• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFLEKSI KONDISI PERIKANAN ACEH UNTUK ME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "REFLEKSI KONDISI PERIKANAN ACEH UNTUK ME"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

0

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS SYIAH KUALA

REFLEKSI KONDISI PERIKANAN ACEH UNTUK MENATA DAN MENYONGSONG MASA DEPAN YANG GEMILANG

PIDATO PENGUKUHAN Dalam Jabatan Guru Besar

Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala

Disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Universitas Syiah Kuala di Gedung Academic Activity Center Prof. Dr. Dayan Dawood, MA

Selasa, 24 Februari 2015

Oleh :

Prof. Dr. Muchlisin Z.A., S.Pi, M.Sc

(2)

1

REFLEKSI KONDISI PERIKANAN ACEH UNTUK MENATA DAN MENYONGSONG MASA DEPAN YANG GEMILANG

Oleh: Muchlisin Z.A.

Pidato Pengukuhan dalam Jabatan Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala

di Gedung AAC Prof. Dr. Dayan Dawood, MA. Kampus Universitas Syiah Kuala Selasa, 24 Februari 2015

Bismillahirrahmanirarrahim

Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahhirabbil ‘alamin, wassalatu wassalamu ‘ala asrafil ambiyaii walmursalin, syaIidina muhammadin wa’alaalihi waashabihi ajmain. Rabbisyrahli shadri wayassirli amri wahlul ‘uqdatan mil lisani yafqahu qauli.

Yang terhormat:

Ketua and para anggota senat serta Guru Besar Universitas Syiah Kuala,

Rektor dan para Pembantu Rektor, para Dekan, dosen serta Staf Adminstrasi Universitas Syiah Kuala, Ketua beserta Anggota Dewan Penyantun Universitas Syiah Kuala; Jajaran Muspida Aceh,

Para Rektor dan Pimpinan Perguruan Tinggi dan fakultas yang hadir,

Para tamu undangan khusus dan hadirin yang saya muliakan.

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya kita telah diberi kesempatan dan kesehatan untuk kita semua sehingga dapat hadir dalam forum ilmiah ini. Salawat dan salam kita sampaikan pula kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita ke alam ilmu pengetahuan dan akhlakul karima.

Hadirin dan Hadirat yang mulia

Sektor perikanan merupakan salah satu sektor terpenting bagi pemerintah dan masyarakat Aceh, diperkirakan lebih kurang 55% masyarakat Aceh mengantungkan hidup baik secara langsung maupun tidak langsung pada sektor ini (Yusuf, 2003). Provinsi Aceh memiliki luas wilayah lebih kurang 57.366 km2 atau setara dengan 12.3% luas Pulau Sumatra. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Selat Malaka di bagian timur, Lautan Hindia di Barat, Selat Benggala dan Laut Andaman di Utara serta dengan Provinsi Sumatera Utara di Selatan. Provinsi Aceh memiliki garis pantai sepanjang lebih kurang 2.310 km dengan perairan teretorial seluas lebih kurang 295.370 km2 termasuk 238.807 km2 perairan zona ekonomi ekslusif (ZEE) dengan sekurang-kurangnya 119 buah pulau. Disamping perairan lautnya, Provinsi Aceh juga memiliki potensi di perairan umum darata (PUD), sekurang-kurangnya terdapat 73 sungai-sungai besar, rawa gambut (misalya Rawa Singkil , Rawa Tripa dan Rawa Kluet ) dan danau (Danau Laut Tawar dan Danau Aneak Laot).

Pada perairan umum daratan (PUD), Provinsi Aceh memiliki potensi yang tidak kalah besarnya, Muchlisin and Siti-Azizah (2009) mencatat sekurangnya terdapat 114 species ikan air tawar dan payau (Muchlisin, 2013) dan Rudi et al. (2009) mencatat 450 spesies ikan karang dan 120 spesies karang ada di perairan Aceh (Rudi et al., 2012). Lebih lanjut laporan terkini dari Muchlisin et al.

(3)

2

memiliki potensi sebagai ikan target budidaya untuk tujuan konsumsi antara lain; 4 species ikan keureling (Tor spp), 3 species sengko (Clarias spp.), 3 species bacei (Channa spp), 2 species ikan ileah/nijea (Anguilla spp.), beberapa spesies ikan seurukan (Osteochilus spp.), naleh (Barbonymus sp.), ceurapea (Epinephelus spp.) dan muloh (Chanos chanos) dan lain-lain (Muchlisin, 2013). Sedangkan ikan-ikan yang berpotensi sebagai ikan hias diantaranya adalah; beberapa species ikan laga (Betta spp.), 2 spesies ikan sepat (Trichopodus spp.), naleh (Barbonymus sp), beberapa species ikan baong (Mystus spp.), beberapa species ikan seurukan (Osteochilus spp.), beberapa spesies ikan pagap batei (Gobidae) (Muchlisi, 2013). Namun sayangnya potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan pendapatan nelayan atau petani ikan khususnya dan masyarakat Aceh umumnya, sehingga kondisi nelayan dan petani ikan di Provinsi Aceh secara umum masih menyedihkan. Menurut data BPS, Provinsi Aceh adalah salah satu provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin tertinggi di Sumatra, yaitu mencapai 19.57% (BPS, 2012), sebagian besar yang berprofesi sebagai nelayan, petani dan buruh harian.

Pada orasi ini saya ingin mengupas beberapa isu terkini dalam dunia perikanan secara umum yang terjadi baik ditingkat lokal Provinsi Aceh dan nasional yang saya anggap penting untuk kita perbincangkan dan saya juga mencuba mengajukan beberapa pemikiran-pemikiran untuk mengatasi permasaalahan yang ada baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang sehingga kita dapat menata masa depan yang lebih baik lagi dimasa depan.

Isu yang pertama adalah:

Kemiskinan Nelayan dan Pendidikan Rendah

Sudah menjadi persepsi umum bahwa nelayan selalu identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan melaporkan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Aceh sebagian besar (40-55%) adalah lulusan Sekolah Dasar (SD) (Muchlisin et al., 2013; Mussawir, 2009). Sebagai gambaran bahwa, hasil penelitian kami tahun 2012 (Muchlisin et al., 2012) di Aceh Besar menunjukkan bahwa pendapatan nelayan Aceh Besar berkisar Rp 33.000,- s/d Rp 1.500.000,- dan umumnya nelayan kecil mendapatkan pendapatan lebih kecil berbanding nelayan besar dan sebagian besar nelayan di Aceh tergolong sebagai nelayan kecil dengan armada tangkap kurang dari 5GT.

Kemiskinan dan Pendidikan, ibarat dua keping mata uang, sulit untuk dipisahkan, dan sulit juga untuk menentukan yang mana mempengaruh mana, apakah karena nelayan miskin sehingga tidak mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik, ataukah karena pendidikan rendah menyebabkan mereka sulit keluar dari kemiskinan?. Namun demikian kami menyakini tingkat pendidikan yang lebih baik dapat merubah pola dan cara berpikir sehingga mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi perikanan terkini dengan demikian mereka dapat mengoptimalkan cara menangkap atau membudidaya ikan, menangani hasil produksi, member nilai tambah pada hasil sampai kepada pengelolaan pendapatan yang dihasilkan. Oleh karena itu peluang dan kesempatan pendidikan bagi keluarga nelayan atau petani ikan khususnya bagi anak-anak nelayan harus menjadi prioritas pemerintah termasuk lembaga pendidikan.

(4)

3

setelah mereka berhasil dapat membantu keluarga atau orang tuanya keluar dari belenggu kemiskinan, Pemerintah pula perlu untuk terus meninggkatkan jumlah beasiswa bagi masyarakat miskin khususnya nelayan, namun demikian peran serta orang tua untuk mendorong dan memotivasi anak-anaknya untuk melanjut pendidikan ke peringkat yang lebih tinggi perlu terus digalakkan. Mengajak anak-anak kita yang masih usian dini (usia sekolah) turut serta membantu mencari nafkah dilaut menurut saya perlu kita hindari, beri kesempatan dan motivasi kepada mereka untuk pergi ke sekolah, urusan mencari nafkah adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua. Tetapi jika tujuannya untuk memperkenalkan laut atau dunia perikanan bagi anak-anak kita agar mereka mencitai dan menjaga sumberdaya laut dengan baik nantinya, maka harus kita lakukan diluar jam sekolah sehingga tidak menganngu aktifitas belajar mereka.

Kami juga sangat berharap fasilitas dan infrastruktur pendidikan tinggi di Universitas Jantong Hatee Rakyat Aceh ini khususnya di Fakultas Kelautan dan Perikanan dilengkapi sehingga dapat memenuhi standar minimal yang diperlukan sehingga dapat mendidik calon-calon pemimpin di masa depan yang diharapkan dapat menjaga, mengelola dan mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan Aceh dimasa depan demi kemakmuran masyarakat Aceh, dan sebagai langkah kesiapsiagaan masyarakat Aceh menghadapi kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tentang pemberlakukan Pasar Bebas Asean di akhir Tahun 2015 ini. Hal ini tentu selaras dengan visi dan misi Pemerintah RI saat ini yaitu ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Oleh karean itu sudah selayaknya lah Fakultas Kelautan dan Perikanan berada di garda terdepan universitas ini dan mendapatkan perhatian yang lebih dari berbagai pihak terutama Kementerian Dikti, Pemerintah Aceh dan Unsyiah khususnya.

