• Tidak ada hasil yang ditemukan

juknis kapasitas ptppo 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "juknis kapasitas ptppo 2011"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

KATA SAMBUTAN

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas tanpa memandang usia, jenis kelamin, ras, golongan ataupun agama tertentu. Pendidikan sebagai bagian dari hak asasi manusia dengan demikian harus ditujukan ke arah pengembangan pribadi seutuhnya yang mempertebal penghargaan terhadap kebebasan hakiki, menumbuhkan dan menggalakkan sikap saling pengertian, toleransi, persahabatan, dan perdamaian.

(2)

KATA PENGANTAR

Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat kawasan padat buta aksara, masyarakat marjinal perkotaan, lansia,

perempuan dan anak-anak marjinal.

Saya menyambut baik diterbitkannya petunjuk teknis ini sebagai upaya untuk meningkatkan layanan pendidikan orang dewasa dengan memperluas ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas layanan pendidikan masyarakat secara terarah dan terpadu. Melalui berbagai inisiatif program ini diharapkan investasi pendidikan nasional bagi pemenuhan hak warga negara terhadap akses pendidikan yang bermutu dapat benar-benar dirasakan dan dilihat hasilnya oleh seluruh masyarakat.

Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusinya dalam penyusunan petunjuk teknis ini. Saya mengharapkan petunjuk ini benar-benar dapat dijadikan pedoman oleh semua pihak dalam melaksanakan program pendidikan masyarakat secara tertib dan tepat sasaran. Semoga, dan selamat bekerja

Jakarta, Januari 2011

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal

Hamid Muhammad, Ph.D. NIP 195905121983111001

Pendidikan masyarakat merupakan suatu proses dimana upaya pendidikan yang diprakarsai pemerintah diwujudkan secara terpadu dengan upaya penduduk setempat untuk meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih bermanfaat dan memberdayakan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan masyarakat berbasis pada kerangka kerja “Aksara Membangun Peradaban” dalam program Aksara Agar Berdaya (AKRAB!). Dengan demikian ukuran capaian kompetensi keberaksaraan masyarakat berubah dari membaca, menulis, dan berhitung teknis ke kemampuan memanfaatkan keberaksaraan untuk meningkatkan kualitas hidup diri dan lingkungannya. Tujuan Aksara Agar Berdaya (AKRAB!) adalah meningkatkan keberaksaraan penduduk dewasa yang masih mempunyai keterbatasan keaksaraan atau masih melek aksara parsial. Tingkat keberaksaraan yang memadai dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengakses informasi yang dapat digunakan untuk beradaptasi dan mengatasi berbagai masalah ekonomi, sosial, dan budaya.

(3)

DAFTAR ISI

SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI ... i

PENGANTAR DIREKTUR PEMBINAAN PENDIDIKAN MASYARAKAT ... iii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 2

B. Dasar Hukum ... 4

C. Tujuan Petunjuk Teknis ... 5

BAB II PENINGKATAN KAPASITAS SUB GUGUS TUGAS PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG (PTPPO) ... 6

A. Pengertian ... 6

B. Sasaran ... 6

C. Tujuan Kegiatan ... 6

D. Hasil yang Diharapkan ... 7

E. Deskripsi Kegiatan ... 7

F. Alokasi dan Rincian Penggunaan Dana ... 10 Untuk memastikan kelayakan layanan pendidikan masyarakat

bagi seluruh lapisan masyarakat, peningkatan keberaksaraan penduduk dewasa ini disertai dengan pelaksanaan misi kesetaraan yang tidak mendiskriminasikan para pihak, sehingga terjamin kepastian memperoleh layanan pendidikan untuk semua. Di dunia terdapat 796 juta orang penduduk buta aksara, sebanyak 8,3 juta orang terdapat di Indonesia. Sebanyak 65% penduduk buta aksara di Indonesia adalah perempuan. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender untuk pendidikan orang dewasa. Walau keaksaraan bukan tujuan eksplisit pencapaian tujuan pembangunan millennium (MDG’s), tetapi keaksaraan menunjukkan dasar dari pencapaian pendidikan dasar universal. Keaksaraan terutama bagi perempuan dapat meningkatkan mata pencaharian, perbaikan kesehatan ibu dan anak, mengurangi risiko tertular HIV dan AIDS, dan mempermudah akses perempuan generasi berikutnya terhadap pendidikan sehingga dapat mengurangi kemiskinan, menunda usia perkawinan, mengurangi tingkat kesuburan, d a n m e n i n g k a t k a n h a r k a t d a n m a r t a b a t p e r e m p u a n . Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada berbagai pihak atas kontribusi dan perannya dalam penyusunan Petunjuk Teknis Pengajuan dan Pengelolaan Bantuan Peningkatan Kapasitas Sub Gugus Tugas Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) ini. Akhirnya semoga petunjuk teknis yang disusun dengan kesungguhan, komitmen, dan keikhlasan ini dapat bermanfaat untuk kita semua, dengan harapan semoga Allah SWT memberikan rakhmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

