• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penegakan Hukum di INDONESIA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penegakan Hukum di INDONESIA (1)"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENEGAKAN

HUKUM

DI

(3)

Disusun oleh ;

Aliyana Candra

Girisena Ergasera

Liling Revita

(4)

Pengertian

Penegakan hukum adalah

proses dilakukannya upaya

untuk tegaknya atau

berfungsinya norma-norma

hukum secara nyata sebagai

pedoman perilaku dalam lalu

lintas atau hubungan-hubungan

hukum dalam kehidupan

(5)

 Ditinjau dari sudut subjek

Penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subjek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek yang terbatas.

 Dalam arti luas

Proses penegakan hukum itu melibatkan

semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan

sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma hukum yang berlaku.

 Dalam arti sempit

(6)

 Ditinjau dari sudut objeknya

 Dalam arti luas

Penegakan hukum itu mencakup pula nilai-nilai keadilan yang terkandung di dalam bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat.

 Dalam arti sempit

(7)
(8)

THE RULE OF LAW

The Rule Of Law adalah suatu legalisme, suatu aliran hukum yang didalamnya terkandung wawasan sosial legalisme literal (bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan sistem

peraturan dan prosedur yang sengaja bersifat obyektif, tidak memihak, dan otonom).

Prinsip-prinsip secara formal Rule Of Law tertera dalam UUD 1945 dan pasal-pasal UUD negara RI tahun 1945. Inti dari Rule Of Law adalah jaminan adanya keadilan bagi masyarakatnya, khususnya keadilan sosial. Prinsip-prinsip Rule of Law Secara Formal (UUD 1945)

1. Negara Indonesia adalah negara hukum (pasal 1: 3)

2. Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tanpa kecuali (pasal 27:1)

3. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan sama di

hadapan hukum (pasal 28 D:1)

(9)

LEGALITAS

Prinsip legalitas yaitu prinsip yang menentukan bahwa tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika tidak ditentukan terlebih dahulu dalam perundang-undangan. Biasanya asas ini dikenal dengan nullum delictum uulla poena sine praevia lege (tidak ada pidana tanpa peraturan lebih

dahulu)

Dalam sejarahnya tidak menunjukkan perubahan hukum pidana pada abad ke-18 dulu bahwa keseluruhan masalah hukum

pidana harus ditegaskan dengan suatu undang-undang. Biasanya prinsip ini mengandung dua pengertian, yaitu:

1. Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan-aturan undang-undang

(10)

Equality Before The Law

Equality before the law adalah semua orang sama di depan hukum. Persamaan dihadapan hukum atau equality before the law merupakan salah satu asas terpenting dalam hukum

modern.  

Prinsip ini bergerak dalam payung hukum yang berlaku umum (general) dan tunggal. Ketunggalan hukum itu menjadi satu wajah utuh diantara dimensi sosial lain (misalkan terhadap ekonomi dan sosial). Persamaan “hanya” dihadapan hukum seakan memberikan sinyal di dalamnya bahwa secara sosial dan ekonomi orang boleh tidak mendapatkan persamaan. Perbedaan perlakuan “persamaan” antara di dalam wilayah hukum, wilayah sosial dan wilayah ekonomi itulah yang

(11)

EQUALITY JUSTICE UNDER LAW

Equality Justice Under Law adalah salah satu yang paling kuat tertanam dan banyak melanggar prinsip-prinsip hukum. Ini adalah retorika biasa

ditemui dalam retorika seremonial dan keputusan kadang-kadang bahkan konstitusional. Tapi itu datang tempat dekat dengan menggambarkan

sistem peradilan dalam praktek. Sementara ini tidak, satu-satunya konteks hukum di mana retorika outruns kenyataannya, itu adalah salah satu yang paling mengganggu, mengingat sifat dasar hak yang dipermasalahkan. Ini adalah ironi memalukan bahwa bangsa yang paling pengacara memiliki antara sistem paling memadai untuk bantuan hukum. Hal ini lebih

memalukan bahwa ketidakadilan masih menarik begitu sedikit perhatian. Diperkirakan empat-perlima dari kebutuhan hukum masyarakat miskin, dan kebutuhan dua sampai tiga perlima dari individu berpenghasilan

menengah, tetap terpenuhi. Seluruh kategori dari "tidak layak miskin" telah ditolak bantuan, dan pengadilan sebagian besar telah merestui

