MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN (S2)
1) Sdr. Diminta untuk menjelaskan hal-hal sebagai berikut : ?
a) jelaskan pengertian filsafat?
b) jelaskan pendekatan-pendekatan dalam mempelajari filsafat? c) jelaskan metode berfikir filsafat?
d) apa yang dimaksud dengan berfikir radikal? e) jelaskan objek filsafat?
f) jelaskan apa yang dimaksud dengan positivisme?
g) jelaskan bagaimana pendapat Immanuel Kant tentang rasio dan pengalaman? h) apakah filsafat diperlukan bagi kehidupan manusia, coba jelaskan?
2) Pada umumnya ilmu memiliki dua objek, yaitu obyek material dan obyek formal;
coba sdr. Jelaskan hal-hal sebagai berikut : ?
a) jelaskan secara rinci apa yang demaksud dengan ilmu? b) jelaskan pengertian ilmu dilihat dari ruang lingkupnya ?
c) jelaskan apa yang dimaksud dengan Ilmu sebagai akumulasi pengetahuan yang tersistematisir dan terorganisir?
d) jelaskan dan berikan contoh-contohnya berkaitan dengan ciri-ciri ilmu? e) Jelaskan apa yang dimaksud dengan fungsi ilmu untuk memprediksi?
3) Sdr. juga diminta untuk menjelaskan :
a) Mengapa pengetahuan tidak bisa salah atau keliru? b) Bebas nilai tuntutan bagi ilmu pengetahun?
c) Jelaskan empat teori yang menjawab tetntang arti Kebenaran? d) Jelaskan tiga sifat dasar kebenaran ilmiah?
4) a)Jelaskan Faktor yang mempengaruhi evolusi ilmu Manajemen ?
b)Bagaimana pendapat sdr. tentang paradigma baru ilmu manajemen sebagai disiplim ilmu dan praktek?
c)Siapa pelopor ilmu manajmen pada era awal pabrik ?
5) a)Pemikiran tentang manajemen telah berkembang sejak lama, dapatkah sdr.
menjelaskannya?
b)Lengkapi penjelasan sdr. dengan munculnya teori manajemen dan kontribusi kelompok perilaku, sehingga melahirkan teori-teori manajemen modern?
c)Proses pencaharian ilmu pengetahuan manajemen memberikan gambaran yang menyeluruh terhadap keberadaan ilmu manajemen itu sendiri sebagai sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, berikan penjelasan sdr. selengkapnya ???
Luck---Nama : Fitri Anjarsari
Nim : 1310247600
UAS Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu : Prof. Dr. B. Isyandi, SE, MS
1).a. Ada macam-maca pengertian filsafat diantaranya :
• Filsafat adalah induk semua ilmu pengetahuan, filsafat memberi sumbangan dan
peran sebagai induk yang melahirkan dan membantu mengembangkan ilmu
pengetahuan sehingga ilmu pengetahuan itu hidup dan berkembang
• Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat
berusaha untuk mengkombinasikan hasil dari bermacam-macam sains dan
pengalaman manusia sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam
(arti spekulatif)
• Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang
merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga
diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan
segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan
menyeluruh dengan segala hubungan.
• Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami
atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat serwa yang
ada yaitu : hakikat tuhan, hakikat alam semesta, dan hakikat manusia, serta sikap
b. Pendekatan-pendekatan dalam mempelajari filsafat :
Pendekatan Definisi. Dalam pendekatan ini filsafat dicoba difahami melalui berbagai definisi yang dikemukakan oleh para akhli, dan dalam hubungan ini penelusuran asal kata menjadi penting, mengingat kata filsafat itu sendiri pada dasarnya merupakan kristalisasi/representasi dari konsep-konsep yang terdapat dalam definisi itu sendiri, sehingga pemahaman atas kata filsafat itu sendiri akan sangat membantu dalam memahami definisi filsafat.
Pendekatan Sistimatika.Objek material Filsafat adalah serwa yang ada dengan berbagai variasi substansi dan tingkatan. Objek material ini bisa ditelaah dari berbagai sudut sesuai dengan fokus keterangan yang diinginkan. Variasi fokus telaahan yang mengacu pada objek formal melahirkan berbagai bidang kajian dalam filsafat yang menggambarkan sistimatika,
Pendekatan Tokoh. Pada umumnya para filsuf jarang membahas secara tuntas seluruh wilayah filsafat, seorang filsuf biasanya mempunyai fokus utama dalam pemikiran filsafatnya. Dalam pendekatan ini seseorang mencoba mendalami filsafat melalui penelaahan pada pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh para Filsuf, yang terkadang mempunyai kekhasan tersendiri, sehingga membentuk suatu aliran filsafat tertentu, oleh karena itu pendekatan tokoh juga dapat dikelompokan sebagai pendekatan Aliran, meskipun tidak semua Filsuf memiliki aliran tersendiri.