Isu selanjutnya adalah:

Subsisi Bahan Bakar Minyak (BBM)

Bahan bakar minyak (BBM) khususnya solar merupakan komponen paling penting dalam suatu operasi penangkapan ikan, lebih dari 50% biaya operasi kapal penangkap ikan dihabiskan untuk BBM. Menurut hasil penelitian yang pernah kami lakukan di Aceh Besar (Muchlisin et al. 2012) bahwa umumnya nelayan belum bisa mendapatkan BBM bersubsidi, hal ini disebabkan karena tidak semua lokasi TPI/PPI tersedia stasiun pengisian BBM atau letaknya jauh dari lokasi nelayan sehingga dengan terpaksa mereka membeli secara eceran dengan harga lebih tinggi. Menurut hasil penelitian kami di Aceh Besar tersebut jika subsidi BBM dicabut total, maka pendapatan nelayan akan nelayan menurun sampai 90% dan bahkan bisa merugi, terutama bagi nelayan kecil disebabkan hasil tangkapan dan harga ikan yang tidak menentu. Oleh karena itu subsidi BBM bagi nelayan khususnya nelayan kecil kami pandang mutlak masih diperlukan. Pendirian sub-sub depo BBM di perkampungan nelayan juga perlu mendapat perhatian agar nelayan bisa mendapatkan harga resmi BBM subsidi tersebut.

Ketua dan sekretaris senat serta para undangan yang berbahagia, isu selanjutnya adalah:

Teknologi dan Kepemilikan Modal

(5)

4

Selain dengan meningkatkan kapasitas dan teknologi penangkapan, peningkatan kapasitas nelayan dalam hal pengoperasian alat tangkap yang lebih modern namun tidak merusak juga harus dilakukan, dan yang lebih penting juga adalah mempersiapkan “mental” nelayan Aceh agar siap berlayar berhari-hari di laut lepas tidak berjumpa dengan anak istri berhari-hari, hal ini penting mengingat kebiasaan sebagian besar nelayan kita adalah nelayan one day fishing, pergi pagi pulang sore, atau pergi sore pulang pagi dan bahkan ada masyarakat nelayan yang sehari (12 jam) dua kali pulang pergi melaut sebagaimana yang kami jumpai di salah satu wilayah di Aceh Besar. Sudah tentu nelayan-nelayan seperti ini perlu disiapkan terlebih dahulu, misalnya dengan dimagangkan pada kapal-kapal besar yang beroperasi dari beberapa minggu sampai ber bulan-bulan.

Program bagi-bagi kapal terutama kapal besar kepada kelompok nelayan tanpa dibarenggi dengan dengan peningkatan kapasitas nelayan dan fasilitas penunjang lainnya, kami pandang akan sia-sia bahkan dapat memecah belah kesatuan diantara nelayan yang selama ini sudah sangat baik, hingga pada akhirnya kapal tersebut akan beralih kepemilikannya kepada para toke secara tidak resmi (dibawah tangan), akibat nelayan tidak mampu mengoperasikannya baik oleh sebab teknis maupun finansial.

Masalah lain adalah, sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa banyak nelayan kita sebenarnya boleh disebut “buruh nelayan” karena hanya menjadi pekerja saja di kapal-kapal yang dimiliki oleh toke-toke dan yang lebih miris lagi ada pula yang menjadi pekerja di kapal milik sendiri yang telah digadaikan akibat hutang yang menumpuk. Juga bukan rahasia lagi jika ada nelayan yang hasil tangkapannya sudah dimiliki oleh para toke sebelum ikan berhasil ditangkap dan didaratkan (ijon), hal ini disebabkan karena biaya operasi penangkapan sepenuhnya dibiayai oleh para toke tersebut. Juga patut kita pahami bahwa nelayan-nelayan tradisional tidak dapat melakukan aktifitas penangkapan ikan sepanjang tahun, pada bulan-bulan tertentu (musim angin barat) sebagian besar nelayan tidak dapat melaut disebabkan ukuran kapal dan teknologi yang tidak menjamin keselamatan di laut, akibatnya pada musim-musim panceklik seperti ini sebagai besar nelayan tidak ada sumber pendapatan dan dengan sangat terpaksa berhutang kepada tengkulak atau toke, hal ini disebabkan sebagian besar nelayan kita belum memiliki ketrampilan tambahan sebagai alternatif sumber pendapatan jika tidak melaut (Muchlisin et al., 2013).

Oleh karena itu menurut saya nelayan harus menjadi pemilik modal sehingga mereka bekerja untuk diri sendiri dan bahkan dapat memperkerjakan orang lain di kapalnya. Agar hal tersebut dapat tercapai salah satunya dengan pendirian Bank Nelayan, atau dengan cara pemberdayaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang telah ada, kredibel dan bersedia menyediakan fasilitas pinjaman lunak bagi nelayan. Pemerintah daerah dapat menempatkan dananya di bank-bank tersebut untuk selanjutnya disalurkan kepada nelayan yang membutuhkan tanpa agunan atau dengan agunan kapal mereka. Pada bank-bank konvensional hampir dapat dikatakan tidak ada yang bersedia memberikan pinjaman seperti ini, mereka tidak mau “berjudi” dengan hasil tangkapan yang tidak pasti. Kontribusi dari perusahaan-perusahaan yang ada di Aceh melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bapak angkat bagi para nelayan dan petani ikan dinilai perlu ditingkatkan, dengan demikian diharapkan akan diperoleh dampak saling menguntungkan bagi perusahaan dan masyarakat.

(6)

5 Para hadiran yang saya muliakan, isu selanjutnya adalah:

Kerusakan habitat

Kerusakan lingkungan baik yang terjadi di kawasan pesisir maupun hutan pendalaman secara langsung dan tidak langsung telah menyebabkan kerusakan habitat ikan. Diperkirakan sampai tahun 1997 Indonesia telah kehilangan 72% hutannya (Bryant et al., 1997). Aceh memiliki lebih dari 3,5 juta ha hutan tropis, dan diperkitakan 80% hutan Aceh telah mengalami deforestasi dengan laju kerusakan mencapai 20.000 ha lebih per hari (Purnamawati, 2007), di kawasan pesisir pula, kerusakan hutan bakau juga sangat mengkhawatirkan, diperkirakan 58% hutan bakau Indonesia telah mengalami kerusakan dan dalam kasus Aceh 75% dari 50.000 ha hutan bakaunya telah hilang dikonversikan sebagai lahan tambak dan pemukiman.

Kerusakan hutan akibat legal dan ilegal logging akan menyebabkan erosi (longsor), meningkatkan sedimentasi dan kekeruhan air sungai yang selanjutnya akan terbawa ke kawasan pantai. Peningkatan kekeruhan air sungai secara langsung akan mempengaruhi produktifitas perairan disebabkan terganggunya proses fotosentesis fitoplankton dan tumbuhan air lainnya, akibatnya ikan-ikan pemakan plankton akan berkurang atau bahkan punah dan seterusnya akan mempengaruhi pula keberadaan ikan-ikan yang hidup pada tingkatan tropik yang lebih tinggi (merusak jaring-jaring makanan di perairan), selain itu pula peningkatan kekeruhan akan menganggu aktifitas mencari makan, merusak habitat pemijahan dikawasan lubuk-lubuk sungai akibat pendangkalan, jika hal ini terus terjadi maka dapat dipastikan kawasan perairan sungai tersebut akan “miskin” dari ikan.

Sekarang mari kita lihat di perairan pantai, erosi akan membawa partikel-partikel lumpur ke kawasan pesisir, mengendap dan menyebabkan pendangkalan di daerah muara, sehingga menyulitkan keluar masuk kapal nelayan. Pada beberapa daerah di Aceh bahkan Indonesia, Ratusan bahkan Milyaran juta uang rakyat telah dihabiskan untuk mengeruk muara sungai setiap tahunnnya, namun belum juga dapat diatasi dengan sempurna.

Aliran air sungai yang membawa material lumpur juga akan menutupi akar-akar mangrove dan polip-polip karang di kawasan pesisir, menyebabkan kerusakan serius di ekosistim terumbu karang dan menganggu respirasi mangrove. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa kawasan mangrove, lamun dan terumbu karang adalah kawasan paling penting dalam suatu ekosistim perairan, kawasan ini berfungsi sebagai tempat memijah (spawning ground), pengasuhan (nursery ground) dan mencari makan (feeding ground) bahkan sebagai tempat berlindung (shelter) bagi sebagian besar biota perairan termasuk ikan. Oleh karena itu jika kerusakan didarat dan dilaut ini terus dibiarkan terjadi maka bukan tidak mungkin suatu saat nanti profesi nelayan menjadi barang “langka”, nelayan akan ramai-ramai berganti profesi karena tidak ada lagi ikan yang bisa ditangkap.

Untuk mengatasi permasaalahan tersebut maka diperlukan langkah-langkah konservasi yang sangat segera, rehabilitasi kawasan pesisir (hutan mangrove dan terumbu karang) perlu diprioritaskan bagi daerah-daerah yang memiliki cukup dana. Bagi daerah-daerah yang kesulitan dana, kerjasama dengan pihak lembaga swadaya masyarat yang bergerak dalam pelestarian lingkungan dan perusahaan swasta nasional/internasional perlu dilakukan untuk membantu mengatasi masalah ini, keterlibatan pihak perguruan tinggi setempat juga perlu diintensifkan. Cara yang paling murah dan berdampak sangat nyata adalah dengan menetapkan beberapa kawasan yang dilindunggi (protected area) yang dipilih berdasarkan usulan masyarakat, berdasarkan kajian-kajian pihak perguruan tinggi atau lembaga penelitian lainnya, dimana pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat nelayan itu sendiri (community based conservation).

(7)

6

Pencemaran perairan

Ketua dan sekretaris senat serta para undangan yang mulia

Pencemaran yang umum terjadi dikawasan pesisir adalah tumpahan limbah minyak yang umumnya berasal dari kapal nelayan atau bahkan kapal-kapal komersil lainnya. Sungai dan laut masih diposisikan sebagai “tong sampah raksasa” penampung segala macam bentuk sampah dan polutan dari darat terutama dari aktifitas manusia.