Jakarta, Januari 2011

Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

BAB III PROSEDUR PENGAJUAN DAN PENYALURAN

BANTUAN ... 12

A. Penerima Bantuan ... 12

B. Syarat Penerima Bantuan ... 12

C. Tatacara Pengajuan Bantuan ... 13

D. Proses Penyaluran Bantuan ... 14

E. Catatan Khusus ... 16

BAB IV PEMANTAUAN, EVALUASI DAN PELAPORAN ... 17

A. Pemantauan ... 17

B. Evaluasi Kegiatan ... 17

C. Pelaporan ... 18

BAB V PENUTUP ... 20

LAMPIRAN-LAMPIRAN 1. Contoh Format Proposal ... 21

2. Perjanjian Kerjasama ... 27

3. Contoh Format Laporan ... 32

4. Instrumen Verifikasi ... 36

(5)

Keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan memperbaiki taraf hidup keluarga sering kali tidak dibekali modal pengetahuan dan keterampilan yang memadai, sehingga seringkali pekerja migran terjebak dalam tindak pidana perdagangan orang (trafiking). Trafiking merupakan salah satu persoalan kemanusiaan yang harus sesegera mungkin dicegah, karena berkenaan dengan persoalan kemanusiaan. Kejahatan ini juga merupakan satu pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) yang paling mendasar dengan menjadikan manusia layaknya sebuah komoditas barang.

Berbagai modus trafiking adalah; 1) Buruh Migran; 2) Pekerja Rumah Tangga (PRT); 3) Pekerja Seks; 4) Kawin Kontrak; dan 5) Buruh Anak. Modus ini dilakukan secara rapi dan terorganisasi, sehingga para korban awalnya tidak menyadari bahwa dirinya sedang masuk pada lingkaran perdagangan orang. Upaya pencegahan, pengurangan dan pencegahan terulangnya kasus trafiking membutuhkan penanganan yang sistematis, komprehensif, berkesinambungan dan terpadu dalam memeranginya. Mengacu pada Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak, salah satu tujuannya adalah adanya norma hukum dan tindakan hukum terhadap para pelaku perdagangan (trafiking) perempuan dan anak. Bantuan peningkatan sub gugus tugas pencegahan tindak pidana perdagangan orang merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kapasitas Sub Gugus Tugas PTPPO dalam upaya mencegah atau mengurangi berbagai bentuk trafiking yang terjadi di masyarakat. Selain itu bantuan tersebut juga diarahkan untuk mendorong pembentukan Sub Gugus Tugas PTPPO di Pemerintah Daerah yang belum memiliki Sub Gugus Tugas PTPPO, karena hingga saat ini baru terdapat Sub Gugus Tugas PTPPO di 17 Provinsi, 28 Kab/Kota.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat menerapkan kerangka kerja Aksara Membangun Peradaban dengan menerapkan lima misi kerja Kementerian Pendidikan Nasional yaitu: Ketersediaan, Keterjangkauan, Peningkatan Kualitas, Kesetaraan Pendidikan yang non diskriminatif, dan Keterjaminan memperoleh layanan pendidikan. Aksara Membangun Peradaban antara lain: pendidikan keaksaraan, aksara kewirausahaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pengarusutamaan gender dan anak, peningkatan budaya baca masyarakat, serta penguatan kelembagaan pendidikan masyarakat. Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal menyediakan layanan pendidikan keaksaraan, baik keaksaraan dasar yang merupakan kegiatan pemberantasan buta aksara maupun keaksaraan usaha mandiri atau menu ragam keaksaraan lainnya yang merupakan kegiatan pemeliharaan dan peningkatan kemampuan keaksaraan. Hal ini dilakukan karena terdapat kecenderungan para aksarawan baru atau penduduk dewasa yang berkeaksaraan rendah lainnya kembali buta aksara, apabila kemampuan keaksaraannya tidak dipergunakan secara fungsional dan berkelanjutan.

A. Latar Belakang

(6)

Agar penyelenggara/Sub Gugus Tugas PTPPO dapat memperoleh bantuan sesuai dengan peraturan, diterbitkan Petunjuk Teknis Pengajuan dan Pengelolaan Bantuan Peningkatan Kapasitas Sub Gugus Tugas Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) Tahun 2011.

B. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004 - 2009. 3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi

Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita.

4. Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

5. Peraturan Pemerintah:

a. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

b. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar Pendidikan Dasar.

6. Instruksi Presiden:

a. Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender. b. Nomor 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan

Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara (GNP-PWB/PBA). 7. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Satker Direktorat

Pembinaan Pendidikan Masyarakat tahun 2011.

C. Tujuan Petunjuk Teknis

1. Bagi Pengurus Sub Gugus Tugas Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) untuk menyusun dan mengajukan proposal serta melaksanakan kegiatan peningkatan mutu kelembagaan.

(7)

BAB II

PENINGKATAN KAPASITAS SUB GUGUS TUGAS PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG (PTPPO)

A. Pengertian

Merupakan upaya memperkuat dan membentuk kelembagaan serta meningkatkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota untuk mencegah perdagangan orang dan eksploitasi seksualitas anak (ESA) melalui bidang pendidikan.

Dana Peningkatan Kapasitas Sub Gugus Tugas Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) merupakan bantuan biaya operasional pembentukan dan penguatan kelembagaan, serta peningkatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota.

B. Sasaran

Penerima Manfaat Layanan adalah masyarakat yang rawan perdagangan orang dan eksploitasi seksualitas anak. Penerima Bantuan Sosial adalah Sub Gugus Tugas pencegahan perdagangan orang tingkat kabupaten/kota

C. Tujuan Kegiatan

Meningkatkan kapasitas pengelolaan Sub Gugus Tugas PTPPO guna meningkatkan fungsinya dalam upaya peningkatan kesadaran masyarakat dalam pencegahan tindak pidana perdagangan orang.