Pendekatan Sejarah. Pendekatan ini berusaha memahami filsafat dengan melihat aspek sejarah dan perkembangan pemikiran filsafat dari waktu ke waktu dengan melihat kecenderungan-kecenderungan umum sesuai dengan semangat zamannya, kemudian dilakukan periodisasi untuk melihat perkembangan pemikiran filsafat secara kronologis. Dari pendekatan-pendekatan tersebut di atas, nampak sekali bahwa untuk memahami filsafat seseorang dapat memasukinya melalui empat pintu, namun demikian bagi pemula, pintu-pintu tersebut harus dilalui secara terurut, mengingat pintu pendekatan Tokoh dan pendekatan Historis perlu didasari dengan pemahaman awal tentang filsafat yang dapat diperoleh melalui pintu pendekatan definisi dan pendekatan sistematika
c. Metode Berfikir Filsafat
Beberapa Metode Berfikir Filsafat
menyumbangkan konsepsi pemikiran unntuk menngungkap misteri kehidupan manusia. Bahkan tidak hanya manusia yang menjadi objek pemikiran, tetapi meliputi segala yang ada dan mungkin ada. (tuhan, alam semesta, manusia). Pola pemikiran dalam metode berfikir (berfilsafat) berawal dari titik pangkal dan dasar kepastian, seperti logika konsepsional dan intuisi, seperti penalaran (induktif) dan penalaran (deduktif).
Beberpa metode berfikir (berfilsafat) yang telah dirumuskan oleh Dr. Anton Bakker dalam buku yang berjudul metode-metode filsafat antara lain dijelaskan sebagai berikut:
1. Metode Intuitif (Plotinus dan Henri Bergson)
2. Metode Skolastik (Thomas Aquinas 1225-1247)
3. Metode Geometris (Rene Descartes 1596-1650)
4. Metode Eksperimental (David Hume)
5. Metode Kritis-Transendental (Immanuel Kant 1724-1804)
6. Metode Dialektis (G.W.F. Hegel 1770-1831)
7. Metode Fenomenologis (Edmund Husserl 1859-1938)
Manusia diciptakan oleh Allah dengan kemampuan yang lebih di banding dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Misalnya perbedaan manusia dengan hewan, manusia diberi anugerah berupa akal pikiran yang bisa digunakan untuk bernalar, sedangkan hewan tidak dianugerahi akal pikiran. Hal itulah yang mengakibatkan derajat manusia lebih tinggi dibanding dengan makhluk yang lain.
Kemampuan bernalar pada manusia menyebabkan manusia mampu mengembangakan ilmu pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-Nya. Sedangkan karena binatang tidak memiliki nalar, maka binatang tidak bisa mengembangkan pengetahuannya, hanya untuk kelangsungan hidupnya (survival). Karena setiap orang diberi anugerah berupa kemampuan untuk bernalar, maka sebenarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk berfikir secara filsafati. Hanya saja yang membedakan orang yang satu dengan yang lain adalah apakah orang itu berusaha melakukan kegaiatan berfikir dengan mengunakan penalaran atau tidak. Misalnya saja orang gila, maka dia tidak bisa menggunakan akalnya untuk berfikir secara nalar.
sekilas bunga mawar tersebut, mungkin hal itu akan menjadi sangat sederhana. Akan tetapi, akan sangat berbeda jika kita benar-benar mau memikirkannya. Semuanya tak akan tampak mudah dan sederhana karena akan muncul pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran kita yaitu siapa yang menanam bunga itu dan untuk apa bunga itu ditanam? Padahal diantaranya sudah banyak sekali bunga melati. Yang kedua, misalnya setelah bunga mawar tersebut dicermati ternyata warnanya sangat unik, dan bentuknya pun sangat berbeda dengan bunga mawar yang biasanya. Hal tersebut akan menjadi karakteristik tersendiri bagi bunga mawar tersebut dan hanya akan bisa dijelaskan oleh ahli botani/tanaman. Ketika kita mengamati dan timbul pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita, maka berarti kita telah menggunakan penalaran kita.
d). Berfikir radikal termasuk dalam ciri-ciri pemikiran filsafat, yang dimaksud berfikir radikal adalah berfikir sampai ke akar-akarnya, sampai pada hakikat/sesensi.
Berfikir secara radikal. Artinya berfikir sampai ke akar-akarnya. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akar. Maksud dari berfikir sampai ke akar-akarnya adalah berfikir sampai pada hakikat, esensi atau sampai pada substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
e). Objek filsafat adalah meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang
ingin diketahui manusia. Oleh karena itu manusia memiliki pikiran atau akal yang aktif,
maka manusia sesuai dengan tabiatnya, cenderung untuk mengetahui segala sesuatu yang
ada dan mungkin ada menurut akal piirannya. Jadi objek filsafat ialah mencari keterangan
sedalam-dalamnya.
