• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERDARAHAN PERSALINAN PRIMIGRAVIDA DAN Hsp-70 DIBANDINGKAN DENGAN TANPA PEMAKAIAN INTRA THECAL LABOR ANALGESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERDARAHAN PERSALINAN PRIMIGRAVIDA DAN Hsp-70 DIBANDINGKAN DENGAN TANPA PEMAKAIAN INTRA THECAL LABOR ANALGESIA"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

PERDARAHAN PERSALINAN PRIMIGRAVIDA DAN Hsp-70

DIBANDINGKAN DENGAN/ TANPA PEMAKAIAN INTRA THECAL

LABOR ANALGESIA

Fendy Kusumohadi

NIM:S5507003

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I

OBSTERI GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

(2)

commit to user

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Tesis ini telah disetujui

Tanggal:

Oleh

Pembimbing I:

Dr. Soetrisno, dr. SpOG (K)

NIP 195 30331 198202 1003

Pembimbing II:

Prof. Dr. JB Dalono, dr. SpOG (K)

(3)

commit to user Telah diuji pada ujian proposal

Pada tanggal : 19 - 8 - 2010

Panitia Penguji Tesis

Koordinator tesis (ketua): Dr. Sri Sulistyowati, dr., SpOG(K).

Pembimbing (anggota) :

1. Dr. Soetrisno, dr., SpOG(K)

2. Prof. Dr. JB Dalono, dr., SpOG(K)

Penguji (anggota) :

3. Dr. Abkar Raden, dr., SpOG(K).

4. Rustam Sunaryo, dr., SpOG.

5. Darto, dr., SpOG.

6. Martunus, dr., SpAn.

Telah diuji pada ujian tesis

Pada tanggal : 30 – 04 -2011

Panitia Penguji Tesis

Koordinator tesis (ketua): Dr. Sri Sulistyowati, dr., SpOG(K).

Pembimbing (anggota) :

1. Dr. Soetrisno, dr., SpOG(K)

2. Prof. Dr. JB Dalono, dr., SpOG(K)

Penguji (anggota) :

3. Dr. Abkar Raden, dr., SpOG(K).

4. Rustam Sunaryo, dr., SpOG.

(4)

commit to user

iv

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penyusunan tesis dengan

judul perdarahan persalinan primigravida dan Hsp-70 dibandingkan dengan/ tanpa

pemakaian intra thecal labor analgesia telah selesai. Pada kesempatan ini pertama kali saya panjatkan puji syukur kepada Tuhan yang maha Esa atas segala

karunia Nya.

Terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang sebesar-besarnya

saya sampaikan kepada Dr. Soetrisno, dr., SpOG(K) sebagai pembimbing I yang

dengan penuh perhatian dan kesabaran telah memberikan dorongan, bimbingan

dan saran dalam proses penyelesaian tesis ini.

Terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang sebesar-besarnya

saya sampaikan kepada Prof. Dr. JB Dalono, dr., SpOG(K) sebagai pembimbing

II yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah memberikan dorongan,

bimbingan dan saran dalam proses penyelesaian tesis ini.

Terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang sebesar-besarnya

saya sampaikan kepada Martunus, dr., SpAn yang telah berkenan memberikan

waktu yang seluas-luasnya sebagai konsultan yang mempunyai peran besar dalam

proses penyelesaian tesis ini.

Terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang sebesar-besarnya

saya sampaikan kepada Dr. Sri Sulistyawati, dr., SpOG(K) sebagai koordinator

tesis yang telah memberikan dorongan, dan kesempatan yang seluas-luasnya

(5)

commit to user

Terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang sebesar-besarnya

juga saya sampaikan kepada Dr. Abkar Raden, dr., SpOG(K)., Rustam Sunaryo,

dr., SpOG., Glondong, dr., SpOG., Darto, dr., SpOG. Sebagai tim penguji, yang

telah berkenan memberikan waktu dan tenaga dalam proses penyelesaian tesis

ini.

Dengan selesainya tesis ini, perkenankan saya mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Basoeki Soetardjo, drg.,MMR. Direktur RSUD Dr Moewardi

Surakarta.

2. Rustam Sunaryo, dr., SpOG., Ka. Bag SMF. Obgin FK. UNS.

3. Glondong, dr., SpOG KPS SMF. Obgin FK. UNS.

4. Laqief, dr., SpOG(K)., SPS SMF. Obgin FK. UNS.

5. Prof. Dr. JB Suparyatmo, dr., SpPK., Ketua Komisi Etik FK.

UNS/ RSUD Dr Moewardi Surakarta.

6. Seluruh Staff PPDS I bag Obgin FK. UNS.

7. Semua rekan residen PPDS I Obgin FK. UNS. yang banyak

membantu pelaksanaan tesis ini.

8. Pimpinan Laboratorium Litbang Prodia Jakarta dan Prodia

Surakarta beserta staffnya yang telah membantu menyelesaikan

pemeriksaan sampel darah penelitian pada tesis ini.

9. Ayahanda Supardi Kusumohadi.dr (almarhum) dan Ibunda

Tamtami Supardi yang telah membesarkan saya, mengasuh dan

(6)

commit to user

vi

10.Istri saya tercinta Herna yang telah banyak berkorban selama

saya mengikuti pendidikan PPDS I Obgin, tetap mendorong dan

memberikan semangat sampai saya dapat menyelesaikan tesis

ini.

11.Anak saya Vicensius Hardian Kamafendra Kusumohadi, yang

dapat menerima dan memahami kesibukan saya dan juga

mendorong semangat saya untuk menyelesaikan tugas tesis ini.

12.Semua ibu primigravida yang saya pergunakan sebagai peserta

penelitian tesis ini, yang dengan iklas memberikan pengorbanan

demi kesuksesan ilmu pengetahuan.

13.Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang

telah banyak membantu saya menyelesaikan tugas tesis ini.

Semoga tesis ini bermanfaat bagi umat manusia, khususnya ibu-ibu

yang akan melakukan persalinan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu

melimpahkan karunia Nya kepada kita semua. Amin.

(7)

commit to user RINGKASAN

PERDARAHAN PERSALINAN PRIMIGRVIDA DAN Hsp-70 DIBANDINGKAN DENGAN/TANPA PEMAKAIAN INTRA THECAL LABOR ANALGESIA

Fendy Kusumohadi

Kehamilan pertama (Primigravida)merupakan stressor bagi setiap wanita, yang dapat menimbulkan kondisi stres. Stressor pada primigravida mengakibatkan persalinan menjadi tidak normal dan perdarahan berlebih. Penggunaan intra thecal labour analgesia (ILA) mampu mengekspresikan gen yang menyandi protein yang terkait dengan respon imun(menguntungkan). Ekspresi Hsp-70 yang berlebihan justru dapat menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan, menimbulkan jejas sel dan mendorong apoptosis. Berdasarkan hal tersebut stres protein tidak selalu aman, tetapi tetap dibutuhkan peningkatan kadar Hsp dalam jumlah aman, dalam keadaan hamil Hsp 70 terdeteksi di miometrium, hal tersebut dapat membuktikan bahwa Hsp 70 juga diproduksi pada myometrium. Tetapi dengan analgesia yang ideal untuk persalinan ( ILA) dengan kombinasi dan dosis tertentu (rapivacain 3,0 mg dengan clonidin 75 µg, ditambah dengan fentanyl 25 µg) mampu mengubah kondisi stres menjadi eustress.

Pada penelitian ini pemberian ILA diberikan satu kali saat pembukaan aktif, dan dilaksanakan pada ibu-ibu primigravida yang bersalin di kamar bersalin RSUD Dr Moewardi Surakarta oleh residen anestesi yang sebelumnya telah mendapat pendidikan dan ijin oleh bagian anestesi RSUD Dr. Muwardi Surakarta. dan mendapat pengawasan oleh dokter spesialis anestesi.

Pemberian analgesia yang sesuai akan dipersepsi pada sistem limbik tepatnya di hipotalamus serta terjadi pemaknaan yang positif. Sinyal ILA akan merambat melalui aksis HPA menyebabkan terjadinya penurunan produksi kortisol. Penurunan kortisal mempengaruhi sintesa protein sel miosit yaitu peningkatan Hsp 70 dan terjadi peningkatan ion kalsium. Kondisi tersaebut menimbulkan peningkatan knsentrasi cAMP dalam sitoplasma dan pengaktifan cAMP dependen meningkat. Selanjutnya akan mengakibatkan posforilasi dan aktifasi myosin rantai kinase.dan menyebabkan kontraksi Dengan demikian tenaga yang timbul pada miosit meningkat dengan dampak kontraksi miometrium dan perdarahan sedikit, persalinan normal.

Pada penelitian intra thecal terbukti meningkatkan prosentase persalinan normal. Penyebaran lahir normal dan tidak normal antara ibu primigravida yang diberi ILA dan kontrol, dengan uji T test dan Chi-square menunjukkan perbedaan nyata p=.000(α<0.05).

Intra thecal labor analgesia dapat menunjukkan perdarahan yang sedikit. Banyaknya perdarahan antara kelompok perlakuan dan kontrol mengunakan T test menunjukkan perbedaan yang nyata p=.000(α<0.05).