(12)

PILAR HUKUM

YANG BAIK

1. INTSRUMEN HUKUM

YANG BAIK

2. APARAT PENEGAK

HUKUM YANG TANGGUH

3. PERALATAN YANG

MEMADAI

4. MASYARAKAT YANG

SADAR HUKUM

(13)

Faktor Penegakan

Hukum

Faktor

Hukum /

Perundang

an

Faktor

Politik

Faktor

Kesadaran

Masyaraka

t

Faktor

Perubaha

n

Sosial

Faktor

(14)

Faktor

Penega

kan

Hukum

Ö Lemahnya wawasan pemikiran

Ö Minimya ketrampilan untuk bekerja

Ö Rendahnya motivasi kerja

Ö Rusaknya moralitas personal

Ö Tingkat pendidikan yang rendah

(Polisi)

Ö Sangat sedikit program

pengembangan SDM di kalangan

organisasi penegakan hukum

Ö Kualitas penegakan hukum

(15)

Ö Konsistensi asas-asas

Ö Proses perumusan

Ö Tingkat kemampuan

operasionalisasi hukum

Ö Perlukah mempertahankan

UU yang tidak sejalan dengan

rasa keadilan

(16)

Faktor

Kesad

aran

Masy

araka

t

Ö Persepsi masyarakat tentang hukum,

ketertiban, fungsi penegakan hukum

berbeda dengan dengan hukum modern

Ö Kesadaran hukum masyarakat masih

rendah disemua strata

Ö Banyaknya tindakan main hakim

(17)

Faktor

Perub

ahan

Sosial

Ö Tata nilai merubah tata kelakuan dalam

interaksi sosial

Ö Benturan nilai lama dengan nilai baru

menimbulkan dualisme nilai dalam masyarakat

Ö Ketidakserasian nilai menimbulkan

kerancuan nilai dan ketidak pastian yang

(18)

Faktor

Politik

Ö Campur tangan pemerintah dan

kelompok dalam kepentingan usaha

penegakan

Ö Pihak eksekutif atau lembaga ekstra

yudisial dalam proses perkara yang

sedang berlangsung membatasi

kebebasan hakim memeriksa dan

mengadili perkara

(19)

Hukum di Negara kita ini

dapat diselewengkan atau

disuap dengan mudahnya,

dengan inkonsistensi hukum

di Indonesia. Kondisi Hukum

di Indonesia saat ini lebih

sering menuai kritik daripada

pujian. Berbagai kritik

diarahkan baik yang 

berkaitan dengan

penegakkan hukum,

kesadaran hukum, kualitas

hukum, ketidakjelasan

berbagai hukum yang

berkaitan dengan proses

berlangsungya hukum dan

juga lemahnya penerapan

berbagai peraturan.

Kritik begitu sering

dilontarkan berkaitan

dengan penegakan hukum

di Indonesia. Kebanyakan

masyarakat kita akan bicara

bahwa hukum di Indonesia

itu dapat dibeli, yang

menang mereka yang

mempunyai jabatan, nama

dan kekuasaan, yang punya

uang banyak pasti aman

dari gangguan hukum

(20)

Ada pengakuan di

masyarakat bahwa

karena hukum dapat

dibeli maka aparat

penegak hukum tidak

dapat diharapkan untuk

melakukan penegakkan

hukum secara

menyeluruh dan adil.

Sejauh ini, hukum tidak

saja dijalankan sebagai

rutinitas  belaka tetapi

tetapi  juga

dipermainkan seperti

barang dagangan .

Hukum yang seharusnya

menjadi alat

pembaharuan masyarakat,

telah berubah menjadi

semacam mesin

pembunuh karena

didorong oleh perangkat

hukum yang morat-marit

(21)
(22)

Tentang salahnya

penegakan hukum di

Indonesia. Saat

seseorang mencuri

sandal misalnya,

seperti yang pernah

diberitakan belum lama

ini, ia disidang dan

didenda hanya karena

mencuri sandal seorang

briptu yang harganya

bisa dibilang murah.