D. Hasil Yang diharapkan

1. Meningkatnya komitmen sub gugus tugas kabupaten/kota terhadap pentingnya melakukan upaya pencegahan tindak pidana perdagangan orang;

2. Meningkatnya kapasitas sub gugus tugas PTPPO di kabupaten/kota dalam mengimplementasikan kebijakan p e n c e g a h a n t i n d a k p i d a n a p e r d a g a n g a n o r a n g ; 3. Jaringan kerja dengan lembaga mitra, lintas sektor, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terbangun dengan baik, 4. Meningkatnya efektifitas penyelenggaraan kegiatan PTPPO; 5. Meningkatnya jangkauan wilayah sasaran kegiatan PTPPO pada daerah pengirim melalui penguatan lembaga mitra lokal di kabupaten/kota;

6. Pemerintah daerah kabupaten/kota khususnya daerah pengirim secara bertahap memiliki komitmen dan mewujudkan lahirnya kebijakan lokal di bidang pencegahan tindak pidana perdagangan orang di wilayahnya.

E. Deskripsi Kegiatan

1. Lingkup Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat a. Sosialisasi dana bantuan dan kegiatan.

b. Penerimaan dan registrasi proposal.

c. Penilaian proposal dan verifikasi Sub Gugus Tugas PTPPO Dinas Pendidikan Kab/Kota calon penerima bantuan. d. Usulan penetapan penerima bantuan.

(8)

d) Pertemuan rutin sub gugus tugas;

e) Pendataan sasaran usia rentan perdagangan orang (PO) dan Eksploitasi Seksualitas Anak (ESA) 2) Lembaga yang mengusulkan kegiatan tahun ke dua harus berbeda dari tahun sebelumnya, misalnya: a) Perluasan sasaran sosialisasi, advokasi, Round Table Discussion (RTD), Forum Group Discussion (FGD) Pencegahan Pendidikan bagi pemangku kepentingan dan masyarakat luas sasaran PO dan ESA; b) Perluasan sasaran peserta pelatihan untuk menyusun, merencanakan, dan melaksanakan PTPPO; c) Melakukan pertemuan rutin sub gugus tugas yang membahas keberlanjutan dan evaluasi program. 3) Pelaporan. Aspek pelaporan mengikuti ketentuan

pelaporan yang ditetapkan tahun 2011. c. Komponen Pendukung

Sub gugus tugas perlu menjelaskan di dalam proposalnya, hal-hal yang mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan PTPPO di kabupaten/kota, misalnya: (i) hal yang terkait dengan sudah atau belum terbentuknya sub gugus tugas PTPPO; (ii) ketersediaannya nara sumber; (iii) tersedianya lembaga mitra yang kapabel dan kredibel untuk bekerjasama dengan sub gugus tugas dan, (iv) dukungan penuh dari pemerintah daerah.

f. Penandatanganan akad kerjasama.

g. Pengajuan dan penyaluran (transfer) dana bantuan ke rekening Sub Gugus Tugas PTPPO.

2. Lingkup Penyelenggara Kegiatan a. Indikator keberhasilan

1) Sub gugus tugas PTPPO kabupaten/kota melaksanakan kegiatan sesuai dengan usulan program;

2) 80% anggota sub gugus tugas terlibat aktif dalam penyelenggaraan kegiatan PTPPO di kabupaten/kota; 3) Semakin kuatnya komitmen pemerintah kabupaten/kota terhadap PTPPO yang diwujudkan dengan peningkatan kapasitas penyelenggara program;

4) Tersusunnya Rencana Aksi Daerah (RAD) bidang pencegahan TPPO periode pelaksanaan minimal untuk 1 (satu) tahun ke depan;

b. Ketentuan Kegiatan Sub Gugus Tugas PTPPO 1) Lembaga yang mengusulkan kegiatan tahun pertama dapat mengikuti ruang lingkup sebagai berikut: a) Sosialisasi, advokasi, Round Table Discussion (RTD), Forum Group Discussion (FGD) Pencegahan Pendidikan bagi para pemangku kepentingan PTPPO;

b) Pelatihan untuk menyusun, merencanakan, dan melaksanakan PTPPO;

(9)

F. Alokasi dan Rincian Penggunaan Bantuan

Dana sebesar = Rp 2.400.000.000,- untuk 60 lembaga @ Rp 40.000.000,-.

Adapun alokasi penggunaan dana bantuan mengacu pada rincian sebagai berikut:

No Kegiatan Rincian Anggaran

Rintisan Penguatan 1 Sosialisasi, advokasi, RTD, FGD 30% 35%

tentang Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang bagi para pengambil kebijakan, stakeholders dan atau masyarakat luas

2 Pelatihan untuk meningkatkan 30% 25% kapasitas para pengelola/ anggota

di Sub Gugus Tugas PTPPO baik secara kegiatan maupun kapasitas administratif

3 Operasional dan Pertemuan 30% 30% 4 Pendataan sasaran, potensi daerah 10% 10%

dan permasalahan perdagangan orang/ESA

Jumlah 100%

Penjelasan:

1. Sosialisasi, advokasi, RTD dan FGD tentang Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang bagi para pengambil kebijakan dan stakeholders lainnya, dalam mengidentifikasi kebutuhan, permasalahan, dan potensi daerah rawan trafiking; pengurus melakukan bentuk kegiatan yang dimaksud, dengan melengkapi berbagai bukti kegiatan.

