PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PENGARUH KASUS KPK VS POLRI TERHADAP PENURUNAN
HARGA SAHAM DI BURSA EFEK INDONESIA
BIDANG KEGIATAN :
PKM
–
ARTIKEL ILMIAH
Diusulkan Oleh :
Kiky Listahardini
(12420144 Tahun Angkatan 2012)
Citra Ayu Nurjanah
(12420124 Tahun Angkatan 2012)
Faruq Al Azmi
(13420323 Tahun Angkatan 2013)
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA
SURABAYA
PENGARUH KASUS KPK VS POLRI TERHADAP PENURUNAN
HARGA SAHAM DI BURSA EFEK INDONESIA
Kiky Listahardini 1), Citra Ayu Nurjanah 2), Faruq Al Azmi 3) 1)Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
2)Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya [email protected]
3)
Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya [email protected]
Abstract
The purpose of this study was to analyze the influence of the KPK vs the Polri case to the decline in stock prices in the Indonesia Stock Exchange (IDX). This study used purposive sampling. The criteria used is a company engaged in the field of services, namely banking, property & realestate and transportation. Stock price data using a close price at the time of arrest KPK leaders Bambang Widjojanto dated 22 January 2015 and after the arrest on 26 January 2015. The size of sample of 99 companies which consists of 33 companies engaged in banking, 37 companies engaged in the field of property and realestate, and 29 companies engaged in the transportation field. Analysis technique used paired sample t test. The results of this study indicate that there are significant differences in stock prices before and after the arrest of a suspect Bambang Widjojanto. This study proves that there is a decline in stock prices after the arrest Bambang Widjojanto as a suspect.
Keywords: KPK (Corruption Eradication Commission), POLRI (Indonesian National Police), Stock price
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kasus KPK vs Polri terhadap penurunan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini menggunakan
purposive sampling. Kriteria yang digunakan adalah perusahaan yang bergerak di bidang
jasa yaitu bidang perbankan, property & real estate dan transportasi. Data harga saham
menggunakan harga tutup yaitu harga saham pada saat penangkapan pimpinan KPK Bambang Widjojanto tanggal 22 Januari 2015 dan setelah penangkapan tanggal 26
Januari 2015. Ukuran sampel sebanyak 99 perusahaan yang terdiri dari 33 perusahaan
yang bergerak di bidang perbankan, 37 perusahaan yang bergerak di bidang property &
realestate, dan 29 perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Teknik analisis
menggunakan paired sample t test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada
perbedaan signifikan harga saham sebelum dan sesudah penangkapan Bambang Widjojanto sebagai tersangka. Penelitian ini membuktikan bahwa ada penurunan harga saham setelah penangkapan Bambang Widjojanto sebagai tersangka.
1. PENDAHULUAN
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia adalah lembaga negara yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Komisi ini didirikan awal mula pada tahun 2002 serta didasari oleh UU RI No. 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam pelaksanaan tugasnya, KPK berpedoman kepada 5 (lima) asas, yaitu: kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalitas. KPK bertanggung jawab kepada publik dan menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepada Presiden, DPR, dan BPK (http://id.wikipedia.org).
Kepolisisan Republik Indonesia (Polri) adalah Kepolisisan Nasional di Indonesia yang bertanggung jawab langsung di bawah Presiden. Polri mengemban tugas-tugas kepolisian di seluruh wilayah Indonesia. Polri dipimpin oleh seorang Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Polri didirikan awal mula pada tanggal 1 Juli 1946 serta didasari oleh UU No. 2 Tahun 2002 (http://id.wikipedia.org). Dalam perkembangan paling akhir dalam kepolisian yang semakin modern dan global, Polri bukan hanya mengurusi keamanan dan ketertiban di dalam negeri, akan tetapi juga terlibat dalam masalah-masalah keamanan dan ketertiban regional maupun antar bangsa, sebagaimana yang ditempuh oleh kebijakan PBB yang telah meminta pasukan-pasukan polisi termasuk Indonesia, untuk ikut aktif dalam berbagai operasi kepolisian.
