• Tidak ada hasil yang ditemukan

S SEJ 1200428 Chapter1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "S SEJ 1200428 Chapter1"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang Penelitian

Desa Kiarajangkung merupakan salah satu desa yang termasuk Kecamatan

Sukahening, Tasikmalaya. Desa ini berlokasi di sekitar kaki Gunung Talaga

Bodas dan berada tepat di ujung utara Kabupaten Tasikmalaya berbatasan

langsung dengan Kabupaten Garut. Seperti masyarakat desa pada umumnya, di

Desa Kiarajangkung masyarakatnya hidup secara kekeluargaan dan gotong

royong, hal tersebut terlihat jika di desa dilaksanakan acara masyarakat secara

sukarela bahu membahu dalam melancarkan kegiatan tersebut. Sejalan dengan

pendapat Bintarto (1980, hlm. 14) dalam artian yang sebenarnya gotong royong

dilaksanakan oleh sekelompok penduduk di suatu daerah yang datang membantu

atau menawarkan tenaganya tanpa pamrih atau dengan lain perkataan secara

sukarela menolong secara bersama. Gotong royong yang dilakukan oleh

masyarakat Desa Kiarajangkung tidak hanya berbentuk bantuan secara fisik saja

akan tetapi ada juga masyarakat yang membantu dengan bentuk materil, biasanya

dilakukan oleh masyarakat yang tidak sempat untuk membantu karena

kesibukannya.

Letak geografis Desa Kiarajangkung yang berada di daerah pegunungan

membuat desa ini dianugerahi tanah yang subur serta pemandangan alam dan

keadaan desa yang asri. Desa ini diampit oleh dua gunung berapi yang masih

aktif, diantaranya Gunung Galunggung dan Gunung Talaga Bodas, selain itu

hamparan sawah milik warga juga menambah keindahan dari Desa

Kiarajangkung. Keadaan geografis tersebut mendorong masyarakatnya untuk

mengembangkan sektor pertanian. Kegiatan ekonomi masyarakat dalam bidang

pertanian telah menjadi salah satu kegiatan perekonomian yang sangat penting,

umumnya pertanian merupakan mata pencaharian utama pada masyarakat

tradisional. Pada tahun 1980 kehidupan masyarakat Desa Kiarajangkung

(2)

pekerjaan sehingga berdampak pada rendahnya perkonomian masyarakat.

(3)

2

meskipun ada yang berprofesi selain petani namun hanya pada pekerjaan kecil

saja di antaranya pedagang dan buruh bangunan. Akan tetapi pekerjaan-pekerjaan

tersebut dirasa masih belum dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.

Sebagaimana pendapat dari Yaya Cahya (Wawancara, 19 April 2014) seorang

warga Desa Kiarajangkung yang bekerja sebagai buruh bangunan. Penghasilan

yang didapat dari buburuh bangunan dirasa masih kurang, dan dapat dikatakan

belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ditambah lagi jika pesanan

bangunan sepi, para pekerja bangunan harus kembali mencari kerja serabutan

untuk menutup kebutuhan mereka. Sedangkan untuk bertani mereka tidak

mempunyai lahan pertanian.

Dalam bidang pertanian di Desa Kiarajangkung ada yang dinamakan

pemilik lahan pertanian dan buruh tani. Pemilik lahan pertanian adalah petani

yang memiliki lahan pertanian sendiri, biasanya ada yang mengelola pertanian

sendiri dan tidak sedikit juga yang mempercayakan lahan pertaniannya untuk di

kelola oleh buruh tani. Meskipun tidak secara langsung mengelola lahan

pertaniannya petani pemilik akan tetap mendapat hasil pertanian. Bagi buruh tani

keadaan seperti itu memberikan peluang kerja karena masyarakat yang menjadi

buruh tani akan mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dapat dikatakan bahwa masyarakat Desa Kiarajangkung hidup dengan

mengandalkan hasil pertanian. Jika hasil pertanian melimpah maka masyarakat

akan mendapatkan keuntungan akan tetapi jika hasil pertanian sedang kurang baik

atau terserang hama maka masyarakat mengalami kerugian. Banyak masyarakat

merasa bahwa bekerja sebagai petani kurang dapat mencukupi kebutuhan

masyarakat karena hasilnya yang tidak menentu.