(8)

commit to user

viii SUMMARY

THE DIFFERENCE OF HAEMORRHAGE IN PRIMIGRAVIDE LABOUR AND Hsp-70 COMPARED WITH/ WITHOUT INTRA TECHAL LABOR ANELGESIA

Fendy Kusumohadi

First pregnancy or primigravida is a stressor for any women, since it may induce stress condition. Primigravida stressor way lead to abnormal delivery and excesive bleeding. Intra thecal labour analgesia (ILA) is able to express gene that codes proteins related to immune response(advatageous). However, excessive Hsp-70 expression may result in disadvantageous effects, induce cell injury, and enhance apoptosis. Therefore, stress protein is not necessarily safe, in prangnant condition Hsp-70 got into myometrium, this is showed perhaps Hsp-70 producted in myometrium to. With ideal combinated and ideal dose analgesia or ILA to delivery(rapivacain 3,0 mg, clonidin 75 µg, with fentanyl 25 µg) it was able to alter stress condition into eustress.

In this study, was made single shoot analgesia in active phase condition in labour, with primigravid in delivery room of Dr Moewardi Surakarta Hospital by anestesi residen, that have learn and permitted from anasthesy department of RSUD Dr. Muwardi Surakarta and she has watched by anesthesian spesialist.

Properly ILA will be perceived in limbic system, precisely in the hypothalamus, where the process of positive perception is taking place. ILA signal will transmit to neuron in hypothalamus. ILA signal through HPA axis may result in the reduction of cortisol production. Reduced cortisol production will affect protein synthesis of the myocytes, the increase od Hsp-70, as well as the increase of calcium ion.Such condition leads to raised cAMP consentration within the cytoplasma and enhanced activity of cAMP dependent protein kinase. Subsquently, phosphorilation and activation of kinase chain myosin occurs and leads to contractions. Therefore, the energy incited in the myocytes will increase, resulting in the effect of myometrial contraction and small amount of post partum bleeding, normal delivery.

In this study, ILA was showed to increase the prosentage of normal delivery. In regard of normal and abnormal delivery between primigravidas who received ILA and control group, T test dan Chi-square showed significant difference p=.000(α<0.05).

Intra thecal labour analgesia has been proved to decrease the bleeding. Analisis the amount of bleeding between treatment and control group had significant p=.000(α<0.05).

(9)

commit to user ABSTRAK

PERDARAHAN PERSALINAN PRIMIGRAVIDA DAN Hsp-70 DENGAN/ TANPA

PEMAKAIAN INTRA THECAL LABOR ANALGESIA.

Fendy Kusumohadi

Kehamilan pertama (primigravida) dapat menimbulkan stress saat

persalinan, karena belum adanya pengalaman, sehingga mengakibatkan persalinan tidak normal dan perdarahan berlebih.

Tujuan : Intra thecal labor analgesia(ILA) mengubah stres menjadi eustress. Diharapkan mampu mencegah efek buruk dari respon tubuh yang berpengaruh pada jumlah perdarahan. Dan mampu merubah jumlah perdarahan menjadi lebih sedikit.

Rancangan penelitian : Merupakan penelitian eksperimental biomedik dengan pendekatan post-test only control group design. Subyek penelitian adalah primigravida yang datang ke kamar bersalin RSUD Dr Moewardi Surakarta. Sebanyak 32 sampel, dilakukan matching dan homogenitas, dan dibagi 2 kelompok, yang terdiri 16 sampel perlakuan dan 16 sampel kontrol, pada kelompok perlakuan dilakukan intervensi ILA saat pembukaan 3cm. dan pada semua sampel dilakukan pengawasan kondisi ibu, janin dan kemajuan persalinan, dan saat kala II dilakukan pengambilan sampel Hsp-70 serum. Dan dicatat jumlah perdaran kala III, kala IV, kadar Hsp-70, dan sebaran partus normal.

Hasil : ILA tidak terbukti meningkatkan prosentase persalinan normal, uji chi-square , diperoleh p=0.310 (α>0.05), tetapi mampu menurunkan jumlah perdarahan, uji T test diperoleh p=.000. (α<0.05), dan terbukti merubah kondisi biologis ibu primigravida, Hsp-70 lebih tinggi pada kelompok yang mendapat ILA, menyebabkan kontraksi uterus membaik, serta menurunkan jumlah perdarahan.

Kesimpulan : ILA tidak terbukti meningkatkan prosentase persalinan normal, tetapi mampu mengurangi perdarahan, dan merubah kondisi biologis (Hsp-70) ibu primigravida, yang menyebabkan kontraksi uterus yang baik serta menurunkan jumlah perdarahan pada persalinan normal ibu primigravida.

Kata kunci : Primigravida, intra thecal labour analgesia, heat shock protein, kontraksi uterus, banyak perdarahan, persalinan normal.

(10)

commit to user

x

ABSTRACT

THE DIFFERENCE OF HAEMORRHAGE IN PRIMIGRAVIDE LABOR AND Hsp-70 WITH/ WITHOUT INTRATECHAL LABOR ANELGESIA.

Fendy Kusumohadi

First pregnancy, or primigravida, may cause stress, which, in turn, may lead to abdominal delivery and excesive bleeding.

Objektif : Intra thecal labor analgesia or ILA change stress change become eustress and hope able to discrease bad effect, and bad respone, that influence with decrease the post partum haemorhage, better than labor without ILA.

Study design : This study is biomedik eksperimental with post-test only control design. Subjek of this study is primigravida, that come to delivery room in RS Moewardi Surakarta. There are 32, sample that have matching and homogenitas, and devide become 2 group, 16 sample is control and 16 sample have intervention ILA on opening 3cm. and for all of sample has control of maternal general condition, fetus general condition and progress of the labor. And they have taken Hsp-70 in second stage. They have detected post partum haemorhage in stage III and stage IV, level of Hsp-70 and normaly delivery distribution.

Result : ILA did not increase prosentage of normaly delivery with chi square test p=0.310 (α>0.05), but it can made decrease post partum haemorage, and made increase biological condition (Hsp-70) on group with ILA, it can cause uterine contraction was increase and decrease post partum haemorage

Summary : ILA did not proofed in normaly delivery distribution, but can decrease post partum haemorage, and change biological condition (Hsp-70) of primigravida with ILA. It cause of uterine contraction and it can decreas in norme post partum haemorage normaly delivery of primigravida.

(11)

commit to user DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM...i

LEMBAR PENGESAHAN.………..…….ii

BERITA ACARA...iii

UCAPAN TERIMA KASIH...iv

RINGKASAN... ...vii

SUMMARY...ix

ABSTRAK...xi

ABSTRACT...xiii

DAFTAR ISI………..…...xv

DAFTAR GAMBAR………...xix

DAFTAR SINGKATAN………...xx

DAFTAR LAMPIRAN...………....xxi

BAB I PENDAHULUAN………... 1

1.1.Latar Belakang…………..………... 1

1.2,Rumusan masalah... 2

1.3.Tujuan penelitian…………...……….. 3

1.3.1.Tujuan Umum………... 3

1.3.2.Tujuan Khusus……….. 3

1.4.Manfaat penelitian……….……….. 3

(12)

commit to user

xii

1.4.2.Manfaat praktis………..……….... 4

BAB II TINJAUAN TEORI……….. 5

2.1.Perdarahan pada persalinan………. 5

2.1.1.Kontraksi uterus………....5

2.1.2.Perdarahan persalinan………... 6

2.2.Kecemasan dan stres dalam persalinan………... 7

2.3.Intra Thecal Labor Analgesia(ILA)………. 8

2.3.1. Mengatasi nyeri pada persalinan………. 8

2.3.2. Analgesia yang aman untuk persalinan………... 8

2.3.3.Keuntungan Intra Thecal……….. 8

2.3.4.Efek samping ILA………. 9

2.4. Protein, Heat shock Protein dan Hsp-70………... 9

2.4.1.Protein………... 9

2.4.2.Gambaran Umum Heat Shock Protein...……….. 10

2.4.3.Peran Hsp pada inti miosit, kontraksi uterus dan perdarahan intra partum……….. 11

2.4.4. Heat Shock Protein-70 (Hsp-70)……….. 13

2.4.5. Fungsi HSP ………... 15

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL………... 17

3.1 Keterangan Kerangka Konsep……… 18

3.2. Hipotesis……… 19

BAB IV METODE PENELITIAN……… 20

(13)

commit to user

4.2.Lokasi penelitian………... 20

4.3. Subyek Penelitian……….… 20

4.3.1. Kriteria inklusi……….. 20

4.3.2. Kriteria eksklusi……… 20

4.4. Variabel penelitian………. 21

4.4.1. Variabel penelitian bebas………... 21

4.4.2. Variabel penelitian terikat………. 21

4.5. Definisi operasional………... 21

4.6. Rancangan penelitian………. 21

4.7. Besar sampel……….. 22

4.8. Prosedur penelitin yang dilakukan………. 23

4.9. Langkah penelitian………. 24

4.10. Analisa data……… 25

BAB V HASIL DAN ANALISA DATA PENELITIAN... 26

5.1. Data penelitian………... 26

5.2. Homogenitas Data………. 26

5.2.1. Homogenitas data ………26

5.2.2. Homogenitas Data Biologis………. 26

75.3. Uji Perbedaan Data...……… 27

5.3.1.Pengamatan Data Biologis... 27

5.3.2.Pengamatan Banyak Perdarahan... 27

(14)

commit to user

xiv

BAB VI PEMBAHASAN... 29

6.1. Fakta Baru………... 41

6.2. Keterbatasan penelitian………... 41

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN... 42

7.1. Kesimpulan………... 42

7.2. Saran………... 43

DAFTAR PUSTAKA……….... 44

LAMPIRAN……….………..…... 48

(15)

commit to user DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Peran Hsp pada inti Miosit dan Kontraksi uterus.... 12