Pada tahun 2010 lalu kami pernah melakukan survey dan kajian cepat dibeberapa tempat pendaratan ikan dibeberapa kawasan dalam Provinsi Aceh, dari data yang ada kami memprediksi lebih dari 561.000 liter oli bekas setiap tahun dibuang dan mencemari perairan pantai Aceh (Muchlisin, 2011). Beberapa penelitian juga telah mengindikasikan adanya pencemaran logam berat pada air dan biota air termasuk ikan dan kerang (Ali, 2013; Ali 2014), dapat kita dibayangkan bagaimana kondisi perairan pantai kita saat ini.

Untuk mengatasi hal tersebut maka tindakan yang diperlukan adalah menyediakan tempat-tempat penampungan oli bekas disemua TPI/PPI dan menghimbau nelayan untuk tidak membuang limbah oli bekas ke perairan. Dalam kaitan pencemaran logam berat, maka kebijakan yang perlu dilakukan adalah introduksi teknologi pertambangan emas ramah lingkungan kepada penambang tradisional yang tidak merusak lingkungan dan bebas merkuri atau bahan beracun lainnya.

Isu selanjutnya adalah:

Rumpon

Rumpon adalah salah satu alat bantu penangkapan ikan, terbuat dari dedaunan ataupun bahan sentetis lainya yang dipasang di laut baik secara permanen maupun sementara, ikan-ikan kecil menjadikannya tempat berlindung, kondisi ini memancing ikan-ikan yang lebih besar untuk hadir dan berkumpul ke kawasan rumpon untuk memangsa ikan-ikan yang kecil kecil, keadaan ini memudahkan nelayan pemilik rumpon menangkap ikan dalam jumlah yang banyak.

Yang patut kita ketahui adalah rumpon sebenarnya bukan untuk menghasilkan ikan akan tetapi digunakan untuk mengumpulkan ikan sehingga mudah ditangkap, yang menjadi permasaalahan adalah ikan-ikan semakin sulit ditemukan dikawasan lain karena sudah berkumpulkan disatu atau beberapa lokasi rumpon, kondisi ini menyebab nelayan kecil yang tidak memiliki rumpon menurun hasil tangkapannya, artinya sumberdaya perikanan hanya dikuasai oleh nelayan-nelayan besar atau pemilik modal yang mampu membeli atau membuat rumpon.

Saat ini penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan mulai banyak ditentang oleh nelayan kecil dan penggiat konservasi sumberdaya perikanan karena tidak memberikan keadilan dan merusak populasi ikan secara jangka panjang. Dalam satu pertemuan antara pemerintah dengan nelayan di salah satu kabupaten yang kami turut hadir, dilaporkan bahwa saat ini sudah sangat merajalela rumpon-rumpon nelayan asing (luar Aceh) yang ditempatkan berdekatan dengan areal penangkapan nelayan kecil (radius 4 mil), kondisi ini menyebabkan ikan-ikan pelagis kecil dan besar yang bernilai ekonomis tinggi tertahan dalam kawasan rumpon dan sangat jarang tertangkap dalam radius 4 mil tersebut, ikan-ikan tersebut menjadi target tangkapan yang sangat menguntungkan oleh para nelayan asing tersebut, nelayan kecil kita hanya gigit jari saja. Tidak jarang dilaporkan nelayan kita diancam tabrak untuk ditenggelamkan jika berani mengusik mereka, karena mereka memiliki kapal dan ABK yang berkali lipat lebih besar dari nelayan kita.

(8)

7

Patroli laut oleh pihak berwenang sangat diperlukan, namun masih banyak kendala yang dihadapi diantaranya minimnya fasilitas kapal dan dana operasional, oleh karena itu kerjasama antar pihak sangat diperlukan, misalnya TNI AL atau Airud menyediakan fasilitas kapal sedangkan Pemerintah daerah mengangarkan sejumlah dana untuk biaya operasional termasuk BBM sedangkan krunya adalah gabungan pihak KKP dan petugas keamanan laut tersebut.

Melengkapi kelompok-kelompok nelayan dengan alat komunikasi dan nomor-nomor penting aparat pengawas perikanan atau aparat penegak hukum perlu juga dipertimbangkan agar jika terjadi praktek IUU fishing (pelanggaran) di laut dapat dilaporkan secara langsung sehingga bisa diambilkan tindakan dengan segera oleh pihak berwenang. Tindakan keras Kementrian Kelautan dan Perikanan terhadap kapal-kapal asing patut kita apresiasi demi menjaga sumberdaya perikanan kita dan kedaulatan bangsa.

Modifikasi alat tangkap dan cara menangkap ikan

Hasil penelitian kami tahun 2013 di Aceh Besar terungkap bahwa hampir 80% nelayan responden menyatakan hasil tangkapan mereka menurun berbanding 5 tahun sebelumnya (Muchlisin et al., 2013), mereka juga mengakui areal penangkapan ikan semakin jauh dan ikan yang tertangkap juga semakin kecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa memang benar telah terjadi kelebihan tangkap (over fishing) di kawasan pesisir Aceh. Menghadapi kondisi ini beberapa nelayan yang bermodal besar melakukan modifikasi alat tangkap agar lebih efektif menangkap lebih banyak ikan dalam kondisi jumlah stock ikan dikawasan pesisir semakin menipis.

Cara menangkap ikan juga mengalami perubahan, diantaranya dengan cara memasang pukat disekeliling terumbu karang, diikuti oleh penyelaman dengan alat bantu compressor untuk mengusir kawasan ikan dari kawasan terumbu dan mengiringnya masuk kedalam pukat, ikan kecil dan besar semua diangkat bersih dan tidak jarang terumbu karang juga rusak oleh jaring (Personal komunikasi dengan nelayan Lhok Lampuuk, Aceh Besar). Sekali lagi nelayan kecil gigit jari!

Apa yang dapat dilakukan? Sekali lagi yang diperlukan adalah aturan (regulasi) yang mengatur tata kelola perikanan yang baik, pengaturan alat-alat tangkap yang dibolehkan dan alat tangkap yang dilarang, termasuk tatacara menangkap ikan yang diperbolehkan dan yang dilarang, jenis-jenis dan ukuran ikan yang tidak boleh ditangkap dll. Kelompok nelayan yang concern dengan tatacara yang ramah lingkungan diberi insentif dan penghargaan yang sewajarnya (misalnya “fishermen award” dan lain-lain).

Ketua Senat, anggota Senat dan hadiran sekalian, isu selanjutnya yang tidak kalah penting adalah:

Perubahan iklim global

Pemanasan global salah satunya disebabkan oleh efek rumah kaca yang disebabkan karena naiknya konsentrasi gas CO2 dan gas-gas lainnya (diantaranya Nitrogen monoksida dan Nitrogen

dioksida) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan kloro-fluorokarbon, CFC) di atmosfer. Penyebab kenaikan konsentrasi gas CO2 di atmosfer disebabkan pembakaran bahan bakar

yang berasal dari fosil and bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Isu pemanasan global merupakan salah satu isu yang sedang hangat didiskusikan akhir-akhir ini. Pemanasan global telah memicu pencairan es di kutup menyebabkan kenaikan permukaan air laut, perubahan salinitas, temperatur dan pH air laut.

(9)

8

Dampak perubahan iklim ini sangat dirasakan oleh nelayan sebagaimana diakui oleh Panglima Laot Lhok Aceh, bahwa dalam setahun terakhir hasil tangkapan nelayan menurun drastis mencapai 50% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (Harian Serambi Indonesia, 2011 dalam Muchlisin, 2011). Di perairan daratan khususnya danau, pemanasan global telah menyebabkan turunnya permukaan air danau, misalnya di Danau Laut Tawar Aceh Tengah, lebih kurang 1,5 sampai 2 meter air danau turun dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, hal ini telah menyebabkan anak-anak sungai-sungai di sekeliling danau menjadi kering, anak-anak sungai-sungai-sungai-sungai ini merupakan spawning ground

bagi bagi beberapa spesies kan termasuk ikan depik, spesies endemik di Danau Laut Tawar menyebabkan populasi ikan ini turun mencapai lebih dari 90% (Muchlisin et al., 2010; Muchlisin et al., 2011).

Perubahan iklim mempengaruhi migrasi ikan, ikan-ikan yang mampu bermigrasi akan mencari tempat yang lebih nyaman meninggalkan tempat yang terpengaruh dengan fenomena ini, sedangkan ikan-ikan yang tidak mampu bermigrasi akan melakukan adaptasi baik secara fisiologis maupun morfologis dan bagi spesies yang tidak mempu melakukan adaptasi mengalami kematian massal dan bahkan punah, dengan demikian akan mengubah perilaku, komposisi jenis dan jumlah ikan pada suatu perairan dan bukan tidak mungkin menyebabkan perairan berkenaan steril dari ikan.

Perubahan sifat-sifat kimia fisika air laut akibat perubahan iklim juga akan menyebabkan perubahan jalur migrasi ikan sehingga menyebabkan perubahan fishing ground nelayan, menyebabkan ikan gagal mencapai spawning ground dan gagal memijah, menyebabkan populasinya menurun dan bahkan punah. Kenaikan muka air laut akan mengenangi kawasan pantai, merusak kawasan pertambahan, pemukiman, hutan bakau dan terumbu karang. Kesemuanya itu berdampak pada penurunan populasi dan produksi ikan dan mengancam pasokan ikan dunia, sudah tentu mengancam keamanan pangan (food secutity) penduduk bumi.

Ketua dan sekretaris senat serta para undangan yang berbahagia, isu berikutnya adalah:

Harga Pakan Mahal

Isu utama yang sering diperbincangkan dalam industri perikanan budidaya saat ini adalah mahalnya harga pakan, kualitas bibit rendah, merajalelanya alien spesies (spesies hasil introduksi dari luar Aceh atau Indonesia), penyakit, pencemaran dan ketrampilan petani ikan masih rendah.

Pakan merupakan komponen yang paling penting dalam suatu industri budidaya perikanan, biaya pakan dapat mencapai 60-70% dari biaya produksi, oleh karena itu pemberian pakan harus dilakukan secara tepat baik dari segi jumlah, waktu maupun frekuensi pemberian sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan ikan yang maksimun dengan jumlah pakan yang seminimum mungkin, sehingga dengan demikian biaya produksi dapat ditekan dan margin keutungan yang diperoleh lebih besar.

