BAB II
YAKUZA DAN TATO
2.1 Yakuza
2.1.1 Awal Terbentuknya Yakuza
Sistem pemerintahan feodal di Jepang dimulai pada zaman Kamakura (1192-1333) dan di akhiri dengan zaman Edo atau Tokugawa (1603-1868). Zaman Edo atau Tokugawa ditandai dengan terjadinya perang Sekigahara (1600) di Jepang yang melibatkan keluarga dari Toyotomi dengan keluarga Tokugawa. Perang Sekigahara terjadi karena perselisihan para daimyo dari kedua keluarga tersebut untuk mewarisi kekuasaan dan kedudukan sebagai shogun yang baru menggantikan Toyotomi Hideyoshi yang meninggal pada tahun 1598.
2.1.2 Tekiya (Pedagang)
Kemenangan Tokugawa Ieyasu menyebabkan penguasa baru, dan kemudian Tokugawa Ieyasu diangkat sebagai Sei Tai Shogun (Jendral berkuasa penuh) dan mendirikan pemerintahan Bakufu di Edo (Tokyo) tahun 1603, (Totman dalam Situmorang, 1995:20). Kondisi Jepang setelah perang sekigahara belum begitu stabil karena banyak bushi yang tidak bertuan (ronin) berkeliaran di jalan-jalan dan mengganggu masyarakat, karena mereka tidak mempunyai pekerjaan, sedangkan mereka adalah orang-orang yang ahli dalam perang dan bela diri.
Keadaan itu menyebabkan para ronin harus beralih profesi dari samurai menjadi pedagang, menjadi guru seni bela diri dan sebagian bekerja di pemerintahan. Namun tidak semua dari mereka yang berhasil dengan profesi barunya dan kemudian menggunakan segala cara untuk bertahan hidup. Para ronin yang gagal dengan profesi barunya tersebut biasanya membentuk kelompok-kelompok dalam melakukan segala kegiatannya. Pada saat itu ada kelompok-kelompok yang terkenal dengan gaya yang eksentrik bernama kabuki mono. Kabuki mono merupakan para ronin yang sering melakukan tindakan yang menyimpang dan berpenampilan eksentrik dengan cara berpakaian dan potongan rambut yang tidak lazim serta selalu membawa pedang panjang kemanapun mereka pergi sebagai alat untuk menakut-nakuti masyarakat pada zaman itu.
daerah mereka dari kaum ronin (kabuki mono).Kaum machi-yokko akhirnya semakin mendapat pujian dari rakyat karena berjasa melindungi kaum miskin yang tak berdaya. Di kalangan rakyat Jepang abad ke 17 kaum machi-yakko di anggap sebagai pahlawan, padahal merekalah cikal bakal terbentuknya Yakuza.Setelah berhasil mengalahkan kaum ronin, anggota dari machi-yokko malah meninggalkan tugas awal mereka dan memilih menjadi preman. Profesi ini di perparah dengan adanya campur tangan dari shogun dalam memelihara dan melindungi para machi-yokko. Pada pertengahan zaman Edo, kelompok ini membentuk dua difisi, yaitu tekiya dan bakuto. Tekiya adalah kelompok orang yang bekerja sebagai pedagang dan menjual barang palsu serta barang-barang hasil curian. Mereka juga bekerja sebagai pihak keamanan dan menarik sejumlah uang dari pedagang lain atas jasa perlindungan.
2.1.3 Bakuto (Pejudi)
gaji para pegawai konstruksi dan irigasi habis di meja judi dan tenaga mereka bisa disewa dengan harga murah.
Yakuza memiliki arti tidak berguna yang menunjuk pada seorang pemain yang kalah dalam permainan judi karena memiliki kartu 8-9-3 atau ya-ku-za.Istilah yakuza pada awalnya hanya di tujukan kepada pemain yang kalah dalam permainan kartu, namun maknanya berkembang dan tidak lagi ditujukan kepada seorang pemain saja, tetapi mengacu kepada seluruh orang yang bermain judi dan kepada orang-orang yang melakukan penyimpangan dan menggangu ketentraman masyarakat. Dalam masyarakat Jepang pada masa itu, orang-orang yang berjudi dianggap sebagai pecundang dan tidak berguna, (Inami, 1992:353).