Gambar 3.2. Kerangka konseptual………... 17

(16)

commit to user

xvi

DAFTAR SINGKATAN

ACTH :Adreno Cortico Trophic Hormone

ATP :Adenosine Trifosfat

CRH :Cortico Trophic Releasing Hormone

cAMP :ciklik Adenosine Monofosfat

DNA :Deoxyribo Nucleic Acid

ELISA :Enzym-LinkedImmunosorbent Assay

HB :Haemoglobin

Hsp :Heat Shock Protein

Hsp 60 :60-kDa Heat Shock Protein

Hsp 70 :70-kDa Heat Shock Protein

MLCK :Myosin Light Chain Kinase

mRNA :Messenger Ribo Nucleic acid

RNA :Ribo Nucleic Acid

SGOT :Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase

(17)

commit to user DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 : Tabel Proses Pengamatan banyak perdarahan pada

persalinan……... ... 48

Lampiran 2 : Pengukuran kadar Hsp-70 dengan ELISA………. 49

Lampiran 3 : Persetujuan Subjek(Kelompok Perlakuan)... 50

Lampiran 4 : Persetujuan Subjek(Kelompok Kontrol)... 52

Lampiran 5 : Surat Pernyataan Persetujuan Mengikuti Penelitian…… 54

Lampiran 6 : Ethical Clearence………. 55

Lampiran 7: Perbedaan(persalinan antara kontrol dan perlakuan)..……… 56

Lampiran 8 : IIDn(0,σ)...……. 57

Lampiran 9 : Homogenitas data kendali... 61

Lampiran 10: Uji beda data perlakuan... 64

Lampiran 11: Hasil pemeriksaan Hsp-70... 65

Lampiran 12: Hasil pengamatan banyak perdarahan………. 67

(18)

commit to user TESIS

PERDARAHAN PERSALINAN PRIMIGRAVIDA DAN Hsp-70

DIBANDINGKAN DENGAN / TANPA PEMAKAIAN INTRA THECAL

LABOR ANALGESIA

Oleh:

Fendi Kusumohadi

NIM:S5507003

Pembimbing:

1:Dr. Soetrisno, dr. Sp. OG (K)

2:Prof .Dr. Dalono, dr. Sp.OG(K)

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I

OBSTERI GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

(19)

commit to user BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Komplikasi persalinan dapat terjadi baik pada ibu maupun janin. Dapat

berupa gangguan perdarahan, hasil luaran janin hingga aspek psikis pada keluarga

yang mendampingi, kondisi ini sering dialami oleh primigravida yang

berhubungan dengan lemahnya kontraksi uterus yang berakibat pada jumlah

perdarahan post partum karena faktor stressor seperti ketakutan akan nyeri pada persalinan. Primigravida sendiri merupakan stressor terjadinya kondisi stres. Pada

primigravida sering terjadi ketakutan akan nyeri persalinan, hal ini disebabkan

pengalaman tentang persalinan yang belum dimiliki (Huliana, 2002; Farina,

2007), sehingga dapat menyebabkan persalinan yang tidak normal. (Wiknjo

Sastro, 2002).

Data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia/SDKI; 2002-2003

menunjukkan bahwa kejadian persalinan tidak normal sebesar 30%.

Intra thecal labour analgesia (ILA) merupakan analgesia yang ideal pada persalinan, dimana mempunyai efek samping minimal dan dapat menjaga

kemampuan ibu untuk bergerak bebas selama proses persalinan. (Slides share

2010). Primigravida dengan ILA mempunyai kelebihan yaitu tidak terdapat rasa

nyeri dan menghilangkan kondisi stres serta masih bisa merasakan kontraksi,

(Nasaldi 2010), kontraksi yang baik mempunyai dampak perdarahan tidak

(20)

commit to user

2

bagian penting, dimana protein merupakan komponen utama metabolisme suatu

sel. Pada satu organisme ada perbedaan kadar protein dari jaringan satu dengan

lain tergantung kondisi lingkungan. (Issenberg, 2000). Pemberian ILA

menyebabkan perubahan emosi positif, yang dapat memicu gen menguntungkan

karena menyandi protein yang terkait dengan respon imun. (Hayashi 2006). Tetapi

Heat Shock protein (Hsp)tidak selalu aman, jika berlebihan berdampak merugikan sehingga bila mekanisme dampak merugikan diungkap maka perubahan yang

mengarah ke kerusakan dapat dicegah, dengan demikian diperlukan dosis ILA

yang optimal,sehingga kadar Hsp menjadi meningkat secara optimal/ tidak

berlebihan. (Nasronudin 2005). Upaya untuk mengungkap pengaruh intervensi

ILA tersebut perlu didasari oleh pengungkapan mekanisme efek ILA terhadap

terjadinya perdarahan intrapartum.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan terjadinya perdarahan yang

lebih sedikit pada primigravida pada pemakaian ILA.Yang terkait dengan kadar

Hsp-70 serum darah, yang bisa memberi gambaran tentang kadar Hsp-70 pada

kondisi stres pada primigravida serta jumlah perdarahan yang sedikit. Variabel

lain yang diteliti adalah kejadian persalinan normal pada primigravida dengan

pemakaian ILA.

1.2. Rumusan Masalah

a) Apakah jumlah lahir normalpada kelompok yang diberikan ILA

sebanding dengan kelompok tanpa ILA?

b) Apakah kadar Hsp 70 pada kelompok yang diberikan ILA lebih tinggi

(21)

commit to user

c) Apakah jumlah perdarahan kala III lebih banyak pada kelompok tanpa

ILA dibandingkan kelompok yang diberikan ILA?

d) Apakah jumlah perdarahan kala IV lebih banyak pada kelompok tanpa

ILA dibandingkan kelompok yang diberikan ILA?

1.3.Tujuan penelitian

Tujuan penelitian terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus

1.3.1. Tujuan Umum

Menjelaskan mekanisme kejadian perdarahan pada persalinan

primigravida yang stres setelah pemberian ILA.

1.3.2. Tujuan Khusus

a) Menunjukkan jumlah persalinan normalpada kelompok yang

diberikan ILA sebanding dengan kelompok tanpa ILA.

b) Menunjukkan kadar Hsp 70 pada kelompok yang diberikan ILA

lebih tinggi dibanding kelompok tanpa ILA.

c) Menunjukkkan jumlah perdarahan kala III lebih banyak pada

kelompok tanpa ILA dibandingkan kelompok yang diberikan ILA.

d) Menunjukkan jumlah perdarahan kala IV lebih banyak pada

kelompok tanpa ILA dibandingkan kelompok yang diberikan ILA.

1.4. Manfaat penelitian

1.4.1. Manfaat teoritis

(22)

commit to user

4

a) Ilmu kebidanan, tentang dampak dari persalinan tanpa rasa sensorik

nyeri danperubahan persepsi yang dapat mengubah persalinan

primigravida yang stresterjadi perdarahan minimal.

b) Ilmu biomolekuler tentang Heat shock protein (Hsp-70) yang menggambarkan respon biologis berupa perubahan molekuler yang

mendasari peningkatan kontraksi uterus, yang merubah jumlah

perdarahan persalinanprimigravida yang stres menjadi minimal.

1.4.2. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini bermanfaat:

a) Memantapkan tentang penggunaan ILA untuk penatalaksanaan

persalinan normal pada primigravida yang berpotensi mengalami

stres.

b) Menyempurnakan pengelolaan persalinan pada primigravida yang

(23)

commit to user BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perdarahan pada persalinan

2.1.1. Kontraksi Uterus

Selama persalinan myometrium melakukan kontraksi (His) yang hebat

sehingga mampu mendorong janin keluar melalui jalan lahir (Cunningham2001).

Gap junction terbentuk secara cepat pada kehamilan dapat mempermudah timbulnya His yang terpadu, yang khas dalam proses persalinan (Garfield 2001).

Fundus dan seviks merupakan suatu bagian dari organ uterus, diharuskan

memberireaksi yang sangat berbeda terhadap syarat untuk kehamilan dan

persalinan. Pada saat kehamilan miometrium atau fundus tetap dalam keadaan

relaksasi, sedangkan seviks kaku dan tidak dapat diregangkan sehingga tidak

terjadi pembukaan. Fundus mengalami perubahan dari organ yang relaks dan

lunak selama kehamilan menjadi organ dengan kontraksi yang hebat pada waktu

persalinan sehingga mampu mendorong janin keluar melalui jalan lahir.