2. Pelatihan untuk meningkatkan kapasitas para pengelola/anggota di Sub Gugus Tugas PTPPO baik secara kegiatan maupun kapasitas administratif; yang dibuktikan dengan sertifikat. 3. Operasional dan Pertemuan rutin sub gugus tugas; operasional berbentuk transport dan konsumsi rapat dibuktikan dengan notulen dan kwitansi pengeluaran.

(10)

BAB III

PROSEDUR PENGAJUAN DAN PENYALURAN BANTUAN

A. Penerima Bantuan

Bantuan ini diperuntukkan bagi Sub Gugus Tugas PTPPO Kabupaten/Kota yang rawan tindak pidana perdagangan orang, diberikan kepada lembaga yang memenuhi persyaratan.

B. Syarat Penerima Bantuan

Lembaga penerima bantuan peningkatan sub gugus tugas PTPPO memiliki kriteria lembaga sebagai berikut: 1. Memiliki SK Penetapan Sub Gugus Tugas PTPPO dari pejabat

yang berwenang.

2. Memperoleh Rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten/kota.

3. Memiliki nomor rekening bank atas nama lembaga yang dinyatakan dengan surat keterangan Bank

4. Memiliki NPWP atas nama lembaga.

5. Memiliki alamat dan struktur organisasi yang jelas. 6. Memiliki data sasaran kelompok masyarakat yang rawan perdagangan orang dan eksploitasi seksualitas anak. 7. Memiliki sarana dan prasarana.

8. Memiliki rencana kegiatan PTPPO.

9. Sanggup menyelenggarakan kegiatan PTPPO, atau sanggup membentuk dan mengelola sub gugus tugas PTPPO bagi daerah

C. Tatacara Pengajuan Bantuan 1. Penyusunan Proposal

Proposal Bantuan Kegiatan Peningkatan Kapasitas Sub Gugus Tugas PTPPO harus disusun dengan mengacu pada sistematika yang ada dalam Petunjuk Teknis ini.

2. Pengiriman Proposal

Lembaga pengusul harus menyampaikan proposal lengkap dengan lampirannya kepada Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat dengan alamat sebagai berikut;

Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat

Direktorat Jenderal PAUDNI, Kementerian Pendidikan Nasional,

Up. Subdit Kelembagaan dan Kemitraan

Gedung E Lantai 6, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

Proposal yang diajukan sebanyak 1 (satu) rangkap yang dilengkapi dengan softcopy ke Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, dan 1 (satu) rangkap ditembuskan kepada Dinas pendidikan Provinsi. Tanda bukti pengiriman dan atau tanda terima tembusan dilampirkan dalam proposal yang dikirim ke pusat.

3. Batas Waktu Pengajuan

(11)

D. Proses Penyaluran Bantuan 1) Verifikasi

Proposal diverifikasi oleh Sekretariat yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Ditjen PAUDNI Kemdiknas.

Verifikasi dilakukan untuk memastikan keberadaan dan kredibilitas lembaga, otentitas dokumen yang diajukan, serta untuk meyakinkan kelayakan sub gugus tugas, sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Verifikasi dapat dilakukan dengan cara konfirmasi tentang kebenaran dokumen dalam proposal melalui surat kepada Dinas Pendidikan setempat. Hasil verifikasi digunakan sebagai dasar untuk menetapkan calon penerima bantuan.

2. Penetapan Penerima Bantuan

Penerima bantuan dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat ditetapkan sebagai berikut:

a. Berita Acara hasil verifikasi disampaikan kepada Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat sebagai pertimbangan dalam menetapkan lembaga penerima dana bantuan dengan menerbitkan Surat Keputusan.

b. Surat Keputusan tersebut dikirimkan kepada lembaga yang bersangkutan dengan tembusan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota setempat.

3. Penandatanganan Akad Kerjasama

Berdasarkan surat keputusan Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat atau pejabat yang ditunjuk, melakukan penandatanganan akad kerjasama dan dokumen bantuan dalam

rangkap 5 (lima), serta bermaterai 6000 dengan sub gugus tugas PTPPO yang bersangkutan. Dalam penandatanganan akad kerjasama tersebut, Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat selaku pihak pertama, sebagai pemberi dana bantuan, dan sub gugus tugas PTPPO selaku pihak kedua sebagai penerima dana bantuan.

Dengan penandatanganan akad kerjasama atau dokumen tersebut, maka sub gugus tugas PTPPO, yang ditetapkan sebagai penerima dana bantuan wajib melakukan hal-hal berikut:

a. Menggunakan dan mengadministrasikan dana secara tertib sesuai ketentuan yang berlaku.

b. Mempertanggungjawabkan penggunaan dana secara akuntabel dan transparan sesuai dengan yang disepakati dalam Akad Kerjasama dan peraturan yang berlaku. Berdasarkan surat keputusan tersebut, Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat atau pejabat yang ditunjuk, melakukan penandatanganan akad kerjasama dan dokumen bantuan dengan lembaga yang bersangkutan.

4. Penyaluran Dana Bantuan

(12)

c. KPPN Jakarta III meminta Bank penyalur untuk mentransfer dana bantuan ke rekening atas nama lembaga.