2.1.4 Yakuza Modern
Waktu pun berlalu, kaum bakuto dan tekiya menjadi satu identitas sebagai yakuza. Kaum yang asalnya bertugas sebagai pelindung masyarakat dan kini di takuti masyarakat. Para pemimpin Jepang memanfaatkan hal ini untuk mengendalikan masyarakat dan menggerakkan nasionalisme. Yakuza direkrut oleh pemerintah Jepang dalam aksi pendudukan di Manchuria dan Cina oleh Jepang pada tahun 1930-an. Para yakuza dikirim ke daerah tersebut untuk merebut tanah, dan memperoleh hak monopoli sebagai imbalan.
Setelah Jepang menyerah, para anggota yakuza kembali ke masyarakat. Muncul seseorang yang berhasil mempersatukan seluruh organisasi yakuza. Orang itu ialah Yoshio Kodame, seseorang mantan prajurit militer dengan pangkat terakhir Admiral Muda (yang dicapainya di usia 34 tahun). Yoshio Kodame berhasil mempersatukan kedua fraksi besar yakuza, yaitu Yamaguchi-gumi yang dipimpin Kazuo Taoka, dan Tosei-kai yang dipimpin Hisayuki Machii. Yakuza pun bertambah besar keanggotaannya, terutama di periode 1958-1963 saat organisasi yakuza diperkirakan memiliki anggota 184.000 orang atau lebih banyak dari pada anggota tentara angkatan darat Jepang saat itu. Yoshio Kodame dinobatkan sebagai goodfather-nya yakuza.
Yakuza sangat menyukai nilai-nilai dalam bushido atau kode etik dalam kaum samurai. Layaknya ksatria, yakuza akan membuktikan kejantanan mereka dengan ketabahan dalam menahan rasa sakit, lapar ataupun hukuman penjara. Tak ubahnya samurai, kematian bagi yakuza adalah takdir yang puitis, tragis, sekaligus terhormat.
Ruth Benedict, dalam buku klasiknya tentang kebudayaan Jepang, The Chrysanthemum and the Sword (Pedang Samurai dan Bunga Seruni,1946), mengutip peribahasa kuno: “Giri adalah hal yang paling berat untuk dipikul”, yang mengartikan bahwa kewajiban-kewajiban yang membentang luas, mulai dari rasa terima kasih terhadap kebaikan hingga kewajiban membalas dendam.
Makna Ninjo kurang lebih sejajar dengan perasaan atau emosi. Salah satu makna yang terkandung dalam Ninjo adalah kemurahan hati, simpati terhadap kaum yang lemah, tidak berdaya, serta empati kepada orang lain. Ninjo biasanya digunakan sebagai ungkapan penghubung dengan Giri. Friksi yang tercipta dari dua kekuatan kewajiban melawan kasih sayang membentuk tema utama dalam kesusasteraan Jepang. Dengan mengadopsi Giri dan Ninjo, yakuza bisa menaikkan kedudukan mereka dalam masyarakat. Mereka bisa menunjukkan bahwa, layaknya samurai, mereka mampu menggabungkan kasih sayang dan kebaikkan melalui keahlian beladiri.
Di tahun 1980-an, yakuza mengembangkan sayap mereka hingga ke Amerika Serikat, dan ikut masuk bisnis legal untuk mencuci uang mereka. Dalam operasinya, yakuza membeli asset di Amerika dan salah satu yang pernah mencuat ke permukaan adalah keterlibatan Prescott Bush, saudara dari presiden George H.W.Bush dan paman dari George W. Bush, dalam asset Management International Financing & Settlements di awal 1990-an.
Saat ini oraganisasi yakuza terpecah menjadi beberapa klan besar dan kini ada empat klan terbesar. Klan tersebut adalah Yamaguchi gumi, Sumiyoshi kai, Inagawa kai danAizukotetsu kai. Setiap klan dipimpin oleh goodfather-nya masing masing. Setiap klan memiliki kekuatan yang berbeda-beda karena setiap klan tidak memiliki anggota yang sama. Selain itu setiap klan memiliki lambang atau simbol yang berbeda untuk membedakan asal dari yakuza tersebut.