(10)

9

Hadiran yang saya muliakan, isu lain yang juga sangat penting dalam dunia perikanan budidaya adalah:

Penyakit dan Dominansi Spesies Ikan Asing

Perikanan budidaya di Provinsi Aceh tergolong masih baru berkembang dan masih didominansi budidaya ikan air tawar dan payau. Hal ini dipandang wajar mengingat Provinsi Aceh dimasa lalu memiliki kekayaan perikanan laut masih sangat melimpah, namun saat ini kondisi sudah mulai berubah dan kita mulai melirik perikanan budidaya, sebagai starting point nya memang lebih baik kita memulai dengan perikanan air tawar atau payau karena secara umum perikanan air tawar memang lebih dahulu berkembang secara global, sehingga alih teknologi relatif cepat dan mudah serta investasinya juga relatif lebih rendah berbanding perikanan laut.

Aceh juga pernah berjaya dengan perikanan budidaya udang windu (Penaeus monodon) pada kurun 1970an- 1980an kemudian kolaps akibat dari serangan penyakit salah satunya adalah Monodon Baculovirus (MBV) yang sampai sekarang belum ada motode pengobatan yang benar-benar efektif sehingga masih menghantui para petambak khususnya petambak tradisional yang belum menerapkan

best management aquaculture practices menyebabkan hampir sebagian besar tambak rakyat di Aceh menjadi telantar (idle). Kami menduga merebaknya berbagai penyakit tidak terlepas juga dari kerusakan lingkungan akibat alih fungsi hutan bakau besar-besar menjadi tambak pada kurun 1970an – 1980an tersebut, dilain pihak masukan beban limbah dari sisa-sisa pakan dan feces udang/ikan yang menumpuk di dasar tambak atau dasar perairan tidak pernah ditangani dengan baik sehingga terakumulasi selama puluhan tahun dan menjadi media yang sangat baik bagi perkembangan berbagai jenis penyakit udang dan bahkan ikan.

Untuk mengatasi permasaalahan tersebut beberapa langkah yang dapat ditempuh adalah peremajaan tanah dasar tambak, rehabilitasi hutan mangrove, penerapan closed water circulation, teknologi biofluc, dan sistim budidaya sistim selang seling (udang – ikan – udang) yang dapat dipadukan (polikultur) juga dengan budidaya rumput laut, moluska (kerang-kerangan) lain-lain jenis organisme air yang memiliki kebiasaan dan cara makan (food and feeding habits) yang berbeda satu sama lain, yang diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas air. Model budidaya seperti ini sering disebut sebagai sistim budidaya tropic level rendah atau (Trophic Level Based Aquaculture Practices).

Pasca tsunami akhir 2014 lalu, perikanan budidaya di Provinsi Aceh mulai hidup kembali dari mati surinya, tambak-tambak yang rusak diperbaiki dan nelayan diberikan pelatihan-pelatihan dan bahkan modal. Namun sayangnya pada masa ini pula intensitas introduksi spesies ikan asing ke Aceh semakin intensif dilakukan, sehingga petani ikan kita sangat bergantung kepada ikan-ikan introduksi (alien fish species) teesebut sebagai ikan target budidaya, misalnya ikan mas (Cyprinus carpio), ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan lele dumbo (Clarias gariepinus), ikan patin (Pangsius spp.), dan akhir-akhir ini petambak juga mulai “dirayu” untuk memelihara udang Vaname dll, hal yang sama juga terjadi pada budidaya ikan hias, kami memprediksi lebih dari 75% ikan hias yang dijajakan adalah spesies hasil introduksi dari luar Aceh atau bahkan luar Indonesia. Menurut saya hal ini bukanlah salah petani ikan atau petambak 100%, akan tetapi pihak-pihak yang membina petani ikan lah yang sepatutnya yang bertangggung jawab.

Kita juga sering mendegar atau membaca kegiatan “tebar ikan” atau dalam bahasa asing disebut “restocking” ke parairan umum, danau dan bahkan laut yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu tanpa didasari hasil kajian ilmiah, padahal ikan yang ditebar tersebut sebenarnya tidak hidup atau belum pernah ditemukan di perairan berkenaan. Menurut saya ini adalah “restocking salah kaprah” dan perlu diluruskan dan pihak-pihak yang terlibat sebelumnya perlu segera melakukan evaluasi ulang program-program mereka tersebut.

(11)

10

dilepaskan ke danau, sungai atau waduk, oleh karena itu sangat rentan diselewengkan. Program

restocking sendiri sebenarnya memberi dampak positif jika dilakukan dengan benar. Sejatinya program restocking adalah kegiatan mengembalikan stock ikan yang telah menurun di alam, artinya ikan yang ditebarkan tersebut memang pada dasarnya ditemukan dan hidup di perairan tersebut, namun populasinya telah menurun tajam, sehingga terancam punah atau berdampak pada penurunan pendapatan nelayan. Kegiatan ini dilakukan juga tidak secara instan akan tetapi diperlukan waktu dan langkah-langkah bertahap, mulai dari kajian stock, penyiapan infrastruktur untuk pemuliaan jenis-jenis ikan yang terancam tersebut, domestika induk atau calon induk, pembenihan, penebaran serta monitoring dinamika populasinya. Semua langkah-langkah tersebut jarang dilakukan atau bahkan tidak pernah dilakukan di Aceh.

Para pakar konservasi sumberdaya perairan dunia umumnya sepakat bahwa introduksi suatu spesies asing pada suatu ekosistim perairan secara jangka panjang akan merugikan baik secara ekonomis maupun ekologis, oleh karena itu perlu dilakukan secara hati-hati dan dibatasi. Introduksi spesies ikan asing ke Indonesia terjadi dengan dua cara, yaitu: secara sengaja (proposes introduction) dan tanpa disengaja (insedentil introduction), yang disengaja antara lain untuk tujuan memperbanyak jenis ikan target budidaya, namun sayang akibat ketidak tahuan atau teknik budidaya yang tidak benar ikan-ikan tersebut terlepas ke perairan bebas dan berkembangbiak disana; Untuk tujuan hobbi, misalnya untuk pemancingan atau ikan hias; dan untuk pengontrolan vector penyakit, misalnya untuk membasmi jentik-jentik nyamuk pembawa malaria; sedangkan yang tidak sengaja, antara lain melalui

ballast water, yaitu air pendingin mesin kapal yang diambil dari perairan lain dan dibuang di perairan Indonesia saat kapal bersandar dan driftwood atau kayu-kayu yang hanyut dari perairan lain dan masuk ke perairan Indonesia saat banjir atau tsunami. Pada air dan kayu hanyut tersebut secara tidak sengaja ikut menempel membawa telur atau larva-larva ikan asing, menetas dan menyebar di perairan Indonesia.

Sebagai gambaran bahwa ikan nila dan ikan mujair telah diintroduksi dari habitat aslinya dari Afrika ke lebih kurang 90 negara dan 85 negara diantaranya telah melaporkan terjadi gangguan ekologis akibat kedua jenis ikan tersebut (Casal, 2000), dan menurut Invasive Species Specialist Group

bahwa ikan nila dan ikan mas telah mendapat gelar sebagai “the top hundred of the world’s most destructive invasive alien species” yaitu termasuk 100 ikan asing paling merusak di dunia (ISSG, 2004).

Dampak negatif dari introduksi spesies ikan asing ke suatu perairan antara lain; terjadi pemangsaan, persaingan dalam pemanfaatan jenis makan (diet overlap) dan ruang (kolom air), rentan sebagai agen menyebarkan penyakit dan parasit, kegagalan mendapatkan pasangan, jika terjadi kawin silang yang tidak diharapkan dengan ikan lokal akan menyebabkan ikan-ikan lokal kehilangan sifat-sifat aslinya (misalnya sifat-sifat tahan penyakit, rasa daging dll).

Sebagai ilustrasi suatu kegiatan yang sangat fenomenal dan menarik perhatian banyak saintis adalah dampak introduksi ikan nile perch (Lates niloticus) ke Danau Victoria dan Danau Kyoga di Afrika, menyebabkan produksi ikan di kedua danau menurun drastis dan kolaps pada Tahun 1985, sehingga semua nelayan terpaksa dipindahkan keluar dari kawasan tersebut karena kehilangan sumber pendapatan (Barlow dan Lisle, 1987). Dalam kontek Aceh, pada Tahun 2011 kami mencatat terdapat 10 species ikan asing di perairan Aceh dan yang paling luas penyebarannya adalah ikan nila, ikan mujair dan ikan lele dumbo (Muchlisin, 2012). Sementara dilain pihak, Indonesia dan Provinsi Aceh khususnya memiliki potensi keragaman species ikan yang sangat tinggi dan sebagian besar memiliki potensi untuk dijadikan ikan target budidaya baik untuk tujuan konsumsi maupun ikan hias.

(12)

11

(Epinephelus spp.), ikan rambea atau ikan kue (Caranx spp), kakap putih (Lates calcarifer), cabeh-cabeh atau baronang (Siganus spp.), dan lain-lain, beberapa diantaranya sudah mulai kita teliti di Unsyiah. Namun demikian, ikan yang dipilih sebaiknya adalah yang tergolong sebagai ikan herbivora agar ketergantungan pada pakan dengan kandungan protein tepung ikan dapat dikuranggi.

Dalam jangka pendek dominansi ikan-ikan asing tersebut sudah tentu tidak dapat dihilangkan serta merta, perlu dilakukan secara bertahap, hal ini mengingat sebagian besar petani ikan kita sudah begitu akrab dengan ikan-ikan alien tersebut. Yang diperlukan adalah adanya (sekali lagi) regulasi yang mengatur mekanisme dan membatasi atau bahkan melarang pemasukan spesies ikan asing ke Aceh khususnya dan Indonesia umumnya dimasa depan, dan mengendalikan penyebaran lebih lanjut spesies ikan asing yang sudah terlanjur ada.

