PENEGAKAN
HUKUM
DI
Disusun oleh ;
Aliyana Candra
Girisena Ergasera
Liling Revita
Pengertian
Penegakan hukum adalah
proses dilakukannya upaya
untuk tegaknya atau
berfungsinya norma-norma
hukum secara nyata sebagai
pedoman perilaku dalam lalu
lintas atau hubungan-hubungan
hukum dalam kehidupan
Ditinjau dari sudut subjek
Penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subjek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek yang terbatas.
Dalam arti luas
Proses penegakan hukum itu melibatkan
semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan
sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma hukum yang berlaku.
Dalam arti sempit
Ditinjau dari sudut objeknya
Dalam arti luas
Penegakan hukum itu mencakup pula nilai-nilai keadilan yang terkandung di dalam bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Dalam arti sempit
THE RULE OF LAW
The Rule Of Law adalah suatu legalisme, suatu aliran hukum yang didalamnya terkandung wawasan sosial legalisme literal (bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan sistem
peraturan dan prosedur yang sengaja bersifat obyektif, tidak memihak, dan otonom).
Prinsip-prinsip secara formal Rule Of Law tertera dalam UUD 1945 dan pasal-pasal UUD negara RI tahun 1945. Inti dari Rule Of Law adalah jaminan adanya keadilan bagi masyarakatnya, khususnya keadilan sosial. Prinsip-prinsip Rule of Law Secara Formal (UUD 1945)
1. Negara Indonesia adalah negara hukum (pasal 1: 3)
2. Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tanpa kecuali (pasal 27:1)
3. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan sama di
hadapan hukum (pasal 28 D:1)
LEGALITAS
Prinsip legalitas yaitu prinsip yang menentukan bahwa tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika tidak ditentukan terlebih dahulu dalam perundang-undangan. Biasanya asas ini dikenal dengan nullum delictum uulla poena sine praevia lege (tidak ada pidana tanpa peraturan lebih
dahulu)
Dalam sejarahnya tidak menunjukkan perubahan hukum pidana pada abad ke-18 dulu bahwa keseluruhan masalah hukum
pidana harus ditegaskan dengan suatu undang-undang. Biasanya prinsip ini mengandung dua pengertian, yaitu:
1. Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan-aturan undang-undang
Equality Before The Law
Equality before the law adalah semua orang sama di depan hukum. Persamaan dihadapan hukum atau equality before the law merupakan salah satu asas terpenting dalam hukum
modern.
Prinsip ini bergerak dalam payung hukum yang berlaku umum (general) dan tunggal. Ketunggalan hukum itu menjadi satu wajah utuh diantara dimensi sosial lain (misalkan terhadap ekonomi dan sosial). Persamaan “hanya” dihadapan hukum seakan memberikan sinyal di dalamnya bahwa secara sosial dan ekonomi orang boleh tidak mendapatkan persamaan. Perbedaan perlakuan “persamaan” antara di dalam wilayah hukum, wilayah sosial dan wilayah ekonomi itulah yang
EQUALITY JUSTICE UNDER LAW
Equality Justice Under Law adalah salah satu yang paling kuat tertanam dan banyak melanggar prinsip-prinsip hukum. Ini adalah retorika biasa
ditemui dalam retorika seremonial dan keputusan kadang-kadang bahkan konstitusional. Tapi itu datang tempat dekat dengan menggambarkan
sistem peradilan dalam praktek. Sementara ini tidak, satu-satunya konteks hukum di mana retorika outruns kenyataannya, itu adalah salah satu yang paling mengganggu, mengingat sifat dasar hak yang dipermasalahkan. Ini adalah ironi memalukan bahwa bangsa yang paling pengacara memiliki antara sistem paling memadai untuk bantuan hukum. Hal ini lebih
memalukan bahwa ketidakadilan masih menarik begitu sedikit perhatian. Diperkirakan empat-perlima dari kebutuhan hukum masyarakat miskin, dan kebutuhan dua sampai tiga perlima dari individu berpenghasilan
menengah, tetap terpenuhi. Seluruh kategori dari "tidak layak miskin" telah ditolak bantuan, dan pengadilan sebagian besar telah merestui
PILAR HUKUM
YANG BAIK
1. INTSRUMEN HUKUM
YANG BAIK
2. APARAT PENEGAK
HUKUM YANG TANGGUH
3. PERALATAN YANG
MEMADAI
4. MASYARAKAT YANG
SADAR HUKUM
Faktor Penegakan
Hukum
Faktor
Hukum /
Perundang
an
Faktor
Politik
Faktor
Kesadaran
Masyaraka
t
Faktor
Perubaha
n
Sosial
Faktor
Faktor
Penega
kan
Hukum
•
Ö Lemahnya wawasan pemikiran