Yakuza yamagumi guchi juga aktif dalam kegiatan sosial di Jepang, hal ini terbukti dalam upaya bantuan besar-besaran untuk korban gempa di Kobe, mereka membantu dengan distribusi makanan dan persediaannya. Bantuan ini sangat penting bagi penduduk Kobe, karena dukungan resmi tidak konsisten dan kacau selama beberapa hari. Selain itu yakuza ini juga terlibat dalam membantu korban gempa Tohoku 2011 dan tsunami dengan membuka kantornya untuk umum dan dengan mengirimkan pasokan ke daerah yang terkena gempa dan tsunami.
Lambang Yakuza KlanYamaguchi gumi.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Yamaguchi-gumi)
Sumiyoshikai (住 会) atau sering disebut dengan Sumiyoshi Rengo (住
連 ) adalah kelompok yakuza terbesar kedua di Jepang dengan perkiraan anggota 20.000 orang. Sumiyoshikai adalah konfederasi geng kecil yang di pimpin oleh Shigeo Nishiguchi. Kelompok ini memiliki sejarah yang kompleks, dengan banyak perubahan nama sepanjang jalan. Yakuzaini didirikan pada tahun 1958 oleh Minatokai (港 会) dan Shigesaku Abe yang merupakan Socho ke 3 (総
Lambang dari yakuza Klan Sumiyoshi Kai (http://en.wikipedia.org/wiki/Sumiyoshi-kai)
Inagawa kai (稲 川 会) Adalah klan yakuza yang terbesar ketiga di Jepang, jumlah anggota yakuza ini 15.000 anggota . Hal ini didasarkan di wilayah Kanto, dan merupakan salah satu organisasi yakuza pertama yang mulaiberoperasi di luar negeri.Inagawa kai didirikan di Atami dan Shizuoka pada tahun 1949 sebagai Inagawagumi (稲川組) oleh Kakuji Inagawa.Inagawagumi berganti nama menjadi Inagawakai pada tahun 1972 Setelah Kakuji Inagawa meninggal.Sebagian besar anggotanya diambil dari bakuto (penjudi tradisional), dan perjudian ilegal telah lama menjadi sumber penghasilan utama yakuza ini. Hal ini juga diperluas ke bidang-bidang seperti perdagangan narkoba, pemerasan, danprostitusi .
Lambang dari yakuza Klan Inagawa Kai (wikipedia.org/wiki/Inagawa-kai 24)
Aizukotetsu kai (五 代 目 会 津 小 鉄 会) atau sering disebut Godaime Aizukotetsu kai. Kadang-kadang ditulis Aizu Kotetsukai atau Aizu Kotetsu kai, adalah organisasi yakuza terbesar keempat di Jepang dan berbasis di Kyoto.Aizukotetsu kai adalah sebuah federasi dari sekitar 100 kelompok yakuza Kyoto, yang terdiri dari sekitar 7.000 anggota.Pada tahun 1992 Aizukotetsu kai menjadi salah satu sindikat yakuza pertama dibawah undang-undang antiboryokudan Jepang, yang memberikan polisi kekuasaan diperluas untuk menindak yakuza.
2.1.5 Struktur Yakuza
Struktur yakuza setelah perang dunia II terlihat semakin jelas dan rapi, ini dapat dibuktikan dengan adanya kerjasama yang baik dan rapi sesama anggota yakuza. Selain itu organisasi yakuza pada saat ini telah memiliki beberapa jabatan layaknya pemerintahan sendiri.
Pada setiap organisasi yakuza, setidaknya terdiri dari unit terkecil yaitu oyabun dan kobun. Oyabun memiliki penasehat (saiko komon), saiko komon terdiri dari pengacara, akuntan dan sekretaris. Dibawah oyabun terdapat wakagashira, yaitu orang nomor dua setelah oyabun tetapi tidak memilki kekuasaan. Wakagashira adalah atasan dari wakashu atau yang lebih dikenal dengan kobun, dan tugas dari wakagashira ini adalah menjadi penghubung antara oyabun dengan kobun-kobun-nya. Selain itu terdapat juga shatei gashira, yang merupakan orang nomor tiga di dalam organisasi yakuza. Shatei gashira merupakan pemimpin dari para anggota yakuza yang masih junior.