Menurut saya perlu ada komitmen yang tinggi terutama dari stakeholder terkait untuk memberdayakan potensi spesies ikan dan udang lokal, tentunya yang memiliki nilai ekonomis tinggi baik di pasar lokal maupun internasional.

Tindakan yang dapat dilakukan dalam upaya menjadikan ikan lokal sebagai ikan target budidaya yang diminati oleh petani ikan sehingga bisa menjadi tuan rumah di rumah sendiri, adalah mendorong pemerintah daerah dan perguruan tinggi khususnya Unsyiah untuk menyediakan dana penelitian yang cukup sehingga akan dihasilkan teknologi pembenihan, teknologi pakan dan teknologi pembesaran yang mapan. Sejauh ini permintaan ikan-ikan lokal, misalnya ikan keureling di pasar lokal masih sangat tinggi dan sulit dipenuhi, namun demikian pembukaan akses ke pasar global juga perlu mendapat perhatian dari pihak terkait sehingga jika suatu saat nanti teknologi tepat guna ini telah berkembang dan produksi massal sudah dapatdilakukan dan kebutuhan pasar lokal telah terpenuhi maka kelebihannya dapat diekspor.

Patut kita sadari bahwa ikan-ikan introduksi yang kita kenal saat ini seperti ikan lele dumbo, ikan nila dan ikan mas telah dikaji berpuluh-puluh tahun lamanya oleh peneliti-peneliti khususnya di negara-negara asal ikan tersebut, sehingga dihasilkan ikan-ikan tersebut yang kita kenal sekarang sebagai ikan yang mudah dipelihara, cepat besar, tahan penyakit dan seterusnya, ini tidak lain adalah buah dari kerja keras dari peneliti sebelumnya. Oleh karena itu penelitian-penelitian dasar tentang bio-ekologi, pola reproduksi, pertumbuhan, kebiasaan makanan, penyakit dan domestikasi adalah penting dilakukan dalam upaya menjadikan ikan lokal yang masih liar menjadi ikan target budidaya yang diminati.

Rekruitmen tenaga penyuluh perikanan dan menempatkan mereka langsung dengan masyarakat juga perlu ditingkatkan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan nelayan dan kesadaran akan pentingnya menerapkan cara-cara penangkapan dan budidaya ikan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sedikit saya ingin menyinggung industri pengolahan hasil perikanan di Aceh, bahwa dalam bidang industri pengolahan ikan Provinsi Aceh masih jauh tingggal baik dari segi teknologi maupun inovasi jenis olahannya. Kita masih bertumpu pada industri rumah tangga dengan teknologi tradisional dan belum dikelola dengan baik sehingga kualitas olahan masih rendah, jenis olahan juga masih terbatas pada ikan asin, ikan peda, ikan kayu dan ikan teri.

(13)

12

Kesimpulan

Provinsi Aceh memiliki memiliki potensi perikanan yang besar namun belum dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, hal ini disebabkan oleh berbagai macam persoalan yang telah diuraikan diatas dan perlu segera dituntaskan. Sektor Kelautan dan Perikanan merupakan modal dan asset Aceh untuk pembangunan dan mensejahterakan masyarakat Aceh dimasa depan. Aceh sangat berpotensi menjadi inti dari poros maritim dunia sebagaimana yang telah dicanangkan oleh pemerintah RI. Oleh karena itu kerjasama semua pihak baik pemerintah, swasta, LSM dan perguruan tinggi mutlak diperlukan agar tujuan tersebut dapat tercapai sehingga akan berdampak kepada peningkatan taraf hidup nelayan khususnya dan masyarakat Aceh umumnya.

Ucapan Terimakasih

Ketua & anggota senat serta para undangan yang mulia

Pada kesempatan ini sebelum saya mengakhiri pidato pengukuhan, perkenankan saya sekali lagi mengucapkan puji dan syukur alhamdullah ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menggali sedikit ilmu yang Allah berikan sehingga dianugrahi jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar di Fakultas Keluatan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, bagi kami Guru Besar bukan lah tujuan akhir, akan tetapi menjadi cambuk untuk terus berkerja lebih keras dan lebih produktif lagi demi kejayaan keluarga, universitas yang kita cintai ini dan tentunya masyarakat khususnya nelayan dan petani ikan, Insha Allah.

Ucapan terima kasih senantiasa disampaikan kepada pemerintah khususnya jajaran Kementerian Teknologi Riset dan Pendidikan Tinggi, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal, M.Eng dan Dekan FKP Prof. Adlim. Proses pengusulan Guru Besar dimulai dari unit terkecil yaitu program studi, fakultas, universitas dan Dikti melibatkan banyak pihak termasuk tiga reviewer eksternal, yaitu Prof. Usman M. Tang dari Universitas Riau, Pekanbaru, Prof. M.F. Rahardjo dari IPB Bogor dan Prof. Ambo Tuwo dari Universitas Hasanuddin, mereka adalah pakar-pakar kelautan dan perikanan yang memiliki reputasi nasional dan internasional. Karena itu ucapan terima kasih dan penghargaan senantiasa saya berikan kepada semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak mungkin disebutkan satu per satu dalam kesempatan ini, termasuk semua sahabat dan kolega saya di FKP Unsyiah.

Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada semua guru-guru saya mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, para dosen pembimbing akademik saya mulai dari S1 hingga S3, yaitu Dra. Idasari Boer, MS dan Alm. Dr. Zulkifli, M,Sc dari Universitas Riau, Prof. Roshada Hashim dari USM dan yang spesial untuk Prof. Siti Azizah dari Universiti Sains Malaysia pembibing saya saat mengambil program Doktor di USM Penang. Semoga ilmu dan amal jariah beliau semua mendapat pahala di sisi Allah SWT. Selain para pembimbing akademik, saya berutang budi kepada almarhum Bapak Prof. Dayan Dawood, Kakanda Drs. Azwir, M.Kn dan Bapak Prof. Syamsul Rizal, yang telah banyak membantu dan mempromosikan saya hingga menjadi dosen di Unsyiah sampai dianugerahi jabatan akademik Guru Besar. Semoga Allah membalasnya juga dengan pahala yang melimpah.

Hadirin dan hadirat yang mulia

Kebahagian hari ini berkat Rahmat Allah serta hasil dari perjuangan masa lalu terutama yang dilakukan oleh kedua orang tua saya. Karena itu ucapan terima kasih yang tulus saya persembahkan kepada ayahanda saya H. Zainal Abidin Djafaris dan ibunda saya Hj. Nursiah yang selalu senantiasa mendoakan saya agar sukses di dunia dan di akhirat.

(14)

13

keberhasilan ini kepada kalian sekaligus mohon maaf atas kealpaan memberikan perhatian, bimbingan dan kasih sayang. Ayahanda doakan mudah-mudahan kalian menjadi anak yang saleh berbakti kepada kedua orang tua, berguna bagi agama dan bangsa.

Saya juga ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada isteri saya terdahulu yang telah mendahului kami menghadap Allah dalam musibah maha dahsyat tsunami tahun 2004 lalu, yaitu Alm. Rita Rahim dan kedua anak-anak saya Alm. Muhammad Daffa dan Alm. Muhammad Danish yang telah banyak berkorban diawal-awal karir saya sebagai dosen di Unsyiah. Semoga mereka semua balasan syurga dari Allah SWT.

Ucapan terimakasih yang tulus juga saya sampaikan kepada bapak dan ibu mertua saya Bapak H. Azhar dan Ibunda Andian, serta Ayahanda Alm. H. Sudirman, alm. Papanda H. Abdurrahim dan Almh ibunda Hj. Rusmini, atas doa dan bimbingannya sehingga kami berhasil. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlimpah.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada adik-adik saya, Yusnaida, Afrizal, Rahmad, Irham dan almh. Alvina. Kakak dan adik ipar saya Hendra, Suci, Nurul, Uning Teti, Sugeng, Eva dan Syawaril.

Dorongan semangat dan kerjasama dari sahabat-sahabat saya yang datang dari jauh dan hadir diruangan ini maupun yang tidak dapat hadir juga saya ucapkan terimakasih. Kepada mahasiswa-mahasiswa saya baik mahasiswa-mahasiswa S1, S2 dan S3 yang telah banyak membantu saya dalam melakukan penelitian baik dilapangan maupun di laboratorium sangat saya hargai dan saya bangga dengan anda semua, semoga kesuksesan juga menyertai kalian semua. Akhirnya kepada seluruh civitas akademika, undangan dan hadirin yang terhormat, saya ucapkan terima kasih atas perhatian dan kesabaran mengikuti ucapara pengukuran guru besar ini. Mohon maaf atas segala kekurangan, semoga Allah selalu memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua. Amin ya rabbal alamin,

Wassalamualaikum warahmatullahi Warabarakatuh

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. 2012.

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1dandaftar=1danid_subyek=23dannotab=1.Tangg al akses, 18 Agustus 2012.

Barlow, C.G and A. Lisle. 1987. Biology of the nile perch Lates niloticus (Pisces: Centropomidae) with reference to its proposed role as a sport fish in Australia. Biological Conservation, 39:269-289.

Bryant, D., D. Nielsen and L. Tangley. 1997. The last frontier forests: ecosystems & economies on the edge. Technical report, World Resources Institute, Forest Frontiers Initiative, Washington, DC. Casal, C.M.V. 2006. Global documentation of fish introductions: the growing crisis and

recommendations for action. Biological Invasions, 8: 3–11.

Herdiana, Y. 2010, Lunturnya Terumbu Karang Kami, http://majalah.tempointeraktif.com/, diakses tanggal 12 November 2010.

ISSG. 2004. 100 of the world’s worst invasive alien species. http://www.issg.org/booklet.pdf. November 29, 2008.