Luas lahan pertanian yang dimiliki oleh masyarakat sangat menentukan

penghasilan yang didapat. Meskipun tidak menggunakan bibit padi yang unggul

dan pengelolaan lahan pertanian masih dengan cara yang tradisional masyarakat

tetap mendapatkan hasil yang banyak karena luasnya lahan pertanian. Namun

seiring berjalannya waktu lahan pertanian yang dimiliki oleh masyarakat Desa

(4)

lahan pertanian kepada keturunnya sehingga lahan pertanian yang dimiliki oleh

masyarakat menjadi semakin berkurang karena semakin bertambahnya penduduk.

Dalam pertanian khususnya pesawahan yang di kelola oleh masyarakat Desa

Kiarajangkung terdapat masa tenggang, masa setelah petani menanam padi dan

menunggu waktu untuk memanen hasil pertanian. Pada masa tenggang itulah para

petani menjadi tidak memiliki pekerjaan, atau istilah disana yaitu “macul, nandur,

nganggur”. Keadaan tersebut membuat tingkat pengangguran di Desa

Kiarajangkung tinggi, masyarakat menjadi pekerja serabutan sedangkan untuk

melakukan pekerjaan yang lebih tinggi tidak semua masyarakat mampu. Selain itu

tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sangat rendah,

pendidikan tertinggi dalam masyarakat Desa Kiarajangkung hanya sampai pada

Sekolah Menengah Pertama (SMP) itupun hanya segelintir orang saja. Karena

perekonomian yang terbatas di Desa Kiarajangkung banyak orang tua yang tidak

menyekolahkan anaknya. Orang tua menyuruh anak-anaknya untuk membantu

dalam mengelola pesawahan. Hal tersebut karena masyarakat menilai bahwa

membantu orangtua akan lebih menguntungkan karena menambah penghasilan di

bandingkan dengan sekolah, jika anak-anaknya sekolah para orang tua harus

menyisihkan uang untuk keperluan sekolah. Orang tua beranggapan daripada uang

tersebut di gunakan untuk sekolah,lebih baik di gunakan untuk memenuhi

kebutuhan sehari-hari yang masih kurang. Masyarakat yang memiliki harapan

untuk memperbaiki taraf kehidupannya mereka berusaha untuk mencari lapangan

pekerjaan sampai keluar dari daerah tempat tinggalnya, banyak masyarakat desa

Kiarajangkung terutama laki-laki yang berusia produktif pergi merantau ke kota

besar seperti DKI Jakarta. Masyarakat yang nyaba (merantau) bekerja sebagai

penjual minyak, baik minyak tanah maupun minyak sayur, tukang kredit, penjual

air hidran keliling dan buruh bangunan.

Sekitar tahun 1990an kehidupan masyarakat Desa Kiarajangkung

mengalami perkembangan, hal tersebut di pelopori oleh salah seorang warga Desa

Kiarajangkung yang menemukan inovasi baru dalam bidang kewirausahaan yaitu

(5)

4

Kiarajangkung yang berusia produktif di rekrut menjadi pengelola WC umum di

kota besar. Secara tidak langsung masalah pengangguran yang di alami oleh

masyarakat Desa Kiarajangkung perlahan teratasi, masyarakat mengalami

pergerakan sosial atau mobilitas sosial vertikal ke arah yang lebih baik. Mobilitas

sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek-objek sosial dari suatu

kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat

(Anwar,Adang, 2013, hlm. 217)