Sebelum bertindak, setiap anggota yakuza terlebih dahulu menunggu perintah dari oyabun, dan tidak akan bertindak sesuka hati tanpa adanya perintah dari oyabun. Setiap organisasi yakuza memiliki peraturan-peraturan sendiri yang wajib dipatuhi dan dijalankan oleh anggotanya. Oyabun memegang kekuasan penuh untuk mengatur jalannya organisasi, termasuk wewenang untuk menghukum anggota yang melanggar peraturan yang sudah ditetapkan organisasi.
menunjukan bahwa ia merupakan pimpinan tertinggi dari sebuah organisasi kompleks yang membawahi banyak unit semi independent, dikatakan semi independent karena ikka yang baru terbentuk merupakan cabang dari ikka yang didirikan pertama kali oleh oyabun, namun ikka baru tersebut berhak menjalankan kegiatannya sendiri tetapi tetap berada dibawah perlindungan ikka inti.
Pada saat ini, semakin banyak organisasi-organisasi yakuza baru yang bermunculan, ini disebabkan karena banyak yang menilai menjadi anggota yakuza merupakan cara yang gampang untuk dapat memproleh uang, meskipun harus berhadapan dengan resiko yang besar. Selain itu banyak terjadi pertikaian-pertikaian dan selisih paham yang mengakibatkan terjadinya perpecahan di organisasi yakuza, sehingga tidak jarang seorang anggota keluar dari satu oraganisasi dan mendirikan organisasinya sendiri dan menjadioyabundi organisasi yang baru didirikannya tersebut.
2.1.6 Yubitsume (Potong Jari)
memotong ruas jarinya dan mempersembahkannya kepada oyabun (orang tua) dengan membungkusnya menggunakan kain berwarna putih.
Jari yang pertama sekali dipotong adalah jari kelingking, berikutnya jari kelingking tangan yang satunya. Lalu menuju ke jari manis, begitu seterusnya kalau dia melakukan kesalahan. Bakuto (orang tua) biasanya memaafkan kesalahan yang tidak terlalu besar, tetapi jika tingkat kesalahannya terlalu besar seperti menghianati keluarga, maka tidak ada lagi yang bisa membantunya selain dengan cepat di eksekusi mati.
Kebiasaan ini berasal dari kelompok bakuto. Jika pejudi tidak bisa membayar hutang, maka dia akan memotong jari kelingkingnya, yang mengakibatkan lemahnya menggenggam samurai atau pedang. Dilain sisi juga menyebabkan beberapa masalah buat dirinya sendiri, karena orang yang jarinya di potong salalu gampang untuk diawasi dan ditangkap polisi.
2.1.7 Kode dan Bahasa Rahasia
Selain itu, organisasi yakuza juga memiliki bahasa rahasia yang dikembangkan dan hanya diketahui artinya oleh sesama anggota yakuza itu sendiri, gunanya agar rahasia dari organisasi tidak mengalir hingga ke luar organisasi (Lebra, 1974:54).
1. Membalikkan penggalan kata dari belakang ke depan, seperti:
Takusan menjadi santaku artinya banyak,
Yaku menjadi kuya artinya tidak beruntung,
Tabi menjadi bita artinya perjalanan.
2. Memenggal sebagian huruf dari satu kata, seperti: Keisatsu menjadi satsu berarti Polisi,
Shobai menjadi bai berarti Pasar.
2.2 Tato
2.2.1 Sejarah Tato
Manusia selalu berusaha untuk meningkatkan penampilan mereka. Oleh karena itu, perhiasan, pakaian dan aksesoris lainnya telah ada sejak dahulu kala. Salah satu cara kuno untuk menghias diri yang dikenal umat manusia dan telah berlangsung lama adalah tato. Pada awalnya tato digunakan untuk semua tujuan. Selama bertahun-tahun tato digunakan sebagai simbol pangkat, simbol spiritualitas, pengabdian, agama dan penghargaan untuk keberanian atau juga jimat. Tato juga digunakan sebagai simbol hukuman dan perbudakan. Tato telah menjadi salah satu seni tubuh yang paling sering digunakan masyarakat untuk mengenang suatu kejadian.
Secara bahasa, tato berasal dari kata “tatau” dalam bahasa Tahiti yang berarti tanda atau menandakan sesuatu. Tato merupakan adaptasi dari kata polinesia, yaitu “tatao” yang berarti tekan atau menandai seseorang. Kata ini diciptakan oleh Kapten James Cook pada tahun 1769. Cara asli untuk membuat tato saat itu jauh lebih ekstrim dari pada zaman sekarang. Sebuah sisir yang runcing dicelupkan ke dalam jelaga yang kemudian ditusukkan ke tubuh. Bahan awalnya pun berasal dari arang tempurung yang dicampur dengan air tebu.
