Kategori Penulis : MADYA
PENGUNGKAPAN ETHICAL IDENTITY PADA PERBANKAN SYARIAH INDONESIA DAN MALAYSIA
Oleh
Indria Puspitasari Lenap, SE., M.Ak. [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luas pengungkapan Ethical Identity pada perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia. Dengan menggunakan sampel sebanyak 27 perusahaan terdiri dari 11 Bank Syariah di Indonesia dan 16 Bank Syariah di Malaysia, peneliti menguji indeks pengungkapan yang dikembangkan oleh Haniffa, R. dan Hudaib, M. (2007) yaitu Ethical Identity Index. Hasil penelitian menemukan bahwa Indeks pengungkapan Ethical Identity untuk 9 Dimensi pada masing-masing perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia pada tahun 2014 menunjukkan bahwa secara keseluruhan rata-rata pengungkapan kedua negara sebesar 61% atau berada pada level menengah. Pengungkapan di Indonesia menunjukkan hasil pengungkapan yang cukup tinggi (68%) dibandingkan dengan Malaysia (54%).
Hasil analisis untuk tiap-tiap Dimensi pada Bank Syariah di Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan bahwa pengungkapan tertinggi terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Karyawan sebesar 93 sementara pengungkapan terendah terdapat pada Dimensi Visi dan Misi sebesar 46%. Sementara pengungkapan tertinggi pada Bank Syariah Malaysia pada tahun 2014 terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Debitur yaitu sebesar 75% and diikuti dengan Dimensi Dewan pengawas Syariah sebesar 69%, sementara pengungkapan terendah terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Lingkungan yaitu sebesar 13%. Dari hasil ini dapat disimpulkan, bahwa secara umum pengungkapan Ethical Identity di kedua negara belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam penerapan etika bisnis yang sesuai dengan prinsip syariah.
Kata Kunci : Perbankan Syariah, Pengungkapan, Ethical Identity Index. 1. PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
perbankan syariah tidak diperkenankan untuk melakukan transaksi yang mengandung unsur Riba (bunga), Maisr (spekulasi), Gharar (ketidakpastian), Zulm (pemerasan) dan transaksi lain yang dilarang menurut prinsip syariah (Rahman, R. A, Danbatta, B. L. Saimi, N. S., 2014).
Larangan riba dalam prinsip Islam menyebabkan bank syariah tidak diperkenankan untuk menawarkan jasa keuangan konvensional, melainkan harus sesuai dengan prinsip syariah seperti Mudharabah, Musyarakah dan Ijarah. Sebaliknya, bank konvensional menjalankan bisnisnya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan cara apapun. Bagi bank syariah, laba hanyalah bagian dari tujuan perusahaan, bukan tujuan utama ( Zubairu , U. M. , Sakariyau , O. B. dan Dauda , C. K. , 2012).
Dalam Islam, praktik transparansi dan pengungkapan merupakan elemen yang sangat penting khususnya terkait dengan kerjasama bisnis. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa transaksi bisnis bebas dari praktik yang tidak syar’i. Pensyariatan tersebut juga dijelaskan dalam Al Quran. Beberapa ayat dalam Al Quran menegaskan tentang prinsip keadilan, trasnparansi dan perilaku etis dalam setiap transaksi bisnis. Sebagai contoh, dalam surat Al Baqarah ayat 282 dijelaskan bahwa “apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya”. Hal ini untuk memastikan bahwa kewajiban dan transaksi dilaksanakan dengan benar tanpa adanya keraguan dari pihak yang melakukan perjanjian (Rahman, R. A, and Saimi, N. S., 2014).
Bahkan dalam ayat yang lain disebutkan bahwa riba merupakan satu dari dua dosa yang Allah mengumumkan perang terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dalam Al Quran surat Al Baqarah 278-279 disebutkan “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (Zubairu, U. M., Sakariyau, O. B. and Dauda, C. K., 2011).
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah melaknat para pelaku riba, Ini adalah seruan untuk semua orang beriman tanpa pandang suku, ras, warna kulit dan bangsa. Orang beriman adalah orang mengimani semua yang wajib diimani dengan ucapan lisan, keyakinan hati dan pengamalan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan bisa berkurang dengan kedurhakaan kepada Allah. Allah melarang orang-orang beriman dari bermuamalah atau bertransaksi dengan cara riba. Orang yang bertaubat dari riba diperbolehkan mengambil pokok harta
atau modalnya saja, tanpa hasil riba-nya yang merupakan hak orang lain dan bukan haknya, sehingga tidak mendzalimi orang lain dan juga tidak didzalimi dengan mengurangi harta pokoknya. Bertaubat dengan taubat yang benar itu adalah menyesal, tidak berbuat lagi dan berjanji tidak mengulangi lagi selamanya. Kalau dosanya berhubungan dengan orang lain maka wajib diselesaikan.
