MAKALAH
HUKUM JUAL BELI LELANG
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Fiqih Kontemporer Dosen Pengampu : Imam Mustofa, MSI.
Oleh : TRIANJAR WATI NPM. 1502030015
Pogram Studi : Akhwalus Syakhsiyyah (AS) Jurusan : Syariah Dan Ekonomi Islam
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO
T.A. 1438 H / 2016
A. PENDAHULUAN
Sejak dahulu, jual beli merupakan perangkat yang tak terpisahkan dari seseorang dalam memenuhi kebutuhan yang ingin dicapainya. Cara dalam melakukan transaksi jual-belipun meliputi banyak cara cara diantaranya adalah dengan menggunakan sistem return yang artinya pemulangan kembali. Dalam hal inni maksudnya bahwa barang yang sudah dibeli bisa dikembalikan apabila barang tersebut tidak terjual lagi. Transaksi ini biasanya dilakukan oleh penjual dengan distributor atau reseller. Namun pada prakteknya, banyak terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan apa yang dinamakan dengan sistem return itu sendiri, sehingga dengan demikian pihak penjual sering merasa dirugikan dengan sikap pembeli yang sewenang-wenang dalam mengembalikan barang dagangannya yang tidak laku terjual, karena biasanya para pembeli atau distributor memulangkan barang dengan kondisi yang tidak sama pada saat ia membeli dan mengambil barang dagangannya, artinya barang dagangan yang dibeli ternyata sudah rusak ataupun tidak layak untk dijual lagi karena keadaannya yang sudah lusuh akibat banyaknya tangan yang memegang atau mencoba barang tersebut.1
B. KONSEP DASAR JUAL BELI 1. Definisi
Jual beli artinya menjual, mengganti dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yan lain). Dalam ahasa Arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yaitu kata (beli). Dengan demikian kata berarti kata “jual” dan sekaligus juga berarti kata “beli”.
2. Dasar hukum
Jual-Beli sebagai sarana tolong-menoong antara sesama manusia Mempunyai landasan yang amat kuat dalam islam
Dalam al-Quran Allah berfirman:
lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. 23. HUKUM JUAL BELI
Dari kandungan ayat-ayat dan hadist-hadits yang dikemukakan di atas sebagai dasar Jual-Beli, para ulama fikih mengambil suatu kesimpulan, bahwa jual-beli itu hukumnya mubah (boleh). Namun, menurut Imam asy-Syatibi (Ahli Fikih Mazhab Imam Maliki, hukumnya bisa berubah menjadi wajib dalam situasi tertentu. Sebagai contoh dikemukakannya, bila suatu waktu terjadi praktek ihtiar , yaitu penimbunan barang, sehingga persediaan (stok) hilang dari pasar dan harga melonjak naik. Apabila terjadi praktek semacam itu, maka pemerintah bleh memaksa para pedagang menjual barang-barang sesuai dengan harga pasar sebelum terjadi pelonjakan hara barang itu. Para pedagang wajib memenuhi ketentan pemerintah di dalam menentukan harga di pasaran.
Di indonesia praktek semacam itu banyak ditemukan dalam masyarakat, seperti peimbunan beras, gla,pasir, BBM (Bahan Bakar Minyak) dan lan-lainnya. Pribadi-pribadi pelakunya dalam waktu singkat menjadi jutawan, sedangkan rakyat banyak menjadi melarat.3 C. KONSEP DASAR JUAL BELI LELANG
1. Definisi
Menurut Pasal 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 Tentang Perubahan Menteri Keuangan Nomor 2 M Ali Hasan,Berbagai macam transaksi dalam islam,(Jakarta;Grafindo Persada,2003).h.115
93/PMK.2010 tentang Pelaksanaan Lelang, disebutkan : Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga tertulis dan/atau lisan yag semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga tertinggi didahului oleh pengumuman lelang.
Vendu Reglement (Stbl. Tahun 1908 Nomor 189 diubah dengan Stbl. 1940 Nomor 56) yang masih berlaku sebagai dasar hukum lelang, dinyatakan: penjualan umum adalah pelelangan atau penjualan barang-barang yang dilakukan kepada umum dengan harga penawaran yang meningkat atau menurun atau menurun dengan pemasuka harga dalam sampul tertutup, atau kepada orang-orang yang diundang ata sebelm diberitahu mengenai pelelangan atau penjualan itu, atau diizinkan untuk ikut serta, dan diberi kesempatan untuk menawar harga, menyetujui harga yang ditawarkan atau memasukan harga dalam sampul terurup.