Mardira, S. 2015. Miliki potensi 1,8 juta/ton, perikanan Aceh baru tergarap 10%.

http://economy.okezone.com/read/2014/03/09/320/952272/miliki-potensi-1-8-juta-ton-perikanan-aceh-baru-tergarap-10. Diakses pada 4 Februari 2015.

Muchlisin, Z.A., Q. Akyun, S.Rizka, N. Fadli, M.N. Siti-Azizah. 2015. Ichthyofauna of Tripa Peat Swamp Forest, Aceh Province, Indonesia. CheckList, 11(2): 1560.

(15)

14

Muchlisin, Z.A. N. Fadli, A.M. Nasution, R. Astuti. 2013.Catatan Penelitian: Persepsi nelayan terhadap kebijakan subsidi perikanan dan konservasi di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Depik, 2(1): 33-39.

Muchlisin, Z.A. 2012. The first report on the introduced freshwater fishes in Aceh waters, Indonesia. Archives of Polish Fisheries, 20(2): 129-135.

Muchlisin, Z.A., N. Fadli, A.M. Nasution, R. Astuti, Marzuki, D. Amuni. 2012. Analisis subsidi bahan bakar minyak (BBM) solar bagi nelayan di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Depik, 1(2): 107-113.

Muchlisi, Z.A. 2011. Tantangan pengembangan sumberdaya manusia di sektor kelautan dan perikanan di Provinsi Aceh. Makalah di sampaikan pada Konsultasi Regional (Konreg) “Produk Domestik Regional Bruto dan Informasi Sosial Ekonomi (PDRB-ISE) Wilayah Se-Sumatra Tahun 2011” Banda Aceh, 22-24 Juni 2011.

Muchlisin, Z.A., N. Fadli, E. Rudi, T. Mendo, M.N. Siti Azizah. 2011. Estimation of production trend of the depik, Rasbora tawarensis (Teleostei, Cyprinidae), in Lake Laut Tawar, Indonesia. AACL Bioflux, 4(5): 590-597.

Muchlisin, Z.A., M. Musman and M.N. Siti Azizah. 2010. Spawning seasons of Rasbora tawarensis in Lake Laut Tawar, Aceh Province, Indonesia. Reproductive Biology and Endocrinology, 8:49. Muchlisin, Z.A. and M.N. Siti-Azizah. 2009. Diversity and distribution of freshwaters fish in Aceh

waters Northern Sumatera Indonesia. International Journal of Zoological Research, 5(2): 62-79. Mussawir. 2009. Analisis masalah kemiskinan nelayan tradisional di Desa Padang Panjang Kecamatan

Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam. Tesis Magisyer Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Purnamawati, D. 2007. Selamatkan hutan Aceh dengan moratorium logging. Harian Berita Sore, Edition 7 June 2007.

Rudi, E., S.A. Elrahimi, T. Kartawijaya, Y. Herdiana, F. Setiawan, P. Shinta, S.J. Campbell, J. Tamelander. 2009. Reef fish status in northern Acehnese reef based on management type. Biodiversitas, 10: 87–92.

Rudi, E., T. Iskandar, N. Fadli, H. Hidayati. 2012. Impact of mass coral bleaching on reef fish community and fishermen catches at Sabang, Aceh Province, Indonesia. Aquaculture, Aquarium, Conservation & Legislation Bioflux, 5(5): 309-320.

Sarong, M.A., Muchlisin, Z.A., Jihan, C and Fadli, N. 2014. Lead, cadmium and zinc contamination on the oyster (Crosastrea sp) harvested from estuary of Lamnyong River, Banda Aceh city, Indonesia. AACL Bioflux, 8(1): 1-6.

Ali Sarong, Muchlisin Z.A. Mawardi A.L., Adlim M. 2013. Cadmium concentartion in three species of freshwater fishes from Keureto River, Northern Sumantra, Indonesia. AACL Bioflux 6(5):486-491.

(16)

15

BIODATA

A. Data Pribadi

Nama lengkap : Prof. Dr. Muchlisin Z.A., S.Pi, M.Sc

Jabatan Fungsional : Guru Besar

Jabatan Struktural : Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Kelautan dan Perikanan

Universitas Syiah Kuala

NIP : 197109111999031003

NIDN : 0011097102

Tempat dan Tanggal Lahir : Banda Aceh, 11 September 1971

Alamat Rumah : Lr. Tgk Diteupin Lr. Geulumpang Desa Meunasah Papeun Kec. Kr.

Barona Jaya, Aceh Besar, Provinsi Aceh

Alamat Kantor : Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala, Kopelma

Darussalam, Banda Aceh 23111, Provinsi Aceh.

Alamat Email : [email protected]

Nama Isteri : Nelly Feryanti, S.Pd

Nama Anak : Muhammad Fayyaz Almizan

Muhammad Farel Alazizia

Nama Ayah : Zainal Abidin Djafaris

Nama Ibu : Nursiah

B. Riwayat Pendidikan

S1 S2 S3

Nama Perguruan Tinggi Universitas Riau Universiti Sains Malaysia Universiti Sains Malaysia

Bidang Ilmu Budidaya Perairan Budidaya Perairan Ichthyology

Tahun Masuk - Lulus 1991 - 1996 2001 - 2003 2009 – 2011

Judul

Skripsi/Thesis/Disertasi

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan jambal siam (Pangasius sutchi) pada pakan alami dan pakan buatan yang mengandung ezim additive

Sperm Cryopreservation and evaluation of dietary protein of bagrid catfish (Mystus

nemurus) sperm female

broodstock

Diversity of freshwater fishes in Aceh waters with

emphasis on several biological aspects of depik

(Rasbora tawarensis) the endemic and threatened fish

in Lake Laut tawar, Indonesia

Nama Pembimbing Drs. Idasari Boer, M.S

& Dr. Zulkifli

Prof. Dr. Roshada Hashim Prof. Dr. Siti Azizah

c. Riwayat Jabatan Akademik

No Jabatan Fungsional TMT Tanggal SK

1 Asisten Ahli 01-01-2001 31-12-2000

2 Lektor 01-07-2004 30-06-2004

3 Lektor Kepala 01-04-2008 31-03-2008

4 Guru Besar 01-06-2014 30-09-2014

d. Riwayat Kepangkatan

No Pangkat Gol Ruang TMT Masa Kerja Golongan

1 Penata Muda (Gol. III/a) 01-03-1999 0 Tahun 0 Bulan

2 Penata Muda Tk. I (Gol. III/b) 01-10-2003 4 Tahun 7 Bulan

3 Penata (Gol. III/c) 01-04-2006 7 Tahun 1 Bulan

4 Penata Tk. I (Gol. III/d) 01-10-2008 9 Tahun 7 Bulan

5 Pembina (Gol. IV/a) 01-04-2011 12 Tahun 1 Bulan

(17)

16

e. Tanda Penghargaan

No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun

1 Dosen Teladan I Universitas Syiah Kuala Universitas Syiah Kuala 2013

2 Motivator Mutu BJM Universitas Syiah Kuala 2013

3 Sanggar Sanjung: Best student publication category

Universiti Sains Malaysia 2010

4 Best poster presentation Dikti 2004

5 Sanggar Sanjung: Best student publication category

Universiti Sains Malaysia 2003

f. Keanggotaan Profesi

No Organisasi Profesi Tempat Tahun

1 Asian Ichtyological Society Malaysia 2013 - sekarang

2 Indonesian Ichthyological Society Indonesia 2010 – sekarang

3 Indonesia Aquaculture Society Indonesia 2013 – sekarang

4 Indonesian Biodiversity Society Indonesia 2011 – sekarang

5 Malaysian Genetic Society Malaysia 2010 - 2011

g. Pengalaman di Bidang Penelitian

No Tahun Judul Penelitian Pendanaan

Sumber Jumlah (Juta

Rp

1 2015 Pemacuan Pertumbuhan Ikan Kuereling (Tor tambra)

Spesies Ekonomis Tinggi Yang Terancam Punah Melalui Aplikasi Teknologi Tepat Guna Probiotik

BOPTN Unsyiah 85

2 2015 DNA Barcoding ikan-ikan karang ekonomis penting dari

perairan Sabang Provinsi Aceh

PIU 7 in 1 100

3 2014 Visiting Professor di National Ocean University PIU 7 in 1 50

4

2013-2015

Genetic population of halfbeak fishes in Indonesia Malaysia -

Australia

160

5 2013 Fish biodiversity of Rawa Tripa Peat Swamp PIU Sert UNDP 50

6

2012-2014

Pengembangan budidaya ikan air tawar berbasis ikan lokal ekonomis tinggi

DIKTI 500

7 2012 Bio-ekologi ikan keureling (Genus Tor) sebagai upaya

pengembangan dan konservasinya

DIKTI 50

8 2011 Pemetaan potensi pengembangan kawasan minapolitan

di koridor ekonomi Sumatra

DIKTI 100

9 2009 Evaluation of conservation status of depik (Rasbora tawarensis) in Lake Laut Tawar, Aceh, Indonesia

MBZ Species Conservation

50

10 2008 Fish diversity in Aceh Province and Leuser Ecosystem Paneco YEL 30

11 2007 Feeding technique of mud crab (Scylla serrata) BRR 75

12 2007 Feasibility study of aquaculture development planning in Sampoinit subdistrict, Aceh Jaya

World Fish Center 30

13 2006 Assessment of coral reef condition in Sabang after tsunami

Unesco 80

14 2005 Assessment of fishery and wetland potencies in Aceh

Utara and Lhokseumawe

Wetland International

45

15 2005 Assessment of coastal pond damage along east coast of

Aceh, NAD after tsunami

World Fish Center 25

16 2005 Assessment of Islamic boarding schools potencies along

west coast.

Ausaid 25

17 2005 Rapid assessment on fisherman needs along west coat of

Aceh, NAD

Oxfan 50

18 2002 Effect of different baits on the fishing catch of Mud Crab (Scylla serrata)

(18)

17

h. Pengalaman Dalam Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat

No Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat

Pendanaan

Sumber Jumlah (Juta

Rp

1 2014 Teknik budidaya ikan air tawar ekonomis tinggi di Kec.

