• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ika Rostika dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 2(1): 32-41, September 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ika Rostika dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 2(1): 32-41, September 2014"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

32

PENGARUH PENGGUNAAN AZOLLA MICROPHYLLA DENGAN LEMNA POLYRRHIZA DALAM PAKAN ITIK PEKING PADA LEVEL PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP BOBOT DAN PERSENTASE BAGIAN

NON KARKAS

(THE EFFECT OF THE USE AZOLLA MICROPHYLLA AND LEMNA POLYRRHIZA IN PEKING DUCKS FEED WITH DIFFERENT PROTEIN LEVEL ON NON CARCASS WEIGHT AND PARTS OF NON CARCASS

PERCENTAGES)

Ika Rostika*, Ismoyowati, dan Ibnu Hari Sulistyawan

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

ABSTRAK

Penelitian telah dilaksanakan mulai tanggal 16 Februari sampai dengan 14 April 2013 di kandang J, Experimental Farm, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interaksi taraf protein dengan penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza terhadap bobot dan persentase bagian non karkas itik Peking sampai umur 8 minggu. Selain itu untuk mengetahui level optimal penggunaan protein dan kombinasi Azolla miycrophylla dan Lemna Polyrrhiza berdasarkan bobot dan persentase bagian non karkas itik Peking sampai umur 8 minggu. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental secara in vivo. Materi penelitian adalah itik Peking unsexed dan pakan perlakuan menggunakan Kombinasi Azolla Microphylla dengan Lemna Polyrrhiza. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3x4. Faktor pertama yang diamati adalah level protein pakan yaitu p1=protein pakan 16%, p2=protein pakan 18%, dan p3=protein pakan 20%. Faktor kedua adalah

kombinasi Azolla mycrophylla dan Lemna polyrrhiza yaitu al0=tanpa kombinasi Azolla mycrophylla

dan Lemna polyrrhiza, al1=15% Azolla mycrophylla dan 5% Lemna polyrrhiza, al2 =10% Azolla

mycrophylla dan 10% Lemna polyrrhiza, al3=5% Azolla mycrophylla dan 15% Lemna polyrrhiza.

Terdapat 12 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi penggunaan Azolla Microphylla dan Lemna Polyrrhiza dengan level protein yang berbeda memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot dan persentase edible non karkas itik Peking sampai umur 8 minggu. Penggunaan Azolla Microphylla dan Lemna Polyrrhiza dengan level protein yang berbeda memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) pada bobot dan persentase non edible non karkas itik Peking umur 8 minggu. Rataan bobot edible non karkas yang diperoleh 221,52±24,39 gram berkisar antara 198,53-245,53 gram. Rataan persentase edible non karkas 14,31±1,35% berkisaran 13,69%-15,09%. Rataan bobot nonedible non karkas 374,02±24,96 gram berkisar antara 349,55-397,63 gram. Rataan persentase non edible non karkas 24,23±2,08% berkisaran 22,20%-26,77%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi penggunaan Azolla Microphylla dan Lemna Polyrrhiza dengan level protein yang berbeda memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot dan persentase edible non karkas serta bobot dan persentase non edible non karkas itik Peking umur 8 minggu. Artinya pakan dengan penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza pada level protein yang berbeda menghasilkan bobot dan persentase non karkas itik Peking pada umur 8 minggu yang relatif sama.

Kata Kunci : Azolla microphylla, Lemna polyrrhiza, Level Protein, Bobot dan Persentase Bagian Non Karkas.