Poldermant selanjutnya mengatakan, bahwa syarat uama lelang adalah menghimpun para peminat untuk mengadakan perjanjian jual beli yang paling menguntungkan sipenjual. Ada 3 syarat, yaitu:
1) Penjulan umum harus selengkap mungkin 2) Ada kehendak untuk mengikat diri
3) Bahwa pihak lainnya yang mengadakan perjanjian tidak dapat ditunjuk sebelumnya.4
2. Syarat dan Ketentuan Pelaksanaan Lelang
Penjualan lelang ini dilakukan menurut Undang-undang Lelang (Vendu Reglement, Ordonantie 28 Februari 1908 Staatsblad 1908:189 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Staatsblad 1941:3)jis. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. 06/2010 tanggal 23 April 2010 tentang Petunjuk Peaksanaan Lelang sebagaimana telah diubah oleh peraturan menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 tanggal 06agustus 2013.
Peserta lelang setuju bahwa transaksi yang dilakukan melalui aplikasi ini tdak boleh melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku di indonesia. Orang atau badan hukum/badan usaha yang masuk masuk dalam daftar pihak yang dikenakan sanksi tidak diperbolehkan mengikuti lelang (blacklist) tidak disahkan keikutsertaanya menjadi peserta lelang. Waktu yang digunakan adalah waktu sistem berdasarkan zona waktu indonesia bagian barat.
Peserta lelang dengan penawaran tertinggi yang telah mencapai atau melampaui Nilai Limit disahkan oleh Pejabat Lelang sebagai
pembeli. Apabila terdapat 2 (dua) atau lebih Peserta Lelang dengan penawaran tertinggi, peserta lelang yang terlebih dahulu malakukan penawaran terlebih dahulu disahkan sebagai Pembeli. Bea lelang dalam pelaksanaan lelang ini dipungut sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2013 dengan Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Keuangan.
Pelunasan kewajiban pembayaran lelang oleh pembeli dilakukan secara tunai paling lama 5 (lima) hari kerja setelah pelaksanaan lelang.5
Syarat Lelang Dalam Islam Kontemporer
Ransaksi dilakukan oleh pihak yang cakap atas dasar saling sukarela (“antaradhin) objek lelang dan tender harus halal dan bermanfaat., kepemilikian penuh pada baran ata jasa ang dijual, kejelasan dan transparasi barang atau jasa yang dilelang atau ditenderkan tanpa adanya manipulasi sepert window dressing atau kepastian harga yang disepakati tanpa berpotensi menimbulkan peselisihan. Tidak menggunakan cara yang menjurs kepada kolusi dan suap untuk memenangkan tender dan tawaran.
ada beberapa tahap yaitu, tahap pertama pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh KPKNL, tahap kedua pejabat lelang menetapkan pemenang berdasarkan pasal 66 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, kemudian tahap ketiga pemenang lelang melakukan pembayaran atau pelunasan pembayaran bardasarkan pasal 71 PMK 93/2010 kemudian pejabat lelang menyerahkan dokumen kepemilikan tanah dan bangunan ak milik dan juga menyerahkan dokumen Risalah Lelang, namun dalam peralhan objek fisik tanah dan banguna yang dikuasai oleh pihak ketiga perlu melakukan permohonan pengosongan kepada pengadilan negeri setempat berdasarkan ketenuan pasal 200 HIR.
Perlindungan hukum terhadap pembeli tanah dan banguan hak milik melalui lelang, perlindungan hkum secara preventif diberikan oleh Vender Reglement, Perlindungan ukum secara represif diberikan oleh HIR dalam dalam hal pengosongan obyek lelang, dimana
pengosongan pelaksanaan obyek dapat melalui bantuan Pengadilan Negeri.6
3. Jenis-jenis Lelang
Jenis-jenis lelang yang ada menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2012 Pasal 1 ayat 4,5, dan 6 adalah:
a. Lelang eksekusi
Adalah lelang melaksanakan putusan/penetapan pengadilan atau dokumen lain, yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dipersamakan dengan itu, daam rangka membantu penegakan hukum, antara lain: Lelang Eksekusi Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), Lelang Eksekusi Pengadilan, Lelang Eksekusi Pajak, Lelang Eksekusi Harta Pailit, Lelang Eksekusi Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan (UUHT)
b. Lelang Non Eksekusi
Lelang non eksekusi ini dibagi lagi menjadi: 1) Lelang non Eksekusi Wajib
peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk dijual secara lelang.
2) Lelang non eksekusi sukarela
Adalah lelang untuk melaksanakan penjualan barang mlik peroarangan, kelompok masyarakat atau badan swasta yang dilelang secara sukarela oleh pemiliknya termasuk BUMentuk N/D berbentuk persero.