Beutong Nagan Raya.

DIKTI 50

2 2013 Pelatihan transplantasi terumbu karang bagi nelayan di Pantai Wisata Lampuuk

DIKTI 50

3 2012 Introduksi teknologi pakan buatan bagi petani

pembudidaya ikan keureling di Beutong, Nagan Raya

DIKTI 50

4 2011 Pelatihan budidaya ikan air tawar bagi pemuda putus

sekolah di Waduk Pekeliling, Aceh Besar.

Yayasan 25

5 2007 -

2008

Coastal forestry rehabilitation and livelihood in Blang Mangat sub district, Lhokseumawe

Wetland International

350

6 2007 A Fish feed formulation training for Kuala Lagean fish farmer

World Vision 30

7 2007 The Silvo-fishery program in Punteat village, Aceh Utara Wetland

International

75

8 2006 Coastal forestry rehabilitation in Samatiga subdistrict, Aceh Barat

Wetland International

75

9 2005 Using coastal pond unused for culturing mud crab in Pidie sub district, district of Pidie

DIKTI 25

10 2004 Poly-culture of grouper and tilapia in cage on the coastal pond in Baet village Baitussalam sub district.

DIKTI 10

i. Publikasi Ilmiah (Jurnal)

No Judul Artikel Nama Jurnal/Vol/Hal/ (Kategori)

1 Muchlisin, Z.A., Z. Fuadi, N. Fadli, S. Sugianto. 2015. The first and

preliminary report on the Asian fish tapeworm infection on the local mahseer fish (Tor tambra) in Nagan Raya District, Aceh Province, Indonesia.

Submitted to Bulgarian Journal of Veterinary Medicine (In Press

Scopus indexed)

2 Muchlisin, Z.A. Rinaldi F., Fadli N., AdlimM. and HendriA. 2015. Food preference and diet overlap of two endemic and threatened freshwater fishes, depik (Rasbora tawarensis) and kawan (Poropuntius tawarensis) in Lake Laut Tawar, Indonesia.

AACL Bioflux 8(1):40-49.

3 Muchlisin, Z.A., Arisa A.A., Fadli N, Muhammadar AA, Arisa I.M..

2015. Growth and feed Conversion of keureling fish (Tor tambra) larvae at different doses of vitamin E in the formulated diet

Submitted to AACL Bioflux (International + Scopus indexed)

4 Syaifullah, S., H. Fajri, D. I. Roesma, Z. A. Muchlisin. 2015. Morphometric variation of halfbeak fish (Zenarchopterus buffonis) from estuary of West Sumatra, Indonesia.

Submitted to AACL Bioflux (International + Scopus indexed)

5 Nasution, S.H., S. Sulastri, Z.A. Muchlisin. 2015. Endemic ichthyofauna diversity, distribution, and its habitat in ancient Lake Towuti, South Sulawesi, Indonesia.

Submitted to AACL Bioflux (International + Scopus indexed)

6 Muchlisin, Z.A., Misrawati, N. Fadli, I. Dewiyanti, S. Purnawan.

2015. Growth performance, survival and feed efficiency of climbing perch (Anabas testudineus) larvae fed zooplankton.

Submitted to AACL Bioflux (International + Scopus indexed)

7 Rahmawati, R., M. A. Sarong, Z. A. Muchlisin. 2015. Diversity of Gastropods in Mangrove Ecosytem of Western Coast of Aceh Besar District, Indonesia

(19)

18

8

Muchlisin, Z.A., Batubara, A.S., Fadli, N., Adlim, N., Sugianto S,

Muhammadar AA, Hendri A. 2015. Feeding habit and length weight relationship of keureling fish, Tor tambra Valenciennes, 1842 (Cyprinidae) the thethreatened mahseer from the western region of Aceh Province, Indonesia

Biodiversitas, 16(1): 89-94 (International – Scopus indexed)

9 Muchlisin, Z.A.,Q. Akyun, S.Rizka, N. Fadli, M. N. Siti-Azizah.

2015. Ichthyofauna of Tripa Peat Swamp Forest, Aceh Province, Indonesia

CheckList, 11(2): 1560

(International + Scopus indexed)

10 Muchlisin, Z.A., Batubara, A.S., Siti-Azizah, M.N. Adlim, M.,

Hendri, A., Fadli. 2015. Feeding habit, reproduction and length weight relationship of thethreatened Acehnese mahseer, Tor tambra

Valenciennes, 1842 (Cyprinidae) from the western region of Aceh Province, Indonesia.

AACL Bioflux, 8(1):40-49 (International + Scopus indexed)

11 Muchlisin, Z.A., NadiahW.N., Nadiya N, Fadli, N. and Siti-Azizah,

M.N. 2014. Exploration of natural cryoprotectants for

cryopreservation of African catfish, Clarias gariepinus, Burchell 1822 (Pisces: Clariidae) spermatozoa

Czech Journal of Animal Science, 60(1): 10-15 (International +

Scopus indexed + IF)

12 Sarong, M.A., Muchlisin, Z.A., Jihan, C and Fadli, N. 2014. Lead, cadmium and zinc contamination on the oyster (Crosastrea sp) harvested from estuary of Lamnyong River, Banda Aceh city, Indonesia

AACL Bioflux, 8(1): 1-6 (International + Scopus indexed)

13 Muchlisin, Z.A. G. Arfandi, N. Fadli 2014. Induced breeding of

seurukan fish (Osteochillus hasselti) using ovaprim, oxytocin and chicken pituitary gland extracts

AACL Bioflux, 7(5): 1-6 (International + Scopus indexed)

14 Muchlisin, Z.A., B. Zulkarnaini, S. Purnawan, A. Muhadjier, N.

Fadli, S.H. Cheng. 2014. Morphometric variations of three species of harvested cephalopods ound in northern sea of Aceh Province, Indonesia

Biodiversitas, 15(2):142-146 (International + Scopus indexed)

15 Fadli N., Muchlisin Z. A., Affan M., Rahimi S. A. E., 2014. The status of coral reefs in Aceh Besar district, Aceh Province, Indonesia

AACL Bioflux 7(5):365-371 (International + Scopus indexed)

16 Muchlisin, Z.A., Munazir, A.M., Fuadi,Z., Winaruddin,W., Adlim,

M., Hendri, A. 2014. Prevalence of ectoparasites on keureling fish the Acehnese mahseer, Tor tambra (Pisces: Cyprinidae) from aquaculture ponds and wild population of Nagan Raya District, Indonesia

Human and Veterinary Medicine, 6(3):148-152. (International +

Scopus indexed)

17 Muhammadar, A.A., Mazlan, A.G., Samat, A., Asmawati, M.S.,

Muchlisin, Z.A., Rimmer, M.A. ,Simon, K.D. 2014. Growth, survival

and feed conversion of juvenile tiger grouper Epinephelus fuscoguttatus in different salinity regimes

AACL Bioflux 7(4):241-247. (International + Scopus indexed)

18 Muchlisin, Z.A., Muhadjier, A., Zulkarnaini B, Purnawan, S., Cheng,

S.H. dan Setiawan, I. 2014. Hubungan panjang berat dan faktor kondisi tiga spesies cumi hasil tangkapan nelayan di perairan laut aceh bagian utara.

Bionatura, 16(2): 72-77.

19 Muchlisin, Z.A. 2014. A general overview on some aspects of fish

reproduction

Aceh International Journal of Science and Technology, 3(1): 43-52 (International)

20 Muchlisin, Z.A. S. Mastura, A. Asraf, N. Fadli, A. Hendri, M. N.

Siti-Azizah. 2014. A preliminary study to evaluate the effects of powder milk solution on the eggs adhesiveness and fertilization rates of African catfish, Clarias gariepinus

AACL Bioflux 7(1):15-19 (International + Scopus indexed)

21 Asraf, A., Z.A. Muchlisin, M.N. Siti Azizah. 2014. Removal of Eggs Adhesiveness of African catfish (Clarias gariepinus) at Different Concentrations of Urea Solution

Aceh International Journal of Science and Technology, 2(3): 94-97 (International)

22 Cheng, S.H., F. E. Anderson, A. Bergman, G. N. Mahardika, Z. A.

Muchlisin, B. T. Dang, H. P. Calumpong, K. S. Mohamed, G.

Sasikumar, V. Venkatesan, P. H. Barber. 2014. Molecular evidence for co-occurring cryptic lineages within the Sepioteuthis cf. lessoniana species complex in the Indian and Indo-West Pacific Oceans

(20)

19

23 Muchlisin, Z.A. 2013. Morphometric Varations of Rasbora Group

(Pisces: Cyprinidae) in Lake Lawar, Aceh Province, Indonesia

Hayati Journal of Biosciences, 20(3): 138-143 (Accredited by DGHE)

24 Muchlisin, Z.A. 2013. Study on potency of freshwater fishes in Aceh

waters as a basis for aquaculture and conservation development programs

Jurnal Iktiologi Indonesia, 13(1): 91-96 (Accredited by DGHE)

25 Dewi, C.D., Muchlisin, Z.A., Sugito. 2013.Pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) pada konsentrasi tepung daun jaloh (Salix tetrasperma Roxb) yang berbeda dalam pakan

Depik, 2(2): 45-49

26 Muchlisin, Z.A. 2013. Distributions of the endemic and threatened

freshwater fish depik, Rasbora tawarensis Weber & de Beaufort, 1916 in Lake Laut Tawar, Aceh Province, Indonesia

Songklanakarin J. Sci. & Technol, 35(4): 483-488 (International –

Scopus indexed)

27 Muchlisin, Z.A., Z. Thomy, N. Fadli, M.A. Sarong and M.N.

Siti-Azizah. 2013. DNA barcoding of freshwater fishes from Lake Laut Tawar, Aceh Province, Indonesia.

