pembentukan sesuatu Daerah harus dilakukan dengan Undang-undang. Ketentuan jang termuat dalam pasal 31 dengan sendirinja tidak dapat meng-ubah tjara pembentukan, tetapi ketentuan ini bersifat penting, karena penambahan urusan-urusan daerah dapat dilakukan dengan Peraturan Pemerintah.

i. Hal-hal „efficiency” dalam organisasi Pemerintahan Daerah. Sebagaimana dikemukakan oleh Panitia ad-hoc, soal ini akan mendapat perhatian terus-menerus.

Diinsafi bahwa usaha mempertinggi efficiensi dalam organisasi Pemerintahan Daerah ini memerlukan program-program pelaksana-an tertentu jpelaksana-ang merupakpelaksana-an. tidak semata-mata urusan Pemerintah

Pusat sadja, bahkan terutama akan mendjadi tanggung-djawab Pemerintah-pemerintah Daerah.

Achirnja perihal suatu masalah jang bersifat prinsipil ialah masalah larangan bagi semua golongan pegawai untuk mendjadi anggauta partai politik, telah dinjatakan oleh Panitia ad-hoc bahwa larangan dimaksud dapat diadakan terhadap alat-alat negara, jang

(11)

dalam mendjalankan tugasnja dipersendjatai. Tegasnja, larangan itu dapat diadakan bagi anggauta-anggauta ketenteraan dan ke-polisian.

Bagi pedjabat-pedjabat Pamong Pradja, baik jang merupakan alat-alat Pemerintah Pusat, maupun alat-alat Pemerintah Daerah, begitupun para Kepala Kampung atau Lurah, jang tentu mempunjai pengaruh berdasarkan kewibawaannja sebagai pendjabat jang mengepalai suatu daerah pemerintahan tidak perlu diadakan larangan untuk mendjadi anggauta partai politik tetapi tjukup kiranja diadakan larangan untuk mendjadi anggauta jang aktip bekerdja untuk partai.

Larangan bagi pendjabat-pendjabat Pamong Pradja dapat pula diadakan terhadap para Hakim dan Djaksa dan pendjabat-pendjabat terhadap mana larangan itu dianggap perlu.

Dalam hubungan dengan dan didalam rangka usaha Pemerintah untuk menegakkan disiplin kerdja bagi para pegawai negeri, sebagai permulaan rangkaian tindakan, oleh Pemerintah pada bulan tahun 1958, telah dilakukan registrasi keanggautaan Partai/Organisasi Politik atau Serikat Sekerdja/Buruh dari pada pegawai negeri golongan F.

Masalah ini adalah sedemikian fundamentilnja sehingga memerlu-kan pemikiran jang mendalam sekali, oleh karena langsung menge-nai hubungan antara pemerintahan (e.g. pembangunan) dan demokrasi (c.q. pertumbuhan kepartaian). Soalnja ialah menemukan tjara-tjara jang tepat untuk mendjadikan korps pegawai negeri politis tidak memihak-mihak dan objektif tetapi dengan tidak berarti merosot mendjadi politis steril dan netral, melainkan tetap penuh perhatian dan pengertian bagi kepentingan umum dan per-kembangan penghidupan politik, tanpa tersangkut dalam perten-tangan-pertentangan politik jang mungkin terdjadi.

Sekianlah mengenai Keputusan-keputusan Konperensi Penguasa Militer (tanggal 27-29 April 1957) chusus mengenai segi otonomi.

Melandjutkan penilaian kemadjuan-kemadjuan jang tertjapai didalam bidang pemberian otonomi, maka dengan tetap mengikuti urutan hasil-hasil Munas Panitia I dapatlah dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

j. Mengenai keputusan Munas agar supaja diberikan penegasan bahwa D.P.R.D. adalah suatu badan legislatif dan D.P.D. satu badan eksekutif, sebagaimana dikemukakan oleh Panitia ad-hoc telah di-selesaikan oleh Menteri Dalam Negeri.