Kemajuan yang diraih oleh beberapa masyarakat mulai menarik minat

sebagian lain masyarakat Desa Kiarajangkung untuk ikut serta dalam bisnis ini.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh bapak Rudi (Wawancara, 29 Mei 2016)

salah seorang petugas kantor Desa Kiarajangkung, keberhasilan dalam

mengembangkan usaha WC umumnya, telah menginspirasi sebagian masyarakat

Kiarajangkung yang lain untuk mengikuti jejak masyarakat yang berhasil. Dengan

Bisnis ini masyarakat mendapatkan sumber penghidupan yang lebih baik dan

pekerjaan yang tetap. Masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dan dapat

menyekolahkan anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi tanpa terbatas pada

biaya. Sarana dan prasarana di Desa Kiarajangkung juga semakin baik karena

banyak masyarakat yang menyumbang dana untuk perbaikan sarana dan prasarana

umum, terutama dilakukan oleh bos WC. Karena hampir seluruh masyarakat Desa

Kiarajangkung bergerak dalam bisnis WC Umum dan berhasil mendapatkan

penghidupan yang lebih baik, membuat Desa Kiarajangkung mendapat julukan

sebagai “Desa Milyarder WC Umum” berbeda dengan kehidupan masyarakat desa pada umumnya secara sederhana, sebagian warga memiliki tempat tinggal yang

bagus dan mewah, dengan dikelilingi oleh pagar-pagar yang kokoh, halamannya

dihiasi oleh taman-taman yang indah dan luas. Jika dilihat sepintas hal ini

terkesan biasa, karena tidak sedikit juga masyarakat di wilayah lain yang memiliki

kekayaan seperti itu. Namun lokasi rumah-rumah mewah ini yang berada di kaki

gunung, di pedalaman Kabupaten Tasikmalaya, atau warga sekitar menyebutnya

(6)

Namun sangat disayangkan dengan perkembangan yang terjadi pada

masyarakat Desa Kiarajangkung sikap gotong royong yang melekat pada

masyarakat mulai memudar. Masyarakat tumbuh menjadi masyarakat yang

konsumtif, dan yang sangat mengkhawatirkan bahwa muda mudi di Desa

Kiarajangkung menjadi enggan untuk turun ke sawah membantu orang tuanya.

Karena pekerjaan sebagai pengelola WC Umum di rasa lebih mudah dan tidak

terlalu menguras tenaga, pengelola hanya duduk menunggu dan sesekali

membersihkan toilet akan tetapi penghasilan yang didapat lumayan besar. Hal ini

merupakan salah satu pengaruh dari urbanisasi yang dilakukan oleh masyarakat

Desa Kiarajangkung. Sebagaimana menurut Chotib (Saefulloh, 2011, hlm. 7)

bahwa dampak dari urbanisasi salah satunya yaitu perubahan pada mental dan

gaya hidup penduduk setempat yang berperilaku pedesaan menjadi perkotaan.

Tahun 2000 bisnis yang dijalankan oleh sebagian masyarakat Desa Kiarajangkung

mulai menurun. Bukan penghasilan masyarakatnya yang berkurang, akan tetapi

masyarakat yang menjadi pengelola WC Umum mulai dihadapkan dengan

berbagai masalah. Tidak seperti pada tahun sebelumnya para pengelola mulai

tidak bebas untuk megelola WC di Kota besar, administrasi yang harus dilakukan

menjadi sangat ketat dan banyak pula sarana WC Umum yang digratiskan oleh

Pemerintah Daerah setempat. Kendala inilah yang menyebabkan bisnis WC

Umum mulai menurun.

Dari pemaparan di atas mengenai perubahan sosial-ekonomi, adapun alasan

peneliti memilih periodesasi mulai tahun 1980 hingga 2000. Pada pertengahan

tahun 1980 salah seorang anggota masyarakat Desa Kiarajangkung menemukan

inovasi baru dalam kewirausahaan yaitu bisnis WC Umum dan membawa

kehidupan masyarakat kearah yang lebih baik. Tahun 2000, bisnis ini mulai

menurun dan pengelola dihadapkan dengan berbagai kendala.

Adapun alasan yang mendorong penulis mengangkat tema perkembangan

kehidupan sosial ekonomi masyarakat desa Kiarajangkung sebagai karya tulis, di

antaranya.