Acta Ichthyologica et Piscatoria, 43(1):21-29 (International –

Scopus indexed – IF)

28 Muchlisin, Z.A., N. Fadli, R. Astuti, Marzuki. 2013. Persepsi nelayan

terhadap kebijakan subsidi perikanan dan konservasi di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh

Depik, 2(1): 33-39

29 Ali Sarong, Muchlisin Z.A. Mawardi A.L., Adlim M. 2013. Cadmium concentartion in three species of freshwater fishes from Keureto River, Northern Sumantra, Indonesia

AACL Bioflux 6(5):486-491 (International – Scopus indexed)

30 Fadli, N., Kunzmann A., von Jutarzenka K., Rudi E., Muchlisin Z. A.,

2013. A preliminary study on the coral recruitment coral rubbles subtrate in Seribu Island waters, Indonesia

AAC Bioflux, 6(3): 246-252 ((International – Scopus indexed)

31 Zuraidha Yanti, Muchlisin Z.A., Sugito. 2013. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan nila (Oreochromis niloticus) pada beberapa konsentrasi tepung daun jaloh (Salix tetrasperma) dalam pakan

Depik, 2(1): 16-19

32 Jannah, R., Muchlisin, Z.A. 2012. Komunitas fitoplankton di daerah estuaria Krueng Aceh, Kota Banda Aceh.

Depik, 1(3): 189-195

33 Muhammadar, A.A., A.G. Mazlan, A. Samat, K.D. Simon, M.S. Asmawati, Z. A. Muchlisin, M. Rimer. 2012. Feed digestion rates of tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) juvenile.

AACL Bioflux, 5(5): 356-360 (International – Scopus indexed)

34 Muchlisin, Z.A., N. Fadli, A.M. Nasution, R. Astuti, Marzuki, D.

Amuni. 2012. Analisis subsidi bahan bakar minyak (BBM) solar bagi nelayan di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Depik, 1(2): 107-113.

35 Nayaya, A.J., M. Nor Siti-Azizah, Innocent A. Adikwu, Williams A. Istifanus, Abalis G. Ezra, Z. A. Muchlisin. 2012. Diversity and distribution of fishes of Gaji River, Bauchi State, Nigeria.

AES Bioflux, 4(2): 50-58 (International)

36 Natsir, S.M. and Muchlisin, Z.A. 2012. Benthic foraminiferal assemblages in Tambelan Archipelago, Indonesia.

AACL Bioflux, 5(4): 259-264 (International – Scopus indexed)

37 Muchlisin, Z.A. 2012. The first report on the introduced freshwater

fishes in Aceh waters, Indonesia.

Archives of Polish Fisheries, 20(2): 129-135 (International –

Scopus indexed)

38 Muchlisin, Z.A., N. Fadli and M.N. Siti-Azizah. 2012. Genetic

variation and taxonomy of Rasbora group (Cyprinidae) from Lake Laut Tawar, Indonesia.

Journal of Ichthyology, 52(4): 284-290 (International – Scopus

indexed - IF)

39 Muchlisin, Z.A., M. Musman and M. Nazir. 2012. Pemetaan potensi

daerah untuk pengembangan kawasan minapolitan di beberapa lokasi dalam Provinsi Aceh: suatu kajian awal.

Depik, 1(1): 68-77.

40 Putra, D.F., A.B. Abol-Munafi, Z.A. Muchlisin, J. Chen. 2012. Preliminary studies on morphology and digestive tract development of tomato clownfish, Amphiprion frenatus under captive condition

AACL Bioflux, 5(1): 29-35 (International – Scopus indexed)

41 Mulfizar, Z.A. Muchlisin, I. Dewiyanti. 2012. Hubungan panjang berat dan faktor kondisi tiga jenis ikan yang tertangkap di perairan Kuala Gigieng, Aceh Besar, Provinsi Aceh.

(21)

20

42 Muchlisin, Z.A. 2011. Analisis kebijakan introduksi spesies ikan asing

di perairan umum daratan Provinsi Aceh.

Jurnal Kebijakan & Riset Sosek Kelautan dan Perikanan, 1(1): 79-89.

43 Muchlisin, Z.A., M. Musman and M.N. Siti Azizah. 2011. Depik, Eas

and Relo yang manakah Rasbora tawarensis?

Jurnal Iktiologi Indonesia, 11(1):93-98 (Accredited by DHE)

44 Muchlisin, Z.A., N. Fadli, E. Rudi, T. Mendo, M.N. Siti Azizah. 2011.

Estimation of production trend of the depik, Rasbora tawarensis

(Teleostei, Cyprinidae), in Lake Laut Tawar, Indonesia.

AACL Bioflux, 4(5): 590-597 ((International – Scopus indexed)

45 Muhammadar, A.A., A. G. Mazlan, A. Samad, Z.A. Muchlisin and K.D. Simon. 2011. Crude protein and amino acids content in some common feed of tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) juvenile.

AACL Bioflux, 4(4): 499-504 (International – Scopus indexed)

46 Muchlisin Z.A., M. Musman, N. Fadli and M.N. Siti-Azizah. 2011.

Fecundity and spawning frequency of Rasbora tawarensis (Pisces: Cyprinidae) an endemic species from Lake Laut Tawar, Aceh, Indonesia.

AACL Bioflux, 4(3): 273-279 ((International – Scopus indexed)

47 Muchlisin, Z.A., M. Musman and M.N. Siti Azizah. 2010.

Length-weight relationships and condition factors of two threatened fishes,

Rasbora tawarensis and Poropuntius tawarensis, endemic to Lake Laut Tawar, AcehProvince, Indonesia.

Journal of Applied Ichthyology, 26: 949-953 (International -

Scopus + IF)

48 Muchlisi, Z.A., N. Nadiya, W.N. Nadiah, M. Musman and M.N. Siti

Azizah. 2010. Preliminary study on the natural extenders for artificial breeding of the African catfish (Clarias gariepinus)

AACL Bioflux, 3(2): 119-124 (International – Scopus indexed)

49 Jamsari, A.F.J., Z.A. Muchlisin, M. Musman and M.N. Siti Azizah.

2010. Remarkably low genetic variation but high population differentiation in the climbing perch, Anabas testudineus

(Anabantidae), based on the mtDNA control region.

Genetic and Molecular Research, 9(3): 1836-1843 (International -

Scopus + IF)

50 Muchlisin, Z.A., M. Musman and M.N. Siti Azizah. 2010. Spawning

seasons of Rasbora tawarensis in Lake Laut Tawar, Aceh Province, Indonesia

Reproductive Biology and Endocrinology, 8:49

(International - Scopus + IF)). 51 Firdus and Z.A. Muchlisin. 2010. Tingkat degradasi kotoran dan

kualitas air septic tank dengan menggunakan starbioR dan ikan lele sebagai bio-degradator.

Jurnal Natural, 10(1): 1-6.

52 Muchlisin, Z.A. 2009. Studi pendahuluan kualitas air untuk

pengembangan budidaya perikanan di Kecamatan Sampoinit Aceh Jaya pasca tsunami.

Biospesies, 2(1): 10-16

53 Muchlisin, Z.A. and M.N. Siti-Azizah. 2009. Diversity and

distribution of freshwaters fish in Aceh waters Northern Sumatera Indonesia.

International Journal of

Zoological Research, 5(2): 62-79 (International – Scopus indexed)

54 Muchlisin, Z.A. and M.N. Siti-Azizah. 2009. Effect of cryoprotectant

on abnormality and motility of bagrid catfish (Mystus nemurus) spermatozoa.

Cryobiology, 68: 166-169 (International – Scopus indexd + IF)

55 Muchlisin, Z.A. 2008. Ikan depik yang terancam punah. Buletin Leuser, 6(7): 9-12

56 Muchlisin, Z.A. 2007. Pengaruh perbedaan jenis pakan dan ransum

harian terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau,

Scylla serrata

Indonesian Journal of Marine Sciences, 11(4): 227-233 (Accredited by DGHE)

57 Muchlisin, Z.A. 2005. Factor affect gonadal development of female

broodfish : A review.

Biologi, 4 (6) : 411-427 (Accredited by DGHE)

58 Muchlisin, Z.A., R. Hashim and A.S.C. Chong. 2006. Short

communication : “ Influences of dietary protein levels on several reproductive parameters in bagrid catfish Mystus nemurus female broodstock.

Aquaculture Research, 37 : 416-418 (International - Scopus

(22)

21

59 Firdus and Z.A. Muchlisin, 2005. Penggunaan keong mas sebagai pakan alternative untuk budidaya ikan kerapu

Referensi

Dokumen terkait

memperhatikan label halal yang terdapat pada kemasan produk karena produk yang telah dinyatakan halal oleh pihak yang berwenang cenderung lebih aman di bandingkan produk

Selain melakukan observasi sekolah dilakukan pula observasi kelas. Observasi kelas dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran nyata tentang proses pembelajaran yang

Penelitian ini bersifat normatif kualitatif, dimana penelitian ini akan memaparkan fakta-fakta dan bahan hukum yang dianalisis dengan uraian kualitatif

Panitia membagikan link google meet dan link soal kepada peserta melalui email masing-masing peserta pada waktu yang telah ditentukana. Peserta wajib berada dalam 1(satu)

Analisis jalur ini memungkinkan dilakukannya analisis terhadap serangkaian hubungan secara simultan sehingga memberikan efisiensi secara statistik (Hair, et al; 1992:17).

Pemerintah pusat harus menyediakan sarana bagi sekolah dan pemerintah daerah untuk menilai dan memberikan umpan balik mengenai kinerja siswa dan guru, melakukan reformasi

Berdasarkan tabel 6, hasil perbandingan nilai intrinsik terhadap harga pasar pada perusahaan INTP, SMCB dan SMGR menunjukkan kondisi saham undervalued atau

Berdasarkan analisa karakterisasi fasa dengan instrumen X-Ray Diffractometer (XRD), ukuran partikel dengan Particle Size Analyzer (PSA), mikrostruktur menggunakan