• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan Kadar Nitrit dan Nitrat pada Kornet Daging Sapi dan Daging Sapi Asap Secara Spektrofotometri Sinar Tampak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penentuan Kadar Nitrit dan Nitrat pada Kornet Daging Sapi dan Daging Sapi Asap Secara Spektrofotometri Sinar Tampak"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Daging adalah salah satu hasil ternak yang hampir tidak dapat dipisahkan dari

kehidupan manusia. Daging dapat diolah dengan cara dimasak, digoreng, dipanggang,

disate, diasap, atau diolah menjadi produk lain yang menarik, antara lain daging kornet,

sosis, dendeng, dan abon. Daging olahan juga sering ditambahkan bahan tambahan

pangan untuk meningkatkan mutu dan cita rasa (Soeparno, 1992).

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) (2006) daging olahan adalah daging

yang telah mengalami proses pengolahan. Daging asap dan kornet daging termasuk

daging olahan dan daging awetan. Kornet merupakan produk yang dibuat dari potongan

daging sapi segar atau beku, tanpa tulang, boleh dicampur dengan daging bagian kepala

dan jantung yang memenuhi persyaratan dan peraturan berlaku, dengan atau tanpa

penambahan bahan tambahan pangan yang diijinkan melalui proses curing dan dikemas

dalam wadah kedap udara (hermetis) dan disterilkan (SNI, 2006). Daging asap adalah

daging yang diproses secara pengasapan dengan tujuan untuk meningkatkan flavor dan

penampakan permukaan produk yang menarik serta memperpanjang kualitas daging

(Soeparno, 1992).

Berdasarkan Permenkes No. 722/Menkes/IX/1988, batas maksimum penggunaan

nitrit pada kornet daging sapi adalah 50 mg/kg dan pada daging olahan dan daging

awetan termasuk daging asap adalah 125 mg/kg. Sedangkan penggunaan nitrat pada

daging olahan dan daging awetan termasuk kornet dan daging asap memiliki batas

(2)

2

Aditif makanan adalah bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu

pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Termasuk ke dalamnya adalah

pewarna, penyedap rasa dan aroma, pemantap, antioksidan, pengawet, pengemulsi,

antigumpal, pemucat, dan pengental (Winarno, 1992).

Bahan tambahan pangan (BTP) digunakan untuk mendapatkan pengaruh

tertentu, misalnya untuk memperbaiki tekstur, rasa, penampilan, dan memperpanjang

masa simpan (Baliwati, dkk., 2004). Pengawet adalah bahan tambahan makanan yang

mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau peruraian lain terhadap

makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme. (SNI, 2006).

Nitrit dan nitrat terdapat dalam bentuk garam kalium dan natrium, dapat

menghambat pertumbuhan mikroba pada daging dalam waktu singkat. Keduanya juga

sering digunakan untuk mempertahankan warna daging agar tetap berwarna merah

segar. Sebagai pengawet, nitrit mampu menghambat pertumbuhan bakteri, terutama

bakteri patogen Clostridium botulinum (Pratiwi, 2008). Pembentukan nitrooksida akan

terlalu banyak bila hanya menggunakan garam nitrit, karena itu biasanya digunakan

campuran garam nitrat dan garam nitrit (Winarno, 1992).

Penggunaan nitrit perlu dibatasi karena pada saluran pencernaan nitrit dapat

bereaksi dengan senyawa amin, khususnya amin sekunder membentuk senyawa nitroso

yang bersifat karsinogenik. Nitrosamin terbentuk melalui reaksi kimia antara agen

nitrosasi dan senyawa amin yang mudah dinitrosasi. Pada umumnya bahan baku

pembentuk nitrosamin adalah amin sekunder dan tertier. Senyawa pembentuk

nitrosamin adalah N2O3 yang mudah terbentuk dari nitrit dalam suasana asam (Mirvish,

2008).

(3)

Penetapan kadar nitrit dan nitrat dapat dilakukan dengan metode

spektrofotometri sinar tampak dan volumetri, yaitu permanganometri dan serimetri

(Hess, 2000). Metode spektrofotometri sinar tampak adalah berdasarkan reaksi diazotasi

dimana senyawa amin primer aromatik dikopling dengan N-(1-Naftil) etilendiamin

dihidroklorida. Dengan adanya nitrit, maka nitrat yang direduksi menjadi nitrit akan

menghasilkan senyawa berwarna ungu kemerahan yang dapat diukur secara

spektrofotometri sinar tampak (Rohman, 2007).

Penelitian tentang penetapan kadar nitrit dan nitrat dalam daging olahan telah

dilakukan sebelumnya terhadap sampel kornet sapi kalengan, sosis, dan daging burger

sapi dengan metode spektrofotometri sinar tampak. Berdasarkan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Lestari (2011) dan Lusiana (2013) pada sosis dan burger daging sapi

masih memenuhi persyaratan, sedangkan Rangkuti (2008) pada kornet daging sapi

mengandung nitrit yang melebihi batas maksimum yang diiizinkan.

Berdasarkan uraian diatas penulis melakukan penentuan kadar nitrit dan nitrat

(4)

4

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini

adalah:

a. Apakah nitrit dan nitrat terdapat dalam kornet daging sapi dan daging sapi asap?

b. Apakah kadar nitrit dan nitrat dalam kornet daging sapi dan daging sapi asap

sudah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Permenkes No.

722/Menkes/IX/1988?

1.3Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah:

a. Nitrit dan nitrat terdapat dalam kornet daging sapi dan daging sapi asap.

b. Kadar nitrit dan nitrat dalam kornet daging sapi dan daging sapi asap

sudah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Permenkes No.

722/Menkes/IX/1988.

1.4Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui ada tidaknya nitrit dan nitrat terdapat dalam kornet daging

sapi dan daging sapi asap.

b. Untuk mengetahui kadar nitrit dan nitrat terdapat dalam kornet daging sapi dan

daging sapi asap sudah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh

Permenkes No. 722/Menkes/IX/1988.

(5)

1.5Manfaat Penelitian

Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah:

a. Sebagai informasi bagi masyarakat dalam mengkonsumsi produk kornet daging sapi

dan daging sapi asap

b. Hasil penelitian dapat menjadi sumber data dalam pengawasan penggunaan nitrit

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah nitrit yang terdapat dalam daging olahan yakni sosis dan daging burger sapi yang berasal dari pasar tradisional dan

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa, pemeriksaan kadar nitrit dan nitrat di dalam air minum yang berasal dari sumur di beberapa daerah Sumatera Utara (Dewi, 2005) kadar nitrat

Penelitian tentang penetapan kadar nitrit dalam makanan telah dilakukan sebelumnya terhadap sampel korned sapi kalengan, daging burger sapi dan sop daging sapi

Untuk mengetahui kadar nitrit dan nitrat dalam air di kota medan memenuhi persyaratan kualitas air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun2010 serta

Untuk itu dihitung kembali dengan cara yang sama tanpa mengikutsertakan data ke-1.. Analisa Data Statistik untuk Menghitung Kadar

Penelitian tentang penetapan kadar nitrit dalam makanan telah dilakukan sebelumnya terhadap sampel korned sapi kalengan, daging burger sapi dan sop daging sapi

Penetapan Kadar Nitrit pada Daging Sapi Segar dan Olahan yang Beredar di Kota Medan secara Spektrofotometri Sinar Tampak.. Medan: Fakultas

Analisa data statistik untuk menghitung kadar nitrit pada kornet daging sapi baliko ® tanggal kadaluarsa