Sebagai salah satu negara Muslim terbesar di dunia, keberadaan perbankan di Indonesia khususnya perbankan syariah sangat diapresiasi oleh masyarakat Indonesia karena sesuai dengan prinsip-prinsip dasar yang menjalankan prinsip-prinsip gotong royong atau kekeluargaan (Islamic Bank Information, 2011). Pengembangan perbankan syariah di Indonesia diarahkan untuk memberikan kemaslahatan terbesar bagi masyarakat dan berkontribusi secara optimal bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, maka arah pengembangan perbankan syariah nasional selalu mengacu kepada rencana-rencana strategis lainnya, seperti Arsitektur Perbankan Indonesia (API), Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI), serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) (www.bi.go.id).
Sementara itu, perbankan syariah di Malaysia pertama kali ada tahun 1983, dengan pemerintah sebagai penyokong utama pendirian dan pengaturan regulasi secara khusus. Untuk mendukung eksistensi perbankan syariahnya Malaysia membentuk Badan Penasehat Syariah (Shariah Advisory Council) atau di Indonesia dikenal dengan Dewan Pengawas Syariah. SAC diberikan kewenangan untuk memastikan diterapkannya hukum Islam untuk tujuan bisnis perbankan syariah, bisnis takaful, bisnis keuangan syariah dan bisnis lainnya yang didasarkan pada prinsip-prinsip syariah yang diawasi dan diatur oleh Bank Negara Malaysia. Sebagai badan referensi dan penasihat Bank Negara Malaysia, SAC juga bertanggung jawab untuk memvalidasi semua kegiatan perbankan syariah dan produk takaful serta memastikan kesesuaiannya dengan prinsip Syariah. Selain itu juga menjadi penasehat bagi Bank Negara Malaysia dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan bisnis keuangan syariah atau transaksi dari Bank Negara Malaysia serta entitas terkait lainnya (http://www.bnm.gov.my). Sampai saat ini total market share perbankan syariah di Malaysia telah menyentuh angka lebih 20% dan total asetnya sudah mencapai US$ 423,2 miliar atau sekitar sepuluh kali lipat dibandingkan dengan total aset perbankan syariah di Indonesia. Hal ini menurut pengamatan Direktur Pengaturan Pengembangan Perizinan dan Pengawasan Perbankan Syariah OJK dikarenakan bank syariah di Malaysia berdiri dan berkembang mendapat sokongan kuat dari pemerintahnya atau disebut dengan istilah top-down (Bank Negara Malaysia, 2012).
ketidaksesuaian budaya, semakin miripnya produk/jasa, kekuatan terhadap teknologi, regulasi dan globalisasi untuk mengubah bentuk bisnis. Bank syariah sebagai institusi keuangan Islam yang berbeda dengan bank konvensional lainnya memiliki pandangan yang secara konsep fundamental berlaku hak kepemilikan dan kontrak yang mengatur perilaku, etika, moral ekonomi dan sosial, baik individu, lembaga, masyarakat ataupun negara. Perspektif fundamental ini diyakini bahwa keyakinan terhadap agama, serta sokongan terhadap bank syariah akan menjadikan sistem ekonomi ini terintegral dan agama Islam menjadi aplikatif dalam segala zaman (Sukardi, Budi & Wijaya, Taufik, 2013).
Diharapkan dengan pengungkapan Ethical Identity perbankan Islam akan mendorong perbaikan terhadap tatanan lembaga perbankan syariah di Indonesia dalam aspek budaya dan etika serta pengaturan, pengawasan dalam mengendalikan perusahaan pada aspek financial, contractual, dan work governance,7 peningkatan kinerja ekonomi dan keuangan serta perbaikan citra dan reputasi di tengah ketatnya persaingan industri keuangan global (Sukardi, Budi & Wijaya, Taufik, 2013).
Kombinasi nilai-nilai Islam dalam transaksi bisnis diharapkan dapat meningkatkan nilai dan kinerja positif bagi perusahaan. Kepatuhan perusahaan terhadap prinsip syariah dapat dilihat dari penerapan nilai-nilai Islam dalam perusahaan tersebut. Dengan demikian, penelitian ini berusaha untuk menganalisis luas pengungkapan Ethical Identity sebagai perwujudan ketaatan terhadap prinsip syariah (Said, R., Daud, M. Md. Radjeman, L.A. and Ismail. N., 2013).