•
Ö Minimya ketrampilan untuk bekerja
•
Ö Rendahnya motivasi kerja
•
Ö Rusaknya moralitas personal
•
Ö Tingkat pendidikan yang rendah
(Polisi)
•
Ö Sangat sedikit program
pengembangan SDM di kalangan
organisasi penegakan hukum
•
Ö Kualitas penegakan hukum
Ö Konsistensi asas-asas
Ö Proses perumusan
Ö Tingkat kemampuan
operasionalisasi hukum
Ö Perlukah mempertahankan
UU yang tidak sejalan dengan
rasa keadilan
Faktor
Kesad
aran
Masy
araka
t
•
Ö Persepsi masyarakat tentang hukum,
ketertiban, fungsi penegakan hukum
berbeda dengan dengan hukum modern
•
Ö Kesadaran hukum masyarakat masih
rendah disemua strata
•
Ö Banyaknya tindakan main hakim
Faktor
Perub
ahan
Sosial
•
Ö Tata nilai merubah tata kelakuan dalam
interaksi sosial
•
Ö Benturan nilai lama dengan nilai baru
menimbulkan dualisme nilai dalam masyarakat
•
Ö Ketidakserasian nilai menimbulkan
kerancuan nilai dan ketidak pastian yang
Faktor
Politik
•
Ö Campur tangan pemerintah dan
kelompok dalam kepentingan usaha
penegakan
•
Ö Pihak eksekutif atau lembaga ekstra
yudisial dalam proses perkara yang
sedang berlangsung membatasi
kebebasan hakim memeriksa dan
mengadili perkara
Hukum di Negara kita ini
dapat diselewengkan atau
disuap dengan mudahnya,
dengan inkonsistensi hukum
di Indonesia. Kondisi Hukum
di Indonesia saat ini lebih
sering menuai kritik daripada
pujian. Berbagai kritik
diarahkan baik yang
berkaitan dengan
penegakkan hukum,
kesadaran hukum, kualitas
hukum, ketidakjelasan
berbagai hukum yang
berkaitan dengan proses
berlangsungya hukum dan
juga lemahnya penerapan
berbagai peraturan.
Kritik begitu sering
dilontarkan berkaitan
dengan penegakan hukum
di Indonesia. Kebanyakan
masyarakat kita akan bicara
bahwa hukum di Indonesia
itu dapat dibeli, yang
menang mereka yang
mempunyai jabatan, nama
dan kekuasaan, yang punya
uang banyak pasti aman
dari gangguan hukum
Ada pengakuan di
masyarakat bahwa
karena hukum dapat
dibeli maka aparat
penegak hukum tidak
dapat diharapkan untuk
melakukan penegakkan
hukum secara
menyeluruh dan adil.
Sejauh ini, hukum tidak
saja dijalankan sebagai
rutinitas belaka tetapi
tetapi juga
dipermainkan seperti
barang dagangan .
Hukum yang seharusnya
menjadi alat
pembaharuan masyarakat,
telah berubah menjadi
semacam mesin
pembunuh karena
didorong oleh perangkat
hukum yang morat-marit
Tentang salahnya
penegakan hukum di
Indonesia. Saat
seseorang mencuri
sandal misalnya,
seperti yang pernah
diberitakan belum lama
ini, ia disidang dan
didenda hanya karena
mencuri sandal seorang
briptu yang harganya
bisa dibilang murah.
Sedangkan para
koruptor di Indonesia
bisa dengan leluasa
merajalela, menikmati
tanpa dosa, karena
mereka memandang
Arthalyta
Suryani, dia
menempati
rutan dengan
sarana eksklusif,
bisa dikatakan
eksklusif,
sampai-sampai
ada ruang untuk
berkaraoke, ini
juga bisa
dijadikan
sebagai
pembelian
Saat terkena tilang polisi
lalu lintas, ada beberapa
oknum polisi yang mau
bahkan terkadang minta
disuap agar kasus ini
tidak diperpanjang,
polisinya pun
mendapatkan
keuntungan materi
dengan cepat namun
salah tempat. Ini
merupakan
contoh-contoh dalam lingkungan
terdekat kita. Masih
Orang biasa yang ketahuan melakukan tindak pencurian kecil,
seperti anak dibawah umur,
Hamdani yang ‘mencuri’ sandal jepit bolong milik perusahaan di mana ia bekerja di
Tangerang,
Nenek Minah yang mengambil tiga butir kakao di
Purbalingga,
Aguswandi Tanjung yang
‘numpang’ ngecas handphone di sebuah rumah susun di Jakarta serta
Kholil dan Basari di Kediri yang mencuri dua biji
semangka langsung ditangkap dan dihukum sebesart
Sedangkan seorang pejabat negara yang melakukan korupsi uang
milyaran rupiah milik negara dapat bebas berkeliaran dengan
bebasnya. Berbeda halnya dengan kasus-kasus yang
hukum dengan tersangka dan terdakwa orang-orang
yang memiliki kekusaan, jabatan dan nama. Proses
hukum yang dijalankan begitu berbelit-belit dan
terkesan menunda-nuda. Seakan-akan masyarakat
Contohnya saja kasus Gayus
Tambunan, pegawai Ditjen
Pajak Golongan III menjadi
miliyader dadakan yang
diperkirakan korupsi
sebesar 28 miliar, tetapi
hanya dikenai 6 tahun
penjara, kasus Bank Century
dan masih banyak lagi,
hampir semua kasus diatas
prosesnya sampai saat ini
belum mencapai keputusan
yang jelas.