Sedangkan para

koruptor di Indonesia

bisa dengan leluasa

merajalela, menikmati

tanpa dosa, karena

mereka memandang

(23)

Arthalyta

Suryani, dia

menempati

rutan dengan

sarana eksklusif,

bisa dikatakan

eksklusif,

sampai-sampai

ada ruang untuk

berkaraoke, ini

juga bisa

dijadikan

sebagai

pembelian

(24)

Saat terkena tilang polisi

lalu lintas, ada beberapa

oknum polisi yang mau

bahkan terkadang minta

disuap agar kasus ini

tidak diperpanjang,

polisinya pun

mendapatkan

keuntungan materi

dengan cepat namun

salah tempat. Ini

merupakan

contoh-contoh dalam lingkungan

terdekat kita. Masih

(25)

Orang biasa yang ketahuan melakukan tindak pencurian kecil,

seperti anak dibawah umur,

Hamdani yang ‘mencuri’ sandal jepit bolong milik perusahaan di mana ia bekerja di

Tangerang,

Nenek Minah yang mengambil tiga butir kakao di

Purbalingga,

Aguswandi Tanjung yang

‘numpang’ ngecas handphone di sebuah rumah susun di Jakarta serta

Kholil dan Basari di Kediri yang mencuri dua biji

semangka langsung ditangkap dan dihukum sebesart

(26)

Sedangkan seorang pejabat negara yang melakukan korupsi uang

milyaran rupiah milik negara dapat bebas berkeliaran dengan

bebasnya. Berbeda halnya dengan kasus-kasus yang

hukum dengan tersangka dan terdakwa orang-orang

yang memiliki kekusaan, jabatan dan nama. Proses

hukum yang dijalankan begitu berbelit-belit dan

terkesan menunda-nuda. Seakan-akan masyarakat

(27)

Contohnya saja kasus Gayus

Tambunan, pegawai Ditjen

Pajak Golongan III menjadi

miliyader dadakan yang

diperkirakan korupsi

sebesar 28 miliar, tetapi

hanya dikenai 6 tahun

penjara, kasus Bank Century

dan masih banyak lagi,

hampir semua kasus diatas

prosesnya sampai saat ini

belum mencapai keputusan

yang jelas.

Padahal semua kasus

(28)
(29)

Penyelewengan atau

inkonsistensi di Indonesia

berlangsung lama

bertahun-tahun hingga sekarang,

sehingga bagi masyarakat

Indonesia ini merupakan bukan

rahasia umum, hukum yang

dibuat berbeda dengan hukum

yang dijalankan. Aparat yang

menegakkan hukum tersebut

dapat menangani masalah

secara hukum yang berlaku di

Indonesia, namun tidak jarang

penegak hukum tersebut justru

mengambil kesempatan yang

tidak terpuji itu untuk

menambah pundi-pundi

uangnya.

(30)

 Ketidakpercayaan masyarakat pada hukum

Masyarakat berependapat hukum banyak merugikan

mereka, terlebih lagi soal materi sehingga mereka berusaha untuk menghindarinya. Karena mereka percaya bahwa uanglah yang berbicara, dan daoat

meringankan hukuman mereka, fakta-fakta yang ada diputar

balikan dengan materi yang siap diberikan untuk penegak hukum. Kasus-kasus korupsi di Indonesia tidak terselesaikan secara tuntas karena para petinggi Negara

yang terlibat di dalamnya

mempermainkan hukum dengan menyuap sana sini agar kasus ini tidak terungkap, akibatnya

kepercayaan masayarakatpun pudar.

 Penggunaan Tekanan Asing dalam Proses Peradilan

Dalam hal ini kita dapat

mengambil contoh pengrusakan lingkungan yang diakibatkan oleh suatu perusahaan asing yang

membuka usahanya di Indonesia, mereka akan minta bantuan dari negaranya untuk melakukan

upaya pendekatan kepada Indonesia, agar mereka tidak mendapatkan hukuman yang berat, atau dicabut izin

(31)

   Pemanfaatan

Inkonsistensi Penegakan Hukum untuk Kepentingan Pribadi

Dari beberapa kasus di Indonesia, banyak warga Negara Indonesia yang

memanfaatkan inkonsistensi penegakan hukum untuk

kepentingan pribadi.