Pasar modal merupakan sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan cara menjual saham atau obligasi (Jogiyanto, 2003). Pendirian pasar modal atau yang dikenal di Indonesia sebagai Bursa Efek Indonesia (BEI) berfungsi membantu pemerintah dalam mendorong perkembangan pembangu-nan, kegiatan investasi, menciptakan kesempatan kerja dan menggerakkan perekonomian negara melalui kekuatan swasta dan mengurangi beban negara.
Pasar modal merupakan pertemuan penawaran (supply) dan permintaan (demand)
dana jangka panjang yang transferable. Keberhasilan pembentukan pasar modal
dipengaruhi oleh supply dan demand tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pasar modal adalah (Husnan, 1998): (1) Supply sekuritas, yaitu
menunjukkan banyaknya perusahaan yang bersedia menerbitkan sekuritas di pasar modal; (2) Demand sekuritas, yaitu adanya anggota masyarakat yang memiliki dana cukup besar dan dipergunakan untuk membeli sekuritas-sekuritas yang ditawarkan; (3) Kondisi politik dan ekonomi, kondisi stabilitas politik ini ikut membantu pertumbuhan ekonomi yang
pada akhirnya mempengaruhi supply dan demand sekuritas.
pimpinan KPK itu sebagai tersangka, bahkan sempat menahan mereka berdua. Meskipun bukti-buktinya masih sangat lemah.
Konflik KPK vs Polri itu, memaksa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),
akhirnya turun tangan sebagai “wasit”, dengan membentuk sebuah tim independen
pencari fakta yang disebut Tim Delapan yang dipimpin oleh Adnan Buyung Nasution. Kasus tersebut akhirnya ditutup dengan Presiden SBY memberi perintah kepada Jaksa Agung untuk menerbitkan Surat Keputusan Penghentian Penuntuntan untuk Chandra M. Hamzah dan Bibid Waluyo.
Pada Juli 2012, konflik KPK vs Polri kembali terbuka, setelah KPK menetapkan mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka kasus korupsi di proyek simulator ujian SIM. Padahal, sebelumnya, Mabes Polri telah menyatakan bahwa setelah melakukan investigasi penyidikan internal, tak ditemukan unsur korupsi di proyek tersebut yang melibatkan Djoko Susilo. Begitu KPK mengumumkan Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka, terjadilah rentetan kejanggalan yang dilakukan oleh Polri. Tiba-tiba mereka mengumumkan bahwa mereka juga sebenarnya sedang menyidik kasus korupsi yang sama. Bersamaan dengan itu mengumumkan lima tersangka versi mereka. Maka terjadilah saling berebut kewenangan menyidik kasus korupsi tersebut. KPK merasa merekalah yang paling berwenang menyidik kasus tersebut, demikian juga Polri. Polri bahkan sempat melakukan serangan balik kepada KPK. Upaya kriminalisasi KPK pun kembali dilakukan.
Pada 5 Oktober 2012, sejumlah aparat kepolisian mengepung Gedung KPK untuk menangkap salah satu penyidik KPK yang juga berasal dari Polri, Komisaris (Pol) Novel Baswedan. Dia juga salah satu penyidik KPK yang berperan penting dalam pengungkapan kasus Djoko Susilo itu. Polri beralasan hendak menangkap Novel karena pada 2004, ketika bertugas di Bengkulu, dia pernah melakukan penganiayaan berat terhadap beberapa tersangka pencuri sarang burung walet di sana. Namun kriminalisai terhadap KPK itu kemudian terbukti merupakan hasil rekayasa. Setelah cukup lama konflik tersebut dibiarkan terjadi oleh SBY, barulah beliau turun tangan menengahi konflik KPK vs Polri itu. Lagi-lagi untuk kedua kalinya, SBY menjadi wasit konflik KPK vs Polri itu. Konflik KPK vs Polri jilid 2 itu diakhiri dengan Djoko Susilo dinyatakan bersalah dan dihukum penjara 18 tahun.