(12)

dimana antara lain dikatakan bahwa „Dewan Perwakilan Rakjat Daerah terutama mendjalankan. kekuasaan legislatif, sedangkan

Dewan Pemerintah Daerah terutama mendjalankan kekuasaan eksekutif.

k. Mengenai kedudukan Pamong Pradja dalam hubungan dengan pelaksanaan Undang-undang No. 1/1957, telah diuraikan pada sub d diatas.

1. Mengenai hal kebidjaksanaan dalam urusan kepolisian, maka seperti telah disinggung pada sub d diatas, salah satu diantara tiga urusan Pamong Pradja jang diketjualikan dari pada penje-rahan kepada Pemerintah Daerah, ialah pengurusan ketertiban dan keamanan umum. Sudah barang tentu hal ini harus diarti-kan sepandjang mengenai lapangan kepentingan nasional, oleh karena Pemerintah Daerah akan memiliki pula kewenangan-kewenangan dibidang ini jang sifatnja sesuai dengan tanggung djawab sedaerah. Tetapi Pemerintah berpendirian pada tingkat dewasa ini seraja menunggu adanja Undang-undang kepolisian adalah bidjaksana untuk berpegang pada (Rantjangan) Undang-undang tentang penjerahan tugas-tugas Pemerintah Pusat dalam bidang pemerintahan umum, perbantuan pegawai negeri dan penjerahan keuangannja, kepada Pemerintah Daerah.

P e m e r i n t a h a n .

m. Pada taraf pelaksanaan otonomi dewasa ini dapat disaksikan bahwa kesempatan seluas-luasnja diberikan kepada tenaga-tenaga Daerah jang sanggup dan tjakap untuk memegang pimpinan dalam pemerintahan dan djabatan-djabatan didaerah. Seiring dengan ini ialah bahwa berbagai kursus jang diselenggarakan oleh kementerian-kementerian atjapkali menetapkan bahwa sedjumlah dari siswa-siswanja harus terdiri atas orang-orang dari Daerah.

Tetapi seperti djuga telah disinggung dalam Nota Tambahan (halaman 22 diatas), perlu pula bahwa Pemerintah-pemerintah Daerah setjara sistimatis menjelenggarakan pendidikan kader untuk mendjalankan pemerintahannja, baik untuk pekerdjaan-pekerdjaan administratif maupun teknis.

n. Mengenai pembuatan peraturan-peraturan baru jang lebih sederhana tetapi lebih effektif untuk mendjamin kelantjaran pro-sedur administratif, Panitia ad-hoc berpendapat bahwa untuk usaha djangka pandjang usaha-usaha Lembaga Administrasi Negara perlu digerakkan. Dibawah nanti akan diuraikan lebih landjut tentang usaha-usaha jang telah dilakukan oleh Lembaga tersebut. Pada umumnja dapat dikatakan bahwa pelaksanaan otonomi memberikan dasar jang kuat untuk tindakan-tindakan chusus dengan tudjuan mengurangi tjara-tjara penjelesaian jang birokratis.

(13)

o. Sementara menantikan selesainja Peraturan Pemerintah tentang mempertinggi efficiency susunan kementerian-kementerian dan bagian-bagiannja jang akan memperbaharui ataupun meng-gantikan P.P. No. 20 tahun 1952 tentang susunan dan pimpinan Kementerian-kementerian Republik Indonesia (L.N. tahun 1952 No. 26) dan jang berhubungan erat sekali dengan Undang-undang Pokok kepegawaian, jang akan mentjerminkan azas-azas dan garis-garis kebidjaksanaan politik kepegawaian jang ingin kita laksanakan, maka penjederhanaan organisasi Kementerian-kementerian dan Djawatan terutama masih diserahkan kepada kebidjaksanaan masing-masing Kementerian.

p. Demikian pula halnja dengan masalah penegakan disiplin pegawai jang menurut pendapat Panitia ad-hoc harus diusahakan oleh tiap-tiap Kementerian.