Para ahli menerangkan bahwa objek filsafat itu dibedakan menjadi dua, yaitu
objek material dan forma. Objek material ini banyak yang sama dengan objek material
sains. Sains memiliki objek material yang empiris. Filsafat menyelidiki objek filsafat itu
forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya tentang objek
materi filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada).
Dari uraian yang tertera diatas, maka jelaslah bahwa:
1. Objek material filsafat ialah sarwa-yang-ada yang pada garis besarnya dapat dibagi atas
tiga persoalan pokok, yakni:
a. Hakekat Tuhan
b. Hakekat Alam, dan
c. Hakekat Manusia.
Objek material : Segala sesuatu yang ada
1.Tipikal/sungguh-sungguh ada
2.Dalam Kemungkinan
3.Dalam pikiran/konsep
2. Objek formal filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya
sampai ke akhirya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada).
Objek Formal : hakikat terdalam/sunstansi/esensi/intisari
f). Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah.
Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga
neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada
tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas
yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
metafisika. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivismemerupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Positivisme menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia, tiap ilmu dan suku bangsa
melalui 3 tahap, yaitu teologis, metafisis dan positif ilmiah.
g). Immanuel Kant adalah filsuf modern yang paling berpengaruh. Pendirian aliran
rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang. Rasionalisme berpendirian bahwa
rasio merupakan sumber pengenalan atau pengetahuan, sedangkan empirisme
berpendirian sebaliknya bahwa pengalaman menjadi sumber tersebut. Tokoh utama
Kritisisme adalah Immanuel kant yang melahirkan Kantianisme. Kant kerap dipandang
sebagai tokoh paling menonjol dalam bidang filsafat setelah era yunani kuno.
Perpaduannya antara rasionalisme dan empirisme yang ia sebut dengan kritisisme, ia
mengatakan bahwa pengalaman kita berada dalam bentuk-bentuk yang ditentukan oleh
perangkat indrawi kita, maka hanya dalam bentuk-bentuk itulah kita menggambarkan
eksitensi segala hal. Kant dengan pemikirannya membangun pemikiran baru, yakni yang
disebut denagan kritisisme yang dilawankan terhadap seluruh filsafat sebelumnnya yang
ditolaknya sebagai dogmatisme. Artinya, filsafat sebelumnnya yang ditolaknya sebagai
dogmatism. Artinya, filsafat sebelum dianggap kant domatis karena begitu saja
kemampuan rasio manusia dipercaya, padahal batas rasio harus diteliti dulu .
h). filsafat diperlukan bagi kehidupan manusia karena dengan berfilsafat kita bisa mengetahui
benar salah suatu teori atau nilai, dengan berfilsafatbisa memunculkan ide-ide baru atau
mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini, menemukan hakikatnya dan
menerbitkan serta mengatur semua itu dalam bentuk yang sistematis. Bukan problem solving,
tetapi memberikan kejernihan dalam berfikir tentang sesuatu, memetakan secara komperensif dan
radikal. Dengan filsafat manusia mampu menghindari dari arogansi akulah yang benar
dogmatisme kepercayaan. Melalui filsafat semua argumen diakui sama potensinya dalam meraih
kebenaran.
2.a). ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang bisa
membedakan suatu ilmu dengan pengetahuan lainnya atau ilmu adalah pengetahuan ( knowladge)
yang didapat melalui metode ke ilmuan.
b). Pengertian ilmu dilihat dari ruang lingkupnya :
The Liang Gie menyatakan dilihat dari ruang lingkupnya pengertian ilmu adalah sebagai berikut :
Ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebutkan segenap pengetahuan
ilmiah yang dipandang sebagai suatu kebulatan. Jadi ilmu mengacu pada ilmu seumumnya.
Ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang
mempelajari pokok soal tertentu, ilmu berarti cabang ilmu khusus
Harsoyo mendefinisikan ilmu dengan melihat pada sudut proses historis dan pendekatannya yaitu :
Ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan atau kesatuan
Ilmu dapat pula dilihat sebagai suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan
terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia.
Lebih jauh dengan memperhatikan pengertian-pengertian Ilmu sebagaimana
diungkapkan di atas, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan pengertian ilmu yaitu :
Ilmu adalah sejenis pengetahuan
Tersusun atau disusun secara sistematis
Sistimatisasi dilakukan dengan menggunakan metode tertentu
Pemerolehannya dilakukan dengan cara studi, observasi, eksperimen.