E. Catatan Khusus

1. Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional beserta jajarannya dilarang u n t u k m e m u n g u t b i a y a d a l a m b e n t u k a p a p u n . 2. Lembaga penerima bantuan yang melakukan penyelewengan dana bantuan akan diberikan sanksi sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

3. Setiap sub gugus tugas PTPPO penerima dana diharuskan berkoordinasi dengan instansi perwakilan pajak setempat untuk memenuhi ketentuan yang berkaitan dengan perpajakan. 4. Sub Gugus Tugas PTPPO yang menyelenggarakan kegiatan harus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, serta melibatkan penilik.

BAB IV

PEMANTAUAN, EVALUASI

DAN PELAPORAN

A. Pemantauan

Untuk menjamin keberhasilan dan akuntabilitas kegiatan Peningkatan Kapasitas Sub Gugus Tugas PTPPO ini, maka dilakukan pemantauan dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota, diharapkan melakukan pemantauan terhadap sub gugus tugas PTPPO penerima dana secara berkesinambungan untuk memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

2. Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat beserta jajarannya, memiliki kewenangan untuk melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan secara berkala terhadap sub gugus tugas PTPPO.

3. Selain itu lembaga pengawas di Pusat yaitu Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional dan BPK, serta pengawas daerah Bawasda, dapat melakukan pemantauan/pengawasan sesuai dengan kewenangan dan ketentuan yang berlaku.

B. Evaluasi Kegiatan

(13)

a. Laporan awal

Laporan yang disusun Sub Gugus Tugas PTPPO berupa bukti penerimaan dana bantuan dan rencana pelaksanaan kegiatan atas bantuan yang diterima. Waktu penyampaian laporan awal maksimal 2 minggu setelah penerimaan bantuan.

b. Laporan akhir

Merupakan laporan hasil pelaksanaan seluruh kegiatan pada Sub Gugus Tugas PTPPO selesai, yang penyusunannya sesuai Petunjuk Teknis penyusunan laporan sebagaimana terlampir. Laporan akhir kegiatan oleh Sub Gugus Tugas PTPPO antara lain menyertakan lampiran tentang: 1) Rincian penggunaan dana beserta bukti/kuitansi pengeluaran dana, termasuk setoran pajak sesuai ketentuan yang berlaku

2) Dokumen pendukung lainnya (daftar hadir peserta yang mengikuti kegiatan, surat-surat dan desain kegiatan). 1. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan secara langsung,

dimana Tim Pusat/Daerah melakukan evaluasi langsung ke Sub Gugus Tugas PTPPO

2. Evaluasi dengan mengundang pimpinan Sub Gugus Tugas PTPPO ke suatu tempat untuk mempresentasikan hasil pelaksanaan kegiatan.

3. Pelaksanaan evaluasi ditekankan pada aspek perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan hasil kegiatan sesuai tujuan, sasaran dan lingkup kegiatan dalam Petunjuk Teknis.

C. Pelaporan

Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu kelembagaan pada Sub Gugus Tugas PTPPO yang telah dilakukan, disusun laporan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Laporan hasil pelaksanaan kegiatan disusun oleh Sub Gugus Tugas PTPPO sesuai dengan kondisi obyektif di lapangan, dengan mengacu pada sistematika penyusunan laporan seperti tertera dalam lampiran Petunjuk Teknis ini.

2. Laporan hasil pelaksanaan kegiatan bertujuan untuk: a. mengetahui hasil pelaksanaan kegiatan, hambatan/kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan, dan dukungan y a n g d i p e r o l e h d a l a m p e l a k s a n a a n k e g i a t a n . b. memenuhi persyaratan administrasi sebagai bentuk akuntabilitas lembaga penyelenggara kegiatan. 3. Sub Gugus Tugas PTPPO menyusun dan mengirimkan laporan

(14)

Demikian Petunjuk Teknis singkat dan jelas ini, untuk digunakan oleh para pengelola sub gugus tugas PTPPO dalam menyusun dan mengajukan proposal. Selain itu buku ini, juga menjadi acuan pengelola dalam mempersiapkan penyelenggaraan kegiatan dan penyusunan laporan kegiatan. Melalui berbagai penjelasan yang tertera dalam petunjuk teknis ini, diharapkan proses penyelenggaraan kegiatan peningkatan kapasitas sub gugus tugas PTPPO dapat dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan dengan baik dan transparan, dan memperoleh hasil yang optimal dalam upaya peningkatan kualitas kelembagaan sub gugus tugas PTPPO ke depan. Untuk konfirmasi dan klarifikasi lebih lanjut dapat menghubungi Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional, dengan alamat: Kompleks Kemdiknas, Gedung E Lantai 6, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, 10270, Telepon (021) 5725575, Faksimile (021) 5725039, E-mail: [email protected] Website: www.dikmas.net.

BAB V

PENUTUP

CONTOH FORMAT COVER PROPOSAL

1. Cover/Judul Proposal

PROPOSAL PENGAJUAN DAN

PENGELOLAAN BANTUAN PENINGKATAN KAPASITAS SUB GUGUS TUGAS PTPPO

Diajukan kepada:

Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini,

Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Kompleks Kemdiknas, Gedung E Lantai 6 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta

Oleh :

(15)

2. Surat Rekomendasi

KOP SURAT DINAS PENDIDIKAN KAB./KOTA

SURAT REKOMENDASI

Yang bertandatangan di bawah ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota ... menerangkan bahwa:

Nama Lembaga/Organisasi : ...

Ketua Lembaga/Organisasi : ...

Alamat Lembaga/Organisasi : ...

