• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI ZEOLIT MENINGKATKAN HASIL TANAMAN PADA TANAH ULTISOL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "APLIKASI ZEOLIT MENINGKATKAN HASIL TANAMAN PADA TANAH ULTISOL"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016

APLIKASI ZEOLIT MENINGKATKAN HASIL TANAMAN PADA TANAH ULTISOL

Yusuf Sabilu

Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Halu Oleo, Kendari email : [email protected]

ABSTRAK

Tanah ultisol memiliki luas 25% dari total daratan Indonesia, sangat penting dalam pembangunan pertanian Indonesia. Ultisol merupakan tanah yang memiliki kesuburan yang sangat rendah karena kandungan bahan organik rendah, keasaman tinggi, kandungan Al dan Fe tinggi, liat, kapasitas tukar kation (KTK) rendah, kandungan logam berat tinggi, sehingga keterbatasan tanah Ultisol dapat diperbaiki dengan menggunakan zeolit. Deposit zeolit di Indonesia sangat besar sekitar 447,49 juta ton yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku. Di Indonesia zeolit telah digunakan sebagai amelioran tanah ultisol dan sebagai campuran pupuk urea dan kompos, terbukti dapat meningkatkan produksi pertanian pada tanah ultisol tetapi penggunaannya ditingkat petani masih rendah dan terbatas pada petani Pulau Jawa dan Sumatera. Rendahnya pemanfaatan zeolit ditingkat petani disebabkan kurangnya pengetahuan petani tentang zeolit, belum tahu cara penggunaannya, ketersediannya zeolit dipasaran masih terbatas, penggunaan pada berbagai jenis tanaman pangan belum banyak diketahui dan jumlah zeolit yang diperlukan untuk perbaikan lahan marginal sangat banyak sehingga biaya untuk menyediakan zeolit tingkat petani sangat mahal.

Kata kunci : Zeolit, ultisol, dan peningkatan produksi pertanian.

ABSTRACT

Ultisol land has an area of 25% of Indonesia's total land area, is very important in the development of agriculture Indonesia. Ultisol is a land that has a very low fertility due to low organic matter content, high acidity, high contents of Al and Fe, clay, cation exchange capacity (CEC) is low, high heavy metal content, so the limitations Ultisol can be corrected by using zeolite. Zeolite deposits in Indonesia is very big around 447.49 million tonnes spread across Sumatera, Java, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi and Maluku. In Indonesia zeolites have been used as a soil ameliorant ultisol and as a mixture of urea fertilizer and compost, is proven to increase agricultural production on land use for farmers ultisol but is still low and is limited to the farmer Java and Sumatra. Low use of zeolites for farmers due to the lack of farmers' knowledge about zeolites, do not know how to use, the availability of zeolites market is still limited, the use of the various types of food crops is not widely known and the amount of zeolite required for repair of marginal land so much so that the cost to provide the zeolite level of farmers very expensive.

Keywords : Zeolites, ultisol and increasing agricultural production.

(2)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu

negara di kawasan tropika basah yang

memiliki tanah mineral bermasalah dalam

kaitannya dengan tingginya laju

dekomposisi bahan organik dan

pencucian hara, bahan organik tanah

umumnya kurang dari 2% dan pH tanah

masam (Las dan Setyorini, 2010).

Rendahya kandungan bahan organik

tanah tropika disebabkan oleh temperatur

yang tinggi dan cepatnya laju

dekomposisi (Sanchez, 1976). Lahan

pertanian di Indonesia didominasi oleh

ultisol. Ultisol merupakan salah satu jenis

tanah yang terluas di Indonesia,

mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25

% dari total luas daratan Indonesia,

dengan sebaran di Kalimantan

21.938.000 ha, di Sumatera 9.469.000

ha, Maluku dan Papua 8.859.000 ha,

Sulawesi 4.303.000 ha, Jawa 1.172.000

ha, dan Nusa Tenggara 53.000 ha

(Hardjowigeno, 2007), berada pada

berbagai relief, mulai dari datar hingga

bergunung (Subagyo et al, 2004). Tanah

ultisol dengan kesuburan rendah, tetapi

merupakan potensi yang penting untuk

pembangunan pertanian di Indonesia.

Penggunaan tanah ultisol untuk budidaya

tanaman memerlukan pengapuran dan

pemupukan yang banyak, tetapi aplikasi

pupuk tidak efisien. Ultisol memiliki

kendala untuk budidaya tanaman pangan

karena kandungan hara sangat rendah,

kandungan bahan organik rendah, labil

dan menurun secara cepat setelah

pembukaan lahan (Sudjadi, 1984),

kejenuhan Al tinggi, kemasaman tanah

tinggi, miskin kandungan hara makro

terutama P, K, Ca, dan Mg, kemampuan

menyangga pupuk rendah, sehingga

pemupukan pada tanah ultisol tidak efisien

(Suwardjo, et. al. 1987), daya menahan

air yang rendah, kadar Al tinggi, kapasitas

tukar kation rendah (Sri Adiningsih dan

Mulyadi, 1993). Tanah ultisol dapat

ditingkatkan kemampuannya untuk

budidaya tanaman melalui perbaikan

fisik, kimia dan biologi tanah.

Perbaikan secara fisik, kimia, dan

biologi yang belum populer ditingkat

petani di Indonesia adalah penggunaan

pembenah tanah zeolit. Penggunaan

zeolit pada tanah ultisol dapat berfungsi

meningkatkan kualitas penggunaan

pupuk, bahan campuran untuk membuat

pupuk lambat tersedia, pelembab tanah

dan pengontrol cadangan air. Zeolit alam

mempunyai kemampuan yang sangat

baik untuk menjerap dan menukarkan

(3)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 tidak asam, sehingga dapat menyangga

keasaman tanah, sehingga dapat

mengurangi takaran kapur (Fuji, 1974).

Pemanfaatan zeolit telah berkembang

untuk keperluan industri, pertanian, dan

lingkungan terutama untuk

menghilangkan bau, karena zeolit dapat

menyerap molekul-molekul gas seperti

CO, CO2, H2S. Zeolit merupakan bahan

galian non logam atau mineral industri,

memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yaitu

sebagai penyerap, penukar ion,

penyaring molekul dan sebagai

katalisator (Kusdarto, 2008). Paper ini

akan membahas mengenai potensi zeolit

di Indonesia, sifat kimia dan fisika zeolit,

pemanfaatan zeolit dalam memperbaiki

sifat kimia dan fisik tanah ultisol,

penggunan zeolit dalam meningkatkan

produksi tanaman di Indonesia

POTENSI ZEOLIT DI INDONESIA

Mineral zeolit berbentuk kristal

yang terdapat di dalamnya

rongga-rongga. Zeolit berasal dari kata zein dan

lithos yang berarti batu api atau boiling

stone (Polat et. al., 2005). Di Indonesia

tercatat endapan zeolit di 20 lokasi

dengan jumlah sumberdaya 447.490.160

ton, tersebar di Provinsi Jawa Barat

mempunyai sumberdaya 185.595.160

ton, Provinsi Lampung sumberdayanya

43.800.000 ton, Provinsi Nusa Tenggara

Timur sumberdayanya 6.115.000 ton,

Provinsi Sulawesi Barat sumberdayanya

26.400.000 ton, Provinsi Sulawesi

Selatan sumberdayanya 169.880.000 ton

dan Provinsi Sumatera Utara (Tapanuli

Utara) sumberdayanya 16.200.000 ton

(Kusdarto, 2008; Husaini, 2007). Lima

jenis zeolit yang telah terbukti bermanfaat

untuk pertanian, yaitu

klinoptilolit,mordenit, erionit, kabasit, dan

philipsit. (Suwardi, 2002). Penambangan

zeolit di Indonesia masih terbatas di

Sumatera dan Jawa. Jenis mineral zeolit

yang banyak terdapat di Indonesia

adalah modernit dan klipnoptilolit.

Beberapa lokasi endapan zeolit yang

mempunyai prospek untuk

dikembangkan, seperti di Kabupaten

Tasikmalaya, Jawa Barat, Kabupaten

Bayah, Banten, Kabupaten Lampung

Selatan, Lampung, Kabupaten Ende,

Nusa Tenggara Timur, Kabupaten

Majene, Sulawesi Barat dan Kabupaten

Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

SIFAT KIMIA DAN FISIKA ZEOLIT

Zeolit adalah satu kelompok

berkerangka alumino-silikat yang terjadi

di alam dengan kapasitas tukar kation

yang tinggi, adsorpsi tinggi dan bersifat

hidrasi-dehidrasi (Kusdarto, 2008). Zeolit

termasuk golongan mineral tektosilikat,

yaitu mineral alumino silikat terhidrasi

dengan struktur dalam tiga dimensi yang

tidak terbatas dengan rongga-rongga

(Sujarwadi,1997). Di dalam

(4)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 alkali dan alkali tanah khususnya kalium

(K), natrium (Na), kalsium (Ca), dan

magnesium (Mg) serta molekul air dan

jumlah air yang berada pada mineral

zeolit bervariasi antara 5-10% (Suwardi,

2002). Molekul air dalam struktur zeolit

dapat bereaksi timbal balik dan mampu

melakukan pertukaran kation tanpa

merubah struktur zeolit (Ming dan

Mumpton, 1989). Zeolit bermuatan

negatif, yang dapat dinetralkan oleh

logam-logam alkali atau alkali tanah

seperti Na+, K+, Ca2+, dan Mg2+.

Kation-kation ini, akan menduduki kisi-kisi

permukaan di dalam struktur zeolit yang

dapat dipertukarkan. Selain sebagai

penukar kation, zeolit juga berfungsi

sebagai penyerap kation-kation yang

dapat menyebabkan pencemaran

lingkungan seperti Pb, Al, Fe, Mn, Zn,

dan Cu.

Zeolit sebagai pembenah yang

diberikan ke dalam tanah dengan jumlah

relatif banyak dapat memperbaiki

sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah

sehingga produksi pertanian dapat

ditingkatkan (Torii, Hotta, and Asaka,

1979; Townsend, 1979; Pond dan

Mumpton, 1984; Suwardi, 2007). Zeolit

mempunyai kerangka terbuka dengan

jaringan pori-pori yang mempunyai

permukaan bermuatan negatif dapat

mencegah pencucian unsur hara NH4+,

-Urea dan kation K+, -KCl keluar dari

daerah perakaran, sehingga pupuk Urea

dan KCl yang diberikan lebih efisien.

Aplikasi zeolit tidak mengalami kerusakan

dan jumlahnya masih tetap dalam tanah

untuk meretensi unsur hara. Kerapatan

isi atau bobot isi zeolit lebih ringan

dibandingkan dengan mineral golongan

silikat lainnya, yaitu berkisar antara

1.9-2.4g/cm3. Bobot isi sangat erat kaitannya

dengan volume rongga dalam zeolit.

Volume rongga zeolit berkisar 20-50%

dari volume zeolit, jika volume rongga

zeolit semakin besar maka bobot isinya

semakin rendah (Suwardi, 1997).

PEMANFAATAN ZEOLIT DALAM

MEMPERBAIKI SIFAT KIMIA DAN FISIK TANAH ULTISOL

Zeolit mempunyai sifat

dehidrasi apabila dipanaskan, struktur

kerangka zeolit akan menyusut, akan

tetapi kerangka dasarnya tidak

mengalami perubahan, molekul H2O

dapat dikeluarkan secara reversibel.

Struktur zeolit yang berongga mampu

menyerap sejumlah besar molekul yang

berukuran lebih kecil atau sesuai dengan

ukuran rongganya. Kristal zeolit yang

telah terdehidrasi merupakan adsorben

yang selektif dan mempunyai efektivitas

adsorpsi yang tinggi (Suwardi, 1997).

Zeolit menyangga pH tanah sehingga

dapat mengurangi pemberian takaran

kapur pada tanah ultisol atau podsolik

(5)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 perangkap logam-lagam Cu, Cd, Pb dan

Zn sehingga masuknya kedalam rantai

makanan dicegah (Fuji, 1974). Zeolit

sangat baik sebagai suatu tempat

penyimpanan air, memperpanjang

penyediaan kelembaban selama masa

kering, mempercepat proses

pembasahan kembali (re-wetting) dan

memperbaiki penyebaran lateral air ke

dalam sumber irigasi, kapasitas absorpsi

yang tinggi membuat zeolit digunakan

sebagai pembawa (carrier) dari

pestisida-pestisida pertanian (Polat et al., 2004).

Sifat kimia zeolit yang sering

dimanfaatkan dibidang pertanian adalah

sifat adsorbsi dan sifat pertukaran kation.

Pertukaran kation zeolit adalah fungsi

dari derajat substitusi silika oleh

aluminium dalam struktur kristal zeolit.

Semakin banyak jumlah aluminium

menggantikan posisi silika, maka

semakin banyak muatan negatif yang

dihasilkan, sehingga makin tinggi

kemampuan tukar kation zeolit

(Mumpton, 1999), mempunyai kapasitas

tukar kation yang tinggi yaitu 200 - 300

meq 100g-1 (Husaini, 2002).

Prihatini, Moersidi, dan Hamid

(1987) melaporkan bahwa zeolit sebagai

pembenah tanah dengan takaran ≥ 1.000

ppm atau ≥ 2 ton ha-1 dapat

meningkatkan KTK tanah masam.

Pemberian zeolit pada tanah bertekstur

liat dapat memperbaiki struktur tanah,

pori-pori udara tanah ditingkatkan, zeolit

yang diberikan pada tanah berpasir dapat

meningkatkan daya pegang tanah

terhadap air, karena zeolit memiliki

struktrur berongga (Al-Jabri, 2008).

Takaran zeolit yang diberikan bergantung

pada tingkat degradasi lahan, dari ringan

sampai berat yaitu sebanyak 5-20 ton ha -1, sehingga keuntungan ekonomi jangka

pendek relatif rendah (Al-Jabri, 2008),

oleh karena itu masalah ini diantisipasi

dengan cara menempatkan zeolit di

daerah perakaran sehingga takarannya

diprediksi sekitar 200-600 kg ha-1 setiap

kali tanam selama 5 tahun (Al-Jabri,

2008). Untuk pemanfaatan lahan jangka

panjang aplikasi zeolit sangat

menguntungkan karena zeolit tidak

mengalami kerusakan pada tanah dan

bersifat permanen. Zeolit memiliki KTK

dan kemampuan menjerap ion amonium

tinggi serta berstruktur porous dapat

dimanfaatkan sebagai bahan pembenah

tanah khususnya pada tanah-tanah yang

mempunyai KTK rendah seperti Oxisol

dan Ultisol (Suwardi, 2009).

APLIKASI ZEOLIT DALAM

MENINGKATKAN HASIL TANAMAN DI INDONESIA

Saat ini di Indonesia

penggunaan zeolit pada pertanian adalah

sebagai pembenah tanah dan campuran

pupuk terutama pupuk urea (Suwardi,

(6)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 terbatas yaitu Lampung, Jawa Barat,

Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kendala

penggunaan zeolit pembenah tanah pada

tingkat petani di Indonesia adalah masih

kurangnya pengetahuan petani tentang

zeolit, belum cara penggunaannya,

ketersediannya masih terbatas, dan juga

pengunaannya dalam jumlah besar

sehingga biaya produksi untuk tingkat

petani sangat mahal. Petani Malang

Jawa Timur sebagai sentral pertanian

Indonesia dan provinsi terdapatnya

tambang zeolit, pengetahuan petani

tentang zeolit sebagai pembenah tanah

sangat masih rendah (Tala’ohu dan Al

-Jabri, 2008). Cadangan zeolit sangat

besar dan luasnya tanah ultisol yang

tersebar seluruh Indonesia, serta

semakin luasnya lahan pertanian yang

telah rusak oleh karena penggunaan

pupuk kimia secara intesif dan terus

menerus, terutama di luar Pulau Jawa,

maka pengembangan pemanfaatan zeolit

harus ditingkatkan. Peningkatan

produktivitas tanah ultisol dan mengatasi

Lahan marginal dapat diperbaiki dengan

pemberian pembenah zeolit yang

dikombinasikan dengan pupuk organik

dan diikuti pengurangan 50 % pupuk

anorganik sehingga produksi pertanian

dan kesehatan lahan dapat ditingkatkan.

Hasil analisis kimia tanah menunjukkan

bahwa zeolit mampu meningkatkan

kandungan K, Na, Ca, dan Mg tanah,

serta meningkatkan KTK dan pH tanah

ultisol, karena kation-kation dalam zeolit

didorong keluar oleh H+, dan kation

tersebut dilepaskan ke dalam larutan

tanah yang dapat menyebabkan adanya

suplai hara tersebut (Ernawanto, et. al.

2011).

Pertumbuhan tinggi tanaman

kedelai varietas Argomulyo secara nyata

dipengaruhi oleh zeolit dengan baik pada

umur 30 hst maupun 60 hst, disebabkan

karena zeolit mengandung unsur-unsur

hara makro dan mikro yang dapat

disumbangkan ke dalam tanah,

memperbaiki agregasi tanah sehingga

pori-pori udara tanah meningkat.

Porositas tanah meningkat sehingga

perkembangan akar tanaman kedelai

optimum. Penambahan zeolit ke tanah

nilai kapasitas tukar kation meningkat,

sehingga hara yang berasal dari pupuk

akan diadsorpsi partikel-partikel

bermuatan negatif tanah sehingga dapat

mengurangi kehilangan hara melalui

pencucian (Ernawanto, et. al, 2011).

Pemberian 1750 kg ha-1 zeolit mampu

meningkatkan produksi kering kedelai

sebesar 20% dibanding tanpa zeolit

(Ernawanto et al. 2011).

Al-Jabri (2009) dan Suwardi

dan Goto (1996) melaporkan bahwa

pemberian zeolit mampu meningkatkan

efisiensi pemupukan urea, KCl, dan

(7)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 dengan permukaan yang bermuatan

negatif dapat mengurangi pencucian hara

NH4+ dari Urea dan K+ dari KCl atau

pupuk phonska di daerah perakaran,

sehingga terjadi efisiensi penggunaan

pupuk urea dan KCl atau phonska. Hara

N, P, dan K merupakan unsur hara

primer yang sangat esensial

mempengaruhi produktivitas kedelai.

Penambahan zeolit meningkatkan luas

permukaan akar tanaman, yang berakibat

terhadap meningkatnya jumlah hara yang

dapat diserap oleh tanaman (Suwardi

dan Suryaningtyas, 1995: Suwardi dan

Goto, 1996; Suwardi, 2007). Zeolit dapat

meningkatkan mutu kompos dan dapat

mengurangi bau kompos pada saat

proses dekomposisi. Jumlah zeolit yang

diberikan antara 10-30% bahan kompos

(Suwardi, 2009).

Hasil penelitian dilaporkan

bahwa zeolit telah menunjukkan respon

yang positif terhadap pertumbuhan

tanaman dan efisiensi pemupukan. Zeolit

juga memiliki KTK yang tinggi dan tidak

masam menyebabkan peningkatan

kesuburan tanah. Sifat-sifat yang yang

dimiliki zeolit dapat dimanfaatkan untuk

meningkatkan produktifitas tanah ultisol,

yaitu untuk mengurangi kemasaman

tanah, meningkatkan KTK dan

ketersediaan Ca, K, P, serta menurunkan

kejenuhan Al dalam tanah (Mallarangan,

1990; Sarief, 1990). Pemberian zeolit

pada tanah dengan takaran 2,5 ton ha-1

pada tanah ultisol meningkatkan hasil

jagung 6-11%, kedelai 19%, kacang

tanah 18%, dan tomat 35%. Akumulasi N

dari pupuk N dua kali lebih tinggi jika

zeolit diberikan 3 dan 6 ton ha-1, hal ini

karena konversi NH4 + menjadi NO3

-sebanyak 30-40% dapat dihambat oleh

zeolit (Suwardi, 2007). Pengaruh zeolit

sebagai bahan campuran pupuk dengan

rasio zeolit:pupuk = 15:1 dengan

pemberian pupuk N 200 kg ha-1 dapat

meningkatkan hasil kedelai 46 % dan

jahe 72 %, pemberian zeolit:pupuk = 70:1

dan pengurangan 50 % pupuk dapat

meningkatkan produksi padi 28 %

(Suwardi dan Goto, 1996).

Kehilangan N pupuk dalam

tanah dapat ditekan dengan pembuatan

pupuk slow release fertilizer (SRF) yang

dibuat dari campuran urea dan zeolit

dengan perbandingan 50:50 memiliki nilai

efisiensi yang lebih tinggi dari pupuk SRF

dengan perbandingan urea:zeolit 70:30.

Pupuk SRF dengan perbandingan

urea:zeolit 50:50 mampu menghemat

30% penggunaan pupuk urea (Prakoso,

2006). Sifat-sifat tanah yang dipengaruhi

zeolit adalah: (1) meningkatkan KTK

tanah selama KTK zeolit diatas 100 cmol

(+) kg-1, (2) meningkatkan K tanah, hal ini

disebabkan kandungan K2O dalam zeolit

klinoptilolite sekitar 3%, (3) meningkatkan

(8)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 pemberian zeolit pada tanah ultisol dapat

meningkatkan P dari 5.28 menjadi 20.1

mg P2O5 kg-1 (Suwardi, 1997).

Mekanisme peningkatan P diduga karena

Ca dalam zeolit mengikat P dalam tanah

yang semula diikat oleh Fe dan Al dan

karena Ca dalam zeolit mudah

dilepaskan dalam bentuk dapat

dipertukarkan, maka P yang diikat Ca

menjadi tersedia, (4) memperbaiki

struktur tanah dan daya pegang tanah

terhadap air (Al-Jabri, 2008). Hasil

penelitian menunjukan bahwa pemberian

zeolit dengan takaran 1,5 ton ha-1

memberikan pengaruh yang lebih baik

terhadap tinggi tanaman umur 14 HST,

umur 21 HST, bobot polong isi per

tanaman dan bobot 10 butir biji kering

pada kacang tanah pada yang ditanam

pada tanah inceptisol (Sariningsih, 2011).

Hasil penelitian pada padi menunjukan

pemberian zeolit dapat meningkatkan

hasil. Konsentrasi N dan K yang diserap

tanaman padi tertinggi pada umur 6 MST

pada perlakuan zeolit 125 kg ha-1.

Serapan N menurun seiring makin

tingginya takaran zeolit, hal ini

menunjukan semakin banyak N yang

memasuki pori-pori zeolit dan akan

dilepaskan kembali secara perlahan

untuk diserap tanaman (Al-Jabri

2009). Penggunaan zeolit pada pertanian

dapat meningkatkan produksi tanaman

padi, jagung, tembakau, dan

sayur-sayuran (bunga kol, cabai, tomat) sekitar

10-30%, dan mengurangi takaran pupuk

urea sebanyak 15 - 30% dan SP-36

sebanyak 30% (Al-Jabri, 2009).

Simanjutak (2002) melaporkan

bahwa pemberian 50 ton zeolit ha-1

sebagai bahan pembenah tanah mampu

meningkatkan KTK media tumbuh yang

merupakan campuran tanah zeolit,

sehingga produksi tanaman tomat

meningkat 31% pada tanah Regosol,

15% pada tanah Podsolik. Pemberian 2.5

ton zeolit ha-1 pada tanah Latosol coklat

meningkatkan produksi jagung, kedelai,

kacang tanah masing-masing 11%, 19%,

dan 18%. Pemberian 40 ton zeolit ha-1

pada tanah Latosol meningkatkan

produksi tanaman cabai sebanyak 29%.

Penggunaan zeolite pada media

tumbuh memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap perkecambahan biji,

tinggi tanaman, diameter batang, berat

basah dan kandungan nutrien kecambah

Cucumis sativus L. (Yilmaz, et. al., 2014).

Penggunaan pupuk NPK lepas lambat

dengan zeolit dapat meningkatkan

produksi teh (Raharjo, 2008).

Hasil penelitian Sabilu (2015),

menunjukan bahwa produksi biji kedelai

varietas anjasmoro pada tanah ultisol,

tertinggi (3,37 ton ha-1 biji kering kadar air

19 %) yaitu pada aplikasi Azotobacter

(9)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 pemberian zeolit 3,5 ton ha-1. Zeolit tidak

menyediakan hara bagi kedelai, tetapi

zeolit dapat meningkatkan pH dan KTK

tanah ultisol sehingga pertumbuhan

kedelai optimal. KTK dan pH tanah

ultisol yang digunakan untuk penanaman

kedelai sebelum tanam dengan pH 5,14

(masam) dan setelah panen pH tanah

menjadi 5,85 (mendekati netral), dan KTK

dari 7,92 sebelum tanam dan KTK 65

setelah panen. Pada pH tanah 5,85 dan

KTK 65 telah dapat memberikan

pertumbuhan dan produksi kedelai yang

optimal (Sabilu, 2015). Peningkatan pH

pada tanah ultisol karena zeolit

mengalami proses hidrolisis silikat yang

menghasilkan ion OH (Andyanta, et al.

2000), dan peningkatan KTK tanah ultisol

karena zeolit yang digunakan dengan

KTK 96,2 (Sabilu, 2015), hal sesuai

dengan pendapat Winarso et al., (2001)

bahwa meningkatnya KTK tanah yang

diberikan zeolit karena zeolit memiliki

KTK lebih dari 75 me 100g-1 tanah.

Pupuk Urea dan KCl yang diberikan ke

tanah yang sebelumnya sudah diberi

zeolit, maka kation NH4+ -urea dan kation

K+-KCl dapat terperangkap sementara

dalam pori-pori zeolit yang

sewaktu-waktu dilepaskan secara perlahan-lahan

untuk diserap tanaman (Al-Jabri, 2010).

proses nitrifikasi pada tanah menurun

yang dipengaruhi oleh aplikasi zeolit.

kandungan nitrogen tanah menurun

sampai 66-78 persen dibanding dengan

tanah tanpa diaplikasi zeolit, oleh karena

itu zeolit dapat digunakan untuk

memperlambat pelepasan pupuk nitrogen

(Torma, et. al., 2014). Zeolit dapat

menghambat konversi NH4 menjadi nitrat

sampai 30-40% (Suwardi, 2009).

KESIMPULAN

1. Tanah ultisol memiliki luas 25% dari

total daratan Indonesia, sangat

penting dalam pembangunan

pertanian Indonesia, namum memiliki

kesuburan yang sangat rendah

karena kandungan bahan organik

rendah, keasaman tinggi, kandungan

Al dan Fe tinggi, liat, kapasitas tukar

kation (KTK) rendah, kandungan

logam berat tinggi.

2. Deposit zeolit di Indonesia sangat

besar sekitar 447,49 juta ton yang

tersebar di Sumatera, Jawa, Bali,

Nusa Tenggara, Sulawesi dan

Maluku, namum penggunaan pada

tanah ultisol dan perbaikan lahan

pertanian terdegradasi untuk

meningkatkan produksi pertanian

masih rendah dan terbatas pada

petani di Sumatera dan Jawa.

3. Di Indonesia zeolit telah digunakan

sebagai pembenah tanah ultisol dan

sebagai campuran pupuk urea dan

kompos, terbukti dapat meningkatkan

(10)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 yaitu kedelai, jagung, kacang tanah,

padi, tomat, tembakau, cabai dan teh.

4. Rendahnya pemanfaatan zeolit

ditingkat petani disebabkan

kurangnya pengetahuan petani

tentang zeolit, belum tahu cara

penggunaannya, ketersediannya

zeolit dipasaran masih terbatas

(produksi zeolit nasional masih

berorientasi ekspor), penggunaan

pada berbagai jenis tanaman pangan

belum banyak diketahui dan jumlah

zeolit yang diperlukan untuk

perbaikan lahan marginal sangat

banyak sehingga biaya untuk

menyediakan zeolit tingkat petani

sangat mahal.

SARAN

Penelitian zeolit untuk

meningkatkan hasil tanaman terus

dilakukan terutama jumlah zeolit yang

diperlukan untuk perbaikan lahan

marginal dan tanah yang terdegradasi,

yang dikombinasikan dengan aplikasi

bahan organik dan mikroba tanah

penyuplai hara tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jabri, M. 2010. Inovasi Teknologi Pembenah Tanah Zeolit Untuk Memperbaiki Lahan Pertanian Terdegradasi. Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor, 30 November - 1 Desember 2010. Al-Jabri M. 2009. Peningkatan Produksi

Tanaman Pangan dengan

Pembenah Tanah Zeolit. Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian, Bogor.

Al-Jabri, M., 2008. Tantangan dan

Peluang Pengembangan

Pembenah Tanah Zeolit Pada Lahan terdegradasi Untuk Produksi Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanah, Pusat Penelitian dan pengembangan Departemen Pertanian, Bogor. http://balittanah.litbang.deptan.go. id/dokumentasi

/prosiding2008pdf/aljabri_zeolit. pdf. Diakses 15 Januari 2013. Andyanta, S. Atmojo, dan Khairun. 2000.

Pemanfaatan zeolit alam untuk

menurunkan kejenuhan

alumunium tanah ultisol dan

pengaruhnya terhadap

pertumbuhan dan produksi kedelai. J.Penelitian Pertanian

Unsoed. Purwokerto, 8(4):41-47

Ernawanto Q D, Noeriwan B S, Sugiono. 2011. Pengaruh pemberian zeolit terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Prosiding

seminar Hasil Penelitian

Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Jawa Timur.

Fuji, S. 1974. Heavy metal adsorption by

pulverized zeolites: Japan. Kokai

74,079,849, 2 pp. Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Edisi

Keenam, Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta.

Husaini, 2007. Karakteristik dan deposit

pembenah tanah zeolit di

Indonesia. Puslitbang Teknologi

(11)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 konsorsium Pembenah Tanah

Indonesia pada 5 April 2007, Jakarta

Kusdarto, 2008. Potensi Zeolit di Indonesia. Jurnal Zeolit Indonesia Vol. 7 No. 2.: 78-68

Las, I. dan D. Setyorini. 2010. Kondisi Lahan, Teknologi, Arah, dan Pengembangan Pupuk Majemuk NPK dan Pupuk Organik. Dalam Prosiding Semnas Peranan Pupuk NPK dan Organik dalam Meningkatkan Produksi dan

Swasembada Beras

Berkelanjutan. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor 24 Februari 2010.

Mallarangan, B.M. 1990. Pengkajian

Zeolit Alam Indonesia dan

Strategi Pendayagunaan dalam

Industri Agro. Makalah Seminar

Zeo Agro Indusrtri. Kerjasama PPSKI-HKTI-UNPAD. Bandung, 18-19 Juli 1990.

Ming, D. W., and F.A. Mumpton. 1989.

Zeolites in soils. Dalam J. B.

Dixon dan S. B. Weed (ed). Mineral in soil environments. Second Ed. Soil science society of America, Madison, Wisconsin Pond, W. G., and F. A. Mumpton, 1984.

Zeo-agriculture: Use natural zeolites in agriculture and aquaculture. International Committee on Natural Zeolite, Westview Press, Boulder, CO. Prakoso, T. G. 2006. Studi slow release

(SRF): Uji efisiensi formula pupuk tersedia lambat campuran urea dengan zeolit. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. IPB.

Polat E, M. Karaca, H. Demir, A.N. Onus. 2004. Use of natural zeolite (clinoptilolite) in agriculture. J Fruit

Ornamental Plant Research vol.

12. 183-187.

Raharjo, P., 2008. Potensi Zeolit di Indonesia. Jurnal Zeolit Indonesia Vol. 7 No. 2.: 88-95

Sabilu, Y., 2015. Pertumbuhan dan Produksi Kedelai pada Lahan Ultisol yang Diaplikasi

Azotobacter sp., Mikoriza dan

Kompos dengan pembenah tanah zeolit. Disertasi. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sanchez, P. A. 1976. Properties and Management of Soils in the Tropics. John Wiley and Sons, New York. London. Sydney. Toronto. 618 p.

Sariningsih, 2011. Effect Of Zeolite And

Bottom Ash Solid Organic

Fertilizer Rate On Soil Cation Exchange Capacity, P Content, Growth And Yield Of Peanut

(Arachis Hypogaea L) At

Jatinangor Inceptisol. Fakultas Pertanin Universitas Winaya Mukti

Simanjuntak, M. 2002. Penggunaan zeolit dalam bidang pertanian. Program Studi Ilmu Tanah S-1. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. IPB.

Sri Adiningsih, J., dan Mulyadi. 1993. Alternatif teknik rehabilitasi dan

pemanfaatan lahan alang-alang.

Hal. 29-50. Prosiding seminar lahan alang-alang, Bogor, Desember 1992. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian.

Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2004. Tanah-tanah

pertanian di Indonesia. hal. 21-66.

Pusat Penelitian dan

Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Sudjadi, M. 1984. Masalah kesuburan tanah Podsolik Merah Kuning dan kemungkinan pemecahannya. Hal. 3-10 dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usahatani Menunjang Transmigrasi. Pusat Penelitian Tanah, Bogor.

(12)

Sabilu, Y., Biowallacea, Vol. 3 (2), Hal : 396-407, Oktober, 2016 Suwardi, 2009. Teknik Aplikasi Zeolit Di

Bidang Pertanian Sebagai Bahan Pembenah Tanah. Jurnal Zeolit

Indonesia, Vol. 7 No. 2.: 33-38

Suwardi. 2007. Pemanfaatan zeolit untuk Perbaikan Sifat-sifat Tanah dan Peningkatan Produksi Pertanian. Disampaikan pada Semiloka Pembenah Tanah Menghemat Pupuk Mendukung Peningkatan Produksi Beras, di Departemen Pertanian, Jakarta 5 April 2007. (Tidak dipublikasikan).

Suwardi. 2002. Pemanfaatan Zeolit untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Pangan, Peternakan, dan Perikanan. Makalah disampaikan pada Seminar Teknologi Aplikasi Pertanian Bogor IPB.

Suwardi and Goto I. 1996. Utilization of Indonesian Natural Zeolit in Agriculture. Proc. of the Internat Pengaruh pemberian zeolit terhadap Kapasitas Tukar Kation tanah dan produksi tanaman tomat. Jurnal Pertanian Indonesia 5(2): 82-89.

Suwarjo, H., Mulyadi, dan Sudirman. 1987. Prospek tanaman benguk (Mucuna sp.) untuk rehabilitasi tanah podsolik merah kuning yang dibuka secara mekanis di

Kumang Kuning Jambi. Prosiding.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor

Tala’ohu, S.H. dan M. Al-Jabri, 2008.

Mengatasi Degradasi Lahan Melalui Aplikasi Pembenah Tanah (Kajian Persepsi Petani Di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur). Jurnal Zeolit Indonesia, Vol. 7 No. 1. 22-34

Torii, K. M., M. Hotta, and M. Asaka. 1979. Quantitative Estimation of Mordenite and Clinoptilolite In Sedimentary Rock (II). Journal

Japan Association Mineral

Economic Geology 74 (8).

Torma, S., J. Vilcek, P. Adamisin, E. Huttmanova, O. Hronec, 2014. Influence Of Natural Zeolite On Nitrogen Dynamics In Soil. Turk J

Agric Forest (2014) 38: 739-744

Townsend, R. P. 1979. The properties and application of zeolites. The Proceeding of A Conference Organized Jointly by the Inorganic Cehemicals Group of the 2001. Perubahan basa-basa dapat ditukar dan air tercuci pada tanah yang diberi zeolit. Agri.

jurnal Fakultas Pertanian

Universitas Jember. 7(1) 1-12.

Yilmaz E., ˙I. Sönmez, and H. Demir,

2014, Effects of Zeolite on Seedling Quality and Nutrient Contents of Cucumber Plant

(Cucumis sativus L. cv. Mostar

F1) Grown in Different Mixtures of Growing Media. Communications

in Soil Science and Plant

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi penggunaan Azolla Microphylla dan Lemna Polyrrhiza dengan level protein yang berbeda memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05)

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyusun Tugas Akhir ini guna

Ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata) memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker payudara T47D dengan IC50 17.149 μg / mL dan dapat memicu

Untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara

Anda diberi tugas mencadangkan skema kawalan ramalan model (MPC) untuk sistem campuran tangki teraduk berterusan seperti yang ditunjukkan dalam Rajah S.3.[b].. Objektif kawalan

First Media adalah perusahaan yang bergerak di bidang TMT meliputi layanan internet pita lebar dengan kabel maupun nirkabel, jasa penyiaran televisi berlangganan, layanan

Pada proses dalam memperoleh hasil analisis data, sebelum memberikan perlakuan yang berbeda pada kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan keas kontrol.