4. Manfaat Lelang
Manfaat lelang bisa ditinjau dari sudut penjual dan pembeli. a. Manfaat Lelang Bagi Penjual
1) Mengurangi rasa kecurigaan/tuduhan kolusi dari masyarakat (dalam lelang inventaris pemerinta, BUMN dan BMD) atau dari pemilik barang (dalam lelang eksekusi) karena penjualannya secara terbuka untuk umum, sehingga masyarakat umum dapat mengontrol pelaksanaannya.
2) Mengindari kemungkinan adanya sengketa hukum.
3) Penjualan lelang sangat efisien karena didahului dengan pengumuman sehingga peserta lelang dapat pada saat hari lelang. 4) Penjual akan mendapatkan pembayaran yang cepat karena
pembayaran lelang dilakukan secara tunai.
5) Penjual akan mendapatkan harga jual yang optimal karena sifat penjual lelang yang terbuka (transparan) dengan penawaran harga yang kompetitif
b. Manfaat Lelang Bagi Pembeli
1) Penjualan lelang didkung oleh dokumen yang sah karena sistem lelang mengharuskan Pejabat Lelang menelii lebih dulu tentang,keabsahan penjual dan barang yang akan dijual (legalitas subjek dan objek lelang)
2) Dalam hal barang yang dibeli adalah barang yang tidak bergerak berupa tanah,pembeli tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membuat Akta Jual Beli ke PPAT tetapi dengan Risalah Lelang pembeli dapat langsung ke Kantor Pertanahan setempat untuk balik nama. Hal tersebut karena Risalah Lelang merupakan akta otentik dan statusnya sama dengan akta notaris.7 7Nadia Ananda Elsanti,”Pembatalan Pelaksanaan Lelang Eksekusi Hak
Tangungan”skripsi Pada Program studi sarjana bagian hukum,Universitas Hasanuddin Makassar,2015,h.48
8Octavian Imam renaldy,”Pelaksanaan Lelang Oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara
5. Objek Lelang
Prinsip utama barang yang dapat dijadikan sebagai objek lelang adalah barang tersebut harus halal dan bermanfaat .dan yang menjadi objek lelang disini adalah barang yang dijadikan jaminan gadai (marhun) yang tidak bisa ditebus oleh pemilik barang jaminan gadai.8
6. Dasar Hukum Lelang
Di dalam Al-Qur’an tidak ada aturan pasti yang mengatur tentang lelang, begitu juga dengan hadits. Berdasarkan definisi lelang ,dapat disamakan (diqiyaskan) dengan jual beli dimana ada pihak penjual dan pembeli.dimana pegadain dalam hal ini sebagai pihak penjual dan masyarakat yang hadir pelelangan tersebut sebagai pihak pembeli.jual beli termasuk dalam Q.S Al-Baqarah 275 dan 282.9
Artinya:
“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya Semarang,2010,h.19
89.Indri Kurniadi,”Pandangan Ekonomi Islam Terhadap Pelaksanaan
Lelang”skipsi Pada Program Studi Syariah,fakultas Ilmu Hukum, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,2011,h.52-54.
10 Purnama Sianturi,Perlindungan Hukum terhadap pembeli barang
larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman .apabila kamu menjalankan sesuatu urusan dengan hutang piutang yang diber tempo hingga kesuatu masa yang tertentu maka hendaklah kamu menulis (hutang dan masa pembayarannya) itu dan hendaklah seorang penulis enggan menulis sebagaimana Allah telah mengajarkannya. Oleh itu hendaklah ia menulis dan hendaklah orang yang berhutang itu.