Nomor Telepon/HP/Fax : ... adalah lembaga/organisasi yang dinilai layak mengajukan proposal kepada Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional untuk mengajukan bantuan Penyelenggaraan Kegiatan ……….. Tahun 2011.

Demikian rekomendasi ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.

..., 2011

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota*) ……….

(...)

*) coret yang tidak perlu

3. Format Pernyataan Kesanggupan Dan Tanggungjawab Mutlak

SURAT PERNYATAAN

KESANGGUPAN DAN TANGGUNGJAWAB MUTLAK

Yang bertandatangan di bawah ini, kami atas nama pimpinan Lembaga/Organisasi ... (pengusul kegiatan ……… Tahun 2011):

Nama : …………..………

Jabatan : ………..………

Alamat Lembaga : …………..………

Telepon/HP/Fax. : …………..………

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa kami sanggup: 1. Menyelenggarakan kegiatan... sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Akad Kerjasama 2. Membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan,

yaitu:

a. Laporan awal, disampaikan paling lambat dua minggu setelah dana diterima.

b. Laporan akhir, disampaikan paling lambat dua minggu setelah kegiatan selesai dilaksanakan.

3. Berkoordinasi dengan dinas pendidikan provinsi/ kabupaten/kota dan lembaga/instansi yang terkait dalam penyelenggaraan kegiatan.

4. Mempertanggungjawabkan penggunaan dana sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.

… … … . 2 0 1 1 Ya n g M e m b u a t P e r n y a t a a n

(16)

4. Profil Sub Gugus Tugas

A. Profil Lembaga

1. Nama Sub Gugus Tugas : ...

2. Alamat Lengkap : ……...……...

3. No. Telp/HP : ...

4. Nama Ketua Sub Gugus Tugas : ....……...

5. Nama Bank : ...

6. No. Rek. Lembaga : ...…...

7. Atas Nama : ...

8. NPWP : ...

9. Kegiatan yang telah dilaksanakan :

1) ………...

2) ………..

3) ………...…..

4) ………...……..

10. Kegiatan yang sedang dilaksanakan saat ini :

1) …...………..

2) ………...………..

3) …………...………..

4) ………..

A. DISKRIPSI KEGIATAN YANG DIUSULKAN

1. Rencana Kegiatan

NO. URAIAN KEGIATAN PENJELASAN *)

1. Jenis Kegiatan ………..………...

……...…………..……...

2. Tujuan ………...

………...

3. Sasaran ………...

………...

4. Hasil yang diharapkan ………...

………...

5. Langkah-langkah 1. Persiapan ………...

persiapan dan 2. Pelaksanaan ..………...…...

pelaksanaan 3. Evaluasi………...

6. Mekanisme 1. Teori ………...…...

Pelaksanaan 2. Praktek ………...

kegiatan dan jadwal

7. Fasilitas/sarana ………...

kegiatan ………...

8. Mitra Kerja ………...…...

………...

9. Kelengkapan Semua kelengkapan administrasi

Administrasi dilampirkan fotokopinya.

(17)

PERJANJIAN KERJASAMA NOMOR :

DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN MASYARAKAT DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

NON FORMAL DAN INFORMAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

Pada hari ini ... tanggal ... bulan ... tahun dua ribu sebelas, kami yang bertandatangan di bawah ini:

1. Nama : ………

NIP : ………

Jabatan : ………

Alamat : Kompleks Kementerian Pendidikan Nasional Gedung

E Lantai VI, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan -Jakarta Pusat 10270

dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional (Ditjen PNFI Kemendiknas), dan untuk selanjutnya disebut sebagai

Pihak Pertama.

Lampiran 2. 2. Rincian rencana penggunaan dana

No Kegiatan Volume Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)

(1) (2) (3) (4) (3 x 4)

1 Sosialisasi, advokasi, FGD Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang bagi di Sub Gugus Tugas PTPPO baik secara kegiatan maupun kapasitas administratif

3 Pertemuan rutin sub gugus tugas PTPPO

4 Pendataan sasaran,

permasalahan PO dan ESA, Penyusunan laporan dan profil (cetak & elektronik) Jumlah

..., ...

Ketua sub Gugus Tugas,

_______________ Nama jelas

Lampiran Proposal, antara lain:

1) Surat pernyataan lembaga/organisasi penerima dana (sesuai dengan format). 2) SK Penetapan Sub Gugus Tugas PTPPO dari pejabat yang berwenang 3) Salinan/fotokopi nomor rekening atas nama lembaga/organisasi. 4) Salinan/fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama

lembaga/organisasi

(18)

2. Nama : ………

Jabatan : ………

Alamat : ………

dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Lembaga/Organisasi

……… dan untuk selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua.

Secara bersama-sama, PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA selanjutnya

disebut sebagai PARA PIHAK, berdasarkan pertimbangan:

1. Bahwa PIHAK PERTAMA sebagai institusi yang bertugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, bimbingan Teknis dan evaluasi di bidang Pendidikan Masyarakat (Pendidikan Keaksaraan).

2. Bahwa PIHAK KEDUA sebagai lembaga yang menyelenggarakan bidang pendidikan masyarakat.

PARA PIHAK bersepakat bekerjasama untuk menyelenggarakan kegiatan ..., dengan ketentuan sebagaimana diatur pada pasal-pasal berikut:

Pasal 1

TUJUAN KERJASAMA

Perjanjian kerjasama ini bertujuan untuk:

1. Memperluas akses penyelenggaraan dan layanan pendidikan masyarakat. 2. Memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan pendidikan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat. 3. Memfasilitasi pembelajaran ... .