Sedangkan cervix mengalami perubahan dari organ yang kaku dan tidak dapat

diregangkan menjadi organ yang lunak sehingga mudah terjadi pembukaan. Hal

ini terjadi karenapada saat hamilterjadi peningkatan vaskularisasi uterus dan

retensi air dan juga terjadi hipertropi dan hiperplasi serviks, pada kehamilan lanjut

matriks ekstra sel yakni serat kolagen, serat elastin, glikosaminoglikan mengalami

metabolisme aktif. Perubahan ini dibawah pengaruh hormonal (prostaglandin),

(24)

commit to user

6

pembentukan gap junctiondan terus bertambah yang akan di induksi oleh beberapa hormon, sehingga terjadi pematangan serviks akibat pengaruh hormon

glikosaminogen, PGE2 dan PGF2α (Yanuarman, 2010).Meskipun tampaknya

peranan fundus dan serviks selama kehamilan dan persalinan bertentangan, tatapi

didapatkan bukti bahwa kedua proses itu diatur oleh bahan yang

sama.(Cunningham 2001).

Kontraksi uterus (His) yang tidak adekuat sangat berpotensi timbulnya

perdarahan intrapartum yang berlebihan. (Cunningham 2002).

2.1.2. Perdarahan persalinan

Perdarahan intrapartum definisikan hilangnya 500ml atau lebih darah

setelah kala tiga persalinan selesai. Hal tersebut merupakan konsekwensi

perdarahan berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di traktus genetalia

dan struktur disekitarnya, atau keduanya. Dengan demikian perdarahan berlebihan

setelah melahirkan dapat dilihat dari penyebabnya, bisa disebabkan oleh atonia

uteri, retensi plasenta, dan laserasi traktus genetalia. Sekitar separuh wanita yang

melahirkan pervaginam kehilangan darah 500ml atau lebih, bila diukur secara

kuantitatif. Hal tersebut setara dengan pengeluaran darah 1000ml pada seksio

sesarea,1400ml pada histerektomi sesarea elektif, 3000 sampai 3500ml untuk

sesarea histerektomi darurat. Wanita secara normal mengalami hipervolemia

selama hamil,sebesar 30% sampai 60%, dan dapat mentoleransi tanpa mengalami

penurunan bermakna hematokrit post partum, bahkan perdarahan post partum

(25)

commit to user

jumlah darah pada pesalinan pervaginam yang diperkirakan keluar sering hanya

setengah jumlah sebenarnya. (Cunningham 2001).

Menjelang persalinan diperkirakan 600ml/menit darah mengalir melalui

ruang antarvilus, sehingga saat plesenta lepas pada kala tiga arteri-arteri dan

vena-vena uterina yang mengangkut darah dari ke plasenta putus secara tiba-tiba, dan

dapat menimbulkan perdarahan post partum yang berlebihan. Perdarahan pada

persalinan normal terjadi akibat dari putusnya arteri spiralis disekitar dinding

uterus. Mekanisme penghentian perdarahan terjadi akibat jepitan dari kontraksi

myometrium yang adekuat terhadap arteri spiralis(Cunningham, 2002).

Hal tersebut membuktikan bahwa kontraksi myometrium berperan penting

dalam menghentikan perdarahan setelah melahirkan. (Cunningham 2001).

2.2.Kecemasan dan stres dalam persalinan

Tingkat kegelisahan dan kecemasan yang berat selama persalinan dapat

diikuti gangguan proses persalinan, bahkan dapat terjadi depresi pasca persalinan.

(Puspa, 2007). Bagi primigravida yang sedang dalam persalinan terjadi perubahan

psikologis terutama terhadap nyeri, merupakan stressor yang direspon tubuh dengan stres psikologis. Setiap perubahan psikologis, akan direspon sebagai

stressor. (Wong, 2007).

Penelitian pendahuluan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi

(Soetrisno, 2007) menunjukkan bahwa sumber stress primigravida terbanyak

(26)

commit to user

8

2.3. Intra Thecal Labor Analgesia (ILA)

Tehnik pengelolaan nyeri persalinan dengan melakukan blokade tranmisi

nyeri pada dorsal horn medulla spinalis dengan menggunakan obat tertentu

dengan satu kali injeksi.(Palmer C 2002 ).

Pada penelitian sebelumnya di Canada tahun 2009 menemukan bahwa

ILA baru-baru ini terkait dengan penurunan keluhan nyeri episiotomi, repair

episiotomy lebih efektif. (Minty, 2009).

2.3.1. Mengatasi nyeri pada persalinan.

ILA mempunyai banyak keuntungan karena menghilangkan reflek-reflek

segmental dan suprasegmental yang dapat merugikan ibu dan janin. Salah satu

tehnik yang digunakan analgesi adalah regional dan blok Epidural.( Palmer C

2002 ).

2.3.2. Analgesia yang aman untuk persalinan (Palmer C 2002)

a) Terlokalisasi pada tempat suntikan.

b) Tidak ada gangguan pada fungsi motoris yang mengganggu proses

persalinan.

c) Dosis kecil

d) Efek samping minimal pada ibu dan janin

e) Reversibel.

2.3.3. Keuntungan Intra thechal (Palmer C 2002)

a) Identifikasi ruangan intra techal lebih mudah.

b) Dosis obat yang dibutuhkan lebih kecil, sehingga kemungkinan toksisitas

(27)

commit to user c) Onset cepat analgesia bilateral.

d) Efficacy dari analgetik lokal lebih meminimalisasi blokade motoris. 2.3.4. Efek samping ILA

Efek samping/ komplikasi yang serius dari ILA jarang terjadi,tetapi

biasanya hanya mengganggu, misal nyeri kepala, hal tersebut biasanya terjadi

karena kesalahan tehnik pemilihan pemakaian jarum.(Minty, 2007).

Analgesia regional (tanpa fentanyl) yang terlalu kuat dapat menghilangkan

desakan untuk melahirkan pada kala dua (refleks Fergusson) dan kelemahan otot

dapat mengganggu upaya ekspulsif, yang seringkali mengakibatkan perdarahan

pada kala tiga dalam proses persalinan. Namun penggunaan campuran anestesi

lokal dengan fentanyl dapat melindungi fungsi motor dan memberikan kontraksi

yang lebih efektif. (Stocks GA 2005).

2.4. Protein, Heat Shock Protein, Hsp 70

2.4.1.Protein

Protein adalah bagian penting dari organisme yang merupakan komponen

utama metabolisme suatu sel. Pada satu organism ada perbedaan ekspresi protein

dari jaringan satu dengan yang lain tergantung kondisi lingkungan. Perbedaan

tersebut terletak pada kompleksitas asam nukleotidanya. Pada manusia terdapat

lebih dari 500.000 protein yang terekspresi. Yang masing-masing memiliki fungsi

yang berbeda. Karena protein berperan penting dalam kehidupan suatu organisme

maka dapat dipakai sebagai penanda keberadaan keadaan patologis tertentu.

(28)

commit to user

10

2.4.2.Gambaran Umum Heat Shock Protein (Hsp)

Hsp terdiri atas beberapa keluarga molekul. Banyak yang dimunculkan

pada sel mamalia dalam keadaan basal (Hsp konstitutif). Sebagian hanya muncul

jika ada stressor (Hsp inducible) yang memutuskan sintesis protein normal. Bertambahnya sintesis protein ini sebagai respon terhadap stres dipakai sebagai

batasan karakteristik Hsp. Akan tetapi sekarang telah jelas bahwa banyak dari

anggota keluarga Hsp yang berbeda-beda diperlukan pada setiap waktu bagi

fungsi normal sel memang banyak Hsp yang disintesis secara rutin oleh sel.

Kenyataan bahwa Hsp terdapat juga pada suhu fisiologis, merupakan salah satu

molekul yang paling dapat bertahan selama evolusi dan mempunyai peran yang

sangat penting dalam fungsi sel normal yang terakhir ialah dugaan bahwa Hsp

memegang peranan dalam timbulnya kontraksi miometrium dengan dampak

terjadinya perdarahan. (Alexey 2005, Avisar, 2008).

Hsp diketahui dapat melindungi sel dari berbagai gangguan sitotoksik. Hsp

merupakan suatu kelompok protein indusibel yang sebagian dihasilkan secara

tetap dan meningkat sebagai respon terhadap stresdan sebagian yang lainnya

dihasilkan setelah stres. Protein yang dihasilkan secara menetap bertindak sebagai

pengantar untuk mencegah pelipatan premature dan untuk translokasi protein ke

dalam organel. Induksi peningkatan dapat bertindak untuk melindungi sel dari

kerusakan yang dipicu oleh stres dengan mencegah denaturasi protein dan atau

dengan memperbaiki kerusakan tersebut (sebagai protein chaperone).Kadar Hsp yang berlebihan bermakna penting pada perlindungan sel selama stres fisiologis

(29)

commit to user

protein terdenaturasi yang disebabkan oleh stres oksidatif dan pada pelipatan

rantai polipeptida baru. Hal tersebut dapat memicu pertahanan melalui

peningkatan Hsp-70 terhadap stres oksidatif dan melindungi sel dari apoptosis

kadar protein Hsp-70 yang meningkat menunjukkan efek perlindungan multiple

pada respon sel terhadap stres. (Soetrisno, 2009).