q. Suatu langkah kearah melandjutkan usaha-usaha dalam lapangan peremadjaan alat-alat negara ialah ditetapkannja Per-aturan Pemerintah No. 68 tahun 1958 tentang Peremadjaan alat-alat Negara jang menegaskan bahwa pegawai tetap atau sementara jang telah berusia 55 tahun dan telah berhak atas pensiun, diber-hentikan dari djabatan Negeri/djabatannja dengan hak atas pensiun, dalam waktu satu tahun setelah mereka mentjapai usia 55 tahun.

r. Oleh Kepala Staf Angkatan Darat selaku Penguasa Militer telah dikeluarkan Peraturan No. P.R.T.-P.M.-06/1957 tentang Pem-berantasan korupsi. Dengan peraturan ini ditetapkan suatu tata-kerdja jang dapat melantjarkan usaha-usaha memberantas apa jang dinamakan korupsi.

Harta-benda seseorang jang disangka, didakwa atau sepatutnja dapat disangka melakukan korupsi, harus ditilik oleh Pembantu-Penilik Harta Benda jang terdiri dari tiga orang anggauta Staf Penguasa Militer atau orang lain jang ditundjuk oleh Penguasa Militer. Disamping itu para Pembantu Penilik Harta Benda ditetap-kan pula sebagai opsporingsambtenaar tetapi chusus terhadap tindak pidana korupsi dan lagi diberi wewenang untuk memasuki tiap rumah dan tempat, djuga meskipun jang berhak mengadjukan keberatan untuk keperluan peniliki harta benda.

Sebelum peraturan Penguasa Militer ini dikeluarkan telah ada 3 rantjangan Undang-undang anti korupsi atau pemberantasan korupsi, jaitu:

(14)

(2) Rentjana Undang-undang Darurat tentang peradilan pidana chusus dan penilikan harta Benda konsepsi Kedjaksaan Agung berdasarkan idee Angkatan Darat.

(3) Rentjana Undang-undang anti korupsi konsepsi Prof. Mr. Moel-jatno Menteri Kehakiman dalam kabinet Ali-Rum-Idham.

Suatu Rantjangan Undang-undang Anti Korupsi sekarang telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakjat untuk dibahas.

P e r i m b a n g a n K e u a n g a n .

Perihal perimbangan keuangan ini telah diterangkan pada sub e pelaksanaan Keputusan-keputusan Penguasa Militer diatas.

P e n j e r a h a n D j a w a t a n Ve r t i k a l .

Perihal penjerahan Djawatan Vertikal inipun tjukup ditundjuk kepada keterangan-keterangan pada pelaksanaan keputusan-keputus-an Penguasa Militer diatas, chusus sub d.

P e m b a g i a n w i l a j a h n e g a r a R e p u b l i k I n d o n e s i a .

Perihal pembagian wilajah negara Republik Indonesia pun telah diuraikan pada sub a.

C. Hal-hal memperintji, mempertugas dan memperluas soal-soal pokok dalamBab 19 Garis Besar Rentjana Lima Tahun (1956-1960) dengan:

1. Penjusunan Undang-undang dan/atau peraturan-peraturan Pemerintah tentang:

a. Djumlah, organisasi dan koordinasi Kementerian-kementerian, Djawatan-djawatan sampai ketingkat Swatantra I, II dan III. Haruslah ditjatat kenjataan bahwa sungguhpun Panitya Negara untuk menjelidiki Organisasi Kementerian-kementerian (PA-NOK) telah menjampaikan laporannja pada tanggal 26 April 1954 hingga sekarang belum djuga diambil sesuatu keputusan mengenai laporan itu. Dapat dikemukakan sebagai sebab ter-utama tidak adanja suatu badan Pemerintah jang chusus didjadi-kan pusat kegiatan menudju ke penjempurnaan aparatur pemerintahan serta administrasinja, jang setjara tetap dan sepenuhnja bertanggung djawab atas pekerdjaan-pekerdjaan penampungan dan kelandjutan terhadap laporan-laporan seperti laporan PANOK itu.