(7)

6

memiliki peranan yang sangat penting dalam perubahan kehidupan sosial dan

ekonomi masyarakat Desa Kiarajangkung. Hal tersebut terlihat dari semakin

berkurangnya tingkat pengangguran yang dihadapi oleh masyarakat desa,

bertambahnya pendapatan desa di luar dari anggaran pemerintah guna

meningkatkan sarana dan prasarana umum yang tidak dimiliki atau dalam keadaan

kurang baik menjadi lebih baik.

Kedua, desa Kiarajangkung kecamatan Sukahening, Tasikmalaya. Desa

yang berlokasi di kaki gunung dan jauh dari pusat kota, desa yang biasanya

identik dengan kehidupan masyarakatnya yang sederhana, dan kegiatan

perekonomiannya tradisional menjadi terkenal dan mendapatkan julukan “Desa

Milyarder WC Umum”. Selain itu pada waktu tertentu masyarakat di Desa

Kiarajangkung akan sepi dengan masyarakatnya yang bergender laki-laki karena

banyaknya masyarakat yang merantau. Hal ini sangat menarik untuk dikaji oleh

penulis.

Ketiga, penelitian serta penulisan karya ilmiah mengenai perkembangan

kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Desa Kiarajangkung Kecamatan

Sukahening, Tasikmalaya masih sangat kurang bahkan tidak ada. Padahal jika

dikaji penelitian ini akan sangat menarik karena berhubungan dengan perubahan

sosial dalam suatu masyarakat dengan inovasi usaha yang mungkin hanya di

pandang sebelah mata oleh sebagian orang. Berdasarkan hal-hal yang tertera di

atas, penulis mencoba untuk mengkaji dan merumuskan penelitian ini dengan

judul : “Perubahan Sosial-Ekonomi Masyarakat Desa Kiarajangkung Kecamatan

Sukahening, Tasikmalaya (Tahun 1980-2000)”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang di atas, maka penulis merumuskan masalah

utama yang akan dibahas dalam kajian penelitian, yaitu “Bagaimana Perubahan

Sosial-Ekonomi Masyarakat Desa Kiarajangkung Kecamatan Sukahening,

Tasikmalaya (Tahun 1980-2000) ?”.

Untuk lebih memfokuskan kajian penelitian ini dibatasi dalam beberapa

(8)

1. Bagaimana keadaan sosial ekonomi masyarakat Desa Kiarajangkung

sebelum mengenal bisnis WC umum?

2. Bagaimana awal masyarakat Desa Kiarajangkung mengenal bisnis WC

umum?

3. Bagaimana perkembangan bisnis WC umum tahun 1980-2000?

4. Bagaimana dampak bisnis WC umum terhadap kehidupan masyarakat Desa

Kiarajangkung?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan

dilaksanakannya penelitian skripsi yang berjudul “Perubahan Sosial-Ekonomi

Masyarakat Desa Kiarajangkung Kecamatan Sukahening, Tasikmalaya (Tahun

1980-2000)” ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan kondisi masyarakat Desa Kiarajangkung ketika

kehidupannya masih tergantung pada hasil pertanian

2. Mendeskripsikan awal masyarakat Desa Kiarajangkung mengenal usaha WC

umum.

3. Mendeskripsikan upaya masyarakat Desa Kiarajangkung dalam merintis

bisnis WC umum

4. Menganalisis dampak bisnis WC umum terhadap kehidupan masyarakat

Desa Kiarajangkung.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat secara umum dari penelitian sebagai pengetahuan mengenai

perubahan sosial-ekonomi masyarakat desa kiarajangkung kecamatan sukahening,

tasikmalaya (tahun 1980-2000). Sedangkan manfaat khusus dari penelitian ini di

antaranya adalah:

1. Memperkaya perbendaharaan sejarah lokal di Jawa barat khususnya

Tasikmalaya, serta dijadikan bahan pembelajaran bagi satuan pendidikan

SD/SMP/SMA dalam memperlajari sejarah lokal Desa Kiarajangkung

(9)