1.2. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu “Seberapa luas pengungkapan Ethical Identity Index oleh perbankan syariah yang ada di Indonesia dan Malaysia?”
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis luas pengungkapan Ethical Identity Index oleh perbankan syariah yang ada di Indonesia dan Malaysia.
1.4. TELAAH LITERATUR
1.4.1. ETHICAL IDENTITY INDEX
Ethical Identity merupakan sebuah konsep yang menunjukkan perbedaan unik suatu bank khususnya pada perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional. Dalam konteks pelaporan keuangan syariah, masalah sosial menjadi faktor utama pengungkapan dalam laporan keuangan (Rahman, A. A. and Bukair, A. A., 2013). Tujuan utama dalam pelaporan keuangan perbankan syariah dan lembaga keuangan ditetapkan oleh Organisasi Akuntansi dan Auditing untuk Lembaga Keuangan Islam (AAOIFI).
Mengacu pada pengungkapan Ethical Identity yang dikembangkan oleh Haniffa, R. and Hudaib, M. (2007) pengungkapan Ethical Identity terdiri dari 9 Dimensi yang meliputi 78 konstruk antara lain; Visi dan Misi : 9 item, Dewan Komisaris dan
Manajemen Puncak: 13 item, Produk : 10 item, Zakat, Shodaqoh dan Pinjaman Kebajikan : 14 item, Komitmen terhadap Kayawan : 9 item, Komitmen terhadap Debitur : 4 item, Komitmen terhadap Masyarakat : 6 item, Komitmen terhadap Lingkungan : 2 item, Dewan Pengawas Syariah :11 item.
1.4.2. PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA DAN MALAYSIA
Perbankan Islam di Indonesia pertama kali dirintis oleh Bank Muamalat Indonesia yang berdiri pada tahun 1991 melalui inisiatif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) serta para pengusaha Muslim Indonesia. Sampai dengan akhir tahun 2012, terdapat 11 perbankan syariah, 24 unit syariah dan 508 kantor cabang syariah di Indonesia (Ulum, 2013).
Islam adalah falsafah hidup yang lengkap yang tidak memisahkan antara keyakinan dan aktivitas hidup sehari-hari termasuk didalamnya kegiatan ekonomi. Bahkan, Islam sangat menganjurkan untuk berdagang dan Muslim didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi selama tidak melanggar prinsip syariah. Hal ini mendorong munculnya Lembaga Keuangan Syariah. Sejak itu, terjadi perkembangan yang signifikan dalam industri Lembaga Keuangan Syariah, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Mengikuti perkembangan industri Lembaga Keuangan Syariah yang ada, pemerintah Malaysia akhirnya membentuk Bank Islam Malaysia Berhad pada tahun 1993 dan Bank Muamalat Berhad pada tahun 1999 (Mohammed, Nor Farizal., Mohd Fahmi, Fadzlina., Ahmad, Asyaari Elmiza, 2015).
Di Malaysia, jumlah sekuritas syariah telah meningkat tajam tiap tahunnya. Terdapat lebih dari 80 persen sekuritas yang tercatat di Bursa Malaysia merupakan sekuritas syariah. Keberadaan sekuritas syariah menjadikan Malaysia sebagai negara dengan Pasar Modal Syariah yang terbaik di Asia (Bank Negara Malaysia, 2012).
1.5. STUDI EMPIRIS
Zubairu, U. M., Sakariyau, O. B. and Dauda, C. K. (2011), menemukan bahwa Islamic Bank of Britain (IBB) sebagai institusi yang beroperasi dengan prinsip syariah memiliki praktek pengungkapan yang sangat rendah. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa dari 9 Dimensi yang diungkapkan, Dimensi Komitmen bank terhadap Debitur memiliki pengungkapan yang tertinggi, sementara pengungkapan terendah terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Lingkungan.
Rahman, R. A, Saimi, N. S. (2014), menemukan bahwa tingkat pengungkapan aktual keseluruhan di Malaysia dan Bahrain sebesar 51.7%. Pengungkapan tertinggi terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Debitur sebesar 77.7%, sementara yang terendah terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Lingkungan 6.6%. Rahman, R. A, Danbatta, B. L. Saimi, N. S. (2014), menemukan bahwa pengungkapan aktual yang rendah secara keseluruhan di Malaysia dan Bahrain sebesar 51.6%. Sementara untuk masing-masing negara Bahrain memiliki pengungkapan cukup baik sebesar (56.4%) sedangkan Malaysia hanya sebesar 47.1%.