Dewasa ini dengan adanja Lembaga Administrasi Negara sebagai badan termaksud, jang antara lain djuga telah diserahi tugas untuk mempeladjari laporan PANOK dengan maksud supaja atas dasar laporan tersebut disiapkan suatu rantjangan peraturan

(15)

tentang mempertinggi efficiency susunan kementerian-kemen-terian dan bagian-bagiannja, harapan bertambah besar bahwa tidak lama lagi P.P. No, 20 tahun 1952 tentang susunan dan pimpinan Kementerian-kementerian Republik Indonesia akan dapat dilengkapi atau diganti dengan peraturan jang lebih me-menuhi kebutuhan.

b. Kepegawaian, termasuk peradilan pegawai.

Segera setelah terbentuk dengan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 130 tanggal 21 Djuni 1958, Panitya Negara Peran-tjang Undang-undang Kepegawaian mulai menjiapkan ranPeran-tjang- rantjang-an Undrantjang-ang-undrantjang-ang jrantjang-ang srantjang-angat penting artinja karena akrantjang-an mentjerminkan azas-azas dan garis-garis kebidjaksanaan politik kepegawaian jang ingin kita laksanakan.

Pun pula selain dapat memuat ketentuan-ketentuan pokok tentang pengurusan kesedjahteraan pegawai dalam arti seluas-luasnja serta kepastian hukum bagi para pegawai, dapat meng-atur djuga tindakan-tindakan untuk mendjamin bahwa segenap aparatur pemerintahan semata-mata terdiri dari tenaga-tenaga jang bermutu.

Sesuai dengan dan atas dasar Undang-undang Pokok tersebut diatas itulah setingkat demi setingkat akan dapat dibangunkan suatu peradilan pegawai atau administratif jang lengkap.

c. Perbendaharaan dan anggaran belandja jang lebih sesuai, ter-masuk Undang-undang Perusahaan Negara.

Perihal hasil pekerdjaan Panitya Interdepartemental Penjusun Undang-undang Perbendaharaan, Pemerintah telah memberikan kesanggupannja kepada Dewan Perwakilan Rakjat untuk ber-usaha menjampaikan Rantjangan Undang-undang Pokok Per-bendaharaan pada pertengahan tahun 1959, bersama-sama dengan rantjangan Undang-undang tersendiri jang mengatur kedudukan, susunan dan tugas Dewan Pengawas Keuangan.

2. Pemeliharaan dan usaha meninggikan mutu dari pada petugas-petugas Pemerintah dengan beberapa tindakan.

Suatu langkah penting ialah berdirinja Lembaga Administrasi Negara langsung dibawah Perdana Menteri, jang sudah mulai me-laksanakan tugasnja pada tanggal 1 Djuni 1958. Hingga achir tahun 1958 telah dapat diselenggarakan dengan memuaskan latihan-latihan sebagai berikut:

(16)

b. Latihan Djabatan Pimpinan Penjelenggaraan Pengangkutan. c. Latihan Djabatan Pimpinan Kearsipan Negara (bagi para

pegawai jang bekerdja dalam lapangan kearsipan).

d. Kursus Lurah (bagi para Lurah dalam daerah Kotapradja Dja-karta Raya).

e. Latihan Djawatan Pengawasan Keuangan (bagi para Petugas Pengawas Keuangan Negara).

f. Latihan Djabatan Hubungan Masjarakkat (bagi para Petugas Hubungan Masjarakat).

Selandjutnja telah diselenggarakan pula suatu „Seminar Effi-ciensi Kerdja dalam Dinas Pemerintah” jang dihadiri oleh para Sekretaris-sekretaris Kementerian-kementerian/Kepala-kepala Dja-watan dan Wakil-wakil Universitas.