2.2.2 Keberadaan Tato di Setiap Negara
Tidak ada bukti yang jelas tentang keberadaan tato dalam sejarah, hingga ditemukannya tubuh manusia yang telah membeku, yang telah berusia 5000 tahun, pada tahun 1991. Para ahli meyakini bahwa mumi ini muncul sekitar 3300 tahun SM.
Sejarah tato dalam budaya Mesir telah lazim di dalam bentuk seni mereka. Pada tahun 1891, mumi dari seorang imam dari dewi Hathor bernama Amunet ditemukan. Mumi ini memiliki beberapa pola geometris tato di sekujur tubuhnya. Seni tato Mesir melambangkan praktek ritual dan dari situlah seni tato tersebar sampai ke Yunani, Persia, Arab dan Asia.
adat-istiadat ini sebagai sebuah lambang kekuatan kedewasaan. Para anak gadis dari etnis minoritas Drung mentato wajahnya ketika mereka berusia antara 12 dan 13 tahun sebagai sebuah simbol pendewasaan diri.
Tato di Negara Yunani biasanya digunakan untuk menunjukkan lambang perbudakan. Bangsa Maya dan Aztec Incans juga diketahui menggunakan tato. Untuk tanda atau simbol milik kelompok suku. Selain itu bangsa Yunani kuno memakai tato sebagai tanda pengenal para anggota intelijen mereka, alias mata-mata perang pada saat itu. Disini tato menunjukkan pangkat dari mata-mata-mata-mata tersebut.
Bangsa Romawi memakai tato sebagai tanda bahwa seseorang itu berasal dari golongan budak dan tato digunakan para tahanan ke seluruh tubuhnya. Di Kepulawan Solomon, tato digunakan di wajah perempuan sebagai ritus untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka. Sementara suku Nuer di Sudan memakai tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Suku Indian menato tubuh mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukan status sosial.
Menurut kepercayaan orang Polinesia, kekuatan spiritual dan keyakinan yang kuat diwakili oleh tato. Dalam budaya Samoa, tato melambangkan jajaran, kelahiran, reputasi keluarga, dsb.
Jepang memperluas tato dalam bentuk seni yang estesis, dimulai sekitar tahun 1700 M. Pada saat itu tato bagi orang Jepang kelas menengah bawah juga dimaksudkan sebagai reaksi disiplin terhadap hukum menyangkut cara hidup konsumtif. Pada waktu itu orang kaya di Jepang biasa berpakaian dengan banyak hiasan. Oleh karena itu, sebagai resistensinya, kaum menengah bawah menghiasi tubuhnya dengan tato.
Orang-orang di Timur Tengah menggunakan tato dalam keadaan berkabung untuk orang mati. Hal ini dilakukan untuk menghormati orang mati tersebut dan merasa kehilangan.
Sementara itu di Negara India dan Thailand, banyak berhala memiliki desain tato. Para biarawan cenderung menggunakan tato agar memiliki kekuatan magis tertentu untuk mendapatkan energi dan meningkatkan keterampilan mereka.
Di Indonesia, jenis tato tertua adalah tato yang dimiliki oleh suku Mentawai, tato yang digunakan suku Mentawai hanya berbentuk huruf. Menurut catatan sejarah, orang Mentawai sudah menato badan sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera. Bangsa Proto Melayu ini datang dari daratan Asia (Indocina), pada zaman Logam, 1500 SM-500 SM. Di Mentawai, tato dikenal dengan istilah titi. Bagi orang Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Tato memiliki empat kedudukan pada masyarakat ini, salah satunya adalah untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Bagi masyarakat Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam.