Kebajikan pada Bank Muamalat dan Bank Alliance cukup rendah dan tidak satupun perbankan yang mengungkapkan dalam tentang item Sumber dan Penggunaan Zakat pada Laporan Keuangan Tahunannya. Sebaliknya, secara penuh mengungkapkan tentang item pengesahan oleh Dewan Pengawas Syariah terkait dengan perhitungan dan penyaluran zakat.
Sukardi, Budi & Wijaya, Taufik. (2013). Hasil beberapa indeks identitas etika Bank Umum Syariah Nasional Devisa, Non Devisa dan Campuran, Bank Syariah belum memberikan hasil yang maksimal dalam melakukan kebutuhan etika bisnis di Perbankan Syariah. Identitas etika Bank Syariah yang juga melekat pada bisnis yang dilakukan juga berhubungan dengan komoditas yang dibisniskan, karena identitas merupakan bagian personalitas perseroan dalam mencapai sasaran bisnis.
1.6. RERANGKA KONSEPTUAL
Penelitian ini menguji pengungkapan Ethical Identity pada perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim yang besar, transparansi, pengungkapan dan kepatuhan terhadap prinsip syariah merupakan elemen yang sangat penting.
Semakin tinggi tingkat pengungkapan Ethical Identity, semakin baik pula tata kelola perusahaan dan perusahaan semakin dianggap memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi (Rahman, R. A, Danbatta, B. L. Saimi, N. S. (2014). Berdasarkan konsep keadilan sosial, organisasi bisnis Islam dilarang untuk melakukan kegiatan yang mengandung unsur pemerasan. Organisasi bisnis berbasis Islam juga diwajibkan untuk berlaku adil dengan para pemangku kepentingan mereka termasuk karyawan, klien dan semua kelompok pemangku kepentingan dalam masyarakat di mana mereka beroperasi (Rahman, A. A. and Bukair, A. A. (2013).
Perbankan syariah, sebagai institusi sosial dan ekonomi diharapkan dapat mengungkapkan lebih banyak mengenai dimensi-dimensi yang mencerminkan akuntabilitas dan keadilan, tidak hanya untuk masyarakat tetapi yang paling utama sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT (Haniffa, R. dan Hudaib, M. (2007). Maali et al, 2006 in Rahman, A. A. dan Bukair, A. A. (2013), juga menjelaskan bahwa akuntabilitas dalam Islam terdiri dari 2 hal yaitu akuntabilitas kepada Allah SWT dan akuntabilitas kepada masyarakat, karena Allah SWT adalah pemilik segala dan manusia bertanggung jawab untuk menggunakan sumber daya dengan cara yang ma’ruf. Berdasarkan konsep ini, manusia harus mengikuti syariat dalam semua aspek kehidupannya (Baydoun, N., and Willett, R. (2000).
Berdasarkan pengungkapan Ethical Identity Index yang dikembangkan oleh Haniffa, R. dan Hudaib, M. (2007). Peneliti ingin menguji luas pengungkapan Ethical Identity pada perbankan syariah di Indoensia dan Malaysia dengan menggunakan data Laporan Keuangan Tahunan yang dipublikasikan oleh masing-masing bank.
Gambar 1. Rerangka konseptual penelitian
PENGUNGKAPAN
6 - VISI DAN MISI
- DEWAN KOMISARIS DAN MANAJEMEN PUNCAK
- PRODUK
1. METODOLOGY PENELITIAN 1. DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan studi eksplorasi untuk mengetahui luas pengungkapan Ethical Identity dengan menggunakan data yang terdapat dalam laporan keuangan tahunan Bank Syariah yang ada di Indonesia dan Malaysia pada tahun 2014. Index pengungkapan yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan oleh Haniffa, R. and Hudaib, M. (2007). Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, peneliti juga menggunakan analisis konten (isi). Analisis ini diharapkan dapat memberikan hasil penelitian yang valid dan dapat diandalkan (Zubairu, U. M., Sakariyau, O. B. and Dauda, C. K. (2011).