3. Penempatan dan penertiban/alokasi dan realokasi/tenaga-tenaga kerdja administratif dan kedjuruan sesuai dengan kebutuhan djawatan dan masjarakat daerah-daerah.

Hal ini telah mulai dilaksanakan berhubung setiap kali suatu Peraturan Pemerintah tentang penjerahan hak-hak kepada daerah-daerah Swatantra diputuskan, dibuka pula kemungkinan untuk pada umumnja menjerahkan pegawai-pegawai Negara untuk diangkat mendjadi pegawai Pemerintah Daerah atau memperbantukan pegawai-pegawai Negara untuk dipekerdjakan kepada Pemerintah Daerah jang bersangkutan.

Akan tetapi pekerdjaan ini hanja mungkin berhasil apabila di-lakukan didalam rangka usaha mempertinggi effisiensi susunan kementerian-kementerian dan bagian-bagian (lihat sub 1a) diatas jang perlu dikoordinir dengan usaha mempertinggi mutu organisasi Pemerintahan Daerah.

4. Normalisasi dan standarisasi dari pada alat-alat perlengkapan Djawatan-djawatan untuk mentjapai effisiensi, penjederhanaan dan penghematan.

Mengenai hal ini belumlah nampak sesuatu kemadjuan jang ber-arti.

5. Diadakannja djaminan-djaminan sosial jang lajak jang me-ngenai makanan, pakaian dan perumahan bagi para petugas disam-ping itu supaja diusahakan adanja penghargaan kepada semua pe-tugas Negara jang telah melakukan pe-tugasnja dengan sebaik-baiknja dan dapat dipudji.

Djustru oleh karena Kantor Urusan Pegawai berdasarkan Per-aturan Pemerintah No. 32 tahun 1950 dan surat keputusan Perdana Menteri No: 30/PM/1951 tanggal 7 April 1951, terutama bergerak

(17)

dalam lapangan kepegawaian sepandjang mengenai urusan kesedjah-teraannja, maka berbagai djaminan sosial diperoleh pegawai negeri berdasarkan peraturan-peraturan jang umumnja dimuat didalam penerbitan tahunan „Peraturan-peraturan dan Pengumuman-peng-umuman mengenai kedudukan pegawai negeri”.

6. Mempergiat, menjempurnakan dari melaksanakan segala tin-dakan dan peraturan-peraturan jang sampai sekarang sudah ada dan masih terbengkalai (diantaranja putusan-putusan PANOK dan P.P. No. 30/1957 tentang Lembaga Administrasi Negara).

Dalam hal ini sudah nampak beberapa kemadjuan, chusus tentang putusan-putusan PANOK dan P.P. No. 30/1957 tentang Lembaga Administrasi Negara seperti ternjata pada sub 1a dan 2 diatas.

D. Anggaran Belandja dan Administrasinja.

1. Struktur dan administrasi anggaran belandja Negara merupa-kan faktor-faktor jang sangat penting bagi kelantjaran pelaksanaan suatu rentjana pembangunan djangka pandjang. Hubungan antara anggaran belandja dan rentjana pembangunan djangka pandjang jang terpenting ialah soal sinkronesasi, jaitu soal bagaimana rentjana pembangunan itu dilaksanakan tahun per tahunnja, berapa besarnja biaja jang disediakan didalam anggaran belandja, dan bagaimana rentjana pembangunan itu disesuaikan dengan kebidjaksanaan umum dari Pemerintah didalam sesuatu tahun.

Dari segi rentjana pembangunan, pelaksanaan projek-projek membutuhkan adanja pembiajaan jang tidak terputus-putus, dalam djumlah jang tjukup dan jang dikeluarkan tepat pada waktu di-butuhkannja.

Disamping itu pelaksanaan projek-projek pembangunan meng-akibatkan ditjiptakannja kontrak-kontrak — dengan luar negeri maupun dalam negeri — jang dalam banjak hal akan membawakan beban pada anggaran belandja dimasa berikutnja, jaitu pada waktu pembajarannja harus dilaksanakan.