Berbicara tentang Indonesia, tato tribal adalah desain tato dari Borneo yang terkenal saat ini. Kalimantan merupakan salah satu dari beberapa tempat yang berhasil menjaga warisan budaya, dalam masyarakat Dayak, tato bukan sekedar hiasan tubuh atau agar dianggap jagoan. Tetapi, tato bagi masyarakat Dayak memiliki makna yang sangat mendalam. Oleh karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan. Cara pembuatan tato suku Dayak pun masih sangat tradisional dan alami, yaitu dengan memanfaatkan sumber daya sekitar. Jelaga dari lampu sentir atau arang periuk dan kuali digunakan sebagai pewarna. Bahan tersebut dicampur dengan gula dan diaduk sedemikian rupa. Semetara itu jarumnya menggunakan duri pohon jeruk yang ukurannya cukup panjang dan tajam. Jika motif tatonya rumit, maka proses penatoan memakan waktu satu hingga dua hari, dan menyebabkan pendarahan, bengkak hingga demam. Tato tradisional suku Dayak hanya memiliki satu warna, yaitu hitam kebiru-biruan. Bagi suku Dayak, tato lebih dari sekedar gaya hidup, tapi tato menjelaskan beberapa hal, seperti tradisi religi, status sosial, penghargaan terhadap kemampuan, ahli pengobatan dan menandakan seseorang sering mengembara.
2.3. Yakuza dan Tato
2.3.1 Sejarah Kedekatan Yakuza dengan Tato
menyebutkan “orang bertubuh besar maupun kecil menato wajah dan tubuh mereka”. Hal tersebut diterima secara luas oleh bakuto semasa Jepang feodal.
Fenomena tato tidak hanya dipunyai oleh masyarakat sipil Jepang, tradisi tato juga melanda para samurai.Bahkan, diperkirakan selama masa periode Tenso (1573-1591), pasukan klanSatsuma (kini merupakan daerah Kagoshima) menato tubuh mereka dengan karakter tato Jepang yang khas, yaitu di lengan atas. Tato di kalangan militer berlanjut pada abad pada abad 19. Mayoritas pasukan Samurai menggunakan tato sebagai cara mudah melakukan identifikasi ketika berperang dan juga sebagai penanda dalam evakuasi jenazah. Full body tattoo juga terinspirasi dari kostum yang digunakan oleh pasukan Samurai yang disebut jimbaori.Model pakaian ini berupa jas tak berlengan menyerupai rompi baja. Kostum ini disukai para samurai karena menunjukkan keberanian dan kegagahan.
Selain dikalangan Samurai, tato juga berkembang dikalangan yakuza. pada zaman Edo, tato sudah digunakan oleh para anggota yakuza, tetapi pada zaman tersebut tato masih belum menjadi sesuatu yang luar biasa dikalangan yakuza. Tato menjadi sangat popular di kalangan yakuza diawali dengan perkembangan ekonomi Jepang. Perkembangan ekonomi menyebabkan munculnya sejumlah pengusaha yang membutuhkan lembaga yang bergerak di luar jalur hukum sebagai pelindung kegiatan bisnis mereka.
Pembuatan tato secara tradisional adalah proses yang sangat menyakitkan. Seniman tato menggunakan alat yang diukir dari tulang atau kayu dengan ujung berupa sekelompok jarum kecil. Ketika proses penatoan berlangsung maka akan terasa menyakitkan, khususnya bagian yang sensitif seperti dada atau bokong. Pembuatan tato besar kemudian menjadi semacam uji kekuatan. Para bakuto dengan cepat menerapkan praktik tersebut demi menunjukkan keberanian, ketangguhan dan maskulinitas mereka kepada dunia.
Pada saat yang sama, tato juga memiliki tujuan sederhana, yaitu sebagai luka yang membedakan orang buangan dari kelompok buangan lainnya. Tato menandakan yakuza sebagai orang yang tersisih dan selamanya tidak mampu atau tidak bersedia beradaptasi dalam masyarakat. Oleh karena itu pada saat bermain kartu Oicho kabu dengan sesama anggota yakuza, mereka akan membuka baju mereka atau menggantungkan baju mereka di sekitar pinggang. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan seluruh tato yang ada ditubuh mereka, sebab biasanya mereka selalu menjaga dan menyembunyikan tato yang mereka miliki dari masyarakat dengan menggunakan kemeja lengan panjang dan berkerah tinggi.
2.3.2 Fungsi Tato bagi Yakuza
bekerja tanpa baju. Untuk memberikan pemandangan yang lebih baik, dari pada badan berkeringat dianggap menjijikan dan tidak baik di pandang, maka para pekerja banyak yang menato tubuhnya, sehingga keringat tidak begitu kelihatan dan masyarakat sekitar hanya melihat gambar saja di badannya. Oleh karena itu banyak markas besar yakuza di daerah pelabuhan seperti Yokohama, Kobe dan Fukuoka.