Padahal semua kasus
Penyelewengan atau
inkonsistensi di Indonesia
berlangsung lama
bertahun-tahun hingga sekarang,
sehingga bagi masyarakat
Indonesia ini merupakan bukan
rahasia umum, hukum yang
dibuat berbeda dengan hukum
yang dijalankan. Aparat yang
menegakkan hukum tersebut
dapat menangani masalah
secara hukum yang berlaku di
Indonesia, namun tidak jarang
penegak hukum tersebut justru
mengambil kesempatan yang
tidak terpuji itu untuk
menambah pundi-pundi
uangnya.
Ketidakpercayaan masyarakat pada hukum
Masyarakat berependapat hukum banyak merugikan
mereka, terlebih lagi soal materi sehingga mereka berusaha untuk menghindarinya. Karena mereka percaya bahwa uanglah yang berbicara, dan daoat
meringankan hukuman mereka, fakta-fakta yang ada diputar
balikan dengan materi yang siap diberikan untuk penegak hukum. Kasus-kasus korupsi di Indonesia tidak terselesaikan secara tuntas karena para petinggi Negara
yang terlibat di dalamnya
mempermainkan hukum dengan menyuap sana sini agar kasus ini tidak terungkap, akibatnya
kepercayaan masayarakatpun pudar.
Penggunaan Tekanan Asing dalam Proses Peradilan
Dalam hal ini kita dapat
mengambil contoh pengrusakan lingkungan yang diakibatkan oleh suatu perusahaan asing yang
membuka usahanya di Indonesia, mereka akan minta bantuan dari negaranya untuk melakukan
upaya pendekatan kepada Indonesia, agar mereka tidak mendapatkan hukuman yang berat, atau dicabut izin
Pemanfaatan
Inkonsistensi Penegakan Hukum untuk Kepentingan Pribadi
Dari beberapa kasus di Indonesia, banyak warga Negara Indonesia yang
memanfaatkan inkonsistensi penegakan hukum untuk
kepentingan pribadi.
Contohnya ialah pengacara yang menyuap polisi
ataupun hakim untuk meringankan terdakwa,
sedangkan polisi dan hakim yang seharusnya bisa
menjadi penengah bagi kedua belah pihak yang
sedang terlibat kasus hukum bisa jadi lebih condong pada banayknya materi yang
diberikan oleh salah satu pihak yang sedang terlibat dalam kasus hukum
Penyelesaian konflik dengan kekerasan
Penyelesaian konflik dengan kekerasan contohnya ialah pencuri ayam yang dipukuli warga, pencuri sandal yang dihakimi warga.Konflik yang terjadi di
sekelompok masyarakat di Indonesia banyak yang diselesaikan dengan kekerasan, seperti kasus tawuran antar
pelajar, tawuran antar suku yang
memperebutkan wilayah, atau ada salah satu suku yang tersakiti sehingga
dibalas degan kekerasan. Mereka tidak mengindahkan peraturan-peraturan
kepemerintahan, dengan masalah secara geografis, mereka. Ini
membuktikan masayarakat Indonesia yang tidak tertib hukum, seharusnya
masalah seperti maling sandal atau ayam dapat ditangani oleh pihak yang
yang berwajib, bukan dihakimi secara seenakanya, bahkan dapat
Berkomunikasi dan mampu membawakan peranan yang mampu diterima masyarakat luas, antara lain bersikap : 1. Sikap yang terbuka terhadap pengalaman maupun penemuan baru.
2. Senantiasa siap untuk menerima perubahan
3. Peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya.
4. Senantiasa mempunyai informasi yang selengkap mungkin mengenai pendiriannya.
5. Orientasi ke masa kini dan masa depan yang sebenarnya merupakan suatu urutan.
6. Menyadari akan potensi yang ada dalam dirinya.
7. Berpegang pada suatu perencanaan dan tidak pasrah pada nasib. 8.Percaya pada kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia.
9. Menyadari dan menghormati hak, kewajiban, maupun kehormatan diri sendiri dan hak lain.