Pada awal tahun 2015, konflik antara KPK vs Polri jilid 3 dimulai. Konflik tersebut diawali dengan KPK membeberkan hasil penyelidikan kasus yang melibatkan petinggi Kepolisian RI. KPK menetapkan Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerimaan hadiah (gratifikasi) atau janji.
5
sengketa pilkada Kotawaringin, Kalimantan Tengah tahun 2010 silam. Sejak tanggal 23 Januari 2015 tersebut, dapat dikatakan konflik KPK vs Polri jilid 3 resmi dimulai. Hal ini karena sambutan publik, baik di dunia nyata maupun di dunia maya yang luar biasa atas kasus penangkapan tersebut. Ada pro kontra tanggapan publik atas kasus tersebut. Namun dapat dikatakan lebih banyak kontra dengan penangkapan tersebut karena dianggap kriminalisasi terhadap KPK.
Saham merupakan suatu kepemilikan aset, seperti instrumen dari kegiatan finansial suatu perusahaan yang biasa disebut juga dengan efek. Harga saham dari suatu perusahaan tentu saja berbeda-beda tergantung bagaimana suatu perusahaan tersebut nilai jualnya di bursa saham. Harga saham yang berlaku di pasar modal biasanya ditentukan oleh para pelaku pasar yang sedang melangsungkan perdagangan sahamnya. Dengan harga saham yang ditentukan, otomatis perdagangan saham di bursa efek akan berjalan.
Menurut Alwi (2003), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan harga
saham atau indeks harga saham, antara lain:
1. Faktor Internal (lingkungan mikro), yaitu :
a) Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti pengiklanan,
rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan produk, dan laporan penjualan.
b) Pengumuman pendanaan (financing announcements), seperti pengumuman yang
berhubungan dengan ekuitas dan hutang.
c) Pengumuman badan direksi manajemen (management-board of director
announcements), seperti perubahan dan pergantian direktur, manajemen, dan struktur organisasi.
d) Pengumuman pengambil-alihan diversifikasi, seperti laporan merger, investasi
ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan divestasi dan lainnya.
e) Pengumuman investasi (investment announcements), seperti melakukan ekspansi
pabrik, pengembangan riset dan, penutupan usaha lainnya.
f) Pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements), seperti negoisasi baru,
kontrak baru, pemogokan dan lainnya.
g) Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba sebelum
akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, earning per share (EPS) dan dividen per share (DPS), price earning ratio, net profit margin, return on assets (ROA), dan lain-lain.
2. Faktor Eksternal (lingkungan makro), yaitu :
a) Pengumuman dari pemerintah, seperti perubahan suku bunga tabungan dan
deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
b) Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan karyawan terhadap
perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
c) Pengumuman industri sekuritas (securities announcements), seperti laporan
d) Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya pergerakan harga saham di bursa efek suatu negara.
e) Berbagai isu baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Hubungan KPK vs Polri dengan Harga Saham
Kondisi politik suatu negara dapat mempengaruhi kondisi pasar saham di bursa. Dengan adanya pemberitaan politik tersebut, para investor bisa memprediksi seberapa kondusif keamanan negeri ini, sehingga kegiatan investasi dapat dilaksanakan. Hal tersebut akan berdampak besar pada pergerakan harga saham di bursa. Dari segi pasar saham, situasi politik yang kondusif akan membuat harga saham naik. Sebaliknya, jika situasi politik tidak menentu, maka akan menimbulkan unsur ketidakpastian dalam bisnis dan membuat harga saham turun.