Pasal 2

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

1. Tugas dan tanggung jawab PIHAK PERTAMA adalah: a. Memproses administrasi pencairan dana kepada PIHAK KEDUA, setelah perjanjian kerjasama ditandatangani oleh PARA PIHAK; b. Memberikan bimbingan teknis terhadap pelaksanaan kegiatan;

d. Memproses pencairan dana kepada PIHAK KEDUA melalui KPPN Jakarta III sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku; e. Menghentikan proses pencairan dana kepada PIHAK KEDUA, jika ditemukan hal-hal yang diduga berpotensi merugikan keuangan negara.

2. Tugas dan tanggung jawab PIHAK KEDUA adalah:

a. Menandatangani Surat Pernyataan Kesanggupan untuk melaksanakan kegiatan;

b. Menyusun rencana dan jadwal penyelenggaraan kegiatan; c. Memberitahukan dan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan kepada Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setempat;

d. Mengadministrasikan dan mempertanggungjawabkan penggunaan dana secara akuntabel sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku; e. Menjamin terselenggaranya kegiatan sesuai rencana dan target sasaran

kegiatan yang ditentukan dalam Petunjuk Teknis.

f. Melaporkan hasil pelaksanaan program kepada PIHAK PERTAMA dengan tembusan kepada Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota setempat;

Pasal 3

PENYALURAN DAN PENGGUNAAN DANA

1. Untuk melaksanakan program sebagaimana dimaksud pada pasal 2 ayat 2 di atas, PIHAK PERTAMA memberikan dana kepada PIHAK KEDUA sebesar Rp. ……… (……….), untuk membelajarkan sebanyak ………. orang .

2. Dana sebagaimana dimaksud pada ayat 1 di atas, dibebankan pada anggaran Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Tahun 2011, Nomor 0049/023-05.1/-/2011 tanggal 31 Desember 2010 dengan kode anggaran ………...

(19)

Nama Bank :

Nomor Rekening :

Atas Nama :

4. Dana sebagaimana dimaksud pada ayat 1 di atas, digunakan oleh PIHAK KEDUA untuk penyelenggaraan kegiatan, sesuai rencana dan target sasaran kegiatan yang ditentukan dalam Petunjuk Teknis. 5. Apabila PIHAK KEDUA menggunakan dana diluar ketentuan di atas, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab PIHAK KEDUA. 6. Biaya administrasi dan perpajakan yang terkait dengan Akad Kerjasama ini ditanggung oleh PIHAK KEDUA sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Pasal 4 SANKSI

1. Jika PIHAK KEDUA ternyata tidak menggunakan dana sesuai peruntukannya, maka PIHAK PERTAMA dapat mengajukan gugatan pengembalian dana kepada PIHAK KEDUA, dan selanjutnya disetorkan ke Kantor Kas Negara.

2. Apabila dalam penyelenggaraan kegiatan yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA ternyata ditemukan penyimpangan, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab PIHAK KEDUA.

Pasal 5

TANGGUNG JAWAB MUTLAK

PIHAK KEDUA bertanggung jawab mutlak atas pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan keuangan.

Pasal 6

KETENTUAN PENUTUP

1. Hal-hal lain yang belum diatur dalam Akad Kerjasama ini, akan diatur lebih lanjut dalam ketentuan tersendiri, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Akad Kerjasama ini.

2. Akad Kerjasama ini berlaku sejak ditandatangani oleh PARA PIHAK, sampai dengan berakhirnya pelaksanaan kegiatan.

Demikian Akad Kerjasama ini dibuat dan ditandatangani oleh PARA PIHAK di Jakarta dalam rangkap 5 (lima), di atas materai enam ribu, dan masing-masing memiliki kekuatan hukum yang sama.

PARA PIHAK

(20)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN

A. LEMBAGA/ORGANISASI

1. Nama Lembaga/Organisasi : ……...…... 2. Alamat Lengkap : ……...…... 3. Nama Ketua : ……...…... 4. Nomor Telepon/Fax/HP. : ……...…... B. URAIAN KEGIATAN

No Kegiatan Penjelasan

1. Kegiatan ………... ………... 2. Tujuan 1. Umum (1 paragraf)

2. Khusus

a……... b……... c. Dst

3. Hasil yang diharapkan Disesuaikan Petunjuk Teknis (lihat Bab II), uraikan secara rinci ………. 4. Deskripsi kegiatan a. Sosialisasi,dst...

yang telah dilaksanakan b. Pelatihan para pengelola....dst. (uraikan kegiatan dan administrasinya). Implementasi...,,,,,,..., (uraikan). 5. Mekanisme Kegiatan a. Persiapan

b. Pelaksanaan c. Tindaklanjut

Uraikan masing-masing

6. Rencana dan Jadwal Lampirkan rencana kegiatan PTPPO dalam

Kegiatan satu tahun ……….