2.4.3. Peran Hsp pada inti Miosit, Kontraksi Uterus, dan Perdarahan

Intrapartum

Konsep yang berpendapat bahwa Hsp ikut berperan dalam kontraksi uterus

merupakan perkembangan yang baru. Alexy, 2005 dan Avisar 2008 menyatakan

bahwa Hsp akan mempengaruhi terjadinya posforilasi pada myosin inaktif

menjadi myosin aktif-P dan Aktomyosin fosfat menjadi Aktomyosin sehingga

akan menimbulkan tenaga pada otot uterus, sehingga timbul kontraksi, sehingga

mencegah terjadinya perdarahan berlebihan.

Kontraksi akan terjadi apabila didapatkan interaksi mosin yang sudah

mengalami fosforilasi (Cunningham 2001). Hubungan dari proses tersebut

(30)

commit to user

12

Gambar 2.1 Peran fosforilasi myosin rantai ringan (Myosin light chain / MLC) dan kalsium pada kontraksi otot polos uterus. Garis diagonal memisahkan tahap kontraksi dan relaksasi. Angka-angka menggambarkan urutan kejadian yang terjadi pascaeksitasi: (1) peningkatan ion calcium intrasel; (2) kalmodulin terikat pada kalsium membentuk komleks aktif; (3) kompleks kalsium kalmodulin berinteraksi dengan MLCK untuk membentuk kompleks aktif; (4) kompleks tersebut memfosforilasi myosin sehingga terjadi aktivasi aktivitas myosin ATPase oleh aktin dan ; (5) pembentukkan kompleks aktomyosin; (6) jika kadar kalsium turun, MLCK di inaktivasi, fosfatase mendefosforilasi myosin, dan otot mengalami relaksasi; (7) kalsium dapat masuk kedalam sel melalui kanal dependen-voltase atau kanal yang dijalankan oleh reseptor. Aktivasi reseptor beta mengakinbatkan penurunan kalsium intrasel melalui dua kemungkinan mekanis, yang keduanya bergantung pada cAMP; (a) protein kinase dependen-cAMP diaktivasi dan memfosforilasi MLACK menjadi inaktif; dan (b) kalsium didorong keluar sel dapat diambil dan dilepaskan oleh vesikel sarkoplasma melalui Mg-ATPase yang terstimulasi oleh kalsium. Organel lain, khususnya mitokondria juga dapat mengambil dan melepaskan kalsium. Eksitasi kanal dependen voltase. Kanal yang dijalankan reseptor, yaitu OT, agonis adrenergic alfa dan PG.

(31)

commit to user

Dalam keadaan hamil Hsp 70 dapat terdeteksi di miometrium, hal tersebut

terungkap pada penelitian di Cina tahun 2009, dan membuktikan bahwa Hsp 70

juga diproduksi pada myometrium. (Zhiang W, 2009).

2.4.4.Heat Shock Protein-70 (Hsp-70)

Heat Shock Protein-70 (Hsp-70) dikenal juga dengan sebutan stres protein, Mereka aktif apabila dirangsang oleh berbagai macam bentuk stres, seperti

oksidatif stress, panas, dingin, demam, inflamasi dan gangguan oksigenasi sel. Dalam kondisi normal, Hsp juga banyak ditemukan dalam sel, dan mereka

berperan sebagai “Chaperone”. Molekul yang menyediakan lingkungan tempat

protein yang salah mengulang (folded incorrectly) akibat stres dapat kembali

menggulung dengan benar dan sintesanya meningkat melalui mekanisme umpan

balik sebagai respon terhadap stres. (Edner, 2003; Soetrisno, 2009).

Fungsi Hsp dan protein yang berkaitan masih merupakan bahan perdebatan

yang hangat. Pada berbagai macam jenis sel, hipertermia mengakibatkan

akumulasi Hsp yang cepat dalam inti dan pre-ribosom anak inti. Hsp juga

menunjukkan efek protektif terhadap hipertermia. Induksi sintesis Hsp dengan

kondisi heat shock sedang akan mencegah prosesing mRNA dan meningkatkan jangka hidup sel jika ada shock berikutnya yang lebih berat. Miripdengan ini

tranfeksi sel dengan plasmid yang mengakibatkan produksi berlebihan dari Hsp

-70 akan membantu pemilihan anak inti dari heat shock. Hal ini dan fakta lain yang

mirip mengantarkan kita kepada dugaan bahwa Hsp-70 terikat pada bagian

hidrofobik yang terpapar pada protein yang terdenaturasi sebagian. Dengan

(32)

commit to user

14

hidrolisis ATP kemudian digunakan untuk melepaskan Hsp dari substratnya dan

diduga perubahan yang terdenaturasi mengalami refolding. (Soetrisno 2009).

Chaperone yaitu protein yang melakukan pengaturan homeostasis dan menjaga kelangsungan hidup sel. Peningkatan sintesis dari stres protein erat

hubungannya dengan ketahanan organisme atau sel terhadap derajat stres tertentu.

(Odunuga, 2004).

Heat Shock Protein-70 dapat melindungi sel dari gangguan sitotoksik. Hsp merupakan suatu kelainan protein indusibel yang sebagian dihasilkan secara tetap

dan meningkat sebagai respons terhadap stres (protein yang laindihasilkan setelah

stres). Protein yang dimunculkan secara menetap bertindak sebagai pengantar

untuk protein seluler lain, pengikat polipeptida yang muncul untuk mencegah

pelipatan premature dan untuk trasnlokasi protein ke dalam organel. Protein

terinduksi melindungi sel dari kerusakan yang dipicu oleh stres dengan cara

mencegah denaturasi protein dan memperbaiki kerusakan tersebut.Kadar Hsp

yang berlebihan bermakna penting bagi perlindungan sel selama stres fisiologis

saat terjadinya apoptosis. Kadar Hsp yang meningkat mungkin menunjukkan efek

perlindungan multiple pada respon sel terhadap stres (Soetrisno, 2009). Hsp juga

mempunyai efek chaperone penting yang berkaitan dengan molekul reseptor sampai munculnya efektor yang menggantikan Hsp.

Gen Hsp menunjukkan beberapa sifat yang tidak lazim yang

memungkinkan mereka di translasi menjadi protein pada situasi tertentu translasi

gen lain dihambat. Sifat ini diilustrasikan pada respon tertingkat sel Drosopila

(33)

commit to user

menyebabkan peningkatan sintesis mRNA Hsp, pada shu lebih tinggi (34-36º C)

translasi mRNA normal menjadi protein dihambat, sedang mRNA Hsp tidak, pada

suhu yang lebih tinggi (37-39ºC) penyambungan normal prekrusor mRNA

dihambat, tetapi traskripsi sebagian besar gen dapat diinduksi oleh panas lolos

dari hambatan karena mereka tidak memilki intron dan memerlukan

penyambungan. Temperatur saat sintesis Hsp dimulai berbeda-beda pada setiap

spesies. Biasanya beberapa derajat di atas suhu tubuh normal spesies yang

bersangkutan (Merber, 2004).

2.4.5. Fungsi HSP 70

Hsp-70 banyak ditemukan di dalam nucleus, mitokondria, reticulum

endoplasma, dan sitosol eukariot. Induksi Hsp-70 sebagian besar terjadi karena

belebihannya jumlah rantai polipeptida yang belum terlipat. Perlu diingat bahwa

banyak anggota dari kelas ini, seperti juga kelas Hsp yang lain, dalam keadaan

normal juga ada dialam sel. Kelas Hsp-70 ini mempunyai tingkat konversi yang

tinggi dalam evolusinya, sehingga skuens asam amino pada E. Coli ditemukan

50% identik dengan protein manusia (Stryer, 2003). Semua anggota dari kelas

Hsp-70 mempunyai dua domain yang berbeda, yaitu: domain ATPase yang

terletak dekat dengan ujung N-terminal, dan bagian C-terminan yang terdapat

domain yang mengikat peptide. Hsp-70 mitokoondria, terikat pada protein saat

protein memasuki matriks dari sitosol. Hsp-70 yang terdapat di sitosol terdiri dari

Hsp-73 yang konstitutif dan Hsp-72 yang inducible, erat kaitannya dengan

(34)

commit to user

16

pertanda adanya respon terhadap stres kardiak (Merber, 2004) domain ATPase

(35)
(36)

commit to user

18

3.1 Keterangan Kerangka Konsep

Primigravida mendapat stressor psikologis yang ditandai dengan peningkatan kadar kortisol dan akan menjadi eustress setelah mendapatkan ILA.