Dengan adanya kasus KPK vs Polri akan berdampak pada penurunan harga saham di bursa. Hal tersebut dikarenakan turunnya permintaan investasi di pasar modal. Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian Asshodiqi (2015) yang menganalisis
tentang “Reaksi Pasar Modal terhadap Peristiwa Pelantikan Presiden Tahun 2014 (Event Study pada Saham LQ45, JII dan Sminfra 18)” menunjukkan hasil bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan terhadap perubahan volume perdagangan antara periode
sebelum – sesudah peristiwa pelantikan Presiden dan wakil Presiden. Hal tersebut
ditunjukkan oleh nilai asyimtotic sig pada indeks LQ45 sebesar 0,002 lebih kecil dari
alpha 5%, begitu pula dengan nilai asyimtotic sig pada indeks Sminfra18 sebesar 0,048
lebih kecil dari alpha 5%, sedangkan pada Jakarta Islamic Index (JII) tidak terdapat
perbedaan trading volume activity yang signifikan antara sebelum – sesudah peristiwan
pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian yang relevan, dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1: Harga saham sebelum kasus KPK vs Polri lebih tinggi dibanding harga saham sesudah kasus KPK vs Polri pada perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, properti & real estate, dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak berikut ini:
a. Bagi Investor
Hasil penelitian ini dapat memberikan keyakinan bagi investor dalam mengambil keputusan dan sebagai bahan pertimbangan dalam menginvestasikan dananya di Bursa Efek Indonesia (BEI).
b. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam menghadapi kondisi politik di Indonesia.
c. Bagi Pemerintah
2. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak kasus KPK vs Polri terhadap penurunan harga saham dari perusahaan yang bergerak di bidang jasa yaitu perbankan,
properti & real estatedan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
3. METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan di bidang jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan jasa merupakan bisnis yang berlandaskan kepercayaan dan biasanya terpengaruh oleh adanya kasus politik seperti kasus KPK vs Polri.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu
memilih sampel yang bisa memenuhi tujuan penelitian sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan (Cooper & Schindler, 2001). Kriteria yang digunakan adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa yaitu perbankan, properti & realestate, dan transportasi dan disyaratkan ada transaksi saham pada tanggal 23 Januari 2015 dan 26 Januari 2015. Tanggal 23 Januari adalah tanggal saat penangkapan Bambang Widjojanto sebagai tersangka yang dianggap sebagai tanggal sebelum penangkapan karena berita resmi menyebar pada malam hari saat bursa saham sudah ditutup dan tanggal 26 Januari 2015 adalah tanggal setelah penangkapan Bambang Widjojanto sebagai tersangka.
Berdasarkan kriteria tersebut di atas, sampel penelitian ini sebanyak 99 perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, properti & realestate, dan transportasi dengan rincian 33 perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, 37 perusahaan yang bergerak di bidang properti & real estate, dan 29 perusahaan yang bergerak di bidang transportasi.
Berikut ini adalah daftar nama perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini: AGRO, AGRS, APLN, APOL, ASRI, ASSA, BABP, BACA, BAPA, BBCA, BBKP, BBNI, BBRI, BBRM, BBTN, BCIP, BDMN, BEKS, BEST, BINA, BIPP, BIRD, BJBR, BJTM, BKDP, BKSL, BKSW, BMRI, BNBA, BNGA, BNII, BNLI, BSDE, BSIM, BTPN, BULL, BVIC, CANI, CASS, CMPP, COWL, CPGT, CTRA, CTRP, CTRS, DART, DILD, DNAR, ELTY, EMDE, GAMA, GIAA, GMTD, GPRA, GWSA, IATA, INDX, INPC, INSP, JRPT, KARW, KIJA, KPIG, LAMI, LCGP, LEAD, LPCK, LPKR, LRNA, MAYA, MBSS, MCOR, MDLN, MEGA, MIRA, MTLA, NIRO, NOBU, PNBN, PNBS, PTIS, PWON, RBMS, RDTX, RIGS, SDMU, SDRA, SMDM, SMDR, SMRA, SOCI, TARA, TAXI, TMAS, TPMA, TRAM, WEHA WINS, ZBRA.