Sebaliknja anggaran belandja Pemerintah, jang telah disusun dengan mendasarkan pada perkiraan Akan besarnja penerimaan negara, mempunjai batas-batas tertentu.

(18)

3. Satu kelemahan jang dikemukakan oleh Dr. S. Kirkor ialah belum pernah didapatnja pertanggungan djawab tentang uang jang telah dipergunakan oleh Pemerintah, meskipun fs. 116 dari U.U.D.S. Republik Indonesia memuat ketentuan itu. Ketjuali suatu ichtisar jang summir jang dikeluarkan oleh Kem. Keuangan, jaitu jang mengenai djumlah pengeluaran tiap-tiap Kementerian, bahan-bahan keterangan jang terperintji tidak pernah diprodusir. Sebaliknja angka-angka jang tjukup terperintji mengenai penerimaan Negara bisa dibuat dan dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan. Keku-rangan ini dengan sendirinja merupakan suatu kelemahan jang serius jang menjukarkan penjusunan analisa ekonomi serta pem-buatan rentjana-rentjana dan kebidjaksanaan pada umumnja.

4. Salah satu sebab dari kekurangan ini ialah tidak adanja mekanisasi dalam administrasi anggaran belandja dipusat. Dengan sangat luasnja pekerdjaan administrasi di Kementerian Keuangan, karena luasnja pekerdjaan aparat-aparat Negara, maka pekerdjaan-pekerdjaan itu sudah barang tentu bertumpuk-tumpuk dan tidak mungkin dikedjar, djika tidak mempergunakan alat-alat mekanis seperti mesin-mesin Hollorith, jang kebetulan ada djuga di Indo-nesia dan mungkin sekali dipergunakan oleh beberapa instansi Pemerintah bersama.

Lain dari pada itu perlu djuga disusun sistim pemberitaan dari Kas-kas Negeri Daerah ke Pusat, supaja setjepat mungkin dapat diketahui pengeluaran-pengeluaran jang njata dan untuk keperluan-keperluan apa uang itu dikeluarkan.

5. Saran jang penting dalam laporan Dr. S. Kirkor, djustru berhubungan dengan pembiajaan projek-projek pembangunan, ialah supaja dibentuk suatu Fonds chusus, jang dinamakan "Capital Expenditure Funds" (sudah tentu fonds ini dibentuk setelah D.P.R. menjetudjui Rentjana). Ketjuali itu oleh Dr. S. Kirkor dirasakan perlu pembentukan suatu Fonds lagi untuk pengeluaran-pengeluaran jang tidak termasuk investasi-investasi baru, tetapi merupakan pengeluaran-pengeluaran modal jang penting, seperti perbaikan djalan-djalan jang rusak, perbaikan saluran-saluran pengairan, pangkalan-pangkalan, pelabuhan-pelabuhan dan sebagainja. Untuk keperluan itu disarankan pembentukan apa jang dinamakan "Public Works Maintenance Funds".

Rekening dari Fonds-fonds ini hendaknja diadakan di Bank Indo-nesia dan Bank IndoIndo-nesia jang akan meng-administrasikan segala pengeluaran dan penerimaan jang berkenaan dengan projek-projek pembangunan ini. Tiap-tiap Kementerian jang mempunjai projek pembangunan hendaknja mempunjai rekeningnja sendiri, jang dapat dipergunakan sendiri atau setelah ada persetudjuan Kemen-terian Keuangan.

(19)

Pembentukan Fonds-fonds chusus demikian tidak perlu merobah ketentuan-ketentuan dalam I.C.W., karena telah pula dipraktekkan untuk keperluan-keperluan lain, seperti Counterpart Fund.