(2)

33 ABSTRACT

The research was conducted from February 16th to April 14th 2013, in the Experimental Farm, Faculty of Animal Science, Jenderal Sudirman University. The research was aimed to assess the extent of interaction of proteins with the use of Azolla microphylla and Lemna polyrrhiza on non carcass weight and parts of non carcass percentages. In addition, it was conducted to determine the optimum level of protein and combination use of Azolla microphylla and Lemna Polyrrhiza to non-carcass weight and parts of non carcass percentages of Peking Duck at Age 8 Weeks. The research method was experimental by in-vivo. The research materials were unsexed Peking ducks and treatment feed using the combination of Azolla microphylla and Lemna Polyrrhiza. The research used a completely randomized design (CRD), factorial model of 3x4. The first factor was the level of feed protein: p1 = 16%, p2 = 18%, and p3 = 20%. The second factor was

a combination of Azolla microphylla and Lemna polyrrhiza: al0 = no combination of Azolla

microphylla and Lemna polyrrhiza, al1 = 15% Azolla microphylla and 5% Lemna polyrrhiza, al2 =

10% Azolla microphylla and 10% Lemna polyrrhiza, al3 = 5% Azolla microphylla and 15% Lemna

polyrrhiza. There were 12 combinations of treatment with 3 replications. The data were analyzed by analysis of variance. The results of analysis of variance showed that the interaction of the use of Azolla microphylla and Lemna Polyrrhiza with different protein levels was not significant (P> 0.05) on weight and percentage of edible non carcass of Peking duck until the age of 8 weeks. The use of Azolla microphylla and Lemna Polyrrhiza with different protein levels was not significant (P> 0.05) on weight and percentage of non-edible non-carcass of Peking duck until the age of 8 weeks. The average weight of edible non-carcass was 221.52 ± 24.39 grams ranged from 198.53 to 245.53 grams. The mean percentage of edible non-carcass was 14.31 ± 1.35% ranged from 13.69% to 15.09%. The average weight of non-edible non-carcass was 374.02 ± 24.96 grams, ranged from 349.55 to 397.63 grams. The mean percentage of non-edible non-carcass was 24.23 ± 2.08% ranged from 22.20% to 26.77%. The results showed that the interaction of the use of Azolla microphylla and Lemna Polyrrhiza with different protein levels was not significant (P> 0.05) on the weight and percentage of edible non-carcass and weight and percentage of non-edible non-carcass of Peking duck until the age of 8 weeks. It meant that feed containing Azolla microphylla and Lemna polyrrhiza at different levels of protein yielded weight and percentage of non-carcass of Peking duck at the age of 8 weeks of relatively similar.

Keywords : Azolla microphylla, Lemna polyrrhiza, Protein Level, Weight and Percentages Parts of Non Carcass

PENDAHULUAN

Daging banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena daging mempunyai rasa yang enak dan kandungan zat gizi yang tinggi. Salah satu sumber daging yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia selain ayam adalah itik. Daging itik adalah jenis daging yang potensial sebagai penyumbang protein hewani di Indonesia. Daging itik memiliki sumbangan yang tidak sedikit terhadap total daging unggas yang dihasilkan. Dewasa ini daging itik sangat digemari oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Jenis itik yang dagingnya banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia yaitu jenis itik Tegal, itik Magelang, itik Peking, dan itik Alabio (jantan dan betina afkir). Selain daging, penduduk Indonesia banyak yang menyukai bagian non karkas terutama jantung dan hati karena harganya yang lebih murah dari pada daging dan rasanya juga enak serta gurih.

Itik Peking merupakan itik tipe pedaging yang banyak dikenal dan disebut green duck serta sangat prolific (subur) (Samosir, 1990). Itik Peking memiliki badan yang lebih kompak dibandingkan dengan beberapa jenis itik lainnya. Karkas itik Peking berwarna kuning dan kelihatan sangat

(3)

34

menarik (Srigandono, 2000). Bobot itik Peking jantan dewasa berkisar 4 – 5 kg/ekor, sedangkan bobot itik Peking betina berkisar 2,5 – 3 kg/ekor (Setioko dan Rohaeni, 2004).

Pengembangan usaha peternakan itik pedaging di Indonesia saat ini masih mengalami berbagai hambatan akibat pakan. Bahan penyusun ransum sebagian besar masih didapatkan dengan mengimpor dari luar negeri seperti bungkil kedelai dan tepung ikan. Sehingga biaya pakan dan biaya produksi tinggi. Untuk menekan biaya tersebut perlu dilakukan usaha untuk mencari sumber bahan baku yang lebih murah, mudah didapat, bergizi baik, tetapi tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Atas dasar hal tersebut maka perlu dicari bahan pakan alternatif untuk menekan biaya pakan yaitu seperti penambahan Azolla dan Lemna dalam ransum.

Azolla dan Lemna memiliki kandungan protein yang cukup tinggi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan protein khususnya untuk pertumbuhan non karkas pada itik peking. Azolla memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu 28,12 % berat kering (Handajani, 2008), sedangkan Lumpckin dan Plucknet (1982) menyatakan kandungan protein pada Azolla sp sebesar 23,42% berat kering dengan komposisi asam amino essensial yang lengkap. Selain Azolla, Lemna polyrrhiza memiliki kandungan nutrisi lengkap dan baik sebagai pakan. Skillicorn et al, (1993) melaporkan kandungan protein lemna adalah 37% mendekati protein bungkil kedelai (40%).

Azolla dan Lemna memiliki kandungan serat kasar yang cukup tinggi pula. Kandungan serat kasar yang tinggi merupakan faktor pembatas penggunaan Azolla dan Lemna dalam pakan itik diharapkan tidak menjadi masalah karena itik mempunyai kemampuan mencerna serat kasar lebih baik dibandingkan ayam. Penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza serta level protein pakan yang berbeda dalam pakan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan protein pakan pada itik serta untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya terhadap bobot dan persentase bagian non karkas itik peking umur 8 minggu.

METODE

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Itik Peking unsexed umur 3 minggu sebanyak 108 ekor, kandang ukuran 75x75x50 cm sebanyak 36 petak kandang berkapasitas 3 ekor, tempat pakan dan minum lengkap sebanyak 36 buah, pakan perlakuan yang terdiri dari: pakan konsentrat, jagung giling, bekatul, ampas tahu, minyak sayur, mineral B12, kapur/ limestone, Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza.

Metode penelitian adalah eksperimental disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial 3X4. Faktor pertama adalah taraf protein (P) dan faktor kedua yaitu kombinasi Azolla microphylla (A) dengn Lemna polyrrhiza (L). Setiap unit perlakuan diulang 3 kali, masing-masing unit penelitian diisi tiga ekor, sehingga terdapat 12 Kombinasi perlakuan meliputi :

1. p1 al0 = Ransum kadar protein 16% + Kombinasi Azolla microphylla 0% dengan Lemna

polyrrhiza 0%

2. p1 al1 = Ransum kadar protein 16% + Kombinasi Azolla microphylla 15% dengan Lemna

polyrrhiza 5%

3. p1 al2 = Ransum kadar protein 16% + Kombinasi Azolla microphylla 10% dengan Lemna

polyrrhiza 10%

4. p1 al3 = Ransum kadar protein 16% + Kombinasi Azolla microphylla 5% dengan Lemna

(4)

35

5. p2 al0 = Ransum kadar protein 18% + Kombinasi Azolla microphylla 0% dengan Lemna

polyrrhiza 0%

6. p2 al1 = Ransum kadar protein 18% + Kombinasi Azolla microphylla 15% dengan Lemna

polyrrhiza 5%

7. p2 al2 = Ransum kadar protein 18%+ Kombinasi Azolla microphylla 10% dengan Lemna

polyrrhiza 10%

8. p2 al1 = Ransum kadar protein 18% + Kombinasi Azolla microphylla 5% dengan Lemna

polyrrhiza 15%

9. p3 al0 = Ransum kadar protein 20% + Kombinasi Azolla microphylla 0% dengan Lemna

polyrrhiza 0%

10. p3 al1 = Ransum kadar protein 20% + Kombinasi Azolla microphylla 15% dengan Lemna

polyrrhiza 5%

11. p3 al2 = Ransum kadar protein 20% + Kombinasi Azolla microphylla 10% dengan Lemna

polyrrhiza 10%

12. p3 al3 = Ransum kadar protein 20% + Kombinasi Azolla microphylla 5% dengan Lemna

polyrrhiza 15%

Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot dan persentase edible non karkas serta bobot dan persentase non edible non karkas. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis variansi dan diuji lanjut dengan orthogonal polynomial.