Definisi Operasional Variabel
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kasus KPK vs Polri. Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Dalam penelitian ini, variabel terikat adalah harga saham. Variabel-variabel tersebut sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mengetahui dampak kasus KPK vs Polri terhadap penurunan harga saham.
Harga saham yang digunakan adalah harga saham pada saat close (harga saham saat
Januari 2015 (setelah penangkapan Bambang Widjojanto sebagai tersangka yang dianggap sebagai peristiwa sesudah kasus KPK vs Polri).
Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini yaitu menggunakan data sekunder yang bersumber dari pihak eksternal. Data sekunder yaitu data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui perantara atau dicatat oleh pihak lain. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Daftar data perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, properti & realestate, dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari www.idx.co.id dan harga saham perusahaan yang diperoleh dari http://finance.yahoo.com.
Teknik Analisis
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis dampak kasus KPK vs Polri
terhadap penurunan harga saham. Oleh karena itu, uji statistik yang dipakai adalah paired
sample t-test (uji t untuk sampel berpasangan). Paired sample t-test digunakan untuk menguji 2 sampel berpasangan apakah mempunyai rerata yang berbeda. Sampel berpasangan adalah sampel dengan subjek yang sama, namun mengalami perlakuan atau pengukuran yang berbeda. Biasanya uji berpasangan juga dikatakan sebagai uji sebelum dan sesudah. Oleh karena itu, jumlah data sebelum dan sesudah perlakuan harus sama. Perlakuan tersebut adalah kasus KPK vs Polri. Pengujian hipotesis meliputi:
a. Menentukan hipotesis statistik
Ho: Harga saham sebelum dan sesudah kasus KPK vs Polri adalah sama
Ha: Harga saham sebelum kasus KPK vs Polri lebih besar daripada harga saham sesudah kasus KPK vs Polri.
b. Menentukan besarnya α untuk mengetahui tingkat signifikansi hasil pengolahan data.
Ditentukan besarnya α sebesar 5%.
c. Melakukan uji-t dua sampel yang berpasangan terhadap harga saham satu hari
sebelum dan satu hari sesudah kasus KPK vs Polri.
d. Pengolahan data yang diperoleh, diolah menggunakan program SPSS (Statistics for
Products and Services Solution Release) seri 16,0 dengan metode paired sample t-test.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Hipotesis
Berdasarkan hasil pengolahan data dari perusahaan, diketahui rerata harga saham sebelum dan sesudah adanya kasus KPK vs Polri. Selain itu, diketahui juga hasil uji
hipotesis menggunakan paired sample t-test.
Tabel 1. Hasil Uji Hipotesis
Ket. Sebelum Kasus Sesudah Kasus Sig. Uji t
Harga Saham 1.516,28 1.500,94 0,047
Std. Dev 2.897,89 2.861,86
Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat rerata harga saham sesudah adanya kasus KPK vs Polri menurun dari Rp 1.516,28 menjadi Rp 1.500,94 dengan nilai signifikansi sebesar 0,047 (lebih kecil dari 0,05). Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Hal itu berarti hipotesis diterima, harga saham sebelum kasus KPK vs Polri lebih tinggi daripada harga saham sesudah kasus KPK vs Polri pada perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, properti & realestate, dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pembahasan
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa harga saham sesudah adanya kasus KPK vs Polri menurun secara signifikan dibandingkan dengan harga saham sebelum adanya kasus KPK vs Polri. Hal itu berarti adanya kasus KPK vs Polri akan berdampak pada penurunan harga saham. Dengan demikian, saham perusahaan tersebut tidak diminati oleh para investor, yang berarti menurunnya permintaan saham dan pada akhirnya akan menurunkan harga saham ketika permintaan saham perusahaan tersebut rendah.