Contohnya ialah pengacara yang menyuap polisi

ataupun hakim untuk meringankan terdakwa,

sedangkan polisi dan hakim yang seharusnya bisa

menjadi penengah bagi kedua belah pihak yang

sedang terlibat kasus hukum bisa jadi lebih condong pada banayknya materi yang

diberikan oleh salah satu pihak yang sedang terlibat dalam kasus hukum

(32)

 Penyelesaian konflik dengan kekerasan

Penyelesaian konflik dengan kekerasan contohnya ialah pencuri ayam yang dipukuli warga, pencuri sandal yang dihakimi warga.Konflik yang terjadi di

sekelompok masyarakat di Indonesia banyak yang diselesaikan dengan kekerasan, seperti kasus tawuran antar

pelajar, tawuran antar suku yang

memperebutkan wilayah, atau ada salah satu suku yang tersakiti sehingga

dibalas degan kekerasan. Mereka tidak mengindahkan peraturan-peraturan

kepemerintahan, dengan masalah secara geografis, mereka. Ini

membuktikan masayarakat Indonesia yang tidak tertib hukum, seharusnya

masalah seperti maling sandal atau ayam dapat ditangani oleh pihak yang

yang berwajib, bukan dihakimi secara seenakanya, bahkan dapat

(33)

Berkomunikasi dan mampu membawakan peranan yang mampu diterima masyarakat luas, antara lain bersikap : 1. Sikap yang terbuka terhadap pengalaman maupun penemuan baru.

2. Senantiasa siap untuk menerima perubahan

3. Peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya.

4. Senantiasa mempunyai informasi yang selengkap mungkin mengenai pendiriannya.

5. Orientasi ke masa kini dan masa depan yang sebenarnya merupakan suatu urutan.

6. Menyadari akan potensi yang ada dalam dirinya.

7. Berpegang pada suatu perencanaan dan tidak pasrah pada nasib. 8.Percaya pada kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia.

9. Menyadari dan menghormati hak, kewajiban, maupun kehormatan diri sendiri dan hak lain.

(34)

Praktik

penyelewengan

dalam proses

penegakan hukum

seperti, mafia

hukum di

peradilan,

peradilan yang

diskriminatif

atau rekayasa

proses peradilan

merupakan

realitas yang

gampang ditemui

dalam penegakan

hukum di negeri

(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)

Masalah penegakan hukum di Indonesia harus

segera ditangani agar bangsa Indonesia menuju

bangsa yang adil, tidak ada ketimpangan hukum.

Masalah penegakan hukum harus ditangangi oleh

seluruh Warga Negara Indonesia, pejabat hukum

harus bisa menangani kasus hukum tanpa pandang

bulu. Selain perbaikan kinerja aparat, materi hukum

sendiri juga harus terus menerus diperbaiki

membuat undang-undang hukum yang jelas dan

tidak bisa disuap oleh uang ataupun materi lainnya,

(44)

Semua dijalankan berdasarkan hati nurani

masing-masing, iman dan ketaqwaan sangat diperlukan.

Penegakan hukum yang konsisten harus terus

diupayakan untuk mengembalikan kepercayaan

masyarakat terhadap hukum di Indonesia. Semua

harus bekerja sama untuk membangun Negara

Indonesia yang adil, jika salah, harus dihukum sesuai

hukum yang berlaku tanpa pengecualian apakah

orang tersebut merupakan anak Presiden ataukan

Referensi

Dokumen terkait

tidak hanya di Polri tapi sejumlah institusi penegak hukum dan lembaga

Peranan praperadilan adalah dalam rangka penegakan aturan yang ada untuk memberi. perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia agar aparat penegak hukum

Kedudukan Advokat sebagai lembaga penegak hukum non pemerintah yang ditegaskan pula dalam Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat

Bahwa ketiga unsur dari suatu sistem tersebut menurut saya merupakan syarat yang harus dipahami terlebih dahulu oleh aparatur penegak hukum dalam menganalisis dan

Melihat dari keadaan hukum yang dipandang banyak orang tidak adil ini, seharusnya penegak hukum lebih memperhatikan efek dari kejadian tersebut, maka penegak

Kemudian yang kedua, cara untuk menyelesaikan berbagai masalah terkait hal tersebut yakni bagaimana tindakan para aparat penegak hukum mulai dari polisi,

penegak hukum harus menjamin keadilan serta kepastian hukum yang berlaku di Indonesia, artinya bahwa penjual obat-obatan yang digunakan untuk aborsi merupakan tindakan atau perbuatan

5 hambatan-hambatan tertentu kasusnya tidak kunjung selesai untuk dinaikkan statusnya ke tahap II dua.5 Sebagaimana diketahui penegakan hukum merupakan suatu tindakan para penegak