Contoh Format Penyusunan Laporan

LAPORAN AWAL KEGIATAN

A. LEMBAGA/ORGANISASI

1. Nama Lembaga/Organisasi : ...……... 2. Alamat Lengkap : ...……... 3. Nama Ketua : ...……... 4. Nomor Telepon/Fax/HP. : ...……... B. URAIAN KEGIATAN

No Kegiatan Penjelasan

1. Kegiatan .………... .………... 2. Tujuan 1. Umum (1 paragraf)

2. Khusus

a……... b……... c. Dst

3. Hasil yang diharapkan Disesuaikan Petunjuk Teknis (lihat Bab II), uraikan secara rinci ………. 4. Rencana kegiatan a. Rencana kerja yang akan dilakukan

TPPO b. Jadwal

c. Uraikan tahap kegiatan dan rencana hasil yang akan di capai

(21)

7. Fasilitas/sarana Sebutkan fasilitas/sarana yang ada dalam kegiatan mendukung kegiatan PTPPO …... 8. Lampiran-lampiran: a. Rincian penggunaan dana beserta

bukti/kuitansi pengeluaran, termasuk setoran pajak sesuai ketentuan yang berlaku;

b. Hasil-hasil PTPPO yang dilakukan seperti profil, data, buku/dokumen dan lain sebagainya

c. Dokumen dan foto-foto pendukung lainnya

CONTOH FORMAT REKAPITULASI RINCIAN PENGGUNAAN DANA DAN BUKTI SPJ

No Perincian Jumlah (Rp) Bukti SPJ Waktu

01 Sosialisasi Daftar dan Ttd. 31 Juli 2011 Penerimaan

02 Pelatihan Daftar hadir dan ttd penerimaan

03 Kegiatan Daftar dan Ttd. 30 November 2011 implementasi Penerimaan

04 … ………….. Nota & kwitansi 30 November 2011 05 Penyusunan Nota & Kwitansi 01 Desember 2011

laporan & publikasi. Dst.

Catatan : uraian rincian penggunaan dana bantuan ini harus disesuaikan dengan ruang lingkup kegiatan yang berorientasi pada pencapain hasil yang ditetapkan dalam petunjuk teknis kegiatan PTPPO

FORMAT

DAFTAR FOCAL POINT/SDM SUB GUGUS TUGAS PENCEGAHAN PTPPO

NAMA POKJA: ... TAHUN 2011

No Nama L/P Unit Kerja/ Jumlah

Instansi Pelatihan/Sosialisasi

(22)

Lampiran 4.

INSTRUMEN VERIFIKASI LEMBAGA KEGIATAN ...

1. IDENTITAS KELEMBAGAAN/ORGANISASI

a. Nama Lembaga : ...

b. Alamat Lengkap : ...

c. No. Telepon/HP : ...

d. Nama Ketua : ...

e. Alamat Lengkap : ...

f. No. Telepon/HP : ...

g. Akte Notaris/Izin Pendirian : 1) Nomor :...

2) Pejabat :...

h. Nama Bank : ...

I. Nomor Rekening : ...

j. Atas Nama lembaga : ...

k. NPWP : ...

2. KELENGKAPAN ADMINISTRASI

No. Jenis Administrasi Keadaan Keterangan Ada Tidak ada

1. Papan nama lembaga/organisasi 2. Struktur organisasi

3. Rincian tugas pengelola/penyelenggara 4. Nomor rekening bank atas nama lembaga

(tanpa cc/qq; buku rekening asli ditunjukkan) 5. NPWP lembaga

3. SARANA DAN PRASARANA

No. Jenis Sarana Keadaan Keterangan

1. Luas Gedung Luas Tanah :…...m²

Luas Bangunan :…...m²

2. Status Bangunan / Milik sendiri

Gedung Kontrak/sewa

Pinjam

...

3. Sarana belajar Meja & kursi belajar...set Kondisi :

Papan tulis ...set Lemari/rak buku ....….…unit Mesin tik ...…...…unit Komputer ...…unit Bahan ajar ... jenis Bahan Bacaan ... judul

4. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

No. Nama Jenis Kelamin Pendidikan Peran/

(23)

5. PROGRAM YANG DILAKSANAKAN

Program kegiatan yang pernah diselenggarakan atau yang masih berlangsung

saat ini

No. Jenis Kegiatan Tahun Jumlah Sumber Lokasi Pelaksanaan Sasaran Dana Sasaran program

...2011 Mengetahui

Pengurus Lembaga/Organisasi Petugas,

... ...

Catatan:

... ... ...

Referensi

Dokumen terkait

Dengan penerapan konsep dasar iptek bahan (keterkaitan struktur, sifat perilaku dan pemrosesan) pada fabrikasi sel surya struktur p-i-n PECVD a-Si-H diharapkan mampu mencapai

a) Semua Pertambangan Base di Kecamatan Kunto Darussalam tidak memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). b) Jenis bahan tambang Base tidak tercantum dalam Peraturan

Pupuk Kujang tak serta merta memberikan perhatian khusus untuk cash flow sehingga dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) per tahun mengharuskan adanya LHP audit cash

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Data untuk penelitian berupa diksi dalam kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono dianalisis secara struktur,

Karakter yang mengalami peningkatan nilai rata-rata sebagai dampak dari kemajuan seleksi pada perlakuan selfing adalah: jumlah daun, jumlah anak daun, lebar anak daun, panjang

Teori konflik adalah penantang utamanya dan menjadi alternative menggantikan posisi dominant itu, dalam teori konflik ini setiap orang mempunyai angka dasar

arrangements as outlined in their ship’s Cargo Securing Manual and ensure they are securing cargo in accordance with the manual and following all applicable safety

Misalkan dengan adanya manajemen pengendalian risiko untuk pengadaan persediaan tersebut, agar nantinya persediaan yang tersedia jumlahnya tidak lebih dari batas normalnya