Penggunaan tato bagi anggota yakuza mempunyai beberapa fungsi. Dulu bagi anggota yakuza yang masuk penjara, tato merupakan suatu jimat yang efektif karena orang yang menggunakan tato tidak akan diganggu dan tidak akan disiksa oleh penghuni lapas lainnya sebab mereka tahu yang menggunakan tato adalah yakuza. oleh karena itu bagi anggota yakuza yang memiliki tato lebih banyak didiamkan.
Selain sebagai jimat di dalam penjara, tato bagi anggota yakuza berfungsi untuk membuat orang takut. Dalam pekerjaan menjalankan perintah seseorang, misalnya menagih hutang, apabila yang ditagih sedikit saja melihat tato biasanya sudah langsung tau dan ketakutan, karena yang dihadapi adalah yakuza yang tak pernah main-main sehingga tagihan dapat berjalan dengan lancar. Banyak masyarakat yang sungkan, tidak mau menghadapi kesulitan, jadi yang diinginkan anggota yakuza langsung dipenuhi.
2.3.3 Jenis Tato Yakuza
Dalam bahasa Jepang, tato dikenal dengan istilah Horimono (彫 物) “hor i (彫 )” yang berarti ukiran atau pahatan, sedangkan “mono (物)” adalah
barang atau benda. Jadi, Horimono adalah benda yang berukir atau berpahat. Atau Irezumi (入 墨 atau 入 墨) secara harfiah berarti memasukkan tinta. Pada awalnya kedua kata ini mempunyai arti yang berbeda walaupun lama-kelamaan kedua mempunyai arti yang sama. Pada abad ke-17, kata Irezumi lebih mengarah kepada pengertian tato yang diberikan kepada para kriminal sebagai hukuman sehingga orang tersebut memang dipaksa untuk ditato. Sedangkan Horimono orang yang ditato secara sukarela, sehingga orang yang bertato dapat menentukan model, gambar atau tulisan yang diinginkan.Namun setelah hukuman dengan tanda kenal dihapuskan sekitar 1720, maka tato dikenal dengan istilah Irezumi yang tidak lagi punya hubungan dengan kriminal.
Ada pula yang ditulis dengan bunshin yang secara harfiah berarti menghiasi tubuh. Namun demikian ucapannya tetap irezumi walaupun huruf (irezumi) masih tetap digunakan. Selain ditulis dengan bunshin, tato juga ditulis dengan huruf horiiremon yang berarti membuat pola dan beberapa wilayah seperti di Saka dan Kyoto, tato disebut irebokuro. Tato semacam ini dikenal dikalangan wanita penghibur yang umumnya dipakai sebagai pernyataan setia terhadap kekasihnya atau pria pelanggannya dan memberikan sensasi yang berbeda ketika bercinta.
yang biasa digunakan dan menjadi tempat favorit untuk dijadikan media irezumi adalah bagian punggung. Bentuk-bentuk yang biasa dipakai dalam irezumi adalah bentuk dari makluk-makluk mitologi seperti naga dan burung phonix, kemudian bentuk binatang liar seperti singa dan elang. Selain itu setan dan jin dan tokoh-tokoh religius agama Budha juga sering dipakai dalam irezumi.
Pada awal pemerintahan Meiji (1868-1912) terjadi beberapa perubahan dalam penggunaan pengertian tato,(1) digunakan istilah irezumi, yang mempunyai kaitan dengan hukum; (2) bunshin; (3) tetap diucapkan sebagai irezumi atau shisei. Tetapi setelah pemerintahan Meiji mengadopsi kebudayaan barat, maka irezumi dilarang karena berpendapat bahwa irezumi merupakan warisan dari suku Barbar pada masa lalu. Namun para seniman tato tidak kehilangan mata pencahariannya, mereka mendapat klien baru yaitu pelaut-pelaut dari berbagai negara yang berlabuh di pelabuhan di Jepang.
Karakter yang menggabungkan 刺 青 makna “menembus”. “Menusuk”, atau “tusuk”, dan “biru” atau “hijau”, merujuk kepada tradisional Jepang tato