Bisa diharapkan bahwa pembentukan Fonds-fonds itu akan men-djamin kelantjaran pembiajaan projek-projek, baik projek-projek chusus maupun projek-projek Kementerian dan dari pertanggungan djawabnja dapat dilihat, baik oleh pendjabat-pendjabat Kementerian maupun oleh pendjabat-pendjabat evaluasi, maupun oleh Dewan Pengawas Keuangan dan D.P.R., kelandjutan atau kematjetan projek-projek pembangunan.

F. Keadaan Perang.

1. Oleh karena sangat mempengaruhi djalannja administrasi negara, tidak akan lengkap rasanja penilaian ini tanpa menjinggung keadaan perang jang telah dinjatakan dengan keputusan Presiden R.I. No. 225 tahun 1957 tanggal 17 Desember 1957 dan jang disah-kan dengan Undang-undang No. 79 tahun 1957 untuk seluruh wilajah Negara R.I.

2. Sedjumlah besar peraturan-peraturan untuk melakukan ke-kuasaan-kekuasaan istimewa jang diberikan oleh Undang-undang Keadaan Bahaja 1957, telah dikeluarkan oleh Dewan Menteri/Per-dana Menteri, para Kepala Staf Angkatan selaku Penguasa Perang Pusat masing-masing atas wilajah kekuasaannja dan para Penguasa Perang Daerah, jang tidak selamanja menundjukkan adanja pemba-tasan wewenang atau koordinasi jang baik.

3. Perpandjangan dengan djangka waktu satu tahun lagi dari pada keadaan perang tersebut berhubung situasi keamanan seluruh Negara dengan mengingat akan faktor-faktor baik dalam maupun luar negeri, belum djuga mengizinkan penghapusan keadaan perang sekalipun setjara „partieel”.

(20)

dengan sengadja maupun jang tidak dengan sengadja, harus diberantas.

5. Berhubung dengan hal-hal tersebut diatas direntjanakan beberapa usaha perbaikan sebagai berikut:

a. mengadakan penegasan dan ketegasan lebih landjut mengenai hal-hal jang boleh dilakukan oleh para Penguasa Perang dan mengenai hal-hal jang sejogjanja tidak ditjampur-tangani oleh para Penguasa Perang; b. menjempurnakan organisasi penjelenggaraan kekuasaan-kekuasa-an

dalam rangka Undang-undang Keadaan Bahaja dan organisasi penjelenggaraan pengawasan atas pelaksanaan kekuasaan-kekua-saan tersebut;

c. mengadakan ketegasan-ketegasan jang lebih djauh dari pada jang sudah-sudah terhadap penjalah-gunaan kekuasaan-kekuasa-an, baik dengan djalan repressif maupun dengan djalan preventif;

d. mengadjukan pada waktunja usul-usul perubahan dalam Undang-undang Keadaan Bahaja 1957, sehingga dapat diharapkan bahwa praktek pelaksanaan Undang-undang tersebut akan lebih sesuai dengan alam kenegaraan hukum kita.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan morfologi dan pertumbuhan post-larva ikan nilem (Osteochilus hasselti C. V.) yang dipelihara dalam media

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun,

Pada bab ini menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan di Rumah sakit gigi dan mulut Universitas Hasanuddin tentang tingkat pengetahuan mahasiswa profesi dokter

Dikarenakan memenuhi prinsip-prinsip kesederhanaan, kepraktisan, kelogisan, mudah dipahami dan diterapkan, dapat didemontrasikan, menempatkan penghargaan khusus pada

1. Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan intra kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh

Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara). Penelitian ini berlangsung di bawah bimbingan Bapak Prof. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lalang Kecamatan Medang Deras

Dalam praktiknya simpanan pendidikan di BMT NU Sejahtera Cabang Sukoharjo menggunakan prinsip wadi‟ah yad dhamanah karena dengan prinsip ini pihak BMT dapat

Berdasarkan Penetapan Peringkat Teknis Nomor: 15/Pen/Pokja/PT.Jpr/III/2014 tanggal 12 Maret 2014, paket Pekerjaan Pengadaan Jasa Konsultansi Perencanaan Konstruksi