Kortisol bersifat bimodal, artinya jika kadar lebih tinggi dari batas normal bersifat

supresi, tetapi jika masih dibawah ambang batas normal bersifat proliferative

(Homma M, 2001, Horimoto, 2004). Kondisi Eustress ini dipersepsi pada sistem

limbik tepatnya di hipotalamus. Sinyal ini akan merambat ke neuroglia dan

neuron hipotalamus, mempengaruhi neuron hipofise anterior, yang direspon

kortek adrenal dengan penurunan efek supresi kortisol. Penurunan efek supresi

kortisol mempengaruhi sintesis protein sel meningkat dalam hal ini adalah Hsp-70

dan Kalmodulin (Bashu, 2001;Alexy I, 2005; Dror Visar, 2008). Pada proses persalinan terjadi peningkatan ion kalsium yang penting untuk proses timbulnya

kontraksi uterus, Peningkatan Hsp-70 menimbulkan peningkatan konsentrasi

cAMP dalam sitoplasma dan pengaktifan cAMP dependen protein kinase

meningkat. Peningkatan enzim ini meningkatkan perubahan MLCK inaktif akan

mempengaruhi myosin inaktif menjadi myosin aktif – P (fosfat). Myosin aktif – P

bersama aktin menjadi aktomiosisn. Pada posforilasi, terjasi perubahan ATP

menjadi ADP (Adenosin difosfat) dan Pi (Fosfatidil inositol) Sehingga timbul tenaga, Dengan demikian tenaga yang timbul pada miosit meningkat dengan

dampak kontraksi miometrium dan persalinan normal serta tidak terjadi

perdarahan berlebihan. (Chunningham, 2002; Archie, 2003; Chan, 2004,

(37)

commit to user

jumlah perdarahan persalinan pada primigravida setelah mendapat ILA dengan

formulasi tertentu. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan variable Hsp-70

dilaksanakan saat pembukaan lengkap, terhadap ibu primigravida dengan ILA dan

kontrol.

3.2.Hipotesis

a) Jumlah lahir normal pada kelompok yang diberikan ILA sebanding

dengan kelompok tanpa ILA

b) Kadar Hsp 70 pada kelompok yang diberikan ILA lebih tinggi

dibanding kelompok tanpa ILA

c) Jumlah perdarahan kala III lebih banyak pada kelompok tanpa ILA

dibandingkan kelompok yang diberikan ILA

d) Jumlah perdarahan kala IV lebih banyak pada kelompok tanpa ILA

(38)

commit to user

20

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental biomedik dengan

pendekatan post-test only control group design.

4.2. Lokasi Penelitian

Kamar Bersalin RSUD DR Moewardi Surakarta.

4.3. Subyek Penelitian.

Subyek dipilih pada primigravida yang datang ke RSUD dr Moewardi,

dengan tehnik pengambilan sampel menggunakan kriteria inklusi dan

eksklusi.

4.3.1.Kriteria Inklusi

· Primigravida normal

· Usia 20-25 tahun

· Rawat inap kelas III, RSUD Dr Moewardi

4.3.2. Kriteria Eksklusi

· Fetal distress

· Ruptura uteri

· Partus presipitatus

· Kecelakaan

· Infeksi

· Pre-eklamsia dan eklamsia

(39)

commit to user 4.4. Variabel Penelitian.

4.4.1. Variabel bebas.

· Intra Thecal Labor Analgesia pada partus normal

4.4.2. Variabel terikat.

· Hsp-70 dan perdarahan persalinan kala III, IV.

4.5. Definisi Operasional.

a. Intra Thecal Labour Analgesia single shoot, berisi kombinasi ropivacain

3,0 mg dengan clonidin 75µg, ditambah dengan fentanyl 25µg. Yang

diberikan saat pembukaan serviks 3 cm. (Minty, 2007).

b. Kadar Hsp-70: protein heat shock serum yang diukur dengan

menggunakan metode ELISA memakai antibody monoclonal anti Hsp 70.

(Soetrisno 2009).

c. Perdarahan kala III adalah perdarahan saat pengeluaran bayi sampai

plasenta lepas. (Wiknjo Sastro, 2008).

d. Perdarahan kala IV adalah perdarahan yang terjadiantara setelah plasenta

lahir sampai 2 jam setelah itu. (Wiknjo Sastro, 2008).

4.6.Rancangan Penelitian.

Gambar 4.3 : Rancangan Penelitian

01(X+) O3 Hsp-70,T1,T3

Maching

Indikator:

Hsp 70, jumlah lahir normal,

jumlah perdarahan kala

(40)

commit to user

22

Keterangan:

X+ : Perlakuan. X - : Tanpa perlakuan.

O1 : Pembukaan 3 cm pada kelompok perlakuan O2 : Pembukaan 3 cm pada kelompok kontrol.

O3 : Observasi saat pembukaan lengkap, indikator penelitian (Hsp-70) pada kelompok perlakuan.

O4 : Observasi saat pembukaan lengkap indikator penelitian (Hsp-70) pada kelompok kontrol.

T1 : Perdarahan persalinan kala IIIkelompok perlakuan. T2 : Perdarahan persalinan kala IIIkelompok kontrol. T3 : Perdarahan persalinan kala IV kelompok perlakuan. T4 : Perdarahan persalinan kala IVkelompok kontrol.

Maching : Tinggi badan, berat badan, umur, systole, diastole, gula darah random, SGOT, SGPT, Ureum, Kreatinin, HB, dan Protein total.

4.7. Besar sampel

Penentuan besar sampel didasarkan pada rumus

n = ( Zα + Zβ)²

n= Besar masing-masing kelompok sampel.

Zα = nilai studi normal yang besarnya tergantung α

Bila α = 0,05 Zα = 1,96

Bila α = 0,01 Zα = 2,57

Zβ = nilai studi normal yang besarnya tergantung β, Β = power test

Bila β = 0,05 Zβ = 1,89

Bila β = 0,01 Zβ = 2,42

((……) dalam, metode penelitian dan struktur terapan,

Pudjirahardjo.W, 1993).

(41)

commit to user 4.8. Prosedur penelitian yang dilakukan

a. Memilih kelompok kontrol dan kelompok penelitian. Kelompok

penelitian adalah ibu hamil pertama yang memenuhi kriteria inklusi dan

eksklusi yang memeriksakan diri di RSUD Dr Moewardi Surakarta.

Kelompok kontrol adalah ibu hamil pertama yang memenuhi kriteria

inklusi dan eksklusi yang memeriksakan diri di RSUD Dr Moewardi

Surakarta. Pada kelompok perlakuan diberikan ILA sesuai aturan yang

telah ditentukan pada formulasi yang telah baku.

b. Supervisi pelaksanaan ILA dilakukan di Kamar Bersalin RSUD Dr

Moewardi, sesuai dengan kebutuhan sampel.

c. Jalannya penelitian :

· Memastikan keyakinan subyek dan pengisian inform consent.

· Pengamatan perilaku dilakukan sejak pemberian ILA sampai selesai

persalinan

· Saat persalinan memasuki pembukaan lengkap ibu hamil pada

perlakuan dan kontrol diperiksa kadar Hsp-70, dilakukan episiotomi

primer mediolateral sesuai protap RSUD Dr Moewardi Surakarta pada

pasien-pasien primigravida, jumlah perdarahan episiotomi pada

penelitian ini dianggap sama.

· Kala II diamati jumlah persalinan normal pada kontrol dan perlakuan.

· Perhitungan jumlah perdarahan dilakukan menggunakan nearbekken (bengkok)500 cc sebagai alat tampung yang telah ditera menggunakan

(42)

commit to user

24

· Pengamatan perdarahan dilanjutkan pada kala III dan kala IV.

· Mencatat data yang didapatkan.

4.9. Langkah penelitian

1) Mengajukan permohonan izin penelitian kepada direktur RSUD Dr.

Muwardi Surakarta, Laboratorium Klinik Prodia, laboratorium Klinik

RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

2) Mengajukan permohonan kelaikan etik.

3) Membentuk tim penelitian terdiri: peneliti, tenaga laboratorium patologi

klinik, dan Prodia.

4) Melakukan survey untuk mencari subyek yang memenuhi kriteria inklusi

dan eksklusi, baik perlakuan maupun kontrol.

5) Menanyakan kesediaan mereka untuk terlibat dalam proses penelitian.

6) Mulai mencatat jumlah persalinan normal pada saat kala II.

7) Kelompok perlakuan, menerima ILA dengan dosis yang sudah ditentukan.

ILA diberikan oleh seorang residen anestesi yang sebelumnya telah

mendapat pendidikan dan ijin oleh bagian anestesi RSUD Dr. Moewardi

Surakarta. dan mendapat pengawasan oleh dokter spesialis anestesi.

8) Pelaksanaan ILA dilakukan di kamar bersalin RSUD Dr Moewardi

Surakarta.

9) Pada pembukaan lengkap, diperiksa kadar Hsp-70 menggunakan metode

ELISA, dengan antibody monoclonal anti Hsp.

(43)

commit to user 4.10. Analisis Data.

Analisa data pada penelitian ini:

· Uji homogenitas data kendali: tinggi badan, berat badan, umur, systole dan

diastole, kadar gula darah random, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, Hb,

protein total.

· Penyebaran persalinan spontan dan tidak spontan kelompok kontrol dan

perlakuan dengan T test sedang yang tidak berpasangan dengan uji chi-square.