Prosedur pengambilan sampel : a. Bobot Non Karkas

Data kuantitatif akan didapat dengan melakukan penimbangan bobot edible non karkas yaitu kepala, leher, dan shank serta penimbangan bobot non edible non karkas yaitu darah, bulu, dan viscera.

b. Persentase Non Karkas

Persentase ediblenon karkas = Bobot ediblenon karkas x 100% Bobot hidup

Persentase nonediblenon karkas = Bobot nonediblenon karkas x100% Bobot hidup

c. Cara pemotongan bagian – bagian non karkas :

1. Kepala : dipotong pada tulang atlas pertama

2. Leher : dipotong pada tulang atlas ke-1 sampai tulang atlas ke-14 3. Shank : dipotong pada bagian persendian kaki (flock point)

4. Viscera (usus) : dipotong pada bagian ventrikularis sampai kloaka.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bobot dan Persentase Edible Non Carcass

Hasil penelitian berdasarkan data bobot edible non karkas (kepala, leher, dan shank) itik Peking umur delapan minggu itik diperoleh rataan bobot ediblenon karkas 221,52 ± 24,39 g/ekor. Rataan bobot edible non karkas itik peking akibat pengaruh penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza dalam pakan pada level protein yang berbeda dari hasil penelitian disajikan dalam Tabel 1. Hasil penelitian berdasarkan data persentase ediblenon karkas (kepala, leher dan shank) itik Peking umur delapan minggu itik diperoleh rataan persentase ediblenon karkas 14,31 ±

(5)

36

1,35%. Rataan persentase edible non karkas itik Peking akibat pengaruh penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza dalam pakan pada level protein yang berbeda dari hasil penelitian disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 1. Rataan Bobot EdibleNon Karkas (g) Itik Peking Umur Delapan Minggu

No Perlakuan Rataan ± Standar deviasi (g/ekor)

1 p1al0 237.97 ± 36.82 2 p1al1 213.57 ± 4.61 3 p1al2 245.53 ± 22.22 4 p1al3 203.63 ± 10.08 5 p2al0 231.63 ± 30.39 6 p2al1 226.67 ± 15.17 7 p2al2 202.67 ± 34.00 8 p2al3 223.80 ± 12.15 9 p3al0 224.33 ± 43.98 10 p3al1 229.00 ± 19.69 11 p3al2 220.90 ± 7.09 12 p3al3 198.53 ± 11.85 Rataan 221.52 ± 24.39

Keterangan : p1= ransum dengan protein 16%; p2= ransum dengan protein 18%; p3= ransum dengan protein 20%. al0 = ransum kontrol tanpa kombinasi Azolla dan Lemna; al1 = ransum dengan kombinasi Azolla 15% dan Lemna 5%; al2 = ransum dengan kombinasi Azolla 10% dan Lemna 10%; al3= ransum dengan kombinasi Azolla 5% dan Lemna 15%.

Tabel 2. Rataan Persentase EdibleNon Karkas (%) Itik Peking Umur Delapan Minggu

No Perlakuan Rataan ± Standar deviasi (%)

1 p1al0 14.75 ± 2.55 2 p1al1 14.62 ± 0.83 3 p1al2 14.98 ± 1.23 4 p1al3 13.69 ± 0.83 5 p2al0 13.91 ± 0.83 6 p2al1 14.24 ± 0.60 7 p2al2 14.01 ± 1.83 8 p2al3 15.09 ± 1.35 9 p3al0 14.69 ± 2.85 10 p3al1 13.88 ± 1.40 11 p3al2 13.84 ± 0.70 12 p3al3 14.06 ± 1.36 Rataan 14.31 ± 1.35

Keterangan : p1= ransum dengan protein 16%; p2= ransum dengan protein 18%; p3= ransum dengan protein 20%. al0 = ransum kontrol tanpa kombinasi Azolla dan Lemna; al1 = ransum dengan kombinasi Azolla 15% dan Lemna 5%; al2 = ransum dengan kombinasi Azolla 10% dan Lemna 10%; al3= ransum dengan kombinasi Azolla 5% dan Lemna 15%.

Rataan bobot edible non karkas itik Peking umur delapan minggu memiliki kisaran antara 198,53 ± 11,85 g/ekor sampai 245,53 ± 22,22 g/ekor. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza pada level protein yang berbeda dalam pakan memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot edible non karkas itik

(6)

37

Peking umur delapan minggu. Artinya pakan dengan penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza pada level protein yang berbeda menghasilkan bobot ediblenon karkas itik Peking pada umur delapan minggu yang relatif sama.

Komponen edible non karkas pada penelitian ini terdiri dari kepala, leher dan shank yang sebagian besar tersusun oleh tulang, maka pertumbuhannya pun sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan tulang. Menurut Soeparno (1992), pertumbuhan tulang akan diikuti oleh pertumbuhan otot dan mulai umur 6 minggu kecepatan pertumbuhan tulang mulai melambat, tetapi kecepatan pertumbuhan otot dan lemak mulai mengalami peningkatan. Pertumbuhan shank tidak banyak dipengaruhi oleh pakan, tidak seperti pertumbuhan otot, karena protein pakan akan lebih banyak digunakan untuk pembentukan jaringan otot daripada untuk jaringan tulang.

Organ non karkas mempunyai pertumbuhan yang cepat pada waktu masih muda namun akan melambat dengan bertambahnya umur, sehigga pada itik umur delapan minggu dimana organ-organ karkas yang merupakan organ-organ yang masak secara lambat dimungkinkan belum mengalami pertumbuhan yang sempurna, sedangkan organ-organ non karkas sudah mengalami pertumbuhan yang sempurna bahkan dimungkinkan terjadi penimbunan lemak (Sunari dkk, 2001). Rataan persentase edible non karkas itik Peking umur delapan minggu memiliki kisaran antara 13,69 ± 0,83% sampai 15,09 ± 1,35%. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza pada level protein yang berbeda dalam pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase edible non karkas itik Peking umur delapan minggu. Perbedaan persentase edible non karkas tersebut diduga karena kandungan nutrisi seperti Ca dan P dalam pakan perlakuan relatif sama sehingga tidak mempengaruhi pertumbuhan tulang pada kepala, leher dan kaki. Pertumbuhan tulang tumbuh secara kontinu dengan kadar laju pertumbuhan relatif lambat. Pertumbuhan tulang erat kaitanya dengan kandungan mineral dalam pakan (Soeparno, 1994). Pakan yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai kandungan mineral yang relatif sama, sehingga diperoleh persentase bobot edible non karkas yang relatif sama.

Bobot dan Persentase Non Edible Non Carcass

Hasil penelitian berdasarkan data bobot non edible non karkas (darah, bulu, ujung sayap, viscera dan vent) itik Peking umur delapan minggu itik diperoleh rataan bobot non edible non karkas 374,02 ± 24,96 g/ekor. Rataan bobot non edible non karkas itik peking akibat pengaruh penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza dalam pakan pada level protein yang berbeda dari hasil penelitian disajikan dalam Tabel 3. Hasil penelitian berdasarkan data persentase non ediblenon karkas (darah, bulu,ujung sayap, viscera dan vent) itik Peking umur delapan minggu itik diperoleh rataan persentase non edible non karkas 24,23 ± 2,08%. Rataan persentase non edible non karkas itik Peking akibat pengaruh penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza dalam pakan pada level protein yang berbeda dari hasil penelitian disajikan dalam Tabel 4.

(7)

38

Tabel 3. Rataan Bobot Non EdibleNon Karkas (g) Itik Peking Umur Delapan Minggu

No Perlakuan Rataan ± Standar deviasi (g/ekor)

1 p1al0 361.00 ± 13.25 2 p1al1 379.44 ± 37.03 3 p1al2 388.59 ± 5.10 4 p1al3 349.55 ± 19.79 5 p2al0 367.98 ± 10.48 6 p2al1 387.38 ± 45.51 7 p2al2 352.09 ± 30.76 8 p2al3 397.63 ± 29.49 9 p3al0 378.89 ± 4.79 10 p3al1 373.88 ± 12.87 11 p3al2 390.00 ± 19.13 12 p3al3 361.81 ± 18.69 Rataan 374.02 ± 24.96

Keterangan : p1= ransum dengan protein 16%; p2= ransum dengan protein 18%; p3= ransum dengan protein 20%. al0 = ransum kontrol tanpa kombinasi Azolla dan Lemna; al1 = ransum dengan kombinasi Azolla 15% dan Lemna 5%; al2 = ransum dengan kombinasi Azolla 10% dan Lemna 10%; al3= ransum dengan kombinasi Azolla 5% dan Lemna 15%.

Tabel 4. Rataan Persentase Non EdibleNon Karkas (%) Itik Peking Umur Delapan Minggu

No Perlakuan Rataan ± Standar deviasi (%)

1 p1al0 22.33 ± 0.68 2 p1al1 26.02 ± 3.48 3 p1al2 23.73 ± 0.76 4 p1al3 23.52 ± 2.21 5 p2al0 22.20 ± 1.02 6 p2al1 24.31 ± 2.40 7 p2al2 24.43 ± 2.24 8 p2al3 26.77 ± 2.05 9 p3al0 24.81 ± 0.34 10 p3al1 22.65 ± 1.11 11 p3al2 24.42 ± 1.25 12 p3al3 25.61 ± 2.08 Rataan 24.23 ± 2.08

Keterangan : p1= ransum dengan protein 16%; p2= ransum dengan protein 18%; p3= ransum dengan protein 20%. al0 = ransum kontrol tanpa kombinasi Azolla dan Lemna; al1 = ransum dengan kombinasi Azolla 15% dan Lemna 5%; al2 = ransum dengan kombinasi Azolla 10% dan Lemna 10%; al3= ransum dengan kombinasi Azolla 5% dan Lemna 15%.

Rataan bobot non edible non karkas itik Peking umur delapan minggu memiliki kisaran antara 349,55 ± 19,79 g/ekor sampai 397,63 ± 29,49 g/ekor. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza pada level protein yang berbeda dalam pakan tidak menunjukan adanya interaksi yang berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot non ediblenon karkas itik Peking umur delapan minggu.

Penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza dalam pakan pada level protein yang berbeda berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan non edible non karkas diduga karena

(8)

39

protein pakan akan lebih banyak digunakan untuk pembentukan jaringan otot dan untuk pembentukan daging. Selain itu, kandungan protein kasar dan serat kasar pada pakan perlakuan tidak berbeda jauh sehingga tidak mempengaruhi pertumbuhan non karkasnya. Siregar (1994) menyatakan ternak itik mampu memanfaatkan pakan yang mengandung serat kasar sampai dengan 10%. Pendapat tersebut diperkuat oleh Bintang dkk (1999) yang menyatakan bahwa bungkil inti sawit (sebelum dan sesudah fermentasi) dapat digunakan sampai dengan 15% tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap penampilan pertumbuhan itik sampai umur delapan minggu, dengan kandungan serat kasar tanpa fermentasi sebesar 21,71% dan fermentasi 19,75%.

Pakan yang dikonsumsi oleh ternak itik akan digunakan untuk metabolisme tubuh untuk hidup pokok dan meningkatkan laju pertumbuhan. Pola pertumbuhan organ seperti hati, ginjal dan saluran pencernaan menunjukkan adanya variasi, sedangkan organ yang berhubungan dengan digesti dan metabolisme menunjukkan perubahan berat yang besar sesuai dengan status nutrisional dan fisiologis ternak. Level nutrisi juga mempengaruhi berat komponen non karkas pada berat tubuh tertentu. Konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat hati, usus, dan total alat pencernaan, tetapi menurunkan berat kepala dan kaki. Jadi perlakuan nutrisional mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap berat non karkas internal seperti hati, paru-paru, jantung dan ginjal, sedangkan berat komponen non karkas eksternal, terutama kepala dan kaki, tidak terpengaruh (Soeparno, 1994). Bobot karkas dan non karkas berhubungan dengan berat hidup dan berat potong (Soeparno, 1994). Ditambahkan oleh Soeparno dan Setiyono (1992) bahwa peningkatan laju pertumbuhan juga meningkatkan berat komponen non karkas. Bobot badan akhir terdiri dari bobot karkas dan bobot non karkas yang meliputi darah, bulu, viscera, kepala dan kaki. Sehingga ada hubungan erat antara bobot badan akhir, bobot karkas dan non karkas. Semakin tinggi bobot karkas maka akan semakin rendah bobot non karkasnya dan sebaliknya (Jull, 1972).

Rataan persentase non ediblenon karkas itik Peking umur delapan minggu memiliki kisaran antara 22,20 ± 1,02% sampai 26,77 ± 2,05%. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polyrrhiza pada level protein yang berbeda dalam pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase non edible non karkas itik Peking umur delapan minggu. Faktor yang menyebabkan persentase non edible non karkas relatif sama ini disebabkan oleh bobot nonediblenon karkas dan bobot hidup yang diperoleh dalam penelitian juga berbeda pada masing-masing perlakuan. Persentase non karkas berbanding terbalik dengan bobot badan akhir, semakin tinggi persentase karkas mengakibatkan persentase non karkas semakin rendah dan sebaliknya (Jull, 1979). Menurut Soeparno (1994) bobot karkas dan non karkas berhubungan dengan bobot hidup dan bobot potong. Besarnya persentase non karkas akan mempengaruhi persentase karkas. Selain itu, usus sebagai bagian yang berfungsi penting dalam pencernaan akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan tubuh agar kapasitasnya mampu memenuhi kebutuhan tubuh yang semakin meningkat. Persentase usus juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan umur (Damayanti, 2003). Usus termasuk dalam saluran pencernaan, sehingga setelah umur 6 minggu pertumbuhannya proporsional dengan pertumbuhan tubuh. Hafez (1955) dalam Prajantara (1992) menyatakan bahwa saluran pencernaan merupakan organ yang masak dini yaitu pertumbuhannya terjadi lebih awal karena merupakan organ penting sejak masih embrio, kemudian mulai umur 6 minggu pertumbuhannya akan berbanding lurus dengan pertumbuhan tubuh.

(9)

40

Persentase non edible non karkas didapat dari bobot non edible non karkas dibagi bobot hidup dikalikan seratus persen. Dari hal tersebut dapat dikatakan tinggi rendahnya persentase non edible non karkas ditentukan oleh bobot non edible non karkas dan bobot hidupnya, jika bobot hidupnya tinggi maka persentasenya rendah. Anggorodi (1985) menyatakan pertumbuhan dari semua bagian-bagian tubuh hewan tumbuh secara teratur.

SIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah Penggunaan Azolla microphylla dan Lemna polirrhyza pada level protein yang berbeda menghasilkan bobot dan persentase ediblenon karkas serta non edible non karkas pada itik Peking umur delapan minggu yang relatif sama.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terima kasih disampaikan kepada Bapak Ir. Roesdiyanto, MP selaku kepala proyek penelitian, Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang telah mendanai sebagian penelitian ini, dan teman-teman sepenelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Bintang, I. A. K., A. P. Sinurat, T. Murtisari, T. Pasaribu, T. Purwadaria d & T. Hayati. 1999. Penggunaan bungkil inti sawit dan produk fermentasinya dalam ransum itik sedang tumbuh. Jurnal ilmu ternak dan veteriner 4:19-1

Damayanti V. 2003. Studi Perbandingan Persentase Karkas, Bagian-Bagian Karkas Dan Non Karkas Pada Berbagai Unggas Lokal. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Handajani, H. 2008. Pengujian Tepung Azolla Terfermentasi sebagai Penyusun Pakan Ikan terhadap Pertumbuhan dan Daya Cerna Ikan Nila Gift (Oreochiomis sp). Naskah Publikasi. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Jull, M. A. 1972. Poultry Husbandry. 2nd Ed, Tata Mc Graw Hill Book Publishing Co. Ltd., New Delhi. Jull, M. A. 1979. Poultry Husbandry. Third Edition. Tata Mc Grow Hill Publishing Company Inc. New

York.

Lumpkin, T.A and Plucknet .1982. Azolla as a green manure: Use and Management in Crop Production. dalam Westview Tropical Agriculture, Series No. 5. USA

Prajantara, H. 1992. Pengaruh Jenis Kelamin Dan Umur Pemotongan Terhadap Persentase Karkas Ayam Niaga Pedaging Galur Tegel TM-70. Skripsi. Fakultas Peternakan Unsoed. Purwokerto

Samosir, D.J., 1990. Ilmu Ternak Itik. PT. Gramedia. Jakarta

Setioko. A.R. dan E. S. Rohaeni. 2004. Pemberian Ransum Bahan Pakan Lokal Terhadap Produktivitas Itik Alabio. Loka karya Unggas Air Nasional. Fakultas Peternakan IPB dan Balai Penelitian Ternak Ciawi. Bogor

Siregar, A. S., dan Nurwantoro. 1994. Mikrobiologi Pangan Hewani dan Nabati. Kanisius. Jakarta. Skillicorn, P. ,W. Spira. , and W. Journey. 1993. Duckweed Aquaculture-a new Aquatic Farming

(10)

41

Soeparno. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Soeparno. 1994. Ilmu Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Soeparno dan Setiyono. 1992. Komponen non karkas domba lokal jantan hasil pemeliharaan dengan pemberian testosteron dan klortetrasiklin.Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan. Universitas Brawijaya, Malang.

Sunari, Rukmiasih, dan P.S. Hardjosworo. 2001. Persentase bagian pangan dan nonpangan itik Mandalung dari berbagai umur. hlm. 59-62. Panduan Lokakarya Nasional Unggas Air. Pengembangan Agribisnis Unggas Air sabagai Peluang Bisnis Baru. Bogor, 6-7 Agustus 2001. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Gambar

Tabel 2. Rataan Persentase Edible Non Karkas (%) Itik Peking Umur Delapan Minggu
Tabel 4. Rataan Persentase Non Edible Non Karkas (%) Itik Peking Umur Delapan Minggu

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil akusisi data diketahui bahwa jenis batuan pada bentangan 1 lokasi titik longsor 426+500 berupa material lepas Lempung pasiran (1) dengan nilai tahanan jenis 0-50

“Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “Kontribusi Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru di SMA Negeri

Penggalian, Pengayaan dan Perumusan Gagasan Sosialisasi Gagasan kepada Mitra Kegiatan Pembentukan Kelompok Kerja Pelaksana bersama Warga dan Mitra Kegiatan Penjabaran

Faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal operasi hitung aljabar diantaranya: kurangnya minat siswa, cara belajar siswa

Uraian singkat di atas memperlihatkan bahwa manajemen disamping sebagai ilmu sebagai bahan kajian yang akan terus berkembang seiring dengan dinamika kehidupan

dicapainya efisiensi ketel yang baik, maka uap yang dibutuhkan pabrik untuk proses pengolahan kelapa sawit dapat terpenuhi dan kebutuhan bahan bakar ketel dapat disuplai

Karakteristik sosial ekonomi yang dijabarkan dalam variabel berikut: Umur (tahun), Status perkawinan, Tingkat pendidikan, Pendapatan responden, Pendapatan keluarga per-bulan,

Pertama, dilihat dari sisi adanya pemasangan reklame ini bertujuan untuk menarik perhatian dari masyarakat agar mengetahui produk atau reklame yang dipasang