2. SAMPEL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Indonesia dan Malaysia, dengan jumlah populasi Bank Syariah sebanyak 27 Perusahaan. Penarikan jumlah sampel didasarkan pada ketersediaan data yang dibutuhkan dalam laporan keuangan pada tahun 2014. Dari kriteria tersebut diperoleh jumlah sampel sebanyak 27 perusahaan (sama dengan jumlah populasi). Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
NO MALAYSIA INDONESIA
1 Affin Islamic Bank Berhad PT Bank Syariah Mandiri
2 Al Rajhi Banking & Investment Corporation (Malaysian) Berhad
PT. Bank Syariah Muamalat Indonesian
3 Alliance Islamic Bank Berhad PT Bank Syariah BNI
4 AmIslamic Bank Berhad PT Bank Syariah BRI
5 Asian Finance Bank Berhad PT. Bank Syariah Mega
Indonesian
6 Bank Islam Malaysian Berhad PT Bank Jabar dan Banten
7 Bank Muamalat Malaysian Berhad PT Bank Panin Syariah
8 CIMB Islamic Bank Berhad PT Bank Syariah Bukopin
9 HSBC Amanah Malaysian Berhad PT Bank Victoria Syariah
10 Hong Leong Islamic Bank Berhad PT BCA Syariah
11 Kuwait Finance House (Malaysian) Berhad PT Maybank Indonesian Syariah 12 Maybank Islamic Berhad
13 OCBC Al-Amin Bank Berhad 14 Public Islamic Bank Berhad 15 RHB Islamic Bank Berhad
16 Standard Chartered Saadiq Berhad
3. INSTRUMEN PENELITIAN
4. PENGUMPULAN DATA
Laporan Keuangan Tahunan perbankan syariah Indonesia dan Malaysia diperoleh secara online dari situs masing-masing bank untuk tahun 2014. Laporan Keuangan dibaca secara lengkap untuk memperoleh data bagi masing-masing item yang diungkapkan sebagai dasar untuk melengkapi checklist Ethical Identity.
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara tingkat pengungkapan aktual dengan tingkat pengungkapan yang ideal sebagaimana diuraikan dengan checklist, maka digunakan Ethical Identity Index (EII). Penilaian dilakukan dengan memberikan skor 1 untuk item yang diungkapkan dalam laporan keuangan, sedangkan skor 0 diberikan untuk item yang tidak diungkapkan dalam laporan keuangan.
5. OPERATIONALISASI VARIABEL
Pengungkapan Ethical Identity memiliki 9 Dimensi yang terdiri dari 78 item (Haniffa, R. dan Hudaib, M., 2007) :
1. Visi dan Misi : 9 item
2. Dewan Komisaris dan Manajemen Puncak : 13 item
3. Produk : 10 item
4. Zakat, Shodaqoh dan Pinjaman Kebajikan : 14 item
5. Komitmen terhadap Karyawan : 9 item
6. Komitmen terhadap Debitur : 4 item
7. Komitmen terhadap Masyarakat : 6 item
8. Komitmen terhadap Lingkungan : 2 item
9. Dewan Pengawas Syariah : 11 item
Total : 78 item
Rumus Ethical Identity Index : EIIj=
∑
Xijnj
………(2)
Dimana :
EIIj : Ethical Identity Index
Xij : 1 jika item diungkapkan, 0 jika item tidak diungkapkan nj : Jumlah item pengungkapan masing-masing dimensi
3. Hasil Pengujian dan Diskusi Hasil Penelitian
Tabel 1. Hasil Pengungkapan Ethical Identity Index pada Tahun 2014
N
o Ethical Identity Index INDONESIA MALAYSIA
1 Visi dan Misi 46% 43%
2 Dewan Komisaris dan Manajemen Puncak 69% 58%
3 Produk 72% 64%
4 Zakat, Shodaqoh dan Pinjaman Kebajikan 68% 53%
5 Komitmen terhadap Karyawan 93% 68%
6 Komitmen terhadap Debitur 73% 75%
7 Komitmen terhadap Masyarakat 85% 41%
8 Komitmen terhadap Lingkungan 50% 13%
9 Dewan Pengawas Syariah 60% 69%
Rata-rata 68% 54%
Visi dan Misi Dewan Komisaris dan Manajemen Puncak Produk Zakat, Shodaqoh dan Pinjaman Kebajikan Komitmen terhadap Karyawan Komitmen terhadap Debitur Komitmen terhadap Masyarakat Komitmen terhadap Lingkungan Dewan Pengawas Syariah
46% 69%
72% 68%
93% 73%
85% 50%
60%
43% 58%
64% 53%
68% 75% 41%
13%
69%
ETHICAL IDENTITY INDEX
INDONESIA MALAYSIA
4.1. Diskusi Hasil untuk Pengungkapan secara Keseluruhan
Tabel 1 menunjukkan Indeks pengungkapan Ethical Identity untuk 9 Dimensi pada masing-masing perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia pada tahun 2014. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan rata-rata pengungkapan Ethical Identity kedua negara sebesar 61% atau berada pada level menengah. Selanjutnya, dapat dilihat juga bahwa pengungkapan di Indonesia cukup tinggi (68%) dibandingkan dengan Malaysia (54%).
Diskusi hasil penelitian tiap Dimensi
Hasil analisis pada Bank Syariah di Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan bahwa pengungkapan tertinggi terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Karyawan sebesar 93% diikuti dengan Dimensi Komitmen terhadap Masyarakat sebesar 85%, sementara pengungkapan terendah terdapat pada Dimensi Visi dan Misi sebesar 46%. Pengungkapan perbankan syariah di Indonesia dapat dikatakan cukup baik, dimana hanya terdapat satu dari 9 Dimensi yang berada pada level dibawah 50%. Sementara sisanya berada pada index pengungkapan sebesar 50% bahkan lebih tinggi.
Secara keseluruhan pengungkapan tertinggi pada Bank Syariah Malaysia pada tahun 2014 terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Debitur yaitu sebesar 75% dan diikuti dengan Dimensi Dewan pengawas Syariah sebesar 69%, sementara pengungkapan terendah terdapat pada Dimensi Komitmen terhadap Lingkungan yaitu sebesar 13%. Terdapat 3 Dimensi yang berada dibawah angka 50% antara lain; Visi dan Misi (43%), Komitmen terhadap Masyarakat (41%) dan Komitmen terhadap Lingkungan (13%). Hasil ini menunjukkan bahwa level pengungkapan pada Bank Malaysia cukup rendah.
Hasil yang sama juga ditemukan oleh Rahman, R. A, Saimi, N. S. (2014),yang menunjukkan bahwa praktek pengungkapan keseluruhan di Malaysia hanya sebesar 47% dan Rahman, R. A, Danbatta, B. L. Saimi, N. S. (2014) menemukan bahwa pengungkapan yang dilakukan perbankan syariah di Malaysia cukup rendah. Selanjutnya, Obid, S. N. S. dan Hajj, A. F. (2011), menemukan bahwa pengungkapan perbankan syariah di Malaysia hanya sebesar 47.33% saja.
Pembahasan
Tinggi rendahnya praktek pengungkapan Ethical Identity pada perbankan syariah tidak hanya ditentukan oleh organisasi itu sendiri, namun juga ditentukan oleh peran dari otoritas lembaga keuangan di negara tersebut. Regulasi dan pengawasan dari para regulator menjadi faktor utama yang mendorong kepatuhan perbankan syariah terhadap aturan. Hasil penelitian kedua negara menunjukkan bahwa praktek pengungkapan di Indonesia dan Malaysia masih belum maksimal. Masih kurangnya upaya untuk mendorong keterbukaan dan akuntabilitas akan cenderung menurunkan reputasi bank syariah sebagai suatu entitas bisnis yang berlandaskan etika dan berbeda dengan sistem konvensional sehingga dibutuhkan strategi dan modal yang kuat untuk mampu bersaing dengan perbankan konvensional terlebih dalam menghadapi tantangan MEA, yang salah satunya adalah melalui pengungkapan Ethical Identity sebagai perwujudan dari identitas Islam perbankan syariah.
4. SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil pengujian pengungkapan Ethical Identity dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat pengungkapan keseluruhan di Indonesia dan Malaysia sebesar 61%, yang mengindikasikan bahwa pengungkapan di kedua negara ini masih berada pada level medium (menengah). Hasil pengungkapan Ethical Identity belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam penerapan etika bisnis yang sesuai dengan prinsip syariah. Sebagai suatu entitas yang mengusung prinsip syariah diharapkan perbankan syariah mampu menjadi pioneer bagi pembangunan kesejahteraan umat khususnya bagi masyarakat Muslim. Sehingga diharapkan di masa yang akan datang perbankan syariah lebih fokus dalam meningkatkan transparansi melalui pengungkapan Ethical Identity
yang tentunya akan semakin meningkatkan kepercayaan publik terhadap eksistensi dan misi perbankan syariah sebagai entitas yang mengedepankan kemakmuran masyarakat.
Keterbatasan penelitian ini adalah hanya menggunakan satu tahun observasi sehingga diharapkan penelitian selanjutnya dapat menambah periode penelitian dan membandingkan pengungkapan Ethical Identity Index selama beberapa tahun.
REFERENSI
Bank Negara Malaysian. (2011). List of licensed banking institutions in Malaysian.Bank Negara Malaysian: Kuala Lumpur, Malaysian.
Bank Negara Malaysian. (2012). Building a progressive Islamic banking sector: Charting the way forward. Governor’s Speech at the Seminar on 10-Year Master Plan for Islamic.
Baydoun, N., and Willett, R. (2000). Islamic Corporate Reports. Abacus, 36(1), 71-90. Haniffa, R. and Hudaib, M. (2007). Exploring the Ethical Identity of Islamic financial
institutions via communication in the annual reports [Special Issue]. Journal of Business Ethics, 76 (1), 103-122.
Islamic Bank Information. (2011). History of Islamic Banking in Indonesian.
Mohammed, Nor Farizal., Mohd Fahmi, Fadzlina., Ahmad, Asyaari Elmiza. (2015). The influence of AAOIFI Accounting Standards in Reporting Islamic Financial Institutions in Malaysia. INTERNATIONAL ACCOUNTING AND BUSINESS CONFERENCE 2015, IABC 2015, Procedia Economics and Finance 31 ( 2015 ) 418 – 424.
Obid, S. N. S. And Hajj, A. F. (2011). Bank Ethical Disclosure Level : Malaysiann Islamics Bank. Asia Pacific Journal of Accounting and Finance Volume 1 (2), June 2011.
Rahman, A. A. and Bukair, A. A. (2013). The Influence of the Shari’ah Supervision Board on Corporate Social Responsibility Disclosure by Islamic Banks of Gulf Co-Operation Council Countries. Asian Journal of Business and Accounting 6(2), 2013 ISSN 1985–4064.
Rahman, R. A, Danbatta, B. L. Saimi, N. S. (2014). Corporate Ethical Identity Disclosures: The Perceived, the Publicized and the Applied in Islamic Banks.
International Journal of Trade, Economics and Finance, Vol. 5, No. 2, April 2014. Rahman, R. A, Saimi, N. S. (2014). Determinants Of Ethical Identity Disclosure Among
Malaysian And Bahrain Islamic Banks. Universiti Teknologi MARA, 40450 Shah Alam, Malaysian.
Said, R., Daud, M. Md. Radjeman, L.A. and Ismail. N. (2013). Probing Corporate Ethical Identity of Shari’ah Compliant Companies. International Conference on Economics and Business Research 2013 (ICEBR 2013).
Sukardi, Budi & Wijaya, Taufik. (2013). Corporate Ethical Identity Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal TSAQAFAH Vol. 9, No. 2, November 2013.
Ulum, Ihyaul. (2013). iB-VAIC: Model Pengukuran Kinerja Intellectual Capital Perbankan Syariah di Indonesian. ResearchGate.
Zubairu, U. M., Sakariyau, O. B. and Dauda, C. K. (2011). Social Reporting Practices Of Islamic Banks In Saudi Arabia. International Journal of Business and Social Science Vol. 2 No. 23 [Special Issue – December 2011].
Zubairu, U. M., Sakariyau, O. B. and Dauda, C. K. (2012). Evaluation of Social Reporting Practices of Islamic Banks in Saudi Arabia. EJBO Electronic Journal of Business Ethics and Organization Studies Vol. 17, No. 1 (2012).
http://www.bi.go.id. LAMPIRAN
PENGUNGKAPAN ETHICAL IDENTITY INDONESIA MALAYSIA Visi dan Misi 1. Komitmen beroperasi sesuai dengan prinsip
syariah 82% 100%
2. Komitmen menyediakan returns sesuai syariah
91% 94%
3. Fokus memaksimalkan keuntungan pemegang
saham 55% 31%
4. Melayani kebutuhan Muslim sekarang 64% 44% 5. Melayani kebutuhan Muslim masa depan 64% 19% 6. Komitmen terlibat hanya pada investasi yang
diperbolehkan Islam
0% 0%
7. Komitmen terlibat hanya pada kegiatan
pendanaan yang diperbolehkan Islam 0% 0% 8. Komitmen memenuhi kontrak melalui uqud 0% 0%
10. Nama dewan komisaris 100% 100%
11. Posisi dewan komisaris 100% 100% 12. Foto dewan komisaris 100% 31% 13. Profil dewan komisaris 100% 100% 14. Kepemilikan saham dewan komisaris 27% 0% 15. Jabatan ganda oleh dewan komisaris 36% 6% 16. Keanggotaan komite audit 100% 100% 17. Komposisi dewan komisaris: eksekutif vs
non-eksekutif 100% 94% 18. Peran ganda: CEO adalah ketua dewan
komisaris 0% 6% 19. Nama manajemen puncak 100% 100% 20. Posisi manajemen puncak 100% 94% 21. Foto manajemen puncak 9% 6% 22. Profil manajemen puncak 18% 13%
Rata-rata 69% 58%
Produk 23. Tidak ada keterlibatan dalam kegiatan nonhalal 45% 75% 24. Persen tase laba dari keterlibatan pada kegiatan
nonhalal 27% 6% 25. Alasan keterlibatan pada kegiatan nonhalal 18% 25% 26. Penanganan kegiatan nonhalal 27% 25% 27. Memperkenalkan produk baru 100% 13% 28. Persetujuan Dewan Pengawas Syariah (DPS)
sebelum produk baru 100% 100% 29. Dasar konsep syariah atas produk baru 100% 100% 30. Daftar/definisi produk 100% 100% 31. Kegiatan investasi - umum 100% 100% 32. Kegiatan pembiayaan - umum 100% 100%
Zakat, Shodaqoh dan Pinjaman Kebajikan
33. Zakat yang harus dibayarkan oleh individu 27% 0%
34. Bank bertangung jawab untuk zakat 91% 81% 35. Jumlah yang dibayarkan untuk zakat 91% 81% 36. Sumber dana zakat 91% 94% 37. Penggunaan dana zakat 91% 31% 38. Saldo zakat yang tidak didistribusikan 18% 6% 39. Alasan adanya saldo zakat 0% 0% 40. Pengesahan oleh Dewan Pengawas Syariah
bahwa sumber dan penggunaan zakat sudah sesuai dengan prinsip syariah
91% 100%
41. Pengesahan oleh Dewan Pengawas Syariah bahwa zakat telah dibayarkan sesuai dengan prinsip syariah
91% 100%
43. Penggunaan dana shodaqoh 91% 25% 44. Sumber dana pinjaman kebajikan 91% 88% 45. Penggunaan dana pinjaman kebajikan 91% 19% 46. Kebijakan untukdana pinjaman kebajikan yang
tidak kembali 0% 19%
Rata-rata 68% 53%
Komitmen terhadap
Karyawan 47. Penghargaan terhadap karyawan 100% 100% 48. Jumlah karyawan 100% 13% 49. Kebijakan kesetaraan peluang karir 100% 19% 50. Kesejahteraan karyawan 100% 100% 51. Pelatihan : Kesadaran tentang syariah 55% 0% 52. Pelatihan : lain-lain 100% 94% 53. Pelatihan : skema perekrutan 100% 94% 54. Training : Keuangan 82% 94% 55. Imbalan bagi karyawan 100% 100%
Rata-rata 93% 68%
Komitmen terhadap Debitur
56. Kebijakan utang 100% 100%
57. Jumlah utang yang dihapuskan 0% 0% 58. Jenis kegiatan peminjaman - umum 100% 100% 59. Jenis kegiatan peminjaman - khusus 91% 100%
Rata-rata 73% 75%
Komitmen terhadap Masyarakat
60. Menciptakan lapangan kerja 100% 100%
61. Dukungan bagi organisasi yang memberikan
manfaat bagi masyarakat 100% 31% 62. Partisipasi dalam kegiatan sosial pemerintah, 100% 31%
63. Mensponsori kegiatan masyarakat 100% 31% 64. Komitmen terhadap peran sosial 100% 31% 65. Penyelenggaraan konferensi ekonomi Islam 9% 19%
Rata-rata 85% 41%
Komitmen terhadap
Lingkungan 66. Jumlah dan sifat sumbangan atau kegiatan yangdilakukan untuk melindungi lingkungan 100% 25% 67. Proyek-proyek yang dibiayai oleh bank yang
mungkin menyebabkan kerusakan lingkungan
0% 0%
Rata-rata 50% 13%
Dewan Pengawas
Syariah 68. Nama DPS 91% 100% 69. Foto DPS 91% 38% 70. Remunerasi DPS 91% 100% 71. Laporan ditandatangani oleh semua DPS 91% 100% 72. Jumlah rapat yang diadakan 91% 100% 73. Pemeriksaan keseluruhan transaksi (sebelum
dan sesudah) 55% 100% 74. Pemeriksaan sampel transaksi (sebelum dan
sesudah) 55% 100% 75. Laporan atas produk yang cacat (spesifik dan
rinci) 0% 6%
76. Rekomendasi atas produk yang cacat 0% 6% 77. Tindakan yang diambil manajemen atas produk
yang cacat 0% 6% 78. Pembagian keuntungan dan kerugian sesuai
dengan syariah
91% 100%