8

2. Memperkaya penulisan sejarah lokal terutama tentang peranan bisnis dalam

mendukung perubahan kehidupan sosial ekonomi masyarakat desa

3. Memberikan konstribusi terhadap pengembangan penelitian sejarah

mengenai peluang bisnis pada saat ini yang menjadi salah satu faktor

pendorong perubahan sosial ekonomi masyarakat khususnya yang berada di

Desa Kiarajangkung

1.5 Struktur Organisasi Skripsi

Penulisan penelitian skripsi ini dibagi kedalam beberapa bab yaitu, bab

pertama Pendahuluan, bab ini berisi uraian rinci mengenai latarbelakang masalah

yang didalamnya menjelaskan mengapa masalah yang diteliti penting serta

memuat alasan peneliti memilih masalah Perubahan Sosial-Ekonomi Masyarakat

Desa Kiarajangkung Kecamatan Sukahening, Tasikmalaya (Tahun 1980-2000).

Bab ini juga berisi rumusan masalah yang diuraikan dalam beberapa pertanyaan

penelitian agar memudahkan peneliti dalam mengkaji permasalahan dan supaya

pembahasan yang di tulis tidak melebar dari topik. Selain itu dalam bab ini

memuat tujuan dilakukannya penelitian di Desa Kiarajangkung, manfaat

dilaksanakannya penelitian, metode penelitian, serta struktur organisasi skripsi.

Bab yang kedua adalah Kajian Pustaka, pada bab ini penulis menguraikan

mengenai kajian terhadap literatur ataupun teori yang berhubungan dan yang

digunakan dalam membahas permasalahan-permasalahan dalam penelitian. Uraian

materi dalam bab ini adalah data dan informasi yang diperoleh dari kajian pustaka.

Dari hasil kajian pustaka ini juga dipaparkan mengenai konsep-konsep yang

relevan dengan penelitian. Kajian kepustakaan yang dilakukan menggunakan

sumber-sumber yang sesuai dengan pembahasan.

Bab yang ketiga adalah Metodologi Penelitian, dalam bab ini peneliti

membahas mengenai cara yang ditempuh dalam penelitian untuk mendapatkan

sumber yang relevan dengan masalah yang sedang dikaji oleh penulis dan hasil

yang valid. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode sejarah, yang

terdiri dari beberapa tahapan diantaranya Heuristik, yaitu proses pengumpulan

data yang dibutuhkan dalam pembahasan masalah. Kritik, proses pengolahan data

(10)

relevan dengan data yang tidak. Interpretasi, yaitu penafsiran yang dilakukan oleh

penulis terhadap fakta sejarah, konsep serta teori digunakan dengan pendekatan

tertentu. Historiografi, merupakan tahap terakhir dalam metode sejarah dimana

tahapan ini adalah tahap penulisan data dan informasi yang didapat dan telah

melewati kritik, interpretasi kemudian disajikan dengan berupa tulisan ilmiah

dengan bentuk skripsi ilmiah.

Bab keempat adalah Pembahasan, bab ini berisi mengenai hasil penelitian

berupa informasi dan data yang diperoleh penulis selama penelitian berlangsung.

Penulis memaparkan hasil penelitian dalam bentuk uraian deskriptif dengan tujuan

agar semua keterangan serta pembahasan ini dapat dijelaskan secara rinci,

pembahasan tersebut mengenai perubahan sosial-ekonomi masyarakat desa

Kiarajangkung sebelum berkembangnya usaha WC umum, pengaruh bisnis WC

umum terhadap perubahan sosial-ekonomi masyarakat, serta perkembangan

kehidupan masyarakat desa setelah adanya usaha WC umum.

Bab kelima adalah Simpulan dan Rekomendasi, dalam bab terakhir ini

penulis memberikan kesimpulan dari hasil pembahasan, yang berisi mengenai

interpretasi penulis terhadap kajian yang menjadi bahan penelitiannya dengan

disertai analisis penulis dalam membuat sebuah kesimpulan atas jawaban dari

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,