7. Hukum Jual Beli Lelang
Pada prinsipnya,syariah Islam membolehkan jual beli barang/ jasa yang halal dengan cara lelang yang dalam fiqih disebut sebagai akad Bai’ Muzayadah. Praktik lelang (muzayyadah) dalam bentuknya yang sederhana pernah dilakukan oleh Nabi SAW. Sebagaimana hadis Salah satu hadis yang membolehkan lelang sebagai berikut
ه
إ ينللع
ل هجلنلا ىلنص
ل ه
إ لنلا ل
ج وس
ج رل امله
ج ذ
ل خ
ل ألفل ام
ل هإبإ هجاتلأ
ل فل
ل
س ج
ج رل ل
ل اق
ل فل ن
إ ينذ
ل ه
ل يرإتلش
ن يل ن
ن مل ل
ل اقل م
ن ثج هإدإيلبإ م
ل لنس
ل ول
ن
إ ينتلرنمل م
ك ه
ل رندإ ىللع
ل د
ج يز
إ يل ن
ن مل ل
ل اقل م
ك ه
ل رندإبإ املهجذجخجآ انلأل
ام
ل ه
ج اط
ل عنألفل ن
إ ينم
ل ه
ل رندإبإ املهجذجخجآ انلأل ل
س ج
ج رل ل
ل اقل اثلللثل ونأل
ي
ن رإاص
ل ننلن
ل ا املهجاط
ل عنألفل ن
إ ينم
ل ه
ل رنديلا ذلخلألول هجاينإإ
Artinya : “Dari Anas bin Malik ra bahwa ada seorang lelaki Anshar yang datang menemui Nabi SAW dan dia meminta sesuatu kepada Nabi SAW. Nabi saw bertanya,”Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu?” Lelaki itu menjawab,”Ada,sepotong kain, yang satu dikenakan dan yang lain untuk alas duduk, serta cangkir untuk meminum air,”Nabi saw berkata,”Kalau begitu, bawalah kedua barang itu kepadaku.”
Lelaki itu datang membawanya. Nabi saw bertanya, “siapa yang mau membeli barang ini?”Salah seorang sahabat beliau menjawab, “saya mau membelinya dengan harga satu dirham.” Nabi saw bertanya lagi, “Ada yang mau membelinya dengan harga lebih mahal?” Nabi saw menawarkannya hingga dua atau tiga kali. Tiba-tiba salah seorang sahabat beliau berkata, “Aku mau membelinya dengan harga dua dirham.” Maka Nabi saw memberikan dua barang itu kepadanya dan beliau mengambil uang dua dirham itu dan memberikannya kepada lelaki Anshar tersebut. (HR. Tirmizi)
sebagaimana hadis Salah satu hadis yang membolehkan lelang sebagai berikut, Setiap transaksi jual beli baik itu lelang maupun jual beli secara langsung memiliki ketentuan sebagai berikut:
a) Bila transaksi sdah dilakukan dengan seseorang, maka orang lain tidak boleh menginvestasikan dan melakukan transaksi kedua. b) Mempertimbangkan yang dibolehkan dalam transaksi jual beli,
c) Transaksi dagang hanya unk barang yang sudah ada dan dapat dikenali segala identitasnya.
d) Bersumpah dalam transaksi dagang tidak diperbolehkan e) Dalam transaksi jual beli dianjurkan ada saksi.
Dalam surat An-nisa ayat 29 dan Al-Mulk ayat 15 diterangkan bahwa adanya kebebasan, keleluasaan dan keluasan ruang gerak bagi kegiatan usaha umat islam dalam rangka mencari karunia Allah berupa rezeki yang halal melalui berbagai bentuk transaksi saling menguntungkan yang berlaku dimasyarakat tanpa melanggar ataupun merampas hak-hak orang lain secara tidak sah.
Dalam sariah islam membolehkan jual beli barang/jasa yang halal dengan cara lelang .10
D.
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Bahder Johan Nasution,”Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia, (Bandung; CV Mandar Maju,2012)
Indri Setyani,”Pandangan Hukum Islam Terhadap jual beli bahan kaos kiloan”skripsi Pada program studi syari’ah,Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta,2009
Indri Kurniadi,”Pandangan Ekonomi Islam Terhadap Pelaksanaan Lelang”skipsi Pada Program Studi Syariah,fakultas Ilmu Hukum, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,2011
Muhammad Sutrimo,”Tinjauan Hukum Islam terhadap jual beli dengan menggunakan sistem return”, Skripsi pada program studi Syariah,fakultas Agama Islam, Universtas Muhammad Surakarta, 2014.
M. Ali Hasan,Berbagai Macam Transaksi dalam Islam,(Jakarta:Raja Grafindo Prasaja,2003)
Nirmala Sari,”Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Lelang Dalam Proses Pelaksanaan Lelang Eksekusi Hak Tanggungan”Skripsi Pada program Studi Kenotariatan,Pascasarjana Uniersitas Udayana Denpasar,2015 Nadia Ananda Elsanti,”Pembatalan Pelaksanaan Lelang Eksekusi Hak
Tangungan”skripsi Pada Program studi sarjana bagian hukum, Universitas Hasanuddin Makassar,2015
Octavian Imam renaldy,”Pelaksanaan Lelang Oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNI)”skripsi Pada Program studi fakultas hukum,Universitas Negeri Semarang,2010
Purnama Sianturi,Perlindungan Hukum terhadap pembeli barang Jaminan tidak bergerak melalui lelang,(Bandung;Mandar Maju,2008)