Untuk melindungi investor dalam berinvestasi, baik asing maupun domestik, pemerintah perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang fluktuatif sangat terpengaruh oleh berbagai pengaruh, baik politik, hukum, dan keamanan. Oleh karena itu, pemerintah harus segera melakukan tindakan proaktif dalam menstabilkan situasi politik dan menjaga kestabilan aspek lainnya. Pembangunan infrastruktur, pemberantasan korupsi, dan regulasi undang-undang yang memudahkan investasi akan sangat membantu dalam menciptakan iklim pasar modal yang memadai. Prinsip kelangsungan hidup ekonomis industri efek, penekanan biaya transaksi serendah mungkin, prinsip keterbukaan, dan mempertahankan pasar yang wajar dan teratur dapat juga ditempuh pemerintah agar investasi semakin mudah dan sehat. Kemudahan investasi adalah jalan untuk pemerataan pendapatan masyarakat dan merangsang investor domestik dan asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Seorang investor harus cerdas dalam mengambil keputusan berinvestasi, yaitu: (1) Para investor harus mempunyai mental yang kuat, jangan mudah terpengaruh oleh kondisi ekonomi-politik suatu negara; (2) Para investor harus mengetahui reputasi perusahaan yang sahamnya akan dibeli, dan mampu menilai kinerja perusahaan tersebut; (3) Jangan menggunakan emosi pada saat berinvestasi, karena hal tersebut dapat membuat keputusan investasi yang tidak sehat; (4) Jangan hanya berinvestasi pada satu perusahaan saja, gunakan portofolio saham.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan sintesis, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Dengan adanya kasus KPK vs Polri dapat menurunkan harga saham bagi perusahaan
yang bergerak di bidang jasa, khususnya perbankan, properti dan realestate, dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan kata lain, para investor tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan pembelian saham pada bidang jasa tersebut dan pada akhirnya berdampak pada penurunan harga saham perusahaan.
b. Jika harga saham tersebut terus menurun, maka para pemegang saham tidak bisa
memperoleh keuntungan investasi saham yang berupa capital gain dan bahkan
mungkin mengalami kerugian investasi saham yang berupa capital loss.
mempengaruhi permintaan (demand) akan saham, dan dapat menurunkan harga saham di Pasar Modal Indonesia.
6. UCAPAN TERIMA KASIH
Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Siti Djamilah, SE, M.Si selaku Dosen Pendamping, Ibu Wiwik Herawati, SE, MM selaku Ketua Jurusan Manajemen, Ibu Isetyowati Andayani, SH, MH selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan yang telah meluangkan waktunya untuk membantu terselesaikannya penulisan artikel ini. Serta semua pihak yang telah membantu baik dalam bentuk bantuan moral maupun material yang telah memperlancar penulisan artikel ilmiah ini.
7. DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Iskandar Z. 2003. Pasar Modal, Teori dan Aplikasi. Jakarta: Nasindo Internusa.
Asshodiqi, Ahmad. 2015. Reaksi Pasar Modal terhadap Peristiwa Pelantikan Presiden
Tahun 2014 (Event Study pada Saham LQ45, JII, dan SMINFRA18). Skripsi,
Malang: Universitas Brawijaya.
Cooper, D. R. & Schindler, P. S. 2001. Business Research Methods. Seventh Edition.
New York: Mc Graw-Hill.
(https://finance.yahoo.com). Diakses tanggal 16 Maret 2015.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kepolisian_Negara_Republik_Indonesia). Diakses tanggal 14 Maret 2015.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Pemberantasan_Korupsi_Republik_Indonesia). Diakses tanggal 14 Maret 2015.
Husnan, S. 1998. Manajemen Keuangan: Teori dan Penerapan. Buku II, Edisi 4,
Yogyakarta: BPFE.
Jogiyanto, H.M. 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi 3. Yogyakarta:
BPFE.
(www.dw.de/kronologi-cicak-versus-buaya-jilid-tiga/a-18211420). Diakses tanggal 14 Maret 2015.