· Data kadar Hsp 70.

Analisakadar Hsp 70 dari kedua kelompok di lakukan uji normalitas dan

homogenitas untuk memastikan apakah anggota kedua kelompok sampel

sudah memenuhi syarat dan berasal dari populasi yang homogen.

· Data jumlah perdarahan persalinan kala III, kala IV kelompok kontrol dan

(44)

commit to user

26

BAB V

HASIL DAN ANALISA DATA PENELITIAN

5.1. Data Penelitian.

Tiga macam data penelitian diperoleh dari primigravida, yang meliputi:

1. Data pengendali ( tinggi badan, berat badan, umur, sistol, diastol, gula

darah, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, Hb, dan protein total) diambil satu

kali diawal penelitian.

2. Data obstetrik banyak perdarahan kelompok perlakuan dan kontrol yang

dihitung pada kala tiga dan empat, dihitung dengan hitungan cc, serta data

kejadian partus normal.

3. Data biologis (kadar Hsp-70) diambil satu kali saat pembukaan lengkap.

5.2. Homogenitas Data.

5.2.1. Homogenitas Data.

Homogenitas data kendali antara perlakuan dan kontrol digunakan untuk

mengendalikan sampel agar nilai setiap variabel yang diperoleh sesuai yang

diinginkan.Variabel data kendali dapat diketahui pada (Lampiran 9), dan hasil uji

homogenitas antara kontrol dan perlakuan menunjukkan hasil homogennya.

5.2.2. Homogenitas Data Biologis.

Homogenitas data Variabel biologis(kadar Hsp-70) yang diuji dengan

metode statistik harus dalam kondisi IIDN(0,TT) yaitu Identik, Independen dan

(45)

commit to user

1. Uji Identik dilakukan untuk melihat bahwa data tersebut diperoleh secara

rutin. Hasil analisis menunjukkan bahwa data tersebut terbukti konstan.

(Lampiran 8)

2. Uji Independensi dilakukan untuk melihat bahwa data tersebut tidak

dipengaruhi oleh hasil pengamatan data yang lain. Hasil analisis

menunjukkan bahwa data tersebut terbukti independent (Lampiran 8)

3. Uji distribusi normal dilakukan untuk melihat bahwa data tersebut masih

dalam sebaran batas normal(data pengamatan berada disekitar rerata).

(Lampiran 8)

Dari hasil uji IIDN menunjukkan bahwa data yang diperoleh sudah memenuhi

syarat untuk dianalisa lebih lanjut.

5.3. Uji Perbedaan data.

5.3.1.Pengamatan Data Biologis.

Uji perbedaan data biologis (kadar HsP-70)antara kelompok perlakuan

dan kelompok kontrol di uji dengan t- test, pada kelompok perlakuan didapatkan

hasil kadar Hsp-70 meningkat dan hanya 2 sampel dari 16 sampel pada kelompok

perlakuan yang kadar Hsp-70 < 0,09, sedang pada kelompokperlakuan semua dari

16 sampel diperoleh kadar Hsp-70 ,0,09. Dari perbandingan yang diperoleh

semua variable mendapatkan nilai p=.000.(α<0.05) (Lampiran 10)). Artinya

bahwa kadar Hsp-70 pada kelompok perlakuan dan kontrol ada perbedaan yang

signifikan, perlakuan mempunyai nilai kadar Hsp-70 lebih tinggi dibandingkan

(46)

commit to user

28

5.3.2. Pengamatan jumlah perdarahan.

Banyak perdarahan pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan ada

perbedaan yang signifikan pada kala III dan IV, denganhasil kelompok perlakuan

terdiri 16 sampel, semua didapat jumlah perdarahan <45cc pada kala III dan <

20cc pada kala IV, sedang pada kelompok kontrol yang juga terdiri 16 sampel,

semua didapatkan perdarahan yang lebih banyak dengan hasil >50 cc kala III dan

> 30cc pada kala IV, dan dari perbandingan kelompok perlakuan dan kontrol

didapatkan p=.000.(α<0.05) yang artinya banyaknya perdarahan pada kelompok

kontrol lebih banyak dibandingkan kelompok perlakuan.

5.3.3. Pengamatan kejadian partus normal.

Persalinan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dapat terjadi

secara normal dan tidak normal, penyebaran kejadian partus normal dibanding

dengan tidak normal diuji dengan chi-square, dari kelompok perlakuan yang berjumlah 16 primigravida didapat semua persalinan normal, sedang kelompok

kontrol ada 1 pasien dengan tidakan vakum ekstraksi 15 sisanya berjalan

persalinan normal, dari perbandingan keduanya diperoleh p= 0.310 (α>0.05),

(Lampiran 7). Yang artinya kejadian partus normal pada kelompok perlakuan dan

(47)

commit to user BAB VI

PEMBAHASAN

Diawal penelitian, data penelitian (5.1) diperoleh dengan melakukan

matching yang didapatkan sesuai dengan kasus yang didapatkan, meliputi tinggi badan yang di ukur menggunakan satuan sentimeter dengan batas bawah 140 cm,

guna mengurangi risiko adanya panggul sempit. Berat badan yang diukur

menggunakan satuan kilogram dengan batas 40 kg-90kg, umur 20-25 tahun,

tekanan darah yang diukur dengan satuan mmHg yang diambil berkisar

110-130mmHg untuk sistole, dan 60-90mmHg untuk diastole. Laboratorium gula

darah, ureum dan kreatinin, haemoglobin dan protein total, yang semuanya masuk

dalam kriteria normal secara klinis/ homogen.(5.2). Hal tersebut dilakukan untuk

menghilangkan bias yang mungkin didapat pada penelitian ini.

Data obstetri mengenaibanyaknya perdarahan pada persalinan kala III dan

IV dipengaruhi oleh kinerja myometrium dengan melakukan kontraksi (His)

sehingga mampu arteri spiralis dapat dijepit oleh myometrium. (Cunningham

2001). Setelah pengeluaran plasenat, uterus menjadi organ yang penting dalan

mengatasi perdarahan dengan kontraksi yang adekuat. Kontraksi uterus (His) yang

tidak adekuat sangat berpotensi timbulnya perdarahan yang banyak.

(Cunningham 2002). Perdarahan banyak/ berlebih didefinisikan hilangnya 500 ml

atau lebih darah setelah kala tiga persalinan selesai. Hal tersebut merupakan

konsekwensi pelepasan plasenta dari tempat implantasinya, trauma di traktus

(48)

commit to user

30

berlebihan setelah melahirkan dapat dilihat dari penyebabnya, bisa disebabkan

oleh atonia uteri, retensi plasenta, dan laserasi traktus genetalia. Sekitar setengah

wanita yang melahirkan pervaginam kehilangan darah 500 ml atau lebih, bila

diukur secara kuantitatif. Hal tersebut setara dengan pengeluaran darah 1000 ml

pada seksio sesarea, 1400 ml pada histerektomi sesarea elektif, 3000 sampai 3500

ml untuk sesarea histerektomi darurat. Wanita secara normal mengalami

hipervolemia selama hamil, sebesar 30% sampai 60%, dan dapat mentoleransi

tanpa mengalami penurunan bermakna hematokrit post partum, bahkan

perdarahan post partum yang mendekati jumlah penambahan darah selama hamil.

Tetapi pengamatan jumlah darah pada pesalinan pervaginam yang diperkirakan

keluar sering hanya setengah jumlah sebenarnya. (Cunningham 2001).

Menjelang persalinan diperkirakan 600 ml/menit darah mengalir melalui

ruang antarvilus, sehingga saat plesenta lepas pada kala tiga arteri-arteri dan

vena-vena uterina yang mengangkut darah dari ke plasenta putus secara tiba-tiba, dan

dapat menimbulkan perdarahan post partum yang berlebihan. Perdarahan pada

persalinan normal terjadi akibat dari putusnya arteri spiralis disekitar dinding

uterus. Mekanisme penghentian perdarahan terjadi akibat jepitan dari kontraksi

myometrium yang adekuat terhadap arteri spiralis (Cunningham, 2002). Hal

tersebut membuktikan bahwa kontraksi myometrium berperan penting dalam

menghentikan perdarahan setelah melahirkan. (Cunningham 2001).

Pada data biologis, diambil kadar Hsp-70 serum saat kala II/ pembukaan

lengkap. Timbulnya persalinan dapat diterangkan secara biokimia. (Wiknjo

(49)

commit to user

relaks dan lunak selama kehamilan menjadi organ dengan kontraksi yang hebat

sehingga mampu mendorong janin keluar melalui jalan lahir. (Cunningham,

2001). Meskipun tampaknya peranan fundus dan serviks selama persalinan

bertentangan, tetapi didapatkan bukti bahwa kedua proses itu diatur oleh bahan

yang sama. (Cunningham, 2002).Pada penelitian sebelumnya (Soetrisno, 2009).