Dengan demikian sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat menjadi suatu
pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta mempunyai metode berfikir yang jelas, karena pada dasarnya ilmu yang berkembang dewasa ini merupakan
akumulasi dari pengalaman/pengetahuan manusia yang terus difikirkan,
disistimatisasikan, serta diorganisir sehingga terbentuk menjadi suatu disiplin yang mempunyai kekhasan dalam objeknya.
c). Ilmu sebagai akumulasi pengetahuan yang tersistematisir dan terorganisir
Ilmu adalah: Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan Suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca inderamanusia.
Suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”
secara sistematis yaitu segala usaha untuk meguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya dan terorganisir maksudnya itu ilmu sebagai penghimpun pengetahuan yg telah terorganisasikan atau terstruktur.
d). contoh-contoh berkaitan dengan ciri-ciri ilmu
Menurut Ernest van den Haag (Harsojo, 1977), mengemukakan ciri-ciri ilmu, yaitu : 1. Bersifat rasional, karena hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal (rasio). Contohnya:
Melakukan seuatu itu benar-benar dipikir dulu efek kedepanya bagaimana, benar-benar dipikirkan menggunakan akal fikiran.
2. Bersifat empiris, karena ilmu diperoleh dari dan sekitar pengalaman oleh panca indera. Contohnya : ilmu yang didapat berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pernah diperolehnya.
3. Bersifat umum, hasil ilmu dapat dipergunakan oleh manusia tanpa terkecuali. Contoh : hasil ilmu yang pernah didapatkan seseorang atau teori-teori yang pernah didapatkan seseorang bisa dipergunakan oleh siapa saja.
4. Bersifat akumulatif, hasil ilmu dapat dipergunakan untuk dijadikan objek penelitian selanjutnya.
Contohnya : Hasil ilmu yang di dapatkan seseorang atau penelitian-penelitian yang dilakukan seseorang, objek penelitiannya bsa dilanjutkan oleh peneliti selanjutnya.
e). Maksud fungsi ilmu untuk memprediksi adalah ilmu bisa dijadikan alat untuk memprediksi suatu kebenaran, apakah suatu pendapat itu benar atau salah. Melalui penelitian kita bsa membuktikan atau memprediksikan ilmu atau penelitian itu sudah benar atau tidak.berarti mempredidksi didini maksudnya mengira-ngiri suatu ilmu itu udah benar atau salah bsa di buktikan dengan penelitian dan berargumentasi dengan bukti yang ada.
Karena, begitu suatu pengetahuan trbukti salah atau keliru (karena pememuan-penemuan baru), tidak bisa lagi dianggap sebagai pengetahuan. Karena itu, pengetahuan itu selalu berarti pengetahuam tentang kebenaran.
Pengetahuan adalah sikap mental seseorang dalam hubungan dengan objek tertentu yang disadarinya sebagai ada atau terjadi dimana objek yang disadari itu memang ada sebagaimana adanya dan terjadi sebagaimana yang di-klaim. Pengetahuan tidak bisa salah atau keliru karena bila pengetahuan terbukti salah atau keliru tidak bisa dianggap lagi sebagai pengetahuan, apa yang dianggap sebagai pengetahuan tersebut berubah menjadi keyakinan. Untuk itu unsur terpenting dari pengetahuan adalah adanya kebenaran, kebenaran perlu bukti sebagai penguatnya.Misalnya seorang ilmuwan mengadakan uji coba terhadap binatang percobaan, semata-mata untuk melihat dan menemukan bukti konkrit bahwa ramuan yang diciptakannya benar-benar bereaksi.
b). Bebas nilai tuntutan bagi ilmu pengetahun
ilmu pengetahuan selalu bebas nilai, bebas nilai sebagai tuntutan bagi ilmu pengetahuan, agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai lain diluar ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan itu sendiri. Karena itu, ilmu pengetahuan tidak boleh dikembangkan atas pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan.
dikembangkan hanya demi kebenaran saja, dan tidak perlu tunduk dengan nilai atau pertimbangan lain.
c). empat teori yang menjawab tentang arti Kebenaran
Empat teori yang menjawab pertanyaan tersebut (Keraf dan Dua, 2011), yaitu :
1.Teori kebenaran sebagai Perssuaian (the correspondence theory of truth)
2.Teori Kebenarn Sebagai Keteguhan (the coherence thery of truth)
3. Teori Pragmatis Kebenaran (the pragmatic theoryof truth)
4. Teori Perfomrmative Tentang Kebenaran (the performative theory of truth)
d). tiga sifat dasar kebenaran ilmiah yaitu :
1. Struktur yang rasional-logis abenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan yang logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu
2. Isi empiris adalah teori kebenaran ilmiah , bagaimana kebenaran ilmiah prlu di uji dengan kenyataan yang ada. Dan
3. Dapat di terapkan (pragmatis), berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran lainnya (logis dan empiris)