Disebutkan juga bahwa pengaturan kontraksi miometrium pada tingkat seluler

adalah sebagai akibat dari aktivitas miosin rantai kinase, yang diaktifkan oleh

kalsium intraseluler, afinitas enzim terhadap kompleks kalsium kalmodulin (suatu

protein pengatur pengikat kalsium), yang mengatur kerja kalsium dan siklik adenosine monofosfat (cAMP) yang tergantung fosforilasi dari enzim protein kinase. Juga harus dipertimbangkan defosforilasi dari myosin rantai ringan kinase

dengan bantuan mosin rantai ringan kinase fosfatase. Jadi kontraksi akan terjadi

apabila didapatkan interaksi mosin yang sudah mengalami fosforilasi. Hal tersebut

yang menjadi dasar bahwa proses persalinan sangat dipengaruhi oleh kadar

protein tubuh.

Didalam penelitian ini disampaikan juga tentang homogenitas data, dimana

data sampel yang telah ada dilakukan perhitungan dengan uji statistik, dengan

menguji antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, dengan menilai uji

beda rerata/ mean, simpang baku/ standart deviasi, dan nilai confidence interval, pada semua data tidak didapatkan nilai yang signifikan, sehingga semua data

tersebut (Lampiran 9) dapat dijadikan sampel/ menjadi data kendali dalam

penelitian ini/ dengan kata lain semua data tersebut homogen. Diharapkan hasil

(50)

commit to user

32

Homogenitas data juga dilakukan pada data biologis (Hsp-70) dan

dilakukan uji homogenitas dengan metode statistik, harus dalam kondisi IIDN (0,

σ) yaitu Identik, Independen dan Normal. Uji Identik dilakukan untuk melihat

bahwa data tersebut diperoleh secara rutin.Hasil analisis menunjukkan bahwa data

tersebut terbukti konstan. (Lampiran 8). Uji Independensi dilakukan untuk melihat

bahwa data tersebut tidak dipengaruhi oleh hasil pengamatan data yang lain. Hasil

analisis menunjukkan bahwa data tersebut terbukti independent (Lampiran 8). Dan uji distribusi normal dilakukan untuk melihat bahwa data tersebut masih

dalam sebaran batas normal (data pengamatan berada disekitar rerata). (Lampiran

8). Dari hasil uji IIDN menunjukkan bahwa data yang diperoleh sudah memenuhi

syarat untuk dianalisa lebih lanjut.

Setelah dilakukan matching dan uji homogenitas data, maka dilakukan uji

perbedaan data(5.3), dalam uji ini akan dinilai secara stastistik pada data biologis,

perdarahan kala III dan IV dan sebaran partus normal.

Hasil pengamatan biologis (5.3.1) pada penelitian ini yang menggunakan

16 sampel untuk diberikan ILA sebagai kelompok perlakuan dan 16 sampel tanpa

ILA sebagai kelompok kontrol, kadar Hsp-70 serum yang diambil saat kala II

untuk kelompok perlakuan didapat rerata (0.26921) dan dari kelompok kontrol

(0.09438) yang memperlihatkan kadar yang lebih tinggi pada kelompok dengan

perlakuan/ kelompok yang mendapat ILA, dan nilai simpang baku untuk

kelompok perlakuan (0.194804) dan kelompok kontrol (0.017500) dengan nilai

p=.001.(α<0.05) yang memiliki perbedaan signifikan. (Lampiran 10). Sintesis

(51)

commit to user

juga stres psikologis. Gangguan tersebut terutama dalam hal struktur dan fungsi

protein. Di lain pihak beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel yang

mengalami stres memiliki mekanisme yang memungkinkan sel mensintesis

sekelompok protein yang dikenal sebagai heat shock / stres protein (Hsp) dalam rangka meperbaiki (chaperone) atau mendegradasi protein yang rusak sebagai

cara mempertahankan diri. (Verbeke, 2001; Gao, 2004; Klukenc, 2004; Magrane,

2004). Beberapa di antara Hsp ini sekarang diketahui dapat memungkinkan

pemulihan dan sintesis protein normal setelah paparan stres, dan dapat melindungi

sel terhadap kerusakan lebih lanjut. Juga berperan penting dalam sintesis dan

transport protein pada sel normal. Dari banyak penelitian telah diketahui

mengenai Hsp tetapi efek proteksinya terhadap sel miometrium masih belum

jelas. (Soetrisno, 2009). Efek proteksi Hsp terutama Hsp-70 terhadap miometrium

perlu diketahui. Karena kejadian kegagalan kontraksi berakibat kejadian

perdarahan banyak post partum masih cukup tinggi terutama pada primigravida.

Hsp Sebagian hanya muncul jika ada stressor (Hsp inducible) yang memutuskan sintesis protein normal. Hsp yang dikeluarkankan dalam keadaan

basal juga meningkat jika ada stressor. Respon yang cepat ini diperkirakan merupakan mekanisme proteksi. Protein ini juga mempunyai fungsi penting dalam

sel yang tidak dalam keadaan stres misalnya mengatur lipatan protein dan

mengawal gerakan mereka sekitar sel. Pandangan sekarang ialah bahwa Hsp

terutama ikut berperan dalam pelipatan, penyusunan dan pelekatan protein intra

seluler. Stres terhadap sel mengakibatkan bertambahnya jumlah protein yang

(52)

commit to user

34

sintesis protein ini sebagi respon terhadap stres dipakai sebagai batasan

karakteristik Hsp. Kenyataan bahwa Hsp terdapat juga pada suhu fisiologis,

merupakan salah satu molekul yang paling dapat bertahan selama evolusi dan

mempunyai peran yang sangat penting dalam fungsi sel normal, yang terakhir

ialah dugaan bahwa Hsp memegang peranan dalam timbulnya kontraksi

miometrium. (Alexy, 2005; Avisar, 2008). Pengendalian dan pengeluaran Hsp

dilakukan oleh berbagai Heat shock transcription factor seperti temperature, asam

basa, radiasi, beberapa jenis logam, etanol, asam lemak, kompresi gas udara,

malnutrisi dan infeksi. Hsp merupakan suatu kelompok protein indusibel yang

sebagian dikeluarkan secara tetap dan meningkat sebagai respon terhadap stres

dan sebagian yang lainnya dikeluarkan setelah stres. Protein yang dikeluarkan

secara menetap bertindak sebagai pengantar untuk mencegah pelipatan premature

dan untuk translokasi protein ke dalam organel. Induksi peningkatan dapat

bertindak untuk melindungi sel dari kerusakan yang dipicu oleh stres dengan

mencegah denaturasi protein dan atau dengan memperbaiki kerusakan tersebut

(protein chaperone). Hsp yang berlebihan bermakna penting pada perlindungan sel selama stres fisiologis terhadap terjadinya apoptosis. Seperti jaringan yang

aktif secara metabolis penting untuk menjaga kehamilan, mengalami stres yang

berlebihan dan ini mungkin merupakan alasan untuk mendorong produksi Hsp.

Hsp-70 yang tinggi menunjukkan efek perlindungan multiple pada respon sel

terhadap stres. (Soetrisno, 2009).

Hsp telah banyak dibuktikan mempunyai fungsi sebagai pengarah protein

(53)

commit to user

menjaga protein yang menjadi tidak berlipat (terdenaturasi) akibat stres, kemudian

pada proses denaturasi akan melipat dengan benar. (Alberts, 2004).

Pada penelitian sebelumnya, yang dilakukan di Cina tahun 2009

menemukan bahwa dalam keadaan hamil Hsp-70 terdeteksi di miometrium, hal

tersebut dapat membuktikan bahwa Hsp-70 juga diproduksi pada myometrium.

(Zhiang W, 2009). Hal tersebut sesuai dengan fakta yang didapat pada penelitian

ini dimana kenaikan kadar Hsp-70 seiring dengan jumlah perdarahan yang lebih

banyak pada kelompok perlakuan/ kelompok yang mendapatkan ILA

dibandingkan kelompok tanpa ILA/ kelompok kontrol.

Heat Shock Protein-70 (Hsp-70) merupakan sekumpulan protein dalam sel makhluk hidup yang dapat ditemui dalam semua fase perkembangan. Mereka

aktif apabila dirangsang oleh berbagai macam bentuk stres. Dalam kondisi

normal, juga banyak ditemukan dalam sel, dan mereka berperan sebagai

“Chaperone”. Dan sintesanya meningkat melalui mekanisme umpan balik sebagai

respon terhadap stres. Perlu diingat bahwa anggota kelas ini, seperti kelas Hsp

yang lain, dalam keadaan normal juga ada di dalam sel. (Edner, 2003; Soetrisno,

2009).

Fungsi Hsp-70 sekarang ini diketahui dapat memungkinkan pemulihan dan

sintesis protein normal setelah paparan stres, dan dapat melindungi sel terhadap

kerusakan lebih lanjut. Juga berperan penting dalam sintesis dan transport protein

pada sel normal. Dari banyak penelitian telah diketahui mengenai Hsp, tetapi efek

proteksinya terhadap sel miometrium masih belum jelas. Efek proteksi Hsp

Gambar

Gambar 4.3.  Rancangan Penelitian..................................................              21
Gambar 2.1  Peran fosforilasi myosin rantai ringan (Myosin light chain  / MLC)
  Gambar 3.2
Gambar 4.3 : Rancangan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait